You are on page 1of 8

FEROELEKTRIK

Ferroelektrik merupakan gejala terjadinya polarisasi listrik spontan, tanpa


menerima medan listrik dari bahan luar. Ferroelektrik merupakan kelompok material
dielektrik dengan polarisasi listrik internal yang lebar P (C/m2) yang dapat diubah
menggunakan medan listrik yang sesuai. Material ferroelektrik dicirikan oleh kemampuan
untuk membentuk kurva histerisis yaitu kurva yang menghubungkan antara medan listrik
dan polarisasi.
Polarisasi terjadi di dalam dielektrik sebagai akibat adanya medan listrik dari luar
dan simetri pada struktur kristalografi di dalam sel satuan. Jika pada material ferroelektrik
dikenakan medan listrik, maka atom-atom tertentu mengalami pergeseran dan
menimbulkan momen dipol listrik. Momen dipol ini yang menyebabkan polarisasi. Momen
Pe

dipol

dari molekul (atom atau sel satuan) yang terpolarisasi adalah hasil kali muatan Q
de

dan jarak

antara pusat muatan positif dan negatif (Van, 1989).

Pe Qd e
. (1)
Pe

Dengan

adalah momen dipol listrik (coulomb meter), Q adalah muatan

de

(coulomb),

adalah jarak antar muatan (meter).

Nilai Polarisasi listrik spontan (Ps) dihitung berdasarkan persamaan sebagai


berikut:

PS

( Qd e )
(V )
(2)

Dengan ( Q de) adalah jumlah momen dipol dan V adalah volume unit sel.
Penelitian feroelektrik itu sendiri telah dikembangkan sejak tahun 1960, karena
bahan

tersebut

dapat

dimanfaatkan

untuk

berbagai

keperluan

seperti

sensor,

mikroelektronika dan lain-lain, bahkan diprediksikan dapat melebihi keunggulan bahan


ferromagnetik dalam hal penyimpanan memori ( Umiati dkk.,2000).
Pada tahun 60-an sampai 70-an bahan ferroelektrik lebih banyak dibuat dalam
bentuk kristal tunggal maupun Bulk. Penggunaan film tipis ferroelektrik sebagai memori
banyak keuntungannya dibanding sistem magnetik. Sistem magnetik hanya mampu
menyimpan 105 bit/cm2, sedangkan memori terbuat dari ferroelektrik menyimpan hingga
108 bit/cm2. Salah satu contoh ferroelektrik adalah Lead Zirconate Titanate, PbZr1xTixO3, material ini sangat luas penggunaannya dalam bentuk keramik polikristalin dan
banyak digunakan dalam berbagai bidang industri. Dalam divais piezoelektrik PZT
digunakan sebagai filter, resonator, aktuator.
Struktur kristal bisa dibagi menjadi 32 kelompok, berdasarkan pada jumlah sumbu
putar dan bidang pantulan pada kristal yang membuat struktur kristal tidak berubah. Dari
32 kelompok kristal tersebut, 21 di antaranya adalah non-centrosymmetric (tidak memiliki
sebuah pusat simetri). Dari 21 kelompok tadi, 20 di antaranya menunjukkan sifat
piezoelektrik yang langsung, sedang 1 kelompok tetap berada di kelompok kubus 432.
Sepuluh dari 20 kelompok piezoelektrik memiliki sifat polar (berkutub)mereka memiliki
polarisasi yang spontan, memiliki sebuah dipol dalam sel satuan mereka, dan menunjukkan
piroelektrisitas. Jika dipol ini bisa dibalikkan dengan menerapkan medan listrik, maka
berarti bahan itu bersifat feroelektrik.
Bahan ferroelektrik adalah bahan yang mempertahankan polarisasinya ketika
medan listriknya dihilangkan sehingga ada penyelarasan sisa dipol permanen. Tetapi tidak
semua bahan yang memiliki dipol permanen menunjukkan perilaku feroelektrik karena
dipole menjadi acak dan diselaraskan dengan medan, apabila dihapus dihilangkan tidak ada
polarisasi yang tetap bersih (Smallman dan Bishop, 1999). Bahan ferroelektik terdiri dari
senyawa kimia yang kompleks, sampai saat ini sudah hampir 100 senyawa inorganik

ferroelektrik, senyawa yang sederhana misalnya NH4HSO4 (Monoklinik), KH2PO4


(Orthorombik) dan BaTiO3 (Tetragonal).
Ketika temperatur ferroelektrik lebih rendah dari fase material paraelektrik ke
ferrolektrik tanpa dikenai medan listrik luar , jumlah momen dipol mendekati nol
meskipun setiap unit sel terpolarisasi secara spontan. Momen dipol dengan polarisasi P dan
volume V adalah PV dan total momen dipol bahan dapat ditentukan jika volume domain
diketahui yaitu , dengan jumlah untuk semua domain.
Kuat tidaknya polarisasi ferroelektrik tidak hanya tergantung pada medan listrik
luar tetapi tergantung pada kondisi polarisasi sebelumnya. Suatu Ferroelectric Random
Acces Memory (FRAM) jika memiliki nilai polarisasi sekitar 10C.cm -2 maka ia mampu
menghasilkan muatan sebanyak 1014 elektron per cm -2 untuk proses pembacaan memori
(Lines dan Glass, 1997). Material ferroelektrik dicirikan mempunyai kemampuan untuk
membentuk kurva histerisis yaitu kurva yang menghubungkan antara medan listrik dan
polarisasi. Kurva hubungan antara polarisasi listrik (P) dan kuat medan listrik (E)
ditunjukkan pada Gambar 1.1

Gambar 1.1. Kurva Histerisis Material Ferroelektrik (How, 2007)

Ketika kuat medan listrik ditambah (OA) maka polarisasinya akan meningkat terus
sampai material mencapai kondisi jenuh (saturasi) (BC). Ketika medan listrik diturunkan
kembali ternyata polarisasinya tidak kembali ke titik O, tetapi mempunyai pola (CD) dan
mempunyai nilai. Ketika medan listrik tereduksi sampai nol, material akan memiliki
polarisasi remanen (PR) seperti pola (OD). Nilai remanen merupakan nilai rapat fluks
magnetik yang tersisa di dalam material setelah medan diturunkan menjadi nol dan
merupakan ukuran kecenderungan pola sifat magnet untuk tetap menyimpang, walaupun
medan penyimpang telah dihilangkan. Nilai polarisasi dari material dapat dihilangkan
dengan menggunakan sejumlah medan listrik pada arah yang berlawanan (negatif). Harga
dari medan listrik untuk mereduksi nilai polarisasi menjadi nol disebut medan koersif (Ec)
pola OE. Jika medan listrik kemudian dinaikkan kembali, material akan kembali
mengalami saturasi, hanya saja bernilai negatif (EF). Putaran kurva akan lengkap jika,
medan listrik dinaikkan lagi dan pada akhirnya akan didapatkan kurva hubungan polarisasi
(P) dengan medan listrik (E).
Contoh Bahan Feroelektrik
Kristal
Garam Rochelle

Kelompok KDP

Perovskites

Rumus
NaK (C4H4O64H2O)

Tc (K)
297 (atas)

LiNH4C4H4O6H20
KH2PO4
KD2PO4
RbH2PO4
CsH2AsO4
BaTiO3
SrTiO3
WO3

255 (bawah)
106
123
213
147
143
393
32
223

C, K
178

3100

1,7. 105

P, C/m2
267 . 10-5
220
5330
900
5600
26000
3000

Struktur perovskite memiliki rumus umum ABO3, atom A berada di sudut-sudut


kubus, atom B terletak di diagonal ruang kubus dan ion oksigen O menempati tengahtengah pada muka kubus (Schwartz, 1997). Istilah perovskite memilki dua pengertian,
pertama perovskite merupakan mineral partikular dengan rumus kimia CaTiO3 (disebut
juga Calcium Titanium Oxide). Mineral ini ditemukan di pegunungan Ural Rusial oleh

Gustav Rose pada tahun 1839 dan kemudian dinamakan oleh mineralogist Rusia, L.A
Perovski (1792-1856).
Umumnya mineral-mineral dengan struktur kristal yang sama sebagai CaTiO3
disebut juga struktur perovskite. Kelebihan yang dimiliki oleh oksida perovskite adalah
sebagian dari ionion oksigen penyusun strukturnya dapat dilepaskan (mengalami reduksi)
tanpa dirinya mengalami perubahan struktur yang berarti. Kekosongan ion oksigen ini
selanjutnya dapat diisi kembali oleh ion oksigen lain melalui reaksi reoksidasi.

