BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1.

Kajian Teoritis

2.1.1. Perekonomian Terbuka Sebagian besar perekonomian dunia adalah perekonomian terbuka yaitu mengekspor barang dan jasa ke luar negeri, mengimpor barang dan jasa dari luar negeri, serta meminjam dan memberikan pinjaman pada pasar modal dunia (Mankiw,2005: 295). Menurut (Samuelson,2003) Perekonomian terbuka adalah perekonomian yang melibatkan diri dalam perdagangan Internasional (ekspor dan Impor ) barang dan jasa serta modal dengan negara-negara lain dengan ukuran keterbukaan di lihat dari rasio ekspor atau impor terhadap GDP Gambar 2.1 Ekuilibrium Pendapatan Nasional Dalam Perekonomian Terbuka

13

EKUILIBRIUM ANTARA TABUNGAN DAN INVESTASI (DALAM DAN LUAR NEGERI)

Keterangan : s = ∆ S/ ∆ Y = MPS = 0,20 m = ∆ M/ ∆ Y = MPI = 0,30 Keterangan : 1. Keseimbangan antara pendapatan nasional dan pengeluaran agregate pada titik A yaitu 100 2. Pada tingkat pendapatan di bawah A maka permintaan agregate melebihi tingkat produksi à perusahaan meningkatkan kapasitas produksi, demikian pula sebaliknya

14

3. Gambar bawah à menunjukkan titik ekuilibrium antara tabungan dan saving à negara memiliki defisit transaksi berjalan (impor lebih besar dari ekspornya) 2.1.1.1 Hubungan Ekonomi Antar Negara (Economic Relationship Others Countries) Perdagangan Internasional dapat meningkatkan standar hidup dengan berspesialisasi pada produk yang mempunyai keunggulan komparatif, mengekpor barang dan jasa secara relatif effisien dan mengimpor barang dan jasa secara relatif tidak effisien. Keuangan Internasional dalam sistem keuangan internasional berperan sebagai perantara (lubricant) yang memfasilitasi pertukaran melalui pembelian dan penjualan.seperti komoditi untuk mendapatkan mata uang asing dan suatu mata uang dengan mata uang lainnya. 2.1.1.2 Neraca Pembayaran Internasional BoP ( Balance Of Payment ) BoP (balance of payment) atau neraca pembayaran adalah pencatatan yang sistematis dari seluruh transaksi ekonomi antara suatu negara dengan negara lain. Aturan umum dari BoP atau neraca pembayaran pertama transaksi yang menghasilkan valuta asing yang di catat dalam pos credit (+) dan transaksi yang menimbulkan pengeluaran valuta asing dicatat dalam pos debit (-). Element utama dari BoP adalah dari Current Account, yang isinya Impor dan ekspor barang atau BoT yang komposisinya komoditi primer dan manufaktur, surplus BoT ( X > M ) yang disebut favorable BoT dan deficit Bot ( X< M ) yang disebut unfavorable BoT. Jasa (shipping dan financial service), pendapatan dari investasi asset di luar negeri ( investement income ) dan transfer.financial account seperti lending (-)

15

atau Borrowing (+) dari pemerintah atau pun swasta, official reserve dana yang digunakan oleh pemerintah dan bank sentral untuk memanage nilai tukar (exchange rate) yang menggambarkan intervensi pemerintah di pasar valuta asing, statistical discrepancy yang menggambarkan aliran barang , jasa dan finansial yang tidak tercatat. 2.1.1.3 Nilai Tukar ( Exchange Rates ) Dalam perekonomian terbuka juga tidak lepas dari nilai tukar.karena nilai tukar sangat menentukan suatu besaran kurs dari setiap negara. Definisi singkat dari harga suatu mata uang dalam bentuk mata uang lainya, jumlah mata uang asing yang dapat dibeli dengan 1 unit mata uang domestik. ER (exchange rate) ditentukan dalam pasar valuta asing (foreign exchange market), dan mata uang asing lainya dapat diperdagangkan pada tingkat retail di bank-bank dan perusahaan yang bergerak di bidang tersebut. Gambar 2.2 Keseimbangan Nilai Tukar Rupiah Terhadap US Dollar

Rp/$ S

9000

E

D $

16

Keterangan : Demand curve slope downward menunjukkan nilai dollar turun (dan nilai Rp semakin mahal) keseimbangan demand & supply valuta asing menentukan nilai tukar suatu mata uang. Nilai Tukar mempunyai beberapa sistem yaitu Fixed exchange rate, Flexible exchange rate/Floating exchange rate, managed exchange rate. Terminologi perubahan nilai tukar terdiri dari depresiasi, apresiasi, devaluasi, dan revaluasi. 2.1.1.4 Perdagangan Luar Negeri (Foreign Trading) Ekspor adalah barang dan jasa yang diproduksi di dalam negeri dan dibeli oleh penduduk Negara lain. Impor adalah barang dan jasa yang diproduksi diluar negeri dan dikonsumsi di dalam negeri. Ekspor netto ( NX) = ekspor (X) – impor (M). jika positif menjadi net foreign investement tetapi jika negative menjadi net foreign borrowing. Faktor- faktor yang mempengaruhi ekspor atau impor yaitu output GDP – domestic atauluar negeri, nilai tukar (exchange rate) – depresiasi atau apresiasi. GDP dengan memasukan perdagangan luar negeri akan menghasilkan persamaan sebagai berikut : GDP = C + I + G + NX Dimana, C + I + G disebut permintaan domestic (domestic demand), sehingga NX = GDP – permintaan domestic. 2.1.1.5 Tabungan dan Investasi dalam Perekonomian Terbuka (Saving and Investation ) Model sederhana : I=S

17

I+G=S+T I = S + (T – G)

Pada perekonomian Terbuka I + NX = S + ( T – G ) Penulisan kembali sebagai persamaan idetitas NX = S + (T – G) – I 2.1.1.6 GNP Aktual dan Potensial (GNP Actual And Potential) Tujuan utama dari kegiatan ekonomi adalah menyediakan barang dan jasa yang masyarakat inginkan. Meskipun fluktuasi ekonomi dalam jangka pendek terjadi pada naik turunya siklus bisnis, namun dalam jangka panjang perekonomian tumbuh pesat dalam jangka panjang baik peningkatan GDP riil maupun standar hidup. Proses ini di namakan pertumbuhan ekonomi. GDP potensial menunjukan tingkat output maksimum yang berkesinambungan (maximum sustainable level of output) yang mampu diproduksi oleh perekonomian suatu Negara. Output potensial ditentukan oleh kapasitas produksi dalam suatu perekonomian, yang bergantung pada input yang tersedia (capital, labour, land, et ) dan effisiensi teknologi dalam suatu perekonomian. GDP actual menggambarkan tingkat output yang bisa dihasilkan dalam suatu perekonomian dengan kendala adanya perubahan siklus bisnis yang mungkin berubah bisnis dalam jangka pendek baik internal maupun eksternal. GDP potensial cenderung tumbuh secara mantap (steady growth), karena input seperti labor, capital dan tingkat teknologi berubah sangatlambat sepanjang waktu, sementara GDP aktual

