P. 1
Sejarah Islam Indonesia (Menelusuri Sejarah Islam di Aceh Masa Awal) — Sri Suyanta

Sejarah Islam Indonesia (Menelusuri Sejarah Islam di Aceh Masa Awal) — Sri Suyanta

|Views: 8,729|Likes:
Sejarah Islam Indonesia (Menelusuri Sejarah Islam di Aceh Masa Awal) — Sri Suyanta

Sejarah Islam Indonesia
(Menelusuri Sejarah Islam di Aceh Masa Awal)
Sri Suyanta
IAIN Ar-Raniry Banda Aceh This article aim to describe about process of early islamisation in Nusantara. According to Muslem historian, like Hamka and Al-Attas, in the reality Islam have reached into the Acheh or Nusantara since first Hegira (seventh or eighth M), but its become a populis religion at nineth century like Hasjmy’s opin
Sejarah Islam Indonesia (Menelusuri Sejarah Islam di Aceh Masa Awal) — Sri Suyanta

Sejarah Islam Indonesia
(Menelusuri Sejarah Islam di Aceh Masa Awal)
Sri Suyanta
IAIN Ar-Raniry Banda Aceh This article aim to describe about process of early islamisation in Nusantara. According to Muslem historian, like Hamka and Al-Attas, in the reality Islam have reached into the Acheh or Nusantara since first Hegira (seventh or eighth M), but its become a populis religion at nineth century like Hasjmy’s opin

More info:

Published by: Universitas Muhammadiyah Aceh on Jul 27, 2010
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

02/06/2015

pdf

text

original

Sejarah Islam Indonesia (Menelusuri Sejarah Islam di Aceh Masa Awal) — Sri Suyanta

Sejarah Islam Indonesia
(Menelusuri Sejarah Islam di Aceh Masa Awal)
Sri Suyanta
IAIN Ar-Raniry Banda Aceh This article aim to describe about process of early islamisation in Nusantara. According to Muslem historian, like Hamka and Al-Attas, in the reality Islam have reached into the Acheh or Nusantara since first Hegira (seventh or eighth M), but its become a populis religion at nineth century like Hasjmy’s opinion and become a religious power at thirteenth century as the orientalists state such as Snouck Hourgronje. This problem is causing the different opinion about when, whose is carrier and how to islamisation in Acheh happened. Key words:Acheh, pre-Islam, Islamisation --------------------------------------------------------------------------------------------Artikel ini bertujuan untuk mendeskripsikan tentang proses islamisasi di Nusantara masa awal. Menurut sejarahwan Muslim semisal Hamka dan AlAtas, Islam telah sampai ke Aceh atau Nusantara sejak abad pertama Hijriah (ke-7 atau ke-8 M), tetapi menjadi agama populis pada abad ke-9 M seperti pendapat a. Hasjmy dan menjadi agama kekuasaan pada abad ke-13 M seperti klaim para orientalis, semisal Snauck Hourgronje. Hal inilah yang menyebabkan perbedaan pendapat tentang kapan islam datang, oleh siapa yang membawanya dan bagaimana islamisasi yang terjadi di Aceh.

Pendahuluan Secara historis sosiologis, masuk dan berkembangnya Islam ke Indonesia sangat kompleks. Terdapat banyak permasalahan yang terkait dengannya, misalnya dari mana asal Islam yang masuk ke Indonesia, siapa yang membawa, apa latar belakangnya dan bagaimana dinamikanya, baik dari segi ajaran Islam maupun pemeluknya.1 Kompleksitas ini menjadi lebih rumit, ketika dihadapkan pada realitas Islam yang masuk dan diterima oleh bangsa Indonesia. Padahal Indonesia merupakan identitas negara kesatuan yang terdiri dari berbagai daerah yang tentunya masing-masing daerah memiliki kekhasan tersendiri. Di Aceh, misalnya, menurut sebagian pendapat, Islam telah masuk ke Aceh sejak abad pertama Hijriah (ke-7 atau 8 M), seperti dikemukakan oleh Hamka, namun ia menjadi sebuah agama populis pada abad kesembilan seperti pendapat Ali Hasjmy2 atau menjadi sebuah kekuasaan pada abad ke-13 M seperti pendapat para orientalis, Snouck Hourgronje, misalnya.3 Akan tetapi sebelum penetrasi Islam ke wilayah ini, agama Hindu atau lainnya telah eksis, bahkan situs peninggalannya masih dapat kita temui. Gavin W. Jones menyatakan bahwa menjelang abad kedelapan Masehi, Hinduisme dan Budhisme telah ada di pulau Sumatera dan Jawa. Bahkan pernah ada kerajaan besar di Sumatera, yaitu Kerajaan

Azyumardi Azra, Jaringan Ulama: Timur Tengah dan Kepulauan Nusantara XVI: dan XVIII, Mizan, Bandung, 1994, h. 24. 2 Ali Hasjmy, Sejarah Masuk dan Berkembangnya Islam di Indonesia, Al-Ma’arif, Bandung, 1981, h. 358. 3 Musyrifah Sunanto, Sejarah Peradaban Islam Indonesia. Grafiti Pres, Jakarta. 2005. h. 8-9.

1

91

Jurnal Lektur Keagamaan, Vol. 8, No. 1, 2010: 91 - 118

Sriwijaya di Palembang dan Kerajaan Mataram, Singasari dan Majapahit di pulau Jawa.4 Kenyataan ini menjadi justifikasi bahwa Aceh yang dikenal sebagai Serambi Mekah, sebelumnya pernah berkembang agama selain Islam. Terdapat beberapa situs yang memperkuat hal ini, seperti nama Indrapuri, Indrajaya, indrapatra, indragiri, adat peusejuk, larangan membeli benda-benda tajam atau garam di malam hari.

Gavin W. Jones, “Agama-agama di Indonesia: Sejarah dan Perkembangannya”, dalam seri Prisma II. Agama dan Tantangan Zaman, LP3ES, Jakarta, 1985, h. 117-118.

4

92

Sejarah Islam Indonesia (Menelusuri Sejarah Islam di Aceh Masa Awal) — Sri Suyanta

Islam dan Kerajaan Islam Masa Awal di Aceh 1. Aceh Pra Islam Sejauh ini literatur yang berbicara tentang Aceh, pada umumnya memuat informasi tentang Islam, terutama menekankan pada setting sosial dan islamisasinya. Lalu bagaimana kondisi sosio-kultur masyarakat Aceh sebelum Islam? Agama apa yang dianut oleh masyarakat Aceh pra Islam? Berbagai kesulitan membentang untuk menjawab pertanyaan ini. Di antaranya disebabkan oleh langkanya referensi yang dapat ditemukan. Oleh karena itu, wajar bila Zainuddin sebagaimana dinyatakan dalam Aceh Serambi Mekkah, bahwa sebagian besar catatan sejarah tentang Aceh sebelum tahun 400 M tidak diketahui secara jelas. Bahkan, catatan J. Kreemer sebagaimana dikutip oleh Aboebakar Atjeh menyebutkan bahwa sebelum tahun 1500 sejarah Aceh masih belum diketahui orang.5 Snouck Hurgronye menunjukkan sedikit gambaran yang mengindikasikan adanya pengaruh Hindu di Aceh, dengan memperhatikan cara berpakaian para wanita Aceh yang dikatakannya bersanggul miring mirip dengan cara para wanita Hindu. Menurutnya pula, langsung atau tidak langsung, Hinduisme pada suatu waktu mengalir ke dalam peradaban dan bahasa Aceh walaupun hal ini sangat sulit diteliti dalam riwayat dan adat. Julius Jacob seorang ahli kesehatan yang pernah bertugas di Aceh tahun 1878 menyatakan bahwa pengaruh Hindu atas penduduk setidak-tidaknya dapat ditemukan dengan kenyataan tentang pemakaian nama-nama tempat dalam bahasa Hindu istilahnya terdapat dalam bahasa Aceh. Dalam ranah kesusastraan, sastra Aceh juga memiliki keterpengaruhan Hindu, seperti adanya Hikayat Sri Rama dalam bahasa Melayu, dikenal sebagai saduran dari Kakawin Ramayana karya Walmiki. Baik versi Aceh maupun Melayu dari Hikayat Sri Rama maupun Rahwana telah menimbulkan dugaan bahwa hikayat itu mencerminkan sejarah Aceh dan Raja Rahwana yang dimaksud di dalamnya adalah Raja yang pernah bertahta di Indrapuri (Aceh Besar). Nama-nama gampong tua dari bahasa Sangsekerta seperti Indrapuri atau Indraparwa juga telah dikaitkan oleh sementara penduduk sebagai suatu nama kota-kota kerajaan Hindu yang pernah tumbuh di Aceh, meski demikian hal itu sama sekali tidak dapat dijadikan pegangan untuk mengatakan bahwa telah berdiri kerajaan Hindu di Aceh, karena masih memerlukan pembuktian-pembuktian yang dapat dipercaya mengenai hal ini. Pada masa itu, budaya yang hidup dalam masyarakat Aceh diserap dari nilai-nilai agama Hindu. Menurut Van Langen, pada dasarnya orang Aceh berasal dari bangsa Hindu. Migrasi Hindu bertapak di Pantai Utara Aceh dan dari sini menuju ke pedalaman. Dari Gigieng dan Pidie, mungkin juga dari daerah Pase, migrasi Hindu menuju ke daerah 22 Mukim di Aceh Besar.6 Meskipun pendapat ini dibantah oleh C. Snouck Hurgronje.7 Akan tetapi, jika diperhatikan dari intensitas pergaulan, terutama dalam bidang perdagangan antara Aceh dan India pada masa itu, maka dapat dikatakan bahwa agama Hindu merupakan anutan sebagian masyarakat Aceh sebelum kedatangan Islam. Selain Hindu, diperkirakan agama Budha juga menjadi anutan bagi sebagian masyarakat Aceh yang lain, yang diduga dibawa oleh orang-orang Cina. 8 Dengan demikian terdapat kecenderungan bahwa budaya yang berkembang dalam masyarakat Aceh pra Islam bersumber dari ajaran

M. Hasbi Amiruddin (Ed.), Aceh Serambi Mekkah, Pemerintah Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam, Banda Aceh 2008, h. 2. Lihat juga H. M. Zainuddin, Tarich Atjeh dan Nusantara, Pustaka Iskandar Muda, 1961, Medan, h. 40. 6 M. Hasbi Amiruddin (Ed.), Aceh Serambi ..., h. 4. Lihat juga Tuanku Abdul Jalil, “Kerajaan Islam Perlak Poros Aceh-Demak-Ternate” dalam A. Hasjmy (peny), Sejarah Masuk dan Berkembangnya Islam di Indonesia, AlMa’rif, Bandung, 1993. 7 Aboebakar Atjeh, “Tentang Nama Aceh” dalam Ismail Suny (Ed.), Bunga Rampai Tentang Aceh, Bharata Karya Aksara, Jakarta, 1980, h. 20. 8 M. Hasbi Amiruddin (Ed.), Aceh Serambi..., h. 4.

5

93

Jurnal Lektur Keagamaan, Vol. 8, No. 1, 2010: 91 - 118

Hindu. Tetapi, tidak ditemukan catatan sejarah yang menceritakan seberapa besar pengaruh Hindu di Aceh pada masa pra Islam. 2. Masuknya Islam ke Aceh Dalam naskah tua Izhar al-Haqq yang dirujuk oleh A.Hasjmy, diinformasikan bahwa pada 173 H (789 M), terdapat sebuah kapal asing yang datang dari Teluk Kambay (Gujarat) India singgah berlabuh di Bandar Perlak. Kapal ini di antaranya membawa para saudagar muslim dari Arab, Persia dan India di bawah pimpinan seorang nahkoda utusan khalifah Bani Abbas, sehingga ia disebut Nahkoda Khalifah.9 Tahun-tahun ini, dunia Islam berada dalam kekuasaan Khalifah Harun ar-Rasyid (785-809 M) yang berpusat di Bagdad. Bila ini benar, maka sangat wajar kalau khalifah memberi perintah untuk mengembangkan Islam ke berbagai penjuru dunia, termasuk ke wilayah timur yaitu di kawasan Nusantara. Apalagi masa Harun ar-Rasyid, dunia Islam mengalami masa kemajuan di berbagai bidang kehidupan, seperti digambarkan dalam cerita-cerita seribu satu malam. Kehadiran rombongan Nahkoda Khalifah di Perlak menyebabkan terjalinnya hubungan dan kontak budaya antarbangsa di wilayah ini. Di samping menjalankan misi dagang, rombongan Nahkoda Khalifah ini juga membawa misi dakwah syiar Islam. Meraka mengajarkan persaudaraan, persamaan, kasih sayang, tolong menolong, bagaimana berniaga, bertani, bermasyarakat dan cara beribadat kepada Allah, sehingga raja dan rakyat Perlak tertarik dan memeluk Islam. Sebelum Islam datang, di Perlakk telah berdiri kerajaan yang diperintah oleh raja-raja yang bergelar Meurah berasal dari keturunan raja-raja Syahir Nuwi dari Negeri Syam. Syaid Ali dari suku Qurasisy, salah seorang di antara rombongan Nahkoda Khalifah, kawin dengan Makdhum Tansyuri, adik dari Syahir Nuwi Meurah Perlak. Dari perkawinan inilah, lahir Sayid Abdul Aziz, yang kemudian setelah dewasa dilantik menjadi Sultan Perlak Pertama (225-249 H/840-864 M) sebagaimana telah disebutkan pada bahasan sebelumnya. Untuk mengingat jasa nahkoda Khalifah, maka ibukota Kerajaan Islam Perlak juga diubah menjadi bandar Khalifah.10 Kerajaan Islam Perlak berkembang dan eksis hingga abad ke-13 M, sebelum akhirnya bergabung dengan Kerajaan Samudera Pasai. Bahkan dalam mengendalikan pemerintahan di Kerajaan Islam Perlak ini, para sultan dipengaruhi oleh paham keagamaan yang dibawa oleh rombongan Nahkoda Khalifah, yaitu Syi’ah dan Sunni. Oleh karenanya ketika kedua paham keagamaan ini sama-sama berpengaruh, maka Perlak pernah dibagi menjadi dua kekuasaan, di wilayah pesisir diserahkan kepada kelompok Syi’ah dan wilayah pedalaman diperintah oleh kelompok Sunni. Dengan demikian dapat dikatakan di antara para pendatang asal Arab, India dan Persia yang sengaja datang dalam rangka berniaga dan mengemban misi dakwah ke Perlak adalah ulama, seperti Sayed Ali Quraisy dan Qaid al-Mujahidin Maulana Naina alMalaba’i. Dalam perkembangannya, ada di antara keturtunan mereka yang tampil sebagai sultan. Karena mereka tidak menganut satu paham keagamaan, tetapi ada yang Syi’ah dan ada yang Sunni, maka hal ini juga berpengaruh terhadap tipe kepemimpinannya. Pada tahun 986 M, Kerajaan Sriwijaya menyerang dan dapat menguasai Perlak hingga beberapa tahun, tetapi kemudian direbut kembali oleh Sultan Makhdum Malik Mansur Syah (1012-1059). Dampak positif ketika mendapat serangan dan diinvasi oleh Kerajaan Sriwijaya adalah semakin meluasnya pengaruh Islam ke daerah di sekitarnya yang dibawa oleh para “pelarian”, muhajirin dari Perlak. Di antara mereka kemudian mendirikan kerajaan, seperti Serbajadi di Tamiang.
9 A. Hasjmy, Kebudayaan Aceh dalam Sejarah, Penerbit Beuna, Jakarta 1983, H, 45 dst. Juga dalam bukbuknya yang lain seperti Sejarah Masuk dan Berkembangnya Islam di Indonesia, PT. Al-Ma’arif, Bandung, 1981, h. 146. Juga A. Hasjmy, 50 Tahun Aceh Membangun, Majelis Ulama Indonesia Daerah Istimewa Aceh bekerjasama dengan pemerintah Daearh Istimewa Aceh, Banda Aceh, 1995 h. 3-8. 10 Sri Suyanta, Pola Hubungan Ulama dan Umara: Pasang Surut Peran Ulama Aceh, Disertasi UIN Syarif Hidayatullah, Jakarta, 2005, h. 62.

94

Sejarah Islam Indonesia (Menelusuri Sejarah Islam di Aceh Masa Awal) — Sri Suyanta

Edwin M. Loeb, 11 Thomas Arnold 12 dan Hoesein Djajadiningrat 13 sama-sama menjelaskan perihal perlawatan Marco Polo, dimana pada tahun 1291 M dirinya yag bekerja untuk Kubalai Khan di Cina pernah singgah di wilayah Perlak. Di wilayah ini, Marco Polo menemukan jejak atau bekas-bekas peninggalan, setidaknya ada atau pernah ada lima kerajaan kecil di sana, yaitu Ferlec (Perlak), Basma (Pasai), Samara (Samudra), Dagroian (Indagiri), Lambri (Lamuri). Ketika itu, Marco Polo berada di suatu tempat yang bernama Samara di sebelah utara Perlak, selama lima bulan untuk menunggu datangnya angin baik untuk berlayar. Di dekat Samara terdapat tempat yang bernama Basma (Pasai) yang dipisahkan oleh sebuah aliran sungai, kemudian tempat ini dikenal dengan Samudera Pasai. Marco Polo menyaksikan bahwa penduduk Samudra Pasai saat itu telah menganut Islam dan diperintah oleh seorang yang alim. Kenyataan yang disaksikan oleh Marco Polo, dikuatkan oleh bukti bahwa di daerah Samudera Pasai pernah berdiri sebuah kerajaan Islam, yaitu Samudera Pasai. Menurut Hikayat Raja-raja Pasai14 dan Sejarah Melayu15 yang dikutip oleh Yusni Saby, keberadaan Kerajaan Samudra Pasai berawal dari 1042, saat datangnya Meurah Khair (Meurah Giri) keturunanan dari sultan Perlak, yang kemudian mendirikan Kerajaan Samudera Pasai dan menjadi raja pertama dengan gelar Maharaja Mahmud Syah berkuasa hingga tahun 1078. Kerajaan ini kemudian mengalami perkembangan yang lebih signifikan pada masa Sultan Malik Salih atau Malikussaleh (1261-1289), yang mulanya Silu, tetapi setelah datangnya ulama Syaikh Isma’il dari Mekkah sekitar tahun 1270-1275 dan Meurah Silu menjadi penguasa di Samudera Pasai, maka kemudian bergelar Sultan Malik Salih (The Pious King).16 Pada saat Kaisar Yung Lo berkuasa di China pada Tahun 1368, pernah mengirim ekspedisi ke Aceh di bawah pimpinan Laksamana Muhammad Cheng Ho, maka antara China dan Aceh terjalin hubungan yang baik. Saat itu Aceh diperintah oleh Sultan Zainuddin Malik Zahir Berdaulat (1350-1394). Salah satu hadiah dari Kerajan China untuk Kerajaan Samudera Pasai adalah sebuah lonceng raksasa, Cakra Donya yang hingga sekarang masih dapat disaksikan di Banda Aceh. Selain Syaikh Isma’il dari Mekah, Kerajaan Samudera Pasai juga didatangi oleh ulama-ulama lain dari Timur Tengah, Persia dan India. Dari India, misalnya, Faqir Ma’abri (Mengir) datang ke Pasai dalam rangka syiar Islam. Sejak ini, Pasai berkembang menjadi Kerajaan Islam yang terkenal di kawasan Asia Tenggara. Bahkan dalam bidang identitas keislaman, pernah terjalin hubungan yang baik antara Kerajaan Pasai, Malaka, Demak dan Blambangan Jawa Timur. Penguasa Malaka, Sultan Mansur Syah pernah meminta kepada ulama Pasai (Makhdum Pematakan) untuk menjelaskan isi kitab Durr Manzum, yang diberikan kepadanya oleh Mawlana Abu Bakr yang datang ke Malaka.17 Maulana Ishaq, salah seorang ulama Pasai juga dikirim ke Blambangan, Jawa Timur untuk mengembangkan agama Islam. Bahkan ketika Pasai diinvasi oleh Majapahit pertengahan abad ke-14, dakwah Islam ke wilayah Nusantara lainnya tidak terhenti karenanya. Al-Chaidar merujuk pada Tawarikh Raja-raja Kerajaan Aceh karya M. Yunus Jamil dan Tarikh Aceh dan Nusantara karya Haji Zainuddin, menyatakan bahwa Sultan kerajaan
11

Edwin M. Loeb, Sumatera: Its History and People, Oxford University Press, New York, 1972, h. 9 dan

218. Thomas Arnold, The Spread of Islam in The World: A. History of Peaceful Preaching. Goodword Books, India, 2001, h. 367. 13 P.A. Hoesein Djadiningrat, “Islam di Indonesia” dalam Dari Sini ia bersemi, Panitia Penyelenggara Musabaqah Tilawatil Qur’an Tingkat Nasional ke-12, Banda Aceh, 1981, h.1. 14 Hikayat Raja-raja Pasai, menurut Winstedt, ditulis pada abad ke-14 M, yang di dalamnya menceritakan tentang raja-raja yang berkuasa di Pasai, terutama sejak Malik Salih di abad ke-13 hingga penyerangan Majapahit ke daerah ini pada abad ke-14. Sir Richard Winstedt, A History of Classical Malay Literature, Oxford University, Press, London, 1969, h. 155. 15 Winstedt, A. History….h. 158. 16 Yusny Saby, “The ulama in Aceh: A Brief Historical Survey” dalam Studia Islamika: Indonesia Journal For Islamic Studies, 8(1), Jakarta, 2001, h. 6. 12-15. 17 Winstedt, A. History..., h. 135.
12

95

Jurnal Lektur Keagamaan, Vol. 8, No. 1, 2010: 91 - 118

Samudra Pasai juga mengirim para dai untuk menyebarluaskan agam Islam ke berbagai wilayah di Nusantara dan wilayah Melayu lainnya. Sidi Abdul Aziz diutus ke Malaka, sehingga Raja Malaka, Parameswara (dari Kerajaan Sriwijaya ) 18 memeluk Islam seraya mengganti namanya dengan Megat Iskandar syah dan anaknya dikawinkan dengan outri Sultan Zainal Abidin (1383-1400) dari Samudera Pasai. Para dai Pasai juga sampai di Kedah, sehingga Raja Pra Ang Madan angsa memeluk Islam dan merubah namanya menjadi Muzlafaz Syah. Sementara untuk wilayah Patani (Thailand), Islam dibawa oleh ulama Pasai yang beranama Syekh Said, dan bukti sejarah yang sekarang masih bisa disaksikan adalah adanya Makam Tok Pasai di Patani. Penyebaran Islam ke Brunei dan Filipina Selatan dilakukan oleh ulama Pasai lainnya, masing-masing bernama Syaikh Syarif Kasim dan Syaikh Abubakar. Fatahillah yang dikenal luas dengan Faletehan atau Sunan Gunung Jati juga ulama kelahiran Pasai sekitar tahun 1490. Setelah belajar di Tanah Suci, Fatahillah kembali Nusantara dan menuju Banten. Selama di Banten, Fatahillah membantu Kerajaan Demak mengalahkan Sunda Kelapa (Kini Tanjung Priok) dan berhasil mendirikan kota Jayakarta (kini Jakarta). Sejak ini, Islam kemudian menjadi lebih berkembang di Jawa. Penyebaran Islam juga sampai di Cirebon yang dilakukan oleh Maulana Ishak, di Gresik oleh Maulana Malik Ibrahim dan di Jawa Timur oleh Sunan Ampel.19 Era berikutnya adalah Kerajaan Aceh Darussalam, yang eksis sekitar lima abad. Catatan sejarah dalam Tawarikh Raja-raja Kerajaan Aceh menginformasikan bahwa jauh sebelum adanya pengaruh Islam, di ujung Aceh telah berdiri Kerajaan Hindu Indra Purba dengan Lamuri (wilayah yang kini termasuk Aceh Besar) sebagai pusatnya. Setelah menduduki Kerajaan Indra Jaya antara tahun 1059-1069, tentara Tiongkok menyerang Kerajaan Indra Purba yang ketika itu diperintah oleh Maharaja Indra Sakti. Kemudian tentara Tiongkok dikalahkan oleh sekitar 300 orang di bawah pimpinan Syaikh Abdullah Kan’an, yang bergelar syiah Hudan, seorang keturunan Arab Kan’an dari Kerajaan Islam Pureulak. Atas keberhasilan ini, kemudian Maharaja Indra Sakti dan rakyat Indra Purba menganut Islam, bahkan ia mengawinkan putrinya Blieng Keusuma dengan Muerah Johan yang turut mengusir tentara Tiongkok. Setelah Maharaja Indra sakti Meninggal, diangkatlah Meurah Johan sebagai Raja Indra Purba dengan gelar Sultan Alaiddin Johan Syah dan nama Kerajaan Darussalam yang berpusat di Bandar Darussalam, pada hari Jum’at, Bulan Ramadhan 601 H (1205 M).20

3. Teori Islamisasi di Aceh Catatan sejarah yang menyebutkan secara pasti tahun masuknya Islam ke Aceh memang tidak ditemukan, tetapi petunjuk yang ada dapat ditelusuri dalam Hikayat Rajaraja Pasai (HRP). HRP -ditulis setelah tahun 1350- menyatakan bahwa ada nakhoda Arab bernama Syaikh Ismail telah berlayar dari Mekah menuju Sumatera sengaja dilakukan dengan maksud untuk menyiarkan Islam. Menurut catatan Mohammad Said misi ini berhasil mengislamkan Meurah Silu, yang kemudian bergelar Sultan Malik as-Salih, Raja Pasai pertama. Sebelum tiba di Pasai, rombongan terlebih dahulu singgah di Barus, Lamuri, dan Perlak untuk mengislamkan penduduk di sana.21 Di samping itu, Aceh Serambi Mekkah menerangkan lebih lanjut bahwa salah satu historiografi Aceh menyatakan bahwa nenek moyang para sultan Aceh bernama Syaikh
Lihat V.I. Braginsky, Sejarah Sastra Melayu Dalam Abad 7-19 (terj. Hendri Setiawan), INIS, Jakarta, 1998, h. 57. Teuku Ibrahim alfian, Wajah Aceh Dalam Lintasan Sejarah, Dokumentasi dan Informasi Aceh, Banda Aceh, 1999, h. 19. 19 Al-Chaidar, Gerakan Aceh Merdeka, Jihad Rakyat Aceh mewujudkan Negara Islam, Madani Press, Jakarta, 1999, h. 22 dst. 20 Al-Chaidar, Gerakan…., h. 23. 21 Mohammad Said, Aceh Sepanjang Abad, Waspada; Medan, 1981. h. 38.
18

96

Sejarah Islam Indonesia (Menelusuri Sejarah Islam di Aceh Masa Awal) — Sri Suyanta

Jamal al-Alam, seorang Arab yang diutus oleh Sutlan Utsmani untuk mengislamkan masyarakat Aceh. Riwayat lain menyebutkan bahwa Islam dibawa ke Aceh sekitar tahun 1111 M oleh seorang Arab bernama Abdullah Arif.22 Akan tetapi jauh sebelum itu, para pedagang Arab telah menjalin hubungan perdagangan yang luas dengan bangsa-bangsa di Asia Timur dan Selatan. Sejak abad ke-10 hingga ke-15 M, para pedagang Arab menguasai perdagangan di kawasan Asia Tenggara dan Asia Timur. Padahal sebelum itu, yaitu pada masa pra Islam atau sebelum kedatangan bangsa Arab ke Asia, perdagangan di kawasan Asia Tengah, Selatan dan Tenggara didominasi oleh Cina. Sebelum bangsa Portugis menemukan jalur ke Tanjung Harapan dan Terusan Suez pun belum dibuka, Cina mengeskpor komoditi dagang dari kawasan Asia ke Timur Tengah, terutama Mesir sebagai pasar andalan Eropa. Implikasinya adalah bergesernya monopoli imperium Islam di Timur Tengah terhadap pasar Eropa. Hal ini diperparah lagi oleh serbuan dan pendudukan Mesir oleh pasukan Kristen Eropa. Situasi demikian mendorong pedagang muslim Timur Tengah melakukan ekspansi ke kawasan Asia. Mereka kemudian menaklukkan India dan menyerang Cina.23 Setelah Islam masuk India pada akhir abad ke-7 H, sebuah kekuasaan, kerajaan Mughal didirikan di sana. Hubungan dan jalur perdagangan yang telah dibangun India dengan kerajaan-kerajaan Nusantara tetap dilanjutkan oleh rezim penakluk demi keberlangsungan ekonomi kerajaan. Hal ini berarti bahwa semenjak India ditaklukan, Nusantara telah bersentuhan langsung dan berinteraksi dengan Islam.24 Saat itu, salah satu kerajaan yang terpenting dalam perkembangan Islam di Nusantara adalah Kerajaan Lamuri di Aceh. Orang Arab menyebutnya rami, ramni, sedangkan orang Cina menyebutnya lan-li, lan-wu-li, nan-wu-li dan nan-poli. Orang Aceh menyebutnya lammuri, sementara Marco Polo menyebut lambri. 25 Kerajaan ini terletak di kawasan Sibreh, Aceh Besar (sekarang). Dari sinilah upaya islamisasi Lamuri dilakukan oleh bangsa Arab yang berasal dari Timur Tengah.26 Sebelum Lamuri, menurut catatan Zainuddin, Kerajaan Perlak –kini di wilayah Aceh Timur- sejak tahun 1075 M telah lebih dulu menerima Islam.27 Bahkan menurut Djamil, bandar Perlak telah menjadi sebuah pelabuhan yang ramai disinggahi kapal-kapal dagang dari Arab pada abad ke-8 M. Sebagian pedagang ini kawin mawin dengan penduduk setempat, sehingga agama Islam yang mereka anut ikut pula tersebar kepada keluarga, kerabat dan masyarakat setempat. Lambat laun, penduduk muslim kian bertambah sehingga pada 1 Muharram 225 H (840 M) Kerajaan Perlak pun diganti menjadi Bandar Khalifah, sebagai salah satu upaya masyarakat setempat untuk menghormati dan mengenang jasa rombongan Nakhoda Khalifah yang telah menyebarkan Islam di sana.28 Hamka menyimpulkan bahwa agama Islam telah datang ke Nusantara secara berangsur-angsur sejak abad ke-1 H/8 M, yang dibawa oleh para saudagar Islam dan dimotori oleh orang-orang Arab, baru kemudian diikuti oleh orang Persia dan Gujarat. Haji Abubakar Aceh menarik kesimpulan bahwa Pertama, Islam masuk ke Indonesia pertama kali melalui Aceh, tidak mungkin dari daerah lain. Kedua, Penyiar Islam pertama di Indonesia tidak hanya berasal dari India dan Gujarat, melainkan juga dari Arab. Pada akhirnya, seminar ini menghasilkan beberapa kesimpulan, diantaranya: Pertama, menurut sumber-sumber yang diketahui, Islam untuk pertama kalinya telah masuk ke Indonesia pada abad ke-1 H (abad ke-7/ 8 M) langsung dari Arab; Kedua, bahwa daerah yang pertama didatangi Islam adalah pesisir Sumatera dan setelah terbentuknya masyarakat Islam, maka raja Islam yang pertama berada di Aceh.
22 23

Azyumardi Azra, Jaringan Ulama …, h. 10. Djoko Suryo, dkk., Agama dan Peribahan Sosial, LKPSM, Yogyakarta, 2001, h. 25-26. 24 Djoko Suryo., Agama …, h. 25-26. 25 M. Zainuddin, Tarich Atjeh dan Nusantara, Pustaka Iskandar Muda, Medan h. 23. 26 Djoko Suryo., Agama …, h. 42. 27 Zainuddin, Tarich …, h. 40. 28 Muhammad Junus Djamil, Gerak Kebangkitan Aceh, ttp., 2005, h. 5-6.

97

Jurnal Lektur Keagamaan, Vol. 8, No. 1, 2010: 91 - 118

Pada tahun 1978, seminar serupa diselenggarakan di Banda Aceh. Di antara rumusan penting yang dihasilkan adalah: Pertama, Islam telah masuk ke Aceh pada abad I H. Kedua Kerajaan-kerajaan Islam yang pertama adalah Perlak, Lamuri, dan Pasai. Selain hasil seminar ini, pandangan yang menyatakan bahwa Islam telah masuk ke Aceh pada Abad ke7 M juga diajukan oleh beberapa ahli terkemuka. Sasmita mengklasifikasi kelompok ahli yang berpendapat seperti ini, di antaranya: T.W. Arnold, Syed Naguib al-Attas, dan Hamka.29 Jika ditelusuri lebih jauh, ternyata ketiga ilmuwan ini juga meyakini bahwa Islam yang datang ke Aceh dibawa oleh orang-orang Arab. Arnold berpendapat bahwa penyebaran Islam ke Nusantara dilakukan oleh para pedagang Arab ketika meraka mendominasi perdagangan Barat-Timur sejak abad-abad pertama hijriah atau abad ke-7 dan ke-8 masehi. Kendati tidak ada catatan-catatan sejarah mengenai aktivitas pedagang Arab ini dalam penyiaran Islam di Nusantara, Arnold meyakini bahwa para pedagang itu menyiarkan Islam kepada penduduk lokal Nusantara sembari mereka berdagang di kawasan ini. Untuk memperkuat pandangannya, Arnold mengemukakan fakta-fakta yang tersebut dalam sumber-sumber Cina menyatakan bahwa menjelang akhir perempatan ketiga abad ke-7 seorang pedagang Arab menjadi pemimpin sebuah pemukiman Arab Muslim di pesisir pantai Sumatera. Arnold berkesimpulan bahwa masyarakat pemukiman itulah yang melakukan penyebaran Islam kepada penduduk setempat. 30 Sarjana lain menyatakan Islam di Aceh dibawa dari Arab adalah Sir John Crowford. Dia mendasarkan pandangannya atas anutan mazhab Syafi'i oleh masyarakat Muslim Melayu (termasuk Aceh).31 Meski begitu, Crowford tidak menolak bahwa interaksi penduduk Nusantara dengan kaum Muslimin yang berasal dari pantai Timur India merupakan factor penting dalam penyebaran Islam di Nusantara.32 Keterangan lain menyebutkan bahwa Islam datang ke Nusantara dibawa oleh para pedagang Yaman, Hadramaut dan Oman, yang terletak di bagian selatan dan tenggara Semenanjung Jazirah Arab. Kawasan Yaman yang telah diislamkan oleh Ali bin Abi Thalib sekitar tahun 630-631 M. Pengislaman Yaman berimplikasi terhadap Asia Tenggara, terutama Nusantara, karena para pedagang yang telah beragama Islam tersebut kemudian menyebarkan Islam kepada masyarakat di Nusantara. Dengan demikian diyakini bahwa Islam telah masuk ke Nusantara pada abad ke-7 M. Pada masa itu pula, sebuah perkampungan Islam pun telah dibangun di sekitar Sumatera Utara. Perkampungan itu dikenal dengan nama Ta-Shih. Menurut catatan sejarah Cina, Ta-Shih telah menjalin hubungan dengan Cina sekitar tahun 650 M.33 Di antara para ahli tersebut, menurut catatan Azra, yang sangat gigih menyatakan bahwa Islam di Nusantara berasal dari Arab adalah Naguib al-Attas. Menurut al-Attas, karakteristik internal Islam di dunia Melayu-Indonesia merupakan bukti yang paling penting yang harus dikaji bilamana tidak membahas topik kedatangan Islam ke Nusantara. Oleh karena itu, teori umum tentang islamisasi nusantara harus didasarkan terutama pada sejarah literatur Islam Melayu –Indonesia dan sejarah pandangan dunia Melayu. Sebutkan abad XVII tidak ditemukan satupun literaut keagamaan Islam yang dikarang oleh muslim India atau berasal dari India, melainkan dari Arab. Nama dan gelar para pembawa Islam ke Nusantara pun menunjukkan mereka berasal dari Arab. Karena itu. Al-Attas menyimpulkan bahwa Islam di Nusantara berasal langsung dari Arab.34

Uka Tjandrasasmita, "Proses Kedatangan Islam dan Munculnya Kerajaan-kerajaan Islam di Aceh" dalam A. Hasjmy (peny.), Sejarah Masuk dan Berkembangnya Islam di indonesia, al-Ma'rif, Bandung, 1993, h. 358. 30 Azyumardi Azra, Jaringan Ulama …, h. 6. 31 Wan Hussein Azmi, "Islam di Aceh, Masuk dan Berkembangnya Hingga Abad XVI" dalam A. Hasjmy (peny.), Sejarah Masuk dan Berkembangnya Islam di Indonesia, al-Ma'rif, Bandung, 1993, h. 180. 32 Azyumardi Azra, Jaringan Ulama …, h. 7. 33 Mahayuddin Hj. Yahya dan A.J. Halimi, Sejarah Islam, Fajar Bakti Sdn. Bhd, Kuala Lumpur, tt, h. 559. 34 Azyumardi Azra, Jaringan Ulama…., h. 8-9.

29

98

Sejarah Islam Indonesia (Menelusuri Sejarah Islam di Aceh Masa Awal) — Sri Suyanta

Teori lain menyatakan bahwa Islam di Nusantara berasal dari India. Teori ini pada umumnya dianut oleh para sarjana Belanda. Pijnappel adalah ahli pertama yang mencoba mengaitkan asal usul Islam di Nusantara dengan wilayah Gujarat dan Malabar di India. Menurutnya, Islam ke Nusantara dibawa oleh para penganut mazhab Syafi’i yang berimigrasi dan kemudian menetap di India 35 . Pandangan Pijnappel didukung Snouck Hurgonje, yang menyatakan bahwa setelah sebagian bangsa India memeluk Islam, maka orang-orang Indialah yang membawanya ke Nusantara. 36 Hanya saja, Hurgronje tidak menunjukkan secara tepat wilayah di India sebagai tempat asal usul Islam di Nusantara. Pandangan Pijnappel dan Hurgronje ini kemudian diikuti oleh para orientalis, seperti D.G.E. Hall, J. Gonda, Marrison, R.O. Winstedt, Bousguest, Vleke, J.P. Mourquette, dan B. Harrison. Teori India ini didasarkan pada alasan adanya jalur perdagangan dan pelayaran orang India dengan Indonesia sejak zaman pra Islam. Apalagi diketahui bahwa orang Arab tidak terkenal sebagai pelaut tangguh dan pemberani dalam mengarungi samudera dengan kapal layar bangsa India; adanya nama-nama ulama pembawa Islam memakai gelar maulana, khan, dan syah yang merupakan gelar yang lazim dipakai di India dan Persia; adanya batu marmer dari makam raja-raja dan pembawa Islam seperti Maulana Malik Ibrahim, jika dilihat pada retakannya tampak bekas tembok kuil Hindu dan bentuk ukirannya adalah bentuk ukiran dari India.37 Di samping itu, pendukung teori India juga menyatakan bahwa Islam masuk ke Aceh pada abad ke-13. Hal ini dilandasi oleh catatan perjalanan para pengembara yang pernah singgah atau melawat ke Nusantara sekitar abad ke-13 dan ke-14 M, di antaranya catatan Marco Polo dan Ibn Batutah. Teori ini diperkuat dengan ditemukan makam Sultan Malik as-Salih, Raja Pasai yang mangkat pada tahun 1297 M dan disebut dalam Hikayat raja-raja Pasai sebagai raja Islam yang pertama di Kepulauan Melayu. Berdasarkan hal tersebut, mereka meyakini bahwa Islam masuk ke Nusantara pada abad ke-13 M.38 Selain Arab dan India, wilayah lain yang diduga sebagai asal mula Islam ke Aceh adalah Coromandel atau Malabar. Teori ini dikemukakan oleh T.W. Arnold. Arnold mendasarkan pandangannya atas adanya persamaan mazhab fikih yang dianut oleh kedua masyarakat tersebut. Mayoritas muslim di Aceh menganut mazahab Syafi’i, demikian pula halnya dengan muslim di Coromandel dan Malabar. Persamaan mazhab fikih ini bukanlah sebuah kebetulan belaka, tetapi disebabkan oleh adanya interaksi sosial antar kedua masyarakat yang berimplikasi pada perubahan unsur-unsur budaya tertentu dari suatu dalam perdagangan antara India dan Nusantara. Para pedagang dari wilayah ini mendatangi dan singgah di pelabuhan-pelabuhan dagang dunia Melayu untuk melakukan transaksi perdagangan. Akan tetapi, aktivitas mereka tidak berdagang semata, melainkan juga menyebarkan Ajaran Islam. Arnold juga menegaskan bahwa Coromandel dan Malabar bukan satu-satunya tempat asal kedatangan slam di Nusantara, tetapi Islam juga dibawa oleh para pedagang Arab ke kawasan ini. Pendapat Arnold didukung Marrison yang pandangannya tidak saja dimaksudkan untuk menunjukkan bahwa Islam di Nusantara berasal dari Commandel, tetapi sekaligus juga untuk menentang pendapat yang menyatakan Islam datang ke Nusantara dari Gujarat. Marrison menunjukkan fakta bahwa Sultan Malik as-Salih mangkat pada tahun 1297 M, Gujarat masih merupakan kerajaan Hindu. Oleh karena itu, mustahil para pedagang Gujarat yang membawa ajaran Islam ke Nusantara. Marrison menyimpulkan bahwa Islamisasi Nusantara dilakukan pada akhir abad ke-13 oleh orang-orang dari pantai Coromandel.39 Mengamati berbagai pandangan tentang asal usul Islam di Aceh, yaitu dari Arab, India dan Coromandel/Malabar, agaknya dapat disimpulkan bahwa, Islam masuk ke Aceh
Azyumardi Azra, Jaringan Ulama…, h. 8-9. C.S. Hurgronje, Islam di Hindia Belanda, Bharata, Jakarta, 1973, h. 17. 37 Muhammad Syamsu As, Ulama Pembawa Islam di Indonesia dan Sekitarnya, Lentera Basritama, Jakarta, 1999, h. Xxiv. 38 Mahyuddin Hj. Yahya dan A.J. Halimi, Sejarah..., h. 558. 39 Azyumardi Azra, Jaringan Ulama..., h. 5-6.
36 35

99

Jurnal Lektur Keagamaan, Vol. 8, No. 1, 2010: 91 - 118

memiliki banyak jalur, baik Arab, India, Coromandel maupun Malabar, tetapi muara utamanya adalah Arab, sebagai tempat pertama Islam diturunkan. Adapun tentang kapan masuknya Islam ke Aceh nampaknya bisa kita nyatakan bahwa sejak abad pertama Hijriah (abad ke-7 Masehi) Islam telah sampai ke Aceh, namun Islam menjadi kekuasaan politik – ditandai dengan berdirinya kerajaan– pada abad ke-13 M. 4. Kerajaan Islam Awal di Aceh a. Kerajaan Perlak Kerajaan Perlak merupakan kerajan pertama di Nusantara atau bahkan Asia Tenggara. Kerajaan ini diproklamirkan berdiri pada hari Selasa, tanggal 1 Muharram tahun 225 H (840 M). Untuk mengenang jasa penyebar Islam pertama di Perlak yaitu seorang Nahkoda Khalifah. Maka Bandar Perlak sebagai ibukota kerajaan Islam pertama ini diganti dengan nama Bandar Khalifah. Raja pertama yang memerintah kerajaan ini ialah Said Maulana Alaiddin Abdul Aziz Syah dan memerintah selama 24 tahun: dari tahun 225-249 H (840864 M). Ibukota kerajaan ini Bandar Perlak. Kemudian ibukota kerajaan Islam Perlak dipindah dan diubah namanya menjadi Bandar Khalifah. Menurut Tgk. Hamzah Junus40 masa pemerintahan Islam Perlak berlangsung selam 467 tahun dari tahun 225-692 H dengan 13 orang sultan. Kerajaan Islam Perlah lahir bertepatan dengan masa pemerintahan Al-Muktashim Billah, khalifah Abbasiyah terkahir yang memerintah tahun 218-227 H (833-842 M). Sampai awal abad ke-10 tercatat empat orang raja yang memerintah Kerajaan Islam Perlak, yaitu: Sultan Alaiddin Saiyid Maulana Abdul Aziz Syah (225-249 H /840-864 M), Sultan Alaiddin Saiyid Maulana Abdurrahim Syah (249-285 H/ 864-888 H), Sultan Alaiddin Saiyid Maulana Abbas Syah (285-300 H / 888-913 H), Sultan Alaiddin Saiyid Maulana Ali Mughaiyat Syah (302-305 H/ 915-918 M). Penobatan Sultan yang keempat tertunda selama tiga tahun karena terjadi pertentangan politik antara aliran Syiah dan Ahlussunnah wal Jama’ah. Para saudagar yang dipimpin Nahkoda Khalifah terdiri atas pemimpin-pemimpin kaum Syiah yang tersingkir oleh penguasa dari dinasti Abbasiyah di Tanah Arab, Persia dan India. Pertentangan politik antara kedua mazhab ini dalam kerajaan Islam saat itu sampai meluas ke Perlak. Akhirnya kelompok Ahlussunnah wal Jama’ah berhasil menumbangkan kerajaan Islam Syiah dan menggantikannya dengan kerajaan Ahlussunnah Perlak. Dinasti Makhdum merupakan pelanjut dari sultan-sultan dinasti Saiyid Maulana yang berjumlah dua belas orang, yaitu: Sultan Makhdum Alaiddin Malik Abdul Kadir Syah Johan Berdaulat, (306-310 H / 918-922 M), Sultan Makhdum Alaiddin Malik Muhammad Amin Syah Johan Berdaulat (310-334 H /922-946 M), Sultan Makhdum Alaiddin Abdulmalik Syah Johan Berdaulat (334-361 H (946-973 M), Sultan Makhdum Alaiddin Malik Mansur Syah Johan Berdaulat (402-450 H /1012-1059 M), Sultan Makhdum Alaiddin Malik Mansur Syah Johan Berdaulat (450-470 H /1059-1078 M), Sultan Makhdum Alaiddin Malik Abdullah Syah Johan Berdaulat (470501 H (1078-1108 M), Sultan Makhdum Alaiddin Malik Ahmad Syah Johan Berdaulat (501-527 H /1108-1134 M), Sultan Makhdum Alaiddin Mahmud Syah Johan Berdaulat, (527-552 H /1134-1158 M), Sultan Makhdum Alaiddin Malik Usman Syah Johan Berdaulat, (552-565 H /1158-1170 M), Sultan Makhdum Alaiddin Malik Muhammad Syah Johan Berdaulat (565-592 H /1170-1196 M), Sultan Makhdum Alaiddin Malik Abduljalil Syah Johan Berdaulat (592-622 H /1196-1225 M) dan Sultan Makhdum Alaiddin Malik Muhammad Amin Syah II Johan Berdaulat (622-662 H/1225-1263 M).41
40 Hamzah Yunus, “Bandingan terhadap Sejarah Pemerintahan selama Berdiri Kerajaan-kerajaan Islam di Aceh” dalam Sinar Darussalam No. 94-95. YPD Unsyiah IAIN Ar-Raniry 1978. 41 Tuanku Abdul Jalil, Adat Meukuta Alam, Pusat Dokumentasi dan Informasi Aceh, Banda Aceh 1991, hal. 54-58. juga Raden Hoesein Djajadiningrat, alih bahasa Teuku Hamid, Kesultanan Aceh, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Proyek Pengembangan Permeseuman Daerah Istimewa Aceh, Banda Aceh 1982/1982, hal. 81-84. Al-Chaidar, Gerakan Aceh Merdeka..., hal. 16-28. Tim Penulis IAIN Syarif Hidayatullah, Ensiklopedi Islam

100

Sejarah Islam Indonesia (Menelusuri Sejarah Islam di Aceh Masa Awal) — Sri Suyanta

Dalam masa pemerintahan Sultan Abdul Malik Syah, kaum Syiah kembali melakukan perlawanan terhadap sultan dan terjadilah perang saudara selam empat tahun. Akhirnya perang saudara ini dapat diakhiri dengan kesepakatan damai, yaitu kerajaan Islam Perlak dibagi dua. Perlak pesisir untuk golongan Syiah dengan ibukota Bandar Periak. Perlak pedalaman untuk golongan Ahlussunnah dengan ibukota Bandar Khalifah. Pembagian wilayah kekuasaan ini mengakhiri perang saudara yang terjadi diantara dua idiologi politik yang saling mempengaruhi peta politik dunia Islam. Sultan Makhdum Alaiddin Malik Muhammad Amin Syah II tidak mempunyai putera mahkota, namun dibalik itu terjadi peristiwa penting dari sisi politis yaitu dilangsungkannya perkawinan dua orang puterinya dengan dua orang raja. Puteri ratna Kemala dikawinkan dengan Parameswara, salah seorang Raja Malaka, yang menggantikan namanya dengan Iskandarsyah setelah memeluk Islam. Dengan bantuan iparnya Malik Abdulazis Syah (putera mahkota Malik Muhammad Amin Syah II), sultan berjihad mengembangkan Ajaran Islam ke seluruh daratan Semenanjung Tanah Melayu. Sementara puteri Ganggang Sari dinikahkan dengan Sultan Malikussalih yang memerintah kerajaan Islam Samudera Pasai dari tahun 659-688 H (1261-1289 M). Perkawinan ini mempunyai arti yang sangat penting dalam penyebaran Islam di Sumatera dan Semenanjung Tanah Melayu. Selain itu, Kerajaan Islam Perlak sebagai kerajaan yang memiliki kebudayaan dan peradaban tinggi bersifat terbuka. Sultan Malik Abdul Aziz merupakan raja terakhir dinasti Makhdum dalam Kerajaan Islam Perlak. Setelah sulatan terakhir ini mangkat, Kerajaan Islam Perlak bergabung dengan Kerajaan Islam Samudera Pasai. Sultan Malik Salih dari Kerajaan Samudera Pasai menikah dengan Puteri Ganggang Sari dari Kerajaan Islam Perlak. Dari hasil perkawinan ini melahirkan seorang putera mahkota pewaris dua kerajaan, yakni Sultan Muhammad Malikul Dhahir. Faktor perkawinan ini menyebabkan lancarnya penyatuan Kerajaan Islam Perlak ke dalam Kerajaan Islam Samudera Pasai.42 b. Kerajaan Islam Samudera Pasai Kerajaan Islam Samudera Pasai adalah Kerajaan Islam terbesar dan termegah di Asia Tenggara pada abad ke-13. Kerajaan ini terletak di daerah Aceh Utara, di pesisir timur laut Aceh. Kemunculannya sebagai kerajaan Islam diperkirakan mulai awal atau pertengahan abad ke 13 M, sebagai hasil dari proses islamisasi daerah-daerah pantai yang pernah disinggahi pedagang-pedagang muslim sejak abad ke-7, ke-8 M, dan seterusnya.43 Sebelum berdirinya Kerajaan Islam Samudera Pasai, di daerah ini telah berdiri kerajaan-kerajaan kecil yang dipimpin oleh raja-raja yang bergelar ”Meurah”. Gelar Meurah Cut Intan misalnya, adalah pahlawan Aceh dari negeri-negeri kecil seperti Jeumpa, Samudera, Tanoh Data, dan lain-lain. 44 Bukti berdirinya kerajaan Samudera Pasai pada abad ke-13 M itu didukung oleh adanya nisan kuburan terbuat dari granit asal Samudera Pasai. Dari nisan itu dapat diketahui bahwa raja pertama kerajaan itu meninggal pada bulan Ramadhan tahun 696 H, yang diperkirakan bertepatan dengan tahun 1297 M. Pembentukan kerajaan Islam Samudera Pasai diawali dengan kedatangan seorang pembaharu Islam ke wilayah itu pada tahun 433 H (1042 M). Meurah Khair datang ke tanoh Data (di sekitar Cot Girek sekarang) untuk memperkenalkan sistem pemerintahan Islam ke raja Samudera. Meurah Khair, sang pembaharu, berasal dari keluarga Sultan Mahmud Perlak. Ia datang dengan dua tujuan sekaligus yaitu untuk mendakwah Islam dan membangun Kerajaan Islam Samudera Pasai. Akhirnya tujuan in tercapai dan ia menjadi
Indonesia, Penerbuit Djambatan, Jakarta, 1992. Tim Penyusun, Ensiklopedi Islam, PT. Ichtiar Baru Van Hoeve, Jakarta, 1994. 42 A. Hasjmy, dkk, 50 Tahun Aceh Membangun, MUI, Banda Aceh, 1995, h.3-8 43 Uka Tjandrasasmita (Ed.), Sejarah Nasional Indonesia III, PN Balai Pustaka, Jakarta, 1984, h.3. Sementara A. Hasjmy mengatakan bahwa kerajaan Islam Samudera Pasai lahir pada tahun 433 H atau 1042 M pada masa Daulah Abbasiyah dikuasai oleh Dinasti Buwaihi di Irak tepatnya pada masa Jalaluddin Daulah 416-435 H. 44 M. Junus Jamil, Tawarich …, h.9.

101

Jurnal Lektur Keagamaan, Vol. 8, No. 1, 2010: 91 - 118

raja yang pertama yang bergelar Maharaja Mahmud Syah disamping memiliki nama gelara lokal, Meurah Giri, 433-470 H (1042-1078 M).45 Adapun silsilah dari raja-raja kerajaan Samudera Pasai adalah: Maharaja Mahmud Syah (Meurah Giri), 433-470 H (1042-1078 M), Maharaja Mansur Syah, 470-527 H (10781113 M), Maharaja Khiyassyudin Syah, 527-550 H (1113-1155 M), MaharajaNurdin Sultan al-Kamil, 550-607 H (1155-1210 M), Sultan Malikussalih, 659-688 H (659-688 H (1261-1289 M), Sultan Muhammad Malikul Dhahir, 688-725 H (1289-1326 M), Sultan Ahmad Malikul Dhahir, 725-750 H (1326-1350 M), Sultan Zainuddin Malikul Az-Zahir, 750-796 H (1350-1394 M), Sultan Zainal Abidin, 1383-1400 H dan Malikah Nihrasiyah Rawangsa Khadiyu, 801-831 H (1400-1427 M).46 Sementara menurut pengakuan sarjana-sarjana Barat, Malik as-Slaeh merupakan pendiri kerajaan tersebut. Hal itu diketahui melalui tradisi Hikayat Raja-raja Pasai, Hikayar Melayu dan juga hasil penelitian atas beberapa sumber yang dilakukan sarjanasarjana Barat, khususnya para sarjana Belanda, seperti Snouck Hurgronye, J.P. Molquette, J.L. Moens, J. Hushoff Poll, G.P. Rouffacr, H.KJ. Cowan, dan lain-lain.47 Dari segi politik, munculnya kerajaan Samudera Pasai abad ke-13 M itu sejalan dengan suramnya peranan maritim kerajaan Sriwijaya, yang sebelumnya memegang peranan penting di kawasan Sumatera dan sekelilingnya.48 Dalam Hikayat Raja-raja Pasai disebutkan49 gelar Malik al-Saleh sebelum menjadi raja adalah Merah Silu atau Merah Silu. Ia masuk Islam berkat pertemuannya dengan Syekh Ismail, seorang utusan Syarif Mekah, yang kemudian memberinya gelar Sultan Malik al-Saleh. Nisan kuburan itu didapatkan di Gampong Samudera bekas kerajaan Samudera Pasai tersebut. Meurah Selu adalah putera Merah Gajah. Nama Merah merupakan gelar bangsawan yang lazim di Sumatera Utara. Selu kemungkinan berasal dari kata sungkala yang aslinya berasal dan Sanskrit Chula. Kepemimpinannya yang menonjol menempatkan dirinya menjadi raja. Dari hikayat itu terdapat petunjuk bahwa tempat pertama sebagai pusat kerajaan Samudera Pasai adalah Muara Sungai Peusangan, sebuah sungai yang cukup panjang dan lebar di sepanjang jalur pantai yang memudahkan parahu-perahu dan kapal-kapal mengayuhkan dayungnya ke pedalaman dan sebaliknya. Ada dua kota yang terletak berseberangan di muara sungai peusangan itu, Pasai dan Samudera. Kota Samudera terletak agak lebih ke pedalaman, sedangkan kota Pasai terletak lebih ke muara. Di tempat yang terakhir inilah terletak beberapa makam raja-raja. Pendapat bahwa Islam sudah berkembang di sana sejak awal abad ke-13 M, didukung oleh berita Cina dan pendapat Ibn Batutah, seorang pengembara terkenal asal Maroko, yang pada pertengahan abad ke-14 M (tahun 746H/1345 M) mengunjungi Samudera Pasai dalam perjalanannya dari Delhi ke Cina. Ketika itu Samudera Pasai diperintah oleh Sultan Malik al-Zahir, putera Sultan Malik al-Saleh. Menurut sumber-sumber Cina, pada awal tahun 1282 M kerajaan kecil Sa-mu-ta-la (Samudera) mengirim kepada raja Cina duta-duta yang disebut dengan nama-nama muslim yakni Husein dan Sulaiman. 50 Ibnu Batutah menyatakan bahwa Islam sudah hampir seabad lamanya disiarkan di sana. Ia meriwayatkan kesalehan, kerendahan hati, dan semangat keagamaan rajanya yang seperti rakyatnya,
M. Junus Jamil, Tawarich …, h.9. Tuanku Abdul Jalil, Adat Meukuta Alam..., hal. 54-58, Hoesein Djajadiningrat, Kesultanan Aceh..., hal. 81-84, Al-Chaidar, Gerakan Aceh Merdeka..., hal. 16-28. Tim Penulis IAIN Syarif Hidayatullah, Ensiklopedi Islam Indonesia..., dan Tim Penyusun, Ensiklopedi Islam. 47 Muhammad Ibrahim dan Rusdi Sufi, “Proses Islamisasi dan Munculnya Kerajaan-kerajaan Islam di Aceh”, dalam A.Hasjmy (Ed.), Sejarah Masuk dan Berkembangnya islam di Indonesia, Al-Ma’arif, Bandung, 1989, h.420. 48 Uka Tjandrasasmita, “Proses Kedatangan Islam dan Munculnya Kerajaan-kerajaan Islam di Aceh”, dalam A.Hasjmy (Ed.), Sejarah Masuk dan Berkembangnya Islam di Indonesia, Al-Ma;arif, Bandung, 1989, h. 362. 49 Muhammad Ibrahim dan Rusdi Sufi, Proses Islamisasi ..., h. 423-426. 50 H.J.De Graaf, “Islam di Asia Tenggara sampai Abad ke 18” dalam Azyumardi Azra (Ed.). Perspektif Islam di Asia Tenggara, Yayasan Obor Indonesia, Jakarta, 1989, h.3.
46 45

102

Sejarah Islam Indonesia (Menelusuri Sejarah Islam di Aceh Masa Awal) — Sri Suyanta

mengikuti mazhab Safi’i. Berdasarkan beritanya pula, kerajaan Samudera Pasai ketika itu merupakan pusat studi agama Islam dan tempat berkumpul ulama-ulama dari berbagai negeri Islam untuk berdiskusi berbagai masalah keagamaan dan keduniaan. Dalam kehidupan perekonomiannya, kerajaan maritim ini, tidak mempunyai basis agraris. Basis perekonomiannya adalah perdagangan dan pelayaran. Pengawasan terhadap perdagangan dan pelayaran itu merupakan sendi-sendi kekuasaan yang memungkinkan kerajaan memperoleh penghasilan dan pajak yang besar. Tome Pires menceritakan, di Pasai ada mata uang dirham. Dikatakannya: setiap kapal yang membawa barang-barang dari Barat dikenakan pajak 6%. Samudera Pasai pada waktu itu ditinjau dari segi geografis dan sosial ekonomi, memang merupakan suatu daerah yang penting sebagai penghubung antara pusat-pusat perdagangan yang terdapat di kepulauan Indonesia, India, Cina, dan Arab. Ia merupakan pusat perdagangan yang sangat penting. Adanya mata yang itu membuktikan bahwa kerajaan ini pada saat itu merupakan kerajaan yang makmur. Mata uang dirham dari Samudera Pasai tersebut pernah diteliti oleh H.K.J Cowan untuk menunjukkan bukti-bukti sejarah raja-raja Pasai. Mata uang tersebut menggunakan nama-nama Sultan Alauddin, Sultan Manshur Malik al-Zahir, Sultan Abu Zaid dan Abdullah, pada tahun 1973 M, ditemukan lagi 11 mata uang dirham di antaranya bertuliskan nama Sultan Muhammad Malik al-Zahir, Sultan Ahmad, Sultan Abdullah, semuanya adalah raja-raja Samudera Pasai pada abad ke-14 M dan 15 M. Atas dasar mata uang emas yang ditemuakan itu dapat diketahui nama-nama raja dan urut-urutannya, sebagai berikut: Sultan Malik al-Saleh yang memerintah sampai pada tahun 1207M, Muhammad Malik al-Zahir (1297-1326 M), Mahmud Malik al-zahir (1326-1345 M), Manshur Malik al-Zahir (1345-1346 M), Ahmad Malik alZahir (1346-1383 M), Zain al-Abidin Malik al-Zahir (1383-1405 M), Nahrasiyah (1402-? ), Abu Zaid Malik al-Zahir (7-1455 M), Mahmud Malikal Zahir (1455-1477 M), Zain al-Abidin (1477-1500 M), Abdullah Malik al-Zahir (1501-1513 M), dan sultan yang terakhir adalah Zain al-Abidin (1513-1524 M).51 Kerajaan Samudera Pasai berlangsung sampai tahun 1524 M. Pada tahun 1521 M kerajaan ini ditaklukan oleh portugis yang mendudukinya selama tiga tahun, kemudian tahun 1524 M dianeksasi oleh raja Aceh, Ali Mughayatsah. Selanjutnya, kerajaan Samudera Pasai berada di bawah pengaruh kesultanan Aceh yang berpusat di Bandar Aceh Darussalam.52 Dalam masa pemerintahan Sultan Muhammad Malikul Dhahir (688-725 H) dibentuklah suatu konfederasi kerajaan-kerajaan Islam yang terdiri atas Kerajaan Islam Perlak, Kerajaan Islam Beunua (Tamiang) dan kerajaan Islam Samudera Pasai. Ibnu Batutah pernah berkunjung ke kerajaan Pasai dan menuliskan catatan bahwa Kerajaan Samudera Pasai diperintah oleh seorang raja yang sangat alim dan salih. Kerajaan ini ramai dikunjungi oleh pera pedagang dari berbagai penjuru dunia saat itu untuk keperluan berdagang dan menuntut ilmu agama Islam. c. Kerajaan Islam Tamiang Kerajaan Islam Tamiang pada asalnya bernama Negeri Benua. Asal usul Negeri Benua adalah Pulau Kampai di Pangkalansusu. Di tahun 580 H (1184 M) satu rombongan masyarakat yang berasal dari negeri Peunaroon (Tanah Alas) yang dipimpin oleh Panglima Pucook Sulooh membuka daerah baru yang diberi nama ”Batu Karang” di daerah Tamiang sekarang. Para Pendatang ini berasal dari Tanah Alas. Mereka penganut Islam yang telah lama menetap di Perlak. Pucook Sulooh meninggal dunia pada tahun 609 H (1212 M). Anaknya yang bernama raja Sepala mewariskan Kerajaan negeri Tamiang. Kemudian diwariskan kepada raja Pahdiwangsa dan selanjutnya oleh raja Dinok. Setelah raja Dinok mangkat, negeri Tamiang diwariskan kepada puteranya yang bernama raja Malas.
51 52

Muhammad Ibrahim dan Rusdi Sufi, Proses Islamisasi..., h. 430. Taufik Abdullah (Ed.), Sejarah Umat Islam Indonesia, MUI, Jakarta, 1992, h.55.

103

Jurnal Lektur Keagamaan, Vol. 8, No. 1, 2010: 91 - 118

Selanjutnya Tamiang diperintah oleh raja Kelabu Tunggal. Setelah raja ini mangkat dilanjutkan oleh raja Peundekar. Kemudian raja ini mengangkat menantunya yang bernama Proom Syah menjadi raja. Dari keturunan raja ini Tamiang diperintah secara terus menerus sampai ia digantikan oleh raja Muhammad yang digelar raja silang. Selanjutnya negeri ini diperintah oleh raja Muda Seudia Putera dari seorang panglima yang bernama Makhdum Sa’ad. Dari keturunan raja Muda Seudia ini yang memerintah Tamiang secara turun temurun sampai ke masa terakhir pemerintahan kerajaan ini diperintah oleh Tengku Raja Sulong bin Raja Habsyah bin Raja Ma’an. Kerajaan Aceh Darussalam merupakan konfiderasi dari kerajaan Islam sebelumnya. Penutup Di wilayah Aceh pra Islam telah ada agama Hindu meskipun tidak sekuat di Palembang dengan kerajaan Sriwijayanya dan di Jawa yang berpusat kerajaan Mataram, Singasari dan Majapahit. Situs peninggalan Hindu masih dapat kita temui sampai sekarang di Aceh. Setelah Islam masuk ke Aceh, berangsur agama ini menjadi identitas keacehan yang kental dengan Islamnya. Kemudian berbagai identitas Islam dilekatkan pada Aceh, seperti Bumi Serambi Mekah, masyarakatnya religius dan lain sebagainya. Menurut kesepakatan umum pada sejarawan, Aceh merupakan tempat pertama di wilayah Melayu Nusantara yang didatangi Islam. Pendapat ini, hampir tidak diperdebatkan lagi. Akan tetapi tentang tempat asal kedatangan Islam, pembawanya, dan waktu kedatangannya, masih diperdebatkan dan belum ada kata final. Teori tempat asal kedatangan Islam di Aceh berkisar antara Arab, India, Coromadel dan Malabar. Sedangkan teori pembawa Islam ke Aceh adalah para pedagang/saudagar, para da’i dan para kaum sufi. Sementara teori tentang waktu datangnya Islam ke Aceh antara abad ke-7 dan abad ke-13. masing-masing teori yang dimajukan oleh para ahli tentang tempat asal, pembawa dan masa kedatangan Islam ke Aceh ini tentu memiliki argumentasi penguat. Jadi, Islam masuk ke Aceh ini memang memiliki banyak alur dan jalur, antara Arab, India, Coromande, Malabar. Akan tetapi muara utamanya adalah Arab, sebagai tempat pertama Islam diturunkan. Sedangkan tentang siapa pembawanya besar kemungkinan terjadi kolaborasi antara motif bisnis dengan dakwah Islamiyah. Oleh karena itu sangat dimungkinkan bahwa pembawa Islam ke Aceh adalah para pedagang ansikh, atau para pedagang sekaligus da’i atau para pedagang yang mengikuti ajaran tasawuf tertentu. Adapun tentang kapan masuknya Islam ke Aceh nampaknya bisa kita nyatakan bahwa sejak abad pertama hijriah (abad ke-7 Masehi) Islam telah merambah ke Aceh, namun Islam menjadi kekuatan yang solid dan monumental dalam sebuah kekuasaan politik pada abad ke-13 Masehi. Di sinilah letak pentingnya penelusuran jejak masuknya Islam ke Aceh dan munculnya Islam di Aceh.[]

Daftar Pustaka
Aboebakar Atjeh, ”Tentang Nama Aceh” dalam Ismail Suny (Ed.), Bunga Rampai Tentang Aceh, Bharata Karya Aksara, Jakarta, 1980. Al-Chaidar, Gerakan Aceh Merdeka: Jihad Rakyat Aceh Mewujudkan Negara Islam, Madani Press, Jakarta, 1999. Ali Hasjmy, 50 Tahun Aceh Membangun, Majelis Ulama Indonesia Daerah Istimewa Aceh bekerjasama dengan Pemerintah Daerah Istimewa Aceh, Banda Aceh, 1995. Ali Hasjmy, Kebudayaan Aceh Dalam Sejarah, Penerbit Beuna, Jakarta, 1983. Ali Hasjmy, Sejarah Masuk dan Berkembangnya Islam di Indonesia, Al-Ma’arif, Bandung, 1981. Azyumardi Azra, Jaringan Ulama: Timur Tengah dan Kepulauan Nusantara XVI: dan XVIII, Mizan, Bandung, 1994. C.S. Hurgronje, Islam di Hindia Belanda, Bharatara, Jakarta, 1973, h. 17. Djoko Suryo, dkk., Agama dan Peribahan Sosial, LKPSM, Yogyakarta, 2001. Edwin M. Loeb, Sumatra: Its History and People, Oxpord University Press, New York, 1972. Gavin W. Jones, “Agama-agama di Indonesia: Sejarah dan Perkembangannya”, dalam seri Prisma II, Agama dan Tantangan Zaman, LP3ES, Jakarta, 1985.

104

Sejarah Islam Indonesia (Menelusuri Sejarah Islam di Aceh Masa Awal) — Sri Suyanta H.J.De Graaf, ”Islam di Asia Tenggara sampai Abad ke 18” dalam Azyumardi Azra (Ed.) Perspektif Islam di Asia Tenggara, Yayasana Obor Indonesia, Jakarta, 1989. Hamzah Yunus, “Bandingan terhadap Sejarah Pemerintahan selama Berdiri Kerajaan-kerajaan Islam di Aceh” dalam Sinar Darussalam No. 94-95. YPD Unsyiah IAIN Ar-Raniry 1978. M. Hasbi Amiruddin (Ed.), Aceh Serambi Mekkah, Pemerintah Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam, Banda Aceh 2008 HM. Zainuddin, Tarich Atjeh dan Nusantara, Pustaka Iskandar Muda, Medan. Mahyuddin Hj. Yahya dan A.J. Halimi, Sejarah Islam, Fajar Bakti Sdn. Bhd, Kuala Lumpur, tt. Marwati Djoened Poeponegoro dan Noegroho Nosusanto (Ed). Sejarah Nasional Indonesia II, Balai Pustaka, Jakarta, 1984. Mohammad Said, Aceh Sepanjang Abad, Waspada; Medan, 1981. Muhammad brahim dan Rusdi Sufi, ”Proses Islamisasi dan Munculnya Kerajaan-kerajaan Islam di Aceh, dalam A. Hasjmy (peny.) Sejarah Masuk dan Berkembangnya Islam di Indonesia, Al-Ma’arif, Bandung, 1989. Muhammad Junus Djamil, Gerak Kebangkitan Aceh, ttp., 2005. Muhammad Syamsu As, Ulama Pembawa Islam di Indonesia dan Sekitarnya, Lentera Basritama, Jakarta, 1999. Musyrifah Sunanto, Sejarah Peradaban Islam Indonesia, Grafiti Pres, Jakarta, 2005. Raden Hoesein Djajadiningrat, alih bahasa Teuku Hamid, Kesultanan Aceh, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Proyek Pengembangan Permeseuman Daerah Istimewa, Banda Aceh 1982/1983. Sir Richard Winstedt, A. History of Classical Malay Literature, Oxford University Press, London, 1969. Sri Suyanta, Pola Hubungan ulama dan Umara: Pasang Surut Peran Ulama Aceh, Disertasi UIN Syarif Hidayatullah, Jakarta, 2005. Taufik Abdullah (Ed.), Sejarah Umat Islam Indonesia, MUI, Jakarta, 1991. Thomas Arnold, The Spread of Islam in The World: A. History of Peaceful Preaching, Goodword Books, India, 2001. Tim Penulis IAIN Syarif Hidayatullah, Ensiklopedi Islam Indonesia, Penerbit Djambatan, Jakarta, 1992. Tuanku Abdul Jalil, ”Kerajaan Islam Perlak Poros Aceh-Demak-Ternate” dalam A. Hasjmy (peny.), Sejarah Masuk dan Berkembangnya Islam di Indonesia, Al-Ma’arif, Bandung, 1993. Tuanku Abdul Jalil, Adat Meukuta Alam, Pusat Dokumentasi dan Informasi Aceh, Banda Aceh 1991. Uka Tjandrasasmita, ”Proses Kedatangan Islam dan Munculnya Kerajaan-kerajaan Islam do Aceh” dalam A. Hasjmy (peny.), Sejarah Masuk dan Berkembangnya Islam di Indonesia, Al-Ma’arif, Bandung, 1993. Uka Tjandrasasmita (Ed.), Sejarah Nasional Indonesia III, PN Balai Pustaka, Jakarta, 1984. V.I. Braginsky, Sejarah Sastra Melayu Dalam ’Abad 7-19 (Terjemahan), Henri Setiawan, INIS, Jakarta, 1998. Wan Hussein Azmi, ”Islam di Aceh, Masuk dan Berkembangnya Hingga Abad XVI” dalam A. Hasjmy (peny.), Sejarah dan Berkembangnya Islam di Indonesia, Al-ma’arif, Bandung, 1993. Yusny Saby, ”The Ulama in Aceh: A Brief Historical Survey” dalam Studia Islamika: Indonesia Journal For Islamic Studies, Vol. 8 Number 1, Jakarta, 2001. Zakaria Ahmad, Sekitar Keradjaan Atjeh dalam TH 1520-1675 Monora, Medan, 1972.

105

Jurnal Lektur Keagamaan, Vol. 8, No. 1, 2010: 91 - 118

Dr. Sri Suyanta, M.Ag lahir di Klaten pada tanggal 26 September 1967. Setelah menamatkan pendidikan dasarnya di SDN I Planggu (1981) dan SMPN II Cawas (1984), kemudian melanjutkan studi ke PGAN I Klaten. Berbekal ijazah keguruan ini, kemudian "meudagang" ke Serambi Mekkah dan "nyantri" di IAIN Ar-Raniry 1988 pada Jurusan Pendidikan Agama Fakultas Tarbiyah. Usai menamatkan studi Program S-1 (1993), kemudian "terjaring" pada program SPU IAIN angkatan Ke-13. Pada tahun 1994 bernasib mujur diterima di Program beasiswa Depag RI pada Program Pascasarjana S-2 di IAIN Ar-Raniry. Program Magister ini selesai diikuti selama dua tahun (1996), kemudian mengajar di IAIN. Dan pada tahun 2005 meraih gelar Doktor di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Sekarang mengemban amanah sebagai Asisten Bidang Akademik dan Kemahasiswaan Program Pascasarjana IAIN Ar-Raniry Banda Aceh.

106

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->