You are on page 1of 15

Puputwawan's Blog

berbagi ilmu, berbagi rizki


Lanjut

TANAMAN

KELAPA SAWIT

GULA
POS KOMENTAR

REVIEW

PONSEL

MOTOR/MOBIL
Pemupukan Kelapa Sawit
Instruksi Kerja Konservasi Tanah & Air

Land Clearing (Pembukaan Lahan ) Gambut Kelapa Sawit


JUNI 25, 2011 8 KOMENTAR

1. PENGERTIAN UMUM
Istilah GAMBUTdiduga berasal dari nama sebuah desa di selatan kota Banjarmasin dan sekarang menjadi ibukota
Kecamatan Gambut dimana ditemukan tanah gambut dalam jumlah yang luas.
Tanah gambut tergolong tanah rawa dan terbentuk dari bahan organik sisa tanaman yang mati diatasnya dan
disebabkan keadaan lingkungan yang selalu jenuh atau terendam air sehingga tidak memungkinkan berlangsungnya
proses pelapukan. Akumulasi bahan organik dapat mencapai ketebalan mencapai 0,5-16,0 m.
2. KETEBALAN BAHAN ORGANIK
Berdasarkan ketebalan lapisan bahan organiknya, gambut dipilah dalam empat kategori yaitu gambut dangkal,
gambut sedang, gambut dalam dan gambut sangat dalam :
a. Gambut Dangkal (Tipis) = 0,5-1,0 m
b. Gambut Sedang (Agak Tebal) = 1,0-2,0 m
c. Gambut Dalam (Tebal) = 2,0-3,0 m
d. Gambut Sangat Dalam (Sangat Tebal) = > 3,0 m
3. SIFAT KEMATANGANNYA (DEKOMPOSISI)
Berdasarkan sifat kematangannya (ripeness) atau tingkat pelapukannya (dekomposisi), gambut dapat dibedakan
menjadi tiga jenis yaitu gambut fibrik, gambut hemik dan gambut saprik :
a. Gambut Fibrik

Gambut dengan tingkat dekomposisi rendah : bahan tanah gambut masih tergolong mentah yang dicirikan dengan
tingginya kandungan bahan-bahan jaringan tanaman atau sisa-sisa tanaman yang masih dapat dilihat keadaan
aslinya.
b. Gambut Hemik
Gambut dengan tingkat dekomposisi sedang : bahan tanah gambut yang sudah mengalami perombakan dan bersifat
separuh matang.
c. Gambut Saprik
Gambut dengan tingkat dekomposisi matang : bahan tanah gambut yang sudah mengalami perombakan sangat
lanjut dan bersifat matang hingga sangat matang.
Berwarna gelap dan kandungan humus tinggi.
4. HAL HAL PENTING DARI TANAH GAMBUT
Pembukaan lahan dan pengelolaan kelapa sawit di tanah gambut memerlukan paket teknologi khusus yang berbeda
dengan tanah mineral.
Hal penting yang perlu diperhatikan dalam pengelolaan tanah gambut adalah :
a. Ketebalan, kematangan serta sifat fisik dan kimia gambut.
b. Kemungkinan banjir serta sifat air.
c. Pengaturan tinggi permukaan air tanah.
Pengaturan trio tata air yaitu saluran drainase, tanggul dan pintu air.
d. Penurunan permukaan tanah gambut setelah di drain.
Pemadatan (compacting) sepanjang jalur tanaman.
Penimbunan dan pemadatan jalan untuk transportasi hasil panen dan logistik
5. TAHAPAN PEMBUKAAN LAHAN.
5.1. SURVEY TATA BATAS
Tujuan :
Membuat peta areal yang akan dikelola oleh perusahaan.
Menentukan tata batas konsesi
Mengetahui luas areal konsesi, sesuai dengan surat izin Pencadangan Areal oleh Pemerintah.
Inventarisasi bentang alam (parit, sungai) dan tata guna tanah di sekitar tata batas.
Waktu pelaksanaan survey tata batas adalah setelah dilaksanakan survey mikro oleh instansi pemerintah dan
disesuaikan dengan rencana (program) kerja perusahaan.
5.2. BLOCK DESIGN DAN BLOCKING AREA
Tujuan :
Membagi areal kebun menjadi beberapa blok kerja yang luasnya sama.
Memudahkan dalam pengalokasian kerja (dari beberapa jenis pekerjaan atau kontraktor) sehingga tidak terjadi
tumpang tindih (overlapping) pekerjaan.
Memudahkan dalam pemberian nomor dan identifikasi areal.
Memudahkan dalam perencanaan pembuatan jaringan jalan dan parit didalam kebun.
Ketentuan :
Block design dan blocking area dikerjakan segera setelah selesai dilakukan survey tata batas, survey detail lahan
dan izin lokasi perkebunan sudah dikeluarkan oleh pemerintah daerah/pusat.
Blocking area dilakukan oleh tim pengukuran yang terdiri dari 4 orang setiap tim (1 orang juru ukur, 2 orang perintis
dan 1 orang pembawa alat/barang).

