MENGENAL DAN MENGAPLIKASIKAN PERSPEKTIF INTERAKSIONISME SIMBOLIK Oleh: Achmad Zainal Arifin, MA* Applying sociological perspectives into an academic

research is not as easy as we might think. Some researches, especially in religious field, that were claimed using sociological perspective, in fact, did not have any sense of sociological analysis at all, or at least, they usually limited their sociological analysis only on the function of religion in society by utilizing the perspective of functionalism. This article tries to intoduce an alternative perspective within sociology, namely symbolic interactionism and the way how this perspective can be applied broadly to explore religious phenomena. By utilizing this perspective, many religious phenomena, especially their symbolic aspects and the picture of everyday life situation would be better explained because the basic premises of this perspective in viewing the nature of society are more humane and dynamic. Besides, this perspective offers an interesting methodology to understand religious phenomena through the adoption and diffusion of fields methods, ethnography and qualitative sociology. Key words: symbol, meaning, interaction, and society Salah satu kesulitan yang seringkali dirasakan mahasiswa dalam menyelesaikan tugas akhir (skripsi) adalah minimnya kemampuan untuk mengaplikasikan teori-teori sosiologi yang akan digunakan sebagai pisau analisis dalam mendeskripsikan ataupun mengeksplorasi tema-tema penelitian yang telah dipilih. Kondisi ini tentu saja tidak muncul dengan sendirinya, melainkan terjadi akibat adanya kesalahan yang cukup mendasar pada proses pentransferan ilmu pengetahuan yang cenderung text-book dan kurang inovatif dalam pengambilan contoh-contoh kasus dalam menjelaskan kerangka teori sosial yang ada. Salah satu diantara sekian banyak teori-teori sosial yang kurang digarap secara maksimal dalam memahami fenomena keagamaan adalah pendekatan interaksionisme simbolik. Menurut hemat penulis, setidaknya ada dua asumsi dasar yang kurang tepat di kalangan akademisi berkenaan dengan keengganan menggunakan perspektif ini dalam mengkaji fenomena-fenomena keagamaan yang ada. Pertama, anggapan bahwa perspektif interaksionisme simbolik cenderung bersifat positivistik. Anggapan seperti ini muncul bisa jadi disebabkan oleh keengganan kita untuk mengkaji lebih dalam perspektif 1

ini dan juga faktor kelahiran perspektif ini sendiri yang dibidani oleh ilmuwan-ilmuwan sosial Amerika. Sebagaimana yang lazim dipahami, perkembangan ilmu-ilmu sosial di Amerika memang memunculkan kecenderungan yang bersifat positivistik dan pragmatis.1 Hal ini sangatlah berbeda bila kemudian kita kontraskan dengan perkembangan teoriteori sosiologi yang ada di daratan Eropa. Kedua, hasil yang bisa dicapai dari penggunaan perspektif interaksionisme simbolik tidaklah bersifat seradikal dan serevolusioner bila dibandingkan dengan penggunaan perspektif konflik,2 misalnya, dalam memahami fenomena keagamaan yang ada, sehingga ada kesan “nilai jual” dari pendekatan interaksionisme simbolik pun dipandang kurang “marketable” dan akhirnya cenderung untuk ditinggalkan. Hal ini sebenarnya tidak bisa dilepaskan dari perseteruan klasik dalam kancah sosiologi berkenaan dengan dikotomi sosiologi “makro-mikro” dan juga permasalahan mengenai “agensi-struktur” yang masih mendapat tempat yang cukup kuat dikalangan sosiolog sendiri. 3 Terlepas dari dua asumsi diatas, sebenarnya perspektif interaksionisme simbolik memiliki beberapa keunggulan, dengan mendasarkan pada karakteristik-karakteristik utamanya, apabila kita gunakan sebagai pisau analisis untuk mengungkap berbagai
Kecenderungan untuk mengembangkan sosiologi yang bersifat praktis atau applied sociology memang terlihat dengan jelas dalam perkembangan ilmu sosiologi di Amerika. Ketidakpuasan kebanyakan sosiolog Amerika terhadap semboyan “ilmu untuk ilmu” yang dianut kuat oleh kalangan sosiolog Eropa, terlebih pasca Perang Dunia II yang banyak meruntuhkan sendi-sendi kehidupan sosial, menyebabkan kebutuhan untuk menciptakan kehidupan sosial yang lebih baik menjadi suatu keniscayaan. Disinilah kemudian para sosiolog Amerika bersikap lebih terbuka untuk mengaplikasikan ilmu sosiologi untuk menciptakan perubahan sosial di masyarakat, melalui pemanfaatan ilmu untuk memecahkan problem sosial, lihat: Paul Lazarsfeld dan Jeffrey Reitz, “History of Applied Sociology.” Sociological Practice, 7, 1989: 43-52. 2 Contoh nyata begitu radikal dan revolusionernya hasil dari penggunaan perspektif konflik, khususnya pendekatan Marxisme dalam memahami fenomena sosial dan agama bisa dilihat dari kemunculan tokoh-tokoh perjuangan di Amerika Latin yang mampu memobilisasi massa dan menentang kesewenangan rezim militer di sana melalui konsep teologi pembebasan (liberal theology). Lihat: Gutierrez, Teologi Pembebasan (Yogyakarta: Jendela, 2001); Francis Wahono Nitiprawiro, Teologi Pembebasan: Sejarah, Metode, Praksis dan Isinya (Yogyakarta : LKiS, 2000). 3 Masalah hubungan makro-mikro, terutama berkenaan dengan level analisis sosiolgi, yang dituntut untuk bisa berhadapan dengan sistem sosial maupun kehidupan individual sehari-hari, menjadi problem yang cukup pelik dikalangan sosiolog Amerika sejak era 80-an dan berlanjut hingga dekade 90-an. Berbagai upaya untuk menggabungkan kedua model teoretisi ini sudah mulai banyak dilakukan, sebagaimana yang ditunjukkan oleh George Ritzer, Robert Ellias, maupun Rendall Collins. Sementara itu, persoalan agensi-struktur muncul dikalangan sosiolog Eropa yang berkenaan dengan aktor utama dalam analisis sosiologis yang harus menjadi pusat perhatian, apakah agen (individu atau sekumpulan individu) ataukah struktur (sistem sosial) yang lebih menentukan dalam kehidupan sosial. Upaya untuk mengintegrasikan masalah ini juga sudah cukup banyak dilakukan, diantaranya oleh Giddens melalui Teori Stukturasinya dan Bourdieu melalui konsepnya tentang habitus and field, lihat: George Ritzer, Sociological Theory (New York: McGraw-Hill Companies, 2000), hlm.219-20.
1

2

fenomena keagamaan terutama yang bersifat mikro, yang kurang bisa diungkapkan dengan menggunakan perspektif-perspektif sosiologis lain yang cenderung bergerak pada dataran makro, sebagaimana perspektif fungsionalisme maupun konflik. Terlebih lagi, perkembangan perspektif interaksionisme simbolik, yang telah cukup lama mengalami kemunduran, mulai memunculkan beberapa upaya penggabungan antara persoalan makro dan mikro, telah memberikan kesempatan yang lebih luas kepada perspektif ini untuk memberikan kontribusi yang signifikan bagi perkembangan teori-teori sosiologi secara umum serta memberikan jawaban yang lebih komprehensif terhadap permasalahanpermasalahan yang ada di masyarakat.. Makalah ini akan mencoba untuk mengungkapkan bagaimana sebenarnya perspektif interaksionisme simbolik bisa diaplikasikan untuk mengungkapkan lebih jauh fenomena-fenomena keagamaan yang ada di masyarakat dengan mengkaji kembali sejarah perkembangan, ide-ide dasar, serta merekonstruksi bagaimana perspektif ini bisa diaplikasikan dalam memahami fenomena keagamaan yang ada. A. Selintas Perspektif-perspektif dalam Sosiologi Sebelum membahas perspektif interaksionisme simbolik secara lebih mendetail, perlu kiranya sedikit menyegarkan ingatan kita akan berbagai perspektif yang ada dalam disiplin ilmu sosiologi, paling tidak perspektif-perspektif yang paling sering digunakan para sosiolog dalam melihat dan mendefinisikan realitas sosial yang ada. Agar lebih jernih dalam memahami karakteristik dari berbagai perspektif yang ada dalam disiplin sosiologi, setidaknya kita perlu untuk mendefinisikan kembali pertanyaan mendasar tentang apa yang seharusnya dilakukan seorang sosiolog dalam membaca fenomena sosial yang membedakannya dari disiplin lain dalam ilmu-ilmu sosial. Sebuah ilustrasi klasik tentang kisah orang buta menggambarkan gajah yang telah diubah dibawah ini mungkin bisa sedikit membantu: “Tersebutlah sebuah kisah tentang lima orang bijak yang kesemuanya buta sedang dibimbing kearah seekor gajah. Mereka diminta untuk menjelaskan apa yang mereka “lihat.” Pertama, seorang psikolog, meraba bagian atas kepala gajah dan mengatakan, “Hanya inilah bagian yang perlu diperhatikan. Segala bentuk perasaan dan pemikiran ada didalamnya. Untuk bisa memahami gajah dengan baik, hanya bagian inilah yang harus dipelajari.”

3

Kedua, seorang antropolog, dengan sabar membelai bagian belalai dan gading gajah. Dia berujar, “Bagian ini sangatlah primitif, saya merasa nyaman disini, konsentrasilah pada bagian ini.” Ketiga, seorang ilmuan politik, ia merasakan telinga gajah yang besar dan berkata, “Inilah pusat kekuasaan, apapun yang masuk disini mengontrol seluruh bagian binatang ini. Pusatkan studi anda pada bagian ini.” Keempat, seorang ekonom, meraba bagian mulut gajah dan berucap, “Inilah bagian terpenting, segala sesuatu yang masuk kedalam bagian ini didistribusikan keseluruh tubuh. Jadi, pelajarilah bagian ini.” Terakhir, tentu saja seorang sosiolog, setelah meraba seluruh bagian tubuh, mengatakan, “kalian tidak akan bisa memahami binatang ini hanya dengan memperhatikan satu bagian saja. Itu hanyalah sebagian dari keseluruhan tubuh gajah. Kepala, belalai dan gading, telinga, dan mulut merupakan bagian yang penting, termasuk juga bagian tubuh yang belum kalian sebutkan. Kita harus menghilangkan kebutaan kita sehingga kita bisa melihat gambaran yang lebih komprehensif. Kita harus melihat bagaimana semua bagian bekerjasama membentuk sebuah binatang yang bernama gajah.” Setelah berhenti sejenak, sang sosiolog melanjutkan, “Kita juga perlu untuk memahami bagaimana gajah ini berinteraksi dengan sesamanya. Bagaimana kehidupan mereka dalam kelompok mempengaruhi perilaku mereka”? Saya berharap bahwa saya dapat menyimpulkan kisah diatas dengan menyatakan bahwa sang psikolog, antropolog, ilmuwan politik, dan ekonom, setelah mendengarkan apa yang dikatakan sang sosiolog, akan segera menyingkirkan kebutaan mereka dan bekerjasama untuk mengamati gajah secara lebih komprehensif. Namun karena sikap keras kepala, masing-masing tetap bersikeras dengan bagian masing-masing. Bahkan sayup-sayup kita masih bisa mendengar gumaman mereka, “Bagian kepala adalah milik saya, menjauhlah darinya.” “Jangan sentuh gadingnya.” “Jauhkan tanganmu dari telinganya.” “Menjauhlah dari mulutnya, karena itu adalah wilayahku.”4 Secara sepintas, kisah diatas menunjukkan begitu luasnya obyek kajian yang harus diamati oleh seorang sosiolog sehingga bisa dikatakan sosiologi memiliki cakupan yang paling luas bila dibandingkan dengan cabang-cabang ilmu sosial lainnya.5 Keluasan obyek kajian ini juga bisa kita lihat dalam berbagai literatur
4

James M. Henslin, Sociology: A Down to Earth Approach (Boston: Allyn and Bacon, 1995), Jeanne H. Ballantine dan Leonard Cargan, Sociological Footprints (Belmont: Wadsworth, 2002),

hlm.8.
5

hlm.436

4

pengantar sosiologi, dimana sosiologi sendiri seringkali didefinisikan sebagai sebuah studi ilmiah tentang struktur sosial, interaksi sosial, dan faktor-faktor yang menyebabkan perubahan dalam struktur dan interaksi.6 Karenanya, seorang sosiolog setidaknya harus memiliki perhatian yang kuat terhadap empat unsur yang membentuk sebuah perspektif atau sudut pandang sosiologis. Unsur pertama dalam pandangan sosiologis adalah ilmu. Karena sosiologi adalah sebuah ilmu, para sosiolog mengikuti serangkaian ketentuan prosedur penelitian dalam menginvestigasi fenomena sosial. Struktur sosial merupakan unsur kedua dari pandangan sosiologis. Masyarakat adalah terstruktur, dan struktur sosial ini terdiri dari komponenkomponen dari lingkungan sosial kita yang secara relatif bersifat permanen seperti keluarga, agama, dan negara. Struktur merupakan tatanan dalam kehidupan sosial yang kekal dan menentukan serta dapat diprediksi. Unsur yang ketiga adalah interaksi sosial. Para individu secara umum memiliki keterlibatan dengan kebanyakan individu lainnya yang dengannya mereka berinteraksi secara terus-menerus. Perubahan sosial merupakan unsur terakhir dari pandangan sosiologis. Meskipun kehidupan sosial terstruktur, ia senantiasa masih akan berubah-ubah dan para sosiolog mengakui bahwa baik kontinuitas maupun perubahan merupakan ciri-ciri dari eksistensi sosial manusia. Perbedaan dalam memberikan perhatian terhadap eksistensi keempat unsur inilah yang memunculkan berbagai corak perspektif dalam disiplin sosiologi. Perspektif sosiologis yang lebih menekankan pada unsur struktur, misalnya, jelas akan memiliki pandangan yang berbeda dengan perspektif yang mengedepankan unsur interaksi sosial. Secara kasat mata mungkin kita bisa membayangkan bahwa perspektif yang lebih mendasarkan asumsi atau premis dasarnya pada urgensi struktur akan memiliki kecenderungan untuk berbicara pada level makro. Sebaliknya, ketika unsur interaksi lebih mengemuka, maka perbincangan seputar masalah sosiologi mikro akan lebih mendominasi. Sejalan dengan perbedaan level makro-mikro dalam perspektif sosiologi, perdebatan masalah agensi-struktur juga memberikan warna tersendiri bagi perkembangan perspektif-perspektif dalam sosiologi. Persoalan dominasi individu ataukah sistem sosial yang paling berperan dalam melihat fenomena sosial ini, sedikit
James M. Henslin, op. cit., hlm.4-5; William Kornblum, Sociology: The Central Questions (Orlando, Harcourt Brace, 1998), hlm.7.
6

5

banyak juga bersumber dari perbedaan penekanan dalam melihat keempat unsur sosiologi diatas. Persoalan agensi-struktur ini juga telah menempatkan perspektifperspektif dalam sosiologi dalam karakteristiknya masing-masing. Secara historis, setidaknya ada tiga perspektif utama yang mendominasi perkembangan perspektif sosiologi, yaitu: perspektif fungsionalisme, konflik, dan interaksionisme simbolik.7 Sedangkan berbagai perspektif lain yang muncul sesudahnya bisa dikatakan merupakan pengembangan, penggabungan, maupun derivasi dari ketiga perspektif tersebut yang direpresentasikan oleh figur-figur klasik sosiologi, seperti Durkheim, Marx dan Weber, serta Simmel.8 Penyempurnaanpenyempurnaan yang dilakukan oleh para sosiolog terhadap ide-ide dasar keempat figur diatas, entah itu beruwujud respon terhadap berbagai kritik yang muncul maupun upaya-upaya mensintesiskan perspektif-perspektif yang ada dalam rangka menjelasakan fenomena sosial yang lebih kompleks, dan bisa dikatakan juga tidak lepas dari pergerakan wacana seputar masalah mikro-makro serta agensi-struktur yang hingga saat ini masih bisa dikatakan masih belum menemukan titik akhirnya. Perspektif fungsional atau yang dikenal juga dengan nama fungsionalisme struktural serta analisis fungsional, misalnya, berawal dari ide-ide dasar Comte, Spencer, maupun Durkheim, yang menganalogikan masyarakat sebagai organisme sosial dengan menitikberatkan fokus analisisnya pada hubungan-hubungan antar anggota atau bagian dari masyarakat, termasuk didalamnya menganalisis bagaimana bagian-bagian tersebut memberikan kontribusi, baik positif (fungsional) maupun negatif (disfungsional), bagi kelangsungan masyarakat,9 mendapatkan kritik yang luar biasa terutama berkenaan dengan ketidakmampuan perspektif ini ketika harus berhadapan dengan perubahan sosial sehingga cenderung diklaim sebagai perspektif sosiologi yang pro-status quo. Para penganut perspektif ini pun kemudian melakukan berbagai revisi yang cukup mendasar dalam meng-counter kritik-kritik yang ada.

James M. Henslin, op.cit., hlm.18-27; Jonathan H. Turner, Leonard Beeghley, dan Charles H. Powers, The Emergence of Sociological Theory (Orlando: Wadsworth Publishing Company, 1995). 8 Keempat tokoh inilah yang seringkali dipandang sebagai tokoh sosiologi klasik yang paling berpengaruh dalam khazanah perkembangan teori sosiologi, bahkan menurut Turner, sumbangsih keempat tokoh ini bisa ditemui dalam berbagai teori yang termasuk dalam teori sosiologi modern, lihat: Jonathan H. Turner, The Structure of Sociological Theory, 7th edition (Belmont: Wadsworth/Thompson Learning, 2003). 9 Ibid.,hlm.23-29.

7

6

Setidaknya kita bisa mencatat nama Talcott Parsons10 dan Robert K. Merton11 sebagai tokoh utama sekaligus dewa penyelamat dari perspektif ini sehingga tetap eksis dan bahkan mendominasi perkembangan teori-teori sosiologi, setidaknya hingga dekade 60-an. Satu nama lagi yang layak dikemukakan disini berkaitan dengan perspektif fungsional yaitu Jeffrey Alexander yang pada dekade 80-an mendeklarasikan neofungsionalisme.12 Sejalan dengan Jeffrey Alexander, eksponen fungsionalis yang juga melakukan kritik mendasar tentang skema fungsional yang digagas oleh Parsons adalah Niklas Luhmann, yang lebih dikenal dengan fungsionalisme sistem-nya.13 Begitu juga dalam perkembangan perspektif konflik. Permasalahan makro-mikro dan agensi-struktur juga memberikan pengaruh yang cukup kuat bagi kemunculan berbagai varian teori yang ada dalam perspektif konflik. Bisa dikatakan bahwa konsep-konsep dasar dalam perspektif ini bersumber dari karya-karya Marx dan Weber.14 Meskipun perspektif ini, sebagaimana juga perspektif fungsional,bergerak dalam level makro sosiologi, namun kedua perspektif ini bisa dikatakan memiliki premis-premis dasar yang bertolak belakang. Hal ini bisa kita lihat pada konsep tentang masyarakat sebagaimana yang diungkapkan oleh Dahrendorf sebelum dia mengutarakan konsepnya bahwa masyarakat memiliki dua wajah, yaitu konflik dan
10 Sumbangan Parsons, terutama melalui elaborasinya tentang teori tindakan dan sistem sosial yang dipandanganya mampu “membumikan” perspektif fungsional yang sebelumnya dipandang ahistoris sekaligus memberikan nuansa analisis dalam level mikro (individu), lihat: Ritzer, op.cit., 233-44; Irving M. Zietlin, Memahami Kembali Sosiologi (Yogyakarta: Gadjah Mada University Press, 1995), hlm.22-33. 11 Robert K. Merton memberikan pengaruh yang cukup dominan dalam perspektif fungsional atau fungsionalisme struktural melalui ide-idenya tentang middle-range theories serta konsep fungsi yang ia bagi kedalam fungsi manifes dan laten. Hal ini cukup membantu perspektif fungsional dalam menjelaskan perubahan sosial yang ada, lihat: Robert K. Merton, Social Theory and Social Structure (New York: Free Press, 1968), hlm.73-138. 12 Secara garis besar, aliran neofungsionalisme mencoba untuk tampil sebagai kritik internal terhadap perspektif fungsional yang dipandang terlalu kaku dan sempit karena cenderung mengabaikan aspek kultural dalam analisis-analisinya, lihat: Jeffrey C. Alexander (Ed.), Neofunctionalism (California: Sage Publications, 1985), hlm.14-15; Ritzer, op.cit., hlm.254. 13 Fungsionalisme system lebih menekankan perhatiannya pada tindakan manusia yang telah terorganisir dan terstruktur dalam sistem. Eksistensi sistem sosial lebih dilihat sebagai hasil dari tindakantindakan manusia yang berkaitan satu dengan lainnya, yang oleh Dahrendorf digolongkan kedalam tiga tipe sosial sistem: sistem interaksi, sistem organisasi, dan sistem kemasyarakatan, lihat: Turner, op.cit., hlm.5457. 14 Secara umum, menurut Turner, Weber memiliki ide sejalan dengan Marx, hanya saja Weber tidak sependapat dengan Marx berkenaan dengan visi revolusi yang menurut Marx merupakan suatu keniscayaan, lihat: Turner, op.cit., hlm134. Disamping itu, ide Marx yang menempatkan ekonomi (materialisme) sebagai faktor yang dominan juga mendapat tentangan dari Weber yang lebih berpijak pada masalah makna dan nilai-nilai sosial yang tercermin dari metode verstehen yang dikembangkannya, lihat: Ritzer, op.cit., hlm.111-13.

7

konsensus.15 Lebih lanjut ia menjelaskan bahwa terdapat beberapa perbedaan mendasar antara kedua perspektif ini diantaranya, pertama, kalangan fungsionalis memandang masyarakat sebagai sesuatu yang bersifat statis, atau setidaknya pergerakan yang terjadi selalu menuju pada equilibrium atau menuju ke arah harmonisasi, sementara perspektif konflik melihat bahwa setiap masyarakat selalu berproses ke arah perubahan. Kedua, kalangan fungsionalis selalu menekankan pada tatanan sosial, sementara penganut prespektif konflik justru melihat perselisihan dan konflik sebagai hal terpenting dalam sistem sosial. Ketiga, kalangan fungsionalis meyakini bahwa setiap elemen masyarakat memberikan kontribusinya pada stabilitas, sementara para penganut perspektif konflik melihat bahwa kebanyakan elemen masyarakat berperan aktif dalam disintegrasi dan perubahan. Keempat, fungsionalis melihat masyarakat sebagai sesuatu yang secara informal dipersatukan oleh norma, nilai, dan moral bersama, sementara kalangan perspektif konflik memandang bahwa tatanan sosial merupakan buah dari paksaan yang dilakukan oleh para elit terhadap anggota masyarakat lainnya. Terakhir, kalangan fungsionalis lebih menekankan pada kohesi atau daya pemersatu yang diciptakan melalui nilai-nilai bersama, sementara kalangan perspektif konflik lebih menekankan pada peran kekuasaan dalam menjaga tatanan sosial.16 Dalam perkembangannya, perspektif konflik sendiri telah memunculkan berbagai macam aliran yang ide-ide dasarnya bersumber dari kedua tokoh sentral perspektif ini, yaitu Marx dan Weber, bahkan bisa jadi merupakan penggabungan dari ide-ide keduanya. Bahkan bisa dikatakan, varian teori yang muncul dari perspektif ini jauh lebih kompleks dibandingkan perspektif fungsional. Para pewaris ide-ide Karl Marx yang terhimpun dalam neo-marxisme sendiri, menurut Ritzer, setidaknya telah menghasilkan beberapa teori, seperti (1) Economic Determinism, yang memuncak pada diri Karl Kautsky; (2) Hegelian Marxism, yang dipelopori dua tokoh utamanya Lukacs dan Gramsci; (3) Critical Theory dari mazhab Frankfurt yang mencapai kejayaannya di tangan Habermas; (4) Historical Marxism, yang tercermin dari karya monumental Wallerstein tentang Sistem Dunia Modern; (5) Post-Marxis Theory, yang
Penjelasan lebih detail tentang konsep ini, lihat: Ralf Dahrendorf, Class and Class Conflict in Industrial Society (Stanford, CA: Stanford University Press, 1959). 16 Ralf Dahrendorf, “Out of Utopia: Toward a Reorientation of Sociological Analysis,” American Journal of Sociology 64 (1958), hlm.127-130.
15

8

mengerucut pada ide tentang Marxisme analitik dan teori posmo-marxisme.17 Sementara itu, dari ide-ide Max Weber, juga melahirkan beberapa teori lain yang cukup berpengaruh pada perkembangan perspektif konflik secara umum. Teoretisi Neo-Weberian yang cukup berpengaruh disini adalah Rendall Collins, yang mencoba untuk memberikan keleluasaan ide-ide Weber untuk bergelut pada level mikro dengan menambahkan sentuhan ide Durkheim tentang ritual, dramaturgi-nya Goffman, serta pendekatan ethnometodology.18 Disamping itu, terdapat juga nama Ralf Dahrendorf yang telah kita singgung sebelumnya, serta Lewis Coser, yang mencoba “mendamaikan” perspektif konflik dari Weber dengan perspektif fungsional.19 Disamping perspektif fungsional dan konflik diatas, ada beberapa perspektif lain yang agaknya perlu untuk kita ketahui sebelum kita lebih detail berbicara tentang perspektif interaksionisme simbolik, yaitu teori pertukaran sosial, fenomenologi sosial, dan strukturalisme. Teori pertukaran sosial, dalam konteks perkembangan teori sosiologi, seringkali dinisbahkan pada dua tokoh utamanya, yaitu George C. Homans dan Peter M. Blau. Secara mendasar teori pertukaran sosial ini berangkat dari premis bahwa setiap tindakan manusia didasarkan pada ganjaran yang akan didapatkannya. Premis ini dijadikan dasar untuk melihat tindakan sosial yang ada di masyarakat. Setidaknya, yang membedakan antara teori Homans dan Blau adalah masalah makromikro. Homans lebih bergerak pada level mikro (individual), sementara Blau memperluas gagasannya untuk memahami struktur tindakan sosial yang lebih bersifat makro.20 Sementara itu, perspektif fenomenologi sosial dalam teori-teori sosiologi modern mulai mendapat tempat melalui konsep “dunia intersubyektif” yang digagas

Ritzer, op.cit.,hlm.xi. Sebenarnya, perbedaan mendasar dari beberapa aliran atau teori disini, sebagaimana diungkapkan sebelumnya, disamping masih berada di seputar permasalahan makro-mikro dan agensi-struktur, juga bisa dilihat dari seberapa besar disiplin ilmu lain, seperti filsafat, sejarah, dan ekonomi yang sangat kental dalam pemikiran Marx dipandang lebih penting oleh masing-masing penganut teori tersebut. Selain itu, terdapat berbagai pendapat lain dalam mengkategorisasikan aliran atau teori-teori yang tergabung dalam neo-marxisme, Turner, mislanya, lebih menempatkan critical theory sebagai teori karena lebih merupakan penggabungan ide Marx dan Weber, lihat: Turner, op.cit. hlm.197., 18 Ibid., hlm.151. 19 Lihat: Ruth A. Wallace dan Alison Wolf, Contemporary Sociological Theory (New Jersey: Prentice Hall, 1991). Hlm.149-58. 20 Zietlin, op.cit., hlm.119-20.

17

9

oleh Alfred Schutz,21 yang kemudian dikembangkan lebih jauh oleh Garfinkel melalui studi etnometodologinya.22 Sementara itu, perspektif strukturalisme, mula-mula diperkenalkan oleh seorang ahli linguistik berkebangsaan Swiss, Ferdinand de Saussure, yang ide-idenya kemudian diperluas oleh seorang antropolog Claude Levi-Strauss. Ide dasar yang diusung oleh Strauss adalah penganalogian sistem sosial dengan sistem bahasa, dimana istilah-istilah yang digunakan untuk mendeskripsikan sistem sosial maupun bahasa diyakini tidak memiliki makna kecuali ketika istilah-istilah tersebut dipakai secara integral untuk melihat sistem secara keseluruhan.23 Ide-ide kalangan strukturalis ini kemudian memperoleh kritik yang tajam dari kalangan poststrukturalis yang dipelopori oleh Jacques Derrida, melalui teori dekonstruksinya, yang kemudian dikembangkan lebih jauh oleh Michel Foucault, yang tercermin dari dua konsep utamanya tentang “archeology of knowledge” dan “genealogy of power” dalam melihat realitas sosial.24 Selain itu, dalam khazanah teori-teori sosiologi modern, satu lagi tokoh yang layak dikemukakan berkenaan dengan perspektif strukturalis ini, Pierre Bourdieu, yang menggagas strukturalisme kultural, melalui ide dasarnya tentang tipe-tipe modal (capital) yang menempatkan modal kultural sebagai sesuatu yang paling dominan.25 Ketiga perspektif alternatif beserta berbagai variannya setidaknya telah memberikan warna lain dari perspektif-perspektif yang ditawarkan sosiologi, bahkan beberapa diantaranya, seperti ide-ide teori pertukaran sosial, post-strukturalis maupun strukturalisme kultural sempat mendapat tempat yang cukup luas dikalangan sosiolog, khususnya dalam merespon perubahan sosial yang begitu cepat dimasyarakat. Tentu saja, sebagaimana yang telah diindikasikan sebelumnya, pemanfaatan perspektifKonsep dunia intersubyektif merupakan penggabungan ide-ide fenomenologi transendental dari Husserl dan metode verstehen-nya Weber. Lebih jauh tentang konsep ini silahkan lihat: Alfred Schutz, The Phenomenology of Social World (Evanston, IL: Northwestern University Press, 1967). 22 Garfinkle merupakan pendiri dari perspektif ethnometodologi. Perspektif ini oleh banyak kalangan disebut sebagai pendekatan fenomenologi yang utama dalam kajian sosiologis, lihat: Ruth A. Wallace dan Alison Wolf, op.cit., hlm.293. Menurut Garfinkle sendiri, ethnometodologi memfokuskan perhatiannya pada upaya bagaimana manusia memaknai kehidupan sehari-harinya yang biasanya justru dilaksanakan begitu saja (taken for granted). Ia mengembangkan premis-premis ethnometodologi dari ideide empat orang tokoh, yaitu: Talcott Parsons, Alfred Schutz, Aron Gurwitsch, dan Edmund Husserl, lihat: Harold Garfinkel, Studies in Ethnomethodology (New Jersey: Prentice Hill, 1967), hlm.31-37. 23 Lihat: Ritzer, op.cit., hlm.590. 24 Ibid., hlm.593. 25 Turner, op.cit., hlm.492-495.
21

10

perspektif yang ada dalam sosiologi harus disesuaikan dengan topik atau permasalahan yang sedang kita hadapi, karena bisa dikatakan tidak ada perspektif atau sudut pandang yang mampu untuk memotret realitas sosial secara menyeluruh. Oleh karena itu, tugas utama seorang sosiolog bukanlah menentukan mana perspektif yang “benar” atau “salah”, akan tetapi lebih kepada persoalan manakah perspektif yang paling bermanfaat untuk menjelaskan permasalahan yang ada. B. Perspektif Interaksionisme Simbolik Setelah kita secara selintas memahami berbagai perspektif-perspektif yang ada dalam sosiologi, paling tidak kita sudah bisa melihat bagaimana posisi dari masing-masing perspektif. Perspektif interaksionisme simbolik, yang akan kita bicarakan secara lebih detail disini, setidaknya juga kita yakini memiliki karakteristik tersendiri dalam melihat fenomena sosial yang ada. Beberapa pemikir utama yang seringkali diasosiasikan dengan perspektif ini, yaitu: George Herbert Mead, Charles Horton Cooley, William Isaac Thomas, Robert Park, Herbert Blumer, dan Erving Goffman. Untuk memahami karakteristik tersebut, bahasan tentang perspektif ini setidaknya akan mengupas tentang akar sejarah dan ide-ide dasar dari perspektif interaksionisme simbolik. 1. Akar Sejarah Perspektif Interaksionisme Simbolik Meskipun istilah “interaksionisme simbolik” dicetuskan oleh Herbert Blumer pada tahun 1937, namun ide-ide dasar perspektif ini nampaknya mengerucut pada ide-ide Herbert Mead, yang tidak lain adalah guru dari Herbert Blumer ketika ia belajar di University of Chicago. Karenanya, tidaklah mengherankan apabila sebagian kalangan sosiolog kemudian mencoba untuk melacak akar dari perspektif ini melalui pemikiran-pemikiran yang telah mempengaruhi karya-karya Mead. Menurut Joel M. Charon, setidaknya ada tiga model pemikiran yang sangat mempengaruhi Mead, yaitu: filsafat pragmatisme, darwinisme, dan behaviorisme.26 Dari filsafat pragmatisme, setidaknya ada empat ide dasar yang nantinya juga menjadi pondasi dasar perspektif interaksionisme simbolik, yaitu: (1) segala sesuatu yang bersifat riil bagi kita selalu tergantung pada intervensi aktif kita sendiri, maksudnya, manusialah yang menginterpretasikan segala
26

Joel M. Charon, Symbolic Interactionism (New Jersey: Prentice Hall, 1995), hlm.23-24.

11

sesuatu; (2) pengetahuan bagi manusia selalu dikaitkan dengan situasi dan dinilai berdasarkan kegunaannya; (3) obyek yang kita alami dalam situasi tertentu selalu didefinisikan menurut kegunaannya bagi kita; dan (4) memahami manusia harus disimpulkan dari apa yang ia lakukan.27 Dari keempat ide tersebut setidaknya kita bisa menilai seberapa penting filsafat pragmatisme bagi perspektif interaksionisme simbolik yang memang menempatkan interpretasi sebagai poin penting dalam memahami perilaku manusia. Sementara itu, dari seorang Charles Darwin yang merupakan penganut naturalisme, Mead mewarisi keyakinan bahwa manusia harus dipahami dari sisi naturalistiknya, bukan dari sisi supernatural.28 Selain itu, teori evolusi Darwin juga berpengaruh terhadap pandangan Mead tentang manusia. Manusia, dalam pandangan Mead, merupakan makhluk yang memiliki keunikan yang didasarkan pada kemampuannya berpikir dan berkomunikasi secara simbolik dengan diri sendiri maupun orang lain.29 Oleh karena itu, segala sesuatu berkenaan dengan manusia diyakini sebagai suatu proses, bukan merupakan sesuatu yang stabil dan tetap. Pengaruh Darwinisme terhadap pola pemikiran Mead memang terasa kental, bahkan bisa dikatakan konsep-konsep dasar dari Mead, yang nantinya juga berperan sentral dalam pengembnagan perspektif interaksionisme simbolik, seperti konsep tentang kebenaran, diri, maupun simbol, tidak bisa lepas dari pengaruh Darwinisme yang cenderung naturalis dan evolusioner. Behaviorisme sendiri, terutama ide-ide dari John B. Watson,30 memiliki pengaruh yang cukup kuat dalam pemikiran Mead, terutama ide dasar dari kalangan behavioris yang menyatakan bahwa cara yang paling sah secara ilmiah untuk memahami semua binatang, termasuk manusia, adalah melalui tingkah laku mereka. Namun dalam menginterpretasikan ide dasar ini Mead tidak serta merta menerimanya, sebagaimana kalangan behaviorisme psikologis, akan tetapi ia menambahkan kondisi-kondisi sosial yang harus diperhatikan ketika mengamati
Ide-ide dasar tersebut dapat kita temui dari karya-karya para filosof pragmatisme, terutama dalam diri John Dewey, William James, dan Charles Peirce, lihat: Ibid., hlm.27-28; lihat juga: Jonathan H. Turner, Leonard Beeghley, dan Charles H. Powers, op.cit., hlm.414 dan 422. 28 Joel M. Charon, op.cit., hlm.26-27. 29 Jonathan H. Turner, Leonard Beeghley, dan Charles H. Powers, op.cit., hlm.406. 30 David L. Westby, The Growth of Sociological Theory (New Jersey: Prentice Hall, 1991), hlm.451.
27

12

suatu perilaku manusia. Mead, sebagaimana dikutip Charon, bepandangan bahwa ketika kita mengamati suatu tindakan yang nyata, kita harus selalu memperhatikan apa yang sedang terjadi terkait masalah definisi, interpretasi, dan makna.31 Sebenarnya, disamping pengaruh dari ketiga model pemikiran yang terwujud dalam ide-ide Mead diatas, akar sejarah dari perspektif interaksionisme simbolik ini tidak bisa kita lepaskan dari dua figur utama teori sosiologi klasik, yaitu Max Weber, dan Georg Simmel.32 Max Weber bisa dikatakan memiliki pengaruh yang cukup kuat terhadap perspektif ini melalui metode verstehen-nya yang merupakan awal terbentuknya sosiologi interpretif.33 Selain itu, teori Weber tentang tindakan, yang menekankan interpretasi individu tentang situasi dan pentingnya makna subyektif, sangat berpengaruh terhadap awal mula perkembangan perspektif interaksionisme simbolik. Sementara itu, kontribusi Georg Simmel bagi perspektif ini nampak dari ide dasarnya tentang masyarakat yang ia pandang sebagai suatu sistem interaksi, yang menempatkan individu sebagai bagian terpenting dari sistem sosial, dimana pada level individu inilah proses interaksi terjadi dan kemudian menggema hingga membentuk masyarakat. Istilah yang digunakan Simmel untuk melukiskan proses ini adalah “geometry of social space.”34 Setelah kita memahami akar sejarah perspektif interaksionisme simbolik, tentu saja kita sudah bisa sedikit meraba karakteristik dari perspektif ini dibandingkan dengan perspektif-perspektif lain dalam sosiologi. Dalam pembahasan selanjutnya, kita akan lebih fokus lagi dalam melihat ide-ide dasar yang dikembangkan oleh perspektif ini untuk melihat realitas sosial yang ada di masyarakat. 2. Ide-Ide Dasar Perspektif Interaksionisme Simbolik Kalau kita coba untuk merunut ide-ide awal dari para tokoh utama perspektif ini, seperti Mead, Cooley, Thomas, dan Park, yang kemudian disintesiskan oleh Blumer sebagai pencetus istilah interaksionisme simbolik hingga munculnya

Joel M. Charon, op.cit., hlm.28. Ruth A. Wallace dan Alison Wolf, op.cit., hlm.237. 33 Ibid., hlm.238; Charless A. Pressler dan Fabio B. Dasilva, Sociology and Interpretation: from Weber to Habermas (New York: State University of New York Press, 1996), hlm.x. 34 Ruth A. Wallace dan Alison Wolf, op.cit., hlm.239.
32

31

13

generasi penerus seperti Manford Kuhn melalui mazhab Iowa-nya35 serta Erving Goffman lewat dramaturginya, setidaknya ada beberapa istilah kunci yang perlu untuk kita pahami terlebih dahulu sebelum kita bisa menggambarkan lebih jauh bagaimana perspektif ini bekerja. Beberapa istilah kunci tersebut berkenaan dengan definisi tentang makna simbol, diri (self), interaksi sosial, dan masyarakat. Dari nama perspektif ini saja kita bisa memahami sejauh mana urgensi simbol mempengaruhi seluruh konsep dasar dan cara kerja perspektif ini. Oleh karena itu, definisi tentang simbol perlu untuk kita kaji lebih jauh. Definisi tentang simbol yang dianut oleh perspektif ini tercermin dari ide-ide Mead yang kemudian dielaborasi lebih jauh oleh tokoh-tokoh sesudahnya, termasuk Blumer sendiri. Simbol dalam perspektif ini didefinisikan sebagai objek sosial yang digunakan untuk merepresentasikan apapun yang disepakati untuk direpresentasikan.36 Bisa dikatakan, sebagian besar tindakan manusia merupakan simbol, karena ditujukan untuk merepresentasikan sesuatu melebihi kesan pertama yang kita terima, seperti orang akan tersenyum ketika menyukai lawan bicaranya, atau seseorang menyalakan lampu sinyal mobil untuk menunjukkan bahwa ia akan berbelok. Begitu juga dengan obyek lainnya. Bunga, misalnya, ia bisa menjadi simbol tetapi bisa juga bukan merupakan simbol. Ketika bunga digunakan sebagai obat-obatan atau untuk campuran makanan, maka ia bukanlah simbol. Tetepi apabila bunga digunakan untuk menyatakan rasa cinta pada orang lain maka ia menjadi simbol. Definisi tentang simbol seperti ini membawa kita pada tiga premis dasar dalam perspektif interaksionisme simbolik,sebagaimana yang diungkapkan oleh Blumer, yaitu: (1) manusia bertindak terhadap sesuatu berdasarkan makna yang dimiliki oleh sesuatu tersebut bagi mereka; (2) makna dari sesuatu tersebut muncul dari interaksi sosial seseorang dengan yang lainnya; dan (3) makna tersebut disempurnakan melalui sebuah proses interpretasi pada saat seseorang
Perspektif interaksionisme simbolik yang digagas oleh Manford Kuhn ini disebut mazhab Iowa sesuai dengan tempat dimana Kuhn mengajar, Iowa State University, seringkali dibedakan dengan tokohtokoh lainnya seperti Mead, Blumer, maupun Park yang lebih terkenal sebagai mazhab Chicago. Perbedaan utama dari kedua mazhab ini lebih terletak pada metodologinya, dimana mazhab Iowa lebih bersifat empirik dan ilmiah dengan penggunaan kuesioner, sementara mazhab Chicago lebih menekankan pada metodologi kualitatif melalui observasi partisipatoris, wawancara mendalam, studi biografi, dan metode kualitatif lainnya, lihat: Ritzer, op.cit., hlm.202-203 dan Turner, op.cit., hlm.352. 36 Joel. M. Charon, op.cit., hlm.40.
35

14

berhubungan dengan sesuatu tersebut.37 Dari ketiga premis yang dilontarkan oleh Blumer ini, bisa kita simpulkan bahwa kedudukan makna simbol sangatlah urgen, sebab ia menjadi dasar bagi manusia untuk melakukan suatu tindakan. Disamping itu, hal ini juga mengindikasikan begitu pentingnya ketiga istilah kunci lainnya dalam memahami perspektif interaksionisme simbolik. Istilah kunci kedua yaitu definisi tentang diri (self). Dalam perspektif interaksionisme simbolik, secara sederhana “self”didefinisikan sebagai suatu objek sosial dimana aktor bertindak terhadapnya. Maksudnya, kadangkala aktor atau individu bertindak terhadap lingkungan yang berada di luar dirinya, namun terkadang ia juga melakukan tindakan yang ditujukan untuk dirinya sendiri. Dengan menjadikan “diri” sebagai obyek sosial, seseorang mulai melihat dirinya sendiri sebagai obyek yang terpisah dari obyek sosial lain yang ada di sekelilingnya karena dalam berinteraksi dengan yang lain, ia ditunjuk dan didefinisikan secara berbeda oleh orang lain, semisal: “kamu adalah mahasiswa”, atau “kamu adalah mahasiswa yang pintar.” Hal ini tentu saja mengindikasikan bahwa “diri” akan selalu didefinisikan dan didefinisikan kembali dalam interaksi sosial sesuai dengan situasi yang dihadapi.38 Dengan demikian, persoalan tentang penilaian dan identitas diri juga sangat terkait dengan situasi bagaimana seseorang harus mendefinisikan dan mengkategorikan dirinya. Salah satu contoh kongkret perubahan yang radikal tentang bagaimana seseorang menilai dirinya sendiri terlihat jelas melalui studi Goffman tentang institusi penjara, tempat dimana para tahanan “dipaksa” untuk memanipulasi dunia personalnya melalui serangkaian isolasi, degredasi, maupun penghinaan diri sehingga ia harus mendefinisikan kembali konsep tentang dirinya.39 Istilah ketiga yang perlu kita perhatikan disini adalah konsep tentang interaksi sosial. Dalam perspektif interaksionisme simbolik, interaksi sosial didefinisikan berkenaan dengan tiga hal: tindakan sosial bersama, bersifat simbolik, dan

Herbert Blumer, Symbolic Interactionism: Perspective and Method (New Jersey: Prentice Hall, 1969), hlm.80-91dan Ruth A. Wallace dan Alison Wolf, op.cit., hlm.254-258. 38 Lihat: Peter L. Berger, Invitation to Sociology (New York: Anchor Books, 1963), hlm.106. 39 Erving Goffman, Asylums: Essays on the Social Situation of Mental Patients and other Inmates (New York: Anchor Books, 1961), hlm.14-60.

37

15

melibatkan pengambilan peran.40 Contoh yang sederhana untuk menggambarkan interaksi sosial adalah permainan catur. Ketika seseorang menggerakkan sebuah biji catur, seringkali ia sudah memiliki rencana untuk menggerakkan biji catur berikutnya. Namun, ketika pihak lawan merespon dengan menggerakkan biji tertentu, maka ia akan berupaya untuk menginterpretasikan langkah lawannya, mencoba untuk memahami makna dan maksud dari langkah pihak lawan dan kemudian berupaya untuk bisa menentukan langkah terbaik yang harus diambil, meski langkah tersebut berbeda dengan rencana sebelumnya. Dari contoh sederhana ini nampak jelas bahwa dalam interaksi sosial kita belajar tentang orang lain dan berharap sesuatu dari orang tersebut melalui pengambilan peran atau memahami situasi melalui perspektif orang lain untuk selanjutanya memahami diri, apa yang kita lakukan, dan harapkan. Oleh karena itu, interpretasi menjadi faktor dominan dalam menentukan tindakan manusia. Tidak seperti kebanyakan teoritisi psikologis yang melihat tindakan manusia berdasarkan pendekatan rangsangan dan respon, akan tetapi, setelah manusia menerima respon maka ia akan melakukan proses interpretasi terlebih dahulu sebelum menentukan tindakan apa yang harus diambil.41 Istilah keempat yang cukup mendasar dalam perspektif interaksionisme simbolik adalah konsep tentang masyarakat. Sejalan dengan konsep-konsep dasar sebelumnya, yang lebih menekankan pada pentingnya individu dan interaksi, perspektif ini lebih melihat masyarakat sebagai sebuah proses, dimana individuindividu saling berinteraksi secara terus-menerus. Blumer sendiri menegaskan bahwa masyarakat terbentuk dari aktor-aktor sosial yang saling berinteraksi dan dari tindakan mereka dalam hubungannya dengan yang lain.42 Jadi jelas, bahwa masyarakat merupakan individu-individu yang saling berinteraksi, saling menyesuaikan tindakan satu dengan lainnya selama berinteraksi, serta secara simbolik saling mengkomunikasikan dan menginterpretasikan tindakan masingmasing. Oleh karenanya, bisa dikatakan bahwa masyarakat merupakan produk

40 41

Joel M. Charon, op.cit.,hlm.146-150. Herbert Blumer, op.cit., hlm.8; Ruth A. Wallace dan Alison Wolf, op.cit. hlm.252-254. 42 Herbert Blumer, op.cit., hlm.540.

16

dari individu yang dipandang sebagai aktor yang bersifat aktif dan selalu berproses. Akhirnya, bisa disimpulkan disini bahwa interaksionisme simbolik sebagai suatu perspektif melalui empat ide dasar. Pertama, sismbolik interaksionisme lebih memfokuskan diri pada interaksi sosial, dimana aktivitas-aktivitas sosial secara dinamik terjadi antar individu. Dengan memfokuskan diri pada interaksi sebagai sebuah unit studi, perspektif ini telah menciptakan gambaran yang lebih aktif tentang manusia dan menolak gambaran manusia yang pasif sebagai organisme yang terdeterminasi.43 Kedua, tindakan manusia tidak hanya disebabkan oleh interaksi sosial akan tetapi juga dipengaruhi oleh interaksi yang terjadi dalam diri individu. Ketiga, fokus dari perspektif ini adalah segala bentuk tindakan yang dilakukan pada waktu sekarang, bukan pada masa yang telah lampau. Keempat, manusia dipandang lebih sulit untuk diprediksi dan bersikap lebih aktif, maksudnya, manusia cenderung untuk mengarahkan dirinya sendiri sesuai dengan pilihan yang mereka buat.44 C. Aplikasi Perspektif Interaksionisme Simbolik: Upaya Memahami Fenomena Keagamaan Sebagaimana telah diindikasikan sebelumnya bahwa mengaplikasikan suatu perspektif dalam sosiologi untuk menjelaskan fenomena keagamaan bukanlah sesuatu yang mudah, mengingat setiap perspektif memiliki karakteristik masing-masing. Tidak sedikit suatu penelitian yang diklaim bersifat sosiologis terjebak hanya mengupas masalah peran dan fungsi sosial agama sehingga terkesan abstrak dan dangkal. Padahal kalau kita mau lebih jauh melihat perspektif-perspektif yang ada dalam sosiologi maka akan terpampang berbagai alternatif untuk mengupas suatu fenomena keagamaan secara lebih mendalam. Sebenarnya, hal pertama yang harus dilakukan ketika kita memutuskan untuk menggunakan perspektif sosiologis dalam mengungkap fenomena keagamaan yang ada adalah dengan mengkaji terlebih dahulu fenomena tersebut. Apakah fenomena itu
Hal ini mengisyaratkan bahwa perspektif interaksionisme simbolik menempatkan dirinya pada posisi pendukung utama dominasi agensi dalam problem agensi-struktur yang telah dibahas sebelumnya. Selain itu, penekanan unit analisis pada level interaksi individual mengindikasikan posisi perspektif ini yang mengedepankan sisi sosiologi mikro. 44 Joel M. Charon, op.cit., hlm.23-24.
43

17

mencakup sistem keagamaan secara menyeluruh ataukah hanya mengupas salah satu aspek dari sistem keagamaan saja, misalnya mengupas masalah ritualnya saja, atau masalah penggunaan identitas keagamaan. Keluasan sekup permasalahan yang ingin diungkap tentu saja akan berpengaruh terhadap pemilihan perspektif yang tepat. Selain itu, untuk menghindari kesulitan dalam standar keluasan obyek yang masuk dalam kategori makro atau mikro,45 kita dapat memanfaatkan istilah-istilah kunci dalam masing-masing perspektif yang biasanya menunjukkan bidang kajian yang dominan dari masing-masing perspektif. Perspektif konflik, misalnya, menekankan pada konsep-konsep dasar tentang ketidakadilan, kekuasaan, konflik, kompetisi, dan eksploitasi. Ketika kita ingin mengungkap masalah keterkaitan antara agama dengan konsep-konsep tersebut, misalnya tentang gerakan keagamaan yang terjun langsung ke dunia politik praktis, mungkin akan lebih menarik kita menggunakan perspektif konflik ini sebagai pisau analisisnya. Karena tidak ada satu pun perspektif yang mampu untuk mengungkap seluruh realitas sosial,46 maka ketepatan dalam memilih perspektif tentu saja akan sangat berpengaruh pada hasil akhir dari suatu penelitian. Terlebih lagi, hal ini juga terkait dengan metode penelitian yang akan digunakan sebab biasanya masing-masing perspektif juga merekomendasikan metode penelitian yang berbeda seperti yang disarankan oleh para pengusung dari masing-masing perspektif. Dalam bagian akhir dari tulisan ini, kita akan mencoba melihat bagaimana perspektif interaksionisme simbolik bisa diaplikasikan dalam memahami fenomena keagamaan. Untuk bisa mendapatkan hasil analisis yang maksimal, setidaknya langkah awal yang perlu untuk dipahami terlebih dahulu adalah mencoba menganalisis kira-kira fenomena keagamaan seperti apa yang pas untuk dibidik melalui perspektif ini. Sebagaimana yang telah kita pahami bahwa perspektif interaksionisme simbolik memberikan penekanan pada beberapa konsep, seperti: simbol, makna, interaksi, dan definisi. Dengan kata lain, perspektif ini memfokuskan perhatiannya pada peran makna dalam kehidupan manusia, terutama cara-cara mereka
Dikalangan sosiolog sendiri memang muncul perbedaan mengenai keluasan obyek kajian yang bisa disebut makro atau mikro, disini Rendall Collins menawarkan alternatif dengan memperhatikan tiga hal: waktu, ruang, dan jumlah sekaligus. Lihat: Stephen K. Sanderson, Sosiologi Makro (Jakarta: Rajawali Press, 1995), hlm.22-25. 46 Joel M. Charon, op.cit., hlm.3.
45

18

dalam menggunakan simbol-simbol dalam berinteraksi dengan sesamanya. Oleh karena itu, aspek simbol-simbol keagamaan, ritual, kepercayaan, pengalaman keagamaan serta komunitas keagamaan merupakan unit-unit yang sesuai intuk diungkapkan lebih jauh melalui perspektif interaksionisme simbolik. Sebagai contoh, katakanlah kita ingin melakukan suatu penelitian tentang otoritas kyai dalam kehidupan keseharian di pesantren. Dengan menggunakan perspektif interaksionisme simbolik maka penggalian data yang akan dilakukan bisa merangkum keempat aspek keagamaan sebagaimana telah disebutkan diatas atau bahkan cukup salah satu aspek saja untuk merekonstruksi bagaimana sebenarnya otoritas tersebut berjalan dan pengaruhnya bagi komunitas pesantren lainnya, khususnya mungkin dikalangan santri sebagai salah satu komponen utama dalam sebuah pesantren disamping kyai. Dari aspek simbol keagamaan saja, mungkin kita bisa menjabarkan lebih jauh berbagai macam simbol yang sering dijadikan media untuk menunjukkan otoritas kyai. Tentu saja, pengertian simbol dalam perspektif ini tidak terbatas pada obyek benda saja, akan tetapi juga meliputi segala macam tindakan manusia.47 Dengan mengungkapkan berbagai simbol, misalnya dari obyek benda, sorban mungkin bisa menjadi salah satu wujud simbol yang membedakan antara kyai dengan santri. Selain berfungsi sebagai identitas, sorban mungkin juga bisa memiliki makna yang lebih jauh, misalnya menunjukkan tingginya ilmu yang dimiliki oleh kyai atau merupakan gambaran keshalehan sang pemakai atau bahkan menunjukkan sosok yang perlu untuk dihormati dan disegani. Interpretasi-interpretasi terhadap simbol semacam ini bisa jadi hanya akan muncul dikalangan santri saja, mungkin bagi masyarakat umum, sorban akan memiliki makna yang berbeda. Selain itu, kita juga perlu untuk mengungkapkan simbol-simbol yang berwujud perilaku yang secara langsung bisa kita indikasikan sebagai salah satu komponen yang bisa menggambarkan otoritas kyai, misalnya perilaku santri yang biasanya berebut untuk berjabat tangan dan mencium tangan kyai. Perilaku ini bisa jadi merupakan suatu bentuk penghormatan akan otoritas yang dimiliki oleh sang kyai. Bahkan mungkin kita bisa menemukan bentuk tindakan lain yang menyimbolkan begitu besarnya otoritas sang kyai dimata santrinya. Kebiasaan untuk berebut sisa
Ruth A. Wallace dan Alison Wolf, op.cit., hlm.249 dan Peter L. Berger dan Thomas Luckmann, The Social Construction of Reality (New York: Anchor Books, 1966), hlm.76.
47

19

minuman kyai mungkin merupakan contoh yang bisa diungkapkan lebih jauh maknanya. Langkah selanjutnya, setelah kita mengungkapkan berbagai makna simbolik tersebut kita bisa lebih jauh mengamati bagaimana interaksi sosial yang terjadi diantara mereka. Sebagaimana yang telah dibahas sebelumnya bahwa proses pendefinisian dan pendefinisin kembali terhadap diri akan senantiasa terjadi selama proses interaksi sosial berlangsung, maka perhatian terhadap jalannya interaksi sosial diantara santri dan kyai menjadi kunci penting untuk merekonstruksi bagaimana sebenarnya otoritas kyai berpengaruh terhadap perilaku santri. Ketika seorang santri, misalnya, sudah mendefinisikan kyai sebagai sosok yang wajib dipatuhi dan disegani, maka kita bisa melihat bahwa berbagai bentuk perilaku yang dianggap “aneh” akan bisa dijelaskan lebih jauh. Dari sini, mungkin kita bisa lebih jauh mengungkapkan premis dari perspektif ini bahwa masyarakat merupakan hasil dari individu yang saling berinteraksi dengan menunjukkan kesamaan interpretasi makna diantara santri terhadap simbol-simbol tertentu yang menyatukan mereka ke dalam sebuah masyarakat moral, yaitu komunitas pesantren. Disini para santri memiliki rasa keterikatan yang sama terhadap suatu simbol, yang mungkin juga diperkuat oleh aspek keagamaan lain seperti kepercayaan dan ritual, dimana pada saat yang bersamaan mereka juga memisahkan diri dengan masyarakat di luar pesantren yang tidak memeliki kesamaan dan berbagi dalam dunia simbol tersebut. Konsep kesamaan simbol yang kemudian secara otomatis menjadi identitas bersama secara tidak langsung menunjukkan keunikan sistem interaksi yang mereka miliki melalui berbagai macam aturan perilaku yang berbeda dengan masyarakat lainnya, khususnya ketika mereka mendudukkan kyai sebagai satu-satunya figur yang patut untuk dihormati dan dicontoh dalam segala aspek kehidupan. Dengan memanfaatkan perspektif interaksionisme simbolik dalam memahami fenomena otoritas kyai, gambaran yang muncul akan lebih berkenaan dengan kehidupan sehari-hari di dunia pesantren melalui penafsiran berbagai macam simbol dan model-model interaksi sosial yang muncul dalam komunitas tersebut. Mungkin apabila kita menggunakan perspektif lain, misalnya perspektif konflik, maka fokus otoritas akan lebih dikaitkan dengan masalah distribusi kekuasaan di pesantren,

20

termasuk didalamnya media-media yang digunakan untuk melegitimasi otoritas tersebut. Terlebih lagi, perspektif ini juga menawarkan metodologi yang cukup menarik untuk mengungkapkan kehidupan keagamaan sehari-hari, yaitu melalui penggabungan metode etnografi dan sosiologi kualitatif.48 Hal ini tercermin dari pendekatan induktif yang diterapkan oleh pencetus perspektif ini, Blumer, yang berbeda dengan perspektif fungsionalism yang selalu berangkat dari serangkaian hipotesis. Hal ini tentu saja akan memberikan keleluasaan kepada peneliti untuk memunculkan fenomena keagamaan sehari-hari secara lebih natural. Terlebih lagi, perangkat untuk pengumpulan data juga melalui prosedur yang fleksibel, yaitu eksplorasi dan inspeksi. 49 Setelah itu, barulah analisis kualitatif digunakan untuk menginterpretasikan data-data yang diperoleh di lapangan. Akhirnya, mungkin kita perlu memperbanyak tulisan-tulisan tentang perspektifperspektif sosiologis yang bersifat aplikatif melalui berbagai macam contoh kasus untuk lebih bisa memasyarakatkan perspektif-perspektif alternatif dalam sosiologi sebab pemilihan perspektif hanyalah terkait dengan masalah seberapa jauh perspektif tersebut bisa digunakan untuk menjawab permasalahan yang ingin diungkapkan melalui sebuah penelitian. Selain itu, seorang sosiolog memang tidak memiliki kewenangan untuk menilai kebenaran sebuah perspektif akan tetapi, sekali lagi, wewenangnya hanyalah sebatas menentukan perspektif mana yang paling bermanfaat untuk mengungkap fenomena sosial tertentu.

* Achmad Zainal Arifin, MA, alumni program master Sosiologi di University of Northern Iowa (2006) melalui program beasiswa Fulbright dan alumni program master Ilmu Perbandingan Agama CRCS-UGM (2003).

Ruth A. Wallace dan Alison Wolf, op.cit., hlm.263. Metode eksplorasi memiliki dua tujuan penting, yaitu: menyediakan pengetahuan yang komprehensif dengan lingkungan kehidupan sosial yang kurang familiar bagi peneliti dan untuk mengembangkan, memfokuskan, serta mempertajam investigasi sehingga problem penelitian bisa dipecahkan berdasarkan data-data murni dari lapangan. Sementara itu, metode inspeksi merupakan kelanjutan dari eksplorasi, dimana hasil dari eksplorasi ditelaah lebih jauh. Dengan kata lain, metode inspeksi merupakan peralihan dari proses deskriptif (explorasi) menuju proses analisis (inspeksi), lihat: Herbert Blumer, op.cit., hlm.40-43.
49

48

21

Daftar Pustaka Alexander, Jeffrey C. (Ed.), Neofunctionalism (California: Sage Publications, 1985). Ballantine, Jeanne H. dan Leonard Cargan, Sociological Footprints (Belmont: Wadsworth, 2002). Berger, Peter L. dan Thomas Luckmann, The Social Construction of Reality (New York: Anchor Books, 1966). Berger, Peter L., Invitation to Sociology (New York: Anchor Books, 1963). Blumer, Herbert, Symbolic Interactionism: Perspective and Method (New Jersey: Prentice Hall, 1969). Charon, Joel M., Symbolic Interactionism (New Jersey: Prentice Hall, 1995). Coser, Lewis, The Functions of Social Conflict (Glencoe: The Free Press, 1956). Creswell, John W., Research Design: Qualitative, Quantitative, and Mixed Methods Approaches (California: Sage Publication, 2003). Crow, Graham, Comaparative Sociology and Social Theory (New York: St. Martin’s Press, 1997). Dahrendorf, Ralf, “Out of Utopia: Toward a Reorientation of Sociological Analysis,” American Journal of Sociology 64 (1958), hlm.127-130. Dahrendorf, Ralf, Class and Class Conflict in Industrial Society (Stanford, CA: Stanford University Press, 1959). Gerth dan Mills, From Max Weber: Essays in Sociology (New York: Oxford University Press, 1958). Goffman, Erving, Asylums: Essays on the Social Situation of Mental Patients and other Inmates (New York: Anchor Books, 1961). Gutierrez, Gustavo, Teologi Pembebasan (Yogyakarta: Jendela, 2001). Henslin, James M., Sociology: A Down to Earth Approach (Boston: Allyn and Bacon, 1995). Kivisto, Peter, Key Ideas in Sociology (California: Pine Forge Press, 1998). Kornblum, William, Sociology: The Central Questions (Orlando, Harcourt Brace, 1998).

22

Lazarsfeld, Paul dan Jeffrey Reitz, “History of Applied Sociology.” Sociological Practice, 7, 1989: 43-52. Merton, Robert K., Social Theory and Social Structure (New York: Free Press, 1968). Neuman, Social Research Methods: Qualitative and Quantitative Approaches (Boston: Allyn and Bacon, 2000). Nitiprawiro, Francis Wahono, Teologi Pembebasan: Sejarah, Metode, Praksis dan Isinya (Yogyakarta : LKiS, 2000). Pressler, Charless A. dan Fabio B. Dasilva, Sociology and Interpretation: from Weber to Habermas (New York: State University of New York Press, 1996). Ritzer, George, Sociological Theory (New York: McGraw-Hill Companies, 2000). Sanderson, Stephen K., Sosiologi Makro (Jakarta: Rajawali Press, 1995). Schutz, Alfred, The Phenomenology of Social World (Evanston, IL: Northwestern University Press, 1967). Turner, Jonathan H., Leonard Beeghley, dan Charles H. Powers, The Emergence of Sociological Theory (Orlando: Wadsworth Publishing Company, 1995). Turner, Jonathan H., The Structure of Sociological Theory, 7th edition (Belmont: Wadsworth/Thompson Learning, 2003). Wallace, Ruth A. dan Alison Wolf, Contemporary Sociological Theory (New Jersey: Prentice Hall, 1991). Westby, David L., The Growth of Sociological Theory (New Jersey: Prentice Hall, 1991). Zietlin, Irving M., Memahami Kembali Sosiologi (Yogyakarta: Gadjah Mada University Press, 1995).

23

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful