Bagian Pertama NASKAH AKADEMIK RANPERDA TENTANG PERENCANAAN DAN PENGANGGARAN DAERAH KABUPATEN GUNUNGKIDUL Bab 1 Pendahuluan 1.

1 Latar Belakang Pelaksanaaan perencanaan dan penganggaran daerah sebagaimana yang dimaksudkan dalam UU No. 17 Tahun 2003 tentang Keuangan Daerah dan UU No. 25 Tahun 2004 tentang Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional adalah mengemban dua misi utama di dalamnya. Pertama, terciptanya penyelenggaraan pembangunan di tingkat daerah yang partisipatif. Kedua, pemerataan pembangunan di seluruh daerah dengan mengoptimalkan kemampuan, prakarsa, kreativitas, inisiasi dan partisipasi masyarakat, serta kemampuan untuk mengurangi dominasi pemerintah dalam melaksanakan pembangunan dengan prinsip-prinsip good governance. Beberapa masalah perencanaan dan penganggaran telah diidentifikasi oleh Departemen Dalam Negeri dan Bank Dunia, antara lain; kurang sinkronnya program pembangunan yang dituangkan dalam dokumen perencanaan pembangunan daerah dengan program yang menjadi kepentingan nasional; anggaran yang dikeluarkan setiap tahun belum merupakan cermin dari langkah-langkah menuju pencapaian tujuan-tujuan pembangunan yang diagendakan ; dan masih diperlukannya perhatian lebih lanjut tentang aplikasi perencanaan dan penganggaran yang berpihak pada kelompok miskin dan pelayanan publik yang berkualitas. Proses pembangunan yang baik selalu diawali perencanaan yang matang, baik dari aspek mekanisme, proses, sistem maupun subtansi. Maka 1|Page

berkaitan dengan mekanisme, pilihan terhadap perencanaan dari bawah (bottom up planning) adalah untuk mencapai sebuah proses perencanaan yang partisipatif (dalam penentuan kebutuhan masyarakat) dan subtansial (jenis kebutuhan secara nyata diperlukan masyarakat), sehingga dalam mekanisme yang dari bawah seperti ini, sesungguhnya merupakan proses agregatif (hasil kesepakatan bersama) yang harus secara konsisten dipatuhi dan menjadi pijakan dalam setiap proses berikutnya. Prinsip dasar inilah yang menjadi taruhan, apakah proses perencanaan dari tingkat desa, kemudian ke kecamatan dan sampai kabupaten tetap konsisten. Sehingga dalam makna lain, hilangnya mata rantai (missing link ) hasil perencanaan dari bawah terhadap keputusan penganggaran yang dilakukan pemerintah kabupaten, karena adanya pihak-pihak yang tidak konsisten dan patuh atas kesepakatan yang telah dihasilkan. Dalam konteks ini, bisa dibaca pula bahwa proses perencanaan pembangunan yang dibangun dari bawah rawan terhadap distorsi melalui proses politik yang tidak demokratis. Maka komitmen dan niat baik (goodwill) dari seluruh stakeholders perencanaan pembangunan mutlak diperlukan. Konsep perencanaan pembangunan partisipatif, jika diterapkan dalam perencanaan pembangunan akan mengintegrasikan keinginan dari pemerintah daerah dengan perangkat di bawahnya serta pemerintah daerah dengan masyarakatnya. Adanya integrasi dari berbagai keinginan yang ada tersebut akan menghasilkan keselarasan dan keterpaduan antara komitmen, persepsi dari segi perencanaan pembangunan. Dijalankannya proses perencanaan pembangunan secara partisipatif, transparan dan akuntabel maka ada empat hal utama yang bisa diperoleh. Pertama, masyarakat akan berperan aktif di dalam proses pembangunan. Kedua, mendorong kemandirian ditingkat desa. Ketiga, menjalin koordinasi dan sinergitas antara pemerintah kabupaten dengan struktur pemerintah dibawahnya serta pemerintah kabupaten dengan masyarakat. Keempat, menghasilkan sebuah pembangunan di tingkat kabupaten yang menjadi kehendak semua pihak.

2|Page

1.2 Tujuan dan Kegunaan yang Ingin Dicapai 1.2.1 Tujuan Pengaturan Tujuan pengaturan perencanaan pembangunan daerah antara lain : Efektifitas dokumen perencanaan dan penganggaran dalam memenuhi harapan masyarakat. Kualitas partisipasi masyarakat (demokratisasi) dalam proses perencanaan dan penganggaran. Effektifitas penyelenggaraan pemerintahan daerah dalam menangani issues strategis daerah. Peningkatan kualitas pelayanan publik. Pengesahan APBD tepat waktu. Konsistensi RPJP-D, RPJM-D dan RKPD. Konsistensi RKPD dengan KUA, PPAS, dan APBD. PRO POOR APBD. Kejelasan hak-hak, peranan dan keterlibatan pemda, masyarakat dan DPRD dalam proses perencanaan dan penganggaran. Perbaikan kualitas musyawarah perencanaan pembangunan dan Forum SKPD. Penerapan perencanaan dan penganggaran berbasis kinerja secara konsisten Penerapan SPM secara konsisten. 1.2.2 Kegunaan/Manfaat Pengaturan Bagi Pemda dan DPRD Mendorong terdapatnya akuntabilitas pemerintah daerah dalam

menyelenggarakan urusan pemerintahan daerah.

3|Page

Mendorong

perumusan

kebijakan

pembangunan

berorientasi

kepada  kepentingan masyarakat dan terwujudnya pembangunan daerah Efektif untuk meningkatkan kepercayaan masyarakat kepada Mendorong transparansi dan akuntabilitas. Meningkatkan kualitas pengambilan keputusan perencanaan. Mewujudkan tata kelola pemerintahan yang baik, partisipatif dan Dapat digunakan untuk mengevaluasi capaian tujuan, sasaran dan Merupakan instrument yang efektif untuk pengurangan kemiskinan secara berkelanjutan.  pemerintah daerah.   

demokratis.  dampak pembangunan daerah. 

1.2.3 Bagi masyarakat Masyarakat memahami proses pengambilan keputusan

perencanaan dan menyadari peluang dan keterbatasannya.   Meningkatkan kualitas kehidupan dan kesejahteraan masyarakat. Meningkatkan kepuasan masyarakat atas pemenuhan kebutuhan Meningkatkan partisipasi kelompok miskin dan marjinal dalam

dasar.  proses pengambilan keputusan. 1.3 Metoda Pendekatan Demokrasi perwakilan versus demokrasi deliberatif—demokrasi perwakilan menekankan pada aspek prosedur dan kerangka aturan formal, mekanisme perwakilan masih belum optimal dimana kehendak parlemen seringkali tidak berbanding lurus dengan kehendak rakyat yang diwakilinya. 4|Page

1.3.1 Pendekatan Filosofis

Demokrasi deliberatif menekankan pelibatan publik dalam proses-proses pengambilan keputusan dan warga. 1.3.2 Pendekatan Yuridis Perencanaan dan penganggaran daerah sejak tahun 1999 telah menjadi isu yang sangat penting di Indonesia terutama bila dikaitkan dengan dua tuntutan praktis yaitu: 1) implementasi desentralisasi administrasi pemerintahan dan 2) implementasi prinsip-prinsip tata pemerintahan yang baik. Selain itu secara substantif perencanaan dan penganggaran juga memiliki arti penting jika dikaitkan dengan penerapan prinsip-prinsip demokrasi dalam alokasi sumber daya publik. Untuk mendorong reformasi dalam perencanaan dan pengangaran daerah, pemerintah telah mengeluarkan berbagai instrumen hukum., Ada empat instrumen hukum utama yang secara langsung melandasi kerangka kerja dan kelembagaan perencanaan dan penganggaran daerah yang berlaku di Indonesia saat ini yaitu: , 1. UU No. 17 tahun 2003 tentang Keuangan Negara terutama pasal – 20., 2. UU No. 25 tahun 2004 tentang Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional terutama pasal 21 – 27., 3. UU No. 32 tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah terutama pasal 150 – 154 dan pasal 179 – 199., 4. UU No. 33 tahun 2004 tentang Perimbangan Keuangan antara Pemerintah Pusat dan Pemerintah Pemerintah Daerah terutama pasal 66 – 86. UU No. 25/2004 yang mengatur mengenai Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional (SPPN) berkaitan erat dengan UU No. 17/2003 yang mengatur tentang Keuangan Negara. Hubungannya bersifat langsung karena proses penganggaran daerah menurut UU No. 17/2003 dimulai dengan merumuskan Kabijakan Umum Anggaran (KUA) yang harus merujuk 5|Page 17 merupakan bagian dari pendidikan politik

