You are on page 1of 15

ASUHAN KEPERAWATAN KEHAMILAN EKTOPIK (KET)

DISUSUN OLEH

: KELOMPOK VI

NAMA

: HANNA GRATIA TAMBUNAN

NIM

: PO.71.20.1.12.026

TINGKAT

: 2B

DOSEN PENGAMPUH :

KEMENTRIAN KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA


POLITEKNIK KESEHATAN PALEMBANG
JURUSAN KEPERAWATAN
2013/2014

BAB I
PENDAHULUAN
A.

Latar Belakang
Kehamilan ektopik adalah adalah suatu kehamilan yang berbahaya bagi wanita yang

bersangkutan berhubungan dengan besarnya kemungkinan terjadi keadaanyang gawat.


Keadaan gawat ini dapat terjadi apabila kehamilan ektipok terganggu.Kehamilan ektopik
terganggu merupakan peristiwa yang dapat di hadapioleh setiap dokter , karena sangat
beragamnya gambaran klinik kehamilan ektopik terganggu itu. Tidak jarang yang
menghadapi penderita untuk pertama kali adalahdokter umum atau dokter ahli lainnya, maka
dari itu, perlu di ketahui oleh setiapdokter klinik kehamilan ektopik tergangguserta diagnosis
difernsialnya.
Hal yang perlu diingat ialah, bahwa setiap pada setiap wanita dalam masa reproduksi
dengangangguan atau keterlambatan haid yang disertai dengan nyeri perut bagian
bawah, perlu di fikirkan kehamilan ektopik tergangguKehamilan ektopik adalah kehamilan
dengan implantasi terjadi diluar rongga uterus, Sebagian besar wanita yang mengalami
kehamilan ektopik berumur antara 20-40 tahun dengan umur rata-rata 30 tahun,frekwensi
kehamilan ektopik yang berulang dilaporkan berkisar antara 0%-14,6%. apabila tidak diatasi
ataudiberikan penanganan secara tepat dan benar akan membahayakan bagisipenderita.
(Sarwono Prawiroharjho, Ilmu Kebidanan, 2005)

BAB II
TINJAUN TEORI
A.

Pengertian
Kehamilan Ektopik Terganggu adalah implantasi dan pertumbuhanhasil konsepsi di

luar endometrium (Mansjoer A, 2000 ; 267). Kehamiian Ektopik Terganggu adalah kehamilan
yang terjadi bilatelur yang dibuahi berimplantasi dan tumbuh di luar endometrium
kavumuteri (Prawiroharjo S, 2002 ; 323). Kehamiian Ektopik Terganggu adalah kehamilan
dimana setelahfertilisasi, implantasi terjadi di luar endometrium kavum uteri (PrawiroharjoS,
1999, ; 1J2). Kehamilan Ektopik Terganggu adalah kehamilan yang terjadi di luar rongga
rahim (kavum uteri)
B.

Etiologi

Etiologi dari kehamilan ektopik telah banyak diselidiki,tetapi sebagian besar penyebabnya
tidak diketahui. faktor-faktor yang memegang peranandalam hal ini ialah sebagai berikut :
1.

Faktor tuba, yaitu salpingitis, perlekatantuba, kelainan konginetal

2.

Kelainan zigot, yaitu kelainan kromosom dan malformasi

3.

Faktor ovarium yaitu migrasi luar ovum dan pembesaran ovum

4.

Faktor hormon esterogen

5.

Faktor lain, antara lain aborsi tuba dan pemakain IUD

(Dr. Rustam Mochtar, Sinopsis Obstetri, 2000)

C.

Klasifikasi

Sarwono Prawirohardjo dan Cuningham masing-masing dalam bukunya mengklasifikasikan


kehamilan ektopik berdasarkan lokasinya antara lain :

1.

Tuba falopi, pars-intertisialis, isthmus, ampula, infundibulum, fimbrae

2.

Uterus, kanalis servikalis, divertikulum, kornu, tanduk rudimenter,

3.

Ovarium

4.

Intraligamenter

5.

Abdominal, primer dan sekunder

6.

Kombinasi kehamilan dalam dan luar uterus

D.

Patofisiologi
Proses implantasi ovum di tuba pada dasarnya sama dengan yang terjadi di kavum

uteri. Telur di tuba bernidasi secara kolumnar atau interkolumnar. Pada nidasi secara
kolumnar telur bernidasi pada ujung atau sisi jonjot endosalping. Perkembangan telur
selanjutnya dibatasi oleh kurangnya vaskularisasi dan biasanya telur mati secara dini dan
direabsorbsi. Pada nidasi interkolumnar, telur bernidasi antara dua jonjot endosalping. Setelah
tempat nidasi tertutup maka ovum dipisahkan dari lumen oleh lapisan jaringan yang
menyerupai desidua dan dinamakan pseudokapsularis. Karena pembentukan desidua di tuba
malahan kadang-kadang sulit dilihat vili khorealis menembus endosalping dan masuk
kedalam otot-otot tuba dengan merusak jaringan dan pembuluh darah. Perkembangan janin
selanjutnya tergantung dari beberapa faktor, yaitu; tempat implantasi, tebalnya dinding tuba
dan banyaknya perdarahan yang terjadi oleh invasi trofoblas.
Di bawah pengaruh hormon esterogen dan progesteron dari korpus luteum graviditi
dan tropoblas, uterus menjadi besar dan lembek, endometrium dapat berubah menjadi
desidua. Beberapa perubahan pada endometrium yaitu; sel epitel membesar, nucleus
hipertrofi, hiperkromasi, lobuler, dan bentuknya ireguler. Polaritas menghilang dan nukleus
yang abnormal mempunyai tendensi menempati sel luminal. Sitoplasma mengalami
vakuolisasi seperti buih dan dapat juga terkadang ditemui mitosis. Perubahan endometrium
secara keseluruhan disebut sebagai reaksi Arias-Stella.
Setelah janin mati, desidua dalam uterus mengalami degenerasi kemudian dikeluarkan
secara utuh atau berkeping-keping. Perdarahan yang dijumpai pada kehamilan ektopik
terganggu berasal dari uterus disebabkan pelepasan desidua yang degeneratif.
4

Sebagian besar kehamilan tuba terganggu pada umur kehamilan antara 6 sampai 10
minggu. Karena tuba bukan tempat pertumbuhan hasil konsepsi, tidak mungkin janintumbuh
secara utuh seperti dalam uterus. Beberapa kemungkinan yang mungkin terjadi adalah :
1. Hasil konsepsi mati dini dan diresorbsi
Pada implantasi secara kolumna, ovum yang dibuahi cepat mati karena vaskularisasi
yang kurang dan dengan mudah diresobsi total.
2. Abortus ke dalam lumen tuba
Perdarahan yang terjadi karena terbukanya dinding pembuluh darah oleh vili korialis
pada dinding tuba di tempat implantasi dapat melepaskan mudigah dari dinding tersebut
bersama-sama dengan robeknya pseudokapsularis. Segera setelah perdarahan, hubungan
antara plasenta serta membran terhadap dinding tuba terpisah bila pemisahan sempurna,
seluruh hasil konsepsi dikeluarkan melalui ujung fimbrae tuba ke dalam kavum peritonium.
Dalam keadaan tersebut perdarahan berhenti dan gejala-gejala menghilang.
3. Ruptur dinding tuba
Penyebab utama dari ruptur tuba adalah penembusan dinding vili korialis ke dalam
lapisan muskularis tuba terus ke peritoneum. Ruptur tuba sering terjadi bila ovum yang
dibuahi berimplantasi pada isthmus dan biasanya terjadi pada kehamilan muda. Sebaliknya
ruptur yang terjadi pada pars-intersisialis pada kehamilan lebih lanjut. Ruptur dapat terjadi
secara spontan, atau yang disebabkan trauma ringan seperti pada koitus dan pemeriksaan
vagina.

E.

Manifestasi Klinis
Gambaran klinik dari kehamilan ektopik terganggu tergantung pada lokasinya. Tanda

dan gejalanya sangat bervariasi tergantung pada ruptur atau tidaknya kehamilan tersebut.
Adapun gejala dan hasil pemeriksaan laboratorium antara lain :
1. Amenore
2. Gejala kehamilan muda
3. Nyeri perut bagian bawah pada ruptur tuba nyeri terjadi tiba-tiba danhebat,
menyebabkan penderita pingsan sampai shock. Pada Abortus tubanyeri mula-mula
5

pada satu sisi, menjalar ke tempat lain. Bila darahsampai diafragma bisa
menyebabkan nyeri bahu dan bila terjadihematokel retrouterina terdapat nyeri
defekasi.
4. Perdarahan pervapina bewarna coklat
5. Pada pemeriksaan vagina terdapat nyeri goyang bila serviks digerakkan,nyeri pada
perabaan dan kavum douglasi menonjol karena ada bekuan darah

G.

Komplikasi

Ada beberapa komplikasi yang muncul mungkin terjadi pada kehamilan ektopik,antara lain :
1. Pada pengobatan konservatif, yaitu apabila ada ruptur tuba telah lama berlangsung (46 minggu), terjadi perdarahan ulang (recurrent bleeding) ini merupakan indikasi
2.
3.
4.
5.

operasi.
Dapat menyebabakan infeksi.
Terjadi subileus karena terdapat massa pada pelvis.
Terjadi sterilitas.
Apabila perdarahan terjadi secara terus-menerus maka bisa terjadi anemia akibat
kekurangan darah

Komplikasi juga tergantung dari lokasi tumbuh berkembangnya mudigah. Misalnya bila
terjadi kehamilan tuba, komplikasi yang sering adalah pecahnya tuba falopii
H.

Pemeriksaan Penunjang
1. Pemeriksaan Laboratorium :
a. Pemeriksaan darah lengkap
b. Pemeriksaan kadar hormon progesteron
c. Pemeriksaan kadar HCG serum
d. Pemeriksaan golongan darah
2. Kuldosentesis (Pengambilan cairan peritoneal dari ekstra vasio rektouterina (ruang
Douglas), melalui tindakan pungsi melalui dinding vagina).
3. Ultrasonografi (USG)

I.

Penatalaksanaan
Pada kehamilan ektopik terganggu, walaupun tidak selalu ada bahaya terhadap jiwa

penderita, dapat dilakukan terapi konservatif, tetapi sebaiknya tetap dilakukan tindakan
6

operasi. Kekurangan dari terapi konservatif (non-operatif) yaitu walaupun darah berkumpul
di rongga abdomen lambat laun dapat diresorbsi atau untuk sebagian dapat dikeluarkan
dengan kolpotomi (pengeluaran melalui vagina dari darah di kavum Douglas), sisa darah
dapat menyebabkan perlekatan-perlekatan dengan bahaya ileus. Operasi terdiri dari
salpingektomi ataupun salpingo-ooforektomi. Jika penderita sudah memiliki anak cukup dan
terdapat kelainan pada tuba tersebut dapat dipertimbangkan untuk mengangkat tuba. Namun
jika penderita belum mempunyai anak, maka kelainan tuba dapat dipertimbangkan untuk
dikoreksi supaya tuba berfungsi.
Tindakan laparatomi dapat dilakukan pada ruptur tuba, kehamilan dalam divertikulum
uterus, kehamilan abdominal dan kehamilan tanduk rudimenter. Perdarahan sedini mungkin
dihentikan dengan menjepit bagian dari adneksia yang menjadi sumber perdarahan. Keadaan
umum penderita terus diperbaiki dan darah dari rongga abdomen sebanyak mungkin
dikeluarkan. Serta memberikan transfusi darah.
Untuk kehamilan ektopik terganggu dini yang berlokasi di ovarium bila
dimungkinkan dirawat, namun apabila tidak menunjukkan perbaikan maka dapat dilakukan
tindakan sistektomi ataupun oovorektomi (5). Sedangkan kehamilan ektopik terganggu
berlokasi di servik uteri yang sering menngakibatkan perdarahan dapat dilakukan
histerektomi, tetapi pada nulipara yang ingin sekali mempertahankan fertilitasnya diusahakan
melakukan terapi konservatif

J.

Prognosis
Penderita kehamilan ektopik mempunyai kemungkinan yang lebih besar,untuk

mengalami kehamilan ektopik kembali. Selain itu kemungkinan untuk mengalami kehamilan
akan menurun.

Asuhan Keperawatan
1.

Pengkajian

a.

Biodata
7

1. Nama, sebagai identitas bagi pelayanan kesehatan/Rumah Sakit/Klinik atau catat


apakah klien pernah dirawat disini atau tidak.
2. Umur, Digunakan sebagai pertimbangan dalam memberikan terapi dantindakan, juga
sebagai acuan pada umur berapa penyakit/kelainantersebut terjadi. Pada keterangan
sering terjadi pada usia produktif 25 - 45 tahun (Prawiroharjo S, 1999 ; 251).
3. Alamat, sebagai gambaran tentang lingkungan tempat tinggal klien apakahdekat atau
jauh dari pelayanan kesehatan khususnya dalam pemeriksaan kehamilan.
4. Pendidikan, Untuk mengetahui tingkat pengetahuan klien sehingga akanmemudahkan
dalam pemberian penjelasan dan pengetahuan tentanggejala / keluhan selama di
rumah atau Rumah Sakit.
5. Status pernikahan, Dengan status perkawinan mengetahui berapa kali klien
mengalamikehamilan (KET) atau hanya sakit karena penyakit lain yang tidak ada
hubungannya dengan kehamilan.
6. Pekerjaan, Untuk mengetahui keadaan aktivitas sehari-hari dari klien,
sehinggamemungkinkan menjadi faktor resiko terjadinya KET.
b.

Keluhan Utama
Nyeri hebat pada perut bagian bawah dan disertai dengan perdarahanselain itu klien

ammeorrhoe.
c.

Riwayat penyakit sekarang


Awalnya wanita mengalami ammenorrhoe beberapa minggu kemudiandisusul dengan

adanya nyeri hebat seperti disayat-sayat pada mulanyanyeri hanya satu sisi ke sisi berikutnya
disertai adanya perdarahan pervagina :
1. Kadang disertai muntah
2. Keadaan umum klien lemah dan adanya syok
3. Terkumpulnya darah di rongga perut :
a. Menegakkan dinding perut nyeri
b. Dapat juga menyebabkan nyeri hebat hingga klien pingsan
4. Perdarahan terus menerus kemungkinan terjadi syok hipovolemik
d.

Riwayat penyakit masa lalu


1. Mencari faktor pencetus misalnya adanya riwayat endomatritis, addresitis
menyebabkan perlengkapan endosalping, Tuba menyempit / membantu.
2. Endometritis endometritis tidak baik bagian nidasi

e.

Status obstetri ginekologi


8

1. Usia perkawinan, sering terjadi pada usia produktif 25 45 tahun, berdampak


bagi psikososial, terutama keluarga yang masih mengharapkan anak.
2. Riwayat persalinan yang lalu, Apakah klien melakukan proses persalinan di petugas
kesehatan atau di dukun
3. Grade multi
4. Riwayat penggunaan alat kontrasepsi, seperti penggunaan IUD.
5. Adanya keluhan haid, keluarnya darah haid dan bau yangmenyengat. Kemungkinan
adanya infeksi.
f.

Riwayat kesehatan keluarga


1. Hal yang perlu dikaji kesehatan suami
2. Suami mengalami infeksi system urogenetalia, dapat menular padaistri dan dapat
mengakibatkan infeksi pada celvix.

g.

Riwayat Psikososial
Tindakan salpingektomi menyebabkan infertile. Mengalami gangguankonsep diri,

selain itu menyebabkan kekhawatiran atau ketakutan


h.

Pola aktivitas sehari hari


1. Pola nutrisi
Pada rupture tube keluhan yang paling menonjol selain nyeri adalah Nausea dan

vomiting karena banyaknya darah yang terkumpul dirongga abdomen.


2. Eliminasi
Pada BAB klien ini dapat menimbulkan resiko terhadap konstipasiitu diakibatkan karena
penurunan peristaltik usus, imobilisasi, obatnyeri, adanya intake makanan dan cairan yang
kurang. Sehinggatidak ada rangsangan dalam pengeluaran faeces.Pada BAK klien mengalami
output urine yang menurun < 1500ml/hr, karena intake makanan dan cairan yang kurang.
3. Personal hygiene
Luka operasi dapat mengakibatkan pembatasan gerak, takut untuk melakukan aktivitas
karena adanya kemungkinan timbul nyeri,sehingga dalam personal hygiene tergantung pada
orang lain.
4. Pola aktivitas (istirahat tidur)

Terjadi gangguan istirahat, nyeri pada saat infeksi/defekasi akibathematikei retropertonial


menumpuk pada cavum Douglasi.
i.

Pemeriksaan Fisik
1. Keadaan umum
Tergantung banyaknya darah yang keluar dan tuba, keadaan umumialah kurang lebih

normal sampai gawat dengan shock berat dananemi (Prawiroharjo, 1999 ; 255)
2. Pemeriksaan kepala dan leher
Muka dan mata pucat, conjungtiva anemis (Prawiroharjo, 1999 ;155)
3. Pemeriksaan leher dan thorak
Tanda-tanda kehamilan ektopik terganggu tidak dapatdiidentifikasikan melalui leher
dan thorax, Payudara pada KET, biasanya mengalami perubahan.
4. Pemeriksaan abdomen
Pada abortus tuba terdapat nyeri tekan di perut bagian bawah disisiuterus, dan pada
pemeriksaan luar atau pemeriksaan bimanualditemukan tumor yang tidak begitu padat, nyeri
tekan dan dengan batas-batas yang tidak rata disamping uterus.Hematokel retrouterina dapat
ditemukan. Pada repture tuba perutmenegang dan nyeri tekan, dan dapat ditemukan cairan
bebas dalamrongga peritoneum. Kavum Douglas menonjol karena darah yang berkumpul
ditempat tersebut baik pada abortus tuba maupun padarupture tuba gerakan pada serviks nyeri
sekali (Prawiroharjo S,1999, hal 257).
5. Pemeriksaan genetalia
a. Sebelum dilakukan tindakan operasi pada pemeriksaangenetalia eksterna dapat
ditemukan adanya perdarahan pervagina. Perdarahan dari uterus biasanya sedikitsedikit, berwarna merah kehitaman.
b. Setelah dilakukan tindakan operasi pada pemeriksaan genetaliadapat ditemukan
adanya darah yang keluar sedikit.
6. Pemeriksaan ekstremitas
Pada ekstrimitas atas dan bawah biasanya ditemukan adanya akraldingin akibat syok
serta tanda-tanda cyanosis perifer pada tangandan kaki.

10

2.

Analisa Data
Analisa data adalah kemampuan menggabungkan data danmengkaitkan data tersebut

dengan konsep yang relevan untuk membuatkesimpulan dalam menentukan masalah


kesehatan dan keperawatan.Dalam analisa data ini pengelompokan data dilakukan
berdasarkanreaksi baik subyektif maupun obyektif yang digunakan untuk
menentukanmasalah dan kemungkinan penyebab.
3.

Diagnosa Keperawatan
a. Gangguan pemenuhan kebutuhan cairan tubuh berhubungan dengan perdarahan.
b. Gangguan rasa nyaman (nyeri) berhubungan dengan adanya rupturetuba atau robekan
lapisan pelvis.
c. Potensial shock berhubungan dengan perdarahan yang hebat
d. Gangguan psikologis (cemas) berhubungan dengan kurangnya pengetahuan tentang
kesuburan yang terancam.

4.

Intervensi Keperawatan
a. Gangguan pemebuhan kebutuhan cairan tubuh sehubungan dengan perdarahan.

Tujuan : perdarahan berhenti


Kriteria hasil : tidak ada tanda tanda syok
Intervensi :
1.

Kaji perdarahan (jumlah, warna dan gumpalan)

Rasional : Untuk mengetahui adanya gejala shock


2.

Anjurkan klien banyak minum

Rasional : Dengan banyak minum maka dapat membantumengganti cairan tubuh yang hilang.
3.

Cek hemoglobin

Rasional : Mengetahui adanya enemi atau tidak


4.

Kolaborasi dengan tim medis tentang pemberian transfusi darah

Rasional : Untuk mengganti perdarahan yang banyak keluar.

11

b.

Gangguan rasa nyaman (nyeri) berhubungan dengan adanya tuba ataurobekan lapisan

pelvis.
Tujuan : nyeri berkurang atau hilang
Kriteria hasil : Ekspresi wajah klien tidak menyeringai menahan nyeri
Intervensi :
1.

Kaji tingkat nyeri klien

Rasional : Untuk mengetahui tingkat nyeri klien dar mengetahuitindakan yang akan
dilakukan selanjutnya.
2.

Kaji durasi, lokasi, frekuensi, jenis nyeri (akut, kronik, mendadak,terus - menerus)

Rasional : Dengan mengetahui hal tersebut diatas dapatmengetahui tingkat dan jenis nyeri
sehinggamempermudah intervensi selanjutnya.
3.

Ciptakan lingkungan yang nyaman bagi klien.

Rasional : Dengan menciptakan lingkungan yang nyaman bagiklien akan dapat mengurangi
rasa nyeri klien, karenalingkungan yang tidak menambah persepsi nyeri klien.
4.

Ajarkan tekhnik relakasasi, dsitraksi dan imajinasi

Rasional : Dengan mengajarkan tehnik relaksasi, distraksi dapatmeringankan nyeri


5.

Berikan kompres dingin

Rasional : Dengan memberikan kompres dingin akan memberikanrasa nyaman pada klien
sehingga dapat mengurangirasa nyeri.
6.

Berikan support sistem

Rasional : Dengan memberikan support system agar ibu dapatmengerti tentang perubahan
bentuk tubuhnya yangcepat karena ada kelainan pada tubuhnya sehingga ibudapat tenang
pada saat dilakukan tindakan.
7.

Lakukan massage pada klien


12

Rasional : Dengan melakukan massage akan memberikan rasanyaman pada ibu


8.

Atur posisi yang nyaman bagi klien

Rasional : Dengan mengatur posisi yang nyaman bagi klien akanmengurangi rasa nyeri
9.

Kolaborasi dengan tim medis

Rasional : Berkolaborasi akan membantu di dalam memberikanterapi analgesik.

c.

Potensial syok berhubungan dengan perdarahan yang hebat.

Tujuan : perdarahan berhenti


Krteria hasil : Hb klien normal ( 11 - 13 ) gr %
Intervensi :
1.

Monitor tanda tanda vital

Rasional : Monitor tanda-tanda vital akan mengetahui keadaan dan perkembangan klien.
2.

Kaji perdarahan (jumlah, warna, gumpalan)

Rasional : Mengkaji perdarahan, jumlah, warna, gumpalan akanmengetahui gejala-gejala


shock.
3.

Cek hemoglobin

Rasional : Cek Hb akan mengetahui keadaan Hb klien.


4.

Pasang infuse

Rasional : Memberikan infus akan menggantikan cairan yangkeluar.


5.

Lakukan pemeriksaan rhesus golongan darah

Rasional : Pemeriksaan tersebut memudahkan melakukantransfusi


6.

Berikan transfusi

Rasional : Memberikan transfusi darah akan menggantikan banyaknya darah yang keluar
13

7.

Observasi tanda tanda syok

Rasional : Mengobservasi tanda-tanda shock akan dapat segera mengetahui adanya


kemungkinan shock
d.

Gangguan psikologis (cemas) berhubungan dengan kurangnya pengetahuan tentang

kesuburan yang terancam


Tujuan : Rasa cemas klien hilang
Kriteria hasil : Kliendapatmengungkapkan perasaannya secara terbuka
Intervensi :
1.

Kaji tingkat kecemasan

Rasional : Mengetahui tingkat kecemasan akan mengetahuitingkat cemas klien


2.

Kaji tingkat pengetahun klien

Rasional : Mengkaji tingkat pengetahuan klien akan dapatmengetahui latar belakang


kehidupan klien

3.

Ajak klien untuk lebih terbuka

Rasional : Sikap terbuka akan mudah mengungkap masalah yangdihadapi klien yang dapat
membantu penyembuhan
4.

Berikan penjelasan tentang penyakit yang sedang diderita

Rasional : Memberikan penjelasan pada klien akan membantu menenangkan jiwa klien
5.

Anjurkan pada keluarga untuk memberikan support system

Rasional : Memberikan support sistem akan membantu memberikansemangat bagi klien.

14

DAFTAR PUSTAKA
Doenges, Marlyn. E. 1999. Rencana Asuhan Keperawatan. Ed 3. Jakarta : EGC.
Moechtar R. 1998. Kelainan Letak Kehamilan (Kehamialan Ektopik). Dalam: Sinopsis
Obstetri, Obstetri Fisiologis dan Obstetri Patologis. Edisi II. Jakarta: Penerbit Buku
kedokteran EGC ; 226-37
Smelzer,Suzanne.C,2001. Buku Ajar Keperawatan Maternitas, Brunner and Suddarth. Ed 8.
Jakarta : EGC.
http://sahabatsilat.com/forum/index.php?topic=1309.0;wap2\
www.arifsugiri.blogspot.com
http://astaqauliyah.com/2006/11/kehamilan-ektopik-terganggu/

15