You are on page 1of 27

FISTULA PERIANAL

OLEH
M FAKHRI HAMAS

BAB I
Pendahuluan
Fistula
perianal
merupakan
sebuah
hubungan yang abnormal antara epitel dari
kanalis anal dan epidermis dari kulit
perianal.
Fistula perianal adalah bentuk kronik dari
abses anorektal yang tidak sembuh yang
membentuk traktus akibat inflamasi.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

Anatomi & Fisiologi

Normalnya, kelenjar rektum yang terdapat


di kripta antar kolumna rektum berfungsi
sebagai
barrier
terhadap
lewatnya
mikroorganisme penyebab infeksi yang
berasal dari lumen usus ke daerah
perirektal.
Kelenjar ini mengeluarkan semacam lendir,
berguna sebagai pelicin/ lubrikasi. Saluran
ini memiliki klep satu arah agar produksi
bisa keluar tapi feses tidak bisa masuk.
Terhalangnya jalan keluar produksi dari
kelenjar ini akibat stasis menyebabkan
kuman dan cairan feses masuk ke dalam
kelenjar. Feses yang banyak kumannya
berkembang biak ke dalam kelenjar,
membentuk peradangan yang jadi abses.
Abses akan mencari jalan keluar dan
membentuk
semacam
pipa
yang
menembus kulit. Akibatnya, kulit jadi
tampak seperti bisul lalu pecah. Pecahan ini
tidak bisa menutup karena nanah selalu
keluar dan tidak bisa kering karena
berhubungan dengan feses.

Insiden & Epidemiologi

Fistula perianal sering terjadi pada laki laki


berumur 20 40 tahun, berkisar 1-3 kasus tiap
10.000 orang. Sebagian besar fistula terbentuk
dari sebuah abses (tapi tidak semua abses
menjadi fistula). Sekitar 40% pasien dengan
abses akan terbentuk fistula.

ETIOLOGI

Nonspecific :
Cryptoglandular in origin.

Specific :
Crohns
Ulcerative colitis
TB
Actinomycosis
Carcinoma
Trauma
Radiation
Foreign body
Lymphoma
Pelvic inflammation
Leukemia

Patofisiologi

Hipotesa kriptoglandular menyatakan bahwa


infeksi yang pada awalnya masuk melalui
kelenjar anal akan menyebar ke dinding otot
sphingter anal menyebabkan abses anorektal.
Abses
yang
pecah
spontan,
akhirnya
meninggalkan bekas berupa jaringan granulasi di
sepanjang saluran, sehingga menyebabkan
gejala yang berulang.

Klasifikasi Fistula Perianal


Berdasarkan lokasi internal opening
(2):
- Fistula letak rendah dimana
internal opening fistel ke anus
terdapat di bawah cincin anorektal.
Fistula letak rendah dapat dibuka
tanpa
takut
adanya
resiko
inkontinensia
permanen
akibat
kerusakan bundle anorektal.
- Fistula letak tinggi dimana internal
opening fistel ke anus terdapat di
atas cincin anorektal. Pada fistula
letak
tinggi
dilakukan
koreksi
bertahap dengan prosedur operasi
yang lebih sulit.

Klasifikasi Fistula Perianal

Menurut Klasifikasi Parks(4):


Interspingterika merupakan bentuk fistula yang sering
terjadi. Saluran fistel berada di daerah intersphingterika.
Transphingterika, biasanya disebabkan oleh abses isiorektal.
Fistula menghubungkan intersphingtrerika dengan fosa
isiorektal oleh adanya perforasi di sphingter eksternal dan
kemudian ke kulit.
Suprapshingterika, biasanya merupakan hasil dari abses
supralevator. Seperti Transphingterika tapi saluran berada di
atas sphingter eksternal dan ada perforasi di muskulus
levator ani.
Ekstrasphingterika. Saluran melewati rektum ke lapisan kulit
perineum, fossa isiorektal melalui m. levator ani dan
akhirnya ke dalam anus.

Intersphincteric fistula

Transsphincteric fistula

Suprasphincteric fistula

Extrasphincteric fistula

Penegakan Diagnosis
Anamnesis:
Gejala berulang dengan selang waktu diantaranya mengeluarkan nanah sedikitsedikit
Nyeri pada saat bergerak, defekasi dan batuk
Ulkus
Keluar cairan purulen
Benjolan (Massa fluktuasi)
Pruritus ani
Demam
Kemerahan dan iritasi kulit di sekitar anus
General malaise
Fistula kompleks adalah sebagai berikut:
Radang usus
Divertikulitis
Sebelumnya terapi radiasi untuk kanker prostat atau dubur
Tuberkulosis
Terapi steroid
Infeksi HIV

Pemerikasaan Fisik:
Pada pemeriksaan fisik di daerah anus (dengan
pemeriksaan digital/rectal toucher) ditemukan
satu atau lebih eksternal opening fistula atau
teraba adanya fistula di bawah permukaan kulit.
Eksternal opening fistula tampak sebagai bisul
(bila abses belum pecah) atau tampak sebagai
saluran yang dikelilingi oleh jaringan granulasi.
Internal opening fistula dapat dirasakan sebagai
daerah indurasi/ nodul di dinding anus setinggi
garis dentata. Terlepas dari jumlah eksternal
opening, terdapat hampir selalu hanya satu
internal opening.

Pemeriksaan Penunjang

Pemeriksaan Laboratorium
Tidak ada studi laboratorium khusus yang
diperlukan; studi pra operasi normal dilakukan
berdasarkan usia dan komorbiditas.
Pemeriksaan Radiologi
Fistulografi
Ultrasound endoanal / endorektal
MRI Barium Enema
Anal Manometri

Penatalaksanaan
Medikamentosa
Terapi bedah

Penatalaksanaan

1.
2.
3.
4.
5.

The principles are:


Identification of the primary opening.
Relationship to puborectalis
Least amount of muscles should be divided.
Side tracts should be sought,
Presence of underlying disease.

Terapi Konservatif Medikamentosa dengan pemberian analgetik, antipiretik


serta profilaksis antibiotik jangka panjang untuk mencegah fistula rekuren.
Terapi pembedahan:
Fistulotomi: Fistel di insisi dari lubang asalnya sampai ke lubang kulit,
dibiarkan terbuka,sembuh per sekundam intentionem. Dianjurkan sedapat
mungkin dilakukan fistulotomi.
Fistulektomi:Jaringan granulasi harus di eksisi keseluruhannya untuk
menyembuhkan fistula. Terapi terbaik pada fistula ani adalah
membiarkannya terbuka.
Seton: benang atau karet diikatkan malalui saluran fistula. Terdapat dua
macam Seton, cutting Seton, dimana benang Seton ditarik secara gradual
untuk memotong otot sphincter secara bertahap, dan loose Seton, dimana
benang Seton ditinggalkan supaya terbentuk granulasi dan benang akan
ditolak oleh tubuh dan terlepas sendiri setelah beberapa bulan.
Advancement Flap: Menutup lubang dengan dinding usus, tetapi
keberhasilannya tidak terlalu besar.
Fibrin Glue: Menyuntikkan perekat khusus (Anal Fistula Plug/AFP) ke
dalam saluran fistula yang merangsang jaringan alamiah dan diserap oleh
tubuh. Penggunaan fibrin glue memang tampak menarik karena sederhana,
tidak sakit, dan aman, namun keberhasilan jangka panjangnya tidak tinggi,
hanya 16%.

Setons in the Management of


Difficult Fistulas

Pasca operasi

Setelah operasi mungkin akan terdapat sedikit


darah ataupun cairan dari luka operasi untuk
beberapa hari, terutama sewaktu buang air besar.
Perawatan luka pasca operasi meliputi sitz bath
(merendam
daerah
pantat
dengan
cairan
antiseptik), dan penggantian balutan secara rutin.
Obat obatan yang diberikan untuk rawat jalan
antara lain antibiotika, analgetik dan laksatif.
Aktivitas sehari hari umumnya tidak terganggu dan
pasien dapat kembali bekerja setelah beberapa
hari.

Komplikasi

Komplikasi dini pasca operasi, sebagai berikut :


Retensi urin
Pendarahan
Impaksi tinja
Thrombosed wasir
Komplikasi tertunda pascaoperasi, sebagai berikut :
Kambuh
Inkontinensia
stenosis Anal: Proses penyembuhan menyebabkan
fibrosis dari lubang anus. Bulking agen untuk
membantu mencegah bangku sempit.

Prognosis

Fistel dapat kambuh bila lubang dalam tidak turut


dibuka atau dikeluarkan, cabang fistel tidak turut
dibuka, atau kulit sudah menutup luka sebelum
jaringan granulasi menempel permukaan.
Setelah fistulotomy, tingkat kekambuhan dilaporkan
adalah 0-18% dan tingkat dari setiap inkontinensia tinja
adalah 3-7%.
Setelah menggunakan Seton, melaporkan tingkat
kekambuhan adalah 0-17% dan tingkat dari setiap
inkontinensia feses adalah 0-17%.
Setelah flap mukosa, tingkat kekambuhan dilaporkan
adalah 1-17% dan tingkat dari setiap inkontinensia
feses adalah 6-8%.

BAB III
Kesimpulan
Fistula perianal yang merupakan sebuah
hubungan yang abnormal antara epitel dari
kanalis anal dan epidermis dari kulit perianal.
Fistula perianal adalah bentuk kronik dari
abses anorektal yang tidak sembuh yang
membentuk traktus akibat inflamasi.
Hampir semua fistel perianal disebabkan oleh
perforasi atau penyaliran abses anorektum
Sebagian besar fistula ani memerlukan
operasi karena fistula ani jarang sembuh
spontan.

TERIMA
KASIH