You are on page 1of 21

Mengintip Masa Lalu Lewat Bangunan Bersejarah di Bima (1

)
Puncak musim panas di Bima biasanya berlangsung sampai November. Terkadang berkepanjangan hingga awal Desember. Dalam kurun waktu itu udara di siang hari menyengat. Kota Bima selain lewat udara, dapat juga dicapai lewat darat dari Poto Tano, Sumbawa dan jalur laut. Perjalanan dengan mobil dari lapangan terbang Sultan Muhammad Salahuddin hanya sekitar 20 menit menuju Kota Bima. Jarak antara lapangan terbang dan pusat kota sekitar 20 kilometer. Di barat ada pelabuhan laut, jaraknya sekitar satu kilometer dari pusat kota. Tidak banyak pemandangan menarik di sepanjang perjalanan selama musim panas, kecuali alunan ombak pantai Teluk Bima. Selebihnya gunung-gunung yang diapit pantai dan bukit-bukit gundul. Beberapa kilometer sebelum memasuki kota, kita menjumpai pelabuhan dan depot minyak Pertamina dan tempat rekreasi, Pantai Lawata. Pantai tersebut panjangnya lebih kurang setengah kilometer yang dinaungi oleh bukit berbatu. Ada beberapa bangunan di atas bukit di dekat pantai. Pada harihari libur, tempat tersebut banyak didatangi masyarakat. Lawata ibarat sebuah gerbang “selamat datang”, memberi isyarat bahwa perjalanan akan segera memasuki Kota Bima. Di mulut kota terdapat sebuah terminal bus yang bernama Terminal Dara. Dinamakan demikian karena terletak di Desa Dara. Juga tidak banyak hal menarik yang ditemui di dalam kota, kecuali sebuah bangunan kuno Istana Bima atau akrab dikenal dengan Asi Mbojo, bangunan berlantai dua hasil perpaduan arsitektur asli Bima dan Belanda. Istana ini menggantikan bangunan sebelumnya yang dibangun pada abad ke-19, yang bergaya Portugis. Ukurannya jauh lebih kecil dibanding istana sekarang. Kini bangunan Istana Bima menjadi museum dengan nama Museum Asi Mbojo. Memandang Museum Asi Mbojo sekarang, kita seperti pergi ke masa lalu, ketika Kerajaan Bima berjaya. Bangunan yang pernah menjadi istana raja-raja Bima itu mampu bercerita banyak tentang masa lalu moyang orang Bima yang legendaris. Di sebelah timur areal istana berdiri Masjid Agung Bima. Dulu namanya Masjid Agung AlMuwahidin. Sebelah barat adalah lapangan taman kota yang dulunya adalah lapangan sepak bola. Selebihnya adalah toko-toko, losmen-losmen dan pelabuhan laut. Kotoran kuda-kuda penarik “Benhur“, kendaraan

tradisional Bima, bertebaran di jalan-jalan beraspal. Di musim panas kotoran itu menjadi debu yang menyapu kota. Asi Mbojo di masa jayanya tidak sepi dari kegiatan sehari-hari kesultanan. Walaupun saat ini tersia-sia, pada masa lalu Asi Mbojo merupakan tempat sakral yang menjadi pusat pemerintahan, seni dan budaya, pusat penyiaran Islam dan Pengadilan Hadat. Asi Mbojo didampingi Asi Bou, sebuah rumah panggung asli Bima, merupakan tempat kediaman resmi sultan dan keluarganya. Tapi kini mereka menyendiri dan kesepian. Istana atau Asi dalam Bahasa Bima dikenal oleh masyarakat Bima pada sekitar abad ke-11 Masehi. Istana Bima (Asi Mbojo) adalah bangunan bergaya Eropa. Mulai dibangun pada tahun 1927. Bangunan ini dirancang oleh seorang arsitek kelahiran Ambon, Rehatta, yang diundang ke Bima oleh penjajah Belanda. Ia dibantu oleh Bumi Jero. Istana yang kini telah beralih fungsi sebagai museum daerah itu adalah sebuah bangunan permanen berlantai dua yang merupakan paduan arsitek asli Bima dan Belanda. Istana tersebut resmi menjadi Istana Kesultanan Bima pada tahun 1929. Pembangunan istana dilakukan secara bergotong-royong oleh masyarakat, sedang sumber pembiayaan berasal dari anggaran belanja kesultanan dan uang pribadi sultan. Asi Mbojo, bangunan paling indah dan megah pada masa kesultanan, memiliki halaman seluas 500 meter persegi yangditumbuhi pohon-pohon rindang dan taman bunga yang indah. Bangunan istana diapit oleh dua pintu gerbang timur dan barat yang senantiasa dijaga oleh anggota pasukan pengawal kesultanan. Konsepsi tata letak bangunan istana tidak jauh berbeda dengan istana lain di tanah Air. Istana menghadap ke barat. Di depannya terdapat tanah lapang atau alun-alun namanya Serasuba. Di sinilah raja tampil secara terbuka di depan rakyat di saat-saat tertentu, misalnya saat diselenggarakan upacara-upacara penting atau perayaan hari besar keagamaan. Serasuba juga menjadi arena latihan pasukan kesultanan. Di sebelah alun-alun terdapat sebuah bangunan masjid, sebagai sarana kegiatan ritual keagamaan (Islam). Kini masjid itu bernama Masjid Sultan. Tanah lapang berbentuk segi empat (mendekati bujur sangkar). Satu sisi bersebelahan dengan bangunan masjid dan sisi yang lain menyatu dengan halaman istana. Jelaslah bahwa bangunan istana, alun-alun dan masjid merupakan satu kesatuan yang utuh. Untuk memberi kesan sebagai bangunan monumental, istana bisa dipandang dari empat penjuru angin. Tampaknya pembangunan istana memperhatikan konsepsi filosofi sebuah istana yang di dalamnya mentyiratkan kesatuan unsur pemerintahan, agama dan rakyat (masyarakat). Namun, kini konsep filosofi itu telah sirna sejalan dengan dikapling-kaplingnya tanah di sekitar istana oleh segelintir orang untuk rumah dan kantor. Bukan saja istana menjadi kehilangan keanggunan dan kesan monumentalnya tapi konsep filosofinya menjadi berantakan. Masjid Raya Kesultanan, kini Menjadi Masjid Agung Bima, telah terpisah jauh dari

Istana, seperti sudah keluar dari konteks. dari sini terbaca bahwa orang Bima mengalami krisis jati diri dan wawasan kebangsaan yang laten. Bersamaan dengan berakhirnya masa kesultanan pada tahun 1952, maka berakhirlah peranan Asi Mbojo sebagai pusat pemerintahan, pusat pengembangan seni dan budaya, pusat penyiaran Islam dan pusat pengadilan hadat. Kini bangunan tersebut menjalani fungsi yang baru sebagai museum bagi barang-barang peninggalan raja-raja dan sultansultan Bima. Di kedua pintu gerbang tidak ada lagi anggota pasukan pengawal kesultanan. Alun-alun Serasuba telah beralih fungsi menjadi lapangan sepakbola. Halaman belakang Istana yang dulunya merupakan taman bunga yang indah, sejak tahun 1963 diperjual-belikan kepada masyarakat untuk pengembangan rumah-rumah pribadi. Ia seolah-olah harus sirna karena merupakan apa yang dikatakan — segelintir orang — sebagai lambang “feodalisme masa lalu”. Keadaan istana betul-betul parah pada tahun 1966. Istana yang senantiasa bersih dan terawat dengan baik, berubah menjadi kotor dan beberapa bagian bangunan rusak dan runtuh. Bangunan termewah dikota Bima itu akhirnya merana. Istana kemudian beralih fungsi menjadi mess pegawai dan tentara. Usaha untuk mengembalikan keindahan istana dimulai tahun 1978. Pemerintah pusat melakukan pemugaran dan menjadikannya sebagai bangunan lama yang harus dilindungi dan dilestarikan. Beberapa bangunan bersejarah bisa ditemukan di dalam lingkungan istana, yaitu pintu-pintu gerbang dan sebuah tiang bendera setinggi 50 meter. Pintu gerbang sebelah barat dan sebelah timur bernama Lare-lare merupakan pintu resmi kesultanan yaitu tempat masuknya sultan, para pejabat kesultanan dan tamu-tamu sultan. Lare-lare berbentuk masjid tiga tingkat. Tingkat atas (loteng merupakan tempat untuk menyimpan Tambur RasanaE dan dua buah lonceng. Tambur RasanaE dibunyikan sebagai tanda pemberitahuan adanya upacara kebesaran, sedangkan kedua lonceng dibunyikan untuk pemberitahuan tanda bahaya dan waktu.

Berwisata Sejarah Ke Museum Asi Mbojo

Anda ingin melihat benda-benda bersejarah serta tempat tinggal raja dan sultan Bima di masa lalu ? Nah, salah satu tempat yang akan memberikan informasi serta menambah wawasan anda tentang kerajaan dan kesultanan Bima adalah di Museum Asi Mbojo yang dulunya merupakan Istana bagi raja dan sultan Bima. Museum ASI Mbojo (Istana Bima) dikonstruksi dengan campuran gaya eropa dan Bima pada tahun 1927 oleh Mr. Obzicshteer Rehata dan selama ini dijadikan sebagai museum dimana anda bisa melihat barang – barang serta pakaian adat yang digunakan pihak Istana Kerajaan serta para prajurit waktu itu. Beberapa barang itu ada yang terbuat dari emas, perak dan tembaga seperti mahkota, payung, keris, senjata, perlengkapan kuda istana dan lain – lain serta dapat dilihat barang – barang yang diperggunakan untuk aktivitas sehari – hari. Benda-benda yang dipamerkan di Museum Asi Mbojo ini tidak hanya berasal dari zaman kerajaan dan kesultanan, akan tetapi benda-benda purba kala sebelum masa kerajaan dan kesultanan Bima juga dapat anda lihat di tempat ini. Museum Asi Mbojo terletak di pusat kota Bima. Lokasinya terletak di sebelah timur pasar raya Bima dan di depannya terdapat sebuah Tanah Lapang atau Alun-alun yang dikenal dengan nama SERA SUBA. Sera berarti tanah lapang, Suba berarti perintah. Sera Suba merupakan tanah lapang tempat para raja dan sultan memberikan perintah berkaitan dengan kepentingan rakyat dan negeri.(*alan)

Mengintip Sejarah Bima Lewat Museum Asi Mbojo (Berita Daerah - Nusa Tenggara) - Luas, kokoh dan kuno. Itulah kesan yang tertangkap dari gedung Museum Asi Mbojo yang terletak di jantung Kota Bima. Bangunan tersebut dahulu merupakan istana kasultanan Bima, kini berfungsi sebagai museum. Museum Asi Mbojo bukan hanya saksi sejarah Bima, lebih dari itu ia menyimpan cerita panjang temali benang merah peradaban masyarakat Bima dari masa kesultanan Bima hingga kini. Arsitektur bangunan Museum Asi Mbojo merupakan perpaduan khas Bima dan Belanda. Bangunan kokoh dan menjulang itu terdiri dua lantai dan menempati areal tidak kurang dari lima are. Asi Mbojo berarti Istana Bima. Istana itu dibangun pada 1927 dan resmi menjadi istana kasultanan Bima pada 1929. Bangunan istana diapit oleh dua pintu gerbang di sisi barat dan timur. Tata letak Asi Mbojo tidak jauh berbeda dengan istana lain di Tanah Air. Istana menghadap ke barat dan di depannya terdapat tanah lapang atau alun-alun bernama Serasuba. Di tempat itulah konon raja tampil secara terbuka di depan rakyat di saatsaat tertentu, misalnya saat diselenggarakan upacara-upacara penting atau perayaan hari besar keagamaan. Serasuba juga menjadi arena latihan pasukan kesultanan.

Di sebelah alun-alun terdapat sebuah bangunan masjid, sebagai sarana kegiatan ritual keagamaan. Istana, alun-alun dan masjid yang merupakan konsepsi filosofi pemerintah, rakyat dan agama merupakan satu kesatuan yang utuh. Petugas museum, Astuti menjelaskan, bersamaan dengan berakhirnya masa kesultanan pada 1952, maka berakhirlah peranan Asi Mbojo sebagai pusat pemerintahan, pusat pengembangan seni dan budaya, pusat penyiaran Islam dan pusat pengadilan adat. Museum Asi Mbojo menyimpan barang-barang peninggalan raja-raja dan sultan-sultan Bima. Di kedua pintu gerbang tidak ada lagi anggota pasukan pengawal kesultanan. Alun-alun Serasuba telah beralih fungsi menjadi lapangan sepakbola. Memasuki bagian gedung Museum Asi Mbojo, di lantai satu di bagian kanan, langsung tersaji koleksi akaian adat untuk perkawinan kalangan bangsawan dan masyarakat jelata berikut pelaminannya. Di sisi lainnya, ada sejumlah almari yang menyimpan koleksi alat pertanian, alat berburu, alat transportasi, alat yang digunakan dalam bidang perikanan, peralatan memasak, peralatan makan dan lain sebagainya. "Alat-alat tradisional ini merupakan alat-alat yang digunakan masyarakat Bima pada masa lalu," kata petugas museum, Astuti, ketika mendampingi berkeliling museum. Koleksi lainnya diantaranya berupa pakaian adat Bima, pakaian untuk kesenian tari, kitab-kitab koleksi Sultan, senjata api jaman Portugis dan Belanda serta koleksi lainnya. Di bagian kiri terdapat ruangan untuk menyimpan koleksi senjata seperti keris, trisula dan perlengkapan perang lainnya. Tidak kurang dari 100 koleksi di ruang itu. Koleksi-koleksi di tempat tersebut semuanya terbuat dari emas dan perak. Setelah naik tangga di bagian tengah ruangan, di lantai dua terdapat sejumlah kamar atau ruang tidur keluarga Sultan. Diantara kamar-kamar tersebut ada satu kamar yang dulu pernah digunakan untuk menginap Presiden RI I, Soekarno, ketika berkunjung ke Bima. Presiden Soekarno berkunjung ke kasultanan Bima pada 1945 dan 1951. Astuti mengatakan, koleksi-koleksi yang ada di Museum Asi Mbojo itu hanya sebagian dari koleksi kasultanan Bima. Sebagian koleksi lainnya disimpan keluarga Sultan. Kesultanan Bima adalah kerajaan yang terletak di Bima. Penduduk daerah ini dahulunya beragama Hindu (Syiwa). Menurut catatan lama Istana Bima, pada masa pemerintahan raja yang bergelar "Ruma Ta Ma Bata Wadu", menikah dengan adik dari isteri Sultan Makassar Alauddin

bernama Daeng Sikontu, puteri Karaeng Kassuarang. Ia menerima agama Islam pada tahun 1050 H atau 1640 M. Raja atau Sangaji Bima tersebut digelari dengan "Sultan" yakni Sultan Bima I (Sultan Abdul Kahir). Setelah Sultan Bima I mangkat dan digantikan oleh putranya yang bernama Sultan Abdul Khair Sirajuddin sebagai Sultan II, maka sistem pemerintahannya berubah dengan berdasarkan "Hadat dan Hukum Islam". Sementara itu, Sultan Ibrahim (Sultan Bima ke- XI) dari pernikahannya melahirkan Sultan Salahuddin yang kemudian diangkat menjadi Sultan Bima ke- XII sebagai Sultan Bima terakhir. Butuh Waktu Berkunjung ke Museum Asi Mbojo memang merupakan agenda yang menarik, namun untuk menjangkaunya dari Mataram, Ibukota Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB), butuh waktu cukup lama. Apalagi musim kemarau membuat udara kurang bersahabat. Panas terik dan kering kerontang mewarnai udara serta area pertanian di daerah tersebut. Hujan juga jarang turun. Perjalanan darat dari penyeberangan Poto Tano di Kabupaten Sumbawa menyusuri perbukitan hingga Dompu sampai Bima, yang terlihat hanya perbukitan dengan pepohonan meranggas, sementara rerumputan di padang penggembalaan mengering. Sepertinya tidak ada pemandangan yang menarik sepanjang perjalanan selama musim panas di Pulau Sumbawa, kecuali hamparan pantai dengan air membiru yang masih menyisakan kesan keteduhan. Bima adalah salah satu kota di Pulau Sumbawa yang merupakan bagian dari Provinsi NTB. Untuk menjangkau kota ini dari Mataram dapat ditempuh melalui jalur darat atau jalur udara. Jika ditempuh melalui perjalanan darat, dari Mataram harus melakukan perjalanan darat lebih dulu ke pelabuhan penyeberangan Kayangan di Kabupaten Lombok Timur. Waktu tempuh antara Kota Mataram-Lombok Timur berkisar 1,5 -2 jam. Perjalanan masih harus dilanjutkan dengan menyeberang ke Poto Tano di Kabupaten Sumbawa dengan waktu tempuh antara 1,5 - 2 jam. Setelah tiba di pelabuhan penyeberangan di Pulau Sumbawa itu, perjalanan ke Bima masih harus menempuh jarak sekitar 350 kilometer lagi. Meski jalannya beraspal, tapi untuk menempuh jarak sejauh itu perlu konsentrasi tinggi, sebab jalan yang ditempuh berkelok-kelok, naik turun menyusuri bukit dan jurang di sisi jalan yang curam. Namun, jika ingin perjalanan lebih singkat, dari Bandara Selaparang di Mataram, bisa langsung naik pesawat menuju jurusan Bandara Sultan

Muhammad Salahuddin di Bima. Waktu tempuh sekitar 30 menit. Harga tiket pesawat Mataram-Bima cukup terjangkau karena selama ini masih disubsidi oleh pemerintah daerah setempat. Jika ditempuh melalui perjalanan darat, beberapa kilometer sebelum memasuki kota Bima, tepatnya memasuki wilayah Kecamatan Bolo, di sepanjang kiri jalan mulai terlihat hamparan tambak garam. Ratusan bahkan mungkin ribuan hektar tambak garam terpetak-petak. Para petani sedang memanen garam setelah air laut yang dialirkan ke petak-petak tambak, mulai menghasilkan kristal putih yakni garam. Sebagian lainnya memasukkannya ke karung. Harga per karung (60 kilogram) sebesar Rp60 ribu. Beberapa saat setelah itu mulai terlihat panorama Pantai Lawata. Pantai dengan panjang sekitar setengah kilometer itu pada hari libur banyak dikunjungi masyarakat. Karena letaknya sebelum masuk kota, maka Pantai Lawata oleh sebagian orang dijuluki juga sebagai pantai selamat datang. Meski untuk menjangkau Museum Asi Mbojo butuh waktu panjang, tapi sesampainya di lokasi bangunan kuno itu rasa lelah akan terlunasi dengan segudang cerita sejarah Bima yang sangat melegenda. ISTANA BIMA Letak dan Lingkungan Istana Bima yang disebut Asi Mbojo merupakan salah satu tinggalan arkeologi yang awalnya merupakan tempat tinggal Raja-raja Bima. Dalam perkembanganya Istana ini pernah beberapa kali berubah fungsi antara lain : sebagai barak tentara, kantor ruang kerja dan terakhir (saat ini) sebagai Museum Asi Mbojo yang berfungsi sebagai tempat penyimpanan benda-benda peninggalan kerajaan Bima. Sebagai mana layaknya sebuah bangunan istana, Istana Bima terletak di pusat pemerintahan Kasultanan Bima, yaitu di Kota Bima yang kita kenal sekarang. Kota Bima terletak di kabupaten Bima merupakan salah satu daerah otonomi di propinsi Nusa Tenggara Barat, terletak di ujung timur pulau Sumbawa tepatnya pada posisi 0-477,50 M diatas permukaan laut

dan berada pada 117 ‘ 40’ sampai 119’ 10 Bujur timur dan 70’30 Lintang selatan. Dengan batas-batas wilayah sebagai berikut : Sebelah utara Sebelah selatan Sebelah Timur Sebelah Barat : Laut Flores : Samudra Indonesia : Selat Sape : Kabupaten Dompu

Luas wilayah kabupaten Bima adalah 4.596,90 Km2 atau 22.5% dari total luas Propinsi NTB. Secara administratif Kabupaten Bima terdiri dari 16 Kecamatan dan terdapat satu kota Administratif yakni kotif Bima.Semula hanya ada 10 Kecamatan, namun pada Tahun 2000 enam kecamatan mengalami pemekaran yang telah didefinitifkan Tahun 2001. Secara umum topografi kabupaten Bima berbukit-bukit setiap wilayahnya mempunyai topografi yang cukup berpariasai dari datar hingga bergunung-gunung. Kabupaten Bima beriklim tropis dengan musim hujan yang relatif pendek yakni dari bulan desember sampai dengan maret. Sedangkan berdasarkan data kependudukan jumlah penduduk di akhir tahun 2008 adalah 509,951 jiwa. Sebagai kota yang pernah menjadi ibukota sebuah negara (Bima), dan kini dikembangkan sebagai kota terbesar di Kabupaten Bima, sarana transportasi dan komunikasi dengan dunia luar sangat memadai. Kita dapat berkunjung ke Bima melalui jalan darat, laut, ataupun dengan pesawat udara. Disamping pelabuhan laut yang berjarak hanya sekitar satu kilometer dari komplek Istana Bima, di Bima juga terdapat sebuah Bandar udara yang dapat didarati pesawat F 27. Latar Sejarah Sejarah keberadaan sebuah istana terkait erat dengan keberadaan dari kerajaan itu sendiri. Dalam hal ini sejarah kerajaan Bima, khususnya masa awal berdirinya kerajaan Bima, masih diselimuti kabut misteri karena diantara sumber-sumber yang ada masih berbau cerita legenda.

Bukti-bukti sejarah kepurbakalaan yang ditemukan di kabupaten Bima seperti Wadu Paa dan Wadu Noco, Wadu Tunti (batu bertulis) di dusun Padende Kecamatan Dongo menunjukan bahwa daerah ini sudah lama dihuni manusia. Menurut legenda nama Bima diambil dari nama tokoh “ Sang Bima “, seorang bangsawan dari Jawa yang berhasil mempersatukan kerajaankerajaan kecil di daerah ini menjadi satu kerajaan, yaitu kerajaan Bima. Sang Bima kawin dengan seorang putri yang cantik jelita, bernama Tasi Naring Naga. Dari perkawinanya itu lahir Indra Jambrud dan Indra Kumala, yang kelak menjadi cikal bakal dan menurunkan raja-raja Bima dan Dompu. Braam Morris menyebutkan bahwa tidak kurang dari 49 raja yang pernah memerintah di Bima, sedangkan Maharaja (“Sang”) Bima ditempatkan pada urutan ke sebelas. Kronik Bima (naskah “ Bo” kerajaan Bima) mencatat bahwa pada masa pemerintahan Sariese, raja Bima yang ke- 36, terjadilah kontak pertama dengan orang-orang Eropa (mungkin Portugis). Sedangkan raja ke- 37, raja Sawo adalah raja terakhir yang belum menganut agama Islam. Ia digantikan oleh anaknya, bernama Abdul Kahar, sebagai raja ke38, raja pertama dari dinasti Kasultanan Bima yang memeluk agama Islam dan bergelar Sultan. Tentang kapan masuknya ajaran agama Islam di Bima diperoleh imformasi yang beragam. Naskah “Bo” kerajaan Bima menyebutkan bahwa ketika raja Bima dalam tahun 1015 H (= 1616 M) pergi ke Gowa untuk kawin dengan putri raja Gowa, ia kemudian bergelar Sultan Abdul Kahir atau Kahar, yang mungkin sekali adalah Sultan yang oleh Zollinger disebut Abdul Galir. Abdul Kahir menjadi Sultan Bima sejak tahun 1630, sampai dengan 1640, sedangkan Braam Morris mengatakan sejak 1640, tanpa menyebutkan tahun berakhirnya. Ia dikenal sebagai peletak dasar agama Islam di Bima dan menjadikan kerajaan Bima sebagai kerajaan Islam. Di dalam sejarah daerah Bima maupun dalam catatan lontar Gowa, ia

dikenal dan sering disejajarkan dengan Sultan Alaudin dan Sultan Malikul Said dari kerajaan Gowa dan Tallo, baik dalam hal penyebaran agama Islam maupun dalam perebutan pengaruh terhadap Belanda yang ingin menguasai perdagangan di Indonesia bagian timur pada waktu itu. Setelah beliau wafat pada tahun 1640, digantikan oleh puteranya, yaitu Sultan Abdul Khair Sirajuddin. Masih menurut catatan “ Bo” kerajaan Bima, ketika istri Sultan Abdul Kahir melahirkan puteranya yang pertama, Sultan Abdul Kahir mendatangi Bicara/Bumi Renda La Mbila Manuru Suntu untuk meminta nama dari puteranya yang baru lahir. Oleh Rumata Menuru Suntu diberikan nama La Mbila, sebagai peringatan bagi Rumata Tureli Nggampo Ma Kapiri Solor yang telah mengatur adat dan pemerintahan sehingga menjadi dasar yang kokoh bagi tata cara pemerintahan kerajaan Bima pada waktu itu. Kemudian, La Mbila mendapat pula nama secara Islam, yaitu Abdul Khair Sirajuddin sehinga nama lengkapnya menjadi La Mbila Abdul Khair Sirajuddin. Sayang sekali hingga kini belum ditemukan catatan yang menjelaskan kapan Abdul Khair dilahirkan. Sejak kecil Abdul Khair sangat besar perhatianya terhadap kesenian, terutama seni tari. Bahkan, menurut riwayat, ia adalah seorang seniman. Ketika ayahandanya, Sultan Abdul Kahar meninggal dunia, Abdul Khair baru menginjak usia dewasa, sehingga ia terpaksa memangku jabatan sebagai Sultan dalam usia muda. Dalam lontara Gowa disebutkan bahwa Sultan Abdul Khair kawin di Makasar pada tahun 1646 dengan puteri Raja Gowa Malikul Said yang bernama Karaeng Bonto Jene, setelah beberapa tahun menjadi Sultan. Dari perkawinan ini lahir seorang putra yang kelak menjadi Sultan Bima III (Sultan Nuriddin), dan tiga anak perempuan lainya. Pada masa pemerintahan Sultan Abdul Khair Sirajuddin tercatat beberapa peristiwa penting bagi kerajaan Bima, diantaranya :

1.

Penyesuaian hukum adat dengan hukum islam sehinga pemerintahan kerajaan Bima berjalan sebagaimana lazimnya kerajaan islam.

2. Penyesuain bentuk majelis kerajaan dengan memasukan unsurunsur agam Islam 3. Memperluas penyiaran agama Islam dengan mewajibkan pelaksanaan “syariat” Islam Dan memberikan kedudukan tersendiri bagi mubaligh-mubaligh. 4. Memerintahkan penyempurnaan Kitab catatan Kerajaan dengan membuat “BO” yang tertulis di atas kertas dengan hurup arab berbahasa melayu. 5. Melindungi dan mengembangkan kesenian dan memerintahkan untuk mempertunjukan kesenian terbaik di Istana Kerajaan pada waktu perayaan di istana, seperti peringatan Maulud Nabi Muhamadan S.A.W. yang disebut “ sirih puan”. 6. Menetapkan hari-hari besar kerajaan yang diperingati secara adat pada setiap tahunya. Oleh majelis kerajaan, hari-hari besar itu disebut Rawi Sara Ma Tolu Kali Sa Mbaa, yaitu : a. Peringatan Maulud Nabi Muhammad s.a.w tanggal 12 Rabi’ulawal 1030 Hijrah. Upacara ini lebih dikenal dengan nama Upacara Sirih-puan, atau Ua-pua. b. Hari Raya Idul Fitri. c. Hari Raya Idul Adha. Sebagai sekutu kerajaan Gowa, Sultan Abdul Khair selalu bahu membahu dengan iparnya, yaitu I Mallombasi Daeng Mattawang atau yang lebih dikenal dengan nama Sultan Hasanuddin dari Gowa dalam menentang Belanda. Sultan Abdul Khair memerintah daerah yang cukup luas dan strategis bagi pelayaran perdagangan, seperti: Sumba, Flores Barat dan

pulau-pulau di antara Flores dan Sumba. Oleh karena itu pula di dalam Perjanjian Bongaya yang ditandatangani pada hari jumat tanggal 18 Nopember 1667, tiga pasal diantaranya menyangkut kerajaan Bima. Walaupun perjanjian itu dengan terpaksa telah ditandatangani oleh Sultan Hasanuddin Dan raja-raja lainya, Karaeng Bontomarannu, Sultan Bima, Raja Tallo Sultan Harun Al Rasyid, dan Karaeng Lengkoso tetap belum mau menandatangani perjanjian Bongaya pada tanggal 9 dan 31 Maret 1668. Sedangkan kerajaan Bima baru menyerah kepada Belanda pada tanggal 8 Desember 1669 dengan suatu perjanjian yang ditandatangani di Jakarta oleh Jeneli Monta Abdul Wahid dan Jeneli Parado La Ibu atas nama Sultan Bima. Meskipun secara resmi kerajaan Bima telah menyerah, namun dalam prakteknya pemerintah kerajaan sepenuhnya berjalan menurut kebijakan Sultan Abdul Khair. Kekuasan Belanda hanya tampak dalam urusan perdagangan, yang dikendalikan seorang kuasa usaha, yang dikenal sebagai Khojah Ibrahim. Sultan Abdul Khair wafat pada tanggal 17 Rajab 1093 H, bertepatan dengan tanggal 22 Juli 1682 M, dimakamkan di Makam Tolobali. Setelah beliau wafat, digelari Rumata Maatau Uma Jati, artinya Raja yang memiliki rumah jati, karena semasa hidupnya pernah mendirikan sebuah Istana yang keseluruhanya terbuat dari kayu jati, dengan corak konstruksi khas Bima. Bangunan Istana itu kini telah tiada. Sultan Abdul Khair digantikan oleh putranya, Sultan Naruddin, tetapi masa pemerintahanya tidak begitu lama hanya berlangsung sekitar lima tahun, sehinga tidak banyak peristiwa penting yang terjadi selama masa pemerintahanya. Sultan Naruddin diangkat menjadi sultan pada tahun 1682. Dalam masa pemerintahanya, Sultan Naruddin menyempurnakan jabatan-jabatan keagamaan Kerajaan Bima, yaitu dengan diadakanya jabatan-jabatan Qadli, Lebe, Khatib, dan sebagainya. Bahkan di istana diangkat pejabat-pejabat khusus yang mengurusi masalah-masalah keagamaan yang kedudukanya setingkat dengan mufti. Salah seorang

