P. 1
edisi 379

edisi 379

|Views: 1,113|Likes:
Published by Hary Buana
Mingguan Medikom Edisi 379
Mingguan Medikom Edisi 379

More info:

Published by: Hary Buana on Jul 26, 2010
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

08/21/2013

pdf

text

original

Simak Halaman Khusus

Satu Halaman Untuk Purwakarta - Subang dan Karawang

PURWASUKA
Halaman 5

Edisi 379 Tahun VII 26 Juli s.d. 1 Agustus 2010

Media Komunikasi Masyarakat Transparan Kom omunikasi Masyarakat ansparan araka

Tepat & Perlu

HARGA ECERAN Rp2.500,- LUAR JAWA + Ongkos Kirim

Saatnya Harga ke Puncak Gunung
Selengkapnya baca Halaman 3

BPS Kota Bogor Diduga Sarat Pungli
BOGOR, Medikom-Pelaksanaan Sensus Penduduk tahun 2010 telah berakhir 31 Mei lalu, namun menyisakan cerita pahit yang memilukan. Sebab, berakhirnya kerja keras para petugas sensus sebagai petugas pencacah lapangan (PCL) khususnya di Kota Bogor, menyisakan ganjalan yang tidak mengenakkan, karena jerih payah pendataan para petugas pencacah tersebut diduga dijadikan sapi perahan para oknum Badan Pusat Statistik (BPS) Kota Bogor. Dugaan itu mencuat, berkenaan dengan adanya informasi beberapa sumber kepada Medikom yang mengatakan bahwa di salah satu kecamatan ada koordinator lapangan (korlap) meminta Rp100.000 kepada setiap petugas pencacah lapangan di beberapa kelurahan di Kota Bogor. Alasannya, untuk uang lelah dan perbaikan yang tidak jelas. Apalagi, adanya dugaan terjadinya pemotongan uang pengganti transport para PCL turut diperjelas, oleh salah seorang koordinator kecamatan di Kota Bogor berinisial IA. Ketika dikonfirmasi Medikom, beberapa hari lalu, IA mengatakan, sebenarnya hal tersebut terjadi bukan di daerah pengkondisiannya saja, akan tetapi di beberapa kecamatan lainnya yang ada di Kota Bogor telah dilakukan hal yang sama. “Malah lebih parah lagi,” katanya. Dirinya juga menegaskan, sebenarnya bukan pungutan atau potongan, akan tetapi hal tersebut diberikan oleh petugas pencacah kepada koordinator lapangan sebagai ucapan terima kasih karena sudah dilibatkan, bahkan pihak kelurahan juga yang ikut memberikan. “Pungutan itu juga terjadi di beberapa Badan Pusat Statistik kecamatan lainnya, baik itu selatan, utara, barat, tengah, timur dan Tanah Sareal. Pemberiannya juga sifatnya bervariatif tidak merata dari Rp100.000 sampai Rp200.000 bahkan sampai Rp500.000, yang diberikan setiap petugas pencacah di lapangan. Dan hal ini bukan oleh saya sendiri tapi semua kecamatan yang ada di Kota Bogor,” ungkapnya. IA juga menambahkan, pemberian itu bukan pungutan akan tetapi ucapan terima kasih yang diberikan secara pribadi maupun dikolektif melalui pihak kelurahan. Akan tetapi dirinya juga menyadari bahwa kawan-kawannya yang menjadi koordinator di beberapa kecamatan dalam mengondisikan dana dari para petugas PCL lebih besar memplot anggarannya, sehingga di luar angka biasa potongan honor maupun transport para petugas. Kepala Badan Pusat Statistik Kota Bogor, ketika akan dikonfirmasi terkait dana potongan yang dilakukan beberapa korlap kecamatan, belum bisa ditemui. Menurut pesan yang disampaikan via sms kepada Medikom, bahwa Kepala Kantor BPS sedang berada di luar kota. “Kepala kantor belum pulang dari Surabaya. Kalau sudah pulang nanti disampaikan,” demikian isi smsnya. (Gan/Wan)

Kekerasan Tak Dirumuskan, Dakwaan Mestinya Batal

di hal 4

Target Kenaikan Produksi Padi Menurun
MAJALENGKA, Medikom–Target kenaikan produksi padi di Kabupaten Majalengka pada tahun 2010 turun mencapai 3% dari target kenaikan sebesar 5%. Penyebabnya, terjadinya anomali iklim yang berdampak pada pertumbuhan hama, kelembagaan pengendalian belum terampil serta dukungan prasarana pengendalian terbatas. Kepala Dinas Pertanian dan Perikanan (Ditankan) Kabupaten Majalengka Idi Tjahidi mengatakan, hasil evaluasi musim panen pada Musim Tanam pertama dan kedua maka kenaikan produksi padi hanya mencapai 1,06%. “Target kenaikan produksi padi yang ingin dicapai sebesar 5%, namun setelah dilakukan evaluasi pada musim tanam kedua maka kenaikan produksi padi hanya sebesar 1,06%,” ungkap Idi. Penurunan kenaikan produksi padi di antaranya karena anomali iklim, terutama air hujan. Menurut dia, air dibutuhkan oleh tanaman padi namun tidak terus menerus. Selama musim tanam kedua ini, hujan terus menerus turun sehingga memunculkan organisme pengganggu tanaman (OPT), kemudian kelembagaan petani untuk pengendalian OPT belum terampil serta dukungan prasarana pengendaliannya terbatas. “Anomali iklim ini berpengaruh pada pertumbuhan OPT. Jika musim hujan terus terjadi maka OPT akan sulit ditangani karena

Ke Halaman 11

Serangan Wereng Coklat Merebak
Petani Panen Lebih Awal
INDRAMAYU, Medikom–Dampak dari menggilanya serangan hama wereng batang coklat (WBC) yang dalam sebulan terakhir terjadi di sejumlah kecamatan dalam Kabupaten Indramayu, menjadikan para petani di wilayah tersebut waswas. Akibatnya tidak sedikit dari mereka yang terpaksa melakukan panen lebih awal. Seperti yang terjadi di sebagian wilayah Kecamatan Gabus Wetan, Terisi, Cikedung dan Lelea. Wastara (40), petani asal Blok Limbangan, Desa Pengauban, Kecamatan Lelea, mengaku terpaksa Abdul Muin SP memanen tanaman padinya lebih awal karena khawatir akan bertambah rusak. Padahal menurutnya usia tanaman padinya tersebut, baru layak dipanen antara dua minggu ke depan. “Namun melihat kondisi serangan hama yang semakin menggila, maka saya memutuskan lebih baik memanen lebih awal daripada dibiarkan, sementara hasilnya belum tentu ada,” jelas Wastara saat ditemui Medikom di areal persawahan miliknya di Jalan Tempel Lelea pekan kemarin.

Biaya Pilkada Selangit, Hasilnya Jeblog
Hajat demokrasi lokal berupa pemilihan umum kepala daerah (pemilukada) kabupaten/kota dan provinsi kini menimbulkan paradoks. Sebab dana yang dikeluarkan, baik dari kas daerah maupun calon bisa mencapai puluhan miliar rupiah. Namun, hasil dari pelaksanaan pemilukada tetap saja tidak sesuai dengan aspirasi masyarakat.
Pemilukada bertujuan untuk memilih kepala daerah yang nantinya dapat merealisasikan kebijakan prorakyat. Namun yang terjadi saat ini, pemilukada dipandang hanya menguatkan ekonomi politik oligarkis. Dengan kata lain, hanya orang-orang yang punya uang banyak atau dekat dengan orang-orang berduit yang mungkin terpilih. Akibatnya, ‘aspirasi’ yang paling pertama didengar oleh pejabat hasil pemilukada adalah suara para pemilik modal atau penyandang dana kampanye. Sementara, kebijakan-kebijakan yang prorakyat akan sangat sulit direalisasikan. Pilkada tidak menjamin dan sulit menghasilkan pemimpin yang berkualitas, karena sebagaimana poin pertama, orang yang sebenarnya berkualitas, hanya karena tidak memiliki ‘mahar politik’ atau kendaraan politik, tidak bisa maju sebagai kandidat, bersaing dengan pasangan lain yang memiliki akses dana besar. Maka pemilukada tidak serta merta menghasilkan pemimpin yang betul-betul diinginkan oleh rakyat, karena hingga saat ini masyarakat hanya ‘dipaksa’ untuk memilih paket pasangan yang sudah ada, yang sudah ditentukan oleh partai politik. Bahkan fenomena pencalonan artis pun muncul dalam pemilukada di beberapa daerah. Kerisauan banyak pihak terkait pelaksanaan pemilukada yang menyedot biaya cukup besar tapi dengan hasil yang jeblog ini menjadi isu panas akhir-akhir ini. Bahkan presiden Susilo Bambang Yudhoyono merasa prihatin terhadap pelaksanaan pemilukada di sejumlah daerah karena ongkos demokrasi yang terlampau mahal. “Satu keprihatinan dan kecemasan kalau politik dan demokrasi kita ini menjadi sesuatu yang amat mahal. Ini bukan jadi rahasia lagi kalau orang mencemaskan pemilukada saja biayanya sangat tinggi,” ujar Presiden SBY. Hal itu diungkapkan Presiden, saat menerima Pengurus Pusat ICMI di Kantor Presiden, Jakarta, beberapa waktu lalu. Hal itu terjadi, lanjut SBY, pada pemilkada di segala tingkat mulai pemilihan bupati, wali kota dan gubernur. Bila keadaan tersebut terus berkembang, menurutnya bukan hanya berimbas pada mahalnya ongkos politik, tapi juga menyimpang dari hakikat bagaimana rakyat memilih pemimpin dengan cara-cara yang sepatutnya. “Bagaimana rakyat pemilih pemimpinnya memilih siapa yang mewakilinya dengan cara-cara yang baik amanah dan bersih dan sebaginya. Ini menyangkut moral politik, ini menyangkut budaya politik dan menyangkut etika politik,” jelas SBY. SBY berharap kondisi seperti itu tidak dilestarikan. Demokrasi dan politik bisa berkembang namun tetap amanah dan tercegah dari perilaku yang menyebabkan ongkos politik yang mahal. “Kita memiliki kewajiban moral, untuk itu jangan sampai masa depan kita berada dalam wilayah yang salah, jangan sampai generasi mendatang mendapat warisan dari perilaku politik dan demokrasi yang sebenarnya yang tidak kita inginkan,” kata SBY. Pernyataan presiden ini diamani oleh pengamat politik Dr Dede Mariana MA yang juga

Nasabah Keluhkan Bank Jabar Banten
SUBANG, Medikom–Nasabah Bank Jabar Banten di Subang mengeluhkan lembaga perbankan milik pemda tersebut. Keluhan itu terkait dengan tabungan yang tidak bisa diambil oleh nasabah lantaran terikat perjanjian utang piutang. “Saya kecewa tehadap Bank Jabar yang tidak memberikan uang tabungan istri saya pada saat akan diambil. Padahal kami mengambil tabungan karena terdesak kebutuhan sekolah anak,” ucap Suhendar. Suhendar saat itu bersama istrinya ke Bank Jabar Kalijati. Dijelaskannya, tabungan istrinya yang berada di Bank Jabar sebesar Rp1.4 juta sementara uang yang dibutuhkan mencapai Rp950.000. Sementara itu Dina Kartika Sari, seorang pegawai Bank Jabar bagian analis mikro saat dikonfirmasi di meja kerjanya menjelaskan, tabungan dimaksud bukanlah uang tabungan, akan tetapi yang bersangkutan merupakan nasabah dari PNS yang telah menyepakati surat pernyataan bahwa uang simpanan wajib itu tidak dapat diambil sebelum angsuran kreditnya diliunasi. Uang tersebut dapat diambil, setelah nasabah dimaksud mengangsur kreditnya selama setengah waktu kontrak. Apabila nasabah mengambil kredit delapan tahun maka nasabah tersebut bisa mengambil uang simpanan wajibnya setelah meng-angsur kreditnya selama empat tahun atau setengah dari waktu kontrak pinjaman kredit. “Bisa saja seorang nasabah mengambil uangnya sebelum lunas atau sebelum angsurannya mencapai setengah waktu kontrak, asalkan nasabah tersebut mempunyai alasan yang jelas, atau kondisi keluarganya sakit dengan disertai surat keterangan dari rumah sakit tertentu,” ucap Dina. Saat Dina ditanya jumlah nasabah dari golongan PNS pihaknya tidak dapat memberikan data dimaksud sebelum ada izin dari atasannya. Sementara saat mau dikonfirmasi, atasannya sedang tidak ada di kantor. Menurut Dina, atasannya sedang menghadiri kegiatan di Pemkab Subang. “Saya tidak bisa memberikan

Ke Halaman 11

Ke Halaman 11

Ke Halaman 11

Proyek Saluran Irigasi Rawa Onom Diduga Bermasalah
CIAMIS, Medikom-Melayani kebutuhan masyarakat banyak, pemerintah tampaknya telah banyak mengucurkan anggaran. Demi meningkatkan kesejahteraan masyarakat, salah satunya melakukan perbaikan sarana irigasi. Dan tampaknya hal ini sangat dibutuhkan masyarakat, khususnya para petani tani, guna mengairi areal persawahannya. “Namun akan sangat disayangkan apabila dalam pelaksanaan program maupun proyeknya terkesan asal-asalan dalam pengerjaannya. Maka hal ini akan banyak merugikan banyak kalangan. Hal tersebut sepertinya bisa dilihat saat pembuatan pasangan miring pada saluran irigasi itu diduga kuat ada pengurangan volume pada saat pengerjaannya,” kata Aef Saefudin, tokoh masyarakat Ciamis, kepada wartawan, Rabu (21/7). Menurutnya, berdasarkan temuan di lapangan, pada saat pengerjaan pembuatan saluran irigasi Rawa Onom, tepatnya di Desa Bangunharja, Kecamatan Cisaga, Kabupaten Ciamis, letak pekerjaannya ada beberapa titik lokasi disepanjang saluran itu. “Akan tetapi, ada kejanggalan pada saat pengerjaan. Di antaranya proses campuran aduk, ada yang tidak menggunakan mesin molen. Juga pasangan terlihat secara kasat mata tipis. Maka hal itu diduga tidak sesuai dengan bestek, Hal tersebut terjadi jelas akan mengurangi volume pekerjaan, yang akan merugikan

“Aroma Busuk” di Balik Megahnya Gedung Kejaksaan Sumedang
SUMEDANG, Medikom–Bertepatan dengan hari ulang tahun Kejaksaan Republik Indonesia yang ke-50, Kejaksaan Negeri Sumedang, Jawa Barat, boleh jadi merasakan suasana kantor yang benar-benar representatif. Gedung berlantai dua yang dibangun dengan anggaran miliaran tersebut, kini boleh jadi merupakan salah satu gedung perkantoran termegah di lingkungan Pemkab Sumedang. Hanya sayang, di balik kemegahan gedung yang dihuni para hamba hukum tersebut sepertinya terindikasi menyimpan aroma tidak mengenakkan. Banyak pihak menuding, selama proses pembangunan gedung tersebut diduga kuat sarat dengan praktik persekongkolan yang konon melibatkan orang dalam Kejaksaan. Kedengarannya memang sangat memprihatinkan, namun apa lacur, tudingan miring tersebut sepertinya bukan tanpa dasar apalagi kalau sekadar mengadaada. Soalnya, pihak-pihak yang melemparkan aroma kebobrokan tersebut, muncul dari berbagai elemen masyarakat yang patut diyakini kredibilitasnya. Sebut saja misalnya, Lembaga Swadaya Masysrakat (LSM) Gabungan Masyarakat Bawah Indonesia (GMBI), Gerakan Bersama Peduli Rakyat Sumedang (GEBPRAKS) dan LSM Pemantau Kinerja Aparatur Pemerintah (PENJARA). Berdasarkan informasi dan data berupa surat rilisan ketiga LSM tersebut yang diperoleh Medikom selama sepekan terakhir sepertinya satu sama lain saling berkaitan dalam substansi yang tidak jauh berbeda. Lihat saja, Surat LSM GMBI bernomor: 002/DPD/LSMGMBI/SMD/II/10, tertanggal 2 Februari 2010, yang ditujukan langsung kepada Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) Proyek Pembangunan Gedung Kejaksaan Negeri Sumedang tahun anggaran 20009. Dalam surat tersebut pada intinya mempertanyakan dugaan penyimpangan penggunaan material, khususnya material kayu yang tidak sesuai dengan spesifikasi. Hanya berselang satu minggu, surat yang dilayangkan LSM GMBI tersebut langsung disikapi Kepala Kejaksaan Negeri Sumedang, Bambang Riadi Lany, yang pada intinya berisi bantahan. Bahkan dalam surat balasan Kajari Sumedang bernomor: 228/0.2.2.1/ Cum/02/2010, tertanggal 8 Februari 2010 tersebut ditegaskan, permintaan LSM GMBI untuk melakukan klarifikasi di lapangan tidak memiliki dasar hukum dan tidak lazim dilakukan. Aneh memang, sepertinya UU No 28 Tahun 1999 tentang Penyelenggara Negara yang Bebas KKN dan PP No 68/1999 tentang Peranserta Masyarakat dalam Penyelenggaraan Negara yang bebas KKN termasuk UU No 14/2008 tentang Keterbukaan Informasi Publik di Kejaksaan yang satu ini belum tersosialisasikan. Tidak ayal, surat balasan Kajari Sumedang tersebut kemudian mendapat reaksi keras dari LSM GEBPRAKS dan LSM PENJARA Sumedang, yang selanjutnya melayangkan surat laporan/ pengaduan kepada Kejaksaan Agung c.q Jaksa Agung Muda Bidang Pengawasan dan Kejaksaan Tinggi Jawa Barat. Surat LSM PENJARA Sumedang bernomor: 026/LSMPJR/VII/2010, tertanggal, 12 Juli tersebut secara tegas menyoroti dua poin permasalahan, yaitu indikasi penyimpangan spek material kayu pada kegiatan pembangunan Kantor Kejaksaan Negeri Sumedang tahun anggaran 2009 silam.]] Sementara itu pada butir kedua diuraikan bahwa pada tahun anggaran 2010, dalam pembangunan lanjutan Kantor Kejaksaan Sumedang, juga terindikasi kuat penyimpangan yang bermuara pada persekongkolan antara pengusaha dan pihak Kejaksaan. Adapun modus persekongkolan tersebut dikemas dengan cara rekayasa proses pelaksanaan lelang yang pada akhirnya hanya sewa perusahaan sebesar 3 persen.

Ke Halaman 11

Lebih jauh LSM PENJARA Sumedang di penghujung suratnya menegaskan, agar semua pihak yang berwewenang khususnya Kejaksaan Agung RI, segera menyikapinya sebelum gedung itu diresmikan. Sementara itu, Kajari Sumedang Bambang Riadi Lany

SH, menanggapi surat LSM tersebut kepada sejumlah wartawan usai acara peringatan Hari Bakti Adhyaksa ke-50 pekan lalu hanya berkomentar singkat, “Itu sudah basi. Kalau masih ada LSM yang menyurati masalah tersebut, itu sudah basi.” (Aidin Sinaga)

Edisi 379 Tahun VII 26 Juli s.d. 1 Agustus 2010

Sisi Lain
PDAM Tirta Galuh Pasang Pipa Lebih Besar
CIAMIS, Medikom-Pemasangan pipa berdiameter 6 inci di sepanjang 2 km di Desa Panyingkiran sampai perbatasan Desa Imbanagara, sampai saat ini masih dilakukan. Untuk sementara PDAM Tirta Galuh (Kabupaten Ciamis) melakukan buka-tutup terhadap pelanggan PDAM yang berada di Desa Panyingkiran. PDAM melakukan pergantian pipa ke wilayah tersebut, yakni dari awalnya berdiameter 2 inci menjadi 6 inci, untuk mencegah kebocoran. Hal tersebut mengingat dikhawatirkan dengan daya pompa instalasi baru, pipa diameter 2 inci bisa pecah. Sebagaimana dikatakan Koordinator Pelaksana dari PDAM TIrta Galuh Ciamis Edi, penggantian pipa baru dengan diameter enam inci ini diharapkan nantinya bisa menciptakan pelayanan yang lebih maksimal. “Selama ini pasokan PDAM, terutama ke Desa Panyingkiran, debit airnya masih kategori sangatlah kecil. Sementara kalau debit airnya ingin dinaikkan, mestinya pipa harus diperbesar, agar tidak pecah. Karena dengan menggunakan pipa yang kecil itu, pipa-pipa tersebut akan bisa mudah pecah, mengingat daya tampung air semakin besar pula dan nantinya menimbulkan masalah dalam pelayanan,” ujarnya kepada wartawan, Selasa (20/7). Dengan begitu, lanjut Edi, diharapkan dengan pemasangan pipa baru dengan panjang 2 km itu pasokan air PDAM ke Desa Imbanagara bisa maksimal. “Bahkan rencananya di samping pipa-pipa baru itu akan memasok keperluan air PDAM di Desa Panyingkiran. Seiring dengan banyaknya debit air yang dihasilkan, bisa juga masuk desa-desa lainnya, di antaranya Pawindan dan Linggasari,” jelasnya. Adapun aksi buka tutup, lanjut Edi, tidak akan berlangsung lama. Berdasarkan target, pemasangan pipa tersebut akan selesai akhir Juli 2010. “Saya yakin akhir Juli pemasangan pipa-pipa ini akan selesai dan dari saat ini pasokan PDAM ke warga perkotaan Ciamis akan stabil kembali,” tandasnya. (Herz)

2

Jawa Barat

Perumnas Regional IV Optimistis Target Pembangunan 1.300 Unit Rumah Tercapai
BANDUNG, Medikom– 250 unit, dan sisanya Untuk membantu pedibangun di merintah menyediakan Tasikmalaya, perumahan bagi maBandung, dan syarakat khususnya Sukabumi. Khusus untuk rumah sederhauntuk daerah na sehat (RSH), Perum Karawang dan Cilegon, Perumnas tidak terasa sebagian besar rumah sudah berkarya selama yang dibangun Tipe 36, 36 tahun. Dalam sedangkan untuk momen peringatan Hari wilayah lain Jadi Perumnas ke-36 ukurannya lebih kecil. tersebut, Perum Hal ini disesuaikan Perumnas Regional IV dengan daya beli Setiawati SE yang meliputi wilayah masyarakat setempat. kerja di Jawa Barat dan Banten Setiawati juga menambahkan, optimistis mencapai target Perum Perumnas Regional IV gencar pembangunan rumah sebanyak melakukan pemasaran rumah 1.350 unit pada tahun 2010. tersebut melalui kantor cabang yang General Manager Perum Perumnas ada di Karawang, Cilegon, Cirebon, Regional IV Ir Hardy melalui Manager Tasikmalaya, Bandung, dan Marketing Setiawati SE didampingi Sukabumi. “Perumnas juga optimis Asisten Manajer Penjualan Sakyo penjualan rumah tersebut akan kepada Medikom baru-baru ini maksimal,” ujarnya. menyampaikan, dari 1.300 unit Untuk memenuhi permintaan rumah ini, paling banyak dibangun perumahan bagi masyarakat, di Karawang sebanyak 500 unit, Perumnas Regional IV juga terus kemudian Cirebon 270 unit, Cilegon melakukan pengadaan tanah karena tanah Perumnas yang ada luasnya semakin sedikit. Dalam pengadaan tanah ini lanjut Setiawati, Perumnas mengalami kendala karena harga tanah yang terus semakin mahal. Sementara tanah Perumnas diutamakan untuk pembangunan rumah sederhana sehat yang konsumennya kebanyakan masyarakat ekonomi kelas menengah ke bawah. Jadi dengan meningkatnya harga tanah, maka harga rumah juga semakin meningkat. Meningkatnya jumlah penduduk di perkotaan mengakibatkan kebutuhan perumahan juga meningkat. Peran pengembang perumahan sangat penting dalam menyediakan perumahan ini. Salah satu perintis pembangunan perumahan ini adalah Perum Perumahan yang statusnya Badan Usaha Milik Negara. Untuk memenuhi kebutuhan perumahan tadi, Perum Perumnas Regional IV Jabar dan Banten pada tahun 2010 ini akan membangun dua apartemen dan 1.350 unit rumah. Saat ini Perumnas sedang menyelesaikan perizinan pembangunan apartemen di wilayah Antapani, Kota Bandung. Surat Persetujuan Wali Kota Bandung tentang Pemanfaatan Ruang sudah keluar pada Maret 2010 lalu. Terkait dengan pemasaran, Setiawati menambahkan, pemasaran perumahan ini sudah mulai dilakukan sejak proses pembangunan perumahan dimulai. “Khusus untuk rumah tipe 27 dan 30, ada subsidi bunga kepada pembeli. Sedangkan untuk tipe 36 sampai 70 harga komersil,” ujarnya. Lanjut Setiawati, harga rumah yang ditawarkan Perumnas saat ini, tipe 27 Rp49 juta, tipe 30 Rp55 juta, tipe 36 antara Rp90-120 juta, tipe 46 antara Rp160-200 juta, tipe 63 di atas Rp200 juta, tipe 73 di atas Rp250 juta. Variasi harga rumah tersebut disesuaikan dengan lokasi rumah yang strategis. Semakin strategis posisinya, harga rumahnya juga semakin tinggi. (IthinK)

Produk Wisata Unik Pikat Wisatawan
BANDUNG, Medikom-Kebijakan promosi atau pemasaran produk wisata menjadi penentu tingginya angka kunjungan wisatawan ke daerah tujuan atau destinasi wisata. Oleh karena itu dalam kebijakan strategisnya sangat ditentukan produk yang ditawarkan yang unik, unggulan sesuai dengan kebutuhan dan daya tarik yang diharapkan wisatawan atau turis. Sehingga, tutur Kadisparbud Jabar Ir H Herdiwan MM, baru-baru ini, kepada pers, Pemprov melalui Disparbud Jabar mengandalkan pendekatan perpaduan antara strategi yang ditetapkan, target atau ukuran yang hendak dicapai dalam kurun waktu tertentu dan daya saing yang bisa diberikan untuk meningkatkan kenyamanan. “Disparbud Jabar dalam kegiatan 2010–2011 mengandalkan kebijakan pariwisata dan budaya yang berbasis pada metode strategic, targeting, positioning dengan tujuan, supaya angka kunjungan wisatawan baik mancanegara (wisman) dan nusantara (wisnus) meningkat,” tegasnya. Metode yang ditetapkan, tambahnya, mengharmonisasi target yang hendak dicapai dengan pertimbangan posisi dan daya tawar yang dimiliki tepat mempengaruhi daya tarik wisatawan untuk berkunjung ke seluruh objek-objek atau yang menjadi daerah kunjungan wisatawan. Sementara itu keunggulan produk wisata yang unik yang dimiliki juga mesti disertai dengan pelestarian budaya dan kekayaan sejarah tradisi para leluhur yang harus dipertahankan. Oleh karena itu pengayaan, perlindungan dan pelestariannya sebagai jati diri mesti terus dilakukan secara berkesinambungan sejalan dengan misi pengembangan produk wisata. Sebagai fasilitator Dirparbud berharap penyedia dana dari APBD Jabar 2009–2010 dimaksudkan untuk merangsang peran dan tanggung jawab seluruh stakeholders kepariwisataan. Bantuan tunai untuk

PT Askes Cabang Sukabumi Terapkan Dokter Keluarga
SUKABUMI, Medikom–Wakil Wali Kota Sukabumi H Mulyono mengaku puas atas pelayanan yang telah diberikan oleh PT Asuransi Kesehatan (Askes) Cabang Sukabumi terhadap seluruh PNS dan juga masyarakat Kota Sukabumi. Bahkan pihak Askes menerapkan sistem jemput bola dengan tujuan melayani masyarakat. Hal itu diungkapkan oleh Wakil Wali Kota Sukabumi H Mulyono usai membuka kegiatan senam sehat bersama Askes, sekaligus memperingati HUT PT Askes (Persero) ke-42 yang jatuh tanggal 15 Juli 2010 lalu. Acara senam yang diikuti segenap unsur muspida, PNS dan masyarakat Kota Sukabumi yang terdaftar sebagai peserta Askes dilaksanakan di Lapang Merdeka Kota Sukabumi Sabtu (24/7). Dikatakan Mulyono, dari tahun ke tahun, pelayanan yang diberikan oleh PT Askes menunjukkan grafik yang meningkat, artinya cukup positif. Salah satunya dengan diterapkannya program dokter keluarga, sebagai salah satu bentuk kepedulian terhadap pelayanan kesehatan bagi masyarakat. “Masyarakat yang ingin berobat ke puskesmas sore hari bisa terlayani. Dan tentunya agar program dokter keluarga bisa berjalan dengan maksimal, harus terus dilakukan sosialisasi kepada masyarakat,” ujarnya. Plh Kasi Hubungan Kehumasan dan Eksternal PT Askes Drg Irfan Qadarusman menjelaskan, memperingati HUT PT Askes (Persero) ke-42 pihaknya melaksanakan kegiatan senam sehat dan pemeriksaan kesehatan gratis serta pembagian door prize. Irvan menambahkan, jumlah peserta PT Askes di Kota Sukabumi yang terdaftar untuk PNS, veteran, TNI/Polri dan lainnya sekitar 14.000 orang. Sedangkan jumlah klaim asuransi kesehatan yang dibayarkan setiap bulannya termasuk pengobatan mencapai Rp1 miliar. (Arya/Ne)

Ir H Herdiwan MM meningkatkan sarana-prasarana dan merangsang tanggung jawab masyarakat sebagai sebuah jati diri dalam merespons segala perkembangan budaya yang terjadi sekaligus mendayagunakan segala sarana–prasarana yang dibutuhkan. Penyempurnaan secara fisik dalam bentuk sarana dan prasarana yang dibutuhkan, seperti pengucuran dana secara langsung, terus menjadi anggaran prioritas seperti yang dianggarkan dalam APBD Jabar 2010 sekaligus evaluasi secara komprehensif untuk menggerakkan dan meningkatkan kesejahteraan rakyat urainya melalui produk wisata yang unik dan unggulan. Tanggung jawab dan peran serta masyarakat, tambahnya, untuk memberikan kontribusi pengembangan dan revitalisasi benda cagar budaya (BCB) secara sinergis harus terus diupayakan, supaya sejalan dengan kebutuhan masyarakat. Sebab perkembangan teknologi informasi (IT) saat ini searah dengan perhatian terhadap peran BCB sebagai media informasi yang mendapat apresiasi dari masyarakat luas. “Sinergisitas antara pemerintah dengan masyarakat sangat mendukung peningkatan standarisasi produk wisata, sarana dan prasarana sekaligus pelayanana angka kunjungan ke museum,” ujarnya. (Zaz)

Bandung Tuan Rumah Rakernas Apeksi
BANDUNG, Medikom-Mulai Minggu (25/7) hingga Selasa (27/7), Kota Bandung akan menjadi tuan rumah penyelenggaraan Rapat Kerja Nasional (Rakernas) Asosiasi Pemerintah Kota Seluruh Indonesia (Apeksi) dan Indonesia City Expo (ICE) 2010. Hingga pekan kemarin, dari 97 kota anggota Apeksi, sudah 70 Wali Kota yang menyatakan diri akan hadir dalam rakernas tersebut. Wali Kota Bandung H Dada Rosada menyatakan, dalam rekernas tersebut salah satu hal yang paling menjadi sorotan dan akan dibahas yaitu masalah pajak Biaya Pajak Nomor Kendaraan Bermotor (BPNKB). Selama ini 70 persen pendapatan dari pajak tersebut diberikan kepada pemerintah provinsi sementara pemerintah kota hanya kebagian jatah 30 persen. “Sebenarnya banyak masalah yang akan diangkat dalam rakernas nanti, dan umumnya masalah yang dihadapi masing-masing kota. Namun salah satu hal yang juga akan kita bahas yaitu masalah BPNKB,” kata Dada ketika ditemui wartawan usai kegiatan uji petik emisi di Gedung Kantor Wilayah Keuangan I Jabar, Jln Asia Afrika, Jumat (23/7). Dijelaskan Dada, besaran 30 persen yang diberikan kepada pemerintah kota memang harus diubah. Bahkan Dada berharap dan bersama kepala daerah lainnya akan berupaya agar porsi pembagian menjadi terbalik, pemerintah kota 70 persen dan provinsi 30 persen. Selama ini, upayaupaya ke arah itu pun sudah pernah dan sering dilakukan. Hanya saja, selama ini upaya tersebut belum berhasil. Yang menjadi kendala, tambah Dada, pemerintah provinsi pun memiliki kepentingan lainnya sehingga tidak bisa begitu saja melepaskan atau memberikan porsi besar kepada pemerintah kota. Provinsi, dikatakan Dada, harus mengurus banyak daerah. “Bukan hanya daerah yang memberikan kontribusi, tapi mereka (provinsi, red) juga harus memberikan bagian kepada daerah miskin yang selama ini tidak ada kendaraannya. Tapi kita (pemerintah kota) yang memberi kontribusi besar, tentunya ingin ada perbedaan,” paparnya. Perbedaan itu, ujar Dada, mengingat besarnya fungsi dan beban dari pemerintah kota yang selama ini memberikan kontribusi. Ia mengambil contoh Kota Bandung. Fungsi dan beban Kota Bandung cukup besar, mengingat tingginya jumlah kendaraan yang masuk ke Kota Bandung. “Akibatnya jalan banyak yang rusak. Tapi kalau misalkan kita dapat 70 persen, lumayan untuk menambah biaya perbaikan jalan yang tadinya hanya 30 persen. Kalau sekarang kita punya Rp200 miliar, artinya akan ada tambahan lagi lebih dari Rp200 miliar dan itu bagus,” ungkapnya. Kegiatan rakernas sendiri akan dilaksanakan di Hotel Savoy Homann. Selain itu akan digelar juga kegiatan ICE di Gasibu dengan target 77 peserta (26-30 Juli), City Tour dengan peserta pameran (27 Juli), Bisnis Trip atau berbagi informasi kepada kota kota lain di dunia internasional direncanakan ke Shanghai World Expo (28-31 Juli), Ladies Program melibatkan istri para wali kota (26-27 Juli). “Kota Bandung selaku tuan rumah berharap, tidak saja sukses penyelenggaraan tapi juga sukses mendapatkan dampaknya secara sosial ekonomi. Menyuburkan iklim berusaha dan merangsang kreativitas serta inovasi pelaku usaha,” ungkap Dada. (Dudi)

Telkom Tingkatkan Fasilitas Telekomunikasi di Pulau-pulau Terluar Indonesia
BANDUNG, Medikom–PT Telekomunikasi Indonesia (Telkom) menguatkan komitmen untuk menyediakan layanan telekomunikasi di pulaupulau terluar Indonesia, baik itu layanan telepon (suara) maupun data (internet). Vice President Public and Marketing Communication Telkom Eddy Kurnia menegaskan, tersedianya layanan telekomunikasi tersebut sangat penting, karena posisi beberapa pulau terluar secara geopolitik sangat strategis.
merupakan simbol kedaulatan Negara Kesatuan Republik Indonesia. Selain di Natuna, Telkom telah menggelar infrastruktur di Pulau Miangas yang berbatasan dengan Filipina dan Pulau Nipah yang berbatasan dengan Singapura. Setidaknya ada 12 titik wilayah terluar lain yang menjadi target pembangunan infrastruktur Telkom, yaitu Pulau Marore (Utara Kepulauan Sangihe, berbatasan dengan Filipina), Pulau Marampit (Utara Kepulauan Talaud, berbatasan dengan Filipina), Pulau Sekatung (Utara Pulau Natuna, berbatasan dengan Vietnam), Pulau Tapeh (sebelah Timur Laut Timor Leste), Pulau Rondo (Utara Pulau Weh, Aceh), Pulau Berhala, P Fani (Utara Papua), Pulau Fanildo (Utara Papua), Pulau Bras (Utara Papua), Pulau Batek (berbatasan dengan Timor Leste), Pulau Dana (berbatasan dengan Australia), dan Pulau Sebatik (berbatasan dengan Malaysia). Kehadiran Telkom di lokasi-lokasi tersebut dilandasi kesadaran bahwa semua orang di Indonesia seyogianya memiliki akses terhadap sarana telekomunikasi guna meningkatkan kualitas hidupnya. “Telkom memiliki komitmen menggelar infrastruktur di seluruh wilayah Indonesia untuk mengurangi berbagai kesenjangan informasi akibat keterpencilan wilayah geografis,” ujar Eddy Kurnia. Dewasa ini terdapat 66.778 desa di Indonesia, dari jumlah tersebut baru sekitar 23.759 atau 36% di antaranya yang sudah terjangkau layanan telekomunikasi. Lebih dari sebatas pengelolaan USO, Telkom bahkan berkeinginan untuk menjadi yang terdepan dalam membangun infrastruktur di titiktitik terluar wilayah Indonesia. “Kehadiran Telkom di pulau terluar dan wilayah terpencil semata-mata sebagai bagian dari tanggung jawab sosial perusahaan, karena apabila dilihat dari hitungan bisnis, pengoperasian fastel lokasi-lokasi tersebut tidak menguntungkan,” papar Eddy. terdepan Indonesia juga diperkuat oleh anak perusahaannya, yakni Telkomsel. Melalui program “Telkomsel Merah Putih” telah dibangun jaringan di daerah terluar dan kawasan terpencil. Sebagai negara kepulauan sepanjang 1/8 bentangan dunia dengan luas 1,9 juta kilometer persegi yang memiliki 18.000 pulau, geografis Indonesia memiliki tantangan tersendiri. Untuk itu, seiring dengan upaya penggelaran jaringan yang umum dilakukan oleh operator selular, Telkomsel juga terus melakukan inovasi dan integrasi teknologi dalam upaya menghadirkan solusi teknologi yang tepat untuk wilayah-wilayah yang selama ini kesulitan mendapatkan layanan telekomunikasi. Salah satunya adalah inovasi teknologi GSM berbasis IP berkonsep”Remote Solution System” sebagai solusi layanan komunikasi dan informasi di daerah terpencil seperti pedesaan dan pulau-pulau terluar Indonesia termasuk wilayah laut. Bahkan inovasi teknologi ini memberikan kecepatan penyediaan jaringan telekomunikasi selular yang lebih baik, menjadi sekitar 2 jam saja, di mana sebelumnya pembangunan cara konvensional dengan mendirikan menara BTS butuh waktu sekitar 1-2 bulan. Program Telkomsel Merah Putih membuktikan kemampuan rekayasa teknologi karya anak bangsa Indonesia dalam mengintegrasikan beberapa perangkat sistem dan produk teknologi canggih menjadi suatu solusi penyediaan fasilitas telekomunikasi berkualitas yang sesuai dengan karakter geografis Indonesia sebagai negara kepulauan. Bahkan mengingat banyak wilayah Indonesia yang mempunyai permasalahan ketersediaan listrik, Telkomsel juga telah mengimplementasikan inovasi alternatif power supply dengan tenaga matahari (solar cell) dan tenaga angin (kincir Diperkuat anak perusahaan angin). Kehadiran Telkom di wilayah (IthinK)

Di Bogor, Ratusan Anak Ikuti Kompetisi Teknologi Informasi
BOGOR, Medikom-Ada pemandangan menarik, bila anda menyambangi Balaikota Bogor , Jumat lalu (23/7). Ratusan laptop berjajar bak display yang biasa dipajang pada pameran komputer. Tapi sekali lagi, jajaran laptop ini ada di Balaikota Bogor, bukan di Glodok atau pun di Harco Mangga Dua, Jakarta. Ratusan laptop tersebut berjejer rapi di Ruang Rapat I, baik di dalam maupun di luar ruangan. Laptop tersebut digunakan oleh para peserta kompetisi e-dukasi Teknologi Inovasi. Kompetisi ini digelar untuk pertama kalinya sehubungan dengan peringatan Hari Anak Nasional Tingkat Kota Bogor. Berbeda dengan peringatan Hari Anak Nasional yang digelar sebelumnya di Kota Bogor, Komunitas TI di Kota Bogor, bersama dengan Dinas Perhubungan, Komunikasi dan Informatika Kota Bogor, sepakat menggelar kompetisi dan workshop yang diikuti oleh anakanak dari beragam usia. Kompetisi yang digelar, mulai dari e-Du Typing, e-Du Story, e-Du Kuiz hingga e-DU reporter diikuti oleh anak-anak sekolah beragam tingkat, dari tingkat sekolah dasar(SD) hingga sekolah menengah atas (SMA). Kompetisi e-DU Typing diikuti sekitar 86 peserta dari beragam siswa kelas 1 dan 2 SD. Kompetisi ini mencari siapa peserta yang tercepat mengetik huruf dan menemukan huruf yang tampil di layar monitor pada keyboard. Kecepatan mengetik akan dihitung dalam Word Per Minute (WPM). Sedangkan e-DU Story, akan diikuti oleh peserta dari kelas 3 dan 4 SD. Kompetisi ini akan mengkalkulasi siapa peserta yang mengetik kalimat paling cepat, tepat, rapi dan menarik, baik dalam tampilan seperti border maupun font. Penilaian juga akan diberikan untuk penentuan judul yang menarik dan sesuai dengan tema yang diberikan. Sedangkan e-DU story dan e-DU reporter digelar Sabtu (24/7). Kompetisi Bogor e-dukasi diharapkan seluruh lapisan masyarakat Bogor, khususnya anak-anak, mampu menjadikan Teknologi Informasi sebagai alat bantu dalam menunjang aktivitas pendidikan, kerja, usaha maupun di dalam pemerintahan. Hal ini sesuai dengan kesepakatan beberapa komunitas di tahun 1999 yang lalu, untuk membangun Bogor Cyber City . “Kompetisi yang digelar dalam Ajang Kreativitas Seluruh Elemen Sekolah (AKSES) ini bertujuan menggerakkan seluruh elemen masyarakat untuk mau terus belajar dan melek teknologi informasi,” ujar Ketua Panitia Michael Sugiardi saat memberikan sambutan. Walikota Bogor Diani Budiarto dalam sambutan yang dibacakan oleh Kepala Dinas Perhubungan, Komunikasi dan Informatika Kota Bogor Drs H Achmad Syarief MSi menyambut baik gagasan panitia untuk menyelenggarakan workshop dan kompetisi teknologi informasi. “Karena kegiatan ini saya pandang sebagai ajang edukasi bagi warga masyarakat untuk lebih menguasai penggunaan teknologi informasi serta untuk mengeksplorasi seluruh potensi yang ada di dalam teknologi informasi,” urai Diani. Diani mengatakan bahwa teknologi informasi sudah amat cepat perkembangannya. Bukan hanya penggunaannya yang sudah meluas, tetapi juga sudah semakin akrab. Anak-anak dari tingkat SD hingga SMA sudah terbiasa dengan penggunaan internet. “Dengan kata lain, saat ini teknologi informasi sebetulnya sudah menjadi bagian dari kehidupan masyarakat. Tinggal bagaimana pemanfaatan teknologi informasi tersebut diarahkan untuk mendukung kegiatan-kegiatan yang lebih produktif dan tidak terhenti hanya dengan memanfaatkan internet untuk kegiatan bersifat konsumtif,” imbau Diani. Diani juga berharap agar perkembangan teknologi informasi dapat dimanfaatkan untuk meningkatkan pelayanan, termasuk peningkatan penyelenggaraan pendidikan. Namun Diani juga meminta agar masyarakat pengguna teknologi informasi juga tidak menganaktirikan produk-produk dalam negeri. Baik perangkat keras maupun lunak.

Nani Mendapat Penghargaan Satya Lancana Wira Karya
BANDUNG, Medikom–Ketua Tim Penggerak PKK Kota Bandung Hj Nani Dada Rosada mendapat penghargaan Satya Lancana Wira Karya dari Presiden Republik Indonesia (RI) sebagai pengelola terbaik I Tingkat Nasional Kesatuan Gerak PKK KBKesehatan 2010. Penghargaan diserahkan oleh Wakil Presiden RI, Boediono pada acara puncak peringatan Hari Keluarga Nasional ke-17 dan Bulan Bhakti Gotong Royong Masyarakat ke-7 tahun 2010, di lapangan Jabal Nur Palu, Sulawesi Tengah, pekan lalu. Hadir dalam acara tersebut, Menteri Dalam Negeri Gamawan Fawzi, Menteri Sosial Salim Segaf Al Jufrie, Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Linda Agum Gumelar. Sebelumnya pada tahun 2007 Tim Penggerak PKK Kota Bandung mendapat pengharagaan yang sama. Ketua PKK Kota Bandung Nani mengucapkan syukur alhamdulillah dan terima kasih kepada warga Kota Bandung atas dukungannya, sehingga penghargaan tersebut dapat diraih. “Saya mengucapkan syukur, dan tak lupa saya juga mengucapkan terima kasih kepada warga Kota Bandung atas dukungannya dan peran sertanya dalam program KB ini, sehingga penghargaan ini dapat diraih,” ujarnya. Nani juga berharap dengan diraihnya penghargaan tersebut, program KB di Kota Bandung dapat lebih meningkat lagi, begitu pun dengan kesejahteraan keluarga dapat terwujud dan meningkat. “Untuk mewujudkan hal tersebut PKK Kota Bandung juga mengadakan beberapa kegiatan seperti melaksanakan pelatihan keluarga mengenai sosialisasi gender dan pola asuh anak dan menyelenggarakan pelatihan bina keluarga balita,” ucapnya. Kepala Badan Pemberdayaan Perempuan dan Keluarga Berencana (BPPKB) Kota Bandung Ir Dra Wiwiek Indrayati MPd,

Diani Budiarto “Sebab saat ini produk dalam negeri untuk perangkat keras maupun lunak yang digunakan dalam teknologi informasi sudah semakin bersaing kualitasnya,” yakinnya. Kegiatan AKSES sudah diselenggarakan pada bulan Juni 2010, dalam rangka Hari Jadi Kota Bogor ke-582. Kegiatan yang digelar berupa seminar, workshop dan kompetisi, diikuti oleh total 611 peserta, dengan hasil 63 finalis dari kategori kompetisi, mulai tingkat SD sampai SMP SMA dan sederajat. AKSES bulan Juli 2010 ini akan menjaring puluhan finalis yang akan bersama finalis Akses bulan Juni memperebutkan hadiah-hadiah persembahan dari AMD Indonesia. Finalis AKSES bulan Juni dan Juli akan mengikuti final AKSES pada tanggal 7 Agustus 2010 yang akan diselenggarakan di Gedung Konservasi Ruang Audio Visual Kebun Raya Bogor. Kompetisi AKSES bulan Agustus 2010 adalah merakit komputer untuk SMK sederajat dan sekaligus akan dilakukan penyerahan hadiah dari BoNet, CEC, Marvel berupa piala dan tabungan, serta dari AMD dan distributornya, berupa 5 unit Notebook, 5 unit PC dengan prosessor AMD dan 5 unit Kamera Digital. (gan)

Hj Nani Dada Rosada menuturkan perkembangan tingkat partisipasi masyarakat dalam keikutsertaan dalam ber-KB cukup tinggi sekitar 81%. “Dari jumlah tersebut 73%-nya merupakan peserta KB Mandiri,” ujar Wiwiek. Lebih lanjut dikatakannya, ratarata usia perkawinan pertama wanita di Kota Bandung di atas usia 20 tahun. Hal ini berdampak pada pengendalian kelahiran. “Dengan kondisi seperti ini, rata-rata kemampuan ibu melahirkan anak semasa kurun reproduksinya sebesar 1,7%,” paparnya. Program pengembangan KB di Kota Bandung, menurut Wiwiek, lebih pada pendekatan pemberdayaan dan ketahanan keluarga seperti pemberdayaan ekonomi keluarga melalui kelompok-kelompok Usaha Peningkatan Pendapatan Keluarga Sejahtera (UP2KS). Sedangkan untuk ketahanan keluarga menurutnya dilakukan melalui bina-bina keluarga, bina keluarga balita, bina keluarga remaja, bina keluarga lansia dan bina lingkungan keluarga. “Di samping program tersebut, kita juga tidak lupa memperhatikan mengenai program kesehatan reproduksi remaja,” pungkasnya. (Dudi)

Eddy menyatakan, beberapa pulau terluar saat ini sudah memiliki akses tidak hanya suara, tetapi juga internet. “Natuna merupakan pulau terluar Indonesia pertama yang memiliki akses internet kecepatan tinggi. Natuna sejak tahun 2007 telah menikmati layanan internet cepat Speedy,” jelas Eddy. Penyediaan layanan internet broadband TELKOMSpeedy di Natuna merupakan bagian dari tanggung jawab sosial Telkom yang tertuang dalam salah satu corporate inisiative. Fasilitas yang dioperasikan Telkom di pulau tersebut terdiri dari tiga akses, yakni telepon, faksimili, dan internet broadband. “telkom telah bertekad untuk menjadi yang terdepan dalam pengelolaan USO (Universial Service Obligation) sekaligus terdepan dalam membangun infrastruktur telekomunikasi di titik-titik terluar wilayah Indonesia,” katanya. Ditambahkannya, kehadiran Telkom yang sebagian besar sahamnya dimiliki oleh negara di pulau-pulau terluar maupun daerah-daerah perbatasan dengan negara lain secara tidak langsung

Edisi 379 Tahun VII 26 Juli s.d. 1 Agustus 2010

3

Lintas Kota
Perpanjangan STNK Harus Lulus Uji Emisi Gas Buang
BANDUNG, Medikom–Pemkot Bandung mensyaratkan setiap kendaraan yang melakukan perpanjangan surat tanda nomor kendaraan (STNK) harus dinyatakan lulus uji emisi gas buang. Hal ini bertujuan mengurangi tingkat pencemaran udara yang disebabkan emisi gas buang kendaraan bermotor. Demikian diungkapkan Kepala Dinas Perhubungan Kota Bandung Prijo Subandiono kepada wartawan, saat memberikan layanan uji emisi secara gratis di sekitar kantor PT INTI, Jln Moh. Toha Bandung, pekan lalu. Prijo menjelaskan, ketentuan ini sesuai dengan Peraturan Menteri Negara Lingkungan Hidup No 5/MNLH/8/2006 tentang Ambang Batas Emisi Gas Buang Kendaraan Bermotor. Selain itu, sejalan dengan Perda Kota Bandung No 2/2008 tentang Penyelenggaraan Perhubungan di Kota Bandung. Tingkat pencemaran akibat transportasi kendaraan bermotor, lanjutnya, merupakan angka terbesar sebelum kebakaran hutan, rumah tangga, dan industri. Karena itu, tingkat pencemaran akibat emisi gas buang kendaraan bermotor harus bisa ditekan dan dikurangi. Di Kota Bandung, katanya, saat ini terdapat sekitar 1.131.406 kendaraan bermotor, yang terdiri atas 808.768 kendaraan bermotor roda dua, 285.635 kendaraan pribadi, serta 45.000 kendaraan umum, bus, dan truk. Dari jumlah tersebut, tingkat pencemaran kendaraan bermotor dan kendaraan umum mencapai 21%, sedangkan kendaraan pribadi 48%. Prijo menambahkan, zat-zat pencemar gas buang kendaraan bermotor terdiri atas karbondioksida, hidrokarbon, nitrogenoksida, timah hitam, dan sulfuroksida. Pemerintah, mengendalikan pencemaran dengan beberapa cara, seperti penghijauan atau penanaman pohon, pengendalian pencemaran udara, dan memperbaiki struktur bahan bakar yang digunakan. Cara lain yang diterapkan adalah memberlakukan setiap perkantoran untuk menyeleksi kendaraan yang memiliki emisi gas buang yang baik. Maksudnya, tambahnya, kendaraan bermotor yang parkir di kawasan perkantoran seperti Balai Kota wajib lulus emisi. Demikian pula dengan tempat parkir di mal dan di jalan raya, harus membuat standar yang sama. “Terakhir dengan cara setiap penerbitan dan pengesahan SNTK wajib lulus emisi gas buang,” katanya. Prijo menambahkan, kebijakan wajib lulus uji emisi merupakan keputusan Kapolda Jabar dan merupakan pilot project pertama di Indonesia. Jika ini diterapkan, katanya, Kota Bandung atau Jawa Barat yang pertama kali melakukan kebijakan ini. (Dudi)

Saatnya Harga ke Puncak Gunung
Harga kebutuhan pokok terus meroket. Di samping disodok kenaikan tarif dasar listrik sebelumnya, kenaikan harga juga dipicu oleh akan masuknya bulan Ramadan dilanjutkan Lebaran. Maka, terjadilah kenaikan harga yang sempurna.
Peningkatan harga paling menonjol terjadi pada komoditas sayur mayur, mencapai antara 30-40 persen dari biasanya. Bahkan untuk harga sayuran jenis cabai mengalami peningkatan sekitar 60 persen. “Kenaikannya sulit diprediksi, berubah-ubah terus tiap harinya,” ujar Dadang Abdul Hamid (38), salah seorang pedagang di Pasar Induk Guntur, Garut, Senin dua pekan silam. Menurut dia, fluktuasinya harga barang tersebut diakibatkan oleh kurangnya antisipasi dari pemerintah. Terbukti dari sistem distribusi barang yang kerap mengalami keterlambatan. Akibatnya persediaan barang di tingkat pedagang kian menipis. “Kami terpaksa menaikkan harga karena tidak ada pengiriman dari petani,” ujarnya. Namun, meski harga barang melambung, tambah Dadang, para pedagang tidak berkeuntungan lebih. Soalnya, omzet penjualan barang melorot drastis. Harga jual sekadar cukup untuk menutupi ongkos angkut saja. Sebelum kenaikan harga, dia mencontohkan, bisa menjual gula merah sebanyak 2-3 ton per minggu dengan harga Rp6.000 per kilogram. Setelah harganya naik menjadi Rp10.000 per kilogram, hanya mampu menjual sebenyak 2 kuintal selama dua pekan. “Kenaikan harga ini juga berpengaruh terhadap menurunnya daya beli masyarakat,” ujar Dadang. Kenaikan serupa terjadi pada sejumlah komoditas lainnya seperti telur. Telur yang semula dijual Rp11.000/kg, kini dilepas pedagang Rp14.000 hingga Rp15.000/kg. “Kami jadi pusing menjualnya,” kata Hamid, pedagang grosir di Kecamatan Ciasem, Kabupaten Subang. Menurut dia kenaikan harga telur diperkirakan berlanjut hingga menjelang Ramadan mendatang. Pasalnya komoditas tersebut banyak dicari oleh kalangan ibu rumah tangga maupun pengusaha katering dan kue. Sementara itu, harga gula pasir naik dari Rp8.000 menjadi Rp9.000/ kg. “Harga gula juga diperkirakan akan terus bergerak naik,” ujar Komar, pedagang di Desa Cilamaya Hilir Blanakan, Kabupaten Subang. Dikatakan, harga komoditas yang hingga kini masih relatif stabil adalah terigu yang dijual pedagang Rp4.000/ kg dan minyak goreng curah masih bertahan di kisaran harga Rp8.700/ kg. “Yang memprihatinkan adalah harga beras yang tembus Rp5.500/ kg. Padahal musim panen gadu masih lama,” ujar Euis, warga Desa Sarengseng, Kecamatan Patokbesi. Merambah beras Kenaikan harga bahan pangan juga merambah ke komoditas beras. Pantauan Medikom di pasar tradisional Kabupaten Subang menunjukkan harga beras mengalami kenaikan hampir Rp1.000 per kilogramnya. Harga beras jenis IR62 naik dari Rp8.500 menjadi Rp9.500 per kilogram. IR 64 dijual menjadi Rp6.500 dari Rp6.100 per kilogram. Beras ketan naik dari Rp7.900 menjadi Rp8.600 per kilogram. Sejumlah beras kualitas tinggi mengalami kenaikan cukup besar. Beras Pandanwangi naik dari Rp6.500 menjadi Rp7.200 per kilogram. Sedangkan jenis beras Muncul, naik dari Rp5.300 menjadi Rp6.000 per kilogram. Kenaikan harga beras bukan saja dikeluhkan pembeli, tapi juga para pedagang di pasar. Keduabelah pihak sama-sama merasa dirugikan dengan situasi itu. Pedagang terbebani dengan kenaikan semua jenis beras, karena omzet menurun dan sepinya pembeli. Kendali di pemerintah Sikap pedagang yang menyalahkan pemerintah mendapat dukungan dari Prof Dr Ina Primiana. Pakar ekonomi dari Unpad Bandung tersebut, menegaskan, seharusnya pemerintah tidak membebani masyarakat. Ia menilai momen menaikkan tarif dasar listrik (TDL) yang tidak tepat menjadi salah satu biang permasalahan. Mestinya pemerintah mengatur harga sebelum ada wacana kenaikan dan diperhitungkan sejauhmana dampak terhadap masyarakat. “Wacana TDL naik menjadi pemicu utama di samping ada oknum yang diduga merusak pasokan sehingga sembako menjadi berkurang di pasaran,” ujar Ketua ISEI Cabang Bandung, Koordinator Jabar ini kepada Medikom usai penutupan acara ISEI di Hotel Savoy Homann, Kamis (22/7). Jadi, kata Ina, ketidakjelian pemerintah menanggapi kenaikan TDL yang berimbas pada harga sembako menggoncangkan situasi perekonomian. Seharusnya pemerintah memiliki catatan ketika PLN akan menaikkan tarif, pemerintah harus sigap menentukan harga sembako dan berapa harga kenaikannya. “Pemerintah harus mensosialisasikan kepada masyarakat berapa harga sembako di awal dan berapa kenaikannya sehingga pedagang tidak sembarangan menentukan harga,” ujarnya. Selain itu, tambah ibu berjilbab ini, sebenarnya harga bisa stabil baik menjelang Puasa maupun Lebaran. Asalkan, pasokan cukup dan distribusinya bagus. “Demand meningkat dan supplay-nya cukup maka tidak ada kenaikan harga dan pemerintah harus membantu!” tegasnya. Bila peran pemerintah tidak maksimal, Ina mengkhawatirkan sulitnya kemungkinan harga-harga akan kembali normal. Karena, semenjak dulu di Indonesia belum pernah mengalami penurunan harga. “Melihat situasi saat ini sepertinya tidak mungkin harga turun, karena tidak ada dalam sejarahnya. Kalaupun turun tidak akan sebesar seperti kenaikan harga,” ujarnya. (Wulan, Aloy, L Butar Butar, Dadan)

Penangkal Itu Bernama Operasi Pasar
Kecemasan tidak tampak pada para pejabat yang terkait dengan pengaturan masalah kebutuhan pokok. Ferry Sofwan Arif misalnya, menegaskan kenaikan harga barang-barang masih dalam batas toleransi. Walaupun, Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan Provinsi Jawa Barat ini mengakui harga produk tertentu seperti cabe, daging ayam, dan beras mengalami kenaikan yang cukup tinggi. “Namun harga cabai yang sempat di atas Rp40.000/kg, kini sudah menurun di kisaran Rp31.00032.000,” tuturnya. Apalagi, menjelang bulan puasa pada pertengahan Agustus, Ferry mengungkapkan, stok kebutuhan pokok masyarakat khususnya di Jawa Barat akan terpenuhi. Jadi diprediksi kenaikan harga kebutuhan pokok masih bisa ditoleransi. Disperindag Jabar beserta lembaga terkait, ujar dia, terus melakukan koordinasi agar kebutuhan pokok masyarakat pada bulan Puasa nanti tercukupi. Khusus untuk beras, jika mengalami kenaikan tinggi, Disperindag Jabar berkoordinasi dengan Perum Bulog Divre Jabar siap melakukan operasi pasar guna menekan permainan para spekulan. Artinya Disperindag tidak berpangku tangan. Untuk memastikan kenaikan harga-harga kebutuhan pokok di Jawa Barat, tambahnya, Disperindag Jabar juga terus memantau harga di empat pasar tradisional di Kota Bandung: Pasar Kosambi, Pasar Andir, Pasar Sederhana, dan Pasar Kiaracondong. Pasar ini dinilai menjadi reprensentasi pasar yang ada di Jabar. Dikatakan, ada 19 jenis kebutuhan pokok masyarakat yang terus dipantau harganya, yaitu beras, gula pasir, minyak goreng, daging, telur ayam, susu kental manis dan susu bubuk, jagung pipilan, garam beryodium, tepung terigu, kacang kedelai, mi instan, cabe merah, bawang merah, ikan asin teri, kacang hijau, kacang tanah, ketela pohon, gas elpiji, dan semen. Ferry kembali menegaskan, harga kebutuhan pokok di atas umumnya masih stabil. Kenaikan yang tinggi terjadi untuk komoditas cabai. Untuk daging ayam dan beras kenaikan harganya masih dalam toleransi. Khusus menjelang Puasa, kebutuhan pokok dari komoditas pertanian diprediksi tercukupi. Soalnya kata Ferry, komoditas pertanian di sentra pertanian Jawa Barat siap panen. Sedangkan stok Ciamis menyatakan siap melakukan operasi pasar di kawasan Priangan Timur. Pihaknya juga telah menerima rekomendasi untuk menggelar operasi pasar dari Menteri Perdagangan RI. “Kami telah menerima rekomendasi Menteri Perdagangan RI terkait harus mengadakan operasi pasar yakni beras. Namun untuk melakukannya diwajibkan kepala daerah dalam hal ini bupati/ walikota merekomendasikannya kepada Bulog,” terang Humas Bulog Sub Drive Ciamis, Dadi Hadipriatna, kepada wartawan, Selasa (20/7). Menurut Dadi, pihak Bulog Sub Drive Ciamis yang meliputi wilayah kerja Kota Tasikmalaya, Kabupaten Tasikmalaya, Garut, Ciamis, dan Banjar, telah siap melakukan operasi pasar di lima kabupaten tersebut. Asalkan, bupati/wali kota melalui dinas perdagangan memberikan rekomendasinya ke pihak Bulog. “Namun, sampai saat ini, dari lima kabupaten/kota belum ada satu pun yang mengajukan digelarnya operasi pasar,” jelasnya. Diakui Dadi, semenjak memasuki awal Juli, beras yang masuk bulog se Priangan Timur drastis menurun. Dari awalnya per hari sebanyak 500 ton, saat ini hanya mencapai 250 ton. Dengan begitu sudah jelas pasokan beras ke Bulog se Priangan Timur berkurang sebanyak 50 persen. Akibatnya, harga penjualan Bulog naik senilai Rp272, dari awalnya penjualan Bulog Rp5.500/kg, saat ini menjadi Rp5.775/kg. “Namun, meskipun pemasukan beras ke Bulog mengalami penurunan drastis, tapi dikarenakan kami mempunyai stok cadangan beras sebanyak 6.500 ton, Bulog tidak akan keteteran melayani keperluan beras di masyarakat,” tegasnya seraya mengatakan stok tersebut masih bisa untuk mencukupi persediaan masyarakat Priangan Timur sampai akhir 2010. Dadi menilai, penyebab utama kenaikan harga beras adanya beberapa daerah produsen padi yang mengalami fuso. Di tempat terpisah, Kepala Disperindag Kabupaten Ciamis Drs Ducrahman, mengatakan dalam waktu dekat pihaknya akan mengadakan rapat di tingkat provinsi. Pada rapat itu, akan dibahas pelaksanaan operasi pasar. “Keputusan akan dilakukan operasi pasar atau tidaknya, itu akan ada keputusan di rapat koordinasi Disperindag tingkat Provinsi di Bandung,” tegasnya. (Mbayak Ginting, Heru, Asep Aloy, Dadan)

Pemkot Bentuk Tim Pembinaan Usaha Hiburan
BANDUNG, Medikom–Pemerintah Kota Bandung melalui Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) dan unsur muspida serta pengusaha hiburan membentuk tim pembinaan usaha hiburan. Tim yang terdiri dari PHRI Kota Bandung H Momon Abdurochman SE, Ketua Hiphi Barli Iskandar, unsur kejaksaan, tokoh agama, dan tokoh masyarakat diharapkan mampu menekan upaya-upaya pemerasan yang dilakukan oknum-oknum tertentu yang selama ini kerap memanfaatkan pengusaha hiburan. Ketua Tim Pembinaan Usaha Hiburan yang juga Kepala Disbudpar Kota Bandung Priana Wirasaputra, usai rapat, menuturkan, sangkaan terhadap dunia usaha hiburan memang tetap ada. Namun di sisi lain, usaha hiburan harus dipertahankan dan jangan sampai dibinasakan. “Mereka harus dibina agar berusaha dengan baik tanpa harus melanggar aturan. Inilah fungsi tim yang dibentuk,” ujarnya. Priana mengungkapkan, tim pembinaan usaha hiburan juga merupakan wadah agar usaha hiburan di Kota Bandung tetap berjalan. Pasalnya, usaha hiburan perlu dipupuk serta dibina agar bisa berkembang dan menunjang perekonomian kota. Bahkan di sisi lain, usaha hiburan juga bisa memberdayakan dan menyerap tenaga kerja. Saat ini, PAD Kota Bandung dari sektor pariwisata mencapai 60%, termasuk di dalamnya usaha hiburan. Lebih lanjut Priana menambahkan, tim pembinaan usaha hiburan secara legalitas sudah disetujui dan dibentuk Wali Kota Bandung berdasarkan SK No 556.322/ Kep.439-Disbudpar/2010 tertanggal 23 Juni 2010. Tugas tim ini adalah melakukan pembinaan, penyuluhan, pengendalian, dan pengawasan tempat usaha hiburan di Kota Bandung. Diungkapkan, saat ini pihaknya tidak menutup mata terhadap tindakan oknum pengusaha hiburan di Kota Bandung yang melanggar peraturan dalam menjalankan usaha. Hal itu harus ditertibkan karena jika terus-menerus dibiarkan akan menimbulkan efek lain. Namun yang menjadi masalah, tambahnya, dalam penertiban itu terkadang ada oknum-oknum tertentu yang menakut-nakuti dan menjadikan pengusaha hiburan sebagai objek pemerasan. “Memang selama ini belum ada satu tim untuk pembinaan usaha hiburan. Yang ada masing-masing instansi melakukan pembinaan silih berganti. Dan yang lebih parah, ada oknum-oknum yang menakut-nakuti pengusaha dan melakukan pemerasan. Mudahmudahan dengan adanya tim ini situasi menjadi lebih kondusif,” ujarnya. Priana menilai perlu ada sinergi antarinstansi untuk melakukan pembinaan. Artinya, tim tersebut merupakan salah satu wadah untuk pembinaan. “Perlu disatukan karena baik kepolisian, kejaksaan, Satpol PP adalah instansi pemerintah. Coba kita bayangkan kalau banyak yang masuk, dampaknya jelas akan mengganggu pengusaha hiburan dan tidak memberikan rasa aman kepada mereka,” ujarnya seraya menambahkan, kategori yang termasuk usaha hiburan, karoke, karoke keluarga, diskotek, boling, spa, sauna, biliar, klub malam, bioskop, dan gelanggang permainan mekanik. (Dudi)

Ferry Sofwan Arif beras juga tercukupi, apalagi Perum Bulog sudah menjamin ketersediaan beras untuk beberapa bulan ke depan. Sedangkan kebutuhan pokok masyarakat yang berasal dari pabrik juga dinilai bisa mencukupi kebutuhan masyarakat. Saat ini sistem transportasi untuk mengangkut logistik ke berbagai wilayah Jabar berjalan lancar. Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Garut Tatang Hidayat juga membantah bila kenaikan harga sayuran di tingkat pedagang diakibatkan oleh kelangkaan barang. Menurutnya, produksi sayuran selama satu tahun di wilayahnya rata-rata mencapai sekitar 620.000 ton. Hasil produksi pertanian setiap tahunnya mengalami surplus. Dia mencontohkan, dalam satu tahun produksi cabai mencapai 8090.000 ton. Sekitar 40 persennya dikonsumsi oleh masyarakat Garut, sedangkan sisanya disuplai ke luar daerah. “Tidak mugkin langka, ini hanya hukum pasar saja,” ujarnya. Menurut Tatang, kenaikan hargaharga sayuran merupakan hal yang biasa. Apalagi menjelang peringatan hari-hari besar keagamaan. Karennya Tatang memprediksi harga sayuran seperti cabai akan terus mengalami kenaikan selama dua bulan ke depan menjelang Hari Raya Idulfitri nanti. Sementara, Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kabupaten Subang, langsung melakukan aksi dengan menggelar inspeksi mendadak ke pasar tradisional. Tujuannya menekan kenaikan harga kebutuhan bahan pokok yang tak terkendali. Meski harganya terus meroket, Disperindag menjamin stok kebutuhan bahan pokok aman hingga sebulan ke depan. Di Ciamis, Perum Bulog Sub Drive

Dirungsing Tarif Sembako
Melambungnya harga-harga kebutuhan pokok dirasa sangat memberatkan kaum ibu. Wajar saja jika belakangan ini, para ibu rumah tangga dibuat rungsing dalam mengatur uang belanja. Apalagi bagi keluarga berpenghasilan pas-pasan, kenaikan harga-harga kebutuhan pokok seolah mencekik leher mereka. Atun (39) dan Nani (48) boleh jadi merepresentasikan kaum ibu rumah tangga dengan income sekadarnya. Kedua warga sebuah desa di kawasan sejuk Bandung timur tepatnya di Kelurahan Pasirwangi, Kecamatan Ujung Berung, Kota Bandung ini, mengail rezeki dengan membuka jongko nasi berukuran 3 x 2 meter. Mirip-mirip warteg di pinggir jalan. Bila dirata-ratakan, penghasilan mereka sebesar Rp35.000 per hari. “Itu kalau rame. Kalau sepi, paling Rp20.000,” tutur Nani. Belum lagi, timpal Atun, “Kita harus menyisihkan untuk sewa jongko Rp500.000 per bulan. Jadi, kata Atun, untuk kebutuhan bumbu dapur saja, sangat berat memikirkannya. Apalagi sekarang anak masuk sekolah dan sembako pada naik. Sepertinya, mereka berdua bernasib kompak. Baik Atun maupun Nani, bersuamikan lelaki korban PHK tanpa pesangon dari pabrik rajutan. Bedanya, suami Atun kini berprofesi sebagai kuli bangunan, sedangkan suami Nani menjadi tukang ojek. Dua profesi berbeda namun berpenghasilan sama tidak pastinya. Perbedaan lainnya, Atun baru memiliki tiga orang anak, sedangkan Nani sudah beranak empat yang sudah duduk di bangku SD dan SMP. Sedikit nasib baik dirasakan Nani, karena anak tertuanya sudah dinikahi orang sehingga mengurangi beban biaya sehari-hari. Anaknya tersebut kini berprofesi sebagai tukang cuci. Dengan penghasilan Rp25.000 sehari dirasakan Nani cukup lumayan bisa membantubantu meringankan beban. Namun salutnya, kondisi seperti itu, tidak meluruhkan asa mereka.

Sarana Tranportasi Bandung Barat Diharapkan Memadai
BANDUNG BARAT, Medikom–Memasuki usia ke-3 tahun, Kabupaten Bandung Barat belum menunjukkan pertumbuhan pembangunan yang signifikan. Malah sebaliknya, terkesan ada penurunan. Contohnya dalam sektor sarana transportasi, masih banyak kondisi jalan di wilayah Kabupaten Bandung Barat yang rusak.
“Apakah ini tujuan dari pemekaran?” tutur salah seorang tokoh masyarakat Kecamatan Cililin Edi kepada Medikaom baru-baru ini. Menurutnya, sarana teranportasi, pelayanan kesehatan dan pendidikan sampai saat ini masih belum ada peningkatan. Yang paling dirasakan masyarakat Bandung Barat adalah sarana transportasi. Kerusakan jalan jelas merugikan masyarakat bahkan nyawa jadi taruhan, akibat sarana transportasi yang belum memadai. Hal serupa diungkapkan Asep, warga Kecamatan Sindangkerta. Kepada Medikom, ia mengatakan, sarana transportasi memang sebagian kondisinya rusak berat. Ironisnya sejauh ini belum ada upaya dari Pemkab Bandung Barat untuk memperbaiki. “Jadi, kalau engga mampu kenapa harus mekar,” tandas Asep dengan nada bertanya. Padahal, tujuan dari pemekaran di antaranya meningkatkan pelayanan kepada masyarakat agar lebih maksimal, dan meningkatkan pertumbuhan ekonomi di masyarakat agar lebih sejahtera. Kepala Dinas Binamarga dan Pengairan Kabupaten Bandung Barat Ir Giat Sugiawan melalui telepon selularnya mengatakan, saat ini pihaknya baru selesai mengadakan tender untuk pembangunan sarana teransportasi (jalan). Rencananya bulan Agustus sudah bisa dilaksanakan pembangunan. Giat menambahkan, untuk pembangunan jalan dianggarakan Rp30 miliar yang bersumber dari dana APBD kabupaten, bantuan dari APBD provinsi dan pusat. Saat ini pihak dinas juga sedang mengadakan tender untuk penerangan jalan umaum (PJU). Anggota DPRD Kabupaten Bandung Barat dari Komisi C, Heri Hilmasyah saat ditemui di kediamannya, Selasa (20/7) mengatakan, utuk keberhasilan pembangunan di Bandung Barat perlu peninjauan kembali di segala bidang. Salah satu di antaranya dalam penempatan SKPD harus sesuai dengan keahlianya masingmasing. Pihak pemkab pun mesti mengedepankan kesejahteraan masyarakat dan memberikan pelayanan yang lebih maksimal lagi didukung dengan ketransparanan dalam penggunaan anggaran. Heri menegaskan, perlu adanya target dari masing-masing SKPD. Setelah ada target, jalankan sesuai atuaran perundang-undangan yang berlaku. “Jangan sampai di sisi lain anggaran minim, tapi dalam pelaksanaannya bayak yang bocor. Salah satu pembebasan tanah untuk pembanguan kator pemda. Dari uang yang dianggarkan untuk pembebasan tanah sebesar Rp44 miliar, baru dipakai Rp13 miliar sudah ada masalah yang bertentangan dengan peraturan yang berlaku seperti mark up harga,” ungkapnya. Heri menambahkan, pada tahun ini anggaran Kabupaten Bandung Barat baru mencapai Rp800 miliar dan itu jelas belum cukup. Untuk pembangunan sarana transportasi saja, diperlukan anggaran kurang lebih Rp300 miliar. Dengan anggaran APBD Kabupaten Bandung Barat yang baru mencapai Rp800 miliar, jelas masih devisit. Idealnya APBD Bandung Barat sekitar Rp3 triliun. Dikatakan, saat ini pihak DPRD Kabupaten Bandung Barat sedang menyusun Perda Retribusi untuk mendongkrak PAD. Karena sejauh ini Bandung Barat masih menggunakan Perda Kabupaten Bandung. Ia mengharapkan agar pemerintah fokus dalam perencanaan pembangunan dan bagi para SKPD yang tidak konsekuen dalam perencanaan pembangunan, pihak bupati harus bisa memberikan sanksi yang tegas. (K Fauzi)

Di tengah harga sembako yang melambung tinggi sepercik harapan ke depan masih terpancang: suatu saat sang anak dapat sukses mengangkat keluarga dari cengkram lingkaran kemiskinan. Karenanya, ketidaknyamanan hidup yang mereka jalani, seolah terbayar dengan anak-anak mereka yang masih bisa mengenyam bangku sekolah hingga saat ini.

Untuk jangka pendek, keinginan dan harapan dari Kartini Kartini tangguh ini sederhana. Mereka hanya ingin agar harga sembako tak melambung. “Biar biaya hidup tidak berat,” ujar Atun seraya menambahkan, kalau bisa ketemu presiden akan disampaikan, kenaikan harga sembako betul-betul membuat kelabakan. (Wulan)

Edisi 379 Tahun VII 26 Juli s.d. 1 Agustus 2010

Hukum
Semakin Ketakutan Menggunakan Tabung Elpiji Pemerintah
CIAMIS, Medikom-Seiring banyaknya kejadian tabung gas hasil konversi yang meledak, semakin banyak pula warga yang ketakutan menggunakan gas elpiji sebagai alat memasak. Inilah yang terjadi di beberapa daerah, misalnya di wilayah Kecamatan Mangunjaya, Kabupaten Ciamis, Jawa Barat, banyak warga yang ketakutan menyalakan kompor gasnya. Sejumlah masyarakat lebih memilih dan menyimpan tabung gas dan beralih lagi menggunakan kayu bakar. “Ketimbang beresiko lebih tinggi menggunakan tabung gas elpiji seberat 3 kg,” ujar Herman, salah satu warga Dusun Pasirlaja, Kecamatan Mangunjaya. Tabung gas elpiji 3 kg beserta perangkatnya yang dibagikan pemerintah beberapa tahun silam, memang dipergunakan sepenuhnya oleh warga perkotaan. Namun, di Ciamis bagian tengah, bahkan hingga pesisir kota, kini kebanyakan tidak lagi menggunakan bahan bakar gas tersebut, tapi lebih memilih kayu bakar. Mereka menyimpan tabung berikut seperangkat peralatannya karena khawatir menimbulkan bencana. Wati, salah seorang ibu rumah tangga bahkan sejak awal dibagikannya tabung gas elpiji ke setiap kepala rumah tangga (KRT) beberapa waktu lalu, pun sudah mengaku khawatir. Apalagi setelah mendengar banyak kejadian kompor gas dari pemerintah itu banyak meledak, dia tidak pernah lagi merasa tenang memakai peralatan gas tersebut. Jika terpaksa memakai, tangannya sering sampai gemetaran saat akan menyalakan kompor gas itu. Karena itu kadang-kadang saja dia memakainya. “Mau memasak pakai kompor gas elpiji 3 kg harus ada suami, karena takut untuk menyalakannya juga,” aku Wati (Herz)

4

BLM di Lingkungan Dinas Pertanian Sumedang Rawan Dikorup
SUMEDANG, Medikom–Sedikitnya 940 kelompok tani dari total 1.300 kelompok binaan Dinas Pertanian Kabupaten Sumedang, Jawa Barat, saat ini sedang menikmati bantuan berupa benih, pupuk serta uang tunai yang digelontorkan Pemerintah lewat APBN tahun 2010. Hanya sayang, bantuan sebesar Rp2.750. 000 per kelompok tersebut disinyalir menguap. Beredar kabar, uang tunai yang diterima setiap kelompok hanya sebesar Rp750.000 saja. Berdasarkan informasi yang dihimpun Medikom mengungkapkan, meski sudah tertuang dalam surat kesepakatan bahwa yang melakukan kegiatan adalah kelompok tani, namun kenyataannya, untuk pembelian pupuk masih dikoordinir pihak-pihak tertentu dalam rangka meraup untung. Alhasil, kelompok tani hanya bisa pasrah dan menerima apa adanya, meski pada akhirnya harus mempertanggungjawabkannya secara utuh. Kepala Seksi Tanaman Pangan pada Dinas Pertanian dan Holtikultura Kabupaten Sumedang, Berti kerika dikonfirmasi Medikom pekan lalu mengatakan, pada prinsipnya kegiatan BLM tersebut sudah dilaksanakan sesuai dengan teknis yang ada. “Secara teknis kita sudah lakukan sampai dana sebesar Rp2.750.000 masuk ke rekening kelompok,” ujar Berti. Hanya kemungkinan, lanjut Berti, kalau kelompok yang melakukan pembelian pupuk bisa saja akan lebih mahal dari harga eceran tertinggi (HET). Jadi, mungkin saja ada yang memfasilitasi pengadaan pupuknya. “Hanya saja, saya sendiri tidak tahu persis,” kata Berti. Ketika didesak terkait dana yang Rp2.000.000 yang dikabarkan tidak sampai ke tangan kelompok, termasuk siapa yang mengkoordinirnya, Berti terlihat berat untuk menjawab. “Ada hal-hal yang tidak bisa saya jawab. Silakan saja ke pimpinan,” imbuhnya. Sejumlah pihak kepada Medikom mengharapkan, bantuan langsung masyarakat petani tersebut agar mendapat perhatian dan pengawasan dari berbagai elemen masyarakat. “Bantuan langsung kelompok tani seperti itu sangat rawan dikorup. Untuk itu, aparat harus jeli untuk menyikapinya,” ujar sumber Medikom yang tidak bersedia disebut identitasnya. Sedangkan pejabat yang berkompoten pada Dinas Pertanian sampai berita ini diturunkan belum diperoleh konfirmasinya. (Aidin Sinaga)

Hakim Periksa Setempat Gugatan Wanprestasi IITC Kopo
BANDUNG, MedikomPromosi yang dilakukan pemilik gedung IITC Kopo sebagai pusat grosir terbesar dan terlengkap di Indonesia menarik bagi penggugat Marsito Cs untuk jadi pemilik kios. Dalam iklannya disebutkan IITC Kopo sebagai pusat grosir dan belanja senyaman mal dan dunia fantasi indoor terbesar di Indonesia.
IITC Kopo sebagai tempat bermain terbesar di Asia Tenggara, sertifikat hak milik strata title. Hal tersebut mempengaruhi para penggugat. Akibat iklan itu para penggugat berharap usahanya berjalan lancar dan menguntungkan dengan sarana penunjang yang sangat bagus sebagaimana yang dikemukakannya barubaru ini di hadapan persidangan. Dalam perkembangannya, menurut para penggugat, yang diwakili kuasa hukumnya Handojo Ojong SE SH MH, Astrid Pratiwi SH, dalam pembelian kios di IITC Kopo milik Tergugat Jimmy Namara, Direktur PT Milan Jaya Pratama dibuat kesepakatan. Implementasinya, tutur para pengacara, di hadapan majelis hakim yang diketuai R Matras Supomo SH MH, dibuat perjanjian pendahuluan jualbeli bangunan (PPJB) kios serta fasilitas, sarana dan prasaranan bangunan kios. “Sangat disayangkan pada saat penandatanganan PPJB antara penggugat tidak bertemu langsung dengan Tergugat untuk penandatanganan PPJB. Tetapi antara para penggugat telah disediakan draf PPJB tersebut oleh staf dari tergugat untuk kemudian ditandatangani oleh para penggugat,” tegas Ojong seraya menambahkan adanya biaya tambahan untuk lokasi baru dan pemindahan lokasi pilihan penggugat. Sementara itu dalam acara persidangan di ruang III PN Bandung, Kamis (22/7), Tergugat menghadirkan saksi-saksi Heri selaku kontraktor, yang hanya mengetahui secara umum saja. Namun bangunan seingatnya tingginya enam lantai yang relatif lebih kecil dari pasar grosir Pasar Baru. Dengan demikian, jelas para penggugat, yang mengkritik tergugat tidak mengetahui secara substansi dan mendalam berkaitan pokok gugatan penggugat di hadapan majelis hakim yang beranggotakan I Gusti Lanang Dauh SH, Arifin Doloksaribu SH MH. Lalu saksi Rifki, staf bagian hukum perusahaan Tergugat menjawab pertanyaan majelis hakim, mengatakan Tergugat sudah berupaya keras untuk mengurusnya sejak 2009 sebagaimana yang diperjanjikan dalam PPJB termasuk sertifikat, sewa murah dan tersedianya hypermart untuk meningkatkan konsumen yang berbelanja. Terkait penunjukan notaris yang bertugas di luar Kota Bandung dalam hubungan kasus ini yang semestinya dilarang dilakukannya, saksi Rifki tidak bisa menjelaskan dan sependapat. Sedangkan untuk membuktikan gugatan, para penggugat selain dilakukan secara transparan dalam acara pembuktian sebagaimana ketentuan dalam hukum acara perdata, dilakukan sidang di tempat di IITC Kopo, Jumat (23/7), dipimpin majelis hakim lengkap PNB sekitar pukul 14.00 WIB. Menanggapi gugatan para penggugat, Tergugat melalui kuasa hukumnya Willy Boyke SH MH, Achmad Suhendar SH, menilai gugatan para penggugat tidak beralasan. Oleh karena itu diharapkan Medikom bisa menyaksikan secara langsung acara pemeriksaan setempat. “Dan terkait gugatan bisa dinilai berdasarkan fakta,” tegasnya. (Zaz)

PNB Didesak Tinjau Eksekusi Menanti Pidana
BANDUNG, Medikom-Pelaksanaan penetapan eksekusi pengosongan dan penyerahan objek tanah dan bangunan di Jalan Dr Junjunan No 86 Bandung yang dijadwalkan, Kamis (22/7), akhirnya ditangguhkan. Menurut Wakil Ketua Pengadilan Negeri Bandung Joko Siswanto SH, Jumat (23/7), kepada Medikom, penangguhan itu dikarenakan aparat keamanan belum siap untuk mengamankannya sebagaimana pemberitahuan yang disampaikan (Polrestabes Bandung). “Oleh karena itu, belum ditentukan lagi jadwal realisasi pelaksanaan surat Penetapan Wakil Ketua Pengadilan Negeri KL IA Bandung tertanggal 5 Juli 2010,” tegasnya. Sementara itu mengenai surat dari Ketua Pengadilan Tinggi Bandung (PTB) terkait desakan Termohon untuk menangguhkan eksekusi perdata sebagaimana yang ditanyakan Medikom, Joko membenarkan sudah menerimanya sebagai bahan kajian dan pertimbangan. Advokat Purnama Sutanto SH selaku pengacara Termohon Eksekusi I dan II (Itok Setiawan dan Sucipto Lustojoputro) menuntut dan mendesak penangguhan eksekusi pengosongan itu mesti permanen, menunggu putusan perkara pidana yang sedang berlangsung di PN Bandung hingga putusan sudah berkekuatan hukum tetap. Permohonan ini beralasan, jelasnya, sebab alat bukti yang dipergunakan atau yang hendak dieksekusi dalam perkara perdata diduga kuat palsu, sehingga sangat beralasan untuk ditangguhkan menunggu putusan perkara pidana. Mengutip surat jawaban yang diterimanya atas permohonan perlindungan hukum untuk menangguhkan eksekusi perkara perdata, Ketua Pengadilan Tinggi Bandung (PTB) meminta untuk dikaji dan diklarifikasi. “Setelah permasalahannya diteliti dengan seksama, dengan ini Ketua PTB minta klarifikasi kepada Ketua Pengadilan Negeri Bandung (PNB) apabila perkara yang hendak dieksekusi tersebut ada keterkaitannya dengan perkara pidana yang sedang diperiksa oleh PNB. Sehingga apabila ada keterkaitannya maka pelaksanaan eksekusi agar menunggu putusan perkara pidana, untuk menjaga halhal yang timbul di kemudian hari,” jelasnya kepada Medikom mengutip surat Nomor: W 11-U/2599/ HT.04.10/VII/2010 tanggal 15 Juli 2010. Penetapan eksekusi yang merujuk hanya pada putusan perdata, tambahnya, tanpa mempertimbangkan proses persidangan pidana yang sedang berjalan di PN Bandung, sangat beralasan untuk ditinjau demi kepentingan dan wibawa hukum demi kebenaran materiil. Sebab alas hak Pemohon Hj Oyoh dkk berupa surat segel yang menjadi dasar eksekusi berdasarkan putusan perdata No 213/Pdt/G/2007/ PN.Bdg Jo No 284/Pdt/2008/PT.Bdg jo No 607 K/Pdt/2009 diduga kuat palsu sebagaimana dakwaan jaksa. Oleh karena itu proses persidangannya dalam dua berkas perkara pidana: PDM-570 - 571/ BDUNG/05/2010 yang sedang berjalan, sangat beralasan dipertimbangkan dengan mengeluarkan penangguhan pelaksanaan eksekusi dalam perkara perdata demi kepentingan hukum publik dan persoalan hukum yang timbul di belakang hari. Fakta hukum diuraikan jelas dalam berita acara pemeriksaan penyidikan (BAP) sebagaimana yang dilimpahkan ke PNB yang diuraikan dalam surat dakwaan jaksa. Berdasarkan fakta hukum yang jelas itu, tuturnya, sangat ganjil, kalau PNB mendesak untuk melaksanakan eksekusi paksa pengosongan. “Apalagi petugas Polrestabes Bandung mengatakan ketidaksiapan dan masih konsolidasi internai setelah Polresta yang terdapat di Kota Bandung dilikuidasi dan akhirnya digabung di Polrestabes Bandung,” tegas pimpinan kantor hukum ini. Selain itu dalam perkara pidana para terdakwa dituduh menggunakan surat palsu, yakni surat segel itu para terdakwa yang mengklaim objek tanah yang menjadi milik Itok Setiawan itu berdasarkan SHM No 174–175 sebagai kepunyaan ahli warisnya seperti dalam putusan perdata itu. Surat segel itu berdasarkan berita acara pemeriksaan laboratorium Forensik dalam surat No.Lab:361/ DCF/2008 tertanggal 12 Maret 2008 ditemukan sejumlah keganjilan, seperti produk cetak yang berbeda sebagaimana dokumen pembanding tentang kertas segel yang bermaterai Zagel Van Ned Indie 1 ½ G tahun 1936 tanggal 10 Desember 1936. “Begitu juga Ssurat Tanda Terima Setoran (STTS) tahun 1993,” tegas jaksa penuntut umum (JPU) Dodi Junaidi SH baru-baru ini di hadapan majelis hakim yang diketuai Made Sukadana SH MH. Menanggapi keberatan dari termohon eksekusi, Singap A Pandjaitan SH MH, selaku pengacara Terdakwa (Pemohon Eksekusi Amin Mustofa cs) kembali menilai itu tidak beralasan, demi keadilan dan kepastian hukum. Para terdakwa sesungguhnya secara fakta hukum benar sama sekali tidak melakukan tindakan apapun sehubungan dengan tindak pidana dalam surat dakwaan. Menurut advokat Singap, jelas surat segel itu dinyatakan non identik dan bukan sebagai surat palsu, karena tidak didukung alat bukti lain. Dengan demikian perkara pidana ini dinilai prematur, seraya mendesak eksekusi pengosongan perkara perdata sesegeranya dilaksanakan demi keadilan dan wibawa hukum. (Zaz)

Rudi Samin PTUN-kan KPU Kota Depok
DEPOK, Medikom-Tidak dapat dipungkiri suhu politik Kota Depok jelang Pemilukada 16 Oktober 2010 mendatang mulai memanas. Dalam mingguminggu ini isu hangat ialah seputar siapa pasangan calon incumbent yang bakal dipasangkan. Seperti diketahui, Wali Kota dan Wakil Wali Kota Depok, yakni Nurmahmudi dan Yuyun WS, siap maju kembali ke bursa calon wali kota dalam pemilukada mendatang. Sudah diprediksi isu calon pendamping mereka akan lebih keras gaungnya. Sebab masingmasing mereka menjagokan diri untuk O-1-nya alias orang nomor satunya di ajang pesta politik lima tahun sekali itu. Namun tidak sampai di situ. Suasana panas pun terasa pada bakal calon Wali Kota Depok dari jalur independen, yaitu Rudi Samin yang berpasangan dengan pemain sinetron sekaligus pengacara Gusti Randa sebagai calon wakil wali kota. Merasa kecewa atas keputusan KPU Kota Depok dan dinilai melakukan kebohongan publik, Rudi Samin yang tak lulus verifikasi administrasi telah memperkarakan KPU Kota Depok. Dikatakan Rudi Samin kepada pers belum lama ini, pihaknya telah mengajukan gugatan ke Pengadilan Tinggi Bandung. “Kami telah mendaftarkan perkara ini dengan Nomor Perkara 63/6/2010 PTUN – BND,” ungkap Rudi. Dikatakan, pihaknya telah menyampaikan sebanyak 51.200 dukungan suara kepada KPU Depok. Tapi dirinya merasa dibohongi karena KPU Depok hanya menyatakan jumlah sekitar 14.000 suara. Rudi juga menyatakan vonis dilakukan KPU tanpa mengikuti aturan tata tertib yang berlaku atau tahapan-tahapan yang harus dilakukan pihak KPU. “KPU Depok berarti telah melakukan kebohongan publik, langsung menjegal dengan tidak meloloskan kami maju ke pemilukada. Ini tidak fair,” tegas Rudi Samin. Pihak KPU sendiri mengaku telah siap atas gugatan yang diajukan pengacara Rudi Samin. Dikatakan Mohamad Hasan, Ketua KPU Depok, wajar saja jika Rudi Samin ingin memperkarakan. “Namun KPU sudah memiliki dasar-dasar dan alat-alat bukti yang sudah disiapkan untuk menjawab gugatan Rudi,” ujar Mohamad Hasan, di kantor KPU Depok. (Lucy/Fr Ambarita)

Kekerasan Tak Dirumuskan, Dakwaan Mestinya Batal
BANDUNG,Medikom. Dakwaan jaksa penuntut umum (JPU) yang tidak menguraikan kualifikasi tindak pidana penganiayaan yang dilakukan terdakwa Kur (34), harusnya batal demi hukum. Hal ini dikemukakan pengacara terdakwa H Komarudin SH, Daddy Ramdhan SH, Asep Yadhi Supriyadi SH, Rabu (21/7), dihadapan majelis hakim sebagaimana yang diatur dalam ketentuan pasal 143 KUHAP dan pasal 156 ayat (1) KUHAP. Fakta dakwaan jaksa penuntut umum (JPU) tidak cermat, tidak jelas alias kabur dalam menguraikan perbuatan kekerasan yang dilakukan terdakwa dikutip dari surat dakwaan register perkara.PDM-741/BDUNG/ 06/2010 tanggal 17 Juni 2010 yang terdapat dalam dakwaan pertama atau kedua yang menyebutkan,” Terdakwa melakukan penganiayaan dan pengeroyokan dengan cara menarik korban yang sudah terkapar yang kemudian didorong dan dibanting. Sebelum itu korban sudah dipukuli dan dikeroyok oleh tersangka lain yang tidak dikenal yang mengenderai sepeda motor yang selanjutnya saksi korban ditinggal pergi dan ditolong oleh petugas keamanan komplek yang bernama Firman,”tandas para pengacara dari Kantor Hukum H Komarudin SH & Associates. Perbuatan yang sesungguhnya yang dilakukan terdakwa sebagaimana yang diuraikan jaksa dalam surat dakwaannya adalah menarik korban yang sudah terkapar, didorong dan dibanting mdan bukan tindak kekerasan atau penganiayaan jelasnya. Oleh karena dakwaan tidak cermat para pengacara terdakwa memohon pada majelis hakim dalam putusan sela untuk menyatakan dakwaan jaksa batal demi hukum. Menanggapi eksepsi itu, jaksa penuntut umum (JPU) Jannes Sihombing SH diberikan kesempatan untuk menanggapinya sidang pekan mendatang, Rabu (28/7), yang lazimnya tetap akan bersikukuh surat dakwaan jaksa sudah jelas dan memohon majelis hakim untuk melanjutkan pemeriksaan pokok perkara dengan dakwaan pasal 170 ayat (1) KUHP atau pasal 351 ayat (1) KUHP. Dalam persidangan silam kronologi kasus yang dipaparkan jaksa dalam surat dakwaannya adalah terdakwa pada 7 November 2009 mengendarai mobil Toyota Avanza warna silver disalib saksi korban Cep Diki Seriyadi (CDS) yang sedang mengendarai angkot hingga menyerempet mengenai spion kanan. (Zaz)

Satuan Polisi Pamong Praja Bongkar Bangunan Tak Ber-IMB
CILENGSI, Medikom- Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) Kabupaten Bogor membongkar paksa satu bangunan yang di duga kuat tanpa IMB. Selain tak ber IMB, bangunan juga diduga di fungsikan sebagai rumah ibadah. Hingga akhirnya satpol PP melakukan pembaongkaran paksa. Namun upaya ini telah menimbulkan kerusuhan lantaran puluhan anggota jamaat yang biasa menggunakan bangunan di Jalan Raya Narogong KM 17 Desa Limusnunggal Kecamatan Cileungsi itu melakukan perlawanan. Akibatnya aparat dan jamaat yang mempertahankan lahannya lukaluka. Sedikitnya 11 orang terluka akibat bentrokan itu. Saat pembongkaran akan dilaksanakan petugas yang dipimpin Kasatpol PP Kab Bogor Dace Supriadi dihadang sekitar 150 orang dari pihak pemilik bangunan Rekson Sitorus. Tidak hanya itu, satu unit truk treler warna hijau Nopol B 9287 VI dipalangkan di depan pintu masuk runmah ibadah. Hal ini membuat petugas gabungan sulit menerobos masuk kedalam bangunan. Aksi dorong-dorongan antara petugas satpol pp dengan massa pun tak terhindarkan. Massa tetap mempertahankan bangunan agar tidak di bongkar oleh petugas. Sementara petugas juga tidak mau mundur. Akhirnya kedua belah pihak saling menyerang. Tidak hanya itu, massa dan aparat saling melempar batu untuk mengusir lawan masing-masing. Setelah beberapa saat akhirnya petugas dapat mengkhiri perlawanan massa dan dengan mudah petugas gabungan dapat merobohkan bangunan yang tidak dilengkapi IMB tersebut. Kasatpol PP Kabupaten Bogor Dace Supriadi mengatakan pembongkaran ini sudah memenuhi prosedur karena bangunan tersebut tak ber-IMB. Sebelumnya kata Dace, Satpol PP telah melayangkan surat peringatan berulang kali kepada pemilik agar bangunan tersebut dibongkar. “ Karena tidak mengindahkan peringatan, terpaksa kita melakukan pembongkaran dengan paksa “ kata Dace. Sementara pihak pemilik bangunan tidak menerima perlakuan dari satpol PP yang dianggap salah alamat dalam pembongkaran. Melalui kuaa hukum Rekson, Rever Harianja, yangh di bongkar satpol pp adalah bangunan milik istri Rekson, Lina Pasaribu. Sementara perintah pembongkaran untuk bangunan milik rekson. “ Itu kan salah alamat “ katanya. Rekson mengakui bahwa bangunan itu sudah mengantongi IMB dan sering di gunakan sebagai tempat ibadah. Sedangkan perizinan lainnya sedang dalam proses. Bangunan tersebut dibangun oleh istrinya, pada th 2008 dengan luas 8x15 meter persegi. Rekson mengaku kesulitan saat ingin membuat perizinan rumah ibadah. (Soeft)

Rapat Pembahasan Karaoke Fantasy Buntu
CIREBON, Medikom–Rapat pembahasan soal Karaoke Fantasy digelar di Gedung Griya Sawala DPRD Kota Cirebon, Rabu (21/7). Rapat yang dihadiri oleh Wali Kota Cirebon, unsur muspida, perwakilan ulama dan ormas Islam itu, kembali mengalami jalan buntu. Sebab, selama tiga jam digelar, rapat tidak menghasilkan keputusan apapun. Perwakilan ulama, KH Salim Badjri menegaskan, desakan pencabutan izin Karaoke Fantasy dari ormas Islam Kota Cirebon bukan untuk mencari popularitas. Desakan ini sematamata guna menyelamatkan umat dari bentuk kemaksiatan yang kini merebak. “Jika antara ulama dan umaro (pemerintah) tidak sejalan, maka tunggulah kehancuran umat di masa mendatang. Sebab keduanya ini merupakan kunci maju dan mundurnya masyarakat,” ujarnya. Karena itu, dalam persoalan Karaoke Fantasy seluruh ormas Islam sepakat mendesak agar wali kota selaku pemangku jabatan, mencabut izin pendirian karaoke yang berada di Jln Kartini Kecamatan Kejaksan itu. Wali Kota Cirebon, Subardi yang dimintai komentar usai mengikuti rapat menyebutkan jika dirinya belum berani mengambil kebijakan untuk mencabut izin tersebut. Dirinya akan menunggu hasil rekomendasi dari dewan. “Sesuai hasil kesimpulan rapat, kami belum berani memutuskan di cabut atau tidaknya izin pendirian Karaoke Fantasy. Pada intinya saya menunggu hasil rekomendasi dari wakil rakyat,” kata subardi. Ketika disinggung tugasnya sebagai pemangku kebijakan, Subardi membeberkan, dalam pertemuan tersebut dirinya hanya sebagai tamu yang di undang Ketua DPRD. “Sehingga sekali lagi, saya tidak berhak memutuskan selama belum ada rekomendasi dari dewan,” tambahnya. Dikatakan, seusai dengan peraturan perundang-undangan yang baru, kepala daerah bukanlan penguasa tunggal dalam mengambil setiap keputusan. Tapi harus melibatkan semua pihak melalui keputusam musyawarah mufakat. Ini dilakukan agar kebijakan yang digelontorkan tidak membuat dampak buruk yang berkepanjangan. “Tujuanya agar kepala daerah tidak disodorkan bara api di kemudian hari ketika akan menandatangai suatu keputusan tersebut,” ucapnya seraya meminta agar pertemuan antara ulama dan umaro ini bukan untuk saat ini saja, namun bisa diagendakan setiap bulan. Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kota Cirebon memberikan empat rekomendasi dalam menyikapi masalah Karaoke Fantasy, yakni mendesak Wali Kota Cirebon agar menjalankan fungsinya untuk mengawasi dan mengayomi masyarakat, menindaklanjuti desakan ormas Islam, untuk menentukan keputusan yang menyangkut umat Islam pemerintah harus melibatkan ulama sehingga tidak menimbulkan persoalan di kemudian hari, dan terakhir harus melibatkan alim ulama dan umaro sejalan dalam menjalankan tugas dan fungsinya. Ketua DPRD Kota Cirebon, Nasrudin Azis mengemukakan, pihaknya berjanji dalam waktu dekat ini akan segera memberikan rekomendasi terhadap Wali Kota Cirebon terkait dicabut atau tidaknya izin pendirian Karaoke Fantasy. “Secepatnya kami akan melakukan rapat dengan sejumlah fraksi yang membidangi masalah tersebut. Sehingga masalah ini segera selesai dan tidak berlarutlarut,” katanya. (Rudi/Yuyun)

Dakwaan Dinilai Bermasalah, Berbasis Penyidikan “Melanggar HAM”
BANDUNG, Medikom-Terdakwa Hj TK (50) protes dengan surat dakwaan jaksa yang berdasarkan penyidikan yang tak sesuai perlindungan hak asasi manusia (HAM). “Tim penasehat hukum terdakwa telah melihat dengan nyata adanya ketidakadilan yang dialami terdakwa sejak perkara ini masih dalam penyidikan. “Sebab penyidikannya tidak mengindahkan asas perlindungan terhadap hak asasi manusia,” tegas advokat Lodewijk P Simatupang SH, Krishna Wardana SH dan Mulat Hari Wibowo SH, Rabu (21/7), dalam nota keberatan di hadapan majelis hakim yang diketuai Marulak Purba SH. Penyidikan dalam register perkara.PDM-776/BDUNG/6/2010, jelas para pengacara terdakwa, tidak dilakukan dengan sempurna karena tidak mengedepankan asas-asas praduga tak bersalah dan menempatkan manusia sebagai subjek dan bukan objek. Meski sedang sakit dan harusnya dirawat secara medis terdakwa tetap diperiksa sebagai saksi, tanggal 16 Februari atas saran pengacaranya terdahulu dengan alasan kode etik. “ Terdakwa saat itu sudah menyerahkan seluruh dokumen berupa rekomendasi tentang penyakit yang dieritanya dari RS Al Islam kepada penasehat hukumnya untuk diserahkan kepada penyidik. Namun dokumen itu tidak diserahkan pengacaranya terdahulu kepada penyidik, sehingga terdakwa tetap diperiksa dengan dalih, agar cepat selesai,”tandas para advokat ini dihadapan persidangan yang menyoal perkara yang mendakwa terdakwa dengan ketentuan pasal 378 dan atau 372 KUHP. Protes atau keberatan, tambah advokat Lodwijk SH dkk, juga dilakukan pada 20 Februari tentang pencabutan keterangan yang sudah dilakukannya, tetapi tidak diindahkan aparat hingga akhirnya MIH ditangkap pada 28 Februari saat bersamaan terdakwa dirawat di RS Al Islam. “Splitting (pemisahan) terhadap perkara serta berkasnya tetap dilakukan pemberkasan perkara terdakwa dengan tidak mengindahkan pencabutan keterangan, tetap mengacu pada hasil pemeriksaan 16 Februari 2010,” tukasnya. Kondisi Terdakwa saat penyidikan yang dalam kondisi fisik dan mental yang tidak sehat telah menjerumuskannya, sehingga tindakan penyidikan itu menjadi tidak sah. Dengan demikian surat dakwaan JPU yang mendasarkan atau mengadopsi pada penyidikan yang tidak sempurna itu menjadi tidak memenuhi syarat materiil sebagaimana ketentuan Pasal 143 ayat (2) KUHAP yang berakibat dakwaan menjadi batal demi hukum. (Zaz)

Anggota Polres Ciamis Bekuk Residivis
CIAMIS, Medikom–Seorang residivis pencurian kendaraan bermotor (ranmor), Yana Suryana alias Bajir (35) kembali berurusan dengan aparat hukum. Pelaku yang baru saja keluar Lapas Kota Tasikmalaya dalam kasus serupa tiga bulan lalu itu ditangkap aparat di rumahnya, Senin (19/7) sekitar pukul 01.00 dinihari di Kampung Nanggrang, RT 01/02, Desa Mulyasari, Kecamatan Salopa, Kabupaten Tasikmalaya. Pelaku yang sudah menjadi DPO Polres Ciamis, sebelumnya pernah mencuri motor di Ciamis selatan, yakni di kawasan Kalangjaladri, Kecamatan Parigi, Kabupaten Ciamis. Selain pernah melakukan aksi pencurian motor di Kabupaten Ciamis, diakui pelaku, dirinya pernah melakukan pencurian mobil di Banjarnegara, Jawa Tengah dan pencurian motor di Kabupaten Tasikmalaya. “Saya sering keluar masuk bui, ini untuk yang keempat kalinya,” ungkap pelaku singkat. Aksi penangkapan diakui pelaku saat ia tengah asik mempreteli motor Honda

Hingga saat ini pihak Polres Ciamis terus memburu satu orang pelaku lainnya yakni teman pelaku, Sarip, warga Cikatomas, Kabupaten Tasikmalaya. “Satu pelaku lagi berhasil meloloskan diri,” ujar Kapolres.
Supra hasil curian. Kapolres Ciamis AKBP Agus Santoso SIK menjelaskan, dari keterangan tersangka pelaku sudah dua kali mencuri motor di wilayah hukum Ciamis. Meski begitu, pihaknya tetap akan menyelidiki dan mengembangkan guna mengorek keterangan tersangka. Sebab, aksi ini dilakukan lebih dari satu orang. Hingga saat ini pihak Polres Ciamis terus memburu satu orang pelaku lainnya yakni teman pelaku, Sarip, warga Cikatomas, Kabupaten Tasikmalaya. “Satu pelaku lagi berhasil meloloskan diri,” ujar Kapolres. Sementara Bajir, kini harus mendekam di hotel prodeo untuk yang keempat kalinya. Dia pernah masuk bui di LP Tasikmalaya dan ditahan dua tahun, dengan kasus pencurian motor. Lalu ditahan di LP Banjarnegara, Purwokerto, Jawa Tengah, karena terlibat pencurian mobil dan dihukum 1 tahun penjara pada tahun 2003. Sementara di LP Ciamis tahun 2007 dengan masa kurungan 21 bulan. “Dan pada tahun 2010 kini pelaku kembali harus mendekam lagi di LP Ciamis, guna mempertangungjawabkan segala perbuatanya, akibat mencuri motor Honda Supra,” terang Kapolres. (Herz)

Halaman Khusus

Edisi 379 Tahun VII 26 Juli s.d. 1 Agustus 2010

PURWASUKA
Purwakarta - Subang - Karawang

5
Purwasuka diolah oleh wartawan daerah yang dikepalai Endang Kosasih, penanggung jawab Ridwan Abdulah dengan wartawan Lodewyk Butar-Butar, Slamet SP, dan Asep Oloy.

Karena Ganja Residivis Kembali Dipenjara
SUBANG, Medikom–Penjara rupanya tak membuatnya jera. Padahal ia sudah keluar masuk tiga kali, untuk kasus yang sama yakni daun ganja. Hingga untuk kali ini, merupakan keempat kalinya Dede Hermansyah (33), warga Kampung Sukaresmi, Kelurahan Soklat, harus kembali mendekam dalam penjara. Kapolres Subang melalui Kasat Reskrim AKP Ismanto didampingi Kanit Narkoba Ipda Kustiawan saat dikonfirmasi mengatakan, tersangka merupakan residivis kambuhan dan wajah ini sudah tak asing, kata “kapok” hanya basa-basi saja bagi tersangka. “Tersangka ditangkap malam kemarin saat berada di Wisma Karya dengan barang bukti satu paket daun ganja seharga Rp50.000 dan satu paket lainnya seharga Rp10.000,” ujar Kasat, terkait dengan tertangkapnya tersangka. Usai menjalani pemeriksaan, tersangka mengaku barang itu dibeli dari Cecep, warga Kelurahan Sukamelang, Kecamatan Subang seharga Rp50.000, kemudian oleh tersangka direcah lagi menjadi paket kecil. “Malah ada paket Rp5.000 untuk sekali pakai agar barangnya cepat laku. Pembelinya pun orangnya masih itu-itu juga,” ujarnya. Hukuman yang pernah dijalani bagi tersangka rupanya masih terlalu ringan, hingga tak membuatnya jera walaupun sempat bebas hanya beberapa bulan dan kemudian tersangka kembali lagi kedunianya yakni bisnis daun haram. (Ssp)

Kasus Ambruknya Rangka Atap Pabrik Garmen Dipertanyakan
SUBANG, Medikom– Sejumlah keluarga korban yang meninggal akibat ambruknya rangka baja bakal pabrik garmen di Desa Gembor, Kecamatan Pageden, Subang, awal Juni lalu, mempertanyakan kelanjutan kasusnya karena ada pihak-pihak yang terkait atas masalah itu masih bebas berkeliaran.
“Kami khawatir kasus ini mengendap begitu saja. Pasalnya, orang yang diduga menjadi penyebab kejadian ini adalah orang-orang berduit,” ungkap Hasanudin, salah seorang keluarga korban yang tewas saat kejadian tersebut. Ia sempat mempertanyakan kelanjutan proses hukum atas kasus itu. Namun selalu dijawab masih dalam tahap penyelidikan. Hasanudin menilai kasus tersebut merupakan peristiwa besar yang harus diusut hingga tuntas. “Hilangnya nyawa kerabat kami hendaknya jangan dianggap sepele. Apalagi mereka merupakan tulang punggung keluarga yang bertanggung jawab terhadap kelanjutan hidup istri dan anak-anaknya,” ujarnya yang diamini kerabat korban lainnya. Mereka mengakui, para korban tewas telah mendapat santunan dari pemilik sebesar Rp55 juta, ditambah biaya penguburan Rp1,5 juta. Namun, dengan pemberian santuan itu bukan berarti masalah ambruknya rangka baja yang menewaskan empat pekerja itu selesai begitu saja. “Kami minta kasus ini diusut hingga ke pengadilan,” katanya. Apalagi santunan yang mereka terima diperoleh dari pemilik yang notabene pengusaha asing. Sementara kontraktor bangunan yang nyata-nyata orang pribumi, malah terkesan tidak bertanggung jawab. Membantah Kapolres Subang Dadang Hartanto melalui Kasatreskrim AKP Ismanto membantah pihaknya lamban dalam mengsusut kasus itu. Sebab, sejak awal terjadinya musibah, pihaknya telah menetapkan satu tersangka, HUS, pelaksana proyek pembangunan konstruksi. Hanya saja, yang bersangkutan tidak ditahan karena memang tidak memungkinkan untuk menahannya. “Ancaman hukumannya di bawah lima tahun, sehingga tersangka tidak ditahan. Tersangka dijerat pasal 201 KUHP yang berbunyi rusaknya bangunan mengakibatkan orang lain meninggal dunia,” jelas Kapolres. (Ssp)

Pinjamkan Motor Dinas Oknum TNI-AD Jadi Masalah
SUBANG, Medikom - Gara-gara meminjamkan sepeda motor dinas kepada kerabatnya, seorang anggota TNI Angkatan Darat di Subang terpaksa harus berurusan dengan Subdenpom III/3-2 Subang. Pelanggaran disiplin yang dilakukan anggota TNI AD itu terungkap saat Subdenpom III/ 3-2 menggelar operasi Waspada Kujang 2010 yang dilaksanakan di tiga titik di daerah Subang Kota, Kamis (22/7). “Sekecil apapun bentuk pelanggaran itu, bakal kami tindak. Hal ini penting agar citra TNI khususnya Korps Angkatan Darat tidak tercoreng hanya gara-gara ulah segelitir anggota,” ujar Komandan Subdenpom III/3-1, Kapten CPM Dedy Haryanto, ketika ditemui di lokasi operasi. Menurut dia, selain menemukan kasus motor dinas dipakai orang lain, pihaknya juga menangkap basah seorang anggota TNI AD yang berkeliaran pada jam dinas. Prajurit itu tidak bisa menunjukkan surat izin ke luar dari atasannya, sehingga dia mendapat tindakan dari Subdenpom. Dikatakan Dedy, operasi bakal digelar secara rutin di semua wilayah Kabupaten Subang agar semua prajurit benar-benar berdisiplin tinggi. Namun, Dedy tidak menyebutkan waktu pelaksanaan operasi karena dikhawtirkan bocor. (Ssp)

Bupati Karawang Buka Semiloka PNPM Mandiri Perkotaan
KARAWANG, Medikom–Dalam rangka meningkatkan efektivitas dan efisiensi pelaksanaan Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat (PNPM) Mandiri Perkotaan, Dinas Cipta Karya Kabupaten Karawang menggelar kegiatan Seminar dan Lokakarya PNPM Mandiri Perkotaan. Semiloka tersebut dibuka secara langsung oleh Bupati Karawang Drs H Dadang S Muchtar di Hotel Permata Rubby Karawang, Rabu pekan lalu. Dalam kesempatan tersebut Bupati mengatakan, keberadaan program PNPM Mandiri Perkotaan dari pemerintah pusat tersebut sebenarnya sama dengan apa yang telah dikerjakan oleh Pemkab Karawang. “Di Karawang kebijakan tersebut dibuat berdasarkan visi Kabupaten Karawang dengan tiga prioritas pembangunan, yaitu pendidikan, kesehatan, dan ekonomi kerakyatan,” jelasnya. Lebih lanjut Bupati mengatakan, dana Rp12 miliar yang dialokasikan pemerintah pusat untuk PNPM Mandiri Perkotaan di Kabupaten Karawang, bisa dikatakan sebagai salah satu bentuk subsidi bagi kebijakan yang telah dilaksanakan oleh pemkab yang jumlahnya lebih besar. “Untuk itu, keberadaan dana tersebut harus tepat sasaran dan tepat guna, karena dana Rp12 miliar tersebut cukup besar,” ujarnya. Bupati melanjutkan, dengan dilaksanakannya semiloka ini, diharapkan sasaran tersebut bisa tercapai. Kepala desa dan camat agar benar-benar menggunakan data yang benar dan memiliki potensi. “Jangan hanya dinikmati oleh keluarga dari kepala desa, tetapi dapat tepat sasaran dan tepat guna, sehingga hasilnya bisa dirasakan oleh masyarakat,” imbuhnya. Bupati menambahkan, keberadaan program ini pun hendaknya dapat membawa masyarakat Karawang untuk semakin mandiri dan mau berusaha. Hal ini merupakan salah satu tugas dari para konsultan dan pengelola dana PNPM, yaitu bagaimana mengubah sikap orang Karawang untuk mau berwirausaha. “Keberadaan PNPM seyogianya harus bisa mengubah itu,” tandasnya. (Andy Nugroho)

Anggota Satpam Ciater Dibui
SUBANG, Medikom–Anggota satpam salah satu objek wisata di Ciater sebut saja AK (24) kini harus meringkuk di balik jeruji Mapolsek Jalancagak, Subang, karena dituduh mencabuli pacarnya. Ia berurusan dengan pihak kepolisian setelah diadukan orangtua korban. Sementara menurut informasi yang didapat Medikom, tersangka memang menjalin hubungan dengan Gadis (16), bukan nama sebenarnya. Keduanya berasal dari satu kampung. Gadis yang tahun ini baru masuk SMA di salah satu sekolah lanjutan atas di Subang, mengikuti masa orientasi pendidikan di sekolahnya. Kesempatan ini dimanfaatkan AK dengan melakukan antar jemput. Padahal orangtua korban telah menitipkan anaknya itu kepada ibu kos, tidak jauh dari sekolah. Mereka pun mewanti-wanti ibu kos agar melarang anaknya menerima tamu pria di kamarnya. Pada hari Rabu (14/7) lalu, Gadis pulang dari sekolah pukul 17.00 WIB dan pacarnya sudah menunggu. Keduanya berpamitan pada ibu kos untuk pulang dulu ke kampungnya karena ada keperluan. Namun di perjalanan, mereka malah berbelok arah menuju objek wisata terkenal dan berendam air panas. Selanjutnya kedua sejoli ini masuk ke sebuah vila. Di sana mereka melakukan hubungan layaknya suami istri. Saat itu AK mengancam Gadis agar tidak menceritakan kejadian ini kepada siapa pun. Malam harinya ia mengajak pulang, namun Gadis menolak karena takut ketahuan orangtuanya. Akhirnya ia menginap di vila dan baru kembali ke tempat kos pagi harinya. Sementara, ibu kandung korban, Elis (40), baru memperoleh kabar putrinya tidak pulang dari ibu kos beberapa hari kemudian. Elis lalu membujuk anaknya agar mengakui apa yang telah dilakukannya. Gadis yang baru diterima di SMA kelas 1 ini akhirnya berterus terang telah ditiduri pacarnya. Mendengar penjelasan tersebut, Elis tentu saja tidak terima anaknya diperlakukan tidak senonoh oleh AK. Selanjutnya kejadian ini dilaporkan ke Polsek Jalancagak. Kapolres Subang AKBP Dadang Hartanto melalui Kapolsek Jalancagak AKP Dadang Kurniawan saat dikonfirmasi membenarkan, AK ditahan karena melakukan pencabulan. (Ssp)

Ciptakan Jiwa Wirausaha Sejak SMA
SUBANG, Medikom–Untuk menciptakan generasi yang memiliki jiwa wirausaha, Pemerintah Provinsi Jawa Barat akan melakukan pembinaan sejak SMA dan perguruan tinggi dengan kualifikasi job creator atau pencipta kerja bukan pencari kerja. Dengan menciptakan kualifikasi job creator akan membuka lapangan kerja, maka akan mengurangi pengangguran, dengan sendirinya akan mengurangi kemiskinan. Demikian disampaikan oleh Gubernur Jawa Barat H Ahmad Heryawan dalam sambutannya pada Acara Puncak Hari Koperasi ke-63 tingkat Jawa Barat di AlunAlun Kota Subang, Sabtu (17/ 7). Dengan meningkatkan kualifikasi generasi muda sebagai job creator akan meningkatkan pertumbuhan jumlah pengusaha di masa depan. Berdasarkan teori ekonomi makro bahwa idealnya sebuah wilayah/negara dikatakan normal bila 4% atau minimal 2,5% warganya adalah pengusaha. Hingga saat ini di Jawa Barat telah mencapai 0,5% persen. Walaupun masih jauh dari ideal, upaya pemerintah terus dilakukan. Selanjutnya disampaikan bahwa Kementerian Koperasi & UKM menjadi departemen teknis dengan anggaran besar. Keberadaan koperasi, khususnya di Jawa Barat, sebanyak 22.664 unit dengan pelaku usaha koperasi 8,2 juta mampu menyerap tenaga kerja 80% dan berkontribusi pada PDRB atau Produk Domestik Regional Bruto Jawa Barat sebesar 60%. Maka untuk itu pada tahun 2011 Pemprov Jabar akan mengganggarkan Rp200 miliar untuk pengembangan koperasi dengan dana kolateral. Anggaran sebesar ini naik 300% lebih dari biasanya. Untuk menentukan kelayakan usaha yang dibiayainya akan meminta rekomendasi Dekopinda. Pada kesempatan tersebut diserahkan penghargaan kepada pengusaha kecil menengah yang aktif dalam koperasi di antaranya: sertfikat halal kepada Yayan dari KSP Karya Utama Kabupaten Subang, sertifikat merk kepada Hesti Yulianti dari Bandung. Juga diberikan bantuan praktik keterampilan pedesaaan Al-Husna Subang dari Kementerian Koperasi & UKM tahun anggaran 2010. Bantuan sarana pengembangan pemasaran jaringan usaha berupa rehabilitasi pasar kepada Koperasi Sinar Tani Sindang Barang Kabupaten Cianjur, pin emas Bakti Koperasi kepada Bank Indonesia Bandung dan penghargaan jasa Bakti Koperasi kepada Hj Nani Dada Rosada. Dari data Dinas Koperasi & UKM Jawa Barat, dari tahun 2006 sampai 2009 telah menurunkan kepada 111 unit dengan nilai Rp200,7 miliar dan pada tahun 2010 diserahkan kepada 17 unit dengan nilai Rp1,7 milyar. Khusus Kabupaten Subang sebanyak delapan unit dengan nilai Rp1,4 miliar. Penandatanganan MoU antara Bank Jabar Banten dan Dekopinwil Jabar tentang Payment Point Online Day dilakukan di hadapan Menteri Koperasi & UKM. (Hms)

Wabup Resmikan SSB Jaya Koncara
KARAWANG, Medikom–Sebagai salah satu upaya mengembangkan bakat-bakat sepakbola di Kabupaten Karawang, Wakil Bupati Karawang Hj Eli Amalia Priatna meresmikan Sekolah Sepak Bola (SSB) Jaya Koncara. Peresmian ditandai dengan dilepasnya balon ke udara oleh Wakil Bupati bertempat di Lapang Surya Kencana, Desa Pagadungan, Kecamatan Tempuran, Kamis pekan lalu. Wakil Bupati Eli Amalia dalam kesempatan tersebut mengatakan, keberadaan SSB ini diharapkan dapat melahirkan bakat-bakat asli daerah yang kelak akan membawa nama harum Kabupaten Karawang, baik di pentas nasional, maupun internasional. “Untuk itu, atas nama pemerintah daerah saya sampaikan terimakasih kepada jajaran pengurus SSB yang memiliki inisiatif untuk membina bakat-bakat tersebut,” ujarnya. Lebih lanjut Wakil Bupati mengatakan, Kabupaten Karawang sebenarnya memiliki potensi yang sangat baik dalam melahirkan atlet yang berbakat, termasuk dalam sepakbola. Bakat tersebut akan dapat berkembang dengan baik apabila mereka dibina dan diberikan motivasi

Masyarakat Jangan Mudah Tergiur Jadi TKI
SUBANG, Medikom–Kepala Seksi Informasi dan Penempatan Tenaga Kerja Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Diskanertrans) Kabupaten Subang, Jawa Barat (Jabar), Tunggul Silaban mengimbau masyarakat untuk tidak mudah tergiur iming-iming menjadi tenaga kerja Indonesia (TKI). “Ada konsekuensi besar yang harus dihadapi untuk menjadi seorang TKI jika tidak memiliki persiapan yang matang, maka janganlah terlalu tergiur untuk jadi TKI,” kata Tunggul di Subang, Kamis (22/7). Beberapa permasalahan yang tengah dihadapi dalam hal penyaluran TKI, kata dia, adalah masih banyaknya perusahaan pengerah jasa TKI (PJTKI) yang “nakal”. “Munculnya beberapa PJKTI yang dikategorikan nakal dengan cara perekrutan calon TKI yang tidak berdasarkan prosedur turut menambah bayangan kelam penyaluran TKI di Kabupaten Subang,” lanjutnya. Oleh karena itu, tambah Tunggul, masyarakat hendaknya menempuh prosedur resmi dalam pemberangkatannya sebagai calon TKI. “Selama ini Disnakertrans begitu kesulitan dalam mendata PJTKI serta sponsor penyalur TKI yang nakal,” katanya. Disnakertrans, tutur Tunggul, membutuhkan bantuan masyarakat dalam hal ini calon TKI, untuk bisa menempuh mekanisme persyaratan sebelum pemberangkatan menjadi TKI seperti rekomendasi izin keluarga serta rekomendasi dari Disnaker setempat. Selain itu, katanya, persiapan keterampilan serta mental dari calon TKI juga memengaruhi nasib TKI itu sendiri. Hingga tahun 2009, kata Tunggul, pihaknya mencatat terdapat lebih dari 50 kasus hak-hak TKI asal Subang yang tidak terpenuhi. “Dari catatan jumlah temuan kasus yang terbilang banyak tersebut diharapkan mampu menjadi catatan khusus bagi calon TKI untuk bisa lebih matang dalam mempersiapkan diri menjadi calon TKI,” pungkas Tunggul. (Loy)

dengan baik. “Hal ini tentunya merupakan PR bagi kita semua yang harus diselesaikan,” imbuhnya. Ketua SSB Jaya Koncara Andi Rozali menjelaskan, saat ini SSB telah memiliki 300 siswa yang terbagi dalam empat jenjang kelompok umur, yaitu kelas A usia 6–9 tahun sebanyak 60 orang, kelas B usia 102 tahun sebanyak 100 orang, kelas C usia 13–15 orang sebanyak 90 orang, dan kelas D usia 16-8 sebanyak 50 orang. “Mereka akan belajar teori dan berlatih selama tiga

hari dalam seminggu,” jelasnya. Di sisi lain, Mohammad Nur dari KONI Kabupaten Karawang mengatakan, dalam upaya mengembangkan olahraga sepakbola junior di.Karawang, KONI Karawang akan menggulirkan kejuaraan sepakbola yang akan diikuti oleh tim usia 13 tahun dari berbagai SSB. “Karawang sendiri memiliki kebanggaan dalam sepakbola, di mana dua orang pemain dari SSB Peruri telah masuk tingkat nasional,” tambahnya. (Andy Nugroho)

Harusnya Pendidikan Karakter Itu Berlanjut
SUBANG, Medikom–Pendidikan karakter dapat terus dilakukan pada pendidikan berikutnya. Selama ini pendidikan karakter hanya dilakukan pada tingkat Taman Kanak-Kanak saja. Sedangkan untuk tingkat SD, SMP dan SMA serta perguruan tinggi, hanya menitikberatkan pada kepintaran dengan ukuran nilai yang bagus tanpa memperdulikan caranya. Apakah itu dari nyontek atau dibantu dengan cara-cara yang tidak terpuji. Demikian disampaikan oleh Wakil Bupati Subang, Ojang Sohandi dalam Amanat Apel Pagi, Senin (19/7) di Halaman Kantor Bupati Subang saat melepas 336 orang mahasiswa untuk mengikuti kegiatan Kuliah Kerja Nyata Mahasiswa (KKNM) Universitas Subang. KKNM akan dilaksanakan di empat wilayah kecamatan, yaitu Pamanukan, Legonkulon, Pusakanagara dan Blanakan. Dalam pendidikan, lanjut Wakil Bupati, yang jauh lebih penting ialah mengejar karakter. Sehingga lahir dari pendidikan siswa-siswa yang berkarakter. Jadi tidak hanya mengejar kuantitas tetapi kualitas (karakter) jauh lebih penting. Wakil Bupati berharap usai kegiatan KKNM bisa memberikan manfaat pada masyarakat yang menjadi lokasi KKNM. Dirinya juga sempat mendapat masukan dari para kepala desa supaya KKNM mengirimkan mahasiswa yang sesuai dengan potensi daerah bersangkutan. Misalnya daerah Blanakan sebaiknya dikirim mahasiswa dengan disiplin ilmu perikanan. Di Kecamatan Compreng mahasiswa yang berdisiplin ilmu pertanian. Sehingga manfaatnya bisa lebih terasa. Walaupun belum memenuhi harapan, kegiatan KKNM tetap harus memberikan manfaat kepada masyarakat. Para mahasiswa dengan disiplin ilmu administrasi, bisa memberikan pengetahuan tentang penyusunan administrasi yang baik. “Karena walaupun hasil pertanian atau perikanannya baik, tetapi bila tidak mengerti administrasi juga akan kurang,” katanya lagi. Maka dari itu kegiatan KKNM ini bisa memberikan manfaat yang besar bagi masyarakat. Khususnya pada pembangunan karakter melalui dunia pendidikan Pemkab Subang sangat berharap ada sinergi yang kuat antara semua pihak. Karena keberhasilan pembangunan pendidikan bukan semata tanggung jawab pemerintah belaka. Tetapi juga merupakan tanggung jawab semua pihak termasuk stakeholder. “Pemerintah Subang telah mencanangkan melalui Program DMGR bahwa pembangunan karakter menjadi hal yang penting,” tegas Wakil Bupati. Pelepasan ditandai penyematan tanda peserta kepada dua orang mahasiswa Unsub yang mengikuti KKNM. Pada kesempatan itu diperkenalkan Komandan Kodim 0605/Subang, yaitu Letnan Kolonel Dwi Wahyudi. Dirinya sangat terkesan oleh Kabupaten Subang yang sangat baik dalam menjalin kebersamaan di antara pejabat muspida-nya. Dengan kepindahannya dari Pandeglang ke

Subang bisa makin memperluas jalinan silaturahmi. Oleh karena itu dirinya meminta dukungan dari

semua pihak dalam melaksanakan tugasnya. (Hms)

Edisi 379 Tahun VII 26 Juli s.d. 1 Agustus 2010

6

OPINI

Mencari Pemimpin yang Gak Ketemu
Hajat demokrasi lokal berupa pemilihan umum kepala daerah (pemilukada) kabupaten/kota dan provinsi kini menimbulkan paradoks. Sebab dana yang dikeluarkan, baik dari kas daerah maupun calon bisa mencapai hingga puluhan miliar rupiah. Namun, hasil dari pelaksanaan pemilukada tetap saja tidak sesuai dengan aspirasi masyarakat. Inilah persoalan mencari pemimpin yang dirisaukan banyak pihak akhir-akhir ini. Sebab, pelaksanaan pemilukada sebagai ajang mencari pemimpin yang memiliki komitmen, integritas agar membawa perubahan daerah ternyata menjadi harapan kosong bagi rakyat. Kondisi ini tentu tidak boleh berpanjangpanjang. Di tengah situasi jutaan masyarakat yang masih mengalami kemiskinan, menderita gizi buruk bahkan mati kelaparan, sementara biaya untuk pelaksanaan pemilukada yang dikeluarkan oleh kas negara maupun dana pribadi para calon bisa mencapai puluhan miliar rupiah. Ironi inilah yang membuat kita prihatin. Sebab berdasarkan data yang ada, pada tahun 2010 ini saja pemerintah akan melaksanakan pemilukada di 244 daerah di Indonesia, meliputi tujuh pemilihan gubernur, 35 pemilihan wali kota, dan 202 pemilihan bupati. Dan negara mengeluarkan biaya pemilukada ini mencapai Rp3,54 triliun. Biaya ini belum termasuk biaya yang dikeluarkan para calon. Yang konon katanya setiap calon bisa menghabiskan puluhan miliar untuk bisa memenangkan sebuah pemilukada di suatu daerah. Tapi yang lebih parah lagi, akibat sistem dan mahalnya pemilukada ini membuat caloncalon yang bisa maju adalah calon-calon yang memiliki dana cukup besar. Tentu akibatnya ketika seorang calon memenangkan pemilukada, kebijakan-kebijakannya cenderung menguatkan ekonomi politik oligarkis dan politik balas budi bagi kerabat atau orang-orang dekatnya yang telah menjadi pemodal. Kebijakan pro rakyat akan jauh dari kebijakan dan harapan rakyat bahwa pemilukada akan melahirkan pemimpin yang memiliki komitmen menjadi tinggal harapan. Kondisi inilah yang tampaknya menjadi warna dan dinamika demokrasi negeri ini. Bila persoalan ini menjadi persoalan yang nyata maka pertanyaan yang mendasar, mampukah pemilukada membawa masyarakat menuju perubahan kondisi yang lebih baik? Hakikatnya pemilihan pemimpin haruslah melahirkan pemimpin yang lebih baik. Namun kondisi yang ada tidak memberikan alur bahwa pemilukada bisa melahirkan seorang pemimpin sesuai aspirasi. Berbagai persoalan pemilukada ini semestinya memberikan penyadaran terutama bagi partai-partai politik agar mendorong kader-kader terbaiknya yang memiliki kompetensi untuk maju menjadi calon pemimpin di daerah. Bukan malah sebaliknya, partai politik menetapkan ‘mahar’ dengan angka yang cukup tinggi bagi seorang calon yang akan mengendarai partai politik. Mungkin inilah salah satu yang membuat kos pemilukada cukup tinggi. Hal lain yang perlu menjadi catatan kita bersama, masyarakat juga diminta kesadarannya untuk tidak memberikan dukungan kepada s e o r a n g c a l o n d e n g a n a l a s a n money politics, tetapi masyarakat harus memiliki kesadaran mendukung calon pemimpin dalam pemilukada berdasarkan pendekatan kompetensi dan integritas seseorang. Semua ini, dimaksudkan agar perhelatan demokrasi yang sejatinya ditujukan mencari pemimpin tidak menjadi sebuah hajat yang sia-sia dan rakyat tidak juga mendapatkan manfaat dari sebuah perhelatan demokrasi ini. ***

Tulalit
+ Hakim PTUN Jakarta dituntut Jaksa Penuntut Umum 12 tahun penjara terkait persoalan suap. - Aduh teganya … + Polda Jabar bentuk tim Satgas ledakan elpiji di wilayah hukum Polda Jabar - Nuhun atuh komandan.

Harganas, Menuju Keluarga Harapan dan Sejahtera
Oleh Iwan Herdiawan (IPKB)
Pada 20 Juni 2010, kota Palu dirias oleh semaraknya perayaan Hari Keluarga Nasional (Harganas) XVII. Tamu undangan berdatangan dari berbagai provinsi di Indonesia dengan tujuan meramaikan acaranya. Tentunya tidak sekadar seremonial tahunan yang diracik dengan beragam agenda menarik, tetapi menjadi ruang refleksi bagi perjalanan bangsa ini dalam mewujudkan tujuan pembangunan nasional, yakni mencapai masyarakat yang adil dan sejahtera. Program Keluarga Berencana (KB) yang digalakkan pemerintah sejak Ode Baru merupakan lorong menuju keluarga yang ideal. Selain itu, KB juga dipandang sebagai salah satu cara mengatasi pertumbuhan jumlah penduduk. Dengan menyajikan deretan data kuantitatif untuk membuktikan terjadinya pengendalian jumlah penduduk secara nasional, sebagai parameter keberhasilan program, dengan rujukan data tersebut diharapkan mekanisme ini merupakan cara terbaik, dan dijalankan sepenuh hati oleh anggota keluarga nasional. Fakta menunjukkan bahwa keluarga yang mematuhi program umumnya pegawai negeri yang notabene setiap saat diperdengarkan dan disadarkan tentang program KB. Dan data yang tersaji secara teratur dan berkala itu dominan dari peserta KB. Sementara data non peserta KB, yang umumnya bukan pegawai negeri, acapkali kabur dari kamera data keluarga nasional. Bila standarnya adalah dua anak lebih baik, karena itu suatu keluarga dipandang sebagai pengamal KB, cara ini tidak sepenuhnya diamalkan oleh keluarga miskin. Mereka justru punya banyak anak. Padahal, mereka inilah yang seharusnya menjadi fokus program guna mengimbangi keadaan ekonomi, pendidikan, dan kesehatan. Namun demikian, bukan berarti keluarga berada tidak perlu menyukseskan program, tetapi justru harus menjadi panutan dalam rangka perubahan pola pikir dan perilaku bagi keluarga nasional. Realitas tersebut menyiratkan bahwa: pertama, program KB hingga kini belum mencapai lapisan mayoritas dari unsur anggota keluarga nasional, jika tidak mau dikatakan gagal atau hanya menyentuh kalangan keluarga pegawai negeri. Kedua, perlu digiatkan upaya penyadaran nasional secara terukur bagi semua kalangan, khususnya anggota keluarga miskin yang mungkin selama ini kabur menatap program KB. Karena iktikad baiknya, pemerintah telah merancang dan melaksanakan sederet program pemberdayaan masyarakat. Ini tentu merupakan sinyal kuat dalam mewujudkan keluarga nasional sejahtera. Pada tahun 2006, gagasan keluarga harapan digulirkan Bappenas di depan meja sejumlah departemen/kementerian terkait. Alhasil, berbuah Program Keluarga Harapan (PKH) yang mulai diterapkan tahun 2007 sampai 2015 di sejumlah provinsi. Bagai gayung bersambut, tahun ini Provinsi Sulawesi Tengah mendapat dua apresiasi dari pemerintah yang secara praktis saling berkait, yaitu sebagai tuan rumah penyelenggaraan peringatan Hari Keluarga Nasional dan juga sebagai wilayah (pengabangan) baru PKH tahun 2010. Tentunya resapan program ini tidak hanya seindah kata, tetapi harus betul-betul menyentuh kalbu masyarakat dan pemerintahnya. Khusus PKH, terdapat kabupaten yang mendapat kepercayaan sebagai uji coba program di provinsi ini, yakni Kabupaten Sigi dengan 1.973 Rumah Tangga Sangat Miskin (RTSM) dan Kabupaten Parigi Moutong sebanyak 2.234 RTSM. P r o g r a m Keluarga Harapan Melalui Inpres No 3 Tahun 2010 tentang Program Pembangunan yang Berkeadilan, pemerintah mengukuhkan PKH sebagai program unggulan pada cluster pertama program nasional yang pro-rakyat. Berbeda dengan bantuan langsung tunai (BLT) yang “membiarkan” penerimanya di tengah kesendiriannya, dan penyaluran pembayaran yang ditangani bersama serta melewati jejaringan panjang dan berliku—-sehingga tak jarang dikanibal, penerima bantuan PKH selain sejumlah uang tunai, juga terutama memiliki kewajiban sebagai dasar besaran nominal pembayaran dana bantuan. Mereka, dalam kehidupannya pun, dikawal oleh pendamping guna mengontrol dan mengevaluasi komitmennya terhadap kewajibannya. Dan, mulai tahun ini proses pembayaran dilakukan melalui BRI, tidak lagi melintasi mata pukat harimau,—kita berharap tidak lagi terjadi kanibalisasi hak orang miskin, sehingga dengan demikian RTSM dapat menerima bantuan sesuai besaran standarnya. Kewajiban yang dimaksud adalah (1) memeriksakan kesehatan secara berkala bagi ibu hamil dan melahirkan ke puskesmas atau posyandu, (2) menyekolahkan anak usia sekolah (SD/MI dan SMP/MTs), dan kehadirannya di kelas tidak boleh kurang dari 85%. Bila RTSM tidak memenuhi komitmennya, maka besaran dana bantuan yang diterimanya pun berkurang, bahkan dapat berdampak pada diskontinuitas kepesertaannya dalam PKH. Dan programnya dirancang untuk masa lima tahun ke depan. Dengan demikian, selama RTSM menjaga komitmennya maka selama itu pula mereka berhak menerima bantuan PKH. Takaran jumlahnya sesuai dengan ritme komitmen. Singkatnya, data dan dana PKH sangat bersifat dinamis. Kendati demikian, di tengah upaya merawat komitmennya, RTSM mengalami kesulitan dalam mengakses layanan kesehatan dan pendidikan. Sebab di beberapa kecamatan yang termasuk wilayah kerja PKH, belum memiliki Fasilitas Pendidikan (Fasdik) dan Fasilitas Kesehatan (Faskes); dan jika ada, kadang fasilitas dan sumber dayanya belum maksimal. Menyikapi hal itu, pemerintah daerah (pemda) sepatutnya turut mengambil bagian secara langsung dan terprogram untuk menjamin Fasdik dan Faskes, serta membantu RTSM dalam menjaga komitmennya. Jaring Perubahan Pemberian bantuan bagi masyarakat, apa pun programnya, seyogianya tidak sekadar solusi penyelamatan dari mata rantai kemiskinan, melainkan sebagai suatu mekanisme alternatif bertujuan yang mengarah kepada perubahan pola pikir dan perilaku masyarakat penerima bantuan. Tanpa desain dan tindak lanjut yang terukur, suatu program pemberdayaan justru akan membuka lebar pintu pembonsaian karakter masyarakat yang selalu menunggu uluran tangan pemeritah. Walhasil, mereka menjadi tidak berdaya menjalani kehidupannya. Untuk menyadarkan masyarakat miskin, tentu diperlukan usaha keras dan ikhlas dari pihak-pihak yang berkompeten, sehingga mereka tidak berada di dalam kesendiriannya. Mereka perlu kawalan/dampingan yang secara sungguh-sungguh membantu membuka cakrawala berpikir ihwal cara hidup dan masa depannya secara mandiri. Pemberian bantuan tunai bersyarat, lewat PKH, diharapkan dapat mengetuk pintu kesadaran mereka mengenai pentingnya kesehatan dan pendidikan bagi anggota keluarga nasional. Selain itu, perlu pula langkah strategis yang berorientasi pada pembentukan jaring parubahan karakter dan perilaku. Khususnya bagi RTSM yang mendiami kawasan hutan, sedianya diarahkan untuk merawat hutan sebagai bagian dari rantai komitmennya. Dengan cara ini, PKH dapat berkontribusi terhadap upaya global penyelamatan lingkungan. Dana bantuan dalam konteks itu merupakan buah apresiasi terhadap masyarakat yang mencintai lingkungan alam dan keluarganya. Selamat HARGANAS XVII.

SMK Pajajaran Bisa Berprestasi di Pencaksilat
SUKABUMI, Medikom– Berbagai prestasi telah diraih oleh SMK Pajajaran Kota Sukabumi, salah satunya yakni di bidang ekstrakurikuler (eskul) Pencak Silat. Ini terbukti ketika sekolah tersebut meraih juara II dan III untuk kategori TGR dan tarung ganda.
Salah seorang guru sekaligus pembina ekstrakurikuler SMK Pajajaran M Anan Fahmi menjelaskan, pada hari pendidikan nasional lalu telah ditetapkan bahwa sebenarnya pencak silat adalah kegiatan muatan lokal (mulok) untuk tingkat SMP dan SMA, tapi sebenaranya pihak SMK Pajajaran sendiri sudah pengajar sangat melaksanakannya antusias mengikuti jauh-jauh hari kegiatan ini, s e b a g a i sehingga bisa ekstrakurikuler. memberikan pretasi Dikatakannya, yang bagus di bidang d e n g a n pencaksilat tersebut. diadakannya lagi Anan berharap, eskul pencaksilat, semua siswa yang setidaknya bisa mengikuti eskul ini, menggugah anakagar serius dan anak muda t e k u n . sekarang kepada Bagaimanpun juga kebudayaan pencaksilat bangsa Indonesia. merupakan budaya M Anan Fahmi Dan di SMK Indonesia yang Pajajaran ini harus dijaga oleh dalam satu minggu dilaksanakan generasi penerus. Anan juga dua kali pertemuan dan latihan berharap kepada IPSI Kota pencaksilat. Sukabumi agar lebih Menurut Anan, para siswa dilatih meningkatkan kerjasa manya oleh anggota Ikatan Pencak Silat dengan SMK Pajajaran, sehingga Indonesia (IPSI) Kota Suakbumi, sama-sama membesarkan dibantu oleh enam orang alumni pencaksilat khususnya di Kota sekolah ini, baik siswa maupun Sukabumi. (Ne)

SMA Unggulan CT Foundation Hadir di Deliserdang
LABUHAN DELI, Medikom–Sekolah Menengah Atas (SMA) Unggulan CT Foundation yang berlokasi di kompleks Rumah Anak Madani (RAM) Yayasan Wisma Anak Korban Bencana Alam NAD dan Sumut Jalan Veteran Pasar VII, Desa Manunggal, Kecamatan Labuhan Deli, Minggu (18/7) diresmikan oleh Gubernur Sumatera Utara H Syamsul Arifin SE. Peresmian turut dihadiri unsur Muspida Sumut, Bupati Deliserdang Drs H Amri Tambunan, Anita Chairul Tanjung Ketua Yayasan SMA CT Foundation bersama suami Chairul Tanjung Komisaris Utama Trans TV, Ketua Yayasan Wisma Anak Korban Bencana Alam NAD dan Sumut Ir Joefli J bahroeny MM dan SKPD/ BUMN Sumut dan Kabupaten Deliserdang. Anita Chairul Tanjung menjelaskan pendirian SMA unggulan ini merupakan langkah pengembangan dari sebuah rumah Anak Madani tempat penanganan pertama pengembangan dan pembelajaran anak-anak korban tsunami. Tujuannya, untuk memenuhi kebutuhan pendidikan yang lebih berkualitas bagi anakanak RAM dan sekitarnya. SMA Unggulan CT Foundation beroperasi pada tahun 2010 memiliki tiga kelas dengan murid baru 61 orang. Menggunakan kurikulum nasional plus, sekolah ini difasilitasi laboraturium, tempat praktik dan asrama. SMA unggulan ini memberikan beasiswa bagi lulusan SMP/MTs yang berasal dari keluarga tidak mampu namun memiliki kecerdasan dan semangat belajar tinggi, sedangkan tenaga pengajar cukup berkualitas telah ditempa secara matang oleh konsultan pendidikan berpengalaman. Gubsu H Samsul Arifin SE menyambut baik prakarsa yang sungguh sangat bernmanfaat bagi orang lain dalam upaya memajukan dunia pendidikan sesuai dengan visi misi pembangunan di daerah ini yang diharapkan mampu menciptakan generasi yang berkualitas dan bertakwa. Karena, kata Gubernur, orang-orang yang bertakwa itulah yang selalu mendapat hidayah. Sementara Bupati Deli Serdang mengatakan, melalui SMA Unggu-lan ini diharapkan mampu meng-hasilkan generasi yang memiliki SDM dan ilmu pengetahuan yang mampu menggali, memelihara dan mengembangkan potensi daerah yang cukup luarbiasa ini. Untuk itu perlu menguasai ilmu pengetahuan. Dikatakan, langkah dan upaya menjembatani pembentukan generasi muda melalui pendidikan tentu merupakan usaha untuk mengurangi tingkat kemiskinan. Langkah ini adalah langkah yang mulia, diharapkan menjadi daya tarik bagi yang lain untuk mengikuti jejak ini, terutama bagi yang berpotensi di daerah Deliserdang agar ikut bergandeng tangan, bahu membahu. Usai peresmian dilanjutkan dengan peninjauan ke seluruh ruang. (R David Sagala)

Tingkatkan Kapasitas dan Kapabilitas Layanan

TELKOM Percepat Pembangunan Serat Optik
BANDUNG, Medikom– Permintaan layanan data, internet dan teknologi informasi menunjukkan peningkatan yang cukup berarti. Untuk itu, TELKOM berkomitmen meningkatkan kapasitas dan kapabilitas layanan tersebut. Caranya dengan pemasangan infrastruktur serat optik yang kini tengah dikerjakan oleh PT Telekomunikasi Indonesia (TELKOM) di berbagai wilayah di Indonesia, khususnya di Kawasan Indonesia Timur.
tetapi juga hiburan dan keluarga. Karenanya, TELKOM berkomitmen menyediakan akses yang handal,” ujarnya. Berdasarkan Laporan Kinerja TELKOM Triwulan I/2010, terjadi peningkatan permintaan layanan data, internet dan teknologi informasi yang cukup mencolok. “Tren peningkatan layanan data, internet dan teknologi informasi memang secara konsisten meningkat,” tegas Eddy. Seperti terlihat pada laporan kinerja TELKOM kuartal pertama 2010, pertumbuhan yang terjadi pada pendapatan data, internet dan teknologi informatika mencapai 24,7%, menjadi Rp5 triliun. “Pertumbuhan pada pendapatan data, internet dan teknologi informatika ini mencerminkan strategi perusahaan dalam menumbuhkan bisnis New Wave semakin menunjukkan hasil yang terus meningkat,” ujar Eddy. Diakuinya, revenue dari fixed line memperlihatkan penurunan karena gaya hidup masyarakat yang semakin mobile. Dengan pencapaian ini, kontribusi pendapatan data, internet dan teknologi informatika terhadap total pendapatan operasi mencapai 30,1%, meningkat dari periode yang sama tahun 2009 yang mencapai 25,7% saja. Pertumbuhan pada pendapatan data, internet dan teknologi informatika, terutama berasal dari pendapatan internet dan data komunikasi dengan pertumbuhan sebesar 45,9% yang disebabkan oleh peningkatan signifikan atas jumlah pelanggan dan user layanan pita lebar fixed maupun mobile, yaitu Speedy dan Flash, masing-masing sebesar 79% dan 607%. Peningkatan yang sama terlihat pada layanan data untuk segmen konsumen sampai dengan April 2010, jumlah pelanggan Speedy tercatat sudah mencapai hampir 1,3 juta SSL (Satuan Sambungan Layanan), atau meningkat lebih dari 69,7% dibanding jumlah pelanggan yang sama pada 2009 yang baru berjumlah 683 ribu SSL. Berdasarkan tren performansi tahun 2008 dan 2009, TELKOM optimis target 2 juta SSL yang ditetapkan bisa tercapai pada akhir 2010. Sementara hingga Triwulan I/ 2010 pelanggan wireless broadband Telkomsel Flash mencapai 2,2 juta pelanggan. Ini berarti tumbuh sekitar 606% dibanding Triwulan I/2009 yang baru 302.000 pelanggan. Akhir tahun 2010 diperkirakan pelanggan Flash akan mencapai 5 juta pelanggan. Infrastruktur merata Beberapa hal memicu peningkatan penggunaan layanan data, internet dan teknologi informatika, antara lain pertama tarif layanan Speedy saat ini sudah sangat kompetitif yang diikuti dengan penawaran paket-paket yang disesuaikan dengan kebutuhan pelanggan, mulai dari pelanggan pribadi, keluarga dan bahkan korporat. “Saat ini tarif Speedy sudah sangat murah. Bulan Juli ini, misalnya, kembali kami tawarkan paket baru dalam program “Speedy New Experience” yang memberikan beragam pilihan paket Speedy,” jelas Eddy. Kedua, infrastruktur Speedy kini sudah merambah tidak hanya di kota-kota besar tetapi juga hingga ke kota-kota kecil. Saat ini Speedy sudah melayani lebih dari 378 kota di seluruh Indonesia. TELKOM terus mengembangkan Speedy dan tidak hanya di daerah-daerah perkotaan, melainkan juga di kota ataupun wilayah terpencil. “Inilah komitmen TELKOM. Kami membangun dan memberikan layanan tidak terfokus di kota-kota besar. Yang pasti secara bisnis akan sangat menguntungkan, tetapi TELKOM berkomitmen agar seluruh wilayah Indonesia bisa menikmati berbagai layanan, khususnya data, internet dan teknologi informasi,” ujar Eddy. Untuk meningkatkan performansi layanan data dan internet, TELKOM saat ini telah bergabung dengan konsorsium AAG (Asia America Gateway) untuk membangun serat optik antara Asia ke Amerika Serikat. Diharapkan melalui pembangunan ini komunikasi data antara Indonesia dengan Benua Amerika bisa lebih baik lagi. Selain itu, pada 18 Januari 2010 lalu, TELKOM telah menandatangani perjanjian kerja sama untuk bergabung dalam konsorsium pembangunan Pembangunan Kabel Laut SouthEast Asia Japan Cable System (SJC) di Honolulu USA pada tanggal 18 Januari 2010 yang lalu. Kapasitas bandwidth yang dimiliki SJC cukup besar, bahkan diklaim sebagai yang terbesar dari kabel laut yang ada saat ini. Sistem Komunikasi Kabel Laut (SKKL) SJC akan menghubungkan Singapura, Hongkong, Jepang dan negara Asia lainnya. Sistem Kabel laut yang akan dibangun menggunakan teknologi SKKL terbaru The Newest Submarine Cable Technology dengan kemampuan menyalurkan 64 WL (wave length) pada setiap fiber pair dan 40 Gbps per WL sehingga kabel laut SJC akan memiliki design capacity 17 Terabyte per second (Tbps) yang dapat di-upgrade sampai dengan 23 Tbps. Sementara di dalam negeri TELKOM telah merampungkan penggelaran infrastruktur serat optik di berbagai kawasan, baik di Indonesia bagian barat maupun timur. Penggelaran serat optik yang baru diselesaikan adalah pembangunan Backbone MataramKupang Cable System yang meningkatkan kapasitas layanan data di Kawasan Timur Indonesia. Penggelaran Backbone serat optik Mataram-Kupang sepanjang 1.041 kilometer dilakukan melalui laut dengan kapasitas sampai dengan 300 Gps. Proyek ini dilengkapi dengan 6 landing point di kota Mataram, Sumbawa Besar, Raba, Waingapu, dan Kupang. Saat ini TELKOM tengah menyelesaikan pembangunan proyek JaKa2LaDeMa (JawaKalimantan-Sulawesi-DenpasarMakasar), yang menghubungkan kota/pulau-pulau di Kawasan Timur Indonesia. Pembangungan Proyek JaKa2LaDeMa tentunya akan semakin memacu pengembangan berbagai layanan TIME (Telecommunication, Information, Multimedia dan Edutainment) untuk menunjang perekonomian Kawasan Indonesia Timur serta diharapkan akan semakin mengurangi kesenjangan digital. Backbone ini nantinya juga diharapkan akan meningkatkan jumlah titik akses ke jaringan pita lebar sehingga dapat mendukung peluang persaingan dan prospek bisnis di wilayah-wilayah Indonesia. Secara umum permintaan layanan data di Indonesia masih akan terus tumbuh. Saat ini pengguna internet di Indonesia baru sekitar 30 juta, sementara pengguna telepon seluler sudah mendekati angka 180 juta. Artinya masih terbuka lebar khususnya untuk layanan wireless broadband. Saat ini memang layanan data sudah menjadi kebutuhan, seperti halnya layanan suara. Ke depan TELKOM akan berusaha menghadirkan layanan data ini di setiap rumah tangga di Indonesia. Hal tersebut sesuai dengan portofolio bisnis TELKOM yang tidak hanya fokus kepada infoCom tetapi lebih jauh menjadi TIME. (IthinK)

Fun Bike SPPI Tingkatkan Kesehatan Pegawai Pos
BANDUNG, Medikom–Keberadaan serikat pekerja dalam suatu perusahaan sangat strategis untuk meningkatkan kinerja perusahaan. Jadi kemitraan yang harmonis antara serikat pekerja dan jajaran manajemen perusahaan menjadi sebuah modal utama untuk mencapai target-target perusahaan. Keharmonisan hubungan serikat pekerja ini ditunjukkan oleh Serikat Pekerja Pos Indonesia (SPPI) dengan menggelar lomba sepeda santai “Fun Bike SPPI” dalam rangkat peringatan Hari Jadi SPPI yang ke-10 baru-baru ini. Fun Bike SPPI bertujuan meningkatkan kesehatan para pegawai PT Pos Indeoensia sehingga bisa meningkatkan kinerja dalam memajukan perusahaan. Fun Bike SPPI ini tidak hanya diikuti jajaran karyawan PT Pos Indonesia yang tergabung dalam SPPI, tetapi juga jajaran manajemen perusahaan mulai dari direksi sampai kepala kantor wilayah dan bawahannya. Lomba sepeda dimulai dari Kantor Wilayah V PT Pos dan finis di Kantor Pos Besar Bandung dengan jarak sekitar 10 km. Dirketur Sumber Daya Manusia PT Pos Indonesia Entis S menyampaikan, kegiatan lomba sepeda santai SPPI mendapat dukungan dari perusahaan. Ia juga mengajak para pegawai PT Pos bersepeda agar meningkatkan kesehatan. Untuk menjamin kesehatan para pegawai PT Pos, selama ini perusahaan menganggarkan dana guna pemeliharaan kesehatan pegawai. Sementara Ketua Umum SPPI Koswara mengajak seluruh anggota SPPI meningkatkan kinerja dalam momentum Hari Jadi SPPI ke-10 ini. Dengan kinerja yang bagus, perusahaan akan untung sehingga kesejahteraan pegawai PT Pos juga meningkat. (IthinK)

Vice President Public and Marketing Communication TELKOM Eddy Kurnia menegaskan, TELKOM berkomitmen meningkatkan layanan data, internet dan teknologi informasi mengingat kebutuhan terhadap layanan tersebut semakin hari semakin meningkat. “Layanan data, internet dan teknologi informasi saat ini sudah menjadi kebutuhan, tidak hanya untuk kepentingan bisnis,

Edisi 379 Tahun VII 26 Juli s.d. 1 Agustus 2010

7

Sudut

Kadisdik Kabupaten dan Kota Bogor Tandatangani Kesepakatan PPDB
CIBINONG, Medikom–Untuk memberikan kemudahan dan kenyamanan kepada masyarakat dalam proses penerimaan peserta didik baru (PPDB), mutasi siswa secara terpadu serta adanya keterpaduan dalam pembinaan kesiswaan, Dinas Pendidikan Kabupaten Bogor dan Dinas Pendidikan Pemuda dan Olah Raga Kota Bogor sepakat melakukan kerja sama dalam peningkatan pelayanan kepada masyarakat di dua daerah bertetangga ini. Kerja sama antarkedua dinas pendidikan ini ditandatangani oleh Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Bogor H Didi Kurnia SH MSi dan Kepala Dinas Pendidikan Pemuda dan Olah Raga Kota Bogor Drs Aim Halim Kermana MM, yang berlangsung di Bukit Gumati Batutulis Kota Bogor, Rabu (21/7). Perjanjian kedua pemerintahan daerah tersebut berlaku dalam kurun waktu tiga tahun, yakni dari tahun 2010 sampai tahun 2013. Humas Dinas Pendidikan Kabupaten Bogor Rony Kusmaya kepada Medikom mengatakan, tujuan dari kerja sama ini untuk memberikan kemudahan kepada masyarakat dalam proses penerimaan peserta didik baru (PPDB), mutasi siswa secara terpadu dan adanya keterpaduan dalam pembinaan kesiswaan. Menurut Rony, kerja sama tersebut didasari pada prinsip saling menguntungkan, itikad baik, kesepakatan bersama, persamaan kedudukan dan kepastian hukum. Kerja sama dalam penerimaan peserta didik baru dilaksanakan dengan ketentuan dan kesepakatan. Misalnya, Dinas Pendidikan Kabupaten Bogor dan Dinas Pendidikan, Pemuda dan Olah Raga Kota Bogor sepakat bersama-sama menentukan waktu pendaftaran dan pengumuman, persyaratan kelulusan jenjang pendidikan formal dan non formal serta seleksi usia untuk calon siswa TK/RA/SD/MI. Sedangkan untuk menengah pertama dan atas SMP/MTS, SMA/ MA dan SMK berdasarkan hasil ujian akhir sekolah berstandar nasional (UASBN) dan ujian nasional dan tes. “Dalam kerja sama PPDB juga nantinya masing-masing daerah akan menentukan besaran dana sumbangan masyarakat yang diterima sekolah berdasarkan keputusan kepala daerah. Selain itu kedua daerah akan menghitung angka partisipasi siswa dalam pendaftaran penerimaan peserta didik baru,” jelasnya. Sedangkan untuk kerja sama dalam mutasi siswa ungkap Rony, perpindahan peserta didik baru yang berasal dari luar Kabupaten dan Kota Bogor dapat diterima jika mempunyai laporan nilai hasil belajar, dan ini mulai berlaku tahun kedua yaitu tahun 2011. Untuk kerja sama dalam pembinaan kesiswaan, kedua daerah sepakat akan membentuk satuan tugas pelajar bersama dalam upaya penanganan penyimpangan perilaku siswa. Misalnya tawuran, penggunaan senjata tajam, narkoba, pornoaksi dan vandalisme. Tentunya pembentukan satgas pelajar tersebut dituangkan dalam keputusan bersama. “Untuk pembinaan kesiswaan di antaranya OSIS, ekstrakurikuler, dan latihan dasar kepemimpinan siswa. Dalam kerja sama ini akan dikenakan sanksi bagi kepala sekolah yang siswanya melakukan penyimpangan perilaku yang diatur dalam keputusan masingmasing,” jelas Rony. (Edison)

Pungutan pada PPDB Selalu Menjadi Sorotan
CIMAHI, Medikom–Program pemerintah pendidikan gratis di tingkat pendidikan dasar dalam rangka penuntasan wajib belajar pendidikan dasar (Wajar Dikdas) 9 tahun, masih membuat bingung para orang tua siswa. Sebab sebagian sekolah masih saja melakukan pungutan dengan berbagai dalih. Dalam keputusan Kepala Dinas Pendidikan Jawa Barat, yang menjadi acuan bagi kabupaten/ kota, ditegasakan bahwa tidak ada pungutan dalam bentuk apapun terhadap siswa pada Proses Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) di tingkat pendidikan dasar tahun pelajaran 2010/2011, kecuali RSBI dan SBI. Namun kenyataan di lapangan masih saja ada pihak sekolah yang nekat melakukan pungutan dengan dalih telah ada musyawarah antara orang tua dan pihak komite sekolah. Orang tua siswa yang merasa kurang puas dengan keputusan sekolah ini akhirnya membeberkannya kepada pihak lain, sehingga permasalahan menjadi meluas dan mengundang polemik. Seperti yang terjadi di SDN Cimahi Mandiri 1 Kota Cimahi, memasuki tahun pelajaran baru 2010/2011, sekolah ini ramai dibicarakan dan menjadi bahan pemberitaan di berbagai media cetak pekan lalu. Hal ini disebabkan adanya keluhan dari orang tua siswa yang mengatasnamakan orang tua siswa baru, tentang pungutan Rp2,5 juta per siswa yang di lakukan oleh pihak sekolah tanpa melalui musyawarah dengan orang tua siswa baru terlebih dahulu. Kepala SDN Cimahi Mandiri 1 Kota Cimahi Memi Asmaya SPd yang didampingi komite sekolah Drs Muhya H, sewaktu ditemui wartawan di ruang kerjannya belum lama ini mengatakan, adannya pemberitaan di beberapa media massa tentang keluhan dari orang tua siswa terkait pungutan sebesar Rp2,5 juta, pihaknya merasa terkejut dan mengaku tidak mengerti. “Kalau ada orang tua siswa baru merasa berkeberatan, hal ini menjadi pertanyaan besar buat kami selaku pengelola sekolah, karena semua sudah melalui musyawarah atau kesepakatan bersama dengan orang tua siswa. Jadi kami selaku pengelola sekolah merasa dipojokkan dengan pemberitaan di media massa tersebut,” ujar Memi. Muhya selaku ketua komite sekolah di SDN Cimahi Mandiri 1 mengakui bahwa di sekolahnya memang ada pungutan sebesar Rp2,5 juta per siswa. Namun, dia membantah jika komite sekolah menetapkan langkah secara sepihak, dan mewajibkan seluruh orang tua siswa untuk membayar angka yang sama. “Kami tidak merasa memungut, ini kan bentuknya partisipasi atau kepedulian orang tua siswa terhadap kemajuan sekolah dan juga semua sudah dirapatkan dengan orang tua siswa baru. Dan bahkan ide itu datang dari orang tua sendiri, jadi tidak ada paksaan atau itu keputusan sepihak,” ujar Muhya. Ditambahkannya, tahun ini jumlah pendaftar di SDN Cimahi Mandiri 1 hampir mencapai 300 orang, sedangkan kapasitas kelas hanya cukup untuk empat rombongan belajar atau 152 orang yang diterima di SDN Cimahi Mandiri 1. Dan untuk siswa baru sekolah kekurangan kursi, dan akhirnya pihak sekolah harus menambah atau membeli kursi baru. Dari seluruh jumlah siswa yang diterima, tambahnya lagi, tidak semua siswa membayar dengan penuh, bahkan ada juga yang membayar di bawah Rp2,5 juta. Komite sekolah, katanya, akan berusaha membantu anak yang kurang mampu dengan cara subsidi silang, sehingga tingkat kecemburuan tidak akan terjadi di SDN Cimahi Mandiri 1 ini. Kepala Dinas Pendidikan Kota Cimahi Tata Wikanta sewaktu ditemui wartawan di ruang kerjannya belum lama ini mengatakan, permasalahan adanya pungutan di SDN Cimahi Mandiri 1 sudah dikonfirmasi ke pihak sekolah. Tata menilai adanya dana sumbangan pendidikan di sekolah itu menurutnya sah-sah saja, sepanjang melalui pembicaraan atau sudah dirapatkan dengan orang tua siswa. Dan buat orang tua siswa yang merasa keberatan dengan adannya biaya tersebut, silakan diutarakan pada saat rapat dengan komite sekolah. “Jangan pada saat rapat semua setuju, tapi di luar keberatan, itu tidak benar. Bagi orang tua yang menginginkan pendidikan berkualitas dan berharap anaknya meraih prestasi, dibutuhkan dukungan dari orangtua siswa, sehingga apa yang diharapkan orangtua dapat tercapai ,” ujar Tata. Dari pemantauan dan pengamatan wartawan di lapangan, tentang adanya keluhan dari orang tua siswa terhadap pungutan Rp2,5 juta itu tidak benar, bahkan wartawan mencoba mengkonfirmasi ke beberapa orang tua siswa, mereka sangat tidak percaya bahwa pemberitaan itu mengatasnamakan orang tua siswa baru. Menurut mereka apa yang telah disepakati dari hasil pertemuan orang tua siswa dengan komite sekolah sudah mendapat persetujuan dari seluruh peserta rapat, bahkan kalau ada orang tua siswa yang tidak mampu membayar Rp2,5 juta itu tidak dipaksa. “Kita selaku orang tua siswa yang sudah mengetahui banyak program dan kegiatan di sekolah, kita mendukung 100 persen program sekolah, karena kita selaku orang tua siswa tidak akan ragu akan prestasi dan kemajuan dari SDN Cimahi Mandiri 1. Apalagi, sekolah ini merupakan salah satu sekolah yang terbaik di Kota Cimahi,” tutur orangtua siswa. (Fredy HS)

SDN Dewi Sartika CBM Peringati HAN
SUKABUMI, Medikom–Dalam rangka memperingati dan menyambut Hari Anak Nasional (HAN) Tahun 2010, SDN Dewi Sartika Cipta Bina Mandiri Kota Sukabumi menggelar berbagai kegiatan, di antaranya melakukan long march sepanjang satu kilometer, yang dimulai dari Jalan Syamsudin, Siliwangi, Surya Kencana dan kembali ke sekolah, dialog antara anak dan orangtua serta aksi penanaman puluhan pohon. Bahkan dalam memperingati HAN tahun ini, semua siswa SDN Dewi Sartika CBM berpakaian baju batik begitu juga dengan para pengajarnya. Kepala SDN Dewisartika CBM Asep Wiria menjelaskan untuk tahun ini pihaknya dalam menyambut HAN menggelar jalan kaki dengan menggunakan baju batik sepanjang satu kilometer, penanaman pohon dan dialog antara murid dan orang tua. “Kegiatan dialog ini juga untuk merangsang anak dalam berkomunikasi dengan orangtuanya,” ujar Asep ketika ditemui di selasela acara menyambut HAN di sekolahnya, Sabtu (24/7). Menurut Asep, ada enam cara untuk mendidik anak di antaranya learning yakni lewat teknologi IT internet, akselerasi dan psikotes, dan nantinya akan tahu sejauh mana kemampuan anak dilihat dari IQ dan ESQ-nya. Asep juga berharap dalam kesempatan tersebut seluruh rakyat Indonesia khusunya di Kota Sukabumi peduli ataupun berpartisipasi dalam menghormati dan menjamin hak-hak anak, tanpa diskriminasi, serta memberikan yang terbaik bagi anak. (Ne)

SMK AMS Terapkan Sanksi untuk Mencegah Tawuran
SUKABUMI, Medikom–Meskipun sekolah ini sudah dicap sebagai maskotnya tawuran, namun pihak sekolah dan para guru beserta jajarannya melakukan pembenahan terhadap Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Siliwangi Kota Sukabumi serta pembinaan terhadap peserta didiknya dengan cara menerapkan disiplin. Sejak awal SMK AMS Kota Sukabumi tidak akan segan-segan menjatuhkan sanksi kepada siswa baru tahun pelajaran 2010/2011. “Siswa yang tidak disiplin atau tidak menaati peraturan yang telah ditetapkan oleh sekolah, maka pihak sekolah akan menindak secara tegas dan akan dikembalikan kepada orang tuanya,” tegas Kepala SMK AMS Drs Dasita Juju. Menurutnya, tahun pelajaran baru merupakan saat yang tepat untuk mengarahkan siswa serta meningkatkan kualitas pendidikan dan disiplin yang lebih tinggi. Meskipun siswa telat beberapa menit, pihak sekolah akan menjatuhkan sanksi kepada siswa yang terlambat. Siswa baru pun diberikan pembinaan agar tidak terpancing dengan hal-hal yang berkaitan dengan kenakalan remaja (tawuran). Selain itu, pihak sekolah berkoordinasi dengan sekolah lain juga aparat kepolisian beserta Dinas Pendidikan Kota Sukabumi untuk mencegah tawuran dan aksi vandalisme yang sering dilakukan oleh kalangan pelajar. Drs Dasita Juju juga menjelaskan memasuki tahun pelajaran baru ia mengimbau agar siswa baru tidak terpengaruh dengan aksi tawuran di kalangan pelajaran dengan cara memberlakukan ketentuan yang ditandatangani oleh siswa baru. “Jika siswa melanggar ketentuan yang telah ditandatangani, maka pihak sekolah akan memberikan sanksi tegas,” pungkas Dasita. (Neu)

Hj Nani Rusnani,

Peningkatan Mutu Pendidikan Tanggung Jawab Bersama
KUNINGAN, Medikom-Sebagai Kepala Unit Pelayanan Teknis Daerah (UPTD) Pendidikan Pemuda dan Olah Raga di Kecamatan Kuningan, Kabupaten Kuningan, Hj Nani Rusnani bertekad untuk lebih memajukan dunia pendidikan di wilayah tugasnya. Maka tak heran jika kesehariannya Hj Nani Rusnani tampak begitu sibuk dengan berbagai kegiatan, terutama yang berhubungan dengan upaya peningkatan mutu pendidikan TK dan SD di lingkungan pembinaannya. Beberapa kegiatan yang tengah diupayakannya dalam rangka peningkatan mutu pendidikan di Kecamatan Kuningan yakni berupa kegiatan yang bersifat peningkatan kemampuan profesional guru dan kepala sekolah. Ketika berbincang-bincang dengan Medikom di kantornya belum lama ini, Hj Nani Rusnani yang sangat familier, mengungkapkan, dengan penuh keyakinan dan rasa tanggung jawab. Sebagi Kepala UPTD dia menganggap jabatan yang tengah diembannya merupakan amanah yang harus dijalankan sebaik-baiknya, sesuai dengan tugas dan fungsinya sebagai Kepala UPTD Pendidikan Pemuda dan Olah Raga di Kecamatan Kuningan, yakni mempunyai tugas memimpin, melaksanakan koordinasi, pengawasan, evaluasi dan penyelenggaraan sebagian kegiatan teknis operasional dinas. Salah satu fungsi UPTD yang harus dijalankannya untuk lebih mengetahui segala permasalahan yang ada di wilayah tugasnya, Hj Nani Rusnani terus melakukan pengelolaan dan pembinaan yang lebih intensif dan terus menerus terhadap kepala sekolah dan guru di lingkup kerjanya dan melakukan koordinasi dengan unsur lain seperti organisasi penyelenggara TK atau ikatan guru TK yang ada di Kecamatan Kuningan serta Kelompok Kerja Kepala Sekolah (K3S) SD. Dengan demikian fungsi Kepala UPTD, yakni menerima, melaporkan dan menindaklanjuti permasalahan kependidikan di wilayah kerjanya dapat berjalan dengan baik. Menyangkut dana yang digulirkan ke sekolah-sekolah, baik berupa bantuan pembangunan fisik maupun dana pengelolaan dan operasional sekolah, Hj Nani Rusnani berharap agar seluruhnya dapat dilaksanakan sesuai ketentuan yang berlaku dan dapat bermanfaat dalam meningkatkan kualitas proses kegiatan belajar mengajar (KBM) di sekolah dalam rangka peningkatan mutu pendidikan di Kecamatan Kuningan. “Ada dana BOS yang dikelola di masing-masing sekolah, silakan dipergunakan sebaik-baiknya sesuai dengan Rencana Anggaran Pendapatan dan Belanja Sekolah (RAPBS) masing-masing, sesuai dengan aturan yang ada dan demi peningkatan mutu pendidikan di Kecamatan Kuningan,” ujarnya. Ia juga menambahkan, dalam upaya peningkatan mutu pendidikan dibutuhkan kerja sama semua unsur, termasuk di dalamnya peran serta masyarakat. Menurutnya semua program tidak akan bisa berjalan dengan baik tanpa didukung semua unsur terkait. Sementara K3S SD se Kecamatan Kuningan Drs Syarif mengatakan, upaya pembenahan-pembenahan itu kini mulai tampak hasilnya, sejak kepemimpinan Kepala UPTD yang baru, Hj Nani Rusnani. Pihaknya sangat merespons baik berbagai upaya dan langkah yang tengah dilaksanakan melalui berbagai kegiatan. Dalam menjalankan tugas dan fungsinya menurut pandangan Syarif, kepala UPTD yang baru ini selalu mengedepankan keterbukaan dan tidak diskriminatif. “Kami sangat mendukung semua program dan kegiatan yang dilaksanakan di Kecamatan Kuningan ini, baik yang bersifat peningkatan kemampuan profesional guru dan kepala sekolah, maupun dalam bentuk kegiatan pembinaan lain,” ujar Syarif. (Yoyo S)

Akan Dibangun 9.000 RKB se-Jawa Barat
CIAMIS, Medikom–Pemerintah Provinsi Jawa Barat akan membangun sebanyak 9.000 ruang kelas baru untuk tingkat SMP dan SMA sederajat di Jawa Barat pada tahun 2011. Hal tersebut dikatakan Gubernur Jawa Barat H Ahmad Heryawan saat peresmian SDN 1 dan 2 Sukasenang, Kecamatan Sindangkasih, Kabupaten Ciamis, Senin (19/7). Lanjut Heryawan, rencana pembangunan kelas baru tersebut sudah dikoordinasikan dengan pihak Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Barat dan sedang dalam pembahasan anggaran yang harus dipersiapkan. Pembangunan kelas itu, kata Gubernur, akan bekerja sama dengan pihak Intitut Teknologi Bandung (ITB) dalam standar ketahanan material bangunan. “Kerja sama dengan ITB, dalam teknis bangunannya, mudahmudahan bangunan kelas baru itu kuat, daripada umur manusianya,” terang Gubernur. Dihadapan para siswa SD Sukasenang dan pejabat Pemerintah Kabupaten Ciamis, Heryawan mengatakan, rencana bangunan baru lebih kokoh jika melibatkan para teknisi bangunan yang profesional. Berdasarkan kajian dari ITB, rencana struktur bangunan ruang kelas baru kekuatannya berkali lipat, jika kelak diguncang gempa besar seperti yang pernah terjadi di Jawa Barat. Sementara itu, menurut Heryawan banyaknya laporan kelas ambruk yang baru saja dibangun, itu karena struktur material bangunannya tidak memenuhi standar kekuatan bangunan. Bangunanan sekolah baru itu kemudian ambruk, Heryawan menilai ada tindakan korupsi dalam proses pembangunannya. “Banyak sekolah yang baru dibangun sudah ambruk, jika seperti itu laporkan saja ke polisi karena itu pasti ada korupsi, segera tangkap saja,” tuturnya tegas. (Herz)

Oknum Wartawan Jual Paksa Buku LKS?
BEKASI, Medikom-Memasuki tahun pelajaran 2010/2011, setelah selesai proses penerimaan peserta didik baru (PPDB), kegiatan belajar mengajar di seluruh sekolah mulai berjalan kembali sebagaimana biasanya. Begitu pula yang dilakukan para orang tua siswa, mereka mempersiapkan segala kebutuhan yang harus dibeli untuk keperluan sekolah anaknya, di antaranya kebutuhan baju seragam, buku tulis dan buku LKS (lembar kerja siswa). Buku LKS ini juga telah dijadikan ajang bisnis oleh seorang oknum wartawan. Dengan mengatakan jati dirinya yang mengaku-ngaku sebagai seorang wartawan kepada guruguru dan kepala sekolah agar buku LKS yang ia jual dapat diterima, baik itu oleh pihak sekolah maupun orang tua siswa. Oknum wartawan yang berinisial Spn ini dinilai dalam menjual bukunya dengan cara yang tidak wajar, dengan memaksa pihak sekolah agar mau menerima. Salah seorang guru menuturkan kepada Medikom bahwa bazar buku LKS telah dilaksanakan secara serempak. Selang beberapa hari setelah bazar selesai, datanglah oknum wartawan ke kantornya dan mengaku buku yang dijualnya tidak laku. Oknum wartawan tersebut langsung marah-marah kepada guru-guru, singkatnya semenjak peristiwa itu, dengan berbagai pertimbangan kepala sekolah dan guru-guru terpaksa menerima buku LKS yang diajukan oknum wartawan tersebut, tapi dengan syarat tetap harus dijual melalui bazar dan pihak sekolah jangan dilibatkan. Sangat disayangkan hal ini terjadi di Kabupaten Bekasi dilakukan oleh oknum yang mengaku-ngaku wartawan dengan bertujuan untuk menjual buku, padahal wartawan tugasnya sebagai sosial kontrol, bisa saja orang tua merasa keberatan dengan harga buku tersebut. “Seharusnya pihak sekolah jangan dilibatkan dalam hal bazar buku, silakan saja bazar buku siapapun boleh mengikutinya, dan orang tua siswa pun tidak dipaksakan untuk beli buku LKS secara sekaligus, jika tidak mampu cicil saja, dan tidak bisa juga fotokofi saja, jika tidak bisa juga, belajar bersama temannya,” terang salah seorang kepala sekolah pada Medikom. Leo dari AWASI (Aliansi Wartawan Bekasi) sangat menyayangkan ada oknum wartawan menjual buku. “Bahwa orang seperti itu sebenarnya seorang penjual buku yang mengaku-ngaku wartawan, dan dia telah membunuh karakter wartawan,” tegas Leo . (Anur)

Siswa SMKN 1 Cugengang Minta Kepastian Bangunan Sekolah
CIANJUR, Medikom–Pendirian SMKN 1 Negeri Cugengang, Kecamatan Cugenang, Kabupaten Cianjur, terkesan dipaksakan. Semenjak didirikan pada tahun 2006/2007 sampai saat ini SMKN 1 Cugenang sudah memiliki siswa sebanyak lebih kurang 120 orang. Namun sangat disayangkan, sampai saat ini kegiatan belajar mengajar (KBM) masih dilaksanakan menumpang di lokasi PKBM di Kecamatan Cugenang, Cianjur. Ironisnya saat penerimaan siswa baru SMKN 1 Cugenang, pihak sekolah menjanjikan akan dibangun prasarana, baik secara swadaya sekolah hasil dari UDT sebesar Rp500.000 per siswa, maupun bantuan dari pemerintah. Namun kenyatan sampai saat ini keberadaan sekolah tersebut masih belum jelas. KBM masih numpang di PKBM dengan menggunakan fasilitas PKBM. Minimnya fasilitas di PKBM tersebut dirasakan sangat membuat tidak nyaman para siswa dalam melakukan KBM. Contohnya saja saat berlangsungnya KBM banyak siswa yang tidak kebagian kursi. Hal ini dibenarkan oleh beberapa siswa jurusan manajemen perkantoran di sekolah tersebut. Padahal mereka diwajibkan membayar UDB sebesar Rp50.000 per siswa per bulan. Lebih lanjut para siswa tersebut mendesak kepada Dede Sunarya selaku Kepala SMKN 1 agar secepatnya menyediakan fasilitas belajar yang memadai, terutama gedung dan perangkat komputer sebagai sarana penunjang pembelajaran. Para siswa tersebut juga mengatakan, atas desakan tersebut kepala sekolah berjanji akan mengupayakannya sampai bulan Juni ini. Kepala sekolah berjanji apa bila tidak terealisasi, dirinya siap untuk mundur dari jabatan kepala sekolah. “Sampai saat ini (bulan Juli) janji tersebut belum terealisasi, bohong,” jelas para siswa tersebut. Menurut para pengajar di SMKN1 Cugenang, semua permasalahan ini mencuat akibat ulah kepala sekolah yang tidak terbuka, baik dalam pengelolaan adminstrasi maupun program kerja. Salah seorang honorer di SMKN1 Cugenag mengatakan, akibat tidak adanya keterbukaan kepala sekolah tentang keuangan, para honorer pun yang berjumlah 23 orang tidak mendapat honor sampai enam bulan. “Namun akhirnya dibayarkan setalah hal ini mencuat dan menjadi sorotan wartawan,” jelas guru honorer tersebut yang enggan namanya disebutkan. “Nampak jelas sekali, dengan seringnya pengantian bendahara di sekolah, membuktikan adanya ketidakjujuran kepala sekolah, padahal sekolah selain mendapatkan uang UDT dan UDB dari siswa, bantuan dari pemerintah pun seringkali, namun semua itu entah kemana. Diduga diselewengkan oleh kepala sekolah,” jelas guru tersebut. Ketika permasalahan SMKN 1 ini dikonfirmasikan Medikom kepada Dede Sunarya selaku Kepala SMKN 1 Cugeng di lingkungan SMKN 1 Cugenag, Kamis (22/7) pihaknya mengatakan sampai saat ini dirinya sangat lelah untuk megurus bantuan dari pemerintah, terutama untuk pembangunan sarana dan prasarana belajar. “Saya sudah lelah mengurus bantuan bangunan itu. Untuk itu saya hanya bisa menunggu bantuan tersebut,” ujarnya. Saat ditanya menggenai uang UDT dan UDB, serta bantuan dari pemerintah, Dede hanya menjawab, untuk UDB saat ini macet. “UDB saat ini macet,” kilahnya dan tidak memberi jawaban terkait dana lainnya. Berdasarkan hasil monitoring pihak Dinas Pendidikan Kabupaten Cianjur, Gunawan MM SPd selaku Kabid Dikmen menggatakan, kendala yang terjadi di SMKN1 Cugenang hanya satu yaitu tidak mampunya kepala sekolah tersebut mengelola sekolah. “Kendala yang terjadi di SMKN 1 hanya satu, yaitu tidak mampunya kepala sekolah tersebut mengelola sekolah, dan pihak dinas akan mengembalikan kepala sekolah tersebut menjadi guru, karena jelas yang bersangkutan tidak mampu melaksanakan fungsinya selaku kepala sekolah,” jelas Gunawan, dan pihaknya berjanji pada bulan Agustus SMKN 1 Cugenang akan melaksanakan pembangunan ruang belajar sebanyak dua ruangan. “Dananya sudah ada, yang merupakan bantuan dari Provinsi Jawa Barat,” jelasnya lagi. (Tim)

Sekolah Instruksikan Muridnya Beli Buku Paket
MAJALENGKA, Medikom–Dinas Pendidikan Kabupaten Majalengka akan mengundang seluruh kepala UPTD (Unit Pelayanan Teknis Daerah) TK/SD serta Kepala SMP, SMU dan SMK terkait adanya beberapa SD yang menginstruksikan muridnya untuk melakukan pembelian buku paket lengkap dengan daftar harganya, yang penerbitnya sudah ditunjuk oleh pihak sekolah. Hal itu sehubungan, beberapa buku mata pelajaran sekolah baik untuk SD/MI, SMP/MTs ataupun untuk SMU telah tersedia di sekolah karena pemerintah pernah menyediakan buku mata pelajaran tersebut sesuai jumlah siswa yang ada di sekolah. Sehingga pihak sekolah tidak perlu menginstruksikan murid untuk membeli buku di luar. Ungkapan tersebut disampaikan Sekretaris Dinas Pendidikan Kabupaten Majalengka H Nunu Rohanudin, Selasa (20/7) menyikapi adanya sejumlah sekolah di Kabupaten Majalengka yang menginstruksikan muridnya untuk membeli buku paket pada penerbit tertentu yang ditunjuk oleh pihak sekolah. Untuk tingkat SD ungkap Nunu, buku mata pelajaran yang sudah tersedia di sekolah adalah IPA, bahasa Idonesia, matematika serta bahasa Inggris. Untuk SMP/MTs matematika, sedangkan untuk kelas delapan bahasa Indonesia dan bahasa Inggris, kelas sembilan IPA dan matematika. Buku-buku tersebut belum termasuk pengadaan buku yang berasal dari Biaya Operasional Sekolah (BOS), karena tahun lalu Pemerintah Provinsi pun pernah mengadakan BOS buku dengan mata pelajaran bahasa Indonesia, matematika serta PPKN. “Pihak sekolah tidak diperbolehkan membatasi penggunaan buku sekolah tersebut, sehingga buku-buku tersebut bisa dibawa ke rumah masing-masing untuk dipelajari dan diusahakan jangan sampai hilang karena bukubuku tersebut adalah buku sekolah elektronik (BSE) yang bisa dipergunakan hingga lima tahun,” ungkap Nunu. Jadi menurut H Nunu, sangat heran apabila ada sekolah dasar yang menginstruksikan muridnya untuk membeli seluruh buku mata pelajaran di sekolah karena di sekolahpun telah tersedia sesuai dengan jumlah murid yang ada sebelumnya. Menyikapi persoalan tersebut ungkap H Nunu, pihaknya pada Kamis mendatang berencana mengundang semua kepala UPTD TK/SD serta seluruh kepala sekolah SMP, SMU dan SMK untuk menghindari terjadinya paksaan terhadap orang tua siswa melakukan pembelian buku yang sebetulnya telah tersedia lengkap di sekolah. Nunu juga menyarankan semua sekolah untuk tidak menggunakan LKS, kalaupun mau LKS hanya dijadikan sebagai tambahan pelatihan karena sebenaarnya evaluasi hasil belajar harus dilakukan oleh guru sendiri. Seperti dketahu di Majalengka ada sejumlah sekolah dasar yang menginstruksikan muridnya untuk membeli buku paket lengkap dengan harganya pada penerbit tertentu. Harga buku yang harus dibeli oleh kelas V misalnya, nilainya mencapai Rp310.400. Hal itu dikeluhkan oleh sejumlah orang tua murid di sekolah tersebut. (Jur)

6.595 Guru Non PNS Dapat Tunjangan Fungsional
BALEENDAH, Medikom–Sebanyak 6.595 guru non PNS mendapatkan bantuan tunjangan fungsional dari Kementerian Agama Kabupaten Bandung. Bantuan sebesar Rp250.000 per bulan tersebut, untuk meningkatkan kinerja dan kesejahteraan para guru non PNS di lingkungan Kementerian Agama Kabupaten Bandung. Bantuan fungsional diberikan selama satu tahun, dibagi dalam dua termen. Termen pertama selama enam bulan dengan nilai Rp1.500.000 dan termen kedua nantinya sebesar Rp1.500.000. Bantuan tersebut diterima langsung oleh masing-masing guru melalui Bank Mandiri selaku penyalur dana. Kepala Kementerian Agama Kabupaten Bandung Drs H Cecep Kosasih yang didampingi Kabag TU Drs H Ii beserta Kasi Mapennda Hj Neneng Suwaningsih SAg saat ditemui Medikom membenarkan adanya pemberian bantuan tunjangan fungsional kepada 6.595 guru non-PNS di wilayah Kementerian Agama Kabupaten Bandung senilai Rp250.000 per bulan. Cecep berharap kepada semua guru honor yang mendapatkan bantuan hendaknya menjalankan tugas dengan baik dan penuh tanggung jawab sesuai dengan ketentuan yang berlaku. Selain itu, wajib membuat laporan setiap bulan kepada Kantor Kementerian Agama Kabupaten Bandung. Degan adanya bantuan, ujar Cecep, diharapkan dapat meningkatkan kinerja para guru selaku abdi pemerintah dan abdi masyarakat dalam rangka melaksanakan tugasnya. Tujuannya, agar para siswanya mendapatkan pembelajaran yang lebih baik dan bermutu. Hal tersebut diakui pula oleh Kasi Mapenda Hj Neneng Suwaningsih SAg. Ia menyatakan, setiap guru berkewajiban melaksanakan tugasnya dengan penuh tanggung jawab. Secara terpisah Kepala MTs Darul Ihsan Yupi Kecamatan Soreang Kabupaten Bandung H Djuhro W mengucapkan terimakasih kepada Kementerian Agama Kabupaten Bandung yang telah memberikan bantuan pada guru non PNS. “Mudah-mudahan tahun demi tahun meningkat dan tentunya para guru juga dapat meningkatkan kinerja dalam melaksanakan tugasnya,” tutur Djuhro seraya menambahkan, batuan lainnya seperti BSM, BOS sangat membantu kelancaran mengajar untuk meningkatkan prestasi para murid berserta kesejahtaraan para guru. “Kami berharap agar sekolah kami dapat mendapatkan bantuan sarana untuk pembangunan kantor dan kelas, karena kelas di sekolah kami rusak akibat guncangan gempa yang terjadi pada tanggal 2 September 2009 lalu,” paparnya kepada Medikom di ruang kerjanya. Pengakuan yang sama dilontarkan para guru di kecamatan yang berada di Kabupaten Bandung. Dengan telah diterimanya bantuan fungsional dari Kementerian Agama Kabupaten Bandung, mereka mengucapkan terimakasih. “Mudahmudahan tahun depan lebih meningkat,” paparnya. (S Rohmani)

Edisi 379 Tahun VII 26 Juli s.d. 1 Agustus 2010

Lintas
Sertijab Dandim 0610/ Sumedang dan Dandim 0611/Garut
GARUT, Medikom-Mutasi dalam institusi TNI AD atau organisasi merupakan sebuah proses alami yang harus dijalani untuk memberikan penyegaran serta wawasan yang lebih luas agar institusi dapat berkembang dengan baik. Serah terima jabatan dapat dijadikan momentum penting dalam pengembangan karier, karena dengan beban tugas dan tanggung jawab yang lebih besar dan variatif bagi perwira yang melaksanakan serah terima jabatan. Hal tersebut disampaikan Komandan Komando Resor Militer 062/ TN, Kolonel (Inf) Asrobudi pada Upacara Serah Terima Jabatan Dandim 0610/Sumedang dan Dandim 0611/Garut, Rabu (21/7), di Korem 062/ Tarumanagara. Dirinya menyampaikan terima kasih kepada aparatur pemerintah Sumedang, Polri, dan segenap masyarakat Kabupaten Sumedang dan Kabupaten Garut atas kerjasama secara harmonis dan sinergis selama ini. “Kondisi seperti ini diharapkan dapat dipertahankan seiring dengan adanya peralihan/serah terima jabatan yang saat ini akan segera dilaksanakan,” katanya. Atas nama komando dan pribadinya, Kolonel (Inf) Asrobudi mengucapkan terima kasih kepada Letnan Kolonel (Inf) Hendrianus dan Letnan Kolonel (Inf) Herman Djatmiko atas segala dedikasi dan loyalitasnya selama menjalankan tugas dan tanggung jawabnya sebagai Komandan Kodim 0610/Sumedang dan Komandan Kodim 0610/Garut. “Selamat menjalankan tugas di tempat yang baru, yakni sebagai Waaspers Kodam XII/Tanjungpura dan Wasops Kodam III/Slw,” kata Danrem. Kepada pejabat baru, yakni Letnan Kolonel (Inf) Agoes Hari Soewanto dan Letnan Kolonel (Arm) Edi Yusnandar SAP sebagai Komandan Kodim 0610/Sumedang dan Komandan Kodim 0610/Garut. Semoga dapat meningkatkan apa yang telah dirintis oleh pejabat terdahulu. (Yudi K)

8

APDI Datangi Kantor Dinas Keuangan Daerah
CIAMIS, Medikom–Sejumlah kepala desa di wilyah Kabupaten Ciamis mendatangi kantor Dinas Keuangan Daerah Kabupaten Ciamis. Mereka yang tergabung dalam satuan Asosiasi Pemerintahan Desa Indonesia (APDI) Kabupaten Ciamis, meminta pihak Dinas Keuangan secepatnya mencairkan dana tunjangan aparatur pemerintah desa, yang hingga kini belum disalurkan alias molor hingga telat dua bulan. “Hingga sampai saat ini, untuk pembayaran triwulan kedua terjadi keterlambatan,” jelas Kepala Desa Muktisari Ahmad Mad Max. Hal yang sama dilontarkan beberapa kepala desa. Kades Kawali Obang, menilai Dinas Keuangan Daerah (DKD) selalu mengulur-ulur waktu dalam pencairan dana Tunjangan Aparatur Pemerintah Desa (TAPD) yang acap kali terlambat. “Kedatangan kami ke DKD ini hanya ingin menanyakan, setiap urusan pencairan dana TAPD dan yang lainnya seperti Dana Alokasi Desa (ADD) tidak pernah tepat waktu dan selalu saja molor waktu pencairannya. Kalau sudah didatatangi atau didemo baru pihak dinas terkait ngedengar,” tutur Kades Langkap Lancar, Heri. Kondisi seperti ini, kata Heri merupakan bukti bahwa pihak Dinas Keuangan atau Dinas terkait lainnya sudah tidak menghargai kepala desa selaku pemerintahan desa yang paling dekat dengan masyarakat. Yang lebih parah lagi, jelas para kades, tak satu pun dari pihak Dinas Keuangan Ciamis yang menyambut kedatangan mereka. “Semua PNS di sana tidak ada di tempat. Bahkan terkesan seperti kuburan, sepi-sepi saja. Saya sempat merasa heran ada intansi keuangan tapi tidak kelihatan sama sekali petugasnya, padahal masih jam kerja,” jelas Kades Lumbung Asep Tatang seraya mengatakan, pihaknya merasa tidak dihargai sebagai kepala desa. Beberapa kades, menilai seharusnya pihak Dinas Keuangan ataupun pemda cepat tanggap merespons persoalan ini. Sebab, jika dibiarkan tentunya akan menghambat kinerja di desa. Pasalnya, pendanaan di desa-desa sangat penting demi jalannya roda pemerintahan desa . “Kalau selalu saja diundur-undur seperti gini, bisa-bisa terpaksa harus mencari sumber keuangan lain dengan cara ngutang ke sana ke sini demi menutupi jalannya roda pemerintahan,” jelas para kepala desa. Di tempat terpisah, Kadis Keuangan Herdiat melalui Sekdis Keuangan Drs Kusdiana, Jumat (23/ 7) mengatakan, pihak dinas keuangan hanya menyetujui dan melayani pencairan keuangan saja. Selebihnya, hal-hal yang lain tidak akan ada pelayanan. Pihaknya tidak merasa ada pencairan terlambat ataupun molor. Soalnya ada sebagian desa sudah mencairkan dana TAPD. “Pihak kami hanya menyetujui ajuan anggaran namun administrasinya harus sudah lengkap,” tutur Kusdiana seraya mengatakan, soal keterlambatan tanyakan saja kepada pihak pemerintah desa (Pemdes Kabupaten Ciamis). Dikatakan, kalau belum lengkap administrasi pengajuan anggarannya, maka tidak akan bisa cair. “Kemungkinan dengan begitu akan menghambat pencairan dana TAPD maupun dana ADD. Jadi harus dilengkapi dulu melalui Bagian Pemerintahan Desa (Pemdes Kabupaten Ciamis),” tandasnya. (Herz)

