You are on page 1of 8

A.

HERPES ZOOSTER2
Pemeriksaan
Pada pemeriksaan percobaan Tzanck dapat ditemukan sel datia berinti banyak. Virus bisa
diisolasi dari lesi herpes,CNS, basuhan tenggokan selama infeksi akut dan reaktivasi tanpa
gejala. Isolasi di dalam jaringan kultur akan dilanjutkan dengan tes netralisasi atau pewarnaan
immunofluorescence dengan antibodi spesifik. Diagnosis banding untuk penyakit ini adalah
herpes simplex. Selain itu, rasa nyeri yang merupakan gejala prodromal lokal sering salah
diagnosis dengan penyakit rematik maupun angina pectoris.

Herpes Zooster
Pencegahan
Penularan herpes zooster sukar untuk dicegah karena infeksi menular selama 24-48 jam
sebelum ruam muncul. Penderita bisa diisolasi dalam udara dengan sisten udara tersaring.
Pekerja kesehatan yang rentan yang telah mengalami pajanan yang dekat dengan varisela
tidak boleh merawat penderita resiko tinggi selama masa inkubasi.

Petugas kesehatan harus memakai sarung tangan ketika bekerja dengan cairan tubuh yang
berpotensi terinfeksi, mencuci tangan dengan sabun. Kemudian,pasien dengan riwayat herpes
genital diharuskan menahan diri dari seksual saat memiliki gejala prodromal atau luka.
Selain itu, Ibu hamil dengan herpes genital aktif harus dilahirkan cesar.Listen
Read phonetically
Profilaksis globulin imun varicella zooster (GIVZ) dianjurkan untuk anak yang terganggu
sistem imunnya, wanita hamil, dan bayi baru lahir yang terpajan terhadap varisela ibu.

Pengobatan
Terapi sistemik umumnya bersifat simptomatik, untuk nyerinya diberikan analgesik. Apabila
terjadi infeksi sekunder, dapat diberikan antibiotik.
Indikasi pemberian antiviral ialah herpes zooster oftalmikus dan pasien dengan defisiensi
imunitas mengingat komplikasinya. Obat yang biasa digunakan adalah asklovir dan
modifikasinya, misalnya valasiklovir.2,4 Selain itu, antivirus yang bisa untuk herpes zooster
adalah Amantidin, Vidarabin, Idoksuridin.1
Asiklovir merupakan derivat guanin dengan spesifitas yang tinggi terhadap herpes simpleks
dan zooster. Obat ini dikonversi menjadi aminofosfat oleh timidin kinase dari virus, yang
ternyata lebih mudah melakukan fosforilasi timidin kinase sel pejamu yang tidak terinfeksi
virus. Jadi obat hanya diaktifkan dalam sel yang terinfeksi oleh virus. Obat itu nantinya akan
menghambat DNA polimerase virus dengan derajat yang lebih besar daripada terhadap enzim
hospes. 1
Obat yang lebih baru ialah famsiklovir dan pensiklovir yang memiliki paruh eliminasi lebih
lama sehingga cukup diberikan 3x250mg sehari. Obat-obatan tersebut diberikan tiga hari
sejak lesi pertama kali muncul.
Dosis asiklovir yang dianjurkan adalah 5800 mg sehari dan biasanya diberikan 7 hari.
Valasiklovir cukup 3x1000mg sehari karena konsentrasi dalam plasma lebih tinggi. Jika lesi

tetap timbul, obat-obatan masih dapat diteruskan dan dihentikan sesudah 2 hari sejak lesi baru
tidak timbul lagi.
Menurut FDA, obat untuk nyeri neuropatik pada neuropati perifer diabetik dan neuroplagia
pasca herpetik adalah pregabalin. Dosis awalnya adalah 2x75mg sehari, setelah 3-7hari dapat
dinaikan jadi 2x150mg sehari jika respon dianggap kurang. Dosis maksimum adalah 600mg
sehari. Efek samping ringan berupa dizziness dan somnolen yang akan menghilang sendiri.2
Obat lain yang dapat digunakan adalah antidepresi trisiklik (misalnya nortriptilin dan
amitriptilin)yang menghilangkan nyeri pada 44-67% kasus. Efek sampingnya antara lain
gangguan jantung, sedasi, dan hipotensi. Dosis awal amitriptilin adalah 75mg sehari
kemudian ditinggikan sampai timbul efek terapeutik, bisa sampai 150-300mg sehari. Dosis
notriptilin ialah 50-150mg sehari.
Indikasi pemberian kortikosteroid adalah pada syndrom Ramsay Hunt. Pemberian sedini
mungkin untuk mencegah terjadinya paralisis. Prednison merupakan obat yang sering
diberikan dengan dosis 3x20mg sehari. Setelah seminggu, dosis diturunkan secara bertahap.
Dikatakan bahwa kegunaannya untuk mencegah fibrosis.
Pengobatan topikal diberikan sesuai stadiumnya. Jika masih stadium vesikel, diberikan bedak
untuk mencegah pecahnya vesikel agar tidak terjadi infeksi sekunder. Bila erosif, diberikan
kompres terbuka. Kalau terjadi ulserasi, dapat diberikan salap antibiotik.
B. VARISELA

Pemeriksaan
Pemeriksaan laboratorium untuk varisela tidak begitu diperlukan karena secara klinis sudah
nampak5. Sebagian besar anak dengan varicella telah leukopenia dalam 3 hari pertama,
diikuti dengan leukositosis. Leukositosis mungkin menandakan adanya infeksi bakteri
sekunder tetapi bukan merupakan suatu pasti.
Diagnosis dapat juga dilakukan dengan percobaan Tzanck dengan membuat sediaan apus
yang diwarnai dengan Giemsa. Bahan
diambil dari kerokan dasar vesikel dan akan didapati sel datia berinti banyak. Percobaan ini
belum bisa membedakan virus varicella
zooster dengan herpes simpleks virus. Untuk membedakan kedua virus itu, biasanya
digunakan Direct Fluorescent Assay (DFA).
Kemudian, jika dilakukan biopsi kulit, tampak vesikel intraepidermal dengan degenerasi sel
epidermal dan acantholysis. Pada dermis atas dijumpai lymphocytic infiltrate6.

Uji serologi bisa digunakan untuk mengkonfirmasi infeksi masa lalu untuk menilai status
kerentanan pasien. Ini akan membantu menentukan pencegahan yang diperlukan untuk
remaja dewasa atau yang telah terekspos varicella. Secara komersial, tes latex agglutination
(LA) dan enzyme-linked immunosorbent assay (ELISA)cukup sensitif. PCR juga dapat
digunakan. 5
Varisela harus dibedakan dengan variola, penyakit ini lebih berat, memberi gambaran
monomorf dan penyebarannya dimulai dari bagian akral tubuh, yakni telapak tangan dan
telapak kaki. Selain itu, diagnosis banding untuk penyakit ini adalah dermatitis kontak,
Enteroviral Infections, Herpes Simplex Virus Infection, Impetigo dan Urtikaria. Anak-anak
dengan suhu tinggi dan tanda-tanda pernafasan harus mendapatkan radiografi dada untuk
mengkonfirmasi ada tidaknya pneumonia.
Pencegahan
Vaksin varisela dapat diberikan untuk mencegah penyakit ini. Diberikan pada yang berumur
12 bulan atau lebih. Lama proteksi belum pasti, tapi vaksin ulangan dapat diberikan setelah 46tahun. Pemberian dilakukan secara subkutan, 0.5ml pada anak berusia 12bulan sampai
12tahun. Untuk usia di atas 12 tahun juga diberikan 0.5ml, tapi setelah 4-8minggu diulangi
dengan dosis yang sama.
Bila terpajannya masih kurang dari 3 hari, perlindungan vaksin masih dapat terjadi.
Sedangkan antibodi yang cukup sudah timbul antara 3-6 hari setelah vaksinasi.
Pengobatan
Pengobatan bersifat simptomatik dengan antipiretik dan analgesik, untuk menghilangkan rasa
gatal dapat diberikan sedativa.2 Lokal diberikan bedak ditambah dengan antigatal (mentol,
kamfora) untuk mencegah pecahnya vesikel. Jika terjadi infeksi sekunder dapat diberikan
antibiotik berupa salap atau oral. Hindari menggaruk untuk mencegah luka. Pada anak, kuku
mestinya dipangkas atau bisa juga dengan menggunakan sarung tangan saat tidur untuk
mengurangi garukan.
Antivirus7

Anak-anak yang immunocompromised, orang berisiko penyakit parah, dan memiliki penyakit
parah, memerlukan perawatan khusus.Dapat pula diberikan obat-obatan antivirus seperti pada
herpes zooster. Acyclovir merupakan obat pilihan. Obat lain misalnya famciclovir (tidak
disetujui untuk anak-anak) dan foskarnet.VZIG (varicella zooster immunoglobuline) dapat
mencegah atau meringankan varisela, diberikan intramuskular dalam 4 hari setelah terpajan.
Penelitian pada hewan menunjukan adanya resiko untuk fetus pada pemberian acyklovir
(Zovirax) sehingga sebaiknya tidak diberikan pada wanita hamil. Tidak boleh juga diberikan
pada penderita gagal ginjal atau saat menggunakan obat nefrotoxic. Obat ini juga
menyebabkan malaise, gangguan gastrointestinal, dan ruam. Bioavailabilitas buruk, sehingga
pemberian

IV

sangat

penting

pada

varisela

yang

parah

dan

pasien

yang

immunocompromised.
Beberapa anak dengan varicella berkurang nafsu makan sehingga harus didorong untuk
mengkonsumsi cairan yang cukup untuk mempertahankan hidrasi.Hidrasi yang memadai
penting jika anak menerima asiklovir karena obat tersebut dapat mengkristal di tubulus ginjal
jika diberikan kepada individu yang dehidrasi.
Antipiretik
Agen ini menghambat pusat sintesis dan pelepasan prostaglandin yang memediasi
endogeneous pirogen di hipotalamus, sehingga menormalkan kembali suhu. Demam biasanya
rendah tetapi mungkin meningkat. Acetaminophen mungkin adalah obat paling aman untuk
digunakan untuk tujuan ini. Selain itu, juga bisa diberikan Ibuprofen (Motrin dan Ibuprin).
Obat ini menghambat sintesis prostaglandin, serta bersikap seperti
Hepatotoksisitas mungkin terjadi pada orang dengan alkoholisme kronis berikut berbagai
tingkat dosis; sakit parah atau berulang atau demam tinggi atau demam lanjutan mungkin
menunjukkan penyakit yang serius. Mungkin juga terdapat dosis acetaminophen kumulatif
melebihi dosis maksimum yang disarankan.
Antihistamin
Agen-agen ini tersebut dapat mengontrol pruritus dengan menghalangi efek pelepasan
histamin endogen. Pruritus mungkin parah pada varicella, mencegah tidur dan mungkin
menyebabkan infeksi jaringan parut atau sekunder. Listen

Read phonetically
C. VARIOLA2

Pemeriksaan
Pembantu diagnosis terdiri atas inokulasi pada korioalantoik, pemeriksaan virus dengan
mikroskop elektron dan deteksi antigen virus pada agar sel. Pemeriksaan histopatologik dan
serologik juga dapat dilakukan.
Pencegahan
Vaksinasi

dengan

metode

multiple

puncture

merupakan

teknik

yang

dianggap

terbaik.NHMRC menganjurkan satu dosis tunggal vaksin variola diberikan kepada semua
anak yang berumur 18 bulan kecuali yang sudah pernah terkena cacar air.8 Pada waktu
pemberian vaksin, tempat tersebut tidak perlu diberikan alkohol, cukup dengan eter atau
aseton. Vaksinasi tidak boleh diberikan jika atopi, penderita sedang mendapatkan
kortikosteroid dan defisiensi imunologik.
Pengobatan
Pasien harus dikarantina. Pengobatan secara sistemik bisa dilakukan dengan pemberian obat
antiviral seperti isoprinosin dan interferon, bisa juga dengan globulin gama. Kecuali itu,

diberikan juga obat yang bersifat simptomatik, misalnya analgetik/antipiretik. Harus


diperhatikan juga kemungkinan munculnya infeksi sekunder maupun infeksi nosokomial,
serta cairan tubuh dan elektrolit. Jika masih ada lesi di mulut, diberikan makanan lunak.
Pengobatan topikal bersifat penunjang, misalnya kompres dengan antiseptik atau salap
antibiotik.2