P. 1
Rahman_Ketimpangan Soal an CSR

Rahman_Ketimpangan Soal an CSR

|Views: 28|Likes:
Published by Taufik Rahman

More info:

Published by: Taufik Rahman on Jun 16, 2010
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

09/13/2010

pdf

text

original

Ketimpangan Soal Penempatan CSR

Perusahaan Vis a Vis Pemerintah

T
Kecenderungan kuatnya, pemerintah membiarkan perusahaan membangun infrastruktur sendirian.

erdapat kecenderungan terjadi ketimpangan pemahaman antara perusahaan dengan pemerintah soal definisi, posisi dan aktivitas CSR. Bagi pemerintah, CSR cenderung hanya didefinisikan secara sempit sebagai dana CSR, tepatnya dana sumbangan. Akibatnya perusahaan dipandang sebagai khazanah cadangan sumberdana untuk berbagai kegiatan atas nama “pembangunan”.

Sementara kalangan perusahaan sudah banyak mengalami kemajuan. CSR tidak hanya sebagai sumbangan atau alat pengamanan dari kemungkinan gangguan sosial. CSR sudah banyak diakui sebagai bagian integral dari etika bisnis. Tidak hanya berkenaan dengan pentingnya reputasi, namun juga sebagai upaya serius tentang bagaimana perusahaan berkontribusi pada pembangunan berkelanjutan (sustainable development [SD]). Bahkan dalam tren penulisan laporan keberlanjutan, penanganan isu sosial dan lingkungan sudah semakin penting, menuju suatu kesetaraan dengan agresivitas laporan perolehan profit. Idealnya kerja sama antara pemerintah dan perusahaan terjalin dalam dimensi dan komitmen penyelenggaraan SD. Tidak dalam kerangka menempatkan perusahaan hanya sebagai gudang duit yang siap digesek, ditekan bahkan didobrak kapan saja. ’Dana CSR’ sebagai salah satu sumberdaya tentunya memang bisa dikeluarkan, dipergunakan untuk kepentingan publik yang lebih luas, namun dengan batasan-batasan tertentu. Status sebagai pemangku kepentingan yang valid adalah penapisan pertama bagi siapa dana tersebut bisa diberikan. Kemudian, tata caranya pun harus benar, yaitu dengan satu kesepakatan tentang komitmen etika engagement yang menjunjung tinggi transparensi, jaminan tidak ada suap maupun bentuk korupsi lain, serta sebagai sebuah langkah yang berkelanjutan dan berjangka panjang. Sayangnya harapan di atas masih jauh panggang daripada api. Berbagai kecenderungan yang dilakukan pemerintah masih saja menempatkan CSR sebagai cadangan sumbangan pihak ketiga. Tidak kurang, tidak lebih. Sementara perusahaan tidak melihat adanya timbal balik dalam hal ini. Memang ada kalanya perusahaan mendapatkan ijin legal yang relatif mudah. Namun tidak diiringi dengan kesediaan pemerintah memberikan prioritas 1

pembangunan dan perbaikan infrastruktur bagi perusahaan yang telah memberikan sumberdayanya. Kecenderungan kuatnya, pemerintah membiarkan perusahaan membangun infrastruktur sendirian. Bahkan banyak keluhan yang menggelikan dan sekaligus memiriskan: ada penghitungan bahwa dalam periode tertentu ternyata biaya “entertainment” untuk pejabat pusat dan daerah angkanya jauh lebih besar dibandingkan dengan dana yang disumbangkan untuk kegiatan pembangunan sosial dan lingkungan itu sendiri. Isu korupsi dan praktik suap sedemikian melekat kuat dalam hal hubungan antara perusahaan dengan pemerintah. Isu lainnya adalah soal kontribusi sosial dan pengrusakan lingkungan. Biasanya, perusahaan dengan kenyataan bahwa ia telah menyerap cukup banyak tenaga kerja lokal sudah merasa cukup. Pun dengan nilai pajak yang disetorkan dari berbagai komponen pembayaran pajak. Apalagi, jika ada perjanjian pembagian share antara perusahaan dengan pemerintah. Hanya saja pemerintah sering kali tidak memandang itu sebagai cukup. Tidak sedikit pemerintah daerah yang mendesak perusahaan agar dana CSR, terutama dana CD, perusahaan disetorkan ke pemerintah untuk kemudian diperlakukan sebagai bagian APBD. Dalam keyakinan dasar perusahaan, bahwa penggelontoran dana CD hanyalah sumbangan sukerela. Bagaimana mungkin sumbangan sukarela menjadi sesuatu yang diwajibkan. Debat ini tampaknya tidak akan pernah berhenti. Corporate Citizenship Secara teoretik, jalan tengahnya ada pada ide corporate citizenship (CC). Perusahaan menempatkan diri sebagai bagian dari warga negara lainnya. CC pada mulanya merujuk pada perolehan hak dan pelaksanaan kewajiban sebagai warga negara (citizen). Perusahaan diharapkan berdiri sebagai warga negara yang baik. Ide dasarnya berangkat dari sejumlah kontribusi dan praktik filantropis perusahaan kepada masyarakat menuju kepada sebuah inisiatif yang lebih luas. CC menekankan pentingnya menjalin hubungan secara terbuka dengan masyarakat luas. Jalinan hubungan dengan aneka ragam kebijakan dan program (sosial dan lingkungan)— baik menggunakan istilah CSR, didudukkan sebagai bagian dari business ethics, penyelenggaraan dari stakeholder engegement, maupun sebagai bukti nyata dari komitmen perusahaan kepada pembangunan berkelanjutan, diselenggarakan atas nama hak dan kewajiban sebagai warga negara. Dalam kerangka CC, perusahaan berkewajiban untuk terlibat secara aktif dalam proses mengidentifikasi, menganalisa, dan merespons secara positif berbagai kewajiban sosial, ekonomi, politik dan tentunya ekonomi. Langkah ini bisa dilakukan melalui keterlibatan perusahaan dalam merumuskan ketentuan hukum dan kebijakan publik; memenuhi ekspektasi stakeholder; dan berbagai tindakan voluntary yang diselenggarakan atas nama dan dikembangkan dari nilai-nilai agung perusahaan dan strategi bisnis. Hasil aktual dan keterlibatan dalam proses dari berbagai kegiatan sebagai warga negara itu merupakan

2

bukti nyata dari CC. Karenanya dalam perkembangan debat akademik, istilah CC sering kali digunakan sebagai istilah yang menggantikan CSR. Tanggung jawab perusahaan dalam dimensi CC merupakan bagian dari kesadaran global citizenship. Selain sebagai agen moral dan menunjukkan perhatian menyeluruh dalam menjalin hubungan secara berkelanjutan dengan berbagai kelompok stakeholder (termasuk lingkungan), perspektif CC mengharuskan perusahaan juga memberikan kontribusi pada upaya penguatan elemen-elemen sosial bagi penguatan praktik kehidupan berdemokrasi (Mark S. Schwartz dan Archie B. Carroll [2008], “Integrating and Unifying Competing and Complementary Framework: The Search for Common Core in the Business and Society Field,” Business and Society Vol. 47, No. 2, June, 2008). Tampak bahwa CC dibangun atas dasar komitmen nilai-nilai universal serta kesadaran mengenai hak dan kewajiban secara seimbang. Di sini perkawinan antara perusahaan dengan pemerintah, jelas didasarkan pada berbagai standar dan nilai universal, khususnya berkenaan dengan nilai-nilai persamaan hak dan derajat, keadilan distribusi, dan komitmen pada pelestarian lingkungan. Reputasi yang diharapkan pun tidak hanya berskala nasional, namun diharapkan terjadi secara global. Kesadaran tentang reputasi ini jelas jauh lebih tampak dalam diri perusahaan dibandingkan dengan pemerintah. Sementara, (aparat) pemerintah tampak tak peduli dengan reputasi globalnya sebagai maling, rampok atau koruptor uang rakyat. Di sini semakin jelas bahwa kebuntuan (baca: sukarnya membuang suap dan korupsi dan sulitnya untuk tranparen) dalam hubungan antara pemerintah dengan perusahaan. Mungkin hanya bisa diselesaikan dengan takaran moralitas. CSR yang mengusung nilai etis mengenai pertanggungjawaban, sebenarnya dalam dimensi legal masihlah sebagai sebuah inisiasi. Jika ditakar dalam dimensi religius, ia merupakan “ibadah” sunat. Tentunya tak adalah artinya memperbanyak ibadah sunat jika melalaikan kewajiban. Sebaliknya yang Upaya “sunat” ini terdapat kecenderungan kuat untuk diwajibkan oleh pemerintah. Untuk perusahaan sementara baru ada satu variabel mengapa pemerintah sedemikian bernafsu mewajibkan menjadi warga negara yang baik itu: Peluang kalkulasi angka ‘infak’ dari dana CD (yang hukumnya sunat) ternyata bisa jauh butuh lebih besar dibandingkan dengan ‘zakat’ alias pajak (yang wajib).
penyelenggara negara yang baik.

Dalam konteks global, tekanan untuk ber-CSR jelas jauh lebih kuat dan lebih massif dibandingkan dengan kekuatan penegakkan kewajiban legal dari pemerintah, apalagi pemerintah daerah. Namun, di situlah masalahnya. Perusahaan—terutama yang memiliki keterkaitan dengan jejaring bisnis global—merasakan tekanan global untuk ber-CSR dengan benar. Sementara, tekanan tersebut malahan dimanfaatkan oleh pemerintah sebagai peluang untuk menambahi beban perusahaan di luar kewajiban pajak. Dalam hal ini Mark S. Schwartz dan Archie B. Carroll (2008) menulis:
“Semua organisasi dan individu yang menjalankan dan terlibat dalam konteks bisnis memiliki sebuah tanggung jawab sebagai warga negara yang baik dengan tujuan (a) memberikan kontribusi pada keberlanjutan nilai-nilai sosial; (b) memerhatikan dengan penuh seimbang semua kepentingan stakeholder termasuk memerhatikan kepentingan shareholder, pemilik dan atau mempertimbangkan standar-standar moral; dan (c) mendemonstrasikan pertanggunggugatan (accountability) yang memadai.”—cetak miring tebal dari penulis.

3

Pertanyaannya kemudian: Bagaimana mungkin CC bisa dikembangkan hingga makna yang sesungguhnya kalau pemangku kepentingan utamanya (pemerintah) ternyata malahan memiliki kepentingan yang bertentangan dengannya? Upaya perusahaan menjadi warga negara yang baik butuh penyelenggara negara yang baik. Sebelum prasyarat itu terwujud, maka CC atau CSR akan terus berada dalam suatu kondisi kontestasi kepentingan yang tidak sehat. Perkembangannya akan terus tersandera.

Bogor, 10 Juni 2010

Taufik Rahman, Lingkar Studi CSR
Lingkar Studi CSR Jln. Danau Sentani Blok C VII No.9 Kompleks Duta Pakuan Bogor 16144 Indonesia Telp. (0251) 336349, Fax. (0251) 336349 www.csrindonesia.com, e-mail:office@csrindonesia.co
Tulisan ini dibuat dengan tujuan utama menyebarluaskan pengetahuan mengenai CSR kepada seluruh pemangku kepentingan. Silakan mengutip dan menyebarluaskan tulisan ini apabila Anda mempunyai tujuan yang sama. Kami berharap agar sumber tulisan bisa diberitahukan sejelas mungkin kepada pihak lain yang menerima kutipan sebagian atau seluruh isi tulisan. Terima kasih.

4

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->