diantaranya yang terkenal ialah Syah Umar Al Bantami yang menjadi mufti di istana kerajaan dan sebagai guru agama bagi putra-putri Sultan. Sultan Naruddin wafat pada tahun 1687, jenasahnya dimakamkan di Makam Tolobali, berdampingan dengan makam ayahndanya. Sepeninggal Sultan Nuruddin, yang diangkat sebagai pengganti beliau ialah putera sulungnya, bergelar Sultan Jamaluddin, sebagai Sultan Bima ke 4 (1687- ?). Pada tahun 1688, Sultan Jamaluddin kawin dengan puteri bangsawan Gowa, bernama Karaeng Tanata. dari perkawinanya itu lahir empat anak laki-laki, seorang diantaranya bernama Hasanuddin Muhamad Syah, yang kelak menjadi Sultan Bima ke 5. Sejak kecil Sultan Jamaluddin mendapat didikan Syeh Umar Al Bantami. Dari Syah Umar inilah ia mendapatkan cerita-cerita tentang kepahlawanan raja-raja banten, raja-raja Malaka, dan kepahlawanan Islam. Kisah-kisah itu berpengaruh besar terhadap pertumbuhan dan pembentukan kepribadianya yang anti penjajahan. Setelah menjadi sultan, ia menampakan ketegasan sikapnya tidak mau dicampuri oleh Belanda dalam urusan pemerintahan. Hal semacam ini sudah tentu tidak disenangi oleh Belanda. Ketika terjadi pembunuhan atas diri permaisuri Sultan Dompu (bibi sultan jamaluddin) secara kebetulan Sultan Jamaluddin tengah berkunjung di sana. Belanda mengunakan kesempatan itu dengan sebaikbaiknya untuk menjebaknya. Atas pengaduan Sultan Dompu. Belanda memanggil Sultan Jamaluddin ke Makasar, kemudian ditahan. Dari Makasar dibawa ke Batavia dan di tahan disana sampai beliau wafat. Mengenai kapan Sulatan Jamaluddin wafat belum diketahui dengan pasti, hanya didalam catatan Belanda disebutkan bahwa Sultan Jamaluddin wafat di Batavia dan dikuburkan di Tajung Priok. Pada tahun 1701 Belanda mendirikan benteng dan loji di Bima dan menempatkan petugasnya, bergelar Koopman dan Onderkoopman. Setelah itulah baru diketahui bahwa Sultan Jamaluddin telah wafat. Pada waktu itu kerajaan Bima diperintahkan oleh Raja Muda, yang didampingi oleh Wazir Abdul

Somad Ompo La Muni. Tiga tahun kemudian barulah tulang belulang kerangka jenasah Sultan Jamaluddin dipindahkan ke Bima dan dikuburkan di Makam Tolobali, disamping makam Syeh Umar Al Bantami yang telah mendahuluinya (1695). Demikianlah sekilas tentang Kesultanan Bima, dari masa awal terbentuknya Kasultanan Bima (Sultan Bima I) sampai dengan Sultan Bima IV. Nama dan ketokohan keempat Sultan Bima ini cukup populer di kalangan masyarakat Bima. Adapun, nama-nama tokoh yang dikenal sebagai Sultan Bima sepeninggal Sultan Jamaluddin ialah : 1. Sultan Bima IV, Sultan Hasanuddin Muhammad Syah, wafat tahun 1731 2. Sultan Bima V, Kamala (BUMI Partiga) atau Sultan I’Lauddin wafat tahun 1753 3. Sultan Bima VI, Abdul Kadim Sri Nawa (1751-1765) 4. Sultan Bima VII, Abdul Hamid (1792) 5. Sultan Bima VIII, Ismail (1819-1850) 6. Sultan Bima IX, Abdullah (1851-1868) 7. Sultan Bima X, Abdu Azis (1868- ?) 8. Sultan Bima XI, Ibrahim (1881-1916) 9. Sultan Bima XII, Muhamad Salahuddin (1916- ?) sebagian Sultan Bima yang terakhir. Istana atau Asi dalam bahasa Bima mulai dikenal oleh masyarakat Bima pada sekitar abad ke 11 Masehi. Menurut mitos setempat Raja Bima pertama, Indra Zamrud membangun Istana Kaca. Begitu Sultan Abdul Hamid Membangun Asi Saninu (Istana Kaca), selanjutnya Sultan Ismail membangun Asi Mpasa (Istana Lama) pada tahun 1820 M. Asi Ntoi dibangun diera pemerintahan raja-raja dan Sultan-sultan Bima yang bisa

disaksikan sampai sekarang yaitu istana-istana Asi Mbojo dan Asi Bou yang terletak berdampingan. Asi Bou (Istana Baru) semula merupakan bangunan darurat untuk tempat tinggal sementara Sultan Muhammad Salahuddin dan keluarganya selama Asi Mbojo dalam pembangunan. Bangunan Istana Bima yang kita saksikan sekarang ini ialah sebuah bangunan bergaya Eropa, dibangun pada tahun 1927-1929. Istana ini dibangun setelah Istana yang lama rusak. Bangunan Istana yang lama dibangun pada abad ke-19, juga bergaya Eropa (gaya Portugis), Ukuranya jauh lebih kecil dibanding istana yang ada sekarang. Perancang Asi Mbojo adalah Re hatta arsitek kelahiran Ambon yang diundang dan ditugaskan oleh pemerintah Kolonial Belanda untuk membangun Istana di maksud di bantu oleh Bumi Jero Istana, Istana ini rampung dikerjakan dan diresmikan menjadi istana kerajaan Bima tahun 1929. Asi Bou (Istana Baru) semula merupakan bangunan darurat untuk tempat tinggal sementara Sultan Muhammad Salahuddin dan keluarganya selama Asi Mbojo dalam pembangunan.

Benda Cagar Budaya (BCB) Benda Cagar Budaya (BCB) yang ada di Istana Bima terdiri dari BCB tidak bergerak dan BCB bergerak a. Benda Cagar Budaya Tidak Bergerak BCB tidak bergerak yang terdapat di Istana Bima antara lain : - Istana Bima berupa bangunan eksotik bergaya Eropa mulai dibangun tahun 1927, dikerjakan dalam waktu tiga tahunrampung dan diresmikan menjadi istana Kerajaan Bima tahun 1929. Istana tersebut berupa bangunan permanen berlantai dua yang merupakan paduan arsitektur asli Bima dan Belanda. Pembangunanya dilakukan secara gotong royong oleh masyarakat ditambah pembiayaan anggaran belanja

kesultanan. Istana dengan sendirinya menjadi bangunan paling indah dan megah pada masa kesultanan.Luas halamanya 500 meter persegi. Kala itu seputar Istana tumbuh pohon-pohon rindang dan taman bunga yang indah. Bangunan Istana diapit oleh dua pintu gerbang yang berada di bagian timur dan barat. Konsepsi tata letak bangunan istana tidak jauh berbeda dengan Istana lain di Tanah Air. - Didepan Istana terdapat tanah lapang atau alun-alun berbentuk segi empat mendekati bujur sangkar namanya Serasuba. Di sinilah raja tampil secara terbuka di depan rakyat di saat-saat tertentu, misalnya waktu kesultanan menyelenggarakan upacara-upacara penting atau perayaan hari besar keagamaan lainya. Serasuba juga menjadi arena latihan pasukan kesultanan. - Di sebelah selatan alun-alun terdapat sebuah bangunan masjid, kesultanan yang megah dibangun pada masa pemerintahan Sultan Abdul Hamid tahun 1872 Masehi, sebagai sarana kegiatan ritual keagamaan Islam. Kini Masjid itu bernama Masjid Sultan M. Salahuddin. Alun-alun di satu sisi bersebelahan dengan bangunan Mesjid, dan sisi lain menyatu dengan halaman istana. Jelas menyiratkan bahwa ke 3 unsur bangunan tersebut merupakan satu kesatuan yang utuh. Untuk memberi kesan sebagai bangunan monumental, istana bisa dipandang dari empat penjuru mata angina menggunakan konsepsi filosofi sebuah istana yang di dalamnya menyiratkan kesatuan unsur antara pemerintahan, agama dan rakyat (masyarakat). - Pintu gerbang sebelah barat bernama Lare-Lare merupakan pintu resmi kesultanan yaitu tempat masuknya sultan, para pejabat kesultanan dan tamu-tamu sultan. Lare-Lare berbentuk Mesjid tiga tingkat. Tingkat atas (loteng) merupakan tempat untuk menyimpan tambur Rasanae dan dua buah lonceng. Tambur Rasanae dibunyikan sebagai tanda pemberitahuan adanya upacara kebesaran, sedangakan kedua lonceng dibunyikan untuk pemberitahuan tanda bahaya dan waktu.

- Pintu gerbang sebelah timur disebut Lawa Kala atau Lawa Se merupakan pintu masuk bagi anggota sara hukum dan ulama. Pintu masuk bagi anggota keluarga Raja berada di belakang Asi Bou, bernama Lawa Weki. - Di depan Asi Mbojo bagian barat terdapat tiang bendera setinggi 50 meter yang disebut Kasi Pahu, terbuat dari kayu jati yang berasal dari Tololali. Tiang bendera tersebut dibangun oleh Sultan Abdullah untuk memperingati hari pembubaran angkatan laut kesultanan. Sultan Abdullah terpaksa membubarkan angkatan lautnya karena tidak mau memenuhi keinginan penjajah Belanda yang memaksa angkatan laut kesultanan Bima untuk menyerang pejuang-pejuang Gowa Makasar dan Bugis. Tiang Kasi Pahu sempat roboh karena lapuk. Tahun 2003 dibangun kembali atas inisiatif Hj S. Maryam Salahuddin.namun bahanya bukan jati karena jati di sana tidak ada lagi. - Asi Bou, demikian orang Bima menyebut istana kayu ini. Asi Bou berarti istan baru. Dalam bahasa Bima, asi artinya istana dan bou artinya baru. Tidak banyak orang yang tau istana ini. Bangunan ini terkesan tertutup, karenanya Asi Bou penuh misteri. Asi Bou berdampingan dengan Istana Bima. Persisnya disebelah timur istana. Dia seperti mengawal bangunan disebelahnya. Istana ini sebenarnya hanya tempat tinggal keluarga kerajaan. Dia tidak digunakan sebagai pusat penyelenggaraan pemerintahan. Sebagian besar bangunan Asi Bou terbuat dari kayu. Itu sebabnya disebut istana kayu. Konstruksinya seperti rumah panggung Bima. Sesuai namanya, Asi Bou dibangun belakangan, di masa pemerintahan Sultan Ibrahim (1881-1916). - Sumur tua istana terletak di sudut Barat daya halaman istana merupakan sumber air untuk memenuhi kebutuhan air istana b. Benda cagar budaya (BCB) bergerak BCB bergerak yang ada di lingkungan Istana Bima terdiri dari 2 (dua) komponen yaitu : BCB yang berada di halaman Istana dan BCB yang tersimpan di dalam Istana, dengan rincian sebagai berikut :

BCB yang berada di halaman Istana Koleksi yang berada di halaman istana terdiri dari 7 buah meriam bahan perungu. Masing-masing meriam berukuran (panjang, lebar dan garis tengah) laras sebagai berikut : 1. Meriam berukuran panjang 152 cm dan garis tengah laras 20 cm 2. Meriam berukuran panjang 143 cm dan garis tengah laras 12 cm 3. Meriam berukuran panjang 164 cm dan garis tengah laras 21 cm 4. Meriem berukuran panjang 136 cm dan garis tengah laras 19 cm pada sisinya tertulis angka 1815 M 5. Meriam berukuran panjang 163 cm dan garis tengah laras 22 cm 6. Meriam berukuran panjang 121 dan garis tengah laras 16 cm 7. Meriam berukuran panjang 147 dan garis tengah laras 11 cm Disamping Meriam kuno terdapat juga sebuah arca berupa Fragmen dari arca Nandi (lembu nandi), yang bagian kepalanya dalam keadaan patah. Arca ini berukuran panjang 75 cm dan lebarnya 53 cm, terbuat dari bahan batu andesit. Memperhatikan bentuknya diperkirakan kekunan ini dibuat pada abad ke 11 Masehi. BCB yang tersimpan di dalam ruang Istana Benda cagar budaya yang yang ada di dalam ruang Istana dimanfaatkan sebagai koleksi Museum Asi Mbojo Bima yang seluruhnya merupakan bekas koleksi Istana kesultanan Bima. Benda-benda tersebut masih berfungsi sebagai sarana kelengkapan dalam prosesi upacara kesultanan. BCB tersebut terdiri dari beberapa jenis yaitu : Senjata, Wadah (talam),jenis tempat air, serta koleksi yang diperoleh dari Negara Eropa pada masa penjajahan Belanda di Indonesia. Koleksi yang cukup penting dalam kaitan sebagai benda purbakala terdapat dalam dua buah ruangan, yakni berada diruangan bagian utara dan ditengah. Adapun rincianya adalah sebagai berikut : 1. Keris

Koleksi keris kerajaan Bima yang dipajang di Museum Asi Mbojo berjumlah 20 buah masing-masing dengan nama dan fungsi sebagai berikut ; Keris yang disebut dengan istilah Tata Rupa adalah jenis peninggalan yang pada umumnya digunakan sebagai pusaka jabatan para raja muda kesultanan Bima. Pada bagian sisi (luar) sarung keris berlapis emas. Keris sebagai simbul kelengkapan pakaian upacara pejabat kesultanan Bima. Jumlah keris ini sebanyak 6 buah pada bagian sarung dan pegangannya berlapis emas. Keris tanpa sarung Keris ini difungsikan sebagai sarana pembunuh dalam memutuskan hukuman mati pada zaman kesultanan Bima, jumlah keris ini 1 buah. Keris yang digunakan oleh pejabat tinggi kerajaan 3 buah Keris bumi Renda Keris yang biasa digunakan oleh panglima kesultanan Bima. Keris ini berjumlah 3 buah sarungnya ini berlapis emas Keris Sebuah keris yang biasa digunakan pejabat kesultanan Bima yang disebut Jeneli yang setara dengan jabatan camat pada jaman kesultanan Bima Keris Keris dengan hiasan hulu berbentuk raksasa Niwata kawaca yang diperoleh dari jawa timur 2. Talam Jenis talam yang dipajang dalam bahasa daerah Bima disebut “ tari, “ kampu”, dan “sampai”, “kampu”. Koleksi ini berfungsi sebagai tempat

bunga dalam rangkaian prosesi upacara adat di Istana Sultan Bima, bahannya terbuat dari emas. 3. Tempat lilin Berfungsi sebagai sarana penerangan dalam rangkaian upacara adat di Istana Sultan Bima terbuat dari bahan Emas. 4. Cerek Berfungsi sebagai wadah air minum, bahannya terbuat dari perak. 5. Wadah pencuci tangan Koleksi ini disebut dengan Ngamo ( wacarima ). Difungsikan sebagai wadah pencuci tangan ketika upacara pesta di Istana Sultan Bima, bahannya dari emas 6. Tempat sirih dan tempat pinang Koleksi ini menurut bahasa Bima disebut Selapa dengan bahan emas. 7. Tempat pembuangan ludah Koleksi ini terbuat dari bahan semacam kuningan. 8. Tongkat dan cambuk kuda Koleksi ini merupakan peninggalan tongkat kebesaran Sultan Bima pada jaman dahulu. 9. Pedang sebagai senjata pimpinan pasukan kesultanan Bima Menurut bahasa daerah Bima jenis pedang ini disebut dengan istilah “Sondi”, bagian sarung pedang berlapis emas berjumlah 1 buah. 10. Pedang Berjumlah 3 buah yang biasanya digunakan oleh petugas kesultanan Bima yang bertugas di Reo (Flores barat) 11.Golok

Senjata jenis ini digunakan sebagai kelengkapan tanda jabatan kesultanan Bima yang bertugas di daerah Reo (Flores Barat) 12. Pedang (1 buah) Digunakan oleh perwira kesultanan Bima 13. Rantai Kendali Kuda Sultan 14. Payung dan Tombak Kesultanan Payung jenis ini difungsikan sebagai payung pelantikan Sultan, pada saat upacara penobatan Sultan Bima 15.Sebuah Genderang (tambur) kesultanan Bima Tambur ini telah digunakan pada masa pemerintahan Sultan Abdul Khahir Sirajuddin, pada tahun 1640-1682 M. 16. Alat Upacara Kematian Terdiri dari, cerek (cere), kain pembungkus mayat dan batu nisan 17. Lonceng Bahan perunggu, Lonceng ini diperoleh dari negeri Belanda. Pada bagian sisinya memuat angka tahun pembuatan, yakni 1735 Masehi. Pada jaman pemerintahan kesultanan difungsikan sebagai pertanda waktu 18. Senapan (senjata) Jenis senjata api yang dibuat tahun 1640-1682 M berasal dari Portugis