18

tidak, mengikuti pola siklus bisnisnya. Saat perekonomian beroperasi pada kondisi potensialnya, penggunaan faktor produksi yang ada (angkatan kerja dan cadangan modal) telah berada pada keadaan penuh (full employment). 2.1.2 Teori Mundell-Fleming Untuk menganalisa efek penerapan sistem nilai tukar mengambang bebas dalam pelaksanaan kebijakan ekonomi suatu negara yang berperekonomian kecil dan terbuka, dapat digunakan suatu model ekonomi yang dirancang oleh ekonom Mundell dan Fleming. Model Mundell-Fleming adalah versi perekonomian terbuka dari model IS-LM. Kedua model tersebut, menekankan interaksi antara pasar barang dan pasar uang, serta mengasumsikan bahwa tingkat harga adalah tetapdan menunjukkan apa yang menyebabkan fluktuasi jangka pendek dalam perekonomian agregat (atau, sama dengan pergeseran kurva permintaan agregat) Perbedaan penting antara model IS-LM dengan model Mundell-Fleming (IS*LM*) adalah bahwa model IS-LM mengasumsikan perekonomian tertutup. Asumsi penting yang yang dipakai dalam model Mundell-Fleming adalah model tersebut didesain untuk negara yang berperekonomian kecil dan terbuka (small open economy) Hal ini mengandung konsekuensi bahwa pada perekonomian kecil tingkat suku bunga domestik (rd) akan sama dengan tingkat suku bunga internasional (r*), bahkan tingkat suku bunga di negara berperekonomian kecil dan terbuka tersebut ditentukan oleh tingkat suku bunga internasional. Penyebabnya, karena perekonomian negara tersebut hanya merupakan bagian kecil dari pasar internasional sehingga tidak memiliki pengaruh yang signifikan terhadap penetapan suku bunga internasional, dan karena

19

penduduk negara tersebut mempunyai akses penuh ke pasar uang internasional. Dengan demikian negara yang berperekonomian kecil dan terbuka menjadikan tinkgat suku bunga internasional sebagai eksogen dalam model ini. Akhirnya, satu hal hal yang perlu dicatat dalam model ini adalah perilaku perekonomian akan tergantung pada sistem nilai tukar yang diadopsi oleh negara yang bersangkutan. Lebih lanjut , menurut Mundell-Fleming, perekonomian teruka kecil dengan mobilitas modal sempurna dapat dijelaskan dua model persamaan sebagai berikut Y = C (Y-T) + I (r*) +G +NX .............(1) M/P = L (r*, Y) ...................................(2) Persamaan (1) menjelaskan keseimbangan di pasar barang (sektor riil), sehingga akan membentuk kurva IS*. Sedangkan, persamaan (2) menjelaskan

keseimbangan di pasar uang (sekotr moneter), dan akan menghasilkan kurva LM* Variabel eksogen dalam model ini adalah variabel kebijakan fiskal (G dan T) , variabel kebijakan moneter (M), tingkat harga (P) , dan tingkat bunga dunia (r*). Sedangkan variabel endogen adalah pendapatan nasional (Y) dan nilai tukar nominal (e) Gambar 2.3 Kondisi Keseimbangan pada Mundell-Fleming LM*

ERe IS*

20

Eq*

0

Ye

Sumber (Mankiw,2005:295) Hubungan kedua model dalam persamaan (1) dan (2) dapat dejelaskan dalam gambar 2.3 dimana keseimbangan untuk perekonomian terjadi Eq*, atau titik potong kurva IS* dan LM*. Titik potong ini menunjukkan nilai tukar nominal dan tingkat pendapatan nasional pada saat sektor riil dan sektor moneter suatu negara sedang berada pada posisi keseimbangan. Model ini, sering digambarkan sebagai “paradigma kebijakan dominan untuk mempelajari kebijakan moneter dan fiskal perekonomian-terbuka,” membuat satu asumsi penting dan ekstrim : perekonomian yang sedang dipelajari adalah perekonomian terbuka kecil dan ada mobilitas modal sempurna, berarti bahwa ia dapat meminjam atau meminjamkan sebanyak yang ia inginkan dalam pasar keuangan dunia, dan karenanya, tingkat bunga perekonomian dikontrol oleh tingkat bunga dunia, dinotasikan secara matematis sebagai r = r*. Satu pelajaran penting model ini yaitu kinerja perekonomian bergantung pada sistem kurs yang diadopsinya—mengambang atau tetap. Model ini akan membantu menjawab pertanyaan sistem kurs mana yang sebaiknya diadopsi suatu negara. Small open economic di bawah kurs mengambang dapat dirumuskan sebagai berikut : IS*: Y = C(Y-T) + I(r*) + G + NX(e) LM*: M/P = L (r*,Y)

21

Asumsi 1: Tingkat bunga domestik sama dengan tingkat bunga dunia (r = r*).

Asumsi 2: Tingkat harga ditentukan secara eksogen karena model digunakan untuk menganalisis jangka pendek (P). Ini berarti kurs nominal proporsional terhadap kurs riil. Asumsi 3: Jumlah uang beredar ditentukan secara eksogen oleh Bank Sentral (M). Assumsi 4: Kurva LM* akan vertikal karena kurs tidak masuk ke dalam persamaan LM*. Kondisi terwebut dapat digambarkan sebagai berikut : Gambar 2.4 Kurva Mundell-Fleming IS*

22

Kurva IS* miring ke bawah karena kurs yang lebih tinggi mengurangi ekspor neto (karena meningkatnya nilai mata uang membuat barang-barang domestik lebih mahal bagi orang asing), yang lalu, menurunkan pendapatan agregat Gambar 2.5 Menderivasi Kurva Mundell-Fleming LM*

23

Gambar 2.5 Menderivasi Kurva Mundell-Fleming LM*

24

Gambar 2.6 Model Mundell-Fleming Dibawah Kurs Mengambang

25

Gambar 2.7 Model Mundell-Fleming Dibawah Kurs Tetap

26

Model

Mundell-Fleming

menunjukkan

kebijakan

fiskal

tidak

mempengaruhi pendapatan agregat di bawah kurs mengambang. Ekspansi fiskal

27

menyebabkan mata uang apresiasi, mengurangi ekspor neto dan dampak ekspansif yang biasa pada permintaan agregat.

mengatasi

Model Mundell-Fleming

menunjukkan kebijakan moneter mempengaruhi pendapatan agregat di bawah kurs tetap. Tiap usaha ekspansi jumlah uang beredar sia-sia, karean jumlah uang beredar harus menyesuaikan untuk memastikan kurs bertahan pada tingkat yang diumumkannya. 2.1.3 Teori Nilai Tukar Nilai tukar adalah harga suatu mata uang terhadap mata uang lainnya atau nilai dari suatu mata uang terhadap nilai mata uang lainnya (Salvatore 1997:9). Kenaikan nilai tukar mata uang dalam negeri disebut apresiasi atas mata uang asing. Penurunan nilai tukar mata uang dalam negeri disebut depresiasi atas mata uang asing. Ada dua mekanisme nilai, yaitu mekanisme pasar dan penetapan pemerintah. Jika nilai tukar mata uang suatu negara ditetapkan berdasarkan mekanisme pasar, maka negara tersebut dikatakan menganut system nilai tukar (kurs) mengambang (floating exchange rate). Sebaliknya, nilai tukarnya ditetapkan pemerintah, maka negara tersebut menganut nilai tukar (kurs) tetap (fixed exchange rate). Tetapi ada juga negara yang membiarkan nilai tukar mata uangnya berdasarkan mekanisme pasar, yang jika pergerakan nilai tukarnya melampai batas, pemerintah melakukan intervensi. Negara yang menempuh cara demikian dikatakan menganut system nilai tukar mengambang terkendali (managed floating exchange rate). 2.1.3.1. Sistem-Sistem Nilai Tukar

28

Sistem nilai tukar yang ditentukan oleh pemerintah, ada beberapa jenis, antara lain: a. Sistem Nilai Tukar Tetap ( Fixed exchange rate system )

Sistem nilai yang ditahan secara tahap oleh pemerintah atau berfluktuasi di dalam batas yang sangat sempit. Jika nilai tukar berubah terlalu besar, maka pemerintah akan mengintervensi untuk memliharanya dalam batasbatas yang dikehendaki. Dalam sistem kurs tetap, kurs ditetapkan berdasarkan keputusan pemerintah kelebihan dari sistem ini adalah adanya kepastian nilai tukar yang dapat meningkatkan ekspektasi. Tetapi kelemahannya adalah kurs yang berlaku tidak selalu menggambarkan tingkat kelangkaan yang sebenarnya. Bisa terjadi nilai tukar yang ditetapkan pemerintah terlalu tinggi dibanding dengan kurs pasar (overvalued). Atau sebaliknya nilai tukar yang ditetapkan pemerintah terlalu rendah dibandingkan dengan kurs pasar (undervalued). Bila selisih kurs yang ditetapkan dianggap terlalu jauh, maka pemerintah melakukan koreks. Koreksi atas nilai tukar yang dinilai terlalu tinggi disebut devaluasi. Sedangkan koreksi untuk nilai tukar yang terlalu rendah disebut revaluasi. Jadi revaluasi dan devaluasi pada prinsipnya juga merupakan koreksi atas nilai tukar, seperti halnya dengan apresiasi dan depresiasi. Perbedaannya revaluasi dan devaluasi berdasarkan keputusan

pemerintah.sedangkan apresiasi dan depresiasi berdasarkan mekanisme pasar.

29

b. rate )

Sistem Nilai Tukar Mengambang ( Managed floating exchange

Sistem nilai tukar ini yang terletak diantara fixed dan freely floating, tetapi mempunyai kesamaan dengan fixed exchanger rate system, yaitu pemerintah bias melakukan intervensi untuk menjaga supaya nilai mata uang tidak berubah terlalu banyak dan tetap dalam arah tertentu . sedangkan bedanya dengan free floating, managed floating masih lebih fleksibel terhadap suatu mata uang. Lalu menurut Krugman dan Obstfeld (2000:485), managed floating exchange rate system adalah sebuah sistem dimana pemerintah mengatur perubahan nilai tukar tanpa bermaksud untuk membuat nilai tukar dalam kondisi tetap. Dan telah dikatakan dalam sistem nilai tukar mengambang, harga mata uang ditentukan berdasarkan mekanisme pasar (interaksi permintaan penawaran). Pergerakan nilai tukar semata-mata ditentukan oleh pergerakan sisi permintaan dan penawaran. Bila pertumbuhan permintaan lebih cepat dari pertumbuhan penawarannya maka mata uang tersebut akan semakin mahal (mengalami apresiasi). Bila nilai lebih lambat dari pertumbuhan dari pertumbuhan penawaran. c. Sistem Nilai Tukar Mengambang Bebas (Freely Floating

Exchange Rate system.) Sistem nilai tukar yang ditentukan oleh tekanan pasar, tanpa intervensi dari pemerintah. d. Sistem Nilai Tukar Patok ( Pegged exchange rate system )

30

Sistem nilai tukar dimana nilai tukar uang domestic dipatok secara tetap terhadap mata uang asing. Memilih diantara berbagai sistem nilai tukar harus di lihat juga 3 aspekaspek tertentu seperti : 1. Dalam jangka pendek, dengan sistem nilai tukar tetap sebuah Negara tidak menggunakan kekuatanya dalam mengontrol tingkat bunga dan nilai tukar. 2.Disamping itu, tindakan antisipasi terhadap terjadinya devaluasi mata uang akan mendorong investor untuk meminta tingkat bunga yang sangat tinggi. 3. Pendapatan yang menentang nilai tukar fleksibel adalah bahwa nilai tukar mungkin dapat berubah banyak dan mungkin sulit untuk di control. 2.1.3.2 Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Nilai Tukar Ada beberapa faktor utama yang mempengaruhi tinggi rendahnya nilai tukar mata uang dalam negeri terhadap mata uang asing. Faktor-faktor tersebut adalah : a. Laju Inflasi Relatif Dalam pasar valuta asing, perdagangan internasional baik dalam bentuk barang atau jasa menjadi dasar yang utama dalam pasar valuta asing, sehingga perubahan harga dalam negeri yang relative terhadap harga luar negeri dipandang sebagai factor yang mempengaruhi pergerakan kurs valuta asing. Misalnya, jika amerika sebagai mitra dagang Indonesia mengalami tingkat inflasi yang cukup tinggi maka harga barang Amerika.Juga menjadi lebih tinggi, sehingga otomatis terhadap barang dagangan relative mengalami penurunan. b. Tingkat Pendapatan Relatif

31

Faktor lain yang mempengaruhi permintaan dan penawaran dalam pasar mata uang asing adalah laju pertumbuhan riil terhadap harga-harga luar negeri. Laju pertumbuhan riil dalam negeri diperkirakan akan melemahkan kurs mata uang asing. Sedangkan pendapatan riil dalam negeri akan meningkatkan permintaan valuta asing relative dibandingkan. c. Suku Bunga Relatif Kenaikan suku bunga mengakibatkan aktifitas dalam negeri menjadi lebih menarik bagi para penanam modal dalam negeri maupun luar negeri. Terjadi penanaman modal cenderung mengakibatkan naiknya nilai mata uang yang semuanya tergantung pada besarnya perbedaan tingkat suku bunga di dalam dan luar negeri, maka perlu dilihat mana yang lebih murah, di dalam atau luar negeri. Dengan demikian sumber dari perbedaan itu akan menyebabkan terjadinya kenaikan kurs mata uang asing terhadap mata uang dalam negeri. d. Kontrol Pemerintah Menurut Madura ( 2003 : 114 ), bahwa kebijakan pemerintah bias mempengaruhi keseimbangan nilai tukar dalam berbagai hal termasuk : • • • Usaha untuk menghindari hambatam nilai tukar valuta asing Usaha untuk menghindari hambatan perdagangan luar negeri Melakukan intervensi di pasar uang yaitu dengan menjual dan membeli mata uang. Alasan pemerintah untuk melakukan intervensi di pasar uang adalah : • Untuk mempelancar perubahan dari nilai tukar uang domestic yang bersangkutan.

32

Untuk membuat kondisi nilai tukar domestic di dalam batas-batas yang ditentukan .

• •

Tanggapan atas gangguan yang bersifat sementara Berpengaruh terhadap variable makro seperti inflasi, tingkat suku bunga dan pendapatan.

e.

Ekspektasi Faktor kelima yang mempengaruhi nilai tukar valuta asing adalah ekspektasi atau nilai tukar masa depan. Sama seperti pasar keuangan yang lain, pasar valas beraksi cepat terhadap setiap berita yang memiliki dampak ke depan. 2.1.3.3 Stabilitas Nilai Tukar Nilai tukar yang stabil merupakan syarat pokok untuk tercapainya stabilitas ekonomi makro. Karena dalam dunia nyata, selalu ada interaksi antara sektor riil dengan sektor moneter, sehingga ketidakstabilan nilai tukar mencerminkan ketidakstabilan sektor riil dan atau sektor moneter. Pengalaman memang menunjukan bahwa ketidakstabilan nilai tukar sering merupakan gejala awal adanya ketidakstbilan sektor moneter. Tetapi tidak ada masalah ekonomi yang mendadak mucul. Karena itu biasanya gejala ketidakstabilan di sektor dapat bersumber pada ketidakeffisienan disektor riil. 2.1.3.4 Teori Kebijakan Moneter Sistem Nilai Tukar Dalam sistem nilai tukar tetap kebijakan moneter kurang efektif karena neraca transaksi berjalan tidak dapat berfungsi sebagai mekanisme penyesuaian karena ekspor dianggap sebagai variabel eksogen sehingga tidak dipengaruhi oleh fluktuasi nilai tukar, sedangkan impor sebagai fungsi dari pendapatan. Peranan

33

neraca transaksi berjalan digantikan oleh cadangan devisa yang berfungsi sebagai mekanisme penyesuaian untuk mencapai ekuilibrium overall BOP. Sampai seberapa jauh cadangan devisa dapat melaksanakan fungsinya tergantung pada besar kecilnya cadangan devisa. Menurunnya cadangan devisa inilah yang menyebabkan adanya counter productive bagi kebijakan moneter sehingga turunnya suku bunga akibat ekspansi kebijakan moneter pada akhirnya tidak dapat meningkatkan pendapatan riil masyarakat.Selain itu, elastisitas suku bunga dalam negeri yang cukup tinggi terhadap aliran modal internasional yang seharusnya dapat mempengaruhi efektivitas kebijakan moneter, juga tidak dapat efektif karena berkurangnya cadangan devisa. Dalam sistem nilai tukar tetap, kebijakan moneter tidak efektif baik dalam situasi perfect capital mobility maupun dalam perfect capital immobility. Sebagai ilustrasi, dalam system nilai tukar tetap, dampak dari ekspansi moneter dapat dilihat dari dua situasi sebagai berikut : a. Situasi Perfect Capital Immobility Dalam situasi demikian, kebijakan moneter tidak efektif karena tidak dapat meningkatkan pendapatan riil masyarakat. Kebijakan moneter yang ekspansif akan menurunkan suku bunga, mendorong investasi dan menaikkan pendapatan riil masyarakat.Namun karena suku bunga tidak elastis sempurna terhadap aliran modal, maka penurunan suku bunga tersebut tidak mengakibatkan aliran modal keluar. Namun meningkatnya pendapatan tersebut dapat mendorong masyarakat untuk membeli barang-barang import sehingga overall BOP mengalami defisit. Sampai seberapa jauh kenaikan pendapatan tersebut akan menyebabkan overall

34

BOP defisit tergantung pada marginal propensity to import (MPI). Semakin besar rasio MPI, semakin besar pula defisit BOP yang akan terjadi. Oleh karena sistem nilai tukar harus dipertahankan, maka defisit overall BOP tersebut harus dibiayai dengan cadangan devisa. Akibatnya, cadangan devisa menurun dan jumlah uang beredar juga menurun yang pada gilirannya mengakibatkan kontraksi pada kegiatan ekonomi. Menurunnya jumlah uang beredar akan mengembalikan suku bunga pada posisi semula sehingga kebijakan moneter tidak efektif. Dalam situasi demikian, kebijakan moneter kemungkinan masih efektif apabila elastisitas suku bunga terhadap investasi lebih besardari pada rasio marginal prospensity to impor (MPI). b. Situasi Perfect Capital Mobility Dalam situasi demikian, kebijakan moneter yang ekspansif akan menurunkan suku bunga dan mendorong investasi sehingga pendapatan riil masyarakat meningkat. Meningkatnya pendapatan akan mendorong impor sehingga menghasilkan deficit overall BOP. Selain itu, dengan asumsi perfect capital mobility, menurunnya suku bunga akan mendorong aliran modal ke luar sehingga menambah defisit overall BOP. Keseimbangan di titik E0 bukanlah merupakan keseimbangan jangka panjang karena pada titik ini overall BOP mengalami defisit. Keseimbangan jangka panjang memerlukan zero balance of overall BOP. Oleh karena nilai tukar harus dipertahankan konstan, maka defisit overall BOP tersebut harus dibiayai dengan cadangan devisa sehingga jumlah uang beredar menurun. Menurunnya jumlah uang beredar akan mendorong suku bunga kembali bergerak pada posisi semula yang lebih tinggi dan mengakibatkan

35

kontraksi kegiatan ekonomi. Ekuilibirum jangka panjang akan terjadi pada titik E1 yang mencerminkan bahwa kebijakan moneter tidak efektif dalam meningkatkan pendapatan riil masyarakat. Keseimbangan internal dan eksternal kembali pada posisi semula sebelum terjadinya ekspansi kebijakan moneter. Dalam situasi demikian, kebijakan moneter kemungkinan masih efektif apabila elastisitas suku bunga terhadap investasi lebih besar dari pada elastisitas suku bunga terhadap aliran modal internasional. Situasi tersebut dapat digambarkan sebagai berikut : Gambar 2.8 Kebijakan Moneter Situasi Perfect Capital Immobility r BP LM Y r ro
Eo

LM1
E1

IS Y Y Y11

36

Gambar 2.9 Kebijakan Moneter Situasi Perfect Capital Mobility Situasi Perfect Capital Immobility r BP MY r ro L S Y Y Y11
Eo

I

LM1 BP

E1

Kebijakan fiskal dalam sistem nilai tukar tetap dan dalam perfect capital mobility justru efektif karena eskpansifnya pengeluaran Pemerintah akan meningkatkan suku bunga dan investasi sehingga pendapatan riil masyarakat bertambah. Naiknya suku bunga kan mendorong aliran modal masuk dan overall BOP menjadi surplus sehingga cadangan devisa meningkat dan jumlah uang beredar bertambah. Kebijakan fiskal semakin kurang efektif jika elastisitas aliran modal internasional semakin kecil terhadap suku bunga dalam negeri.Dalam keadaan perfect capital immobility, kebijakan fiskal tidak efektif sama sekali

37

karena suku bunga tidak memiliki hubungan dengan aliran modal internasional. Dalam jangka panjang, ekspansi operasi Pemerintah tidak dapat peningkatkan pendapatan riil masyarakat karena overall BOP yang defisit harus diimbangi dengan kontraksi moneter akibat menurunnya cadangan devisa. 2.1.3.5 Nilai Tukar Nominal dan Nilai Tukar Riil Para ekonom membedakan nilai tukar mata uang domestik terhadap mata uang asing menjadi dua, yaitu nilai tukar nominal dan nilai tukar riil. Nilai tukar nominal adalah harga relative mata uang dua Negara. Sedangkan, nilai tukar riil adalah harga relative barang-barang di kedua Negara, atau kadang kala disebut term of trade. Hubungan antara kedua nilai tukar ini dirumuskan sebagai berikut (Mankiw 2005) : Nilai Tukar Riil = Nilai Tukar Nominal x Rasio Tingkat Harga ε = e x Pd / P f Dimana, Rasio Tingkat Harga = Tingkat Harga Barang Domestik Tingkat Harga Barang Luar Negeri Dengan demikian, semakin tinggi nilai tukar riil,berarti harga barangbarang luar negeri relative lebih murah dibandingkan harga barang-barang domestik. Hal ini akan mengakibatkan meningkatnya transaksi impor di Negara tersebut, sehingga berpengaruh terhadap nilai ekspor bersih (NX).Faktor-faktor yang menentukan nilai tukar riil (Mankiw,2005) : 1. Ekspor bersih ( net export / NX ) , tercermin dalam neraca perdagangan (current account) Negara yang bersangkutan. (2) (1)

38

Ekspor bersih = output nasional – pengeluaran domestik NX = Y – ( C + I + G ) (3)

Persamaan tersebut menunjukan, bahwa dalam perekonomian terbuka (open economy), pengeluaran domestic tidak harus sama dengan produksi domestic. Karena apabila terjadi selisih, maka selisihnya dapat diekspor (NX positif) atau diimpor (NX negative). Hubungan antara nilai ekspor bersih dengan nilai tukar riil dapat dirumuskan sebagai : NX = f (ε ) 2. Ekspor bersih harus sama dengan investasi asing bersih. Investasi asing besih (net foreign investement) adalah jumlah tabungan nasional (S, dimana S = Y – C – G ) dikurangi jumlah investasi (I) di suatu Negara. Atau, investasi asing bersih sama dengan total pinjaman yang diberikan masyarakat ke luar negeri dikurangi dengan total pinjaman yang diterima masyarakat dari luar negeri. Jadi, investasi asing bersih mencerminkan arus dana internasional untuk mendanai akumulasi modal di dalam negeri. Ekspor bersih = Investasi asing bersih S–I = NX (5) (4)

Persamaan di atas menunjukan, bahwa arus dana internasional untuk mendanai akumulasi modal serta arus barang dan jasa internasional adalah dua sisi mata uang yang sama, jika tabungan melebihi investasi, maka tabungan yang tidak membutuhkan, hai ini akan menyebabkan surplus perdagangan bagi Negara yang bersangkutan. Tetapi, bila investasi melebihi tabungan, maka kelebihan

39

investasi tersebut harus didanai dengan dana pinjaman luar negeri. Dengan dana pinjaman dari luar negeri ini, memungkinkan Negara yang bersangkutan untuk mengimpor lebih banyak barang dan jasa dari luar negeri dari pada mengekspornya, maka terjadilah deficit neraca perdagangan. 2.1.4 Teori Volatilitas Nilai Tukar Rudiger Dornbusch (1976) memperkenalkan satu teori mengenai Volatilitas nilai tukar yang lebih di kenal dengan anam teori Over-Shooting Exchange Rate. Dalam teorinya ini diasumsikan terdapat dua jenis barang, yaitu barang-barang traded dan barang-barang nontraded. Juga dinyatakan bahwa konsep mengenai Purchasing Power Parity tidak sepenuhnya berlaku, sehingga dapat mengakibatkan Overshooting nilai tukar, yang terjadi nilai tukar menajuh dari titik keseimbangan barunya sebelum dia kembali lagi.Volatilitas nilai tukar adalah ketidakstabilan harga dari suatu mata uang akibat dari penawaran dan permintaan mata uang suatu negara seperti contoh uji Kausalitas-Granger antara sektor keuangan dan volatilitas ekonomi menitik beratkan pada hubungan satu arah antara perkembangan sektor keuangan terhadap volatilitas ekonomi. Sebelum dilakukan uji kausalitas dilakukan terlebih dahulu uji kointregrasi antara variable perkembangan sektor keuangan dengan volatilitas ekonomi. Volatilitas nilai tukar didefinisikan sebagai tingkat kecendurungan berubahnya nilai tukar, yaitu seberapa sering dan seberapa besarnya fluktuasi nilai tukar.Gourieroux (2001: 130)) dalam bukunya Financial Econometric, Problem, Model and Methods mendefinisikan volatilitas sebagai time variying variance.

40

Variance di disini sebagai besaran yang menunjukan besarnya perubahan varian antar waktu. Volatilitas nilai tukar nominal selalu menjadi perhatian penting bagi para pengambil kebijakan yang dalam beberapa decade terakhir karena memiliki dampak yang sangat kuat terhadap kondisi makro ekonomi (Milhailov:2003) : 1. Terhadap inflasi, consumer price index(CPI) terutama pada produk impor atau barang input yang komponen luar negerinya sangat besar. 2. Terhadap aliran asset finansial, perubahan nilai tukar nominal akan memperangruhi keseluruhan return dari asset yang dinyatakan dalam nilai tukar yang berbeda 3. Terhadap current account, nilai tukar nominal mempengaruhi harga relative terhadap ekspor/impor (dengan kemungkinan perbedaan

elastisitas), akan mempenagruhi neraca perdagangan. 4. Terhadap balance sheet pemerintah dan perusahaan, dinegara berkembang, pinjaman swasta atau pemerintah kepada sisa dunia pada umumnya dinyatakan dalam US $, sementra revenue nya dinyatkan juga sebagai :

Dimana : Pt = indexs harga domestik Pt*= indexs harga luar negeri St = nilai tukar spot mata uang dalam negeri terhadap mata uang asing

41

2.1.5 Teori Natural Real Exchange Rate (NATREX) Dalam pembahasan sebelumnya tentang trend nilai tukar yang efektif dan indikasi makroekonomi adalah penting untuk menentukan kosistensi yang diamati. Nilai tukar efektif riil terhadao fundamental ekonomi makro yang mendasarinya. Oleh karena itu, kami menggunakan konsep Equilibrium real kurs (NATREX) model yang di kembangkan oleh Jerome Stein (1994-1996). NATREX adalah tingkat yang di tentukan oleh fundamental ekonomi yang berlaku dalam perekonomian. Model ini memungkinkan kita untuk menghasilkan benchmark kesetmbangan, berdasarkan teori diimplementasikan (Stein dan Paladino, 1998). Jadi patokan keseimbangan ini tidak berasasl dari proses atheoretical, sebagai model Stein dan Paladino (1998) yang telah menekankan model NATREX ini. Latar belakang dari NATREX di bagian ini adalah mungkin sebagai penegas. Model ini bersifat positif, dibutuhkan kebijakan pemerintah seperti yang diberikan dan tidak menggangap bahwa kebijakan tersebut mengoptimalkan satu kesejahteraan. Natural real equilibrium exchange rate adalah tingkat yang ditentukan oleh riil fundamental economic di setiap suatu Negara. NATREX akan bervariasi tergantung pada waktu melalui perubahan fundamental. Model ini bergerak pada keseimbangan nilai tukar, lengkap kontras dari hipotesis yang mendasari PPP (purchasing power parity) model. Setiap penyimpangan dari bahwa tingkat equilibrium pada titik waktu ini akan dianggap sebagai bukti mata uang yang misalignment tersebut. Oleh akrena itu mata uang ini beragumen, harus

42

sejajar jika perusahaan tingkat nyata diamati tidak dapat di benarkan oleh ekonomi yang fundamental. Singkatnya, model NATREX menambahkan saham dinamis – aliran interaksi persamaan 3 dan persamaan 4 untuk saldo pendekatan makro ekonomi standar dan dimasukannya dinamika persamaan memungkinkan NATREX bervariasi dari waktu ke waktu, mencerminkan perubahan mendasar pada variabel. Dalam jangka menengah, ekonomi mungkin menghadapi tingkat ketidakseimbangan dari current account. Dalam jangka panjang utang luar negeri dan modal menstabilkan evolusi yang nyata dari nilai tukar model NATREX sehingga diperoleh formula sebagai berikut : dR / dt = [ Rk dk / dt + RF dF / dt ] + Rz dZ / dt (1)

dimana : Rk, RF dan Rz adalah turunan parsial terhadap modal, utang dan dasar varibel masing-masing turunan. Mengingat k dan f adalah fungsi dari varibel-variabel fundamental (Z) – persamaan 1 dan persamaan 4, lintasan kurs riil dalam model ini sehingga dapat dinyatakan dalam variabel yang mendasar. dR / dZ = ∂R / ∂Z + [(∂R / ∂k) dk /dZ + (∂R /∂F) dF /dZ] (2)

dimana : ∂R/∂Z adalah pengaruh langsung dari variabel-variabel fundamental terhadap nilai tukar riil.variabel (∂R / ∂k) dk /dZ dan (∂R /∂F) dF /dZ adalah efek dari variabel fundamental untuk kurs riil melalui dampaknya terhadap k dan f (efek secara tak langung). 1. Single Equation Estimation

43

Kami mengacu pada kurs riil di tentuan oleh variable fundamental riil dalam ekonomi sebagai tingkat ekuilibrium nilai tukar riil natural (ERER). Modal secara umum dari ERER adalah satu persamaan seperti model ekonometrik sebagai berikut : erert = f ( Zt ) (3)

dimana : Zt adalah vector fundamental ekonomi : { g, r*, prd, tot and pol }. Huruf-huruf yang bertanda kecil merupakan persamaan natural Log. g adalah belanja pemerintah yang nyata, r* adalah tingkat bunga riil dunia. prb adalah produktifitas, tot adalah segi perdagangan dan pol adalah variable dummy. Dari variable-variable ini adalah ekonomi terbuka, yang tergantung pada perdangangan internasional (tot) dan sector keuangan (r*). Selain itu, kinerja ekonomi Negara sangat bergantung pada perusahaan tinggi produktifitas faktor total (PRD), difasilitasi oleh pengeluaran pemerintah sebagian besar aktif kebijakan (g) . variabel ini yang dipilih juga cukup umum diterima sebagai eksogen fundamental factor-faktor penentu pergerakan kurs riil di awal. Empiris penelitian (Edwards dan Savastano, 1999), untuk memperkirakan erer, kami regresi persamaan berikut ini :

reert = β
(4)

0

+ β 1gt + β 2r* +β 3prdt +β 4polt + β 5t + ε

t

variabel (g, r*, PRD dan tot) di definisikan sebelumnya reer adalah log alami,bunga tukar effektif (REER) dan t adalah variabel tren waktu. Persamaan 8 adalah mencari paling cocok dari pada relevan REER ekonomi fundamental eksogen suatu Negara. β
0

dan

ε

t

adalah kesalahan istilah konstan dan masing-

44

masing tren waktu (t) ditambahkan untuk menangkap efek dari hilang fundamental seperti capital stock (Montiel,1997). Sebuah pol variabel dummy juga diperkenalkan untuk menangkap perubahan mendadak dalam tren REER dari depresiasi satu ke depresiasi satu pada pertengahan tahun 1980-an . menggunakan koefisien estimasi yang diperoleh dari persamaan regresi 8 kita membangun keseimbangan bunga nilai tukar yang effektif atau (erer). Berbicara tentang teori koefisien β , berdasarkan pada konsep dasar yang ada,sebagai berikut : 1. Mundell-Flemming perekonomian terbuka model IS-LM, kenaikan (penurunan) pada rasio pemerintah konsumsi diperdagangkan akan mengahasilkan surplus neraca pembayaran (deficit). Pada giliranya pembayaran surplus (deficit) akan mengahargai (depresiasi) mata uang lokal. 2. Ketika kembali untuk mata uang asing di dominasi asset (r*), meningkatkan di luar itu dari mata uang local di dominasi asset (r), investor mengalihkan portofolionya dari asset local untuk asset asing. Mengingat segala sesuatu yang lain tetap sama, tingkat riil dolar suatu Negara contoh nya singapura terdepresiasi, konsep teori paritas suku bunga . 3. Kenaikan produktifitas lokal dan dalam hal perdagangan meningkatkan intensitas modal / investasi, Negara mengalami perbaikan dalam neraca pembayaran yang pada akhirnya menghargai mata uang domestik.

45

2.1.6 Pengukuran Keseimbangan Nilai Tukar Rupiah Tukar Perilaku nilai tukar yang bergejolak secara berlebihan akan membahayakan stabilitas perekonomian. Mengingat pentingnya pengaruh nilai tukar bagi stabilitas perekonomian, berbagai pendekatan ekonomi telah banyak digunakan dalam studi-studi untuk memprediksi nilai tukar riil keseimbangan. Perilaku Nilai Tukar Rupiah dan Alternatif Perhitungan Nilai Tukar Riil Keseimbangan. Dalam mengestimasi keseimbangan nilai tukar riil jangka panjang pada awalnya dibutuhkan pengukuran nilai tukar riil (RER atau REER) aktual. Dalam kaitan ini, terdapat beberapa alternatif definisi nilai tukar riil yaitu eksternal RER dan internal RER. “External” RER diukur sebagai nilai tukar nominal yang disesuaikan dengan perbedaan tingkat harga luar negeri terhadap dalam negeri. Pengukuran external RER dapat berupa PPP-based RER berdasarkan CPI, the Mundell-Flemming atau aggregate production cost RER, maupun the traded goods RER yang berdasarkan relative unit labor cost industri manufaktur, WPI, atau export unit values. Sedangkan “internal” RER didefinisikan sebagai sebagai harga relatif dari traded goods terhadap nontraded goods, atau didefinisikan sebagai harga relatif dari exportable and inportable goods in term of nontraded goods. Pengukuran PPP-Based RER berdasarkan CPI secara luas dipergunakan salam studi-studi empiris karena umumnya data indeks harga konsumen mudah

46

tersedia di bernagai negara sehingga memungkinkan perhitungan REER dengan mitra negara. Nilai tukar kesimbangan menurut Nurkes adalah suatu nilai tukar yang menghasilkan keseimbangan internal dan eksternal secara simultan, dengan tiga persyaratan yang harus dipenuhi, yaitu: tidak ada restriksi perdagangan, tidak ada inseftip khusus untuk capital inflow dan outflow, dan tingkat pengangguran yang wajar. Secara konseptual dapat dibedakan antara RER aktual dan keseimbangan RER jangka pendek (SRER) dan keseimbangan RER jangka panjang (LRER). Nilai RER aktual dipengaruhi oleh berbagai faktor yang mungkin bersifat transitory, termasuk faktor speculative bubble, transitory movements pada kebijakan dan variabel eksogen. SRER merupakan nilai RER yang telah bersih dari faktor-faktor yang bersifat spekulatif. Sedangkan LRER merupakan fungsi dari predeterminant variabel yang bersifat stationer dan kebijakan dan variabel eksogen yang permanent. Terdapat beberapa pendekatan untuk mengestimasi LRER a. Pendekatan relative PPP Salah satu teknik estimasi LRER adalah pendekatan Relative Purchasing Power Parity (PPP). Teknik yang digunakan dalam pendekatan PPP sangat sederhana dimana nilai tukar menurut PPPadalah yang menyamakan nilai produk dalam negeri bila ditukarkan dengan produk luar negeri. Pdom = RER x Pln PPP juga didasarkan pada asumsi yang sederhana yaitu (i) jenis dan mutu barang yang dipetukarkan sama, (ii) tidak ada biaya transport dan restriksi

47

perdagangan internasional, (iii) struktur ekonomi, teknologi dan permintaan masyarakat tidak berubah. Nurkse, Condition Buletin Ekonomi Moneter dan Perbankan, September 1999 Pengukuran nilai tukar keseimbangan dengan pendekatan ini pada dasarnya untuk memperoleh nilai tukar yang bersih dari pengaruh gangguan-gangguan yang bersifat transitory. Pada prakteknya, upaya memperoleh nilai tukar keseimbangan yang bebas dari transitory shocks diperoleh dengan mengidentifikasi-kan dan memilih tahun dasar yang dianggap shocknya dapat diabaikan (negligible). Penentuan tahun dasar dalam pendekatan ini menjadi sangat penting karena nilai tukar riil aktual dalam periode tahun dasar dianggap sebagai nilai tukar keseimbangan riil estimasi, sedangkan nilai tukar nominalnya dapat diperoleh setelah disesuaikan dengan perbedaan laju inflasi dalam dan luar negeri. Permasalahan yang mungkin timbul dari pendekatan ini adalah pemilihan tahun dasar seringkali didasarkan pada penilaian yang subyektif dalam menentukan bahwa RER pada tahun dasar mendekati LRER. Disamping itu pendekatan ini memiliki kelemahan karena menganggap bahwa LRER konstan. b. Pendekatan structural : Macro-economic balance Pendekatan structural general-equilibrium dikenal dengan pendekatan Macroeconomic Balance (MEB) atau Fundamental Equilibrium Exchange Rate (FEER) yang mendefinisikan keseimbangan jangka panjang nilai tukar riil sebagai nilai tukar yang berlaku ketika perekonomian berada dalam keseimbangan internal dan eksternal. Keseimbangan internal dicapai bila aktual output mencapai potential output (full employment). Kondisi ini ditandai dengan laju inflasi yang tidak terlalu tinggi dan konsisten dengan penyerapan tenaga kerja yang mendekati

48

natural full employment. Keseimbangan eksternal dicapai bila saving- investment gap berada pada tingkat yang normal. Kondisi ini dapat diartikan adanya defisit transaksi berjalan yang dapat ditoleransi dimana ketidakseimbangan transaksi berjalan dapat dibiayai oleh arus modal yang sustainable. Perhitungan menggunakan FEER menurut pendekatan dari ini dilakukan ini dengan adalah

model

makro.

Keunggulan

pendekatan

memungkinkan interaksi dinamis yang luas dari berbagai variabel dalam perekonomian sehingga dapat menghasilkan nilai tukar riil keseimbangan yang lebih realistis. Adapun keterbatasan operasional dari pendekatan ini adalah hasil estimasi sangat bergantung pada spesifikasi dari model makro dalam arti sangat tergantung pada realistis tidaknya parameter hubungan antar variabel yang digunakan dalam model struktural. c. Pendekatan reduced form: NATREX, Behavioral Equilibrium Approach pendekatan NATREX (Natural Equilibrium Real Exchange Rate) sendiri adalah mengukur keseimbangan nilai tukar yang mencerminkan keseimbangan external dan internal tanpa memperhitungkan factor-faktor siklikal, spekulasi aliran modal dan pergerakan cadangan devisa. Akhir-akhir ini studi empiris banyak dikembangkan untuk mengestimasi nilai tukar ekuilibrium dengan metode single equation reduced form (Elbadawi (1994), Elbadawi dan Soto Ahlers and Hinkle Perilaku Nilai Tukar Rupiah dan Alternatif Perhitungan Nilai Tukar Riil Keseimbangan (1994, 1995), Baffes et al (1997)). Estimasi LRER dengan pendekatan ini dilakukan dalam persamaan kointegrasi. Daya tarik dari pendekatan reduced form dibandingkan dengan

49

pendekatan struktural adalah pendekatan ini lebih sederhana dalam menggunakan latar belakang teori dan data. Pendekatan ini juga memperhatikan perilaku nilai tukar riil efektif untuk memperoleh nilai tukar keseimbangan yang mencerminkan kondisi fundamental perekonomian Fundamental determinants dari keseimbangan nilai tukar riil merupakan variabel-variabel yang sangat berpengaruh terhadap keseimbangan eksternal dan internal suatu negara. Metode ini memerlukan spesifikasi hubungan jangka panjang yang tepat tanpa harus mengestimasi karakteristik struktural dari perekonomian. Adapun faktor-faktor fundamental yang mempengaruhi keseimbangan nilai tukar riil jangka panjang dalam penelitian Elbadawi (1994) dan Baffes et al (1997) antara lain mencakup faktor-faktor yang mempengaruhi posisi

perdagangan antara home country dengan pasar dunia (terms of trade, trade opensess sebagai proteksi kebijakan perdagangan),faktor produktivitas sektor tradable dan non-tardable, arus modal, dan komposisi domestic absorption (pangsa investasi dalam PDB). Penelitian yang dilakukan oleh Faruqee (1995) tidak membahas masalah keseimbangan internal dan eksternal melainkan mengestimasi persamaan nili tukar riil dengan menggunakan productivity growth differentials, harga relatif non-traded goods, dan terms of trade sebagai variabel yang menetukan neraca berjalan (variabel X), dan memperlakukan stok NFA sebagai variabel eksogen. Nilai estimasi nilai tukar riil diperlakukan sebagai nilai trend, bukan sebagai nilai keseimbangan.

50

Sementara itu, Stein (1995) dengan formulasi NATREX (natural real exchange rate) menjelaskan gerakan nilai tukar jangka menengah dan panjang yang terkait dengan efisiensi dan produktivitas variabel fundamental riil, dengan asumsi nilai tukar riil melakukan penyesuaian ke arah keseimbangan. Penyimpangan dari kesimbangan eksternal dan internal dianggap sebagai disequilibrium terms dalam persamaan reduced form. Penimpangan dari keseimbangan internal diproyeksi dengan deviasi capacity utilization dari rataratanya, sedangkan penyimpangan dari keseimbangan eksternal diasumsikan sebagai fungsi dari deviasi US real long term rate dari rata-rata tertimbang comparable interest rate negara G7 lainnya. Dalam mengestimasi misalignment, Stein menghitung nilai estimasi dari hubungan jangka panjang dimana nilai tukar hanya merupakan fungsi dari variabel-variabel fundamental. Terdapat perbedan yang sangat besar antara nilai aktual dan nilai estimasi antara tahun 1977 dan 1982 serta antara 1983 dan 1986. Model juga tidak mencakup apresiasi besar yang terjadi pada dollar antara tahun 1980-1985. Pendekatan reduced form general equilibrium berkembang lebih lanjut dengan penyempurnaan-penyempurnaan antara lain memasukkan unsur-unsur ekonomi yang dapat Buletin Ekonomi Moneter dan Perbankan, September 1999 mempengaruhi ekspektasi pasar kedalam persamaan. Pendekatan ini dikenal dengan Behavioral Equilibrium Exchange Rate (BEER). Model nilai tukar jangka panjang BEER membentuk persamaan reduced form yang diderivasikan dari kondisi risk-adjusted interest parity: Et [Δ t+k] = -(it-it*) + πt .................................................................(1)

