BAB I PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG Apabila pemakain obat harus secara oral dalam bentuk kering, maka bentuk kapsul dan tabletlah yang menjadi pilihan pasien. Dari sudut pandang farmasetik bentuk sediaan padat pada umumnya lebih stabil dari pada bentuk cair, sehingga bentuk sediaan padat ini lebih cocok untuk obat-obat yang kurang stabil. Serbuk kering yang digunakan melalui mulut untuk minum (biasanya setelah dicampur dengan air) kurang begitu umum dibandingkan dengan kapsul dan tablet, tetapi disenangi oleh sebagian pasien yang tidak dapat menelan obat dengan bentuk sediaan padat lainnya akan tetapi kebanyakan obat dengan bentuk serbuk per se dalam pengobatan terbatas, tetapi penggunaan dalam bentuk sediaan padat cukup luas. Kebanyakan bahan-bahan obat yang dipakai sekarang terdapat dalam bentuk serbuk atau kristal dan dicampur dengan unsur-unsur serbuk lainnya sebagai pengisi dan penghancur sebelum dibuat menjadi bentuk sediaan padat. Obat bentuk serbuk juga ditambahkan ke dalam salep, pasta, supositoria dan bentuk sediaan lainnya pada waktu pengolahannya. Demikian pula granul yang merupakan gumpalan-gumpalan bahan dari bentuk serbuk diolah menjadi partikel yang dapat mengalir dengan bebas pada dasarnya disiapkan bentuk cair sebelum dipakai, dengan penambahan bahan pembantu yang tepat sebagai bahan pengisi. Tablet merupakan bahan obat dalam bentuk sedian padat yang biasanya dibuat dengan penambahan bahan tambahan farmasetika yang sesuai. Tablet-teblet dapat berbeda dalam ukuran, bentuk, berat, kekerasan, ketebalan, daya hancurnya dan dalam aspek lainnya tergantung pada cara pemakaian tablet dan metode pembuatannya. Kebanyakan tablet diggunakan pada pemberian obat-obat secara oral, dan kebanyakan dari tablet ini dibuat dengan penambahan zat warna, zat pemberi rasa dan lapisanlapisan dalam berbagai jenis. Tablet lain yang penggunaannya dengan cara sublingual, bukal atau melalui vagina, tidak boleh mengandung bahan tambahan seperti pada tablet yang digunakan secara oral.

1| Page

B. TUJUAN Formulasi sediaan yang kami buat bertujuan: 1. Mengetahui masalah-masalah yang dihadapi dalam pembuatan sediaan tablet dan bagaimana cara pemecahan masalahnya. 2. Dapat menyusun hasil pengkajian praformulasi bahan aktif untuk sediaan. 3. Dapat menyusun desain formula pembuatan dan evaluasi larutan dari hasil pengkajian praformulasi.
4. Dapat menganalisis sifat fisiko kimia, khasiat, stabilitas zat aktif (CTM) yang

digunakan dalam sediaan tablet.
5. Dapat menganalisis sifat fisiko kimia zat-zat tambahan yang digunakan dalam

sediaan tablet. 6. Untuk memenuhi laporan praktikum teknologi padat 7. Dapat melaksanakan evaluasi sediaan baru.

BAB II
2| Page

TINJAUAN PUSTAKA
A. PENGERTIAN TABLET Tablet adalah sediaan padat kompak, dibuat secara kempa cetak, dalam bentuk tabung pipih atau sirkuler, kedua permukaannya rata atau cembung, mengandung satu jenis obat atau lebih dengan atau tanpa zat tambahan. Zat tambahan yang digunakan dapat berfungsi sebagai zat pengisi, zat pengembang, zat pengikat, zat pelicin, zat pembasah atau zat lain yang cocok ( menurut FI III). Tablet adalah sediaan padat mengandung bahan obat dengan atau tanpa bahan pengisi. Berdasarkan metode pembuatan dapat digolongkan sebagai tablet cetak dan tablet kempa (menurut FI IV). Tablet dibuat terutama dengan cara kompresi. Sejumlah tertentu dari tablet dibuat dengan mencetak. Tablet yang dibuat secara kompresi menggunakan mesin yang mampu menekan bahan bentuk serbuk atau granul dengan menggunakan berbagai bentuk punch dan die. Alat kompresi tablet merupakan alat berat dari berbagai kapasitas dipilih sesuai dengan dasar dari jenis tablet yang akan dibuat serta produksi rata-rata yang diinginkan. Tablet yang dicetak dibuat dengan tangan atau dengan alat mesin tangan, dengan cara menekan bahan tablet ke dalam cetakan, kemudian bahan tablet yang telah terbentuk dikeluarkan dari cetakan dan dibiarkan sampai kering. B. KRITERIA TABLET Suatu tablet harus memenuhi kriteria sebagai berikut : 1. Harus mengandung zat aktif dan non aktif yang memenuhi persyaratan; 2. Harus mengandung zat aktif yang homogen dan stabil; 3. Keadaan fisik harus cukup kuat terhadap gangguan fisik/mekanik; 4. Keseragaman bobot dan penampilan harus memenuhi persyaratan; 5. Waktu hancur dan laju disolusi harus memenuhi persyaratan; 6. Harus stabil terhadap udara dan suhu lingkungan; 7. Bebas dari kerusakan fisik; 8. Stabilitas kimiawi dan fisik cukup lama selama penyimpanan; 9. Zat aktif harus dapat dilepaskan secara homogen dalam waktu tertentu; 10. Tablet memenuhi persayaratan Farmakope yang berlaku.

3| Page

C. KEUNTUNGAN DAN KERUGIAN TABLET Sediaan tablet banyak digunakan karena memiliki beberapa keuntungan, yaitu : 1. Tablet dapat bekerja pada rute oral yang paling banyak dipilih; 2. Tablet memberikan ketepatan yang tinggi dalam dosis; 3. Tablet dapat mengandung dosis zat aktif dengan volume yang kecil sehingga memudahkan penyimpanan; 4. Bebas dari air, sehingga potensi adanya hidrolisis dapat dicegah/diperkecil. Dibandingkan dengan bentuk sediaan lain, sediaan tablet mempunyai keuntungan, antara lain : 1. Volume sediaan cukup kecil dan wujudnya padat (merupakan bentuk sediaan oral yang paling ringan dan paling kompak), memudahkan pengemasan, penyimpanan, dan pengangkutan; 2. Tablet merupakan bentuk sediaan yang utuh (mengandung dosis zat aktif yang tepat/teliti) dan menawarkan kemampuan terbaik dari semua bentuk sediaan oral untuk ketepatan ukuran serta variabilitas kandungan yang paling rendah; 3. 4. 5. 6. 7. Dapat mengandung zat aktif dalam jumlah besar dengan volume yang kecil; Tablet merupakan sediaan yang kering sehingga zat aktif lebih stabil; Tablet sangat cocok untuk zat aktif yang sulit larut dalam air; Zat aktif yang rasanya tidak enak akan berkurang rasanya dalam tablet; Pemberian tanda pengenal produk pada tablet paling mudah dan murah; pencetak yang bermonogram atau berhiasan timbul; 9. Tablet paling mudah ditelan serta paling kecil kemungkinan tertinggal di tenggorokan, terutama bila bersalut yang memungkinkan pecah/hancurnya tablet tidak segera terjadi; 10. Pelepasan zat aktif dapat diatur (tablet lepas tunda, lepas lambat, lepas terkendali); 11. Tablet dapat disalut untuk melindungi zat aktif, menutupi rasa dan bau yang tidak enak, dan untuk terapi lokal (salut enterik); 12. Dapat diproduksi besar-besaran, sederhana, cepat, sehingga biaya produksinya lebih rendah; 13. Pemakaian oleh penderita lebih mudah;
4| Page

proses

pembuatan,

pengemasan,

pengangkutan,

dan

8. Tidak memerlukan langkah pekerjaan tambahan bila menggunakan permukaan

14. Tablet merupakan bentuk sediaan oral yang memiliki sifat pencampuran kimia,

mekanik, dan stabilitas mikrobiologi yang paling baik. (The Theory & Practice of Industrial Pharmacy, Lachman Hal 294 dan Proceeding Seminar Validasi, Hal 26) Di samping keuntungan di atas, sediaan tablet juga mempunya beberapa kerugian, antara lain : 1. Ada orang tertentu yang tidak dapat menelan tablet (dalam keadaan tidak sadar/pingsan); 2. Formulasi tablet cukup rumit, antara lain : • Beberapa zat aktif sulit dikempa menjadi kompak padat, karena sifat amorfnya, flokulasi, atau rendahnya berat jenis; • Zat aktif yang sulit terbasahi (hidrofob), lambat melarut, dosisnya cukup besar atau tinggi, absorbsi optimumnya tinggi melalui saluran cerna, atau kombinasi dari sifat tersebut, akan sulit untuk diformulasi (harus diformulasi sedemikian rupa);
• Zat aktif yang rasanya pahit, tidak enak, atau bau yang tidak disenangi, atau

zat aktif yang peka terhadap oksigen, atmosfer, dan kelembaban udara, memerlukan enkapsulasi sebelum dikempa. Dalam hal ini sediaan kapsul menjadi lebih baik daripada tablet. (The Theory & Practice of Industrial Pharmacy, Lachman Hal 294) Tetapi jika dibandingkan dengan keuntungannya, kerugian sediaan tablet jauh lebih sedikit sehingga sediaan tablet merupakan sediaan yang paling banyak dijumpai di perdagangan. D. METODE PEMBUATAN TABLET Sediaan tablet ini dapat dibuat melalui tiga macam metode, yaitu granulasi basah, granulasi kering, dan kempa langsung. Pemilihan metode pembuatan sediaan tablet ini biasanya disesuaikan dengan karakteristik zat aktif yang akan dibuat tablet, apakah zat tersebut tahan terhadap panas atau lembab, kestabilannya, besar kecilnya dosis, dan lain sebagainya. Berikut merupakan penjelasan singkat dari ketiga macam metode tersebut : 1. Granulasi Basah
5| Page

Granulasi Basah yaitu memproses campuran partikel zat aktif dan eksipien menjadi partikel yang lebih besar dengan menambahkan cairan pengikat dalam jumlah yang tepat sehingga terjadi massa lembab yang dapat digranulasi. Metode ini biasanya digunakan apabila zat aktif tahan terhadap lembab dan panas. Umumnya untuk zat aktif yang sulit dicetak langsung karena sifat aliran dan kompresibilitasnya tidak baik. Prinsip dari metode granulasi basah adalah membasahi masa tablet dengan larutan pengikat teretentu sampai mendapat tingkat kebasahan tertentu pula, kemudian masa basah tersebut digranulasi. Metode ini membentuk granul dengan cara mengikat serbuk dengan suatu perekat sebagai pengganti pengompakan, tehnik ini membutuhkan larutan, suspensi atau bubur yang mengandung pengikat yang biasanya ditambahkan ke campuran serbuk atau dapat juga bahan tersebut dimasukan kering ke dalam campuran serbuk dan cairan dimasukan terpisah. Cairan yang ditambahkan memiliki peranan yang cukup penting dimana jembatan cair yang terbentuk di antara partikel dan kekuatan ikatannya akan meningkat bila jumlah cairan yang ditambahkan meningkat, gaya tegangan permukaan dan tekanan kapiler paling penting pada awal pembentukan granul, bila cairan sudah ditambahkan pencampuran dilanjutkan sampai tercapai dispersi yang merata dan semua bahan pengikat sudah bekerja, jika sudah diperoleh massa basah atau lembab maka massa dilewatkan pada ayakan dan diberi tekanan dengan alat penggiling atau oscillating granulator tujuannya agar terbentuk granul sehingga luas permukaan meningkat dan proses pengeringan menjadi lebih cepat, setelah pengeringan granul diayak kembali ukuran ayakan tergantung pada alat penghancur yang dugunakan dan ukuran tablet yang akan dibuat. Keuntungan metode granulasi basah : 1. Memperoleh aliran yang baik 2. Meningkatkan kompresibilitas 3. Untuk mendapatkan berat jenis yang sesuai 4. Mengontrol pelepasan 5. Mencegah pemisahan komponen campuran selama proses 6. Distribusi keseragaman kandungan 7. Meningkatkan kecepatan disolusi Kekurangan metode granulasi basah:
6| Page

