You are on page 1of 13

Proposal Skripsi : Pengambilan Minyak Atsiri dari Daun dan Batang Serai

Wangi Dengan Metode Distilasi Uap-Air dengan Pemanasan Microwave


Minyak atsiri adalah minyak yang terkandung dalam tumbuhan, yang bersifat mudah
menguap. Minyak atsiri merupakan salah satu komoditas ekspor andalan Indonesia, karena
Indonesia merupakan negara tropis sehingga banyak tanaman tumbuh disini. Sampai saat
ini masih sedikit dikembangkan dan atsiri yang diambil berasal dari nilam, kenanga,
cengkeh, serai wangi, pala, akar wangi dll. Atsiri ini di Indonesia masih diusahakan oleh
petani tradisional dan umumnya memakai distilasi sistem kukus. Serai wangi mulai tidak
dikembangkan oleh petani karena pengambilan minyak yang membutuhkan waktu cukup
lama yaitu sekitar 6 - 7 jam, sehingga membutuhkan biaya yang lumayan tinggi. Berangkat
dari efisien waktu dan meminimalkan pengoperasian maka saya mengembangkan teknik
distilasi uap-air menggunakan microwave sehingga didapatkan kualitas minyak yang bagus
dalam waktu yang relatif cepat yaitu sekitar 2 jam.
Serai wangi yang saya pakai penelitian adalah bagian daun dan batangnya. Variabel yang
digunakan adalah kondisi daun - batang dicacah dan utuh serta perlakuan temperature
yang cocok. Metode yang dipakai adalah distilasi uap-air, merupakan penggabungan dari
distilasi air dan distilasi steam. Penggunaan microwave ini karena microwave
menggunakan sistem radiasi gelombang, sehingga pemanasan lebih merata ke seluruh
bagian labu yang diisi bahan dan sangat beda dengan pemanasan heater, dimana panas
hanya di luarnya saja dari labu.
Prinsip penelitiannya adalah memasukkan bahan sesuai variabel dan menge-set
temperatur dengan mengubah putaran daya microwave. Bersamaan dengan itu, dipasang
perangkat distilasi (kondensor, corong pemisah, erlenmeyer), bahan direndam dalam
pelarut air dan ditambahkan juga steam untuk pemerataan panas.
Analisa-analisa yang dipakai dalam penelitian ini adalah :
1.
Berat Jenis dengan piknometer
2. Analisa Kandungan Atsiri dengan Gas Chromatografy - Mass Spectrometry
(GC-MS)
3.
Indeks Bias dengan refraktometer
4.
Bilangan Asam dengan titrasi
Utk lebih jelasnya seperti berikut proposal tugas akhir saya :
A. URAIAN SINGKAT
Minyak serai wangi (Citronella oil) dari tanaman serai wangi (Cymbopogon
winterianus) merupakan salah satu jenis minyak atsiri yang sering juga disebut dengan
minyak eteris atau minyak terbang karena kemampuannya yang mudah menguap dan
memiliki komposisi serta titik didih yang berbeda-beda. Untuk menaikkan rendemen dari
minyak serai wangi dilakukan usaha dengan memperbaiki metode distilasi dan kondisi
operasi agar proses penyulingan dapat menghasilkan minyak serai wangi dengan standar
mutu yang berlaku.

Penelitian ini bertujuan untuk mempelajari poses pengambilan minyak serai wangi
dengan penambahan steam dan air serta pemanfaatan panas dari microwave terhadap
jumlah rendemen serta mutu minyak serai wangi, mencari massa serai wangi yang tepat
untuk mendapatkan minyak serai dengan kualitas dan rendemen optimum, dan
menganalisis pengaruh lama waktu pengamatan serta suhu operasi terhadap jumlah
rendemen serta mutu minyak serai wangi.
Dalam penelitian ini dilakukan pengambilan minyak serai wangi dengan metode
distilasi uap dan air (Steam and Hydro Distillation) dengan pemanfaatan gelombang mikro
(Microwave). Bahan baku yang digunakan yaitu dari daun dan batang serai wangi. Variabel
yang digunakan antara lain kondisi daun dan batang yang basah dan kering, dicacah 2
cm dan utuh, suhu distilasi, dan waktu pengamatan selama 20 menit dari distilat awal.
Kondisi operasi dalam penelitian ini menggunakan massa daun dan batang serai wangi
sebanyak 200 gram serta tekanan atmosferik.
Uap yang dihasilkan dikondensasi dan distilat yang berupa campuran minyak dan air
dipisahkan dengan menggunakan corong pemisah, kemudian destilat yang berupa air dari
proses pemisahan menggunakan corong pemisah direfluks ke labu distilasi. Minyak yang
didapat didinginkan pada temperatur 0 C untuk memurnikan minyak dari sisa air yang
terkandung dalam minyak.
B. PENDAHULUAN
B.1 Latar Belakang Masalah
Kebutuhan minyak atsiri dunia dari tahun ke tahun semakin meningkat seiring
meningkatnya perkembangan industri modern seperti industri parfum, kosmetik, makanan,
aroma terapi dan obat-obatan. Minyak Atsiri, atau dikenal juga sebagai Minyak
Eteris (Aetheric Oil), Minyak Esensial, Minyak Terbang, serta Minyak Aromatik, adalah
kelompok besar minyak nabati yang berwujud cairan kental pada suhu ruang namun mudah
menguap sehingga memberikan aroma yang khas. (wikipedia.org/minyak_atsiri).
Sebagian komponen minyak atsiri adalah senyawa yang mengandung karbon dan
hidrogen, atau karbon, hidrogen, dan oksigen yang tidak bersifat aromatik. Senyawa-senyawa
ini secara umum disebut terpenoid (Guenther, 2006). Minyak atsiri yang sekarang sudah
dikembangkan dan menjadi komoditas ekspor Indonesia meliputi minyak atsiri dari nilam,
akar wangi, pala, cengkeh, serai wangi, kenanga, kayu putih, cendana, lada, dan kayu
manis. Minyak atsiri bisa didapatkan dari bahan-bahan diatas yang meliputi bagian daun,
bunga, batang dan akar. Dari sekian bahan atsiri diatas yang selama ini mulai tidak
dikembangkan adalah atsiri dari serai wangi (Cymbopogon winterianus), karena untuk
mendapatkan minyak atsiri tersebut menggunakan hydro distillation dansteam
distillation membutuhkan waktu yang relatif lama. Dari percobaan untuk metodehydro
distillation dihasilkan kandungan serai wangi yang dominan adalah citronellalsebesar
30,58% sedangkan untuk metode steam distillation dihasilkan citronellal sebesar 35,90% .
Padahal untuk pasar internasional kadar citronellal harus lebih besar dari 35 %
(Kadarohman,A. 2011). Tanaman serai dibagi menjadi 3 jenis yaitu serai wangi
(Cymbopogon winterianus), serai dapur (Cymbopogon flexuosus) dan rumput palmarosa
(Cymbopogon martini). Pada penelitian ini digunakan serai wangi karena sudah umum
dipakai sebagai bahan yang diambil atsiri-nya.
Serai wangi selama ini masih mendominasi dan umum diambil atsiri-nya dibanding
golongan serai lainnya. Dalam penelitian ini dilakukan pengambilan minyak atsiri dari serai

wangi dengan peningkatan teknologi yang sebelumnya umum digunakan, sehingga waktu
pengambilan menjadi lebih singkat dan rendemen yang dihasilkan lebih bagus dan
meningkat. Dalam hal ini perlu ditemukan metode baru untuk mendapatkan minyak serai
dengan waktu yang lebih singkat dan mendapatkan minyak serai yang bagus. Dalam hal ini
digunakan microwave, dimana microwave sudah tersedia dimana-mana dan mudah untuk
didapatkan, pengambilan minyak dengan menggunakanmicowave tersebut lebih cepat bila
dibandingkan dengan metode-metode yang lain dan lebih efektif panasnya karena
mengenai seluruh dari labu bila dibanding heater biasa.
Berdasarkan hal tersebut maka diperlukan penelitian mengenai distilasi daun dan
batang serai wangi dengan metode microwave-distillation dengan
modifikasi steam dan
hydro dalam prosesnya untuk mempelajari pengaruhnya terhadap kualitas minyak serai
wangi yang dihasilkan.

B.2 Perumusan Masalah


Dalam pengambilan minyak atsiri dari daun dan batang serai wangi dengan
menggunakan steam and hydro distillation dengan microwave, dibutuhkan suatu kondisi
operasi yang dapat memproduksi minyak atsiri yang sesuai dengan standar. Pada
penelitian ini dipelajari tentang kondisi operasi pada proses distilasi yang meliputi waktu
dan komposisi bahan baku dalam proses destilasi sehingga diperoleh minyak atsiri dari
daun dan batang serai wangi yang sesuai dengan standar.
B.3 Batasan Masalah
Dalam penelitian destilasi minyak atsiri dari daun dan batang serai wangi, dilakukan
pembatasan masalah dengan ruang lingkup sebagai berikut :
1. Bahan yang digunakan adalah daun dan batang serai wangi (segar dan layu) yang di
rajang / dicacah 2 cm dan utuh.
2. Metode distilasi dalam pengambilan minyak serai wangi menggunakan steam and
hydro distillation dengan microwave.
3. Kondisi operasi yang meliputi waktu dan komposisi bahan baku.

B.4 Tujuan Penelitian


Adapun tujuan penelitian ini meliputi :
1. Mempelajari proses pengambilan minyak serai wangi dari daun dan batang dengan
menggunakan steam and hydro distillation dengan pemanasan microwave.
2. Mempelajari beberapa faktor yang berpengaruh terhadap rendemen dan mutu minyak
serai wangi yang dihasilkan seperti :

Pengaruh kondisi bahan (segar dan layu)

Pengaruh perlakuan bahan (dirajang / dicacah 2 cm dan utuh)

Pengaruh bagian (daun dan batang)

Pengaruh suhu (100, 105 dan 110 C)

B.5 Manfaat Penelitian


Manfaat yang diharapkan dari penelitian destilasi minyak atsiri dari daun dan batang
serai wangi ini meliputi :
1. Memberikan informasi mengenai proses pengambilan minyak serai wangi dari daun
dan batang yang baik dan cepat dalam mendapatkan rendeman yang maksimal dan mutu
minyak serai yang berkualitas.
2. Sebagai bahan referensi dan informasi bagi penulis selanjutnya yang tertarik untuk
mengkaji dan meneliti tentang pengambilan minyak dari daun dan batang serai wangi.
C.

TINJAUAN PUSTAKA

C.1 Sejarah Tanaman Serai Wangi dan Serai Dapur


Serai wangi berasal dari Srilanka dengan kondisi tanah tropis, lembab, cukup sinar
matahari dan memiliki curah hujan yang cukup. Di Srilanka tumbuhan yang hidup secara
liar ini biasanya memiliki nama jenis lenabatu. Pada tahun 1990, jenis serai ini datang ke
Indonesia dan dibudidayakan. Sedangkan jenis lainnya adalah mahapengiri, yang diyakini
masyarakat merupakan tanaman asli Indonesia.
Serai dapur diperkirakan berasal dari India, Thailand dan Myanmar. Beberapa negara
di Asia Tenggara tanaman ini dibudidayakan, namun ada pula yang tumbuh alami seperti di
Pulau Jawa, Bali dan Sumbawa.
C.2 Jenis Jenis Tanaman Serai
Tanaman serai di Indonesia beraneka ragam dan jika dilihat dari sisi botani
kekerabatannya ditunjukkan seperti dibawah ini :
Divisi
: Spermatophyta
Kelas
: Angiospermae
Subkelas
: Monocotyledonae
Ordo
: Graminales
Famili
: Panicodiae
Genus
: Cymbopogon
Spesies
: Cymbopogon winterianus (serai wangi)
Cymbopogon flexuosus (serai dapur)
Cymbopogon martini (rumput palmarosa)
Di Indonesia terdapat tiga jenis serai antara lain :
1. Serai Wangi (Cymbopogon winterianus)

Gambar C.2.1. Serai Wangi (Cymbopogon winterianus)

Dikenal dengan nama rumput sitronella Jawa, serai wangi (Indonesia). Minyak atsiri
yang diperdagangkan bernama Java citronella. Tanaman ini tumbuh sepanjang tahun pada
daerah tropis dan sub-tropis. Curah hujan yang diperlukan untuk pertumbuhan optimal
adalah 2000- 2500 mm/tahun, dengan ketinggian tempat 500 mdpl, dan rata-rata suhu
harian 22- 27 C. Jenis tanaman ini dari keluarga rumput yang rimbun dan berumpun besar
serta mempunyai aroma yang kuat dan wangi. Sereh juga merupakan tanaman tahunan
yang hidup secara meliar. Tanaman ini dapat mencapai ketinggian sampai 1,2 meter. (Nur
Fatimah, 2010). Pengaruh iklim, ada kecenderungan kadar citronellal dalam minyak
cenderung lebih tinggi bila panen dilakukan pada musim kemarau dibanding panen pada
saat musim hujan (BPTP, 1956).
2. Serai Dapur (Cymbopogon flexuosus)

Gambar C.2.2. Serai Dapur (Cymbopogon flexuosus)


Minyak atsiri yang diperdagangkan dikenal dengan nama East Indian Lemongrass
Oil (minyak serai dapur India Timur) dan berbau seperti lemon. Sereh dapur tumbuh liar di
daerah-daerah tropis seperti Indonesia, Malaysia, Vietnam, India, Amerika Tengah,
sebagian Amerika Selatan dan Afrika. Meskipun dapat juga tumbuh pada iklim dingin
namun produktivitasnya akan menurun. Sereh dapur lebih menyukai daerah dengan
limpahan cahaya matahari yang besar, curah hujan tidak terlalu berlimpah (min 1500
mm/tahun), serta ketinggian sampai 1000 m dpl (paling baik 100-400 m). Cuaca yang
panas dan sinar matahari akan merangsang pembentukan minyak dalam tanaman. Di
daerah yang curah hujannya melimpah, sereh dapat dipanen lebih sering dibandingkan
dengan daerah kering, namun minyak yang dihasilkan berkadar sitral lebih rendah. Panjang
batang mencapai 2,5-3 m, berbentuk silindris. Daun menempel langsung pada batang,
berwarna hijau dan permukaannya mengandung lilin. Tanaman serai flexuosusmemiliki
perakaran yang luas namun dangkal. Perbungaan muncul pada pertengahan panikel.
Umumnya umur tanaman mencapai 4-(6-8) tahun (Siti.S, 2010).

3. Rumput Palmarosa (Cymbopogon martini)

(www.essentialco.com)
Gambar C.2.3. Rumput Palmarosa (Cymbopogon martini)
Cymbopogon martini berasal dari India, dikenal di Indonesia dengan nama rumput
palmarosa. Cymbopogon martini tumbuh didaerah dengan ketinggian 150-800 (-1200)
mdpl. Curah hujan untuk pertumbuhan optimal adalah sebear 750 mm per tahun. Namun
jika panen dilakukan beberapa kali dalam setahun, maka curah hujan yang diperlukan
adalah 1500 mm/tahun dengan suplai air irigasi tambahan pada musim kemarau. Rata-rata
suhu harian untuk pertumbuhan Cymbopogon martini berkisar antara 20-25 C. Tanaman
ini tumbuh pada daerah tandus dengan kemasaman tanah bersifat basa (pH 7,5-8,5) dan
bertekstur tanah liat berpasir hingga liat.
C.3 Komposisi Minyak Serai
Minyak serai wangi tergolong dalam minyak atsiri atau minyak eteris dimana istilah
tersebut digunakan untuk minyak yang mudah menguap dengan komposisi dan titik didih
yang berbeda beda (Guenther, 1987). Komponen utama dalam minyak serai dengan
metode hydro distillation dan dianalisa menggunakan GC - MS adalah citronella (30,58%)
untuk serai wangi dan geranial (42,11%) untuk serai dapur. Minyak atsiri dari serai wangi
berwarna kuning kecoklatan sedangkan minyak atsiri dari serai dapur berwarna kuning
kehijauan jernih dan mempunyai rendemen masing- masing adalah sebesar 1,14 % untuk
serai
wangi
dan
0,46%
untuk
serai
dapur (Regalado
A,
2010).

Tabel C.3.1 Perbandingan Komposisi Antara Serai Wangi (Cymbopogon winterianus)


dan Serai Dapur (Cymbopogon flexuosus) Menggunakan Metode Hydro Distillation
Cymbopogo Cymbopogon
No
Senyawa
n
flexuosus
winterianus
1
6-metil-5-hepten-2-on
0,98
2
Mirsen
13,71
3
Linalool
0,67
1,04
4
3,3,5-trimetil-1,4-heksadiena
0,52
5
Citronellal
30,58
0,22
6
trans-limonen-oksida
1,85
7
Limonene oksida
2,72
8
Neral
34,78
9
Geranial
42,11

10
11
12
13
14
15
16
17
18
19
20
21
22
23
24
25
26
27
28
29
30

Asam nerik
Neril asetat
-bergamonten
Limonen
2,6 dimetil-5-heptenal
Sitonellol
Geraniol
5,7-dimetiloktahidrokumarin
-ylangen
-elemen
-karyopilen
-humulen
Germacren
-muurolen
globulol
hedikaryol
1,6-germacradien-5-ol
Karyofilen oksida
Tau-kadinol
-kadinol
Sikloprop-azulen-4-ol

0,52
1,02
0,53
3,10
0,43
13,19
25,45
13,425
0,56
1,52
5,26
0,60
0,85
0,90
4,50
3,90
2,13
0,80
0,90
1,72
0,59
(Regalado A, 2010)

Tabel C.3.2 Komposisi Serai Wangi (Cymbopogon winterianus) Menggunakan


MetodeSteam Distillation
1
Komponen
% Komposisi
2
d - Limonene
1,8
3
Citronellal
35,9
4
Citronellole
5,2
5
Geraniole
20,9
6
Geranial
1,5
7
Citronellyl Acetate
2,9
8
Geranyl Acetate
4,0
9
Beta - Elemene
0,5
10
Germacrene D
0,8
11
Germacrene A
0,8
12
Delta - Cadinene
2,1
13
Germacrene B
6,8
14
1,1-di-epi-Cubenol
2,0
15
1-epi-Cubenol
1,9
16
Gama-Eudesmol
1,2
17
Cubenol
1,0
18
Alfa-Muurolol
2,0
19
Alfa-Cadinol
8,0

(Eduardo.C, 2006)
Citronella dari serai wangi mempunyai sifat racun (desiscant) pada nyamuk, menurut
cara kerjanya racun ini seperti racun kontak yang dapat memberikan kematian karena
kehilangan cairan secara terus-menerus sehingga tubuh nyamuk kekurangan cairan
Berdasarkan
hubungan
kekerabatan
sesama
tumbuhan (Venkataraman,
1976)mengemukakan bahwa spesies tumbuhan yang termasuk dalam genus yang sama
dari suatu famili tumbuhan tertentu akan mengandung senyawasenyawa kimia yang sama
hanya saja intensitasnya yang bervariasi, tergantung dari tempat tumbuhan itu tumbuh.
Rendemen minyak yang dihasilkan dari daun serai tergantung dari bermacam-macam
faktor antara lain: iklim, kesuburan tanah, umur tanaman dan cara penyulingan.(Regalado
A, 2010). Oleh karena itu, untuk perbandingan dipilih dua spesies dari genusCymbopogon
winterianus dan Cymbopogon flexuosus tapi untuk percobaan dipilihCymbopogon
winterianus karena sudah umum digunakan dan dilakukan perbaikan metode terhadap
percobaan terdahulu. Penyulingan atau destilasi adalah proses pemisahan komponen yang
berupa cairan atau padatan dari 2 macam campuran atau lebih berdasarkan perbedaan titik
didihnya dan proses ini dilakukan terhadap minyak atsiri yang tidak larut dalam air. Prinsip
destilasi ini adalah penguapan dan pengembunan kembali uap tersebut pada suhu titik
didih. Sebelum dilakukan penyulingan, tanaman tersebut perlu dilakukan proses pelayuan
dan pengeringan bertujuan untuk menguapkan sebagian air dalam bahan sehingga
penyulingan berlangsung lebih mudah dan lebih singkat (Ketaren, 1985).
Minyak atsiri merupakan salah satu hasil sisa dari proses metabolisme dalam
tanaman. Minyak tersebut disintesa dalam kelenjar pada jaringan tanaman dan ada juga
yang terbentuk dalam pembuluh resin, misalnya minyak terpentin dari pohon pinus
(Ketaren, 1985).
C.4 Kegunaan Minyak Serai
Serai wangi berguna untuk : kosmetik, anti serangga, pewangi sabun dan detergen,
mengobati bekas luka dan memar
Serai dapur berguna untuk : sebagai anti radang, menghilangkan rasa sakit dan
melancarkan sirkulasi darah. Faedah lain yaitu untuk sakit kepala, sakit otot, ngilu sendi,
batuk, nyeri lambung, diare, menstruasi tidak teratur, bengkak sehabis melahirkan dan
memar.
C.5 Metode Distilasi Minyak Serai Wangi
Penyulingan dapat didefinisikan sebagai pemisahan komponen komponen suatu
campuran dari dua jenis cairan atau lebih berdasarkan tekanan uap dari masing masing zat
tersebut (Wandiatmoko dan Tamba, 2009).
Metode terbaru yang digunakan untuk pengambilan minyak atsiri dari serai wangi ini adalah
:
Penyulingan

dengan Steam

dan

Hydro

Distillation

dengan

Microwave

Gambar C.5.1 Skema Peralatan Steam and Hydro Distilllation dengan Microwave
Bahan tanaman di dalam distillation flash yang terbuat dari gelas atau plastik agar
dapat ditembus oleh radiasi microwave akan menyerap radiasi tersebut hingga
mencapaikelenjar glandular dan system vascular bahan tanaman di dalam dinding sel.
Peristiwa ini menimbulkan panas sehingga dinding sel akan pecah dan minyak atsiri di
dalamnya dapat bebas keluar. Adanya air di dalam bahan tanaman yang juga panas akibat
menyerap energi elektomagnetik akan berdifusi ke dalam minyak atsiri sehingga
menimbulkan peristiwa hidrodifusi. Minyak atsiri dan air menguap bersamaan berdasarkan
prinsip
distilasi
campuran
tak
saling
larut
lalu
dikondensasikan.
C.6 Parameter Minyak Atsiri
Beberapa parameter yang biasanya dijadikan standar untuk mengenali kualitas
minyak atsiri meliputi:
C.6.1. Berat Jenis
Nilai berat jenis minyak atsiri didefinisikan sebagai perbandingan antara berat
minyak dengan berat air pada volume air yang sama dengan volume minyak. Berat jenis
sering dihubungkan dengan fraksi berat komponen-komponen yang terkandung
didalamnya. Semakin besar fraksi berat yang terkandung dalam minyak, maka semakin
besar pula nilai densitasnya (Sastrohamidjojo, 2004).
C.6.2. Indeks Bias
Indeks bias merupakan perbandingan antara kecepatan cahaya di dalam udara
dengan kecepatan cahaya didalam zat tersebut pada suhu tertentu(http:/wikipedia/indeksbias/). Indeks bias minyak atsiri berhubungan erat dengan komponen-komponen yang
tersusun dalam minyak atsiri yang dihasilkan. MenurutGuenther, nilai indeks juga
dipengaruhi salah satunya dengan adanya air dalam kandungan minyak tersebut. Semakin
banyak kandungan airnya, maka semakin kecil nilai indek biasnya. Ini karena sifat dari air
yang mudah untuk membiaskan cahaya yang datang. Jadi minyak atsiri dengan nilai indeks

bias yang besar lebih bagus dibandingkan dengan minyak atsiri dengan nilai indeks bias
yang kecil (Sastrohamidjojo, 2004).
C.6.3. Bilangan Asam
Bilangan asam menunjukkan kadar asam / lemak bebas dalam minyak atsiri. Bilangan
asam yang semakin besar dapat mempengaruhi terhadap kualitas minyak atsiri. Yaitu
senyawa-senyawa asam tersebut dapat merubah bau khas dari minyak atsiri. Hal ini dapat
disebabkan oleh lamanya penyimpanan minyak dan adanya kontak antara minyak atsiri
yang dihasilkan dengan sinar dan udara sekitar ketika berada pada botol sampel minyak
pada saat penyimpanan. Karena sebagian komposisi minyak atsiri jika kontak dengan
udara atau berada pada kondisi yang lembab akan mengalami reaksi oksidasi dengan
udara (oksigen) yang dikatalis oleh cahaya sehingga akan membentuk suatu senyawa
asam. Jika penyimpanan minyak tidak diperhatikan atau secara langsung kontak dengan
udara sekitar, maka akan semakin banyak juga senyawa-senyawa asam yang terbentuk.
Oksidasi komponen-komponen minyak atsiri terutama golongan aldehid dapat membentuk
gugus asam karboksilat sehingga akan menambah nilai bilangan asam suatu minyak atsiri.
Bilangan asam adalah ukuran dari asam lemak bebas, serta dihitung berdasarkan berat
molekul dari asam lemak atau campuran asam lemak. Bilangan asam dinyatakan sebagai
jumlah milligram KOH 0,1N yang digunakan untuk menetralkan asam lemak bebas yang
terdapat
dalam
1
gram
minyak
atau
lemak(Sastrohamidjojo,
2004).

C.7. Penelitian Terdahulu


Penelitian tentang pembuatan minyak serai wangi dengan menggunakan metode
distilasi air dan distilasi uap sebenarnya telah dilakukan baik oleh masyarakat maupun oleh
mahasiswa. Namun, kondisi operasi yang dilakukan pada umumnya berbeda, walaupun
pada intinya penelitian bertujuan untuk menghasilkan minyak serai wangi.
Adapun penelitian tentang metode distilasi air (Hydro Distillation) dan distilasi uap
(Steam Distillation) yang pernah dilakukan yaitu :
Skripsi oleh Mahasiswa Kimia ITS Surabaya (Regalado Arswendiyumna) tahun
2010 dengan judul Minyak Atsiri dari Daun dan Batang Tanaman Dua Spesies
Cymbopogon, Family Gramineae Sebagai Insektisida Alami dan Anti Bakteri. Dari hasil
penelitian yang telah dilakukan, didapat hasil sebagai berikut : Pada metode hydro
distillation rendemen minyak yang diperolehadalah rendemen masing- masing adalah
sebesar 1,14 % untuk serai wangi dan 0,46% untuk serai dapur. Untuk data kandungan
masing-masing bahan seperti yang tertera di Tabel D.3.1
Jurnal dari Mexican Chemical Society Mexico (Eduardo Cassel / Rubem M F
Vargas) 2006 dengan judul Experiments and Modelling of the Cymbopogon Winterianus
Essential Oil Extraction By Steam Distillation. Dari hasil penelitian yang telah dilakukan,
didapat hasil sesuai yang tertera pada Tabel D.3.2

D. METODOLOGI PERCOBAAN
D.1 Garis Besar Penelitian
Pada destilasi minyak atsiri ini digunakan bahan yaitu serai wangi (Cymbopogon
winterianus) sedangkan perlakuan percobaannya adalah daun dan batang serai wangi
segar dan layu serta dilakukan perajangan/dicacah 0,5 2 cm dan tidak dirajang/dicacah.
Metode penyulingan yang digunakan adalah Steam and Hidro Distillation dengan
Microwave. Dalam pemanfaatan microwave akan ditambahkan solvent berupa air untuk
mengambil minyak di dalam daun dan batang serai wangi serta dibantu oleh steam. Kondisi
operasi untuk metode ini adalah pada massa 100 gram dan tekanan 1 atm. Uap yang
dihasilkan dikondensasi dan destilat yang berupa campuran minyak dan air dipisahkan
dengan menggunakan corong pemisah, kemudian destilat yang berupa air dari proses
pemisahan menggunakan corong pemisah direfluks ke labu destilasi. Minyak yang didapat
didinginkan untuk memurnikan minyak dari sisa air yang terkandung dalam minyak.
D.2 Bahan dan Alat
D.2.1 Bahan
1.
Daun dan Batang Serai Wangi
Bahan baku daun dan batang yang digunakan adalah daun dan batang serai wangi
(segar dan layu) serta dilakukan perajangan/dicacah 2 cm dan utuhyang diperoleh dari
Desa Wonosalam Kab. Jombang.
2. Air
Air ini digunakan sebagai solvent untuk pemanfaatan microwave, selain itu juga
digunakan sebagai proses pendinginan pada kondensor untuk destilat berupa campuran air
dan minyak atsiri yang dihasilkan dari proses destilasi serta digunakan untuk pemanasan
air yang dimanfaatkan steam-nya.
3. Ethanol 90%
Ethanol dengan konsentrasi 90% digunakan untuk mengondisikan pH 7 pada
sampel (minyak atsri serai wangi) dalam titrasi untuk analisa bilangan asam.
4. Larutan KOH 0,1 N
Larutan KOH 0,1 N digunakan sebagai penitran dalam titrasi untuk analisa
bilangan asam.
5. Indikator PP
Phenolpthalein digunakan sebagai indikator dalam analisa bilangan asam. Indikator
ini memiliki perubahan warna dari tidak bewarna ke merah muda seiring kenaikan pH.

D.2.2 Alat

Gambar D.2.2.1. Skema Peralatan Steam and Hydro Distillation dengan Microwave
D.3. Prosedur Penelitian
Menimbang daun dan batang serai wangi masing-masing sebanyak 200 gram.Memasukkan
daun dan batang serai wangi yang telah ditimbang dan diperlakukan sesuai variabel
tersebut pada alat distilasi dan menambahkan air sampai bahan baku terendam untuk
pemanfaatan microwave dengan
penambahan
air. Menyalakan
pemanasmicrowave. Mengatur daya microwave sesuai dengan variabel suhu. Menghitung
waktu distilasi mulai tetes pertama keluar dari kondensor. Menghentikan proses sesuai
dengan waktu yang ditentukan. Menampung distilat dalam corong pemisah. Memisahkan
minyak dari air dengan menggunakan corong pemisah, kemudian menampung minyak
tersebut pada tabung reaksi. Menyimpan tabung reaksi yang berisi minyak ke dalam freezer
untuk mendapatkan minyak yang bebas dari air. Mengambil minyak yang bebas dari
kandungan air tersebut dengan pipet dan memindahkan ke botol sampel. Melakukan
analisa terhadap minyak yang dihasilkan

D.4. Variabel Percobaan


a.
Variabel
Bahan baku yang digunakan terdiri dari 2 bagian dari serai wangi yaitu batang dan daun.
Daun dan batang serai wangi ada yang segar dal layu.
Daun dan batang serai wangi ada yang dicacah 2 cm dan utuh
Temperatur distilasi adalah 100 0C, 105 0C dan 110 0C
Waktu pengamatan volume minyak adalah selama 20 menit dari distilat awal dalam sekali
proses.
b.
Kondisi Operasi
Massa daun dan batang serai wangi sebanyak 200 gram
Tekanan atmosferik.

D.5 Besaran yang Diukur


1.
Pengukuran rendemen minyak serai wangi.
2.
Analisa kandungan atsiri dengan menggunakan Gas Chromatography (GC) - Mass
Spectrometry (MS).
3.
Analisa Berat Jenis dengan menggunakan piknometer.
4.
Analisa Index Bias dengan menggunakan refraktometer.
5.
Analisa Bilangan Asam

D.6 Tahap Analisa


D.6.1 Analisa Bilangan Asam
Menimbang sampel (minyak serai wangi) yang akan dianalisa.
Memasukkan sampel ke dalam erlenmeyer.
Menambahkan alkohol 97% sebanyak 5 ml
Menambahkan 5 tetes indikator PP pada erlenmeyer yang berisi campuran minyak atsiri serai
wangi dan alkohol
Menitrasi campuran tersebut dengan menggunakan KOH 0,1 N sampai terjadi perubahan warna
merah jambu.
Mencatat volume KOH yang dibutuhkan untuk titrasi.
D.6.2 Analisa Indeks Bias
Satu tetes minyak serai wangi diukur dengan refraktometer dan diukur suhunya.
DAFTAR ACUAN
Arswendiyumna, Regalado. 2010. Minyak Atsiri dari Daun dan Batang Tanaman Dua Spesies Genus
Cymbopogon, Famili Gramineae Sebagai Insektisida Alami dan Antibakteri. Surabaya : Jurusan
Kimia Institut Teknologi Sepuluh Nopember.
Cassel E and Vargas R. 2006. Experiments and Modelling of the Cymbopogon Winterianus Essential Oil
Extraction By Steam Distillation, vol. 50 no. 003. Mexico : Journal of the Mexican Chemical
Society.
Guenther, Ernest. 1987. Minyak Atsiri Jilid I. Penerjemah Ketaren S. Universitas Indonesia Press :
Jakarta.
Ketaren S., 1985. Minyak Atsiri. Pengantar Teknologi Minyak Atsiri. Balai Pustaka Jakarta.
Kadarohman, Asep. 2011. Minyak Atsiri sebagai Teaching Material dalam Proses Pembelajaran Kimia.

Sumber :
http://caesarvery.blogspot.com/2012/11/pengambilan-minyak-atsiri-dari-daundan.html diakses tanggal 3 April 2013.