You are on page 1of 3

BAB 1

PENDAHULUAN
Atrial fibrilasi adalah salah satu kasus aritmia jantung yang sering terjadi
dan insidensinya berhubungan dengan usia. Atrial fibrilasi mempengaruhi
setidaknya 1% dari pasien yang berusia kurang dari 60 tahun dan 8% pada pasien
yang berusia lebih dari 80 tahun. Pada prevalensi umum AF, terdapat peningkatan
seiring dengan bertambahnya usia, yaitu sekitar 1-2%. Pada usia kurang dari 50
tahun prevalensi AF kurang lebih berkisar pada nilai presentase 1 % dan kemudian
meningkat menjadi 9% pada usia 80 tahun. AF lebih banyak dijumpai pada lakilaki dibandingkan dengan wanita, walaupun sebenarnya tidak ada kepustakaan
yang mengatakan adanya perbedaan yang relevan antara jenis kelamin pria
dengan wanita yang mempengaruhi prevalensi AF.
Pengertian kata AF berasal dari fibrillating atau bergetarnya otot-otot
jantung atrium, jadi bukan merupakan suatu kontraksi yang terkoordinasi. Hal ini
sering diidentifikasi dengan peningkatan denyut jantung dan ketidakteraturan
irama jantung. Sedangkan indikator untuk menentukan ada tidaknya AF adalah
tidak adanya gelombang P pada elektrokardiogram (EKG), yang secara normal ada
saat kontraksi atrium yang terkoordinasi.
Atrial fibrilasi didefinisikan sebagai takiaritmia supraventrikular yang
dikarakterisasi dengan aktivasi atrium yang tidak terkoordinasi. Pada pemeriksaan
EKG dapat ditemukan gelombang fibrilatori yang menggantikan gelombang P.
Gelombang ini berbeda satu sama lainnya seperti berbeda ukuran, amplitudo dan
waktu. Sedangkan kompleks QRS tetap lancip walaupun ada konduksi abnormal.

1

jantung bisa melakukan kontraksi karena adanya system konduksi sinyal elektrik yang berasal dari nodus sino-atrial (SA). hal ini menyebabkan tidak teraturnya konduksi sinyal elektrik dari atrium ke ventrikel. 2 . AF seringkali tanpa disertai adanya gejala. detak jantung menjadi tidak teratur dan terjadi peningkatan denyut jantung. nodus SA tidak mampu melakukan fungsinya secara normal. Tetapi. tingkat peningkatan risiko stroke tergantung juga pada jumlah faktor risiko tambahan. banyak orang dengan AF memang memiliki faktor risiko tambahan dan AF juga merupakan penyebab utama dari stroke. penurunan kesadaran. memiliki jantung yang normal. sedangkan 3-11% dari mereka yang secara struktural terdiagnosis AF. Untuk presentase stroke yang berasal dari AF berkisar 6-24% dari semua stroke iskemik. Kecenderungan alami dari AF sendiri adalah kecenderungan untuk menjadi kondisi kronis dan menyebabkan adanya komplikasi lain. khususnya pada atrium kiri jantung. Pada AF. Pada AF. nyeri dada dan gagal jantung kongestif. Orang dengan AF biasanya memiliki peningkatan signifikan risiko stroke (hingga >7 kali populasi umum).Respon ventrikular biasanya terjadi secara cepat sekitar 90 hingga 170 kali per menit. Keadaan ini dapat terjadi dan berlangsung dari menit ke minggu atau dapat terjadi sepanjang waktu selama bertahun-tahun. Disamping itu. hal ini dikarenakan adanya pembentukan gumpalan di atrium sehingga menurunkan kemampuan kontraksi jantung. Akibat dari hal tersebut. Pada dasarnya. risiko stroke meningkat tinggi. tapi terkadang AF dapat menyebabkan palpitasi.

Kardioversi dapat digunakan untuk mengkonversi irama jantung AF kembali ke irama jantung yang normal.Tatalaksana penting dari AF adalah untuk mengembalikan gelombang AF menjadi ritme sinus yang normal. Pilihan operasi untuk pasien atrial fibrilasi termasuk diantaranya ablasi pada sistem konduksi sebagai pilihan dalam mengembalikan ritme sinus normal pada pasien dengan AF paroksismal. Tujuan dari tatalaksana AF adalah untuk mengontrol frekuensi dan mencegah terjadinya tromboembolisme. Warfarin biasanya lebih superior penggunaanya dibanding aspirin dan clopidogrel dalam tatalaksana pencegahan stroke. Terapi antikoagulan diperlukan untuk mencegah terjadinya stroke. 3 .