You are on page 1of 4

Penatalaksanaan Penyakit Kusta

Pengobatan
Pengobatan penderita kusta yang saat ini dilaksanakan di Indonesia adalah
dengan menggunakan Multi Drug Therapy(MDT) dengan regimen
pengobatan sesuai yang direkomendasikan oleh WHO yaitu sebagai berikut :
1. Tipe Pausi Basiler
Jenis obat dan dosis untuk orang dewasa :
Pengobatan bulanan : hari pertama (dosis yang diminum didepan petugas) :
– 2 kapsul Rifampisin @ 300 mg (600 mg)
– 1 tablet Dapson/DDS 100 mg
Pengobatan harian : hari ke 2-28
– 1 tablet Dapson/DDS 100 mg (berupa 1 blister untuk 1 bulan)
Lama pengobatan : 6 blister diminum selama 6 bulan, maksimal 9 bulan.
2. Tipe Multi Basiler
Jenis obat dan dosis untuk orang dewasa
Pengobatan bulanan : hari pertama (dosis yang diminum didepan petugas)
– 2 kapusl Rifampicin @ 300 mg (600 mg)
– 3 tablet Lamprene @ 100 mg (300 mg)
– 1 tablet Dapson/DDS 100 mg
Pengobatan harian : hari ke 2-28
– 1 tablet Lamprene 50 mg
– 1 tablet Dapson/DDS 100 mg
1 blister untuk 1 bulan
Lama pengobatan : 12 blister diminum selama 12 – 18 bulan.
3. Dosis MDT menurut umur

Bagi dewasa dan anak usia 10 – 14 tahun tersedia paket dalam bentuk blister. Rehabilitasi bidang medis – Perawatan (care) yang dikerjakan bersamaan dengan program Pengendalian Penyakit Kusta melalui kegiatan Pencegahan Cacat (POD). Rehabilitasi Bidang sosial-ekonomi Rehabilitasi sosial ditujukan untuk mengurangi masalah psikologis dan stigma sosial agar PCK dapat diterima di masyarakat. modal bergulir. Dosis anak disesuaikan dengan berat badan – Rifampisin – DDS : 10-15 mg/Kg BB : 1-2 mg/Kg BB – Clofazimine : 1 mg/Kg BB Rehabilitasi Penyandang cacat kusta (PCK) perlu mendapat berbagai macam rehabilitasi melalui pendekatan paripurna mencakup bidang-bidang sebagai berikut : 1. penyuluhan dan pendidikan. Penemuan penderita secara pasif (sukarela) . 2. Sedangkan rehabilitasi ekonomi ditujukan untuk perbaikan ekonomi dan kualitas hidup meliputi : pelatihan keterampilan kerja (vocational training). 1. Kegiatan meliputi : konseling. modal usaha dan lain-lain. Penemuan Penderita Kusta Penemuan penderita kusta dibedakan menjadi 2 golongan yakni penemuan penderita secara pasif (sukarela) dimana penderita datang sendiri ke Puskesmas dan penemuan secara aktif dimana penderita tersebut ditemukan oleh petugas dimana mereka berada. advokasi. – Rehabilitasi fisik dan mental Rehabilitasi yang dilakukan melalui berbagai tindakan pelayanan medis dan konseling medik. fasilitas kredit kecil untuk usaha sendiri. kelompok perawatan diri (KPD) atau Self Care Group.

Pemeriksaan dilakukan mulai dengan murid Taman Kanak-Kanak. Frekwensi pemeriksaan dilakukan minimal 1 tahun sekali dimulai pada anggota keluarga yang dinyatakan sakit kusta pertama kali dan perhatian khusus ditujukan pada kontak tipe MB. yaitu: a. Penemuan penderita secara aktif Penemuan penderita secara aktif dilaksanakan dalam beberapa kegiatan. Survei khusus Yaitu survei yang tidak termasuk dalam survei rutin seperti tersebut diatas. Survei ini meliputi : . c. Pelaksanaan pemeriksaan ini dilakukan kerjasama dengan Usaha Kesehatan Sekolah (UKS) dan guru sekolah.Penderita atau tersangka penderita kusta dating sendiri memeriksakan diri ke puskesmas atau dilaporkan (dirujuk) petugas kesehatan atau masyarakat. Frekwensi pemeriksaan dilakukan 2 tahun sekali. b. Pemeriksaan dilaksanakan pada semua anggota keluarga yang tinggal serumah dengan penderita. Pemeriksaan kontak serumah Tujuan pemeriksaan kontak serumah adalah untuk mencari penderita yang mungkin sudah lama ada dan belum berobat serta mencari penderita baru yang mungkin ada. murid SD kelas 1 sampai kelas 6. Pemeriksaan anak sekolah dasar/taman kanak-kanak sederajat Tujuan pemeriksaan tersebut untuk mendapatkan penderita kusta sedini mungkin dan memberikan penyuluhan kepada murid dan guru. Beberapa faktor yang menyebabkan penderita tidak atau belum datang berobat ke Puskesmas antara lain sebagai berikut : – Tidak mengerti tanda-tanda dini penyakit kusta – Malu datang ke Puskesmas – Ada keengganan petugas kesehatan untuk melayani penderita kusta – Tidak tahu bahwa ada obat tersedia cuma-cuma di Puskesmas – Jarak tempat tinggal penderita terlalu jauh ke Puskesmas 2.

– Chase survey (survei penemuan penderita melalui partisipasi masyarakat). dimana proporsi penderita baru MB minimal 60% dan dijumpai penderita usia muda cukup tinggi. Survei ini dilaksanakan dengan tim yang tetap dan dipimpin oleh seorang dokter yang telah berpengalaman di bidang kusta. Tujuan survei ini adalah mencari penderita baru dalam suatu lingkungan kecil misalnya desa atau kelurahan sambil membina partisipasi masyarakat. yang alpa dicari untuk diperiksa. jika perlu dapat diulang pada tahun berikutnya.– Survei fokus Dilakukan pada suatu lingkungan kecil misalnya suatu rumah tangga. Survei fokus dilakukan sekali saja. . dengan cara diadakan pertemuan/penyuluhan dengan pemuka masyarakat yang dipimpin oleh kepala desa dan dihadiri oleh camat. – Random sampel survei (survey prevalence) Survei ini dilakukan sesuai perencanaan dan petunjuk dari pusat. Caranya : terlebih dahulu didaftarkan nama-nama penduduk RT menurut keluarga mulai dari kepala keluarga dan kemudian diperiksa rumah ke rumah. Frekwensi pelaksanaan chase survey ini adalah setahun sekali.