You are on page 1of 9

Lembar Tugas Mandiri

REVIEW KESULTANAN KUTAI


Nama: Ahmad Syarif
NIM: 1506726271
Sumber: Ahyat, Ita Syamtasiyah. Kesultanan Kutai 1825-1910. Jakarta: Sinar
Alam Media.
Ditinjau dari sejarah Indonesia kuno,

Kerajaan Kutai merupakan

kerajaan tertua di Indonesia. Hal ini dibuktikan dengan ditemukannya 7 buah


prasasti yang ditulis diatas yupa (tugu batu) yang ditulis dalam bahasa
Sansekerta dengan menggunakan huruf Pallawa. Berdasarkan paleografinya,
tulisan tersebut diperkirakan berasal dari abad ke-5 Masehi. Dari prasasti
tersebut dapat diketahui adanya sebuah kerajaan dibawah kepemimpinan
Sang Raja Mulawarman, putera dari Raja Aswawarman, cucu dari Maharaja
Kudungga. Kerajaan yang diperintah oleh Mulawarman ini bernama Kerajaan
Kutai Martadipura, dan berlokasi di seberang kota Muara Kaman.
Ketika Kerajaan Majapahit berkembang, maka di Kuitai ditempatkan
seorang wakil kerjaan yang berpusat di Pulau Jawa tersebut. Namun,
keadaan

tersebut

berangsur-angsur

mulai

berubah

ketika

majapahit

menemui masa keruntuhannya pada akhir abad ke-15. Kutai yang semula
masuk ke dalam wilayah kekuasaan Majapahit, selanjutnya secara langsung
dijadikan sebagai daerah kekuasaan Banjarmasin, yang ketika itu rajanya
bernama

Pangeran

Samudra.

Hal

merupakan sebuah kerajaan besar

ini

ini

terjadi

karena

Banjarmasin

yang membawahi Kutai, yang kala itu

masih merupakan kerajaan Hindu. Dalam kenyataannya Kesultanan Kutai


berkembang sendiri dan kekuasaan Kesultanan Banjarmasin atas dirinya tak
lebnih dari dari sebuah pengakuan sepihak saja dari Banjarmasin.
Pada abad ke-17 agama Islam diterima dengan baik oleh Kerajaan
Kutai Kartanegara. Selanjutnya banyak nama-nama Islami yang akhirnya

digunakan pada nama-nama raja dan keluarga kerajaan Kutai Kartanegara.


Sebutan raja pun diganti dengan sebutan Sultan. Sultan yang pertama kali
menggunakan nama Islam adalah Sultan Aji Muhammad Idris (1735-1778).
Sultan Aji Muhammad Idris yang merupakan menantu dari Sultan Wajo
Lamaddukelleng berangkat ke tanah Wajo, Sulawesi Selatan untuk turut
bertempur melawan VOC bersama rakyat Bugis. Pemerintahan Kesultanan
Kutai Kartanegara untuk sementara dipegang oleh Dewan Perwalian. Pada
tahun 1739, Sultan A.M. Idris gugur di medan laga. Sepeninggal Sultan Idris,
terjadilah perebutan tahta kerajaan oleh Aji Kado. Putera mahkota kerajaan
Aji Imbut yang saat itu masih kecil kemudian dilarikan ke Wajo.

Aji Kado

kemudian meresmikan namanya sebagai Sultan Kutai Kartanegara dengan


menggunakan gelar Sultan Aji Muhammad Aliyeddin.

Setelah dewasa, Aji

Imbut sebagai putera mahkota yang syah dari Kesultanan Kutai Kartanegara
kembali ke tanah Kutai. Oleh kalangan Bugis dan kerabat istana yang setia
pada mendiang Sultan Idris, Aji Imbut dinobatkan sebagai

Sultan Kutai

Kartanegara dengan gelar Sultan Aji Muhammad Muslihuddin. Penobatan


Sultan Muslihuddin ini dilaksanakan di Mangkujenang (Samarinda Seberang).
Sejak itu dimulailah perlawanan terhadap Aji Kado.
Perlawanan berlangsung dengan siasat embargo yang ketat oleh
Mangkujenang terhadap Pemarangan. Armada bajak laut Sulu terlibat dalam
perlawanan ini dengan melakukan penyerangan dan pembajakan terhadap
Pemarangan.

Tahun 1778, Aji Kado meminta bantuan VOC namun tidak

dapat dipenuhi.

Pada tahun 1780, Aji Imbut berhasil merebut kembali

ibukota Pemarangan dan secara resmi dinobatkan sebagai sultan dengan


gelar

Sultan

Aji

Muhammad

Muslihuddin

di

istana

Kesultanan Kutai

Kartanegara.
Aji Kado dihukum mati dan dimakamkan di Pulau Jembayan. Aji Imbut
gelar Sultan Aji Muhammad Muslihuddin memindahkan ibukota Kesultanan
Kutai Kartanegara ke Tepian Pandan pada tanggal 28 September 1782.
Perpindahan ini dilakukan untuk menghilangkan pengaruh kenangan pahit

masa pemerintahan Aji Kado dan Pemarangan dianggap telah kehilangan


tuahnya. Nama Tepian Pandan kemudian diubah menjadi Tangga Arung yang
berarti Rumah Raja,

lama-kelamaan Tangga Arung lebih populer dengan

sebutan Tenggarong dan tetap bertahan hingga kini.


Di sisi lain, pada saat yang bersamaan, Belanda juga tengah berusaha
untuk memperluas wilayah kekuasaan di Kalimantan, hingga memicu
peperangan dengan para penguasa local setempat seperti Kesultanan
Banjarmasin. Dalam peperangan ini, kesultanan Banjarmasin kalah dan
Belanda berhasil menguasai bagian selatan Kalimantan. Dari Banjarmasin,
Belanda melhat bahwa kedudukan Kesultanan Kutai amatlah penting, apalagi
di

bagian

utara

Kalimantan

pengaruh

dan

kekuasaan

Inggris

mulai

berkembang dan pihak belanda tidak menginginkannya. Alhasil, untuk


menyelsaikan sengketa wilayah perbatasan kekuasaan antara Inggris dan
Belanda, diadakanlah Traktat London pada tahun 1824. Pelaksanaan
perjanjian ini tidak berjalan sebagaimana diharapkan oleh kedua belah pihak
tersebut.
Setahun setelah perjanjian tersebut ditandatangani
belanda

dan wakil-wakil

dab Inggris masih sibuk membicarakan pelaksanaan perjanjian

tersebut di Eropa, Belanda berhasil mengadakan suatu pembicaraan dengan


Kesultanan Kutai dengan hasil gemilang, baik dimata Inggris maupun di mata
Belanda. Keputusan yang dihasilkan dalam pembicaraan tersebut adalah
seperti tertuang di dalam perjanjian tahun 1825. Melalui perjanjian ini,
Kesultanan Kutai memasuki suatu periode baru yang berpengaruh besar
terhadap perkembangan sejarahnya sendiri. Periode baru yang dimasuki
Kesultanan Kurtai merupakan periode penelitian sejarah dalam buku ini,
yang

memusatkan

pembahasannya

pada

perkembangan

politik

dan

ekonomoi Kesultanan Kutai di bawah pengaruh Belanda dari tahun 18251910.


Perkembangan politik dan Ekonomi Kesultanan Kutai dari tahun tahun
1825-1910, maka periode tersebut dibagi dalam tiga fase.

Fase pertama, tahun 1925-1846, ditandai oleh penetrasi kekuasaan


Pemerintah Hindia Belanda atas kesultanan Kutai. Dalam fase ini, diantara
Kesultanan

Kutai dan Pemerintah Hindia Belanda terjadi kontak. Yang

dimulai dengan penandatanganan perjanjian tahun 1825. Dalam pasal-pasal


pertama perjanjian disebutkan bahwa Sultan Kutai mengikuti Kerajaan Hindia
Belanda sebagai penguasa tertinggi atas wilayah kesultanan dan bahwa
wilayah kesultanan diberikan kepadanya sebagai suatu wilayah pinjaman
dari

Belanda.

Pada

waktu

itu,

penandatanganan

perjanjian

tersebtu

dilakukan antara Sultan Salehudin, sebagai sultan Kutai, dan George Muller,
sebagai wakil pemerintah Hindia Belanda. Situasi Kesultanan tidak berubah
pasca perjanjian tersebut, Sulatan Kutai tetap berkuasa secara politik dan
ekonomi di Kutai walaupun secara hukum dikuasai oleh Belanda. Hal itu
dikarenakan Belanda sendiri sibuk menghadapi perlawanan yang terjadi di
pulau Jawa.
Pada tahun 1845, Sultan Salehuddin meninggal dunia. Ditahun itu pula
perlawan sudah mulai mereda di pulau Jawa. Kondisi tersebut mengingatkan
kembali pemerintah Belanda pada perjanjian 1825 dan tampaknya daya ikat
perjanjian tersebut perlu dibicarakan agar dapat diwariskan oleh pengganti
Sultan Salehuddin.

Kondisi internal yang carut marut sepeninggal Sultan

Salehuddin membuat Belanda lebih leluasa mencapkan kekuasaannya di


Kesultanan. Kesulatanan pascar wafatnya sultan diperintah oleh dewan
perwalian sebab Sultan penerus masih anak-anak belum cakap untuk
memerintah Kesultanan. Kondisi tersebut dimanfaatkan Belanda dengan
membuat perjanjian baru untuk menguatkan perjanjian lama pada tahun
1844. Perbedaaan dengan perjanjian lama adalah banyaknya pasal. Pada
perjanjian baru pasal lebih banyak dari pernjanjian lama. Lahirnya perjanjian
ini disebabkan Pada tahun 1844, 2 buah kapal dagang pimpinan James
Erskine Murray asal Inggris memasuki perairan Tenggarong. Murray yang
datang ke Kutai untuk berdagang itu meminta tanah untuk mendirikan pos
dagang serta hak eksklusif menjalankan kapal uap di perairan Mahakam.

Namun Sultan A.M. Salehuddin hanya mengizinkan Murray untuk berdagang


di wilayah Samarinda saja. Murray kurang puas dengan tawaran Sultan ini.
Setelah beberapa hari di perairan Tenggarong, Murray melepaskan tembakan
meriam

ke arah istana dan dibalas oleh pasukan kerajaan Kutai.

Pertempuran pun tak dapat dihindari. Armada pimpinan Murray akhirnya


kalah dan melarikan diri menuju laut lepas. Lima orang terluka dan tiga
orang tewas dari pihak armada Murray, dan Murray sendiri termasuk
diantara yang tewas tersebut. Insiden pertempuran di Tenggarong ini sampai
ke pihak Inggris. Sebenarnya Inggris hendak melakukan serangan balasan
terhadap Kutai, namun ditanggapi oleh pihak Belanda bahwa Kutai adalah
salah

satu

bagian

dari

wilayah

Hindia

Belanda

dan

Belanda

akan

menyelesaikan permasalahan tersebut dengan caranya sendiri. Orang-orang


kutai rupanya juga takut akan pembalasan Inggris walau pun sebenarnya
serangan itu tidak dilakukan. Karena ketakutan itu mereka menerima
tawaran pihak Hindia-Belanda untuk bersedia mengadakan perjanjian baru.
Keberuntungan Belanda sungguh dating tak diduga-duga sebab sesaat
menjelang akhir fase pertama ini Sultan Salehudin meninggal dunia.
Selanjutnya, masuk fase kedua, yang dimulai dari tahun 1846-1880.
Fase ini ditandai dengan adanya perubahan politik dan ekonomi secara
besar-besaran dalam kesultanan kutai, baik secara territorial mau pun
administrative. Ekpedisi mulai dikirimkan ke daerah pedalaman pada tahun
1846 untuk menentukan batas kawasan yang menjadi hak pemerintah
Hindia-Belanda. usaha dapat dilihat sebagai kelanjutan penetrasi terhadap
Kesultanan Kutai. Dalam fase pertama pemerintah Hindia Belanda hanya
menginjakkan kakinya di sekitar Samarinda dan Tenggarong yang cukup
nyaman, dalam fase kedua tampaknya Belanda mulai berani memasuki
daerah pedalaman Kalimantan yang banyak dihuni oleh pengayau pengayau
Dayak
Penempatan seorang H von Dewall pada 24 April 1846 di Tenggarong
mempunyai tujuan yang sama. Dia ditugaskan oleh Gubernur Jenderal untuk

mengadakan pendekatan dengan raja-raja pribumi dan apabila mungkin


sekaligus untuk mengadakan perjanjian atau kontrak politik. Perjalanan
diplomatik pun dilakukan Ha Von

Dewall sampai dengan tahun 1850.

Rupanya penetrasi politik dalam Kesultanan Kutai kurang begitu meyakinkan


di mata pemerintah Hindia Belanda. Alhasil,
Letnan dikirim keresidenan Zuiden

dalam tahun 1849 seorang

Oost Borneo untuk mengadakan

diplomasi politik. Surat tugas ini dituangkan dalam suatu keputusan rahasia,
Geheim Besluit tanggal 25 Agustus 1849
Pada

tahun

1850

pemerintah

Hindia

Belanda

rupanya

tak

menghendaki adanya perubahan politik dalam Kesultanan Kutai agar


stabilitas politik dapat dipertahankan.

Atas dasar inilah maka pemerintah

Hindia Belanda mengadakan perjanjian baru tersebut,

yakni perjanjian

tahun 1850 yang ditandatangani oleh ketiga Wali Kesultanan Kutai dan
residen JGA Gallois pada 19 Oktober 1850. Tampaknya, antisipasi atau pun
prediksi Belanda ini benar. Sebab pada tahun 1857 terjadilah perselisihan
perbatasan antara Kesultanan Kutai dan kesultanan Berau. Dalam masalah
ini Pemerintah Hindia Belanda tidak tinggal diam sehingga ikut mengatasi
persoalan perbatasan itu
Ketika Sultan Sulaiman Adil Khalifatul Mukminin telah menginjak
dewasa, sistem pemerintahan perwalian dihapuskan pada 11 September
1862. Kedudukannya sebagai Sultan kemudian dikuatkan oleh Gubernur
Jenderal. Tanpa menunggu lebih lama, setahun kemudian tepatnya pada 17
Juni 1864 diadakanlah Perjanjian
Menjelang akhir fase pertama ditemukan batubara oleh GP King di
wilayah

Kesultanan

Kutai.

Penemuan

ini

memberikan

harapan

bagi

pemerintah Hindia Belanda untuk dapat berbicara dalam pemasaran


batubara di Eropa. Pada tahun 1853 King mengajukan permohonan
penggalian

batubara

di

pelarang

dekat

Samarinda,

Namun

karena

berkebangsaan Inggris ia tidak dapat memperoleh izin tersebut menyusul


adanya Besluit 24 Oktober 1850 dari pemerintah Hindia Belanda yang tidak

mengizinkan penggalian di tanah yang mengandung bahan tambang bagi


orang yang tidak berkewarganegaraan Belanda.
Pertambangan di Pelarang kemudian dikelola oleh pemerintah Hindia
Belanda, dengan direktur pertama JH manten. Pada tahun 1862. di satu sisi
kegiatan

pertambangan

ini

mendorong

bertambahnya

kesibukan

di

pelabuhan Samarinda dan masuknya pekerja pekerja pertambangan yang


didatangkan juga dari Jawa. Sementara, di sisi lain kegiatan pertambangan
batubara itu menghadapkan Penguasa Kesultanan Kutai pada teknologi
pertambangan baru yang sebelumnya tidak dikenal di kutai. Bersamaan
dengan masuknya teknologi baru itu juga masuk sistem perdagangan dan
pemasaran Internasional ke Kutai. Tampaknya tidak hanya penguasa
Kesultanan

pribumi

yang

belum

siap

menghadapi

perubahan

yang

ditimbulkan oleh pertambangan batubara melainkan juga penguasa Belanda


sendiri.

Dalam perkembangannya ternyata pertambangan batubara di

Pelarang tidak menghasilkan keuntungan yang diharapkan oleh pemerintah


Hindia Belanda. Sehingga pertambangan itu pun lalu diserahkan kepada
Kesultanan Kutai pada tahun 1872. Keadaan pertambangan batubara yang
tidak begitu menguntungkan menandai peralihan fase kedua ke fase ketiga
Fase ketiga dimulai dari tahun 1880 sampai 1910 ciri utama Fase ini
adalah adanya Konsensi tanah yang diberikan kepada investor-investor
Eropa untuk mengeksploitasi batubara dan minyak bumi

di wilayah

Kesultanan Kutai. Fase ini ditandai oleh makin kuatnya penguasaan politik
dan ekonomi pemerintah Hindia Belanda atas Kesultanan Kutai.
Secara ketatanegaraan, pada permulaan abad ke-20, tepatnya tahun 1902,
Kesultanan Kutai kembali diikat dengan suatu perjanjian atau kontrak politik
oleh pemerintah Hindia Belanda. Perubahan penting dalam perjanjian 1902
ini adalah pengaturan keluar masuknya orang-orang asing Eropa dan timur
jauh di wilayah karesidenan Zuid-en Oosterafdelink Van Borneo. Untuk
meningkatkan pendapatan daerah, maka

dalam perjanjian ini diatur

pengalihan hak pemungutan pajak dari Sultan Kutai kepada pemerintah

Hindia Belanda. Sejalan dengan ini, diserahkan pula penguasaan pelabuhanpelabuhan Kesultanan Kutai kepada pemerintah Hindia Belanda
Dalam bidang ekonomi, fase ketiga ini ditandai oleh pertambangan
batubara di wilayah Kesultanan Kutai dan penemuan tambang minyak bumi
dan pengolahan hasil tambang tersebut di Balikpapan. Penemuan terakhir ini
membuat Kutai menjadi suatu daerah yang memegang peran penting dalam
perekonomian pemerintah Hindia Belanda sebagai penghasil minyak bumi
terbesar. Kenyataan ini menghadapkan baik Kesultanan Kutai maupun
pemerintah Hindia Belanda kepada masuknya teknologi baru di suatu daerah
yang sebelumnya tidak mengenal teknologi tersebut
Sultan
keuntungan

Kutai

dan

ekonomis

para

pembesar

berdasarkan

Kesultanan

kedudukannya

dapat

sebagai

memetik
perantara-

perantara. Untuk menduduki posisi perantara ini, maka kemerdekaan politik


perlu

dipertimbangkan.

Dari

segi

ini,

dapatlah

dikatakan,

bahwa

kemampuan ekonomi para penguasa Kesultanan Kutai memang meningkat


dengan masuknya teknologi pertambangan batubara dan minyak bumi serta
perluasan perdagangan internasional.
Di

bidang

kehidupan

perubahan-perubahan

yang

kemasyarakatan,
besar.

Kutai

heteregonitas

juga

mengalami

masyarakat

dengan

berbagai latar belakang budaya tidak dapat dihindarkan. Maka, untuk


menjamin keteraturan sosial dan keamanan, diatur lah keanekaragaman itu
seperti halnya mengatur suatu Negara. Hal ini membutuhkan suatu sistem
pemerintahan yang lain daripada Apa yang biasa dialami penduduk
Kesultanan Kutai
Singkatnya Kesultanan Kutai, didasarkan pada kewibawaan dan
otoritas Sultan ditelan dalam sistem pemerintahan pemerintah Hindia
Belanda yang menggunakan peraturan dan perjanjian formal dengan jenjang
wewenang yang berbeda. Tak ada pilihan lain bagi Kesultanan Kutai, kecuali

menerima dan berusaha melakukan penyesuaian diri dengan dengan


tuntutan sistem pemerintah Hindia Belanda.
Akhirnya Jika diperhatikan diarahkan ke masa silam Kesultanan Kutai,
sesuatu

hal

tiba-tiba

sebelumnya, yakni

mengejutkan

bahwa

hanya

dan

tak

pernah

dalam waktu tiga

terbayangkan

perempat

abad

Kesultanan Kutai telah melakukan penandatanganan 5 perjanjian atau


kontrak politik. Bagaimana, perkembangan kesultanan di bawah pengaruh
kekuasaan pemerintah Hindia Belanda memang memperlihatkan dua sisi
yaitu sisi ekonomi dan Sisi politik