USULAN PENELITIAN

NILAI PENTING SUMBERDAYA AIR KARST SEBAGAI PERTIMBANGAN ZONASI TAMAN NASIONAL

ISKA GUSHILMAN

DEPARTEMEN KONSERVASI SUMBERDAYA HUTAN DAN EKOWISATA FAKULTAS KEHUTANAN INSTITUT PERTANIAN BOGOR 2010

LEMBAR PENGESAHAN
Judul Penelitian : Nilai Penting Sumberdaya Air Karst sebagai Pertimbangan Zonasi Taman Nasional Nama NRP Departemen Fakultas : : : : Iska Gushilman E34052984 Konservasi Sumberdaya Hutan dan Ekowisata Kehutanan

Menyetujui, Komisi Pembimbing Ketua Anggota

Dr. Ir. Arzyana Sunkar, M.Sc NIP. 19710215 199512 2 001

Dr. Rachman Kurniawan, S.Si, M.Si NIP. 19700120 199903 1 001

Mengetahui Ketua Departemen Konservasi Sumberdaya Hutan dan Ekowisata

Prof. Dr. Ir. Sambas Basuni, MS. NIP. 19580915 198803 1 003

Tanggal Pengesahan :

i

DAFTAR ISI
Halaman DAFTAR ISI ........................................................................................ i DAFTAR GAMBAR ............................................................................ DAFTAR TABEL ................................................................................ 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang ............................................................................ 1.2 Perumusan Masalah ..................................................................... 1.3 Tujuan Penelitian ......................................................................... 1.4 Manfaat Penelitian ....................................................................... 2 KONDISI UMUM 2.1 Letak dan Luas ............................................................................ 2.2 Kondisi Fisik ............................................................................... 2.3 Biologi dan Ekologi ..................................................................... 2.4 Kondisi Masyarakat ...................................................................... 3 TINJAUAN PUSTAKA 3.1 Taman Nasional ........................................................................... 3.2 Pengelolaan Taman Nasional ....................................................... 3.3 Hubungan Masyarakat dengan Taman Nasional ........................... 3.4 Karst ............................................................................................ 3.5 Sistem Pergoaan .......................................................................... 3.6 Potensi Sumberdaya Air Kawasan Karst ...................................... 3.7 Ancaman Terhadap Karst ............................................................ 3.8 Pengelolaan Kawasan Karst ......................................................... 4 METODE PENELITIAN 4.1 Lokasi dan Waktu Penelitian ....................................................... 4.2 Bahan dan Alat ............................................................................ 4.3 Jenis Data .................................................................................... 4.4 Metode Pengambilan Data ........................................................... 4.5 Analisis Data ............................................................................... RENCANA KERJA DAN TATA WAKTU PENELITIAN ............... DAFTAR PUSTAKA 24 24 25 26 28 31 13 14 16 17 18 19 21 21 8 9 10 12 1 5 6 7 ii iii

ii

DAFTAR GAMBAR
Halaman 1 Karakteristik sebuah bentang alam karst ............................................. 2 Letak Taman Nasional Manupeu Tanahdaru ...................................... 3 Perbedaan porositas di daerah non-karst dan karst ............................. 4 Daerah tangkapan air karst ................................................................ 5 Batas kawasan Taman Nasional Manupeu Tanahdaru ........................ 6 Teknik pengolahan data spasial ......................................................... 3 8 18 20 24 29

iii

DAFTAR TABEL
Halaman 1 Karakteristik aliran akuifer karst ........................................................ 2 Jenis data yang diperlukan ................................................................. 3 Rencana kerja dan tata waktu ............................................................ 19 25 31

iv

I. PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang Taman nasional adalah kawasan pelestarian alam yang memiliki ekosistem yang masih asli, dikelola dengan sistem zonasi dan dimanfaatkan untuk tujuan penelitian, ilmu pengetahuan, pendidikan, menunjang budidaya, pariwisata, dan rekreasi (Dephut 1990). Taman nasional berfungsi sebagai wilayah perlindungan sistem penyangga kehidupan, pengawetan keanekaragaman spesies tumbuhan atau satwa dan pemanfaatan lestari sumberdaya alam hayati beserta ekosistemnya. Menurut Soekmadi (2003) paradigma baru pengelolaan kawasan konservasi dititikberatkan pada pertimbangan aspek manfaat dan akomodasi kepentingan lokal. Oleh karenanya, sebuah taman nasional dikelola sesuai dengan potensi dan karakteristik sumberdaya alamnya untuk kepentingan perlindungan dan pelestarian serta pemanfaatan guna memenuhi kebutuhan manusia secara lestari (Purnama 2005). Sistem pengelolaan ini dikenal dengan istilah sistem zonasi. Sistem zonasi menurut Peraturan Menteri Kehutanan (Permenhut) P.56/Menhut-II/2006 mensyaratkan kawasan taman nasional sekurang-kurangnya terdiri dari zona inti, rimba, dan pemanfaatan. Sesuai dengan penjelasan dalam Permenhut ini, jika dilihat dari kriteria penetapan setiap zona terutama zona-zona yang mutlak merupakan zona perlindungan seperti zona inti dan rimba, maka aspek potensi sumberdaya alam hayati merupakan bahan pertimbangan penetapannya. Sedangkan kesejahteraan masyarakat sekitar kawasan tidak sedikit yang ditentukan oleh keberadaan jasa lingkungan kawasan tersebut. Salah satu jasa lingkungan yang penting dari taman nasional adalah sebagai penyedia sumberdaya air yang merupakan sumberdaya alam non-hayati yang mutlak diperlukan bagi kehidupan manusia. Pada kebudayaan primitif, air hanya dapat memuaskan sedikit kebutuhan yang sangat penting seperti untuk kebutuhan rumah tangga dan pertanian, namun pada dunia yang jauh lebih kontemporer penggunaannya lebih banyak untuk kebutuhan industri, pertanian yang bermekanisasi dan kemudahan bagi manusia (Lee 1988). Beberapa kawasan taman nasional telah terbukti merupakan daerah tangkapan air yang dapat menyediakan air pada musim hujan dan kemarau. Pemanfaatan sumberdaya air di taman nasional tidak hanya untuk memenuhi

2

kebutuhan masyarakat sekitar kawasan tetapi juga menjadi sumberdaya yang dimanfaatkan oleh masyarakat yang berlokasi agak jauh dari kawasan. Menurut IUCN (2008), masyarakat Jakarta memenuhi kebutuhan air bersihnya dari Taman Nasional Gunung Gede Pangrango yang berada di kabupaten Bogor dan Cianjur. Selain manfaat bagi masyarakat Jakarta, mata air dan sungai bagian hulunya telah dikelola oleh perusahaan air minum untuk memenuhi kebutuhan masyarakat Sukabumi, Cianjur, dan Bogor (Widarti 1995). Contoh lain manfaat hidrologis taman nasional juga dapat dirasakan oleh Taman Nasional Gunung Halimun Salak yang menurut Herlianto (2005) sumberdaya airnya mengalir sepanjang tahun dengan debit yang relatif tetap melalui aliran permukaan dan bawah tanah. Tingginya potensi air taman nasional memberikan peluang untuk dimanfaatkan dalam memenuhi kebutuhan masyarakat. Namun sayangnya belum ada sistem zonasi taman nasional yang didasarkan kepada nilai penting hidrologi kawasannya. Salah satu bentang alam yang memiliki nilai hidrologi sebagai penyedia sumberdaya air adalah kawasan karst. Menurut Ford dan Williams (2007) karst merupakan wilayah dengan hidrologi khusus dan terbentuk dari kombinasi tingginya pelarutan batuan dengan porositas yang berkembang baik. Istilah karst diperuntukan bagi suatu kawasan yang memiliki karakteristik relief serta drainase yang khas dan berkembang secara khusus pada batuan karbonat (Gambar 1). Kekhasan ekosistem karst sangat dipengaruhi oleh keberadaan dua komponen lingkungannya, yaitu eksokarst dan endokarst. Eksokarst ditandai dengan dataran yang luas, bukit-bukit dan cekungan di atas permukaan tanah, sedangkan endokarst merupakan sebuah ekosistem di bawah permukaan tanah berupa celah-rekah dan lorong bawah tanah. Kawasan karst mendapat input air dari infiltrasi dalam tanah dan aliran permukaan yang mengalir langsung ke dalam endokarst. Sistem permukaan dan bawah tanah kawasan karst menyatu melalui sistem drainase bawah tanah. Air karst akan mengalir melewati celah-rekah dan lorong bawah tanah (goa) sebagai sumber mata air. Aliran bawah tanah seringkali sangat kompleks sehingga air yang berasal dari satu sumber bisa keluar pada beberapa mata air (Ford dan Williams 2007).

3

Sumber: http//web.viu.ca (dimodifikasi)

Gambar 1 Karakteristik sebuah bentang alam karst. Tidak heran jika kawasan karst merupakan tanki air tawar raksasa yang selayaknya dimanfaatkan untuk pemenuhan kebutuhan hidup manusia. Secara global, mata air terbesar di dunia ini merupakan mata air karst (Jennings 1985, diacu dalam Sunkar 2009). Di Indonesia, kawasan Karst Maros-Pangkep di Sulawesi Selatan merupakan tanki air raksasa yang mampu menyalurkan air tawar untuk kesejahteraan masyarakatnya. Terbukti bahwa Maros merupakan salah satu wilayah penghasil beras yang cukup besar, dimana keberadaannya sangat tergantung kepada ketersedian air tawar. Mata air Manavgat di kawasan karst di Turki memiliki debit sebesar 150-130 m3/dtk dan merupakan mata air terbesar di dunia. Air dari Fore-Alps di Itali, dengan debit sebesar 40 m3/dtk, merupakan sumberdaya air yang penting dan menggambarkan salah satu sumberdaya yang masih alami (Sauro 1993, diacu dalam Sunkar 2009). Mata air Chingsui, salah satu mata air karst terbesar di Cina memiliki debit rata-rata 33 m3/dtk. Salah satu mata air yang terkenal di wilayah Eropa dijumpai di wilayah karst, tepatnya di

4

Timavo, dengan debit rata-rata 26,25 m3/dtk (Jennings 1971, diacu dalam Sunkar 2009), sementara mata air Silver dan Blue yang merupakan terbesar di Florida, memiliki debit sebesar 14-15 m3/dtk. Bahkan, kota-kota besar di Austria seperti Wina dan Salzburg, sangat tergantung pada air karst, demikian halnya dengan kota Paris dan London yang sebagian besar airnya berasal dari air karst. Di Indonesia, batugamping berada pada urutan ketiga sebagai formasi batuan yang dapat menyimpan air setelah batuan volkanik serta alluvial (Soetrisno 1997, diacu dalam Sunkar 2009). Beberapa kawasan karst yang memiliki potensi sumberdaya air yang cukup besar telah ditetapkan sebagai kawasan taman nasional dan menjadi warisan dunia (world heritage). Menurut Williams (2008) kawasan karst Taman Nasional Kahurangi di Selandia Baru adalah salah satu warisan dunia yang memiliki potensi aliran air bawah tanah. Potensi air tersebut mampu memberikan kontribusi yang luar biasa dalam memenuhi kebutuhan masyarakat akan sumberdaya air. Contoh lain adalah adalah Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung yang merupakan daerah tangkapan air bagi sungai-sungai penting di Sulawesi Selatan yang hampir setengah wilayahnya merupakan bagian dari kawasan Karst MarosPangkep (Asrianny 2006). Walaupun nilai penting kawasan karst sudah semakin diakui oleh Pemerintah Indonesia, terbukti dengan dimasukkannya karst dalam Undang Undang No. 26/2007 tentang Penataan Ruang dan Undang Undang No. 32/2009 tentang Lingkungan Hidup serta Peraturan Pemerintah No. 26/2008 tentang Rencana Tata Ruang Wilayah Nasional, namun belum ada satupun kawasan taman nasional yang memiliki bentang alam karst membagi zonasinya berdasarkan fungsi serta keberadaan karst. Zonasi yang ada lebih merujuk pada ekosistem permukaan dan mengabaikan komponen lingkungan karst yang penting untuk penampung cadangan air. Menurut Sunkar (2007) keberadaan kawasan karst seharusnya menjadi perhatian karena istilah keanekaragaman geologi (geodiversity) sejajar dengan keanekaragaman hayati (biodiversity). Oleh karena itu, diperlukan pertimbangan-pertimbangan dalam penyusunan zonasi di taman nasional karst yang mengacu pada keberadaan karst terutama fungsinya yang ditujukan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

5

Taman nasional yang memiliki bentang alam karst yang cukup luas dan sedang dalam tahap penyusunan zonasi adalah Taman Nasional Manupeu Tanahdaru. Oleh karena itu, penelitian ini diharapkan mampu memberikan gambaran tentang keberadaan sumberdaya air kawasan karst di Taman Nasional Manupeu Tanahdaru, yang dapat digunakan sebagai bahan pertimbangan dalam penyusunan zonasi kawasan dan dikelola untuk kesejahteraan masyarakat. Terpenuhinya kebutuhan air masyarakat akan meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap pentingnya keberadaan taman nasional sehingga dalam usaha perlindungannya akan lebih mudah. 1.2 Perumusan Masalah Penerapan sistem zonasi untuk pengelolaan taman nasional belum mengakomodir seluruh kriteria penetapan zonasi yang telah diatur pemerintah. Penentuan zonasi suatu taman nasional hanya mempertimbangkan aspek keanekaragaman hayati, terutama untuk zona-zona yang mutlak sebagai wilayah perlindungan seperti zona inti dan rimba. Sebagai contoh kawasan Taman Nasional Bali Barat, penetapan zona intinya bertujuan untuk melindungi kawasan hutan yang menjadi habitat curik bali. Contoh lain adalah zona inti dan rimba di Taman Nasional Ujung Kulon yang penyusunannya didasarkan pada keberadaan spesies badak. Zonasi yang ada membatasi masyarakat untuk mendapatkan manfaat dari taman nasional. Seperti halnya di Taman Nasional Tesso Nilo, masyarakat harus kehilangan sumber pendapatan dari pemanenan madu akibat wilayah yang merupakan habitat gajah ditetapkan sebagai zona inti. Kondisi ini bertolak belakang dengan tujuan pengelolaan taman nasional dengan sistem zonasi. Seharusnya, pengelolaan yang dilakukan dapat memberikan manfaat bagi masyarakat. Sumberdaya air merupakan salah satu manfaat kawasan karst yang dapat dinikmati masyarakat dan perlu dikelola agar terjaga kelestariannya. Menurut Kurniawan (2010) pengelolaan kawasan karst sebagai kawasan konservasi menjadi salah satu pilihan sebagian besar masyarakat. Namun, pengelolaan kawasan karst membutuhkan rancangan khusus yang berbeda dari pengelolaan taman nasional pada umumnya. Bentuk pengelolaan tersebut belum dapat disusun

6

sebagai pertimbangan zonasi taman nasional karena minimnya informasi dan belum diketahuinya: 1. Luasan kawasan karst taman nasional secara pasti. Rancangan pengelolaan dapat disusun dengan memperjelas batas-batas kawasan karst yang terdapat di wilayah taman nasional. Batasan yang jelas mempermudah pengelola untuk membagi peruntukan wilayah karst tersebut. 2. Lokasi sungai hilang dan sumber mata air. Potensi sumberdaya air merupakan pertimbangan utama dalam

mengelompokkan kawasan karst sehingga perlu adanya informasi mengenai sumber mata air dan daerah tangkapannya. Pengelompokan kawasan karst secara tepat dapat memberikan jaminan terhadap kelestarian dan pemanfaatannya. 3. Pemanfaatan air oleh masyarakat di dalam dan sekitar kawasan. Bentuk pemanfaatan dapat memberikan gambaran tingkat kebutuhan air masyarakat sehingga dapat disusun pengelolaan yang berbasiskan masyarakat. Manfaat yang diperoleh masyarakat akan membantu pengelola dalam melindungi kawasan taman nasional. 1.3 Tujuan Penelitian Tujuan utama dari penelitian ini adalah untuk memetakan sumberdaya air karst dan membuat rekomendasi fungsi hidrologi kawasan karst yang terdapat di dalam Taman Nasional Manupeu Tanahdaru (TNMT) sebagai bahan

pertimbangan penyusunan zonasi. Untuk mencapai tujuan ini, maka tujuan-tujuan khusus dalam penelitian ini adalah: 1. Menentukan luas kawasan karst yang terdapat di dalam kawasan TNMT. 2. Mengidentifikasi lokasi sungai hilang dan sumber mata air kawasan karst di dalam kawasan TNMT. 3. Mengetahui pemanfaatan air oleh masyarakat di dalam dan sekitar TNMT. 4. Membuat peta pengelolaan kawasan karst TNMT

7

1.4 Manfaat Penelitian 1.4.1 Manfaat Konservasi 1. Menghasilkan data dan informasi tentang potensi sumberdaya air di taman nasional. 2. Meningkatkan pemahaman masyarakat tentang manfaat taman nasional. 3. Meningkatkan peran serta masyarakat dan perguruan tinggi dalam melestarikan potensi taman nasional. 4. Meningkatkan upaya pelestarian kawasan karst serta pemeliharaan fungsifungsinya. 1.4.2 Manfaat dalam Manajemen Kawasan Penelitian ini diharapkan mampu memberikan pedoman pengelolaan kawasan konservasi yang wilayahnya memiliki bentang alam karst. 1.4.3 Manfaat bagi Masyarakat Penyusunan rencana pengelolaan yang mempertimbangkan sumberdaya air kawasan karst dapat memberikan jaminan terhadap pemenuhan kebutuhan air masyarakat.

II. KONDISI UMUM
2.1 Letak dan Luas Taman Nasional Manupeu Tanahdaru secara geografi terletak pada 119º27’119º55’ BT dan 09º29`-09º54` LS sedangkan secara administratif terletak di 3 kabupaten yaitu: Sumba Timur, Sumba Tengah, dan Sumba Barat (Gambar 2). Kawasan Taman Nasional Manupeu Tanahdaru dikelilingi oleh 22 desa yang terbagi ke dalam 7 kecamatan yaitu: Kecamatan Loli, Wanokaka, Waikabukak (Kabupaten Sumba Barat), Umbu Ratu Nggay, Umbu Ratu Nggay Barat, Katikutana (Kabupaten Sumba Tengah), dan Lewa (Kabupaten Sumba Timur) (Wello 2008).
BATAS ADMINISTRATIF
TAMAN NASIONAL MANAPEU TANAHDARU SUMBA NUSA TENGGARA TIMUR

Pulau Sumba

Sumber: Himakova (2010).

Gambar 2 Letak Taman Nasional Manupeu Tanahdaru. Menurut Purnama (2005) batas kawasan Taman Nasional Manupeu Tanahdaru meliputi: 1. Sebelah timur mengarah ke utara, yaitu wilayah Kecamatan Lewa. 2. Sebelah barat mengarah ke selatan, yaitu wilayah Kota Waikabubak, Kecamatan Loli dan Wanokaka. 3. Sebelah selatan, yaitu mengikuti garis pantai Samudera Hindia.

9

4. Sebelah utara mengarah ke barat, yaitu wilayah Kecamatan Umbu Ratunggay dan Kakikutana. Kawasan Taman Nasional Manupeu Tanahdaru ditetapkan melalui Keputusan Menteri Kehutanan dan Perkebunan No. 576/Kpts-II/1998 dengan luas wilayah 87.984,09 ha. Kawasan yang ditetapkan merupakan penggabungan kawasan Hutan Lindung Manupeu (9.500 ha), Cagar Alam Langaliru (24.200 ha), Hutan Lindung Tanahdaru-Paramamongutidas (43.750 ha), dan Hutan Produksi Terbatas Praingpalinda-Tanahdaru (10.534 ha) (Dephutbun 1998a). 2.2 Kondisi Fisik 2.2.1 Geologi dan Tanah Pulau-pulau di Nusa Tenggara memiliki geologi yang seragam yaitu tersusun atas batuan vulkanik. Kondisi ini berbeda dengan Pulau Sumba yang dikategorikan sebagai kawasan karst karena penyusun utama wilayahnya adalah batu gamping atau kapur yang menjadi ciri khas kawasan karst (Purnama 2005). Taman Nasional Manupeu Tanahdaru mempunyai bentuk lahan yang bervariasi mulai dari dataran aluvial atau dataran banjir dekat meander sungai hingga daerah gunung. Batuan penyusunnya secara umum didominasi oleh alluvium, gamping, pasir, lempung, konglomerat, tuff, dan granit. Batuan tersebut tersebar di seluruh taman nasional berdasarkan bentuk lahan dan kelerengan dari daerah dataran hingga daerah pegunungan (Dephut 2007). Tanah di Pulau Sumba terdiri dari jenis tanah mediteran dengan bentuk wilayah pegunungan lipatan dan dataran, wilayah volkan, dan latosol dengan bentuk wilayah plato atau volkan dan grumosol dengan bentuk wilayah pelembaban. Tanah mediteran merupakan jenis tanah yang paling luas penyebarannya, yaitu terletak di bagian Pulau Sumba memanjang dari barat ke timur (Deptan 2006). Berdasarkan Peta Tanah Eksplorasi Provinsi Nusa Tenggara Timur dan Timor Timur, kawasan Taman Nasional Manupeu Tanahdaru didominasi oleh jenis tanah renzina, litosol, podsolik, kambisol, dan mediteran (Purnama 2005). 2.2.2 Topografi Kawasan Manupeu merupakan dataran perbukitan yang cukup curam dengan topografi berkisar antara 5%-60% (Wiranansyah 2005). Karakteristik

10

topografi kawasan Taman Nasional Manupeu Tanahdaru yang kasar dan bergelombang tergolong daerah pegunungan dengan ketinggian yang terlihat sama memiliki kemiringan 2% hingga kemiringan 40%-60% yang terbentang dari permukaan laut. Topografi datar antara lain terdapat di Anakalang, Waikabukak, Waikoko, dan Lewa yang merupakan dataran tinggi sedangkan dataran rendah terdapat sepanjang pantai antara lain di lokasi Rambangoan, Tanah Linghu, Ngallu, dan Binong (Vahlevi et al. 2006). Daerah pegunungan membentang pada lokasi tengah kawasan dari utara sampai pantai selatan dan pada wilayah Tanahdaru. 2.2.3 Iklim Pulau Sumba memiliki tipe iklim kering yang terutama dipengaruhi oleh angin musim yang masing-masing bertiup dari daratan Asia (selama lebih kurang 3 bulan) yang membawa uap air tinggi dan Australia (selama lebih kurang 9 bulan) yang membawa uap air rendah (Wello 2008). Menurut klasifikasi Schmidt dan Ferguson, iklim di kawasan TNMT termasuk tipe iklim E (agak kering) di bagian selatan, tipe iklim D (sedang) di bagian utara, dan tipe iklim C (agak basah) di bagian timur laut. Curah hujan rata-rata 500-2000 mm. Rata-rata hujan pada bulan basah adalah 400 mm sedangkan pada bulan kering adalah 18 mm (Purnama 2005). 2.2.4 Hidrologi Taman Nasional Manupeu Tanahdaru merupakan daerah resapan air utama yang dialirkan untuk memenuhi kebutuhan air bersih dan pengairan lahan pertanian (Purnama 2005). Suplai air diperoleh dari mata air dan sungai yang terdapat dan berhulu di kawasan taman nasional ini. Menurut Monk et al. (2000) mata air menjadi sumber air utama untuk pemenuhan kebutuhan masyarakat. Aliran air bawah tanah yang keluar sebagai mata air melewati goa-goa yang terdapat di dalam kawasan. 2.3 Biologi dan Ekologi Tipe ekosistem dominan di kawasan Taman Nasional Manupeu Tanahdaru adalah hutan musim dengan iklim sangat kering (Purnama 2005). Kawasan Taman Nasional Manupeu Tanahdaru memiliki tipe vegetasi yang merupakan semua

11

perwakilan tipe hutan mulai dari hutan bakau (mangrove), hutan pantai hingga hutan hujan tropika kering dan hutan semi awet hijau di dataran rendah. Menurut Banilodu dan Saka (1993), diacu dalam Purnama (2005) tipe hutan di Pulau Sumba terbagi atas: 1. Hutan awet hijau atau hutan hujan di daerah dengan kelembaban lebih tinggi pada 700 mdpl. 2. Hutan musim awet hijau disepanjang daerah aliran sungai dan dataran rendah. 3. Hutan semi awet hijau atau hutan musim semi peluruh daun di daerah perbukitan dengan kelembaban rendah. 4. Hutan elfin, hutan yang banyak ditumbuhi herba dan berlumut serta memiliki pohon-pohon yang rapat dan bertajuk rendah (tinggi berkisar 8-20 meter). 5. Hutan semak berduri dipetak-petak pantai di bagian timur. 6. Hutan bakau di mulut-mulut sungai disepanjang pantai utara. Taman Nasional Manupeu Tanahdaru memiliki keanekaragaman jenis flora yang bernilai tinggi yaitu sekitar 118 jenis tumbuhan, antara lain Suren (Toona sureni), Taduk (Sterculia foetida), Kesambi (Schleichera oleosa), Pulai (Alstonia scholaris), Asam (Tamarindus indica), Kemiri (Aleurites moluccana), Jambu hutan (Syzygium sp.), Cemara gunung (Casuarina sp.), dan Lantana (Lantana camara) (Dephut 2007). Hutan primer mencakup areal perbukitan dengan beberapa spesies antara lain Ficus septica, Casuarium oleosum, dan Palaqium obovatum. Jenis vegetasi hutan sekunder antara lain Ficus septica, Casuarium oleosum, Lagerstroemia sp, dan Toona sureni, Merr (Dephut 2007). Satwa liar yang dapat dijumpai di Taman Nasional Manupeu Tanahdaru adalah Rusa timor (Cervus timorensis), Babi hutan (Sus vitatus), Biawak (Varanus salvator), dan Ayam hutan (Gallus varius). Menurut Purnama (2005) jenis burung endemiknya adalah Sesap madu (Nectaria buettikoferi), Pungguk wengi (Ninox rudolfi), Pungguk wengi sumba (Ninox sumbaensis), Sikatan sumba (Ficedula harterti), Punai sumba (Treron teysmanii), Walik rawamamu (Ptiliopus dohertyi), Gemak sumba (Turnix everetii), dan Julang Sumba (Aceros everetii). Selain itu juga bisa ditemui tujuh jenis kupu-kupu endemik Pulau Sumba yaitu Papilio neumoegenii, Ideopsis oberthurii, Delias fasciata, Junonia adulatrix, Athyma karita, Sumalia chilo, dan Elimnia amoena.

12

2.4 Kondisi Masyarakat 2.4.1 Kependudukan Kehidupan masyarakat di sekitar Taman Nasional Manupeu Tanahdaru tergolong miskin dengan tingkat ketergantungan terhadap hutan sangat tinggi. Kawasan hutan dimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhan hidup dan sumber pendapatan masyarakat, seperti memperoleh kayu bakar, bahan bangunan, obatobatan dan bahan pangan. Keberadaan lahan sangat dibutuhkan masyarakat untuk kegiatan pertanian dan penggembalaan ternak. Membakar padang rumput adalah kebiasaan masyarakat di sekitar Taman Nasional Manupeu Tanahdaru. Menurut Purnama (2005) tujuan utama pembakaran padang rumput pada musim kemarau adalah untuk menyiapkan lahan bercocok tanam dan memenuhi kebutuhan pakan ternak gembalaannya. Kebiasaan ini sudah membudidaya, sehingga sangat sulit untuk dihentikan (Wello 2008). Secara umum masyarakat di sekitar kawasan ini hanya berpendidikan sampai Sekolah Dasar dan sangat sedikit sekali yang melanjutkan kejenjang yang lebih tinggi. Pengaruh utamanya adalah kemampuan ekonomi orang tua dan animo anak yang rendah (Purnama 2005). Selain itu, lokasi pemukiman yang saling berjauhan dan memiliki medan yang cukup berat menjadi kendala untuk menyekolahkan anaknya (Wello 2008). 2.4.2 Kepercayaan Kepercayaan asli masyarakat sumba adalah “marapu”. Marapu merupakan suatu konsep tentang adanya Tuhan Yang Maha Kuasa, yang menciptakan langit dan bumi serta menjadi suatu kekuatan gaib yang melebihi kekuatan manusia serta tidak disebutkan namanya secara sembarangan. Pada dasarnya kepercayaan marapu mengutamakan keselarasan hubungan antara Tuhan dan manusia serta dengan alam. Keselarasan hubungan tersebut diwujudkan dalam aturan-aturan marapu yang mewajibkan penganutnya melakukan berbagai upacara untuk memuja Sang Khalik sebagai bentuk ucapan syukur, seperti: ritual sebelum dan sesudah panen dengan membawa persembahan (Wello 2008).

III. TINJAUAN PUSTAKA
3.1 Taman Nasional Taman nasional merupakan suatu kawasan lindung yang luas dan alami atau mendekati alami, dibentuk untuk melindungi proses-proses ekologi dalam skala yang luas, termasuk spesies dan karakteristik ekosistem pada area tersebut, yang juga menyediakan kebutuhan bagi spiritual, ilmu pengetahuan, pendidikan, rekreasi, dan kesempatan pengunjung yang selaras dengan alam dan budaya (IUCN 2008). Taman nasional berfungsi sebagai wilayah perlindungan sistem penyangga kehidupan, pengawetan keanekaragaman spesies tumbuhan atau satwa dan pemanfaatan lestari sumberdaya alam hayati beserta ekosistemnya (Dephut 1990; Dephutbun 1998b). Fungsi taman nasional menurut strategi konservasi dunia (IUCN 1991) adalah perlindungan proses-proses ekologi, sistem penyangga kehidupan, keanekaragaman genetik, tipe ekosistem, dan pemanfaatan spesies atau ekosistem secara lestari. Kawasan taman nasional memiliki ciri-ciri keaslian sumberdaya dan keanekaragaman ekosistem yang khas karena tumbuhan, fauna, geomorfologi, budaya, nilai-nilai keindahan yang merupakan warisan kekayaan nasional atau internasional (Basuni 1987). Taman nasional ditunjuk pada wilayah hutan yang luas untuk konservasi flora dan fauna serta keindahan alamnya (Gregory et al. 1979). Penetapan taman nasional bertujuan untuk melindungi kawasan alami dan berpemandangan indah yang penting, secara nasional atau internasional serta memiliki nilai bagi pemanfaatan ilmiah, pendidikan, dan rekreasi (IUCN 1994). Penunjukan suatu kawasan sebagai kawasan taman nasional harus memenuhi kriteria sebagai berikut (Dephutbun 1998b): 1. Memiliki luasan yang cukup untuk menjamin kelangsungan proses ekologi. 2. Memiliki sumberdaya alam yang khas dan unik, berupa spesies tumbuhan, satwa dan ekosistemnya serta gejala alam yang masih utuh dan alami. 3. Memiliki satu atau beberapa ekosistem yang masih utuh. 4. Memiliki keadaan alam yang asli dan alami untuk pengembangan wisata alam 5. Kawasannya dapat dibagi kedalam sistem zonasi.

14

3.2 Pengelolaan Taman Nasional Konsep pengelolaan taman nasional adalah berwawasan lingkungan, berorientasi pada kekhasan sumberdaya dan pemakai dan berorientasi pada pembangunan wilayah, wisata ilmiah serta pendidikan (Basuni 1987). Kawasan taman nasional dikelola berdasarkan rencana pengelolaan yang disusun menurut kajian aspek-aspek ekologi, teknis, ekonomis, dan sosial budaya. Rencana pengelolaan taman nasional sekurang-kurangnya memuat tujuan pengelolaan dan garis-garis besar kegiatan yang menunjang upaya perlindungan, pengawetan, dan pemanfaatan kawasan. Pengelolaan taman nasional dilakukan dengan sistem zonasi. Zonasi adalah pembagian kawasan lindung dan budaya sesuai dengan potensi dan karakteristik sumberdaya alam untuk kepentingan perlindungan dan pelestarian serta pemanfaatan guna memenuhi kebutuhan manusia secara lestari (Purnama 2005). Menurut Purnama (2005) manfaat pengelolaan dengan sistem zonasi adalah: 1. Menjamin kelestarian keterwakilan atau kerentanan habitat dengan manajemen yang tepat. 2. Memisahkan konflik kepentingan manusia dengan lingkungan. 3. Melindungi sumberdaya alam dan budaya tanpa menghalangi pemanfatan secara rasional. 4. Memungkinkan areal yang rusak untuk pemulihan. Sistem zonasi mensyaratkan kawasan taman nasional sekurang-kurangnya terdiri dari zona inti, zona rimba, dan zona pemanfaatan. Menurut Peraturan Menteri Kehutanan Nomor P.56/Menhut-II/2006 tentang pedoman zonasi taman nasional, kriteria penetapannya adalah: 1. Kriteria zona inti a. Bagian taman nasional yang mempunyai keanekaragaman jenis tumbuhan dan satwa beserta ekosistemnya. b. Mewakili formasi biota tertentu dan atau unit-unit penyusunnya yang merupakan ciri khas ekosistem dalam kawasan taman nasional yang kondisi fisiknya masih asli dan belum diganggu oleh manusia. c. Mempunyai kondisi alam, baik biota maupun fisiknya yang masih asli dan tidak atau belum diganggu manusia.

15

d. Mempunyai luasan yang cukup dan bentuk tertentu yang cukup untuk menjamin kelangsungan hidup jenis-jenis tertentu untuk menunjang pengelolaan yang efektif dan menjamin berlangsungnya proses ekologis secara alami. e. Mempunyai ciri khas potensinya dan dapat merupakan contoh yang keberadaannya memerlukan upaya konservasi. f. Mempunyai komunitas tumbuhan dan atau satwa liar beserta ekosistemnya yang langka yang keberadaannya terancam punah. g. Merupakan habitat satwa dan atau tumbuhan tertentu yang prioritas dan khas atau endemik. h. Merupakan tempat aktivitas satwa migran. 2. Kriteria zona rimba a. Kawasan yang merupakan habitat atau daerah jelajah untuk melindungi dan mendukung upaya perkembangbiakan dari jenis satwa liar. b. Memiliki ekosistem dan atau keanekaragaman jenis yang mampu menyangga pelestarian zona inti dan zona pemanfaatan. c. Merupakan tempat kehidupan bagi jenis satwa migran. 3. Kriteria zona pemanfaatan a. Mempunyai daya tarik alam berupa tumbuhan, satwa atau berupa formasi ekosistem tertentu serta formasi geologinya yang indah dan unik. b. Mempunyai luasan yang cukup untuk menjamin kelestarian potensi dan daya tarik untuk dimanfaatkan bagi pariwisata dan rekreasi alam. c. Kondisi lingkungan yang mendukung pemanfaatan jasa lingkungan, pengembangan pariwisata alam, penelitian, dan pendidikan. d. Merupakan wilayah yang memungkinkan dibangunnya sarana prasarana bagi kegiatan pemanfaatan jasa lingkungan, pariwisata alam, rekreasi, penelitian, dan pendidikan. e. Tidak berbatasan langsung dengan zona inti. Penataan zonasi dilaksanakan agar terwujud sistem pengelolaan taman nasional yang efektif dan optimal sesuai dengan fungsinya. Menurut Peraturan Menteri Kehutanan No. P.56/Menhut-II/2006 tentang pedoman zonasi taman nasional, fungsi masing-masing zona adalah sebagai berikut:

16

1. Zona inti Perlindungan ekosistem, pengawetan flora dan fauna khas beserta habitatnya yang peka terhadap gangguan dan perubahan, sumber plasma nutfah dari jenis tumbuhan, dan satwa liar, untuk kepentingan penelitian dan pengembangan ilmu pengetahuan, pendidikan, penunjang budidaya. 2. Zona rimba Kegiatan pengawetan dan pemanfaatan sumberdaya alam dan lingkungan alam bagi kepentingan penelitian, pendidikan konservasi, wisata terbatas, habitat satwa migran, dan menunjang budidaya serta mendukung zona inti. 3. Zona pemanfaatan Pengembangan pariwisata alam dan rekreasi, jasa lingkungan, pendidikan, penelitian dan pengembangan yang menunjang pemanfaatan, kegiatan penunjang budidaya. 3.3 Hubungan Masyarakat dengan Taman Nasional Keberhasilan pengelolaan taman nasional sangat dipengaruhi oleh kondisi masyarakat di sekitar kawasan. Masyarakat memanfaatkan potensi taman nasional untuk memenuhi sebahagian kebutuhan hidupnya. Kegiatan masyarakat di sekitar kawasan hutan adalah budidaya pertanian, mencari kayu bakar, memetik hasil hutan non kayu dan pengembalaan ternak (Listyandari 2009). Interaksi masyarakat dengan kawasan akan menyebabkan gangguan terhadap ekosistem taman nasional. Menurut Soerianegara (1977) pendayagunaan sumberdaya alam oleh manusia akan menimbulkan perubahan ekosistem sehingga mempengaruhi sumberdaya alam lain beserta lingkungannya. Tekanan terhadap kawasan dapat berkurang dengan meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap pentingnya keberadaan taman nasional. Fungsi taman nasional tidak hanya sebagai kawasan yang dilindungi tetapi juga dapat dimanfaatkan secara lestari untuk kesejahteraan masyarakat. International Union for Conservation of Nature (2003) menggambarkan secara rinci tentang pergeseran paradigma pengelolaan kawasan konservasi yang menjadikan aspek manfaat dan kepentingan lokal sebagai titik berat pertimbangannya. Masyarakat yang mendapatkan manfaat dari keberadaan taman national akan memiliki

17

kepedulian terhadap kelestarian kawasan. Menurut Basuni (1987) semakin banyak keuntungan yang didapat maka semakin besar rasa memiliki dan tanggung jawab akan kewajiban untuk mengawetkan fenonema lingkungan taman nasional. Salah satu manfaat taman nasional adalah penyedia jasa air, dimana taman nasional berperan sebagai daerah tangkapan air (IUCN 2008). Ketersedian sumberdaya air menjadi kebutuhan utama seluruh masyarakat. Air dimanfaatkan untuk berbagai sektor kehidupan seperti: pertanian, industri, rumah tangga, dan infrastruktur (Ismanto 2005; Ekaprasetya 2008). Pada sebagian kawasan taman nasional dengan fungsi hidrologi, manfaat potensi sumberdaya airnya belum dapat dirasakan oleh masyarakat. Menurut HIMAKOVA (2010) masyarakat yang berada disekitar kawasan Taman Nasional Manupeu Tanahdaru masih mengalami kekurangan air pada saat musim kemarau, padahal kawasannya memiliki potensi sumberdaya air yang tinggi. 3.4 Karst Karst merupakan suatu bentang alam yang berkembang pada batuan mudah larut, yaitu batuan karbonat. Jenis batuan karbonat yang paling umum adalah CaCO3 (kalsit) yaitu komponen utama penyusun batu gamping. Selain kalsit, mineral karbonat pembentuk batuan adalah CaMg(CO3)2 (dolomit). Batuan karbonat akan mengalami proses karstifikasi dalam jangka waktu yang lama sehingga terbentuk kawasan karst. Menurut Sunkar (2007) karst berkembang dengan baik jika terdapat dalam bentuk batuan karbonat seperti batuan gamping dan dolomit, gypsum, meskipun tingkatan karstifikasinya berbeda. Karstifikasi adalah proses pelarutan dan peresapan air pada batuan karbonat sehingga membentuk bentang alam yang khas di permukaan dan sistem drainase di bawah permukaan (Field 2002). Pelarutan batuan terjadi secara kimia dan akan dipercepat oleh CO2 dari aktivitas biota serta pembusukan sisa-sisa tumbuhan atau humus yang berasal dari atmosfer diatas dan dibawah permukaan tanah. Reaksi antara CO2 dengan air hujan akan membentuk H2CO3 yang sifatnya sangat reaktif terhadap terhadap batu gamping (Samodra 2001). Proses pelarutan batuan yang terjadi sangat intensif dan lebih tinggi dari daerah lainnya. Menurut Sumardja (1999b) tingginya derajat pelarutan batuan karst mempengaruhi karakteristik relief dan drainase kawasan karst. Ciri-cirinya

18

adalah bentukan morfologi yang khas, baik eksokarst maupun endokarst. Topografi karst terdiri dari turunan dan rongga dengan saluran air bawah tanah dari sungai di permukaan (DoC 1999). Ciri lain topografi karst berupa goa, dinding bertebing tegak dengan retakan dan kumpulan perbukitan dengan tekstur kasar (Sumardja 1999a). Permukaan kawasan karst seringkali terlihat kering disebabkan oleh faktor batuan penyusunnya karst yang mudah dilewati dan diresapi air. Air merupakan faktor utama dalam pembentukan gejala eksokarst dan endokarst (Satrio 2005). Kawasan karst mendapatkan input air dari infiltrasi dalam tanah dan aliran permukaan yang mengalir langsung kedalam akuifer. Menurut Ko (2003b) akuifer merupakan sarana penampung dan penyalur air karst sepanjang tahun. 3.5 Sistem Pergoaan Perbedaan antara kawasan karst dengan kawasan bukan karst adalah terjadinya proses pelarutan pada kawasan karst yang mengakibatkan adanya sistem pergoaan dan aliran bawah tanah. Sistem pergoaan dapat diartikan sebagai jaringan yang saling berhubungan antara satu goa dengan goa lainnya dan masih dalam satu aliran air (Samodra 2001). Lorong goa yang terisi air akan membentuk sungai bawah tanah dan keberadaannya tidak terdistribusi merata sedangkan porositas pada kawasan bukan karst dapat dikatakan seragam kesegala arah (Gambar 3) (Adji 2006). Menurut Gillieson (1996), diacu dalam Adji (2006) lorong goa dan sungai bawah tanah disebut sebagai porositas lorong atau secara hidrogeologis dikenal dengan porositas sekunder.

Sumber: Adji (2006).

Gambar 3 Perbedaan porositas di daerah non-karst (kiri) dan karst (kanan).

19

Porositas di daerah karst menyebabkan sumber air dapat muncul dibanyak tempat dengan debit yang bervariasi. Porositas sekunder menyebabkan penduduk di daerah karst pada umumnya terkesan kesulitan untuk menemukan sumber air untuk mencukupi kehidupan mereka sehari-hari, padahal di bawah mereka sebenarnya terdapat sungai bawah tanah yang kadang kala debitnya bisa mencapai ribuan liter/detik (Adji 2006). Debit sungai bawah tanah sangat ditentukan oleh proses aliran masukan dan keluaran air di daerah karst. Menurut Domenico dan Schwartz (1990) diacu dalam Adji (2006) sifat aliran pada kawasan karst terbagi menjadi komponen aliran diffuse dan aliran conduit. Jenis aliran pada kawasan karst sangat ditentukan oleh karakteristik perkembangan lorong, kondisi topografi permukaan dan simpanan air didalam akuifer karst (Tabel 1). Tabel 1 Karakteristik aliran akuifer karst
Tipe aliran
Saluran (Conduit)

Karakteristik
1. Perpipaan (streamsink) 2. Sangat cepat dan sensitif terhadap hujan 1. Menyebar 2. Respon lambat terhadap hujan

Kondisi daerah tangkapan
Banyak luweng dengan sinkhole dan ponor

Simpanan
Rendah dan hanya pada saat musim hujan

Dasar (Diffuse)

1. Rekahan (Fracture) 2. Intergranular

Besar dan sepanjang tahun

Aliran conduit mengimbuh sungai bawah tanah melalui ponor yang ada di permukaan, melewati ronga-rongga besar dan mengalir cepat. Sedangkan aliran diffuse masuk ke sungai bawah tanah melalui proses infiltrasi yang terjadi secara perlahan-lahan melewati epikarst dan kemudian mengimbuh sungai bawah tanah berupa tetesan atau rembesan kecil. Contohnya adalah tetesan pada ornamen goa yang mengisi sungai bawah tanah. 3.6 Potensi Sumberdaya Air Kawasan Karst Aliran air yang mengalir melalui lorong-lorong goa dianggap sebagai aliran utama dan percabangannya mengalir pada retakan serta celah batuan. Aliran air yang ada akan keluar sebagai mata air dan dapat dimanfaatkan untuk berbagai keperluan. Data PBB menunjukkan sekitar 25% penduduk dunia memenuhi

20

kebutuhan airnya dari kawasan karst (Samodra 2001). Besarnya jumlah sumberdaya air yang dijumpai dibawah morfologi karst dianggap sebagai salah satu potensi utama kawasan karst. Potensi air kawasan karst dapat dikatakan baik apabila dapat memenuhi kebutuhan masyarakat sepanjang tahun. Potensi sungai bawah tanah akan aman selama aliran diffuse masih cukup mengisi sungai bawah tanah. Proses dan keberlangsungan sungai bawah tanah tergantung pada monitoring keberadaan aliran conduit dan perbandingannya dengan aliran diffuse sehingga terlihat penurunan atau peningkatan persentase aliran diffuse (Adji 2006). Jumlah air sangat dipengaruhi oleh daerah tangkapan air di kawasan karst, baik secara langsung maupun tidak langsung. Menurut Sunkar (2003) terdapat dua sumber air di kawasan karst, autogenic dimana air berasal dari hujan yang jatuh di permukaan wilayah karst dan allogenic dimana air berasal dari wilayah non-karst yang berbatasan langsung dengan wilayah karst. Oleh sebab itu, daerah tangkapan air sangat luas dan tidak hanya dibatasi oleh luas batu gampingnya tetapi juga oleh kawasan lain yang memiliki hubungan dengan kawasan karst (Gambar 4).

Sumber: http://iah.org (dimodifikasi)

Gambar 4 Daerah tangkapan air karst.

21

3.7 Ancaman terhadap Kawasan Karst Karst merupakan perpaduan sistem yang dinamis antara bentangan alam, kehidupan, energi, air, gas, tanah dan batuan (Watson et al. 1997). Sistem karst terdiri dari lapisan tanah, batuan, bentukan karst, sistem hidrologi, lapisan atmosfir serta flora dan fauna karst (Yuan 1988 diacu dalam Sunkar 2003). Gangguan terhadap salah satu sistem yang ada akan memberikan dampak terhadap keberlangsungan kawasan karst tersebut. Menurut Ko (2003a) keutuhan kawasan karst komponennya. Kerusakan kawasan sangat dipengaruhi oleh kegiatan manusia, baik secara langsung maupun tidak langsung. Fungsi dan kedudukan manusia di kawasan karst (man in karst) menjadi penting, karena manusia adalah pelaku utama dalam mengelola kawasan (Satrio 2005). Bentuk perusakan yang paling nyata adalah pertambangan, penggalian, pekerjaan pembangunan dan pencemaran. tergantung dari terpeliharanya interaksi dinamis antara

Pertambangan, penggalian dan pekerjaan pembangunan seringkali menimbulkan benturan dalam pemanfaatan lahan (Watson et al. 1997). Kawasan karst yang dimanfaatkan akan mengalami kerusakan secara total sehingga dapat

menghilangkan nilai-nilai strategis yang terdapat didalamnya. Pencemaran tidak berakibat langsung terhadap kawasan karst namun mempengaruhi kualitas sumberdaya air karst. Penurunan kualitas air disebabkan oleh adanya kerentanan alami yang terkait dengan sifat akuifer karst. Ciri-ciri akuifer karst yang harus diperhatikan adalah penutupan tanah, kondisi infiltrasi, epikarst dan perkembangan jaringan karst atau goa (Sunkar 2007). Tanah memiliki kemampuan menyerap bahan pencemar. Pada umumnya kawasan karst memiliki penutup tanah yang rendah dan lapisan tanah yang tipis, sehingga curah hujan bisa langsung terinfiltrasi langsung ke saluran bawah tanah (Sunkar 2003). Tipisnya lapisan tanah mengakibatkan kawasan karst sangat rentan terhadap pencemaran, karena ketebalan tanah berkaitan dengan lamanya penyerapan bahan pencemar di tanah. 3.8 Pengelolaan Kawasan Karst Karst merupakan salah satu bentang alam yang penting disebabkan oleh nilai strategis yang dimilikinya, seperti nilai ilmiah, nilai ekonomi, dan nilai

22

kemanusiaan yang cenderung unik (Samodra 2001). Keunikan dan potensi yang dimiliki kawasan karst menunjukkan bahwa kawasan karst perlu dipertimbangan dalam penetapan kawasan konservasi terutama taman nasional yang memiliki bentang alam karst. Beberapa pedoman yang dikeluarkan oleh WCPA (World Commission on Protected Areas) tentang pemilihan kawasan karst untuk lokasi kawasan lindung antara lain sebagai berikut (Haryono 2005): 1. Perencanaan yang efektif di kawasan karst menuntut pemahaman yang menyeluruh terhadap aspek ekonomis, ilmiah, dan nilai-nilai kemanusiaan dalam kaitannya dengan budaya dan politik setempat. 2. Perlindungan kawasan karst harus diprioritaskan pada daerah atau tempat yang mempunyai nilai alamiah, sosial dan budaya yang tinggi, memiliki gabungan nilai atau kekayaan penting dalam satu wilayah; sedikit mengalami kerusakan lingkungan; dan atau satu tipe yang tidak ada padanannya dalam sistem kawasan lindung di seluruh wilayah negara atau dalam zona biogeografinya. 3. Jika mungkin daerah lindung harus mencakup keseluruhan daerah tangkapan dari sistem drainase karst. 4. Jika hal tersebut tidak memungkinkan, kontrol yang ketat (total catchment management agreement) harus diterapkan. Namun demikian, sebahagian besar taman nasional ditetapkan berdasarkan aspek keanekaragam hayati (biodiversity) dan mengabaikan aspek keanekaragaman geologi (geodiversity). Menurut Sunkar (2006) istilah keanekaragam hayati (biodiversity) sejajar dengan keanekaragaman geologi (geodiversity) sehingga fokus pertimbangan kawasan konservasi harus diseimbangkan. Kerentanan sebuah kawasan karst memerlukan pertimbangan tersendiri dalam pengelolaannya dan seringkali diabaikan dalam sebuah kawasan konservasi, termasuk dalam penentuan ruang pemanfaatan sebuah taman nasional. Setiap taman nasional dikelola dengan sistem zonasi yang menurut MacKinnon J dan MacKinnon K (1986) merupakan alat yang paling umum bagi pengelolaan kawasan konservasi untuk memisahkan kawasan yang pemanfaatannya

bertentangan dan untuk pengelolaan kawasan dengan manfaat ganda. Tujuannya

23

adalah membagi kawasan konservasi kedalam unit-unit yang dapat dikelola, namun lebih terfokus pada pelestarian dan perlindungan ekosistem teresterial. Sistem zonasi umum sulit diterapkan untuk pengelolaan taman nasional yang memiliki wilayah karst karena dalam penetapan zonasi memerlukan kajian terhadap interaksi komponen endokarst dan eksokarst. Kerusakan salah satu komponen akan memberikan pengaruh terhadap komponen lainnya sehingga data dan informasi tentang komponen lingkungan karst harus dimiliki sebelum penetapan zonasi. Salah satu informasi yang harus ada adalah sistem hidrologi kawasan karst karena akan sangat berpengaruh pada penetapan zonasi di sumber air karst. Air yang penting untuk proses karstifikasi harus tetap dipertahankan. Selain itu, kawasan karst pada umumnya sangat peka terhadap gangguan dan perubahan (terutama goa) sehingga akan menjadi wilayah yang hanya dapat dikunjungi untuk tujuan tertentu menurut Peraturan Menteri Kehutanan No. P.56/Menhut-II/ 2006 tentang pedoman zonasi taman nasional. Kawasan karst perlu dikelola dengan rancangan khusus, terutama untuk kawasan karst yang terdapat di dalam kawasan taman nasional. Sistem zonasi yang diterapkan harus memperhatikan nilai-nilai strategis pada setiap kelas kawasan karst. Zonasinya akan berbeda dengan zonasi dalam pengelolaan taman nasional karena bisa tersebar secara acak tergantung dari pemenuhan kriteria kelas kawasan yang telah ditetapkan (Kurniawan 2010).

IV. METODE PENELITIAN
4.1 Lokasi dan Waktu Penelitian Penelitian akan dilakukan di Taman Nasional Manupeu Tanahdaru yang terletak di Kabupaten Sumba Barat, Sumba Tengah, dan Sumba Timur Propinsi Nusa Tenggara Timur (Gambar 5). Penelitian akan dilakukan selama 30 hari pada bulan April sampai Mei 2010.

Pulau Sumba

Sumber: HIMAKOVA (2010).

Gambar 5 Batas kawasan Taman Nasional Manupeu Tanadaru. 4.2 Bahan dan Alat Bahan yang digunakan dalam penelitian ini adalah data-data spasial berupa peta rupa bumi Indonesia, peta sistematik hidrologi Indonesia, peta sebaran karst atau geologi Pulau Sumba, peta zonasi, sebaran sungai, tutupan lahan, dan sebaran biodiversity taman nasional. Alat yang digunakan untuk pengolahan data adalah seperangkat komputer yang dilengkapi paket software ArcView. Peralatan yang digunakan di lapangan adalah kamera, Global Positioning System (GPS) untuk penetapan titik, meteran, stopwatch, bejana, pengapung, headlamp, dan alat-alat tulis.

25

4.3. Jenis Data Jenis data yang dikumpulkan pada penelitian ini dikelompokkan kedalam lima parameter seperti terlihat pada tabel 2 di bawah ini. Tabel 2 Jenis data yang diperlukan
No
1

Parameter
Kondisi umum a. b. c. d. e. f.

Variabel
Letak dan luas Sejarah dan status Iklim dan curah hujan Topografi dan ketinggian Aksesibilitas Sosial, ekonomi dan budaya masyarakat

Sumber
a. Kantor pengelola b. Masyarakat

Metode
a. Wawancara b. Studi literature c. Pengamatan

2

Pengelolaan a. Visi dan misi taman nasional taman b. Tujuan pengelolaan nasional c. Tata cara pengelolaan d. Kriteria hidrologi dalam penetapan kawasan e. Kriteria penetapan zonasi Sumberdaya a. Posisi mata air air b. Posisi sungai hilang c. Sungai bawah permukaan d. Debit sumber air e. Data curah hujan f. Data DAS Pulau Sumba Data spasial a. b. c. d. e. f. g. Masyarakat

Kantor pengelola

a. Wawancara b. Studi literatur

3

a. Lapangan b. Dinas PU dan BMKG

a. Studi literatur b. Pengamatan c. Pengukuran

4

Peta rupa bumi Indonesia a. Kantor Peta karst/ geologi Pulau Sumba pengelola Peta hidrologi Pulau Sumba b. Puslitbang Peta zonasi taman nasional geologi Peta sebaran sungai taman nasional c. Puslit Peta tutupan lahan taman nasional sumberdaya Peta biodiversity taman nasional air

a. Studi literatur

5

a. Karakteristik (nama, umur, jenis a. Kantor kelamin dan pekerjaan) pengelola b. Kegiatan yang mempengaruhi b. Masyarakat keberadaan suplai air dari karst c. Tingkat ketergantungan dan bentuk pemanfaatan masyarakat terhadap sumber air karst d. Penilaian masyarakat terhadap kondisi air e. Pengaruh keberadaan sumberdaya air terhadap kehidupan masyarakat

a. Wawancara b. Studi literatur c. Pengamatan

26

4.4 Metode Pengambilan Data Pengambilan data dilakukan dengan menggunakan metode: 1. Studi literatur (pustaka) Studi literatur bertujuan untuk mengumpulkan data yang berhubungan dengan Taman Nasional Manupeu Tanahdaru. Data diperoleh dari kantor balai taman nasional, BPDAS Nusa Tenggara Timur, dinas pekerjaan umum, dan pusat lingkungan geologi. Data spasial menjadi prioritas utama dalam studi literatur karena akan digunakan dalam pengolahan untuk membuat peta wilayah penelitian. 2. Metode wawancara Wawancara dilakukan terhadap pengelola taman nasional dan masyarakat sekitar kawasan yang memanfaatkan sumberdaya air karst Taman Nasional Manupeu Tanahdaru. Wawancara dilakukan secara mendalam (in-depth

interview) terhadap tokoh kunci (key person) dari suatu desa yaitu tokoh masyarakat atau kepala desa, sehingga data yang didapatkan lebih lengkap. Pelaksanaan wawancara akan mengikuti panduan wawancara (Lampiran). 3. Metode pengamatan (observation) Pengamatan dilakukan pada lokasi mata air dan sungai hilang yang telah ditentukan. Penentuan lokasi mata air dan sungai hilang dilakukan pada saat pembuatan peta sebelum ke lapangan. Cara penentuannya dengan memasukkan data sebaran sungai kedalam peta sebaran karst Taman Nasional Manupeu Tanahdaru. Selain itu, informasi dari pengelola pada saat wawancara juga dapat digunakan untuk mengetahui lokasi mata air dan sungai hilang. Pengamatan yang dilakukan mencakup kondisi wilayah karst dan vegetasi disekitarnya. Titik mata air dan sungai hilang akan diambil kembali menggunakan Global Positioning System (GPS) untuk mendapatkan data yang lebih akurat. 4. Pengukuran Debit air diukur pada aliran permukaan dari mata air dan aliran bawah tanah. Menurut Laksmana (2005) diacu dalam Handayani (2009) besarnya debit air yang mengalir melalui suatu jalur sungai bawah tanah dapat diketahui dengan berbagai teknik perhitungan debit air yang telah dikembangkan untuk mengukur debit pada sungai permukaan. Pengukuran dilakukan dengan dua teknik, yaitu:

27

a. Metode Terjunan (Volumetric gauging) Metode terjunan merupakan cara paling sederhana untuk mengetahui debit pada suatu aliran air. Pengukuran dilakukan di bagian sungai yang terjal, dimana perbedaan ketinggian yang cukup besar menyebabkan terbentuknya air terjun atau pancuran. Air yang terjun di bagian itu ditampung dalam bejana yang volumenya telah diketahui. Volume bejana diketahui dengan rumus

sebagai berikut: Ve = 1/8 x P x (D12+D22) x T

Keterangan: Ve P D T : Volume bejana (m3) : 3,14 : Diameter mulut dan dasar bejana (m) : Tinggi bejana (m)

Untuk mengetahui debitnya, maka volume yang didapatkan dibagi dengan waktu yang dibutuhkan air untuk mengisi bejana tersebut sampai penuh. b. Teknik kecepatan-luas (Velocity-Area Techniques) Perhitungan kecepatan-luas menggunakan rumus sebagai berikut:

Q = dn/2 (Vvn) (bn+bn+1)

bn dn Keterangan: Q Dn Vvn bn : Debit air (m3) : Jeluk vertikal : Kecepatan rata-rata (m/dt) : Jarak antara vertikal ke-n

28

Cara penghitungan debit air dengan velocity-area techniques dimulai dengan menentukan bagian dari sungai dimana pengukuran dapat dilakukan. Kriteria bagian sungai untuk pengukuran debit dengan velocity-area techniques adalah (Rahayu et al. 2009): 1. Tidak ada pusaran air. 2. Profil sungai rata tanpa ada penghalang aliran air. 3. Arus sungai terpusat dan tidak melebar saat tinggi muka air naik. 4. Pengukuran pada sungai besar harus ada jembatan yang kuat. Kecepatan air diukur dengan currentmeter yang memiliki tingkat akurasi tinggi namun bila alat currentmeter terlalu sulit didapat, pengukuran kecepatan aliran air dapat dilakukan dengan alat ukur sederhana yang mudah dijumpai, yaitu pengapung dan alat pengukur waktu, stopwatch atau jam tangan. Kecepatan rata-rata diperoleh dengan mengukur aliran pada berbagai kedalaman dan sisi sungai dikalikan faktor korelasinya. Faktor kolerasi yang paling umum digunakan adalah 0.65 (Rahayu et al. 2009). 4.5 Analisis Data 4.5.1 Analisis Spasial Peta diolah dengan software ArcView sehingga dapat dihasilkan peta penunjang proses pengambilan data dan peta hasil akhir yang menjadi sumber informasi bagi pengelolaan taman nasional. Peta penunjang memuat sebaran wilayah karst dan sungai yang terdapat di dalam kawasan Taman Nasional Manupeu Tanahdaru. Informasi tersebut sangat berguna dalam menentukan kemungkinan posisi mata air dan sungai hilang yang terdapat di dalam kawasan taman nasional. Sedangkan peta hasil akhir berupa zonasi kawasan karst yang dapat dimanfaatkan sebagai pertimbangan zonasi Taman Nasional Manupeu Tanahdaru. Pengolahan data dilakukan dengan analisis dan manipulasi data spasial (Gambar 6). Analisis yang digunakan adalah deliniasi (pembuatan polygon), overlay (tumpang susun) dan buffering. Overlay merupakan penggabungan lokasi spasial dan atribut satu polygon dengan polygon lainnya untuk membuat coverage baru (Jaya 2008). Buffering merupakan pembuatan coverage baru berupa zona penyangga (buffer zone) disekeliling feature dari coverage input (Jaya 2008).

29

Analisis overlay dilaksanakan pada setiap tahapan pembuatan peta sedangkan buffering hanya untuk menghasilkan peta yang dijadikan sebagai hasil akhir.
Peta sebaran karst/gamping Peta kawasan taman nasional

Overlay (Tumpang susun)

Deliniasi

Peta karst di dalam taman nasional

Posisi mata air

Overlay (Tumpang susun)

Peta sebaran potensi air karst taman nasional Posisi sungai hilang Peta biodiversity taman nasional Peta sebaran sungai taman nasional Peta hidrologi Pulau Sumba Buffering Peta tutupan lahan

Overlay (Tumpang susun)

Peta pengelolaan kawasan karst taman nasional

Gambar 6 Teknik pengolahan data spasial.

30

4.5.2 Analisis Deskriptif Analisis deskriptif merupakan cara yang digunakan untuk memecahkan masalah yang tidak terbatas pada pengumpulan dan penyusunan data saja, namun meliputi analisis data sampai pada kesimpulan dengan berdasarkan penelitian. Analisis deskriptif dilakukan dengan cara menjelaskan kondisi umun, potensi air karst, ancaman terhadap kawasan karst, pemanfaatan sumberdaya kawasan karst dan rencana pengelolaan yang dibuat Taman Nasional Manupeu Tanahdaru. Hasil analisis disajikan dalam bentuk tabel dan alinea untuk bahan pertimbangan dalam penyusunan pengelolaan kawasan karst.

31

RENCANA KERJA DAN TATA WAKTU PENELITIAN
Tabel 3 Rencana kerja dan tata waktu
No 1 2 3 4 5 6 Kegiatan Penyusunan proposal Pelaksanaan penelitian Penyusunan skripsi Seminar Ujian komprehensif Wisuda Februari Maret Tahun 2010 April Mei Juni Juli

DAFTAR PUSTAKA
Adji TN. 2006. Kontribusi hidrologi karst dalam monitoring keberlangsungan ekosistem karst. Di dalam: Biospeleologi dan Ekosistem Karst sebagai Wahana Upaya Pelestarian dan Penyelamatan Gua Indonesia. Prosiding Seminar Biospeleologi dan Ekosistem Karst. Yogyakarta, 05-06 Desember 2006. Yogyakarta: Biologi UGM dan LIPI. Asrianny. 2006. Strategi pelibatan masyarakat dalam pengelolaan Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung [Tesis]. Bogor: Program Pascasarjana, Institut Pertanian Bogor. Bahri S. 1998. Pola tata guna lahan dari hutan lindung sebagai reservoir air secara alami ditinjau dari keseimbangan air das di kecamatan jonggol dan cariu Kabupaten Bogor [Skripsi]. Bogor: Fakultas Kehutanan, Institut Pertanian Bogor. Basuni S. 1987. Konsep pengaturan sumberdaya taman nasional. Media Konservasi 1: 1-11. [Dephut] Departemen Kehutanan. 1990. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumberdaya Alam Hayati dan Ekosistemnya. Jakarta: Dephut. [Dephut] Departemen Kehutanan. 2006. Peraturan Menteri Kehutanan Nomor 56 tahun 2006 tentang Pedoman Zonasi Taman Nasional. Jakarta: Dephut. [Dephut] Departemen Kehutanan. 2007. 50 Taman Nasional di Indonesia. Bogor: DEPHUT, JICA, LHI. [Dephutbun] Departemen Kehutanan dan Perkebunan. 1998a. Keputusan Menteri Kehutanan dan Perkebunan Nomor 576/Kpts-II/1998 tentang Penetapan Kawasan Taman Nasional Manupeu Tanahdaru. Jakarta: Dephutbun. [Dephutbun] Departemen Kehutanan dan Perkebunan. 1998b. Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 68 Tahun 1998 tentang Kawasan Suaka Alam dan Kawasan Pelestarian Alam. Jakarta: Dephutbun. [Deptan] Departemen Pertanian . 2006. Buku Rencana RTRW Propinsi Nusa Tenggara Timur 2006-2009 . http://www.deptan.go.id. [DESDM] Departemen Energi dan Sumberdaya Mineral . 2000. Keputusan Menteri Energi Dan Sumber Daya Mineral Nomor 1456.K/20/Mem/2000 Tentang Pedoman Pengelolaan Kawasan Kars. Jakarta: DESM. [DoC] Department of Conservation. 1999. Karst Management Guidelines: Polices and Actions. Wellington, New Zealand: Crown. Ekaprasetya DMR. 2008. Nilai ekonomi sumberdaya hutan dalam menghasilkan air di sub DAS Ciseuseupan, DAS Ciujung Kabupaten Pandeglang Propinsi Banten [Skripsi]. Bogor: Program Sarjana Fakultas Kehutanan, Institut Pertanian Bogor.

33

Field MS. 2002. A Lexicon of Cave and Karst Terminology with Special Reference to Environmental Karst Hydrology. Washington, DC: U.S. Environmental Protection Agency. Ford DC, Williams PW. 2007. Karst Hydrogeology and Geomorphology. England: John Wiley and Sons. Gregory KJ, Walling DE. 1979. Studies in Physical Geografi: Man and Environmental Processes. England: Dawson Westview Press. Handayani A. 2009. Analisis potensi sungai bawah tanah di gua seropan dan gua semuluh untuk pendataan sumberdaya air kawasan karst di Kecamatan Semanu Kabupaten Gunung Kidul Propinsi Daerah Istimewa Jogyakarta [Skripsi]. Surakarta: Program Sarjana Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Sebelas Maret. Haryono E. 2005. Konservasi Kawasan Karst. http://www.indocaver.org/. [HIMAKOVA] Himpunan Mahasiswa Konservasi Sumberdaya Hutan dan Ekowisata. 2010. Laporan Studi Konservasi Lingkungan: Warna Warni Khasanah Budaya dan Hidupan Liar Langit Sumba. Bogor: Fakultas Kehutanan, Institut Pertanian Bogor. Ismanto A. 2005. Mekanisme pemanfaatan air Taman Nasional Gunung Gede Pangrango [Skripsi]. Bogor: Program Sarjana Fakultas Kehutanan Institut Pertanian Bogor. [IUCN] International Union for Conservation of Nature. 1991. Caring for the Earth: Strategi for Suistainable Living. Gland, Switzerland: IUCN. [IUCN] International Union for Conservation of Nature. 1994. Guidelinnes for Protected Area Management Categories. Gland, Switzerland: IUCN. [IUCN] International Union for Conservation of Nature. 2003. Guidelinnes for Management Planning of Protected Area. Gland, Switzerland: IUCN. [IUCN] International Union for Conservation of Nature. 2008. Guidelinnes for Applying Protected Area Management Categories. Gland, Switzerland: IUCN. Jaya INS. 2008. Aplikasi Sistem Informasi Geografis untuk Kehutanan. Bogor: Fakultas Kehutanan, Institut Pertanian Bogor. Ko RKT. 2003a. Keanekaragaman Hayati Kawasan Karst. Pemerhati Lingkungan Karst dan Gua. _________. 2003b. Strategi Pengelolaan Kawasan Karst. Materi Kuliah Kursus Introduksi Pengelolaan Kawasan Karst. Bogor: Himpunan Kegiatan Speleologi Indonesia (HIKESPI). Kurniawan R. 2010. Sistem pengelolaan kawasan Karst Maros-Pangkep Propinsi Sulawesi Selatan secara berkelanjutan [Ringkasan Disertasi]. Bogor: Pasca Sarjana, Institut Pertanian Bogor. Lee R. 1988. Hidrologi Hutan. Yogyakarta: Gajah Mada University Press.

34

Listyandari AK. 2009. Pengelolaan tegakan pinus di Taman Nasional Gunung Merapi (studi kasus penyadapan getah pinus oleh masyarakat Desa Ngargomulyo, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah) [Skripsi]. Bogor: Program Sarjana Fakultas Kehutanan, Institut Pertanian Bogor. MacKinnon J, MacKinnon K. 1986. Pengelolaan Kawasan yang Dilindungi di Daerah Tropika. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press. Monk KA, Fretes YD, Reksodihardjo-Liley G. 2000. Ekologi Nusa Tenggara dan Maluku. Jakarta : Prenhanllindo. Purnama SI. 2005. Penyusunan zonasi Taman Nasional Manupeu Tanadaru sumba berdasarkan kerentanan kawasan dan aktivitas masyarakat [Tesis]. Bogor: Program PascaSarjana, Institut Pertanian Bogor. Rahayu S, Widodo RH, Nordwijk MV, Suryadi I, Verbist B. 2009. Monitoring Air di daerah Aliran Sungai. World Agroforestry Centre. Samodra H. 2001. Nilai Strategis Kawasan Kars di Indonesia. Bandung: Pusat Penelitian dan Pengembangan Geologi. Satrio AE. 2005. Pemanfaatan flora karst Cagar Alam Kakinauwe [Skripsi]. Bogor: Program Sarjana Fakultas Kehutanan, Institut Pertanian Bogor. Soekmadi, R. 2003. Pergeseran paradigma pengelolaan kawasan konservasi: sebuah wacana baru dalam pengelolaan kawasan konservasi. Media Konservasi 8: 87-93. Soerianegara I. 1977. Pengelolaan Sumberdaya Alam. Jurusan Pengelolaan Sumberdaya Alam dan Lingkungan. Bogor: Program Pascasarjana, Institut Pertanian Bogor. Sumardja EA. 1999a. Kebijakan, strategi dan rencana aksi pengelolaan lingkungan kawasan karst di Indonesia. Di dalam: Makalah Lokakarya Kawasan Karst. Jakarta, 29-30 September 1999. Jakarta: Direktorat Jenderal Geologi dan Sumberdaya Mineral, Departemen Pertambangan dan Energi. ____________. 1999b. Konservasi kawasan karst di Indonesia. Di dalam: Makalah Lokakarya Kawasan Karst. Jakarta, 29-30 September 1999. Jakarta: Direktorat Jenderal Geologi dan Sumberdaya Mineral, Departemen Pertambangan dan Energi. Sunkar A. 2006. Pertimbangan Biospeologi dalam Konservasi Kawasan Karst Di dalam: Biospeleologi dan Ekosistem Karst sebagai Wahana Upaya Pelestarian dan Penyelamatan Gua Indonesia. Prosiding Seminar Biospeleologi dan Ekosistem Karst. Yogyakarta, 05-06 Desember 2006. Yogyakarta: Biologi UGM dan LIPI. ________. 2007. Ekosistem subterranean: suatu keindahan alam bawah tanah. Makalah pada Pelatihan Pemandu Wisata Petualangan dan Eksplorasi. Bogor: Fakultas Kehutanan, Institut Pertanian Bogor. ________. 2009. Sustainability in karst resource management: the case of the Gunung Sewu in Java [Disertasi]. Auckland: School of Geography, geology and Environmental Science, The University of Auckland.

35

Vahlevi et al. 2006. Pengelolaan kawasan konservasi di Taman Nasional Manepeu Tanah Daru, Sumba, Nusa Tenggara Timur[Tugas Akhir]. Bogor: Program Diploma III Fakultas Kehutanan, Institut Pertanian Bogor. Watson J, Hamilton-Smith E, Gillieson D, Kiernan K (eds). 1997. Guidelinnes for Cave and Karst Protection. Gland, Switzerland: WPCA (World Commission on Protected Areas), IUCN (International Union for Conservation of Nature and Natural Resources. Wello YE. 2008. Spesies kunci budaya (kultural keystone species) masyarakat sumba di sekitar Taman Nasional Manupeu Tanadaru Nusa Tenggara Timur [Skripsi]. Bogor: Program Sarjana Fakultas Kehutanan, Institut Pertanian Bogor. Williams P. 2008. World Heritage Caves and Karst. Gland, Switzerland: IUCN Programe on Protected Areas. Widarti A. 1995. Studi permintaan jasa hidrologi kawasan hutan Taman Nasional Gede Pangrango [Tesis]. Bogor: Program Pascasarjana, Institut Pertanian Bogor. Wiranansyah H. 2005. Studi interaksi masyarakat terhadap potensi sumberdaya alam di Taman Nasional Manupeu Tanadaru dan Taman Nasional Laiwangi Wanggameti berdasarkan kearifan tradisionalnya [Tugas Akhir]. Bogor: Program Diploma III Fakultas Kehutanan, Institut Pertanian Bogor.

LAMPIRAN

37

Panduan Wawancara
Nama Umur Pekerjaan Alamat : : : :

a. Ancaman terhadap kawasan Manfaat taman terhadap masyarakat Kegiatan-kegiatan yang dilakukan masyarakat di dalam dan disekitar kawasan

b. Pemanfatan kawasan karst Pengetahuan masyarakat tentang kawasan karst Kegiatan penambangan batu gamping di sekitar atau di dalam kawasan Rencana pemanfaatan yang di sosialisasikan pengelola

c. Tingkat ketergantungan dan bentuk pemanfaatan masyarakat terhadap sumber air karst Seberapa penting keberadaan sumber air Bentuk penggunaannya (yang terbesar apa)

d. Penilaian masyarakat terhadap kondisi air 1) Ketersediaan Air Musim Penghujan a. Ketersediaan air pada musim penghujan b. Tingkat kesulitan mendapatkan air pada musim penghujan c. Upaya yang dilakukan oleh penduduk dalam mengatasi kekurangn air pada musim penghujan (pertanyaan ini diajukan apabila jawaban b adalah sulit atau sangat sulit) d. Kondisi air dari sumber yang digunakan pada musim penghujan 2) Ketersediaan Air Musim Kemarau a. Ketersediaan air pada musim kemarau b. Tingkat kesulitan dalam mendapatkan air pada musim kemarau c. Upaya yang dilakukan penduduk dalam mengatasi kekurangan air pada musim kemarau (pertanyaan ini diajukan apabila jawaban b adalah sulit atau sangat sulit) d. Kondisi air dari sumber yang digunakan pada musim kemarau e. Pengaruh keberadaan sumber daya air terhadap kehidupan masyarakat Apa yang dilakukan masyarakat kalau sumber daya air itu hilang Bentuk pemeliharaan yang telah dilakukan (pengelola dan masyarakat)

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful

Master Your Semester with Scribd & The New York Times

Special offer for students: Only $4.99/month.

Master Your Semester with a Special Offer from Scribd & The New York Times

Cancel anytime.