MANAJEMEN FINANSIAL

Oleh : Erland Arfandi Rukka
a.

Jelaskan fungsi Management Financial (MF) didalam mencapai keberhasilan perusahaan.
Fungsi Management Financial (MF) dalam mencapai keberhasilan perusahaan adalah

sebagai berikut :
1. Perencanaan Keuangan, membuat rencana pemasukan dan pengeluaran serta kegiatan-

kegiatan lainnya untuk periode tertentu. 2. 3. 4. 5. 6. 7. Penganggaran Keuangan, tindak lanjut dari perencanaan keuangan dengan membuat detail pengeluaran dan pemasukan. Pengelolaan Keuangan, menggunakan dana perusahaan untuk memaksimalkan dana yang ada dengan berbagai cara Pencarian Keuangan, mencari dan mengeksploitasi sumber dana yang ada untuk kegiatan operasional perusahaan. Penyimpanan Keuangan, mengumpulkan dana perusahaan serta menyimpan dana tersebut dengan aman. Pengendalian Keuangan, melakukan evaluasi serta perbaikan atas keuangan dan sistem keuangan pada perusahaan. Pemeriksaan Keuangan, melakukan audit internal atas keuangan perusahaan yang ada agar tidak terjadi penyimpangan Suatu perusahaan dalam mengelola aktivitas keuangannya akan berbicara bagaimana mendapatkan uang, yakni perusahaan harus menjual obligasi dan saham kepada investor di pasar uang (bursa efek). Dengan menjual obligasi dan saham di bursa efek maka perusahaan akan menghasilkan cash flow dari pasar uang. Cash inilah yang kemudian diinvestasikan dalam aktivitas investasi (assets) perusahaan yang dikelola manajemen perusahaan. Cash yang didapat oleh perusahaan di pakai untuk membayar pemegang saham (shareholders) dan pemegang obligasi (bondholders). Pemegang saham menerima cash dalam bentuk dividend, kemudian pemegang obligasi menerima dalam bentuk bunga, dan kemudian pinjaman pokok awal dibayar kembali. Tidak semua cash perusahaan dibayarkan, beberapa dana tersebut ditahan, dan beberapa lagi yang dibayarkan ke pemerintah dalam bentuk pajak.

Ada sepuluh prinsip yang membentuk dasar dari Management Financial (MF) yakni : 1. Keseimbangan Risiko dan Pengembalian – “Jangan menambah risiko kecuali terdapat kompensasi berupa tambahan pengembalian investasi”. Alternatif–alternatif investasi mempunyai sejumlah risiko dan tingkat pengembalian yang berbeda. Para investor kadang–kadang lebih senang memilih suatu investasi dengan risiko yang tinggi karena jenis investasi ini menawarkan suatu tingkat pengembalian yang tinggi juga. Semakin tinggi tingkat pengembalian suatu investasi, maka semakin

Ada sepuluh prinsip yang membentuk dasar dari Management Financial (MF) yakni : 1. Keseimbangan Risiko dan Pengembalian – “Jangan menambah risiko kecuali terdapat kompensasi berupa tambahan pengembalian investasi”. Alternatif–alternatif investasi mempunyai sejumlah risiko dan tingkat pengembalian yang berbeda-beda. Para investor lebih senang memilih suatu investasi dengan risiko yang tinggi karena jenis investasi ini menawarkan suatu tingkat pengembalian yang tinggi. 2. Semakin tinggi tingkat pengembalian suatu investasi, maka semakin tinggi harapan pengembaliannya. Nilai Waktu Uang – “Uang yang diterima hari ini lebih berharga dari uang yang diterima di masa depan”. Suatu konsep dasar dalam keuangan adalah nilai uang yang dikaitkan dengan waktu. Uang yang kita terima pada saat ini akan jauh lebih berharga dibandingkan dengan uang yang akan diterima tahun depan. Kita bisa mendapat bunga atas uang yang diterima sekarang, sehingga lebih suka menerimanya sekarang dari pada kemudian. 3. Kas – Bukan Lab - “ adalah Raja”. Dalam mengukur kekayaan kita akan menggunakan arus kas (cash flow), dan bukan keuntungan akuntansi (accounting profit) sebagai alat pengukurnya. Kita akan menekankan perhatian kita terhadap uang yang ada di tangan kita, ketika dapat menginvestasikannya dan mulai menghasilkan bunga, dan ketika kita dapat mengembalikannya kepada pemegang saham dalam wujud dividen. Uang kas adalah

