You are on page 1of 35

BAB I

PENDAHULUAN
A.Latar Belakang
Anemia adalah salah satu penyakit yang sering diderita masyarakat, baik anakanak, remaja usia subur, ibu hamil ataupun orang tua. Penyebabnya sangat
beragam, dari yang karena perdarahan, kekurangan zat besi, asam folat, vitamin
B12, sampai kelainan hemolitik. Anemia dapat diketahui dengan pemeriksaan fisik
maupun dengan pemeriksaan laboratorium. Secara fisik penderita tampak pucat,
lemah, dan secara laboratorik didapatkan penurunan kadar Hemoglobin (Hb) dalam
darah dari harga normal.
B.Tujuan
1.
Tujuan Umum Mahasiswa mampu memahami asuhan keperawatan pada
pasien dengan anemia
2.

Tujuan Khusus

a.

Mahasiswa mampu mengetahui pengertian anemia.

b.

Mahasiswa mampu menyebutkan penyebab anemia.

c.
Mahasiswa mampu mengetahui diagnosa-diagnosa yang mungkin muncul
pada pasien anemia.
d.

Mahasiswa mampu memahami penatalaksanaan pada pasien dengan anemia.

BAB II
PERMASALAHAN
Dalam makalah ini kami akan membahas tentang apa itu anemia, definisi, etiologi,
patofisiologi, manifestasi klinis, pemeriksaan diagnostik, penatalaksanaan, dan
bagaimana asuhan keperawatan pada penyakit anemia.

BAB III
PEMBAHAS
A.Pengertian
Anemia adalah gejala dari kondisi yang mendasari, seperti kehilangan komponen
darah, elemen tak adekuat atau kurangnya nutrisi yang dibutuhkan untuk
pembentukan sel darah merah, yang mengakibatkan penurunan kapasitas
pengangkut oksigen darah (Doenges, 1999).
Anemia adalah istilah yang menunjukan rendahnya hitungan sel darah merah dan
kadar hemoglobin dan hematokrit di bawah normal (Smeltzer, 2002 : 935).
Anemia adalah berkurangnya hingga di bawah nilai normal sel darah merah,
kualitas hemoglobin dan volume packed red bloods cells (hematokrit) per 100 ml
darah (Price, 2006 : 256).
Dengan demikian anemia bukan merupakan suatu diagnosis atau penyakit,
melainkan merupakan pencerminan keadaan suatu penyakit atau gangguan fungsi
tubuh dan perubahan patotisiologis yang mendasar yang diuraikan melalui
anemnesis yang seksama, pemeriksaan fisik dan informasi laboratorium.
B. Etiologi
Penyebab tersering dari anemia adalah kekurangan zat gizi yang diperlukan untuk
sintesis eritrosit, antara lain besi, vitamin B12 dan asam folat. Selebihnya
merupakan akibat dari beragam kondisi seperti perdarahan, kelainan genetik,
penyakit kronik, keracunan obat, dan sebagainya.
Perdarahan hebat
Akut (mendadak)
Kecelakaan
Pembedahan
Persalinan
Pecah pembuluh darah
Penyakit Kronik (menahun)
Perdarahan hidung
Wasir (hemoroid)
Ulkus peptikum
Kanker atau polip di saluran pencernaan
Tumor ginjal atau kandung kemih
Perdarahan menstruasi yang sangat banyak

Berkurangnya pembentukan sel darah merah


Kekurangan zat besi
Kekurangan vitamin B12
Kekurangan asam folat
Kekurangan vitamin C
Penyakit kronik
Meningkatnya penghancuran sel darah merah
Pembesaran limpa
Kerusakan mekanik pada sel darah merah
Reaksi autoimun terhadap sel darah merah
Hemoglobinuria nokturnal paroksismal
Sferositosis herediter
Elliptositosis herediter
Kekurangan G6PD
Penyakit sel sabit
Penyakit hemoglobin C
Penyakit hemoglobin S-C
Penyakit hemoglobin E
Thalasemia (Burton, 1990).

C.

Klasifikasi anemia:

Klasifikasi berdasarkan pendekatan fisiologis:


1. Anemia hipoproliferatif, yaitu anemia defisiensi jumlah sel darah merah
disebabkan oleh defek produksi sel darah merah, meliputi:
a.

Anemia aplastik

Penyebab:
agen neoplastik/sitoplastik
terapi radiasi
antibiotic tertentu
obat antu konvulsan, tyroid, senyawa emas, fenilbutason

benzene
infeksi virus (khususnya hepatitis)

Gejala-gejala:

Gejala anemia secara umum (pucat, lemah, dll)

Defisiensi trombosit: ekimosis, petekia, epitaksis, perdarahan saluran cerna,


perdarahan saluran kemih, perdarahan susunan saraf pusat.

b.

Anemia pada penyakit ginjal

Penyebabnya adalah menurunnya ketahanan hidup sel darah merah maupun


defisiensi eritopoitin
Gejala-gejala:
Nitrogen urea darah (BUN) lebih dari 10 mg/dl
Hematokrit turun 20-30%
Sel darah merah tampak normal pada apusan darah tepi

c.

Anemia pada penyakit kronis

Berbagai penyakit inflamasi kronis yang berhubungan dengan anemia jenis


normositik normokromik (sel darah merah dengan ukuran dan warna yang normal).
Kelainan ini meliputi artristis rematoid, abses paru, osteomilitis, tuberkolosis dan
berbagai keganasan
d.

Anemia defisiensi besi

Penyebab:

Asupan besi tidak adekuat, kebutuhan meningkat selama hamil, menstruasi

Gangguan absorbsi (post gastrektomi)

Kehilangan darah yang menetap (neoplasma, polip, gastritis, varises


oesophagus, hemoroid, dll.)

Gejala-gejalanya:

Atropi papilla lidah

Lidah pucat, merah, meradang

Stomatitis angularis, sakit di sudut mulut

e.

Morfologi: anemia mikrositik hipokromik

Anemia megaloblastik

Penyebab:

Defisiensi defisiensi vitamin B12 dan defisiensi asam folat

Malnutrisi, malabsorbsi, penurunan intrinsik faktor (aneia rnis st gastrektomi)


infeksi parasit, penyakit usus dan keganasan, agen kemoterapeutik, infeksi cacing
pita, makan ikan segar yang terinfeksi, pecandu alkohol.

f.
Anemia hemolitika, yaitu anemia defisiensi jumlah sel darah merah
disebabkan oleh destruksi sel darah merah:

Pengaruh obat-obatan tertentu

Penyakit Hookin, limfosarkoma, mieloma multiple, leukemia limfositik kronik

Defisiensi glukosa 6 fosfat dihidrigenase

Proses autoimun

Reaksi transfusi

Malaria

Tanda dan Gejala

Lemah, letih, lesu dan lelah

Sering mengeluh pusing dan mata berkunang-kunang

Gejala lanjut berupa kelopak mata, bibir, lidah, kulit dan telapak tangan
menjadi pucat.
D.

Patofisiologi

Timbulnya anemia mencerminkan adanya kegagalan sum-sum tulang atau


kehilangan sel darah merah berlebihan atau keduanya. Kegagalan sum-sum tulang
dapt terjadi akibat kekurangan nutrisi, pajanan toksik, inuasi tumor, atau
kebanyakan akibat penyebab yang tidak diketahui. Sel darah merah dapat hilang
melalui perdarahan atau hemolisis (destruksi) pada kasus yang disebut terakhir,
masalah dapat akibat efek sel darah merah yang tidak sesuai dengan ketahanan sel
darah merah normal atau akibat beberapa factor diluar sel darah merah yang
menyebabkan destruksi sel darah merah.
Lisis sel darah merah (disolusi) terjadi terutama dalam system fagositik atau dalam
system retikuloendotelial terutama dalam hati dan limpa. Sebagai hasil samping
proses ini bilirubin yang sedang terbentuk dalam fagosit akan masuk dalam aliran
darah. Setiap kenaikan destruksi sel darah merah (hemolisis) segera direpleksikan

dengan meningkatkan bilirubin plasma (konsentrasi normalnya 1 mg/dl atau


kurang ; kadar 1,5 mg/dl mengakibatkan ikterik pada sclera.
Anemia merupakan penyakit kurang darah yang ditandai rendahnya kadar
hemoglobin (Hb) dan sel darah merah (eritrosit). Fungsi darah adalah membawa
makanan dan oksigen ke seluruh organ tubuh. Jika suplai ini kurang, maka asupan
oksigen pun akan kurang. Akibatnya dapat menghambat kerja organ-organ penting,
Salah satunya otak. Otak terdiri dari 2,5 miliar sel bioneuron. Jika kapasitasnya
kurang, maka otak akan seperti komputer yang memorinya lemah, Lambat
menangkap. Dan kalau sudah rusak, tidak bisa diperbaiki (Sjaifoellah, 1998).

E.

Manifestasi klinis

1.Keadaan umum:
Pucat , keletihan berat ,kelemahan ,nyeri kepala , demam ,dipsnea , vertigo ,
sensitive terhadap dingin , BB turun.
2. Kulit:

Pugat jaundice ( anemia hemolitik ) , kulit kering , kuku rapuh , klubbing


3. Mata:
Penglihatan kabur , jaundice sclera dan perdarahan retina
4. Telinga:
Vertigo , tinnitus
5. Mulut:
Mukosa licin dan mengkilat , stomatitis
6. Paru- paru:
Dipsneu dan orthopnea
7. Kardiovaskuler:
Takikardia , palpitasi ,mur mur , angina , hipotensi ,kardiomegali , gagal
jantung
8. Gastrointestinal:
Anoreksia dan menoragia,menurunya fertilisasi , hematuria ( pada anemia
hemolitik )

9. Muskuloskletal;
Nyeri pinggang , sendi dan tenderness sternal
10. System persyarafan:
Nyeri kepala , binggung , neurupatu perifer , parastesia , mental depresi , cemas
, kesulitan koping.
F.

Komplikasi

1.

Infeksi

2.

Gagal pernafasan

3.

Kardiovaskuler

4.

fungsi ginjal

5.

Gangguan fungsi hati.

Anemia juga menyebabkan daya tahan tubuh berkurang. Akibatnya, penderita


anemia akan mudah terkena infeksi. Gampang batuk-pilek, gampang flu, atau
gampang terkena infeksi saluran napas, jantung juga menjadi gampang lelah,
karena harus memompa darah lebih kuat. Pada kasus ibu hamil dengan anemia, jika
lambat ditangani dan berkelanjutan dapat menyebabkan kematian, dan berisiko

bagi janin. Selain bayi lahir dengan berat badan rendah, anemia bisa juga
mengganggu perkembangan organ-organ tubuh, termasuk otak (Sjaifoellah, 1998).

G.

Pemeriksaan penunjang

Pada pemeriksaan laboratorium ditemui :


1.

Jumlah Hb lebih rendah dari normal ( 12 14 g/dl )

2.

Kadar Ht menurun ( normal 37% - 41% )

3.

Peningkatan bilirubin total ( pada anemia hemolitik )

4.

Terlihat retikulositosis dan sferositosis pada apusan darah tepi

5.
Terdapat pansitopenia, sumsum tulang kosong diganti lemak ( pada anemia
aplastik )

Jumlah darah lengkap (JDL) : hemoglobin dan hemalokrit menurun.


Jumlah eritrosit : menurun (AP), menurun berat (aplastik); MCV (molume
korpuskular rerata) dan MCH (hemoglobin korpuskular rerata) menurun dan
mikrositik dengan eritrosit hipokronik (DB), peningkatan (AP). Pansitopenia
(aplastik).
Jumlah retikulosit : bervariasi, misal : menurun (AP), meningkat (respons sumsum
tulang terhadap kehilangan darah/hemolisis).

Pewarna sel darah merah : mendeteksi perubahan warna dan bentuk (dapat
mengindikasikan tipe khusus anemia).
LED : Peningkatan menunjukkan adanya reaksi inflamasi, misal : peningkatan
kerusakan sel darah merah : atau penyakit malignasi.

Masa hidup sel darah merah : berguna dalam membedakan diagnosa anemia,
misal : pada tipe anemia tertentu, sel darah merah mempunyai waktu hidup lebih
pendek.

Tes kerapuhan eritrosit : menurun (DB).

SDP : jumlah sel total sama dengan sel darah merah (diferensial) mungkin
meningkat (hemolitik) atau menurun (aplastik).

Jumlah trombosit : menurun caplastik; meningkat (DB); normal atau tinggi


(hemolitik)

Hemoglobin elektroforesis : mengidentifikasi tipe struktur hemoglobin.

Bilirubin serum (tak terkonjugasi): meningkat (AP, hemolitik).


Folat serum dan vitamin B12 membantu mendiagnosa anemia sehubungan dengan
defisiensi masukan/absorpsi

Besi serum : tak ada (DB); tinggi (hemolitik)

TBC serum : meningkat (DB)

Feritin serum : meningkat (DB)

Masa perdarahan : memanjang (aplastik)

LDH serum : menurun (DB)

Tes schilling : penurunan eksresi vitamin B12 urine (AP)

Guaiak : mungkin positif untuk darah pada urine, feses, dan isi gaster, menunjukkan
perdarahan akut / kronis (DB).
Analisa gaster : penurunan sekresi dengan peningkatan pH dan tak adanya asam
hidroklorik bebas (AP).

Aspirasi sumsum tulang/pemeriksaan/biopsi : sel mungkin tampak berubah dalam


jumlah, ukuran, dan bentuk, membentuk, membedakan tipe anemia, misal:
peningkatan megaloblas (AP), lemak sumsum dengan penurunan sel darah
(aplastik).

Pemeriksaan andoskopik dan radiografik : memeriksa sisi perdarahan : perdarahan


GI (Doenges, 1999).

H.

Penatalaksanaan Medis

Tindakan umum :
Penatalaksanaan anemia ditunjukan untuk mencari penyebab dan mengganti darah
yang hilang.
1. Transpalasi sel darah merah.
2. Antibiotik diberikan untuk mencegah infeksi.
3. Suplemen asam folat dapat merangsang pembentukan sel darah merah.
4. Menghindari situasi kekurangan oksigen atau aktivitas yang membutuhkan
oksigen
5. Obati penyebab perdarahan abnormal bila ada.
6. Diet kaya besi yang mengandung daging dan sayuran hijau.
Pengobatan (untuk pengobatan tergantung dari penyebabnya) :
1.

Anemia defisiensi besi

Penatalaksanaan :
Mengatur makanan yang mengandung zat besi, usahakan makanan yang diberikan
seperti ikan, daging, telur dan sayur.
Pemberian preparat fe
Perrosulfat 3x 200mg/hari/per oral sehabis makan
Peroglukonat 3x 200 mg/hari /oral sehabis makan.
2.

Anemia pernisiosa : pemberian vitamin B12

3.

Anemia asam folat : asam folat 5 mg/hari/oral

4.
Anemia karena perdarahan : mengatasi perdarahan dan syok dengan
pemberian cairan dan transfusi darah.
ASKEP TEORITIS
A.

Pengkajian

Pengkajian adalah langkah awal dan dasar dalam proses keperawatan secara
menyeluru(Boedihartono, 1994).
Pengkajian pasien dengan anemia (Doenges, 1999) meliputi :
1)

Aktivitas / istirahat

Gejala : keletihan, kelemahan, malaise umum. Kehilangan produktivitas ; penurunan


semangat untuk bekerja. Toleransi terhadap latihan rendah. Kebutuhan untuk tidur
dan istirahat lebih banyak.
Tanda : takikardia/ takipnae ; dispnea pada waktu bekerja atau istirahat. Letargi,
menarik diri, apatis, lesu, dan kurang tertarik pada sekitarnya. Kelemahan otot, dan
penurunan kekuatan. Ataksia, tubuh tidak tegak. Bahu menurun, postur lunglai,
berjalan lambat, dan tanda-tanda lain yang menunujukkan keletihan.
2)

Sirkulasi

Gejala : riwayat kehilangan darah kronik, misalnya perdarahan GI kronis, menstruasi


berat (DB), angina, CHF (akibat kerja jantung berlebihan). Riwayat endokarditis
infektif kronis. Palpitasi (takikardia kompensasi).
Tanda : TD : peningkatan sistolik dengan diastolik stabil dan tekanan nadi melebar,
hipotensi postural. Disritmia : abnormalitas EKG, depresi segmen ST dan
pendataran atau depresi gelombang T; takikardia. Bunyi jantung : murmur sistolik
(DB). Ekstremitas (warna) : pucat pada kulit dan membrane mukosa (konjuntiva,
mulut, faring, bibir) dan dasar kuku. (catatan: pada pasien kulit hitam, pucat dapat
tampak sebagai keabu-abuan). Kulit seperti berlilin, pucat (aplastik, AP) atau kuning
lemon terang (AP). Sklera : biru atau putih seperti mutiara (DB). Pengisian kapiler
melambat (penurunan aliran darah ke kapiler dan vasokontriksi kompensasi) kuku :
mudah patah, berbentuk seperti sendok (koilonikia) (DB). Rambut : kering, mudah
putus, menipis, tumbuh uban secara premature (AP).
3)

Integritas ego

Gejala : keyakinanan agama/budaya mempengaruhi pilihan pengobatan, misalnya


penolakan transfusi darah.
Tanda : depresi.
4)

Eleminasi

Gejala : riwayat pielonefritis, gagal ginjal. Flatulen, sindrom malabsorpsi (DB).


Hematemesis, feses dengan darah segar, melena. Diare atau konstipasi. Penurunan
haluaran urine.
Tanda : distensi abdomen.
5)

Makanan/cairan

Gejala : penurunan masukan diet, masukan diet protein hewani rendah/masukan


produk sereal tinggi (DB). Nyeri mulut atau lidah, kesulitan menelan (ulkus pada
faring). Mual/muntah, dyspepsia, anoreksia. Adanya penurunan berat badan. Tidak
pernah puas mengunyah atau peka terhadap es, kotoran, tepung jagung, cat, tanah
liat, dan sebagainya (DB).
Tanda : lidah tampak merah daging/halus (AP; defisiensi asam folat dan vitamin
B12). Membrane mukosa kering, pucat. Turgor kulit : buruk, kering, tampak

kisut/hilang elastisitas (DB). Stomatitis dan glositis (status defisiensi). Bibir : selitis,
misalnya inflamasi bibir dengan sudut mulut pecah. (DB).
6)

Neurosensori

Gejala : sakit kepala, berdenyut, pusing, vertigo, tinnitus, ketidak mampuan


berkonsentrasi. Insomnia, penurunan penglihatan, dan bayangan pada mata.
Kelemahan, keseimbangan buruk, kaki goyah ; parestesia tangan/kaki (AP) ;
klaudikasi. Sensasi manjadi dingin.
Tanda : peka rangsang, gelisah, depresi cenderung tidur, apatis. Mental : tak
mampu berespons, lambat dan dangkal. Oftalmik : hemoragis retina (aplastik, AP).
Epitaksis : perdarahan dari lubang-lubang (aplastik). Gangguan koordinasi, ataksia,
penurunan rasa getar, dan posisi, tanda Romberg positif, paralysis (AP).
7)

Nyeri/kenyamanan

Gejala : nyeri abdomen samara : sakit kepala (DB)


8)

Pernapasan

Gejala : riwayat TB, abses paru. Napas pendek pada istirahat dan aktivitas.
Tanda : takipnea, ortopnea, dan dispnea.
9)

Keamanan

Gejala : riwayat pekerjaan terpajan terhadap bahan kimia,. Riwayat terpajan pada
radiasi; baik terhadap pengobatan atau kecelekaan. Riwayat kanker, terapi kanker.
Tidak toleran terhadap dingin dan panas. Transfusi darah sebelumnya. Gangguan
penglihatan, penyembuhan luka buruk, sering infeksi.
Tanda : demam rendah, menggigil, berkeringat malam, limfadenopati umum. Ptekie
dan ekimosis (aplastik).
10) Seksualitas
Gejala : perubahan aliran menstruasi, misalnya menoragia atau amenore (DB).
Hilang libido (pria dan wanita). Imppoten.
Tanda : serviks dan dinding vagina pucat.
B.

Diagnosa Keperawatan

1.
Risiko tinggi terhadap infeksi berhubungan dengan tidak adekuatnya
pertahanan sekunder (penurunan hemoglobin leucopenia, atau penurunan
granulosit (respons inflamasi tertekan)).
2.
Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan
kegagalan untuk mencerna atau ketidak mampuan mencerna makanan /absorpsi
nutrient yang diperlukan untuk pembentukan sel darah merah.
3.
Intoleransi aktivitas berhubungan dengan ketidakseimbangan antara suplai
oksigen (pengiriman) dan kebutuhan.

4.
Perubahan perfusi jaringan berhubungan dengan penurunan komponen seluler
yang diperlukan untuk pengiriman oksigen/nutrient ke sel.
5.
Risiko tinggi terhadap kerusakan integritas kulit berhubungan dengan
perubahan sirkulasi dan neurologist.
6.
Konstipasi atau Diare berhubungan dengan penurunan masukan diet;
perubahan proses pencernaan; efek samping terapi obat.
7.
Kurang pengetahuan sehubungan dengan kurang terpajan/mengingat ; salah
interpretasi informasi ; tidak mengenal sumber informasi.
C.

Intervensi/Implementasi keperawatan

1)
Risiko tinggi terhadap infeksi berhubungan dengan tidak adekuatnya
pertahanan sekunder (penurunan hemoglobin leucopenia, atau penurunan
granulosit (respons inflamasi tertekan)).
Tujuan : Infeksi tidak terjadi.
Kriteria hasil :

mengidentifikasi perilaku untuk mencegah/menurunkan risiko infeksi.

meningkatkan penyembuhan luka, bebas drainase purulen atau eritema, dan


demam.

INTERVENSI
RASIONAL

Tingkatkan cuci tangan yang baik ; oleh pemberi perawatan dan pasien.

Pertahankan teknik aseptic ketat pada prosedur/perawatan luka.

Berikan perawatan kulit, perianal dan oral dengan cermat.

Motivasi perubahan posisi/ambulasi yang sering, latihan batuk dan napas


dalam.

Tingkatkan masukkan cairan adekuat

Pantau/batasi pengunjung. Berikan isolasi bila memungkinkan

Pantau suhu tubuh. Catat adanya menggigil dan takikardia dengan atau tanpa
demam.

Amati eritema/cairan luka

Ambil specimen untuk kultur/sensitivitas sesuai indikasi (kolaborasi)

Berikan antiseptic topical ; antibiotic sistemik (kolaborasi).


mencegah kontaminasi silang/kolonisasi bacterial. Catatan : pasien dengan
anemia berat/aplastik dapat berisiko akibat flora normal kulit.

menurunkan risiko kolonisasi/infeksi bakteri

menurunkan risiko kerusakan kulit/jaringan dan infeksi.

meningkatkan ventilasi semua segmen paru dan membantu memobilisasi


sekresi untuk mencegah pneumonia.

membantu dalam pengenceran secret pernapasan untuk mempermudah


pengeluaran dan mencegah stasis cairan tubuh misalnya pernapasan dan ginjal.

membatasi pemajanan pada bakteri/infeksi. Perlindungan isolasi dibutuhkan


pada anemia aplastik, bila respons imun sangat terganggu.

adanya proses inflamasi/infeksi membutuhkan evaluasi/pengobatan.

indikator infeksi lokal. Catatan : pembentukan pus mungkin tidak ada bila
granulosit tertekan.

membedakan adanya infeksi, mengidentifikasi pathogen khusus dan


mempengaruhi pilihan pengobatan.

mungkin digunakan secara propilaktik untuk menurunkan kolonisasi atau


untuk pengobatan proses infeksi local.

2)
Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan
kegagalan untuk mencerna atau ketidak mampuan mencerna makanan /absorpsi
nutrient yang diperlukan untuk pembentukan sel darah merah.
Tujuan : kebutuhan nutrisi terpenuhi
Kriteria hasil :

menunujukkan peningkatan/mempertahankan berat badan dengan nilai


laboratorium normal.

tidak mengalami tanda mal nutrisi.

Menununjukkan perilaku, perubahan pola hidup untuk meningkatkan dan atau


mempertahankan berat badan yang sesuai.

INTERVENSI

RASIONAL

Kaji riwayat nutrisi, termasuk makan yang disukai.

Observasi dan catat masukkan makanan pasien.

Timbang berat badan setiap hari

Berikan makan sedikit dengan frekuensi sering dan atau makan diantara
waktu makan.

Observasi dan catat kejadian mual/muntah, flatus dan dan gejala lain yang
berhubungan

Berikan dan Bantu hygiene mulut yang baik ; sebelum dan sesudah makan,
gunakan sikat gigi halus untuk penyikatan yang lembut. Berikan pencuci mulut yang
di encerkan bila mukosa oral luka.

Kolaborasi pada ahli gizi untuk rencana diet.

Kolaborasi ; pantau hasil pemeriksaan laboraturium.

Kolaborasi ; berikan obat sesuai indikasi

mengidentifikasi defisiensi, mengawasi masukkan kalori atau kualitas


kekurangan konsumsi makanan.
memudahkan intervensi

mengawasi penurunan berat badan atau efektivitas intervensi nutrisi.

menurunkan kelemahan, meningkatkan pemasukkan dan mencegah distensi


gaster.

gejala GI dapat menunjukkan efek anemia (hipoksia) pada organ.

meningkatkan nafsu makan dan pemasukkan oral. Menurunkan pertumbuhan


bakteri, meminimalkan kemungkinan infeksi. Teknik perawatan mulut khusus
mungkin diperlukan bila jaringan rapuh/luka/perdarahan dan nyeri berat.

membantu dalam rencana diet untuk memenuhi kebutuhan individual.

meningkatakan efektivitas program pengobatan, termasuk sumber diet nutrisi


yang dibutuhkan.

kebutuhan penggantian tergantung pada tipe anemia dan atau adanyan


masukkan oral yang buruk dan defisiensi yang diidentifikasi.

3)
Intoleransi aktivitas berhubungan dengan ketidakseimbangan antara suplai
oksigen (pengiriman) dan kebutuhan.
Tujuan : dapat mempertahankan/meningkatkan ambulasi/aktivitas.

Kriteria hasil :

melaporkan peningkatan toleransi aktivitas (termasuk aktivitas sehari-hari)

menunjukkan penurunan tanda intolerasi fisiologis, misalnya nadi,


pernapasan, dan tekanan darah masih dalam rentang normal.

INTERVENSI
RASIONAL

Kaji kemampuan ADL pasien.

Kaji kehilangan atau gangguan keseimbangan, gaya jalan dan kelemahan otot.

Observasi tanda-tanda vital sebelum dan sesudah aktivitas.

Berikan lingkungan tenang, batasi pengunjung, dan kurangi suara bising,


pertahankan tirah baring bila di indikasikan.

Gunakan teknik menghemat energi, anjurkan pasien istirahat bila terjadi


kelelahan dan kelemahan, anjurkan pasien melakukan aktivitas semampunya
(tanpa memaksakan diri).

mempengaruhi pilihan intervensi/bantuan.

menunjukkan perubahan neurology karena defisiensi vitamin B12


mempengaruhi keamanan pasien/risiko cedera.

manifestasi kardiopulmonal dari upaya jantung dan paru untuk membawa


jumlah oksigen adekuat ke jaringan.

meningkatkan istirahat untuk menurunkan kebutuhan oksigen tubuh dan


menurunkan regangan jantung dan paru.

meningkatkan aktivitas secara bertahap sampai normal dan memperbaiki tonus


otot/stamina tanpa kelemahan. Meingkatkan harga diri dan rasa terkontrol.

4)
Perubahan perfusi jaringan berhubungan dengan penurunan komponen
seluler yang diperlukan untuk pengiriman oksigen/nutrient ke sel.
Tujuan : peningkatan perfusi jaringan
Kriteria hasil : - menunjukkan perfusi adekuat, misalnya tanda vital stabil.
INTERVENSI
RASIONAL


Awasi tanda vital kaji pengisian kapiler, warna kulit/membrane mukosa, dasar
kuku.

Tinggikan kepala tempat tidur sesuai toleransi.

Awasi upaya pernapasan ; auskultasi bunyi napas perhatikan bunyi


adventisius.

Selidiki keluhan nyeri dada/palpitasi.

Hindari penggunaan botol penghangat atau botol air panas. Ukur suhu air
mandi dengan thermometer.

Kolaborasi pengawasan hasil pemeriksaan laboraturium. Berikan sel darah


merah lengkap/packed produk darah sesuai indikasi.

Berikan oksigen tambahan sesuai indikasi.

memberikan informasi tentang derajat/keadekuatan perfusi jaringan dan


membantu menetukan kebutuhan intervensi.

meningkatkan ekspansi paru dan memaksimalkan oksigenasi untuk kebutuhan


seluler. Catatan : kontraindikasi bila ada hipotensi.

dispnea, gemericik menununjukkan gangguan jajntung karena regangan jantung


lama/peningkatan kompensasi curah jantung.

iskemia seluler mempengaruhi jaringan miokardial/ potensial risiko infark.

termoreseptor jaringan dermal dangkal karena gangguan oksigen.

mengidentifikasi defisiensi dan kebutuhan pengobatan /respons terhadap terapi.

memaksimalkan transport oksigen ke jaringan.

5)
Risiko tinggi terhadap kerusakan integritas kulit berhubungan dengan
perubahan sirkulasi dan neurologist.
Tujuan : dapat mempertahankan integritas kulit.
Kriteria hasil : mengidentifikasi factor risiko/perilaku individu untuk mencegah
cedera dermal.

INTERVENSI

RASIONAL

Kaji integritas kulit, catat perubahan pada turgor, gangguan warna, hangat
local, eritema, ekskoriasi.

Reposisi secara periodic dan pijat permukaan tulang apabila pasien tidak
bergerak atau ditempat tidur.

Anjurkan pemukaan kulit kering dan bersih. Batasi penggunaan sabun.

Bantu untuk latihan rentang gerak.

Gunakan alat pelindung, misalnya kulit domba, keranjang, kasur tekanan


udara/air. Pelindung tumit/siku dan bantal sesuai indikasi. (kolaborasi)

kondisi kulit dipengaruhi oleh sirkulasi, nutrisi dan imobilisasi. Jaringan dapat
menjadi rapuh dan cenderung untuk infeksi dan rusak.

meningkatkan sirkulasi kesemua kulit, membatasi iskemia


jaringan/mempengaruhi hipoksia seluler.

area lembab, terkontaminasi, memberikan media yang sangat baik untuk


pertumbuhan organisme patogenik. Sabun dapat mengeringkan kulit secara
berlebihan.

meningkatkan sirkulasi jaringan, mencegah stasis.

menghindari kerusakan kulit dengan mencegah /menurunkan tekanan


terhadap permukaan kulit.

6)
Konstipasi atau Diare berhubungan dengan penurunan masukan diet;
perubahan proses pencernaan; efek samping terapi obat.
Tujuan : membuat/kembali pola normal dari fungsi usus.
Kriteria hasil : menunjukkan perubahan perilaku/pola hidup, yang diperlukan
sebagai penyebab, factor pemberat.

INTERVENSI
RASIONAL

Observasi warna feses, konsistensi, frekuensi dan jumlah.

Auskultasi bunyi usus.

Awasi intake dan output (makanan dan cairan).

Dorong masukkan cairan 2500-3000 ml/hari dalam toleransi jantung.

Hindari makanan yang membentuk gas.

Kaji kondisi kulit perianal dengan sering, catat perubahan kondisi kulit atau
mulai kerusakan. Lakukan perawatan perianal setiap defekasi bila terjadi diare.

Kolaborasi ahli gizi untuk diet siembang dengan tinggi serat dan bulk.

Berikan pelembek feses, stimulant ringan, laksatif pembentuk bulk atau


enema sesuai indikasi. Pantau keefektifan. (kolaborasi).

Berikan obat antidiare, misalnya Defenoxilat Hidroklorida dengan atropine


(Lomotil) dan obat mengabsorpsi air, misalnya Metamucil. (kolaborasi).

membantu mengidentifikasi penyebab /factor pemberat dan intervensi yang


tepat.

bunyi usus secara umum meningkat pada diare dan menurun pada konstipasi.

dapat mengidentifikasi dehidrasi, kehilangan berlebihan atau alat dalam


mengidentifikasi defisiensi diet.

membantu dalam memperbaiki konsistensi feses bila konstipasi. Akan


membantu memperthankan status hidrasi pada diare.

menurunkan distress gastric dan distensi abdomen.

mencegah ekskoriasi kulit dan kerusakan.

serat menahan enzim pencernaan dan mengabsorpsi air dalam alirannya


sepanjang traktus intestinal dan dengan demikian menghasilkan bulk, yang bekerja
sebagai perangsang untuk defekasi.

mempermudah defekasi bila konstipasi terjadi.

Rasional : menurunkan motilitas usus bila diare terjadi.

7)
Kurang pengetahuan sehubungan dengan kurang terpajan/mengingat ; salah
interpretasi informasi ; tidak mengenal sumber informasi.
Tujuan : pasien mengerti dan memahami tentang penyakit, prosedur diagnostic dan
rencana pengobatan.
Kriteria hasil :

pasien menyatakan pemahamannya proses penyakit dan penatalaksanaan


penyakit.

mengidentifikasi factor penyebab.

Melakukan tiindakan yang perlu/perubahan pola hidup.

INTERVENSI
RASIONAL

Berikan informasi tentang anemia spesifik. Diskusikan kenyataan bahwa terapi


tergantung pada tipe dan beratnya anemia.

Tinjau tujuan dan persiapan untuk pemeriksaan diagnostic.

Kaji tingkat pengetahuan klien dan keluarga tentang penyakitnya.

Berikan penjelasan pada klien tentang penyakitnya dan kondisinya sekarang

Anjurkan klien dan keluarga untuk memperhatikan diet makanan nya.

Minta klien dan keluarga mengulangi kembali tentang materi yang telah
diberikan.

memberikan dasar pengetahuan sehingga pasien dapat membuat pilihan


yang tepat. Menurunkan ansietas dan dapat meningkatkan kerjasama dalam
program terapi.

ansietas/ketakutan tentang ketidaktahuan meningkatkan stress, selanjutnya


meningkatkan beban jantung. Pengetahuan menurunkan ansietas.

megetahui seberapa jauh pengalaman dan pengetahuan klien dan keluarga


tentang penyakitnya.

dengan mengetahui penyakit dan kondisinya sekarang, klien dan keluarganya


akan merasa tenang dan mengurangi rasa cemas.

Diet dan pola makan yang tepat membantu proses penyembuhan.

mengetahui seberapa jauh pemahaman klien dan keluarga serta menilai


keberhasilan dari tindakan yang dilakukan.
D.

Evaluasi

Evaluasi adalah perbandingan yang sistemik atau terencana tentang kesehatan


pasien dengan tujuan yang telah ditetapkan, dilakukan dengan cara
berkesinambungan, dengan melibatkan pasien, keluarga dan tenaga kesehatan
lainnya. (Lynda Juall Capenito, 1999:28)
Evaluasi pada pasien dengan anemia adalah :
1) Infeksi tidak terjadi.
2) Kebutuhan nutrisi terpenuhi.
3) Pasien dapat mempertahankan/meningkatkan ambulasi/aktivitas.
4) Peningkatan perfusi jaringan.

5) Dapat mempertahankan integritas kulit.


6) Membuat/kembali pola normal dari fungsi usus.
7) Pasien mengerti dan memahami tentang penyakit, prosedur diagnostic dan
rencana pengobatan.

BAB IV
PENUTUP
1.

Kesimpulan

Anemia adalah istilah yang menunjukan rendahnya hitungan sel darah merah
dan kadar hemoglobin dan hematokrit di bawah normal (Smeltzer, 2002 : 935).

Anemia adalah berkurangnya hingga di bawah nilai normal sel darah merah,
kualitas hemoglobin dan volume packed red bloods cells (hematokrit) per 100 ml
darah (Price, 2006 : 256).

Tujuan
Untuk mengetahui jenis-jenis lekosit, jumlah, bentuk dan kesan dari jenis-jenis
lekosit
II.Metode
Metode yang digunakan pada pemeriksaan adalah metode pewarnaan giemsa,
yaitu giemsa sebagai pewarna
III.Prinsip
Setetes darah dipaparkan diatas sebuah gelas obyek, kemudian dilakukan
pewarnaan selanjutnya dievaluasi.
IV.Dasar Teori
Darah merupakan komponen esensial makhluk hidup. Dalam keadaan fisiologik,
darah selalu ada dalam pembuluh darah sehingga dapat menjalankan fungsinya
sebagai: pembawa oksigen(oksigen carrier), mekanisme pertahanan tubuh
terhadap infeksi dan mekanisme hemostatis. Darah terdiri atas dua komponen
utama yaitu plasma darah yang merupakan bagian cair darah yang sebagian
besar terdiri atas air, elektrolit dan protein darah, sedangkankan butir darah
(blood corpuscles)terdiri atas eritrosit, leukosit dan trombosit. Pada
pembentukan eritrosit yang melalui tahapan sebagai berikut eritroblast,
basophilic normoblas, policromatofilik normoblast, asidofilik normoblas,

retikulosit dan eritrosit. Namun hanya retikulosit yang ditemukan pada darah
tepi pada keadaan normal. Sedangkan pada pembentukan leukosit(jalur mieloid)
pada awalnya mieloblast menjadi progranulosit(neutrofil), eosinofil maupun
basofil selanjutnya menjadi promielosit kemudian menjadi metamielosit. Semua
aktifitas ini secara normal dijumpai dalam sumsum tulang dan pada
perkembangan di darah tepi akna menjadi stab/band serta segmen. Sedangkan
trombosit terbentuk dari pecahan sitoplasma megakarioblast.
V.Alat dan Bahan
A.Alat
a.Gelas objek
b.Rak pewarna
c.Mikroskop
B.Bahan
a.Sampel darah EDTA
b.Alkohol 96% / Metanol
c.Oli imersi
d.Buffer phosfat pH 6,8
e.Giemsa
VI.Cara Kerja
a.Pembuatan Hapusan
1.Diteteskan satu tetes sampel daah pada salah satu ujung objek gelas
2.Peganglah gelas penghapus sedemikian rupa sehingga sampel darah berada
pada sudut antara objek gelas dan gelas penghapus (300 450)
3.Dihapuskan gelas penghapus kearah tetesan darah sehingga menyentuhnya
dan tetesan darah tadi akan merata antara ujung gelas penghapus dan objek
4.Digeser gelas penghapus sedemikian rupa kearah yang bertentangan degan
arah pertama. Dengan demikian tetesan darah tadi akan merata di atas gelas
obyek sebagai lapisan yang tipis
5.Hapusan ini segera dikeringkan dengan menggerak-gerakkan di udara tetapi
jagan ditiup dengan hembusan nafas.
b.Pewarnaan Hapusan Darah Tepi
1.Difiksasi hapusan yang tleah kering dengan alcohol
2.Didiamkan selama 3 menit
3.Ditetesi larutan giemsa pada seluruh hapusan
4.Didiamkan 30 menit
5.Diambil hapusan dan dibiarkan kering
6.Diamati dengan mikroskop
VII.Data Hasil Praktikum
Morfologi leukosit

a. Adanya limfosit, stab, segmen dengan bentuk, ukuran dan warna yang
normal
b. Adanya eritrosit dengan bentuk dan warna yang normal
VIII. Pembahasan
Ditemukan :
a.Eritrosit dengan ciri-ciri
1.Bentuk : bulat
2.Warna sitoplasma : merah jambu
3.Granularitas : tidak ada
b.Netrofil batang atau stab dengan ciri-ciri:
1.Bentuk sel : oval atau bulat
2.Warna sitoplasma : pink
3.Granularitas : sedikit
4.Bentuk inti : setengah lingkaran
c.Neutrofil segmen
1.Bentuk sel : oval atau bulat
2.Warna sitoplasma : pink
3.Granularitas : sedikit
4.Bentuk inti : berlobus
d.Limfosit
1.Bentuk sel : bulat, kadang-kadang oval
2.Warna sitoplasma : biru
3.Granularitas : tidak ada
4.Bentuk inti : bulat
Berdasarkan bentuk, warna dan jenis sel yang ditemukan adalah sel yang
normal. Ini menunjukkan pasien ini memiliki sel-sel darah normokromik
normositer.
IX. Kesimpulan
Setelah melakukan pemeriksaan dan hasil pemeriksaan yang didapat, pasien ini
memiliki sel-sel darah normokromik normositer.

DIFFERENTIAL COUNT I
(HITUNG JENIS LEUKOSIT)
I.Tujuan
Untuk mengetahui jenis-jenis lekosit, jumlah, bentuk dan kesan

II.Metode
Metode yang digunakan dengan sediaan kering
III.Prinsip
Dalam evaluasi HDT dengan cara menghitung jenis lekosit dalam 100 lekosit
dan dinyatakan dengan %
IV.Dasar Teori
Pada pemeriksaan hitung jenis leukosit (differential count) adalah
mengidentifikasi dan menghitung jenis leukosit sekurang kurangnya 100 sel dan
dinyatakan dalam persen (%). Dalam penghitungan harus mengikuti tata cara
pelaporan sebagai berikut:
Eosinofi
Basofil
Stab
Segmen
Limfosit
Monosit
Eosinofil pada pemeriksaan dibawah mikroskop akan tampak seperti kaca mata
dengan sitoplasma merah dan bergrandula. Basofil, granulanya memenuhi inti ,
sangat jarang ditemukan hanya ditemukan pada mereka yang memiliki penyakit
berat. Stab tampak seperti cekungan atau tapal kuda. Segmen, tampak lobuslobus yang telah memisahkan diri, minimal tiga. Limfosit tampak bulat memiliki
inti padat. Sedangkan monosit tampak transparan seperti vakuola. (Oka,2007)
V. Alat dan Bahan
A.Alat
1.Mikroskop
2.Bahan
B.Bahan
1.Oli Imersi
2.Sampel 5
VI.Cara Kerja
a.Dihidupkan mikroskop
b.Diperiksa hapusan untuk memeriksa tebah tipisnya hapusan dengan
perbesaran 100x
c.Diperiksan jenis-jenis lekosit dengan perbesaran 1000x
d.Dihitung jenis-jenis lekosit
e.Disajikan dalam table
VII.Data Hasil Praktikum
Jenis Sel 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 Jml

Eosinofil
Basofil
Stab 3 2 3 1 2 3 1 2 1 20
Segmen 9 6 7 7 9 7 7 9 8 10 75
Limfosit 1 1 1
Monosit 1
Jumlah 10 10 10 10 10 10 10 10 10 10
Netrofil =95%
Praktikum evaluasi darah tepi, ditemukan jenis-jenis lekosit:
a.stab/netrofil batang yang berjumlah 20 dalam 100 lekosit, cirri-cirinya:
1.Bentuk sel : oval atau bulat
2.Warna sitoplasma : pink
3.Granularitas : sedikit
4.Bentuk inti : setengah lingkaran
b.Segmen/netrofil batang yag berjumlah 75 dalam 100 lekosit
1.Bentuk sel : oval atau bulat
2.Warna sitoplasma : pink
3.Granularitas : sedikit
4.Bentuk inti : berlobus
c.Limfosit yang berjulah 2 dalam 100 lekosit
1.Bentuk sel : bulat, kadang-kadang oval
2.Warna sitoplasma : biru
3.Granularitas : tidak ada
4.Bentuk inti : bulat
d.Monosit yang berjulah 1 buh dalam 100 lekosit
1.Bentuk sel : bulat
2.Sitoplasma : ungu
3.Bentuk inti : sangat tidak teratur
Pada pemeriksaan ini, tidak menemukan basofil dan eosinofil
VIII.Pembahasan
Praktikum ini dengan ID sampel 1009230156 ditemukan jemlah netrofil (stab
dan segmen) lebih banyak dari jumlah normal yaitu 95%. Hal ini menandakan
pasien ini mengalami netrofilia yaitu jumlah netrofil diatas normal.
Netrofilia timbul karena infeksi sistemik (adanya bakteri, jamur, virus dan
spirochaetes), kadang-kadang didahului oleh transient neutropenia.
Kostikosteroid netrofil tetapi reaksi penderita terhadap infeksi lebih lemah
karena mobiliasai netrofil ke jaringan menurun.

Jumlah netrofil ada darah tepi dipengaruhi oleh:


a.Netrofil yang masuk ke dalam sirkulasi darah
b.Netrofil yang keluar dari sirkulasi dara
c.Distribusnya
d.Kombinasi ketiga diatas
IX.Kesimpulan
Pasien ini mengalami netrofilia, karea memiliki jumlah netrofil di atas normal.

DIFFERENTIAL COUNT II
(HITUNG JENIS LEUKOSIT)
I.Tujuan
Untuk mengetahui jenis-jenis lekosit, jumlah, bentuk dan kesan dari jenis-jenis
leukosit
II.Metode
Metode yang digunakan hapusan kering
III.Prinsip
Pemeriksaan ini dengan menghitung jenis lekosit dalam 100 lekosit dengan
perbesaran 100 x
IV.Dasar Teori
Hitung jenis leukosit dilakukan pada counting area, mula-mula dengan
pembesaran 100x kemudian dengan pembesaran 1000x dengan minyak imersi.
Pada hitung jenis leukosit hapusan darah tepi yang aakn digunakan perlu
diperhatikan hapusan darah harus cukup tipis sehingga eritrosit dan leukosit
jelas terpisah satu dengan yang lainnya, hapusan tidak boleh mengandung
cat,eritrosit tidak boleh bergerombol (Ripani,2010).
Hitung jenis leukosit hanya menunjukkan jumlah relative dari masing- masing
jenis sel. Untuk mendapatkan jumlah absolute dari masing-masing jenis sel
maka nilai relatif (%) dikalikan jumlah leukosit total. Hitung jenis leukosit
berbeda tergantung umur. Pada anak limfosit lebih banyak dari neutrofil segmen
sedangkan pada orang dewasa kebalikannya. Hitung jenis leukosit juga
bervariasi dari satu sediaan hapus ke sediaan lainnya, dari satu lapang pandang
ke lapang pandang yang lain. Kesalahan karena distribusi ini dapat mencapai
15%. Bila pada hitung jenis leukosit didapatkan eritrosit berinti lebih dari 10 per
1000 leukosit maka jumlah leukosit per mikro liter perlu dikoreksi. (dr. Boy,2010)

Hitung jenis leukosit(differential count) adalah nilai komponen-komponen sel


penyusun sel darah putih. Jadi sel darah putih terdiri dari beberapa jenis sel
yaitu eosinofil, basofil, stab, segmen, monosit, limfosit. Peningkatan leukosit
biasanya disertai peningkatan salah satu atau lebih satu komponen. Mengetehui
jenis komponen sel darah putih yang meningkat dapat membantu menentukan
penyebab leukositosis.
Penyebab leukositosis berdasarkan hitung jenis: (Anonim, 2010)
Neutrofilia
Adalah jumlah neutrofil yang meningkat melebihi nilai normal. Neutrofilia
sebagian besar diakibatkan oleh infeksi bakteri. Selain itu neutrofilia dapat
disebabkan oleh inflamatori bowel disease., rheumatoid arthritis,
vaskulitis(Kawasaki syndrom), keganasan, pemberian kortikosteroid,
splenektomi
Limfositosis
Limfositosis adalah jumlah limfosit meningkat melebihi nilai normal. Penyebab
limfositosis biasanya infeksi virus.
Monositosis
Monositosis adalah monosit meningakat melebihi nilai normal. Monositosis
biasanya disebabkan oleh infeksi bakteri.(tuberkolosis, endokarditis bakterial
subakut, brucellosis, infeksi virus, sifilis, infeksi protozoa, infeksi riketsia,
keganasan, sarkoidosis)
Basofilia
Adalah jumlah basofil meningkat melebihi normal disebabkan oleh keganasan.
Eosinofilia
Eosinofilia adalah jumlah eosinofil meningkat melebihi normal. Disebabkan oleh
alergi, hipersensitivitas terhadap obat, infeksi parasit, infeksi virus, keganasan.
V.Alat dan Bahan
A.Alat
1.Mikroskop
B.Bahan
1.Oli imersi
2.Sampel 5
VI.Cara Kerja
1.Dihidupkan mikroskop
2.Diperiksa hapusan untuk memeriksa tebal tipisnya hapusan dengan
perbesaran 100x
3.Diperiksa dengan perbesaran 100x
4.Dihitung jenis-jenis lekosit
5.Disajikan dalam tabel
VII.Data Hasil Praktikum

Jenis Sel 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 Jml


Eosinofil 1 1 2 4
Basofil 0
Stab 2 1 2 5
Segmen 1 2 1 1 1 3 2 2 13
Limfosit 6 7 6 8 7 9 8 5 8 8 72
Monosit 2 2 1 1 6
Jumlah 10 10 10 10 10 10 10 10 10 10
VIII.Pembahasan
Pada sampel 5 (hapusan yang telah disesiakan) didaptkan jumlah limfosit yang
melebihi normal yaitu 72%. Sedangkan batas normal limfosit adalah 40%. Pasen
ini mengalami limfositosis.
Limfositosis dapat disebabkan oleh infeksi virus seperti morbili
mononukleosisinfeksiosa, infeksi kronik seperti tuberculosis, sifilis, pertusis dan
oleh kelainan limpoliferatif seoerti leukemia limfositik kronik dan
makroglobulinemia perifer.
Jumlah eosinofil dan monosit dalam keadaan normal. Pasien ini juga mengalami
neropenia karena netrofil berjumlah kurang dari normal.

IX.Kesimpulan
Berdasarkan pembahasan, pasien ini memiliki jumlah limfosit yang lebih dari
normal (limfositosis). Jumlah eosinofi, basofil dan monosit dalam keadaan
normal.

DIFFERENTIAL COUNT III


(HITUNG JENIS LEKOSIT)
I.Tujuan
Untuk mengetahui jenis-jenis lekosit, jumlah, bentuk dan kesan dari jenis-jenis
lekosit
II.Metode
Metode hapusan kering (sediaan kering) yang telah disediakan
III.Prinsip
Pemeriksaan hapusan degan mikroskop dengan menghitung jenis-jenis lekosit
dalam 100 leukosit
IV.Dasar Teori

Penilaian kualitas HDT yang digunakan pada hitung jenis leukosit dilakukan
dengan pembesaran kecil (objektif 10x) meliputi lapisan darah harus cukup tipis
sehingga eritrosit dan leukosit jelas terpisah antara satu dengan yang lainnya,
hapusan tidak boleh mengandung endapan warna. Leukosit tidak boleh
bergerombol pada bagian akhir HDT. Bila HDT tidak memenuhi syarat tersebut
diatas maka harus dibuat HDT yang baru sehingga memudahkan untuk
dievaluasi. Pemeriksaan dengan pembesaran kecil(objektif 10x) untuk penilaian
kualitas HDT, penafsiran jumlah leukosit dan eritrosit, penafsiran hitung jenis
leukosit,pemeriksaan adanya sel-sel muda yang abnormal. Sedangkn pada
pembesaran 100x untuk eritosit untuk melihat kelainan atau variasi morfologi
leukosit dilakukan untuk menghitung jenis leukosit dan mencari kelainan
morfologi sedangkan untuk trombosit penafsiran dilakukan untuk melihat
morfologi dan jumlahnya.
(oka, 2007)
Pada pemeriksaan hitung jenis leukosit (differential count) adalah
mengidentifikasi dan menghitung jenis leukosit sekurang kurangnya 100 sel dan
dinyatakan dalam persen (%).
Dalam penghitungan harus mengikuti tata cara pelaporan sebagai berikut:
Eosinofi
Basofil
Stab
Segmen
Limfosit
Monosit
Eosinofil pada pemeriksaan dibawah mikroskop akan tampak seperti kaca mata
dengan sitoplasma merah dan bergrandula. Basofil, granulanya memenuhi inti ,
sangat jarang ditemukan hanya ditemukan pada mereka yang memiliki penyakit
berat. Stab tampak seperti cekungan atau tapal kuda. Segmen, tampak lobuslobus yang telah memisahkan diri, minimal tiga. Limfosit tampak bulat memiliki
inti padat. Sedangkan monosit tampak transparan seperti vakuola. (Oka,2007)
V.Alat dan Bahan
A.Alat
1.Mikroskop
B.Bahan
1.Oli imersi
2.Sampel 5
VI.Cara Kerja
a.Dihidupkan mikroskop
b.Diperiksa hapusan untuk memeriksa tebal tipisnya hapusan dengan
perbesaran 100x
c.Diperiksa dengan perbesaran 100x

d.Dihitung jenis-jenis lekosit


e.Disajikan dalam tabel
VII.Data Hasil Pengamatan
Jenis Sel 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 Jml
Eosinofil 4 2 2 1 2 4 1 4 1 3 24
Basofil 0
Stab 1 1 2 1 2 7
Segmen 2 5 2 4 5 2 6 3 5 5 39
Limfosit 1 2 3 1 3 4 3 2 2 2 33
Monosit 2 3 2 7
Jumlah 10 10 10 10 10 10 10 10 10 10

VIII.Pembahasan
Pada pemeriksaan hitung jenis lekosit, didapat:
a.Eosinofil yang berjumlah 24 dalam 100 lekosit
Ciri-cirinya:
1.Benuk sel : oval
2.Warna sitoplasma : merah
3.Terdapat benang kromatin
4.Jumlah normal 1-3%
Pada praktikum ini ditemukan eosinofil sebanyak 24 buah dalam 100 lekosit. Ini
menandakan pasien ini mengalami eosinofilia. Eosinofilia sering dijumpai pada
keadaan alergi. Histamine yang dilepaskan pada reaksi antigen-antibodi
merupakan substansi khemotaksis yang menarik eosinofil. Penyebab lain dari
eosinofil adalah penyakit kulit kronik, infeksi dan infestasi dari parasit. Kelainankelainan hemopoiesis seperti polisitemia vera dan leukemia granulositik kronik.
b.Stab yang berjumlah 7
Ciri-cirinya:
1.Bentuk sel : bulat atau oval
2.Warna sitoplasma : pink
3.Granularitas : sedikit
4.Bentuk ini :setengah lingkaran
5.Jumlah normal : 0-1%
c.Segmen yang berjumlah 39 dalam 100 lekosit
Ciri-cirinya:
1.Bentuk sel : bulat atau oval
2.Warna sitoplasma : pink
3.Granularitas : sedikit
4.Bentuk inti : berlobus
5.Jumlah normal : 50-65 dalam 100 lekosit

Ditemukan netrofil (stab+segmen) sebanyak 46 dalam 100 lekosit. Ini


menandakan pasien ini mengalami netropenia. Penyeab neropenia adalah
meingkatknya pemindahan netrofil dar peredaran darah dan gangguan
pembentukan netrofil, infeksi virus, autoimun/idiopatik dan pengaruh obat juga
mempengaruhi terjadinya netropenis.
d.Limfosit yang berjumlah 23 dalam 100 lekosit
Ciri-cirnya:
1.Bentuk : bulat, oval
2.Warna sitoplasma : biru
3.Granularitas : tidak ada
4.Bentuk inti : bulat
5.Jumlah normal : 25-40%
Limfosit pada pasein ini dalam keadaan normal
e.Monosit yang berjumlah 6 dalam 100 lekosit
Cirri-cirnya:
1.Bentuk : bulat
2.Sitoplasma : ungu
3.Inti : sangat tidak teratur
4.Jumlah normal : 4-10 dalam 100 lekosit
Jumlah monosit pada pasien ini normal.
IX.Kesimpulan
Berdasarkan yang telah dibahas diatas dapat disimpulakn bahwa pasien ini
mengalami eosinofilia dengan jumlah eosinofil 24 juga mengalami netropenia
dengan jumlah netrofil 46. Limfosit dan monosit berjumlah normal dan basofil
tidak ditemukan.

PEMERIKSAAN ERITROSIT
I.Tujuan
Untuk mengetahui kelainan-kelaian bentuk sel darah merah (eritrosit) pada
sampel (sediaan yang telah disediakan)
II.Metode
Metode yang digunakan metode sediaan kering
III.Prinsip
Pemeriksaan eritrosit dilakukan pada pembesaran 100 x, diamati bentuk-bentuk
eritrosit

IV.Dasar teori
Eritrosit atau sering disebut sel darah merah merupakan sel yang berbentuk
bikonkaf dengan jumlah: 4,5-6.100.000 per mikro liter, berat jenis 1,090 dengan
pH 7,33-7,51 (rata- rata 7,4). Komposisi eritrosit terdiri dari 60% air, 28%
hemoglobin ynang terdiri dari pigmen darah, sarana transport O2, 96% rantai
globin dan 4% heme, 7% lemak serta sisa yang ada merupakan karbohidrat,
elektrolit, enzim, metabolit.
Jumlah eritrosit dalam darah ditentukan oleh:
1.Umur eritrosit dalam aliran darah
2.Jumlah eritrosit yang hilang waktu perdarahan
3.Jumlah eritrosit yang dihasilkan oleh sumsum tulang
Ukuran eritrosit dapat:
1.Normal (normosit): anemia aplastik, perdarahan akut, anemia hemolitik,
2.Kecil (mikrosit): anemia defisiensi besi, anemia penyakit kronis,thalasemia,
anemia sideroblastik
3.Besar (makrosit): anemia defisiensi folat dan B12
Adapun dalam pemeriksaan ditemukan adanya ukuran eritrosit bermacammacam disebut dengan anisositosis. Sedangkan apabila bentuknya bermacammacam disebut dengan poikilosistosis.
Untuk menentukan ukuran eritrosit dibandingkan dengan inti limfosit kecil,bila
sama(normosit), lebih kecil (mikrositik), lebih besar(makrositik).
Untuk menentukan warna eritrosit dapat ditentukan dari diameter central pallor
(CP) dibandingkan terhadap diameter eritrosit. Central pallor terjadi karena
bentuk eritrosit yang bikonkaf sehingga terjadi cental pallor karenatipis dan
kandungan Hb lebih sedikit akan tercat lebih pucat.
CP kurang dari sama dengan 1/3 diameter eritrosit = normokromik
CP lebih dari diameter eritrosit = hipokromik
Tanda kerusakan eritrosit dapat teramati dengan adanya mikrosferosit,
fragmentosit, Poikilosit, meningkatnya fragilitas osmotic eritrosit, tes positif
untuk autohemolisis, umur eritrosit memendek (Mulyantari,2010).
Beberapa kelainan dan bentuk eritrosit:
Mikrosit : diameter mikrosit jauh lebih kecil daripada limfosit kecil
Makrosit : besar makrosit sebanding dengan limfosit
Hipokrom : adanya central pallor yang menunjukkan lebih daripada sepertiga
diameter eritrosit.
Spherocytes : sferosit menunjukkan tidak adanya central pallor, tidak bikonkaf
Sel target : sel darah merah yang mempunyai central gelap
Stomatosit : kepucatan pada central berbebtuk segiempat
Burr Cells : eritrosit dengan tonjolan sitoplasma
Eliptosit : eritrosit yang berbentuk oval
Basophilic stippling : adanya granula sitoplasma halus yang tersebar merata
Pappenhelmers bodies : adanya granula biasanya terdapat pada pinggir

eritrosit
Howel-jolly bodies : adanya fragmen kromatin bulat yng tinggal dalam
sitoplasma eritrosit dewasa.
Cincin Cabot : adanya cincin cabot disebabkan kegagalan eritropoiesis
dari bagian kumparan mitosis
Sel sabit : memanjang dan melengkung dengan dua kutub meruncing
Leptosit : daerah tengah dengan pucat yang besar dan sitoplasma
yang tipis
Skistosit :eritrosit dengan bentuk tidak teratur
Akantosit : adanya tonjolan sitoplasma runcing dan tidak teratur
Lakrimosit : eritrosit yang berbentuk tetesan air mata.
V.Alat dan Bahan
A.Alat
1.Mikroskop
B.Bahan
1.Sediaan kering
2.Oli Imersi
VI.Cara Kerja
1.Disipakan mikroskop
2.Diletakkan sediaan di meja sediaan
3.Diperiksa dengan perbesaran 100x
4.Diamati kenampakan yang terlihat
5.Dicatat hasilnya
VII.Data Hasil Pengamatan
Ditemukan:
a.Hipokrom
b.Burr Cell
c.Eliptosit
d.Sperosit
e.Tear Drop Cell
f.Basopilic stippling
g.Akantosit
VIII.Pembahasan
Pada praktikum pemeriksaan sel darah merah ini ditemukan:
a.Hipokrom
Ciri-cirinya pucat berlebihan pada bagian tengah, eritrosit melibihi sepertiga
diameternya. Disebabkan hemolobinasi yang tidak ade kuat. Distribusi dalam
darah <10% dari eritrosit dalam darah normal. Hal in dijumpai pada pasien yang

kekurangan Hb dan pada anemia defisiensi besi. Anemia defisiensi besi adalah
anemia yang timbul akibat kosongnya cadangan besi tubuh sehingga
penyediaan besi untuk eritropoesis berkurang, yang pada akhirnya
pembentukan hemoglobin berkurang. Kelainan ini ditandai oleh anemia
hipokromik mikrositer, besi serum menurun, TIBC meningkat, saturasi, tranferin
menurun, ferin serum menurun, pengecatan besi sumsum tulang negated dan
adanya respon terhadap pengobatan dengan preparat besi.
b.Burr Cell
Ciri-cirinya eritrosit dengan tonjolan sitoplasma yang teratur, sel biasanya
bikonkaf. Distribusi dalam darah normal tidak ada. Ditemukan sel ini pada darah
menunjukkan efek dari passage through fibri network.
Eritrosit dengan granula biru hitam, granula ini dari kondensasi atau presitipasi
RNA ribosom akibat dari defective hemoglobin sintesis. Adanya basofil pada sel
darah menandakan pasien tersebut mengalami talassemia. Talasemia adalah
kelainan darah yag ditandai dengan sintesis hemoglobin abnormal.
c.Eliptosit
Ciri-cirnya eritrosit berbentuk lonjong atau elips. Distribusi dalam darah < 10%
dalam darah normal. Dijumpai eliptosit pada darah menunjukkan pasien
mengalami suatu penyakit.salah satunya sindroma mielodiplasi yaitu suatu
kelainan sel induk hematopoiesis dengan karakterisktik adanya manifestasi
kegagalan sumsum tulang dan kecendrungan mengalami transformasi leukemi
akut disetai manifestas patologis morfologi (diplasi) dalam darah tepid dan
sumsum tulang. Ditemukan pada pasien yang mengalami eliptositosis
herediter.
d.Sperosit
Sperosit adalah eritrosit yang berbentuk lebih bulat,lebih kecil dan lebih tebal
dari eritrosit normal. Ciri-cirinya: sperosit memiliki diameter lebih kecil daripada
normal. Tanpa halo di tengah dan berwara lebih gelap. Dalam darah normal
tidak ditemukan sperosit. Sperosit timbul akibat dari development defect.
Ditemukan pada pasien yang menderita sperosit herediter.
e.Akantosit
Akantosit dengan ciri-ciri: eritrosit dengan tonjolan sitoplasma runcing dan tidak
teratur seperti duri. Adanya dari sitoplasma mengakibatkan berkurangnya
daerah pucat di tengah sel. Pada darah normal tidak ditemukan akantosit. Pada
praktikum ini ditemukan akantosit yang merupakan akibat dari defisiensi lowdencity betha lipoproptein. Pasien yang mengalami sindroma meilodisplasi juga
ditemukan akantosit. Penyebab sindroma mielodisplasi belum diketahui dengan
pasti diduga karena apasan senyawa mutagen (benzene, obat-obatan akilating)
dan radiasi.

f.Basofilic Stippling
Cirri-cirnya granula sitoplasma halus yang tersebar rata. Distribusi dalam darah
<0,1% dari eritrosit dalam darah normal. Eritrosit dengan granula biru hitam,
granula ini dari kondensasi atau presipitasi RNA Ribosom akibat defective
hemoglobin sintesis. Adanya basofilik pada sel darah menandakan pasien
tersebut mengalamai talasemia. Talasemia adalah kelainan darah yang ditandai
dengan sintesis hemoglobin abnormal.
g.Tear Drop Cell
Ciri-cirina bentuk sel ini seperti tetes air mata. Pada darah normal tidak dijumpai
sel ini. Hasil pemeriksaan menemukan tear drop sel, ini menunjukkan pasien
mengalami sindrom hemolitik uremik (SHU) merupakan sekelompok gangguan
heterogen dengan gejala klinis yang beragam dan berat.
Dengan ditemukan sel-sel ditas, darah penderita mengalami hipokrom
mikrositer anisositosis.
IX.Kesimpulan
Pada praktikum ini ditemukan kelainan-kelainan eritosit antara lain:
1.Hipokrom
2.Burr Cell
3.Basofilic Stippling
4.Eliptosit
5.Sperosit
6.Akantosit
7.Tear drop sel