Blocking area harus diselesaikan paling lambat 3 bulan. Jadi untuk calon areal yang luasnya besar memerlukan
beberapa tim ukur berjalan sekaligus.
Blocking area dimulai dari titik/tempat (bench mark = BM) yang mudah dicari/dikenali sehingga apabila terjadi
kesalahan atau penyimpangan pengukuran mudah untuk menelusuri dan mengoreksinya. Biasanya titik BM diambil
tempat-tempat atau batas-batas alam seperti persimpangan jalan, cabang sungai dan lain-lain. Selain itu, titik BM
dibuat permanen dari beton dan dicat.
Dalam blocking area, areal kebun dibagi menjadi blok-blok kecil berbentuk persegi panjang yang luasnya 30 ha
(panjang = 1.000 m dan lebar = 300 m). Panjang blok dibuat Barat-Timur dan lebar blok arahnya Utara-Selatan.
Hasil block design dan blocking area, harus dapat menggambarkan posisi jalan, parit (kanal), outlet, emplasemen
dan lain-lain. Block design yang arah Utara-Selatan dijadikan production road dan production drain, sedangkan block
design Barat-Timur dijadikan collection road dan collection drain.
Production road panjangnya 300 m dan di salah satu sisinya (sebelah kiri) dibuat production drain (ukuran 3,0 x 2,0
x 2,0 m), sedangkan collection road panjangnya 1.000 m dan di salah satu sisinya (sebelah atas) dibuat collection
drain (2,5 x 1,5 x 2,0 m).
Selain production drain dan collection drain di-design juga subsidiary drain (ukuran 1,0 x 1,0 x 1,0 m) yang
letaknya dalam blok dengan jarak tertentu.
Sketsa block design diilustrasikan pada Gambar -1
5.3. PEMBUATAN SALURAN BATAS (BOUNDARY DRAIN)
Tujuan :
Membatasi areal dengan lokasi sekitarnya karena dalam pembuatan boundary drain sekaligus membuat tanggul.
Mencegah masuknya air dari luar areal sehingga proses pengeringan bisa berjalan lancar.
Ketentuan :
Saluran dibuat di sekeliling batas areal (boundary) yang direklamasi.
Ukuran saluran : lebar 4 meter
dalam 4 meter
Hasil galian parit ditimbun ke arah luar konsesi. Ini dapat dipergunakan untuk membentuk badan jalan (boundary
road), yang sekaligus berfungsi sebagai tanggul.
Tanggul dibuat lebih tinggi dari genangan air saat banjir sehingga air dari luar dapat terbendung.
Tanggul harus dibuat kokoh dan biasanya dipasang turapan dari kayu-kayu pada kedua atau salah satu sisi
tanggul, terutama pada tempat-tempat yang mudah longsor. Tanggul berbentuk trapesium dengan ukuran lebar atas
minimal 7 m (dapat dilalui kendaraan)
Fungsi tanggul dan saluran batas :
Mempertegas batas-batas areal yang akan dikelola.
Mengatur tinggi permukaan air tanah dan mencegah masuknya air ke dalam kebun dari areal sekitarnya.
Mencegah masuknya peladang-peladang liar dan untuk jangka panjang boundary drain dapat berperan untuk
menghambat ruang gerak pencurian buah di dalam kebun oleh pihak luar.
Sebagai jalan transportasi dan kontrol.
5.4. PEMBUATAN SALURAN DRAINASE DAN JALAN
Pembuatan saluran drainase dan jalan di areal gambut atau rawa-rawa dilakukan bersamaan (sekaligus) karena
tanah dari galian parit (kanal) sekaligus dijadikan badan jalan.
5.4.1. Saluran Drainase
Jenis Saluran Drainase :
a. Main Drain : arahnya disesuaikan dengan letak dan arah aliran sungai utama.

b. Production Drain : saluran yang sejajar dengan production road yaitu arah Utara-Selatan.
c. Collection Drain : saluran yang sejajar dengan collection road yaitu arah Barat-Timur.
d. Subsidiary Drain : saluran yang terdapat di dalam blok kerja (pada gawangan) sejajar dengan production road.
Jarak antar saluran dibuat 4 (gawang) : 1 (saluran) atau 8 (gawang) : 1 (saluran)
Waktu Pembuatan Saluran Drainase :
a. Main Drain : dilakukan bersamaan dengan pembuatan saluran batas (boundary drain) atau 1 tahun sebelum LC
b. Production Drain : dilakukan bersamaan dengan pembuatan saluran batas atau 6 bulan sebelum LC.
c. Collection Drain : dilakukan bersamaan dengan pembuatan saluran batas atau 6 bulan sebelum LC.
d. Subsidiary Drain : dilakukan bersamaan dengan pekerjaan LC.
Ketentuan/Ukuran :
Jenis Saluran Ukuran (m) Jarak Antar Saluran (m)
Lebar Atas Dalam Lebar Bawah
Main Drain 6,0 4,0 4,0 Tidak ada ketentuan yang baku
Production Drain 3,0 2,0 2,0 1.000
Collection Drain 2,5 1,5 2,0 300
Subsidiary Drain 1,0 1,0 1,0 32
atau 1 parit setiap 4 baris tanaman
Gambar desain saluran drainase (kanal) untuk lahan gambut, rawa-rawa dan lowland disajikan pada Ilustrasi
Gambar-1 dan 2.
Fungsi/Kegunaan :
Main Drain :
Mengalirkan air langsung ke arah daerah pembuangan akhir (sungai utama)
Mengatur ketinggian permukaan air dalam areal kebun.
Sarana transportasi air.
Production Drain :
Bermuara di saluan main drain
Menampung dan mengalirkan kelebihan air dari saluran collection drain
Sebagai batas blok.
Collection Drain :
Bermuara di saluan production drain
Menampung dan mengalirkan kelebihan air dari saluran block drain
Sebagai batas blok.
Subsidiary Drain :
Bermuara di saluran collection drain
Mengatur ketinggian permukaan air tanah di dalam blok pertanaman.
Cara Pembuatan Saluran Drainase :
Main Drain, Production Drain dan Collection Drain :
Tentukan As jalan .
Pancang daerah badan jalan sesuai dengan tipe jalan mengikuti As jalan.
Pancang 4,5 m dari As jalan untuk Main Drain dan 3.5 m untuk Collection Drain.
Tentukan pancang untuk parit yang letaknya 7,5 m dari As jalan untuk Main Drain, 6,0 m dari As jalan untuk
Production Drain dan 5,75 m dari As jalan untuk Collection Drain.

Gali parit dengan menggunakan exavator dan tanah galian dari parit tersebut ditimbunkan ke badan jalan
kemudian diratakan dan dipadatkan dengan excavator sehingga lebar menjadi 7 m untuk Collection Road dan 9 m
untuk Main Road.
Air yang ada di Collection Drain harus dapat mengalir ke arah Production Drain pada blok yang sama.
Air yang ada di Production Drain harus dapat mengalir ke arah Main Drain atau mengarah ke sungai.
Antara Collection Drain pada blok yang satu tidak boleh tembus dengan Collection Drain pada blok yang ada di
sebelahnya.
Semua kayu yang melintang dan tunggul harus disingkirkan dari dalam parit.
Pada tempat-tempat tertentu dimana tanah galian longsor kembali atau perengan parit longsor maka sebelum
waktu satu bulan dari pembuatannya harus digali lagi.
Subsidiary Drain :
Tentukan titik pancang yang letaknya pada pertengahan dua jalur tanaman.
Antara titik pancang subsidiary drain yang satu dengan yang lainnya berjarak empat jalur tanaman.
Gali parit dengan menggunakan exavator dan tanah galian dari parit tersebut dibuang ke kanan dan kiri parit
kemudian diratakan dan dipadatkan dengan excavator sehingga tidak terjadi gundukan tanah pada tempat-tempat
tertentu.
Air yang ada di Subsidiary Drain harus dapat mengalir ke arah Collection Drain.
Antara Subsidiary Drain pada blok yang satu tidak boleh tembus dengan Subsidiary Drain pada blok yang ada di
sebelahnya.
5.4.2. Jalan Kebun
a. Jenis Jalan :
Main Road : yaitu jalan utama atau akses yang menghubungkan kebun dengan luar kebun atau antar afdeling
dengan kantor induk/ perumahan karyawan dengan kualitas jalan sudah diberi pengerasan.
Production Road : yaitu jalan yang berfungsi untuk transportasi hasil panen ke pabrik dan batas blok. Arah jalan
Utara-Selatan
Collection Road : yaitu jalan yang berfungsi untuk transportasi hasil panen, kontrol dan batas blok. Arah jalan
Barat-Timur.
b. Jarak antar Jalan :
Main Road : tidak ada ketentuan.
Production Road : 1.000 m
Collection Road : 300 m
Arah production road tegak lurus terhadap letak sungai utama, misalnya untuk areal rendahan, sungai utamanya
terletak disebelah utara kebun, maka arah production road adalah Utara-Selatan bukan Timur-Barat.
c. Pembuatan Badan Jalan (Ilustrasi gambar-2)
Badan jalan dibuat dengan cara menggali tanah pada saluran drainase pada salah satu sisi jalan dan ditimbunkan
pada badan jalan dan kemudian diratakan.
Apabila dalam waktu 6 bulan kondisi parit sudah dangkal kembali maka parit harus dicuci/digali lagi dengan
menggunakan excavator long arm dan tanah galian ditimbunkan pada badan jalan yang lama.
Lebar badan jalan : 9,0 m untuk production road dan 7,0 m untuk collection road.
Masing-masing jalan dibuat kaki lima di kiri atau kanan jalan selebar 1 m (hanya sebelah saja).
Pembuatan tapak TPH di sepanjang collection road harus dilakukan bersamaan dengan pembentukan badan
jalan.
d. Pemadatan Jalan

Penimbunan dan pemadatan untuk production road dan collection road dilakukan 2 tahap, yaitu :
pertama : penimbunan dan pemadatan dengan tanah mineral yang mengandung liat setebal 20 cm.
kedua : penimbunan diikuti dengan perataan dan pemadatan menggunakan tanah laterit. Ketebalan akhir timbunan
laterit setelah dipadatkan adalah 20 cm.
Pada saat penimbunan dan pemadatan, tanah harus dalam keadaan lembab.
Lebar badan jalan yang ditimbun, production road adalah 7,0 m dan collection road adalah 6,0 m.
Tanah yang baik untuk menimbun adalah tanah yang mengandung liat cukup tinggi (40 %) karena liat dapat
meningkatkan daya ikat antar agregat tanah.
Alat yang dipakai untuk pemadatan jalan adalah : Compactor Roller.
e. Perawatan Jalan.
Lapisan permukaan dijaga tetap rata dan tidak boleh ada air menggenang di atas badan jalan.
Bentuk/kemiringan jalan dipelihara dengan baik, untuk menjamin pengeringan air di permukaan jalan (dibentuk
seperti batok mengkurap atau seperti punggung sapi)
Parit jalan harus terpelihara dengan baik, untuk dapat menampung dan mengalirkan kelebihan air dari permukaan
jalan.
Ditunjuk seorang pegawai (mandor) yang bertanggung jawab terhadap perawatan jalan dan saluran drainase.
5.5. PEMBUATAN PINTU AIR
Tujuan :
Mengatur tinggi permukaan air di dalam kebun. Pada prinsipnya permukaan air di dalam kebun tingginya harus
dipertahankan 60 cm di bawah permukaan tanah.
Ketentuan :
a. Waktu pembuatan bersamaan dengan pembuatan saluran batas (boundary drain) atau saluran utama (main
drain).
b. Lokasi pembuatan pintu air adalah :
Di batas masuk dan keluar dari setiap sungai, parit saluran alami, yang melalui areal yang direklamasi.
Di batas akhir pertemuan antara main drain dengan sungai (pembuangan air alami).
Di pertemuan antara production drain dan main drain.
c. Pintu air dibuat dari konstruksi beton, besi atau kayu dengan pintu melintang yang dapat diangkat dengan
memutar kemudi pintu atau dengan sistem buka-tutup menyerupai klep (contoh tertera pada Ilustrasi Foto-12 s/d 17).
Pada waktu musim kering pintu ditutup agar permukaan air di saluran naik, sedang pada musim hujan pintu air dapat
dibuka.
d. Ukuran pintu air disesuaikan dengan lebar saluran.
5.6. PEMBUKAAN LAHAN (LAND CLEARING)
Salah satu hal yang menjadi kendala dalam pengelolaan lahan gambut adalah kesulitan dalam melakukan
pembukaan lahan karena disamping biayanya yang cukup mahal, penggunaan alat berat (excavator) yang intensif
dan waktunya cukup lama.
Ketentuan :
Pada saat mengimas dan menebang, tinggi muka air di lapangan/saluran drainase diupayakan serendah mungkin.
Tujuannya agar pada saat penebangan, kayu/tunggul dapat dipotong serapat mungkin dengan permukaan tanah.
5.6.1. Imas
Dilakukan secara manual.
Pohonpohon kecil yang berdiameter di bawah 10 cm dan semak belukar ataupun akar-akar kayu dipotong mepet
ke permukaan tanah.

5.6.2. Menumbang
Dapat dilakukan secara manual dan atau mekanis dengan menggunakan gergaji mesin (chainsaw).
Diupayakan arah jatuhnya pohon seragam untuk memudahkan perumpukan (perun).
Batas potongan diatas permukaan tanah, sebagai berikut :
batang 150 cm maksimum 150 cm dari permukaan tanah.
Kayu bekas tumbangan tidak boleh menggantung pada tunggul (sengkleh) tetapi harus jatuh ke tanah untuk
mengurangi resiko kecelakaan dan memudahkan pekerjaan pencincangan.
Pada waktu pelaksanaan penebangan harus diusahakan agar pohon yang ditebang tidak jatuh ke arah sungai,
parit, atau jalan untuk mencegah terganggunya aliran air.
5.6.3. Cincang dan Perun
Pekerjaan cincang dan perun (stacking) adalah pekerjaan memotong dan mengumpulkan hasil tebangan kayu ke
dalam jalur gawangan mati atau jalur antara dua baris tanaman dengan ketentuan sebagai berikut :
Kayu hasil tumbangan dipotong-potong menjadi beberapa bagian dengan panjang kayu maksimum 4,0 m.
Demikian juga cabang-cabang pohon dipotong-potong untuk memudahkan pekerjaan rumpuk/perun (stacking)
Stacking kayu-kayu yang sudah dicincang dikerjakan secara mekanis menggunakan Excavator dengan cara
memindahkan dan mengumpulkan kayu cincangan tersebut pada tempat yang sudah ditentukan (jalur rumpukan).
Jalur rumpukan harus berada di jalur gawangan mati. Lebar rumpukan kayu maksimum dibuat 4,0 m dan tinggi
rumpukan yang diperbolehkan 2,0 m.
Arah rumpukan membujur dari Utara ke Selatan. Rumpukan pertama dimulai dari sebelah Barat antara baris
tanaman 1 dan 2 (pada jarak 6 m dari tepi jalan production road) atau sesuai pancang rumpukan yang telah
dipasang.
Jarak antara rumpukan yang satu dengan jalur rumpukan lain adalah 2 4 baris tanaman tergantung volume kayukayu hasil tumbangan.
Untuk areal rendahan, dimana areal tersebut agak basah maka pelaksanaan land clearing dapat dikerjakan secara
manual dan atau menggunakan alat excavator dengan jarak antara rumpukan yang satu dengan rumpukan lain
adalah 2 (dua) baris tanaman atau dengan jarak 16 m.
Jalur rumpukan kayu yang panjangnya 300 m harus dibuat secara terputus pada setiap jarak 50 m, sehingga ada
jalan untuk orang melintas antar jalur tanaman.
Titik tanam yang akan di pancang harus bebas dari tunggul kayu dengan jarak minimum 1,5 m dari kiri dan kanan
jalur tanaman.
5.6.4. Pancang Jalur Tanam
Pekerjaan pemancangan adalah pekerjaan memasang tonggak kayu pada jarak yang ditentukan dan pancang
tersebut berfungsi sebagai acuan untuk penanaman.
Pekerjaan pemancangan harus memenuhi syarat-syarat (spesifikasi) sebagai berikut :
Kayu yang dipakai untuk pemancangan (anak pancang) minimal berukuran panjang 2 m dan diameter 2 cm.
Pemancangan dilaksanakan dengan jarak 8,8 m x 8,8 m x 8,8 m (segitiga sama sisi) atau populasi tanaman per
hektar 150 pokok.
Pancang kepala dibuat menurut jarak antar barisan tanaman (gawangan) arah Timur-Barat dengan jarak 7,6 m.
Dalam pengukuran untuk pemancangan, diasumsikan parit dan jalan dianggap tidak ada sehingga seluruh areal
yang diukur dianggap dipancang seluruhnya.
Semua titik tanam yang telah dipancang harus dibebaskan dari kayu dengan radius minimal 2,5 m. Demikian juga
jalan untuk supervisi selebar 1,5 m harus bebas dari kayu.
5.7. PEMBERSIHAN DAN PEMADATAN JALUR TANAMAN.

5.7.1. Pembersihan
Pembersihan jalur tanaman dilaksanakan setelah selesai pekerjaan rencek dan perun.
Sepanjang jalur tanam harus bersih dari tunggul dan kayu besar, agar tidak menggangu ruang gerak alat berat
pada saat pemadatan (compacting).
Cara kerjanya adalah kayu dan tunggul yang berada di jalur tanam didorong ke tepi, jika diperlukan dapat
dilakukan rencek perun ulang, sehingga lahan betul-betul bersih. Atau rumpukan-rumpukan yang ada diinjak-injak
alat berat sampai rata dengan tanah.
Pekerjaan ini dilakukan secara mekanis dengan menggunakan Excavator atau Bulldozer seri D6.
5.7.2. Pemadatan
a. Tujuan Pemadatan
Menurunkan permukaan tanah gambut secara cepat dan cukup dalam (3050 cm), sehingga dalam proses
penurunan permukaan gambut selanjutnya, akar tanaman sudah dapat menjangkar kuat didalam tanah. Tindakan
demikian akan mengurangi kecenderungan tanaman menjadi miring dan roboh.
Memudahkan mobilitas pekerja dalam pengelolaan tanaman karena tanpa dipadatkan tanah menjadi lunak pada
waktu basah dan berdebu pada waktu kering.
b. Cara Pemadatan.
Dibuat pancang/tanda yang jelas untuk setiap jalur tanam yang akan dipadatkan, sehingga memudahkan operator
alat berat pada saat bekerja di lapangan.
Pemadatan dilakukan pada 2 (dua) jalur tanaman secara mekanis mempergunakan alat berat.
Alat berat yang dipergunakan adalah Bulldozer seri D6 atau seri D4 atau Excavator dengan mengikuti jalur tanam
yang sudah dibersihkan.
6. PENANAMAN KACANGAN
Penjelasan detail mengenai penanaman kacangan disajikan pada buku pedoman teknis Penanaman Kacangan
policy no. 003C/AGR-LCC/03.
6.1. KONDISI LAHAN
Perlu tidaknya penanaman kacangan tergantung pada kondisi lahan, sebagai berikut :
Lahan yang sudah selesai di LC dan segera akan ditanam kelapa sawit mutlak perlu dilakukan penanaman
kacangan. Tujuan utamanya adalah untuk menekan pertumbuhan gulma terutama lalang.
Untuk areal yang telah diberakan lebih dari 1 tahun dan ditumbuhi gulma pakis maka sebelum ditanami kacangan
harus dilakukan pemberantasan terhadap gulma tersebut.
6.2. JENIS KACANGAN
Jenis kacangan yang dapat digunakan adalah : Calopogonium caeruleum (CC), Pueraria javanica (PJ) dan
Centrosema pubescens (CP), Colopogonium mucunoides (CM).
Komposisi campuran yang disarankan per ha adalah : 1 kg CC + 5 Kg PJ atau 100 % CC dengan stek
7. PENANAMAN KELAPA SAWIT
Penjelasan detail mengenai penanaman kelapa sawit disajikan pada buku pedoman teknis Penanaman Kelapa
Sawit policy no. 003/AGR-TNM/03.
7.1. KERAPATAN TANAMAN
Kerapatan tanaman kelapa sawit di tanah gambut yang dianjurkan adalah 150 pohon/ha dengan jarak tanam 8,8 x
8,8 x 8,8 m segitiga samasisi.
7.2. KETENTUAN PENANAMAN
a. Jika jalur tanam dipadatkan secara mekanis memakai alat berat (Bulldozer atau excavator), kelapa sawit ditanam
dengan ukuran lobang 50 x 50 x 50 cm.

b. Jika jalur tanam tidak dipadatkan, kelapa sawit ditanam dengan sistem lobang dalam lobang (hole in hole planting)
dengan ukuran lobang tanam sebagai berikut :
Lobang luar : 140 x 140 x 140 cm
Lobang dalam : 40 x 40 x 40 cm
c. Lubang tanam hole in hole planting dapat dibuat dengan menggunakan Excavator PC 100 (preplant compactor)
yang telah dimodifikasi bentuk ujung lengannya (arm) seperti pada gambar berikut:
Hidraulic
Lengan excavator
140 cm 40 cm
60 cm
40 cm
40 cm
d. Tunggul kayu yang terletak tepat di lobang tanam harus dibongkar, kecuali jika tunggulnya tidak terlalu
mengganggu dapat sedikit digeser.
e. Setiap lubang tanam diberi pupuk dasar, berupa campuran 75 gr CuSO4 dan15 gr ZnSO4, 150 gr RP alam dan
1500 gr kapur pertanian
8. PEMUPUKAN
8.1. TANAMAN BELUM MENGHASILKAN (TBM)
Program pemupukan TBM di tanah gambut disajikan pada tabel dibawah ini. Pupuk TSP bisa diganti dengan fosfat
alam (RP) dengan dosis RP 1,5 kali dosis TSP.
8.2. TANAMAN MENGHASILKAN (TM)
Dosis pupuk untuk TM direkomendasikan oleh Riset dari analisa tanah dan daun serta keadaan tanaman di
lapangan.
Rekomendasi Pemupukan Tanaman Belum Menghasilkan (TBM) untuk tanah gambut
Tahun
Ke Bulan Urea RP MoP LSD Dol HGFB ZnSo4 CuSO4 Jumlah
(gram)
gram per pohon
I0
(lubang tanam) 150 1500 15 75 1740
1
2 200 200
5 200 450 200 850
8 200 300 30 530
12 200 350 50 50 650
II 16 350 600 550 1500
18 400 400
20 350 600 950
24 350 600 950
III 28 350 600 600 1550
30 350 700 1050
32 500 600 500 50 1650
36 500 600 900 2000

40 500 1000 1500


Jumlah Tahun I 800 600 850 1500 30 65 125 3970
Tahun II 1050 600 1750 400 3800
Tahun III 2200 1200 3800 500 50 7750
Jumlah 3 tahun pertama 4050 2400 6400 1500 900 80 65 125 15520
About
ads
Beri these
peringkat:

3 Votes

Share this:

Berbagi

Terkait

Contoh Studi Kasus Internal Auditdalam "Kelapa Sawit"


Legume cover crop (LCC)dalam "Kelapa Sawit"
Kelapa Sawitdalam "Kelapa Sawit"
FILED UNDER KELAPA SAWIT, TANAMAN TAGGED WITH BUDIDAYA, GAMBUT, KELAPA SAWIT, LAND
CLEARING,PEMBUKAAN LAHAN

Perihal puputwawan
About me? I don't have more story or something to description about me..

8 Responses to Land Clearing (Pembukaan Lahan ) Gambut Kelapa Sawit

1.

sonny mengatakan:

Januari 6, 2012 pukul 10:33 am

Penentuan saluran dikiri atau kanan jalandan Barat Timur atau Utara- Selatan dari MD/CD tergantung dari kearah
mana air akan dibuang ke sungai, sehingga sebelum dilakukan LC ( penggalian parit ) dibuat rencana jaringan
drainage berdasatrkan cachtment areal ( daerah tangkapan air )

Balas

2.

raitodiradira mengatakan:

Januari 23, 2012 pukul 7:33 am

gambarnya bisa di liat dimana y?

Balas

3.

sampur dwion mengatakan:

Maret 31, 2012 pukul 6:36 am

Saya memerlukan informasi kontraktor puncher lubang tanam daerah Palembang

Balas

4.

Asep Soni Bagja mengatakan:

Agustus 25, 2012 pukul 12:34 pm

terimakasih atas segala ulasannya yang sangat berharga ini

Balas

5.

hendri mengatakan:

Januari 1, 2013 pukul 8:06 pm

trim,s infonya

Balas

6.

Exca Kebun Sawit mengatakan:

Mei 18, 2013 pukul 7:40 pm

kami JUAL excavator kebun sawit, jual excavator swamp / rawa-rawa untuk kebun sawit lahan gambut, jual
excavator amphibi dengan pontoon undercarriage yang berguna untuk menjadikan excavator biasa menjadi
excavator amphibi atau swamp excavator atau excavator rawa-rawa, floating excavator. Swamp backhoe cocok
untuk pengerukan kebun sawit lahan gambut, empang, tambak, danau, sungai, pantai.
Swamp backhoe atau Excavator amphibi merupakan excavator terapung di air maupun lumpur atau lahan gambut
serta rawa-rawa.
Silahkan hubungi :
Email : info@swampbackhoe.com
HP: 081241346651 atau 081241888131 atau 085255816221
PIN BB : 275EA90D

Balas

7.

hugoeko mengatakan:

Januari 17, 2014 pukul 9:56 pm

Tks atas info nya moga bermanfaat bagi diri saya dan team dari perkebunan kami.

Balas

8.

Permana mengatakan:

Agustus 18, 2014 pukul 3:26 pm

Mas, tolong share dokumen ISPO, donk ??


Kita mau sertifikasi tp masih banyak kurang terkait dokumentasi (SOP, IK dan Form) yang belum disusun. Please &
Thanks.

Balas

Berikan Balasan

Cari:
Cari

Arsip
Arsip

Juni 2011

S
6
13
20
27

S
7
14
21
28

R
1
8
15
22
29

K
2
9
16
23
30

3
10
17
24

Sep
4
11
18
25

5
12
19
26

Top Rated
Posts | Pages | Comments
All | Today | This Week | This Month

Pembibitan kacangan kelapa sawit


5/5 (1 vote)

Pemupukan Kelapa Sawit


5/5 (1 vote)

Samsung Galaxy W I8150


5/5 (1 vote)

Samsung Galaxy Note


5/5 (1 vote)

Rute Lama Jalan Lintas Sumatera


5/5 (1 vote)

Klik tertinggi

wordpress.com/about-these

gravatar.com/6caa9dc38cda

212,060 hits

rmm_ki101(0,130,7cb4cs3k8ei,fff600);

Tanaman

Kelapa Sawit

Gula
Blog di WordPress.com.
The Enterprise Theme.

Ikuti

Follow Puputwawan's Blog


Get every new post delivered to your Inbox.
Bergabunglah dengan 31 pengikut lainnya.

Sign me up

Buat situs dengan WordPress.com