You are on page 1of 30

TUGAS REFERAT

ANTIBIOTIK
Disusun Guna Memenuhi Sebagian Pesyaratan Koasisten
Ilmu Penyakit Dalam RSUD Kota Yogyakarta

Disusun Oleh
Argadia Yuniriyadi
20040310053

Dokter Pembimbing
Dr. Mulya Hartana, SpPD

Universitas Muhammadiyah Yogyakarta


Yogyakarta
2009
BAB I
PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG
Sejarah antibiotik dimulai ketika ditemukannya obat antibiotik pertama oleh
Alexander Flemming yaitu Penicillin-G. Flemming berhasil mengisolasi senyawa
tersebut dari Penicillium chrysogenum syn. P. notatum. Dengan penemuan
antibiotik ini membuka sejarah baru dalam bidang kesehatan karena dapat
meningkatkan angka kesembuhan yang sangat bermakna. Kemudian terjadilah
penggunaan besar-besaran antibiotik pada saat perang dunia untuk pengobatan
berbagai macam penyakit. Masalah baru muncul ketika mulai dilaporkannya
resistensi beberapa mikroba terhadap antibiotik karena penggunaan antibiotik
yang besar-besaran. Hal ini tidak seharusnya terjadi jika kita sebagai pelaku
kesehatan mengetahui penggunaan antibiotik yang tepat.
Kemajuan bidang kesehatan diikuti dengan kemunculan obat-obat antibiotik
yang baru menambah tantangan untuk mengusai terapi medikamentosa ini.
Antibiotik tidak hanya dari satu jenis saja. Beberapa senyawa-senyawa yang
berbeda dan berlainan ternyata mempunyai kemampuan dalam membunuh
mikroba.
Untuk itu sudah menjadi kewajiban seorang dokter untuk dapat menguasai
bagaimana penggunaan antibiotik yang benar tersebut. Dimulai dengan
mengetahui jenis-jenis dari antibiotik dilanjutkan mengetahui mekanisme dan
farmakologi dari obat-obat antibiotik tersebut dan terakhir dapat mengetahui
indikasi yang tepat dari obat antibiotik tersebut. Semua ini bertujuan akhir untuk
meoptimalkan penggunaan antibiotik yang tepat dan efektif dalam mengobati
sebuah penyakit sekaligus dapat mengurangi tingkat resistensi.

B. TUJUAN
Tujuan dari referat ini adalah :
1. Dapat mengetahui macam-macam antibiotik
2. Dapat mengetahui farmakodinamik dan farmakokinetik dari masing-masing
jenis antibiotik
3. Dapat mengetahui mekanisme resistensi terhadap obat-obat antibiotik

2.
BAB II.
STUDI PUSTAKA

A. DEFINISI

Kata antibiotik berasal dari bahasa yunani yaitu -anti (melawan) dan -biotikos
(cocok untuk kehidupan). Istilah ini diciptakan oleh Selman tahun 1942 untuk
menggambarkan semua senyawa yang diproduksi oleh mikroorganisme yang
dapat menghambat pertumbuhan mikroorganisme lain. Namun istilah ini
kemudian digeser dengan ditemukannya obat antibiotik sinetis. Penggunaan
istilah antimikroba cenderung mengarah ke semua jenis mikroba dan termasuk di
dalamnya adalah antibiotik, anti jamur, anti parasit, anti protozoa, anti virus, dll.
Namun dalam pembahasan ini hanya membicarakan proses penghambatan
antibiotik dalam membunuh bakteri
Mikroorganisme yang dihambat oleh antibiotik khusunya adalah bakteri.
Maka dari itu antibiotik bersinosim dengan anti-bakteri. Antibiotik berbeda
dengan istilah disinfectant karena desifektant membunuh kuman dengan cara
membuat lingkungan yang tidak wajar bagi kuman. Sedangkan kerja dari
antibiotik adalah cenderung bersifat Toksisitas Selektif dalam arti dapat
membunuh kuman tanpa merugikan inang.

B. KLASIFIKASI ANTIBIOTIK

Pembagian antibiotik dapat dibagi berdasarkan luasnya aktivitas antibiotik,


aktivitas dalam membunuh serta berdasarkan mekanisme obat antibiotik tersebut.
Berdasarkan luasnya aktivitas, antibiotik dibagi menjadi antibiotik spektrum
luas dan spektum sempit. Istilah luas mengandung arti bahwa antibiotik ini dapat
membunuh banyak jenis bakteri sedangkan sebaliknya, istilah sempit hanya
digunakan untuk membunuh bakteri yang spesifik yang telah diketahui secara
pasti. Penggunaan spektrum luas digunakan apabila identifikasi kuman penyebab
susah dilakukan namun kerugiaanya dapat menghambat pula bakteri flora normal
dalam tubuh.

3.
Berdasarkan aktivitas dalam membunuh, antibiotik dibagai menjadi
Bactericidal dan Bacteristatic. Antibiotik yang mempunyai sifat bakterisidal
membunuh bakteri target dan cenderung lebih efektif serta tidak perlu
menggantungkan pada sistem imun manusia. Sangat perlu digunakan pada pasien
dengan penurunan sistem imun. Yang termasuk baterisidal adalah β-lactam,
aminoglycoside, dan quinolone. Bakteriostatik justru bekerja menghambat
pertumbuhan bakteri dan dapat memanfaatkan sistem imun host obat
bakteriostatik yang khas adalah tetracycline, sulfonamide, tetracycline, dan
clindamycin
Bedasarkan mekanisme kerja, antibiotik dibagi menjadi 5 jenis, yaitu :
A. Penghambatan sintetis dinding bakteri
B. Penghambat membran sel
C. Penghambatan sintetis protein di ribosom
D. Penghambatan sintetis asam nukleat
E. Penghambatan metabolik (antagonis folat)

Dari masing-masing golongan terdapat mekanisme kerja, farmakokintetik,


farmakodinamik, serta aktivitas antimikroba yang berbeda-beda. Perbedaan ini
menyebabkan perbedaan kegunaan di dalam klinik Karena perbedaan ini juga
maka mekanisme resisistensi dari masing-masing golongan juga mengalami
perbedaan.

Gambar 1. Tempat Kerja dari Masing-Masing Golongan Antibiotik

C. RESISTENSI OBAT ANTIBIOTIK

Resistensi obat antibiotik oleh mikroba dapat dibagai menjadi berikut

4.
1. Mikroba menghasilkan enzim yang merusak aktivitas obat.
Misal : Stapilokokus yang resisten terhadap penicillin menghasilkan β-
lactamase yang merusak obat-obat β-lactam
2. Mikroba merngubah permeabilitas terhadap obat.
3. Mikroba mengembangkan suatu perubahan terhadap struktur sasaran bagi obat
Misal : Berubahnya strukutr protein reseptor pada ribosom 30S menyebabkan
mikroba resisten terhadap golongan aminoglikan
4. Mikroba mengembangkan perubahan jalur metabolitk yang dihambat
Misal : Bakteri yang resisten Sulfonamides tidak memerlukan PAB
ekstraseluler dimana awalnya bakteri ini sangat membutuhkannya
5. Mikroba mengembangkan perubahan enzim yang tetap dapat melakukan
fungsi metaboliknya tetapi lebih sedikit dipengaruhi oleh obat.
Asal resistensi-resistensi di atas dapat bersifat genetik maupun non genetik.
Yang non genetik dapat berasal dari berubahnya bentuk suatu mikroba menjadi
inaktif sehingga resisten terhadap obat-obat yang kerjanya pada proses replikasi
bakteri. Sedangkan genetik dapat diturunkan dari mikroba satu ke keturunannya
melalui mutasi kromosom atau dari satu mikroba ke mikroba lain melalui plasmid.
Resistensi silang saja terjadi dari satu jenis antibiotik ke jenis lain. Misal suatu
mikroba resisten terhadap suatu jenis antibiotik dapat resisten terhadap jenis yang
lain. Reaksi silang ini dapat terjadi pada jenis-jenis yang berhubungan sacara
kimia maupun tidak

D. GOLONGAN INHIBITOR SINTETIS DINDING BAKTERI

Bakteri mempunyai lapisan luar yang kaku yang disebut dinding sel. Dinding
sel terdapat pada baik bakteri yang gram (+) maupun bakteri gram (-). Dinding ini
berfungsi mempertahankan bentuk sel dari perbedaan tekanan osmotic internal
dan eksternal yang sangat tinggi. Pada kedua bakteri mempunyai suatu lapisan
yang bernama Peptidoglycan. Lapisan ini berfungsi mensintetis dinding bakteri
melalui reaksi yang disebut TRANSPEPTIDASI. Lapisan ini lebih tebal pada
bekteri gram (+) dan pada gram (-) di antara peptidoglycan dan dinding terdapat
lapisan membran lemak sehingga terdapat gambaran membran bilayer.
Preoses penghambatan sintetis dinding bakteri dapat melalui 2 jalur. Jalur
pertama berasal dari penghambatan proses transpeptidasi. Semua obat β-lactam

5.
dapat menghambat proses ini. Yang termasuk dalam antibiotik β-lactam adalah
golongan Penicillin, Cephalosporins, Carbapemems, dan Monobactam. Jalur
berikutnya melalui penghambatan sintetis peptidoglycan. Yang termasuk jalur
kedua ini adalah Vancomycin dan Bacitracin. Pembagian kelompok ini dapat
dilihat pada gambar di bawah.

PENGHAMBAT SINTETIS
DINDING BAKTERI

Antibiotik β-Lactam Non β-Lactam

Cephalospori Bacitracin
Penicillin Carbapenem Monobactam
n
Imipenem Aztreonam
Vancomycin
Ampicillin,
Amoxicillin,
Azlocillin, Cefadroxil, Cephradrin, Cephalotin, Cephalexin,
Generasi I Cephapirin
Carbenicillin,
Cloxacillin,
Dicloxacillin, Cefaclor, Cefamandol, Cefmetazole, Cefodoxim,
Methicillin, Generasi II Cefonicid, Cefoxitin, Cefprozil, Cefotetan, Cefuroxime
Mezlocillin,
Nafcillin, Cefixime, Cefotaxime, Ceftazidime, Ceftizoxime,
Oxacillin, Generasi III Ceftriaxone, Dan Moxalaktam
Penicillin G,
Penicillin V,
Cefclidine, Cefepime, Cefluprenam, Cefoselis,
Piperacillin, Generasi IV Cefozopran, Cefpirome, Cefquinome
Ticarcillin

Gambar 2. Bagan Pembagian Antibiotik Golongan Inhibitor Sintetis Dinding Bakteri

PENICILLIN

Penicillin yang paling terkenal dan pertama ditemukan adlah penicillin-G yang
ditemukan oleh Flamming pada 1929. Senyawa ini dihasilkan dari pembenihan
spesies Penisillium notatum. Sifat dari penicillin-G adalah kepekaannya terhadap
penghacuran cincin β-lactam oleh senyawa β-lactamase dan tidak aktif secara
relative terhadap kebanyakan bakteri gram negatif. Pengembangan terhadap
Penicillin menghasilkan turunan-turunan penicillin yang lebih stabil terhadap
asam dan aktif terhadap bakteri gram (-) maupun gram (+).

1. Struktur kimia

6.
Semua Penicillin mempunyai struktur dasar yang sama. Terdapat cincin Beta
lactam yang dikelilingi oleh cincin tiazolodin. Beberapa turunan Penicillin
didapatkan dengan menambahkan senyawa lain pada gugus R. Struktur penicillin
dapat dilihat pada gambar.

Gambar 3. Struktur dasa Penicillin. Terdapat cincin β-lactam (kiri) yang


dikelilingi cincin tiazolid (kanan).

2. Resistensi
Mekanisme resistensi terhadap Penicillin dapat dibagi dalam beberapa
mekanisme :
a. Bakteri-bakteri tertentu seperti Staphylococcus aureus, beberapa
Haemophilus influenzae dan gonokokus menghasilkan senyawa β-
lactamse yang memecah cincin β-lactam. Kontrol pembentukan β-
lactamase dikontrol oleh kromosom dan plasmid. Nafcillin tahan
terhap β-lactamase karena cincin β-lactam dilindungi oleh rantai
samping R’.
b. Beberapa mikroba kurang mempunyai reseptor spesifik dan kurangnya
permeabilitas terhadap β-lactam.
c. Organisme yang dormant seperti Mycoplasma L resistant terhadap
penicillin karena tidak mensintetis peptidoglycan
Zat-zat penghambat β-lactamase seperti clavulanic acid, sulbactam
dan, tazobactam dapat menghambat aktivitas β-lactamase yang dihasilkan
bakteri yang resisten. Pemberian tunggal obat ini kurang menunjukkan
aktivitas antibakteri. Namun kombinasi obat ini dengan obat-obat β-lactam,
misalnya clavulanic acid dan amoxcillin dapat efektif terhadap infeksi saluran
pernafasaan oleh H influenza penghasil β-lactamase.
3. Farmakokinetik
Absorpsi peroral berbeda-beda dari masing-masing obat penicillin
tergantung dari kestabilan asam dan ikatan proteinnya. Pemberian minimal
harus diberikan 1 jam sebelum atau sesudah makan untuk mengurangi ikatan

7.
pada makanan. Absorpsi parenteral biasanya cepar. Pemberian IM sering
menimbulkan iritasi dan nyeri pada tempat suntikan. Pemberian IV bolus
intermittent dengan tetesan kontinue cenderung disukai.
Penicillin tidak larut dalam sel dan tidak masuk dalam sel inang.
Pemberian 6 gr perhari dapat menghasilkan kadar 1-6 μg/ml dalam darah.
Penicillin yang terikat kuat pada protein (oxacillin, dicloxacillin)
menghasilkan kadar obat bebas yang lebih rendah daripada yang terikat lemah
(Ampicillin, Penicillin-G)
Kadar penicillin pada jaringan setara dengan yang ada di serum. Pada
mata, protat, dan susunan syaraf pusat kadar ini lebih rendah daripada di
serum. Namun pada cairan serebospinal kadar dapat mencapai 0,2 μg/mL jika
diberikan 6 gr parenteral sehingga tidak diperlukan suntika intratekal.
Ekskresi dilakukan kebanyakan oleh ginjal. Sekitar 10% diekskresi di
glomerulus dan 90% melalui tubulus dengan kecepatan 2 gr/jm kecuali
nafcillin dimana 80% diekskresi di dalam saluran empedu. Waktu paruh
Penicillin-G adalah ½-1 ja dan pada gagal ginjal dapat mecapai 10 jam.
Ampicillin diekskresi lebih lama. Sekresi di tubulus dapat dihambat dengan
pemberian probensid dan digunakan pada jika ingin mncapai kadar sistemik
dan cairan serebospinal yang tinggi. Pada neonantus pemberian ini lebih
lambat. Ekskresi juga dapat melalui sputum dan air susu dan dapat
menimbulkan alergi pada bayi yang menyusui.
4. Kegunaan Klinik
Obat ini dikenal karena paling luas kegunaannya. Semua penicillin oral
harus diberikan minimal 1 jam sebelum/sesudah makan.
a. Penicillin-G
Obat ini masih digunakan pada infeksi pneumococcus,
streptococcus, meningococcus, staphilococcus yang tidak
menghasilkan β-lactamase, gonococcus, Treponema pallidum,
Bacillus anthracic dan bakreti gram (+) lainnya, clostridium,
actinomyces, listeria, dan bacterioid. Kebanyakan dosis yang
digunakan adalah dosis sehari (6 gram) dan umumnya diberikan secara
bolus intermittent IV. Penicillin-V diindikasikan pada infeksi ringan
saluran pernafasan dengan dosis harian 1-4 g. Pemberian oral tidak
boleh diberikan terhadap infeksi yang berat.

8.
b. Benzathine Penicillin
Obat ini berbentuk garam yang mempunyai kelarutan dalam air
yang sangat rendah dan menghasilkan kadar rendah tetapi bertahan
lama. Kegunaannya adalah diberikan secara 1,2 juta unit IM untuk
profilaksi reinfeksi streptokokus selama 3-4 minggu.
c. Ampicillin, Amoxicillin, carbenicillin, Ticarcillin, Piperacillin,
mezlocillin, Azlocillin
Obat ini berbeda dengan penicillin-G karena punya akitivitas
lebih besar terhadp bakteri gram (-).
Ampicillin dan amoxicillin mempunyai aktivitas sama. Namun
amoxicillin lebih mudah diserap dalam usus. Diberikan secara oral
untuk ISK oleh bakteri koliformis gram (-) dan infeksi bakteri
campuran saluran nafas (sinusitis, otitis, bronchitis). Dosis yang
diberikan adalah 250-500 mg 3x sehari. Obat ini kurang efektif
terhadap enterobacter, pseudomonas dan gastroenteritis salmonella
noninvasive.
Carbenicillin lebih efektif terhadap pseudomonas dan proteus
namun lebih cepat menjadi resisten. Pemberian dengan dosis 12-
30g/hari IV biasanya diberikan berkombinasi dengan antibiotik
golongan lain untuk pengobatan sepsis pseudomonas pada luka baker.
Ticarcillin menyerupai carbenicillin tetapi dosisnya lebih
rendah (200-300mg/kg/hari). Obat yang lain mempunyai aktivitas yang
kebanyakan sama
d. Penicillin yang resisten terhadap β-lactamase
Golongan yang resisten terhadap β-lactamase adalah Oxacillin,
Cloxacillin, Dicloxacillin, dan Nafcillin. Indikasi penggunaan hanya
digunakan pada infeksi staflokokus penghasil β-lactamase. Dosis yang
digunakan adalah 0,25-0,5 g setiap 4-6 jam peroral. Untuk infeksi yang
berat diberikan 8-12 g/hari nafcillin intermittent bolus IV tiap 2-4 jam
(1-2 g tiap pemberian). Methicillin jarang digunakan karena bersifat
nefrotoksis.
5. Efek Samping
a. Hipersensitivitas

9.
b. Neurotoksis pada dosis tinggi (>20.000 unit intratekal atau >20juta
parenteral)
c. Dyspepsia
d. Nefrotoksis (Methycillin)
e. Gangguan pendarahan (Cabenicillin)

CEPHALOSPORIN

Cephalosporin dihasilkan oleh jamur Cephalosporium. Senyawa ini mirip


dengan Penicillin namun lebih resisten terhadap β-Lactamase dan cenderung lebih
aktif terhadap bakteri gram (+) maupun gram (-).

1. STRUKTUR KIMIA
Strutur ini mirip dengan penicillin yaitu adanya cincin β-Lactam tetapi
dilekati cincin dihydrithiazide dan terdapat gugusan R1 dan R2 yang
memungkinkan untuk dibuat turunan-turunan cephalosporin dengan aktivitas
yang lebih tinggi dan toksisitas yang lebih rendah.

Gambar 4. Struktur kimia cephalosporin

2. AKTIVITAS ANTIMIKROBA DAN RESISTENSI


Aktivitas dan cara kerja antimikroba beserta mekanisme resistensi
cephalosporin analog dengan penicillin.

3. CEPHALOSPORIN GENERASI PERTAMA


Yang termasuk obat ini adalah Cefadroxil (Duricef), Cephradrin,
Cephalotin (cephalothin; Keflin), Cephalexin, (Keflex), Cephapirin
(cephapirin; Cefadryl).
AKTIVITAS ANTIMIKROBA

10.
Obat ini sangat aktif terhadap kokus gram positif seperti pneumokokus,
streptokokus viridan, gourp streptokokus A hemolitikum dan S aureus. Gram
negatif yang juga dapat dihambat antara lain E. coli, Klebsiella pneumoniae,
dan Proteus mirabilis. Kokus anaerob (Peptococcus, Peptostreptococcus)
biasanya sensitif kecuali B fragilis
FARMAKOLOGI & DOSIS
Oral : Cefalexin, Cefradrin, dan Cefadroxil diabsorpsi di usus
bervariasi. Pemberian 500 mg peroral hanya menghasilkan kadara 15-20
μg/mL. Kadar dalam urin biasanya sangat tinggi namun di jaringan biasanya
kadarnya lebih rendah. Dosis Cefalexin dan cefadrin diberikan 4 x 0,25-0,5 g
dan cefadroxil diberikan 3 x 0,5-1 g. Ekskresi terutama di urin dan dapat
dihambat dengan pemberian probenesid. Pada penderita gagal ginjal dosis
harus dikurangi
IV : infus IV diberikan sebanyak 1 gram dan mencapai kadar puncak
cefazolin sebanyak 90-120 μg/mL, cefalotin dan cefazolin sebanyak 40-60
μg/mL, Dosisnya untuk Cefazolin 1-2 g /8 jam, cefalotin dan cefapirin adalah
1-2 g/6 jam
IM : jarang dilakukan
PENGGUNAAN KLINIK
Walau obat ini punya spectrum luas dan tidak terlalu toksis, namun
obat ini jarang digunakan selain sebagai obat alternative untuk beberapa
infeksi. Dapat digunakan untuk ISK, luka kecil yang terdapat stafilokokus, dan
infeksi ringan lainnya. Untuk profilaksis pembedahan, Cefazolin lebih banyak
digunakan karena lebih murah serta dapat mengurangi resistensi terhadap obat
lain. Jangan digunakan untuk pengobatan infeksi berat. Cephalosporin
generasi pertama tidak dapat melakukan pentrasi ke SSP dan tidak bisa
digunakan untuk pengobatan meningitis.

4. CEPHALOSPORIN GENERASI KEDUA


Contoh dari cephalosporin generasi kedua adalah cefaclor (Keflor,
Raniclor), cefamandol, cefmetazole, cefodoxim, cefonicid (monocid),
cefoxitin, cefprozil (cefzil), cefotetan, cefuroxime (ceftin).
AKTIVITAS ANTIMIKROBA

11.
Aktivitas obat ini biasanya mirip dengan generasi pertama namun
mempunyai spektrum yang lebih luas terhadap bakteri gram (-) : enterobacter,
Klebsiella, dan Proteus indol-positif. Untuk pengobatan H influenza
cefamandol, cefuroxime, cefonicid, dan ceforanid lebih efektif. Untuk
pengobatan B fragilis justru cefoxitin, cefmetazole, dan cefotetan lebih efektif.
Semua generai kedua tidak aktif terhadap enterokokus dan P aeruginosa
FARMAKOLOGI & DOSIS
Oral : Cefaclor, cefuroxim, cefprozil dapat diberikan peroral. Dosis
untuk dewasa biasanya 10-15 mg/kg/hari diberikan dalam 2-4 dosis terbagi.
IV : Setelah 1 gr IV dapat menghasilkan kadar serum 75-125 μg/mL. IM :
Biasanya sangat sakit. Pada gagal ginjal dibutuhkan penyesuaian dosis
PENGGUNAAN KLINIK
Karena aktivitasnya terhadap H influenza, Cefaclor sering digunakan
untuk sinusitis dan otitis media pada pasien alergi atau tidak ada respon
terhadap Ampicillin. Hanya cefuroxim yang dapat menembus sawar otak.
Cefoxitin, cefmetazole, dan cefotetan yang efektif terhadap B fragilis dapat
digunakan untuk infeksi bakteri anaerob tersebut seperti peritonitis dan
divertikulitis.

5. CEPHALOSPORIN GENERASI KETIGA


Yang termasuk generasi ke 3 cephalosporin adalah cefixime,
cefotaxime, Ceftazidime, ceftizoxime, ceftriaxone, dan moxalaktam.
AKTIVITAS ANTIMIKROBA
Yang khas untuk generasi ketiga adalah mencangkupi gram negatif
yang luas dan dapat menembus sawar otak. Selain itu secara menetap generasi
ketiga juga aktif terhadap enterobacter citrobacter, S marcescens, dan
Providencia, serta Haemophilus dan Neisseria penghasil β-Lactamase.
FARMAKOLOGI & DOSIS
Kadar dalam darah adalah 60-140 μg/mL setelah pemberian infus IV 1
gram. Kadar ini akan sama di semua jaringan dan dapat mencapai sistem
syaraf pusat.
Waktu paruh untuk ceftriaxone (7-8 jam) setelah pemberian 15-30
g/kg/hari dibagi dalam dosis tiap 12-24 jam, namun pada meningitis dosis ini

12.
diberikan setiap 12 jam. Obat lain punya waktu paruh 1-1,7 jam dapat
disuntikan setiap 6-8 jam dengan dosis 2-12 gram/hari
Ekskresi utama melalui empedu, jadi pada gagal ginjal obat ini
memerlukan penyesuaian dosis.
PENGGUNAAN KLINIK
Karena penetrasi ke sawar otak, obat generasi ketiga sering digunakan
untuk mengobati meningitis termasuk yang disebabkan oleh meningokokusm
H influenza, dan bakteri gram (-) usus yang rentan. Pada sepsis yang tidak
diketahui penyebabnya obat ini juga sering digunakan.

6. EFEK SAMPING
Efek samping terhadap cephalosporin yang dapat muncul pada umumnya
antara lain adalah :
a. Alergi
b. Hipoprotrombinemia dan kelainan perdarahan : diberikan vitamin K 10
mg 2 x seminggu untuk pencegahan
c. Disulfiram-like effect (penghambatan metabolisme alkohol) sehingga
jangan dberikan untuk orang alkoholisme

OBAT β-LACTAM LAINNYA

Yang termasuk kelas β-Lactam yang lain adalah monobactam dan


carbapenem.

MONOBACTAM
Obat ini mempunyai cincin β-Lactam monosiklik dan ternyata juga resisten
terhadap β-Lactamase serta aktif terhadap beberpa gram (-) seperti pseudomonas
dan Serratia. Kelemahan obat ini adalah tidak ada aktivitas terhadap bakteri gram
(+) dan bekteri anaerob. Contoh golongan ini adalah Aztreonam (azactam). Kadar
dalam serum adalah 100 μg/mL setelah pemberian 1-2 gram setiap 8 jam. Waktu
paruh 1-2 jam dan pada gagal ginjal dapat memanjang

CARBAPENEM

13.
Obat ini adalah obat baru dengan cincin β-Lactam. Contohnya adalah
Imipenem. Obat ini mempunyai spektrum luas terhadap bakteri gram (+), gram
(-), dan anaerob. Obat ini juga punya kelebihan resisten terhadap β-Lactamase.
Namun obat ini diinaktifkan di tubulus sehingga konsentrasi dalam urin menjadi
rendah. Penetrasi baik di jaringan tubuh dan cairan serebrospinal. Dosis biasanya
0,5-1 gram IV setiap 6 jam (waktu paruh 1 jam).
Kegunaan secara pasti belum ditentukan namun mungkin digunakan atas
pengobatan terhadap infeksi yang telah resisten. Sejak Pseudomonas cepat
menjadi resisten terhadap imipenem, pemberian kombinasi obat ini dengan
aminoglican perlu dilakukan.
Efek samping masih terbatas pada mual, muntah, diare, dan kulit kemerahan
serta pada gagal ginjal gejala ini semakin terlihat.

VANCOMYCIN

Vancomycin dan bacitracin merupakan penghambat sintetis dinding sel namun


bukan termasuk golongan β-Lactam. Vancomycin dihasilkan oleh Sterptomyces.
Obat ini aktif terhadap bakteri gram (+) khususnya staphylococcus.
Struktur kimia. Struktur kimia vancomycin terdiri dari suatu glicopeptida
dengan erat molekul 1500 larut dalam air dan stabil. Mekanisme obat ini adalah
penghambatan sintetis peptidoglican di tingkan membrane sel.
Aktivitas Antimikroba. Vancomycin bersifat bakterisid untuk gram (+) pada
konsentrasi 0,5-3 μg/mL. Banyak staphylococcus yang sudah resisten terhadap
nafsilin dapat dibunuh dengan obat ini serta resistensi vancomycin terjadi sangat
lambat dan jarang.
Farmakokinetik. Vancomycin tidak diabsopsi di usus. Pengobatan peroral
digunakan untuk mengobati enterokolitis. Pemberian IV dengan dosis 0,5 gram
dapat mencapai kadar serum 10-20 μg/mL (waktu paruh 1-2 jam). Ekskresi
dilakukan oleh ginjal.
Penggunaaan Klinik. Indikasi Vancomycin adalah untuk sepsis atau
endocarditis yang disebabkan oleh staphylocoocus yang sudah resisten terhadap
obat lain dengan dosis 0,5 gram IV tiap 6-8 jam. Pengobatan peroral dengan dosis
0,125-0,5 gram tiap jam digunakan untuk enterokolitis terutama Clostridium
difficle.

14.
Efek Samping. Jarang terjadi efek samping. Flebitis pada tempat suntikan dan
demam mungkin terjadi. Gejala flushing yang luas dapat juga terjadi (red man
syndrome).

BACITRACIN

Bacitracin merupakan campuran polipeptida siklik yang dihasilkan dari Tracy


Bacillus subtilis. Aktif terhadap mikroba gram (+). Karena efek toksisnya yang
sistemik bacitracin jarang digunakan.
Aktivitas obat ini sama seperti vancomycin yaitu untuk gram (+) khususnya
staphylococcus. Obat ini susah diabsorpsi di usus kulit, mukosa, atau yang lain
jadi sering digunakan untuk pengobataan topical dengan dosis 500 unit/gram
untuk menekan lesi permukaan kulit, pada luka, atau pada mukosa.
Efek sampingnya adalah kerusakan ginjal secara mencolok, menyebabkan
proteinuria, hematuria, dan retensi nitrogen sehingga suah tidak digunakan. Reaksi
alergi pada penggunakan topikal jarang terjadi.

E. GOLONGAN INHIBITOR SINTETIS PROTEIN

Telah dibuktikan secara klinik bahwa Tetracyclin, amonoglycoside,


Chloramphenicol, Macrolides, dan Lyncomicin dapat menghambat sintetis protein
melalui kerja di ribosom. Sel bakteri secara umumnya mempunyai beberapa tipe
ribosom antara lain ribosom 30S, ribosom 50S, dan ribosom 70S. Ribosom 80S
yang terdapat manusia, tidak terdapat pada bakteri sehingga golongan obat ini
cenderung tidak berpengaruh terhadap sintetis protein dalam jaringan manusia.

PENGHAMBAT SINTETIS PROTEIN DI


RIBOSOM

Tetracycline
Demeclocycline, Doxycycline, Minocycline, Tetracycline
Amikacin, Gentamycin, Neomycin, Metilmicin, Streptomcin,
Aminoglycoside Tobramycin

Macrolide Azitromycin, Clarithromycin, Erythromycin

Cholramphenicol Thiamphenicol

Lyncomycin Clindamycin

15.
Gambar 5. Bagan pembagian golongan obat penghambat sintetis protein

Kerja penghambatan di masing-masing ribosom mempunyai mekanisme yang


berbeda. Golongan yang beraksi di ribosom 30S dan 70S adalah golongan
tetracycline dan amiglycoside. Sedangkan golongan lain beraksi di ribosom 50S.
Penghambat sintetis protein terbagi dalam 5 kelompok yaitu : Tetracyclin,
Amoniglycoside, Macrolide, Chloramphenicol, dan Lyncomycin.

TETRACYCLINE

Tetracycline yang pertama kali ditemukan adalah chlortetracycline yang


diisolasi dari Streptomycecs aureofaciens.

1. STRUKTUR KIMIA
Semua tetracycline mempunyai struktur yang sama. Obat ini tersedia
sebagai hidroklorida yang lebih larut. Larutan tersebut bersifat asam dan
mudah berikatan erat dengan ion-ion logam bervalensi 2 dan dapat
mengganggu absorpsi dan aktivitas.

Gambar 6. Struktur kimia tetracyclines

2. AKTIVITAS ANTIMIKROBA
Tetracycline cenderung merupakan antibakteri spektrum luas. Bersifat
bakteristatik baik untuk gram (+) dan gram (-) , bakteri anaerob, riketsia,
clamidia, micoplasma, serta untuk beberapa protozoa misalnya amuba.
Tetracyclin memasuki mikroba melalui difusi pasif dan transport aktiv
sehingga pada mikroba yang rentan terdapat penumpukan obat ini di dalam
sel. Tetracycline kemudian terikat reversible ke reseptor pada subunit 30S

16.
ribosom dalam posisi yang menghambat pengikatan aminoasil-tRNA ke
tempat akseptor pada komplek mRNA ribosom. Efek lanjut adalah mencegah
penambahan asam amino baru ke rantai peptide yang tumbuh.
3. RESISTENSI
Resistensi muncul dengan perubahan permeabilitas pasif dan juga tidak
adanya transport aktif terhadap tetracycline. Resistensi ini muncul dipengaruhi
genetik. Kontrol resistensi oleh plasmid juga dapat resisteni terhadap obat
golongan lain. Penggunaan secara luas tetracycline bertanggung jawab
terhadap resistensi terhadap obat lain.
4. FARMAKOKINETIK
Absopsi tetracycline di usus bervariasi antara beberapa obat. Beberapa
ada yang tetap di usus dan dikeluarkan di tinja. Obat chlortetracycline hanya
30% diasorpsi. Jenis lain hanya 60-80% untuk oxytetracycline dan
demeclocycline, 90-100% untuk doxycycline dan minocycline. Absorpsi
paling baik di usus halus bagian atas dan baiknya pada saat tidak makan
karena dapat diganggu jika ada kation bervalensi dua (Ca2+, Mg2+, Fe2+),
terutama dalam susu dan antasida. Pemberian parenteral tetracycline biasanya
diracik dengan buffer khusus
Dalam darah terjadi ikatan protein berbagai tetracycline sebesar 40-
80%. Dengan dosis oral 500 mg tiap 6 jam dapat mencapai kadar 4-6 μg/mL
untuk tetracycline hydrochlorid dan oxytetracycline. Doycycline dan
minocycline agak lebih rendah. Suntikan IV membuat kadar lebih tinggi untuk
sementara waktu. Distribusi tidak dapat mencapai cairan serebrospinal.
Minosiklin khas karena konsentrasi yang tinggi di air mata dan air liur.
Tetracycline dapat melintasi plasenta dan air susu,
Ekskresi terutama di empedu dan urin. Di empedu ekskresinya lebih
banyak dan mungkin diabsorpsi kembali di usus untuk mempertahankan kadar
di serum. Sekitar 50% jenis tetracycline diekskresi di glomerulus ginjal dan
dipengaruhi oleh keadaan gagal ginjal. Doxicycline dan minocycline
diekskresi lebih lambat sehingga di dalam serum lebih lama
5. KEGUNAAN KLINIK
Tetracycline merupakan obat spektrum luas pertama dan telah
digunakan sewenang-wenang. Merupakan obat terpilih untuk infeksi
Mycoplasma pneumoniae, Clamidia, serta ricetsia. Obat ini juga berguna

17.
untuk infeki bakteri campuran infeksi saluran pernafasan misalnya sinusitis
dan bronchitis. Dapat digunakan untuk infeksi Vibrio dan kolera namun
resistensi telah dilaporkan.
Tetracycline efektif untuk infeksi infeksi melalui hubungan seksual
yang disebabkan clamidia. Doxycycline efektif terhadap leptospirosis. Untuk
protozoa yang dapat dihabat oleh tetracycline adalah Entamoeba hitolitika atau
Plasmodium falciparum (Doxicycline).
6. EFEK SAMPING
Efek samping yag bisa timbul antara lain :
a. Efek samping pencernakan seperti mual, muntah dan diare karena
engubah flora normal. Hal ini merupakan alasan penghentian dan
pengurangan pemberian tetracycline.
b. Penumpukan di tulang dan gigi tetracycline sering terjadi. Kontra
indikasi pemberian pada ibu hamil karena dapat menumpuk di gigi
janin yang menyeabkan kekuning-kuningan pada gigi serta
penumpukan di tulang yang menyebabkan gangguan pertumbuhan
pada janin dan anak umur dibawah 8 tahun.
c. Hepatotoksis juga dapat diberikan jika diberikan pada dosis besar atau
telah terjadi insuficiensi hepar sebelumnya.
d. Trombosis vena dapat terjadi pada pemberian IV
e. Hiperfotosensitif terutama demeclocycline
f. Reaksi vestibular seperti pusing, vertigo, mual, muntah (minocycline)

AMINOGLYCOSIDE

Aminoglycoside berasal dari berbagai spesies Streptomyces. Sampai saat ini


yang masuk kelompok ini adalah Stretomycin, neomycin, gentamycinm dan lain-
lain. Semua obat ini menghambat sintetis protein dan punya kelemahan dalam
berbagai macam resistensi. Semua aminoglykoside punya potensi ototoksis dan
nefrotoksik.
Penggunaan pada umumnya digunakan terhadap bakteri enteric gram (-)
terutama pada bakteriemia, sepsis, atau endocarditis.

1. STRUKUR KIMIA

18.
Aminoglycoside memiliki inti heksosa di samping streptidin atau
deoxistreptamin. Dimana gula amino terikat dengan ikatan glikosida.
Aminoglycoside larut dalam air, stabil dalam larutan dan lebih aktif dalam
keadaan pH alkali daripada asam.
Gambar 7. Struktur kimia Aminoglycoside secara umum

2. MEKANISME KERJA
Mekanisme kerja aminoglycoside adalah pernghambatan irreversible
sintetis protein. Diawali dengan proses tranpot aktif yang bergantung pada
oksigen sehingga tidak efektif terhadap kuman anaerob. Proses selanjutnya
adalah berikatan dengan subunit 30S ribosom. Proses sintetis dihambat degan
cara mengganggu “komplek awal” pembentukan peptide, menginduksi
kesalahan baca mRNA, serta pemecahan polisom menjadi monosom yang
tidak berfungsi

3. RESISTENSI
Ada 3 mekanisme resistensi yang telah diketahui
a. Adanya enzim yag menginaktifasikan aminogycoside dengan
adenilasasi, asetilasi, dan fosforilasi.
b. Perubahan permeabilitas
c. Perubahan reseptor di ribosom

4. STREPTOMYCIN
Streptomycin dihasilkan dari Streptomyces grieus. Turunannya adalah
dihidrostreptomycin. Aktivitas antibakteri dan resistensi masih sama dengan
jenis yang lain. Streptomycin efektif untuk mikobakteria dan beberapa spesies
lain (infeksi pes, tularemia, dan bruselosis dengan dosis 1 gram/hari ) serta

19.
pengobatan kombinasi untuk memperkuat efektifitas antibakteri yang lain.
Efek Samping yang bias timbul adalah alergi dan gangguan vestibular-vertigo
dan keseimbangan

5. GENTAMICIN DAN TOBRAMYCIN


Baik gentamycin dan tobramycin efektif terhadap gram (+) dan gram
negatif. Spktrum aktivitas kedua obat ini sama dengan menghambat banyak
strain stafilokokus, koliform, dan bakteri gram (-) lainnya. Kombinasi yang
efektif adalah dengan dengan karbenisilin atau tikarsilin untuk pengobatan
pseudomonas, proteus, enterobacter, dan klebsiella. Namun banyak
sterptokokus resisten terhadap gentamycin.
Pemberian IM atau IV gentamycin atau tobramycin biasanya
digunakan untuk infeksi berat (sepsis) pseudomonas, enterobacter, proteus
yang telah resisten dengan obat lain. Dengan dosis 5-7 mg/kg/hari IM atau IV
obat ini dipadukan dengan cephalosporin atau penicillin untuk pengobatan
yang lebih efektif. Kombinasi dengan penicillin-G dapat digunakan untuk
endocarditis yang disebabkan oleh S viridans dan S faecalis. Gentamycin 0,1-
0,3% dalam krim atau obat salep sering digunakan untuk luka bakar, luka, dan
lesi kulit yang terinfeksi. Efek samping kedua obat analog dengan
aminoglycoside lain, seperti nefrotoksisitas dapat terjadi.

6. KANAMYCIN & NEOMYCIN


Kedua obat ini juga berhubungan erat karena mempunyai resistensi
silang yang lengkap. Neomycin susah diasorpsi secara oral, ekskresi terutama
di glomerulus. Penggunaan secara perenteral obat ini telah lama dihindari
karena efek nefrotoksis dan ototoksis yang jelas setelah pemberian. Peggunaan
paling sering adalah untuk topical atau suntikan ke dalam sendi, rongga
pleura, atau rongga abses dimana ada infeksi. Penggunaan peroral masih
digunakan untuk mengurangi flora usus sebelum pembedaha.

7. AMIKACIN
Amikacin merupakan turunan dari kanamycin yang kurang toksis
namun lebih resisten terhadap enzim penginaktif gentamycin sehingga

20.
digunakan terapi kedua setelah gentamycin. Penggunaan amikacin efektif
untuk banyak bakteri Proteus, Pseudomonas, Enterobacter, dan Serratia.

8. NETILMYCIN
Keuntungan Netilmycin adalah obat ini cenderung lebih tahan terhadap
kerusakan yang ditimbulkan oleh bakteri yang resisten terhadap gentamycin
dan tobramycin. Indikasi terutama pada infeksi iatrofenik serta infeksi yang
beresiko untuk terjadi sepsis.

MACROLIDES

Macrolides termasuk golongan senyawa yang mempunyai cincin makrolide.


Contoh obat ini yang terkenal adalah erythromycin. Penggunaan macrolide
terbatas pada infeksi korinebakterium, klamidia, mycoplasma dan legionella.
Contoh macrolide adalah Azitromycin, Clarithromycin, Erythromycin, dan
Spiramycin

ERYTHROMYCIN
Erythromycin merupakan obat macrolide yang dihasilkan dari Streptomyces
erythreus. Aktvitas dapat hilang pada suhu 200C dan pH asam. Sediaan pada
umumnya berupa garam. Erythromycin masih efektif terhadap organisme gram
positif, terutama pneumokokus, streptokokus,, dan korinebakterium. Organisme
lain seperti mycoplasma, Clamydia trachomatis, dan Helicobacterium juga peka.
Resistensi dijumpai pada beberapa pneumokokus dan streptokokus dengan
perubahan pada reseptor. Dikontrol dengan genetik dan plasmid
Karena tidak tahan asam, erythromycin basa dirusak di dalam lambung dan
pemberian peroral harus diberikan dalam bentuk enteric coating atau dalam
bentuk stearat ester. Dosis peroral 2 g/hari mencapai kadar serum 2 μg/mL.
Sejumlah besar hilang dalam feses. Distribusi tidak dapat menembus sawar otak.
Obat ini menembus plasenta dan mencapai janin. Ekskresi dilakukan dalam
empedu
Erythromycin digunakan dalam infeksi Corynebacterium (difteri, sepsis,
eritrasma), Infeksi klamedia pada saluran pernafasan, neonantus, mata, atau
genialia, Pneumonia oleh Mycoplasma dan Legionella. Dosis oral diberikan 0,25-

21.
0,5 gram tiap 6 jam. Efek samping yang bisa muncul berupa anoreksia, mual,
muntah, dan sifat toksis terhadap hepar.
SPIRAMYCIN
Spiramycim punya spectrum yang sama dengan erythromycin namun lebih
lemah. Keutungannya adalah daya penetrasi yang kuat di jaringan mulut,
tenggorokan dan saluran nafas sehingga sering digunakan untuk ISPA yang sukar
dicapai dengan antibiotik lain.

CHLORAMPHENICOL

Chloramphenicol berasal dari isolasi Stretomyces venezuelae. Sifat kristal


chloramphenicol sangat larut dalam alcohol dan sukar larut dalam air. Namun
Chloramphenicol suksinat sangat larut dalam air.
Obat ini mempunyai efek kuat penghambat sintetis protein mikroba. Obat ini
bersifat bakteriostatik untuk kebanyakan bakteri, namun tidak efektif untuk
klamidia. Mekanisme resistensi muncul dengan berkurangnya permeabilitas
terhadap chloramphenicol dan munculnya senyawa cholramphenicol
acetyltransferase yang dapat menginaktifasikan obat ini.
Obat ini sangat efektif untuk infeksi antara lain :
a. Salmonella simtomatik
b. Infeksi serius H influenza seperti meningitis,
c. Infeksi meningokokus dan pneumokokus pada SSP
d. Infeksi anaerobik pada SSP
Pemberian diberikan secara oral (2 gram/hari) maupun parenteral
(chloramphenicol suksinat 25-5 mg/kg/hari). Obat ini dapat mencapai SSP dengan
kadar yang sama dengan di dalam serum. Obat ini mudah diinaktifasikan di dalam
hati. Ekskresi terutama di tubulus ginjal dab sebagian kecil di empedu. Dosis tidak
perlu dikurangi pada gagal ginjal namun sangat dikurangi pada gagal hati.

CLINDAMYCIN/LYNCOMYCIN

Clindamycin merupakan turunan dari lyncomycin. Keduanya mempunyai


aktivitas yang menyerupai erythromycin namun clindamycin lebih kuat dalam

22.
mengatasi infeksi banyak bakteri kokus gram (+), kecuali enterokokus,
Haemopgilusm Niseria, dan Mycoplasma yang resisten.
Pemberian secara oral 0,15-0,3 gram tiap 6 jam sedangka untuk IV diberikan
600 mg tiap 8 jam. Obat ini tidak dapat mencapai SSP. Ekskresi terutama di dalam
hati, empedu dan urin.
Indikasi yang penting adalah untuk mengobati infeksi anaerob berat oleh
Bacterioid dan kuman anaerob lainnya. Penggunaan lainnya sering kali digunakan
pada infeksi yang berasal dari saluran genital wanita seperti sepsis karena
keguguran atau abses pelvis.

F. GOLONGAN INHIBITOR FUNGSI DAN SINTETIS ASAM NUKLEID

Obat-obat penghambat sintetis DNA terdiri dari 3 golongan mekanisme, yaitu


penghambat replikai DNA, penghambat polymerase rNA, dan penghambat
metabolisme nukleotid. Obat golongan inhibitor replikasi DNA bekerja dengan
mem-blok aksi gyrase dan DNA topoisomerase. Sedangkan golongan inhibitor
polymerase menghambat dengan cara berikatan kuat dengan rNA polymerase.
Golongan inhibotor metabolik nukleid seperti Acyclovir menghambat sintetis
DNA dengan cara konversi senyawa ini menjadi tiphosphate dan menghambat
thymidine kinase dan polymerase DNA sehingga ada penambahan DATP ke
dalam DNA dan kekurangan tymine untuk replikasi DNA
Golongan rifamycin menghambat dengan cara melekat pada enzim
polymerase rNA sehingga DNA yang telah bertrankripsi tidak bisa diubah
menjadi mRNA. Golongan terakhir menghambat DNA girase sehinga tidak terjadi
proses trankripsi pembelahan DNA.

23.
PENGHAMBAT SINTETIS
DNA

Inhibitor
Inhibitor Replikasi Inhibitor
Motabolisme
DNA Polimerase rNA
Nukelotid

Quinole Rifamycin Acyclovir

Floroqunolone

Netroimidazole
Metronidazole

Gambar 8. Bagan pembagian golongan penghambat sintetis DNA


QUINOLONE

Quinolone merupakan turunan obat dari nalidixic acid. Obat-obat pendahulu


quinolone ini mempunyai spektrum yang lebih kecil dan biasanya digunakan
untuk antiseptik saluran kemih. Turunan terbaru yang mempunyai aktivitas
antimikroba lebih baik terbagi menjadi beberapa generasi, antara lain :
A. Generasi I : cinoxacin, flumequine, nalidixic acid, oxolinic acid,
piromidic acid, pipemidic acid, rosoxacin
B. Generasi II : ciprofloxacin, enoxacin, fleroxacin, lomefloxacin,
nadifloxacin, norfloxacin, ofloxacin, pefloxacin, rufloxacin
C. Generasi III : balofloxacin, gatifloxacin, grepafloxacin, levofloxacin,
moxifloxacin, pazufloxacin, sparfloxacin, temafloxacin, tosufloxacin
D. Genrasi IV : clinafloxacin, garenoxacin, gemifloxacin, sitafloxacin,
trovafloxacin, prulifloxacin,
Pemberian quinolone diberikan secara oral dan ekskresi terutama di ginjal.
Quinolone sering digunakan dalam infeksi saluran kemih walaupun disebabkan
karena infeksi bakteri yang kebal terhadap bermacam-macam obat. Norfloxacin
400 mg atau ciprofloxacin 500 mg diberikan peroral 2 kali sehari. Selain itu juga
dapat diberikan untuk diare infeksi, infeksi tulang, sendi, intra abdominal, serta
pada infeksi mikobakterium

METRONIDAZOLE

24.
Metronidazole sering digunakan sebagai obat antiprotozoa untuk pengobatan
tricomoniasis, giardia lambia, B coli, serta infeksi amubiasis lainnya. Namun
selain itu metronidazole mempunyai efek antibakteri trhadap banyak kuman
anaerob. Metronidazole diberikan secara oral dan kemudian tersebar di jaringan
tubuh sampai ke serebrospinal. Ekskresi terutama di urin. Untuk pengobatan
infeksi anaerob, metronidazole sering digunakan untuk menurunkfan infeksi pasca
operasi apendektomi, bedah kolon, dll. Beberapa infeksi seperti B fragilis,
klstridia kadang-kadang masih menunjukkan respon.

RIFAMYCIN

Rifamycin masih terbukti aktif terhadap beberapa kokus gram (+) dan (-),
serta beberapa bakteri enteric, mikobakterium, klamidia, dan poxvirus. Sayangnya
banyak laporan mengenai resistensi bakteri yang cepat terhadap pengobatan
tunggal rifamycin sehingga tidak boleh diberikan sendiri. Rifamycin diabsopsi
baik secara peroral, dan diekskresikan melalui hati ke dalam empedu.
Rifamycin diberikan dengan dosis 600 mg/hari dapat diberikan untuk
pengobatan TB bersamaan dengan pemberian INH, etambutol, dll. Efek
sampingnya menimbulkan warna oranye pada urinm keringat, air mata yang
sebenarnya tidak berbahaya.

G. GOLONGAN PENGHAMBAT MEMBRAN SEL

PENGHAMBAT
MEMBRAN SEL

Polymyxin

Polyenes

Imidazole

Gambar 9. Bagan pembagian obat penghambat fungsi membran sel

25.
Yang termasuk golongan obat ini adalah polymyxin, polyenes, imidazole, dll.
Kerja golongan ini adalah mengganggu intregitas fungisonal membran sitoplasma
sehingga terjadi kematian pada bakteri. Polymyxin bekerja pada membran bakteri
gram (-) yang kaya fosfatidil dan bekerja seperti detergen. Polyenes juga bekerja
hampir sama namun melekat pada jamur karena jamur mengandung ergosterol
sehingga akan terbentuk sebuah pori. Mekanisme lain ditunjukkan oleh imidazole
dengan cara penghambatan sintetis ergosterol.

POLYMYXIN

Polymyxin merupakan golongan polipeptida basa dan aktif terhadap bakteri


gram (-). Obat ini mempunyai efek nefrotoksis yang hebat sehingga banyak
ditinggalkan kecuali polymyxin B dan E.
Polymyxin bekerja sebagai bakterisidal dan tidak dapat diabsorpsi di dalam
usus sehingga diberikan secara parenteral. Walaupun begitu konsentrasi di dalam
darah dan jaringan cenderung rendah karena diikat erat oleh sel-sel mati. Ekskresi
terutama di ginjal.
Penggunaan polymyxin sekarang dibatasi pada penggunaa topical. Lerutan
polymyxin B 1-10 mg/mL diberikan pada permukaan yang terinfeksi, atau
disuntikkan ke dalam pleura ataupun sendi. Efek samping yang ditakutkan pada
pemberian sistemik adalah efek nefrotoksisnya.

H. GOLONGAN INHIBITOR METABOLISME

Golongan ni mempunyai efek kerja seperti pada golongan penghambat sintetis


DNA, yaitu penghambatan dalam proses pembentukan purin. Yang termasuk
golongan ini adalah sulfonamide dan trimetropim. Suatu kombinasi antara
golongan sulfonamide – thrimethropim dapat mengoptimalkan kerja golongan ini
dengan contoh co-tromoxazole.

26.
PENGHAMBAT METABOLIK

SULFONAMIDE Mafenide, Silver Sulfadiazine, Succinysulfathiazole,


Sulfacetamide, Sulfadiazine, Sulfamethoxazole,
Sulfasalazine, Sulfisoxazole

THRIMETHROPIM Pyrimethamine, thrimethropim

Campuran Co-trimoxazole

Gambar 10. Bagan pembagian golongan penghambat metabolik

SULFONAMIDE

Sulfonamide secara struktural analog dengan asam p-amino benzoat (PABA).


Obat ini bekerja secara bakteriostatik. Cara kerjanya adalah pengubahan
sulfonamide oleh enzim dihidrofolat sintase menjadi analog asam folat yang tidak
berfungsi. Normalnya enzim inilah yang bertugas mengubah PABA menjadi
asasm dihidrofolat. Jadi sulfonamide hanya efektif terhadap bakteri-bakteri yang
tidak dapat membuat PABA atau membutuhkan PABA ekstrasel. Resistensi
muncul apabila bakteri tersebut bermutasi memproduksi PABA yang berlebihan,
perubahan struktur enzim.
Sulfonamide kebanyakan diberikan secara peroral dan dapat didistribusikan ke
semua jaringan termasuk ke cairan serebrospinal. Ekskresi terutama dilakukan
oleh glomerulus ginjal dengan kadar dalam urin bias mencapai 10-20 kali
konsentrasi dalam darah.
Penggunaan sulfonamide sering digunakan secara peroral untuk infeksi
saluran kemih yang belum diobati sebelumnya, infeks clamidia pada mata dan
saluran genital. Infeksi bakteri seperti streptokokus B-hemolitikum,
meningokokus dulu digunakan namun sekarang sudah banyak terjadi resisten.
Efek samping yang dilaporkan adalah pengendapan sulfonamide di saluran
kemih sehingga dapat menyebabkan obstruksi. Efek ini dapat dicegah dengan
pemberian sulfonamide paling larut. Efek lainnya adalah gangguan hematopoetik

27.
berupa anemia (heolitik atau aplastik) granulositopenia, trombositopenia, dan
reaksi leukomoid.

THRIMETHROPIM

Thrimethropim bekerja dengan cara penghambatan kerja enzim asam


dihidrofolat reduktase yang bertugas mengubah asam dihidrofolat menjadi asam
tetrahidrofolat. Absorpsi baik melalui usus dan distribusi luas seperti sulfonamide.
Sifatnya lebih larut dalam lipid.
Pengobatan dengan thrimethropim tunggal dapat diberikan untuk infeksi
saluran kemih akut. Selain itu karena thrimethropim dapat terakumulasi pada
cairan prostate dan cairan vagina, thrimethropim sering digunakan pada infeksi
prostate dan vagina.
Efek samping serupa dengan sulfonamide berupa gangguan hematopoetik
seperti anemia megaloblastik, leukopenia, dan granulositopenia.

CO-TRIMOXAZOLE

Gabungan kombinasi antara sulfonamide dan thrimethripim ini sering kali


digunakan. Karena thrimethropim punya kelarutan lipid yang besar, perbandingan
thrimethropi : sulfonamide = 1 : 5 untuk tiap co-trimoxazole.
Penggunaan obat ini biasanya berupa pengobatan pilihan untuk infeksi
pneumonia oleh P carinii, entriris karena Shigella dan infeksi salmonella sistemik
setelah resisten terhadap Ampicillin dan khoramphenicol. Penggunaan lain adalah
pengobatan infeksi saluran kemih dan prostate

28.
BAB III
KESIMPULAN

A. Antibiotik adalah senyawa-senyawa yang dapat menghambat dan membunuh


bakteri
B. Antibiotik dapat terbagi berdasarkan aktivitas dalam membunuh yaitu

bakteriosid dan bakteriostatik

C. Antibiotik dapat terbagai berdasarkan tempat mekanisme kerja yaitu :

Penghambatan sintetis dinding bakteri, Penghambat membran sel,

Penghambatan sintetis protein di ribosom, Penghambatan sintetis asam

nukleat, dan Penghambatan metabolik (antagonis folat)

D. Resistensi terhadap antibiotik muncul karena beberapa mekanisme seperti :

dihasilkannya enzim yang merusak aktivitas obat; pengubahan permeabilitas

terhadap obat; adanya perubahan terhadap struktur sasaran bagi obat; adanya

perubahan jalur metabolitk yang dihambat; adanya perubahan enzim yang

tetap dapat melakukan fungsi metaboliknya tetapi lebih sedikit dipengaruhi

oleh obat.

29.
DAFTAR PUSTAKA

Anonim, (2008), Antibiotic, Wikipedia, diambil tanggal 25 Desember 2008, dari


http://en.wikipedia.org/wiki/Antibiotic
Bhat, V., (2008), Classification of Antibiotik, Mediacal Notebook, diambil tanggal 25
Desember 2008, dari http://pre-pg.blogspot.com/2007/03/classification-of-
antibiotics.html
Darmansjah, I., Nelwan, R., (1994) Antibiotic guideline : Farmacological, medical
journal of university of Indonesia. diambil tanggal 25 Desember 2008, dari
http://www.iwandarmansjah.web.id/attachment/at_antibiotic
%20guidelines.pdf
Katzung, E.G, (1997), Obat-Obat Kemoterapeutika, dalam Farmakologi Dasar &
Klinik, EGC : Jakarta
Rosen, E.J., Quinn, F.B., (2000), Microbiology, infections, and antibiotic therapy,
diambil tanggal 25 Desember 2008, dari http://www.utmb.edu/
otoref/grnds/Infect-0003/Infect-0003.pdf

30.