pada Rencana Kerja Pemerintah Daerah (RKPD). Sedangkan RKPD merupakan proses akhir dari proses perencanaan yang diatur oleh UU No. 25/2004. Baik UU No. 25/2004 maupun UU No. 17/2003 mengatur perencanaan dan keuangan di tingkat nasional yang meliputi pusat dan daerah. Khusus untuk daerah, pemerintah mengeluarkan UU 32 tentang Pemerintahan Daerah. Undang-undang ini mengatur mengenai berbagai aspek pemerintahanan daerah, salah satunya adalah regulasi mengenai perencanaan dan penganggaran di tingkat daerah. Dengan kata lain UU No. 32/2004 berisi substansi baik mengenai perencanaan maupun penganggaran di tingkat daerah. Berdasarkan Undang-undang No. 17/2003 dan Undang-undang No. 25/2004, beberapa lembaga memiliki peran penting dalam perencanaan dan penganggaran daerah yaitu: Badan Perencanaan Daerah (Bappeda), Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD), Badan Pengelola Keuangan Daerah (BPKD), Kepala daerag, dan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD). Berbeda dengan peraturan perundangan sebelumnya, hampir seluruh instrumen hukum mengenai perencanaan dan penganggaran yang dikeluarkan seletalah tahun 2004 menekankan pentingnya standard pelayanan minimum, lebih pro-porr, dan menekankan pendekatan berbasis kinerja. Ke-empat instrumen hukum di atas tidak mengatur secara rinci mengenai substansi dan proses perencanaan dan penganggaran. Pelaksanaan yang lebih rinci dituangkan dalam peraturan pemerintah yaitu: 1. PP No.. 54/2005 tentang Pinjaman Daerah, 2. PP No. 56/2005 tentang Sistem Informasi Keuangan Daerah, 3. PP No. 57/2005 tentang Hibah Kepada Daerah, 4. PP No. 58/2005 tentang Pengelolaan Keuangan Daerah, 5. PP No. 65/2005 tentang Pedoman Penyusunan dan Penerapan Standar Pelayanan Minimal, 6. PP No. 72/2005 tentang Desa.,

6|Page

Dari kelima Peraturan Pemerintah di atas, PP No. 58/2005 dan PP No. 65/2005 merupakan PP yang sangat penting untuk perencanaan dan penganggaran daerah. PP No. 65/2005 menjelaskan mengenai proses penganggaran serta pengelolaan keuangan daerah. Peraturan ini juga menetapkan peran-peran SKPD di daerah dalam pengelolaan keuangan daerah., Untuk mengatur secara rinci proses penganggaran daerah berdasarkan PP No. 58/2005, saat ini pemerintah tengah menyusun revisi Keputusan Menteri No. 29/2002 yang memberi pedoman baik proses, pengelolaan maupun format isian anggaran daerah. Sedangkan PP No. 65/2005 menetapkan bahwa standar pelayanan minimal harus menjadi rujukan ketika SKPD menetapkan capaian kinerja program dan pengalokasian anggaran. Ketentuan ini sangat penting sebagai pedoman utama daerah dalam menyusun berbagai dokumen perencanaan. Untuk peraturan pelaksanaan perencanaan daerah, saat ini pemerintah tengah mempersiapkan peraturan pemerintah tentang Tahapan, Tata Cara Penyusunan, Pengendalian, dan Evaluasi Pelaksanaan Rencana Pembangunan Daerah. Untuk menjamin terlaksananya mekanisme bottomup dalam proses perencanaan, pemerintah tiap tahun mengeluarkan Surat Edaran Bersama (SEB) tentang tata cara Musrenbang dalam rangka penyusunan Rencana Kerja Pemerintah Daerah (RKPD) yang akan menjadi rujukan dalam menetapkan Kebijakan Umum Anggaran (KUA). Untuk perencanaan di tingkat desa, serta hubungan antara perencanaan di tingkat desa dengan perencanaan dan penganggaran daerah diatur oleh Peraturan Pemerintah No. 72 tahun 2005 tentang Desa. Peraturan tersebut mewajibkan desa untuk menyusun rencana pembangunan jangka menengah dan rencana pembangunan tahunan desa. PP No. 72/2005 mewajibkan daerah untuk mengalokasikan bagian dari dana perimbangan keuangan pusat dan daerah yang diterima oleh Kabupaten/Kota untuk Desa paling sedikit 10%. Selain dari dana perimbangan, desa juga mendapatkan minimal 10% dari retribusi 7|Page

kabupaten/kota. Dana ini selanjutnya disebut sebagai Alokasi Dana Desa (ADD) Merujuk pada kerangka hukum, ada beberapa reformasi penting dalam proses perencanaan dan penganggaran yaitu:, 1. Bappeda merupakan satu-satunya Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) yang mengkoordinasikan siklus proses perencanaan di daerah. 2. Karena APBD adalah cerminan dari kebijakan alokasi sumber daya publik, maka dokumen APBD dituangkan dalam bentuk peraturan daerah. Karena itu, DPRD harus terlibat dalam pembahasan anggaran terutama dalam penetapan Kebijakan Umum APBD, dan penetapan prioritas dan plafon APBD. 3. Meskipun secara teoritis dokumen MTEF bisa berjangka waktu dua sampai tiga tahun, UU No. 17/2003 dan PP 58/2005 secara tegas menetapkan bahwa dokumen MTEF dibuat oleh SKPD untuk jangka waktu dua tahun. Meskipun hanya untuk jangka waktu dua tahun, tetapi dokumen ini sangat berguna bagi Bappeda sebagai masukan dalam menyusun rancangan awal RKPD tahun berikutnya., 4. Berdasarkan PP No. 58/2005, penyusunan anggaran berdasarkan prestasi kerja harus dilakukan berdasarkan standar pelayanan minimal. Reformasi ini sangat penting karena SKPD untuk mengorientasikan SKPD dalam menetapkan kinerja yang akan dicapai., 5. PP No. 72/2005 menggariskan adanya alokasi dana desa dari kabupaten ke desa. Reformasi ini juga sangat penting terutama untuk perencanaan partisipatif. Dengan dana ini maka program skala desa tidak perlu dibahas dalam musrenbang di tingkat kecamatan dan SKPD, karena program tersebut telah didanai oleh ADD. Yang perlu ditindaklanjuti dari kebijakan ini terutama adalah mekanisme transfer, pedoman penggunaan, dan akuntabilitas pemanfaatan ADD baik kepada masyarakat maupun kepada Pemerintah Kabupaten/Kota., 6. UU No. 25/2004 memberikan pengertian yang luas mengenai tahapan perencanaan termasuk tahap monitoring dan evaluasi pelaksanaan 8|Page

rencana yang dilakukan baik oleh SKPD maupun oleh Bappeda. Lebih jauh UU No. 17/2003 menetapkan bahwa sanksi pidana dan denda dapat dikenakan kepada pejabat yang melakukan kegiatan tidak sesuai dengan kebijakan anggaran yang telah ditetapkan. Reformasi ini sangat penting karena pembangunan diartikan sebagai satu siklus yang meliputi rencana, pelaksanaan, menitoring dan evaluasi. 1.3.3 Pendekatan Sosiologis Beberapa alasan perlunya regulasi perencanaan dan penganggaran daerah antara lain:  Fungsi kognitif : menghasilkan keputusan yang rasional mempertimbangkan kajian akademis, masukan, kritik kelompok terkait dan alokasi sumber daya.  Fungsi instrumental: alat mempertemukan berbagai kepentingan Fungsi politik: mengurangi resistensi terhadap keputusan yang Fungsi sosial: mengidentifikasi kebutuhan riil di masyarakat dan dalam pengambilan keputusan.  diambil karena berdasarkan keputusan bersama, legitimasi publik.  menyelesaikan problem utama.

9|Page

Bab 2 Ruang Lingkup Naskah Akademik 2.1 Ketentuan Umum 1) Rencana Pembangunan Jangka Panjang, yang selanjutnya

disingkat dengan RPJP adalah dokumen perencanaan untuk periode dua puluh (20) tahun. 2) Rencana Pembangunan Jangka Panjang Daerah, yang selanjutnya disingkat dengan RPJPD adalah dokumen perencanaan Pemerintah Daerah untuk periode dua puluh (20) tahun yang memuat visi, misi, dan arah pembangunan Daerah yang mengacu pada RPJP Nasional. 3) Rencana Pembangunan Jangka Menengah, yang selanjutnya disingkat dengan RPJM adalah dokumen perencanaan untuk periode lima (5) tahun. 4) Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah, yang selanjutnya disingkat dengan RPJMD adalah dokumen perencanaan Pemerintah Daerah untuk periode lima (5) tahun yang memuat penjabaran dari visi, misi, dan program Kepala Daerah yang penyusunannya berpedoman pada RPJP Daerah dan memperhatikan RPJM Nasional, memuat arah kebijakan keuangan daerah, strategi pembangunan Daerah, kebijakan umum, dan program Satuan Kerja Perangkat Daerah, lintas Satuan Kerja Perangkat Daerah, dan program kewilayahan disertai dengan rencana-rencana kerja dalam kerangka regulasi dan kerangka pendanaan yang bersifat indikatif. 5) Rencana Pembangunan Tahunan Nasional, yang selanjutnya disebut Rencana Kerja Pemerintah (RKP) adalah dokumen perencanaan Nasional untuk periode satu (1) tahun. 6) Rencana Kerja Pembangunan Daerah, yang selanjutnya disingkat dengan RKPD adalah dokumen perencanaan Pemerintah Daerah untuk periode satu (1) tahun yang merupakan penjabaran dari RPJM Daerah dan mengacu pada RKP Nasional, memuat rancangan kerangka ekonomi 10 | P a g e

Daerah,

prioritas

pembangunan

Daerah,

rencana

kerja,

dan

pendanaannya, baik yang dilaksanakan langsung oleh pemerintah maupun yang ditempuh dengan mendorong partisipasi masyarakat. 7) Satuan Kerja Perangkat Daerah, yang selanjutnya disingkat dengan SKPD adalah perangkat daerah pada pemerintah daerah selaku pengguna anggaran. 8) Rencana Strategis Satuan Kerja Perangkat SKPD Daerah, yang selanjutnya disingkat dengan RENSTRA adalah dokumen

perencanaan SKPD untuk periode lima (5) tahun, yang memuat visi, misi, tujuan, strategi, kebijakan, program, dan kegiatan pembangunan yang disusun sesuai dengan tugas dan fungsi Satuan Kerja Perangkat Daerah serta berpedoman kepada RPJM Daerah dan bersifat indikatif. 9) Rencana Kerja Satuan Kerja Perangkat Daerah, yang selanjutnya disingkat dengan RENJA SKPD adalah dokumen perencanaan SKPD untuk periode satu (1) tahun, yang memuat kebijakan, program, dan kegiatan pembangunan baik yang dilaksanakan langsung oleh pemerintah daerah 10) maupun yang ditempuh dengan mendorong partisipasi masyarakat. Kebijakan Umum APBD, yang selanjutnya disingkat dengan KUA adalah dokumen yang memuat kebijakan bidang pendapatan, belanja, dan pembiayaan serta asumsi yang mendasarinya untuk periode satu (1) tahun. 11) Pagu indikatif merupakan ancar-ancar pagu anggaran yang diberikan kepada SKPD untuk setiap program sebagai acuan dalam penyusunan rencana kerja SKPD. 12) Pagu sementara merupakan pagu anggaran yang didasarkan atas kebijakan umum dan prioritas anggaran hasil pembahasan Pemerintah Daerah dengan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) sebagai acuan dalam penyusunan RKA-SKPD. 13) Prioritas dan Plafon Anggaran Sementara, yang selanjutnya disingkat dengan PPAS adalah rancangan program prioritas dan patokan 11 | P a g e

batas maksimal anggaran yang diberikan kepada SKPD untuk setiap program sebagai acuan dalam penyusunan RKA-SKPD setelah disepakati dengan DPRD. 14) Rencana Kerja dan Anggaran SKPD yang selanjutnya disingkat RKA-SKPD adalah dokumen perencanaan dan penganggaran yang berisi rencana pendapatan, rencana belanja program dan kegiatan SKPD serta rencana pembiayaan sebagai dasar penyusunan APBD. 15) 16) Rencana Tata Ruang, yang selanjutnya disingkat dengan RTR Rencana Tata Ruang Wilayah, yang selanjutnya disingkat dengan adalah dokumen yang memuat hasil perencanaan tata ruang. RTRW adalah dokumen yang memuat hasil perencanaan tata ruang wilayah. 17) Musrenbang forum atau Musyawarah dalam Perencanaan rangka Pembangunan rencana adalah 18) antarpelaku menyusun

pembangunan nasional dan rencana pembangunan daerah. Forum SKPD (forum yang berhubungan dengan fungsi/sub fungsi, kegiatan/sector dan lintas sektor) adalah wadah bersama antar pelaku pembangunan untuk membahas prioritas kegiatan pembangunan hasil Musrenbang Kecamatan dengan SKPD atau gabungan SKPD sebagai upaya mengisi Rencana Kerja SKPD yang tata cara penyelenggaraannya difasilitasi oleh SKPD terkait. 19) Forum Delegasi Musrenbang adalah wadah musyawarah para Delegasi Masyarakat Kecamatan yang dibentuk paska penyelenggaraan Musrenbang Kabupaten, dengan fungsi sebagai media pengawasan masyarakat terhadap proses penyusunan APBD serta implementasi APBD. 20) ADD adalah singkatan dari Alokasi Dana Desa sebagai perolehan bagian keuangan desa dari APBD kabupaten, yang digunakan untuk pembiayaan program pembangunan desa di luar pembiayaan dari kabupaten.

12 | P a g e

21) 22) 23) 24)

CSO adalah singkatan dari Civil Society Organization atau NA adalah singkatan dari Naskah Akademik. Perda adalah singkatan Peraturan Daerah. Perbup adalah singkatan dari Peraturan Bupati

Organisasi Masyarakat Sipil.

2.2 Identifikasi Permasalahan Belum dilembagakannya penganggaran partisipatif. Walaupun berbagai usaha telah dilakukan baik oleh Pusat maupun Daerah, penerapan perencanaan partisipatif yang efektif masih menghadapi sejumlah tantangan. Peraturan dan perundangan baru tidak selalu menyediakan instrumen yang efektif untuk melibatkan partisipasi masyarakat dalam proses perencanaan dan penganggaran. Pada kenyataannya, masih dijumpai misalnya keterbatasan transparansi dan akuntabilitas di lingkungan pemerintah daerah; terbatasnya keterlibatan organisasi masyarakat sipil dan DPRD dalam proses perencanaan dan penganggaran; masih kurangnya analisis dampak kebijakan anggaran atas pengurangan kemiskinan dan kepentingan kaum perempuan; serta keterlibatan organisasi masyarakat sipil yang terbatas hanya pada pemantauan dan evaluasi anggaran. Kelompok masyarakat umumnya memiliki pemahaman yang sangat terbatas atas proses perencanaan dan penganggaran daerah yang cukup kompleks. Komitmen pimpinan daerah. Perencanaan partisipatif sukar untuk mencapai keberhasilan tanpa komitmen yang kuat dari pimpinan daerah. Tingkat kemauan dan komitmen menerapkan perencanaan dan penganggaran partisipatif sangat bervariasi antar daerah. Lemahnya komitmen antara lain disebabkan oleh pemahaman yang terbatas atas peranan dan manfaat jangka panjang partisipasi masyarakat untuk menghasilkan pembangunan daerah berkelanjutan; sukar membedakan antara partisipasi masyarakat 13 | P a g e

dan partisipasi politik. Tindak korupsi dan pengaruh partai politik dalam proses penganggaran juga merupakan hambatan yang signifikan. Keterbatasan pengawasan legislatif dalam penyusunan anggaran. Sementara legislatif sekarang lebih aktif dalam proses penganggaran; ketidakterpaduan masa reses DPRD dengan Musrenbang dan proses perencanaan dan penganggaran serta keterbatasan dalam penyediaan informasi dan analisis untuk pembahasan anggaran sedikit banyak menyebabkan keterbatasan dalam pengawasan penyusunan anggaran. Keterbatasan Musrenbang untuk mempengaruhi alokasi anggaran. Faktor yang antara lain membatasi efektifitas Musrenbang untuk mempengaruhi proses alokasi anggaran adalah kurang memadainya kualitas dan transparansi informasi yang disiapkan pemerintah daerah bagi peserta Musrenbang; kurangnya keterwakilan stakeholders dalam proses penganggaran, dimana proses ini lebih didominasi oleh eksekutif dan DPRD dengan pengaruh partai politik yang kuat dalam kebijakan anggaran; terbatasnya pemahaman organisasi masyarakat sipil tentang proses penganggaran dan hak-haknya untuk menyuarakan perspektifnya atas pembangunan daerah. Penguatan Partisipasi Masyarakat dalam ADD. Implementasi ADD perlu diimbangi dengan penerapan akuntabilitas penggunaan dana yang memadai. Dominasi elit desa dalam pengambilan keputusan penggunaan dana ADD perlu dikurangi dengan lebih meningkatkan keterlibatan peranan masyarakat, terutama kaum perempuan dan kelompok masyarakat miskin untuk menghasilkan penggunaan dana ADD yang efektif.

14 | P a g e

Keterbatasan kapasitas organisasi masyarakat sipil Terdapat keterbatasan pengetahuan organisasi masyarakat sipil

untuk memahami proses perencanaan dan mendorong perubahan. dalam memahami proses penganggaran yang cukup panjang dan kompleks serta hak-hak ekonomi untuk menyuarakan perspektif dan kepentingannya dalam dalam pembangunan daerah. Kepentingan Juga kaum perempuan dan kelompok masyarakat miskin seringkali kurang terwakili pengambilan keputusan alokasi anggaran. terdapat kekurangpercayaan dari masyarakat bahwa proses Musrenbang akan mampu membawa perbaikan dalam kesejahteraan hidup mereka; masyarakat seringkali melihat Musrenbang hanya merupakan seremonial dengan dominasi pengambilan keputusan lebih banyak dilakukan oleh elit daerah. Organisasi masyarakat sipil kerap kurang memahami cara melakukan berpartisipasi advokasi, secara penelitian, efektif dan analisis proses informasi perencanaan untuk dan dalam

penganggaran. Selain itu, kendala dalam menjalin hubungan yang lebih erat dengan eksekutif dan legislatif menyebabkan keterbatasan organisasi masyarakat sipil dalam mempengaruhi proses alokasi anggaran. Kompleksitas isu pembangunan daerah. Permasalahan yang dihadapi daerah sangat kompleks seperti perbaikan kualitas dan akses pelayanan pendidikan dan kesehatan, pengurangan kemiskinan dan malnutrisi; kesejahteraan anak; keamanan; penguatan peranan kaum perempuan dalam pembangunan daerah; peningkatan keamanan, keteraturan; revitalisasi sektor pertanian; pengembangan ekonomi lokal; dan degradasi kualitas lingkungan hidup. Semua itu memerlukan tidak saja pengambilan keputusan yang demokratis melainkan juga pemahaman teknis dan analisis permasalahan; penerapan praktek-praktek yang telah terbukti baik dan efektif; serta keseimbangan prioritas antardaerah, antara provinsi dan kabupaten/kota untuk menghasilkan solusi yang efektif dan tuntas. 15 | P a g e

16 | P a g e

2.3 Kebijakan untuk Mengatasi Masalah  Adanya komitmen dan kemauan politik pimpinan pemerintah daerah dan legislative untuk melibatkan masyarakat dalam pengambilan keputusan.  Adanya akses masyarakat terhadap informasi. 2.4 Ruang Lingkup Ruang lingkup materi pengaturan dalam peraturan daerah perencanaan dan penganggaran daerah ini meliputi :     Perencanaan pembangunan daerah Penganggaran daerah Perencanaan pembangunan desa Monitoring dan evaluasi pembangunan

Bab 3 Kesimpulan dan Saran 3.1 Kesimpulan Rangkuman pokok isi naskah akademik. Luas lingkup materi yang diatur, dan kaitannya secara sistematis dengan lainlain peraturan perundang-undangan. Bentuk pengaturan yang dikaitkan dengan materi muatan. 3.2 Saran-saran Apakah semua materi naskah akademik sebaiknya diatur dalam satu bentuk peraturan atau ada sebagian yang sebaiknya dituangkan dalam peraturan pelaksana atau peraturan lainnya. Usulan mengenai penetapan skala prioritas penyusunan naskah akademik peraturan perundang-undangan dan saat paling lambat peraturan harus selesai diproses, beserta alasannya. Bab 4 Lampiran Daftar Kepustakaan. Inventarisasi Peraturan yang relevan dan masih berlaku. Inventarisasi permasalahan hukumnya . Laporan hasil penelitian di lapangan (kalau ada). Berita Acara proses penyusunan naskah akademik. Saran-saran dan makalah-makalah tertulis dari anggota penyusun naskah 17 | P a g e

akademik

18 | P a g e

Skema Prosedur Penyusunan Ranperda Perencanaan dan Penganggaran Daerah

19 | P a g e

20 | P a g e

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful