Mata Kuliah Pendidikan Agama Katolik

Universitas Gunadarma

1

BAB I AJARAN-AJARAN POKOK IMAN KRISTIANI A. Dasar Iman Kristiani Iman Kristiani didasarkan pada iman para rasul, yang dimaksud dengan para rasul adalah sekelompok murid Yesus, khususnya kelompok inti dua belas orang, dipanggil untuk mengikuti Yesus dan ambil bagian dalam misi-Nya. Murid-murid Yesus yakin bahwa Yesus adalah Mesias yang dinanti-nantikan oleh bangsa Yahudi, yang diutus Allah untuk menyelamatkan mereka. Kematian Yesus merupakan masa krisis bagi mereka, seolah-olah Yesus telah gagal dalam misi-Nya. Mereka menjadi ketakutan pada orang Yahudi lalu tinggal bersama-sama untuk berdoa memohon petunjuk dari Allah. Pada saat orang-orang Yahudi merayakan pesta Pentekosta, para murid secara komunal mendapatkan pengalaman akan Roh Allah yang bekerja dalam diri mereka. Para murid merasa dipenuhi oleh Roh Allah. Mereka tidak lagi berdiam diri dan Petrus sebagai pemimpin kelompok mulai berkhotbah. Keyakinan para Rasul sebagai hasil dari pengalaman Pentekosta, sebagaimana tampak dalam khotbah Petrus adalah sebagai berikut: 1. para murid membentuk suatu komunitas jemaat. 2. dikuatkan dengan Roh Allah (Roh Kudus) yaitu Roh kenabian/kesaksian 3. mempunyai misi untuk mewartakan Yesus 4. telah dibangkitkan oleh Allah dari mati dan menjadi Tuhan dan Kristus. Inilah iman para rasul yang mereka bagikan kepada siapa saja yang tergerak untuk mengikuti apa yang mereka sebut “Jalan” (Jalan Keselamatan). Para rasul sedikit demi sedikit mulai menerima anggota baru kedalam komunitas melalui proses inisiasi dan pelajaran yang disebut “katekese”, yang memuncak pada upacara Baptisan. Generasi pertama umat Kristiani tidak mempunyai Kitab Suci tertulis kecuali Kitab Suci orang Yahudi. Tahap demi tahap, Paulus, keempat penginjil, Petrus, Yudas, dan beberapa orang lainnya menulis kesaksian iman mereka tentang apa yang telah dilaksanakan oleh Allah dalam diri Yesus Kristus.

2

Dari ringkasan dasar-dasar iman Kristiani ini dapat terlihat bahwa “iman para rasul” oleh jemaat Kristiani sekarang dipandang sebagai inti iman mereka yang tidak dapat diubah. Iman tidak hanya mendahului kitab suci, melainkan juga menghasilkan dan menentukan Kitab Suci jemaat kristiani. B. Allah Keyakinan inti dalam agama Kristiani yang sama dengan agama lain adalah Allah itu satu. Orang Kristiani berkeyakinan bahwa Allah itu bersifat abadi, Maha Kuasa, Maha Tahu, Pencipta alam semesta dan segala isinya, penyelenggara kehidupan, Maha pengasih dan penyayang, Maha Pengampun, Transenden (jauh tidak terjangkau oleh manusia) sekaligus Imanen (sangat dekat di lubuk hati manusia), Maha Besar, Hakim bagi seluruh umat manusia diakir jaman. Orang Kristiani memanggil Allah dengan sebutan Bapa, hal ini ingin mengungkapkan iman mereka bahwa Allah itu bagaikan seorang “bapak (atau ibu) yang penuh kasih” dalam kasih pemeliharaan-Nya kepada umat manusia. C. Inkarnasi Dasar iman Kristiani yang lain adalah inkarnasi (penjelmaan), yaitu berkeyakinan bahwa Sabda Allah yang kekal dan tidak dijadikan, mewujud dalam daging dan tinggal ditengah kita dalam diri manusia Yesus. Inkarnasi berarti “mengambil bentuk atau menjadi daging” yakni menjadi manusia. Cara lain untuk mengatakan bahwa Sabda Allah diwahyukan dalam pribadi manusia yaitu Yesus. Umat kristiani yakin bahwa Yesus adalah seorang manusia yang dilahirkan atas kuasa Allah oleh seorang wanita suci Maria yang masih perawan. Konsilikonsili awal yang diadakan oleh Gereja mengajarkan bahwa Sabda Allah tidak hadir dalam diri Yesus sebagai sesuatu yang asing. Yesusu dipandang sebagai seorang pribadi, manusia penuh dalam segala hal (kecuali dalam hal dosa), tetapi ia juga berada dalam kesatuan dengan sabda ilahi. Seperti manusia lain, Yesus berkembang dalam pengetahuan dan pemahaman diri melalui pengalaman hidup dan relasi dengan orang lain.

3

D. Yesus Yesus dilahirkan di Bethlehem, tempat Daud dilahirkan dan dibesarkan sekitar 1000 tahun sebelumnya. Tahun kelahirannya adalah sekitar tahun 0, yakni awal era ke-Kristen-an, walaupun tanggal dan tahun tepatnya tetap tidak diketahui. Kira-kira pada tahun 30, Yesus meninggalkan kota kelahiran-Nya Nazareth dan mulai mengajar. Dalam hal ini Ia didahului oleh saudara sepupunya yaitu Yohanes Pemandi (atau Yahya). Pesan pokok yang disampaikan oleh Yesus terdidi dari dua hal, yaitu: 1. Bertobatlah (berbaliklah dari dosa dan kembalilah kepada Allah); 2. Terimalah Allah untuk merajai hidup anda (terimalah Kerajaan Allah). Sebagai tambahan atas apa yang Ia khotbahkan dan ajarkan, Yesus melakukan hal-hal sebagai berikut: 1. membuat mujizat-mujizat dan menyembuhkan orang sakit atas kuasa Allah 2. memerangi kuasa setan dan mengusirnya 3. mengampuni dosa-dosa atas nama Allah 4. menghibur orang sakit, orang yang berkabung dan orang miskin 5. bergaul dengan para pendosa 6. dengan keras mengkritik para pemimpin Yahudi 7. meramalkan bahwa krisis besar akan melanda dunia tapi Allah akan mengatasinya. 8. membentuk suatu komunitas murid-murid yang hidup seperti Dia dan mewartakan pesan-Nya kepada orang-orang lain. E. Trinitas (Monoteisme Kristiani) Inti pengakuan iman Kristiani adalah “Kami percaya akan Satu Allah”. Walaupun tidak menggunakan istilah “trinitas, Perjanjian Baru berbicara tentang Allah, yang disebut “Bapa”, yang menyampaikan pesan-Nya dalam bentuk daging dan tinggal dalam diri Yesus (Putera), dan tentang Allah yang Maha Kuasa yang hadir dalam segala-galanya, yang disebut “Roh Kudus”.

4

Dalam perjalanan sejarah, orang-orang Kristiani berkesimpulan bahwa sifat Tritunggal Allah merupakan misteri kodrat Allah. Oleh sebab itu, hal itu tidak dapat diungkapkan dengan rumusan manusiawi. Apa yang secara pasti dapat kita katakana sehubungan dengan ajaran Kristiani tentang kodrat tritunggal Allah adalah bahwa umat Kristiani percaya akan satu Allah, yang kodrat-Nya mengandung tiga aspek atau cirri khas. Allah yang satu dan sama menyatakan diri-Nya: 1. sebagai Pencipta yang Maha Kuasa dan Tuhan atas kehidupan ( disebut “Bapa” atau “Bapa Kami” ) 2. sebagai Allah yang mewahyukan Sabda Ilahi-Nya dalam diri manusia Yesus ( disebut “Putera” ) 3. sebagai Allah yang hadir secara imanen, aktif, dan memberikan daya hidup dalam alam raya ( disebut “Roh Kudus” ) Sifat-sifat tersebut adalah abadi, karena tidak ada perubahan yang mendasar dalam Diri Allah, yang kodrat-Nya selalu sama. Sifat-sifat tersebut melekat pada kodrat Allah, bukan merupakan sifat yang kita berikan atau aspek yang kita anggap penting untuk dimiliki oleh Allah. Sifat-sifat tersebut penting, karena menurut pemahaman Kristiani atas apa yang telah Ia wahyukan tentang Diri-Nya dalam kitab suci, tidak ada satupun dari tiga sifat/sebutan tadi yang dapat disangkal atau dihilangkan dari Allah, karena semuanya hakiki bagi kodrat Allah. Para teolog Kristiani modern berbicara tentang “Trinitas dalam rangka rencana penyelamatan Allah”, Allah mempunyai rencana untuk menyelamatkan umat manusia, yang betul-betul Ia laksanakan dalam sejarah. Allah mempunyai dua cara dalam melaksanakan karya penyelamatan-Nya, yaitu cara pertama dengan menjelmakan pesan-Nya secara penuh dan sempurna dalam diri seorang manusia, yang menyatakan Allah dalam segala perkataan dan perbuatan-Nya. Dalam kemenangan Yesus atas penderitaan dan kematian, oleh kuasa penyelamatan Allah, manusia mendapatkan kepastian tentang apa yang sedang dikerjakan Allah dan akan dikerjakan-Nya bagi setiap orang. Melaluai dia, Allah membentuk suatu komunitas jemaat yang akan terus bersaksi tentang keselamatan yang berasal dari Allah yang

5

telah diwahyukan melalui Dia. Inilah yang diyakini oleh orang Kristiani telah dilakukan Allah dalam diri Yesus. Cara kedua, Allah melaksanakan karya penyelamatan dalam alam semesta adalah melalui kehadiran-Nya yang penuh kuasa dalam alam ciptaan dan setia manusia baik pria maupun wanita, karya Allah seperti ini bersifat universal dan menyentuh pada setiap orang.

6

BAB II GEREJA DAN SEKRAMEN Istilah Gereja dalam arti yang utama dan dasariah, adalah sebagai jemaat Kristiani, bukan dalam arti bangunan, tempat dimana kebaktian dilaksanakan atau bukan pula dalam arti struktur organisasi umat Kristiani yang telah berlangsung sepanjang sejarah Gereja Kristen. Sakramen berarti suatu kenyataan yang tampak yang menghadirkan rahmat penyelamatan Allah. Dengan kata lain, sakramen adalah suatu tanda yang tampak dari karya Allah yang tidak tampak. Umat Kristiani yakin bahwa keberadaan Gereja di dunia ini menandakan karya yang telah, sedang, dan akan dilaksanakan oleh Allah bagi umat manusia melalui Yesus. Karya Allah, yaitu karya rekonsiliasi/perdamaian (mendamaikan manusia dengan Allah dan manusia dengan manusia) dan karya pengudusan (membuat manusia menjadi kudus, yaitu hidup dalam kasih dan ketaatan pada Allah). Hampir semua orang Kristiani sependapat bahwa sakramen yang utama ada dua, yaitu sakramen Baptis dan Ekaristi. Disamping sakramen yang utama ini, orang-orang kristiani meyakini ada lima sakramen yang lain sehingga semuanya ada tujuh sakramen. 1. Sakramen Baptis Sakramen pertama yang merupakan dasar bagi sakramen-sakramen lainnya adalah sakramen baptis. Ini merupakan penerimaan awal dalam komunitas Kristiani. Dalam sakramen baptis, seorang individu Kristiani ikut ambil bagian dalam tugas Gereja, yaitu menjadi saksi karya penyelamatan Allah dalam diri Yesus. Seorang kristiani hanya sekali saja dibabtis, yaitu pada saat diterima masuk kedalam komunitas Kristiani. Kata-kata yang diucapkan pada waktu pembabtisan dilaksanakan diambil dari Injil Markus, “Aku membaptis kamu dalam nama Bapa, dan Putera, dan Roh Kudus” sejak jaman purba, telah ada kebiasaan untuk membaptis para anggota baru pada saat hari raya terbesar, yaitu pesta paska.

7

Hari raya ini mempunyai tiga macam perayaan yang berbeda, yang masingmasing memusatkan perhatian pada peristiwa dalam hidup Yesus yang menjadi dasar iman Kristiani, yaitu: a. b. c. Pada Kamis malam, dilakukan pengenangan peristiwa Perjamuan Malam Terakhir. Pada Jumat sore, mengenang wafat Yesus di kayu salib. Pada Sabtu malam hingga Minggu pagi dilakukan perayaan Paska untuk mengenang Yesus yang telah dibangkitkan oleh Allah dalam hidup baru. 2. Sakramen Penguatan (Krisma) Sakramen yang kedua, yaitu sakramen penguatan, adalah bagian kedua dari upacara inisiasi Kristiani. Pada pembabtisan yang menjadi tekanan adalah pembebasan dari dosa. Dalam sakramen penguatan penekanan diletakkan pada aspek kesaksian tentang apa yang telah dilaksanakan oleh Allah dalam diri Yesus dan aspek penguatan dari Roh Kudus untuk tugas tersebut. Sakramen Penguatan, yang diterimakan oleh Uskup atau wakilnya, mengandung unsur pokok “pengurapan dengan minyak” bagi orang yang menerimanya, dengan kata-kata, “Terimalah Roh Kudus untuk dapat menjadi saksi Kristus”. 3. Sakramen Perkawinan Ada dua sakramen yang berkaitan dengan status hidup. Yang pertama adalah Sakramen Perkawinan. Menurut keyakinan Kristiani, perkawinan bukanlah sesuatu yang duniawi, melainkan suatu status hidup yang melambangkan kasih Allah kepada manusia. Kesatuan dalam kasih yang dialami oleh dua insane yang berjanji untuk hidup bersama dengan setia dan saling menyayangi, membentuk suatu keluarga yang menyediakan kondisi bagi anak-anak yang lahir untuk mendapatkan pendidikan dan memupuk hidup dengan dilandasi iman kepada Allah. Dalam perkawinan, kedua pasangan kristiani berjanji untuk menjadikan perkawinan mereka tanda yang hidup dari kasih Allah kepada manusia. Atas dasar alasan ini, orang Kristiani memandang perkawinan sebagai ikatan seumur hidup dan

8

tidak menerima adanya perceraian ataupun perkawinan kedua selagi pasangannya masih hidup. 4. Sakramen Imamat Sakramen kedua berkenaan dengan status hidup adalah Imamat. Sakramen ini mengandung suatu pilihan untuk membaktikan hidup bagi pelayanan kepada jemaat Kristiani, dan untuk melayani semua orang bersama-sama dengan jemaat. Dalam hal ini ada tiga jabatan, yaitu: a. b. c. Uskup, yang merupakan wakil Kristus dalam wilayah Gereja setempat yang disebut keuskupan, sebagai pengajar, pemimpin ibadat, dan pelayan umat. Imam, yang merupakan pembantu uskup dalam ketiga perannya di lingkungan masing-masing komunitas. Diakon, yang bertugas untuk mewartakan Sabda Allah dalam Injil dan untuk menolong orang yang miskin, jompo, sakit, dan meninggal. Semua jabatan lain dalam Gereja, seperti Paus, Uskup Agung, Kardinal, Monsinyur, dll diberikan untuk tugas khusus dalam komunitas, tetapi tidak merupakan sakramen. 5. Sakramen Pengampunan Dosa Ada dua sakramen yang diterimakan pada saat krisis dalam hidup orang Kristiani, yaitu Sakramen Pengampunan Dosa (Tobat) dan Sakramen Minyak Suci. Umat Kristiani menerima Sakramen Tobat untuk mendengarkan sabda pengampuan Allah dan untuk disadarkan bahwa Allah selalu siap-sedia mengampuni, yaitu melalui karya penyelamatan-Nya dalam pribadi dan hidup Yesus. 6. Sakramen Minyak Suci Sakramen kedua yang diterimakan pada saat krisis adalah Sakramen Minyak suci. Seperti halnya dosa (penyakit rohani) mengancam hubungan seseorang dengan Allah, begitu pula penyakit fisik merupakan suatu krisis yang mengancam berlangsungnya kehidupan orang didunia. Umat Kristiani meyakini bahwa Kristus diutus oleh Allah untuk mendekati orang-orang yang sakit, menghibur dan menyembuhkan mereka dan menyiapkannya

9

untuk menghadapi kematian. Sakramen minyak suci menunjukkan kepada orang yang sakit bahwa ia tidak sendirian, melainkan Kristus bersama dia membimbing kepada Allah, dan ada komunitas orang-orang beriman yang berdoa bagi dan bersama dia. 7. Sakramen Ekaristi Bagi orang Kristiani, Sakramen Ekaristi bukan sekedar salah satu dari ketujuh sakramen, melainkan merupakan bagian inti dari iman dan ibadat Kristiani. Kata “Ekaristi” berarti “mengucap syukur”. Ini merupakan pengenangan dan pengulangan kembali perjamuan malam terakhir yang dilakukan oleh Yesus bersama dengan murid-murid-Nya pada malam sebelum Ia wafat. Umat kristiani meyakini bahwa jika mereka mengikuti perjamuan tersebut, Yesus sungguh-sungguh hadir bersama mereka. Ada dua unsur yang dipandang pokok dan selalu ada pada perayaan Ekaristi disetiap Gereja, yaitu: a. b. Bacaan dari Kitab Suci Perjamuan bersama (penerimaan komuni)

Orang Kristiani memandang Ekaristi sebagai jantung ibadat harian kepada Allah, dan oleh sebab itu dirayakan setiap hari. Walaupun semua orang katolik hanya diwajibkan ikut ambil bagian dalam Perayaan Ekaristi pada hari Minggu.

10

BAB III SEJARAH PERKEMBANGAN KOMUNITAS KRISTIANI A. Gereja Rasuli Komunitas Kristiani yang dihasilkan dan digambarkan dalam kitab-kitab Perjanjian Baru disebut “Gereja Rasuli” atau Gereja Apostolik, yaitu Gereja para rasul dan jemaat atau generasi pertama kristiani yang mencakup kurun waktu antara 30-100 tahun, antara peristiwa pentakosta dan penulisan terakhir dari Alkitab. Dibawah pimpinan Yakobus, saudara Yesus, komunitas Yahudi kristiani di Yerusalem dan Palestina berkembang. Mereka membentuk suatu sekte Yahudi yang dibedakan dari Yahudi lain berdasar iman mereka bahwa Al Masih Yahudi telah datang dalam pribadi Yesus. Paulus dan Barnabas mulai mewartakan iman kepada bangsa bukan Yahudi. Pandangan Paulus diterima oleh Petrus dan Yakobus, yaitu sewaktu Allah membangkitkan Yesus dari antara orang mati, zaman baru dari keselamatan Allah telah dimulai, dan umat kristiani tidak lagi terikat untuk mengikuti Hukum Agama Yahudi. Dalam perjalanan waktu setelah pewartaan para rasul, semakin banyak orang dari bangsa bukan Yahudi dikerajaan Roma menjadi Kristiani, dan akhirnya Gereja lebih terdiri dari orang bukan Yahudi. Tradisi Kristiani menerima Petrus sebagai pimpinan, pertama saat di Yerusalem, kemudian Antiokhia dan akhirnya di Roma. Di situlah ia dibunuh pada zaman pemerintahan Kaisar Nero. B. Zaman Pengejaran Komunitas Kristiani yang mula-mula percaya bahwa Yesus akan segera datang kembali dengan mulia menyadari bahwa kedatangan-Nya itu masih perlu ditunggu sebelum Hari Akhir. Kitab perjanjian baru yang muncul pertama kali adalah Surat-surat Paulus kepada jemaat di Tesalonika penuh dengan harapan akan kedatangan Yesus dan kitab-kitab yang muncul belakang lebih berisi masalah organisasi (tata-atur) komunitas dan ajaran moral, yaitu cara orang menghayati hidup kristiani dalam masyarakat.

11

Sedikit demi sedikit tata atur komunitas berkembang dan terbentuk. Selain itu dalam komunitas ada beberapa orang yang dianggap menerima karunia khusus yang perlu digunakan untuk pembangunan Gereja, selain itu ada juga orang yang mendapat karunia untuk melakukan mukjizat, penyembuhan dan berbahasa. Para penguasa Romawi setempat umumnya toleran, tetapi juga sering mengejar-ngejar jemaat kristiani, banyak anggota jemaat termasuk Petrus dan Paulus, dihukum mati karena pernyataan iman mereka. C. Konsili-konsili Awal 1. Konsili Nicea, tahun 325 Pada waktu itu terjadi kontroversi antara Athanasius dan Arius, keduanya teolog dari Alexandria, yang menyebar ke seluruh komunitas kristiani sehingga perlu diadakan Konsili Ekumenis (seluruh dunia) di kota Nicea. Mereka sama-sama setuju bahwa Sabda Allah itu menjadi manusia dan tinggal dalam diri Yesus. Tetapi keduanya berbeda dalam hal menangkap kodrat Sabda itu. Karena kontroversi itu menyebabkan perpecahan dalam Gereja, maka Kaisar Konstantinus mengadakan Konsili Nicea yang hasilnya konsili itu menegaskan bahwa formulasi Athanasiuslah yang benar dan menolak pandangan Arius. Konsili menghasilkan Credo (Syahadat Pendek) yang merumuskan Sabda Allah berasal dari kodrat Ilahi dan bukan dari ciptaan. 2. Konsili Ephesus, tahun 431 Nestorius adalah seorang uskup dan teolog dari Siria. Oleh para musuhnya ia dipandang mengajarkan bahwa Yesus memiliki dua pribadi yaitu manusia dan ilahi. Nestorius berpandangan bahwa ajarannya sama dengan apa yang diputuskan oleh para pemimpin Gereja di Ephesus, dan perbedaannya hanya dalam istilah saja. Tetapi pada saat itu secara umum dirasakan bahwa teologi Nestorius ditolak oleh konsili Ephesus. Maka mereka yang mengikuti cara piker Nestorius lalu disebut “Nestorian” dan mereka ini terdapat di kerajaan Romawi

12

sebelah Timur yaitu Iraq dan Iran. Merekalah yang membawa iman kristiani ke India dan Cina. 3. Konsili Kalcedon, tahun 451 Konsili ini menolak ajaran Eutikes yang berpandangan bahwa Kristus memiliki satu kodrat ilahi dan tidak memiliki kodrat manusiawi. Konsili Kalcedon sangat hati-hati dengan membatasi diri untuk tidak membuat formulasi paten tentang hubungan Yesus dengan Allah. Ini dibiarkan terbuka bagi perkembangan pemahaman teologi di kemudian hari. Gereja-gereja di Roma dan Konstantinopel menerima ajaran Konsili Kalcedon, sedang Gereja di Mesir (Gereja Kopt) dan Syria (Gereja Yakobit) menolaknya. Sejak itu Gereja Orthodox dan Syria tidak bersatu lagi dengan Vatikan, Gereja Katolik dan Konstantinopel. D. Kontroversi Ikonoklast Perdebatan terjadi dalam kerajaan Byzantium antara tahun 725-842, yaitu masalah penggunaan gambar-gambar dalam gereja. Gereja Byzantium mempunyai tradisi menghiasi gedung gerejanya dengan mozaik dari Yesus, Maria, dan para kudus, dan umat Kristiani menaruh hormat kepada ganbar-gambar itu. Pada pemerintahan Kaisar Leo III (741), beberapa umat kristiani merasa tidak senang atas penghormatan icon-icon itu. Kontroversi di kerajaan Byzantium terjadi selam 150 tahun dan selama itu banyak icon dihancurkan dan banyak rahib pendukung kuat penghormatan icon dibunuh. Akibatnya diadakan konsili Nicea II (787), dan diputuskan bahwa penghormatan wajar kepada gambar diijinkan sejauh orang beriman yang menggunakannya sadar bahwa bukan gambarnya tetapi orangnya yang dilukiskan yang dihormati dan penghormatan yang sejati hanya pada Allah saja. Kontroversi itu berakhir tahun 842 waktu Ratu Theodora menyatakan bahwa gambar-gambar suci di tempat wajar untuk dihormati di seluruh Keraaan Byzantium.

13

E.

Skisma Timur – Barat Istilah skisma berarti perpisahan/pecah antara dua lembaga kristiani, yang dasarnya bukanlah ajaran. Skisma paling besar terjadi dalam sejarah Gereja Kristiani ialah antara Gereja Konstantinopel dan Roma yang sering disebut “skisma Timur-Barat”. Meskipun ada perbedaan pandangan tentang kuasa dalam gereja, umat kristiani Timur dan Barat tetap bersatu sampai abad IX kemudian terjadi skisma lagi. Perpisahan antara Konstantinipel dan Roma yang bersejarah ini terjadi tahun 1045. Dalam puluhan tahun akhir ini, gerakan persatuan gereja konstantinopel dan Roma mulai menguat kembali. Paus Yohanes XXIII, Paulus VI dan Yohanes Paulus II telah berkunjung ke Patriark Ekumenis di Istanbul dan sebaliknya. Kedua Gereja telah membentuk suatu komisi bersama yang bertugas mempelajari guna terbentuknya kesatuan Gereja yang penuh.

F.

Gereja Abad Pertengahan Dengan bertobatnya Kaisar Konstantinus (337) mengakui iman Kristiani, maka komunitas kristiani yang dulunya sebagai sekte yang dikejar-kejar dalam Kerajaan Romawi, menjadi Gereja yang diakui resmioleh negara. Ini membuat perubahan besar-besaran dalam Gereja. Penyalahgunaan terjadi dalam hidup Gereja di abad pertengahan. Salah satu yang paling jelek ialah ‘simonia’, yaitu penjualan jabatan dan hak-hak khusus agama. Paus, uskup dan para pastor berperan sangat ekstrem dalam hidup Gereja. Sebenarnya terjadi juga beberapa gerakan pembaharuan dalam gereja abad tengah itu. Beberapa menerima wewenang Paus dan berusaha menghilangkan penyalahgunaan yang ada dalam gereja. Lainnya menolak Gereja Katolik sekaligus dan mencari bentuk penghayatan hidup kristiani yang lebih murni.

G.

Reformasi 1. Reformasi Protestan Meskipun banyak umat kristiani mengumandangkan pentingnya pembaharuan dalam gereja, namun “peristiwa indulgensi”-lah yang

14

meledakkan perpecahan dalam gereja katolik di Barat. Tahun 1517, Martin Luther seorang rahib ordo St. Agustinus, dari Jerman menempelkan daftar 95 thesis yang tidak setuju dengan unsur dogma dan praktek agama yang tradisional. Gagasan yang dilontarkan Luther mencakup topik yang cukup luas, dan beberapa yang penting adalah: a. b. c. d. e. f. g. Keselamatan hanya karena iman saja Alkitab adalah satu-satunya yang berwenang dalam hal iman Menolak sifat korban dari Ekaristi Memperluas peran awam dalam liturgy dan kepemimpinan gereja Independensi gereja local dari Roma Menolak praktek-praktek keagamaan Katolik, seperti ziarah, Keberatan akan adanya penyalahgunaan, sepaerti penjualan

kristiani

puasa, pengakuan dosa indulgensi, simonia, dsb. Gerakan Reformasi tercabik-cabik sewaktu para pengikut Luther tidak setuju dengan macam-macam unsur dari teologi Luther dan mereka memulai Gereja mereka sendiri. Contohnya: Zwingli memimpi pembaharuan gereja di Swiss, melepaskan diri dari Luther karena berbeda pendapat tentang kehadiran Yesus dalam Ekaristi. Yohanes Calvin menolak pengertian imamat, pengaruh ini sangat kuat, khususnya di Swiss, Belanda, dan Perancis dan Scotlandia. Kelompok Anabaptis, bukanlah salah satu gerakan, tetapi terdiri dari kelompok Protestan yang menolak baptis bayi dan sangat menekankan penerimaan pribadi Yesus sebagai penebus. Di Inggris, pembaharuan mulai dengan skisma yang dimulai oleh Henry VIII, yang menolak huasa wewenang Roma tetapi tetap menerima aharan Katolik. Dibawah Elisabeth, anak Henry VIII, unsure ajaran Protestan dimasukkan ke dalam gereja Anglikan 2. Kontra-Reformasi Katolik Gereja Katolik dipaksa mengakui kebenaran dakwaan dari kaum reformator. Banyak yang setuju, tetapi dilain pihak umat Katolik percaya

15

bahwa kaum reformator dalam proses selanjutnya telah membuang beberapa unsure pokok iman kristiani dan praktek hidup yang berharga. Maka muncullah gerakan reformasi di dalam Gereja Katolik yang disebut Kontra-Reformasi. Pada tahun 1545-1564, Paus mengadakan Konsili Trente. Konsili ini mengakhiri banyak penyalahgunaan yang dilontarkan oleh reformator dan menegaskan ajaran katolik tradisional dan menetang ajaran baru kaum Protestan. 3. Gereja Orthodox dan Reformasi Tahun 1643 dan 1672, Gereja Orthodox menerima dua ‘Confessio’ dari iman kepercayaan orthodox yang menentang pandangan Luther dan Calvin, dalam hubungan tradisi dan gambar-gambar, jumlah dan makna sakramen dan keselamatan lewat iman dan perbuatan. Dalam dua hal Gereja Orthodox sebagian setuju dengan pandangan Reformator tentang masalah Canon Alkitab, dimana Orthodox menerima empat buku Apokripa (Tobit, Yudit, Sirakh dan Kebijaksanaan). Sejalan dengan reformator, mereka menolak pandangan Gereja Katolik tentang wewenang Paus. H. Konsili Vatikan II (1962 – 1965) Konsili Ekumenis terakhir dalam Gereja Katolik diadakan oleh Paus Yohanes XXIII guna memperbaharui Gereja Katolik selaras dengan kebutuhan zaman modern. Konsili itu mnghasilkan 16 dokumen. Beberapa hal yang penting dalam ajaran Konsili ialah: 1. 2. 3. 4. 5. 6. keunggulan Alkitab dalam iman Gereja; imamat semua kaum beriman; komitmen untuk menggalang kesatuan umat kristiani (ekumenisme); keterlibatan aktif dalam perjuangan keadilan, damai dan hak-hak azasi manusia; ibadah diadakan dalam bahasa setempat kaum beriman; keselamatan Allah dalam kaum beriman agama lain.

16

I.

Gerakan Ekumenis Tujuan gerakan Ekumenis (kata Yunani “oikumene” berarti seluruh dunia yang dihuni) dalam umat kristiani ialah untuk menemukan kembali kesatuan karena telah terjadi perpecahan dalam komunitas kristiani sepanjang sejarah. Gerakan ekumenis dewasa ini dapat ditelusuri kembali ke Konferensi Edinburg. 1910 yang memutuskan didirikannya Konferensi Kristiani Universal (1925), tentang Hidup dan Sabda. Dua tahun kemudian, Konferensi Sedunia. 1927 tentang Iman dan Tatanan, di Lausanne dan mempelajari dasar teologis untuk gereja dan kesatuan. Pada pertemuan kedua, tahun 1937, dua lembaga itu bergabung menjadi satu berwujud Dewan Gereja-gereja Sedunia. Lalu dibuatlah suatu konstitusi, 1938. Akibat Perang Dunia II peresmian ditangguhkan dan baru dilaksanakan tahun 1948, dan kota Geneva dipilih sebagai pusat kantornya, sebab Swiss netral dalam masalah politik. Pada Konsili Vatikan II, Gereja Katolik memutuskan untuk ikut dalam gerakan ekumenis. Tahun 1964, Paus Paulus VI, membuka suatu Sekretariat di Vatikan yang bertugas memajukan Kesatuan Umat Kristiani. Saat ini, Gereja Katolik menjadi anggota penuh dari Dewan Gereja-gereja setempat yang jumlahnya 58 negara.

17

BAB IV TUHAN YANG MAHAESA dan KETUHANAN A. Tuhan Allah Menurut Konsep Keagamaan Kuno Pengalaman religius manusia menempatkan diri manusia sebagai makhluk ciptaan dihadapan Sang Pencipta yang bersifat menarik hati (Fascinosum) sekaligus menggentarkan/menakutkan (tremendum) bagi manusia. Karenanya manusia berusaha mendekati-Nya. Banyak agama menyebut Yang Ilahi Pencipta langit dan bumi beserta segala ciptaan lainnya sebagai Bapa, namun bukan dalam arti secara biologis, yaitu Bapa sebagai asal usul, melainkan bermakna sebagai pelindung/pemelihara kehidupan umat manusia. Di Timur Tengah, sebutan lain Yang Ilahi adalah Bapa yang punya 2 pengertian, yaitu: 1. Yang Ilahi itu melahirkan: Yang Ilahi dan yang manusiawi saling bercampur sehingga diyakini oleh suatu bangsa, termasuk bangsa Yunani Kuno, bangsa Romawi Kuno mengaku keturunan berasal dari Dewa atau Dewi: anak-anak Dewa atau Dewi. Hal ini terlihat dalam mitos dan legenda karya kesusastraan atau filsafat mereka. 2. yang Ilahi meneguhkan status bapak dalam keluarga atau suku bangsa sebagai pemegang otoritas sekaligus bermurah hati atau melindungi warga masyarakat. Kepercayaan kepada yang Ilahi dipahami dan dihayati oleh bangsa-bangsa kuno berdasarkan paham mitologi yang diceritakan berupa legenda-legenda yang bercorak paham: Polytheisme, Pantheisme, Deisme/Trancendentalisme. Namun bagaimanapun juga usaha manusia mendekatkan diri kepada Yang Ilahi terungkapkan dalam berbagai ungkapan hubungan manusia dengan Yang Ilahi secara lahiriah berupa: 1. 2. 3. 4. Kegiatan beribadat, berdoa, bermeditasi. Mendirikan tempat ibadat, berziarah. Membuat aturan tata peribadatan: ritus keagamaan/liturgi dan membuat Membuat pranata-pranata kehidupan sosial.

hukum agama

18

5.

Mengungkapkan melalui berbagai macam karya seni keagamaan (seni Ungkapan secara lahiriah, mengenai hubungan manusia dengan Yang Ilahi,

suara, seni pahat, seni lukis, dll). demikian ini lazimnya disebut agama. Yang dapat diartikan sebagai : ungkapan hubungan manusia dengan Yang Ilahi sesuai dengan kehendak universal Ilahi, maka Agama berada dalam jalur yang benar. Dalam hal ini, Filsafat Ketuhanan memegang peranan penting, mengingat penyelidikan tentang pengetahuan mengenai Allah dicari atau ditemukan melalui cara-cara pendekatan rasional. B. Bangsa Israel Perjanjian Lama, tidak mengenal kata Bapa untuk sebutan Allah yang mempunyai arti biologis. Dalam pengalaman ungkapan iman bangsa Israel dikenal Allah; sebagai Bapa Bangsa Israel dan Israel adalah anak-anak-Nya. Karena bangsa Israel disayangi, dilindungi, dan dipilih serta dibimbing oleh Allah. Sebutan Allah Israel ini, adalah El sebagai subyek yang berpribadi, menarik hati manusia, sekaligus membuat manusia merasa kecil dihadapan-Nya dan Yang memiliki segala kekuatan atau kekuasaan yang tak tertandingi oleh manusia yang lemah. Sebutan Tuhan YME Israel adalah El sama dengan sebutan Yahwe: Sang Pelindung atau Penyelamat. Pengakuan iman akan Yahwe sama dengan pengakuan kepada Tuhan YME, yang dialami sebagai pribadi dan hadir dalam sejarah keselamatan bangsa Israel: Yahwe yang sama yang menampakkan diri kepada Bapa-Bapa Bangsa; kepada Musa yang mengadakan perjanjian antara Yahwe dengan bangsa Israel. Dengan demikian, pengalaman akan Tuhan YME ini, bukan diperoleh dari hasil pemikiran rasional, melainkan diketemukan dalam pengalaman nyata dalam sejarah; Yahwe dialami sebagai Sang Penolong, Sang Penyelamat yang sewaktu-waktu mengadili dan menghibur umat Israel. C. Tuhan Yang Mahaesa Berdasarkan Pengalaman Yesus Kristus dan Kesaksian Para Rasul Tuhan Yang Mahaesa Berdasarkan Pengalaman Sejarah

19

Paham Tuhan YME sebagaimana dialami dan diajarkan oleh Yesus Kristus dan oleh para rasul disebut paham Tuhan YME dalam Perjanjian Baru, yang berakar pada paham-paham Tuhan YME dalam Perjanjian Lama, yang sudah dikembangkan. Perbedaan paham antara Allah Israel dengan Allah yang dipahami Yesus Kristus dan diimani atau diwartakan oleh para rasul dan sekarang oleh gereja terletak pada jika Allah Israel bersifat eksklusif, hanya untuk Israel, tetapi Allah umat Perjanjian Baru lebih menekankan sebagai Allah Yang Mahabaik bagi semua orang, lebih-lebih menaruh bela rasa serta mengutamakan para pendosa, para penderita sakit, orang yang terpinggirkan atau marginal status sosialnya, orang yang dipandang rendah atau tidak diperhitungkan sebagai layaknya manusia, orang-orang yang membutuhkan, yang miskin (9 Mat 5: 1-12, Lukas 6 : 20-23). Melalui Putera-Nya, Allah mengajarkan atau memberi teladan bahwa Allah Sang Pencipta adalah Bapa bagi umat manusia. Bahkan, melalui Putera-Nya pula Perjanjian diperbaharui yakni Hukum Perjanjian Baru: Hukum Kasih sebagai ganti atau penyempurnaan Hukum Perjanjian Lama yaitu, Hukum Taurat Musa; dalam Hukum Perjanjian Baru. Hukum Kasih, berisi 2 hukum yang bersifat universal: 1. Mengasihi Allah dengan segenap hati, segenap jiwa dan dengan segenap akal budi serta dengan segenap kekuatan, yang menuntut bukti nyata dari manusia agar: 2. Mengasihi sesama manusia seperti mengasihi diri sendiri (Lukas 11;27, Mat 22; 36-37). Dengan demikian, murid-murid Kristus dituntut untuk berusaha memenuhi Hukum Kasih, dengan mewujudkan Allah secara nyata dialami oleh setiap orang dalam kehidupan sehari-hari. D. Iman Katolik Iman adalah jawaban manusia kepada Allah yang mewahyukan diri kepada manusia. Iman itu sebuah jawaban pribadi, maka untuk beriman diperlukan sebuah keyakinan bahwa Allah ada dan Dia menghubungi manusia dan hubungan itu berpengaruh pada hidup manusia. Beriman kepada Tuhan YME berarti mengakui Keimanan Kepada Tuhan Yang Mahaesa Berdasarkan

20

bahwa Tuhan itu ada dan tanpa Dia mausia tidak bisa berbuat apa-apa. Tuhan memberi arti bagi seluruh kehidupan. Keimanan seseorang kalau ditinjau dari segi akal budi manusia dapat disebut kebenaran iman, yang dalam ungkapan bahasa latin disebut “fides ex auditu”. Ungkapan itu berarti bahwa iman akan muncul berdasar pendengaran seseorang. Konkritnya, orang akan beriman setelah mendapatkan pewartaan iman oleh orang lain atau gereja. Orang yang beriman wajib menata tingkah laku sesuai dengan kebenaran yang diimani dan yang dianggap baik atau sesuai hati nurani diwujudkan dalam tindakan nyata. Tindakan yang demikian inilah, merupakan tindakan yang arif bijaksana seorang beriman yang juga merupakan tanda kedewasaan iman. Mampu mempertanggungjawabkan perbuatannya baik kepada Tuhan, sesama, dunia, lingkungan hidup dan masyarakatnya. Dengan cara demikian, manusia membangun diri. E. Iman Katolik Keimanan kepada Tuhan YME timbul pada seseorang, apabila orang tersebut pernah mendengarkannya. Selanjutnya sebagai konsekuensi dari keimanannya, maka orang menjatuhkan pilihan untuk menerima atau menolaknya. Semangat anak Allah berarti bersikap atau berperilaku yang cenderung maksimalis; sedang semangat budak adalah bersikap atau berperilaku cenderung minimalis, penuh perhitunagan dan bermentalitas “do ut des”, yang berarti “saya memberi agar engkau juga memberi”. Anak Allah selalu melaksanakan kehendak Bapa-Nya yang tersirat sejak dini, tidak pernah terlambat membalas kasih-Nya. Inilah wujud semangat kemerdekaan anak-anak Allah yang sejati. F. Filsafat Ketuhanan (Teologi Natularis) Dalam kenyataannya, manusia mempunyai kemampuan dasar berfikir dan berkehendak serta bertindak secara manusiawi, yang merupakan bukti keluhuran martabatnya sebagai manusia. Dengan kata lain, menjadi mahluk yang melebihi makluk ciptaan lainnya karena pemilikannya berupa akal budi, untuk berfikir dan berkehendak menjatuhkan pilihan dalam tindakan merdeka atau bermartabat manusia. Ketakwaan Kepada Tuhan Yang Mahaesa Berdasarkan

21

Filsafat Ketuhanan tidak hanya bersifat spekulatif, tetapi juga praktis khususnya berhubungan dengan akhlak dan agama. Filsafat Ketuhanan ingin menjelaskan eksistensi manusia sendiri, tetapi secara khusus dalam relasi dengan pusat transcendennya ( Allah). Metoda yang dipakai tidak ditentukan oleh iman atau agama. Melainkan, oleh penalaran manusia sendiri dan refleksi filosofis dan metafisik. BAB V MANUSIA DAN MORAL A. Persoalan Dasar Manusia Moral erat kaitannya dengan aktivitas manusia secara individual atau kolektif. Kedua hal tersebut saling terkait, memenuhi kebutuhan hidup manusia sekaligus keselamatan hidupnya lahir dan batin. Dalam bab ini akan mencoba memahami apa yang dimaksud dengan persoalan dasar manusia dan bagaimana cara pemecahan persoalan tersebut melalui iman katolik. Pokok masalah perkembangan dan kemajuan jaman menjadi buah bibir setiap orang dan muncul didalam kolom-kolom surat kabar dan terbitan-terbitan lainnya. Pokok masalah ini tidak hanya mengandung penegasan atau klarifikasi masalah, akan tetapi juga pertanyaan serta butir kegelisahan manusia yang sangat mencemaskan. Mengatasi persoalan dasar tersebut, berarti mengamankan secara mendasar nasib manusia bahkan menyiapkan kondisi yang dapat menunjang tumbuh kembangnya manusia bermartabat. Tetapi sebaliknya apabila gagal mengatasinya akan menghancurkan martabat manusia beserta peradaban luhurnya. Menghadapi persoalan dasar manusia yang demikian, maka penting mengetahui bagaimana memecahkannya. Kita bersama dengan gereja menemukan prinsip perhatian dalam Yesus Kristus sendiri, sebagaimana diberikan kesaksian oleh Injil Kristus. Inilah sebabnya, kita bersama gereja ingin membuat perhatian ini bertumbuh dan berkembang terus menerus melalui hubungannya dengan Kristus. Dengan cara membangun sistem jejaring yang handal dalam rangka memanfaatkan hubungan kerja sama sesama manusia untuk memecahkan persoalan dasar.

22

Solidaritas sejati melampaui segala sekat-sekat batas suku atau etnis, bangsa, ras, sosial ekonomi dll. Solidaritas ini diperlukan oleh masyarakat. Solidaritas ini ada dalam hidup secular, karena orang mempraktekkan persaudaraan umat manusia atas dasar kesamaan martabat sebagai manusia yang saling membutuhkan (Humanisme Sekular). Suatu masyarakat dimana kehidupan ipoleksosbud-hankam diwujudkan sebaik-baiknya demi kehidupan manusia terarah pada tujuan trasendetalnya, maka martabat manusia dapat ditumbuhkembangkan menuju kesempurnaan hidup sejatinya. Dan ini terjadi, jika dengan perantaraan Yesus Kristus dan oleh karya penyelamatan-Nya kita dikuatkan oleh Bapa dalam persekutuanNya dengan Roh Kudus. Dengan demikian, Gereja atau umat Allah dapat menampakkan diri sebagai sakramen keselamatan umat manusia karena persatuannya dangan Allah Bapa, Putera dan Roh Kudus berperan sebagai tanda dan sarana mewujudkan keselamatan di dunia bagi semua orang. Hanya dengan demikian, akan berhasil memecahkan persoalan dasar yang dihadapi bersama didunia ini. B. Martabat Manusia Martabat manusia setingkat dengan nilai absolut. Martabat ini, bukan akibat pengakuan atau consensus orang atau masyarakat. Melainkan sudah ada pada manusia secara intrinsik. Martabat manusia sebagai mahluk berakal budi dan berkehendak merdeka berkaitan dengan tanggung jawab atas tindakannya sebagei subyek etis. Manusia adalah mahluk yang dapat bertindak secara moril atau etis dan karenanya berkewajiban mengembangkan diri dengan sadar. Martabat manusia adalah perwujudan kerohaniannya (akal budi dan kehendak mereka). Tetapi, manusia adalah mahluk rohani-jasmani yang tidak terpisahkan (tetapi bisa dibedakan). Badan manusia mengambil bagian dalam kerohaniannya dan sebaliknya. Kedua segi itu saling melengkapi atau saling mempengaruhi atau saling meresapi. Tubuh manusia ikut mengambil bagian dalam martabat manusia. Hal ini, harus diakui dan dihormati oleh semua orang dan lembaga yang ada di dunia ini, termasuk oleh negara dan umat beragama serta pemuka-pemukanya. Sebab martabat

23

manusia adalah anugerah dari sang Pencipta, maka tidak masuk akal menuntut sesuatu yang berlawanan dengan martabat manusia atas dasar hukum/kepentingan negara, apalagi atas hukum Ilahi. Persekutuan kristiani mengakui dan menghormati martabat manusia sepenuhnya. Inilah kewajiban keagamaan, (yang sayangnya) tidak selamanya diamalkan dengan baik juga oleh oranng yang menyebut dirinya orang kristiani (Katolik KTP). Dalam ajaran sosial gereka katolik martabat manusia diterangkan dan diuraikan berdasar sumber-sumber yang ada dalam Kitab Injil Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru serta Ajaran Gereja yaitu martabat manusia sebagai ciptaan Allah, martabat manusia bermartabat Anak Allah, dan manusia sebagai pribadi sosial dalam ziarahnya di dunia. C. Hakekat Dan Tanggung Jawab Manusia Hidup manusia disamping merupakan anugerah Tuhan sekaligus mengemban tugas panggilan (gabe und aufgabe). Dasar biblis tugas panggilan tersebut merupakan tolak ukur tindakan manusia bertanggung jawab: 1. Kejadian 1 : 28 : ”Beranak cuculah dan bertambah banyak; penuhilah bumi dan taklukkanlah itu, berkuasalah atas ikan-ikan dilaut dan burung-burung di udara dan atas segala binatang yang merayap dibumi” (tugas mengelola dunia ciptaan). 2. Matius 5 : 48 : ”Karena itu haruslah kamu sempurna, sama seperti Bapamu di surga adalah sempurna” (tugas mengerjakan keselamatan, istilah Paulus) Di dalam Perjanjian Baru manusia mendapat tugas panggilan melaksanakan kehendak Allah yang sekaligus menjadi arah tujuan hidupnya. Menjalani tugas panggilan berarti maengembangkan martabatnya atau keluhurannya sebagai manusia atau anak Allah. Untuk mengembangkan martabatnya, manusia harus menjatuhkan pilihan dengan merdeka dan bertanggung jawab atas perbuatannya pada hari kematiannya. Dalam perkembangannya, ternyata menusia memiliki 2 unsur dalam dirinya yaitu:

24

1. 2.

Mengacu pada Kejadian 1 : 28 bahwa manusia memiliki kodrat sebagai mengacu pada Matius 5 : 48 bahwa manusia mempunyai kodrat menjadi Kedua unsur ini, yang ada pada manusia harus diwujudkan menjadi kesatuan,

mahluk ciptaan yang menjadikannya bermartabat duniawi. anak Allah yang menjadikannya bermartabat surgawi. merupakan satu martabat manusia yang menampakkan diri dalam banyak segi. Unsur-unsur duniawi bersifat sekunder dan bernilai relatif, artinya adanya terarah sebagai bantuan untuk mencapai perkembangan kearah kesempurnaan martabat Allah. Unsur-unsur yang mengacaukan perkembangan manusia sudah ada dalam diri manusia, yaitu warisan dosa asal alias situasi berdosa dimana mau tidak mau manusia lahir didunia mengalami situasi berdosa tersebut secara langsung. Manusia terinfeksi adanay dosa warisan tersebut, manusia secara kodratnya cenderung berbuat jahat yang merupakan tanah subur untuk melakukan kesalahan dan perjuangan pribadi maupun bersama-sama dalam menegakkan kerajaan Allah. Dalam Sollicitudo Rei Socialis Paus Yohanes Paulus II, menandaskan bahwa kekeliruan dan keterbatasan tehnis dalam pengetahuan dan pengalaman manusia mencapai perkembangan martabatnya membutuhkan pertobatan, yang mampu membasmi pengaruh dosa. Tanpa pertobatan yang dimulai dari diri sendiri, mustahil tindakan manusia menghasilkan tindakan yang bertanggung jawab dan yang mampu menumbuh-kembangkan perkembangan terarah pada tujuan hakiki hidup manusia sejati.

25

BAB VI ILMU PENGETAHUAN, TEKNOLOGI DAN SENI A. Ilmu Pengetahuan Pengetahuan ialah kesadaran subjek akan objek, sadar akan sesuatu, tertangkapnya objek oleh subjek, bersatunya objek deng subjek, apa yang dialami oleh indra. Ilmu pengetahuan ialah pengetahuan yang disusun secara sistematis, metodis dan isinya dapat dipertanggung jawabkan. Dalam bahasa Yunani dikenal istilah logos. Dikatakan logos apabila memuat nilai-nilai yang bersifat ilmiah. Karakter yang spesifik pada ilmu pengetahuan ialah usaha pencapaiannya yang metodologis, sistematis,berlaku umum, bebas nilai meskipun ilmu pengetahuan itu sendiri adalah nilai dalam arti sebagai sesuatu yang bermakna. B. Teknologi Kata teknologi berasal dari kata Yunani techne yang berarti cara dan logos berarti ilmu pengetahuan. Teknologi adalah ilmu pengetahuan tentang teknik yang merupakan ilmu terapan. Teknologi tidak sama dengan teknik. Teknik bukanlah ilmu kecuali ilmu-ilmu tentang teknik. Teknologi sebagai ilmu terapan mempunyai arti yang lebih luas daripada penerapan ilmu. Karena penerapan ilmu hanya mencakup ilmu tertentu. Sedangan teknologi tidak terbatas pada satu ilmu. Teknik adalah serangkaian cara yang distandarisasi agar bisa mencapai hasil yang sudah diperhitungkan sebelumnya. Ilmu pengetahuan dan teknologi berkedudukan saling membutuhkan. Ilmu pengetahuan C. Seni menghasilkan teknologi dan teknologi memungkinkan ilmu pengetahuan semakin mendalam.

26

Bicara tentang seni bisa ditemukan secara mendalam di dalam Estetika atau Filsafat Keindahan. Estetika lebih menekankan pengalaman subjek, kurang memperhatikan objek pengalaman entah matural object atau artificial object. Sedangkan keindahan mengacu pada subjek yang mengamati disebut keindahan subjektif dan keindahan yang didasarkan pada apa yang diamati disebut keindahan objektif. Seni mempunyai arti pengetahuan tentang ketrampilan atau kemampuan manusia untuk menguasai apa yang ia kerjakan. Ada 2 tokoh utama dalam estetika, yaitu Plato dan Aristoteles. Bagi Plato, seni merupakan tiruan dari dunia idea. Seni yang sesungguhnya ada didunia idea. Sedangkan bagi Aristoteles (murid Plato), seni merupakan tiruan dari dunia empiris. Kemudian muncul apa yang disebut ars humana dan ars divina. Ars humana adalah seni hidup manusia tercakup di dalamnya bagaimana bertingkah laku dan bagaimana mengelola alam. Sedangan ars divina adalah seni yang dilihat sebagai berpartisipasi dalam karya Ilahi. Dari segi waktu dan ruang, kesenian terbagi atas seni temporal, yaitu kegiatan seni yang menekankan pendengaran dan seni tata ruang, yaitu seni yang berhubungan dengan penglihatan. D. Ilmu Pengetahuan dan Kitab Suci Kurang lebih 40 tahun terakhir ini terdapat banyak pembaharuan dalam eksegese (ilmu penafsiran Kitab Suci) dan teks Kitab Suci memang sama namun pengertiannya yang duli di up to date sehingga kontekstual. Tahun 1893, Paus Leo XIII mengeluarkan ensiklik yang mendorong penafsiran. Tahun 1910 – 1920 Komisi Biblis di Roma mengawasi dan melindungi tafsiran yang tradisional. Tahun 1920 – 1930, pendirian kaum tradisional makin kuat sampai-sampai banyak profesor yang berbeda pendapat digeser. Tahun 1943, Paus Pius XII mengeluarkan ensiklik dalam hal: 1. kelonggaran dan kebebasan untuk menafsir 2. diwajibkan pembaharuan eksegese 3. ditegaskan untuk memperhatikan gaya-gaya sastra. Demi jelasnya dapat dilihat bagaimana dulu dan sekarang Kitab Suci dipandang:

27

1. Dulu: a. Kitab Suci adalah kitab yang ditulis di suga oleh Allah sendiri, kemudian diturunkan ke dunia b. Kitab Suci adalah 100% sabda Allah c. Kitab Suci sebagai sabda Allah bersifat mutlak d. Kata-kata Kitab Suci didekte oleh Allah, pengarang hanya sebagai tukang catat e. Kitab Suci dengan sifatnya yang mutlak dianggap tidak dapat keliru dari segi apapun. f. Kitab Suci merupakan dogma (ajaran yang harus diimani) g. Ayat-ayat Kitab Suci dipakai sebagai senjata untuk mengalahkan musuh di medan perang. 2. Sekarang Kitab Suci adalah 100% sabda Allah, 100% sabda manusia. Artinya sungguh-sungguh sabda Allah. Disamping itu ada keterlibatan manusia yaitu si pengarang. Allah bersabda melalui dan didalam pengarang. Kata melalui menunjukkan otoritas Allah. Sedangkan kata di dalam menunjukkan adanya keterlibatan pengarang. a. b. c. d. versi penulisan mengikuti bakat si pengarang dipengaruhi oleh mileu (lingkungan) si pengarang berdasarkan bahasa si pengarang mempnyai pandangan pribadi dan menggunakan macam-macam sastra. Tidak ada kontradiksi antara kebenaran ilmu pengetahuan dan kebenaran Kitab Suci, yang penting harus dipahami bahwa Kitab Suci tidak bermaksud untuk mengajarkan ilmu pengetahuan, melainkan untuk mewartakan karya keselamatan. 4. Galileo Galilei (1564 – 1642) Ia adalah cendekiawan Italia, seorang astrolog penganut Copernicus yang telah menyelidiki bahwa heliosentris. Planet-planet lain termasuk bumi mengitari matahari. Ditegaskan bahwa setiap hari, bumi berputar pada porosnya selama 24

3. Kitab Suci bukan Buku Ilmu Pangetahuan

28

jam. Hal yang demikian menimbulkan konflik antara Galileo dengan hirarki dalam gereja. Tetapi Galileo tetap membela diri dan mempertahankan faham heliosentris.

5. Ilmu Pengetahuan dan Iman Gereja mengakui ilmu pengetahuan sebagai hal yang wajar, dimana ilmu pengetahuan mempunyai norma tersendiri. Justru karena diciptakan oleh Allah Yang Mahabijaksana maka semua yang ada menjadi unik menurut tata tertibnya masing-masing. Oleh karena itu gereja harus mengakui dan mengindahkan kekhasan ilmu pengetahuan. Kesesuaian yang fundamental antara penemuan ilmiah dengan normanorma moral meniadakan timbulnya konflik. Semua metode, semua motivasi dan semua hasil ilmu pengetahuan senantiasa perlu dikritisi, tidak bisa diterima begitu saja. 6. Sarjana dan Ilmu Pengetahuan Sarjana adalah predikat formal yang disandang oleh seseorang karena kapasitas ilmu pengetahuan yang dimilikinya. Seyogyanya seorang sarjana memiliki tanggung jawab moral dalam hal mengaplikasikan ilmu pengetahuan yang dimilikinya. Fungsi utama ilmu pengetahuan adalah menjadi landasan keputusan secara benar, terlebih menyangkut pekerjaan yang secara langsung berhubujngan dengan ilmu pengetahuan yang telah diperoleh. Seorang sarjana dikatakan beriman apabila ia mampu mengaplikasikan ilmu yang dimilikinya secara benar dan baik. Benar berarti ada korelasi antara keputusan dengan ilmu pengetahuan yang mendasari keputusan. Baik berarti tidak membelokkan nilai ilmu pengetahuan yang berdampak merugikan orang lain. 7. Dampak teknologi Manusia senantiasa berhadapan dengan teknologi, karena teknologi merupakan buatan manusia. Teknologi mambawa dampak yang positif dan negatif tidak karena teknologinya tetapi karena manusia selaku pengguna

29

teknologi. Dampak positifnya adalah pekerjaan semakin efisien, produksi semakin meningkat, hidup manusia menjadi lebih mudah. Sebaliknya teknologi juga membawa dampak negatif karena ada keterlibatan manusia didalam menggunakannya. Teknologi bisa membahayakan manusia bahkan memusnahkan kehidupan manusia itu sendiri. Dampak negatif lainnya ialah meningkatkan pengangguran karena digantikan oleh alat Teknologi juga bisa dipakai untuk melestarikan kekuasaan, misalnya untuk mensosialisasikan kehendak pemerintah yang menggiring rakyatnya demi kepentingan pemerintah. Teknologi digunakan untuk menekan pihak lain bahkan untuk menjajah bangsa lain. Diharapkan teknologi sebagai hasil pikiran manusia akan ikut menjaga dan senantiasa dimanfaatkan bagi kesejahteraan manusia, bukan untuk mendehumanisasi martabat manusia. Teknologi hendaknya dihayati sebagai karunia Tuhan untuk memelihara, mengembangkan dan memanfaatkannya secara manusiawi. Kemajuan ilmu pengetahuan teknologi, dan seni tidak dapat dihindari sejalan dengan makin pesatnya daya pikir manusia. E. Peran Ilmu Pengetahuan dan Teknologi Penguasaan IPTEK merupakan syarat mutlak dalam era globalisasi untuk bisa memproduksi dan memasarkan produk (barang dan jasa). Fakta menunjukkan, teknolog makin canggih hingga manusia tidak bisa mengejarnya. Tidak bisa tidak kita harus mengikuti perkembangan teknologi agar tidak ketinggalan dengan bangsa lain. Masalah pokok bagi kita ialah bagaimana memilih dan mengembangkan teknologi yang sesuai dengan kondisi negarea. F. Iman, Ilmu Pengetahuan dan Amal Adalah berlebih bila orang menyebut iman dan amal seperti halnya orang menyebut iman kepercayaan. Seseorang dikatakan beriman apabila antara lain bisa beramal. Beramal artinya berbuat baik, misalnya memberi bantuan kepada orang miskin. Pertanyaannya, apakah kalau ia tidak memberi maka tidak beriman. Tidak bisa dikatakan tidak beriman apabila ia tidak mempunyai untuk memberi. Iman bukan ilmu pengetahuan, karena iman tidak selalu berdasarkan rasio. Sedangkan ilmu pengetahuan dasarnya ialah akal budi atau rasio. Ilmu pengetahuan

30

menuntut pengertian dan pembuktian kebenaran. Iman justru sebaliknya, Ia tidak mengerti seperti yang dituntut oleh ilmu pengetahuan tetapi mau menerimanya. Itulah perbedaan hakiki antara ilmu pengetahuan dan iman. Iman sesungguhnya merupakan karunia, karena kadang-kadang sangat sulit untuk dimengerti oleh akal budi.

BAB VII KERUKUNAN ANTAR UMAT BERAGAMA A. Masalah-Masalah Agama

Didalam masalah-masalah agama ini akan diuraikan dua bagian besar yaitu faktor ekstern dan intern yang berasal dari umat beragama. 1. Faktor Ekstern Intervensi Pemerintah Dalam kurun waktu 32 tahun Regim ORBA berkuasa kehidupan umat beragama mengalami suasana yang memprihatinkan sekali dari segi kualitas, walaupun dari segi kuantitas nampak adanya kemajuan seperti bertambahnya tempat ibadah dll. Sebab dalam kurun waktu itu secara praktis diterapkan sistem pemerintahan otoriter yang represif demi statusquo Regim ORBA. Penguasa regim terlalu jauh mencampuri urusan keagamaan dengan akibat terjadi pelanggaran hak-hak asasi pemeluk agama. Dalam situasi konflik demikian penguasa regim memanfaatkannya dan tidak segan-segan memihak salah satu kelompok yang sedang berkonflik. Alhasil ada kelompok yang diuntungkan dan dirugikan dan lazimnya adalah kelompok minoritas. Padahal menurut penalaran sehat, justru kelompok minoritaslah wajib dilindungi dan dihormati hak-hak azasi kemanusiaannya. 2. Faktor Intern Berasal dari Umat Beragama Di dalam menghayati agamanya terdapat sebagian pemeluk agama bersikap dan berperilaku fanatik buta. Akibatnya kelompok pemeluk agama ini cenderung memisahkan diri dari kehidupan masyarakat. Kelompok pemeluk agama yang eksklusif tidak segan-segan dalam mencapai kepentingannya

31

menempuh jalur politik: Berkolusi dengan penguasa regim bersedia diperalat demi kepentingan politik regim. Dengan konstelasi politik demikian ini umat beragama secara keseluruhan sulit untuk saling bersikap dan berperilaku toleran. Padahal toleransi adalah sikap yang tdak menolak perbedaan-perbedaan: Sikap awal yang baik untuk mengadakan dialog. Melalui dialog masing-masing pihak bisa menukarkan inspirasi yang terkandung dalam agama masing-masing, nilai-nilai luhur masing-masing agama saling diungkapkan untuk menjadi kekayaan bersama. Melalui sikap dan perilaku toleransi masing-masing pihak kelompok beragama dapat maju bersama. B. Makna Agama Dalam Kehidupan

Pada makna agama dalam kehidupan ini akan diuraikan dua bagian besar yaitu: 1. Makna Agama Bagi Kehidupan Politik Mencermati masalah kehidupan beragama, maka seharusnya agama tampil berperan memberi petunjuk bagaimana mengatasi konflik dan merangkumnya menjadi sebuah makna bagi kehidupan manusia, khususnya kehidupan politik. Dalam hal ini agama bisa berperan melengkapi keterbatasan politik dalam mengatasi masalah pokok yang dialami oleh manusia, yang ternyata tidak cukup dari segi sosialnya saja. Salah satu peran agama adalah menjalankan fungsi tugas kenabian/peran kritisnya terhadap lembaga/kekuasaan yang membunuh Roh Agama: semangat dasariah dalam mengemban panggilan menegakkan Kerajaan Allah didunia. Peran agama harus dicari sedemikian rupa, sehingga mampu memberi petunjuk mengatasi masalah-masalah dan merangkumnya mengingat keterbatasan birokrasi modern untuk menjangkaunya. Karenanya, kini dan masa depan mutlak dibutuhkan inter-relasi kerjasama yang harmonis antara agama dan politik. 2. Makna dan Peran Agama Katolik Bagi Kehidupan Umat Beragama Dalam bersikap dan menjalin hubungan dengan umat beragama lain, gereja katolik mengajarkan untuk melihat persamaan-persamaan yang dihadapi oleh umat manusia dan bagaimana bersama-sama menghadapi keadaan itu.

32

Disamping itu mencoba melihat juga hal-hal yang tidak sama yang dapat mendatangkan pertentangan untuk dipecahkan bersama demi kesejahteraan bersama. Umat katolik terpanggil untuk berperan dalam kehidupan beragamanya untuk menghayati dan mewujudkan sikap dan perilaku yang bersifat inklusif, pluralis, dan utuh terbuka. Inklusif artinya, bersikap terbuka dengan menghargai kenyataan diluar lingkungan katolik. Tidak menganggap bahwa agamanya sendiri benar. Paralelis atau pluralis artinya, bersikap menerima bahwa ada perbedaan dengan agama lain namun tetap menghormatinya baik ajarannya maupun mengenai pemeluk ajaran agama yang berbeda dan tidak begitu saja mengambil alih. Sedangkan utuh terbuka maksudnya, merupakan perkembangan sikap inklusif dan pluralis. 3. Hubungan (Kerukunan Hidup) Antar Umat Beragama Bermacam ragam corak hubungan antar umat beragama yang antara lain mengambil bentuk konflik, toleransi dan dialog. Persaudaraan sejati dapat dibangun berdasarkan toleransi dan dialog, yaitu ketika orang telah mengalami banyak hal yang pada dasarnya sama didalam ajaran-ajaran agama, dan ketika nilai-nilai luhur dan kebijaksanaan yang diperlukan untuk hidup bersama dapat dijadikan dasar kerja sama untuk mewujudkan kesejahteraan lahir batin bersama. Kerjasama itu bagi umat katolik bukan hanya karena didasarkan kenyataan kebersamaan hidup dengan umat beragama lain, tetapi juga didasarkan pada iman katolik yang bersumber dalam kitab suci, tradisi, dan megisterium gereja. Sehubungan dengan ini, maka perlu penyelidikan lebih dahulu naskah kitab suci. Naskah-naskah tersebut bisa dipakai rujukan untuk menggunakan cara berpikir mengenai keselamatan. Ada 3 cara berpikir mengenai keselamatan sbb: a. Cara Berpikir Eklesiosentris : cara berpikir ini berpendirian bahwa keselamatan seseorang dapat diperoleh dari gereja (berpusat pada gereja). b. Cara Berpikir Kristosentris : cara berpikir ini berpendirian bahwa keselamatan diperoleh langsung dari Yesus Kristus (berpusat pada Kristus) Allah yang menyelamatkan manusia melalui Yesus Kristus dan keselamatan

33

itu terjadi dalam setiap kebersamaan yang mengakui Yesus Kristus sebagai Juru Selamatnya. c. Cara Berpikir Theosentris : cara berpikir ini berpendirian bahwa keselamatan bersumber langsung dari Allah (berpusat pada Allah). Allah menyelamatkan semua manusia dan berita mengenai keselamatan tersebut disampaikan kepada manusia melalui para Utusan Allah: Musa, Yesus, Mohammad, Budha Gautama, Khong Hoe Tjoe dlsb. Berdasarkan ajaran dokumen Konsili Vatikan II kita dianjurkan untuk bersikap rendah hati (penuh pertobatan dalam diri sendiri) berusaha menghormati orang yang beragama lain, mencari titik temu/persamaan yang dapat dijadikan landasan untuk bekerjasama dalam karya-karya sosial, kesehatan, pendidikan, kerja bakti menanggulangi musibah, bencana alam, dan karya kemanusiaan lainnya. Sebab melalui karya-karya demikian kita akan umat beragama. Kita semua diundang untuk mengubah suasana yang sewaktu-waktu dapat mengancam kerukunan hidup antar umat beragama. Oleh karena itu pertama-tama diperlukan perubahan sikap supaya tindakan kitapun diharapkan juga bisa berubah, misalnya mendatangkan solusi atas konflik. Maka kita harus mencermati apakah konflik betul-betul ditimbulkan oleh umat beragama sendiri atau karena adanya ulah rekayasa dari pihak luar yang tidak bertanggungjawab. semakin mengalami kebersamaan hidup dalam berkarya nyata sebagai aktualisasi iman masing-masing

34

BAB VIII MASYARAKAT A. Tugas Perutusan Gereja Di Dalam Masyarakat

Pada pembahasan tugas perutusan gereja didalam masyarakat ini akan dibahas tentang saling mengasihi di dalam memasyarakat, dan sebagai ranting-ranting pokok anggur menjadi garam dan ragi masyarakat. 1. Saling Mengasihi di Dalam Masyarakat Orang yang telah mengalami cinta kasih, wajib untuk membagikan cinta kasih itu kepada orang lain. Kita sebagai umat Allah yang telah mengalami cinta Bapa, Putera dan Roh Kudus secara berlimpah harus dapat memberi dan membagi cinta itu kepada dunia dalam perbuatan-perbuatan nyata. Kita harus dapat melaksanakan karya-karya cinta kasih didalam dunia agar dunia tahu bahwa kita adalah murid-murid Tuhan. Dunia dewasa ini sangat membutuhkan cinta kasih. Segala masalah dan bencana yang menimpa dunia disebabkan oleh kemiskinan cinta kasih. Banyak masalah tidak akan terselesaikan tanpa cinta kasih. Mengenai cinta terhadap sesama, Yesus mengajarkan cinta yang tidak pilih kasih, cinta tanpa perkotakan dan klasifikasi. Tidak terbatas pada keluarga, suku, atau bangsa sendiri (Lukas 10:25-30). Lebih dari itu, kita diajari untuk mencintai musuh-musuh kita (Lukas 6:27-36). Mencintai sesama harus seperti mencintai diri sendiri (Mateus 22: 3740). Cinta kepada sesama merupakan bukti cinta kepada Tuhan (1 Yohanes 4:20). 2. Kita Adalah Ranting Pokok Anggur (Yohanes 15:1-8) Persatuan dengan Yesus Kristus dibutuhkan dengan mutlak dalam karya dan pengamalan cinta kasih kita kita kepada sesama. Motivasi, orientasi dan pola amal kita harus bertaut pada Kristus, sebab kalau tidak, karya-karya amal kita tidak bersifat murni lagi.

35

Maka dari itu, di dalam usaha kita mengamalkan cinta kasih di dalam masyarakat kita harus mengusahakan tiga hal. Pertama, memurnikan motivasi kita terus menerus. Motivasi amal kita harus tetap karena amanat dan pribadi Kristus sendiri. Kedua, berorientasi pada Kristus. Setiap karya amal cinta kasih kita akhirnya harus terarah pada Kristus, bukan kepada diri kita sendiri. Ketiga, seluruh pelaksanaan karya kita harus berpola pada pola karya Yesus Kristus. Kristus adalah pokok anggur dan kita adalah ranting-rantingnya. Ranting tidak dapat hidup sendiri karena ia dihidupi oleh pokok anggur itu. Jadi, bila kehidupan yang mengalir diranting-ranting itu sama dengan kehidupan yang mengalir didalam pokok anggur, itu berarti bahwa orang-orang Katolik harus menjadi serupa dengan Kristus. 3. Menjadi Garam, Ragi, dan Terang (Mateus 5:13-16) Kita umat Katolik harus bisa menjadi garam, ragi dan terang dalam masyarakat. Garam (Mateus 5:13) membuat makanan menjadi enak. Kehadiran orang Katolik harus menjadi seperti garam bagi masyarakat. Ragi (Mateus 13:33) membuat ketan menjadi tapai yang enak untuk disantap. Kehadiran orang Katolik harus seperti ragi itu, membuat masyarakat menjadi lebih baik, maju dan berkembang. Terang (Mateus 5:14-16) mengusir kegelapan dan membawa keceriaan. Kehadiran orang Katolik harus turut mengusir semua yang gelap, suram, hitam dan tidak manusiawi. Gereja menjadi terang bukan hanya dengan ajarannya, tetapi juga dengan perbuatannya. B. Keterlibatan Gereja Di Dalam Masyarakat Pada pembahasan keterlibatan gereja di dalam masyarakat ini akan dibahas keprihatinan terhadap sikap materialistis, dampak teknologi, ketidakjujuran, kemurnian, hak milik dan hak hidup 1. Keprihatinan Terhadap Sikap Materialistis Materialisme adalah suatu pandangan yang menganggab bahwa materi (harta kekayaan berupa uang, emas, rumah, dsb) adalah diatas segalanya. Semua yang tidak dapat dinilai/diukur dengan materi dianggab tidak ada, sehingga Tuhan juga dianggap tidak ada.

36

Ada dua macam materialisme. Pertama, mereka menjadi materialisme karena percaya pada ideologi materialisme. Kedua, materialisme praktis, yaitu orangnya tidak mau disebut materialisme tetapi perbuatan dan tindakannya sungguh hanya mencari keuntungan materi belaka. Bahaya materialisme bagi pribadi-pribadi adalah menjauhkan orang dari Tuhan dan sesama, sebab materi menjadi paling utama bagi orang itu. Sesama diperalat dan diperas demi materi. Sikap materialistis membuat orang menjadi tidak bahagia karena ambisi yang kuat untuk memiliki materi. Sebagai umat Katolik, kita harus bisa memberi kesaksian dengan sikap dan perbuatan bahwa materi bukanlah nilai tertinggi melainkan iman kepada Tuhan YME. Materi tidak bersifat abadi. Kita harus menjunjung tinggi nilai-nilai rohani. 2. Keprihatinan Terhadap Ketidakjujuran Sebagai orang Kristiani kita dituntut bersikap jujur. Jujur artinya ada keselarasan antara perkataan, perbuatan, dan sikap hidup. Nilai kejujuran terletak adalah jaminan untuk saling percaya, merupakan dasar dari setiap pergaulan dan hidup bersama yang sehat dan bahagia. Sebagai orang Kristen kita harus menghilangkan sebab-sebab yang menumbuhkan ketidakjujuran itu. Kita harus memperjuangkan kejujuran dengan berbagai cara. Kita harus bisa memberi kesaksian tentang kebenaran dan kejujuran. 3. Keprihatinan Terhadap Hak Milik dan Kemurnian Saat ini, banyak orang tidak menghargai hak milik orang lain. Didalam sepuluh perintah Allah, perintah ketujuh dan kesepuluh melindungi milik maupun hak milik. Kedua perintah itu mewajibkan kita mengamalkan keadilan, yaitu merelakan dan memberikan kepada masing-masing orang apa yang menjadi haknya. Setiap orang berhak atas sekian banyak millik pribadi, sehingga ia dapat hidup secara layak. Di dalam kenyataan hidup, seseorang memiliki milik pribadi secara berlebih, sedangkan yang lain serba kekurangan. Secara Kristiani, kita seharusnya membagi harta di dunia ini secara adil.

37

Sistem Kapitalisme dan Komunisme merongrong pribadi manusia dan peraturan Tuhan. Komunisme tidak mengakui hak milik pribadi dan menyerahkan segala milik kepada negara. Sedangkan kapitalisme mau menimbun harta di dalam tangan sekelompok kecil orang. Tentang dosa melawan kemurnian, Yesus menegaskan.”Telah kamu dengar bahwa ada dikatakan, jangan berzinah. Tetapi Aku berkata kepadamu, barang siapa memandang seorang wanita dengan nafsu, sudah berzinah dengan dia di dalam hatinya” (Mateus 5:27-28). Dalam hati timbul segala pikiran jahat seperti pembunuhan, zinah, percabulan. Semua itu menajiskan manusia” (Mateus 15:19-20). Bahaya-bahaya akibat perbuatan mesum antara lain merusak mental dan jasmani, mengurangi/menghilangkan semangat bekerja, merugikan waktu dan dana, dsb. Oleh karena itu, untuk menghindari permesuman hendaknya kita menghayati nilai-nilai kemurnian, mengelak pada kegiatan yang mengarah pada kemesuman. Mengadakan kegiatan untuk rekreatif dan mencipta, serta berdoa untuk mempertahankan kemurnian. 4. Keprihatinan Terhadap Hak Hidup Ada gejala didalam masyarakat bahwa nyawa manusia atau hak untuk hidup kurang dihargai. Gejala tersebut dapat dilihat pembunuhan atau pembantaian, pengguguran kandungan, euthanasia, narkoba dsb. Gereja mengajarkan bahwa hidup kita itu pemberian dari Allah. Maka dari itu, hanya Tuhanlah yang berhak atas kehidupan kita.

38

BAB IX KEBUDAYAAN A. Kebudayaan Indonesia Lima hal yang mau dijelaskan dalam kebudayaan Indonesia ini adalah kebudayaan asli Indonesia, kepercayaan asli Indonesia, pengaruh kebudayaan baru di Indonesia, pengaruh dari masyarakat Indonesia sendiri dan perjumpaan kebudayaan asli dengan kebudayaan baru. Kebudayaan asli Indonesia dimulai dari jaman prasejarah, artinya jaman sebelum bangsa Hindu masuk di Indonesia. Jaman prasejarah Indonesia dapat diklasifikasikan menjadi 4 periode yaitu jaman batu, jaman baru, jaman suasa, dan jaman megaliticum. Pada jaman batu, kita mengenal peninggalan berupa alat-alat yang terbuat dari batu seperti kapak, tombak, dll. Alat buatan jaman ini masih sangat kasar. Pada jaman baru, alat-alat yang dibuat sudah halus. Pada jaman suasa, bangsa Indonesia telah mengenal barang-barang berharga seperti emas, suasa,. Pada jaman suasa, bangsa Indonesia telah mengenal barang-barang berharga seperti emas, suasa, perak, dll. Sedangkan pada jaman megaliticum, kita telah menghasilkan alat dari batu besar seperti tugu, lesung, arca, dsb. Kepercayaan asli yang menentukan sikap dan tingkah laku Bangsa Indonesia dapat dibagi menjadi dua yaitu Animisme dan Dinamisme. Animisme berasal dari kata anima yang artinya roh. Animisme adalah suatu aliran kepercayaan yang mempercayai bahwa kekuatan yang maha tinggi itu adalah roh. Aliran ini percaya tidak hanya manusia yang mempunyai roh tetapi juga semua benda, binatang dan tumbuhan. Manusia mempunyai roh yang kekal, artinya tidak dapat mati meskipun badannya sudah mati. Dinamisme berasal dari kata dynamis yang artinya kekuatan. Dinamisme adalah suatu aliran kepercayaan yang mempercayai bahwa kekuatan yang maha tinggi itu ada pada benda-benda tertentu yang mempunyai kekuatan gaib.

39

Selain kepercayaan asli, bangsa Indonesia juga dipengaruhi oleh kebudayaan baru seperti agama Hindu/Budha, Islam, Kristen/Katolik. Perjumpaan asli dengan kebudayaan baru dapat mengakibatkan asimilasi yaitu peniruan kebudayaan asing, maksudnya kebudayaan setempat meniru seluruh kebudayaan dan bahasa asing tersebut dan keduanya berjalan bersamaan atau mengakibatkan akulturasi yaitu berubahnya dua kebudayaan asli yang disebabkan oleh lamanya bertemu/bergaul dengan kebudayaan baru. B. Pandangan Hidup dan Kebudayaan Dunia adalah panggung sejarah manusia yang ditandai oleh kegiatankegiatannya, keberhasilan dan kegagalan, dan diimani sebagai ciptaan Allah. Kebudayaan ditentukan oleh sejarah, alam dan lingkungan. Unsur-unsur berikut dipandang sebagai pola atau poros kebudayaan: 1. Tuhan Tuhan atau dunia transenden (dunia diatas) melalui agama, terutama melalui hati manusia, memainkan peranan amat penting dalam kehidupan sehari-hari. 2. Kegiatan Manusia terbentuk karena ada kegiatan manusia. Kegiatan itu Kebudayaan

menghubungkan manusia yang satu dengan yang lainnya. Setiap orang karena pendidikan, ekonomi, politik, rekreasi dan banyak kegiatan lain lagi terjaring dalam jaringan sosial lingkungan hidupnya. 3. Dunia Material atau Kebendaan Di dalam proses membudaya itu, dunia material atau kebendaan amat penting juga. Manusia bersifat material karena tubuhnya mempunyai kebutuhan material. Tanpa materi, manusia tidak dapat hidup dan bergerak sebagai manusia. 4. Alam Pikiran Asli Manusia terus menerus berkonfrontasi dengan dirinya sendiri, sebab ia dilahirkan dan berkembang dalam ikatan dengan budayanya. Ia terikat pada tanah, adat, tradisi, alam pikiran dan agama orang sebangsanya. Di dalam kebudayaan Indonesia, erat sekali hubungan antara agama, masyarakat dan alam. Bahkan sering unsur-unsur tersebut kurang dibedakan, malah dicampuradukkan.

40

Dalam rangka usaha membangun masyarakat dan pembaharuan kebudayaan tersebut, maka setiap manusia mempunyai empat tugas pokok. Pertama, membuka diri terhadap yang transenden. Kedua, membangun solidaritas dengan sesama. Ketiga, mengolah dan memelihara dunia benda dan alam semesta. Keempat, membangun diri sendiri. Tugas-tugas tersebut diatas menyatu. Manusia hanya dapat membangun diri, kalau dalam kesatuan dengan sesama ia membangun lingkungan hidup bagi semua orang dalam keterbukaan terhadap Yang transenden. Dengan mengembangkan masyarakat, memelihata kekayaan alam, dan keterbukaan terhadap Yang Mengatasi Hidup, ia memberi makna kepada hidupnya sendiri. C. Gereja dan Negara Republik Indonesia Perpaduan kebudayaan gereja katolik dengan Negara Republik Indonesia menjadi sesuatu yang menarik dilihat dari segi inkulturasi. Gereja datang kenegeri ini bersama dengan Kolonialisme Barat sehingga cukup lama hidup dalam pola tradisi gereja Barat abad lampau. Dasar hubungan antara dua pihak adalah saling pengakuan sesuai kedudukan masing-masing. Gereja Katolik mengakui otonomi setiap negara dalam bidang kemasyarakatan demi kesejahteraan rakyat seluruhnya. Di dalam negara Pancasila, agama-agama dan negara mampunyai fungsi serta menunaikan peranannya masing-masing. Keduanya menjalankan fungsi itu dalam perspektif tujuan masing-masing dan dari sudut pandang yang berbeda. Perbedaan tugas didalam situasi konkrit akan semakin jelas, sementara gereja dan negara hidup bersama dan bekerja sama dengan erat. Karena negara maupun gereja ada demi kepentingan masyarakat yang sama, maka harus hidup didalam suasana kerja sama. D. Sikap Gereja Terhadap Kebudayaan Lain

Sikap gereja terhadap kebudayaan lain yang tertuang di dalam Konsili Vatikan II sebagai berikut: 1. Gereja Katolik tidak menolak apapun yang benar dan suci dalam agama-agama bukan Kristen.Gereja memandang dengan penghargaan yang jujur, cara tindak dan cara hidup,aturan dan ajaran, yang kendati dalam banyak hal berbeda dengan

41

apa yang dipahami dan dianjurkan, toh tidak jarang memantulkan cahaya kebenaran yang menerangi semua umat manusia. 2. Apa saja yang terdapat dalam adat kebiasaan bangsa yang bersih dari takhayul dan kesesatan, disambut oleh gereja dengan suka hati bila mungkin diseragamkan dalam ibadat umat (Sacrosanctum Consiliun 37). Berdasarkan kutipan di atas kita melihat sikap gereja yang begitu tinggi menghargai berbagai hal yang ada didalam budaya-budaya suku bangsa. Nilai-nilai budaya suku bangsa dikatakan merupakan persiapan Ilahi bagi nilai-nilai rohani yang baru.

42

BAB X POLITIK Arti Politik Secara Etimologi Kata politik berasal dari kata Yunani yang artinya negara kota atau negara kecil. Rakyat yang berdiam di dalam polis juga disebut polis. Polis memikili 3 ciri, yaitu otonomi, autarkia dan kemerdekaan. Kata otonomi berasal dari kata auto dan nomos. Auto berarti sendiri dan nomos berarti hukum atau peraturan. Otonomi berarti mempunyai hukum atau mempunyai peraturan sendiri. Autarkia berarti kemampuan sendiri atau swasembada. Sedangkan kemerdekaan yang dimaksud ialah hak setiap polis untuk boleh mengungkapkan pikirannya. Arti Politik Secara Umum Poliotik berarti bermacam-macam kegiatan dalam negara yang berkaitan dengan decision making untuk mencapai kepentingan bersama. 1. a. Esensi Politik State (Negara) Negara adalah struktur tertinggi dari suatu sistem politik. Sistem politik berarti integrasi dan korelasi dari semua unsur terkait yang berfungsi untuk mengidentifikasi nilai-nilai yang bisa dimanfaatkan untuk kepentingan umum dan didistribusi secara benar. b. Power (Kekuasaan) Kekuasaan berarti kemampuan untuk mengatur tingkah laku suatu bangsa yang mendiami suatu negara. Bangsa adalah struktur tertinggi dari suatu sistem sosial, sedangkan sistem sosial yang paling rendah atau paling kecil aialah keluarga. c. Decision Making (Pengambilan Keputusan) Pengambilan keputusan ialah keseluruhan proses dalam rangkan mencari alternatif yang paling baik demi kepentingan umum. d. Pembagian dan Alokasi

43

Salah satu fungsi politik ialah menjatah dan mendistribusi secara merata kepada rakyat. e. Public Policy (Kebijaksanaan Umum)

Kebijaksanaan umum berarti keputusan yang diambil oleh pemegang kekuasaan untuk tujuan yang belum tercapai. 2. Politik dalam Perspektif Sejarah Keselamatan Baik Perjanjian Lama maupun Perjanjian Baru secara implisit bahkan eksplisit banyak menyinggung tentang politik. Misalnya Nabi Natan yang menegur Raja Daud agar tidak menindas rakyat. Yusuf menjadi raja muda di Mesir. Maria dan Yosef dengan penuh loyalitas mendaftarkan diri ketika Kaisar Augustus mengadakan perintah untuk mengadakan sensus penduduk dan bagaimana Yesus sendiri secara diplomatis mengajak umatnya untuk taat kepada pengusa politik. Dokumen Gereja seperti Pacem in Terris dan Gaudium et Spes menerapkan perintah Yesus tentang politik dalam politik modern. Intinya adalah mengusahakan kesejahteraan umum terutama bagi mereka yang tidak mempunyai akses pada kekuasaan. 3. Hal Pengambilan Keputusan Salah satu unsur dalam politik ialah pengambilan keputusan. Masyarakat membutuhkan suatu proses mengambil keputusan yang care terhadap aspirasi rakyat. Untuk itu perlu diciptakan proses demokrasi yang sehat antara lain dengan membangun kehidupan partai politik yang sehat, membentuk lembaga perwakilan rakyat yang aspiratif, mendukung pemerintahan yang bersih dan berwibawa serta menjaga lembaga peradilan yang jujur. Awam dan Politik Awam yang dimaksud disini adalah orang katolik yang bukan rohaniawan/biarawan. Tugas politik adalah tugas yang bersifat duniawi. Didalam politik, kaum awam dipanggil untuk mengkuduskan dunia. Artinya, agar politik yang dijalankan didalam suatu negara sungguh-sungguh bermanfaat bagi kesejahteraan

44

seluruh rakyat (kesejahteraan bersama). Kegiatan seorang katolik senantiasa dijiwai oleh iman katolik

Gereja Mengakui Pancasila Warga gereja yang sekaligus sebagai warga Negara Indonesia secara otomatis menjunjung tinggi Pancasila sebagai ideologi negara. Pancasila merupakan perekat bagi bangsa Indonesia yang berbhineka. Gereja menerima Pancasila sebagai ideologi terbuka yang senantiasa bersifat dinamis dan secara terus menerus diisi dan dihayati demi persatuan bangsa. Paus Yohanes Paulus II dalam lawatannya ke Indonesia tahun 1989 telah meneguhkan hal itu. Paus memuji bahwa Indonesia memiliki Pancasila yang memuat nilai-nilai yang universal. Orang katolik diajak untuk berperan secara aktif dalam kancah perpolitikan, tidak asal ikut-ikutan melainkan dengan memberikan warna etis kepada dunia politik. Warna etis tersebut tampak dalam membangun mekanisme yang sungguh demokratis memperjuangkan keadilan, mengembangkan wawasan kebangsaan yang konsisten dan senantiasa mengupayakan kepentingan rakyat nukan kepentingan diri sendiri. E. Rohaniwan dan Politik Seyogianya para imam, biarawan dan biarawati secara terus menerus mengikuti dinamika politik karena merekapun senantiasa berhadapan dengan situasi politik dalam negara. Tidak berarti, mereka masuk partai politik tertentu. Hukum Gereja melarang kaum klerus untuk ikut partai politik, serikat pekerja kecuali atas penilaian otoritas Gereja (Kan. 287 & 2).

45

BAB XI HUKUM A. Pengertian Hukum Hukum ada untuk menjaga harkat manusia, artinya untuk menjamin martabat manusia sebagai ciptaan Tuhan yang mulia dan agung (Citra Allah). Hukum berfungsi untuk menjamin keteraturan sosial. Di dalam pembahasan hukum secara umum menurut pandangan hidup kristiani ini akan dibahas empat hal berturut-turut yaitu Harkat Manusia, Sepuluh Perintah Allah, Cinta Kasih, dan Kerajaan Allah. 1. Harkat Manusia Konsili Vatikan II menegaskan, demi Injil yang dipercayakan kepadanya, gereja dengan resmi mempermaklumkan hak-hak manusia, yakni hak perorangan, khususnya kaum buruh, hak keluarga dan pendidikan yang berkaitan dengan tugas kewajiban negara dengan tata nasional dan internasional yang menyangkut kehidupan ekonomi dan kebudayaan, damai dan perang, hormat terhadap kehidaupan sejak di rahim ibu hingga kematian. Martabat manusia berakar didalam penciptaannya menurut citra dan rupa Allah. Di dalam Kristus, gambar Allah yang tidak kelihatan, manusia diciptakan menurut CITRA Pencipta, serupa dengan Dia. Di dalam Kristus, Penebus dan Juru Selamat, citra Ilahi didalam manusia yang telah dirusakkan oleh dosa asal, diperbaiki dalam keindahannya yang asli dan dimurnikan oleh rahmat Allah. 2. Sepuluh Perintah Allah Sepuluh perintah Allah dapat dikelompokkan menjadi dua bagian besar yaitu perintah 1-3 yang mengatur hubungan Allah dengan manusia dan 4-10 mengatur hubungan manusia dengan manusia yang dapat dilihat dalam sepuluh perintah Allah berikut:

46

a. b. c. d. e. f. g. h. i. j.

Jangan menyembah berhala, berbaktilah kepada-Ku saja dan Jangan menyebut nama Tuhan Allahmu dengan tidak hormat. Kuduskanlah hari Tuhan. Hormatilah ibu bapakmu Jangan membunuh Jangan berzinah Jangan mencuri Jangan bersaksi dusta tentang sesamamu Jangan menginginkan isteri sesamamu Jangan mengingini milik sesamamu secara tidak adil. Kalau kita hubungkan dengan hidup kita sehari-hari, pelaksanaan suatu

cintailah Aku lebih dari segala sesuatu.

hukum tanpa dibarengi dengan kesadaran tidak akan langgeng. Didalam menerapkan suatu hukum, kita memerlukan sikap batin. Menilai suatu perbuatan, tidak cukup hanya menilai benar atau salah dari segi hukum saja. Sikap lahir dan batin harus sejalan. 3. Cinta Kasih Hidup kristen merupakan suatu tanggapan terhadap kasih dan rahmat keselamatan-Nya yang dianugerahkan secara bebas kepada kita melalui Tuhan kita Yesus Kristus. Pengikut Yesus harus mengusahakan suatu sikap yang penuh kasih kepada sesama, terlebih kepada mereka yang tersingkirkan dan tertindas. Ketentuan hukum keagamaan mendapatkan artinya bila dilaksanakan dengan sikap batin tepat dan diwujudnyatakan di dalam tindakan sehari-hari. 4. Kerajaan Allah Kerajaan Allah itu perdamaian, kerukunan, keleluasaan batin, keadilan, keutuhan kehidupan dan cinta kasih. Yesus mengajarkan bahwa titik tolak pewartaan-Nya mengenai kedatangan Kerajaan Allah adalah terpenuhinya harapan manusia yang sejati. Bagi Yesus kerajaan Allah bukan kemegahan didalam dunia. Ia mengajarkan bahwa kerajaan Allah memuat suatu janji yang tidak dapat dipenuhi oleh teknologi, ekonomi atau ilmu pengetahuan. Kepenuhan hidup manusia sejati

47

dapat terjadi hanya bila manusia bersatu dengan Allah, dasar dan tujuan hidup manusia.

B. Hukum Pernikahan Kristiani Sebagai negara yang berdasarkan Pancasila, dimana sila pertamanya Ketuhanan Yang Maha Esa, maka perkawinan mempunyai hubungan yang erat sekali dengan agama sehingga, perkawinan bukan hanya mempunyai unsur lahiriah, tetapi juga rohani. Menurut pandangan Gereja Katolik, pada pembahasan ini akan diuraikan empat bagian besar sebagi berikut: 1. Tujuan Pernikahan Kristiani Pernikahan kristiani bertujuan untuk menyejahterakan suami istri dan anak. Suami istri saling membantu dan membentuk suatu kesatuan sosial yang paling kecil. Penyerahan diri secara tulus dalam konteks pernikahan mengakibatkan tercapainya kesejahteraan jasmani dan rohani suami istri itu sendiri. Kepenuhan hidup seksual tidak bisa dianggap remeh di dalam kehidupan berkeluarga. Didalam kehidupan berkeluarga, seks menjadi wajar. Kesejahteraan lahir batin anak-anak harus terealisasi melalui pendidikan anak, sebab orangtua adalah pendidik pertama dan utama. Pendidikan anak tidak berhenti pada sekolah, tetapi pendidikan rohani (permandian, komuni pertama, krisma, dsb). 2. Perkawinan Menurut Ajaran Gereja Menurut Konsili Vatikan II. ”Perkawinan merupakan kesatuan mesra dalam hidup dan kasih antara pria dan wanita yang merupakan lembaga tetap dalam kehidupan bermasyarakat” (Gaudium et Spes 48). Berdasar kutipan tersebut, maka perkawinan katolik tidak sekedar ikatan cinta mesra hidup bersama yang diadalan Sang pencipta dan dilindungi hukumhukumnya. Perkawinan menurut bentuknya merupakan suatu lembaga didalam hidup kemasyarakatan. Tanpa pengakuan sebagai lembaga, perkawinan semacam

48

hidup bersama yang liar. Maksud dan tujuan perkawinan merupakan tujuan perkawinan kesatuan hidup dari dua pribadi. 3. Perkawinan Menurut Kitab Hukum Kanonik Perkawinan sebagai perjanjian bersumber dari Gaudium et Spes 48 menegaskan bahwa perkawinan sebagai perjanjian menunjukkan segi-segi simbolis dari hubungan antar Tuhan dan umatNya didalam Perjanjian Lama (Yahwe dan Israel) dan Perjanjian Baru (Kristus dengan gerejaNya). Tetapi dengan perjanjian mau diungkapkan dimensi personal dari hubungan suami isteri yang mulai sangat ditekankan pada abad modern ini. Perkawinan sebagai sakramen merupakan unsur hakiki perkawinan antara dua orang yang dibabtis. Perkawinan sebagai sakramen merupakan unsur hakiki perkawinan antara dua orang yang dibabtis. Perkawinan pria dan wanita menjadi tanda cinta Allah kepada ciptaanNya dan cinta Kristus kepada gerejaNya. 4. Perkawinan Sebagai Sakramen Perkawinan yang telah menjadi sakramen menpunyai dua sifat yaitu monogami dan tidak dapat diceraikan. Monogami maksudnya, menikah antara satu pria dengan satu wanita. Didalam pernikahan kristen ditolak poligami (menikah antara satu pria dengan beberapa wanita) dan poliandri (menikah antara satu wanita dengan beberapa pria). Perkawinan itu tidak dapat diceraikan artinya perkawinan itu tetap kecuali kematian yang memisahkan. Perkawinan kristiani tidak mengenal kawin kontrak, artinya perkawinan hanya untuk jangka waktu tertentu lalu cerai. Pernikahan kristiani menuntut cinta total tanpa syarat dan permanen. Kesatuan suami istri menjadi tanda kehadiran Kristus yang selalu mengkuduskan, mengutkan, dan menghibur tanpa syarat. Oleh karena Kristus dengan setia menyertai dan menolong suami istri itu pun harus sanggup untuk setia satu sama lain. Perkawinan kristiani juga bersifat misioner, yang artinya perkawinan tidak boleh hanya demi kepentingan kedua mempelai dan keluargnya, melainkan demi

49

kepentingan seluruh masyarakat. Kedua mempelai sebagai satu pasangan harus menjadi garam, terang dan ragi bagi seluruh masyarakat.

DAFTAR PUSTAKA Ismantoro, Kuliah Agama Katolik di Peerguruan Tinggi. Jakarta : Obor, 1994. Ketut, Sarta. Kuliah Agama Katolik, Jakarta : Unika Atma Jaya, 1999. Komisi Kateketik KWI. GBPP Pendidikan Agama Katolik 1999, Jakarta : Komisi Kateketik KWI, 1999. Komkat. Mengikuti Yesus Kristus: Buku Pegangan Calon Baptis : Kanisius, 1996. Lembaga Biblika Indonesia. Kitab Suci Perjanjian Baru : Pengantar Teks dan Catatan, Ende : Arnoldus, 1976. Suyati, Maria. Mengenal Yesus Kristus, Jakarta : Limen Gentium, 1992. Thomas M, Pokok-Pokok Iman Kristiani, Yogyakarta : Univ. Sanata Dharma, 2001. Kamus Teologi, Kanisius 1999, Yogyakarta Dokumen Konsili Vatikan II, Jakarta : Obor 1993 Schultheis, M.J. Pokok-pokok Ajaran Sosial Gereja. Yogyakarta : Kanisius, 1988 Afra S. Dan Huber Th. Mengenal Iman Katolik, Jakarta : Obor, 1987 KWI, Pedoman Gereja Katolik Indonesia , Jakarta, 1995

50

Soal Pendidikan Agama Katolik
1. Menurut Anda, apa perbedaan kasih yang diajarkan Yesus dengan kasih dalam praktek kehidupan masyarakat luas? 2. Apakah tujuan pernikahan Kristiani? Jelaskan 3. Menurut Pendapat Anda, bolehkah pernikahan diceraikan bila tidak mempunyai anak laki-laki bahkan tidak mempunyai anak sama sekali? Mengapa?Jelaskan 4. Mengapa Ilmu Pengetahuan, Teknologi, dan Seni (IPTEK) seyogyanya dimanfaatkan untuk hal-hal yang posistif?Jelaskan Jawabnya 5. Sebutkan Persoalan-persoalan dasar manusia? Setelah itu jelaskan bagaimana cara-cara Kristiani untuk memecahkan persoalan-persoalan dasar tersebut? 6. Secara iman Katolik, apa yang dimaksud dengan martabat manusia? Jelaskan jawaban Anda berdasarkan Kitab Suci Perjanjian Lama dan Kitab Suci Pejanjian Baru. 7. ”Hidup manusia merupakan anugerah Allah dan sekaligus merupakan tugas panggilan Tuhan Allah”. Jelaskan pengertian kalimat tersebut. 8. Coba lukiskan dengan kata-kata Anda Sendiri pengertian tentang ”orang beriman”. Lalu sebutkan contoh-contoh orang beriman dalam kehidupan sehari-hari?

51

52

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful