You are on page 1of 11

Jurnal Didaktik Matematika

ISSN: 2355-4185

Rifaatul Mahmuzah, dkk

Peningkatan Kemampuan Berpikir Kritis dan Disposisi Matematis
Siswa SMP dengan Menggunakan Pendekatan Problem Posing
Rifaatul Mahmuzah1, M. Ikhsan1, Yusrizal2
1
2

Program Studi Magister Pendidikan Matematika Universitas Syiah Kuala
Program Studi Magister Administrasi Pendidikan Universitas Syiah Kuala
Email: rifaatulmahmuzah@gmail.com

Abstract. One of the goals of learning mathematics in school is to improve the
ability of problem solving, the student was required to have a higher thinking
skills such as critical thinking skills. Use of appropriate critical thinking skills will
greatly assist students in improving problem-solving abilities. In addition to
critical thinking, another very important aspect to be improved in mathematics
learning is positive views of students towards mathematics or known as
mathematical disposition. Problem posing approach that requires students to ask
questions and make the settlement is expected to be able to develop students
'thinking skills, especially critical thinking skills and mathematical change
students' views of mathematics became more positive. This study aims to assess
the improvement of critical thinking skills and dispositions that are taught to
students' mathematical problem posing approach and students are taught with
conventional teaching. This study is a design experiment using pre-test post-test
control group design. The population in this study is the seventh grade students of
SMP Negeri 9 Banda Aceh in the school year 2012-2013. Samples were taken two
classes VII3 class as the experimental class and the class as a class VII4 control
through random sampling technique. The instrument used to obtain research data
is test critical thinking skills questionnaire sheet-scale mathematical and
mathematical disposition. The statistical test used to analyze the data increase
critical thinking skills and dispositions are mathematically ANOVA test two paths.
The results showed that an increase in critical thinking skills and dispositions that
are taught to students' mathematical problem posing approach better than
students taught with conventional teaching.
Keywords: Problem Posing Approach, Critical Thinking Mathematically,
Mathematical Disposition.

Pendahuluan
Salah satu fokus utama dari tujuan pembelajaran matematika di sekolah, khususnya di
Sekolah Menengah Pertama (SMP) adalah untuk mengembangkan kemampuan siswa dalam
menyelesaikan masalah baik dalam bidang matematika, bidang lain, maupun dalam kehidupan
sehari-hari. Terkait dengan aspek kemampuan pemecahan masalah dalam matematika maka
seorang siswa sangat dituntut untuk memiliki suatu kemampuan berpikir yang lebih tinggi
dimana salah satunya adalah kemampuan berpikir kritis sehingga siswa mampu membuat atau
merumuskan, mengidentifikasi, menafsirkan dan merencanakan pemecahan masalah tersebut.
Hal ini sesuai dengan pendapat Spliter (1991) yang menyatakan bahwa siswa yang berpikir
kritis adalah siswa yang mampu mengidentifikasi masalah, mengevaluasi dan mengkonstruksi

43

penjelasan. Hasil studi TIMMS dan PISA menunjukkan bahwa kemampuan siswa SMP khususnya dalam bidang matematika masih dibawah standar internasional. Glazer (Lambertus. Pendapat yang serupa juga diungkapkan oleh Facione (1992) yang menyatakan bahwa berpikir kritis yang meliputi kemampuan menganalisis. menghubungkan. September 2014 argumen serta mampu memecahkan masalah tersebut dengan tepat. serta strategi kognitif dalam menggeneralisasi. Jadi berpikir kritis adalah proses berpikir yang sistematis yang memungkinkan siswa untuk merumuskan dan memutuskan keyakinannya sendiri serta mengevaluasi setiap keputusannya dengan tepat. Seseorang yang berpikir kritis akan selalu peka terhadap informasi atau situasi yang sedang dihadapinya. No.Jurnal Didaktik Matematika Vol. Akan tetapi. Oleh sebab itu. Baron dan Sternberg (1987) menyatakan bahwa berpikir kritis merupakan suatu pikiran yang difokuskan untuk memutuskan apa yang diyakini untuk dilakukan. 2007). dan percaya diri terhadap proses berpikir yang dilakukan sangat dibutuhkan seseorang dalam usaha memecahkan masalah. Indonesia 44 . Sejalan dengan itu. Pendapat yang hampir serupa juga diungkapkan oleh Krulik dan Rudnick (Fachrurazi. membuktikan dan mengevaluasi situasi matematik yang tidak dikenali dengan cara reflektif. bijaksana mencari kebenaran. melakukan interpretasi. 2011). penalaran. Hal ini terlihat dari rendahnya prestasi siswa Indonesia di dunia Internasional. pengaturan diri. 2009) menyatakan bahwa berpikir kritis dalam matematika merupakan kemampuan kognitif dan disposisi untuk menggabungkan pengetahuan. sistematis. 1. mengevaluasi setiap aspek yang ada dalam suatu masalah ataupun situasi tertentu.yang menyatakan bahwa yang termasuk berpikir kritis dalam matematika adalah berpikir yang menguji. menarik kesimpulan. Penjelasan di atas menunjukkan bahwa kemampuan berpikir kritis matematis merupakan kemampuan yang seharusnya dimiliki oleh setiap siswa untuk memecahkan masalah matematika tak terkecuali siswa sekolah Menengah Pertama (SMP). dan cenderung bereaksi terhadap situasi atau informasi tersebut. kenyataan yang terjadi di lapangan justru sebaliknya. 2. Hasil terbaru TIMSS 2011 menempatkan Indonesia di peringkat ke-38 dari 42 negara (HSRC & IEA. kemampuan berpikir kritis dalam pembelajaran matematika dapat dikembangkan dengan cara menghadapkan siswa pada masalah yang kontradiktif dan baru sehingga ia mengkonstruksi pikirannnya sendiri untuk mencari kebenaran dan alasan yang jelas (Sabandar. mempertanyakan. Ennis (1991) juga mendefinisikan berpikir kritis sebagai suatu proses penggunaan kemampuan berpikir secara rasional dan reflektif yang bertujuan untuk mengambil keputusan tentang apa yang diyakini atau dilakukan. ingin tahu. Peningkatan kemampuan berpikir matematis tingkat tinggi siswa SMP masih belum sesuai dengan yang diharapkan. 2012) dan hasil terbaru PISA 2012 lebih memprihatinkan lagi.

keingintahuan. melainkan juga ranah afektif (Mahmudi. Salah satu aspek penting dalam ranah afektif yang sangat berpengaruh terhadap proses dan hasil belajar siswa adalah pandangan positif siswa terhadap matematika atau disposisi matematis. Selain kemampuan berpikir kritis.Disposisi matematis adalah keterkaitan dan apresiasi terhadap matematika sehingga menimbulkan kecenderungan untuk berpikir dan bertindak dengan cara yang positif (NCTM. salah satu penyebab rendahnya prestasi siswa dalam bidang matematika adalah karena kemampuan siswa dalam menyelesaikan soal yang menuntut kemampuan berpikir dan bernalar yang tinggi masih sangat rendah dan hal ini dikarenakan proses pembelajaran yang selama ini diterapkan di sekolah lebih menekankan siswa untuk menghafal rumus daripada memahami konsep (Kompas. Sikap atau pandangan yang positif terhadap matematika akan sangat berpengaruh terhadap proses dan hasil belajar siswa. Disposisi matematis merupakan salah satu faktor yang ikut menentukan keberhasilan dalam belajar matematika. Keadaan yang demikian disebut dengan disposisi matematis (Karlimah. dan berminat untuk mengeksplorasi hal-hal baru sehingga memungkinkan siswa tersebut memiliki pengetahuan lebih dibandingkan siswa yang tidak menunjukkan perilaku demikian. tekun. fleksibel. 2010). aspek penting lainnya yang harus diperhatikan dalam proses pembelajaran matematika adalah sikap atau pandangan positif siswa terhadap matematika. penuh rasa percaya diri serta melakukan refleksi atas cara berpikir. 2013). juga penting dimiliki oleh siswa. 1989). mau berbagi dengan orang lain dan reflektif dalam kegiatan matematika. ketekunan. memiliki sikap menghargai kegunaan matematika dalam kehidupan seperti rasa ingin tahu. Ketika siswa sudah menghargai matematika dan merasa bahwa matematika itu bermanfaat dalam kehidupan maka siswa akan menyelesaikan permasalahan matematika dengan sungguh-sungguh. Menurut Guru Besar Institut Teknologi Bandung Iwan Pranoto. gigih dalam menghadapi permasalahan. perhatian. Seorang siswa yang memiliki disposisi tinggi akan lebih gigih dan 45 . 2010). Hal ini sesuai dengan salah satu tujuan pembelajaran matematika yang tercantum didalam Kurikulum 2004 dan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) yaitu selain memiliki kecakapan terhadap kemampuan matematika. 2013). dkk berada di peringkat ke-64 dari 65 negara (OECD. Menurut Mahmudi (2010) siswa yang memiliki disposisi tinggi akan lebih gigih. antusias dalam belajar. Wardani (2011) mendefinisikan disposisi matematis sebagai suatu ketertarikan dan apresiasi terhadap matematika seperti kecenderungan untuk berpikir dan bertindak dengan positif termasuk kepercayaan diri. ulet. Pembelajaran matematika tidak hanya dimaksudkan untuk mengembangkan kemampuan kognitif matematis.Jurnal Didaktik Matematika Rifaatul Mahmuzah. minat dalam mempelajari matematika dan sikap ulet serta percaya diri dalam pemecahan masalah matematika.

dimana dalam proses pembelajarannya siswa diminta untuk merumuskan soal serta membuat penyelesaiannya. Oleh karena itu. yaitu seorang siswa merumuskan ulang soal 46 . pendekatan problem posing merupakan suatu aktifitas dengan dua pengertian yang berbeda. dimana seorang siswa membuat soal dari situasi yang disediakan. berminat. No. Sementara Silver (1994) mendefinisikan problem posing sebagai pembuatan soal baru oleh siswa berdasarkan soal yang telah diselesaikan. diperlukan suatu pendekatan pembelajaran yang tepat sehingga dapat mengubah proses pembelajaran dari situasi guru mengajar menjadi situasi siswa belajar. September 2014 ulet dalam menghadapi masalah matematika yang lebih menantang dan akan lebih bertanggung jawab terhadap belajar mereka sendiri serta selalu mengembangkan kebiasaan baik di matematika. Hasil penelitian menunjukkan bahwa persentase perolehan skor rerata disposisi siswa sebesar 58 persen berada pada kategori rendah. beberapa hasil penelitian menunjukkan bahwa masih banyak siswa di Indonnesia yang belum memiliki pandangan yang postif terhadap matematika atau memiliki disposisi matematis yang rendah.Jurnal Didaktik Matematika Vol. Akan tetapi. 2. Hal ini sesuai dengan pendapat Katz (1993) yang mengatakan bahwa disposisi matematis berkaitan dengan bagaimana siswa menyelesaikan masalah matematis. Salah satunya adalah penelitian Kesumawati (2012) terhadap 297 siswa dari empat SMP di kota Palembang. Hal ini sesuai dengan pendapat Silver. J (1996) yang mengemukakan bahwa problem posing merupakan inti penting dalam disiplin ilmu matematika dan dalam hakikat berpikir matematis. A and Cai. English (1997) mengartikan problem posing sebagai pengajuan masalah atau pengajuan soal. yaitu (1) proses mengembangkan masalah/soal matematika yang baru oleh siswa berdasarkan situasi yang ada dan (2) proses memformulasikan kembali masalah/soal matematika dengan bahasa sendiri berdasarkan situasi yang diberikan. tekun. 2010). Selanjutnya Silver dan Cai (1996) mengemukakan bahwa problem posing dapat diaplikasikan pada tiga bentuk aktivitas kognitif yang berbeda yaitu presolution posing. dan berpikir fleksibel untuk menemukan berbagai alternatif penyelesaian masalah. dimana peran guru lebih dominan sehinga siswa cenderung pasif (Ismaimuza. Salah satunya adalah pembelajaran yang terlalu berpusat pada guru (konvensional) seperti yang sering diterapkan disekolah-sekolah selama ini. Rendahnya kemampuan berpikir kritis dan diposisi matematis siswa dalam pembelajaran matematika perlu mendapat perhatian serius dari semua kalangan terutama guru matematika. within-solution posing. Salah satu inovasi yang diduga dapat mewujudkan proses pembelajaran seperti yang tersebut adalah pembelajaran matematika dengan pendekatan problem posing. 1. Menurut Silver (1994). Problem posing merupakan inti terpenting dalam disiplin matematika. apakah mereka menyelesaikannya dengan penuh rasa percaya diri. E. Banyak faktor yang menyebabkan rendahnya kemampuan berpikir siswa.

sedang. Sedangkan pada kondisi terstruktur siswa diberi soal atau selesaian soal tersebut. yaitu seorang siswa memodifikasi tujuan atau kondisi soal yang sudah diselesaikan untuk membuat soal baru. maka tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengkaji peningkatan kemampuan berpikir kritis dan disposisi matematis siswa yang diajarkan dengan pendekatan problem posing dan siswa yang diajarkan dengan pembelajaran konvensional. Kondisi bebas dalam problem posing memberi kebebasan sepenuhnya kepada siswa untuk membentuk soal sebab siswa tidak diberi kondisi yang harus dipenuhi. Hal ini sesuai dengan pendapat English (1997) yang menyatakan bahwa problem posing atau membuat soal dapat meningkatkan kemampuan berpikir siswa dan dapat membantu siswa dalam mengembangkan keyakinan dan kesukaan terhadap matematika. dan terstruktur. Perlakuan yang diberikan adalah pembelajaran dengan pendekatan problem posing pada kelas eksperimen dan pembelajaran konvensional pada kelas kontrol. Abu-Elwan (2000) mengklasifikasikan kondisi problem posing menjadi tiga tipe yaitu kondisi bebas. dan rendah) terhadap peningkatan kemampuan berpikir kritis dan disposisi matematis siswa. semi struktur. Kondisi problem posing yang diterapkan pada penelitian ini yaitu kondisi bebas dan semi tersruktur. dan post solution posing. Pada kondisi semi struktur siswa diberikan kondisi terbuka kemudian siswa diminta mengajukan soal dengan cara mengaitkan informasi itu dengan pengetahuan yang sudah dimilikinya. Metode Penelitian Penelitian ini merupakan penelitian eksperimen karena peneliti bermaksud memberikan perlakuan terhadap sampel penelitian untuk selanjutnya ingin diketahui pengaruh dari perlakuan tersebut. dkk seperti yang telah diselesaikan. Variabel bebas dalam penelitian ini adalah pembelajaran dengan pendekatan problem posing dan pembelajaran konvensional. sedangkan variabel terikat adalah kemampuan berpikir kritis 47 . Penelitian ini melibatkan tiga variabel yaitu variabel bebas. Berdasarkan permasalahan yang telah dipaparkan diatas. serta untuk mengkaji interaksi antara pembelajaran (problem posing dan konvensional) dengan level siswa (tinggi. membuat soal juga membutuhkan usaha yang tekun dan gigih sehingga dapat meningkatkan disposisi siswa terhadap matematika.Jurnal Didaktik Matematika Rifaatul Mahmuzah. kemudian berdasarkan hal tersebut siswa diminta untuk mengajukan soal baru. variabel terikat dan variabel kontrol. Penelitian eksperimen yang digunakan adalah jenis quasi eksperimen dengan pendekatan kuantitatif. Proses merumuskan soal dan membuat penyelesaiaannya akan sangat memungkinkan siswa untuk mengembangkan kemampuan berpikir kritis matematis. Selain itu.

sedang.Jurnal Didaktik Matematika Vol. 2. Data yang telah dikumpulkan diolah menggunakan uji statistik anava dua jalur dengan bantuan software SPSS versi 16. Dengan menggunakan taraf signifikansi α = 0. Hasil dan Pembahasan Kemampuan Berpikir Kritis Matematis Berdasarkan hasil pengujian normalitas dan homogenitas. Data yang dikumpulkan pada penelitian ini berupa data kemampuan berpikir kritis dan disposisi matematis. sedang dan rendah). Populasi dalam penelitian ini adalah siswa kelas VII SMP Negeri 9 Banda Aceh. rendah) terhadap peningkatan kemampuan berpikir kritis matematis siswa”. Selanjutnya akan dilakukan pengujian terhadap hipotesis penelitian berikut yaitu “peningkatan kemampuan berpikir kritis matematis siswa yang memperoleh pembelajaran dengan pendekatan problem posing lebih baik daripada siswa yang memperoleh pembelajaran konvensional ditinjau (a) secara keseluruhan. diketahui bahwa data N-gain kemampuan berpikir kritis kedua kelas berdistribusi normal dan variansinya juga homogen sehingga statistik yang digunakan untuk menguji hipotesis penelitian adalah uji parametrik yaitu uji anava dua jalur. Sementara yang menjadi variabel kontrol adalah level siswa (tinggi. 2000). Desain penelitian dapat digambarkan sebagai berikut: Kelompok eksperimen A: O1 Kelompok kontrol A: O1 X O2 O2 Keterangan: A : Sampel yang dipilih secara acak kelas O1 : Tes awal kemampuan berpikir kritis dan disposisi matematis O2 : Tes akhir kemampuan berpikir kritis dan disposisi matematis X : pembelajaran dengan pendekatan problem posing. ≥ α 48 .05 maka kriteria pengujiannya adalah sebagai berikut: 1. (b) berdasarkan level siswa” dan “terdapat interaksi antara pembelajaran dengan level siswa (tinggi. Hal ini bertujuan untuk melihat peningkatan (N-gain) kemampuan berpikir kritis dan disposisi matematis. Terima H0 jika nilai sig. 1. Desain eksperimen yang digunakan dalam penelitian ini adalah desain pretest-postest control group design (Arikunto. September 2014 dan disposisi matematis. Data diperoleh dari hasil tes kemampuan berpikir kritis dan pengisian skala disposisi matematis yang diberikan sebelum dan sesudah pembelajaran berlangsung baik pada kelas eksperimen maupun kelas kontrol. sedangkan sampel yang dipilih terdiri dari dua kelas yaitu kelas VII3 sebagai kelas eksperimen dengan dan kelas VII4 sebagai kelas kontrol. No.

Hal ini terlihat dari nilai sig. < α Hasil analisis data yang diolah dengan uji statistik anava dua jalur menunjukkan bahwa pembelajaran dan level siswa memberikan pengaruh yang signifikan terhadap peningkatan kemampuan berpikir kritis matematis siswa.05 sehingga berdasarkan kriteria pengujian maka H0 ditolak. Dengan menggunakan taraf signifikasi α = 0. Terima H0 jika nilai sig. Disposisi Matematis Hasil pengujian normalitas dan homogenitas menunjukkan bahwa data N-gain disposisi matematis kedua kelas berdistribusi normal dan variansinya juga homogen sehingga statistik yang akan digunakan untuk menguji hipotesis penelitian adalah uji parametrik yaitu uji anava dua jalur. yang diperoleh untuk pendekatan pembelajaran yaitu 0. Tolak H0 jika nilai sig.00 dan nilai ini lebih kecil dari taraf signifikansi yang telah ditetapkan yaitu 0. Hal ini terlihat dari nilai sig.05 yaitu 0.00 dan nilai ini lebih kecil dari taraf signifikansi yang telah ditetapkan yaitu 0.14 sehingga H0 diterima. rendah) terhadap peningkatan disposisi matematis siswa”. hasil analisis data yang lainnya menunjukkan bahwa nilai signifikansi interaksi antara pendekatan pembelajaran dengan level siswa (pembelajaran * level) terhadap peningkatan kemampuan berpikir kritis matematis lebih dari 0. Selanjutnya akan dilakukan pengujian terhadap hipotesis penelitian berikut yaitu “peningkatan disposisi matematis siswa yang memperoleh pembelajaran dengan pendekatan problem posing lebih baik daripada siswa yang memperoleh pembelajaran konvensional jika ditinjau (a) secara keseluruhan. dkk 2. Artinya secara keseluruhan peningkatan disposisi matematis siswa yang memperoleh pembelajaran dengan pendekatan problem posing 49 . (b) berdasarkan level siswa” dan “ terdapat interaksi antara pembelajaran dengan level siswa (tinggi.Jurnal Didaktik Matematika Rifaatul Mahmuzah.05 maka kriteria pengujiannya adalah sebagai berikut: 1. ≥ α 2. yang diperoleh untuk pembelajaran dan level siswa yaitu 0. Tolak H0 jika nilai sig. Artinya tidak terdapat interaksi antara pembelajaran dengan level siswa terhadap peningkatan kemampuan berpikir kritis matematis siswa. Artinya peningkatan kemampuan berpikir kritis matematis siswa yang memperoleh pembelajaran dengan pendekatan problem posing lebih baik daripada siswa yang memperoleh pembelajaran konvensional baik ditinjau secara keseluruhan maupun berdasarkan level siswa. sedang. < α Hasil analisis data yang diolah dengan uji statistik anava dua jalur menunjukkan bahwa pembelajaran memberikan pengaruh yang signfikan terhadap peningkatan disposisi matematis siswa.05 sehingga berdasarkan kriteria pengujian maka H0 ditolak. Sementara itu.

Adanya perbedaan peningkatan kemampuan berpikir kritis matematis antara siswa yang diajarkan dengan pendekatan problem posing dan siswa yang diajarkan dengan pembelajaran konvensional mungkin dikarenakan karakteristik yang berbeda dari kedua pendekatan pembelajaran tersebut. yang diperoleh lebih besar dari taraf signifikansi yang ditetapkan sehingga H0 diterima. September 2014 lebih baik daripada siswa yang memperoleh pembelajaran konvensional. 1. No. Hasil ini sesuai dengan hasil yang didapat dalam penelitian Syaban (2009) yang menyimpulkan bahwa secara keseluruhan peningkatan disposisi matematis siswa yang memperoleh pembelajaran dengan model atau pendekatan tertentu lebih baik dibandingkan dengan siswa yang memperoleh pembelajaran konvensional. Siswa yang belajar dengan pendekatan problem posing mempunyai aktivitas dan kreativitas yang lebih baik dibandingkan dengan siswa yang belajar dengan pembelajaran konvensional sehingga kemampuan matematisnya pun menjadi lebih meningkat. Hasil ini memperkuat dan melengkapi temuan Herawati (2010) yang menyimpulkan bahwa pendekatan problem posing lebih baik dalam meningkatkan kemampuan matematis dibandingkan dengan pembelajaran konvensional baik secara keseluruhan maupun berdasarkan kemampuan awal matematis siswa (level siswa). Hasil analisis data disposisi matematis juga menunjukkan bahwa secara keseluruhan peningkatan disposisi matematis siswa yang memperoleh pembelajaran dengan pendekatan problem posing lebih baik daripada siswa yang memperoleh pembelajaran konvensional. Namun. Disamping itu.05 yaitu 0. Pembahasan Hasil analisis data baik analisis deskriptif maupun uji statistik menunjukkan bahwa peningkatan kemampuan berpikir kritis matematis siswa yang memperoleh pembelajaran dengan pendekatan problem posing secara signifikan lebih baik daripada siswa yang memperoleh pembelajaran konvensional baik secara keseluruhan maupun berdasarkan level siswa.Jurnal Didaktik Matematika Vol. Hal ini berarti tidak terdapat interaksi antara pembelajaran dengan level siswa terhadap peningkatan disposisi matematis siswa. interaksi antara pendekatan pembelajaran dengan level siswa (pembelajaran * level) terhadap peningkatan disposisi matematis lebih dari 0. hal ini tidak berlaku pada level siswa karena level siswa tidak memberikan pengaruh yang signfikan terhadap peningkatan disposisi matematis siswa karena nilai sig. namun hal ini tidak berlaku untuk level siswa.858 sehingga H0 diterima. hasil analisis data juga menunjukkan bahwa nilai sig. Artinya. 2. tetapi 50 . tidak terdapat perbedaan peningkatan disposisi matematis antara siswa yang memperoleh pembelajaran dengan pendekatan problem posing dan siswa yang memperoleh pembelajaran dengan pendekatan konvensional jika ditinjau berdasarkan level siswa.

mencari alternatif penyelesaian yang lain. Kegiatan seperti itu mungkin memunculkan keyakinan dan percaya diri siswa terhadap jawabannya. menyatakan ketidaksetujuan. namun hal ini tidak berlaku untuk level siswa. dan melakukan refleksi terhadap setiap langkah yang ditempuh. Tidak terdapat interaksi antara pendekatan pembelajaran dengan level siswa terhadap peningkatan kemampuan berpikir kritis dan disposisi matematis siswa. Hasil analisis data kemampuan berpikir kritis dan disposisi matematis juga menunjukkan bahwa tidak terdapat interaksi antara pembelajaran dan level siswa terhadap peningkatan kemampuan berpikir kritis dan disposisi matematis siswa. diperoleh kesimpulan sebagai berikut: 1. memahami jawaban siswa lain. dkk pengetahuan awal matematika siswa tidak terlalu berpengaruh terhadap peningkatan disposisi matematisnya.Jurnal Didaktik Matematika Rifaatul Mahmuzah. Hasil ini sejalan dengan hasil penelitian Somakin (2011) yang menyimpulkan bahwa tidak terdapat interaksi antara kemampuan awal matematis siswa (level siswa) dengan pendekatan pembelajaran terhadap peningkatan kemampuan berpikir kritis matematis. Peningkatan disposisi matematis siswa yang memperoleh pembelajaran dengan pendekatan problem posing secara signifikan lebih baik daripada siswa yang memperoleh pembelajaran konvensional jika ditinjau secara keseluruhan. 2. Peningkatan kemampuan berpikir kritis matematis siswa yang memperoleh pembelajaran dengan pendekatan problem posing secara signifikan lebih baik daripada siswa yang memperoleh pembelajaran konvensional baik secara keseluruhan maupun berdasarkan level siswa. Meningkatnya disposisi matematis siswa pada kelas eksperimen disebabkan proses pembelajaran matematika dengan pendekatan problem posing berlangsung secara aktif dan interaktif. 51 . dimana siswa mengajukan soal sendiri dari situasi yang diberikan beserta penyelesaiannya serta menjelaskan dan memberikan alasan terhadap jawaban yang dibuatnya jika jawaban tersebut berbeda dengan jawaban yang dibuat oleh temannya dari kelompok lain ketika saling bertukar soal. Simpulan dan Saran Simpulan Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan. faktor kemampuan awal atau level siswa dan pendekatan pembelajaran secara bersama-sama tidak memberikan pengaruh yang signifikan terhadap peningkatan kemampuan berpikir kritis matematis siswa. 3. Artinya. setuju terhadap jawaban temannya.

hsrc.student. J.pdf-archive. Manajemen Penelitian. 52 . Arikunto. Sekolah Pascasarjana Universitas Pendidikan Indonesia: Bandung. Jurnal Pendidikan Matematika. Pengembangan Kemampuan Komunikasi dan Pemecahan Masalah serta Disposisi Matematis Mahasiswa PGSD Melalui Pembelajaran Berbasis Masalah. Jakarta: Rineka Cipta. Diakses pada tanggal 5 April 2013. (1987). Facione. (2010). Teaching Philasophy. O.PDF. maka saran yang dapat diberikan yaitupembelajaran dengan pendekatan problem posing hendaknya dapat dijadikan sebagai salah satu alternatif model pembelajaran di SMP terutama untuk meningkatkan kemampuan berpikir kritis dan disposisi matematis siswa. S. eric.com/2011/03/16/73karlimah/.za/ Ismaimuza.edu. (1997). Disertasi doktor. Siroj. 1. Baron. Freeman and Company. R & Basir D. Ennis.D. A. Pengaruh Pembelajaran Problem Posing Terhadap Kemampuan Pemahaman Konsep Matematika Siswa Kelas XI IPA SMA Negeri 6 Palembang [versi elektronik]. Penerapan Pembelajaran Berbasis Masalah untuk Meningkatkan Kemampuan Berpikir Kritis dan Komunikasi Matematis Siswa SD [Versi elektronik).Jurnal Didaktik Matematika Vol. Karlimah. New York: W.uwa.gov Fachrurazi. R. Pengaruh Pembelajaran Berbasis Masalah dengan Strategi Konflik Kognitif terhadap Kemampuan Berpikir Kritis Matematis dan Sikap Siswa SMP. (2012). (1992).H.unipa. (2010). (2000). 4(1). The South African Perspective. (2000). H. serta untuk ke depan diharapkan pembelajaran dengan pendekatan problem posing juga diterapkan secara individu sehingga akan lebih melatih kemandirian siswa dalam belajar matematika. (1991). Herawati. 172-179.it/~grim/AAbuElwan1-6. Diakses pada tanggal 20 Mei 2013 dari www. D. 76-89. September 2014 Saran Berdasarkan temuan dalam penelitian ini. No. Edisi khsus (1). Diakses pada tanggal 23 Desember 2013 dari http://www. Daftar Pustaka Abu-Elwan. Critical Thinking: A Streamlined Conception [versi elektronik]. R. P. Teaching Thinking Skills : Theory and Practice. 5-23. dari http://math. 4(3). Promoting a Problem Posing Classroom. 70-80 HSRC & IEA TIMSS 2011. 2. R. Highlights from TIMSS 2011. J. Effectiveness of Problem Posing Strategies on Prospective Mathematics Teachers’ Problem Solving Performance. tidak diterbitkan. Diakses pada tanggal 22 Januari 2013 pada http://www. Teaching Children Mathematics Journal.au. 14(1). Critical Thinking: What It Is and Why It Counts. (2010).ac. Diakses pada tanggal 25 November 2012 dari http://www. B & Sternberg. L. English. D.P. (2011).ed.

and How. Disposisi Matematis.jstor. ERIC Digest. 28 (2).gov. III (2).oecd. (2010). On Mathematical Problem Posing. Diakses pada tanggal 23 Desember 2013 dari http://gpseducation. Critical Thinking : What. Bandung Silver. (2009). 14(1). A.eric. Peningkatan Kemampuan Berpikir Kritis Matematis Siswa Sekolah Menengah Pertama dengan Penggunaan Pendidikan Matematika Realistik [versi elektronik]. J. (2009). Indonesia Students performance (PISA 2012). Kesumawati. Curriculum and Evaluation Standards for School Mathematics. G. (5 Desember 2013). (1994). (2012). Diakses pada tanggal 23 Desember 2013 dari www. Kemampuan Matematika dan Sains di Urutan Ke-64 dari 65 Negara Lambertus. 19-28. 1991. An Analysis of Arithmetic Problem Posing by Middle School Student. 129-136 Wardani. Meningkatkan kemampuan berfikir kreatif dan disposisi matematik siswa SMA melalui pembelajaran dengan pendekatan model Sylver. Diakses pada tanggal 11 Juli 2013 dari http://staff.uny. tidak diterbitkan. (2013). Berpikir Reflektif. L. Sekolah Pascasarjana Universitas Pendidikan Indonesia: Bandung. Reston.Jurnal Didaktik Matematika Rifaatul Mahmuzah. E. dkk Katz. 14(1). (1989). L. Makalah Disajikan pada Seminar Nasional Sehari: permasalahan Matematika dan Pendidikan Matematika Terkini. (1996).id. Dispositions as Educational Goals. VA: NCTM.A. (2011). Educational Philosophy and Teory. NCTM. 27: 521-539. S. 136-142. Tinjauan Asosiasi antara Kemampuan Pemecahan Masalah Matematis dan Disposisi Matematis. When. Posisi Indonesia Nyaris Jadi Juru Kunci. Kompas. 42-48 Splitter.org.ac. Forum Kependidikan.jstor. 17 April 2010. Pentingnya Melatih Keterampilan Berpikir Kritis dalam Pembelajaran Matematika di SD [Versi elektronik]. Mahmudi. (2007). Forum MIPA. 23(1): 89-109. For the Learning of Mathematics.A. J.org Silver. 53 . M. Matematis Siswa. (1993). Disertasi doktor. Journal for Research in Mathematics Education. E. J.org Somakin. OECD. Diakses pada tanggal 20 Desember 2012 dari www. Syaban. Menumbuhkembangkankan Daya dan Disposisi Matematis Siswa Sekolah Menengah Atas Melalui Pembelajaran Investigasi. Nila. EDUCATIONIST. Sabandar. Makalah Disajikan pada Seminar Nasional Pendidikan Matematika FMIPA UNY. Diakses pada tanggal 20 Mei 2013 dari www. Why. 8 Desember 2007. & Cai. (2009).ed.