You are on page 1of 209

2014

KEPUTUSAN BADAN PEMERIKSA KEUANGAN
NOMOR … / K / I-XIII.2 / … / 2014

PEDOMAN MANAJEMEN
PEMERIKSAAN

BADAN PEMERIKSA KEUANGAN
REPUBLIK INDONESIA
2014

KEPUTUSAN BADAN PEMERIKSA KEUANGAN
REPUBLIK INDONESIA
NOMOR: … / K / I-XIII.2 / … / 2014
TENTANG
PEDOMAN MANAJEMEN PEMERIKSAAN
BADAN PEMERIKSA KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA

Menimbang

:

a.

bahwa

dalam

Peraturan
Tahun

rangka

memenuhi

ketentuan

Badan Pemeriksa Keuangan Nomor 1

2007

Pemeriksaan

tentang
Keuangan

penggunaan Standar
Negara

(SPKN),

Badan

Pemeriksa Keuangan perlu memiliki suatu Pedoman
Manajemen Pemeriksaan (PMP) yang dapat digunakan
sebagai

acuan

bagi

para

pemeriksa

dalam

melaksanakan tugas pemeriksaan;
b.

bahwa PMP yang telah ditetapkan berdasarkan Surat
Keputusan Badan Pemeriksa Keuangan Nomor 1/K/IXIII.2/2/2008

dianggap

tidak

sesuai

lagi

dengan

perkembangan organisasi dan Peraturan PerundangUndangan yang berlaku saat ini, dan oleh sebab itu
dipandang perlu menyempurnakan dan menetapkan
Pedoman

Manajemen

perkembangan saat ini.

Pemeriksaan

yang

sesuai

Mengingat

: 1. Peraturan
Tahun

Badan

Pemeriksa

Keuangan

Nomor

1

2007 tentang Standar Pemeriksaan Keuangan

Negara (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun
2007 Nomor 42, Tambahan Lembaran Negara Republik
Indonesia Tahun 2007 Nomor 4707);
2. Keputusan

Badan

Pemeriksa

Keuangan

Republik

Indonesia Nomor 09/K/I-XIII.2/7/2008 tentang Petunjuk
Pelaksanaan

Tata

Penyempurnaan

Cara

Pedoman

Penyusunan

Pemeriksaan

atau

dan

Non

Pemeriksaan;
3. Surat Keputusan Ketua Badan Pemeriksa Keuangan
Nomor

15/SK/K/1981

Penandatanganan

tentang

Surat-Surat

Pengaturan

Keputusan

Dalam

Lingkungan Badan Pemeriksa Keuangan;
4. Surat Keputusan Badan Pemeriksa Keuangan Nomor
31/SK/I- VIII.3/8/2006 tanggal 31 Agustus 2006 tentang
Tata Cara Pembentukan
Naskah

Dinas

Peraturan,

Keputusan,

dan

Pada Badan Pemeriksa Keuangan

Republik Indonesia;
5. Keputusan Badan Pemeriksa Keuangan Nomor 39/K/IVIII.3/7/2007 tanggal 13 Juli 2007 tentang Organisasi dan
Tata Kerja Pelaksana Badan Pemeriksa Keuangan
Republik Indonesia;

Manajemen Republik . maka Surat Keputusan Badan Pemeriksa Keuangan Nomor tanggal 19 Februari 2008 tentang Pemeriksaan Badan Pemeriksa 1/K/I-XIII. PERTAMA : Menetapkan dan memberlakukan Pedoman Manajemen Pemeriksaan (PMP) dengan sistematika sebagai berikut: KEDUA BAB I : PENDAHULUAN BAB II : PERENCANAAN PEMERIKSAAN BAB III : PELAKSANAAN PEMERIKSAAN BAB IV : PELAPORAN PEMERIKSAAN BAB V : SUPLEMEN PMP BAB VI : PENUTUP : Pedoman Manajemen Pemeriksaan (PMP) adalah sebagaimana tercantum dalam lampiran dan merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari Keputusan ini. KEEMPAT : Dengan berlakunya Keputusan ini.MEMUTUSKAN Menetapkan : KEPUTUSAN BADAN PEMERIKSA KEUANGAN TENTANG PEDOMAN MANAJEMEN PEMERIKSAAN.2/2/2008 Panduan Keuangan Indonesia. dicabut dan dinyatakan tidak berlaku. KETIGA : Perbaikan dan penjelasan lebih lanjut atas substansi PMP akan diatur oleh Kepala Direktorat Utama Revbang setelah mendapat pertimbangan dari para Auditama Keuangan Negara (AKN). KELIMA : Keputusan ini berlaku sejak tanggal ditetapkan.

Hasan Bisri Hadi Poernomo Tambahan Keputusan ini disampaikan kepada: 1. KETUA. Para anggota 2. Para Pejabat Eselon I sampai dengan IV.Ditetapkan di : Jakarta Pada tanggal : 2014 BADAN PEMERIKSA KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA WAKIL KETUA. .

Hubungan PMP dengan PMPP KON SE P F. Lingkup PMP D.Pedoman Manajemen Pemeriksaan Daftar Isi DAFTAR ISI Halaman DAFTAR ISI DAFTAR TABEL DAFTAR GAMBAR BAB I PENDAHULUAN A. Pihak-pihak Pemeriksaan Terkait dalam Perencanaan C. Kedudukan PMP E. Latar Belakang B. Organisasi Pemeriksaan H. Sistem Manajemen Mutu (SMM) i . Sistematika PMP BAB II PERENCANAAN PEMERIKSAAN A. Lingkup B. Perbedaan dengan PMP 2008 J. Tujuan PMP C. Mekanisme Perencanaan Pemeriksaan D. Siklus Pemeriksaan I. Sistem Pengendalian Mutu dan Penjaminan Mutu G.

Mekanisme Pelaksanaan Pemeriksaan D. Lingkup B. Pemeriksaan Interim B. Mekanisme Pelaporan Pemeriksaan D. Lingkup B. Ikhtisar Hasil Pemeriksaan Semester (IHPS) E. Sistem Manajemen MKON SE P utu (SMM) BAB V SUPLEMEN PMP A.BAB III PELAKSANAAN PEMERIKSAAN A. Pihak-pihak Pemeriksaan Terkait dalam Pelaksanaan C. Pihak-pihak Pemeriksaan Terkait dalam Pelaporan C. Pendapat dan Konsultasi Hukum BAB VI PENUTUP GLOSARIUM PMP ii . Tindak Lanjut Hasil Pemeriksaan F. Sistem Manajemen Mutu BAB IV PELAPORAN PEMERIKSAAN A. Pemeriksaan Tematik C. Pemeriksaan On Call D. Penggunaan Tenaga Ahli F. Pemanfaatan KAP yang Bekerja Untuk Dan Atas Nama BPK E.

Perbedaan PMP 2008 dan PMP Revisi Halaman 2.1.1.1.3. SMM Pelaksanaan Pemeriksaan 4.1.2. SMM Perencanaan Pemeriksaan Tematik 5. SMM Pelaksanaan Pemeriksaan 5.1.Pedoman Manajemen Pemeriksaan Daftar Tabel DAFTAR TABEL 1. SMM Perencanaan Pemeriksaan 3. SMM Pelaksanaan Pemeriksaan Tematik 5. SMM Pelaksanaan Pemeriksaan Tematik KON SE P iii .

Pedoman Manajemen Pemeriksaan Daftar Gambar DAFTAR GAMBAR 1. Bagan alur Perencanaan Pemeriksaan 3. Kedudukan PMP dalam Organisasi BPK Halaman 1. Bagan alur Pelaksanaan Pemeriksaan 4.2.1. Keterkaitan PMP dan PMPP 2. Bagan alur Pelaporan Pemeriksaan KON SE P Direktorat Litbang Badan Pemeriksa Keuangan iv .1.1.1.

mutu pelaksanaan pemeriksaan. Latar Belakang 01 BPK sebagai lembaga pemeriksa yang bebas dan mandiri memiliki peranan dan kedudukan yang strategis dalam mengawal pengelolaan dan tanggung jawab keuangan Perkembangan dan perubahan peraturan perundangundangan negara. Pelaksanaan SPKN akan dapat mendukung peningkatan mutu pengelolaan dan tanggung jawab keuangan negara serta pengambilan keputusan Penyelenggara. dan persyaratan laporan pemeriksaan yang profesional. SPKN tersebut merupakan pengganti Standar Audit Pemerintahan ditetapkan BPK tahun 2005. Direktorat Litbang Badan Pemeriksa Keuangan 11 . Peranan dan kedudukan tersebut merupakan suatu mandat yang diamanatkan dalam UUD 1945 yang diperkuat dengan Undang-Undang (UU) Nomor 15 Tahun 2004 tentang Pemeriksaan Pengelolaan dan Tanggung Jawab Keuangan Negara dan UU Nomor 15 Tahun 2006 tentang Badan Pemeriksa Keuangan. 02 Salah satu pelaksanaan UU Nomor 15 Tahun 2004 dan Nomor 15 Tahun 2006. (SAP) yang SPKN memuat persyaratan profesional pemeriksa. BadanKON SE P Pemeriksa Keuangan SPKN sebagai panduan Republik Indonesia (BPK) telah menetapkan Standar Pemeriksaan Keuangan Negara (SPKN) dalam Peraturan BPK Nomor 1 Tahun 2007.Pedoman Manajemen Pemeriksaan Bab I BAB I PENDAHULUAN A.

Pedoman Manajemen Pemeriksaan Bab I Direktorat Litbang Badan Pemeriksa Keuangan 12 .

Pedoman Manajemen Pemeriksaan Bab I Direktorat Litbang Badan Pemeriksa Keuangan 13 .

BPK telah menetapkan Panduan Manajemen Pemeriksaan (PMP) Direktorat Litbang Badan Pemeriksa Keuangan 14 . BPK memerlukan suatu manajemen pemeriksaan yang PMP 2008 perlu disempurnakan mendukung efektivitas pelaksanaan SPKN.Pedoman Manajemen Pemeriksaan Bab I 03 Untuk melaksanakan pemeriksaan sesuai dengan SPKN.

06 PMP bertujuan pemeriksaan BPK untuk telah memastikan dirancang. pelaksanaan pemeriksaan. kualitas PMP meningkatkan kualitas pengelolaan dan hasil pemeriksaan . aspek keselarasan KON SE P dengan bisnis proses BPK lainnya. 04 Dengan makin berkembangnya internal dan eksternal. dan pelaporan pemeriksaan. Tujuan PMP 05 PMP ini digunakan sebagai pelaksananya dalam acuan bagi menjalankan BPK dan pemeriksaan pengelolaan dan tanggung jawab keuangan negara yang PMP sebagai pedoman pengelolaan pemeriksaan meliputi tahap perencanaan pemeriksaan. pengelolaan diorganisasikan.Tahun 2008 yang mengacu pada SPKN tahun 2007 serta peraturan perundang-undangan pada ditetapkannya. dilaksanakan dan dikendalikan secara efektif pada setiap tahapan pemeriksaan dalam menghasilkan pemeriksaan yang sesuai dengan standar. B. serta aspek kesesuaian dengan kaidah praktik internasional. pemeriksa PMP berkembang dalam pemeriksaan yang melaksanakan saat itu. Sejak menjadi rujukan setiap kegiatan memastikan bahwa prinsip-prinsip standar pemeriksaan dapat dijalankan secara efektif. Setidaknya ada empat alasan yang mendorong perlunya penyempurnaan PMP. yaitu aspek pemenuhan kewenangan BPK. dinamika lingkungan BPK memandang perlu untuk Alasan penyempurnaan PMP melakukan penyempurnaan atas kedudukan dan substansi PMP 2008 dalam mendukung proses pemeriksaan yang lebih efektif. aspek pelembagaan pengendalian mutu (Quality Control) dan pemerolehan keyakinan mutu (Quality Assurance).

PMPP Manajemen Penunjang merupakan pengaturan pengelolaan pemeriksaan yang tidak selalu terkait langsung dengan proses pemeriksaan yang menghasilkan LHP. PMPP diperlukan untuk memberikan nilai tambah terhadap pemeriksaan atau mengatur pengelolaan proses yang terkait dengan kewenangan BPK lain. pelaksanaan. PMPP tersebut Perbedaan PMP 2014 dengan PMP 2008 . serta Pendapat dan Konsultasi Hukum dalam Tahapan Pemeriksaan. Pemeriksaan On Call. 1. yang dilengkapi dengan sistem manajemen mutu (QMS) dan dokumentasi dalam setiap tahapannya. Perencanaan Pemeriksaan 2. Pelaporan Pemeriksaan 4. Prosedur tersebut dimulai dari perencanaan.C. Suplemen PMP yang mengatur mengenai Pemeriksaan Interim/Pendahuluan. bentuk laporan yang dihasilkan. Proses penunjang pemeriksaan diatur dalam suatu pedoman terpisah yang disebut dengan Pemeriksaan Pedoman (PMPP). Pelaksanaan Pemeriksaan 3. Pemanfaatan KAP Yang Bekerja KON SE P Untuk Dan Atas Nama BPK. Lingkup bahasan PMP secara rinci adalah sebagai berikut. Lingkup PMP 07 PMP berisi prosedur pengelolaan pemeriksaan yang Lingkup PMP disertai dengan formulir. 08 Perbedaan lingkup PMP 2014 dengan PMP 2008 terletak pada pemisahan proses utama pemeriksaan dengan proses penunjang pemeriksaan. Pemeriksaan Tematik. Penggunaan Tenaga Ahli. dan pelaporan pemeriksaan. catatan.

Penyusunan Pendapat BPK. 2.mencakup: 1. Keterkaitan PMP dengan mandat. 5. PMP dan peraturan perundangundangan . peraturan perundangundangan. Pertimbangan BPK. Kedudukan PMP 09 PMP sebagai pedoman pengelolaan pemeriksaan disusun KON SE P sebagai bentuk operasionalisasi dari prinsip-prinsip SPKN dengan memperhatikan mandat. dan pedoman pemeriksaan lain yang ditetapkan BPK dapat dilihat sebagai berikut. D. 3. Pengelolaan Kerugian Negara/Daerah. 4. Pemantauan Laporan Hasil Pemeriksaan dengan Unsur Pidana. 6. PMP digunakan dalam kerangka organisasi BPK sebagai acuan penyusunan petunjuk pelaksanaan dan petunjuk teknis pemeriksaan. Pemantauan Tindak Lanjut Hasil Pemeriksaan. peraturan BPK. dan praktik terbaik. dan Evaluasi BPK terhadap hasil pemeriksaan yang dilakukan oleh KAP berdasarkan ketentuan perundangundangan. standar internasional. Perencanaan Strategis Pemeriksaan. Evaluasi Pemeriksaan (ex post).

Hasil pemeriksaan dapat dijadikan dasar penyusunan Pendapat BPK dan Pertimbangan BPK. Itama. Dalam pelaksanaannya. Pelaporan hasil pemeriksaan dapat dikaitkan dengan pengaturan pemantauan laporan hasil pemeriksaan dengan unsur pidana dan tindak lanjut hasil pemeriksaan. dan Tim Peer Review. Proses pemeriksaan dapat menjadi objek evaluasi pemeriksaan yang dilakukan oleh Direktorat EPP.Piramida kedudukan PMP dalam organisasi BPK Gambar 1. proses . dan pelaporan) dapat menjadi menjadi masukan atau memberikan keluaran bagi pengaturan dasar PMPP. Selain itu. Hubungan PMP dengan PMPP 10 Pengaturan dalam PMP tidak dKOaN SE P dipisahkan pat dengan pengaturan yang terdapat dalam pemeriks aan dapat PMPP. PMP (mulai dari tahap juga perencanaan. pelaksanaan.1 Kedudukan PMP dalam Organisasi BPK SPKM Kode Etik SPK N PMP PMPP Petunjuk Pelaksanaan Pedoman Non Pemeriksaan Prosedur Petunjuk Teknis Operasional Standar / Instruksi Kerja E. untuk Perencanaan pemeriksaan dalam PMP dapat dihubungkan pengelola dengan an Perencanaan Strategis Pemeriksaan.

Keterkaitan antara PMP dan PMPP .

Keterkaitan antara PMP dengan PMPP . pelembagaan SPKM yang terdiri dari unsur pengendalian mutu (quality control) dan penjaminan Perbedaan PMP Revisi dengan PMP 2008 . SMM baru dikembangkan dan diterapkan setelah PMP 2008 diterbitkan.Pelaporan KON SE P F. Pada PMP Revisi.kerugian negara dan daerah serta pengaturan evaluasi pemeriksaan oleh KAP berdasarkan Undang-Undang. 11 Keterkaitan antara PMP dengan PMPP dapat dilihat pada gambar berikut. Sistem Pengendalian dan Penjaminan Mutu 12 PMP 2008 belum menerapkan secara lengkap dan sistematis mengenai sistem manajemen mutu (SMM).Perencanaan . yaitu dengan dikeluarkannya Sistem Pemerolehan Keyakinan Mutu (SPKM) pada tahun 2009.Pelaksanaan .

Pengendalian mutu akan menjamin bahwa seluruh tahapan audit dilaksanakan tepat waktu.mutu (quality assurance) menjadi bagian yang tidak terpisahkan dalam proses pemeriksaan. Pengendali Mutu bertanggungjawab melaksanakan pengendalian atas tahapan pemeriksaan yang memastikan telah sesuai Tanggung jawab PFP . Ketua Tim bertanggungjawab melaksanakan pengendalian secara intensif kepada Anggota Tim berdasarkan Program Kerja Perorangan (PKP) sesuai dengan format yang telah ditetapkan. 13 PFP secara berjenjang bertanggung jawab melaksanakan pengendalian mutu mulai Ketua Tim. secara komprehensif. terdokumentasi secara memadai. Pengendalian mutu dilakukan dengan tujuan memastikan bahwa pemeriksaan telah dilakukan dengan mematuhi standar profesi serta ketentuan hukum dan peraturan yang berlaku dan laporan hasil pemeriksaan yang diterbitkan telah sesuai dengan kondisinya. dilaksanakan dan direviu oleh pemeriksa yang kompeten dan berdasarkan pada professional judgment yang baik. Proses tersebut dilakukan secara hot review oleh tim pemeriksaan yang bersangkutan atau dilakukan oleh tim lain secara cross review. Pengendali Teknis bertanggungjawab melaksanakan pengendalian teknis atas tim pemeriksa berdasarkan dengan Program Pemeriksaan yang telah ditetapkan sesuai format yang telah ditetapkan. Pengendali Teknis dan Pengendali Mutu pada saat tahap pemeriksaan KON SE P sebelum laporan pemeriksaan diterbitkan (ex ante) yang memastikan pemeriksaan telah sesuai dengan standar pemeriksaan dan ketentuan yang berlaku.

Pejabat Struktural ungsional Pemeriksaan Pemeriksaan (PSP) dan Pejabat KON SEFP (PFP). 14 Pejabat Struktural Pemeriksaan (PSP) secara berjenjang bertanggung jawab melaksanakan penjaminan mutu yang Tanggung jawab PSP melibatkan PSP pada saat tahap pemeriksaan sebelum laporan pemeriksaan diterbitkan (ex ante) yang memastikan pengendalian mutu telah dilaksanakan oleh PFP secara berjenjang telah sesuai dengan standar pemeriksaan dan ketentuan yang berlaku. 17 Pejabat Struktural Pemeriksaan (PSP) adalah pejabat pelaksana unit pemeriksa yang memperoleh kuasa dari PTP untuk mengelola sumber daya pemeriksaan dan menjamin mutu pemeriksaan sesuai dengan lingkup wilayah kerja pemeriksaannya. Proses tersebut dilakukan menjadi dasar PTP menandatangani Surat Keluar pada setiap Laporan Hasil Pemeriksaan BPK. PSP pada kantor pusat Pejabat Struktural Pemeriksaan . Wakil Ketua. Organisasi Pemeriksaan 15 Untuk menyelenggarakan pengelolaan pemeriksaan. G. diperlukan pengaturan organisasi pemeriksaan yang terdiri Organisasi pemeriksaan dari Pemberi Tugas Pemeriksaan (PTP). serta menyerahkan laporan hasil pemeriksaan dan surat keluar kepada lembaga perwakilan dan entitas yang diperiksa.dengan SPKN sesuai dengan format yang telah ditetapkan. 16 Pemberi Tugas Pemeriksaan (PTP) adalah Badan yang terdiri dari Ketua. dan Anggota atau pejabat Badan selaku pemberi tugas yang diberikan penugasan secara tertulis oleh Badan yang bertanggung jawab memberikan arah dan penugasan pemeriksaan kepada PSP dan PFP.

dan Anggota Tim. komprehensif dan tepat waktu. Kepala Auditorat dan Kepala Sub Auditorat. Ketua Tim. Pedoman Manajemen Pemeriksaan (PMP) dan Standar M). memantau Pengendali Teknis dan mengevaluasi teknis kegiatan pemeriksaan sesuai lingkup tugas dan program pemeriksaan yang telah ditetapkan. Ketua Tim . 21 Ketua tim merupakan mengorganisasi. pemeriksaan pemimpin mengarahkan lapangan serta pemeriksaan dan yang mengawasi memastikan hasil pemeriksaan yang akurat. Pengendali teknis bertanggung jawab kepada pengendali mutu. PSP pada kantor perwakilan secara berjenjang dijabat Kepala Perwakilan dan Kepala Sub Auditorat. guna memastikan kegiatan pemeriksaan berjalan dengan efektif dan efisien. 19 Pengendali Mutu berperan menyetujui dan Pengendali Mutu menandatangani Laporan Hasil Pemeriksaan (LHP) dan menjamin mutu pelaksanaan pemeriksaan agar sesuai dengan Standar Pemeriksaan Keuangan Negara (SPKN). PFP terdiri dari Pengendali Mutu.secara berjenjang dijabat oleh Auditor Utama Keuangan Negara (Tortama). 18 Pejabat Fungsional Pemeriksaan (PFP) adalah pelaksana fungsional pemeriksaan yang memperoleh penugasan dari Pejabat Fungsional Pemeriksaan PTP yang bertanggung jawab melaksanakan kegiatan fungsi pemeriksaan. Ketua Tim bertanggung jawab kepada pengendali teknis. dengan mengacu kepada sistem. standar. Pengendali Teknis. dan peraturan perundangan yang berlaku. prosedur. Pemerolehan Keyakinan Mutu (SP K KON S EP 20 Pengendali Teknis berperan mengendalikan.

23 Penanggung Jawab pemeriksaan yang tercantum dalam surat tugas adalah PFP yang berperan sebagai Pengendali Penanggung jawab Mutu atau PSP yang ditunjuk. dan 3. dan pelaporan. 24 Pihak yang terkait dengan organisasi pemeriksaan dapat mencakup pemeriksa di luar BPK yang Bekerja Untuk dan Pihak yang terkait dengan organisasi pemeriksaan Atas Nama BPK dan Pejabat Struktural di luar pemeriksaan yang terkait langsung dalam proses pemeriksaan mulai dari perencanaan. KON SE P H.22 Anggota tim bertindak sebagai pelaksana pemeriksaan Anggota tim sesuai dengan tugas yang diberikan oleh ketua tim untuk memperoleh hasil pemeriksaan yang akurat. Perbedaan dengan PMP 2008 . 1. Perencanaan Pemeriksaan. Siklus pemeriksaan adalah sebagai berikut. I. Siklus Pemeriksaan 25 Siklus pemeriksaan merupakan serangkaian kegiatan pemeriksaan dari suatu tahap ke tahap lainnya dalam suatu Siklus pemeriksaan pemeriksaan. PSP dapat bertindak sebagai pejabat pelaksana fungsional pemeriksaan setelah mempertimbangkan ketersediaan PFP yang setingkat dan memiliki kompetensi yang dipersyaratkan untuk melaksanakan peran sebagai pejabat fungsional. pelaksanaan. Pelaporan Pemeriksaan. Pelaksanaaan Pemeriksaan. Perbedaan dengan PMP 2008 26 Beberapa perbedaan pokok antara PMP Tahun 2008 dan PMP yang disempurnakan ini dapat dilihat pada tabel berikut. 2.

Tindak Lanjut 6. Penyusunan Pendapat BPK. Pemantauan Tindak Lanjut Hasil Pemeriksaan. jangka waktu hanya untuk yang signifikan. 2. Substansi/ Memuat bagan alur. 4. Perencanaan 3. Pelaksanaan 4. 2. 5. Pelaporan dalam PMPP yang berisi : 1. Tahapan proses yang PMP memuat tahap: pelaksanaan dan pelaporan pemeriksaan 1. . Evaluasi 3. sedangkan tahap lainnya dimasukkan 2. 3. RKP dimuat dalam PMP PMP terdiri dari tahap perencanaan. Pemantauan Laporan Hasil Pemeriksaan dengan Unsur Pidana. Pertimbangan BPK. 6. Evaluasi Pemeriksaan (ex-post). Perbedaan 1. pengerjaan Menghilangkan bagan alur. dan Evaluasi BPK terhadap hasil pemeriksaan yang dilakukan oleh KAP berdasarkan ketentuan perundang-undangan. Perencanaan Strategis Pemeriksaan.No. KON SE P 5. PMP 2008 PMP Revisi Kedudukan Kedudukan PMP Kedudukan PMP disesuaikan dengan PMP hanya dilihat dalam standar internasional konteks internal BPK. Pengelolaan Kerugian Negara/Daerah. Mengadopsi praktik terbaik dan standar materi jangka waktu internasional.

Perbedaan 4. lainnya Sudah selaras dengan peraturan terkini. Pemeriksaan On Pendahuluan dan Call. Tematik. Keselarasan Belum selaras dengan dengan peraturan peraturan terkini. Pemeriksaan On Call. Pemanfaatan KAP yang bekerja untuk Pemeriksaan dan atas nama BPK. Penyajian Pemeriksaan Pemeriksaan Tematik. Dokumentasi Belum dijelaskan Memperjelas unsur dokumentasi yang secara sistematis diperlukan dalam tiap tahap. serta Pendapat dan Konsultasi Hukum Pemeriksaan dikelompokkan dalam suplemen PMP. Penggunaan Tenaga Interim. . KON SE P pada setiap tahap. Pemanfaatan Tenaga Ahli. peraturan JFA. serta Pendapat dan Konsultasi Hukum melekat pada setiap tahapan PMP.No. 8. PMP 2008 PMP Revisi Sistematika Penjelasan atas Pemeriksaan Interim/Pendahuluan. 5. Sistem Belum dijelaskan Memperjelas konsep pengendalian mutu manajemen secara rinci untuk dan penjaminan mutu. 7. dan sistem mutu masing-masing pemerolehan keyakinan mutu serta serta peran pada setiap peran masing-masing pemeriksa dalam tiap tahap. tahapan. 6. Ahli. Peran tim Peran tim Terdapat pemisahan peran yang jelas pemeriksa pemeriksa masih antara pejabat strukturan dengan pejabat mengacu pada fungsional pemeriksa.

Bab II Perencanaan PemeriksaKaON SE P berisi uraian antara lain mengenai n mekanisme perencanaan pemeriksaan mulai dari pembentukan tim pemeriksaan sampai dengan pengurusan administrasi pemeriksaan. Sistem Manajemen Mutu (SMM) dan dokumentasi dalam kegiatan perencanaan pemeriksaan. perbedaan dengan PMP 2008. Bab IV Pelaporan Pemeriksaan berisi uraian antara lain mengenai mekaknisme pelaporan pemeriksaan mulai dari penyusunan Konsep LHP sampai dengan . Bab III Pelaksanaan Pemeriksaan berisi uraian antara lain mengenai mekanisme pelaksanaan pemeriksaan mulai dari komunikasi awal sampai dengan pengakhiran pemeriksaan pemeriksaan di lapangan. kedudukan PMP. lingkup PMP. J. organisasi pemeriksaan. Sistematika PMP 1. siklus pemeriksaan. 4. maksud dan tujuan. Perbedaan 9. Sistematika PMP 27 Sistematika PMP adalah sebagai berikut.No. keterkaitan PMP dengan PMPP. SMM dan dokumentasi dalam pelaksanaan pemeriksaan. Tujuan PMP 2008 PMP Revisi Sebagai panduan Selain sebagai pedoman pemeriksaan. 3. dan PMP juga meningkatkan kualitas menyeragamkan pengelolaan dan hasil pemeriksaan. Bab I Pendahuluan berisi uraian umum mengenai latar belakang. 2. pengelolaan pemeriksaan. dan sistematika PMP.

Pendapat dan Konsultasi Hukum dalam Tahapan Pemeriksaan. Bab V Suplemen PMP berisi uraian mengenai Pemeriksaan Interim/Pendahuluan. 5. KON SE P . Bab VI Penutup berisi uraian yang memuat harapan PMP sebagai dokumen yang dinamis dan senantiasa diperbaharui sesuai perkembangan yang ada.penerbitan dan penyerahan LHP. Atas serta Nama BPK. 6. SMM dan dokumentasi dalam pelaporan pemeriksaan. Pemeriksaan Tematik. Pemeriksaan On Call. Pemanfaatan KAP Yang Bekerja Untuk Dan Penggunaan Tenaga Ahli.

efektif. KON SE P 03 Output yang dihasilkan dari proses perencanaan Output Kegiatan pemeriksaan adalah program pemeriksaan dan Surat Tugas. PSP dan PTP sesuai dengan tanggung jawab Pelaksana Kegiatan dan kewenangannya masing-masing. Persiapan teknis mencakup pembentukan Tim Perencanaan Pemeriksaan (TPP). dan sesuai dengan standar pemeriksaan yang ditetapkan oleh BPK. Perencanaan pemeriksaan diperlukan agar pemeriksaan dapat dilaksanakan secara efisien. Lingkup 01 Perencanaan pemeriksaan merupakan awal dari proses pemeriksaan setelah mempertimbangkan rencana strategis Deskripsi Perencanaan Pemeriksaan pemeriksaan sebagai dasar penentuan tujuan. dan sumber daya yang diperlukan dalam proses pemeriksaan. lingkup. dan pengurusan akomodasi serta transportasi ke lokasi dan selama pemeriksaan. dan penyusunan Program Kerja Perorangan (PKP). penentuan tim pemeriksa. persetujuan penugasan. penyusunan paket program pemeriksaan. pencairan biaya pemeriksaan. 02 Proses perencanaan pemeriksaan disiapkan oleh PFP. Lingkup Perencanaan Pemeriksaan . Sedangkan persiapan dukungan pemeriksaan meliputi penerbitan Surat Perintah Perjalanan Dinas (SPPD). 04 Perencanaan pemeriksaan meliputi persiapan yang bersifat teknis dan dukungan pemeriksaan.Pedoman Manajemen Pemeriksaan Bab II Perencanaan BAB II PERENCANAAN PEMERIKSAAN A. pemahaman objek pemeriksaan.

2. 3. pemeriksaan mereviu dan dengan menyetujui program memperhatikan petunjuk pelaksanaan dan petunjuk teknis pemeriksaan terkait dan RKP. Mereviu usulan susunan tim pemeriksa terkait dengan independensi dan persyaratan kompetensi termasuk tenaga ahli untuk membantu kegiatan pemeriksaan. 4. Memastikan ketersediaan sumber daya pemeriksaan. 06 PTP memiliki peran menandatangani Harapan Penugasan Peran PTP dan Surat Tugas Pemeriksaan. Menyusun usulan tim pemeriksa. 2. Menyelenggarakan data profil PFP dan tenaga ahli. KON SE P 08 PFP memiliki peran: Peran PFP 1. database akomodasi dan . PSP.B. Mengidentifikasi kebutuhan tenaga ahli. PFP. Memastikan kesesuaian program pemeriksaan dengan harapan penugasan. Memastikan penyusunan program pemeriksaan oleh PFP telah dilakukan sesuai prosedur. Pihak-pihak Terkait 05 Perencanaan pemeriksaan melibatkan PTP. dan Pihak-pihak Terkait Unit Kerja Manajemen Pemeriksaan. 07 PSP memiliki peran: Peran PSP 1. Menyusun. 2. 3. Menyelenggarakan transportasi. 09 Unit kerja manajemen pemeriksaan memiliki peran: Peran Unit Kerja Manjemen Pemeriksaan 1.

Mekanisme Perencanaan Pemeriksaan 1. C. persyaratan kompetensi serta kebenaran data lainnya terkait dengan tugas-tugas pemeriksaan. awal Sesuai dalam dengan perencanaan rencana Pembentukan Tim Perencanaan Pemeriksaan strategis pemeriksaan. 2. Memutakhirkan data profil PFP terkait independensi. Menyelenggarakan persiapan administrasi pemeriksaan. Pembentukan Tim Perencanaan Pemeriksaan (TPP) 11 Pembentukan Tim Perencanaan Pemeriksaan (TPP) merupakan langkah pemeriksaan. PSP menetapkan TPP secara KON SE P berjenjang dengan mendapatkan pertimbangan dari PFP. Penyusunan Paket Program Pemeriksaan 14 Paket program pemeriksaan terdiri dari program pemeriksaan dan surat tugas. 13 Penugasan TPP dituangkan dalam bentuk Surat Perintah Perencanaan Pemeriksaan (SP3) atau Surat Penyampaian Konsep SP3/Surat Tugas Tugas oleh Tortama/Kalan. 10 Biro Teknologi Informasi bertanggung jawab menyiapkan infrastruktur serta sistem informasi yang dipergunakan Peran Biro Teknologi Informasi dalam proses perencanaan pemeriksaan. 12 Komposisi TPP terdiri dari PFP dengan mempertimbangkan pengalaman dan kompetensi yang Komposisi Tim Perencanaan Pemeriksaan relevan dengan entitas yang akan diperiksa. Tahapan penyusunan paket program pemeriksaan adalah sebagai berikut. Paket Program Pemeriksaan . arahan Badan dan data PFP. RKP.3. Pembentukan TPP segera setelah penetapan RKP. 4.

perkembangan entitas yang dapat mempengaruhi pemeriksaan seperti organisasi dan peraturan perundangan yang berlaku bagi pengelolaan keuangan lingkungan entitas yang akan diperiksa. Pemahaman Objek Pemeriksaan 15 Untuk memperoleh pemahaman objek pemeriksaan. Dalam pemahaman objek pemeriksaan. Sedangkan field audit merupakan kegiatan perencanaan pemeriksaan melalui pekerjaan lapangan secara aktif (dua arah) dengan mendatangi objek pemeriksaan. PSP menerbitkan SP3 sebagai dasar pelaksanaan desk audit dan PTP menerbitkan Surat Tugas sebagai dasar pelaksanaan field audit dalam perencanaan pemeriksaan. Desk audit dalam tahap perencanaan merupakan kegiatan pemahaman objek pemeriksaan secara pasif (satu arah) menggunakan dokumen yang telah dimiliki sebelumnya.a. Bentuk field audit pada saat perencanaan diantaranya berupa pemeriksaan interim keuangan. sistem pengendalian intern (SPI). Pemahaman Objek PFP dapat melaksanakan perencanaan pemeriksaan dengan desk audit atau field audit. TPP perlu memahami entitas yang akan diperiksa terutama menyangkut bisnis entitas. pemeriksaan dalam pemeriksaan laporanKON SE P pendahuluan dalam pemeriksaan kinerja dan pemeriksaan investigatif (PDTT). risiko entitas. tindak lanjut hasil pemeriksaan dan/atau hasil pengawasan intern sebelumnya. negara di Pemeriksaan . hasil pemeriksaan sebelumnya.

pemeriksaan pemeriksaan (PDTT). b.Pemahaman objek pemeriksaan akan menjadi bahan untuk menyusun konsep program pemeriksaan. luas. Database Entitas Pemeriksaan database profil risiko (DEP) entitas. 17 Laporan Hasil Perencanaan Pemeriksaan sesuai dengan jenis pemeriksaannya dilaporkan kepada PSP secara berjenjang oleh PFP. seperti pada pemeriksaan in KON SE terim dalam P pemeriksaan keuangan. PFP menyusun konsep program pemeriksaan dengan memperhatikan sifat. dan komunikasi dengan pemeriksa sebelumnya. TPP harus menyimpulkan kompleksitas pemeriksaan yang akan dijadikan sebagai dasar dalam menentukan komposisi tim pemeriksa. pemeriksaan pendahuluan dalam pemeriksaan pendahuluan kinerja dalam terkait. dan jenis pemeriksaan yang akan dirancang dalam Penyusunan program pemeriksaan oleh Tim Perencanaan Pemeriksaan . Penyusunan Program Pemeriksaan 18 Setelah menghasilkan laporan hasil perencanaan pemeriksaan. Dari pemahaman entitas. 16 TPP dapat meminta kepada Ditama Binbangkum dan/atau instansi terkait lainnya mengenai informasi terbaru tentang peraturan yang terkait pengelolaan Peran Ditama Binbangkum dalam Perencanaan Pemeriksaan keuangan negara. diatur lebih lanjut lunak atau investigasi dalam perangkat Informasi mengenai entitas dapat juga diperoleh secara elektronik dari Pusat Data BPK. termasuk Kertas Kerja Pemeriksaan (KKP) sebelumnya. Dalam hal Laporan Hasil Perencanaan Pemeriksaan jenis pemeriksaannya memerlukan laporan tersendiri yang menjadi bagian tidak terpisahkan dalam pemeriksaan.

20 Pengendali Mutu menyetujui konsep program pemeriksaan paling lambat tiga hari kerja setelah penyampaian konsep program pemeriksaan dari TPP dan menyampaikan program pemeriksaan kepada Lama Persetujuan . Sedangkan PSP mengevaluasi Rencana Alokasi termasuk alokasi Sumber Daya Manusia (SDM) dan biaya pemeriksaan. antara lain. hasil pemahaman Sistem Pengendalian Intern pemeriksaan. petunjuk pemeriksaan. Proses penyusunan program pemeriksaan dilaksanakan oleh PFP secara berjenjang sesuai dengan tanggung jawabnya. entitas yang diperiksa. kerangka Laporan Hasil Pemeriksaan (LHP). antara lain. 19 Pengendali Mutu mengevaluasi kesesuaian program pemeriksaan dengan RKP dan mengevaluasi materi Penyusunan program pemeriksaan konsep program pemeriksaan yang meliputi. metodologi pemeriksaan. sasaran alasan petunjuk pemeriksaan. standar pemeriksaan. kriteria yang pemeriksaan. tujuan. jangka waktu pemeriksaan. waktu penyampaian. lingkup pemeriksaan. dan distribusi LHP. tujuan pemeriksaan. dasar hukum pemeriksaan. Program pemeriksaan sekurang-kurangnya meliputi unsur. susunan dan biaya pemeriksaan. waktu penyampaian. digunakan. sasaran.tahapan pelaksanaan pemeriksaan dengan memperhatikan harapan penugasan atau harapan hasil pemeriksaan dari PTP. pemeriksaan. metodologi (SPI). dan persetujuan program serta KON SE P distribusi LHP pemeriksaan.

persyaratan kompetensi. keahlian khusus yang diperlukan. Penentuan Tim Pemeriksa 22 Tortama/Kalan menetapkan perencanaan kebutuhan Perencanaan Kebutuhan pemeriksa setiap tahun disertai peran dan alokasi Pemeriksa Tahunan waktu pemeriksaan termasuk alokasi waktu untuk pengembangan kompetensi bagi pemeriksa yang Dalam merencanakan disampaikan oleh PSP. independensi pemeriksa. ketersediaan PFP. serta kesempatan untuk pelatihan. dan data lainnya yang dibutuhkan sebagai bahan pertimbangan PSP dalam mengusulkan PFP yang akan ditugaskan dalam pemeriksaan. Perencanaan kebutuhan pemeriksa tahunan tersebut menjadi acuan dalam menyusun komposisi pemeriksaan. waktu pelaksanaan pemeriksaan. KON SE P kebutuhan pemeriksa perlu dipertimbangkan ukuran (jumlah satuan kerja dan anggaran) dan kompleksitas (entitas baru. rotasi PFP secara berkelanjutan dan periodik. resiko tinggi penugasan). 21 Unit kerja manajemen pemeriksaan pada tiap unit Tugas Unit Kerja Manajemen organisasi pemeriksa menyelenggarakan administrasi Pemeriksaan terkait data Profil data profil pemeriksa yang berkenaan dengan Pemeriksa independensi.PSP secara berjenjang dengan tembusan kepada PTP. tim pemeriksa di setiap . c.

.

PSP menentukan komposisi tim pemeriksa dengan mempertimbangkan masukan PFP. Penentuan komposisi tim pemeriksa dituangkan Penentuan Komposisi Tim Pemeriksa .23 Berdasarkan perencanaan kebutuhan pemeriksa tahunan tersebut.

Surat suatu tugas paket ditembuskan program Paket Program Pemeriksaan kepada pimpinan entitas dan intern BPK yang terkait. perubahan kebijakan Badan. Persetujuan penugasan teKONrSE P dilakukan dengan menandatangani tugas setelah PTP menyetujui penugasan sebut surat mempertimbangkan program pemeriksaan. diantaranya latar belakang pendidikan dan pengalaman. Paket program pemeriksaan diunggah oleh unit kerja manajemen pemeriksaan ke dalam sistem aplikasi pemeriksaan.dalam bentuk konsep surat tugas. 24 PFP memberikan pertimbangan mengenai kompetensi kolektif terkait dengan entitas yang diperiksa kepada PSP dalam menentukan Kompetensi Tim Pemeriksa tim pemeriksa. Persetujuan Penugasan 25 Proses persetujuan penugasan dilakukan secara berjenjang oleh PSP untuk disetujui oleh PTP. 26 Program pemeriksaan dan surat tugas yang telah disetujui merupakan pemeriksaan. Penyusunan surat tugas dan administrasinya dilakukan oleh unit manajemen pemeriksa. PFP yang terlibat dalam TPP mendapat prioritas untuk ditugaskan dalam pemeriksaan dimaksud. d. dan hasil evaluasi kinerja pemeriksa dalam penugasan sebelumnya. independensi. 27 Penugasan dapat dibatalkan oleh PTP berdasarkan pertimbangan independensi. atau keadaan kahar (force majeur) dan pertimbangan lain yang membuat pemeriksaan tidak Pembatalan Penugasan .

PFP yang . gga 2) berhenti sebagai pegawai negeri sipil BPK.dapat dilaksanakan secara memadai. 3) sakit yang berdasarkan keterangan dokter bahwa PFP tersebut tidak dapat menjalankan tugas pemeriksaan. Apabi la ada gang guan indep ende nsi. 28 Persetujuan penugasan oleh PTP paling lambat lima Lama Persetujuan hari kerja setelah program pemeriksaan disetujui dan/atau konsep surat dari Tortama diterima. PFP tidak dapat menj alank 4) terganggunya independensi PFP terhadap entitas KON SE P an tugas peme riksa an secar a objek tif. 29 PFP yang telah tercantum dalam surat tugas yang yang telah disetujui PTP. PFP hanya dapat ksa melepaskan diri dari penugasan disebabkan oleh : sehin 1) meninggal dunia. tidak dapat melepaskan diri dari diperi penugasan pemeriksaan tersebut.

bersangkutan menyampaikan alasan secara tertulis kepada Tortama/Kalan melalui usulan berjenjang mulai dari PFP satu tingkat di atasnya. PTP dari atasan disampaikan melalui dapat membatalkan penugasan kepada PFP tersebut. Unit Kerja Manajemen mengadministrasikan tersebut. Pemeriksaan keputusan kemudian pembatalan Pelepasan Penugasan . Keputusan pembatalan penugasan disampaikan kepada yang bersangkutan melalui Tortama/Kalan terkait. Berdasarkan pertimbangan langsungnya yang Tortama/Kalan.

Apabila terdapat konsekuensi pembatalan keuangan tersebut. Penyelenggaran administrasi pemeriksaan ini. meliputi: 32 a) Penerbitan Surat Perintah Perjalanan Dinas (SPPD) dan Administrasi Keuangan Berdasarkan tembusan surat tugas dan jadwal pemeriksaan. Persetujuan PKP KON SE P oleh ketua tim paling lambat dua hari kerja setelah paket program pemeriksaan disetujui. atas PFP mempertanggungjawabkannya kepada Biro Keuangan atau Subbag Keuangan. Para anggota tim pemeriksa kemudian menyusun konsep Program Kerja Perorangan (PKP) yang merupakan penjabaran dari Program Pemeriksaan dan mengajukannya kepada ketua tim untuk direviu. Unit Kerja Manajemen Pemeriksaan menyiapkan konsep Surat Perintah Perjalanan Dinas (SPPD) untuk masing-masing PFP yang berisi. 3. Pengurusan Dukungan Pemeriksaan 31 Pelaksanaan teknis pemeriksaan tidak akan berhasil dengan baik tanpa dukungan penyelenggaraan Pengurusan Administratif Pemeriksaan administrasi pemeriksaan. 4. ketua tim pemeriksa menyetujui konsep PKP. Penerbitan SPPD dan Administrasi Keuangan . ketua tim melakukan pembagian tugas kepada masing-masing anggota tim atas langkah pemeriksaan yang terdapat dalam program pemeriksaan. Penyusunan Program Kerja Perorangan 30 Berdasarkan paket program pemeriksaan yang telah Penyusunan PKP disetujui. Setelah memperhatikan arahan pengendali teknis. antara lain.

SPPD ditandatangani oleh Tortama atau Kalan. Unit Kerja Manajemen Pemeriksaan mengurus pencairan biaya pemeriksaan dan mendistribusikan ke masingmasing PFP. Pengurusan Akomodasi dan Transportasi . Apabila PFP merancang sendiri teknis perjalanan dan akomodasi. 33 b) Pengurusan Akomodasi dan Transportasi Untuk kemudahan pelaksanaan tugas. dan pejabat lainnya paling lambat dua hari kerja setelah paket program pemeriksaan disetujui. ketua tim pemeriksa menyampaikan kepada Unit Kerja Manajemen Pemeriksaan mengenai tempat penginapan. nomor dan tanggal surat tugas dan tanggal keberangkatan tim PFP yang bersangkutan.antara lain. Berdasarkan tembusan surat tugas dan SPPD. Unit Kerja Manajemen database Pemeriksaan akomodasi menyelenggarakan dan transportasi sebagai sumber informasi dalam merancang akomodasi dan transportasi yang dibutuhk KON SE P an selama pemeriksaan. dua hari kerja setelah PFP berada di lapangan. Dalam hal akomodasi dan transportasi tidak memungkinkan untuk dibantu pengurusannya oleh Unit Kerja Manajemen Pemeriksaan maka PFP dapat merancang sendiri teknis perjalanan dan akomodasi sesuai kondisi di lapangan. termasuk informasi tarifnya.

Uraian Kegiatan No. KON SE P c. Program b.D. d. dan kode etik. harapan dan lingkup pemeriksaan. Objek SMM 1 Pihak Tanggung Jawab Terkait Pembentukan PSP Mereviu dan menetapkan TPP TPP dengan pertimbangan Dokumen SMM Lembar Reviu dari PFP 2 Penyusunan Pengendali a. Mereviu ketepatan metodologi pemeriksaan. . Mengevaluasi apakah program pemeriksaan telah dapat memenuhi tujuan. Pengendali a. Menyetujui substansi konsep Pemeriksaan program pemeriksaan yang disampaikan Pengendali Teknis. Mereviu kesesuaian konsep Lembar Reviu Teknis program pemeriksaan dengan juklak dan juknis terkait b. Sistem Manajemen Mutu (SMM) 34 1. Mengarahkan penyusunan Paket Mutu Lembar Reviu program pemeriksaan. PMP. Mereviu kesesuaian program pemeriksaan dengan standar.

No. Menyetujui PKP PKP Mengarahkan konsep PKP Teknis 35 Lembar disposisi 2. 3 Penentuan Pengendali Mengarahkan susunan tim Lembar Tim Mutu pemeriksa sesuai kompetensi disposisi/ Pemeriksa yang dibutuhkan PSP KON SE P Mereviu dan menyetujui risalah rapat Lembar reviu susunan tim pemeriksa. 4 Persetujuan PTP Penugasan Menyetujui usulan penugasan Paket Program yang diusulkan secara Pemeriksaan berjenjang oleh PSP 5 Penyusunan Ketua Tim PKP Pengendali a. Mengevaluasi kesesuaian program pemeriksaan dengan RKP dan Rencana Alokasi termasuk Alokasi Sumber Daya Manusia (SDM) dan biaya pemeriksaan. b. Mereviu kesesuaian proses penyusunan program Dokumen SMM Checklist atau Lembar Reviu pemeriksaan dengan PMP. Objek SMM Pihak Tanggung Jawab Terkait PSP a. Mereviu konsep PKP Lembar reviu b. Alur Dokumentasi Alur dokumentasi menggambarkan dokumen yang dihasilkan/dibutuhkan serta perpindahannya dalam tahap perencanaan pemeriksaan. .

Pembentukan tim perencanaan pemeriksaan Segera setelah SP3/ST penerbitan RKP Laporan Hasil Perencanaan Pemeriksaan KKP DEP 2. Penyusunan konsep P2 Konsep P2 Segera setelah penerbitan RKP Lembar Reviu 3. Penerbitan SPPD dan administrasi keuangan 9. Binbangkum/ Subbag Hukum Unit Kerja Manajemen Pemeriksaan Entitas Terperiksa Arahan Rencan a St rategis 1. Persetujuan konsep P2 4. Pemberitahuan pemeriksaaan kepada pimpinan entitas yang diperiksa P h as lapangan SPPD Dua hari kerja setelah paket program 8. Pengurusan akomodasi dan transportasi disetujui Akomodasi .Perencanaan Pemeriksaan Jangka Waktu Uraian Badan/Anggota Terkait Tortama/Kalan PFP (TPP) PSP Data Usulan RKP Dit. Penentuan tim pemeriksa Segera setelah Masukan Tiga hari setelah perbaikan dari Persetujua n penugasan Tuga s P2 Surat Tugas P2 Surat Tugas PKP Dua hari 6. Penyusunan program kerja perorangan disetujui Sistem aplikasi Pemeriksaan setelah paket program Usul Tim Pemeriksa Surat Tim Persiapan setelah P2 disetujui Masukan Lembar Reviu P2 penerbitan RKP Lima hari 5. Konsep P2 Jadwal Pemeriksaan Jadwal Pemeriksaan Surat Tiga Hari KON SE P Surat Tugas Tugas sebelum pemeriksaan 7.

03 Output yang dihasilkan dari proses pelaksanaan pemeriksaan adalah Kertas Kerja Pemeriksaan (KKP). Lingkup 01 Pelaksanaan pemeriksaan merupakan realisasi rencana pemeriksaan. 02 Proses pelaksanaan pemeriksaan dilakukan oleh PFP. Output Kegiatan . Pelaksanaan atas pemeriksaan Deskripsi Pelaksanaaan Pemeriksaan diperlukan agar pemeriksaan dapat dilaksanakan secara efisien.Pedoman Manajemen Pemeriksaan Bab III Pelaksanaan BAB III PELAKSANAAN PEMERIKSAAN A. efektif. KON SE P temuan pemeriksaan dan Laporan Akhir Pelaksanaan Pemeriksaan Lapangan (LAPPL). dan sesuai dengan standar pemeriksaan yang ditetapkan oleh BPK. dan PTP sesuai dengan tanggung jawab dan kewenangannya masing-masing. Pelaksana Kegiatan PSP.

Pedoman Manajemen Pemeriksaan Bab III Pelaksanaan .

Pedoman Manajemen Pemeriksaan Bab III Pelaksanaan .

Pedoman Manajemen Pemeriksaan Bab III Pelaksanaan .

Pedoman Manajemen Pemeriksaan Bab III Pelaksanaan .

Pedoman Manajemen Pemeriksaan Bab III Pelaksanaan .

Pedoman Manajemen Pemeriksaan Bab III Pelaksanaan .

Pedoman Manajemen Pemeriksaan Bab III Pelaksanaan .

Pedoman Manajemen Pemeriksaan Bab III Pelaksanaan .

Pedoman Manajemen Pemeriksaan Bab III Pelaksanaan .

Pedoman Manajemen Pemeriksaan Bab III Pelaksanaan .

Pedoman Manajemen Pemeriksaan Bab III Pelaksanaan .

Pedoman Manajemen Pemeriksaan Bab III Pelaksanaan .

Pedoman Manajemen Pemeriksaan Bab III Pelaksanaan .

Pedoman Manajemen Pemeriksaan Bab III Pelaksanaan .

Pedoman Manajemen Pemeriksaan Bab III Pelaksanaan .

Pedoman Manajemen Pemeriksaan Bab III Pelaksanaan .

Pedoman Manajemen Pemeriksaan Bab III Pelaksanaan .

Pedoman Manajemen Pemeriksaan Bab III Pelaksanaan .

Pedoman Manajemen Pemeriksaan Bab III Pelaksanaan .

Pedoman Manajemen Pemeriksaan Bab III Pelaksanaan .

Pedoman Manajemen Pemeriksaan Bab III Pelaksanaan .

Pedoman Manajemen Pemeriksaan Bab III Pelaksanaan .

Pedoman Manajemen Pemeriksaan Bab III Pelaksanaan .

Pedoman Manajemen Pemeriksaan Bab III Pelaksanaan .

Pedoman Manajemen Pemeriksaan Bab III Pelaksanaan .

Pedoman Manajemen Pemeriksaan Bab III Pelaksanaan .

Pedoman Manajemen Pemeriksaan Bab III Pelaksanaan .

Pedoman Manajemen Pemeriksaan Bab III Pelaksanaan .

Pedoman Manajemen Pemeriksaan Bab III Pelaksanaan .

Pedoman Manajemen
Pemeriksaan
Bab III Pelaksanaan

Pedoman Manajemen
Pemeriksaan
Bab III Pelaksanaan

Pedoman Manajemen
Pemeriksaan
Bab III Pelaksanaan

Pedoman Manajemen
Pemeriksaan
Bab III Pelaksanaan

Pedoman Manajemen Pemeriksaan Bab III Pelaksanaan .

Pedoman Manajemen Pemeriksaan Bab III Pelaksanaan .

Pedoman Manajemen Pemeriksaan Bab III Pelaksanaan .

Pedoman Manajemen Pemeriksaan Bab III Pelaksanaan .

Pedoman Manajemen Pemeriksaan Bab III Pelaksanaan .

Pedoman Manajemen Pemeriksaan Bab III Pelaksanaan .

Pedoman Manajemen Pemeriksaan Bab III Pelaksanaan .

Pedoman Manajemen Pemeriksaan Bab III Pelaksanaan .

Pedoman Manajemen Pemeriksaan Bab III Pelaksanaan .

Pedoman Manajemen Pemeriksaan Bab III Pelaksanaan .

Pedoman Manajemen Pemeriksaan Bab III Pelaksanaan .

Pedoman Manajemen Pemeriksaan Bab III Pelaksanaan .

Pedoman Manajemen Pemeriksaan Bab III Pelaksanaan .

Kegiatan pengakhiran pemeriksaan antara lain. Sedangkan kegiatan pengakhiran pemeriksaan adalah kegiatan setelah tim kembali dari lapangan. Kegiatan pemeriksaan adalah kegiatan yang dilaksanakan ketika tim pemeriksa berada di lapangan. melaporkan hasil pemeriksaan di lapangan dan mempertanggungjawabkan administrasi pemeriksaan. Kegiatan pemeriksaan dimulai dari komunikasi awal dan diakhiri dengan komunikasi akhir dengan pejabat entitas yang diperiksa. Lingkup Pelaksanaan Pemeriksaan .Pedoman Manajemen Pemeriksaan Bab III Pelaksanaan 04 Pelaksanaan pemeriksaan dibagi ke dalam dua kegiatan. yaitu kegiatan pemeriksaan dan pengakhiran pemeriksaan.

06 PTP memiliki peran memantau jalannya pemeriksaan Peran PTP melalui sistem aplikasi pemeriksaan. 10 Pengendali Teknis memiliki peran: 1. 3. 09 Pengendali Mutu memiliki peran menjamin terpenuhinya tujuan dan lingkup pemeriksaan serta menjamin Peran Pengendali Mutu kelancaran pelaksanaan pemeriksaan. KON SE P 3. PFP. Peran PFP 08 PFP memiliki peran: 1. 2. Melaksanakan program pemeriksaan sesuai dengan standar pemeriksaan.B. PSP. 2. Pihak-pihak Terkait Ditama Binbangkum/Subbag Hukum dan Unit Kerja Manajemen Pemeriksaan. Mendokumentasikan pelaksanaan program pemeriksaan dalam bentuk KKP. Menjamin terpenuhinya Peran Pengendali Teknis pelaksanaan program pemeriksaan yang tertuang dalam KKP. Pihak-pihak Terkait 05 Pelaksanaan pemeriksaan melibatkan PTP. Menjamin kesesuaian penggunaan bahasa dalam temuan pemeriksaan dengan ketentuan yang berlaku. Menyusun LAPPL. Menjamin kebenaran matematis dalam pemeriksaan untuk nilai-nilai yang material. 07 PSP memiliki peran mengevaluasi Laporan Akhir Peran PSP Pelaksanaan Pemeriksaan Lapangan. temuan .

14 Biro Teknologi Informasi bertanggungjawab menyiapkan infrastruktur serta sistem informasi yang dipergunakan dalam proses pelaksanaan pemeriksaan. 3. 12 Anggota Tim memiliki peran: 1. Peran Biro Teknologi Informasi . 2.11 Ketua Tim memiliki peran: Peran Ketua Tim 1. dan akibat sesuai dengan standar. 2. Memutakhirkan hasil pelaksanaan Peran Unit Kerja Manajemen Pemeriksaan pemeriksaan lapangan berdasarkan Laporan Akhir Pelaksanaan Pemeriksaan Lapangan ke dalam sistem aplikasi pemeriksaan. Menjamin kelengkapan dan kecukupan bukti pendukung. sebab. kriteria. Menjamin terpenuhinya unsur-unsur temuan seperti kondisi. Menjamin kebenaran matematis dan akurasi angka dalam temuan pemeriksaan. Melaksanakan Peran Anggota Tim program pemeriksaan dan mendokumentasikannya dalam KKP. Menjamin kebenaran matematis dan akurasi angka dalam KKP. Melakukan penyelesaian pertanggungjawaban administrasi keuangan Tim Pemeriksa dengan Biro Keuangan. 2. KON SE P 13 Unit kerja manajemen pemeriksaan memiliki peran antara lain: 1.

C. Surat tugas. Mekanisme pemanfaatan e-Audit mengacu kepada perangkat lunak terkait. 2. Dalam hal PFP akan memanfaatkan data-data dan informasi awal yang tersedia dalam pusat data BPK KON SE P melalui sistem e-Audit. maka Ketua Tim dapat memperoleh data dan informasi tersebut setelah surat tugas diterbitkan. Ketua Tim menyusun jadwal pemeriksaan yang memuat waktu tentatif yang dialokasikan untuk melakukan bersangkutan. entitas Ketua menyusun permintaan data/informasi awal yang Tim terkait pemeriksaan. pemeriksaan pada Apabila diperlukan. Mekanisme Pelaksanaan Pemeriksaan 1. jadwal pemeriksaan dan permintaan data/informasi awal disampaikan kepada pimpinan entitas yang diperiksa. 15 Pemberitahuan Pemeriksaan Berdasarkan paket program pemeriksaan yang telah disetujui. Pemberitahuan pemeriksaan disampaikan paling lambat tiga hari kerja sebelum PFP melaksanakan pemeriksaan lapangan. Komunikasi Awal Pemberitahuan Kepada Pimpinan Entitas yang Diperiksa .

.

.

.

.

.

.

.

serta menjelaskan komposisi tim pemeriksa yang tercantum dalam surat tugas. meliputi tujuan. lingkup. Komunikasi tersebut pertemuan awal dilaksanakan dengan pimpinan dalam entitas bentuk yang diperiksa. rencana kegiatan dan waktu pemeriksaan. Komunikasi awal setidaknya dilakukan oleh Komunikasi Awal dengan Pimpinan Entitas .16 Komunikasi awal dengan pimpinan entitas yang diperiksa bertujuan untuk menjelaskan pemeriksaan yang dilakukan. dan kebutuhan dokumen yang diperiksa.

3. 17 Pada saat pertemuan awal. 19 Apabila terdapat program pemeriksaan yang tidak dapat dilaksanakan karena pimpinan entitas menolak untuk diperiksa dokumen/keterangan atau yang tidak diminta. maka komunikasi awal setidaknya dilakukan oleh Ketua Tim dan Anggota Tim. Proses penyusunan berita acara penolakan dilaksanakan Berita Acara Penolakan . Notulen pertemuan awal tersebut ditandatangani oleh PFP dengan peran tertinggi yang menghadiri pertemuan awal tersebut. menyediakan maka PFP membuat Berita Acara Penolakan Pemeriksaan atau Penolakan Pemberian Pemeriksaan yang Keterangan/Dokumen ditandatangani oleh pimpinan entitas yang diperiksa dan Pengendali Mutu. Ketua Tim dan Anggota Tim. PFP membuat notulen yang berisi informasi tentang pertemuan awal termasuk pernyataan lisan dari pihak entitas jika Notulen Pertemuan Awal Komunikasi Awal dengan Pimpinan Entitas menolak pemeriksaan yang akan dilakukan oleh PFP. Pelaksanaan program pemeriksaan Pelaksanaan program pemeriksaan ditujukan untuk memperoleh bukti pemeriksaan yang cukup dan kompeten.Pengendali Teknis. 18 Pelaksanaan Program Pemeriksaan dan Penyusunan KKP Pelaksanaan program pemeriksaan dilakukan oleh KON SE P PFP sesuai pembagian tugas dalam PKP. Dalam hal Pengendali Teknis tidak dapat mendampingi karena alasan kedinasan lainnya. Bukti pemeriksaan merupakan dokumen pendukung yang dimuat dalam KKP.

maka Pengendali Mutu menyampaikan Surat Pernyataan Penolakan menandatangani Berita Acara Penolakan Pemeriksaan/ Pemberian Keterangan/Dokumen Pemeriksaan kepada pimpinan entitas dimaksud untuk ditandatangani. 21 Apabila pimpinan entitas yang diperiksa tidak bersedia menandatangani Surat Pernyataan Penolakan untuk Acara Penolakan menandatangani Berita KON SE P Pemeriksaan/Pemberian Keterangan/Dokumen Pemeriksaan.setelah PFP mengkomunikasikan dampak hukum dan dampak terhadap keseluruhan hasil pemeriksaan serta telah mendiskusikan berbagai langkah prosedur pemeriksaan alternatif kepada entitas yang diperiksa. Dokumentasi Penolakan Entitas . maka Pengendali Mutu menyatakan penolakan tersebut dalam kertas kerjanya. 20 Apabila pimpinan entitas yang diperiksa tidak bersedia menandatangani Berita Acara Pemeriksaan/Pemberian Penolakan Surat Pernyataan Penolakan Pemeriksaan Keterangan/Dokumen Pemeriksaan.

.

.

.

PTP melalui PSP kemudian meminta pertimbangan Ditama Binbangkum dan pejabat struktural terkait untuk diproses lebih lanjut sesuai Proses Hukum Penolakan Pemeriksaan .22 Pengendali Mutu kemudian melaporkan adanya penolakan dari entitas yang diperiksa kepada PTP melalui PSP dengan melampirkan bukti Berita Acara Penolakan Pemeriksaan/Pemberian Keterangan/Dokumen Pemeriksaan atau Surat Pernyataan Penolakan menandatangani Berita Acara Penolakan Pemeriksaan/ Keterangan/Dokumen Pemeriksaan Pemberian atau notulen pertemuan awal.

Pembatasan pemeriksa . Penyelesaian penolakan pemeriksaan di BPK Perwakilan dapat melibatkan Kepala Subbagian (Kasubbag) Hukum sebelum meminta pertimbangan kepada Ditama Binbangkum. 23 Penolakan pemeriksaan atau penolakan pemberian keterangan/dokumen oleh entitas merupakan salah satu bentuk pembatasan lingkup pemeriksaan yang dapat mempengaruhi opini atau simpulan dalam laporan hasil pemeriksaan.peraturan perundang-undangan.

.

apabila PFP tidak dapat menerapkan standar yang berlaku. Apabila persetujuan perubahan program pemeriksaan dari Pengendali Mutu belum diperoleh.24 Dalam hal beberapa langkah pada program pemeriksaan tidak dapat dilaksanakan atau ketika diperlukan penambahan karena kondisi mengusulkan pemeriksaan di atau lapangan. Perubahan Pengendali program pemeriksaan beserta alasannya harus didokumentasikan dalam KKP. Ketua Tim dapatmelaksanakan pemeriksaan sesuai dengan usulan langkah perubahan program pemeriksaan. dampak dari tidak dipatuhinya Perubahan P2 . tetapi dengan sepengetahuan Teknis. Selain itu. maka PFP perlu mendokumentasikan hal tersebut dalam kertas kerjanya beserta dengan alasan yang mendasari dan standar tersebut. modifikasi Ketua perubahan kepada p Pengendali KON Tim SE langkah dapat rogram P Mutu melalui Pengendali Teknis.

Alasan Perpanjangan Waktu . atau satu atau lebih pemeriksa tidak dapat melaksanakan pemeriksaan. atau penyusunan program pemeriksaan. pemahaman entitas. PFP mengidentifikasi kebutuhan tenaga ahli pada saat pelaksanaan pemeriksaan.25 Dalam hal. PFP dapat mengusulkan kebutuhan tersebut kepada PSP dengan Kebutuhan tenaga ahli pada saat pelaksanaan pemeriksaan disertai alasannya. Pengendali Mutu pemeriksaan mengajukan Penambahan Hari Pemeriksaan usul perpanjangan waktu dan/atau penambahan pemeriksa kepada PTP. 26 Apabila terdapat kebutuhan untuk memperpanjang waktu pemeriksaan dan/atau menambah pemeriksa. Pengajuan usulan perpanjangan waktu pemeriksaan dan jumlah pemeriksa dilakukan paling lambat lima hari kerja sebelum batas waktu pemeriksaan lapangan berakhir. Perpanjangan waktu atau penambahan pemeriksa tidak dapat diberikan karena ketidakcermatan dalam tahapan pemahaman penugasan. 27 Perpanjangan waktu dan/atau penambahan pemeriksa dapat diberikan dalam hal terdapat prosedur yang diperlukan prosedur tidak dapat dilaksanakan ataKON SEuP tambahan karena entitas tidak kooperatif atau terdapat temuan/identifikasi unsur pidana yang perlu ditelusuri lebih lanjut.

.

.

.

Segala konsekuensi penambahan biaya pemeriksaan yang terjadi karena penambahan hari pemeriksaan atau penambahan jumlah pemeriksa menjadi tanggung Wewenang Perpanjangan Waktu .28 Persetujuan akhir perpanjangan waktu dan/atau penambahan pemeriksa merupakan kewenangan PTP dengan memperhatikan biaya dan manfaat.

Unit Kerja Manajemen Pemeriksaan mengadministrasikan persetujuan perpanjangan waktu dan/atau penambahan pemeriksa serta konsekuensi biaya yang ditimbulkan. 29 KKP merupakan catatan-catatan yang diselenggarakan oleh pemeriksa tentang prosedur pemeriksaan yang ditempuh. 31 KKP disusun berdasarkan langkah pemeriksaan yang direncanakan dalam program pemeriksaan dengan mencantumkan referensi silang pada bagian yang Indeksasi KKP . Selain itu sistem eKKP harus dapat menjamin ketersediaan dan keamanan data dan informasi yang disimpan dalam bentuk elektronik tersebut. KKP dapat didokumentasikan dalam media kertas KON SE P dan/atau media elektronis (eKKP). 30 KKP disusun oleh Anggota Tim dan direviu secara Penyusunan KKP berjenjang oleh Ketua Tim. eKKP dapat menggantikan KKP hasil print out atau fotokopi dengan syarat bahwa sistem eKKP dapat mengakomodasi proses reviu KKP secara elektronik yang dilakukan berjenjang sebagai bagian dari kegiatan pengendalian mutu. informasi yang diperoleh. KKP berfungsi untuk membuktikan bahwa pemeriksa telah melaksanakan pemeriksaan sesuai dengan standar pemeriksaan dan untuk membantu pelaksanaan reviu oleh Pengendali Teknis dan/atau Pengendali Mutu.jawab PTP. dan simpulan yang dibuat sehubungan dengan penugasan pemeriksaannya. dan Pengendali Teknis pada saat pelaksanaan pemeriksaan. pengujian Kertas Kerja Pemeriksaan yang dilakukan.

32 Berdasarkan pemeriksaan final. hasil pemeriksaannya. Tata cara penyusunan dan indeksasi KKP diatur lebih lanjut pada petunjuk pelaksanaan tentang KKP. serta kesimpulannya. Sedangkan HP3 merupakan penjelasan lebih lanjut dari PKP yang merinci penjelasan atas masing-masing prosedur pemeriksaan yang dilakukan. PFP menyusun lembar sampul (coversheet) dan Hasil Pelaksanaan Prosedur Pemeriksaan (HP3). Penyusunan lembar sampul dan HP3 .saling berhubungan untuk kemudahan proses reviu oleh Pengendali Teknis atau pemahaman entitas oleh pemeriksa yang akan datang. Format coversheet dan HP3 secara lebih lanjut dijelaskan dalam perangkat lunak terkait. Coversheet dan HP3 merupakan lembar kontrol yang KON SE P digunakan oleh Pengendali Teknis untuk memastikan bahwa setiap pemeriksaan langkah-langkah telah dilaksanakan dalam serta program dilengkapi dengan bukti dan analisis yang memadai dari Ketua Tim dan Anggota Tim. Coversheet berisi deskripsi hasil pemeriksaan secara umum beserta dengan kesimpulan.

.

.

Dokumentasi prosedur pemeriksaan yang tidak dapat dilaksanakan .33 Apabila terdapat prosedur yang tidak dapat dilaksanakan oleh pemeriksa karena satu dan lain hal. Anggota Tim perlu mendokumentasikan prosedur yang tidak dilaksanakan tersebut dalam kertas kerjanya disertai dengan alasan yang mendasari. maka pemeriksa perlu mendapatkan persetujuan Ketua Tim dan Pengendali Teknis.

Penjelasan lebih lanjut atas unsur temuan pemeriksaan mengacu pada SPKN dan perangkat lunak terkait. Ketidaksesuaian kondisi dengan kriteria yang ditetapkan. kondisi. 4. Konsep temuan pemeriksaan disusun oleh Anggota Tim sesuai dengan bagian yang ditetapkan di Penyusunan Konsep Temuan Pemeriksaan oleh .34 Pengendali Teknis menyeluruh. Sedangkan prosedur reviu KKP diatur lebih lanjut dalam juklak SPKM. sebab. Ketidakpatuhan terhadap perundang-undangan. b. Kegagalan suatu program yang diperiksa. dan ketidakpatutan yang material untuk dilaporkan. akibat. 36 Temuan pemeriksaan memuat unsur diantaranya judul. Temuan pemeriksaan Pada dasarnya. 35 Penyusunan Temuan Pemeriksaan Temuan pemeriksaan merupakan temuan atau indikasi permasalahan yang diperoleh selama pemeriksaan. dan d. temuan pemeriksaan terkait dengan: a. ketentuan peraturan penyimpangan. dan komentar Unsur Temuan Pemeriksaan instansi. wajib membuat mereviu checklist KKP atas secara seluruh Reviu KKP oleh Pengendali Teknis pelaksanaan langkah-langkah program pemeriksaan dengan tata cara yang diatur pada Juklak Penyusunan KKP. c. Penyusunan temuan pemeriksaan dilakukan dengan prosedur berikut. Kelemahan sistem pengendalian intern yang KON SE P material untuk dilaporkan. 37 a. kriteria.

Konsep temuan pemeriksaan tersebut didokumentasikan sebagai KKP Anggota Tim tersebut dan didokumentasikan ke dalam sistem informasi pemeriksaan BPK. Anggota Tim . sesuai dengan peraturan perundangundangan yang terkait dengan keterbukaan informasi publik dan peraturan BPK sebagai tindak lanjut dari peraturan perundangan tersebut. Pengendali Teknis mereviu kebenaran substansi dan akurasi angka dalam temuan pemeriksaan. Selain itu. Temuan pemeriksaan yang dinilai tidak layak berdasarkan hasil reviu oleh Ketua Tim dan Pengendali Teknis tetap didokumentasikan ke dalam KKP. Penjelasan lebih lanjut atas informasi rahasia yang dikecualikan dari publik dapat dilihat pada KON SE P peraturan tentang keterbukaan informasi publik. sebab dan akibat. Pengendali Teknis mereviu temuan pemeriksaan untuk memastikan memenuhi temuan unsur-unsur pemeriksaan judul. Ketua tim mengidentifikasi temuan pemeriksaan yang memuat informasi rahasia atau mengandung unsur pidana. kondisi.dalam PKPnya dengan memperhatikan aspek kualitatif dari sebuah temuan. telah kriteria. Proses penyusunan temuan yang disiapkan oleh Anggota Tim akan direviu oleh Ketua Tim.

.

.

.

Ketua Tim menyampaikan konsep temuan pemeriksaan yang telah direviu secara berjenjang kepada pimpinan entitas yang diperiksa untuk Penyampaian temuan pemeriksaan untuk ditanggapi .38 b.

dimintakan tanggapan. Apabila pimpinan entitas
berhalangan,

pemberian

tanggapan

dapat

dikuasakan kepada bawahannya melalui surat
pelimpahan wewenang untuk menanggapi konsep
temuan pemeriksaan yang diberikan.
39

c. Setelah penyampaian temuan pemeriksaan, PFP
dapat menyelenggarakan diskusi dengan pimpinan
entitas

yang

diperiksa

sebagai

forum

untuk

menanggapi temuan pemeriksaan tersebut paling
lambat tiga hari kerja sebelum penyerahan temuan
pemeriksaan

kepada

pimpinan

entitas

yang

diperiksa. Diskusi dilaksanakan dengan tujuan
untuk mengklarifikasi permasalahan yang diungkap
dalam konsep temuan pemeriksaan.
Entitas

yang

diperiksa

dapat

menyampaikan

KON SE P

data/informasi terkait dengan permasalahan yang
diungkap dalam temuan pemeriksaan. Apabila
data/informasi

yang

disampaikan

oleh

entitas

membuktikan analisis dalam temuan pemeriksaan
salah dan hal tersebut diakui oleh PFP, maka
konsep temuan pemeriksaan dinyatakan batal.
Apabila data/informasi yang disampaikan oleh
entitas yang diperiksa tidak dapat membuktikan
kesalahan

analisis

dalam

konsep

temuan

pemeriksaan (tidak memiliki dasar yang kuat untuk
membatalkan temuan pemeriksaan), maka konsep
temuan pemeriksaan dinyatakan menjadi temuan
pemeriksaan final.

Diskusi temuan
pemeriksaan
dengan Pimpinan
Entitas

40

d. Konsep temuan pemeriksaan yang dianggap tidak
layak oleh Ketua Tim dan/atau Pengendali Teknis
dan

dinyatakan

batal

berdasarkan

Konsep Temuan
Pemeriksaan Tidak
Layak

diskusi

pembahasan dengan entitas yang diperiksa tetap
didokumentasikan dalam KKP.
41

e. Temuan pemeriksaan final yang telah memperoleh
komentar/tanggapan dari pimpinan entitas oleh

Himpunan Temuan
Pemeriksaan

Ketua Tim Pemeriksa dihimpun menjadi himpunan
temuan pemeriksaan.
42

f. Pembahasan

yang

terjadi

selama

diskusi

Risalah diskusi

didokumentasikan dalam risalah diskusi temuan
pemeriksaan. Risalah diskusi ini sekaligus sebagai
notulen pertemuan akhir apabila tidak ada diskusi
lebih lanjut.
KON SE P

43

Temuan pemeriksaan yang telah disampaikan kepada
entitas

diunggah

manajemen
Pemanfaatan

ke

dalam

pemeriksaan
sistem

sistem

oleh
informasi

informasi

Ketua

Pemanfaatan
sistem informasi
manajemen
pemeriksaan

Tim.

manajemen

pemeriksaan diatur lebih lanjut dalam pedoman terkait.
44

Dalam

hal

entitas

menindaklanjuti

temuan

pemeriksaan sebelum tim pemeriksa menyelesaikan
proses pelaporan pemeriksaan, temuan pemeriksaan

Temuan
pemeriksaan yang
ditindaklanjuti
sebelum tahap
pelaporan

tersebut tetap dimuat di dalam LHP beserta dengan
keterangan atas status penyelesaian tindak lanjutnya.
Temuan pemeriksaan dengan unsur pidana tetap akan
diproses sesuai dengan mekanisme yang berlaku.
45

Apabila terdapat indikasi kerugian negara/daerah dan
unsur pidana dalam temuan pemeriksaan, Ketua Tim

Indikasi kerugian
negara/daerah dan
unsur pidana dalam

menyampaikan kepada

Pengendali

Teknis

untuk

didiskusikan kelayakannya bersama Pengendali Mutu.

temuan
pemeriksaan

Pengendali Mutu menyampaikan kepada PSP atas
indikasi unsur pidana tersebut. Tortama/Kalan atau
Anggota terkait dapat meminta pendapat hukum
kepada Ditama Binbangkum/Subbag Hukum BPK
Perwakilan.
Pendapat hukum didokumentasikan di dalam KKP.
Mekanisme permintaan pendapat hukum atas temuan
pemeriksaan mengacu pada POS terkait.
PSP kemudian menyampaikannya kepada PTP terkait
untuk ditindaklanjuti sesuai ketentuan yang berlaku.
Temuan Pemeriksaan berindikasi unsur pidana tidak
disampaikan kepada entitas.
46

Temuan pemeriksaan memilikiKON SE P

standar

penulisan dan sampul yang disesuaikan dengan jenis
pemeriksaan yang
diatur

dilakukan.

Standar

penulisan

secara khusus dalam petunjuk pelaksanaan

dan/atau petunjuk teknis pemeriksaan yang terkait,
sedangkan sampul temuan pemeriksaan
kepada

mengacu

juklak

pelaporan.
5.

Komunikasi
Akhir
Pemeriksaan)

(Penyampaian

Temuan

Standar Penulisan

.

.

.

.

.

.

Penyampaian Temuan Pemeriksaan .47 Ketua Tim menyampaikan temuan pemeriksaan kepada pimpinan entitas yang telah dilampiri komentar (disesuaikan konsistensinya) setelah Surat Penyampaian temuan pemeriksaan ditandatangani oleh Ketua Tim dan Pimpinan entitas.

Pertanggungjawaban tersebut dilampiri dengan bukti pengeluaran untuk butir biaya yang harus dipertanggungjawabkan (komponen at cost) dan SPPD yang telah dibubuhi cap dan Pertanggungjawaban keuangan . LAPPL beserta lampirannya tersebut disimpan sebagai bagian dari KKP. disertai Penyampaian LAPPKON SE P L ini dengan laporan perkembangan mingguan. 48 Pengakhiran Tahap Pelaksanaan Pemeriksaan Pengakhiran pelaksanaan pemeriksaan yang merupakan pertanggungjawaban PFP kepada PSP Pertanggungjawaban PFP melalui penyampaian Laporan Akhir Pelaksanaan Pemeriksaan Lapangan (LAPPL).6. 50 PFP menyampaikan pertanggungjawaban biaya kepada Biro Keuangan atau Kasubbag Keuangan paling lambat tiga hari kerja setelah pemeriksaan lapangan berakhir. Setelah disampaikan secara berjenjang kepada Pengendali Mutu. Penyampaian LAPPL ini menjadi awal dari proses pelaporan. dan pertanggungjawaban keuangan. nota penyampaian temuan pemeriksaan. akomodasi selama melaksanakan dihadapi pemeriksaan. 49 LAPPL berisi informasi mengenai waktu LAPPL keberangkatan. temuan pemeriksaan. waktu kembali. penilaian kinerja tim. LAPPL disampaikan oleh Ketua Tim kepada Pengendali Mutu melalui Pengendali Teknis paling lambat dua hari kerja setelah pemeriksaan lapangan berakhir. selama dan kendala melaksanakan yang pekerjaan pemeriksaan.

disampaikan Lembar kepada penilaian Pengendali kinerja selain Mutu juga disampaikan (sebagai tembusan) kepada PSP yang membidangi entitas yang diperiksa. serta Biro SDM sebagai input bagi sistem aplikasi kepegawaian. atasan langsung anggota tim. b. Sasaran kerja. 7. dan c. dan acuan dalam memproses pengajuan pangkat bagi PFP serta KON SE P tindakan lainnya sebagaimana diatur dalam ketentuan yang berlaku.tandatangan entitas yang diperiksa. pada ketentuan Penilaian kinerja PFP . Kompetensi teknis PFP selama pelaksanaan pemeriksaan. PFP secara berjenjang membuat penilaian kinerja untuk PFP satu tingkat peran di bawahnya. Lembar penilaian kinerja bersifat rahasia dan dijadikan sebagai acuan bagi penentuan tim dalam penugasan pemeriksaan berikutnya. Penilaian kinerja tim mengacu mengenai penilaian kinerja pegawai. 51 Penilaian Kinerja PFP Berdasarkan hasil reviu KKP dan observasi terhadap PFP. Aspek yang dinilai meliputi antara lain: a. dan Pengendali Teknis. Kompetensi perilaku.

lingkup pemeriksaan. Objek SMM Pihak Tanggung Jawab Dokumen Terkait 1. Sistem Manajemen Mutu (SMM) 52 1. tujuan. Lembar Disposisi Penyusunan KKP b. 2. Mereviu usulan perpanjangan waktu Lembar Reviu . Memastikan bahwa Checklist Pelaksanaan Pemeriksaan telah dilaksanakan sesuai dengan standar yang terkait. jadwal bahwa waktu. Pengendali Memastikan permintaan Teknis dokumen awal disampaikan kepada Checklist telah entitas sebelum pertemuan awal. Uraian Kegiatan No. KON SE P Ketua Tim Memastikan isi notulen sesuai Checklist dengan pertemuan awal.D. Mengarahkan pemeriksaan melalui laporan 2 mingguan Pemeriksaan yang disampaikan oleh dan Pengendali Teknis. Checklist kebutuhan dokumen yang diperiksa dan komposisi tim pemeriksa telah dikomunikasikan pada entitas saat pertemuan awal. Pelaksanaan Pengendali Program Mutu a. c. SMM Komunikasi Pengendali Memastikan Awal Mutu harapan. PMP dan kode etik.

Mereviu usulan indikasi kerugian negara/daerah dan Lembar Reviu Lembar Reviu unsur pidana yang disampaikan Pengendali Teknis. Memastikan bahwa tujuan. Objek SMM Pihak Tanggung Jawab Terkait Dokumen SMM pemeriksaan dan/atau penambahan pemeriksa (apabila diperlukan). d. Mereviu bahwa prosedur pemeriksaan yang tidak Lembar Reviu dapat dilakukan telah didukung oleh justifikasi dan analisis yang memadai.No. Mereviu usulan perubahan P2. Mereviu usulan penggunaan tenaga ahli dalam Lembar Reviu pemeriksaan. Mereviu kecukupan prosedur. f. b. Checklist harapan dan lingkup pemeriksaan telah terpenuhi. e. c. KON SE P g. Pengendali Teknis a. Lembar Reviu . Mengarahkan pemeriksaan Lembar melalui laporan mingguan Disposisi yang disampaikan oleh Ketua Tim.

c. Mereviu usulan penggunaan tenaga ahli dalam pemeriksaan terkait kesesuaiannya dengan tujuan dan lingkup pemeriksaan. e. Ketua Tim a. Memastikan relevansi KON SE P Checklist konsep temuan pemeriksaan dengan bukti pendukung pemeriksaan. Memastikan kecukupan bukti Checklist f. Memastikan program Checklist pemeriksaan telah dilakukan sesuai juklak dan juknis terkait. e. d. Lembar Reviu PSP Mereviu usulan penggunaan Lembar tenaga ahli dengan reviu . Objek SMM Pihak Tanggung Jawab Terkait Dokumen SMM d. Mereviu keandalan bukti.No. Memastikan Ketua Tim telah Checklist melakukan reviu atas KKP. Memastikan seluruh Checklist prosedur pemeriksaan dalam program pemeriksaan telah dilaksanakan. b. Memastikan kebenaran Checklist matematis dan akurasi angka dalam KKP.

Memastikan relevansi antar Checklist unsur-unsur temuan Mutu pemeriksaan. Mereviu alasan dan analisis Lembar KON SE P atas temuan pemeriksaan Reviu yang tidak layak/batal (yang diusulkan oleh Ketua Tim dan Pengendali Teknis). 4..l. Checklist .No. SAK. b. d. SAP. Memastikan bahwa temuan pemeriksaan tidak layak/batal telah didokumentasikan dan didukung dengan alasan dan analisis yang memadai (yang diusulkan oleh Ketua Tim dan Pengendali Teknis). Penyusunan TP Pengendali a. SPKN. Objek SMM Pihak Tanggung Jawab Terkait Dokumen SMM berdasarkan resource (dana) yang tersedia. Mereviu kesesuaian temuan pemeriksaan (termasuk Lembar Reviu usulan indikasi kerugian negara/daerah dan unsur pidana yang disampaikan Pengendali Teknis) dengan standar (a. dsb). c.

Mereviu ketepatan temuan pemeriksaan yang berpotensi Lembar Reviu kerugian negara telah didukung dengan alasan yang memadai. b. Mereviu kebenaran substansi dan akurasi angka dalam Lembar Reviu temuan pemeriksaan (termasuk usulan indikasi kerugian negara/daerah dan KON SE P unsur pidana yang disampaikan ketua tim). kriteria.No. sebab dan akibat. Lembar Reviu . kondisi. Mereviu alasan dan analisis atas temuan pemeriksaan yang tidak layak/batal (yang diusulkan oleh Ketua Tim). c. Mereviu ketepatan atas identifikasi informasi rahasia Lembar Reviu yang diusulkan oleh Ketua Tim. Memastikan temuan Checklist pemeriksaan telah memenuhi unsur-unsur judul. Objek SMM Pihak Tanggung Jawab Terkait Dokumen SMM e. d. Pengendali Teknis a.

Memastikan relevansi konsep temuan pemeriksaan dengan bukti pemeriksaan. pendukung Checklist . KON SE P g. Memastikan bahwa temuan Checklist pemeriksaan tidak layak/batal telah didokumentasikan dan didukung dengan alasan dan analisis yang memadai (yang diusulkan oleh Ketua Tim). Memastikan kebenaran Checklist matematis dan akurasi angka dalam temuan pemeriksaan. f. b. Objek SMM Pihak Tanggung Jawab Terkait Dokumen SMM e. Memastikan temuan Lembar pemeriksaan yang berindikasi Reviu kerugian negara/daerah dan unsur pidana telah memenuhi kriteria berpotensi merugikan negara/daerah atau memiliki unsur pidana dan temuan telah didukung dengan bukti yang memadai.No. Mereviu ketepatan Lembar penggunaan bahasa dalam Reviu temuan pemeriksaan dengan kaidah bahasa Indonesia yang baik dan benar. Ketua Tim a.

Memastikan bahwa KKP Checklist telah dilengkapi coversheet dan coversheet dapat KON SE P ditelusuri ke KKP yang relevan. Memastikan bahwa temuan Checklist pemeriksaan telah dikomunikasikan dengan entitas (Komunikasi Akhir). Komunikasi Pengendali Akhir Teknis a. 5. Memastikan seluruh temuan Checklist telah diinput ke dalam sistem informasi. 6. Ketua Tim a. 7. Pengakhiran Pengendali Mengarahkan proses pelaporan Lembar Tahap Mutu berdasarkan LAPPL. Penyusunan Pengendali Memastikan kebenaran dan Lembar Coversheet dan Teknis ketepatan informasi yang Reviu HP3 dimuat di coversheet. Memastikan notulen sesuai Checklist dengan pembahasan temuan pemeriksaan. Memastikan bahwa setiap Checklist langkah-langkah dalam program pemeriksaan telah dilengkapi dengan HP3. Disposisi Pengendali Mereviu LAPPL. Ketua Tim b. b. Objek SMM Pihak Tanggung Jawab Terkait Dokumen SMM c. Lembar Pelaksanaan Pemeriksaan Teknis Reviu .No.

Mereviu Hasil Evaluasi pelaksanaan pemeriksaan 8. Mengevaluasi pelaksanaan pemeriksaan berdasarkan Hasil Evaluasi LAPPL b. Pengendali Memastikan bahwa Ketua Tim Teknis telah mengisi lembar penilaian kinerja Anggota Tim.No. Penilaian Pengendali Memastikan bahwa Pengendali Kinerja PFP Mutu Teknis telah mengisi lembar Lembar Reviu Checklist KON SE P penilaian kinerja Ketua Tim. Objek SMM Pihak Tanggung Jawab Terkait Ketua Tim Dokumen SMM Mereviu Kebenaran substansi Lembar LAPPL. 53 2. Alur Dokumentasi Alur dokumentasi menggambarkan dokumen yang dihasilkan/dibutuhkan serta perpindahannya dalam tahap pelaksanaan pemeriksaan. Checklist . PSP a. Reviu Kasubaud Memastikan Checklist MIA pertanggungjawaban keuangan ke Biro Keuangan/ Subbag Keuangan tepat waktu.

Finalisasi Konsep LHP Reviu Konsep LHP Konsep LHP Surat Pengantar ditandatangan i oleh Tortama/ Tanggapan Kalan Reviu Konsep LHP Reviu LHP Surat Pengantar Kuesione r Pelaksana an Pemeriksa an KON SE P rahasia dan unsur pidana Telaah Tanggapan Kuesione r Pelaksana an Pemeriksa an Konsep Konsep LHP Lemba r Penjamina n Mutu Konsep LHP Lemba r Penjamina n Mutu Reviu 5. Penyampaian Konsep LHP Perolehan Tanggapan dari Entitas yang Diperiksa Konsep LHP Hasil Pembahas an Usulan informasi rahasia dan unsur pidana Reviu Unsur TP. tujuan & lingkup pemeriksaan. Persetujuan Konsep LHP dan Surat Keluar Apabila Dilakukan Risalah Pembahas an Konsep LHP dengan Pemberi Tugas Tanda Tangan Penomoran Konsep LHP Konsep Konsep SK LHP Konsep LHP Konsep LHP Konsep LHP Konsep SK LH LH P P SK SK LH P SK 6. Penerbitan dan Penyerahan LHP Catatan: Jangka waktu penyusunan LHP disesuaikan dengan jangka waktu yang diatur di dalam P2 Konsep SK disusun oleh PSP Paraf PSP dan PFP pada Konsep SK BAST .Pelaporan Pemeriksaan Uraian Ketua Tim Anggota Tim Pengendali Teknis Pengend ali Mut u Kaau Tortama/Ka Pemberi Tugas d/Kasub aud lan Manajemen Unit Kerja Entitas yang Diperiksa Pemeriksaan Bahan 1. Pembahasaan Konsep LHP Hasil Reviu Lembar Reviu Reviu informasi Reviu Kesesuaian dengan SPKN Konsep LHP Hasil Reviu Checkli st kendali mutu Konsep LHP Surat Pengant ar Surat Pengantar disusun PSP 4. Reviu Konsep LHP 3. Penyusunan Konsep LHP LHP TP Konsep LHP Risalah Pembahas an Konsep LHP dengan PT 2.

Biro Humas dan Luar Negeri/Subbag Humas. 05 Pihak-pihak Terkait Pelaporan pemeriksaan melibatkan PTP. PTP. PFP. Ditama Binbangkum/Subbag Hukum.Pedoman Manajemen Pemeriksaan Bab IV Pelaporan BAB IV PELAPORAN PEMERIKSAAN A. PSP. 03 Output yang dihasilkan dari proses pelaporan Output Kegiatan pemeriksaan adalah LHP dan Ikhtisar Hasil Pemeriksaan KON SE P Semester (IHPS). LHP dan IHPS disampaikan kepada lembaga perwakilan Penyerahan LHP dan IHPS sebagai pemilik kepentingan utama untuk dipublikasikan secara terbuka kepada publik kecuali diatur lain dalam ketentuan. 01 Lingkup Pelaporan pemeriksaan merupakan proses penyusunan laporan berdasarkan hasil analisis atas temuan Deskripsi Pelaporan Pemeriksaan pemeriksaan yang diperoleh pada saat pelaksanaan pemeriksaan di lapangan yang menghasilkan Laporan Hasil Pemeriksaaan (LHP). Biro Umum/Subbag Umum. LHP juga disampaikan kepada entitas yang diperiksa sebagai bahan pelaksanaan tindak lanjut atas rekomendasi hasil pemeriksaan dan pihak terkait lainnya sesuai dengan ketentuan peraturan perundangan-undangan. B. 02 Proses pelaporan pemeriksaan disiapkan oleh PFP. Pihak-pihak Terkait . EPP sesuai dengan tanggung jawab dan Pelaksana Kegiatan kewenangannya masing-masing. Selain itu. dan Dit. 04 LHP digunakan sebagai bahan utama penyusunan IHPS. PSP.

3. Menyampaikan pelaporan informasi rahasia. pidana . Mereviu bahan IHPS. 09 Pengendali Mutu memiliki peran: Peran Pengendali Mutu 1. Menyampaikan bahan IHPS. 07 PSP memiliki peran: Peran PSP 1. Mereviu konsep LHP untuk menjamin kesesuaiannya dengan SPKN dengan memperhatikan ketepatan waktu penyelesaian LHP. 08 PFP memiliki peran menyusun LHP dan bahan IHPS Peran PFP sesuai tanggung jawab dan kewenangannya masingmasing. KON SE P 3. Menyusun surat keluar pemeriksaan. Melakukan pemerolehan keyakinan mutu atas hasil pemeriksaan sesuai tanggung jawab dan kewenangannya masing-masing. Badan juga memiliki peran menandatangani Surat Keluar penyampaian LHP dan IHPS sesuai ketentuan dalam Tata Kerja BPK. 2. 4. 06 Badan memiliki peran menandatangani LHP.dan Unit Kerja Manajemen Pemeriksaan. Menyusun dan menandatangani surat pengantar penyampaian konsep LHP. Peran Badan Kewenangan penanda tangan LHP dapat ditugaskan oleh Badan kepada Penanggung Jawab Pemeriksaan yang memiliki kompetensi untuk menandatangani laporan tersebut. indikasi kerugian negara/daerah dan/atau unsur kepada Anggota terkait melalui Tortama/Kalan. 2.

EPP memiliki peran menyusun IHPS. Menyusun bahan IHPS. 4. Memastikan kebenaran bahan IHPS. Mengusulkan pelaporan informasi rahasia. Menjamin validitas substansi. Menjamin terpenuhinya tujuan dan lingkup pemeriksaan. Peran Angggota Tim Peran Dit. Menjamin kesesuaian penggunaan bahasa dengan ketentuan yang berlaku. dan akurasi angka atas bahan penyusunan LHP. kebenaran matematis. 6. 3. 4. 11 Ketua Tim memiliki peran: Peran Ketua Tim 1. KON SE P 2. 3. indikasi kerugian negara/daerah dan/atau unsur pidana. 5. indikasi kerugian negara/daerah dan/atau unsur pidana. Menjamin terpenuhinya unsur-unsur temuan sesuai SPKN. Mereviu konsep LHP.10 Pengendali Teknis memiliki peran: Peran Pengendali Teknis 1. EPP Peran Ditama Binbangkum/Subba g Hukum . Mereviu usulan pelaporan informasi rahasia. Menyusun konsep LHP. 12 Anggota Tim memiliki peran menyiapkan bahan penyusunan LHP dan bahan IHPS. 14 Ditama Binbangkum/Subbag Hukum BPK Perwakilan memiliki peran memberikan pendapat hukum atas TP yang berindikasi unsur pidana dalam LHP apabila diminta. 2. 13 Dit.

15 Biro Humas dan Luar Negeri/Subbag Humas BPK Perwakilan memiliki peran memfasilitasi penyerahan LHP Peran Biro Humas dan Luar Negeri/ Subbag Humas dan memuatnya dalam database Pusat Informasi dan Komunikasi (PIK). 20 Dalam menyusun konsep LHP. Ketua Tim harus menjamin validitas substansi. 16 Biro Umum/Subbag Umum BPK Perwakilan memiliki peran menggandakan dan menjilid LHP dan surat keluar Peran Biro Umum/Subbag Umum yang akan diserahkan kepada lembaga perwakilan dan entitas yang diperiksa. kebenaran matematis. 18 Biro Teknologi Informasi bertanggungjawab menyiapkan infrastruktur serta sistem informasi yang dipergunakan Peran Biro Teknologi Informasi KON SE P dalam proses pelaporan pemeriksaan. dan akurasi angka atas bahan penyusunan LHP yang diterima dari Anggota Tim. 17 Unit Kerja Manajemen Pemeriksaan memiliki peran menyiapkan administrasi kelengkapan penyerahan LHP dan memutakhirkan informasi LHP dalam Peran Unit Kerja Manajemen Pemeriksaan sistem informasi manajemen pemeriksaan. Peran Ketua Tim dalam Penyusunan Konsep LHP . Penyusunan Konsep LHP 19 Ketua Tim menyusun konsep LHP berdasarkan temuan pemeriksaan dan informasi yang relevan yang Bahan Penyusunan Konsep LHP telah disiapkan oleh Anggota Tim. C. Mekanisme Pelaporan Pemeriksaan 1.

menjamin terpenuhinya unsur-unsur Reviu Konsep LHP oleh Pengendali Teknis temuan pemeriksaan. dan c. Materi Pembahasan keakuratan. Pengendali Teknis juga mereviu usulan informasi rahasia. 23 Dalam proses pembahasan konsep LHP. Reviu Konsep LHP 21 Pengendali Teknis mereviu konsep LHP yang disampaikan oleh Ketua Tim untuk: a. menjamin terpenuhinya pemeriksaan yang tujuan telah dan lingkup dinyatakan dalam Program Pemeriksaan. Pengendali Teknis mengisi checklist kendali mutu pelaporan pemeriksaan. Dalam hal Temuan Pemeriksaan dinyatakan tidak layak oleh Pengendali Teknis. objektivitas. yaitu kondisi. indikasi kerugian negara/daerah dan/atau unsur pidana dari Ketua Tim. alasan ketidaklayakan tersebut telah mempertimbangkan keandalan. KON SE P Pada saat melakukan reviu. Pengendali Teknis dapat menyatakan ketidaklayakan Temuan Pemeriksaan. dan kecukupan bukti yang Ketidaklayakan Temuan Pemeriksaan dalam Konsep LHP oleh Pengendali Teknis . akibat. menjamin kesesuaian penggunaan bahasa dalam LHP dengan ketentuan yang berlaku. dan rekomendasi sesuai dengan SPKN. dan kejelasan atas temuan dan rekomendasi dalam konsep LHP. sebab. meyakinkan. 22 Terhadap konsep LHP yang telah disusun Ketua Tim dilakukan pembahasan dengan Pengendali Teknis yang menyangkut kelengkapan. b. kriteria. relevansi.2.

Proses usulan pengembangan prosedur tambahan tersebut didokumentasikan dalam KKP. 24 Apabila diperlukan pengembangan prosedur tambahan.diperoleh dalam pemeriksaan dan didokumentasikan dalam KKP. Pengendali Teknis menyampaikan usulan Pengembangan Prosedur Tambahan pengembangan prosedur tambahan tersebut disertai dengan alasan yang memadai untuk memenuhi tujuan. dan kriteria pemeriksaan yang telah ditetapkan kepada Pengendali Mutu. indikasi kerugian negara/daerah dan unsur pidana dari Pengendali Teknis. 28 Pengendali Mutu mereviu Konsep LHP yang disampaikan oleh Pengendali Teknis untuk menjamin kesesuaiannya dengan SPKN dengan memperhatikan ketepatan waktu penyelesaian LHP sesuai yang ditetapkan dalam Program Pemeriksaan dan mereviu usulan pelaporan informasi rahasia. lingkup. Penyampaian Konsep LHP oleh Pengendali Teknis Reviu Konsep LHP oleh Pengendali Mutu . 25 Hasil pembahasan konsep LHP dimuat dalam risalah pembahasan konsep LHP yang ditandatangani oleh Dokumentasi Pembahasan Konsep LHP Ketua Tim dan Pengendali Teknis. 26 Ketua Tim melakukan perbaikan konsep LHP KON SE P berdasarkan hasil pembahasan untuk kemudian Perbaikan Konsep LHP Hasil Pembahasan menyampaikannya kepada Pengendali Teknis. 27 Pengendali Teknis menyampaikan konsep LHP yang telah direviu kepada Pengendali Mutu.

alasan ketidaklayakan tersebut telah mempertimbangkan keandalan. Selanjutnya Anggota terkait/ Tortama/ Pelaporan dan Permintaan Pendapat Hukum atas Indikasi Kerugian Negara/Daerah dan Unsur Pidana . Dengan terbitnya Surat Tugas. dan kecukupan bukti yang diperoleh dalam pemeriksaan dan didokumentasikan dalam KKP. Persetujuan PTP dinyatakan dKON SE P engan dikeluarkannya Surat Tugas dalam hal pemeriksa memerlukan pengujian di lapangan atau dokumen persetujuan lainnya pemeriksa yang menjalankan menjadi prosedur dasar tim pemeriksaan tambahan. maka Tim Pemeriksa perlu mengkomunikasikan perpanjangan pemeriksaan tersebut kepada pimpinan entitas pemeriksaan serta mengikuti tahapan kegiatan yang diatur dalam bab Pelaksanaan Pemeriksaan. Pengendali Mutu dapat menyatakan Pemeriksaan. 29 Dalam proses reviu konsep LHP. ketidaklayakan Dalam hal Temuan Temuan Pemeriksaan Ketidaklayakan TP dalam Konsep LHP oleh Pengendali Mutu dinyatakan tidak layak oleh Pengendali Mutu. 31 Apabila terdapat indikasi kerugian negara/daerah dan unsur pidana dalam konsep LHP. Pengendali Mutu menyampaikan pengembangan prosedur tambahan Pengembangan Prosedur Tambahan dengan Surat Tugas tersebut kepada PTP melalui PSP untuk disetujui. relevansi.Pada saat melakukan reviu. 30 Dalam hal Pengendali Teknis mengusulkan pengembangan prosedur tambahan. Pengendali Mutu melaporkannya kepada Anggota terkait melalui Tortama/Kalan. Pengendali Mutu mengisi checklist kendali mutu pelaporan pemeriksaan.

Format Penyampaian Konsep LHP oleh Pengendali Mutu Surat Pengantar Penyiapan dan Penandatanganan Surat Pengantar Konsep LHP Penyampaian Konsep LHP diatur lebih lanjut dalam perangkat lunak terkait. Pendapat hukum didokumentasikan dalam KKP. 3. Format Rencana Aksi diatur lebih lanjut dalam terkait. 32 Pengendali Mutu menyampaikan konsep LHP yang telah direviu kepada PSP. Mekanisme permintaan pendapat hukum atas hasil pemeriksaan mengacu pada POS terkait. Tanggapan Penyampaian Konsep LHP kepada Entitas yang Diperiksa entitas dimuat dalam formulir Rencana Aksi sebagai bentuk rencana tindak lanjut entitas. Penyampaian Konsep LHP dan Tanggapan dari Entitas yang Diperiksa 33 Perolehan PSP menyusun dan menandatangani surat pengantar konsep LHP untuk disampaikan kepada pimpinan entitas yang diperiksa.Kalan dapat Kaditama meminta pendapat Binbangkum/Kasubbag hukum Hukum kepada BPK Perwakilan. 35 Pada saat penyampaian konsep LHP kepada pimpinan entitas. disampaikan juga kuesioner untuk menilai pelaksanaan pemeriksaan sebagai umpan balik atas independensi. Kuesioner yang telah diisi oleh entitas disampaikan kepada Unit Kerja Manajemen Pemeriksaan di Kantor Kuesioner Penilaian Pelaksanaaan Pemeriksaan . perangkat lunak Tanggapan tersebut disampaikan oleh entitas secara tertulis dalam waktu yang telah ditentukan oleh PSP dengan mempertimbangkan waktu penerbitan LHP. 34 PSP menyampaikan secara KON SE P konsep LHP kepada pimpinan diperiksa entitas tertulis yang untuk memperoleh tanggapan. integritas. dan profesionalisme PFP.

Finalisasi Konsep LHP 37 Tanggapan atas Konsep LHP dan rencana aksi dari entitas yang diperiksa ditelaah oleh Ketua Tim. Ketua Ketidaksetujuan Tanggapan Tim memuat tanggapan dan rencana aksi tersebut dalam Konsep LHP. Tidak Ada Tanggapan . Apabila Ketua Tim tidak sependapat dengan tanggapanKON SE P entitas yang konsep diperiksa. 36 Dalam hal tanggapan yang diperoleh dari entitas yang diperiksa dianggap belum memadai atau memerlukan Pembahasan Perolehan Tanggapan penjelasan lebih lanjut.Pusat atau BPK Perwakilan. 38 Apabila tidak ada tanggapan. Bentuk kuesioner penilaian pelaksanaan pemeriksaan oleh entitas yang diperiksa diatur dalam perangkat lunak terkait. PFP dapat mengusulkan pembahasan dengan entitas yang diperiksa kepada PTP melalui PSP. 4. PFP menyusun risalah pembahasan tersebut. ketidaksetujuan Ketua atas Tim menyusun tanggapan tersebut dan mengungkapkannya dalam LHP untuk direviu secara berjenjang oleh Pengendali Teknis dan Pengendali Mutu. LHP harus menyatakan “BPK telah menyampaikan konsep laporan hasil pemeriksaan kepada (nama jabatan entitas yang diperiksa) pada tanggal dd/mm/yyyy (diisi sesuai dengan tanggal dalam Surat Penyampaian Konsep LHP) namun BPK tidak memperoleh tanggapan dari (nama jabatan entitas yang diperiksa) sampai dengan waktu yang ditentukan”.

PSP menyusun konsep surat keluar yang Penyiapan Surat Keluar KON SE P diparaf oleh PSP dan PFP sebagai pernyataan bahwa konsep LHP telah mendapatkan pengendalian mutu dan pemerolehan keyakinan mutu yang memadai. Penandatanganan Konsep LHP dan Surat Keluar . 43 Konsep LHP kemudian ditandatangani oleh PFP (kecuali diatur lain) menjadi LHP Final. PTP Apabila diperlukan. 40 PSP melakukan pemerolehan keyakinan mutu untuk memastikan pengendalian mutu telah dilakukan secara Pemerolehan Keyakinan Mutu oleh PSP berjenjang oleh PFP sesuai dengan SPKM dan tahapan dalam PMP dengan menggunaan checklist pemerolehan keyakinan mutu. 41 Setelah melakukan pemerolehan keyakinan mutu atas konsep LHP. Pengendali Mutu menyampaikan Konsep LHP tersebut kepada PSP untuk dilakukan pemerolehan keyakinan mutu. PTP menandatangani surat keluar.39 Ketua Tim menyampaikan Konsep LHP yang disertai dengan tanggapan entitas yang diperiksa secara Konsep LHP setelah tanggapan entitas berjenjang kepada Pengendali Teknis dan Pengendali Mutu. Berdasarkan LHP Final tersebut. Penyampaian Konsep LHP dan Surat Keluar kepada PTP Hasil pembahasan dituangkan dalam risalah pembahasan konsep LHP yang disetujui oleh PTP. PTP dapat melakukan pembahasan atas Konsep LHP dengan PFP dan PSP. Persetujuan Konsep LHP dan Surat Keluar 42 PSP menyampaikan dilampiri dengan Konsep konsep LHP surat kepada keluar. 5.

nama. a. Penerbitan dan Penyerahan LHP 44 LHP Final dan surat keluar yang telah ditandatangani digunakan sebagai penggandaan dan dasar untuk penjilidan. Memberikan dan mencatat nomor dan tanggal LHP dan Surat Keluar. Mekanisme penyerahan LHP difasilitasi oleh Biro Humas dan Luar Negeri/Subbag Humas BPK Perwakilan dengan mengacu pada perangkat lunak terkait. Administrasi Kelengkapan LHP sebagai berikut. 46 Penyerahan LHP dilakukan oleh PTP kepada Penyerahan LHP pemangku kepentingan. PTP dapat menugaskan pejabat yang kompeten untuk menyerahkan LHP. melakukan Penggandaan Penggandaan dan Penjilidan LHP dan penjilidan dilakukan oleh Biro Umum/Subbag Umum BPK Perwakilan berdasarkan permintaan dari PSP. 45 Unit Kerja Manajemen Pemeriksaan menyiapkan administrasi kelengkapan LHP yang akan diserahkan. 47 Penyerahan LHP kepada lembaga perwakilan dilaksanakan sesuai kesepakatan bersama antara BPK dan masing-masing lembaga perwakilan. b. Menyiapkan dan mendokumentasikan tanda terima penyampaian LHP sekurang-kurangnya dan Surat Keluar mencantumkan yang tanggal. tanda tangan penerima. Penyerahan LHP kepada lembaga Perwakilan .6. dan stempel dinas. KON SE P Unit Kerja Manajemen Pemeriksaan mengunggah LHP ke dalam sistem informasi manajemen pemeriksaan.

hasil pemeriksaan BPK meliputi hasil pemeriksaan atas Hasil Pemeriksaan BPK KON SE P laporan keuangan. dan ikhtisar pemeriksaan semester. Penyerahan LHP kepada Aparat Penegak Hukum Tata cara penyampaian LHP yang memuat unsur pidana mengacu pada kesepakatan bersama BPK dan Aparat Penegak Hukum terkait. Ikhtisar Hasil Pemeriksaan Semester (IHPS) 50 Sesuai dengan Undang-Undang Nomor 15 Tahun 2006. LHP juga disampaikan oleh PSP kepada Kaditama Revbangdiklat (dhi. hasil pemeriksaan dengan tujuan tertentu. 49 PSP menyampaikan LHP Final kepada Biro Humas dan Luar Negeri/Subbagset Kalan BPK Perwakilan untuk dimuat dalam database Pusat Informasi dan Pemuatan LHP di Website BPK dan Penyampaian LHP kepada Ditama Revbangdiklat Komunikasi (PIK). rangkuman hasil pemantauan tindak lanjut hasil pemeriksaan. Direktorat EPP) sebagai bahan penyusunan IHPS. rangkuman perkembangan penyelesaian kerugian negara/daerah dan rangkuman tindak lanjut kasus pidana berdasarkan hasil pemeriksaan BPK oleh aparat penegak hukum. presiden/gubernur/bupati/walikota selambatlambatnya 3 (tiga) bulan sesudah berakhirnya semester yang bersangkutan. hasil pemeriksaan kinerja. D.48 LHP yang memuat unsur pidana disampaikan kepada Aparat Penegak Hukum dan pihak berwenang lainnya. selama satu semester yang disampaikan kepada lembaga perwakilan. Definisi IHPS . 51 IHPS merupakan dokumen yang memuat rangkuman hasil pemeriksaan.

Validasi bahan IHPS oleh Direktorat EPP Bahan IHPS disampaikan oleh AKN kepada Dit. IHPS disusun dengan maksud untuk memberikan informasi hasil pemeriksaan yang komprehensif selama satu semester untuk ditindaklanjuti oleh lembaga perwakilan sesuai dengan kewenangannya. Mekanisme lebih lanjut tentang penyusunan IHPS mengacu pada perangkat lunak terkait. Penyiapan bahan IHPS oleh AKN Bahan IHPS disampaikan oleh PSP dan disusun oleh PFP berdasarkan permintaan dari Ditama Revbang dan arahan Badan. Pembahasan bahan IHPS Pembahasan bahan mengklarifikasi hasil IHPS validasi dilakukan bahan IHPS untuk oleh Direktorat EPP dengan Auditorat/Perwakilan sehingga diperoleh kesepakatan. 53 Tahapan penyusunan IHPS meliputi antara lain: Tahapan Penyusunan IHPS 1. dan persetujuan. Validasi bertujuan untuk KON SE P memastikan kebenaran nilai temuan dan kesesuaian klasifikasi kelompok dan jenis temuan. koreksi. 2. Persetujuan IHPS oleh Badan IHPS yang telah disusun oleh Direktorat EPP dibahas dalam sidang BPK untuk mendapat tanggapan. . IHPS disusun berdasarkan LHP Final yang diterima dari Keterkaitan LHP dengan IHPS AKN. 4. EPP untuk dilakukan validasi. 3.52 LHP merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari IHPS.

Persetujuan Pemantauan tindak lanjut hasil pemeriksaan . Tindak Lanjut. 55 BPK memantau pelaksanaan tindak lanjut tersebut dan melaporkan kepada lembaga perwakilan dalam IHPS. Pemantauan tindak lanjut hasil pemeriksaan adalah kan secara sistematis rangkaian kegiatan yang dilaksanKONaSE P oleh BPK untuk menentukan bahwa Pejabat telah melaksanakan rekomendasi hasil pemeriksaan dalam tenggang waktu yang telah ditentukan oleh undangundang. Tindak lanjut atas rekomendasi BPK wajib dilakukan oleh pimpinan entitas yang diperiksa. Pemeriksaan Tindak Lanjut. Pembahasan dengan Entitas yang Diperiksa. 54 Tindak Lanjut Hasil Pemeriksaan Tindak lanjut hasil pemeriksaan adalah kegiatan dan/atau keputusan yang dilakukan oleh pimpinan entitas yang Tindak Lanjut Hasil Pemeriksaan diperiksa dan/atau pihak lain yang kompeten untuk melaksanakan rekomendasi hasil pemeriksaan. Pimpinan entitas yang diperiksa tersebut wajib memberikan jawaban atau penjelasan kepada BPK tentang tindak lanjut atas rekomendasi hasil pemeriksaan selambat-lambatnya 60 hari setelah laporan hasil pemeriksaan diterima.E. Analisis Tindak Lanjut. Substansi pengelolaan TLHP diatur tersendiri dalam Pedoman Manajemen Penunjang Pemeriksaan (PMPP) yang menyangkut tahapan: Administrasi Tindak Lanjut.

F.

Sistem Manajemen Mutu (SMM)

56

1. Uraian Kegiatan

No.

Objek SMM

a.

Penyusunan

Pihak
Terkait
Ketua Tim

konsep LHP

Tanggung Jawab

Memastikan validitas

Dokumen
SMM
Lembar reviu

substansi, kebenaran
matematis, dan akurasi
angka atas bahan
penyusunan LHP.

b.

Reviu Konsep

Pengendali

Memastikan ketepatan

LHP

Mutu

waktu penyelesaian LHP

Checklist

sesuai yang ditetapkan
dalam P2.
PengendaliK Mereviu konsep LHP dan

ON SE P

usulan pelaporan informasi

Teknis

rahasia, indikasi kerugian

Lembar reviu

negara/daerah dan/atau
unsur pidana (apabila ada)
yang disampaikan oleh
Ketua Tim.
c.

Penyampaian

PSP

Memastikan tanggapan

Konsep LHP

diperoleh dari entitas sesuai

dan

dengan jangka waktu yang

Perolehan

telah ditentukan.

Tanggapan
dari Entitas
yang
Diperiksa

 Checklist
 Rencana
Aksi

No.

Objek SMM

d.

Finalisasi

Pihak

Tanggung Jawab

Terkait
Ketua Tim

Menelaah tanggapan dan

Dokumen
SMM
Lembar Reviu

rencana aksi.

Konsep LHP
Pengendali

Mereviu hasil telaah

Teknis

tanggapan dan rencana aksi

Lembar Reviu

dari Ketua Tim
Pengendali

Mereviu hasil telaah

Mutu

tanggapan dan rencana aksi

Lembar Reviu

dari Pengendali Teknis
PSP

Melakukan pemerolehan

Checklist

keyakinan mutu untuk
memastikan pengendalian
mutu telah dilakukan secara
berjenjang oleh PFP sesuai
KON SE P

dengan SPKM dan tahapan
dalam PMP

e.

Persetujuan

PTP

Mereviu dan

Konsep LHP

menandatangani Surat

dan Surat

Keluar.

n.a.

Keluar
f.

Penerbitan
dan

PSP

Memastikan ketepatan

Checklist

waktu penyerahan LHP.

Penyerahan
LHP

57

2. Alur Dokumentasi
Alur dokumentasi menggambarkan dokumen yang dihasilkan/dibutuhkan serta
perpindahannya dalam tahap pelaporan pemeriksaan.

Pelaporan
Pemeriksaan
Uraian
Ketua Tim

Anggota Tim

Pengendali
Teknis

Pengend
ali
Mut
u

Kaau
d/Kasub aud

Tortama/Ka
lan

Pemberi Tugas
Manajemen

Unit Kerja

Entitas yang
Diperiksa

Pemeriksaan

Bahan
1. Penyusunan Konsep LHP

LHP TP

Konsep LHP

Risalah
Pembahas
an Konsep
LHP
dengan
PT

2. Reviu Konsep
LHP

3.
Penyampaian
Konsep
LHP
Perolehan
Tanggapan
dari
Entitas
yang
Diperiksa

Konsep
LHP Hasil
Pembahas
an

Usulan
informasi
rahasia dan
unsur pidana

Reviu Unsur
TP, tujuan &
lingkup
pemeriksaan,
Pembahasaan

Konsep
LHP
Hasil
Reviu

Reviu
Kesesuaian
dengan SPKN

Konsep
LHP
Hasil
Reviu

Konsep
LHP
Surat
Pengant
ar

Lembar
Reviu

Checkli
st
kendali
mutu

Surat
Pengantar
disusun PSP

Kuesione
r
Pelaksana
an
Pemeriksa
an

Konsep
LHP
Surat
Pengantar

Surat
Pengantar
ditandatangan
i oleh
Tortama/

Kuesione
r
Pelaksana
an
Pemeriksa
an

Tanggapan

Reviu
informasi

KON SE P

Kalan

rahasia dan
unsur pidana

Telaah
Tanggapan

4. Finalisasi Konsep
LHP

Reviu

Konsep LHP
Konsep LHP

Reviu

Konsep
LHP

Reviu

Konsep
LHP

Lemba
r
Penjamina
n
Mutu

Reviu

Konsep
LHP

Lemba
r
Penjamina
n
Mutu

Konsep LHP
Konsep SK

Apabila
Dilakukan

Risalah
Pembahas
an Konsep
LHP
dengan
Pemberi
Tugas

Tanda
Tangan

Penomoran

Konsep

5. Persetujuan
Konsep LHP
dan Surat Keluar

LHP
Konsep
Konsep LHP

Konsep
LHP

Konsep LHP

SK

LH

LH

P

P

SK

SK

LH
P
SK

6. Penerbitan
dan
Penyerahan
LHP

Catatan: Jangka waktu penyusunan LHP disesuaikan dengan jangka waktu yang diatur di dalam P 2

Konsep SK
disusun oleh
PSP

Paraf PSP
dan PFP pada
Konsep SK

BAST

Pedoman Manajemen
Pemeriksaan
Bab V Suplemen

BAB V
SUPLEMEN
PMP
A.

Pemeriksaan Interim/Pendahuluan
1. Pendahuluan

01

Pemeriksaan

interim

merupakan

bagian

dari

pemeriksaan keuangan yang dilakukan pada tahun

Definisi
Pemeriksaan
Interim

berjalan atau sebelum entitas menyerahkan laporan
keuangan kepada BPK. Pemeriksaan interim dapat
dilakukan pada tahun berjalan, yaitu pada semester II
setelah entitas menerbitkan laporan keuangan semester I
atau pada tahun anggaran berikutnya, namun sebelum
laporan keuangan diserahkan oleh entitas kepada BPK.
02

Tujuan pemeriksaan interim adalah untuk memberikan
KON SE P

kesimpulan

hasil

reviu

atas

efektivitas

sistem

Tujuan
Pemeriksaan
Interim

pengendalian intern dan kepatuhan terhadap peraturan
perundangan serta memperoleh data dan informasi untuk
pengembangan

perencanaan

pemeriksaan

laporan

keuangan.
03

Pemeriksaan pendahuluan adalah pemeriksaan lapangan
pada pemeriksaan kinerja dan Pemeriksaan Dengan

Definisi
Pemeriksaan
Pendahuluan

Tujuan Tertentu (PDTT) yang dilakukan dalam rangka
perencanaan pemeriksaan.
04

Tujuan pemeriksaan pendahuluan pada PDTT adalah
untuk memberikan penilaian atas efektivitas sistem
pengendalian intern dan penilaian risiko.
Tujuan pemeriksaan pendahuluan dalam pemeriksaan
kinerja adalah untuk memperoleh pemahaman entitas,

Tujuan
Pemeriksaan
Pendahuluan

Manajemen Pemeriksaan Interim atau Pendahuluan 06 Mekanisme perencanaan dan pelaksanaan pemeriksaan interim atau pendahuluan mengacu pada tahapan dalam Bab II dan III. KON SE P 07 Output pemeriksaan interim adalah LHP Interim dan program pemeriksaan terinci.mengidentifikasi menentukan masalah. pengujian substantif dalam Mekanisme perencanaan dan pelaksanaan pemeriksaan interim/ pendahuluan Output pemeriksaan interim . dan mengidentifikasi jenis bukti dan prosedur pemeriksaan. Pihak-Pihak Terkait dalam Pemeriksaan Interim atau Pendahuluan 05 Pemeriksaan interim/pendahuluan melibatkan PTP. 2. PSP. LHP Interim terdiri dari ringkasan eksekutif. serta penetapan tingkat materialitas dan hasil perencanaan uji petik. Peran pihak-pihak yang terkait mengacu pada Bab II. gambaran umum pemeriksaan dan Hasil Pemeriksaan yang berisi temuan-temuan kelemahan SPI dan ketidakpatuhan terhadap peraturan perundang-undangan. Pihak-pihak Terkait PFP. Unit Kerja Manajemen Pemeriksaan dan Biro TI. tujuan dan menentukan lingkup area kunci. Program pemeriksaan tersebut digunakan untuk melakukan pemeriksaan terinci. penilaian risiko atas akun-akun signifikan. langkah-langkah pemeriksaan dirancang dan disusun dalam suatu program pemeriksaan. menentukan kriteria pemeriksaan. Berdasarkan LHP Interim. 3. dan IV. III. pemeriksaan.

Output pemeriksaan pendahuluan dalam pemeriksaan kinerja adalah LHP Pendahuluan. Sifat output pemeriksaan pendahuluan/ interim Pemeriksaan Tematik KON SE P 1. Pendahuluan 10 Pemeriksaan Tematik adalah pemeriksaan di luar pemeriksaan keuangan dan dilakukan sesuai tema yang Definisi pemeriksaan tematik terdapat pada Kebijakan dan Strategi Pemeriksaan BPK atas program pemerintah dalam suatu bidang yang diselenggarakan oleh berbagai entitas pemeriksaan. Pemeriksaan Tematik bersifat lintas AKN dan dapat merupakan jenis pemeriksaan kinerja maupun pemeriksaan dengan tujuan tertentu. B. pemeriksaan dengan PFP menyusun mengacu pada program mekanisme penyusunan paket program pemeriksaan dalam Bab II. LHP Pendahuluan digunakan sebagai bahan keputusan untuk melakukan pemeriksaan terinci.08 Output pemeriksaan pendahuluan dalam PDTT adalah program pemeriksaan yang akan digunakan dalam Output pemeriksaan pendahuluan melakukan pemeriksaan terinci. 09 Output pemeriksaan interim/pendahuluan bersifat internal dan tidak disampaikan kepada entitas pemeriksaan dan lembaga perwakilan. 11 Pemeriksaan Tematik yang melibatkan beberapa AKN dan/atau BPK Kantor Perwakilan dilakukan dengan tujuan untuk mendapatkan kesimpulan pemeriksaan yang komprehensif serta dalam rangka efisiensi sumber daya pemeriksaan baik dari sisi biaya maupun pemeriksa Tujuan pemeriksaan tematik . Apabila diputuskan untuk dilakukan pemeriksaan terinci.

Seluruh kebijakan teknis terkait pelaksanaan pemeriksaan tematik dengan skema dekonsentrasi KON SE P berada pada AKN Koordinator. AKN Koordinator terhadap pemeriksaan pusat yang mengeluarkan kebijakan pembangunan. AKN Koordinator terhadap entitas pemeriksaan pusat yang mengeluarkan kebijakan pembangunan. (2) Skema Desentralisasi Pemeriksaan tematik dengan skema desentralisasi adalah pemeriksaan yang dilakukan oleh: a. b. AKN Pelaksana berperan sebagai pelaksana dari kebijakan teknis tersebut.serta efektifitas proses pemeriksaan agar dihasilkan pemeriksaan yang berkualitas. AKN Pelaksana terhadap entitas pemeriksaan pusat yang terdapat di daerah sebagai instansi vertikal pemerintah pusat. 12 Pemeriksaan Tematik memiliki dua skema yaitu: (1) Skema Dekonsentrasi Pemeriksaan tematik dengan skema dekonsentrasi adalah pemeriksaan yang dilakukan oleh: a. AKN Pelaksana terhadap entitas pemeriksaan daerah yang menjalankan kebijakan dari entitas pemerintah pusat. b. Masing-masing AKN dan/atau Kantor Perwakilan yang berperan dalam pemeriksaan tematik dengan Dua Skema Pemeriksaan Tematik .

KON SE P 15 Tugas AKN Koordinator AKN Koordinator bertugas untuk: 1. 5. 2. Pihak-Pihak Terkait 13 Pemeriksaan Tematik melibatkan satu AKN sebagai AKN Pihak-pihak Terkait Koordinator dan satu atau lebih AKN lainnya sebagai AKN Pelaksana. kecuali dalam hal penentuan tujuan dan harapan pemeriksaan. Menyusun mekanisme komunikasi dan koordinasi antar tim. Mengkoordinasikan susunan tim pemeriksa. 3. Membentuk tim persiapan pemeriksaan tematik untuk menghasilkan P2.skema desentralisasi memiliki kewenangan seperti yang dijelaskan pada Bab II. III. 6. 4. Mengkonsolidasikan konsep LHP. Melakukan pengurusan sesuai penganggarannya. dan IV. administrasi pemeriksaan . Menyusun P2 Tim Persiapan Pemeriksaan. 2. P2 tersebut digunakan sebagai acuan bagi AKN terkait lainnya. 14 AKN Koordinator AKN Koordinator AKN Koordinator adalah AKN Pusat yang memiliki portofolio pemeriksaan terkait langsung dengan tema pemeriksaan tematik atau dengan kata lain memiliki tugas dan fungsi untuk melakukan pemeriksaan pada entitas pusat yang menjadi perumus kebijakan program pemerintah yang akan diperiksa.

Kantor Perwakilan sebagai AKN Pelaksana BPK Kantor Perwakilan yang memiliki portofolio untuk melakukan pemeriksaan pada entitas pemerintah daerah. turut serta dalam persiapan pemeriksaan. memberikan masukan atas program pemeriksaan tematik. KON SE P 18 Contoh pemeriksaan tematik dengan Skema Desentralisasi adalah pemeriksaan Pajak di Bendahara Pengeluaran. VII sebagai AKN Pelaksana dan dapat dilibatkan apabila lingkup pemeriksaan termasuk pada Kementerian/Lembaga lainnya. IV.16 AKN Pelaksana Tugas AKN Pelaksana AKN Pelaksana dapat berupa AKN Pusat maupun Kantor Perwakilan yang memiliki tugas dan fungsi untuk melakukan pemeriksaan pada entitas yang menjalankan kebijakan atas program pemerintah yang akan diperiksa sesuai tema pemeriksaan tematik. AKN II sebagai AKN Koordinator. 2. 2. 17 AKN Pelaksana bertugas untuk: 1. Contoh pemeriksaan tematik dengan skema dekonsentrasi . 1. Untuk pemeriksaan tematik skema desentralisasi. 3. V. Untuk pemeriksaan tematik skema dekonsentrasi. 3. VI. AKN I. III. Tugas AKN Pelaksana Mengusulkan PFP yang akan terlibat dalam tim persiapan pemeriksaan dan tim pemeriksaan. AKN II memiliki portofolio untuk melakukan pemeriksaan pada Kementerian Keuangan yang berperan sebagai penyusun kebijakan Pajak Pusat.

19 Contoh pemeriksaan tematik dengan Skema K Desentralisasi adalah pemeriksaan dana BOS. n melakukan t pemeriksaan pada Kementerian Pendidikan Nasional o yang berperan sebagai penyusun kebijakan dana r BOS untuk seluruh Indonesia. P AKN VI memiliki portofolio untuk 2. AKN VI sebagai AKN Koordinator. Kantor Perwakilan sebagai AKN Pelaksana e r w a k il a n m e m il i k i p o r t o f o li o . a 1.

untuk

melakukan

pemeriksaan

pada

entitas

pemerintah daerah yang berperan sebagai pengguna
dana BOS.

Contoh
pemeriksaan
tematik dengan
skema
desentralisasi

3. Organisasi Pemeriksaan Tematik
20

Susunan organisasi pemeriksaan tematik terdiri dari
PTP, PFP, dan PSP dengan tug s dan tanggung jawab
a
KON

SE

Susunan organisasi
pemeriksaan
tematik

P

masing-masing seperti yang telah dijelaskan dalam Bab
I, II, III, dan IV PMP.
21

Dalam

susunan

organisasi

tim

pemeriksa

pada

pemeriksaan dengan skema dekonsentrasi, Pengendali
Mutu

pada

AKN

Koordinator

berperan

sebagai

Penanggung Jawab dan Pengendali Mutu pada AKN
Pelaksana berperan sebagai Wakil Penanggung Jawab
Pemeriksaan.
Sedangkan susunan organisasi tim pemeriksa pada
pemeriksaan dengan skema desentralisasi sama seperti
susunan organisasi tim pemeriksa pada pemeriksaan
pada umumnya.

Pengendali Mutu

22

Koordinasi dilakukan oleh AKN Pusat dan Kantor
Perwakilan baik koordinasi horizontal maupun koordinasi

Koordinasi AKN
Pusat dan
Perwakilan

vertikal oleh PFP maupun PSP yang terlibat.
23

Koordinasi Horizontal PFP antara AKN Koordinator dan
AKN Pelaksana berada pada tingkat Pengendali Mutu,
Pengendali

Teknis,

dan

Ketua

Tim

mengenai

Koordinasi
Horizontal PFP
antara AKN
Koordinator dan
AKN Pelaksana

pelaksanaan tugas dan tanggung jawabnya sesuai
dengan perannya masing-masing dalam organisasi tim.
Koordinasi dilakukan dalam rangka:
1. Merumuskan konsep program pemeriksaan tematik;
2. Mendiskusikan teknik pemeriksaan lapangan yang
diperlukan;
3. Mendiskusikan indikasi temuan dan perlakuan yang
diperlukan agar terjadi keseragaman prosedur;
4. Merumuskan sistematika temu an dalam LHP;
KON SE P

5. Menyusun laporan gabungan;
6. Merumuskan rekomendasi pemeriksaan.
24

Koordinasi Horizontal PSP antar AKN Koordinator dan
AKN Pelaksana berada pada tingkat:
1. Kepala Subauditorat pada AKN Pusat yang bertindak
sebagai

AKN

Koordinator

dengan

Kepala

Subauditorat pada AKN Pusat lainnya dan/atau
Kepala Auditorat di Kantor Perwakilan yang bertindak
sebagai AKN Pelaksana;
2. Kepala Auditorat pada AKN Pusat yang bertindak
sebagai AKN Koordinator dengan Kepala Auditorat
pada AKN Pusat lainnya dan/atau
bertindak sebagai AKN Pelaksana.

Kalan yang

Koordinasi
Horizontal PSP
antar AKN
Koordinator dan
AKN Pelaksana

Koordinasi horizontal PSP dilakukan dalam rangka:
1. Pengelolaan sumber daya pemeriksaan.
2. Penjaminan mutu pemeriksaan sesuai dengan tim
yang berada dalam lingkup tanggung jawabnya.
3. Manajemen Pemeriksaan Tematik
a.
25

Perencanaan Pemeriksaan
Berdasarkan Kebijakan dan Strategi Pemeriksaan
BPK, AKN Koordinator menginisiasi pemeriksaan

Inisiasi
pemeriksaan
tematik

tematik dengan merencanakan pemeriksaan sesuai
dengan tahapan dalam PMP.
26

Rencana kebutuhan sumber daya yang digunakan
untuk pemeriksaan tematik didiskusikan satu tahun

Sumber daya
pemeriksaan
tematik

sebelumnya pada kegiatan Penyusunan RKP oleh
AKN Koordinator bersama dengan AKN Pelaksana.
KON SE P

Biaya pemeriksaan tematik dibebankan kepada
masing-masing AKN sesuai dengan sumber daya
yang

digunakan

untuk

keperluan

pemeriksaan

tersebut. Pengaturan terkait Penyusunan RKP
merujuk kepada PMPP.
27

Dalam perencanaan pemeriksaan tematik skema
dekonsentrasi, AKN Koordinator membentuk TPP
yang terdiri dari PFP yang berasal dari AKN
Koordinator.
Sedangkan pada perencanaan pemeriksaan tematik
dengan skema desentralisasi, AKN Koordinator
membentuk TPP yang terdiri dari PFP yang berasal
dari AKN Koordinator maupun PFP yang berasal
dari AKN Pelaksana.

TPP

28

PTP yang membawahi AKN Koordinator berperan

Peran PTP

menandatangani Harapan Penugasan dan Surat
Tugas Pemeriksaan Tematik.
29

PSP AKN Koordinator berkoordinasi dengan PSP
AKN

Pelaksana

dalam

hal

penyusunan

Koordinasi PSP

tim

pemeriksaan. PSP AKN Pelaksana memberikan
usulan tim pemeriksa kepada PSP AKN Koordinator.
30

Peran PFP pada AKN Koordinator dalam tahap
perencanaan pemeriksaan tematik tidak berbeda

Peran PFP pada
AKN Koordinator

dengan peran pada perencanaan pemeriksaan
umumnya seperti yang dijelaskan pada Bab II PMP.
Untuk

pemeriksaan

tematik

dengan

skema

desentralisasi, terdapat tambahan peran sebagai
berikut.
KON SE P

a. Memastikan keselarasan program pemeriksaan
AKN Koordinator dengan program pemeriksaan
AKN Pelaksana.
b. Memastikan

kesesuaian

seluruh

program

pemeriksaan dengan harapan penugasan.
31

Peran PFP pada AKN Pelaksana dalam tahap
perencanaan pemeriksaan tematik tidak berbeda
dengan peran pada perencanaan pemeriksaan
umumnya seperti yang dijelaskan pada Bab II PMP
dengan tambahan peran sebagai berikut.
a. Menyusun usulan tim pemeriksa dari AKN
Pelaksana.
b. Untuk

pemeriksaan

tematik

dengan

skema

Peran PFP pada
AKN Pelaksana

A. Mengevaluasi apakah program pemeriksaan telah dapat memenuhi tujuan.dekonsentrasi. 32 Output perencanaan pemeriksaan tematik adalah program pemeriksaan tematik. Peran Tanggung Jawab Dokumen SMM Pemeriksaan Tematik Skema Dekonsentrasi PSP AKN Mereviu dan menyetujui susunan tim Lembar Koordinator pemeriksa dari AKN Koordinator dan disposisi KON SE P AKN Pelaksana. Pemeriksaan Tematik Skema Desentralisasi PM sebagai a. 33 Pengendalian dan pemastian mutu yang dilakukan oleh tiap peran dalam perencanaan pemeriksaan Output perencanaan pemeriksaan tematik Pengendalian dan pemastian mutu sama seperti yang telah dijelaskan pada Bab II PMP dengan tambahan sebagai berikut. No. Jawab pada AKN Koordinator b. B. harapan dan lingkup pemeriksaan. Lembar Reviu . PFP dapat memberikan masukan atas konsep program pemeriksaan yang disusun oleh AKN Koordinator. Mengarahkan penyusunan Penanggung program pemeriksaan. PSP AKN Mereviu usulan tim pemeriksa AKN Lembar Pelaksana Pelaksana disposisi.

38 Pengendalian dan pemastian mutu yang dilakukan oleh tiap peran dalam pelaksanaan pemeriksaan Sistem Manajemen Mutu Pelaksanaan Pemeriksaan sama seperti yang telah dijelaskan pada Bab III PMP. PFP. Ketua Tim. serta temuan pemeriksaan tematik yang berasal dari temuan pemeriksaan yang dihasilkan oleh tim yang berasal dari AKN Koordinator maupun AKN Pelaksana.b. 36 Selama pemeriksaan lapangan. PFP. c. dan PSP pada AKN Koordinator dan Pelaksana dalam tahap pelaksanaan Peran PTP. Pengendali Teknis. 35 Peran PTP. 39 Pelaporan Pemeriksaan Koordinasi dalam tahap pelaporan pemeriksaan dilakukan terhadap konsep LHP. dan PSP pemeriksaan tematik tidak berbeda dengan peran pada pelaksanaan pemeriksaan umumnya seperti yang dijelaskan pada Bab III PMP. dan Pengendali Mutu antar AKN Koordinasi dalam tahap pelaksanaan pemeriksaan Koordinator dan Pelaksana saling berkoordinasi sesuai dengan tugas dan tanggung jawabnya dalam hal pelaksanaan pemeriksaan. KKP. KON SE P 37 Output yang dihasilkan dari pelaksanaan Output pemeriksaan adalah LAPPL. Pengendali Teknis. Pengendali Mutu. dan Ketua Tim dari AKN Koordinasi pada tahap pelaporan pemeriksaan tematik . 34 Pelaksanaan Pemeriksaan AKN Koordinator dan AKN Pelaksana secara bersamaan melakukan pemeriksaan lapangan Pelaksanaan Pemeriksaan Tematik sesuai dengan tahapan dalam PMP.

Koordinator dan AKN Pelaksana mendiskusikan konsep LHP sesuai dengan batas tanggung jawab dan kewenangannya. 43 Dalam hal tanggapan yang diperoleh dari entitas yang diperiksa dianggap belum memadai atau memerlukan penjelasan lebih lanjut. PFP AKN Koordinator dapat mengusulkan pembahasan dengan entitas yang diperiksa kepada PTP melalui PSP AKN Koordinator. Tanggapan formulir entitas Rencana dKON SE Pimuat Aksi sebagai dalam bentuk rencana tindak lanjut entitas. 1) 40 Pelaporan Pemeriksaan Tematik Skema Dekonsentrasi dengan Pelaporan disusun oleh AKN Koordinator yang menghasilkan LHP Pemeriksaan Tematik. Pembahasan konsep LHP . PFP AKN Koordinator (dapat dibantu oleh PFP AKN Pelaksana) menyusun risalah pembahasan tersebut. 41 PSP AKN Koordinator menyusun dan menandatangani surat pengantar konsep LHP untuk disampaikan kepada pimpinan entitas Proses penyusunan LHP Penyusunan dan penandatanganan surat pengantar konsep LHP yang diperiksa. 42 PSP AKN Koordinator menyampaikan secara tertulis konsep LHP kepada pimpinan entitas Penyampaian konsep LHP yang diperiksa untuk memperoleh tanggapan.

Penyerahan LHP Gabungan . 47 PSP AKN Koordinator menandatangani surat pengantar konsep LHP Gabungan untuk disampaikan kepada lembaga Penyusunan dan penandatanganan surat pengantar konsep LHP perwakilan pusat. LHP parsial disusun oleh masing-masing Perwakilan AKN yang dan/atau terlibat. 2) 45 Pelaporan Pemeriksaan Tematik Skema Dekonsentrasi dengan Output pelaporan pemeriksaan tematik dengan skema dekonsentrasi terdiri dari LHP Parsial Proses penyusunan LHP dan LHP Gabungan.44 Penyerahan LHP kepada Lembaga Perwakilan dan Entitas Pemeriksaan dilakukan oleh AKN Koordinator. 48 Penyerahan LHP Gabungan kepada Lembaga Perwakilan dan Entitas Pemeriksaan Pusat dilakukan oleh AKN Koordinator. 46 Proses penyusunan sampai dengan penyerahan LHP Parsial kepada entitas dan lembaga perwakilan daKON P erah menyusun dan SE Proses penyusunan LHP Parsial dilakukan dengan proses seperti dijelaskan pada Bab IV. Gabungan disusun oleh Kantor Sedangkan AKN LHP Koordinator dibantu dengan AKN Pelaksana.

C. Tanggung Jawab Lembar Reviu Dokumen SMM Pemeriksaan Tematik Skema Desentralisasi Pengaturan SMM untuk pemeriksaan tematik skema desentralisasi sama dengan pengaturan SMM pada Bab IV.49 Pengendalian dan pemastian mutu yang dilakukan oleh tiap peran dalam pelaporan pemeriksaan sama seperti yang telah dijelaskan pada Bab IV PMP dengan tambahan sebagai berikut. Peran . Lembar Reviu . Pemeriksaan on call dapat merupakan pemeriksaan kinerja maupun pemeriksaan dengan tujuan tertentu. Pendahuluan 50 Pemeriksaan on call adalah penugasan pemeriksaan tambahan yang dilakukan atas permintaan Badan atau pemangku kepentingan BPK lainnya. B. Definisi Pemeriksaan On Call . No. Pemeriksaan On Call 1.Memastikan ketepatan waktu penyelesaian LHP sesuai yang ditetapkan dalam P2. PM sebagai PJ . Tanggung Jawab Dokumen SMM Pemeriksaan Tematik Skema Dekonsentrasi 1.Memastikan bahwa Konsep LHP terbebas dari kesalahan penerapan standar. Peran A.Mereviu hasil telaah tanggapan dan Lembar Reviu rencana aksi dari Pengendali Mutu sebagai WPJ. Checklist . No.Menyetujui KonKON SE P sep LHP dengan menandatangani LHP.

51 Permintaan pemeriksaan on call tidak selalu dapat a. dipenuhi oleh BPK. Permintaan pemeriksaan on call m dapat dipenuhi sepanjang: e yang tercantum dalam ri k s a a n t e r s e b u t d i n il a i s a n g a t p e . karena BPK memiliki prioritas tema P pemeriksaan Kebijakan e Pemeriksaan BPK.

BPK memiliki sumber daya (dalam hal anggaran dan untuk melaksanakan personil) yang cukup KON SE P pemeriksaan tersebut. d. Tata Cara Permintaan Pemeriksaan On Call . c. bergantung dari urgensi dan kepentingan pemeriksaan tersebut bagi rakyat Indonesia. Tidak berisiko terhadap independensi dan integritas BPK. 52 Permintaan pemeriksaan on call yang dinilai dapat dipenuhi oleh BPK dapat dilaksanakan pada tahun Waktu Pemenuhan Pemeriksaan On Call anggaran yang sedang berjalan atau pada tahun anggaran berikutnya. serta terhadap pengelolaan dan tanggung jawab keuangan negara.nting dan mendesak untuk dilakukan karena dampak hasil pemeriksaan terkait langsung dengan Kebijakan Pemeriksaan On Call kesejahteraan dan kemakmuran rakyat Indonesia. b. Tema pemeriksaan masih sesuai dengan prioritas pemeriksaan BPK yang tercantum dalam Kebijakan Pemeriksaan BPK. 53 Permintaan pemeriksaan on call harus disampaikan secara tertulis kepada BPK dengan disertai alasanalasan perlunya dilakukan pemeriksaan tersebut.

Pihak-Pihak Terkait Pemeriksaan On Call 54 Pihak-pihak seperti PFP dan PSP yang terlibat dalam perencanaan.2. Konsultasi dengan Lembaga Perwakilan dijelaskan pada POS Perencanaan Tahunan. Mekanisme Pemeriksaan On Call 57 Penganggaran perencanaan pemeriksaan on call Penganggaran Dalam hal permintaan berasal dari Lembaga Perwakilan. permintaan pemeriksaan tersebut kemudian disampaikan secara tertulis kepada pihak yang mengajukan permintaan disertai dengan alasan-alasan persetujuan atau penolakan. pelaksanaan. II. dan IV. . dan pelaporan pemeriksaan Peran PFP dan PSP on call memiliki peran yang sama dengan pihak-pihak yang terlibat dalam pemeriksaan rutin seperti dijelaskan dalam Bab I. 55 Badan memiliki peran menyetujui maupun menolak permintaan pemeriksaan mempertimbangkan Persetujuan on masukan atau call dengan Tortama/Kalan penolakan atas Peran Badan terkait. 3. 58 BPK melakukan konsultasi dengan Lembaga Perwakilan sebelum dilakukannya pemeriksaan on call untuk menyesuaikan tujuan pemeriksaan dengan permintaan pemangku kepentingan tersebut. III. 56 Unit Kerja Manajemen Pemeriksaan memiliki peran KON SE P mencatat dan mengadministrasikan seluruh permintaan Peran Unit Kerja Manajemen Pemeriksaan pemeriksaan on call dalam sebuah database sebagai bahan referensi permintaan berikutnya bagi Tortama/Kalan untuk memberikan masukan kepada Badan.

63 AKN/Perwakilan menentukan prioritas objek yang akan diperiksa oleh KAP untuk dan atas nama BPK dengan Penentuan prioritas objek pemeriksaan mempertimbangkan: 1. dan waktu untuk meningkatkan efisensi belanja negara serta mendorong terjadinya knowledge transfer antara BPK dengan KAP. meningkatkan pemeriksaan ketepatan keuangan. dan pelaporan pemeriksaan on call mengacu kepada Bab II. D. KON SE P 62 Pemanfaatan KAP untuk dan atas nama BPK dapat Prakondisi dilakukan jika AKN/Perwakilan tidak memiliki atau tidak cukup memiliki pemeriksa yang memenuhi kompetensi dan memenuhi kode etik serta standar umum dalam SPKN. baik jangka pendek ataupun jangka panjang. Jenis pemeriksaan yang wajib dilakukan BPK. pelaksanaan. 64 KAP yang bekerja untuk dan atas nama BPK wajib terdaftar di BPK dan harus memenuhi persyaratan yang Ketentuan KAP yang dapat bekerja untuk dan atas . 2. Pendahuluan 60 Pemeriksaan untuk dan atas nama BPK adalah pemeriksaan yang dilakukan dengan memanfaatkan Kantor Akuntan Publik (KAP) yang memenuhi Definisi Pemeriksaan Untuk dan Atas Nama BPK persyaratan yang ditentukan oleh BPK. 61 Pemanfaatan KAP yang bekerja untuk dan atas nama Tujuan BPK dilakukan sebagai upaya untuk meningkatkan peran dan kinerja pelaksanaan BPK. dan IV. urgensi dan/atau dampak. III. Prosedur pemeriksaan Pemanfaatan KAP yang Bekerja Untuk Dan Atas Nama BPK 1.59 Prosedur perencanaan. Tingkat risiko.

68 PSP memiliki peran: 1. 2. 3. KON SE P 2. Biro Keuangan. Kerja Biaya (KAK) (RAB) dan untuk . Dit.ditetapkan terdaftar oleh di BPK. Komposisi tim pemeriksaan oleh KAP yang bekerja untuk dan atas nama BPK terdiri dari pemeriksa BPK dan KAP. BPK Pengelolaan diselenggarakan database oleh Dit KAP nama BPK EPP. Organisasi tim pemeriksa melalui pemantaatan KAP yang bekerja untuk dan atas nama BPK Dalam komposisi tersebut peran Penanggung Jawab (Pengendali Mutu) harus berasal dari BPK sedangkan Pengendali Teknis dapat berasal dari BPK jika dianggap tim memerlukan keahlian dari pemeriksa BPK. serta KAP. 66 Organisasi tim pemeriksa mengacu pada Bab I. EPP. PFP. PSMK. Dit. Panitia Pengadaan Barang dan Jasa (PPBJ) BPK. menyusun Rencana Kerangka Anggaran Acuan dan disampaikan ke PPBJ BPK. 65 Pelaksanaan Pengadaan KAP dilakukan oleh kantor pusat mengacu pada ketentuan pengadaan barang dan Pengadaan KAP yang bekerja untuk dan atas nama BPK jasa yang berlaku. Peran PSP menentukan objek dan/atau entitas pemeriksaan yang akan diperiksa oleh KAP yang bekerja untuk dan atas nama BPK. PSMK dan Biro Keuangan. mengusulkan pemanfaatan KAP sebagai bagian dari RKP kepada Dit. Pihak-Pihak Terkait 67 Pemeriksaan melalui pemanfaatan KAP yang bekerja Pihak-pihak terkait untuk dan atas nama BPK melibatkan PSP. Pengelolaan database KAP dijelaskan lebih lanjut dalam pedoman terkait.

73 PPBJ memiliki peran melaksanaKON SE Pkan proses pengadaan Peran Biro Keuangan Peran PPBJ barang dan jasa sesuai ketentuan yang berlaku.4. Penanggung Jawab . 3. 74 KAP memiliki peran melakukan pemeriksaan sesuai Peran KAP dengan standar dan pedoman pemeriksaan yang berlaku di BPK. 72 Biro Keuangan memiliki peran menetapkan anggaran/biaya pemeriksaan atas pemanfaatan KAP. 76 Dalam susunan organisasi pemeriksaan KAP yang bekerja untuk dan atas nama BPK. Melaksanakan penjaminan mutu atas pekerjaan KAP. dan IV PMP. 69 PFP memiliki peran untuk melaksanakan penugasan Peran PFP sesuai perannya dalam surat tugas pemeriksaan. Organisasi Tim Pemeriksa 75 Susunan organisasi pemeriksaan dengan memanfaatkan KAP yang bekerja untuk dan atas nama BPK terdiri dari Susunan organisasi tim pemeriksa PTP. 70 Direktorat EPP memiliki peran menyediakan data KAP terdaftar di BPK dan melakukan pemantauan atas KAP Peran Direktorat EPP yang terdaftar di BPK. Penanggung Jawab diperankan oleh Pengendali Mutu yang berasal dari BPK. 71 Direktorat PSMK memiliki peran melakukan pembahasan dengan PSP dan Biro Keuangan terkait anggaran atau Peran Direktorat PSMK biaya pemeriksaan KAP. dan PSP dengan tugas dan tanggung jawab masing-masing seperti yang telah dijelaskan dalam Bab I. II. PFP. III.

Ketua Tim. b. dan Anggota Tim diperankan oleh auditor KAP) tidak memadai. Hasil review dapat memperluas. 4. Pelaksanaan Pemeriksaan 78 Pelaksanaan pemeriksaan dan pengendalian mutu dilakukan sesuai dengan Bab III dan pedoman terkait. Mekanisme pelaksanaan pemeriksaan oleh KAP . Pengendali Mutu BPK dapat menugaskan PFP untuk mebantu tim pemeriksa KAP.Jika BPK memandang pemeriksaan yang dilakukan oleh tim pemeriksa KAP (Pengendali Teknis. Pelaporan Pemeriksaan 79 Konsep LHP dan KKP wajib diserahkan oleh Tim Pemeriksa secara berjenjang kepada penanggung jawab setelah pekerjaan lapangan diselesaikan. Perencanaan Pemeriksaan 77 Perencanaan pemeriksaan oleh KAP yang bekerja untuk dan atas nama BPK secara umum mengikuti ketentuan pada PMP. kecuali: Mekanisme perencanaan pemeriksaan oleh KAP (a) Penyusunan surat tugas pemeriksaan dilakukan oleh AKN/Perwakilan terkait. menambah atau mengurangi dalam prosedur program pemeriksaan. Mekanisme Pemeriksaan Untuk Dan Atas Nama BPK Oleh KAP a. (b) Program Pemeriksaan dapat disusun oleh KAP dengan mendapatkan review dan persetujuan dari penanggung jawab KONsSE P ecara berjenjang. c. dan dinyatakan diterima BPK.

berdasarkan LHP Final tersebut. 83 Pemenuhan tanggung jawab KAP sebagai penyedia jasa pemeriksaan dilakukan dengan menyerahkan hasil pemeriksaan termasuk KKP berdasarkan Tanggung jawab KAP terkait LHP dalam hal terdapat implikasi hukum Tanggung jawab KAP dalam hal pemenuhan kontrak kerja dengan BPK kontrak yang telah disepakati. Sebelum serah terima KKP. Serah terima KKP dilengkapi dengan BAST yang menyatakan bahwa kertas kerja pemeriksaan telah direviu. Pemeriksa (KAP) dapat diminta sebagai saksi atau KON SE P keterangan ahli dalam proses peradilan. Permintaan Penjelasan dalam hal Penentuan Opini BPK dapat meminta penjelasan kepada KAP untuk dapat memberikan keyakinan yang memadai atas konsep LHP. d. PTP menandatangani surat keluar. Dalam rangka penentuan opini hasil pemeriksaan. Evaluasi atas Pemanfaatan KAP 84 Evaluasi terhadap pemeriksaan KAP yang bekerja untuk dan atas nama BPK adalah proses penilaian Evaluasi KAP atas kinerja pemeriksaan dan . Selanjutnya.80 Pelaporan pemeriksaan dan pengendalian mutu dilakukan sesuai dengan Bab IV. 81 BPK berwenang untuk menyatakan pendapat dan menandatangai Laporan Auditor Independen Penandatanganan LHP dan Surat Keluar beserta LHP atas pemeriksaan yang dilakukan oleh KAP untuk dan atas nama BPK. 82 Jika terdapat implikasi hukum atas LHP tersebut. penanggung jawab pemeriksaan lambatnya mereviu sepuluh KKP hari tersebut sejak selambat- surat keluar diterbitkan.

atas aspek kinerja pemeriksaan serta kinerja KAP. Eval uasi atas kiner ja pem eriks aan bert ujua n untu k meli hat kese suai an pela ksan aan pem eriks aan den gan stan dar sert a pera ngka t luna .

Evaluasi kinerja KAP yang bekerja untuk dan atas nama BPK dilakukan oleh Itama. Sedangkan evaluasi atas kinerja KAP dimaksudkan untuk melihat seberapa jauh tingkat kesesuaian pelaksanaan pekerjaan dengan kontrak yang telah disepakati. EPP dalam melakukan evaluasi/reviu atas database KAP terdaftar di BPK. KON SE P Hasil evaluasi kinerja pemeriksaan KAP dalam bentuk laporan hasil evaluasi pemanfaatan KAP disampaikan kepada Dit. Hasil evaluasi disampaikan kepada Dit. EPP terkait sebagai bahan pemutakhiran database dan referensi penggunaan KAP.k lainnya yang ada di BPK serta kesesuaian kinerja KAP pelaksanaan pemeriksaan dengan tujuan dan atau harapan penugasan. EPP untuk menjadi bahan pertimbangan bagi Dit. 85 Evaluasi kinerja pemeriksaan KAP yang bekerja untuk dan atas nama BPK dilakukan pada semua tahap pemeriksaan yang dilakukan oleh AKN/Perwakilan yang menggunakan KAP tersebut dengan membentuk tim evaluasi. Pihak yang melakukan evaluasi .

III. Tenaga ahli internal BPK berperan untuk memberikan konsultasi atau pendapat yang bersifat tidak mengikat atas proses eksternal pemeriksaan. Penggunaan Tenaga Ahli 1. tenaga ahli dapat digunakan dalam pemeriksaan keuangan. pemeriksaan kinerja maupun pemeriksaan dengan tujuan tertentu seperti yang dinyatakan dalam Peraturan BPK No. Tenaga ahli digunakan untuk membantu kegiatan pemeriksaan yang membutuhkan penilaian terhadap halhal khusus yang membutuhkan tenaga profesional/keahlian dibidang tertentu.E. KON SE P 87 Tenaga ahli dapat berasal dari dalam lingkungan BPK Sumber Tenaga Ahli (internal) maupun dari luar lingkungan BPK (eksternal). Pemanfaatan tenaga ahli pada proses pemeriksaan . 1 Tahun 2008 tentang Tenaga Ahli Pasal 6 huruf (c). dan IV berdasarkan keahliannya. 88 Penentuan pemanfaatan tenaga ahli dapat dilakukan pada tahap perencanaan pemeriksaan dan pelaksanaan pemeriksaan. Sesuai dengan kondisi dan kebutuhan. Tenaga ahli eksternal diposisikan di dalam Tim Pemeriksa dan melakukan tahapan pemeriksaan sesuai dengan Bab II. yang ditunjuk Sedangkan BPK harus tenaga ahli memenuhi persyaratan keahliannya sesuai dengan SPKN. Pendahuluan 86 Tenaga Ahli adalah orang yang memiliki keahlian tertentu yang diperlukan dalam suatu pemeriksaan sesuai dengan Definisi Tenaga Ahli persyaratan dan kebutuhan BPK.

mematuhi kode etik. melakukan pemeriksaan sesuai dengan Standar Pemeriksaan. e. Pihak-Pihak Terkait 91 Penggunaan tenaga ahli dari luar BPK melibatkan AKN. c. Memberikan feedback atas kinerja pekerjaan tenaga ahli kepada Unit Kerja Manajemen Pemeriksaan. mematuhi peraturan perundang-undangan yang menjadi dasar penugasannya.89 Pemeriksa dan/atau tenaga ahli dari luar BPK yang melaksanakan tugas pemeriksaan keuangan negara Kewajiban Tenaga Ahli wajib: a. . 2. Mengevaluasi apakah prosedur yang dilaksanakan oleh tenaga ahli akan memenuhi hasil yang diinginkan oleh pemeriksa. d. dan b. n. dan c. b. Menjelaskan hasil yang diharapkan dari tenaga ahli. dan Biro Keuangan. Unit Kerja Manajemen PemeriksaKON SaE P 92 PFP memiliki peran: Peran PFP a. 90 Pemeriksa dan/atau tenaga ahli dari luar BPK wajib menyampaikan seluruh hasil pekerjaannya kepada BPK Kepemilikan Hasil Pemeriksaan Tenaga Ahli untuk direviu dan sepenuhnya menjadi hak milik BPK. Mengidentifikasi keahlian khusus dari tenaga ahli yang diperlukan dalam melaksanakan pemeriksaan. Mengevaluasi hasil prosedur yang dilaksanakan oleh tenaga ahli dalam Pihak-pihak terkait kaitannya dengan prosedur pemeriksaan yang telah direncanakan.

Tenaga Ahli eksternal menjadi bagian dari Tim Pemeriksaan dan melaksanakan kegiatan perencanaan pemeriksaan dengan menyusun PKP sesuai dengan lingkup keahliannya. 94 Tenaga ahli internal memiliki peran memberikan konsultasi atau pendapat tertulis dalam bentuk laporan Peran tenaga ahli internal hasil evaluasi. Mekanisme Penggunaan Tenaga Ahli a. 95 Tenaga ahli eksternal pemeriksaan sebagai memiliki anggota peran tim melakukan sesuai dengan Peran tenaga ahli eksternal tahapan pemeriksaan. 98 Untuk kebutuhan tenaga ahli eksternal yang sudah diidentifikasikan pada saat perencanaan pemeriksaan. 96 Biro Keuangan memiliki peran mengelola penggunaan anggaran untuk pemanfaatan tenaga ahli.93 Unit Kerja Manajemen Pemeriksaan memiliki peran mengelola daftar tenaga ahli dan kompetensinya dalam Peran Unit Kerja Manajemen Pemeriksaan sebuah database sebagai bahan pertimbangan dalam pemilihan tenaga ahli yang diperlukan. Tenaga Ahli pada tahap perencanaan pemeriksaan . 97 Perencanaan Pemeriksaan KON SE P Dalam menyusun perencanaan pemeriksaan. Peran Biro Keuangan 3. tim pemeriksa perlu mempertimbangkan kemungkinan penggunaan tenaga ahli dalam Pertimbangan Penggunaan Tenaga Ahli kegiatan pemeriksaannya.

Persetujuan penggunaan tenaga ahli pada saat pelaksanaan pemeriksaan Mekanisme kerja tenaga ahli pada tahap pelaporan pemeriksaan Pendapat dan Konsultasi Hukum 1. F. 99 Pelaksanaan Pemeriksaan Apabila tenaga ahli merupakan bagian dari tim pemeriksaan maka prosedur pelaksanaan Mekanisme kerja tenaga ahli pemeriksaannya sesuai dengan bab III dalam PMP. 100 PFP yang mengidentifikasi kebutuhan tenaga ahli pada tahap pelaksanaan pemeriksaan perlu mengkomunikasikannya secara berjenjang kepada Identifikasi kebutuhan tenaga ahli pada saat pelaksanaan pemeriksaan PSP mengenai alasan dibutuhkannya keahlian tertentu dalam pemeriksaan tersebut. c. 101 PSP menyetujui penggunaan tenaga ahli dengan memperhatikan ketersediaan anggaran. 103 Mekanisme kerja tenaga ahli pada tahap pelaksanaan pemeriksaan Pelaporan Pemeriksaan Mekanisme pelaporan pemeriksaan dilakukan sesuai dengan Bab IV. Pendahuluan 104 Pendapat hukum adalah pendapat yang disampaikan secara tertulis atas permasalahan hukum terkait hasil pemeriksaan yang mengandung unsur pidana.b. 102 Tenaga ahli melakukan tahapan pelaksanaan pemeriksaan berdasarkan keahlian dan kompetensi KON SE P khusunya sesuai dengan Bab III. Definisi Pendapat Hukum .

105 Konsultasi hukum adalah pendapat atau penjelasan terkait hukum yang tidak terbatas pada bidang Definisi Konsultasi Hukum pemeriksaan diberikan secara lisan dan/atau tertulis dan bersifat tidak mengikat. 110 Ditama pendapat berkaitan Binbangkum hukum dengan memiliki atas peran permasalahan memberikan hukum yang pelaksanaan pemeriksaan yang diminta oleh Unit Pemeriksaan Investigatif. 109 Perwakilan memiliki peran menyampaikan temuan Peran Perwakilan pemeriksaan yang mengandung unsur pidana kepada Tortama Unit Pemeriksaan Investigatif melalui Tortama Keuangan Negara terkait. 108 Unit Pemeriksaan Investigatif memiliki peran: Peran AKN VIII a. dan Ditama Binbangkum. Menyampaikan hasil predikasi awal atas temuan pemeriksaan yang mengandung unsur pidana kepada Ditama Binbangkum untuk dimintakan pendapat hukum. Melakukan predikasi awal atas temuan pemeriksaan yang mengandung unsur pidana yang diterima dari KON SE P AKN I-VII. 2. Peran Ditama Binbangkum dalam Pendapat Hukum . Pihak-Pihak Terkait 106 Proses pemberian pendapat hukum melibatkan AKN/Perwakilan. b. 107 AKN I-VII memiliki peran menyampaikan temuan Pihak-Pihak Terkait dalam Pendapat Hukum Peran AKN I-VII pemeriksaan yang mengandung unsur pidana kepada Tortama Unit Pemeriksaan Investigatif.

113 Ditama Binbangkum/Subbag Hukum berperan memberikan konsultasi hukum kepada PSP dan PFP. 114 Pendapat Hukum Unit Pemeriksaan Investigatif melakukan predikasi Predikasi Awal awal atas hasil pemeriksaan yang mengandung unsur pidana yang telah disampaikan oleh AKN I-VII.N SE P 115 Hasil predikasi awal disampaikan oleh Tortama Keuangan Negara VIII secara tertulis kepada Penyampaian Predikasi Awal Kaditama Binbangkum disertai dokumen pendukung. 116 Dalam hal dokumen pendukung kurang memadai. Ditama Binbangkum/Subbag Hukum. Manajemen Pendapat dan Konsultasi Hukum a. Pihak-Pihak Terkait dalam Konsultasi Hukum Peran PSP dan PFP Peran Ditama Binbangkum dalam Konsultasi Hukum 3. 118 Direktorat Litbang Kaditama Binbangkum menyampaikan pendapat Badan Pemeriksa Keuangan Penyampaian Pendapat Hukum 200 200 . Ditama Binbangkum dapat meminta pendapat ahli/narasumber atas hasil Penggunaan Ahli/Narasumber pemeriksaan yang dimintakan pendapat hukumnya. Predikasi awal akan menentukan apakah dilakukan permintaan pendapat hukumKO. Ditama Binbangkum dapat meminta dokumen Dokumen Pendukung Kurang Memadai tambahan kepada Tortama Keuangan Negara VIII dan/atau pemaparan oleh tim pemeriksa terkait untuk keperluan analisis. PSP.111 Proses pemberian konsultasi hukum melibatkan PFP. 112 PSP dan PFP berperan menyampaikan permintaan konsultasi hukum kepada Ditama Binbangkum. 117 Dalam melakukan analisis.

120 Mekanisme permintaan dan penyusunan pendapat hukum atas hasil pemeriksaan secara terinci Mekanisme Pendapat Hukum mengacu pada perangkat lunak terkait. 121 Konsultasi Hukum Permintaan konsultasi hukum dapat dilakukan oleh PSP dan PFP kepada Ditama Binbangkum/Subbag Hal Yang Dapat Dimintakan Pendapat Hukum Hukum yang terkait dengan pelaksanaan tugas KON SE P pemeriksaan maupun non-pemeriksaan. Mekanisme Konsultasi Hukum . b. Permintaan konsultasi hukum terkait pemeriksaan dapat dilakukan pada semua tahapan pemeriksaan (perencanaan. 124 Mekanisme permintaan dan penyusunan konsultasi hukum secara terinci mengacu pada perangkat lunak terkait. 123 konsultasi hukum kepada PSP dan PFP secara lisan dan/atau tertulis sesuai permintaan. pelaporan). 122 Permintaan konsultasi hukum dapat dilakukan Bentuk Permintaan Konsultasi Hukum Ditama Binbangkum/Subbag Hukum menyampaikan Penyampaian Konsultasi Hukum secara lisan dan/atau tertulis. Tindaklanjut Pendapat Hukum Tortama Keuangan Negara VIII menyampaikannya kepada Badan untuk ditindaklanjuti sesuai ketentuan yang berlaku. 119 Pendapat hukum harus didokumentasikan sebagai bentuk dukungan pelaksanaan pemeriksaan.hukum kepada Tortama Keuangan Negara VIII secara tertulis. pelaksanaan.

Oleh karena itu. standar pemeriksaan dan/atau kondisi lain. termasuk menampung dan menyelesaikan masalah yang timbul serta melakukan penyempurnaan yang diperlukan kebutuhan. Ditama bertugas Revbang dhi.Pedoman Manajemen Pemeriksaan Bab IV Pelaporan BAB VI PENUTUP 01 PMP ini diharapkan dapat digunakan sebagai acuan bagi BPK dan pemeriksaan pelaksananya pengelolaan dalam dan menjalankan tanggung jawab PMP sebagai pedoman dalam meningkatkan kualitas pemeriksaan keuangan negara yang meliputi tahap perencanaan pemeriksaan. pelaksanaan pemeriksaan. maka pedoman ini perlu senantiasa dievaluasi. KON SE P perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi terapan di bidang pemeriksaan. melaksanakan perkembangan implementasi Direktorat Litbang pemantauan proses atas pemeriksaan. dan pelaporan pemeriksaan yang dilengkapi dengan SMM dan alur dokumentasi yang komprehensif dalam menghasilkan kualitas pemeriksaan yang sesuai dengan standar. sesuai dengan perkembangan dan Tugas dan Fungsi Ditama Revbang . serta perkembangan peraturan perundang-undangan di bidang keuangan negara. 03 PMP merupakan dokumen yang dapat berubah sesuai dengan perubahan peraturan perundang-undangan. dengan perubahan PMP sebagai living document atau kondisi. 02 Agar buku pedoman ini dapat dimanfaatkan sesuai dengan tujuan dan fungsinya. dimutakhirkan sesuai disempurnakan.

At cost : Pertanggungjawaban pengeluaran biaya pelaksanaan sesuai dengan biaya yang sesungguhnya berdasarkan bukti pengeluaran yang ada. Satuan yang berwujud. Wakil Ketua dan Anggota BPK RI. D KON SE P DEP : Database Entitas Pemeriksaan. 2. merupakan kumpulan data terkait entitas yang menjadi objek pemeriksaan yang sebelumnya dikenal sebagai Dosir Induk Wilayah (DIW).Pedoman Manajemen Pemeriksaan Glosarium GLOSARIUM A AKN Koordinator : Tortama AKN yang ditunjuk sebagai koordinator pemeriksaan lintas AKN sesuai dengan kebijakan dan (Leader) strategi (tema) pemeriksaan yang ditetapkan oleh Badan. Kesatuan unit. : Produk dari pelaksanaan tugas pemeriksaan yang terdiri dari KKP LHP dan dokumen pemeriksaan lainnya. B Badan : Sebutan untuk BPK RI atau juga sebagai pemberi tugas pemeriksaan. E Entitas : 1. Akurat : Ketepatan bukti yang digunakan dalam pemeriksaan. wujud. H Harapan : penugasan Hasil Pemeriksaan Direktorat Litbang Keinginan dari yang memberi tugas atau Badan terhadap pelaksanaan tugas pemeriksaan. Badan Pemeriksa Keuangan 2 0 . Badan terdiri dari Ketua.

6 tahun 1998 tentang Koordinasi Kegiatan Instansi Vertikal di Daerah).I Instansi : Perangkat dari Departemen atau Lembaga Pemerintah Non Vertikal Departemen yang mempunyai lingkungan kerja di wilayah yang bersangkutan (PP No. IHPS : Ikhtisar Hasil Pemeriksaan Semesteran. KKP : Kertas Kerja Pemeriksaan. catatan-catatan yang dibuat dan data yang dikumpulkan oleh auditor secara sistematis pada saat melaksakan tugas pemeriksaan mulai tahap persiapan pemeriksaan sampai dengan tahap kesimpulan pembuatan laporan. hasil pemantauan pelaksanaan tindak lanjut hasil pemeriksaan. Kerugian : Berkurangnya kekayaan Negara/daerah yang disebabkan Negara/Daerah oleh suatu tindaKONkSE P an yang melanggar hukum/kelalaian seseorang. penyelesaian pengenaan dan hasil pemantauan ganti kerugian negara/daerah dalam satu semester. Ketua Tim : Personil pemeriksa yang bertindak sebagai koordinator pemeriksaan di lapangan dan bertanggung jawab kepada pengendali teknis atas pelaksanaan pemeriksaan di lapangan. dokumen yang disusun yang memuat ringkasan mengenai hasil pemeriksaan yang signifikan. akhir . Kompeten : Kemampuan yang cukup untuk melakukan tugas yang diberikan. K Keadaan kahar : Keadaan di luar kemampuan atau kekuasaan manusia.

: Penugasan pemeriksaan tambahan yang dilakukan atas permintaan Badan atau pihak lain. P Pejabat : Pelaksana fungsional pemeriksaan yang memperoleh fungsional penugasan dari PTP yang bertanggung jawab melaksanakan pemeriksaan kegiatan fungsi pem eriksaan. O Objek : Entitas/instansi/satuan kerja/kegiatan yang menjadi sasaran Pemeriksaan On Call pemeriksaan. Pejabat KON SE P : Pejabat pelaksana unit pemeriksa yang memperoleh kuasa struktural dari PTP untuk mengelola sumber daya pemeriksaan dan pemeriksaan menjamin mutu pemeriksaan sesuai dengan lingkup wilayah kerja pemeriksaannya. Wakil Ketua. Badan Pemeriksa Keuangan vii . seperti penghitungan dan nilai.M Matematis : Hal-hal yang berkaitan dengan angka. P Pemberi tugas : Badan yang terdiri dari Ketua. serta menyerahkan laporan hasil pemeriksaan dan surat keluar kepada lembaga perwakilan dan entitas yang diperiksa. dan Anggota atau pemeriksaan pejabat yang diberikan penugasan secara tertulis oleh Badan yang bertanggung jawab memberikan arah dan penugasan pemeriksaan kepada PSP dan PFP. Penanggung Jawab Direktorat Litbang : Personil pemeriksa yang bertanggung jawab atas pemeriksaan dan yang menandatangani LHP. Opini : Pendapat yang dikeluarkan pemeriksa terhadap laporan keuangan entitas yang diperiksa.

Pengendali : Teknis Supervisor. yaitu personil pemeriksa yang bertugas menjaga secara teknis hasil pemeriksaan yang dilakukan tim pemeriksa dan bertanggung jawab kepada penanggung jawab pemeriksaan. PKP : Program Kerja Perorangan. Pedoman yang dipergunakan sebagai dasar dalam menjalankan suatu proses dan/atau kegiatan Pertemuan : awal Komunikasi sebelum dilaksanakannya pemeriksaan di lapangan antara pimpinan entitas yang diperiksa dengan tim pemeriksa Pertemuan : akhir Komunikasi antara pimpinan dengan tim pemeriksa entitas setelah yang diperiksa dilaksanakannya pemeriksaan di lapangan yang biasanya diserahkan pula TP dalam pertemuan ini. (Stakeholders) Perangkat : lunak Petunjuk tertulis ya n g dapat berupa antara lain juklak. Pedoman Manajemen Pemeriksaan (PMP) dan Standar Pemerolehan Keyakinan Mutu (SPKM). Pemilik : Kepentingan Seseorang/perwakilan yang memiliki hak untuk menentukan masa depan entitas atau lembaga yang dimiliki. Direktorat Litbang Badan Pemeriksa Keuangan 20 6 . merupakan alokasi kegiatan pemeriksaan yang akan dilaksanakan berdasarkan Program Pemeriksaan. POS.P Pengendali : mutu Personil pemeriksa yang bertanggung jawab menyetujui dan menandatangani Laporan Hasil Pemeriksaan (LHP) dan menjamin mutu pelaksanaan pemeriksaan agar sesuai dengan Standar Pemeriksaan Keuangan Negara (SPKN). KO N SE P juknis.

dalam standar pelaksanaan pemeriksaan keuangan negara. KON SE P S SPKN : Standar Pemeriksaan pemeriksaan yang Keuangan menjadi acuan Negara. dokumen yang memuat rencana pemeriksaan yang meliputi urutan pengelompokan tema pemeriksaan. RKP : Rencana Kerja Pemeriksaan. Tahap kegiatan untuk menyelesaikan suatu aktivitas. R Rencana Aksi : Merupakan aksi yang akan dilaksanakan oleh entitas yang diperiksa berdasarkan rekomendasi BPK yang termuat dalam LHP. Ukuran tertentu yang dipakai sebagai patokan atau ukuran baku. waktu. Standar : 1. Surat keluar : Surat pengantar LHP yang akan disampaikan kepada perwakilan.P Prosedur : 1. Sesuatu yang dianggap tetap nilainya sehingga dapat dipakai sebagai ukuran nilai (harga). kebutuhan pemeriksa. oleh tim pemeriksa. entitas yang diperiksa dan pihak lain yang menerima LHP. 2. Langkah langkah yang secara pasti dalam memecahkan suatu masalah. 2. Program : Langkah pemeriksaan di lapangan yang harus di laksanakan Pemeriksaan. . dan infrastruktur lainnya. anggaran.

T Temuan : pemeriksaan Tim Pemeriksa Indikasi permasalahan yang ditemui di dalam pemeriksaan di lapangan. Surat tugas : Surat penugasan kepada pemeriksa untuk melakukan kegiatan pemeriksaan pada suatu entitas dan dalam waktu tertentu. : Terdiri dari penanggung jawab. pengendali teknis. KON SE P .S Surat Perintah Perencanaan Pemeriksaan : Surat perintah yang dikeluarkan untuk membentuk tim persiapan pemeriksaan yang untuk kebutuhan bertugas menyusun P2 intern dalam rangka mempersiapkan program pemeriksaan. ketua tim dan anggota tim.

31 Jakarta Pusat 10210 Telp.bpk.id . (021) 5705372 www.BADAN PEMERIKSA KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA Jalan Gatot Subroto No.go.