Abah Tatan Santuni Anak Yatim dan Lansia
SUKABUMI, Medikom–Anggota DPRD Kota Sukabumi dari Partai Demokrasi Perjuangan Indonesia (PDI-P), Tatan Kusandi memberikan santunan kepada 46 anak yatim dan 36 lansia warga Benteng Kidul, RW 01 dan RW 10, Kelurahan Benteng. Bantuan diberikan secara simbolis saat warga Benteng menggelar acara Isra Miraj di Kampung Benteng Kidul, Kelurahan Benteng, Kecamatan Warudoyong, Kamis (22/7). Dikatakan Tatan, pemberian santunan ini sudah dijadikan agenda rutin pribadinya dari tahun 2003 sampai sekarang. “Tujuannya beribadah karena anak yatim itu titipan, begitu juga dengan lansia,” jelas Abah Tatan, sapaan akrabnya. Lebih jauh Abah megungkapkan, di Kota Sukabumi anak yatim yang terakomodir sebanyak 625 orang. Jumlah anak yatim tersebut, terpisah di 26 panti asuhan. Sementara masih banyak anak yatim dan lansia yang belum terakomodir, tentunya ini menjadi sebuah PR untuk pemerintah agar bisa mencari jalan keluarnya. Bahkan ironisnya, bantuan untuk anak yatim sangat memprihatinkan. Bayangkan saja satu anak yatim diberikan bantuan sebesar Rp2.000 per anak setiap harinya, sementara kebutuhan idealnya mencapai Rp12.500, satu hari per anak yatim. Untuk itu dirinya secara pribadi mengajak kepada seluruh warga Kota Sukabumi dan juga pemerintah agar hal ini bisa diperhatikan. “Karena anak yatim itu tanggung jawab kita semua,” ujar Abah Tatan. Ke depan Abah akan mengajak kepada pemerintah dan anggota DPRD Kota Sukabumi lainnya, untuk duduk satu meja dan membahas permasalahan ini, karena ini juga kepentingan rakyat, hak rakyat dan untuk rakyat. Dalam Acara yang bertemakan dengan memperingatai Isra Miraj Mari Kita tingkatkan Keimanan dan Ketaqwaan tersebut, juga dihadiri oleh Lurah Benteng, Camat Warudoyong, dan para undangan lainnya. (Arya)

Jalan Inpres Belum Tersentuh Bantuan
GARUT, Medikom-Masyarakat Desa Salamnunggal, Kecamatan Leles, Kabupaten Garut dan para kepala sekolah Inpres Salamnunggal I, II dan III mengeluh. Pasalnya, Jalan Inpres sepanjang 1 km rusak parah. Padahal, kondisi tersebut sudah terjadi sejak 7 tahun lalu. Ironisnya, hingga saat ini belum pernah dipaerbaiki. Salah seorang kepala SD Impres Salamnunggal III, Koko Supriadi SPd mengatakan, jalan tersebut merupakan salah satu sarana untuk aktivitas sehari-hari, baik ekonomi maupun pendidikan. Rusaknya Jalan Inpres tersebut sangat menggagu aktivitas warga, termasuk anak sekolah. Sering terjadi anak-anak yang mau berangkat sekolah tersandung karena banyak bebatuan sebesar kelapa yang menonjol di tengah jalan. Apalagi jika musim penghujan, air masuk ke tengah jalan sehingga sebagian anak tidak bisa berangkat sekolah. Ia berharap pihak terkait agar melihat jalan rusak yang ada di daerah itu. “Seharusnya jalan yang ada di daerah pun harus diperhatikan. Jangan hanya jalan di kota saja,” kata Koko, kepada Medikom, Jumat (23/7) lalu. Menurut dia, jalan tersebut sebaiknya secepatnya diperbaiki. Tak ada anggaran jangan dijadikan alasan. Dengan jalan tersebut diperbaki diharapkan dapat menunjang aktivitas masyarakat, terutama anak-anak yang berangkat sekolah. Selain itu, akses jalan tersebut juga sarana transportasi untuk mengangkut hasil bumi berupa sayuran. Kepala Desa Salamnunggal, Kecamatan Leles, Kabupaten Garut, Dodo mengakui jalan tersebut rusak parah. Selain Jalan Inpres, Jalan Rangga pun rusak parah. Padahal jalan tersebut berpapasan dengan Jalan Raya Leles. Pihak desa sudah beberapa kali mengajukan permohonan kepada pihak terkait, tapi sampai saat ini tidak ada realisasinya. (KUS)

50 Orang PNS Kota Sukabumi Ikuti Sosialisasi Keprotokolan dan MC
SUKABUMI, Medikom–Sebanyak 50 oarang PNS dari seluruh Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) se Kota Sukabumi mengikuti sosialisasi keprotokolan dan MC. Acara yang dibuka secara resmi oleh Wali Kota Sukabumi HM Muslikh Abdussyukur, bertempat di ruangan pertemuan Hotel Taman Sari Kota Sukabumi, Senin (19/7). Dalam sambutannya Muslikh menjelaskan, membawakan suatu acara atau kegiatan, baik yang bersifat formal maupun nonformal dengan baik dan lancar, dari awal hingga akhir tidak mudah. Untuk itu, bagi setiap orang yang membawakan suatu acara supaya berjalan baik dan lancar, selain harus memiliki pengetahuan, juga harus memenuhi syarat menjadi pembawa acara yang baik dan benar, sesuai dengan peraturan yang berlaku. Oleh karenanya, sosialisasi keprotokolan dan MC ini sangat penting dilaksanakan, khususnya bagi PNS di lingkungan Pemerintah Kota Sukabumi, supaya dalam membawakan suatu acara kegiatan dapat berjalan lancar dan baik. Selain itu, menurut Muslikh, bagi setiap orang yang menjadi pembawa acara atau MC, harus memiliki performance, penampilan, etika, kualitas vokal dan wawasan, karena akan menjadi pusat perhatian publik. “MC harus memiliki informasi apa saja ketika membawakan suatu acara,” ujarnya. Muslikh juga berharap, agar di akhir pelaksanaan sosialisasi ada semacam audisi bagi seluruh peserta. Tujuannya agar para peserta bisa secara langsung melakukan praktik setelah diberikan teorinya. Kabag Umum dan Protokol Pemkot Sukabumi Adil Budiman menjelaskan, sosialisasi tersebut digelar untuk menambah wawasan dan pengetahuan mengenai keprotokolan dan MC bagi aparat di lingkungan Pemkot Sukabumi. Selama mengikuti sosialisasi seluruh peserta dibekali berbagai materi. Di antaranya, etika dan komunikasi PNS, pentingnya peranan protokol dalam kegiatan resmi dan tidak resmi pemda, sosialisasi UU No 24 Tahun 2009 tentang Bahasa, Lambang, Bendera Kebangsaan RI serta pelatihan MC. “Optimalnya seluruh kelurahan dan kecamatan mempunyai protokol sendiri, sehingga ketika menggelar suatu kegiatan tidak mengandalkan dari pemda,” ungkapnya. Hadir dalam kesempatan tersebut, Sekretaris Daerah Kota Sukabumi H Mohamad Muraz, Asisten Pemerintahan Setda Kota Sukabumi H Kusna Kurhana, Asisten Perekonomian dan Pembangunan Setda Kota Sukabumi H Deden Solehudin, Asisten Administrasi Setda Kota Sukabumi Drs H Achmad Husni, Kepala Badan Kepegawaian dan Diklat (BKD) Kota Sukabumi Drs Suwarsa, Kepala Kantor PDE, Arsip Daerah dan Humas Kota Sukabumi H Oscar Lesnussa, serta undangan lainnya. (Arya)

Cara Perbaikan GorongGorong Dinilai Kurang Tepat
CIAMIS, Medikom-Sejumlah warga Jalan Jenderal Ahmad Yani Ciamis mengaku heran dengan keputusan Dinas Bina Marga Provinsi Jawa Barat dalam hal pengerjaan perbaikan goronggorong yang disinyalir mampet. Pasalnya, perbaikan goronggorong tersebut sama sekali tidak menyentuh gorong-gorong yang mampet. “Selama ini gorong-gorong yang mampet adalah goronggorong yang menyeberang jalan raya. Lantas kenapa yang diperbaiki malah gorong-gorong yang ada di trotoar. Meskipun gorong-gorong yang ada di trotoar diperbaiki, kalau sumber utamanya masih mampet, tetap saja akan terjadi genangan air nantinya,” ujar salah satu tokoh masyarakat yang memprotes perbaikan gorong-gorong trotoar tersebut, Deni (32), kepada wartawan, Selasa (20/7). Warga Jalan Ahmad Yani RT 03/ 16 tersebut menjelaskan, selama ini gorong-gorong saluran drainase di bawah trotoar tidak ada masalah. Justru yang menjadi masalah selama ini menurutnya mampetnya gorong-gorong, antara torotoar yang satu dengan trotoar yang ada di sebelahnya. “Kalau mau diperbaiki jangan merusak trotoar. Gali aja gorong-gorong yang menyeberang jalan. Mengingat yang mampet hanya gorong-gorong itu,” jelasnya dengan nada kesal. Sementara warga lainnya, Dedi Suryana (40), menyayangkan tindakan pemerintah yang tidak melakukan koordinasi dulu ke masyarakat setempat. “Coba kalau koordinasi dulu, pasti warga akan memberitahukannya. Sedangkan kalau begini, sia-sia saja,” keluhnya. Sementara pelaksana perbaikan gorong-gorong CV Hayati Putra, Ade, mengaku tidak tahu-menahu persisnya terkait gorong-gorong yang bocor. “Yang jelas, dalam surat tugas, kami diharuskan melakukan pembongkaran sepanjang 67 meter gorong-gorong yang berada di bawah trotoar Jalan Ahmad Yani. Adapun terkait desakan warga yang menginginkan agar pembongkaran dilakukan terhadap gorong-gorong yang tembus ke jalan, itu tidak bisa kami lakukan mengingat itu sudah menyalahi aturan,” ujarnya. (Pan)

Partisipasi Publik sebagai Syarat Negara Demokrasi
GARUT, Medikom-Dalam upaya mewujudkan dan mengimplementasikan semangat reformasi di Kabupaten Garut, diperlukan adanya sebuah partisipasi publik sebagai syarat negara demokrasi, dimana peran serta masyarakat sangat diharapkan untuk mewujudkan pembangunan di Kabupaten Garut yang adil, merata, dan berkesinambungan. Hal tersebut disampaikan Bupati Garut, Aceng HM Fikri dalam sambutannya pada acara pelatihan wawasan kebangsaan bagi anggota parpol dan ormas/LSM di Kabupaten Garut, di Hotel Cempaka, Rabu (21/7). Dirinya menambahkan, di era reformasi ini dapat dirasakan adanya pengenduran sendi-sendi nilai berbangsa dan bernegara. Hal ini ditandai dengan memudarnya semangat patriotisme, munculnya konflik antargolongan, perebutan kekuasaan, tawuran antarpelajar, sikap individualisme serta anarkisme yang kerap terjadi di masyarakat. Kondisi semacam ini apabila terus dibiarkan, tentu akan mengancam eksistensi dan kelangsungan kehidupan negara ini. Maka dari itu Bupati menganggap perlu pembinaan kesatuan bangsa untuk menumbuhkan kembali semangat patriotisme, rasa persatuan dan kesatuan di kalangan masyarakat, khususnya di anggota parpol, ormas/LSM. Sementara itu Kepala Kantor Kesatuan Bangsa Politik dan Perlindungan Masyarakat, H Suherman SH MSi melaporkan, kegiatan yang bertemakan “Peningkatan Peran Anggota Parpol dan Ormas/LSM Dalam Pembangunan Daerah” diikuti oleh 100 orang peserta. Peserta terdiri dari 50 orang anggota parpol dan 50 orang dari organisasi kemasyarakatan dan LSM yang berada di Kabupaten Garut. Kegiatan pelatihan ini menghadirkan beberapa narasumber. Di antaranya Bupati Garut, Ketua DRPD Kabupaten Garut, Kapolres Garut, Inspektorat Kabupaten Garut, Kepala Kantor Kesatuan Bangsa Politik dan Perlindungan Masyarakat Kabupaten Garut. (KUS)

Posyandu Mawar Wakili Kecamatan Lemah Wungkuk
CIREBON, Medikom–Posyandu Mawar RW 03 Karang Dawa Barat, Kelurahan Pegambiran, terpilih mewakili Kecamatn Lewah Wungkuk dalam penilaian lomba Posyandu Tingkat Kota Cirebon. Penilaian lomba yang dilaksakan Selasa (21/7) di Posyandu Mawar RW 03 Karang Dawa Barat, Kelurahan Pegambiran, dihadiri oleh Lurah se Kecamatan Lemah Wungkuk, Camat, Ketua Tim Penggerak PKK Kecamatan Lemah Wungkuk, masyarakat dan tim penilai lomba. Menurut Lurah Pegambiran Moh Rosid Sidik, warga sangat antusias melaksanakan kegiatan posyandu. Ia berharap, dengan adanya lomba posyandu tingkat Kota Cirebon dapat memberikan manfaat bagi warga. “Terutama bagi warga kami yang mebutuhkan pelayanan kesehatan di posyandu. Dengan kegiatan yang dilaksanakan oleh posyandu mudah-mudahan warga kami terhindar dari beragam penyakit,” paparnya. Drs Andi Armawan, Camat Lemah Wungkuk menjelaskan, kegiatan lomba posyandu tingkat Kota Cirebon ini menambah motivasi kepada masyarakat untuk dapat berpartisipasi dalam posyandu, termasuk juga para lansia, harus memiliki motivasi atau semangat untuk memeriksakan kesehatan yang dilaksanakan posyandu. Kepada para ibu yang mempunyai putra-putri balita, Andi mengimbau supaya memeriksakan kesehatan balitanya secara rutin di posyandu, agar terhindar dari beragam penyakit. “Kami sengaja menggelar berbagai kegiatan yang bersentuhan langsung dengan kepentingan masyarakat. Untuk itu kami sangat berharap adanya partisipasi masyarakat sehingga ada hubungan timbal balik. Dengan demikian apa yang kami lakukan dapat mencapai hasil yang maksimal. Manfaatnya sangat berarti bagi kita. Apabila mengikuti program-program yang dilaksanakan oleh posyandu,” jelasnya. (Rudi)

KUA Singaparna Wakili Jabar
TASIKMALAYA, Medikom– Bupati Tasikmalaya Drs HT Farhanul Hakim MPd menghadiri Kegiatan Penilaian Kantor Urusan Agama (KUA) Unit Pelayanan Percontohan Tingkat Nasional di Kecamatan Singaparna yang dilaksanakan di Gedung Dakwah Singaparna, Kecamatan Singaparna, Kabupaten Tasikmalaya, Rabu pekan lalu. Hadir pada kesempatan tersebut Tim Penilai dari Direktorat Urusan Agama Islam dan Pembinaan Syariah Kementerian Agama Republik Indonesia, Kepala Kantor Wilayah Kemeterian Agama Provinsi Jawa Barat yang diwakili oleh Kabid Urusan Agama Islam, unsur Muspika, Ketua MUI Kabupaten Tasikmalaya, Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Tasikmalaya, para kiai alim ulama, tokoh pesantren, dan tokoh masyarakat serta tamu undangan lainnya. Bupati mengungkapkan kebahagiaan atas terpilihnya Kantor Urusan Agama (KUA) Kecamatan Singaparna yang berada di wilayah Ibu Kota Kabupaten Tasikmalaya sebagai perwakilan Provinsi Jawa Barat untuk berkompetisi di tingkat nasional. Disampaikan kegiatan ini dapat djadikan sebagai motivasi bagi aparatur di lingkungan Kementerian Agama untuk dapat meningkatkan kinerja, kedisiplinan dan konsistensi dalam menjalankan tugas sebagai abdi Allah SWT yang diwujudkan dalam pengabdiannya kepada Bangsa dan Negara serta berprinsip Sayyil Qoum Khodimuhum yaitu pemimpin adalah pelayan bagi

Ruas Jalan Sepanjang 11 Km Hancur
CIAMIS, Medikom–Jalan yang terbentang dari depan kantor Kecamatan Purwadadi hingga Balibar Manganti Kabupaten Ciamis rusak parah. Jalan sepanjang 11 km ini, percis gelombang pantai selatan. Saking parahnya kerusakan jalan, aspal pun tak tampak tertempel di badan jalan. Karenanya, para pengendara roda empat atau pun roda dua harus ekstra hati-hati menghindari lubang-lubang terjal hingga kedalaman 30-35 cm. Apalagi kalau musim hujan, semua pengendara harus benar-benar hati-hati guna menghindari kecelakaan. Warga pengguna jalan sudah lama mengeluhkan kondisi tidak mengenakkan tersebut. Baru-baru ini, Sanroji, salah seorang warga terpental dari sepeda motor yang ditungganginya, sebagai imbas dari kerusakan jalan. Sepeda motor yang ia kendarai terjatuh akibat terperosok ke dalam lubang yang cukup dalam. Ia pun hanya bisa tersipu malu dan berkata, “Ini jalan apa kubangan kebo sih?” Ruas jalan sepanjang 11 km ini bukan hanya rusak di bagian tengah. Namun, sampai pinggir pun tak ada lagi yang bisa dipilih. Sebab, lubanglubang tampak terhampar di sepanjang ruas jalan ini. Sutrisno, Sekretaris Desa Purwajaya saat ditemui Medikom di kantornya, Selasa (20/7) mengatakan, kerusakan ruas jalan desa yang meliputi Desa Purwadadi, Purwajaya, dan Desa Sidarahayu sudah cukup lama dibiarkan begitu saja. Pihaknya pun sudah melayangkan proposal melalui Kimprasda Kabupaten Ciamis. Namun hingga saat ini pembanguna jalan yang sangat dinantikan belum juga terwujud. “Mudah-mudahan saja pihak yang berwenang segera mendengar rintihan warga kami yang sudah sangat menanti dan merindukan jalan ini diperbaiki,” ujarnya. (Herman)

umat. Dengan diadakannya penilaian ini, Bupati berharap dapat mengangkat citra prestasi Kabupaten Tasikmalaya di ajang Nasional. Apalagi hal tersebut selaras dengan visi Kabupaten Tasikmalaya yaitu Religius Islami yang senantiasa menopang setiap gerak dan langkah masyarakat Kabupaten Tasikmalaya, serta senantiasa menjadi pengawal dalam bertindak bagi seluruh aparatur Pemerintah Kabupaten Tasikmalaya. Pada kesempatan yang sama Kepala Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Jawa Barat yang diwakili oleh Kabid Urusan Agama Islam Drs H Munadi Abdul Qodir MM mengatakan, Kantor Urusan Agama (KUA) Singaparna adalah salah satu KUA yang menjadi nominasi terbaik dan memiliki nilai yang terbaik tahun ini. Selain terpilih menjadi perwakilan Provinsi Jawa Barat untuk berkompetisi di tingkat Nasional, Kantor Urusan Agama (KUA) Singaparna juga terpilih sebagai kandidat atau wakil Kabupaten Tasikmalaya untuk Perlombaan Keluarga Sakinah. Hal

lain yang disampaikan bahwa penilaian KUA hakikatnya adalah pembinaan. Ketua Tim Penilaian dari Direktorat Urusan Agama Islam dan Pembinaan Syariah Kementerian Agama Republik Indonesia Dr H Anwar MA menyampaikan, tujuan diadakannya perlombaan KUA yaitu untuk meningkatkan citra pelayanan kepada KUA, mendorong tumbuhnya disiplin pegawai, serta menjadi motivator terhadap tumbuhnya disiplin pegawai. Selain itu, ia menambahkan bahwa pencatatan nikah sangatlah penting, karena akan menjamin hak-hak dan kelestarian sebuah keluarga. Di akhir acara dilakukan penyerahan buku profil oleh Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Tasikmalaya Danial Abdul Kholik MSi kepada Ketua Tim Penilai dari Direktorat Urusan Agama Islam dan Pembinaan Syariah Kementerian Agama Republik Indonesia Dr H Anwar MA serta dilanjutkan dengan memonitoring Kantor Urusan Agama Singaparna sebagai salah satu bahan untuk penilaian. (A Cucu)

Edisi 379 Tahun VII 26 Juli s.d. 1 Agustus 2010

9

Sedap Rasa
Eggless Mocca Ice Cream
Bahan-bahan: 250 ml air 1 sdt agar-agar bubuk 150 g gula pasir (original recipe: 200 g) 500 ml susu cair 3 sdm cokelat bubuk, larutkan dalam 4 sdm air 2 sdt kopi bubuk instan, larutkan dalam 2 sdm air panas 250 ml krim kental (whipping cream) Cara Pembuatan: Rebus air, agar-agar dan gula sampai mendidih dan larut. Masukkan susu, coklat bubuk dan kopi. Rebus sambil diaduk sampai mendidih. Dinginkan. Tuang adonan ke dalam kontainer plastik atau stainless steel. Bekukan dalam freezer sampai mengental (2 jam). Keluarkan, kocok dengan mikser atau blender sampai lembut. Bekukan lagi. Sementara itu, kocok krim kental sampai mengembang dan membentuk puncak tumpul. Simpan dalam lemari es sampai saat digunakan. Setelah adonan es krim membeku lagi, keluarkan dan kocok lagi sampai lembut. Campurkan krim kocok dalam 3 tahapan ke dalam es krim yang telah dilembutkan, aduk balik hingga rata. Bekukan untuk terakhir kalinya. Sebelum disajikan, keluarkan dulu dan simpan di dalam lemari es agar lembut dan mudah disekop.

PTPN 4 Konversi Kebun Teh ke Kelapa Sawit
MEDAN, Medikom–Produksi teh milik PTPN 4 terus mengalami penurunan. Akibatnya, karena dinilai kurang menguntungkan, banyak lahan perkebunan teh dikonversi ke tanaman kelapa sawit. H a l itu dikatakan Kepala Humasy PT Perkebunan Nusantara 4 (PTPN) Lidang Panggabean kepada wartawan belum lama ini di Medan. Penurunan produksi terus terjadi seiring dengan pengurangan luas areal tanam. Bisnis komoditas teh yang telah dikembangkan sejak zaman penjajahan Belanda ini mengalami kerugian karena harganya kurang baik atau sekitar Rp13.479/kg, padahal biaya produksinya mencapai Rp17.395 / kg. “Teh yang dihasilkan selama ini dipasarkan melalui pelelangan. Harga jual masih jauh dari biaya produksi yang dikeluarkan, sehingga bisnis ini kurang menguntungkan,” ujarnya. Dikatakan, penurunan lahan pertamanan teh telah lama terjadi. Dikonversi ke tanaman sawit sejak tahun 2003 di kebun Bahbirong Ulu seluas 2.194 ha. Sedangkan kebun teh yang masih bertahan yakni di Sidamanik, Bahbutong, dan Toba Sari, semuanya berada di Kabupaten Simalungun. Berdasarkan data tahun 2000, areal lahan tanaman teh masih memiliki seluas 8.475,39 ha dengan produksi mencapai 16.519,8 ton. Angka ini terus mengalami penurunan dan tahun 2009 lahan teh hanya berkisar 4.595 ha dan produksi 9.604 ton. “Tanaman kelapa sawit lebih menguntungkan, selain itu daerah dengan ketinggian sekitar 800 M dpl seperti di Bah Birong Ulu sudah bisa ditanam sawit dengan produktivitas yang tinggi atau sekitar 15 ton/ha,” jelas Lidang. Begitupun, kata dia tanaman teh akan terus bertahan karena masih memiliki permintaan dari luar negeri yakni India, Pakistan, Eropa Barat, dan Malaysia melalui lelang di Karisma Pemasaran Bersama (KPB). “Memang, teh yang dipasarkan tidak memiliki brand karena dijual dalam bentuk teh hitam. Teh yang dipasarkan tidak dalam kemasan dan tanpa brand. Ada wacana dipasarkan ke ritel, tapi belum ada keputusan itu sampai saat ini,” ujarnya. Tanaman teh Sumut ini, akan terus bertahan dengan adanya kenaikan harga dan pemasaran yang baik serta penggunaan tanaman klon unggul. Sebab mayoritas tanaman masih warisan dari masa jajahan Belanda. Produktivitas yang kini dimiliki tanaman teh yakni berkisar 10.973 kg/ha dalam keadaan teh basah dan mengalami peningkatan di tahun 2009 yakni 11.034 kg/ha. “Tanaman akan terus di-replating untuk meningkatkan produktivitas dan kualitasnya.” kata Lidang. Untuk produksi teh pada semester satu tahun 2010 ini, kata dia, telah mencapai 4.483 dengan luas lahan 3.515 ha. Sedangkan tanaman belum menghasilkan (TBM) seluas 457 ha, dan tanaman baru/ tanaman ulang (TB/TU) sebanyak 430 ha. “Dibanding tahun tahun 2009 memang telah mengalami penurunan yakni dengan produksi 9.604 ton, luas tanam 3.515 ha. TBM seluas 649 ha danTB/TU seluas 639,54 ha,” katanya. (SS)

Pantai Karapyak Menunggu Penataan dari Pemprov
CIAMIS, Medikom-Objek wisata pantai Karapyak, Kecamatan Kalipucang, Kabupaten Ciamis, Jawa Barat, memiliki ciri dan keindahan tersendiri. Terutama panorama alamnya masih alami. Pantai Karapyak ini juga merupakan perpaduan langsung antara perbukitan gunung sehingga begitu alami. Maka tak heran apabila pengunjung, baik yang lokal maupun wisatawan asing, mengaku betah berlamalama di pantai ini. Mereka mengaku ketagihan untuk kembali berkunjung ke objek wisata pantai Karapyak ini, karena menurut mereka pantai ini memiliki daya tarik dan keindahan tersendiri. Apalagi kalau sampai dilengkapi sarana pendukung, seperti kereta gantung, kolam renang, dan lainlain. “Sehingga daya tarik dan daya saingnya akan lebih tinggi,” kata Ayu (24), pengunjung asal Bandung, belum lama ini. Hal senada pengunjung lainnya, Herman (35). Kalau di pegunungan tersebut dibangun vila-vila atau pondok perkemahan, tentunya akan lebih menyedot minat pengunjung itu sendiri. Dan yang lebih pentingnya, menurutnya, dilakukan penataan pada pantai ini, seperti pemasangan penerangan/lampu mercuri yang memadai. Adanya penerangan tersebut juga akan mengantisipasi terjadinya hal-hal yang negatif, seperti perilaku mesum ataupun mabuk minuman beralkohol. “Otomatis pengunjung tidak lagi khawatir dan suka untuk datang berwisata ke pantai Karapyak. Tentunya PAD akan bisa meningkat, sekalipun kita tahu hampir semua tempat wisata beranggapan seperti itu. Padahal yang kami tahu, tidaklah sama,” kata Herman. Kepala Desa Bagolo Rahman Hidayat, mengatakan, untuk menata pantai Karapyak ini tidaklah mudah. Perlu dana atau anggaran yang cukup besar. “Sementara pihak desa anggarannya dari mana? Dan kami pun mengupayakan kerja sama dengan pemerintah daerah, dalam hal ini Dinas Pariwisata dan Budaya Kabupaten Ciamis. Dan tak lepas telah ada kesepakatan dari semua pihak, baik BPD dan Karang Taruna, telah sepakat untuk pengelolaanya oleh Pemda Kabupaten Ciamis dengan maksud dan tujuannya agar objek wisata pantai Karapyak ini tertata dengan baik. Mudahmudahan pemerintah daerah atau provinsi dan pusat agar dapan mersponsnya,” kata Rahman penuh harap. Di tempat terpisah, UPTD Pariwisata dan Kebudayaan Pangandaran Endang Sukirna SSos menjelaskan, penataan pantai Karapyak akan segera mungkin untuk ditindaklanjuti. “Kami atas nama mewakili Dinas Pariwisata Kabupaten menunggu Pemerintah Provinsi Jawa Barat perihal turunnya anggaran untuk pembangunan pantai Karapyak ini, seperti sarana kamar mandi/WC serta penerangan/mercuri, yang kami ajukan sekitar 20 tiang dan pembangunan gapura/pintu masuk. Tempatnya di perempatan atau di samping kantor Desa Bagolo,” katanya. Dan nantinya, lanjut Endang, akan dilibatkan lembaga pembantu di bawah binaannya, yang berkekuatan berbadan hukum seperti Kompepar dan juga Karang Taruna yang dibawahi atau binaan Desa Bagolo, agar nantinya bisa terjalin kerja sama yang lebih baik. Selain itu, kata Endang, Kalipucang bukan hanya memiliki wisata pantai, namun wisata alam seperti terowongan Wihelmina. Terowongan ini mempunyai panjang 1.300 meter dan merupakan terowongan terpanjang di Asia. “Tentunya menyimpan sejarah bagi bangsa negara kita sebelum merdeka. Semua itu, kami akan selalu menjaga dan memelihara kelestariannya. Untuk jangka panjang kami akan upayakan untuk kita jadikan kalender tahunan. Selain itu, tak kalah menariknya lagi, pelabuhan Majingklak, yang sekarang kita tahu sebagai objek wisata mancing dan pengunjung bisa melihat secara langsung pulau Nusakambangan,” kilah Endang seraya menambahkan bahwa di Kalipucang ini banyak tersimpan kekayaan alam yang pantas dijaga dan dipelihara dengan baik agar sesuai dengan Misi Pemerintah Kabupaten Ciamis: terdepan dalam memajukan objek wisata. (Agus. S)

PT PLN APJ Sukabumi Sosialisasikan Kenaikan
SUKABUMI, Medikom–PLN tidak memiliki kewenangan untuk memutuskan keberatan masyarakat berkaitan dengan kenaikan TDL. Sebab, keputusan tentang kenaikan dan besarnya kenaikan TDL ada pada pemerintah. Hal tersebut dikatakan oleh Manajer PT PLN APJ Sukabumi saat menggelar acara sosialisasi tentang kenaikan Tarif Dasar Listrik (TDL) dengan para OPD dan staf di lingkungan Pemkab Sukabumi, di Gedung Pendopo, Selasa (20/7). Acara tersebut langsung dihadiri Bupati Sukabumi H Sukmawijaya. Dikatakan Nono, PLN hanya menjalankan aturan sesuai keputusan Pemerintah, karena kenaikan TDL ada pada pemerintah. “Kalau ada keberatan sebaiknya disalurkan melalui legislatif, bukan ke PLN. PLN hanya operator,” ujarnya. Kebijakan pemerintah menaikkan TDL, lanjut Nono, pada dasarnya untuk mengurangi subsidi pemerintah dalam membiayai penggunaan bahan bakar pembangkit listrik. Sebab, selama ini, subsidi untuk bahan bakar pembangkit listrik cukup besar. Jika subsidi dikurangi diharapkan mampu membiayai pembangunan di sektor lain. Jadi, dana yang tadinya untuk subsidi bahan bakar dialihkan untuk kegiatan produktif yang menyejahterakan masyarakat. Dijelaskan Nono, berdasarkan ketentuan, tidak semua pelanggan akan dikenakan kenaikan tarif. Kenaikan TDL hanya bagi pelanggan yang menggunakan di atas 900 VA. Sedangkan bagi pelanggan yang menggunakan 900 VA dan 450 VA masih menggunakan tarif lama. TDL penggunaan untuk setiap golongan tarif, berkisar 6 hingga 20 persen dengan rincian sosial 10 persen, rumah tangga 18 persen, bisnis 16 persen, industri 6 hingga 12 persen, pemerintah 15 hingga 18 persen dan traksi/curah/layanan khusus sebesar 9 hingga 20 persen. Diungkapkanya, kebijakan tidak menaikkan tarif di bawah 900 VA, kerena atas dasar keadilan. Sebab, pelanggan yang menggunakan di bawah 900 VA dinilai merupakan kalangan ekonomi menengah ke bawah. Pada TDL tahun 2010, kata Nono, pemerintah juga menetapkan tarif listrik untuk prabayar yang besar tarifnya sama dengan tarif listrik pascabayar. Dengan demikian terdapat tarif pascabayar (regular) dan tarif prabayar. Selain mengatur tentag tarif listrik, permen tersebut juga mengatur biaya lain, seperti biaya kelebihan pemakaian daya, biaya penyambungan tenaga listrik, uang jaminan langganan, biaya keterlambatan pembayaran, dan tagihan susulan atas penertiban pemakaian listrik tidak sah. Sementara itu Bupati Sukabumi H Sukamwijaya menuturkan, akan membantu menyosialisasikan kebijakan tersebut kepada masyarakat, khsusnya pegawai di lingkungan Pemkab Sukabumi. Menurutnya, kebijakan tersebut harus dipatuhi. Sebab, pada dasarnya kebijakan kenaikan TDL itu tiada lain untuk keberlangsungan pasokan listrik yang berdampak pada kesejahteraan masyarakat. (Arya)

Pelaku Kegiatan Program PNPM–MP Mendapat Pelatihan
TASIKMALAYA, Medikom-Sebagaimana dimaklumi pemberdayaan masyarakat adalah sebuah upaya menciptakan dan meningkatkan kapasitas masyarakat, baik secara individu ataupun kelompok, dalam memecahkan berbagai persoalan terkait upaya peningkatan kualitas hidup, kemandirian dan kesejahteraannya. Menjamin kegiatan ini berjalan baik perlu dilakukan pelatihan bagi pelakupelaku program pemberdayaan. Salah satunya Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat (PNPM) Mandiri Pedesaan tahun 2010. Di Kabupaten Tasikmalaya telah dilakukan pelatihan pelaku PNPMMP sebanyak 948 peserta yang terdiri dari kepala desa 316 orang, ketua TPK 316 orang, dan KPMD 316 orang. Acara dihadiri Bupati Tasikmalaya yang diwakili Sekretaris Daerah Kabupaten Tasikmalaya Drs H Abdul Kodir MPd. Dalam amanatnya menyatakan sejak tiga tahun lalu pemerintah mencanangkan Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat (PNPM) Mandiri yang terbagi dua jenis, yakni PNPM-Mandiri Pedesaan dan PNPM Mandiri Perkotaan. Dan satu lagi PNPM Wilayah Khusus dan Desa Tertinggal. PNPM-Mandiri Pedesaan merupakan program untuk mempercepat penanggulangan kemiskinan secara terpadu dan berkelanjutan. Melalui PNPM-MP diharapkan memberikan kesempatan lapangan kerja dengan dibentuknya unit pengelola kecamatan dapat meningkatkan pendapatan bagi kelompok rakyat miskin, serta efisiensi dan efektifitas kegiatan yang dapat menumbuhkan kebersamaan dan partisipasi masyarakat. Lebih lanjut dikatakan Bupati, dengan adanya acara pelatihan ini diharapkan agar para pelaku PNPMMP di tingkat kecamatan dan desa juga tingkat Kabupaten Tasikmalaya dapat memahami dan mampu mengelola serta penuh tanggung jawab dalam melaksanakan program secara optimal. Sehingga nantinya benar-benar dapat digunakan dan dirasakan manfaatnya serta dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Sementara ketua panitia penyelenggara kegiatan pelatihan pelaku-pelaku PNPM Mandiri Pedesaan tahun 2010, Kepala Bidang Pemberdayaan Masyarakat Desa Badan Pemberdayaan Masyarakat dan Keluarga Berencana (BPMKB) Kabupaten Tasikmalaya, Uu Sunia Kusumah SPd, mengatakan, pelatihan bagi pelaku-pelaku PNPMMP merupakan upaya pembekalan agar memiliki pengetahuan, kemauan, kemampuan dalam membantu, mendorong dan memberi motivasi untuk menggerakkan masyarakat berpartisipasi serta memiliki peran aktif dalam meningkatkan pemberdayaan masyarakat disertai perencanaan. Pembangunan partisipatif yang optimal dan hasil dari pelatihan ini diharapkan mampu membantu mengidentifikasi masalah kebutuhan dan sumber daya pembangunan yang ada di desa secara partisipatif serta mampu dalam pengelolaan program sesuai dengan aturan yang berlaku. Acara pelatihan yang berlangsung dari tanggal 12 sampai 16 Juli bertempat di hotel Pajajaran dihadiri oleh Kasubid Kelembagaan Masyarakat Bidang Pemberdayaan Masyarakat Desa BPMKB Asep Hendang Kusnandar SPd. Para staf bidang pemberdayaan larut sibuk mengatur dan melayani para peserta yang mencapai 948 orang. Siang dan malam tanpa berhenti, standby di tempat latihan. (A Cucu)

Laporkan Jika Menemukan Tabung Gas Tidak Berlabel SNI
MAJALENGKA, Medikom–Setiap harinya sekitar 50 tabung gas elpiji berukuran 3 kilogram yang diterima oleh Station Pengisian Bahan Bakar Elpiji (SPBE) di Desa Cikalong, Kecamatan Sukahaji, Kabupaten Majalengka dalam kondisi rusak dengan kerusakannya bervariasi. Hal tersebut disampaikan Plan Managmen PT Prima Mustika Petrolindo Gatot Iman Santoso di SPBE Cikalong, Jumat (23/7) saat memberikan penjelasan kepada pihak Kepolisian Resort Majalengka yang melakukan pemeriksaan tabung gas ke lokasi tersebut. Kerusakan tabung gas tersebut bervariasi ada yang rusak karena bocor, berkarat, ada juga yang arah pulpenya tidak benar karena justru menghadap ke luar yang seharusnya menajdi jalur selang, kerusakan pada footering, atau pada handgoardnya. “Saat ini jumlah tabung yang rusak mencapai 750 tabung. Tabung-tabung ini nanti diambil oleh PT Pertamina setiap dua minggu sekali untuk direkondisi,” ungkap Gatot seraya menjelaskan perusahaan pengisian gas miliknya setiap harinya melayani sekitar sepuluh ribu tabung gas elpiji tiga kilogram dengan kapasitas gas mencapai tiga puluh ton. Dia meyakini tabung gas yang dikeluarkan dari perusahaannya dalam kondisi aman dan berstandar SNI. Karena sebelum dilakukan pengisian, tabung tersebut terlebih dulu dilakukan pengecekan melalui leakage test. “Apabila tabung tersebut tidak bermasalah maka bisa dilakukan pengisian dan tabung bermasalah akan diganti. Karena PT Pertamina sendiri selalu mengganti tabung yang rusak tersebut setelah mengambil barang,” kata Gatot. Kepala Satuan Reskrim Polres Majalengka Ajun Komisaris Polisi Luhut Sitohang usai melakukan pemeriksaan ke perusahaan tersebut menyebutkan, sementara ini tidak ditemukan tabung gas yang tidak memiliki Standar Nasional Indonesia (SNI). Menurutnya apabila masyarakat menemukan tabung gas yang tidak berlabel SNI, dimohon untuk segera melaporkannya ke Polres Majalengka atau ke Mapolsek terdekat. (Jur)

Tabungan eBataraPos Sediakan Hadiah Rp13 Miliar
BANDUNG, Medikom–Program Heboh Rezeki Tabungan eBataraPos diluncurkan Bank BTN dan PT Pos Indonesia dengan total nilai hadiah sebesar Rp13 miliar sebagai wujud penghargaan kepada para nasabahnya di seluruh Indonesia baru-baru ini. Para nasabah ini sangat loyal menggunakan produk eBataraPos untuk melakukan penyimpanan uangnya selama ini. Mereka menabung tidak hanya di bank, tetapi juga di kantor pos. Direktur Utama PT Pos Indonesia DR I Ketut Mardjana menyampaikan, kerja sama Pos Indonesia dengan bank BTN telah ada sejak tahun 70-an. Pada saat itu dikenal dengan TABANAS (Tabungan Pembangunan Nasional) dan TASKA (Tabungan Asuransi Berjangka). Sejalan dengan kemajuan teknologi informasi, sejak tahun 2005 layanan tabungan tersebut dioperasikan secara online, disebut tabungan eBataraPos. Selain eBataraPos, masih ada kerja sama lainnya antara Bank BTN dan Pos Indonesia, seperti penerimaan setoran KPR, penerimaan SPP perguruan tinggi negeri/swasta serta pencetakan dan pengiriman Rekening Koran Nasabah KPR BTN. Ke depannya bersama BTN, Pos Indonesia akan mengembangkan produk “Tabunganku” yang mempunyai fitur lebih sesuai dengan masyarakat ekonomi kecil sehingga produk ini diharapkan dapat mendorong masyarakat ekonomi kecil untuk membiasakan diri menyisihkan penghasilannya untuk ditabung. “Dengan demikian, Pos Indonesia turut mendukung kebijakan pemerintah guna mewujudkan kebiasaan menabung di seluruh lapisan masyarakat,” ujar Ketut. Ditambahkannya, tabungan eBataraPos saat ini dilayani di 2.578 Kantor Pos Online di seluruh Indonesia dengan jumlah total uang penabungan pada semester I tahun 2010 sebesar Rp2.068.255.423.390. Dibandingkan Semester I tahun 2009 besar uang penabungan eBataraPos Rp1.557.055.409.761, ada peningkatan sebesar 32,38%. Hal ini menunjukkan bahwa produk tabungan eBataraPos sudah menjadi pilihan bagi masyarakat di seluruh Indonesia, meskipun saat ini tersedia beberapa produk tabungan yang disediakan institusi perbankan lainnya. Kondisi menunjukkan bahwa tagline produk eBataraPos “Lebih Mudah Lebih Dekat” dengan ketersebaran outlet online Pos Indonesia di seluruh pelosok Nusantara, dapat mendorong tumbuhnya produk tabungan perbankan ini. Jumlah outlet yang tersebar ada sebanyak 3.764 kantor pos dan lebih dari 24.000 titik layanan tersebar di seluruh pelosok Indonesia. PT Pos Indonesia merupakan mitra strategis dari Bank BTN dan mitra lainnya dalam memasarkan layanan jasa keuangan. Layanan jasa keuangan Pos Indonesia mencakup penyaluaran dana, seperti Program Keluarga Harapan; layanan pembayaran onile seperti layanan tabungan, penerimaan pembayaran cicilan kredit motor/mobil (multifinance), setoran kartu kredit, pembayaran tagihan telepon, listrik, air minum/PDAM. Selain itu ada juga layanan pengiriman uang (remittance), yaitu Weselpos dan Western Union (WU). (IthinK)

Bank Sumut Raih Penghargaan InfoBank Award
MEDAN, Medikom–Untuk yang kedelapan kalinya secara berturutturut Bank Sumut meraih penghargaan InfoBank Award dalam kategori bank sangat bagus. Penghargaan diserahkan lansung oleh Direktur InfoBank Beni Handoni kepada Dirut Bank Sumut H Gus Irawan Pasaribu di Westin Resort Hotel Nusa Dua Bali, pada 16 Juli 2010 lalu. Hadir saat itu, Gubernur Bali yang diwakili I Wayan Tegeg, Dirut InfoBank Eko B Supriono, serta para Komisaris, Direksi, dan Direktur masing-masing bank yang ada di Indonesia. Direktur Utama (Dirut) Bank Sumut H Gus Irawan Pasaribu kepada wartawan, Selasa (20/7) di Medan mengatakan, penghargaan dari majalah Info Bank dalam kategori bank sangat bagus ini merupakan motivasi untuk memberikan kinerja lebih baik lagi. Bank Sumut untuk tahun ini mendapatkan Golden Trophy Award untuk kategori bank sangat bagus selama delapan tahun berturutturut. Menurut Gus Irawan Pasaribu, untuk bulan Juli 2010 Bank Sumut telah meraih dua penghargaan yakni dari group Majalah Tempo atas penghargaan “Best Perfomance Banking 2010” Kategori BPD besar dan dari majalah InfoBank sebagai bank dengan predikat sangat bagus atas kinerja tahun 2009. Dikatakan, penghargaan ini merupakan hasil kerja keras dari PT Bank Sumut serta dukungan penuh dari Pemerintah Sumut bersama pemerintahan kabupaten/kota seSumut, DPRD Sumut dan masyarakat selaku nasabah. (SS)

Pembangunan Iringasi Diharapkan Penuhi Kebutuhan Masyarakat
KUNINGAN, Medikom– m e l i b a t k a n Impian masyarakat masyarakat desa Desa Ciketak, dengan cara bergotong Kecamatan Kadugede, royong. Seperti Kabupaten Kuningan pembangunan jalan akan diperbaikinya desa sepanjang 800 m saluran air irigasi, dalam yang bersumber dana waktu dekat ini akan dari dana alokasi desa segera terealisasi. dan senderan serta Menurut Kades Ciketak irigsi dari dana Suja saat ditemui belum bantuan PPIP,” lama ini di kantornya ungkapnya. m e n g a t a k a n , Sementara untuk Suja pembangunan jalan pembangunan senderan dan irigasi senderan dan irigasi telah menjadi agendanya. Hal itu yang diharapkan masyarakat, bisa diprioritaskan karena sangat penting secepatnya dibangun guna mengairi untuk kebutuhan masyarakat. sawah para petani. Sedang dana yang “Dalam waktu dekat ini diperoleh melalui Program pembangunannya akan Pengembangan Infrastruktur direalisasikan. Pelaksanaannya akan Pedesaan (PPIP), dirinya mengakui telah sepakat dan berkomitmen dengan OMS (organisasi masyarakat setempat) yang diketuai Mulyadi dengan fasilitator Asep agar bisa dilaksanakan sesuai dengan harapan masyarakat. “Apalagi hal itu sudah ada respons dari masyarakat, tentunya pembangunan pelaksanaan pembangunan nanti akan terasa ringan karena kebutuhan dipikul bersama,” akunya. Di akhir perbincangan, kades juga mengucapkan banyak terimakasih kepada para tokoh dan masyarakat di Desa Ciketak yang telah bersamasama melaksanakan pembangunan. Ia berharap warga mampu menjaganya supaya tetap bermanfaat dan tidak cepat rusak. (Yoyo Suhendar)

Tingkatkan Pelayanan, Camat Nusaherang Terus Berbenah
KUNINGAN, Medikom–Memberikan pelayanan prima terhadap masyarakat perlu didukung banyak aspek. Di antaranya fasilitas kantor dan adanya sebuah ruangan yang memadai. Karena kalau ruangan yang presentatif sudah tidak ada dan kurang layak, dikhawatirkan akan dapat menghambat pemberian pelayanan prima terhadap masyarakat. Berkenaan dengan itu, Camat Nusaherang, Kabupaten Kuningan Maman Rusmana SSos berjanji akan terus berupaya melakukan pembenahan dan penataan ruangan di lingkungan kantornya agar terlihat nyaman. Selain itu, dibutuhkan ruangan pelayanan umum yang selama ini menjadi salah satu kendala dalam melakukan pelayanan terhadap masyarakat khususnya di Kecamatan Nusaherang. “Kami akan terus melakukan perbaikan-perbaikan agar keberadaan kantor terlihat lebih baik dari yang sudah-sudah,” terangnya didampingi Sekmat Muhamad Solihin SSos MSi baru baru ini di ruang kerjanya. Dikatakan, kegelisahan itu rupaya akan sedikit terobati berkat perjuangan bersama dengan para karyawannya yang insya Allah dalam waktu dekat ini dirinya akan mengadakan penambahan pembangunan ruangan gedung kantor, ruangan pelayanan umum dan penataan tebing. Perkiraan anggaran diambil dari dana bantuan dari pemda sebesar Rp20 juta serta ditambah dengan dana perawatan kantor camat. Sementara untuk pemagaran tebing pinggir sawah diambil dari dana swadaya, yang sudah tentu anggarannya tidak mungkin mencukupi. Ditambahkan, selain butuh ruangan yang presentatif, dirinya juga mengakui butuh pembangunan rumah dinas kecamatan yang selama ini belum ada. Namun walaupun begitu, tidak menyurutkan dirinya dalam melakukan pelayanan terhadap masyarakat dengan keberadaan kantor pelayanan umum seadanya. Pihaknya berharap semoga ke depan akan adanya perhatian serius dari pemerintah terutama untuk penataan kecamatan ke arah yang lebih baik termasuk adanya rumah dinas kantor kecamatan. Disiggung adanya pemotongan dana dari DAD sebesar Rp3 juta untuk pembiayaan ASKES bagi para perangkat desa bekerja sama dengan Asuransi Jiwasraya, pihaknya menegaskan, sampai saat ini belum ada kepastian yang jelas. Hanya, dirinya mengetahui bahwa dana itu masih utuh tersimpan di rekening desanya masing-masing. (Yoyo Suhendar)

Edisi 379 Tahun VII 26 Juli s.d. 1 Agustus 2010

sorot
Sekda pempropsu : Persoalan Kehutanan Masalah Dunia
MEDAN, Medikom–Sekda Pempropsu RE Nainggolan mengatakan, persoalan kehutanan bukan lagi menjadi masalah domestik (dalam negeri) karena telah menjadi keprihatinan dunia Internasional yang memberikan perhatian istimewa. “Bahkan isu pelestarian hutan selalu menjadi bagian penting dalam setiap negosiasi yang dilakukan,” ujar Gubsu melalui Sekda Pempropsu RE Nainggolan didampingi Kepala Dinas Kehutanan Sumut Drs JB Siringo-ringo dalam acara “Sosialisai PP10/2010 tentang Tata Cara Perubahan Peruntukan dan Fungsi Hutan pada PP 24/2010 tentang Penggunaan Kawasan Hutan di Bina Graha, Medan belum lama ini. Namun, jelasnya, penyelesaian segala bentuk masalah kehutanan sering menjadi rumit sehingga tidak jarang menimbulkan masalah lain. Hal itu disebabkan belum tuntasnya masalah hukum, baik karena lemahnya penegakan hukum, tumpang tindihnya hukum di bidang kehutanan, maupun kurang disosialisasikan ketentuan hukum mengenai kehutanan. Karena itu, Pempropsu sangat mengapresiasi sosialisai PP 10/2010 tentang Tata Cara Perubahan Peruntukan dan Fungsi Hutan dan PP 24/2010 tentang Pengguanan Kawasan Hutan tesebut. “Sosialisasi itu juga amanat dari pasal 51 UU 10/2004 tentang pembentukan peraturan Perundang-undangan yang mewajibkan Pemerintah untuk menyebarluaskan peraturan yang telah diundangkan,” tambahnya. Dikatakan, perubahan peruntukan dan fungsi hutan merupakan tuntutan dinamika pembangunan, sekailgus harapan masyarakat agar penggunaan kawasan hutan memberikan manfaat bagi kehidupan. Namun penggunaan itu membutuhkan peraturan agar kawasan hutan tetap lestari dan luasan pemanfaatannya dapat dilakukan secara proporsional. Karena itu, diterbitkanya PP 10/2010 sangat bermanfaat guna memberikan kejelasan mengeani pemanfaatan hutan. “PP itu juga akan memberikan kepastian hukum dan kepastian berusaha bagi masyarakat,” kata Sekda. (SS)

10

Abdul Aziz SE:

APBD DKI Rp26,23 Triliun Tidak Signifikan
JAKARTA, Medikom-Bila pertumbuhan diprediksi hingga enam persen, sedangkan inflasi juga diperkirakan mencapai enam persen, itu artinya kesejahteraan yang dirasakan oleh masyarakat DKI Jakarta sebagai hasil Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) DKI yang mencapai Rp26,23 triliun tidak signifikan. Artinya kesejahteraan yang dirasakan oleh masyarakat tidak konsisten dan tidak sustainable. Padahal, implementasi dari APBD DKI sejatinya seyogianya harus secara subtansial mampu meningkatkan kesejateraan masyarakat DKI Jakarta. Itulah Pemandangan Umum Fraksi Partai Persatuan Pembangunan (PPP) Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Provinsi DKI Jakarta terhadap Rancangan Peraturan Daerah (Raperda) tentang Perubahan APBD Provinsi DKI Jakarta, yang disampaikan oleh Abdul Aziz SE, Kamis (22/7). Dengan sangat tegas Abdul Aziz mengatakan, pada sisi pendapatan, secara umum APBD DKI Tahun 2010 memperlihatkan kinerja yang membaik, terutama pendapatan asli daerah (PAD) yang berasal dari pajak daerah dan hasil perusahaan milik daerah dan pengelolaan kekayaan daerah yang pada akhir semester satu, yang realisasi penerimaanya masing-masing telah mencapai 53,34 persen dan 80,49 persen. Sementara pos pendapatan lainnya masih di bawah 45 persen, seperti retribusi daerah, lain-lain PAD yang sah, dana perimbangan dan lain-lain pendapatan daerah yang sah. Realisasi pajak daerah yang cukup signifikan dalam satu semester berasal dari komponen bea balik nama (BBN) kendaraan bermotor, yaitu mencapai 66,54 persen atau sekitar Rp2,03 triliun dari Rp3,05 triliun yang ditargetkan. “Jumlah ini menunjukkan adanya peningkatan transaksi jual beli kendaraan bermotor,” tegas Abdul Aziz SE di hadapan gubernur dan para eksekutif. Masih Abdul Aziz, namun jika dikaji lebih jauh, tren yang baik pada BBN kendaraan bermotor (KB) yang realisasinya hanya 43,34 persen. Bahkan ada usulan untuk menurunkan target penerimaan pajak bahan bakar kendaraan bermotor (BBKB) sebesar 12,50 persen dari target penetapan. “Ini menjadi pertanyaan bagi Fraksi PPP DPRD Provinsi DKI Jakarta. Variabel apa yang menyebabkan tren kenaikan BBNKB tidak berbanding lurus dengan pajak BBKB,” papar Abdul Aziz. Selain itu, di tengah membaiknya kinerja pendapatan, khususnya BBNKB serta di tengah situasi membaiknya dunia usaha dan investasi, Fraksi PPP DPRD Provinsi DKI Jakarta dikejutkan dengan kebijakan eksekutif yang menurunkan target penerimaan beberapa pajak daerah, seperti pajak hotel, pajak restoran, pajak hiburan,

Kinerja Kepala dan TU UPTTMR Dianggap Sangat Baik
JAKARTA, Medikom-Komisi B Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Provinsi DKI Jakarta, yang terdiri dari berbagai partai menganggap kinerja Kepala (Ir Enny Pudjiwati) dan Tata Usaha (TU, Bambang Triyono) Unit Pelaksana Teknis (UPT) Taman Margasatwa Ragunan (TMR) Jakarta sangat baik. Itulah ucapan yang terlontar dari “mulut” seluruh anggota Komisi B DPRD Provinsi DKI Jakarta pada saat selesai rapat paripurna Pemandangan Umum Fraksi-Fraksi terhadap Rancangan Peraturan Daerah (Raperda) tentang Perubahan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) DKI tahun anggaran 2010, Kamis (22/7). Ketua Komisi B Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Provinsi DKI Jakarta, Selamet Nurdin mengatakan, Kepala (Ir Enny Pudjiwati, red) dan TU (Bambang Triyono, red) UPT-TMR Jakarta sangat sungguhsungguh dalam menciptakan program pemberantasan korupsi di lingkungannya. Hal ini menunjukkan kesungguhan kerja keras untuk mempertahankan citra Pemerintah Provinsi (Pemrov) DKI Jakarta. “Program apapun yang telah diprogramkan oleh UPT-TMR Jakarta selalu menyentuh masyarakat,” tegas Selamat Nurdin. Kepala (Ir Enny Pudjiwati) dan TU (Bambang Triyono) UPT-TMR Jakarta sering mengatakan, bahwa kerja sebagai amanah dan ibadah. “Artinya, pekerjaan yang dibiayai uang rakyat (APBD) dikerjakan dengan sangat hati-hati, transparan dan jujur,” paparnya. Kita masih ingat ucapan/pernyataan Kepala Dinas Kelautan dan Pertanian (DKP) Provinsi DKI Jakarta, Ir Hj Ipih Ruyani yang notabene membawahi UPT-TMR Jakarta. “Tugas pokok dan fungsi (tupoksi) seberat apapun harus fokus, dan jangan berorientasi kepada uang. Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) DKP Provinsi DKI Jakarta harus membangun Jakarta. “Kita harus ingat bahwa jabatan adalah sebuah kepercayaan dan amanah. Artinya, program sekecil apapun harus mensejahterakan masyarakat DKI Jakarta,” tegasnya. (slamet supriyadi)

dan pajak reklame. Dalam pandangan Fraksi PPP, pengurangan atau penurunan target penerimaan beberapa jenis pajak daerah tersebut, bukan dikarenakan adanya kelesuan ekonomi di kalangan dunia usaha, khususnya usaha di sektor restoran, hotel dan hiburan. “Akan tetapi penurunan target tersebut dikarenakan tidak berjalannya on line system yang telah menjadi komitmen eksekutif dalam melaksanakan intensifikasi pajak,” ujar Abdul Aziz. (slamet supriyadi)

Ir Hj Anita Amri Tambunan Terima Satya Lencana Wira Karya
LUBUK PAKAM, Medikom–Upaya dan kerja keras yang dilakukan Ketua TP PKK Deliserdang Ir Hj Anita Amri Tambunan dalam pembangunan kependudukan dan program KB mebuahkan hasil. Pada peringatan Hari Keluarga Nasional XVII dan Bulan Bakti Gotong Royong Masyarakat (Harganas-BBGRM) tahun 2010 yang dipusatkan di Lapangan Jabal Nur Kota Palu, Sulawesi Tengah, Selasa (20/7), Ir Hj Anita Amri Tambunan menerima Satya Lencana Wira Karya dari Wakil Presiden RI Boediono. Ia dinilai berhasil dan berjasa dalam bidang pembangunan kependudukan dan program KB tahun 2010. Sebelumnya tahun 2008, Bupati Deliserdang Drs H Amri Tambunan juga telah menerima Satya Lencana Wira Karya yang disematkan langsung oleh Bapak Presiden RI DR H Susilo Bambang Yudhoyono dalam Upacara Peringatan Hari Keluarga Nasional XV dan Bulan Bakti Gotong Royong Masyarakat V Tahun 2008 di Lapangan Olah Raga Geloro Paduka Berhala, Kecamatan Sabak Barat, Kabupaten Tanjung Jabbung, Provinsi Jambi. Pl Kadis Infokom Deliserdang Drs Nagauman Sinaga menyebutkan, Satya Lencana Wira Karya yang ditetapkan berdasarkan Keppres RI Nomor 22/TK/2010 diterima Ketua TP-PKK Deliserdang karena dinilai berhasil dan berjasa dalam bidang pembangunan kependudukan dan program KB Tahun 2010. Penghargaan Satya Lencana Wira Karya dari pemerintah itu, diserahkan Wakil Presiden RI Boediono pada acara peringatan Harganas yang turut dihadiri Ibu Herawaty Boediono, Mendagri Gamawan Fauzi, Mensos Salim Segaf Al Jufrie, Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Linda Amaliasari Gumelar, Kepala BKKB Nasional Sugiri Syarif serta sejumlah gubernur di Indonesia. Selain Ketua TP PKK Hj Anita Amri Tambunan, turut hadir pada puncak Harganas dan BBGRM tingkat Nasional itu, kelompok pria sejati Kenangan Percut Sei Tuan karena telah ditetapkan sebagai kelompok terbaik nasional wilayah luar Jawa dan Bali I. Kepala Badan Keluarga Berencana dan Pemberdayaan Perempuan Deliserdang Dr Rita Aswati Dahlan MARS, yang mendampingi Ketua TP PKK Ny Anita Amri Tambunan saat dihubungi melalui telepon selularnya mengatakan, Wakil Presiden RI Boediono dalam sambutannya mengajak masyarakat agar menjalankan perencanaan keluarga yang sehat dengan penuh kesadaran. “Karena kesadaran itu adalah cara terbaik untuk menyejahterakan keluarga yang pada akhirnya akan menyejahterakan masyarakat dan bangsa,” ujar Dr Rita mengutip pidato Wapres. (R David Sagala)

Pejabat Kemendiknas Pada Ngumpet

Wartawan Dipingpong, Ada Apa Dengan DAK
JAKARTA, Medikom-Ada apa dengan Dana Alokasi Khusus (DAK) Bidang Pendidikan Tahun 2010 di Kementerian Pendidikan Nasional. Pasalnya, saat akan dikonfirmasi masalah DAK, wartawan Medikom dipingpong oleh salah satu pejabat di Kementerian Pendidikan Nasional. Bahkan bukan pejabat saja, malah satuan pengamanan (satpam) di Kementerian Pendidikan Nasional pun ikut memingpong wartawan Medikom. Saat tiba di Gedung C lantai empat, wartawan Medikom akan menemui Kepala Bidang (Kabid) Hubungan Masyarakat (Humas) Kementerian Pendidikan Nasional, Drs Setiono MSi. Tiba-tiba salah satu satpam menghampiri dan mengatakan, “Kalau akan konfirmasi masalah ini (DAK-9 tahun, red) di Gedung E lantai tujuh belas”. Saat tiba di lantai 17, ada salah satu pejabat Kementerian Pendidikan Nasional mengatakan, kalau untuk enam tahun (sekolah dasar/SD, red) itu sudah berjalan empat tahun. Tapi kalau untuk program sembilan tahun, baru akan berjalan. “Tapi bukan di sini, coba Anda ke lantai 15,” katanya. Setiba di lantai tersebut pejabat tidak ada di tempat.

Ketua DPD PDIP DKI, H Sayogo Hendrosubroto SIp:

Lomba Karya Tulis Wartawan Juga Akan Diikutsertakan
JAKARTA, Medikom-Selalu meriah dan merah. Itulah lomba karya tulis yang diadakan Dewan Pimpinan Daerah (DPD) Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDI Perjuangan) Provinsi DKI Jakarta baru-baru ini. Selama DPD PDI Perjuangan Provinsi DKI Jakarta dipimpin H Sayogo Hendrosubroto SIp lomba karya tulis tersebut benarbenar sangat meriah. Bahkan lomba karya tulis tersebut dihadiri dari berbagai pelosok penjuru Provinsi DKI Jakarta. Lomba karya tulis tersebut dibuka oleh Ketua DPD PDI Perjuangan Provinsi DKI Jakarta, H Sayogo Hendrosubroto SIp, Ketua Bidang Perempuan dan Anak Dewan Pimpinan Pusat (DPP) PDI Perjuangan Irianti Sukamdani dan dihadiri oleh sejumlah lembaga swadaya masyarakat (LSM) serta ormasormas perempuan se-DKI Jakarta. Ketua DPD PDI Perjuangan Provinsi DKI Jakarta, H Sayogo Hendrosubroto SIp mengatakan, lomba karya tulis yang diselenggarakan PDI Perjuangan juga akan mengikutsertakan enam wartawan dengan hadiah sebesar Rp5 juta. Hal tersebut dikatakan H Sayogo Hendrosubroto SIp di ruang kerjanya di Gedung Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Provinsi DKI Jakarta, Jalan Kebon Sirih, Jakarta Pusat. Di tengah-tengah kesibukkan/ keramaian lomba karya tulis, salah satu masyarakat DKI Jakarta mengatakan, H Sayogo Hendrosubroto SIp, benar-benar figur yang sangat dekat dengan wong cilik dan sangat loyal terhadap partai. “Saya yakin, PDI Perjuangan DKI Jakarta akan meraih kembali kejayaan dan memenangkan pemilihan umum (pemilu) pada tahun 2014, jika Ketua DPD PDI Perjuangan Provinsi DKI Jakarta, H Sayogo Hendrosubroto SIp,” papar Dahlan Suwardi. “Jadikan deritaku ini sebagai kesaksian, bahwa kekuasaan seorang presiden sekalipun ada batasnya. Karena kekuasaan yang langgeng hanyalah kekuasaan rakyat. Dan di atas segalanya adalah kekuasaan Tuhan Yang Maha Esa.” (Soekarno) “Apakah kelemahan kita: Kelemahan kita ialah, kita kurang percaya diri kita sebagai bangsa, sehingga kita menjadi bangsa penjiplak luar negeri, kurang mempercayai satu sama lain, padahal kita ini asalnya adalah Rakyat Gotong Royong” (Pidato HUT Proklamasi 1966 Bung Karno). “Berikan aku 1.000 orang tua, niscaya akan kucabut Semeru dari akarnya. Berikan aku 1 pemuda, niscaya akan kuguncangkan dunia”. (Bung Karno) “Apabila di dalam diri seseorang masih ada rasa malu dan takut untuk berbuat suatu kebaikan, maka jaminan bagi orang tersebut adalah tidak akan bertemunya ia dengan kemajuan selangkah pun”. (Bung Karno) “Aku lebih suka lukisan Samodra yang bergelombangnya memukul, mengebu-gebu, dari pada lukisan sawah yang adem ayem tentrem, “Kadyo siniram wayu sewindu lawase” (Pidato HUT Proklamasi 1964 Bung Karno). “Itulah beberapa contoh karyakarya Presiden RI Pertama, Ir Soekarno, tujuannya agar rakyat Indonesia atau masyarakat, mahasiswa, dan pelajar mengingat, mengenang,” ujar H Sayogo Hendrosubroto SIp (slamet supriyadi)

Jembatan Kali Cihoe Ridomanah Diperbaiki

Warga Meminta Posisinya Dinaikkan
BEKASI, Medikom–Jembatan kali Cihoe di Desa Ridomanah, Kecamatan Cibarusah, Kabupaten Bekasi, yang sudah lama rusak, kini mulai diperbaiki menggunakan dana APBD Kabupaten Bekasi tahun 2010. Proyek di Dinas Bina Marga tersebut dikerjakan oleh satu perusahaan. Hingga Jumat (23/7) kemarin, menurut pekerjanya, pelaksanaan pekerjaan sudah berjalan lima hari. Jembatan kali Cihoe di Kampung Gamblok Desa Ridomanah dapat menghubungkan antara Kecamatan Cibarusah dan Bojongmangu. Sehari-harinya jembatan tersebut dilalui para pejalan kaki maupun pengendara sepeda motor. Bagi masyarakat yang sebagian besarnya petani, jembatan kali Cihoe sangatlah berarti. Bahkan bagi warga di Kampung Gamblok, jembatan itulah satu-satunya andalan untuk bisa sampai ke tempat mereka melakukan aktivitasnya sehari-hari. Karena itu warga sangat berterima kasih atas adanya pembangunan jembatan kali Cihoe sekarang ini. Rasa syukur dan terima kasih terutama kepada Dinas Bina Marga Kabupaten Bekasi. Namun, warga juga meminta agar posisi awal yang sebelumnya dinilai kurang tinggi, ditambah ketinggiannya dari posisi semula. Alasannya, jika air kali Cihoe meluap, jembatan tersebut tidak terendam banjir. Pantauan Medikom di lokasi proyek pembangunan jembatan kali Cihoe, Jumat (23/7), belum terlihat adanya papan proyek yang dipasang. Padahal proyek sudah dikerjakan selama lima hari. Para pekerja hanya mengganti sebagian besi yang sudah rusak, sedang sebagian lagi besi yang lama, ada yang tidak diganti. Perbaikan masih terus dikerjakan, sebagian besinya disambung dengan cara dilas, sedangkan alas jembatan masih menggunakan bambu. Alas jembatan nantinya akan diganti dengan papan, panjang jembatan 30 meter. Saat di konfirmasi Medikom melalui telepon selulernya, Kasi Pembangunan dan Pemeliharaan Jembatan Dinas Bina Marga Kabupaten Bekasi, Agus mengatakan, proyek jembatan kali Cihoe menelan anggaran kurang-lebih Rp194 juta. Pelaksana ialah CV Kencana Bergema Luas. Ditanya tentang papan proyek yang belum dipasang, Agus singkat, “Nanti papan proyek pasti akan dipasang olek kontraktor.” (Ign/Stef)

Hari Jadi DS Ke-64 , Pengusaha Peduli Pembangunan Dapat Penghargaan
PERCUT SEI TUAN, Medikom– Perayaan Hari Jadi Kabupaten Deliserdang ke-64, berlangsung penuh kegembiraan dan kebersamaan. Kegiatan pun diwarnai dengan penyerahan penghargaan dan cendramata secara simbolis kepada pengusaha yang berpartisipasi dalam percepatan pembangunan Deliserdang, Minggu malam (18/ 7) di kompleks Mutiara Residence Jalan Pancing Percut Sei Tuan. Pada penyerahan penghargaan oleh Bupati Deli Serdang Drs H Amri Tambunan dihadiri Wakil Bupati H Zainuddin Mars, Ketua DPRD Hj Fatmawati Takhrim beserta unsur muspida, Wakil Ketua PKK Ny Asdiana Zainuddin, para SKPD dan camat se-jajaran Pemkab Deliserdang. Pengusaha yang peduli pada percepatan berbagai pembangunan Deliserdang itu di antaranya H Anif dan Mujianto pimpinan Perumahan Cemara Asri Percut Sei Tuan, Charles Susanto pimpinan KIM Star, Marihot Nainggolan Pimpinan Mutiara Residence, Gani Pimpinan PT Damai Abadi Sunggal, Alwijaya AW Pimpinan Warehouse MMTC Percut Seituan, Drs Johannes Sembiring Ketua Yayasan Medistra Lubuk Pakam, Ir Amri Siregar Direktur PT PN III Persero, Ir Roy Ardian Darwis PT Jasa Marga Persero Belmera. Kemudian H Datuk Selamat Ferry Direktur CV Mencirim Indah Sunggal, Benychong Presdir PT PP Lonsum Tbk, Rusli Ali Pimpinan Green Hill City Sibolangit, Ir Awang Christopo Dirut PT Indo Palapa, H Kamaluddin Lubis SH Ketua Gerakan Anti Narkoba (GAN) Indonesia Sibolangit, H Razali Husein SE Pimpinan PT Citra Teknik Mandiri Sunggal, Budi Chandra Pimpinan Lions Club Tamora Prima, Ir Joefli J Bahroeny MM Ketua Umum Yayasan Wisma Anak Korban Bencana Alam NAD dan Sumut dan PT Sari Incofood. Bupati Deliserdang Drs H Amri Tambunan pada perayaan menyampaikan rasa bangga dan terimakasih kepada jajaran pengusaha yang telah menunjukkan rasa kebersamaan dan ikatan kekeluargaan yang begitu indah. Selama ini mereka telah memberikan kontribusi berarti bagi terlaksananya berbagai kegiatan pembangunan di daerah ini. Di sisi lain melalui potensi daerah yang tersedia akan memberi peluang bagi berkembangnya sektor pembangunan di Kabupaten Deliderdang seperti potensi sektor pariwisata, sektor ekonomi dan lainnya diharapkan akan membawa dampak yang lebih baik di daerah ini. Mewakili jajaran pengusaha H Anif menyampaikan terimakasih kepada Pemkab Deliserdang yang telah menunjukkan perhatian kepada pengusaha sehingga dapat memberi peluang dan harapan bagi perkembangan dunia usaha di daerah ini. Ia berharap agar para investor tidak ragu-ragu untuk mengembangkan usahanya, dan menyatakan jajaran pengusaha akan terus mendukung pembangunan Deliserdang ke depan. (R David Sagala) Ket Foto: Bupati Deliserdang Drs H Amri Tambunan memberikan penghargaan secara simbolis kepada para pengusaha yang banyak berpartisipasi dalam pembangunan Deliserdang, di antaranya H Anif, pada acara perayaan Hari Jadi Ke-

Dana Talangan Merupakan Usulan pada PAPBD Sumut
MEDAN, Medikom–Dana talangan sebesar Rp3,5 miliar yang diucapkan H Syamsul Arifin ketika berkunjung ke RS Pirngadi Medan merupakan bagian dari usulan ke PAPBD tahun 2010. Sebab dana APBD sebesar Rp7,1 miliar bulan Mei lalu sudah habis terpakai untuk warga miskin di Sumut. Demikian dikatakan Kepala Dinas Kesehatan Sumatera Utara Dr Candra Syafii kepada wartawan belum lama ini di Medan. Menurutnya, dana sebesar Rp3,5 M sebenarnya tidak cukup bila dilihat dari kebutuhan warga yang menggunakan surat miskin. Mestinya, dana tersebut lebih besar lagi, paling tidak Rp7 M lagi dicantumkan pada PAPBD tahun 2010. “Data warga miskin di Sumut yang diberikan BPS sebesar 1,6 juta, padahal sampai bulan Mei tahun 2010 terkaver warga miskin mencapai 3,2 juta. Jadi wajar saja dana sebesar Rp7,1 M itu sudah habis terpakai,” kata Candra. Salah seorang staf pada Dinas Kesehatan Sumut menyebutkan, bila kondisi warga miskin bertambah setiap tahun di luar petunjuk BPS, maka anggaran tahun 2011 seharusnya diajukan Rp20 miliar. Kalaupun kurang, ditinjau kembali pada PAPBD berikutnya. “Data warga miskin yang dikeluarkan kelurahan tentu tidak mungkin ditolak, persoalannya tergantung anggaran,” katanya. Secara terpisah Wakil Ketua Fraksi PPP DPRD Sumut H Achmad Hosen Hutagalung belum lama ini mengatakan, setuju atas diusulkanya penambahan anggaran pada APBD Sumut tahun 2010 bagi warga miskin yang akan berobat di RS Pirngadi Medan. Alasannya, warga Sumatera Utara yang menggunakan surat miskin untuk berobat ke RS Pirngadi Medan semakin bertambah. Untuk itu, Dinas Kesehatan Sumut harus mengajukan anggaran sebesar Rp20 miliar lebih/tahun. “Artinya, usulan sebesar Rp3,5 miliar pada PAPBD nanti harus ditambah, kalau kita sepakat mewujudkan program Gubsu ‘Rakyat Jangan Sakit’,” kata Achmad Hosen. (SS)

Edisi 379 Tahun VII 26 Juli s.d. 1 Agustus 2010

11

PNPM Mandiri Perdesaan Menggerakkan Ekonomi Lokal dan Daya Beli
BANDUNG, Medikom–Penilaian unit pengelola kegiatan (UPK) bertujuan untuk mengetahui perjalanan UPK itu sendiri di kecamatan, dalam rangka mengendalikan kegiatan pengelolaan keuangan dan pengelolaan pinjaman dana bergulir maupun mengelola keuangan yang berkaitan dengan jalannya program. Penilaian tersebut merupakan akuntabilitas kinerja, yang mengandung perwujudan kewajiban untuk mempertanggungjawabkan keberhasilan maupun kegagalan pelaksanaan program dalam mencapai tujuan dan sasaran dengan target pencapaian UPK yang sehat di tingkat kecamatan, kabupaten dan provinsi yang akhirnya tingkat nasional. Demikian diungkapkan Kepala Badan Pemberdayaan Masyarakat dan Pemerintah Desa (BPMPD) Jabar Dr Ir H Dadang Mohammad MSCE, pada acara Lomba Unit Pengelola Kegiatan (UPK) Tahun 2010, belum lama ini, di Bandung. Dikatakan, kelembagaan UPK tersebut akan menjadi strategis sebagai upaya untuk melestarikan hasil-hasil dalam program PNPM-MP dan diharapkan menjamin keberlanjutan pembangunan partisipatif yang terintegrasi dengan pola pembangunan daerah. Dengan demikian, lanjut Dadang, program penanggulangan kemiskinan dan Strategi Nasional Penanggulangan Kemiskinan (SNPK) merupakan pengintegrasian antara kebijakan pusat dan daerah yang perlu dilaksanakan dalam program nasional pemberdayaan seseorang atau sekelompok orang berupa pangan, pekerjaan, pendidikan, kesehatan, tanah, perumahan, air minum dan sanitasi. Dari tahun ke tahun PNPM dirancang menjadi sebuah skenario alih kelola program pemerintah kepada pemerintah daerah. Berbagai pertanyaan kritis berkenaan dengan pelaksanaan program PNPM. Yang mengemuka adalah sepertinya menjadi bahan renungan sekaligus masukan bagi upaya perbaikan di masa yang akan datang. Bagaimanakah jalannya proses transisi pengelolaan PNPM dari pemerintah ke pemerintah daerah? Sejauhmana peran para stakeholder (pemerintah, pemerintah daerah dan masyarakat) dalam pelaksanaan PPK? Sejauhmana tahapan institusionalisasi telah dilaksakan untuk melembagakan PNPM sebagai model pembangunan partisipatif yang terintegrasi dengan pola pembangunan daerah? Serta ada jaminan berkelanjutan PNPM sebagai model pembangunan partisipatif di masa yang akan datang oleh pemerintahan daerah secara mandiri. Adapun peranan para pelaku PNPM Mandiri Perdesaan, yaitu pertama, UPK berada pada tingkat kecamatan, menjalankan tugas pengelolaan dana program termasuk pergulirannya. Kedua, kader pemberdayaan masyarakat desa (KPMD), berada di tingkat desa, menjalankan tugas memfasilitasi atau memandu masyarakat dalam mengikuti atau melaksanakan tahapan PNPM Mandiri Perdesaan pada kelompok masyarakat dari tahap perencanaan, pelaksanaan sampai pemeliharaan. Dan ketiga, tim pemeliharaan (TP), berperan menjalankan fungsi pemeliharaan terhadap hasil-hasil yang ada di desa. Keberhasilan pelaksanaan PNPM Mandiri Perdesaan tidak terlepas dari peranan para pelaku PNPM Mandiri Perdesaan di seluruh tingkatan mulai dari tingkat desa sampai tingkat pusat. Di samping hal-hal tersebut, kita juga perlu mengevaluasi secara teknis pelaksanaan PNPM, apa saja masalah-masalah yang dihadapi di lapangan dan langkah-langkah perbaikan apa yang telah dilakukan meliputi aspek kelembagaan, aspek keuangan, aspek pengelolaan peminjaman, aspek sarana dan prasarana, sejauhmana kita telah menepati rencana kerja tindak lanjut (RKTL) yang telah dibuat baik dari sisi substansi kegiatan maupun waktu. Dadang menambahkan, kita menyadari bahwa PNPM tidak saja telah menghasilkan aset-aset fisik maupun dana bergulir yang berpotensi menggerakkan ekonomi lokal untuk meningkatkan daya beli masyarakat, namun juga telah menjadi media belajar bagi masyarakat maupun pemerintah daerah dalam melaksanakan pembangunan partisipatif. Melalui PNPM masyarakat menjadi terbiasa untuk menemukenali kebutuhan dan menyampaikan gagasan dalam perencanaan pembangunan. Melaksanakannya dengan semangat keswadayaan, berpartisipasi dalam pengawasan, serta mengevaluasi pelaksanaan program. Melalui mekanisme PNPM ini pula masyarakat memupuk modal sosial untuk saling percaya dan merevitalisasi nilai kegotongroyongan dalam membangun desanya. Namun demikian, kitapun menyadari bahwa upayaupaya yang sudah dilakukan untuk menjaga kelestarian dan keberlanjutan PNPM masih jauh dari kesempurnaan. Adapun prinsip yang dianut dalam pelaksanaan PNPM adalah, pertama, keberpihakan kepada orang miskin dalam setiap tahapan kegiatan termasuk diutamakan kepada orang miskin. Kedua, transparansi, masyarakat harus tahu, memahami dan mengerti adanya kegiatan ini serta memiliki kebebasan dalam melakukan pengendalian secara mandiri. Ketiga, partisipasi, masyarakat berperan secara aktif dalam setiap tahapan kegiatan mulai dari perencanaan, pelaksanaan, pengendalian, pengawasan dan pelestariannya. Keempat, kompetensi sehat, memilih sesuatu yang menjadi prioritas, setiap pengambilan keputusan di desa maupun antardesa dilakukan secara musyawarah berdasarkan pada prioritas kebutuhan nyata. Kelima, desentralisasi, masyarakat memiliki kewenangan dan tanggung jawab yang luas untuk mengelola kegiatan secara mandiri dan partisipasi tanpa intervensi negatif dari luar. Keenam, akuntabilitasi, setiap pengelolaan kegiatan harus dapat dipertanggungjawabkan kepada masyarakat dan pihak yang berkompeten. Ketujuh, keberlanjutan, dalam setiap pengambilan keputusan atau tindakan pembangunan harus selalu mempertimbangkan sistem pelestariannya. (Laures)

Kepala Dusun Sukamaju Terpilih Dilantik
CIAMIS, Medikom-Pemilihan Kepala Dusun Sukamaju, Desa Kutawaringin, Kecamatan Purwadadi, Kabupaten Ciamis, telah dilaksanakan Selasa (13/7) lalu. Aceng Margono, calon kadus tunggal dinyatakan menang telak dengan perolehan suara 263 suara sah, 33 suara bumbung kosong, 10 suara tidak sah, dan 2 blanko. Sedangkan daftar pemilih tetap ialah 308, terdiri dari pemilih laki-laki 137, dan perempuan 172. Dengan perolehan suara tersebut Aceng Margono kini resmi menjadi kadus definitif. Hari Rabu (21/7) tepat pukul 10.00 WIB, resmi diambil sumpah jabatan dan dilakukan pelantikan oleh Kepala Desa Kutawaringin, Kartim, dengan disaksikan oleh Camat Purwadadi Abing Rubiana SIP, Kasi Pemerintahan Kecamatan Purwadadi Irfan, Ketua dan anggota BPD, para tokoh masyarakat dan pemuda. Hadir pula Danposramil Wilayah Purwadadi Kasimun, para mahasiswa Universitas Galuh (Unigal) yang saat ini melaksanakan kuliah kerja nyata (KKN) di Desa Kutawaringin. Selesai pengambilan sumpah jabatan dan pelantikan, mantan Kadus Sukamaju Marno, menyampaikan ucapan selamat atas terpilihnya Aceng Margono sebagai kepala dusun pengganti dirinya. Kepala Desa Kutawaringin Kartim, dalam sambutannya tak lupa mengucapkan banyak terima kasih kepada para Panitia Pancalakdus yang diketuai Agus, Ketua LPM Desa Kutawaringin dan para mahasiswa Unigal yang telah membantu pelaksanaan pilkadus hingga berjalan sukses. Pelaksanaan pilkadus ini juga membanggakan Camat Purwadadi Abing Rubiana SIP, karena atas kerja keras segenap panitia, para mahasiswa serta dukungan masyarakat, hasilnya telah terwujud demokrasi. Ia pun memberikan wejangan-wejangan kepada Kepala Dusun Sukamaju terpilih. (Herman)

Target Kenaikan Produksi Padi Menurun ....................................................Hal 1
obat pembasmi yang disemprotkan akan hilang terbawa air. Karena itu, selain karena anomali iklim, dukungan sumber daya manusia serta prasarana pengendalian pun harus lengkap untuk pengendalian OPT,” terang Idi. Ia mengungkapkan, luas areal pertanian yang terserang OPT seluas 1.944 hektare dari 51.000 hektare, terdiri dari serangan hama serangga seluas 353 hektare, hama penggerek seluas 355 hektare, hama penggerek cokelat seluas 710 hektare, dan hama bacterial leaft bligh (BLB) seluas 525 hektare. Intensitas hanya mencapai 25,24% hingga 15 Juli 2010. “Anomali iklim menjadi faktor utama penurunan kenaikan produksi GKG. Ketidakpastian iklim ini pun membuat para petani bingung setelah panen pada musim tanam kedua,” kata Idi. Meski demikian, Idi menyarankan kepada para petani yang berada di sekitar irigasi agar melakukan penanaman padi kembali. Sebaliknya, petani yang jauh dari irigasi diharapkan tidak menanam padi setelah panen pada tanaman kedua. “Kami diminta penjelasan dari para petani perihal pascapanen musim tanam kedua, apakah akan bercocok tanam atau tidak? Kami memberitahukan agar lahan pertanian yang dekat dengan irigasi menanam kembali pada musim tanam ketiga dan lahan yang jauh dari irigasi tidak perlu menanam padi untuk ketiga kalinya,” tegas Idi. (Jur)

Nasabah Keluhkan Bank Jabar Banten .........................................................Hal 1
informasi mengenai jumlah nasabah dari PNS yang telah menjadi nasabah Bank Jabar, karena tugas saya di sini hanya melayani nasabah, pun sebenarnya di bagian ini bukanlah saya,” jelas Dina. Adapun petugas di sini, ditambahkan Dina, yakni Yuli Kuswati Bagian Analis Kredit Guna Bhakti (KGB) yang saat ini sedang sakit, dan untuk sementara Dina menjadi penggantinya,” tambah Dina. Ketua Subang Government Wacth (SGW) Subang, Edi Sableng, mengatakan Bank Jabar pada tahun 2006 telah mengatongi sekitar 15.000 nasabah dari PNS yang bertugas di berbagai dinas, namun yang terbesar yang menjadi nasabah Bank Jabar adalah PNS guru. Jika demikian, Bank Jabar terkesan menyerap modal dari nasabahnya apabila adanya pemberlakuan simpanan wajib. “Kita hitung saja, apabila di Bank Jabar ada nasabah sekitar 15.000 nasabah diminimalisir simpanan wajibnya Rp1 juta saja, Bank Jabar mengantongi modal sekitar Rp15 miliar, dan dengan uang sebesar itu bisa dijadikan tambahan modal atau sama dengan Bank Jabar meminta modal ke nasabah untuk digulirkan ” ucap Edi. (One)

Biaya Pilkada Selangit, Hasilnya Jeblog .......................................................Hal 1
Dosen FISIP Universitas Padjadjaran Bandung. Tapi menurut Dede, mahalnya biaya pemilukada tidak terlepas dari proses politik untuk mendapatkan kendaraan partai politik atau dukungan persyaratan calon melalui jalur independen. Tahapan untuk ditetapkan sebagai calon dan persaingan dalam pemilukada dengan jumlah tahapan hingga ditetapkan pemenang dalam satu putaran atau harus melalui dua putaran. Semua ini membutuhkan dana yang cukup besar. Tetapi apapun alasannya, pemilu nasional maupun pemilu lokal tetaplah harus dipilih langsung sesuai semangat demokrasi. Masalahnya, kata Dede, yang perlu dipikirkan kini bagaimana sistem dibangun agar biaya besar ini bisa dieliminir sedemikian rupa. Hal lain yang perlu diperhatikan menyangkut transparansi sumber dana yang diperoleh calon. Harus diaudit independen terlebih dahulu, terutama menyangkut penggunaan alokasinya sehingga tidak menjadi masalah di awal. Karena persoalan ini bisa menjadi masalah lanjutan termasuk penyalahgunaan kewenangan yang dimiliki ketika terpilih sehingga terjadi praktik korupsi saat menjalankan roda pemerintahan. “Kalau hendak memangkas biaya pemilukada secara sistem bisa melalui perubahan perundangundangan sehingga tidak terlalu panjang prosesnya dan calon yang diusung parpol betul-betul punya integritas, kredibilitas dan bukan menjadikan kekuasaan untuk lahan korupsi,” kata Dede. Karena itu kos politik haruslah transparan dan bukan sarana korupsi atau pencucian uang. Sehingga, tambah Dede, pengawasan dan audit harus dilakukan. Pada sisi lain rakyat juga dituntut harus kritis dan tidak terbawa dalam alur money politics dalam menentukan pemimpinnya. Sehingga bisa menentukan siapa sesungguhnya pemimpin daerah yang bersih, yang memiliki integritas dan dapat membawa arus perubahan daerah ke arah yang lebih baik. Fenomena mahalnya pelaksanaan pemilukada juga mendapat perhatian Wakil Ketua Komisi Pemilihan Umum (KPU) periode 2004-2009 Prof Dr Ramlan Surbakti. Menurutnya, biaya pemilukada mahal tidak bisa menjadi alasan untuk mengubah instrumen perundang-undangan agar kembali kepada pemilihan tidak langsung. Tetapi bagaimana secara sistem pemilukada dikelola efektif dan efisien. Pemilukada lokal dan nasional bisa dikaji dan dipertimbangkan untuk dicari solusinya agar ditemukan penurunan biaya pemilukada murah dan para calon tidak harus menyediakan dana yang terlalu besar sebagai dana politik untuk bisa diusung parpol maupun melalui jalur independen. “Secara sistem tahapan pilkada, prosedurnya harus lebih disederhanakan dengan memanfaatkan teknologi agar pemaparan program kandidat bisa diketahui dengan tepat oleh publik,” kata Surbakti. Surbakti yang juga Dosen FISIP Unair melihat sistem pemilihan dengan elektronik sudah harus dipersiapkan, supaya anggaran negara lebih hemat dan para calon bisa mengawasi proses penghitungan suara. Hal itu juga bisa mengurangi sengketa. Menyinggung adanya wacana agar gubernur dipilih melalui DPRD, Surbakti tidak setuju. Sebab menurutnya, gubernur yang dipilih secara langsung haruslah ditempatkan satu sisi sebagai wakil dan perangkat pemerintah pusat di daerah. Dan di sisi lain menjadi kepala daerah provinsi yang mengelola dan memimpin kepala daerah di provinsi itu. Sementara itu, Menteri Dalam Negeri (Mendagri) Gamawan Fauzi mengaku heran, banyak orang yang ingin menjadi gubernur, bupati dan wali kota. Padahal, gaji resmi seorang kepala daerah hanya sekitar delapan juta rupiah per bulan. “Ini mungkin perlu penelitian, mengapa banyak (orang) yang mau menjadi kepala daerah. Padahal, untuk maju ikut pilkada itu butuh dana hingga belasan bahkan puluhan miliar rupiah. Sementara gaji seorang kepala daerah itu tidak terlalu besar,” ujar Mendagri kepada wartawan, di Gedung Kemendagri, Jakarta, beberapa waktu lalu. Sebelumnya, Mendagri diminta komentarnya soal pernyataan sejumlah pihak yang menilai biaya pelaksanaan pemilukada di Indonesia sangat mahal serta begitu banyaknya kepala daerah yang diduga tersangkut kasus korupsi. Mendagri menjelaskan, untuk maju menjadi calon bupati dan wali kota diperlukan dana setidaknya sekitar 20 miliar rupiah. Sementara seorang calon gubernur, diperkirakan perlu dana minimal 50 miliar rupiah yang sebagian besar dihabiskan untuk dana kampanye pemilukada. Mendagri mencontohkan, sewaktu menjabat Bupati Solok, memperoleh gaji sekitar 6,2 juta rupiah per bulan. Sementara saat menjabat Gubernur Sumatera Barat, gaji yang diperolehnya kirakira 8,7 juta rupiah per bulan. “Taruhlah kalau sudah diterapkan sistem single salary (gaji tunggal tanpa honor-Red), seorang kepala daerah gajinya 10 juta rupiah per bulan. Kalau setahun artinya dia mendapatkan 120 juta rupiah dan selama lima tahun menjabat, total dia mendapatkan gaji 600 juta rupiah. Jumlah ini masih terlalu kecil dengan dana kampanye pemilukada yang harus dia keluarkan hingga belasan bahkan puluhan miliar rupiah. Tapi, mengapa kok masih banyak orang yang mau ikut maju dalam pemilukada,” katanya lagi. Namun, Mendagri sendiri tidak menjelaskan berapa banyak dana yang dihabiskannya untuk ikut pemilukada Bupati Solok dan Gubernur Sumbar. Melihat kenyataan inilah, menurut Mendagri, kemudian muncul tudingan di masyarakat, seorang kepala daerah yang telah terpilih dengan berbagai macam cara—-termasuk melakukan praktik korupsi—-berupaya mengembalikan dana yang telah dikeluarkannya sewaktu ikut pemilukada. “Hingga saat ini, Presiden sudah menandatangani surat izin pemeriksaan untuk sekitar 130 kepala daerah. Itu jumlah yang sangat besar,” ujar Gamawan Fauzi. Hampir seluruhnya, kata Mendagri, izin pemeriksaan itu diajukan untuk kasus korupsi. “Patut dicurigai, kepala daerah itu terlibat praktik korupsi karena biaya pilkada yang tinggi sementara gaji resmi yang didapatnya tidak mungkin untuk menutupi biaya pengeluaran semasa ikut pilkada,” tuturnya lagi. Dalam kesempatan itu, Mendagri juga menjelaskan, sebanyak 244 kepala daerah (gubernur, bupati dan wali kota) yang terpilih dalam pilkada 2010 akan diwajibkan untuk mengikuti semacam pelatihan atau orientasi mengenai penyelenggaraan pemerintahan. Kegiatan ini berlangsung karena tidak semua kepala daerah yang terpilih memiliki latar belakang pengetahuan dan pengalaman di bidang penyelenggaraan pemerintahan daerah. “Kepala daerah yang terpilih itu meskipun dulunya orang populer atau tokoh terkenal, tapi belum tentu punya pengalaman di bidang pemerintahan. Karena itu, mereka perlu diberi pengetahuan dan pemahaman di bidang pemerintahan daerah. Kegiatannya berlangsung di Jakarta dan sepenuhnya dibiayai APBN,” tuturnya. Dalam catatan Medikom, pada tahun ini pemerintah akan melaksanakan pemilukada di 244 daerah di Indonesia, meliputi tujuh pemilihan gubernur, 35 pemilihan wali kota, dan 202 pemilihan bupati. Biaya penyelenggaraan pemilihan kepala daerah 2010 sebagaimana diungkapkan oleh Timbul Pudjianto, Direktur Jenderal Bina Administrasi Keuangan Daerah, Kementerian Dalam Negeri, kepada wartawan beberapa waktu lalu adalah mencapai Rp3,54 triliun. Biaya ini jauh lebih besar daripada pemilu legislatif dan pemilihan presiden tahun lalu yang berkisar di angka Rp2 triliun. ***

Proyek Saluran Irigasi Rawa Onom Diduga Bermasalah ...........................................Hal 1
keuangan negara,” jelas Aef Saefudin yang menyandang gelar magister hukum ini, menyindir hasil pekerjaan yang dilakukan CV Purna Bakti tersebut. Saat ditemui wartawan secara terpisah, Tarsuci selaku Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) Irigasi, Balai Besar Wilayah Sungai Citanduy (BBWS), di ruang kerjanya, mengatakan, pekerjaan irigasi Rawa Onom dilaksanakan oleh CV Purna Bakti dengan nilai kontrak sekitar Rp600 juta dari dana yang dibiayai APBN. Pekerjaannya meliputi galian tanah atau normalisasi saluran dan pasangan tembok pada saluran dengan posisi miring. “Bentuk pasangan miring dengan ukuran tinggi 100 cm ditambah pondasi 30 cm, lebar atas pelesteran 30 cm, dan lebar bawah pondasi 40 cm,” jelas Tarsuci. Menanggapi jika disebut ada temuan dengan indikasi ada pengurangan volume, dirinya akan mengambil sikap setelah menghitung ulang volume yang terpasang. “Saya tidak mau mengambil resiko untuk membongkar proyek tersebut. Pasalnya, tidak mau ganti rugi atas dibongkarnya proyek itu, dan saya percaya proyek itu dikerjakan sesuai bestek,” ujarnya. (H/Pan)

Serangan Wereng Coklat Merebak ............................................................Hal 1
Dikatakan serangan hama wereng saat ini cukup luar biasa, sekalipun untuk di wilayah Kecamatan Lelea tidak separah seperti kecamatan-kecamatan yang lain. Hanya saja menurut dia, kekhawatiran itu tetap saja ada, apalagi untuk biaya tanam ini, obatobatnnya dapat ngebon dulu di kios. “Sehingga kalau tidak bisa panen, maka kita juga tidak bisa bayar utang di kios tani tersebut,” ujarnya seraya meminta kepada Dinas Pertanian setempat untuk lebih perhatian lagi terhadap para petani terutama pada saat musim tanam. Jangan turun ke lapangan hanya pada saat serangan hama sudah parah. Hal yang sama dikatakan Jayadi (45), petani asal Desa Cikedung Lor, Kecamatan Cikedung. Menurutnya cuaca yang tidak menentu, menjadikan serangan hama wereng begitu cepat. Bahkan wilayah Cikedung ini termasuk yang parah. “Untuk mengantisipasi serangan yang lebih parah lagi, terpaksa saya melakukan panen lebih awal. Terus terang saya sudah berkali-kali melakukan penyemprotan tetapi hasilnya tetap saja serangan wereng semakin banyak. Daripada tidak ada hasilnya sama sekali, terpaksa kita lakukan lebih awal,” ujarnya. Dinas Pertanian setempat melalui Seksi Rehalintan mengakui intensitas serangan hama wereng pada lima kecamatan memang cukup mengkhawatirkan. Bahkan dari data yang didapat Medikom (16/7) dari Kasi Rehalintan Dinas Pertanian Kabupaten Indramayu Abdul Muin SP, kerusakan tenaman padi akibat serangan hama wereng batang coklat secara global mencapai 1.248 ha. Serangan BLB (kresek) secara global menyerang 949 ha. Sedangkan serangan hama tikus secara global telah merusak tana-man padi di Kabupaten Indramayu sebanyak 1.604 ha. (H Yonif)

Redaksi : Jalan Pratista Utara II No 12 Antapani Bandung Telp/Faks 022 7233856 Email : skmmedikom@yahoo.com Perusahaan : Jl. Peta No.149 A (Lingkar Selatan) Bandung Telp/Faks. 022 - 6001506
Diterbitkan : CV WIYATA PURNAKARYA. Berdasarkan UU No. 40/1999. Terdaftar pada Direktorat Merk Ditjen Hak & Kekayaan Intelektual Departemen Kehakiman dan HAM RI No. 556756/22 Desember 2003 Penasehat : Yodi Setiawan EDD, EDS Pendiri : LH Rahardja Pemimpin Perusahaan : HA Damini Wakil Pemimpin Perusahaan : Teddy Subarsyah SH SSos CN Dewan Redaksi : Yahya Siregar - HA Damini - Edie Nirwan S - HA Soleh Hidayat - H Rochadi Pemimpin Umum/Pemimpin Redaksi : Yahya Siregar Wakil Pemimpin Umum : Edie Nirwan S Wakil Pemimpin Redaksi : HA Soleh Hidayat Konsultan Hukum : Iwan Suwandhito SH - David Roesyidi Konsultan Kesehatan : dr Henry S Ibrahim - dr Isnindiary Sandra Dungga Manajer Keuangan : D Muliaman SE MBA Manajer Produksi : H Rochadi Manajer Iklan & Sirkulasi : Rudy Janto Soelaiman Litbang: Teddy Subarsyah SH SSos CN - Drs Heriyadi TS Redaktur Eksekutif : Dadan Supardan Redaktur Pelaksana : Hiskia Milala Redaktur Hukum : Sastrianta Sembiring Redaktur Politik: Drs A Basa MSc Redaktur Khusus : Bambang Wisono Staf Redaksi : Taryana SSos - Hary Buana - Nina Nurlinawati - Slamet Raharjo - Dudun Hamidullah - Desi Kurnia - Zulkifli SDP Lubis - Dudi Hendayat - Drs Eka Wirawan - Endang Kosasih - Kaka Suminta Koordinator Liputan/Wartawan : Kgs Dedi Iskandar Marketing : Edy Herwansyah Sekretaris Redaksi : Sulastiyah Desain Grafis : Hary Buana Sirkulasi : Sandi Lesmana Jaya - Angga Agus Junarsa - Nanang Johansyah Alamat Redaksi : Jalan Pratista Utara II No 12 Antapani Bandung Telp/Faks: 022 7233856 Perwakilan Jakarta : Jl Dr Muwardi I/37 Grogol Jakarta Barat Marketing Iklan : Jl Blitar No 13 Antapani Bandung 40291 Telp/Fax: (022) 7207988 Bank BNI 46 Cabang Kantor Unpad Bandung No Rek 6404937-3 a.n. Bpk Amin Damini H. Percetakan : CV WIYATA PURNAKARYA - Isi diluar tanggung jawab percetakan

Medikom Hadir di: Jl BKR depan Alifa, Jl BKR Depan PT INTI, Jl Peta Depan Tegalega, Jl Peta Depan RS Imanuel, Jl Peta Perempatan Jl Kopo, Jl Kopo Samping RS Imanuel, Jl Kopo Depan Alfamart, Jl Kopo Depan Bank BCA, Jl Astanaanyar, Jl Pasteur depan RSHS, Jl Pasteur Depan Yogya, Jl Pasteur samping Universitas PASIM, Jl Garuda Deket Lampu Merah, Jl Garuda, Jl Cihampelas Depan SDN Cihampelas 1,2, Jl Cihampelas Depan Pom Bensin,Jl Cihampelas Depan SMU Pasundan, Depan Alunalun, Jl Rajawali, Depan RS Rajawali, Terminal lewipanjang (dalam), Jl Terminal Leuwipanjang ( luar), Jl Tegalega Depan Museum Sri Baduga, Jl Buah Batu, Jl Buah Batu, Jl Gatot Subroto, Jl Gatot Subroto, Jl Kiaracondong, Jl Kiaracondong, Jl Soekarno Hatta, Jl Soekarno Hatta /Pasar Gede Bage, Jl Cipadung, Jl Raya Ujung Berung, Jl Raya Sumedang. Jl Padjadjaran (Depan Toko HWK), Jl Cihampelas (Depan STHB Bandung), Jl Cipaganti (Simpang Jl Dr Curie), Depan Jl Cipaganti No.37, Jl Sampurna (Depan Primajasatour), Jl Cipaganti (Depan Rumah-Praktek Prof Dr.Julianto W dan Dr Imelda A Widjojo SpPD), Jl Cipaganti (Depan Kantor Pos Cipaganti), Jl Cipaganti (Yayasan Bakti Sosial Santoso PSAA Santoso Cipaganti), Jl Setiabudhi (Depan Pizza Hut), Jl Ciumbuleuit (Depan Apotek Waringkas), Jl Ciumbuleuit (Depan Alfamart Ciumbuleuit), Jl Ciumbuleuit (Depan RSAU dr Salamun), Jl Siliwangi (Depan Siliwangi Billiards), Jl Ir H Juanda (Depan Dago Tea House), Jl Ir H Juanda Depan ITSB (Institute Tekhnologi dan Sains Bandung), Simpang Dago (Depan RM Pondok Kapau). WARTAWAN BANDUNG Kota : Mbayak Ginting - Iwan Herdiawan -Wulan- Yusuf Suryaman - Laures - Eva - Akbar Kab Bandung : Suhendar R Kab Bandung Barat : K fauzi R CIMAHI : Zaenal Abidin - Fredy HS DKI Jakarta : Slamet Supriyadi - Ahmad Taufik Nawawi TASIKMALAYA : Agus Cucu SB - Anwar SB, Lukman Nurhakim CIAMIS : Heru Pramono (Kabiro) Ipan Panuju Supriadi - Agus Supriyatman - Suherman BANJAR : Handri Martandangi CIREBON Kota : Yuyun W Kurnia BBA SE - Rudi Mulyana Kab : M Suratman - KUNINGAN : Yoyo Suhendar SUKABUMI : Anne Mustikasari - Ilham Septian B.W - Ariya Gumelar PURWAKARTA: CIANJUR : Asep Kurnia - Rizal BOGOR : M Yusuf - Eka Wirawan - A Gani DJ - Rangga Anggoro TR Putra - Edison Nizar Jt DEPOK: FR. Ambarita - Lucia S. Andreeni Perwakilan KARAWANG : Andi Nugroho BEKASI : Iwan Gunawan - Dedi Sukandi - Stefanus Lung, Agus Nuryadin MAJALENGKA: Isa Ansori P - Juremi - Tatang Sutaryat SUMEDANG : Aidin Sinaga INDRAMAYU : H. Yonif Fatkhurony SUBANG : Loy Slamet Supuwijara - Lodewyk Butar-butar - Asep Nasa PANTURA : Ridwan Abdullah GARUT : Engkus K - Yudi K - NIK NIK - AGUS TEGAL : Dodi Yahya PANDEGLANG : - KABUPATEN LEBAK : - TANGERANG: Agus Salim - H. Bainul Amin - H. Syaiful Perwakilan JAWA TIMUR : Drs Albert PS JL Jaga Raga No 18 Surabaya (Tlp: 031 3557655/08165430289) Perwakilan YOGYAKARTA : - Perwakilan LAMPUNG BARAT : Suhardin (Kabiro) - Joniyawan Sumatera Utara : (Ka Perwakilan)-Jonpery Sinulingga Medan : Syamsul - Maradona Deli Serdang : R David Sagala - Paulus Butar Butar, HILDE TIURMA TAMPUBOLON Simanlungun/Siantar: Sailan Tarigan Langkat/Kota Binje : Sagin, Hendra Sinaga, Rusmajam Kabupaten DAIRI : Amin Sitanggang

Edisi 379 Tahun VII 26 Juli s.d. 1 Agustus 2010

12

Direktur Komoditi Teh PTPN VIII, Agus Supriyadi (kiri) saat menerima Sertifikat UTZ untuk Kebun Dayeuhmanggung Garut dari Manager Solidaridad, Arjen Boekhold)

Sertifikat UTZ Angkat Harga Teh Rakyat dan PTPN VIII
GARUT, Medikom-Setelah bekerja keras selama kurang lebih 10 bulan, Kelompok Petani Teh Koperasi Putra Mekar dan Kebun Dayeuhmanggung PTPN VIII, Kecamatan Cilawu, Kabupaten Garut akhirnya memperoleh sertifikat UTZ dari Belanda. Sertifikat diserahkan Koordinator Standard dan Sertifikasi UTZ, Angela Tejada dan mitra bisnisnya dari Solidaridad, Arjen Boekhold, di Kebun Dayeuhmanggung, Rabu (21/7) pekan kemarin. Dalam sambutannya, Direktur Komoditi Teh PTPN VIII, Agus Supriyadi mengatakan, selain mengemban tugas dari pemerintah untuk mengelola unit perkebunan, PTPN VIII juga memiliki kewajiban untuk membina dan memberdayakan masyarakat di sekitar kebun yang merupakan pengejawantahan dari program corporate social responsibility (CSR). Dari sekian banyak program, salah satunya adalah kerja sama pembelian pucuk teh rakyat yang dilakukan secara kemitraan oleh Kebun Dayeuhmanggung. Pola ini diharapkan akan terjadi sinergitas saling menguntungkan antara petani teh rakyat sebagai pemasok dan PTPN VIII sebagai pengolah, pembeli, dan pemasar teh rakyat. Melalui kerja sama ini, bagi PTPN VIII diharapkan ada peningkatan produksi dengan kualitas standar sehingga dapat memaksimalkan kapasitas pabrik dan meningkatkan produksi yang dijual. Sementara bagi petani teh rakyat, adanya kepastian jaminan penerimaan dan pembayaran pucuk dari PTPN VIII dengan harga yang lebih baik, serta dapat memanfaatkan nama besar Kebun Dayeuhmanggung di pasar internasional. “Ini terkait semakin ketatnya persaingan pemasaran teh di pasar internasional. Di mana pembeli mensyaratkan adanya sistem standar mutu. Untuk itu kami memandang perlu petani teh rakyat pun sebagai pemasok pucuk teh ke PTPN VIII untuk menerapkan sistem standar mutu,” ujarnya. Dengan diberikannya sertifikat UTZ, kata Agus, maka Koperasi Putra Mekar merupakan satusatunya kelompok tani teh rakyat yang menerima sertifikat UTZ urutan kedua di dunia. Oleh karena itu, ke depan kerja sama antara petani teh dan Kebun Dayeuhmanggung bisa terjalin semakin baik sehingga produksi yang dihasilkan kualitasnya meningkat, harga jual tinggi, serta petani teh rakyat dapat menikmati harga pucuk yang baik. Karena kualitas bahan baku yang dihasilkan sesuai minimal standar yang ditetapkan oleh PTPN VIII. “Ke depan kelompok tani teh rakyat lainnya akan kami upayakan untuk mendapatkan sertifikasi. Tentunya dengan lokasi dan jumlah sesuai kebutuhan. Dan kami berharap dengan penerapan sistem ini teh rakyat di Jawa Barat kembali bergairah,” harapnya. Gubernur Jawa Barat Ahmad Heryawan, melalui Kadisbun Jabar, Slamet Ginanjar menyampaikan apresiasi atas usaha dan kerja keras dalam meningkatkan kualitas produksi teh yang memenuhi standar sehingga telah lulus dalam penilaian untuk mendapatkan sertifikasi internasional UTZ dari Belanda. Menurutnya, Jawa Barat merupakan provinsi penghasil teh terbesar di Indonesia, di mana lebih dari 70 persen teh Indonesia berasal dari Jawa barat. Hal ini, terlihat dari potensi kawasan usaha tani perkebunan teh yang mencapai luas sekitar 99.942 hektare. Areal perkebunan teh tersebut, baik langsung maupun tidak langsung menjadi sumber perekonomian Jawa Barat. “Berdasarkan stastistik perkebunan pada tahun 2008 perolehan pendapatan dari sektor ini lebih dari 1 triliun/ tahun. Karenanya kami berharap momen ini bisa dijadikan contoh dalam upaya peningkatan kualitas mutu dan produksi bagi pelaku agribisnis teh di Jawa Barat. Sehingga hasilnya mampu bersaing di pasar nasional maupun internasional,” ungkapnya. Sementara Wakil Ketua Koperasi Putra Mekar Endang Rosid mengungkapkan, sebelum menjadi mitra Kebun Dayeuhmanggung PTPN VIII, harga jual pucuk teh basah berkisar antara Rp500-Rp1.000/ kg. Namun setelah menjadi mitra Kebun Dayeuhmanggung harga jual pucuk teh basah yang mereka terima bisa mencapai Rp1.700/kg. “Bahkan sekarang setelah mendapat sertifikat UTZ harganya bisa mencapai Rp1.900 per kilogram,” ujarnya. Kenaikan harga tersebut, kata Endang, terjadi karena adanya pembinaan yang dilakukan oleh pihak Kebun Dayeuhmanggung kepada para petani teh rakyat sehingga produksi dan kualitas pucuk yang dihasilkan semakin baik (sesuai standar PTPN VIII). (Yudi)

1000 Anak-anak di Kota Bogor Tumplek di Plaza Balaikota
BOGOR, Medikom-Balaikota Bogor, Jalan IR Juanda 10, Jumat 23/7). Dengan berkelompok, para anak sudah datang mengerumuni panggung yang didirikan di tengah plaza untuk memeriahkan Hari Anak Nasional Tingkat Kota Bogor 2010. Para anak sudah berdatanganan sejak pukul 07.00 WIB. Sebagian ada yang datang didampingi orang tua mereka, namun tidak sedikit yang datang bersama rombongan dari sekolah masing-masing. Anak-anak dari beragam usia, berdatangan dari beragam sekolah mulai dari PAUD, Taman Kanakkanak, SD, SMP, SMA, SLB, dan Binaan LPA. Anak-anak jalanan dari Yayasan Gessang juga tampak menikmati hiburan berbagai atraksi seni yang ditampilkan, seperti penampilan paduan suara, band, tarian dan pidato yang semuanya dilakoni oleh anak-anak. Puncak peringatan Hari Anak Nasional ini juga dimeriahkan oleh artis Intan Erlita yang bertandem dengan dan presenter cilik Amel “Carla” menghibur anak-anak, orang tua dan para undangan. Dengan gayanya yang centil, Amel luwes dengan menyapa para anak-anak yang berkerumun di depan panggung. Dinda (3) tampak setia menunggu di samping panggung agar dapat perfoto dengan artis idolanya, Amel. Dinda yang datang sejak pukul 7 pun langsung beringsut meninggalkan panggung setelah berhasil foto bareng Amel sambil membawa balon Barbie-nya. Tampak hadir Wakil Walikota Bogor Achmad Ru’yat, Ketua Tim Penggerak PKK Kota Bogor Hj Fauziah Diani Budiarto, Ketua DPRD Kota Bogor Mufti Faoqi, Kapolresta Kota Bogor AKBP Nugroho Slamet Wibowo, Komandan Kodim 0606 Kota Bogor Letkol Mirza Agus, dan jajaran Muspida Kota Bogor ikut menghadiri peringatan Hari Anak Nasional dengan tema “Anak Indonesia Belajar untuk Masa Depan”. Dalam sambutannya, Wakil Walikota Bogor Achmad Ru’yat berharap agar para anak selain sehat dan cerdas, juga berperilaku santun dan berbakti kepada orang tua. Achmad pun memberikan apresiasi kepada para orang tua yang selalu menjaga dan merawat anak-anak mereka. “Selamat Hari Anak Nasional. Mudah-mudahan anak-anak kita menjadi anak yang santun, sehat, kuat dan cerdas,” harapnya. Achmad pun berpesan kepada para orang tua agar tidak lupa memberikan hak anak-anak. Juga menyelami apa kebutuhan anak mereka. Karena anak-anak ini akan menghadapi zaman yang semakin berat. Untuk itu orang tua perlu memberikan persiapan yang matang untuk mengantar anak-anak menghadapi persaingan zaman. “Di Hari Anak Nasional ini mari kita menjadikan keluarga yang meningkatkan kualitas hubungan orang tua dan anak-anak,” harapnya. Tidak hanya anak-anak, orang tua dan sejumlah undangan yang hadir memeriahkan acara. Juga tampak para pedagang mainan dan boneka, balon dan buku menggambar dan menulis setia berjajar di samping plaza. Kehadiran mereka pun langsung disambut oleh para anak yang berebut minta dibelikan mainan. Seperti halnya Fadlan (4). Sayangnya, Fadlan tampak kecewa karena ibunda Fadlan menolak membelikan mainan yang diinginkannya. Sambil menangis, Fadlan berjalan gontai meninggalkan plaza. Namun kemeriahan Hari Anak Nasional tidak hanya ditandakan dengan pesta yang mainan semata. Tugas anak-anak yang sesungguhnya, yakni menikmati masa mereka sebagai anak-anak Indonesia tidak boleh dilukai oleh kepentingan apapun. Biarkan anakanak tetap menjadi anak-anak dengan dunia mereka yang ceria dan berwarna. (wan/gn)

PMI Medical Center Luncurkan Program Kombat
BANDUNG, Medikom–Dalam rangka pemerataan pelayanan kesehatan yang berkualitas dan terjangkau, Pemkot Bandung bekerja sama dengan Palang Merah Indonesia (PMI) Medical Center, meluncurkan program Komunitas Bandung Sehat (Kombat). Peluncuran yang ditandai pemberian kartu program Kombat kepada masyarakat ini dilaksanakan di Balai Kota Bandung, Jln Wastukancana, pekan lalu. Kartu yang diberikan kepada masyarakat merupakan kartu jaminan layanan kesehatan dari PMI Medical Center. Jenisnya terdiri atas kartu Kombat Pro dan Kombat PNS. Kombat Pro yaitu jaminan bagi peserta untuk mendapatkan layanan rawat jalan gratis, meliputi pemeriksaan dokter, obat, radiologi, dan laboratorium dengan membayar iuran Rp20.000 sampai Rp50.000, tergantung paket yang dipilih . Sedangkan Kombat PNS diperuntukkan bagi PNS dan keluarganya dengan membayar iuran 1,8% dari gaji setiap bulan dengan layanan pemeriksaan dokter umum, spesialis, obat, radiologi, dan laboratorium. Wali Kota Bandung Dada Rosada dalam sambutannya yang dibacakan Sekretaris Daerah (Sekda) Edi Siswadi menuturkan, program yang digagas PMI Medical Center itu sangat baik dan diharapkan bisa memberikan kemudahan bagi masyarakat untuk berobat. “Saya bangga PMI Kota Bandung sebagai lembaga sosial penanganan bencana dan transfusi darah, ikut berperan aktif melaksanakan fungsi pelayanan kesehatan,” kata Dada. Ditambahkan, meski tidak mengabaikan orientasi keuntungan (profit oriented), namun PMI Medical Center sebagai lembaga profesional diyakini sangat terkait dengan tugastugas kepalangmerahan yang sangat bergantung pada bantuan kepedulian donor, dunia usaha, dan warga kota. “Penerbitan kartu Kombat, saya nilai merupakan gagasan cerdas. Selain memperluas jangkauan pelayanan, juga untuk membangun kemandirian PMI dalam melaksanakan tugas-tugas kemanusiaan sekaligus membayar kepercayaan yang telah diberikan warga kota,” katanya. Ia juga menyatakan, program Kombat sangat sejalan dengan kebijakan pemkot, khususnya dalam membangun kemitraan berbasis masyarakat. Contohnya pembentukan model Kelurahan Siaga. Hal tersebut sebagai model gambaran masyarakat yang sadar, mau, dan mampu mencegah serta mengatasi berbagai ancaman kesehatan. “Saya juga yakin, jika upaya ini terintegrasi baik dengan kegiatan pemerintah, kualitas kesehatan warga Bandung akan meningkat, angka harapan hidup akan semakin membaik (Dudi)

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->