sesuatu yang secara riil diterima dan dapat di-investasikan kembali oleh perusahaan. Sedangkan keuntungan akuntansi, lebih banyak menggambarkan besarnya keuntungan yang diperoleh perusahaan, daripada besarnya uang kas yang benar–benar ada. 4. Pertambahan Arus Kas – ‘Satu-satunya perubahan yang harus diperhatikan” Prinsip yang ketiga menyatakan bahwa kita harus menggunakan arus kas sebagai alat pengukur manfaat dari suatu proyek baru. Proses evaluasi ini akan lebih diperdalam lagi dengan menekankan pada kas yang diterima perusahaan antara dua keputusan : jika perusahaan mengambil atau tidak mengambil proyek tersebut. Yang terpenting adalah apa yang kita pikir tentang kenaikan arus kasnya. Pedoman dalam menentukan apakah arus kas tersebut bersifat incremental adalah dengan cara membandingkan aliran kas perusahaan dengan tanpa proyek tersebut. Sebenarnya, kita akan lebih menitikberatkan penggunaan konsep incremental dari aliran kas serta mempertimbangkan segala konsekuensi dari semua keputusan berdasarkan kenaikan kasnya. 5. Kondisi Persaingan Pasar – “Alasan mengapa sangat sulit mendapatkan proyek– proyek dengan laba yang luar biasa”. Kunci untuk mendapatkan investasi yang menguntungkan pertama dengan mengerti situasi dan kondisi persaingan pasar dimana perusahaan itu berada. Kemudian falsafah perusahaan harus diarahkan pada penciptaan dan pemanfaatan dan ketidaksempurnaan kondisi pasar yang ada apakah melalui pembedaan produk atau melalui penciptaan keunggulan. Beban dari pada upaya mencari pasar atau industri baru yang dapat menciptakan keuntungan yang besar. Industri dengan tingkat persaingan sempurna tidak akan bertahan lama. Pemahaman akan hal ini memungkinkan kita mencari produk yang baik dan mengukur arus kas proyek dengan tepat. 6. Pasar Modal yang Efisien – “Pasar yang bergerak cepat dan dengan harga tepat”. Implikasi dari pasar efisien adalah pertama harga yang sudah tepat. Harga saham mencerminkan semua informasi yang ada di masyarakat sehubungan dengan nilai perusahaan. Ini berarti kita bisa menerapkan tujuan kita untuk memaksimalkan kekayaan para pemegang saham dengan memusatkan semua efek dari keputusan kita pada harga saham dengan kondisi lain diasumsikan tetap. Kedua, manipulasi pendapatan melalui perubahan sistem akuntansi tidak akan mengubah harga saham. Pemecahan saham serta perubahan lain dalam metode akuntansi yang tidak mempengaruhi arus kas tidak akan tercermin dalam harga saham. Harga pasar mencerminkan aliran kas yang diharapkan mungkin terjadi bagi pemegang saham. Dengan demikian perhatian kita pada arus kas sebagai alat mengukur manfaat keuntungan proyek merupakan hal yang tepat dan beralasan.

7.

Masalah Keagenan – “Manajer tidak akan bekerja bagi pemilik perusahaan jika tidak selaras dengan kepentingan mereka”. Walaupun tujuan perusahaan adalah memaksimalkan kekayaan pemegang saham, namun kenyataannya masalah keagenan dapat terjadi pada saat tujuan di-implementasikan. Masalah keagenan terjadi akibat pemisahan tugas manajemen perusahaan dengan para pemegang saham. Pengawasan kepada para manajer dapat dilakukan melalui audit laporan keuangan serta paket kompensasi yang diterimanya. Kepentingan para manajer dapat diselaraskan dengan kepentingan para pemegang saham. Dengan kata lain, apa yang terbaik bagi para pemegang saham juga harus terbaik bagi para manajer. Jika tidak maka manajer akan mengambil keputusan hanya berdasarkan kepentingan mereka semata tanpa memperdulikan kekayaan para pemegang saham.

8.

Pembiasan Keputusan Bisnis karena Perpajakan. Dalam mengevaluasi suatu proyek baru, maka dapat dilihat bahwa pajak penghasilan mempunyai peranan yang cukup berarti. Pada saat perusahaan menganalisis pembelian suatu proyek atau peralatan, besarnya pengembalian investasi harus dihitung berdasarkan nilai bersih sesudah pajak. Jika tidak, berarti perusahaan telah mengevaluasi tambahan arus kas masuk yang tidak semestinya. Pemerintah juga menyadari bahwa masalah perpajakan dapat membiaskan keputusan bisnis dan memanfaatkan pajak sebagai pendorong uintuk memperbesar pengeluaran dengan berbagai cara. Jika pemerintah ingin menciptakan iklim investasi yang dapat mendorong timbulnya proyek penelitian dan pengembangan, mungkin pemerintah akan menawarkan kredit pajak investasi untuk proyek–proyek tersebut yang akan mengurangi pajak, yang pada gilirannya meningkatkan arus kas setelah pajak sehingga mengubah proyek penelitian dan pengembangan yang rugi menjadi menguntungkan. Pemerintah dapat memanfaatkan pajak sebagai sarana untuk mengarahkan investasi pada proyek penelitian dan pengembangan dalam rangka menciptkan lapangan kerja.

9.

Tidak Semua Risiko Sama – “Ada beberapa risiko yang dapat didiversifikasi” Beberapa risiko dapat dihapuskan melalui diversifikasi, sedangkan beberapa risiko lain tidak bisa. Diversifikasi dapat mengurangi risiko, sehingga mengukur besarnya risiko dari satu proyek tersebut secara individu atau mengukur proyek itu berdiri sendiri atau bersama–sama dengan proyek lain yang akan diterima oleh perusahaan.

10. Melakukan sesuatu yang benar adalah perilaku yang etis, dan ada banyak dilema etika dalam manajemen keuangan. Berbicara tentang etika, pada dasarnya berbicara tentang tanggung jawab sosial. Secara umum, tanggung jawab sosial perusahaan menggambarkan kewajiban perusahaan kepada

masyarakat sekitar selain kepada pemegang saham. Hal ini memperjelas bahwa perusahaan bertanggung jawab kepada konstitusi yang lebih luas dari sekedar kepada masyarakat sekitar selain kepada pemegang saham perusahaan itu sendiri.

a. Apa yang dimaksud dengan meningkatkan nilai perusahaan, berikan contoh :
Seperti kita ketahui tujuan suatu perusahaan/organisasi (organization goals) secara umum adalah memaksimalkan kesejahteraan pemilik atau nilai perusahaan/organisasi (maximize stakeholder wealth or value of the firm). Untuk tujuan memaksimalkan nilai, maka seorang manajer keuangan mengambil berbagai langkah guna mencapai tujuan tersebut bagi organisasi secara keseluruhan. Langkah-langkah yang diambil oleh manajer keuangan dalam rangka memaksimalkan nilai perusahaan mengacu pada harga saham di pasaran (market value). Jadi tindakan yang diambil harus mampu meningkatkan harga saham, bukan sebaliknya. Sebab mengapa mengacu kepada harga saham karena mencerminkan aliran kas (cash flow) dan risiko usaha. Pemilik menerima aliran kas dalam bentuk dividen atau gain dari menjual saham mereka di bursa. Banyak kalangan investor mempersepsikan nilai sebuah perusahaan dan mengaitkannya dengan harga saham. Harga saham yang tinggi akan membuat nilai perusahaan juga tinggi. Harga saham adalah merupakan harga yang terjadi pada saat saham diperdagangkan di pasar (Fakhruddin & Hadianto, 2001). Nilai perusahaan lazim diindikasikan dengan price to book value. Price to book value yang tinggi akan membuat pasar percaya pada prospek pengembangan perusahaan ke depan. Hal itu juga yang menjadi keinginan para pemilik perusahaan, sebab nilai perusahaan yang tinggi mengindikasikan kemakmuran pemegang saham juga tinggi (Soliha & Taswan 2002). Namun pada kenyataannya tidak semua perusahaan menginginkan harga sahamnya tinggi/mahal karena takut tidak laku dijual atau tidak menarik investor untuk membelinya. Hal ini dapat dibuktikan dengan adanya perusahaan yang go public di bursa efek melakukan stock split (pemecahan saham) (“ICMD,2006). Karena itulah, harga saham harus dapat dibuat seoptimal mungkin, artinya harga tidak boleh terlalu tinggi (mahal) atau tidak boleh terlalu rendah (murah). Harga saham yang terlalu rendah dapat berdampak buruk pada citra perusahaan dimata kalangan investor. Harga saham optimal dapat dicapai melalui penarikan dari serangkaian pengaklaiman perusahaan dalam menjual saham di bursa efek, artinya bila pasar sangat tertarik dengan saham yang diperdagangkan, maka perusahaan dapat menaikkan harga sahamnya, demikian juga sebaliknya.

Investor dalam menanamkan dananya di pasar modal tidak hanya bertujuan untuk jangka pendek tetapi juga bertujuan untuk memperoleh pendapatan dalam jangka panjang. Total pendapatan total yang diinginkan oleh para pemegang saham adalah pendapatan devidend (devidend yield) dan capital gain. Devidend yield merupakan total deviden yang dibagikan pada tahun buku sebelumnya baik deviden interim, devidend final maupun deviden saham. Devidend yield digunakan untuk mengukur jumlah deviden per saham relatif terhadap harga pasar yang dinyatakan dalam bentuk prosentase. Semakin besar devidend yield maka saham tersebut semakin menarik investor. Namun demikian devidend yield juga dipengaruhi oleh harga pasar, sehingga semakin tinggi harga pasar maka devidend yield semakin rendah. Dengan demikian devidend yield merupakan rasio antara deviden per lembar saham (DPS) dibagi dengan harga pasarnya. (Robert Ang, 1997:6.19) Sementara semakin tinggi harga pasar menunjukkan bahwa saham tersebut juga semakin diminati oleh investor karena dengan semakin tinggi harga saham maka akan menghasilkan capital gain yang semakin besar pula. Capital gain didasarkan pada selisih harga saham yang terjadi pada periode sekarang dengan harga saham pada periode sebelumnya. Devidend yield dan capital gain merupakan total return yang akan diterima oleh para pemegang saham (investor) dalam jangka panjang. Komunikasi dan keterbukaan terhadap pemegang saham menjadi sangat penting dalam proses value creation perusahaan. Investor membutuhkan kejelasan bagaimana bisnis perusahaan bekerja menciptakan nilai dan kejujuran manajemen perusahaan dalam menilai kinerjanya sendiri. Lingkungan saat ini jauh lebih menuntut transparansi perusahaan. Demikian pula investor lebih menghargai perusahaan dengan transparansi yang memadai. Investor lebih menghargai perusahaan yang memberikan diskusi manajemen yang fair dan berimbang sehingga dapat memberikan gambaran tentang kualitas tim manajemen dan bagaimana potensial future value creation. Semakin transparannya data keuangan, kegiatan operasional, pengukuran kinerja yang jujur, dan panduan tentang metrik yang digunakan eksekutif dalam menjalankan perusahaan akan membantu investor dalam membangun opini yang terinformasi tentang potensial value creation, kualitas manajemen, dan profil risiko bisnis perusahaan. Sehingga dalam prosesnya, manajemen akan memperoleh feedback yang berharga dari investor berupa pertumbuhan perusahaan dan kinerja perusahaan relatif terhadap pesaingnya.
b.

Analisis rasio keuangan biasa dilakukan oleh pihak intern maupun ekstern, bagaimana melakukan analisis tersebut agar mendapatkan hasil maksimal.

Laporan keuangan yang disusun secara baik dan akurat dapat memberikan gambaran keadaan yang nyata mengenai hasil atau prestasi yang telah dicapai oleh suatu perusahaan selama periode waktu tertentu, keadaan inilah yang digunakan untuk menilai kinerja keuangan. Apalagi informasi mengenai kinerja keuangan suatu perusahaan sangat bermanfaat untuk berbagai pihak seperti ; investor, kreditur, pemerintah, bankers, pihak manajemen sendiri dan pihak-pihak lain yang berkepentingan. Setelah melakukan analisis tersebut maka kemudian angka ratio yang didapatkan akan bermanfaat apabila dibandingkan dengan : 1. Rata-rata bisnis (bisnis yang umum) 2. Rata-rata Industri (Industri sejenis) 3. Rata-rata masa lalu (historis) 4. Ekspektasi (harapan/rencana yang diharapkan) Arti penting analisis laporan keuangan adalah sebagai berikut:
1. Bagi pihak manajemen : untuk mengevaluasi kinerja perusahaan, kompensasi,

pengembangan karier ;
2. Bagi pemegang saham : untuk mengetahui kinerja perusahaan, pendapatan dan

keamanan investasi ;
3. Bagi kreditor : untuk mengetahui kemampuan perusahaan melunasi utang beserta

bunganya.
4. Bagi pemerintah : pajak, persetujuan untuk go public ; 5. Bagi karyawan : penghasilan yang memadai, kualitas hidup dan keamanan kerja.

Teknik Analisa Laporan Keuangan Analisa laporan keuangan mencakup pengaplikasian berbagai alat dan teknik analisis pada laporan dan data keuangan untuk memperoleh ukuran-ukuran dan hubungan-hubungan yang berarti dan berguna dalam proses pengambilan keputusan. Teknik analisa laporan keuangan digunakan untuk memperlihatkan hubungan dan perubahan-perubahan. Adapun tiga teknik yang sering digunakan dalam melakukan analisa laporan keuangan, yaitu :
1. Analisis horizontal (horizontal analysis), terknik evaluasi yang dipakai untuk

mengevaluasi serangkain data laporan keuangan selama periode waktu tertentu. Analisis horisontal dalam jangka panjang akan membentu analisis pola perkembangan (trend) dan dalam analisis inni harus memperhatikan kondisi perekonomian yang terjadi pada tahun analisis tersebut dilakukan. Analisis horizontal ini digunakan untuk

mengevaluasi trend akun laporan keuangan dalam beberapa periode akuntansi dengan melihat perubahannya dari satu periode dengan periode sebelumnya baik untuk Neraca maupun Laba Rugi. tahun ke tahun.
2.

Dalam perubahan tersebut dapat dinyatakan dalam nilai atau

dinyatakan dalam persentase (%) maka dapat dilihat bagaimana trend perubahan dari Analisis vertikal (vertical analysis), teknik yang digunakan untuk mengevaluasi data laporan keuangan yang menggambarkan setiap pos dari laporan keuangan dari segi persentase jumlahnya. Untuk laporan laba rugi menggunakan penjualan bersih sebagai tolok ukur sedangkan untuk laporan neraca menggunakan total asset sebagai tolok ukur,
3. Analisis ratio (ratio analysis), menggambarkan hubungan diantara pos-pos yang

terseleksi dari data laporan keuangan sehingga memiliki makna atau arti. Jenis-jenis analisa rasio adalah : analisa likuiditas, analisa aktivitas (pemanfaatan aktiva), analisa tingkat hutang (leverage/solvabilitas), analisa profitabilitas (rentabilitas), dupont dan analisa pasar. Pengertian Rasio Keuangan Analisa rasio keuangan adalah salah satu alat untuk menganalisa keadaan keuangan suatu perusahaan yang bertujuan untuk membantu manajer dalam memahami apa yang perlu dilakukan perusahaan sehubungan dengan informasi yang berasal dari keuangan yang sifatnya terbatas. Dengan menggunakan ratio-ratio tertentu, secara internal manajer akan memperoleh suatu informasi tentang kekuatan dan kelemahan perusahaan di bidang keuangan, sehingga manajer dapat membuat keputusan-keputusan penting dari satu periode ke periode lainnya. Untuk pihak eksternal, analisa ratio keuangan bertujuan untuk memperoleh gambaran tentang perkembangan keuangan suatu perusahaan, yang selanjutnya mereka dapt memutuskan apakah akan membeli, menahan dan atau menjual saham perusahaan tersebut. Apabila hati. Manfaat yang diperoleh dari analisis rasio keuangan, adalah : (1) mengidentifikasi kelemahan dan kekuatan perusahaan di bidang keuangan, (2) membantu pimpinan perusahaan dalam membuat keputusan (decision making) guna pengembangan usaha, (3) efisiensi dan efektivitas dalam pengelolaan perusahaan, (4) perkembangan dari usaha yang telah dilakukan oleh perusahaan selama beberapa waktu. dari hasil analisis perusahaan memiliki kesehatan atau perkembangan keuangan kurang baik, maka investor akan lebih berhati-

Penggolongan Rasio Keuangan Adapun data-data atau bahan yang diperlukan, adalah :
1. Rasio neraca (balance sheet ration), semua rasio yang semua datanya diambil atau

bersumber pada neraca,
2. Rasio Laporan rugi-laba (income statement rasio), merupakan angka-angka rasio

yang dalam penyusunannya semua datanya diambil dari suatu laporan sistematis mengenai penghasilan, biaya, rugi laba yang diperoleh oleh suatu perusahaan selama periode tertentu
3. Antar laporan, merupakan semua angka-angka yang penyusunan datanya berasal

dari neraca dan data lainnya dari laporan laba rugi.

a.

Apa yang dimaksud dengan Additional Fund Needed (AFN), apa akibatnya jika manajemen tidak perhatian (care) dengan konsep tersebut.
Additional Fund Needed (AFN) adalah konsep keuangan yang digunakan ketika

perusahaan berniat memperluas operasinya, juga membahas mengenai suatu perusahaan yang ingin menentukan dana tambahan yang diperlukan dengan cara : 1. Mengestimasi jumlah aktiva baru yang diperlukan untuk mendukung tingkat penjualan yang diramalkan
2. Mengurangi jumlah tersebut dengan dana spontan yang akan dihasilkan operasi.

Kemudian perusahaan mendapatkan AFN dengan cara meminjam dari bank, menerbitkan sekuritas, atau keduanya. Makin tinggi tingkat pertumbuhan penjualan suatu perusahaan, makin besar kebutuhannya akan tambahan pembiayaan, makin besar rasio pembayaran dividennya, makin besar kebutuhannya akan dana tambahan. Aktivitas utama manajer keuangan adalah melakukan analisis dan perencanaan keuangan, membuat putusan investasi, membuat putusan pendanaan, dan membuat putusan dividen. Aktivitas analisis dan perencanaan keuangan berkaitan dengan pengawasan kondisi keuangan organisasi, melakukan evaluasi kenaikan atau penurunan kapasitas produksi, dan menentukan berapa besar dana yang dibutuhkan untuk membiayai aktivitas organisasi. Analisis ini dilakukan berdasarkan neraca dan laporan laba-rugi organisasi. Aktivitas lainnya, adalah melakukan putusan investasi. Aktivitas putusan investasi yang dilakukan oleh manajer keuangan adalah menentukan tipe dan komposisi asset organisasi, baik berupa asset lancar maupun asset tetap. Aktivitas ini berkaitan dengan mengelola tingkat optimal dari tipe-tipe asset lancar, serta pembelian dan penggantian asset tetap.

Putusan selanjutnya adalah putusan pembiayaan. Putusan pembiayaan berkaitan dengan komposisi untuk pembiayaan jangka pendek dan jangka panjang yang paling tepat. Selain itu juga menentukan sumber dana secara efektif, termasuk biaya (interest rate) dan hasil yang diinginkan (required return) dari aliran dana tersebut. Akibat (dampak) dari perusahaan jika manajer mengindahkan AFN adalah :

Peningkatan proyeksi penjualan yang telah direncanakan dalam tahun depan tidak dapat tercapai sesuai dengan keinginan manajer. Aktivitas organisasi seperti pengelolaan asset tidak optimal ; Manajer sulit menentukan komposisi pembiayaan, mana pembiayaan jangka pendek dan mana pembiayaan jangka panjang ; Kapasitas produksi seperti yang diharapkan tidak dapat tercapai ; Rasio pembayaran dividen kepada para pemegang saham tidak optimal

– –

APLIKASI MANAJEMEN FINANSIAL Siapkan Laporan keuangan komparatif (dua tahun terakhir) yang terdiri dari dari Neraca dan Laporan laba/rugi. Bahan dapat diambil dari perusahaan sendiri atau internet dan sumber publikasinya lainnya. (anda harus menyebutkan sumber data tersebut untuk konfirmasi) Berdasarkan data yang anda kemukakan buatlah analisis berikut ini :

a.Arus Kas serta komentar yang memadai

Laporan Arus Kas PT Perkebunan London Sumatra menunjukkan bahwa : Arus Kas dari Aktivitas Operasi sebesar Rp. 3.744.355.000.000,- (2008) mengalami penurunan sebesar Rp. 3.299.146.000.000,- (2009) yang didapatkan dari penerimaan pelanggan, walaupun mengalami penurunan perusahaan tetap liquid dalam hal kemampuan bayar ke pemasok, karyawan buruh, pajak, beban provisi, hutang bank dan lain-lain sehingga perusahaan masih mempunyai sisa kas bersih yang diperoleh dari aktivitas operasi sebesar Rp. 1.121.547.000.000,- (2008) dan Rp.881.167.000.000,- (2009). Arus Kas dari Aktivitas Investasi juga menunjukkan trend penurunan hasil yang semula Rp. 8.533.000.000,- (2008) menjadi Rp. 4.174.000.000,- (2009) yang didapatkan dari hasil penjualan aset tetap dan tanaman perkebunan. Dalam hal ini perusahaan mengalami minus kas sebesar Rp. 608.268.000.000,- (2008) dan Rp. 531.498.000.000,- (2009) dikarenakan besarnya pembelian aset tetap, biaya pengembangan perkebunan, pembayaran aset lainnya dan pembayaran untuk biaya tangguhan hak atas tanah. Arus Kas dari Aktivitas Pendanaan menurun dari semula Rp. 192.678.000.000,- (2008) menjadi Rp. 744.000.000.000,- (2009) yang didapatkan dari pinjaman bank Rp. 187.766.000.000,- (2009) yang didapat dari penjualan modal saham yang diperoleh kembali. Perusahaan melakukan pembayaran pokok pinjaman bank yang menaik di tahun 2009 sebesar Rp. 1.348.620.000.000,-, kembali melakukan pembayaran dividen, pembayaran kepada pihak yang mempunyai hubungan istimewa (anak perusahaan) serta pembayaran modal saham yang diperoleh sehingga sisa kas yang diperoleh juga minus dari Rp. 37.294.000.000,- (2008) bertambah minusnya menjadi Rp. 701.764.000.000,- (2009). Meskipun banyak mengalami minus kas, secara keseluruhan perusahaan masih mempunyai sisa saldo kas akhir tahun masing-masing sebesar Rp. 1.034.344.000.000,- (2008) dan menurun sebesar Rp. 682.249.000.000 (2009) karena perusahaan masih mempunyai saldo kas yang positif pada awal tahun sehingga dapat dikatakan bahwa walau terdapat penurunan kas, perusahaan masih tetap liquid dalam melakukan kegiatan pembayaran, pembelian dan kegiatan operasional lainnya. Berikut Analisa Rasio keuangan dari Neraca Konsolidasi Disajikan dalam jutaan rupiah kecuali dinyatakan lain. PT. Perusahaan Perkebunan

London Sumatra Tbk dan Anak Perusahaan per 31 Desember 2009 dan 2008.

Rasio Likuiditas (Liquidity) : Current Ratio : Current Assets / Current Liabilities 2008 = 1.399.810 / 853.105 = 1,41 2009 = 964.362 / 686.189 = 1,64 Ada kenaikan Current Ratio perusahaan dari 1,41 (2008) menjadi 1,64 (2009) disebabkan ada pelunasan sebagian kewajiban lancar (current liabilities) dari current asset, dapat dikatakan juga bahwa perusahaan mempunyai Rp. 1,41 dan Rp. 1,64 aset lancar (current asset) untuk setiap Rp. 1 kewajiban lancar (current liabilities) atau kemampuan perusahaan dalam membayar kewajiban lancar sebanyak 1,41 kali dan 1,64 kali. Bagi kreditur ini merupakan suatu pertanda yang baik Quick Ratio : (Current Assets – Inventory) / Surrent Liabilities 2008 : (1.399.810 – 213.719) / 853.105 = 1,39 2009 : (964.362 – 192.133) / 686.189 = 1,13 Terdapat penurunan Quick Ratio perusahaan dari 1,39 (2008) menjadi 1,13 (2009). Perhitungannya sama dengan current ratio tetapi dikurangi persediaan dengan pertimbangan persediaan kemungkinan dapat hilang, rusak, susut maka kemampuan current assets perusahaan dalam menyelesaikan current liabilities masih sehat sebesar 1,39 kali dan 1,13 kali. Ratio Utang (Leverage) : Debt Ratio : Total Debt / Total Assets 2008 : 1.734.469 / 4.931.528 = 0,35 2009 : 1.038.812/ 4.852.277 = 0,21 Perusahaan mengalami penurunan debt ratio dari 0,35 (2008) menjadi 0,21 (2009), pembiayaan/kebutuhan dana perusahaan dari hutang sebanyak 0,35% dan 0,21%, yang artinya dalam menjalankan operasinya perusahaan telah memiliki assets yang cukup baik sehingga pembiayaan dari hutang dapat diturunkan. Time Interest Earned (TIE) : EBIT / Interest Expense 2008 : 1.326.716 / 399.161 = 3,32 2009 : 1.008.139 / 300.652 = 3,35 Ada kenaikan TIE dari 3,32 (2008) menjadi 3,35 (2009), baik bagi perusahaan karena 3,32 kali (2008) menandakan earning perusahaan dapat menutupi interest expense/tax dan menaik pada tahun 2009 sebesar 3,35 kali earning perusahaan dapat menutupi interest expense/tax sehingga perusahaan tidak mengalami kesulitan dalam membayar bunga. Ratio Aktivitas (Activity) :

Inventory Turn Over (ITO) : COGS / Average Inventory 2008 : 1.985.379 / 213.719 = 9,30 2009 : 1.809.194 / 192.133 = 9,42 Rasio ITO 9,30 kali (2008) dan menaik 9,42 kali (2009), baik bagi perusahaan karena ITO yang besar dan meningkat menggambarkan kemampuan perusahaan lebih efisien dalam mengelola inventorynya. Average Days in Inventory : 360 / Inventory turnover 2008 : 360 / 9,30 = 38,7 hari 2009 : 360 / 9,42 = 38,2 hari Ada penurunan dalam rata-rata inventory di kuasai yang berarti baik bagi perusahaan karena sebelumnya 38,7 hari masa invetory yang dikuasai sebelum akhirnya terjual dan kini menjadi rata-rata hanya 38,2 hari walaupun tidak terlalu signifikan. Assets Turn Over (ATO) : Sales / Total Assets 2008 : 3.864.154 / 4.931.528 = 0,78 2009 : 3.199.687 / 4.852.277 = 0,65 Terjadi penurunan dalam ATO yakni 0,78 kali (2008) menjadi 0,65 kali (2009), berarti setiap assets sebesar Rp. 1 diperoleh dari penjualan sebesar 0,78 kali (2008) dan menurun 0,65 kali (2009), menandakan tidak baik karena penjualan perusahaan menurun dalam menutupi (covering) assets-nya. Ratio Profitabilitas (Profitability) : Profit Margin : Net Income / Sales 2008 : 927.555 / 3.846.154 = 0,24% 2009 : 707.487 / 3.199.687 = 0,22% Terjadi penurunan profit margin dari 0,24% (2008) menjadi 0,22% (2009) artinya kurang baik bagi perusahaan karena penjualan turun sehingga berdampak pada turunnya dividen per saham dan mengharuskan perusahaan untuk menambah atau mendapatkan kembali tambahan modal agar kegiatan operasional perusahaan tetap berjalan. Basic Earning Power : EBIT / Total Assets 2008 : 1.326.716 / 4.931.528 = 0,27 2009 : 1.008.139 / 4.852.277 = 0,21 Kekuatan perusahaan dalam mengumpulkan earning mengalami penurunan dari 0,27 (2008) menjadi 0,21 (2009), berdampak tidak baik karena earning merupakan dana tambahan bagi

keberlangsungan perusahaan selain modal dan dana-dana lainnya sehingga perlu diadakan cara-cara dalam meningkatkan penjualannya. Return on Assets : Net Income / Total Assets 2008 : 927.555 / 3.531.718 = 0,26% 2009 : 707.487 / 3.887.915 = 0,18% Terdapat penurunan ROA dari 0,26% (2008) menjadi 0,18% (2009) akibat turunnya penjualan, berdampak pada turunnya laba bersih, disamping itu terjadi peningkatan aset tidak lancar (tanaman perkebunan dan aset tetap). Return on Equity : Net Income / Equity 2008 : 927.555 / 3.197.059 = 0,29% 2009 : 707.487 / 3.813.465 = 0,18% Di setiap rupiah dalam ekuitas, perusahaan dapat mengumpulkan 0,29% dari profitnya, tetapi terjadi penurunan 0,18% (2009) karena ekuitasnya menaik sedangkan laba penjualan menurun.

b.Ratio Keuangan dan Komentar yang memadai
Dibawah ini adalah Neraca Konsolidasi :

Dibawah ini adalah Laporan Laba Rugi (Konsolidasi) :

C. Potensial Growth
Growth potential merupakan estimasi tingkat pertumbuhan yang dihitung dengan menggunakan retention growth model (Brigham dan Gapenski, 1996) G = b(r), dimana : r b b = return on equity (ROE) = bagian earnings yang dihaarpkan ditahan = 1 - payout

PERENCANAAN KEUANGAN

a. Bagaimana rancangan kredit yang akan anda laksanakan.

b. Berapa beban bunga selama 12 bulan kedepan sesuai dengan rencana anda

Daftar Referensi :
http://usupress.usu.ac.id/files/Manajemen%20Keuangan%20-%20Final2_bab%201.pdf peni.staff.gunadarma.ac.id/Downloads/files/6174/Capital+structre.ppt http://digilib.petra.ac.id/viewer.php? page=1&submit.x=0&submit.y=0&qual=high&fname=/jiunkpe/s1/eman/2008/jiunkpe-ns-s1-2008-314034029135-real_estate-chapter2.pdf .( http://ansoritoyib.wordpress.com/2009/02/23/kepuasan-pelanggan-dan-nilai-perusahaan-2/ (Guntur Tri Haryanto, http://analysis.capitalprice.com/?p=375)

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful