You are on page 1of 13

TUGAS TERSTRUKTUR FITOPATOLOGI

KETAHANAN TANAMAN JAHE TERHADAP LAYU Ralstonia
solanocearum RAS 4 MENGGUNAKAN FUNGI MIKORIZA
ARBUSLAKRAL (FMA) INDEGENUS

Disusun oleh:
Dina Hillery
Nurbaiti Rizky
Erni Purwati
B1J013104
Fitriyati
B1J013116
Annida Nurul Fikri B1J013122

KEMENTERIAN RISET, TEKNOLOGI, DAN PENDIDIKAN TINGGI
UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN
FAKULTAS BIOLOGI
PURWOKERTO
2015
KATA PENGANTAR

Purwokerto. Penulis menyadari bahwa dalam penyusunan makalah ini tidak lepas dari bantuan dan dukungan berbagai pihak.Puji syukur kehadirat Allah SWT karena atas rahmat dan hidayah-mNya. Seluruh teman yang telah membantu dalam penyusunan makalah ini. Penulis menyadari bahwa penyusunan makalah ini masih banyak kekurangan dan jauh dari sempurna. Penulis mengharapkan kritik dan saran yang membangun dari semua pihak untuk pengembangan penulisan makalah selanjutnya dan demi sempurnanya makalah ini. Seluruh staf dan dosen mata kuliah Fitopatologi Fakultas Biologi Universitas Jenderal Soedirman 2. Makalah ini dibuat guna memenuhi tugas terstruktur mata kuliah Fitopatologi di Fakultas Biologi Universitas Jenderal Soedirman. Kesempatan kali ini penulis ingin mengucapkan terima kasih kepada: 1. Penulis berharap semoga makalah ini bermanfaat bagi semua pihak. sehingga penulis dapat menyelesaikan makalah mata kuliah Fitopatologi. 14 Desember 2015 Penulis DAFTAR ISI .

........................................................................................ BAB III...........................................................................................1 Kesimpulan.......................................1 Latar Belakang...... Kata Pengantar..... PENDAHULUAN I.........................................1 Kritik dan Saran....................................................... Daftar Pustaka BAB I......................................1 Pembahasan....................Halaman Depan. I...................................................... ISI II............... PENUTUP III....... Daftar Isi............................................................... III....................................... BAB II..... PENDAHULUAN .2............................................................................. Tujuan................................................................................. BAB I..............

1980). Solanacearum menyebabkan kehilangan hasil sampai 90% sehingga menurunkan kualitas rimpang dan menyebabkan kontaminasi lahan (Syukur. Dinas perkebunan Kabupaten Solok. Thailand dan Indonesia (Elphinstone. Hal tersebut terjadi karena adanya perbedaan ras atau biovar dari patogen dan/atau ketahanan yang tidak mencukupi pada kondisi yang menguntungkan patogen (Scott et al. antiinflamasi. Penyebab penurunan produktivitas jahe di Indonesia yaitu layu bakteri (Ralstonia solanacearum) Serangan bakteri R. Nilai ekonomi dari jahe terdapat pada rimpangnya yang memiliki khasiat sebagai antioksidan. komunikasi pribadi). Tahun 2009-2011 yaitu sebesar 107.626 ton mengalami penurunan jika dibandingkan dengan produksi jahe tahun 2004-2008 dengan besar 148. 2005)... 1993). solanacearum adalah terjadinya kelayuan. Tanaman ini termasuk salah satu komoditi unggulan dalam menggalakkan komoditi non migas. Semakin muda umur tanaman yang terserang maka gejala yang ditimbulkan semakin parah (Brown et al. Gejala khas yang ditimbulkan oleh bakteri R. Selain itu . 1993). Penyakit layu bakteri pada tanaman jahe telah memusnahkan pertanaman jahe di sebagian besar wilayah asia seperti India. Petogen ini merupakan patogen tular tanah yang sulit dikendalikan karena dapat bertahan selama satu tahun tanpa kehilangan virulensinya dan dapat menyerang pada berbagai fase pertumbuhan (Asman dan Sitepu 1994. Walaupun beberapa varietas yang resisten telah dikembangkan tetapi ketahanannya seringkali patah apabila ditanam di daerah pertanaman lain. Dari Kabupaten Solok sebagai salah satu sentra produksi jahe Sumatera Barat diinformasikan bahwa semenjak tahun 2000 patogen ini telah memusnahkan tanaman jahe secara total (Yusniarti.244 ton.A. antibakteri dan karminatif (Malu et al. 2007).) merupakan salah satu tanaman penghasil minyak atsiri dan oleoresin yang sudah lama dimanfaatkan masyarakat untuk bahan rempah dan obat (Ravindran & Babu. Berbagai upaya pengendalian yang telah dilakukan antara lain dengan cara bercocok tanam dan penggunaan varietas tahan (Arlat et al. Produksi jahe di Indonesia dari tahun ke tahun berfluktuatif. Latar Belakang Jahe (Zingiber officinale Rosc. 2009). 2005). 2002). Philipina. 1994) tetapi kultivar yang memiliki ketahanan tinggi belum dapat dikembangkan. tanaman menjadi kerdil dan penguningan daun. 2004).. sehingga mendapat perhatian untuk dikembangkan di Indonesia (Suratman et al. Beberapa keberhasilan telah dicapai dengan menggunakan kultivar komersial yang toleran terhadap bakteri ini (Trigalet et al. Asman 1996 cit Nasrun. 1987).

Banyak usaha telah dilakukan untuk mengendalikan patogen tanaman. Pengendalian penyakit tanaman yang disebabkan oleh bakteri perlu mengacu pada konsep Pengendalian Hama Terpadu (PHT). agensia pengendali hayati merupakan salah satu pilihan pengendalian patogen tanaman yang menjanjikan karena murah.juga terdapat variasi genetik yang cukup besar diantara strain-strain dalam satu ras seperti yang berhasil diidentifikasi dari pertanaman tomat di Taiwan oleh Thierry & Wang (1998). 2001). Salah satu mikroorganisme yang dapat berperan sebagai agensia pengendali hayati yang potensial untuk dikembangkan adalah Fungi Mikoriza Arbuskular (FMA) Indigenus.. Salah satu komponen dalam PHT adalah pengendalian hayati (Bilogical Control) (Habazar. baik dengan penggunaan tanaman tahan maupun pestisida sintetis. mudah didapat... solanacearum banyak menjadi masalah penting di dalam budidaya tanaman. 2013). sedangkan pestisida sintetis jika digunakan dengan tidak bijaksana akan banyak menimbulkan masalah. Tujuan Mengetahui manfaat Fungi Mikoriza Arbuskular (FMA) indegenus dalam mengendalikan ketahanan tanaman jahe terhadap layu Ralstonia solanocearum ras 4. maupun kesehatan manusia. . Patogen tanaman seperti R. karena dapat menurunkan produksi tanaman (Champoiseau et al. Oleh karena itu. B. tanaman tahan terhadap patogen tanaman jarang tersedia. 2013). produk tanaman. dan aman terhadap lingkungan (Soesanto et al. 2009 dalam Soesanto et al. Akan tetapi. baik terhadap lingkungan.

maka terlihat bagian dalam yang lunak. Solanacearum ras 4. seperti pada gejala serangan R.solanacearum pada jahe di lapangan (A) dan di rumah kaca (B) Isolasi dan identifikasi bakteri R. Gejala layu tanaman jahe. bentuk koloni mucoid. ditemukan koloni bakteri yang memiliki ciri-ciri berwarna putih susu pada media NA dan bewarna merah muda dengan media TTC.BAB II. Gejala Penyakit Layu Bakteri pada Tanaman Jahe Tanaman jahe yang terinfeksi penyakit layu menunjukkan gejala daun yang menguning dimulai dari titik tumbuh. viscid (lengket). ISI A. Uji patogenesitas menunjukkan bahwa bakteri tersebut bersifat pathogen dengan adanya klorosis dan layu pada tanaman jahe setelah disuntikkan suspensi bakteri. solanacearum ras 4. Gejala serangan R. Pada gejala lebih lanjut daun-daun yang lain menguning dan terlepas dari batang semu (pseudostem). Berikut hasil uji bakteri R. Solanacearum ras 4 pada media ynag berbeda. . berwarna coklat dan berbau busuk. dengan pertumbuhan yang lambat. adanya eksudat bakteri (ose bakteri) yang keluar dari batang semu dan rimpang. Jika rimpang dipotong. Hasil uji Gram menunjukkan bahwa koloni bakteri yang ditemukan adalah kelompok Gram negatif. hasil isolasi terhadap bakteri dari rimpang tanaman jahe yang terserang penyakit layu. Gambar 1.

FMA mempunyai persebaran yang sangat luas yaitu hampir 90% tanaman bersimbiosis dengan jamur mikoriza vesikular arbuskular (Saputra et al. Lingkungan dan faktor biotik diketahui memiliki pengaruh terhadap pembentukan mikoriza dan derajat infeksi dari sel korteks inang. dan suhu tanah. Keanekaragaman dan penyebaran mikoriza sangat bervariasi. Jamur mikoriza vesikular arbuskular dapat meningkatkan ketahanan tanaman terhadap serangan patogen akar. Sebaran mikoriza dipengaruhi oleh banyak faktor. Perbedaan . Interaksi antar faktor-faktor biotik memiliki efek yang signifikan dalam merespon pertumbuhan tanaman yang diinokulasi. secara harfiahnya berarti “akar jamur”. 2015). Keberadaan FMA dapat dipengaruhi oleh berbagai faktor yaitu tanaman inang. jamur mikoriza vesicular arbuskular dan jenis tanah (Puspitasari et al. Solanacearum pada media NA (A) dan media TTC (B)setelah inkubasi 48 jam B. endomikoriza dan aktendonmikoriza.Gambar 2. Ektomikoriza memiliki sarang halus (mantel dan mengelilingi permukaan akar sedangkan jenis endomikoriza tidak memiliki mantel tetapi dapat menerobos masuk ke celah-celah antar sel (Simanjuntak. hal ini dapat disebabkan oleh kondisi lingkungan. 2004). FMA merupakan suatu bentuk hubungan simbiosis mutualistik antara cendawan (myko) dengan perakaran (rhiza) tanaman tingkat tinggi. pH. 2012).. Berdasarkan struktur tubuh dan cara infeksinya pada penyerangan tanaman inang dikenal tiga golongan besar mikoriza yaitu ektomikoriza. unsur hara P dan N dalam tanah. antara lain jenis dan struktur tanah.. air. Fungi Mikoriza Arbuskular (FMA) Salah satu jenis mikroorganisme tanah yang berperan membantu pertumbuhan suatu tanaman adalah jamur mikoriza vesikular arbuskular. koloni R.

Mg. Tanah yang didominasi oleh fraksi lempung (clay) merupakan kondisi yang diduga sesuai untuk perkembangan spora Glomus. 2004). Hifa (miselium) dari mikoriza vesicular arbuskular tumbuh pada permukaan akar dan terikat kuat pada jaringan epidermis. organik dan pH tanah yang berbeda. Zn. (Saputra et al. Meningkatkan penyerapan unsur hara di dalam tanah Mikoriza berperan dalam peningkatan penyerapan unsur-unsur hara tanah yang dibutuhkan oleh tanaman seperti P. spora genus Glomus dapat ditemukan dalam bentuk tunggal atau agregat lepas. sehingga dapat ditemukan spora Genus jamur mikoriza vesicular arbuskular yang bervariasi. dan Ca. Masing-masing cabang arbuskula ini di kelilingi oleh plasmalemma sel korteks pada akar. kemudian hifa ini bercabang-cabang seperti pohon dan cabang terkecil berdiameter 1 mm. dan tanah berpasir genus Gigaspora ditemukan dalam jumlah tinggi. berperan dalam penyerapan . Bagian yang penting dari sistem mikoriza adalah miselium yang terdapat diluar akar. Cu. Arbuskula adalah hifa yang masuk kedalam sel korteks tanaman inang. 2015). K. sporokarp tidak seperti pada Sclerocystis dan sporokarp terdiri dari spora dengan dinding lateral yang saling melekat satu sama lainnya. Diduga Arbuskula ini terjadi pertukaran tanaman inang dengan jamur mikoriza bervesikel yang terdapat pada mikoriza adalah semacam kantong yang terletak diujung dan membengkak pada ujung hifa Vesikula mengandung banyak lemak dan berfungsi sebagai organ penyimpan makanan cadangan bagi mikoriza (Gambar 1. N..) (Simanjuntak. Gambar 3. Kolonisasi spora FMA jenis Indigenus (1) Arbuskular (2) Hifa internal (3) Hifa eksternal C. Peran Fungi Mikoriza Arbuskular 1. Hifa eksternal ini merupakan bagian dari sistem mikoriza yang menambah luas permukaan akar sehingga tanaman secara tidak langsung mampu menyerap unsur – unsur hara lebih banyak.jenis tanah dapat mempengaruhi secara langsung keberadaan jamur mikoriza vesicular arbuskular. Hal ini dapat terjadi karena setiap jenis tanah memiliki kandungan.

Gambar 4. kecuali tanaman kontrol. dan ketahanan tanaman terhadap penyakit (Vigo et al.unsur hara bagi tanaman jarak yang ditempuh oleh hara tanaman dengan adanya mikoriza berdisfusi melalui tanah ke akar dapat diperpendek. Melalui peningkatan status P tanaman. dicirikan dengan bentuk globus. disebabkan akar . vesikula. Ketahanan tanaman jahe terhadap serangan R. Warna spora Glomus sp. 2010).) Glomus sp. (B) E. bervariasi mulai dari kuning kecoklatan. coklat muda hingga coklat tua kehitaman. dengan terbentuknya arbuskular. 3. hifa internal dan hifa eksternal. Pengendalian Penyakit Layu Bakteri pada Jahe dengan Mikoriza Arbuskular Berdasarkan penilitian yang telah dilakukan oleh Suhartati et al. ovoid maupun obovoid. Spora dapat diproduksi secara tunggal maupun secara koloni membentuk agregrat dan sering terlihat jelas dinding hifa pada permukaan spora (Sari dan Dini. Persentase kolonisasi akar tanaman jahe oleh FMA meningkat sejalan dengan meningkatnya umur tanaman jahe dan kolonisasi tertinggi terjadi pada saat 2 bulan setelah tanam yaitu 80-90%. Kolonisasi pada akar tanaman jahe telah terjadi pada 3 minggu setelah tanam yaitu 20–40%. bahwa semua akar jahe terkolonisasi oleh FMA dengan persentase kolonisasi yang bervariasi. Hal ini menunjukkan bahwa inokulum yang digunakan kompatibel dengan tanaman jahe. Menghasilkan beberapa zat pengatur tumbuh 4.). 2. (A) dan Acauspora sp. (2011). Jenis FMA (Glomus sp. coklat kekuningan. subglobus. sehingga mampu membentuk arbuskular. Kolonisasi spora FMA jenis Glomus sp. solanacearum ras 4. dengan dinding spora terdiri atas lebih dari satu lapis (Gambar 4. Meningkatkan ketahanan terhadap serangan patogen D. daya tahan tanaman terhadap kekeringan semakin meningkat (Musfa. Meningkatkan ketahanan terhadap kekeringan Ketahanan terhadap kekeringan dapat ditangani melalui hifa eksternal. 2014). Hifa eksternal dapat menjangkau air jauh ke dalam tanah. 2000). sehingga tanaman dapat bertahan pada kondisi lingkungan yang tidak menguntungkan. hifa internal dan hifa eksternal yang berperan dalam penyerapan hara dan air untuk meningkatkan kebugaran tanaman (Bolan 1991).

45. tidak memperlihatkan gejala layu sampai akhir pengamatan (4 bulan setelah inokulasi). Faa2.67 hari setelah inokulasi. Pertumbuhan Tanaman Jahe Setelah diInokulasi FMA . Faa4. Tabel 2. dan jumlah daun menunjukkan bahwa isolat FMA yang berbeda menyebabkan pengaruh yang berbeda pula terhadap tanaman. Bibit jahe yang diintroduksi dengan FMA isolat Faa1. tinggi tanaman.33%. persentase tanaman layu 16. Pengamatan terhadap pertumbuhan tanaman jahe yang diintroduksi dengan FMA berupa pembentukan anakan. lama kematian 31.16 hari setelah inokulasi.66-33.67. Inokulasi FMA isolat Faa3. dan Faa5. Kejadian penyakit pada bibit jahe yang diinokulasi dengan FMA menunjukkan bahwa 4 perlakuan isolat memiliki efektifitas masa inkubasi 100% dan 4 perlakuan isolat lainnya masih terserang dengan efektifitas 55.yang telah terkolonisasi FMA akan menghasilkan senyawa kimia yang bersifat sebagai antimikroba sehingga dapat melindungi perakaran tanaman terhadap pathogen. Solanacearum ras 4 Intoduksi FMA indigenus pada tanaman jahe berpengaruh terhadap pertumbuhan tanaman. dan Faa8 pada tanaman jahe tidak mampu mencegah timbulnya gejala layu dengan masa inkubasi yang berbeda yaitu 7. Namun masa inkubasi paling cepat terdapat pada tanaman kontrol yaitu 4. Tabel 1.33 hari setelah inokulasi. Berikut table kejadian penyakit layu pada tanaman jahe yang diintroduksi FMA dan inokulasi R.67-83. Kejadian penyakit layu pada tanaman jahe yang diinroduksi FMA dan diinokulasi R. dengan tanaman layu mencapai 100% dan lama kematian 14.34%. Faa6. Faa7. solanacearum ras 4.50–14 hari.

83 cm (87. isolat FMA ini sudah beradaptasi dengan lingkungan sehingga mampu menghambat serangan patogen masuk ke dalam jaringan tanaman. yang menunjukkan bahwa. sedangkantanaman control mongering dan akhirnya mati sampai akhir pengamatan.Hasil Analis sidik ragam terhadap pertumbuhan tanaman jahe menunjukkan perbedaan yang nyata antara tanaman yang diinokulasi dengan isolat FMA indigenus dibanding kontrol (P<0. tinggi tanaman 38.05). tinggi tanaman 72. Hasil penelitian Suhartati et al.22%) sedangkan tanaman kontrol hanya menghasilkan 2 anakan. solanacearum ras 4 dengan kemampuan yang bervariasi. FMA indigenus juga mampu meningkatkan pertumbuhan dan produksi tanaman jahe. (2011). Mekanisme FMA dalam mengenalkan tanaman dapat terjadi memalui dua cara yaitu secara langsung melalui kompetisi dan antibiosisi dan secara tidak langsung melalui induksi ketahanan sehingga terhalangnya serangan pathogen pada akar bermikoriza. Hasil pengujian terhadap 8 isolat FMA indigenus dari rizosfir tanaman jahe sehat pada lahan endemik telah teresleksi 4 isolat yang mampu meningkatkan ketahanan tanaman jahe terhadap R. menunjukkan isolat FMA indigenus rizosfir tanaman jahe sehat dari lahan endemik yang diintroduksi pada bibit jahe mampu menahan perkembangan penyakit layu bakteri yang disebabkan R.83 cm dan jumlah daun 7. Tanaman jahe yang diinokulasi dengan FMA isolat Faa4 menghasilkan pertumbuhan tertinggi yaitu jumlah anakan 5 buah (peningkatan 150%). solanacearum ras 4 mencapai 100%.83 lembar (162. Gejala serangan dapat diamati pada bagian luar tanaman jahe yaitu mulai menguningnya daun yang masih muda yang . Mekanisme pengendalian hayati secara tidak langsung adalah melalui respon fisiologis dan biokimia dengan terjadinya peningkatan kandungan senyawa kimia yang bersifat sebagai antimikroba yang dihasilkan tanaman.56%) dan jumlah daun 16.2 helai. Introduksi isolat FMA indigenus pada tanaman jahe juga mampu meningkatkan produksi rimpang dibanding control.

solanacearum ras. PENUTUP A.. Akar tanaman jeruk yang dikolonisasi oleh FMA dapat meningkatkan ketahanannya terhadap patogen Phytophthora parasitica karena intensitas serangan berkurang (Campbell 1989). Hasil Tanaman Jahe yang diintroduksi Isolat FMA Indigenus Mekanisme yang diduga mendukung peran FMA dalam meningkatkan pertumbuhan dan pertahanan tanaman inang terhadap patogen akar adalah melalui pengurangan eksudat akar. vecatoria (Yusman 2003). peningkatan pertumbuhan tanaman inang. berikut hasil tanman jahe yang diintroduksi isolate FMA indigenus. Fungi Mikoriza Arbuskular (FMA) Indigenus merupakan fungi yang mamapu menekan pertumbuhan penyakit layu bakteri. G. etunicatum dan Acaulospora sp secara tunggal maupun gabungan dapat meningkatkan ketahanan bibit pisang Cavendish terhadap R. glycines (Harmet. 2. Kesimpulan 1. Kolonisasi FMA jenis Glomus sp pada tomat dapat menekan perkembangan penyakit layu fusarium yang disebabkan oleh Fusarium oxysporum f. menunjukan inokulasi dengan G.diikuti dengan daun yang sudah tua kemudian lepasnya tangkai daun dari batang semu. fasciculatum. Pfleger & Linderman 2000). Gambar 5. fasciculatum dapat menginduksi ketahanan tanaman kedelai terhadap penyakit pustul bakteri yang disebabkan Xanthomonas campestris pv. Empat isolat FMA mampu meningkatkan ketahanan dengan tanaman Jahe. (2005). Hasil penelitian Yefriwati et al. Aplikasi G. 1999) BAB III. penimbunan unsur mikro dan produksi metabolit sekunder (Linderman 1994. .lycopersici (Reflin 1993). menurunkan intensitas serangan oleh Xanthomonas axonopodis pv.sp.

DAFTAR REFERENSI . B. Isolat FMA mampu meningkatkan produksi jahe.3. Saran Kegiatan praktikum sudah berlanngsung dengan baik namun perlu ditambahkan buku identifikasi sebagai metode satau skrpsi.