Menggugat Sekretariat Gabungan

Selasa, 18 Mei 2010 | 04:48 WIB

Meskipun dikatakan pembentukan sekretariat gabungan adalah upaya menurunkan suhu politik Indonesia agar menjadi sejuk, menjamin stabilitas politik, dan menciptakan pemerintahan yang efektif, kesan bahwa lembaga tersebut diciptakan sebagai produk tawarmenawar politik tidak dapat dimungkiri. Bahkan persepsi publik menganggap terbentuknya lembaga tersebut adalah simbol kemenangan Partai Golkar, khususnya Aburizal Bakrie, terhadap pemerintahan Susilo Bambang YudhoyonoBoediono. Walaupun Panitia Khusus Bank Century gagal mengungkapkan dugaan aliran dana talangan kepada partai politik tertentu atau tim sukses calon presiden dan wakil presiden, mereka telah berhasil menggusur Sri Mulyani dari posisi menteri keuangan. Oleh karena itu, tidak mengherankan berbagai kalangan mempunyai anggapan sasaran Partai Golkar dalam kasus Bank Century sejak awal sudah sangat spesifik dan personal. Tidak terlalu sulit menelisik terbentuknya sekretariat gabungan merupakan salah satu

produk tawar-menawar politik dan urusan personal yang berujung pada upaya Ketua Umum Partai Golkar menyingkirkan Sri Mulyani. Dalam dua tahun terakhir perlawanan Sri Mulyani yang dianggap mengganggu kepentingan Aburizal Bakrie sangat mudah diingat. Pertama, Sri Mulyani tidak setuju pemerintah mengambil tanggung jawab meluapnya lumpur Lapindo karena kasus itu merupakan tanggung jawab PT Lapindo Brantas, perusahaan milik keluarga Bakrie. Komprominya terbit Peraturan Presiden Nomor 14 Tahun 2007 jo Peraturan Presiden Nomor 48 Tahun 2008 yang membatasi PT Lapindo Brantas hanya bertanggung jawab hingga peta terdampak 2007 (Maret 2007). Kedua, tindakan tegas Menteri Keuangan terhadap dugaan tunggakan pajak royalti batu bara perusahaan Grup Bakrie yang diikuti dengan pencekalan beberapa petinggi perusahaan tersebut (Agustus 2008). Ketiga, Menteri Keuangan menolak pencabutan suspensi saham PT Bumi Resources, PT Bakrie Land,

PT Bakrie Sumatera, Bakrie Telepon, dan PT Bakrie Energi Mega. Bahkan Menteri Keuangan membuka kembali perdagangan saham Grup Bakrie yang harganya merosot karena tidak mau disandera suspensi tanpa batas waktu yang jelas (November 2009). Keempat, Menteri Keuangan mencegah Bakrie Multicapital menguasai divestasi 14 persen saham Newmont Nusa Tenggara karena Sri Mulyani menghendaki semua saham divestasi Newmont Nusa Tenggara dibeli konsorsium perusahaan negara di bawah PT Aneka Tambang. Namun, perusahaan Grup Bakrie berhasil menguasai divestasi saham PT Newmont Nusa Tenggara 14 persen (Agustus 2009). Ongkos politik Oleh sebab itu, dapat dipahami kalau masyarakat sangat meragukan sekretariat gabungan mampu menciptakan pemerintahan yang efektif. Bahkan, sebaliknya, masyarakat justru sangat khawatir lembaga tersebut hanya menjadi media untuk saling mengamankan

kepentingan politik partai dan tokoh-tokohnya. Atau pemerintah justru semakin rapuh karena Partai Golkar yang dalam Pemilu Presiden 2009 menjadi lawan parpol pendukung YudhoyonoBoediono sekarang mendapatkan privilese politik yang menentukan. Hal itu sangat mudah menjadi pemicu konflik di antara partai politik yang tergabung dalam koalisi. Dalam perspektif pemerintah, sekretariat gabungan merupakan ongkos politik yang harus dibayar agar pemerintahan YudhoyonoBoediono bebas dari gangguan politik yang dilakukan oleh partai teman koalisinya, terutama Partai Golkar, serta untuk menangkal manuver-manuver politik yang dianggap mengancam kelangsungan pemerintahan Yudhoyono-

Boediono. Misalnya, gerakan anggota DPR menggalang kekuatan untuk mempergunakan hak menyatakan pendapat pasca-Pansus Bank Century. Oleh sebab itu, alih-alih menciptakan pemerintah yang efektif, sekretariat gabungan dikhawatirkan justru akan semakin menyandera pemerintahan Yudhoyono-Boediono. Lebih-lebih kalau kewenangan sekretariat gabungan dapat memanggil para menteri dengan alasan melakukan konsolidasi kebijakan. Kewenangan tersebut, selain merusak tatanan kehidupan kenegaraan, tetapi yang lebih dikhawatirkan, forum tersebut hanya akan menjadi arena adu siasat dan transaksi kepentingan partai-partai politik. Namun, yang tidak kalah seriusnya, proses politik

yang sarat kepentingan subyektif dan jangka pendek tersebut telah membajak dan bahkan dapat menghancurkan demokrasi. Oleh sebab itu, gagasan sementara kalangan yang bermaksud menggalang kekuatan tandingan untuk meluruskan proses politik agar tidak semakin menyimpang dari kaidah demokrasi harus mendapatkan dukungan. Selain itu, untuk menghilangkan kecurigaan bahwa pembentukan sekretariat gabungan bukan sekadar transaksi politik, pemerintah harus menuntaskan pengusutan dugaan tunggakan pajak Aburizal Bakrie, serta penyelesaian kasus lumpur Lapindo, agar tidak terlalu membebani Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara. J Kristiadi Peneliti Senior CSIS

Sumber: Kompas, 18 Mei 2010 http://www.warsidi.com

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful