You are on page 1of 7

BAB I

PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Karbon aktif atau arang aktif merupakan material yang mengandung karbon
yang berasal dari sumber daya hewan dan tumbuhan; seperti: tulang, kayu lunak,
sekam, tongkol jagung, tempurung kelapa, sabut kelapa, ampas penggilingan tebu,
ampas pembuatan kertas, serbuk gergaji, kayu keras, dan batu bara [11]. Selain itu,
karbon aktif juga dapat dihasilkan dari biomassa, seperti bambu, tembakau, sagu, biji
buah ceri dan kacang almond [6].
Pengaplikasian arang aktif di dalam dunia industri juga sangat luas dan relatif
tinggi, biasanya digunakan sebagai katalis, penghilangan bau, penyerapan warna, zat
purifikasi [11] dan sebagai agen penyerap [6]. Arang aktif memiliki luas permukaan
yang cukup besar sekitar 300 – 2000 m2/gr karena memiliki struktur pori yang
menyebabkan karbon aktif memiliki kemampuan menyerap dengan nilai daya serap
yang sangat baik terhadap berat karbon aktif [1].
Kebutuhan Indonesia akan karbon aktif masih relatif tinggi disebabkan semakin
meluasnya pemakaian karbon aktif pada sektor industri; seperti sektor perikanan dan
industri [1].
Industri pembuatan karbon aktif di dalam negeri telah mengalami kemajuan
yang pesat disebabkan oleh meningkatnya permintaan pasar terhadap karbon aktif,
baik di dalam maupun luar negeri [8]. Permintaan karbon aktif meningkat sebesar
9% per tahun sampai dengan 2014 dan konsumsi karbon aktif dunia tahun 2014
diperkirakan 1,7 juta ton per tahun. Pada tahun 2011, jumlah ekspor arang aktif di
Indonesia adalah sebesar 21.652.271 kg/tahun [1]. Luas perkebunan kelapa sawit di
Indonesia pada tahun 2011 adalah sebesar 7,8 juta Ha, dimana 6,1 juta Ha termasuk
dalam kategori yang produktif, dengan produksi sebesar 22 juta ton CPO dan terus
meningkat menjadi 23,6 juta ton pada akhir tahun [7].
Oleh karena produksi tanaman kelapa sawit dan luas perkebunannya yang
sangat besar, ketersediaan limbahnya pun melimpah. Limbah tanaman kelapa sawit
terdiri dari 2 jenis yaitu limbah padat dan limbah cair. Limbah cair industri kelapa
sawit yang paling utama adalah POME atau Palm Oil Mill Effluent, sedangkan

batang dan serat mesocarp. terdapat nilai batas minimal kualitas yang harus dimiliki agar dapat dikatakan memenuhi kriteria arang aktif yang baik. Tabel 1. Pemanfaatannya dapat dilakukan dengan mengolahnya menjadi suatu alternatif energi terbarukan.55 0. pelepah. 120 9 Berat jenis curah mg/ g 0.5 Maks.5 Maks.35 10 Lolos mesh 325 g/ ml - Min. Serat mesocarp dan tandan kosong merupakan limbah yang diperoleh ketika proses produksi berlanjut. Tabel 1. 60 Min.1. 750 Min. 750 6 Karbon aktif murni % Min. Syarat Mutu Arang Aktif [15] No 1 Uraian Bagian yang hilang pada Satuan % Persyaratan Butiran Serbuk Maks. Pelepah tanaman kelapa sawit dihasilkan ketika proses replantasi dan penggantian tanaman tua dengan tanaman yang lebih muda.15 Maks. 4.3-0. 90 11 Jarak mesh % 90 - 12 Kekerasan % 80 - Pembuatan arang aktif diawali dengan proses karbonisasi (pengarangan). 10 4 Bagian yang tidak terarang - 0 0 5 Dayaserap I2 mg/g Min. 2. 25 - 8 Daya serap metilen biru mg/g Min.45-0. sementara pelepah dihasilkan ketika dilakukan pemangkasan pelepah [2]. yaitu arang aktif melalui proses pirolisis dan aktivasi. 60 7 Daya serap benzen % Min.3730 . 80 Min. Selanjutnya dilakukan proses .25 pemanasan 950oC 2 Kandungan air % Maks. Menurut Standar SNI (06 .1995).limbah padatnya terdiri dari tandan kosong. 15 3 Kandungan abu % Maks. yang merupakan suatu proses pirolisis (pembakaran) tak sempurna dengan udara yang terbatas dari bahan yang mengandung karbon [12].1 akan menampilkan nilai syarat mutu suatu arang aktif.

10%. Rangkuman Penelitian Terdahulu Penulis / Tahun Judul Bahan Baku / Variabel Proses Noer. 7%. 42.5 %. 60 menit Surest.5%. dan H2SO4 [10].2 menampilkan beberapa rangkuman penelitian sebelumnya tentang pembuatan arang aktif. Suhu aktivasi : sebagai absorben 900 oC . KOH.% (HCl) Kadar abu : 6. 24 jam. efek penggunaan bahan kimia mampu meningkatkan jumlah poripori dalam produk. 9%. 7 %. 5 % Kadar Abu : 5.2. CaCl2 Hasil Kadar air :8.5%. 792.9 %. Selain itu. NaCl. 7. 6. Tabel 1. NaOH. 796. 8%. Yield karbon yang dihasilkan aktifasi kimia juga lebih tinggi dari aktifasi fisika [10]. NaOH. 6%. sedangkan aktivasi kimia dengan menggunakan bahan kimia sebagai agen pengaktivasi. 373 mg/gr Rendemen: 37 %. Suhu menggunakan Karbonasi : 500 akivator H2O oC. 39. Masing-masing aktifator akan memberikan efek/pengaruh yang berbeda-beda terhadap karakteristik arang aktif. 9%. 400 oC.5%. 787. 8. 20.5%. Penelitian mengenai pembuatan arang aktif sudah pernah dilakukan sebelumnya dengan melakukan variasi baik pada bahan baku. 7%. 7%. 10.3 % Kadar air : 9%. 6 %. Pembuatan karbon Pelepah Pohon Awitdrus. 40.5 % Bilangan Iodin : 370 mg/gr. 755 mg/gr. yaitu aktivasi fisika dengan menggunakan panas. 785. Aktifasi secara kimia memiliki kondisi suhu dan tekanan operasinya relatif lebih rendah. 2010 Ketapang 500 oC. dan aktif dari pelepah Kelapa Sawit / ±12 Malik / 2014 pohon kelapa sawit mesh.5%. 8.aktivasi. 812 mg/gr (HCl) . 9. dan CO2. 7. maupun jenis aktivator yang digunakan. Jenis aktivator akan berpengaruh terhadap kualitas karbon aktif. aktivator : HCl. 788. 8% (HCl) Daya serap terhadap iodium : 770.5%. Pembuatan Karbon Cangkang biji Permana dan Aktif dari ketapang / suhu : Wibisono / Cangkang Biji 300 oC.5 %. 9%. seperti luas permukaan maupun volume pori-pori karbon aktif yang dihasilkan. Tabel 1.371 mg/gr. uap. 782 mg/gr. Beberapa jenis senyawa kimia yang sering digunakan dalam industri pembuatan karbon aktif adalah ZnCl2. H3PO4. waktu aktivasi : 20. 22.

kadar fixed karbon. 620 mg/g.Ramdja.31% Kadar Abu = 7.168% Daya Serap Terhadap Iodium : 1. .28984. 1.032 mg/l Karakteristik arang aktif umumnya dilihat berdasarkan perolehan nilai kadar air. Hasil karbon aktif terbaik berada pada 600 °C Daya serap terhadap iodine sebesar 494. I Ketut Gede Intan dan Sutapa. NaOH.3161. Kadar Air = 5.685130.694 m2/g.021% Kadar Karbon Terikat : 62.02112.665-18. Turmuzi.522% Kadar air : 2. 0.690% Kadar Zat Menguap: 10.4 %.) / suhu : 500 oC selama 3 jam. dan NaCl.P. NH4HCO3 0.70%.7 %.7176. activator asam fosfat konsentrasi 10% selama 3 jam pada suhu 85 oC. suhu pirolisis 400600 oC selama 1 jam Kurniawan.80869.338% Daya Serap Terhadap Benzena : 2. lama aktifasi 24 jam. sebesar 71. Jo Handi / 2008 Pembuatan Karbon Aktif dari Pelepah Kelapa (Cocusnucifera ) Pelepah Kelapa (Cocus nucifera ) / 600 gram. Daya Serap Terhadap Metilen Blue : 121. 1%. dan kemampuan daya serap dengan larutan iodin atau metilen biru. J. 500 oC dan 600 oC. A fuadi. Zat Aktivator HCl. 0.91 mg/g Luas permukaan terbaik adalah 4078. Rendemen : 59. Gentur / 2010 Pembuatan dan Pemanfaatan Arang Aktif dari Tempurung Buah Lontar (Borassus flabellifer linn.) sebagai Absorben Limbah Batik Kayu Tempurung Buah Lontar (Borassus flabellifer linn. 400oC.833% Kadar abu : 2. Muhammad dan Arion Syahputra / 2015 Pengaruh Suhu Dalam Pembuatan Karbon Aktif Kulit Salak (Salacca Edulis) dengan Impregnasi Asam Fosfat (H3PO4) Salak (Salacca Edulis) / 150 gram.5296 mg/g. 15 menit.77919.3 % selama 24 jam suhu aktivasi : 700 ºC dan 900 ºC selama 1 jam Yield terbesar yaitu pada suhu 400 °C. Mirah Halim.243. kadar abu.223.1 %.78% Daya serap terhadap Iodium = 832.

komponen asam kuat memberikan hasil yang lebih baik dikarenakan nilai kadar air dan kadar abu yang relatif kecil yaitu sebesar 5.3730 .1995).2 Rumusan Masalah Berdasarkan informasi dari tabel. . seperti asam kuat. serta dapat dijadikan sebagai bahan pertimbangan ataupun referensi untuk pengembangan penelitian selanjutnya.2 dapat dilihat bahwa pembuatan arang aktif umunya menggunakan bahan baku biomassa yang berasal dari tanaman dan diaktivasi dengan aktivator kimia. yaitu 832.31 % dan 7.3 Tujuan Penelitian Tujuan dari penelitian ini adalah untuk membuat arang aktif secara kimia. Kualitas arang aktif diukur sesuai parameter yang tercantum pada SNI (06 . Pada penelitian dengan bahan baku pelepah kelapa (Cocus nifera) dengan aktivator HCl.4 Manfaat Penelitian Manfaat yang dapat diperoleh dalam penelitian ini adalah menambah wawasan serta pengetahuan di bidang ilmu pengetahuan terkait penerapannya dalam mengkonversi limbah menjadi suatu bahan energi alternatif dan memiliki nilai ekonomi yang lebih baik.Dari tabel 1. 1. basa kuat. Sehingga penulis perlu untuk melakukan penelitian pembuatan arang aktif dari pelepah kelapa sawit dengan karakteristik yang sesuai dengan SNI (06 .3730 . belum ada penelitian tentang pembuatan arang aktif dari pelepah kelapa sawit yang menggunakan Natrium Karbonat (Na2CO3) sebagai aktivator dan membandingkan dengan aktivator Asam Karbonat (H2CO3) yang memiliki sifat larutan yang berbeda. NaOH dan NaCl. 1.1995).5296 mg/g. namun memiliki luas permukaan penyerapan yang besar.78 %. 1. dan garam. dari pelepah kelapa sawit serta membandingkan spesifikasi arang aktif berdasarkan penambahan aktivator Na2CO3 dan H2CO3.

Adapun analisis ini terdiri dari : 1. Waktu Aktivasi = 2 jam [28] h. 10 % w/w. Fakultas Teknik. Medan Penelitian ini dilakukan selama lebih kurang 6 bulan. Laboratorium Penelitian Departemen Teknik Kimia. Daya Serap terhadap Larutan Iodin . Kadar Zat yang Mudah Menguap (Volatile Matter) 4. [35] d. Waktu Perendaman = 24 jam [13] 2.1. Kadar Abu 3. Konsentrasi Aktivator = 5 % w/w. Aktivator = Natrium Karbonat (Na2CO3) [8] dan Asam Karbonat (H2CO3). Suhu Pengeringan = 110 oC [28] e. Rendemen Arang Aktif 6. Cacahan pelepah pohon kelapa sawit (Elaeiss guineensis) b. Adapun variabel-variabel dari penelitian ini adalah sebagai berikut.5 Ruang Lingkup Penelitian Lokasi proses pembuatan arang aktif dan analisa produk arang aktif yang dihasilkan: 1. 300 oC. 15 % w/w b. Variabel berubah : a. Waktu Pirolisis Pelepah = 120 menit c. Waktu Pengeringan = 24 jam [28] o f. Kadar Fixed Karbon 5. 500 oC c. Ukuran partikel saat aktivasi = 140 mesh. Variabel tetap: a. Universitas Sumatera Utara. Kadar Air 2. Suhu Pirolisis = 200 oC. 1. Suhu Aktivasi = 80 C [28] g. Analisis yang akan dilakukan didalam penelitian ini meliputi analisis pada produk yang dihasilkan yaitu arang aktif yang telah diaktivasi. 400 oC.

kadar abu. ASTM D28 untuk Nilai Bilangan Iodin (Standard Method Test) (ASTM 2006) dan SNI 06-3730-1995 (BSN 1995). . dan dianalisis sebelum dan sesudah proses aktivasi.Pengujian parameter di laboratorium dilakukan berdasarkan standard American Society for Testing Material (ASTM) dan Standar Nasional Indonesia (SNI) yang sesuai. Kadar air. zat terbang. dan kadar karbon masing-masing ditentukan dengan mengikuti metode standar ASTM D121 Terminology of Coal and Coke (ASTM 1990).