1. Banyak tahap dalam proses produksi yang harus divalidasi 2. Biaya cukup tinggi 3. Zat aktif yang sensitif terhadap lembab dan panas tidak dapat dikerjakan dengan cara ini. Untuk zat termolabil dilakukan dengan pelarut non air 2. Granulasi Kering Granulasi Kering disebut juga slugging, yaitu memproses partikel zat aktif dan eksipien dengan mengempa campuran bahan kering menjadi massa padat yang selanjutnya dipecah lagi untuk menghasilkan partikel yang berukuran lebih besar dari serbuk semula (granul). Prinsip dari metode ini adalah membuat granul secara mekanis, tanpa bantuan bahan pengikat dan pelarut, ikatannya didapat melalui gaya. Teknik ini yang cukup baik, digunakan untuk zat aktif yang memiliki dosis efektif yang terlalu tinggi untuk dikempa langsung atau zat aktif yang sensitif terhadap pemanasan dan kelembaban. Pada proses ini komponen–komponen tablet dikompakan dengan mesin cetak tablet lalu ditekan ke dalam die dan dikompakan dengan punch sehingga diperoleh massa yang disebut slug, prosesnya disebut slugging, pada proses selanjutnya slug kemudian diayak dan diaduk untuk mendapatkan granul yang daya mengalirnya lebih baik dari campuran awal bila slug yang didapat belum memuaskan maka proses diatas dapat diulang. Dalam jumlah besar granulasi kering dapat juga dilakukan pada mesin khusus yang disebut roller compactor yang memiliki kemampuan memuat bahan sekitar 500 kg, roller compactor memakai dua penggiling yang putarannya saling berlawanan satu dengan yang lainnya, dan dengan bantuan tehnik hidrolik pada salah satu penggiling mesin ini mampu menghasilkan tekanan tertentu pada bahan serbuk yang mengalir dintara penggiling. Metode ini digunakan dalam kondisi-kondisi sebagai berikut : • • • • Kandungan zat aktif dalam tablet tinggi Zat aktif susah mengalir Zat aktif sensitif terhadap panas dan lembab Peralatan lebih sedikit karena tidak menggunakan larutan pengikat, mesin pengaduk berat dan pengeringan yang memakan waktu
7| Page

Keuntungan cara granulasi kering adalah:

• • • • •

Baik untuk zat aktif yang sensitif terhadap panas dan lembab Mempercepat waktu hancur karena tidak terikat oleh pengikat Memerlukan mesin tablet khusus untuk membuat slug Tidak dapat mendistribusikan zat warna seragam Proses banyak menghasilkan debu sehingga memungkinkan terjadinya kontaminasi silang

Kekurangan cara granulasi kering adalah:

3. Metode Kempa Langsung Metode Kempa Langsung, yaitu pembuatan tablet dengan mengempa langsung campuran zat aktif dan eksipien kering.tanpa melalui perlakuan awal terlebih dahulu. Metode ini merupakan metode yang paling mudah, praktis, dan cepat pengerjaannya, namun hanya dapat digunakan pada kondisi zat aktif yang kecil dosisnya, serta zat aktif tersebut tidak tahan terhadap panas dan lembab. Ada beberapa zat berbentuk kristal seperti NaCl, NaBr dan KCl yang mungkin langsung dikempa, tetapi sebagian besar zat aktik tidak mudah untuk langsung dikempa, selain itu zat aktif tunggal yang langsung dikempa untuk dijadikan tablet kebanyakan sulit untuk pecah jika terkena air (cairan tubuh). secara umum sifat zat aktif yang cocok untuk metode kempa langsung adalah; alirannya baik, kompresibilitasnya baik, bentuknya kristal, dan mampu menciptakan adhesifitas dan kohesifitas dalam massa tablet. Sedangkan keuntungan metode kempa langsung yaitu : • • Lebih ekonomis karena validasi proses lebih sedikit Lebih singkat prosesnya. Karena proses yang dilakukan lebih sedikit, maka waktu yang diperlukan untuk menggunakan metode ini lebih singkat, tenaga dan mesin yang dipergunakan juga lebih sedikit. • • Dapat digunakan untuk zat aktif yang tidak tahan panas dan tidak tahan lembab Waktu hancur dan disolusinya lebih baik karena tidak melewati proses granul, tetapi langsung menjadi partikel. tablet kempa langsung berisi partikel halus, sehingga tidak melalui proses dari granul ke partikel halus terlebih dahulu. Kerugian metode kempa langsung :

8| Page

Perbedaan ukuran partikel dan kerapatan bulk antara zat aktif dengan pengisi dapat menimbulkan stratifikasi di antara granul yang selanjutnya dapat menyebabkan kurang seragamnya kandungan zat aktif di dalam tablet.

Zat aktif dengan dosis yang besar tidak mudah untuk dikempa langsung karena itu biasanya digunakan 30% dari formula agar memudahkan proses pengempaan sehingga pengisi yang dibutuhkanpun makin banyak dan mahal. Dalam beberapa kondisi pengisi dapat berinteraksi dengan obat seperti senyawa amin dan laktosa spray dried dan menghasilkan warna kuning. Pada kempa langsung mungkin terjadi aliran statik yang terjadi selama pencampuran dan pemeriksaan rutin sehingga keseragaman zat aktif dalam granul terganggu.

Sulit dalam pemilihan eksipien karena eksipien yang digunakan harus bersifat; mudah mengalir; kompresibilitas yang baik; kohesifitas dan adhesifitas yang baik E. MASALAH DALAM PEMBUATAN TABLET 1. Capping Tablet terpisah sebagian atau seluruhnya atas dan bawah, yang disebabkan terlalu banyak tekanan saat pencetakan, adanya udara yang terperangkap saat granulasi, granulasi terlalu kering, terlalu banyak fines, pemasangan punch dan dies yang tidak pas. 2. Lamination Tablet pecah menjadi beberapa lapisan. Pecahnya tablet terjadi segera setelah kompressi atau beberapa hari kemudian. Penyebabnya adalah udara yang terjerat dalam granul yang tidak dapat keluar selama kompressi atau overlubrikasi dengan stearat.

3. Sticking Keadaan dimana granul menempel pada dinding die sehingga punch bawah tidak bebas bergerak. Penyebabnya adalah punch kurang bersih, tablet dikompressi pada kelembapan tinggi. 4. Picking
9| Page

Perpindahan bahan dari permukaan tablet dan menempel pada yang dikompresi berminyak/lengket. 5. Filming

permukaan punch.

Penyebabnya adalah pengeringan granul belum cukup, jumlah glidan kurang bahan

Adanya kelembapan yang tinggi dan suhu tinggi akan melelehkan bahan dengan titik lebur rendah seperti lemak/wax. Bisa juga karena punch kehilangan pelicin. Hal ini dapat diatasi dengan mengencerkan bahan yang bertitik leleh rendah dengan bahan yang titik lelehnya tinggi sehingga mengurangi penempelan. 6. Chipping dan Cracking Pecahnya tablet disebabkan karena alat dan tablet retak di bagian atas karena tekanan yang berlebih. 7. Binding Kesulitan mengeluarkan tablet karena lubrikan yang tidak cukup. 8. Molting Distribusi zat warna yang tidak homogen. Penyebabnya adalah migrasi zat warna yang tidak seragam (atas kering duluan yang bawah masih basah). F. PEMERIKSAAN DAN UJI GRANUL
1. Distribusi ukuran partikel, Menggunakan ayakan No. 12-14

2.

Sifat aliran Menggunakan alat flow rate tester (g/menit). Sudut henti < 25 25 – 45 > 45 Sifat alir mudah mengalir Mengalir sukar mengalir

3.

Kompresibilitas Persen (%) kemampatan (K) = Do – Df Do Do = tap density (berat granul/ volume granul sebelum dimampatkan) Df = bulk density (berat granul/ volume granul setelah dimampatkan) Syarat = % K < 20 % x 100%

4.

Susut Pengeringan/ Kadar uap

10 | P a g e

Susut pengeringan diukur dengan alat Karl fischer dan moisture balance. Susut pengeringan = Wo - Wt Wo Sp = susut pengeringan Wo = berat mula-mula Wt = berat setelah dikeringkan Kadar uap = Wo - Wt Wt G. EVALUASI TABLET Evaluasi tablet dilakukan untuk mengetahui apakah tablet yang dihasilkan telah memenuhi kriteria atau belum. Diperlukan beberapa pengujian, diantaranya adalah : Uji Penampilan Tablet diamati secara visual meliputi : warna (homogenitas), bentuk (bundar, permukaan rata/cembung), cetakan (garis patah, tanda, logo, pabrik), dll. Uji Keseragaman Ukuran Kecuali dinyatakan lain diameter tablet tidak boleh lebih dari 3x dan tidak kurang dari 11/3 tebal tablet. Uji diameter dan ketebalan tablet ini dilakukan terhadap 20 tablet. 3. Uji Kekerasan Dilakukan dengan alat Hardness tester. Kekerasan tablet diukur terhadap luas permukaan tablet dengan menggunakan beban yang dinyatakan dalam kilogram. Satuan kekerasan adalah Newton, kp. 4. Uji Friabilitas Dilakukan dengan alat Friabilator menggunakan 20 tablet. Parameter yang diuji adalah kerapuhan tablet terhadap gesekan atau bantingan selama waktu tertentu. Uji friabilitas biasanya dilakukan selama 15-20 menit tergantung spesifikasi alat. Tablet yang baik mempunyai friabilitas < 1%. Perhitungan : f = a – b a f = friabilitas a = bobot tablet sebelum diuji b = bobot tablet setelah diuji
11 | P a g e

x 100 %

5.

Uji keseragaman Bobot Uji ini dilakukan terhadap 20 tablet dengan cara menimbang satu persatu. Persyaratan Farmakope Indonesia : Deviasi maksimum (%) 2 tablet 1 tablet 2 mg atau kurang 15 30 25-150 mg 10 20 151-300 mg 7,5 15 > 300 mg 5 10 Persyaratan : tidak boleh 2 tablet yang bobot rata-ratanya menyimpang dari bobot rata-rata tablet lebih besar dari harga yang ditetapkan kolom A dan tidak satupun yang bobotnya menyimpang dari bobot rata-rata kolom B. Bobot rata-rata (mg)

6. Uji Waktu Hancur Uji waktu hancur menggunakan alat disintegrator tester menggunakan 6 tablet. Persyaratn farmakope Indonesia 3 : kecuali dinyatakan lain semua tablet harus hancur tidak lebih dari 15 menit (untuk tablet tidak bersalut) dan tidak lebih dari dari 60 menit untuk tablet salut gula atau tablet salut selaput. 7. Uji Keseragaman Kandungan Uji ini biasanya dilakukan jika tablet mengandung zat aktif < 50 mg. Pengujian dilakukan terhadap 10 tablet. Persyaratan FI 4 ; tidak boleh lebih dari 2 tablet yang kadarnya di luar rentang 85-115 % dari kadar rata-rata dan tidak boleh lebih dari 1 tablet yang kadarnya diluar rentang 75-125 % dari kadar rata-rata. 8. Uji Disolusi Uji ini dilakukan untuk mengetahui kapan zat aktif mulai dilepaskan dan kapan tercapai kadar maksimum didalam media disolusi serta bagaimana profil zat aktif secara in vitro. H. MONOGRAFI ZAT AKTIF DAN ZAT TAMBAHAN
1. Zat Aktif :Chlorpheniramin Maleat

Sifat Kimia Nama Lain Nama kimia Rumus Molekul
12 | P a g e

: Chlorpeniramin Maleat : 2- [p-kloro, α- (2-dimetilamino-etil)-benzil] - piridina maleat : C16H19ClN2, C4H4O4

rumus bangun

:

Berat Molekul Sifat Fisika Organoleptis Bentuk Bau Warna Rasa Kelarutan Berat Jenis Titik Leleh Sifat Farmakologi
• •

: 390,8

: serbuk hablur : tidak berbau : putih : pahit : larut dalam 4 bagian air, dalam 10 bagian kloroform p, sukar larut dalam eter : 390,87 : 132 º – 135

Khasiat Indikasi

: Antihistaminikum : Suatu sifat Kimia anthistamin untuk reaksi alergi yang ringan, seperti : iritasi hidung, mata,tengorokan, edema, kemerahan & iritasi karena makanan, gigitan serangga dan tanaman alergen.

Kontraindikasi

: Hipersensitivitas terhadap klorfeniramin. Gejala saluran pernafasan bawah. Terapi bersama dengan MAO inhibitor dapat memperpanjang / memperkuat efek antikolinergik (kekeringan) dari klorfeniramin.

• Efek samping : 1. SSP : kebingungan, kelelahan, sedasi, pusing, gangguan kecemasan, koordinasi, kegelisahan,

tremor, emosiaonal, insomnia, euphoria, parestesis, vertigo, labirintis akut, neuritis, kejang 2. Mata : gangguan penglihatan, diplopia
13 | P a g e

3. Kardiovaskular : hipotensi, sakit kepala, palpitasi, takikardia, ekstrasistole. 4. Sematologi : urtikaria, fotosensitivitas. 5. Hematology : anemia, hemolitik, tromsositopenia, agranulositosis. 6. Sal. Kencing : diuresis, sulit kencing, retensi urine, haid lebih cepat. 7. Sal. Pencernaan: kembung, anoreksia, mual, muntah, diare, konstipasi. 8. Sal. Pernafasan : mengentalkan sekresi, sesak dada, dan sumbatam hidung. 9. Hipersensitivitas : syok anafilaksis

Interaksi Obat

: - Alcohol, tranquilizer, sedative

hipnotik, dan depresan SSP lainnya : memperberat depresi SSP
- Inhibitor MOA : meningkatkan efek antikolinergik •

Penggunaan pada anak lahir/premature

: - Dikontraindikasikan pada

bayi yang baru
- Menimbulkan eksitasi pada anak – anak


Penggunaan pada ibu hamil: dikontraindikasikan bagi ibu hamil muda karena dapat menggangu janin Dosis Dosis Lazim Anak (2-5 thn) Anak (6-11 thn) Dewasa :1 mg tiap 4-6 jan : 2 mg – 12 mg / 24jam : 4 mg tiap 4-6 jam sekali sampai 24 mg/24jam

Wadah dan Penyimpanan : dalam wadah tertutup rapat, tak tembus cahaya. A. Bahan penghancur (disintegrant): Amilum kering
1. Rumus molekul

: (C6H10O5)n : 5,5 – 6,5 untuk 2% b/v

2. BM 3. PH 4. Fungsi
14 | P a g e

: 50.000 – 160.000 : Glidan, dilven, binder, disintegrant (3-15%)

5. Kompresibilitas 6. Densitas 7. Distribusi partikel 8. Rentang
9. Kelarutan

::: 10 – 100 µm : 2 – 32 µm : Praktis tidak larut etanol dingin (950) dan dalam air

dingin 10. Organoleptis : serbuk, putih hampir putih dan pahit. 11. Flowability : 10,8 – 11,7 g/s pati jagung. 12. Stabilitas dan penyimpanan : amilum yang kering dan tidak dipanasi stabil jika terlindung dari (high humidity) saat digunakan sebagai pelincir atau disintegran pada sediaan padat, amilum dipertimbangkan sebagai bahan inert dibawah kondisi penyimpanan normal. Namun larutan amilum yang dipanaskan atau pasta amilum secara fisik tidak stabil dan rentan serangan mikroorganisme dan menyebabkan a wide voriety of starch derivatives and modified storches that have unique phisical properties. Amilum harus disimpan dalam wadah tertutup rapat ditempat sejuk dan kering. B. Bahan Pelincir (glidant, antiadherent) : Talk dan Mg stearat Talkum 1. Sinonim
3.

: Magnesi osmanthus; powdered talc; purified French chalk. : Mg6(Si2O5)4(OH)4

2. CAS : Talk [14807-96-6] Rumus Empiris :0 : 7-10 untuk 20% b/v : Anti cracking,glidant, diluent, lubricant Konsentrasi (%) 90 – 99 1 – 10 5–3 4. BM 5. pH
6.

Fungsi

7. Aplikasi dalam formula farmasetik dan teknologi : Penggunaan Dusting powder Glidant dan tablet lubricant Tablet dan capsule diluents 6. Pemerian

: Talk sangat halus, putih keabu-abuan, tidak berbau, tidak berasa, serbuk kristal menempel / melekat

15 | P a g e

pada kulit, lembut jika disentuh, bebas dari pasir (hidrofobik). 7. Kelarutan 8. OTT 9. Kekerasan 10.Wadah : Praktis tidak larut dalam asam encer dan alkali, pelarut organic dan air. : Dengan ammonium : 1,0 – 1,5 : Dalam wadah tertutup baik, tempat yang dingin dan kering. 11. Stabilitas dan penyimpanan : Bahan stabil dan dapat disterilkan dengan pemanasan pada suhu 160%0 selama lebih dari satu jam. Juga dapat disterilkan dengan diekspos pada etylen OH, atau irradasi sama. Talk harus disimpan dalam wadah tertutup, baik ditempat yang sejuk dan dingin. Mg Stearat 1. Sinonim 2. Fungsi 3. Aplikasi 6. Pemerian 7. Kelarutan 8. Kestabilan 9. Berat Jenis 10. Melting Point 11. OTT 12. Wadah : : : Mg oktadecanoate, Stearic acid magnesium salt lubrikan (antiadherent) Sebagai penghancur fase dalam : lubrikan = 0,25-5% : serbuk putih, bau dan rasa khas, berminyak bila tersentuh, lengket pada kulit : praktis tidak larut dalam etanol (95%) dan eter : Stabil : 1,03-1,08 g/cm3 : 88,50 C : inkompatibel dengan asam kuat, alkali dan garamnya : Dalam wadah tertutup baik dan tempat yang dingin dan kering Bahan pengisi (diluent): Laktosa
1. Sinonim 2. Rumus empirik 3. BM 4. CAS 16 | P a g e

4. Konsentrasi

: saccharum lactis : C12H22O11 : 342,30 :O-β-D-Galactopyranosyl-(1→4)-α-D-Glucopyranose

anhydrous
5. Fungsi 6. Pemerian 7. Kelarutan

: Pengisi : Serbuk, putih : Praktis tidak larut dalam kloroform, etanol, dan eter. Larut dalam 1 bagian laktosa dalam 4,63 bagian air, 1 bagian laktosa dalam 3,14 bagian air pada suhu 40oC, 1 bagian laktosa dalam 2,04 bagian air pada suhu 50oC, 1 bagian kaltosa dalam 1,68 bagian air pada suhu 60oC, 1 bagian laktosa dalam 1,07 bagian air pada suhu 80oC

8. OTT

:Asam amino, aminophilin, amfetamin, lisinopril, gugus amin primer. : 223oC (anhydrous α-lactose), 252,2oC (anhydrous βlactose)

9. Titik leleh

I. Rancangan Formulasi Akan dibuat tablet CTM (chlorpheniramin maleat) dengan kandungan bahan aktif sebanyak 10 mg dan bobot satu tablet dibuat 500 mg. Pembuatan 1 batch 500 tablet (500 mg). Metode pembuatan yang direncanakan adalah metode granulasi kering. Dalam pembuatan tablet ini diperlukan bahan-bahan tambahan yang terdiri atas : 1. Bahan pengisi 4. Bahan pelincir : Laktosa : Talk & Mg Stearat (Antiadherent & glidant) 3. Bahan penghancur : Amilum kering (Dalam & luar)

BAB III METODE PRAKTIKUM
A. Formulasi R/CTM Amilum kering Laktosa Mg Stearat Talk Amilum kering 4 mg 10% qs 1% 2% 5% Fase Luar (FL): 8% Fase Dalam (FD): 92% x 100 = 92 mg

17 | P a g e

Perhitungan Fase Dalam dan Fase Luar Fase dalam CTM Amilum kering 10% x 100 Laktosa (92mg – 14mg) Mg Stearat Talk Fase luar Mg Stearat Talk 0,5% 1% 6,5 % 0,5% x 100 1% x 100 : 4 mg : 10 mg : 78 mg : 0,5 mg : 1mg 92% + 0,5% + 1% = 93,5% 93,5%X 100mg = 93,5 mg 14 mg

Amilum kering 5 % • Penimbangan bahan CTM Amilum kering Laktosa Mg stearat Talk 4 mg x 500 10 mg x 500 78 mg x 500 = 2 gram = 5 gram = 39 gram

0,5 mg x 500 = 0,25 gram 1 mg x 500 = 0,5 gram + 46,75 gram

Prosedur pembuatan 1. Semua bahan ditimbang. Apabila perlu digerus maka geruslah terlebih dahulu sebelum ditimbang. 2. Semua FD kecuali lubrikan dicampur dalam kantong plastik yang sesuai selama ± 5-10 menit (M1) 3. Masukkan lubrikan (Mg stearat) FD ke dalam M1. Aduk hingga homogen selama ± 2-5 menit. 4. Kempa massa M1 dengan mesin sluging atau mesin cetak tablet, kemudian hasilnya dihancurkan hingga terbentuk slug. 5. Ayak slug dengan ayakan mesh 18 atau sesuai dengan yang ada di lab.

18 | P a g e

6. Periksa aliran slug, apakah sudah memenuhi syarat atau belum. Apabila belum memenuhi syarat, maka proses sluging (no 4-6) diulang, maksimal 3 kali pengulangan. 7. Slug yang sudah memenuhi syarat kemudian dievaluasi, kemudian ditimbang. 8. Melakukan evaluasi granul, yaitu: a. b. c. 9. kemudian menimbangnya. Berat granul yang diperoleh: 42 gram Jumlah tab yg dapat dibuat Bobot masa cetak Bobot per tab : 42 46,75 :100% x 42 gram = 44,919 gram 93,5% : 44,919 = 0,100 gram = 100 mg 449 10. Menimbang fase luar. Fase luar yang ditimbang, meliputi: Mg Stearat Talk Amylum kering = 0,5% x 100 mg = 0,5 mg x 500 tablet = 0,25 gram = 1% x 100 mg = 1 mg x 500 tablet = 0,5 = 5% x 100 mg = 5 mg x 500 tablet = 2,5 gram . x 500 tab = 449 tablet Sifat alir Kadar air kompresibilitas

11. Mencampurkan fase luar dengan sebagian FD ± 1 menit, tambahkan sisanya, campur homogen ± 3-4 menit. 12. Mencetak granul kemudiam melakukan evaluasi pada tablet yang sudah selesai di cetak. Evaluasi tersebut terdiri dari: a. Keseragaman sediaan (bobot dan kandungan) b. Keseragaman ukuran (tebal dan diameter) c. Keregasan / friabilitas d. Kekerasan e. Performance f. Uji disolusi g. Uji kompresibilitas h. Uji waktu hancur

19 | P a g e

BAB IV EVALUASI
A. EVALUASI GRANUL 1. Laju Alir dan sudut henti Uji dilakukan dengan menggunakan corong dan statif. Granul yang kering dimasukkan ke dalam corong yang bagian bawahnya sudah ditutup menggunakan tisu. Corong diletakan 10 cm dari dasar wadah. Setelah stopwatch disiapkan, tisu yang menyumbat corong tersebut ditarik dan granul dibiarkan mengalir melewati corong dengan sesekali mengetuk corong agar

20 | P a g e

granul mengalir lancar. Kemudian waktu granul tepat habis dalam corong dihitung. Didapat : t = 18 detik d = 13,5 cm h = 5 cm sudut henti → Tan α = 2h = 2 x 3 = 0,70 d standar uji sifat alir : < 25 = mudah mengalir 25-45 = mengalir > 45 = sukar mengalir 8,5 α = 35,2 (mengalir)

kecepatan alir → bobot = 43 gram waktu = 18 detik Jadi kecepatan alirnya = 2,38 gram/ detik 2. Uji Kompresibilitas Dengan menggunakan gelas ukur 100 mL dimasukkan granul kering sampai 100 mL kemudian memampatkannya dengan mengetuk-ngetuk sebanyak 500 kali ketukan. Didapat Maka : Vo = 100 Vt = 73

: Vo – Vt x 100% = 59 – 45 x 100% = 23,72% ( tergolong buruk) Vo 59

Standar tidak boleh lebih dari 20% B. EVALUASI TABLET
1. Uji penampilan tablet, yaitu dengan melihat penampilan tablet secara kasat

mata, diperoleh data: • Homogenitas warna : homogen, putih : bundar dan kasar
• Bentuk dan permukaan 21 | P a g e

2. Uji keseragaman ukuran, yaitu dengan melakukan pengukuran terhadap 20

tablet dengan menggunakan penggaris, didapat : • Diameter rata-rata • Tebal rata-rata : 1 cm : 0,5 cm

Diameter tablet yang dibuat memenuhi kriteria uji keseragaman ukuran, yaitu diameter tablet tidak boleh lebih dari 3 kali tebal tablet dan tidak bolek kurang dari 1 1/3 tebal tablet
3. Uji friabilitas, yaitu dengan menggunakan alat friabilator. 20 tablet yang

sebelumnya sudah ditimbang dimasukan ke dalam alat dan alat di seting selama 4 menit lalu tablet yang masih tersisa ditimbang kembali kemudian dihitung nilai friabilitasnya. Dan yang menjadi parameter pada uji ini adalah kerapuhan terhadap gesekan atau bantingan selama 15-20 menit. f = a – b x 100% a f = 7,1274 – 5,468 x 100% = 23,28% 7,1274 Kerapuhan tablet tergolong buruk, karena memiliki nilai friabilitas > 1%, sedangkan Standar nilai friabilitas adalah < 1%
4. Uji keseragaman bobot, yaitu dilakukan penimbangan pertablet pada 20 tablet

kemudian dihitung standar deviasinya apakah memenuhi syarat atau tidak. Adapun data dari bobot masing-masing tablet, yaitu:

(mg) 1 356 3 2 370 7 3 337 3 4 339 2 5 338 2 6 341 2 7 355 2 8 341 2 9 345 3 10 337 3 Bobot rata-rata= 346,35
22 | P a g e

No

Bobot tablet

% Deviasi

No 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20

Bobot tablet (mg) 334 346 357 363 359 341 328 355 342 343

% Deviasi 4 0,1 3 5 4 2 5 2 1 0,9

% Deviasi = bobot rata-rata – bobot @ Bobot rata-rata Berdasarkan data diatas maka, bobot tablet CTM yang kami buat memenuhi persyaratan
5. Uji Waktu Hancur

Tablet CTM yang kami buat memiliki waktu hancur : 4 menit 26 detik

BAB V PEMBAHASAN
Pada kesempatan kedua praktikum teknologi sediaan padat, kelompok kami mendapatkan zat aktif berupa CTM (Chlorpeniramin Maleat) yang di indikasikan sebagai antihistamin. Pada rancangan praformulasi awal kami merencanakan untuk menggunakan bahan-bahan eksipien sebagai berikut:
• • •

Pengisi dan pengikat Penghancur luar dan dalam Pelincir

: Avicel : Amilum kering : Talkum dan Mg Stearat

Namun setelah kami melakukan responsi/diskusi bersama dosen pembimbing, dosen pembimbing menyarankan untuk mengganti pengisi salah satu bahan eksipien, yaitu avicel, karena dengan penggunaan avicel sebagai pengisi akan mempeburuk kompesbilitas dari tablet . Maka atas pertimbangan tersebut akhirnya kami mengganti avicel dengan laktosa sebagai pengisi.
23 | P a g e

Berdasarkan literatur zat aktif yang kami gunakan CTM (Chlorpeniramin Maleat) stabil dalam larutan, tahan terhadap pemanasan serta memiliki dosis lazim yang kecil. Metode yang cocok untuk pembuatan tablet CTM menggunakan metode granulasi basah. Akan tetapi pada paktikm ini kami memilih metode granulasi kering karena metode granulasi basah telah kami gunakan untuk pembuatan tablet parastamol. Pada metode ini pertama-tama kami menimbang semua zat fase dalam (CTM, laktosa, amium kering), kemudian semua zat tersebut dicampurkan. Tahap selanjutnya, kami mensluging semua fase dalam. Sluging yang terbentuk kami ayak dengan ayakan no mesh 18. Granul yang terbentuk kami evaluasi. Pertama kami menguji laju alir dan sudut henti granul dan didapat sudut henti granul α = 35,2(mengalir) dan laju alir granul 2,38/detik. Dari nilai sudut henti tersebut dapat diketahui bahwa granul yang kami hasilkan dapat mengalir karena masih berada dalam range sudut mengalir yaitu 25-45. Dan uji granul yang terakhir kami lakukan adalah uji kompresibilitas, dimana granul dimasukan ke dalam gelas ukur kemudian diketuk-ketukan dan setelah pengetukan selesai kami menghitung kompresibilitasnya. Diperoleh kompresibilitasnya sebesar 23,72%, kompresibilitas granul dengan nilai tersebut tergolong buruk karena standar kompresibilitas granul yang baik adalah < 20%. Nilai kompresibilits yang buruk ini dapat disebabkan karena kami tidak menambahkan pengikat pada formulasi kami. Kelalaian ini disebabkan kami tidak memikirkan dwifungsi dari avicel, pada saat mengganti avicel dengan laktosa kami hanya terfokus pada fungsi avicel sebagai pengisi tanpa memikirkan fungsi avicel sebagai pengikat. Setelah melewati evaluasi granul, granul yang diperoleh kami timbang kembali untuk mengetahui berapa banyak tablet yang dapat dibuat. Berat granul yang diperoleh adalah 42 gram. Maka jumlah tablet yang dapat dibuat adalah sebanyak 449 tablet, dikempa dengan menggunakan alat dengan bobot 100 mg sehingga diperoleh tablet yang kompak. Tetapi karena pada laboratorium tablet terdapat mesin pencetak tablet dengan bobot tablet 500 dan 300 mg maka kami menggunakan mesinpencetak tablet dengan bobot 300 mg sehinga jumlah tablet yang dihasilkan berbeda yaiu 149 tablet. Pada kenyataanya kami hanya menghasilkan 110 tablet hal itu dikarenakan banyak zat yang terbuang pada saat proses sluging, pengayakan, evaluasi dan pencetakan. Setelah proses pencetakan tablet, kami melakukan evaluasi tablet yaitu yang pertama uji penampilan meliputi :
• Homogenitas warna 24 | P a g e

: homogen, putih

• Bentuk dan permukaan

: bundar dan kasar

Uji keseragaman ukuran, yaitu dengan melakukan pengukuran terhadap 20 tablet dengan menggunakan penggaris, didapat : • Diameter rata-rata • Tebal rata-rata : 1 cm : 0,5 cm

Diameter tablet yang dibuat memenuhi kriteria uji keseragaman ukuran, yaitu diameter tablet tidak boleh lebih dari 3 kali tebal tablet dan tidak bolek kurang dari 1 1/3 tebal tablet. Uji friabilitas merupakan tes untuk menentukan kemampuan dan daya tahan tablet terhadap gesekan dab goncangan selama prosesing, packing, dan distribusi sampai konsumen. Ketahanan terhadap abrasi adalah suatu ukuran dari kohesi interpartikel dan juga merupakan kekuatan dari bahan pengikat. Uji friabilitas ini dilakukan dengan cara menggunakan alat friabilator. 20 tablet yang sebelumnya sudah ditimbang dimasukan ke dalam alat dan alat di seting selama 4 menit lalu tablet yang masih tersisa ditimbang kembali kemudian dihitung nilai friabilitasnya. Dan yang menjadi parameter pada uji ini adalah kerapuhan terhadap gesekan atau bantingan selama 15-20 menit. f = a – b x 100% a f = 7,1274 – 5,468 x 100% = 23,28%% 7,1274 Kerapuhan tablet tergolong buruk, karena memiliki nilai friabilitas > 1%, sedangkan Standar nilai friabilitas adalah < 1%. Hal ini dikarenakan tablet CTM yang kami buat tidak menggunakan pengikat. Uji keseragaman bobot, yaitu dilakukan penimbangan pertablet pada 20 tablet kemudian dihitung standar deviasinya apakah memenuhi syarat atau tidak. Adapun data dari bobot masing-masing tablet, yaitu: No 1 2 3 4 5 6 7 8
25 | P a g e

Bobot tablet (mg) 356 370 337 339 338 341 355 341

% Deviasi 3 7 3 2 2 2 2 2

No 11 12 13 14 15 16 17 18

Bobot tablet (mg) 334 346 357 363 359 341 328 355 4 0,1 3 5 4 2 5 2

% Deviasi

9 345 3 19 10 337 3 20 Bobot rata-rata= 346,35 % Deviasi = bobot rata-rata – bobot @ Bobot rata-rata

342 343

1 0,9

Berdasarkan data diatas maka, bobot tablet CTM yang kami buat memenuhi persyaratan karena tidak lebih dari 2 tablet mempunyai penyimpangan yang lebih besar dari 7,5% dan tidak ada 1 tabletpun yang mempunyai penyimpangan lebih besar dari 15%. Uji waktu hancur berkaitan erat dengan ketersediaan biologis obat atau bioavaliabilas. Waktu hancur ini dipengaruhi oleh formulasi, sifat fisik bahan obat, bahan pembantu serta tekanan yang diberikan saat pencetakan. Tekanan yang berlebihan atau tablet dengan kekerasan yang besar akan memperpanjang waktu hancurnya. Uji waktu hancur tablet CTM yang kami buat memiliki waktu hancur : 4 menit 26 detik yang tergolong buruk. Hal tersebut dikarenakan tablet CTM yang kami buat tidak menggunakan pengikat. Waktu hancur pada tablet CTM dengan granulasi kering lebih baik dibangdingkan dengan tablet parasetamol dengan granulasi basah. Jika dilihat dari formulasi tablet, tablet pada granulasi kering tidak menggunakan pengikat. Tetapi waktu hancurnya lebih lama dibandingkan dengan tablet granulasi basah yang menggunakan pengikat. Hal ini disebabkan sebagian besar komposisi dari tablet CTM kami adalah laktosa, yang mempunyai kompresibilitas yang baik. Sehingga tablet CTM yang terbentuk memiliki ikatan yang cukup baik antara molekul yang sejenis maupun bebeda.

.

26 | P a g e

BAB VI KESIMPULAN
1. Berdasarkan literatur zat aktif yang kami gunakan CTM (Chlorpeniramin Maleat)

stabil dalam larutan, tahan terhadap pemanasan serta memiliki dosis lazim yang kecil. Metode yang cocok untuk pembuatan tablet CTM menggunakan metode granulasi basah. Akan tetapi pada paktikm ini kami memilih metode granulasi kering karena metode granulasi basah telah kami gunakan untuk pembuatan tablet parasetamol.
2. Granul CTM yang kami buat memiliki kompresibilitas yang buruk (23,72%), sifat

alir dengan α = 35,2 dan kecepatan alir 2,38 gram granul/detik.
3. Tablet CTM yang kani buat memiliki warna putih, homogen, dan permukaan yang

agak kasar. Keseregaman ukuran yang memenuhi kriteria. Friabilitas yang buruk (23,28%). Kesereagaman bobot memenuhi kriteria. Waktu hancur yang buruk ( 4 menit 26 detik). 4. Tablet CTM yang kami buat memiliki friabilitas dan waktu hancur yang buruk karena kami tidak menambahkan pengikat pada formulasi.
5. Waktu hancur granulasi kering kami lebih lama dibandingkan dengan tablet

granulasi basah yang menggunakan pengikat. Hal ini disebabkan sebagian besar komposisi dari tablet granulasi kering kami adalah laktosa, yang mempunyai kompresibilitas yang baik. Sehingga tablet yang terbentuk memiliki ikatan yang cukup baik antara molekul yang sejenis maupun bebeda.
27 | P a g e

DAFTAR PUSTAKA
Depkes RI. Farmakope Indonesia Ed III.1979.Jakarta. Wade, Ainley and Paul J Weller.Handbook of Pharmaceutical II.1994.London; The Pharmaceutical Press Department of Pharmaceutical Sciences. Martindale The Extra Pharmacopoeia, twentyeight edition. 1982. London : The Pharmaceutical Press. Ansel, Howard C. Pengantar Bentuk Sediaan Farmasi, edisi keempat. 1989. Jakarta : UIPress. Anief, Moh. Ilmu Meracik Obat. 2004. Yogyakarta : Gadjah Mada University Press. excipients.Ed

28 | P a g e

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful