Disfungsi Seksual Pasca Cedera Medula Spinalis

Dr. Ronald E. Pakasi, SpRM
SMF Rehabilitasi Medik Sub divisi: Rehabilitasi Cedera Medula Spinalis (Spinal Cord Injury Rehabilitation) RSUP Fatmawati, Jakarta

Fungsi Seksual Pada Pria Pasca Cedera Medula Spinalis (CMS)
 Perubahan pada fungsi seksual  Kemampuan secara biologis untuk

memiliki anak
 Problem emosional yang berdampak pada

performa seksual

Fungsi Seksual Normal pada Pria
Siklus seks:
 Hasrat (desire)  Rangsangan (excitement)  Orgasme  Resolusi

Hasrat
 Fantasi seksual / imajinasi

seksual
 Ingin melakukan hubungan

seksual
 Lebih responsif terhadap

rangsangan visual
 Belum ada perubahan

fisiologis pada fase ini

Rangsangan
 Foreplay  Dimulai dengan rangsangan

psikologis dan fisik “kesenangan” (testis)

 Perasaan subyektif tentang  Ereksi dan membesarnya buah zakar  Perubahan fisiologis: tekanan darah,

nadi, pernapasan, ketegangan otot

Ereksi
 Aktivitas saraf parasimpatis

(saraf otonom untuk fungsi pemeliharaan)
 2 jenis ereksi:

Ereksi secara psikologis (ereksi psikogenik) Ereksi secara refleks (ereksi refleksif)

Kontrol Ereksi - Psikologis
 Dikendalikan sepenuhnya di otak  Proses dimulai dari:
 

pikiran / imajinasi seksual melihat / mendengar sesuatu yang merangsang

Sinyal dari otak dihantarkan ke saraf tulang belakang (hingga level T10 – L2) kemudian ke penis → memicu ereksi

 Sinyal

Kontrol Ereksi - Refleks
 Terjadi karena kontak langsung dengan penis,

atau organ seksual lainnya
 Refleks ereksi bersifat involunter (tidak

disadari)
 Dapat timbul bahkan tanpa rangsangan atau

imajinasi seksual
 Kontrol refleks terdapat pada saraf-saraf sacral

(S2 – S4) dalam saraf tulang punggung

Fase Plateau (Plato) saat Rangsangan
 Penting dalam

mempertahankan ereksi
 Hilangnya atau

memendeknya fase ini berakibat ejakulasi dini

Orgasme
 Puncak kenikmatan  Ejakulasi sperma → aktivitas saraf simpatis

(saraf otonom untuk fungsi kelangsungan hidup / survival)

Resolusi
 Alat genital kembali ke ukuran

semula
 Relaksasi otot-otot, perasaan utuh

& puas
 Masa refrakter → laki-laki menjadi

tidak responsif / reseptif terhadap rangsangan seksual
Durasi masa refrakter meningkat dengan pertambahan umur.

Fungsi Seksual Pasca Cedera Saraf Tulang Belakang
 Kemampuan ereksi psikogenik

bergantung pada luasnya cedera (komplit atau inkomplit) berpotensi untuk mendapatkan ereksi psikogenik dibanding cedera inkomplit letak tinggi ereksi psikogenik

 Cedera inkomplit letak rendah lebih

 Cedera komplit lebih sulit untuk mendapat

Fungsi Seksual Pasca Cedera Saraf Tulang Belakang
 Tanpa memandang derajat berat dan

tingginya cedera, sebagian besar pria mampu mendapatkan ereksi refleksif, asalkan pusat refleksnya di sacral (S2 – S4) tetap utuh.
 Pada dasarnya dampak cedera terhadap

fungsi seksual berbeda-beda

Disfungsi Ereksi
 Cukup banyak pasca cedera

(sekalipun kemampuan ereksi tetap ada)
 Kurang mampu mempertahankan

ereksi yang cukup untuk aktivitas seksual
 Dapat terjadi pada masa awal

pasca cedera, atau pada waktuwaktu kemudian

Obat-obatan untuk Disfungsi Ereksi

    

Obat-obat oral: sildenafil (Viagra®), tadalafil (Cialis®), vardenafil (Levitra®) Toleransi cukup baik pada penyandang CMS Obat-obatan hanya meningkatkan aliran darah untuk memperbaiki kualitas ereksi Obat-obatan tidak menyebabkan ereksi! Tetap diperlukan rangsangan seksual untuk mencapai ereksi

Hati-hati Menggunakan Obat untuk Disfungsi Ereksi
 Obat-obatan disfungsi ereksi dapat

berbahaya bila pasien memiliki kondisi medis tertentu
 Memerlukan pemeriksaan dokter sebelum

diresepkan
 Efek dapat dipengaruhi oleh level cedera

saraf tulang belakang

Risiko Terapi Disfungsi Ereksi pada Pasien Pasca CMS
 Priaprismus

(kondisi medik yang ditandai dengan masa ereksi yang memanjang)

Dapat merusak jaringan penis & nyeri Efek jangka panjang: hilangnya kemampuan ereksi Harus segera mendapat pertolongan bila ereksi terjadi lebih dari 4 jam

Risiko Terapi Disfungsi Ereksi pada Pasien Pasca CMS
 Autonomic Dysreflexia
  

Kondisi yang mengancam nyawa Dapat terjadi pada level cedera T6 atau lebih Tanda-tanda: tekanan darah meningkat tinggi, jantung melambat Gejala: kemerahan di wajah (flushing), nyeri kepala, hidung tersumbat, penglihatan berubah Gejala-gejala mirip atau mungkin saja merupakan efek samping obat

Kesuburan dan Kemampuan Memiliki Anak
 Banyak pria yang memiliki kesulitan untuk

mendapatkan anak melalui hubungan seksual (ada sebagian kecil yang bisa) ejakulasi

 Masalah utama adalah ketidak-mampuan  Sekitar 90% pria sulit mencapai ejakulasi

(anejaculation)

 Masalah lain: ejakulasi retrograde (sperma &

air mani tidak keluar, namun masuk ke kandung kencing)

Kesuburan dan Kemampuan Memiliki Anak
 Kualitas air mani umumnya kurang  Jumlah sperma umumnya normal, namun

motilitas (pergerakan) sperma dalam cairan mani umumnya rendah (20% kemampuan)

Penyebab tidak diketahui, mungkin berhubungan dengan level cedera, usia, lamanya periode pasca cedera, dan frekuensi mengalami ejakulasi

Terapi Fertilitas Pada Pria
Inseminasi Buatan:
 Untuk pasca cedera akut: cairan sperma

segera diambil dalam periode 6-12 hari pasca cedera, selagi kualitas sperma masih baik (bank sperma) untuk mencapai ejakulasi:
 

 Untuk kasus lanjut: penggunaan alat

Penile Vibratory Stimulation (PVS / vibrator) Rectal Probe Electroejaculation (RPE)

Vibrator / Massager

Umumnya digunakan untuk mencapai ereksi, namun pada pasca CMS digunakan untuk mencapai ejakulasi Sekitar 55% pria pasca CMS berespon baik dengan penggunaan vibrator amplitudo tinggi Sekitar 80% lesi di atas T10 memiliki respon baik dengan alat vibrator Sebagai terapi lini pertama karena relatif murah

 

Adaptasi Seksual Pasca CMS
 Perubahan fisik dan emosional sangat

tinggi

 Masalah seks menjadi penting setelah

masalah-masalah dasar seperti aktivitas kehidupan sehari dan manajemen buang air teratasi rutinitas seksual pasca cedera (model adaptasi baru)

 Perlu penetapan ulang pandangan dan

Masalah dan Adaptasi Emosional
  

Tidak yakin dapat mencapai dan memberikan kepuasan seksual Hilangnya rasa puas diri, percaya diri, dan harga diri. Dengan berlalunya waktu, banyak pria akan merasakan apresiasi yang lebih besar terhadap kehidupan seksual Penghargaan yang lebih besar terhadap kontak seksual lain seperti: berciuman, berpegangan tangan, berpelukan, dll. Perasaan cinta yang lebih besar pada pasangan, setelah masalah ini teratasi

Hubungan dengan Lawan Jenis
 Pria yang masih single dapat menghadapi

kebingungan tentang kemungkinan bertemu dengan pasangan potensial sebelum dan sesudah cedera

 Kenyataannya: tidak ada perbedaan antara  Pria memerlukan waktu untuk merasa

nyaman dengan tubuhnya sendiri sebelum memutuskan untuk memulai hubungan beradaptasi dengan pria tsb

 Pasangan pun memerlukan waktu untuk

Hubungan dengan Lawan Jenis
 Pasangan perlu memahami CMS dan isu-isu

seputar kesehatan yang terkait (perawatan kulit, manajemen buang air, dst).
 Komunikasi yang terbuka dan jujur bersifat

sangat esensial
 Masalah kesehatan terkait (sda.) perlu

ditanggulangi bersama
 Pasangan perlu mendiskusikan bagaimana

perasaannya menghadapi masalah tersebut

Fungsi Seksual pada Wanita
 Partisipasi hubungan seksual

umumnya lebih rendah dibanding sebelum CMS
 Perubahan fisiologis pasaca CMS

mempengaruhi siklus respon seksualnya, dan dipengaruhi oleh level neurologisnya

Perubahan Secara Ginekologis

 

Perubahan hormonal yang tidak stabil hingga 3 -6 bulan pasca cedera Dapat mempengaruhi:

Siklus haid: tidak haid, perdarahan memanjang, siklus memendek, dst. Fertilitas (kesuburan): kemampuan untuk memiliki anak

Umumnya setelah 6 bulan, kondisi hormonal kembali stabil / normal

Respon Seksual secara Faali
 Fase rangsangan:

Terdiri dari lubrikasi (basah) dan pembesaran klitoris Dipersarafi oleh parasimpatis (S2 – S4) Kontraksi ritmik organ dalam rahim dipersarafi oleh simpatis (T10 – L1) Fase final (mirip dengan ejakulasi pada pria) dipersarafi oleh parasimpatis dan saraf tubuh (somatik)

 Fase orgasme:

Studi Respon Seksual Pasca CMS
 Wanita dengan cedera inkomplit atau

komplit dapat mencapai lubrikasi secara refleks
 Lebih sulit mencapai orgasme dibanding

non-CMS
 Bagaimanapun pencapaian orgasme tidak

terkait level cedera maupun derajat beratnya (komplit / inkomplit)

Fenomena Seksual Pasca CMS
 Wanita dapat mengalami paraorgasme:

suatu perasaan puas yang sangat (intens) di atas level cedera
 Daerah sensitif seperti leher atau

payudara dapat menjadi zona erogen untuk pemuasan seksual

Potensi Masalah Wanita dalam Hubungan Seks
 Tidak dapat menahan

kencing (inkontinensia)
 Refleks buang air besar

yang tidak diinginkan (unwanted bowel reflexes)
 Potensi autonomic

dysreflexia (cedera setinggi T6 ke atas)

Perhatian Khusus
 Berbagai potensi masalah perlu didiskusikan,

terutama kepada pasien sendiri
 Bila tidak terjadi lubrikasi, dapat menggunakan

jelly khusus
 Obat-obat pencegah (profilaksis) antispastisitas

atau obat-obat autonomic dysreflexia mungkin perlu diminum sebelum hubungan seks
 Sebaiknya mengosongkan kandung kemih dan

saluran cerna sebelum berhubungan seks

Kontrol Kehamilan
 Tidak semua alat atau metode kontrol

kehamilan aman  Pilihan terbanyak: kondom (oleh pasangan), sterilisasi permanen  Perlu hati-hati (paling sedikit dipilih): kontrasepsi oral  Hati-hati dengan kombinasi kontrasepsi yang mengandung kadar estrogen tinggi!

Risiko: trombosis vena dalam, infark jantung

Amankan Untuk Hamil ?
 Pada dasarnya kemampuan untuk hamil tidak

terganggu
 Stratifikasi risiko untuk menentukan keamanan

kehamilan (konsultasi dulu dengan dokter)
 Masalah medis seperti: buang air kecil, buang air

besar, masalah kulit, kebugaran jantung dan pernapasan (masalah utama yang sering muncul)
 Masalah terkait tingginya level cedera:

autonomic dysreflexia (lesi >T6

Simpulan

 Kehidupan seksual yang berkualitas mungkin

dicapai dengan baik pada penyandang pasca CMS – baik pria maupun wanita  Diperlukan komunikasi yang jujur dan terbuka, khususnya mengenai potensi masalah medis yang timbul, serta perasaan pasangan menghadapi masalah tersebut