You are on page 1of 26

PENDAHULUAN

Berpikir merupakan ciri utama manusia, yang membedakan
manusia dengan makhluk lain. Dengan dasar berpikir ini,
manusia dapat mengubah keadaan alam sejauh akal dapat
memikirkannya. Berpikir disebut juga sebagai proses bekerjanya
akal. Manusia dapat berpikir karena manusia berakal. Dengan
demikian,

akal

merupakan

intinya,

sebagai

sifat

hakikat,

sedangkan makhluk sebagai genus yang merupakan hakikat dzat
sehingga manusia dapat dijelaskan sebagai makhluk yang
berakal.
Akal merupakan salah satu unsur kejiwaan manusia untuk
mencapai kebenaran, selain rasa untuk mencapai keindahan dan
kehendak untuk mencapai kebaikan. Dengan akal inilah manusia
dapat berpikir untuk mencari kebenaran hakiki. Berpikir banyak
sekali macamnya, namun secara garis besar dapat dibedakan
antara berpikir alamiah dan berpikir ilmiah. Berpikir ilmiah yang
dimaksudkan ialah pola penalaran tentang panasnya api yang
dapat membakar jika dikenakan pada kayu, pasti akan terbakar.
Berpikir

ilmiah

yang

dimaksudkan

adalah

dua

hal

yang

bertentangan penuh tidak dapat sebagai sifat hal tertentu pada
saat yang sama dalam satu kesatuan.
Dua macam berpikir ini yang akan dibahas disini ialah
berpikir ilmiah dan khususnya tentang sarana, yaitu sarana
ilmiah. Bagi seorang ilmuwan penguasaan sarana berpikir ilmiah
merupakan suatu keharusan, dan bahkan mutlak perlu karena
tanpa penguasaan sarana ilmiah tidak akan dapat melaksanakan
kegiatan ilmiah yang baik.
Sarana

ilmiah

pada

dasarnya

merupakan

alat

yang

membantu kegiatan ilmiah dalam berbagai langkah yang harus

1

ditempuh. Pada langkah tertentu biasanya sarana-sarana berpikir
ilmiah ini seyogyanya telah menguasai langkah-langkah dalam
kegiatan ilmiah tersebut. Dengan jalan ini seorang ilmuwan akan
sampai pada hakikat sarana yang sebenarnya bagi suatu ilmu
sebab sarana merupakan alat yang membantu dalam mencapai
tujuan tertentu. Dengan kata lain, sarana ilmiah mempunyai
fungsi-fungsi yang khas dalam kaitan kegiatan ilmiah secara
menyeluruh.
Sarana berpikir ilmiah mutlak perlu dipelajari dan dikuasai
bagi seorang ilmuwan karena sarana berpikir ilmiah merupakan
alat bagi cabang-cabang pengetahuan untuk mengembangkan
materi pengetahuannya berdasarkan metode-metode ilmiah.
Sarana berpikir ilmiah yang akan dibahas selanjutnya adalah
bahasa ilmiah, matematika dan statistika.
BAHASA
Keunikan manusia bukanlah terletak pada kemampuan
berfikirnya melainkan terletak pada kemampuannya berbahasa.
Ernst

Cassirer

menyebut

manusia

sebagai

mahluk

yang

mempergunakan symbol (Animal symbolicum), yang secara
generik mempunyai cakupan yang lebih luas daripada mahluk
yang berfikir (homo sapiens). Sebab dalam kegiatan berfikirnya
manusia

mempergunakan

symbol.

Tanpa

mempunyai

kemampuan berbahasa maka kegiatan berfikir secara sistematis
dan teratur tidak akan dapat dilakukan. Dengan menguasai
bahasa maka manusia akan menguasai pengetahuan. Selain itu
tanpa

kemampuan

bahasa

manusia

tidak

mungkin

mengembangkan kebudayaannya , sebab tanpa mempunyai
bahasa maka akan hilang juga kemampuan untuk meneruskan
nilai

nilai

budaya

dari

generasi

satu

ke

generasi

yang

selanjutnya.

2

demikian juga kalau kita menyampaikan perasaan maka expresi itu mengandung unsur unsur informatif. Demikian juga tanpa bahasa maka kita tidak akan dapat mengkomunikasikan pengetahuan kita kepada orang lain. sedangkan buku telpon itu memberikan kita informasi tanpa emosi Jika kita lihat lebih jauh maka sesungguhnya bahasa 3 . dimana emosi terbebas dari informasi. Kedua aspek bahasa ini yakni aspek Informatif dan emotif keduanya tercermin dalam bahasa yang kita gunakan. oleh sebab itu binatang tidak dapat berfikir dengan baik dan mengakumulasikan penegtahuannya lewat proses komunikasi seperti kita mengembangkan ilmu. Artinya jika kita berbicara maka pada hakikatnya informasi yang kita sampaikan mengandung unsur unsur emotif. Binatang tidak diberkahi dengan bahasa yang sempurna seperti manusia.Manusia dapat berfikir dengan baik karena memiliki bahasa. Dengan adanya transformasi ini maka manusia dapat berfikir mengenai sesuatu objek tertentu meskipun objek tersebut secara factual tidak berada di tempat dimana kegiatan berfikir itu dilakukan. Tanpa bahasa manusia tidak akan dapat berfikir secara rumit dan abstrak seperti apa yang kita lakukan dalam kegiatan ilmiah. Ini berati bahasa selalu mengandung kedua aspek tersebut meskipun kadang dapat dipisahkan seperti musik dapat dianggap sebagai bentuk dari bahasa. Bahasa membuat manusia berfikir secara abstrak dimana obyek obyek yang faktual ditransformasikan menjadi simbol simbol bahasa yang bersifat abstrak. Tranformasi objek factual menjadi symbol abstrak yang diwujudkan lewat perbendaharaan kata kata ini dirangkaikan oleh tata bahasa untuk mengemukakan suatu jalan pemikiran atau ekspresi perasaan. Bahasa memberikan kemampuan untuk berfikir secara teratur dan sistematis.

dan manusia yang bermasyarakat dengan alat komunikasi bunyi disebut juga sebagai masyarakat verbal.mengkomunikasikan tiga hal yakni: buah pikiran. artinya identik dengan pesan yang dikirimkan. Manusia mengumpulkan lambang lambang ini dan menyusun apa yang kita kenal sebagai perbendaharaan kata kata. Namun dalam prakteknya hal ini sulit untuk dilaksanakan. Apakah Sebenarnya Bahasa? Pertama tama bahasa dapat kita cirikan sebagai serangkaian bunyi. Kedua. Komunikasi dengan mempergunakan bunyi disebut juga dengan komunikasi verbal. Atau seperti menyatakan bahwa yang disampaikan bahasa dalam oleh Kneller kehidupan yang manusia mempunyai fungsi simbolik. emotif dan afektif. dan inilah salah satu kelemahan bahasa sebagai sarana komunikasi ilmiah dimana bahasa mempunyai kecenderungan emosional. Komunikasi dengan mempergunakan bahasa akan mengandung unsur simbolik dan emotif. Manusia mempergunakan bunyi sebagai alat komunikasi yang utama paling utama meskipun kita juga bisa menggunakan isyarat. Perbendaharaan ini pada hakikatnya merupakan akumulasi pengalaman dan pemikiran mereka. Dalam komunikasi ilmiah sebenarnya proses komunikasi harus terbebas dari unsur emotif ini. Rangkaian bunyi yang kita kenal sebagai kata melambangkan suatu objek tertentu. agar pesan yang disampaikan bisa diterima secara reproduktif. Fungsi simbolik dari bahasa menonjol dalam komunikasi ilmiah sedangkan fungsi emotif menonjol dalam komunikasi estetik. Dalam hal ini kita mempergunakan bunyi sebagai alat untuk berkomunikasi. Artinya dengan perbendaharaan kata kata yang mereka punyai maka manusia dapat mengkomunikasikan 4 . perasaan dan sikap. bahasa merupakan lambang dimana rangkaian bunyi ini membentuk sebuah arti tertentu.

Manusia belajar agar berbudaya sedangkan binatang belajar untuk mempertahankan jenisnya. dengan bahasa kita dapat mengekspresikan sikap dan perasaan kita. Menurt Francis Bacon pengetahuan adalah kekuasaan. pendidik. Hal ini lah yang menyebabkan bahasa terus berkembang yakni karena disebabkan pengalaman dan pemikiran manusia yang juga berkembang. Karena tikus tidak memiliki bahasa seperti kita. dan dengan kekuasaan ini manusia mencoba mengerti hidupnya. Bukan itu saja. dia bangkit dan menguasainya. maka seekor ibu tikus harus membawa anaknya kepada seekor kucing dan menunjukkan pada waktu itu juga bahwa mahluk itu berbahaya. Manusia tidak mau lagi dikuasai alam. Lewat bahasa manusia menyusun sendi sendi yang membuka rahasia alam dalam berbagai teori seperti elektronik.segenap pengalaman dan pemikiran mereka. Bahasa diperkaya oleh seluruh lapisan masyarakat yang mempergunakannya baik itu para ilmuwan. relativitas dan quantum. Manusia dengan kemampuannya berbahasa memungkinkan untuk memikirkan sesuatu masalah secara terus menerus. Yang paling menonjol biasanya adalah para remaja yang memperkaya perbendaharaan bahasa dengan semangat mereka yang kreatif dan lugu. Adanya bahasa ini memungkinkan kita untuk memikirkan sesuatu dalam benak kepala kita. Perbedaan pendidikan antara manusia dengan binatang terutama terletak dalam tujuannya. Disamping pengetahuan manusia mencoba memberi arti kepada semua 5 . termodinamik. ahli politik bahkan pencopet sekalipun mengembangkan bahasa yang khas untuk kelompoknya. meskipun obyek yang sedang kita pikirkan tersebut tidak berada didekat kita. Jadi dengan bahasa bukan saja manusia dapat berfikir secara teratur namun juga dapat mengkomunikasikan apa yang sedang dia fikirkan kepada orang lain.

Kita membaca puisi dan sastra yang mengungkapkan nilai nilai estetika dalam hidup kita. Bahasa dipergunakan secara plastic. kelahiran dan kematian semuanya dirangkai dengan bahasa menjadi sesuatu yang koheren dan mempunyai arti. karena bila suatu informasi yang diterima berbeda maka akan menghasilkan proses berfikir yang berbeda pula. Oleh sebab itu maka proses komunikasi ilmiah harus bersifat jelas dan objektif yakni terbebas dari unsur unsur emotif. Seni merupakan kegiatan estetik yang banyak mempergunakan asek emotif dari bahasa baik itu seni suara ataupun sastra. Kejadian sehari hari yang penuh dengan ketawa dan air mata. karena tanpa estetika ini maka semua kehidupan akan menjadi steril. seperti kita membuat patung dari tanah liat. menangis dan merayakan hidup lewat kata kata. 6 . dimana komunikasi yang terjadi mempunyai kecenderungan yang emotif. Dalam hal ini bahasa bukan saja dipergunakan untuk mengemukakan perasaan itu sendiri melainkan juga alat untuk memperlihatkan perasaan yang ekspresif. Komunikasi ilmiah bertujuan untuk menyampaikan informasi yang berupa pengetahuan. Komunikasi ilmiah harus bersifat reproduktif. Hal ini untuk mencegah apa yang dinamakan sebagai suatu salah informasi. Komunikasi ilmiah mensyaratkan bentuk komunikasi yang sangat lain dengan komunikasi estetik. Agar komunikasi ilmiah ini berjalan dengan baik maka bahasa yang dipergunakan harus terbebas dari unsur unsur emotif.gejala fisik yang dialaminya. atau kita memadukannya dengna seni suara dimana kita bernyanyi. artinya bila sipengirim komunikasi menyampaikan sesuatu informasi maka si penerima informasi tersebut harus menerima informasi yang serupa.

dan simbolik.Kekurangan Bahasa Sebagai sarana komunikasi ilmiah maka bahasa mempunyai beberapa kekurangan. Terkadang suatu kata tertentu dalam bahasa memiliki definisi yang panjang dan tetap tidak memberikan arti yang jelas terhadap hakikat ilmu yang sebenarnya. Contohnya kata “cinta” jika kita ingin memberikan definisi untuk kata ini akan memberikan pengertian yang sangat panjang yaitu hubungan antara ibu dan anak. Sebuah kata kadang kadang mempunyai lebih dari satu arti yang berbeda. Selain itu bahasa juga mempunyai beberapa kata yang memberikan arti yang sama. Contohnya kata ilusi yang bisa diartikan sebagai angan angan ataupun khayalan. 7 . dua orang kekasih. Kekurangan yang kedua terletak pada arti yang tidak jelas dan eksak yang dikandung oleh kata kata yang membangun bahasa. dan simbolik. namun kenyataannya hal ini tidak mungkin karena bahasa verbal mau tidak mau mengandung ketiga unsur yang bersifat emotif. kelemahan lain terletak pada sifat majemuk ( pluralistik) dari bahasa. Dalam komuniaksi ilmiah kita ingin mempergunakan aspek simbolik saja tanpa ada kaitan emotif dan afektif. Ini merupakan salah satu kekurangan bahasa sebagai sarana komunikasi ilmiah karena masih memiliki kecenderungan emosional. Kekurangan ini terletak pada peranan bahasa itu sendiri yang bersifat multifungsi yakni sebagai sarana komunikasi emotif. afektif. Bahasa ilmiah pada hakikatnya haruslah bersifat obyektif tanpa mengandung emosi dan sikap (antiseptic dan reproduktif). Contohnya pengertian tentang “usaha kerjasama yang terkoordinasi dalam mencapai suatu tujuan tertentu dapat diartikan sebagai administrasi. perasaan pada tanah air dan ikatan pada rasa kemanusiaan yang besar. kakek dan nenek. afektif. ayah dan anak.

pengelolaan dan tata laksana. termasuk pengkajian hakikat ilmu. sebab seperti apa yang dikatakan Max Weber. Sedangkan “organisasi” didefinisikan sebagai “suatu bentuk kerja sama yang merupakan wadah dari kegiatan pengelolaan”. ahli-ahli ilmu sosial cenderung untuk selalu membikin definisi baru mengenai suatu objek penelaahan ilmu-ilmu sosial.manajemen. Masalah bahasa ini menjadi bahan pemikiran yang sungguh-sungguh dari para ahli filsafat modern. maka bahsa bukan saja merupakan alat 8 . seperti filsafat analitik. Kelemahan yang ketiga ialah bahasa sering bersifat berputar putar (sirkular) dalam mempergunakan kata kata terutama dalam memberikan definisi. dimana dua orang yang berkomunikasi mempergunakan sebuah kata yang sama namun untuk pengertian yang berbeda. Kelemahan bahasa yang keempat adalah konotasi yang bersifat emosional. Contohnya kata ”data” yang kita artikan sebagai bahan yang diolah menjadi informasi. Bagi aliran filsafat tertentu. sedangkan “informasi” yaitu keterangan yang didapat dari data. Selain itu kata “pengelolaan” misalnya didefinisikan sebagai “kegiatan yang dilakukan dalam sebuah organisasi”. pada dasarnya merupakan analisis logico-linguistik. sebab mereka menganggap definisi yang dibikin oleh orang lain sebagai “sikat gigi bekas”. Atau sebaliknya dua kata yang berbeda untuk kata yang sama. Tak dapat dihindarkan lagi bahwa dalam memberikan definisi maka sebuah kata tergantung kepada kata kata yang lain. Hal ini tidak ada salahnya selama kata kata yang dipergunakan itu sudah mempunyai pengertian yang jelas dan bukan bersifat berputar putar. Sifat majemuk dari bahasa ini sering menimbulkan apa yang disebut dengan kekacauan semantik. Pengkajian filsafat. Dalam masalah bidang ilmu-ilmu sosial masalah definisi ini makin tambah rumit.

Lambang-lambang dari matematika dibuat secara artifisal dan individual yang merupakan perjanjian yang berlaku khusus untuk masalah yang kita kaji. Bahwa verbal seperti telah kita lihat sebelumnya mempunyai beberapa kekurangan yang sangat mengganggu. Yang paling sukar untuk menjelaskan kepada seseorang yang baru belajar matematika. Pengetahuan yang hakiki bukan didapat lewat penalaran melainkan lewat intuisi (tanpa sadar kita sudah mendapatkan pengetahuan) MATEMATIKA Matematika sebagai Bahasa Matematika adalah bahasa yang melambangkan serangkaian makna dari serangkaian pertanyaan yang ingin kita sampaikan. Sebuah objek yang sedang kita telaah dapat kita lambangkan dengan apa saja sesuai dengan perjanjian kita. Ahli filsafat seperti Henri Bergson (1859-1941) membedakan antara pengetahuan yang bersifat absolut yang didapat tanpa melalui bahasa dan pengetahuan yang bersifat relative yang didapat lewat perantaraan bahasa.bagi berfilsafat dan berfikir. Lambang-lambang matematika bersifat “artifisial “ yang mempunyai arti setelah sebuah makna diberikan kepadanya. Tanpa itu maka matematika hanya kumpulan rumusrumus yang mati. Umpamanya bila kita sedang mempelajari kecepatan jalan kaki seorang anak maka objek “kecepatan jalan 9 . Dalam hal ini dapat kita katakan bahwa matematika adalah bahasa yang berusaha untuk menghilangkan sifat kabur. Untuk mengatasi kekurangan yang terdapat pada bahasa maka kita berpaling kepada matematika. majemuk dan emosional dari bahasa verbal. namun juga merupakan “bahan dasar dan dalam hal tertentu merupakan hasil akhir dari filsafat”.

Demikian juga maka penjelasan dan ramalan yang diberikan oleh ilmu dalam bahasa verbal semuanya bersifat kualitatif. Dalam hal ini maka hanya mempunyai satu arti yakni “kecepatan jalan kaki seorang anak “. Namun kita tidak bisa mengatakan dengan tepat berapa besar pertambahan panjangnya. Dengan bahasa verbal bila kita membandingkan sebuah obyek yang kita bandingkan dengan dua obyek yang berlainan umpamanya gajah dan semut maka kita mengalami kesukaran dalam mengemukaan hubungan itu. Lambang x tidak bersifat majemuk sebab x hanya melambangkan tidak mempunyai pengertian yang lain.kaki seorang anak” tersebut dpat kita lambangkan dengan x. spesifik dan informatif dengan tidak menimbulkan konotasi yang bersifat emosional. menyebabkan daya perdiktif dan kontrol ilmu kurang cermat dan tepat. maka kita dapat mengetahui dengan tepat berapa panjang 10 . Maka pernyataan matematika mempunyai sifat yang jelas. Bahasa verbal hanya mampu mengemukakan pernyataan yang bersifat kualitatif. Matematika mengembangkan bahasa numerik yang memungkinkan kita untuk melakukan pengukuran secara kuantitatif. Kita bisa mengetahui bahwa logam kalau dipanaskan akan memanjang. Kemudian jika sekiranya kita ingin mengetahui berapa besar gajah bila dibandingkan dengan semut maka dengan bahasa verbal kita tidak dapat mengatakan apa-apa. Untuk mengatasi masalah ini matematika mengembangkan konsep pengembangkan konsep pengukuran. Sifat kuantitatif dari Matematika Matematika mempunyai kelebihan lain dibandingkan dengan bahasa verbal. Hal ini menyebabkan penjelasan dan ramalan yang diberikan bahasa verbal tidak bersifat eksak.lewat pengukuran.

Premis yang kedua adalah bahwa jumlah sudut yang terbentuk oleh sebuah garis lurus adalah 180 derajat. Untuk menghitung jumlah sudut dalam segitiga berdasarkan kepada premis bahwa kalau terdapat dua garis sejajar maka sudut-sudut yang terbentuk kedua garis sejajar tersebut dengan garis ketiga adalah sama. Dalam hal ini kita melihat bahwa segitiga ABC kalau kita tarik 11 . Matematika: Sarana Berpikir deduktif Berpikir deduktif adalah proses pengambilan kesimpulan yang didasarkan kepada premis-premis yang kebenarannya telah ditentukan. Kedua premis itu kemudian kita terapkan dalam berpikir deduktif untuk menghitung jumlah sudut-sudut dalam segitiga. agak mengalami kesukaran dalam perkembangan yang bersumber pada problema teknis dan dalam pengukuran. terutama ilmu-ilmu social. Ilmu memberikan jawaban yang lebih bersifat eksak yang memungkinkan pemecahan masalah secara lebih tepat dan cermat. Matematika memungkinkan ilmu mengalami perkembangan dari tahap kualitatif ke kuantitatif. Beberapa disiplin keilmuan.sebatang logam dan berapa tambah panjangnya kalau logam itu di panaskan dengan mengetahui hal ini maka pernyataaan ilmiah yang berupa pernyataan kualitatif seperti “sebatang logam kalau dipanaskan akan memanjang” dapat di ganti dengan pernyataan matematik yang lebih eksak umpamanya: P1=p0 (1 + n1) Sifat kuantitatif dari matematika ini meningkatkan daya predikat dan control ilmu. Perkembangan ini merupakan suatu hal yang imperatif bila kita menghendaki daya prediksi dan control yang lebihtepat dan cermat dari ilmu.

Penggolongan ini memungkinkan kita untuk menemukan ciri-ciri yang bersifat umum dari anggota-anggota yang menjadi kelompok tertentu.garis melalui titik A yang sejajar dengan BC maka pada titik A dapat didapatkan tiga sudut yakni yang ketiga-tiganya membentuk suatu garis lurus. Dengan demikian maka secara deduktif dapat dibuktikan bahwa jumlah sudut-sudut dalam sebuah segitiga adalah 180 derajat. Jadi dengan contoh seperti di atas secara deduktif matematika menemukan pengetahuan yang baru berdasarkan premis-premis yang tertentu. komparatif dan kuantitatif. adalah 180 derajat. Pada tahap sistematika maka ilmu mulai menggolonggolongkan obyek empiris ke dalam kategori-kategori tertentu. Mempergunakan premis yang pertama maka kita bisa mengambil kesimpulan dimana membentuk sebuah garis lurus. yang merupakan jumlah sudutsudut dalam sebuah segitiga. Perkembangan Matematika Ditinjau dari perkembanganyna maka ilmu dapat dibagi dalam tiga tahap yakni tahap sistematika. Ciri-ciri yang bersifat umum ini merupakan 12 . Pengetahuan yang ditemukan ini sebenarnya hanyalah merupakan konsekuensi dari pernyataanpernyataan ilmiah yang telah kita temukn sebelum nya. Meskipun “ tak pernah ada kejutan dalam logika” namun pengetahuan yang didapatkan secara deduktif ini sungguh sangat berguna dan memberikan kejutan yang sangat menyenangkan. Sedangkan berdasarkan remis kedua yang mengatakan bahwa jumlah sudut dalam sebuah garis lurus adalah 1800 maka . Dari beberapa premis yang telah kita ketahui keberadaannya dapat dikemukakan pengetahuan-pengetahuan lainnya yang memperkaya perbedaharaan ilmiah kita.

atau ada bebek yang ngumpet belum ketemu. Immanuel Kant (1724-1804) umpamanya berpendapat bahwa matematika merupakan pengetahuan sintetik a priori di mana eksistensi matematika tergantung kepada dunia pengalaman kita.pengetahuan bagi manusia dalam mengenali dunia fisik. Dalam tahap yang kedua kita mulai melakukan perbandingan antara objek yang satu dengan objek yang lain. kemudian dia memasukkan bebek dua ekor lagi pada siang hari. salah melakukan segera secara dia empiris dibandingkan dengan penalaran rasionalnya. melainkan kepada proses penalaran deduktif. dan seterusnya. Tahap selanjutnya adalah tahap kuantitatif di mana kita mencari hubungan sebab akibat tidak lagi berdasarkan perbandingan melainkan berdasakan pengukuran yang eksak dari objek yang sedang kita selidiki. menurut akal sehat sehari-hari. Kita mulai mencari hubungan yang didasarkan kepada perbandingan antara di berbagai objek yang kita kaji. kategori yang satu dengan kategori yang lain. Memang tidak semua ahli filsafat setuju dengan pernyataan bahwa matematika adalah pengetahuan yang bersifat deduktif. kebenaran matematka tidak ditentukan oleh pembuktian secara empiris. ada pencuri selagi dia tidur. Kecuali tentu saja: bebeknya ada yang lari lewat kolong rumah. Jika seseorang memasukkan bebek dua ekor pada pagi hari. maka pada malam dia akan mengharapkan jumlah bebek semuanya menjadi empat ekor. Demikian juga jika bebek-bebek itu beberapa bulan kemudian 13 . sebab apapun yang terjadi jumlahnya harus empat ekor. “verifikasi” Sekiranya dan menyimpulkan pada jumlahnya ada sesuatu malam hanya hari tiga yang dia ekor. Pada dasarnya.

Griffits dan Howson (1974) membagi sejarah perkembangan matematika menjadi empat tahap. bangunan dan usaha mengontrol alam seperti banjir. Ditemukanlah di antaranya kalkulus diferensial yang memungkinkan kemajuan ilmu yang cepat di abad ke-17 dan revolusi industri di abad ke-18. India. Tahap pertama dimulai dengan matematika yang berkembang pada peradaban Mesir Kuno dan daerah sekitarnya seperti Babylonia dan Mesopotamia. Matematika mendapat momentum baru dalam peradaban Yunani yang sangat memperhatikan aspek esteti dari matematika. pertanian. Waktu perdagangan antara Timur dan Barat pada Abad Pertengahan maka ilmu hitung dan aljabar ini telah dipergunakan dalam transaksi pertukaran. Mereka mendapatkan angka nol dan cara penggunaan desimal serta mengembangkan kegunaan praktis dari ilm hitung dan aljabar tersebut. Dapat dikatakan bahwa peradaban Yunani inilah yang meletakkan dasar matematika sebagai cara berpikir rasional dengan menetapkan berbagai langkah dan definisi tertentu.bukan lagi empat melainkan lima maka masalah itu bukan lagi termasuk matematika melainkan ilmu beternak bebek dan sebangsanya. Waktu itu matematika telah dipergunakan dalam perdangangan. dan Cina mengembangkan ilmu hitung dan aljabar. Babak perkembangan matematika selanjutnya terjadi di Timur di mana pada sekitar tahun 1000 bangsa Arab. Gagasan-gagasan orang Yunani dan penemuan ilmu hitung dan aljabar itu dikaji kembali dalam zaman Renaissance yang meletakkan dasat bagi kemajuan matematika modern selanjutnya. Bagi dunia keilmuan matematika berperan sebagai bahasa simbolik yang memungkinkan terwujudnya komunikasi yang 14 .

Akhir-akhir ini filsafat Kant tentang matematika ini mendapat momentum baru dalam aliran yang disebut intuisionis dengan eksponen utamanya adalah seorang ahli matematika berkebangsaan Belanda bernama Jan Brouwer (1881-1966). bersifat ekonomis dengan kata-kata. Matematika dalam hubungannya dengan komnikasi ilmiah mempunyai peranan ganda. dimana makin banyak kata-kata yang dipergunakan maka makin besar pula peluang untuk terjadinya salah informasi dan salah interpretasi. maka dalam bahasa matematk cukup ditulis dengan model yang sederhana sekali. Beberapa Aliran dalam Filsafat Matematika Dalam bagian terdahulu telah disebutkan dua pendapat tentang matematika yakni dari Immanuel Kant (1724-1804) yang berpendapat bahwa matematika merupakan pengetahuan yang bersifat sintetik apriori di mana eksistensi matematika tergantung dari pancaindera serta pendapat dari aliran yang disebut logistik yang berpendapat bahwa matematika merupakan cara berpikir logis yang salah atau benarnya dapat ditentukan tanpa mempelajari dunia empiris. Matematika sebagai bahasa mempunyai ciri. sebagai pelayan matematika memberikan bukan saja sistem pengorganisasian ilmu yang bersifat logis namun juga pernyataan-pernyataan dalam bentuk model matematik. yakni sebagai ratu dan sekaligus pelayanan ilmu. Matematika bukan saja menyampaikan informasi secara jelas dan tepat namun jugasingkat. Suatu rumus yang jika ditulis dengan bahasa verbal memerlukan kalimat yang banyak sekali. sebagaimana dikatakan Morris Kline. sabagai ratu matematika merupakan bentuk tertingi dari logika. kata Fehr.cermat dan tepat. Di 15 . Di satu pihak. sedangkan di lain pihak.

Pengetahuan kita tentang bilangan. Hal ini ditentang oleh kaum intuisionis yang menyatakan lewat Brouwer bahwa intuisi murni dari berhitung merupakan titik tolak tentang matematika bilangan. Kiranya dari pembahasan di atas nampak jelas bahwa tidak satupun dari sepenuhnya ketiga aliran dalam filsafat berhasil dalam usahanya. Mereka berpendapat bahwa banyak masalah-masalah dalam bidang logika yang tidak ada hubungannya dengan matematika. Kaum formalis menolak anggapan kaum logistik yang menyatakan bahwa konsep matematika dapat direduksikan menjadi konsep logika. matematika Walaupun ini demikian 16 . dan matematika itu sendiri harus ditulis kembali secara rumit sekali. Hal ini menyebabkanbanyak sekali bagian dari matematika yang secara kumulatif telah diterima harus ditolak.samping dua aliran ini terdapat pula aliran ketiga yang dipelopori oleh David Hilbert (1862-1943) dan terkenal dengan sebutan kaum formalis. Hakikat sebuah bilangan harus dapat dibentuk melalui kegiatan intuitif dalam berhitung dan menghitung. merupakan pengertian rasional yang bersifat apriori. kata Frege. Dengan demikian maka pernyataan George Cantor (1845-1918) yang menyatakan bahwa lebih banyak bilangan nyata dibandingkan bilangan asli ditolak oleh kaum intuisionis. Kaum formalis menekankan kepada aspek formal dari matematika sebagai bahasa perlambang dan mengusahakan konsistensi dalam penggunaan matematika sebagai bahasa lambang. Bagi mereka matematika merupakan pengetahuan tentang struktur formal dari lambang. yang kita pahami lewat “mata penalaran” (the eye of reason) yang memandang jauh ke dalam struktur hakikat bilangan.

Hal ini tidak jauh beda bednya dengan situasi peradaban kita. angka 17 . Pengetahuan tentang matematika pada waktu itu dianggap keramat. dan penduduk kota kurun teknologi ini adalah “makhluk yang berhitung” (calculating animal) yang hidup dalam jaringan angka-angka: takaran resep makanan. seperti yang dikeluhkan Soedjatmoko. jadwal kereta api.M. Kaum logistik mempergunakan sistem simbol yang diperkembangkan oleh kaum formalis dalam kegiatan analisisnya. bahwa seorang pegawai sering menyimpan informasi tertentu. Kaum intuisionis memberikan titik tolak dalam mempelajari matematika dalam perspektif kebudayaann memungkinkan suatu masyarakat diperkembangkannya tertentu filsafat yang pendidikan matematika yang sesuai. Para pendeta sengaja menyembunyikan pengetahuan tentang matematika untuk mempertahankan kekuasaan mereka. Matematika tidak dapat dilepaskan dari perkembangan peradaban manusia. lewat pemahamannya masing-masing. Ketiga pendekatan dalam matematika ini.perbedaan pandangan ini tidak melemahkan perkembangan matematika malah justru sebaliknya di mana satu aliran memberi inspirasi kepada aliran-aliran lainnya. kata Lancelot Hogben. Penduduk kota yang pertama adalah “makhluk yang berbicara”(talking animal). karena dalam anggapan tradisional “monopoli atas informasi merupakan sumber kekuasaan”. yang bangsa Mesir melambangkan Kuno telah angka-angka. memperkukuh matematika sebagai sarana kegiatan berpikir deduktif. Matematika dan Peradaban Sekitar mempunyai 3500 tahun simbol S.

indikator baterai. ongkos angkut kapal. “Ilmu kualitatif adalah masa kecil dari ilmu kuantitatif. Tanpa matematika maka pengetahuan akan berhenti pada tahap kualitatif yang tidak memungkinkan untuk meningkatkan penalarannya lebih jauh. rampasan perang. filsafat atau agama semuanya mempunyai karakteristik yang sama: sederhana dan jelas. potongan. matematika adalah sesuatu yang imperatif: sebuah sarana untuk meningkatkan kemampuan penalaran deduktif. timbangan bayi. bagi bidang keilmuan modern. Kebenaran yang merupakan fondasi dasar dari tiap pengetahuan. kalori. curah hujan. pajak. STATISTIKA 18 . di mana ilmu yang sehat. tingkat kematian. meteran gas. taruhan. apakah itu ilmu. suku bunga bank. Kerangka pemikiran seorang ilmuwan bagaimanapun rumit dan dalamnya seyogyanya mampu dikomunikasikan dengan kata-kata yang sederhana. temperatur klinis. cerah matahari. tilang. Angka tidak bertujuan menggantikan kata-kata. ilmu kuantitatif merupakan masa dewasa ilmu kualitatif”.pengangguran. spedometer. lotere. transparan bagai kristal kaca. adalah terus tumbuh dan mendewasa. Semoga perkembangan matematika tidak menimbulkan dikhotomi dalam cara berpikir dan mengembangkan dua pola kebudayaan dalam masyarakat. uang lembur. Teknik penghalang matematika untuk yang tinggi mengkomunikasikan bukan merupakan pernyataan yang dikandungnya dalam kalimat-kalimat yang sederhana. skor biljar. Analog dengan pernyataan Bertrand Russell tentang hubungan antara logika dan matematika mungkin kita bisa berkata. pengukuran sekedar unsur dalam menjelaskan persoalan yang menjadi pokok analisa utama. Singkatnya. panjang gelombang dan tekanan ban. seperti juga kita manusia.

Sebagai bagian dari perangkat metode ilmiah maka statistika membantu kita untuk melakukan generalisasi dan menyimpulkan karakteristik suatu kejadian secara lebih pasti dan bukan secara kebetulan. merupakan konsep baru yang tidak dikenal dalam pemikiran Yunani kuno. dan keduanya mengembangkan cikal bakal teori peluang. Untuk dapat mengambil suatu keputusan dalam kegiatan ilmiah diperlukan data-data. Peluang yang merupakan dasar dari teori statistika. mengajukan beberapa permasalahan mengenai judi kepada seorang ahli matematika Prancis Blaise Pascal (1623-1662). Chevalier de Mere. Statistika merupakan sekumpulan metode dalam memperoleh pengetahuan untuk mengelolah dan menganalisis data dalam mengambil suatu kesimpulan kegiatan ilmiah. Yang menjadi dasar teori statistika adalah peluang.Sekitar tahun 1645. Statistika juga memberikan kemampuan kepada kita untuk mengetahui apakah suatu hubungan kausalitas antara dua faktor atua lebih bersifat kebetulan atau benar-benar terkait dalam suatu hubungan yang bersifat empiris. Statistika mampu memberikan secara kuantitatif tingkat ketelitian dari kesimpulan yang ditarik. metode penelitian serta penganalisaan harus akurat.Begitu dasar-dasar peluang ini dirumuskan maka dengan cepat bidang telaahan ini berkembang. Romawi bahkan Eropa dalam abad pertengahan. Konsep statistika sering dikaitkan dengan distribusi variabel yang ditelaah dalam suatu populasi. Teori mengenai kombinasi bilangan sudah terdapat dalam aljabar yang di kembangkan sarjana muslim namun bukan dalam lingkup teori peluang. Tertarik dengan permaslahan yang berlatar belakang teori ini dan kemudian mengadakan korespondensi dengan ahli matematika Prancis lainnya Piere de Fermat (1601 – 1665 ). yakni semakin besar contoh yang diambil maka makin tinggi pula tingkat ketelitian kesimpulan tersebut. Yang pada pokoknya didasarkan pada asas yang sederhana. seorang ahli matematika amatir. Statiska bukan merupakan sekumpulan pengetahuan mengenai objek tertentu melainkan merupakan sekumpulan metode dalam memperoleh 19 .

pengetahuan. Pengujian statistika adalah konsekuensi pengujian secara emperis. sejauh apa yang menyangkut metode.Maka. Metode keilmuan. sebenarnya tak lebih dari apa yang dilakukan seseorang dalam mempergunakan pikiranpikiran tanpa ada sesuatu pun yang membatasinya. Pengujian statistik mampu memberikan secara kuantitatif tingkat kesulitan dari kesimpulan yang ditarik tersebut. pengujian merupakan suatu proses yang diarahkan untuk mencapai simpulan yang bersifat umum dari kasus-kasus yang bersifat individual. Dengan demikian berarti bahwa penarikan simpulan itu adalah berdasarkan logika induktif. maka hipotesis itu diterima sebagai kebenaran.. jika bertentangan hipotesis itu ditolak”. Kekacauan logika inilah yang menyebabkan kurang berkembangnya ilmu dinegara kita. Dengan statistika kita dapat melakukakn pengujian dalam bidang keilmuan sehingga banyak masalah dan pernyataan keilmuan dapat diselesaikan secara faktual. baik melalui hitungan maupun pengukuran. Penguasaan statistika mutlak diperlukan untuk dapat berpikir ilmiah dengan sah sering kali dilupakan orang. Karena pengujian statistika adalah suatu proses pengumpulan fakta yang relevan dengan rumusan hipotesis. Berpikir logis secara deduktif sering sekali dikacaukan dengan berpikir logis secara induktif. maka statistika membantu kita untuk mengeneralisasikan dan menyimpulkan karakteristik suatu kejadian secara lebih pasti dan bukan terjadi secara kebetulan. . Sebagai bagian dari perangkat metode ilmiah. Kita cenderung untuk berpikir logis cara deduktif dan menerapkan prosedur yang sama untuk kesimpulan induktif. Sebaliknya. pada pokoknya didasarkan pada asas yang 20 . Statiska Dan Berfikir Induktif Statistika merupakan bagian dari metode keilmuan yang dipergunakan dalam mendiskripsikan gejala dalam bentuk angka-angka. jika hipotesis terdukung oleh fakta-fakta emperis. Statistika merupakan sarana berpikir yang diperluaskan untuk memproses pengetahuan secara ilmiah. Artinya..

sangat sederhana. Karakteristik ini memungkinkan kita untuk dapat memilih dengan seksama tingkat ketelitian yang dibutuhkan sesuai dengan hakikat permasalahan yang dihadapi. maka nilai tinggi rata-rata yang dimaksud merupakan sebuah kesimpulan umum yang ditarik dalam kasus-kasus anak umur 10 tahun di tempat itu. makin sedikit contoh yang diambil maka makin rendah pula tingkat ketelitiannya. Logika induktif. dalaam arti selama kesimpulan itu tidak ada bukti yang menyangkalnya maka kesimpulan itu benar. Kesimpulan yang dapat ditarik dalam hal ini hanyalah mengenai tingkat peluang untuk hujan dalam tahun ini juga akan turun hujan”. maka tidak dapat dipastikan bahwa selama bulan November tahun ini juga akan turun hujan. Logika induktif tidak memberikan kepastian namun sekedar tingkat peluang bahwa untuk premis-premis tertentu dapat ditarik suatu kesimpulan dan kesimpulannya mungkin benar mungkin juga salah. merupakan sistem penalaran yang menelaah prinsipprinsip penyimpulan yang sah dari sejumlah hal khusus sampai pada suatu kesimpulan umum yang bersifat boleh jadi. statistika juga memberikan kesempatan kepada kita untuk mengetahui apakah suatu hubungan kesulitan antara dua faktor atau lebih bersifat kebetulan atau memang benar-benar terkait dalam suatu hubungan yang bersifat emperis. Selain itu. Oleh karena itu kesimpulan hanyalah kebolehjadian. namun dapat saja kesimpulannya salah. Dalam hal ini kita menarik kesimpulan berdasarkan logika induktif. yaitu berusaha menemukan prinsip penalaran yang bergantung kesesuaiannya dengan kenyataan. Misalnya. Pengujian statistik mengharuskan kita untuk menarik kesimpulan yang bersifat umum dari kasus-kasus yang bersifat individual. Sebaliknya. Sebab logika induktif tidak memberikan kepastian namun 21 . Umpamanya jika kita ingin mengetahui berapa tinggi rata-rata anak umur 10 tahun di sebuah tempat. Maka kesimpulan yang ditarik secara induktif dapat saja salah. yakni makin besar contoh yang diambil makin tinggi pula tingkat kesulitan kesimpulan tersebut. Logika ini sering disebut dengan logika material. meskipun premis yang dipakainya adalah benar dan penalaran induktifnya adalah sah. jika selama bulan November dalam beberapa tahun yang lalu hujan selalu turun.

memberikan cara untuk dapat menarik kesimpulan yang bersifat umum dengan jalan mengamati hanya sebagian dari populasi. Pengumpulan data seperti ini tak dapat diragukan lagi akan memberikan kesimpulan mengenai tinggi rata-rata anak tersebut di negara kita. Maka statistika dengan teori dasarnya teori peluang memberikan sebuah jalan keluar. umpamanya. diperlukan proses penalaran sebagai berikut : a. Penarikan kesimpulan secara induktif menghadapkan kita kepada sebuah permasalahan mengenai banyaknya kasus yang harus kita amati sampai kepada suatu kesimpulan yang bersifat umum. 22 . harus terbuka dan dapat meramalkan bagi pengembangan konsekuensinya. Untuk berpikir induktif dalam bidang ilmiah yang bertitik tolak dari sejumlah hal khusus untuk sampai pada suatu rumusan umum sebagai hukum ilmiah. bagaimana caranya kita mengumpulkan data sampai pada kesimpulan tersebut.Searles [1956]. Jadi untuk mengetahui tinggi rata-rata anak umur 10 tahun di Indonesia kita tidak melakukan pengukuran untuk seluruh anak yang berumur tersebut. eksperimen terjadi untuk membuat atau mengganti obyek yang harus dipelajari. menurut Herbert L. Dalam induksi ialah perumusan hipotesis Hipotesis merupakan dalil sementara yang diajukan berdasarkan pengetahuan yang terkumpul sebagai petunjuk bagi peneliti lebih lanjut. tetapi kegiatan ini menghadapkan kita kepada persoalan tenaga. tetapi hanya mengambil sebagian anak saja. Hipotesis ilmiah harus memenuhi syarat sebagai berikut: harus dapat diuji kebenarannya. b. Observasi harus dikerjakan seteliti mungkin. Hal yang paling logis adalah melakukan pengukuran tinggi badan terhadap seluruh anak 10 tahun di Indonesia. biaya. dan waktu yang cukup banyak. harus runtut dengan dalil-dalil yang dianggap benar. Jika kita ingin mengetahui berapa tinggi rata-rata anak umur 10 tahun di Indonesia.sekedar tingkat peluang. Mengumpulan fakta-fakta khusus Metode khusus yang digunakan observasi [pengamatan] dan eksperimen. hipotesisi harus dapat meenjelaskan fakta-fakta yang dipersoalkan.

namun kesimpulannya mungkin saja salah. Statistika merupakan pengetahuan yang memungkinkan kita untuk menarik kesimpulan secara induktif berdasarkan peluang yang ada. makin sedikit bahan bukti yang mendukungnya semakin rendah tingkat kesulitannya. Logika induktif tidak memberikan kepastian namun sekadar tingkat peluang bahwa untuk premis-premis tertentu dapat ditarik. Dasar dari teori statistika adalah teori peluang. Hipotesis adalah sekedar perumusan dalil sementara yang harus dibuktikan atau diterapkan terhadap fakta-fakta atau juga diperbandingkan dengan fakta-fakta lain untuk diambil kesimpulan umum. Ini juga mencakup generalisasi. untuk menemukan hukum atau dalil umum. atau dengan kata lain untuk menentukan pembenaran yang logis bagi penyimpulan berdasarkan beberapa hal untuk diterapkan bagi semua hal. Dalam hal ini penalaran induktif ialah mengadakan verifikasi. untuk diterapkan bagia semua hal harus merupakan suatu hukum ilmiah yang derajatnya dengan hipotesis adalah lebih tinggi. Persoalan yang dihadapi oleh induksi ialah untuk sampai pada suatu dasar yang logis bagi generalisasi dengan tidak mungkin semua hal diamati. Statistika mampu memberikan secara kuantitatif tingkat ketelitian dari kesimpulan yang ditarik tersebut. Teori dan hukum ilmiah. Maka. Karakter Berfikir Induktif Kesimpulan yang dapat ditarik secara induktif adalah meskipun premis yang dipakai adalah benar dan penalaran induktifnya adalah sah. yakni makin banyak bahan bukti yang diambil makin tinggi pula tingkat ketelitian kesimpulan tersebut.c. hasil terakhir yang diharapkan dalam induksi ilmiah adalah untuk sampai padahukum ilmiah. Memverifikasi adalah membuktikan bahwa hipotesis ini adalah dalil yang sebenarnya. Penalaran secara induktif dimulai dengan mengemukakan pernyataan-pernyataan yang mempunyai ruang 23 . d. Berikut adalah pengertian dari metode berpikir induktif menurut Ahli filsafat: induksi merupakan cara berpikir dimana ditarik suatu kesimpulan yang bersifat umum dari berbagai kasus yang bersifat individual. sehingga hipotesis tersebut menjadi suatu teori. Demikian sebaliknya.

Sarana berpikir ilmiah pada dasarnya merupakan alat yang membantu kegiatan ilmiah secara baik dalam berbagai langkah. PENUTUP Dalam melaksanakan kegiatan ilmiah secara baik diperlukan sarana berpikir ilmiah yang memungkinkan seorang ilmuwan melakukan penelaahan ilmiah secara teratur dan cermat. Pada 24 .lingkup yang khas dan terbatas dalam menyusun argumentasi yang diakhiri dengan pernyataan yang bersifat umum.

sedangkan statistik mempunyai peranan penting dalam berpikir induktif. dan sarana berpikir ilmiah tidak menggunakan cara tersebut. yang berupa bahasa.langkah tertentu diperlukan sarana tertentu pula sehingga penguasaan sarana berpikir ilmiah bagi seorang ilmuwan merupakan suatu hal yang bersifat imperatif. matematika. Kemampuan berpikir ilmiah yang baik didukung oleh penguasaan berpikir dengan baik pula. Sarana berpikir ilmiah mempunyai metode tersendiri yang berbeda dengan metode ilmiah dalam mendapatkan pengetahuannya. Berdasarkan pengetahuan tersebut perbedaan jelas bahwa cara sarana mendapatkan berpikir ilmiah bukanlah ilmu melainkan sarana ilmu. Dalam mendapatkan pengetahuan ilmiah pada dasarnya ilmu menggunakan penalaran induktif dan deduktif. Penalaran ilmiah menyadarkan diri pada proses logika deduktif dan logika induktif karena ditinjau dari gabungan Matematika antara segi berpikir merupakan pola dipikirnya deduktif sarana dan penting ilmu merupakan berpikir berpikir induktif. dan statistik. Dalam penalaran ilmiah bahasa merupakan sarana umum digunakan dalam seluruh proses berpikir ilmiah karena bahasa merupakan alat berpikir dan alat komunikasi untuk menyampaikan jalan pikiran kepada orang lain. logika. 25 . deduktif. Fungsi sarana berpikir ilmiah untuk membantu proses metode ilmiah. baik secara deduktif maupun induktif.

Filsafat Ilmu. Jakarta : Pustaka Sinar Harapan 26 . 2003. Jujun S.DAFTAR PUSTAKA Suriasumantri. Sebuah Pengantar Populer.