Gambar 1.2. Struktur Perovskite BaTiO3


Struktur perovskite BaTiO3 memiliki ion Oksigen (O2-) yang terletak pada diagonal
bidang dari unit sel, ion Titanium (Ti4+) yang terletak pada diagonal ruang dari unit sel dan
ion Barium (Ba2+) terletak pada ujung tiap rusuk dari unit sel yang ditunjukkan pada
Gambar 1.2. Beberapa material seperti PZT (Lead Zirkonium Titanat), BST (Barium
Strontium Titanat) dan BZT (Barium Zirkonium Titanat) termasuk kedalam kelompok
Barium Titanat dan memiiki struktur yang sama yaitu struktur perovskite dari BaTiO3.
Barium titanat (BaTiO3) memiliki struktur yang berbedabeda ketika suhunya
berbeda. Perubahan struktur kristal barium titanat pada Gambar 1.3 dengan suhu di atas
120 0C memiliki struktur kristal kubik tanpa memiliki polarisasi spontan. Suhu dari 120 0C
sampai dengan 5 0C memiliki struktur kristal tetragonal dan memiliki polarisasi spontan.

Dari suhu 5 0C sampai dengan -90 0C memiliki struktur kristal orthorhombik dan mimiliki
polarisasi spontan, dan di bawah -90 0C memiliki struktur kristal rhombohedral dan
memiliki polarisasi spontan (Kenji, 2000). Struktur kristal hexagonal dan struktur kristal
kubik dari barium titanat mempunyai sifat paraelektrik, sedangkan pada struktur kristal
tetragonal, orthorhombik dan rhombohedral dari barium titanat mempunyai sifat sebagai
material ferroelektrik.

Gambar 1.3. Perubahan Struktur Kristal dari Barium Titanat (BaTiO3)

Strontium titanat (SrTiO3) juga merupakan salah satu bahan ferroelektrik. Bahan
ini merupakan hasil campuran reaksi bahan Strontium Carbonat (SrCO3) dan Titanium
Oksida (TiO2). Strontium titanat (SrTiO3) mempunyai bentuk perovskit. Pada suhu kamar,
strontium titanat mempunyai bentuk kubus dengan ion Ti+4 dikelilingi oleh ion O-2 secara
oktahedral dengan ion Sr+2 berada pada sisi kubus. Strontium titanat mempunyai bentuk
tetragonal pada suhu kurang pada 105 K.
Peralihan fasa struktur ini adalah disebabkan pemutaran oksigen oktahedral
disekitar salah satu paksi utama kubus. Sudut pemutaran adalah peralihan parameter dan

mempunyai nilai maksimum phi = 1.4 apabila mendekati suhu mutlak Kelvin. Pemutaran
oksigen oktahedral menyebabkan sedikit perubahan pada sel unit.
Pada suhu yang sangat rendah, strontium titanat mempunyai sifat piezoelektrik dan
sifat superkonduktor. Strontium titanat juga mempunyai sifat dielektrik yang tinggi dan
kebocoran arus yang rendah (Wilk, 2001). Strontium titanat mempunyai kegunaan yang
meluas dalam pembuatan DRAM, bidang mikroelektronik dan teknologi sensor.
Contoh Bahan Antiferomagnetik
Kristal
WO3
NaNbO3
PbZrO3
PbHFO3
NH4H2PO4
ND4D2PO4
NH4H2AsO4
ND4D2AsO4
(NH4)2H3lO6

Suhu Transisi (K)


1010
793,911
506
488
148
242
216
304
254

DAFTAR PUSTAKA

Dewi, Rahmi . KARAKTERISASI BAHAN FEROELEKTRIK STRONTIUM


TITANAT (SrTiO3) DENGAN MENGGUNAKAN X- RAY DIFFRACTION . Program
S1 Fisika FMIPA-Universitas Riau
Tyas . Analisis Struktur Kristal dan Sifat Histerisis Bahan Ferroelektrik Bismuth
Titanat (Bi4Ti3O12) | | SKRIPSI Jurusan Fisika - Fakultas MIPA UM
Ferroelektrik-teori. https://www.scribd.com/ .Diakses tanggal 13 Mei 2016
Piroelektrisitas

Wikipedia

bahasa

Indonesia,

ensiklopedia

bebas.

https://id.wikipedia.org/wiki/Piroelektrisitas . Diakses tanggal 11 Mei 2016.


Polarisasi Listrik Pada Bahan Yang Bersifat Ferroelektrik. https://www.scribd.com/.
Diakses tanggal 11 Mei 2016