51

Dimana : St = nilai tukar nominal mata uang luar negeri per mata uang domestik it = suku bunga nominal it* = suku bunga luar negeri π = risk premium Persamaan (1) dikonversikan ke dalam bentuk riil (dikurangi dengan perbedaan ekspektasi inflasi : Et = ΔPt – ΔPt* sehingga menjadi : qt = Et [qt] + (rt-rt*) - πt ...................................................................(2) dimana qt = nilai tukar riil rt =it- Et [ΔPt] = tingkat bunga riil Persamaan kedua menunjukkan bahwa current equilibrium nilai tukar ditentukan oleh tiga komponen yaitu ekspektasi nilai tukar pada periode t, perbedaan suku bunga riil dengan jangka waktu t dan risk premium. Risk premium bertanda negatif menunjukkan bahwa peningkatan risk premium akan mendorong terjadinya depresiasi nilai tukar riil. Agar persamaan (2) dapat diaplikasikan, diasumsikan bahwa ekspektasi nilai tukar, Et [∆qt+k ] dipengaruhi oleh fundamental ekonomi jangka panjang, Zt, sehingga keseimbangan nilai tukar jangka panjang menjadi: q = E [∆q ] = E[β’ Z ] = β’ Z ………………………………… (3) Faktor-faktor yang dapat menyebabkan variabilitas sistemik pada q telah banyak dibahas pada penelitian-penelitian sebelumnya, antara lain Faruqee (1994) dan macDonald (1997). Faktor fundamental tersebut antara lain terms of trade

52

(tot), harga relatif traded goods terhadap non-traded goods dan aktiva luar negeri bersih (nfa). + + + q = f( tot , tnt ,nfa ) ……………….................………………… (4) Dari persamaan (1) – (4) dapat dihasilkan persamaan umum sebagai berikut: BEER = f(tot, tnt, nfa, r-r*, π)...................................................... (5) a. Term of trade (tot) Terms of trade didefinisikan sebagai perbandingan harga ekspor (unit value of export) terhadap harga impor (unit value of import). Terms of trade berdampak positif terhadap prilaku nilai tukar riil. Perbaikan terms of trade akan mendorong perbaikan posisi transaksi berjalan yang selanjutnya akan cenderung berdampak pada menguatnya nilai tukar domestik. b. Produktivitas (tnt) Dari sisi penawaran, determinan nilai tukar riil diwakili oleh relatif faktor produktivitas yang dikenal dengan “the Balassa-Samuelson effect” yang menunjukkan bahwa setiap proses yang menyebabkan pertumbuhan produktivitas sektor tradable lebih cepat dari pada sektor nontradable (dibandingkan dengan luar negeri) akan mendorong apresiasi nilai tukar riil.Dengan asumsi bahwa teknologi constant-resturn-to scale baik pada sektor tradable maupun nontradable dan berlakunya the law of one price pada tradable goods, maka peningkatan produktivitas pada produksi tradable goods cenderung akan

meningkatkan marginal produktivity of labor sektor tersebut yang tercermin pada kenaikan upah pada sektor tradable. Adapun perfect mobility of labor antar

53

sektor, hal ini pada gilirannya akan meningkatkan harga nontradable, mendorong apresiasi nilai tukar riil.

c. Aktiva luar negeri bersih (nfa) Jumlah aktiva luar negeri bersih mencerminkan ketersediaan devisa untuk memenuhi kewajiban-kewajiban dengan pihak luar negeri. Makin besar jumlah cadangan devisa yang dimiliki maka kepercayaan luar negeri atas kemampuan negara kita untuk mengatasi external shock akan meningkat, sehingga dapat menekan berspekulasi atas mata uang domestik dan nilai tukar riil cenderung akan menguat. d. Resiko (risk) Country risk suatu negara mempengaruhi ekspektasi masyarakat terhadap perekonomian negara yang bersangkutan, yang tercermin dari keputusankeputusan investasi yang akan dilakukan di negara tersebut. Makin tinggi risk premium suatu negara maka akan semakin mahal untuk melakukan investasi di negara tersebut. Tingginya resiko juga menurunkan suku kepercayaan investor asing dan menimbulkan tekanan depresiatif terhadap nilai tukar riil. e. Perbedaan suku bunga riil dalam negeri dan luar negeri (ridf) Perbedaan suku bunga riil dapat menjadi daya tarik bagi investor untuk mendapatkan return yang lebih tinggi bagi investasinya. Jika perbedaan suku bunga dalam dan luar negeri makin membesar diperkirakan akan mampu menarik arus modal masuk sehingga nilai tukar riil menguat.

54

Misalignment nilai tukar riil merupakan komponen penting yang dapat menciptakan ekspektasi nilai tukar di pasar. Dengan demikian, apabila misalignment nilai tukar dapat terukur dengan baik, maka otoritas moneter akan dapat memprediksi perubahan ekspektasi pasar terhadap nila tukar sehingga pelaksanaan manajemen nilai tukar dapat lebih produktif. 2.2. Kajian Empiris 2.2.1 Penelitian Ahtar-Hilton (1985) Pengaruh resiko nilai tukar terhadap perdagangan internasional rupanya Semakin banyak menarik perhatian ilmu ekonomi internasional. Hal ini bukanlah esuatu yang baru. Karena, ‘isu’ Pengaruh Resiko Nilai Tukar mempunyai implikasi penting bagi pemilihan sebuah sistem moneter internasional. Di Eropa misalnya, Pengaruh Resiko Nilai Tukar, adalah salah satu argumentasi utama ekonomi untuk penyatuan keuangan. Karena, secara umum dipercayai bahwa pengaruh resiko nilai tukar dapat menghambat perdagangan internasional. Langkah yang dilakukan pemerintah negara-negara Eropa adalah mengurangi dampak resiko akibat terjadinya transaksi pertukaran antar mata uang yang beragam, dengan cara penyatuan keuangan. Langkah ini diharapkan dapat mengurangi resiko yang tinggi, yang dapat menghambat perdagangan. Kajian teoritis mengenai pengaruh nilai tukar pada perdagangan telah banyak dilakukan oleh beberapa peneliti. Salah satu kajian teoritis yang menjadi teori dasar dalam penelitian ini diberikan oleh Hooper & Kohlhagen (1978). Selanjutnya, teori ini digunakan dalam penelitian-penelitian yang dilakukan oleh

55

Chusman (1983), Gotur (1985), Stockman (1995), Arize (1997) Baum (1999), dan Klassens (1999).

2.2.2 Penelitian Issam S.A. Abdalla and Victor Murinde Penelitian ini mengaplikasikan pendekatan kointegrasi untuk mempelajari hubungan jangka panjang antara harga saham dan Nilai tukar efektif untuk Pakistan, Korea, India and Philippines. Mereka menggunakan data dari Januari 1985 hingga Juli 1994. Penelitian ini tidak menemukan hubungan jangka panjang untuk pakistan dan korea, tetapi menemukan hubungan jangka panjang untuk India dan Filipina. Mereka juga menggunakan uji kausalitas antara harga saham dan nilai tukar. Dengan menggunakan uji kausalitas Granger, mereka menemukan hubungan kausalitas searah dari nilai tukar pada harga saham untuk pakistan dan korea. Karena dalam penelitiannya, ia menemukan hubungan jangka panjang antara india dan filipina mereka menggunakan pendekatan ECM untuk mempelajari hubungan kausalitas antara variabel tersebut. Hasilnya menunjukkan bahwa hubungan kausalitas searah dari nilai tukar pada harga saham untuk India, tetapi di filipina terjadi hubungan arah yang terbalik dari harga saham pada nilai tukar. 2.2.3 Penelitian Amare and Mohsin (2000) Dalam penelitian ini mempelajari hubungan jangka panjang antara nilai tukar dan harga saham untuk 9 negara di Asia (Japan, Hong Kong, Taiwan, Singapore, Thailand, Malaysia, Korea, Indonesia, and Philippines). Mereka

56

menggunakan data bulanan dari Januari 1980 hingga Juni 1998 dengan menggunakan teknik kointegrasi. Hubungan jangka panjang antara harga saham dan nilai tukar hanya ditemukan di Singapur dan filipina. Namun mereka menjelaskan, terdapat lack yang dihasilkan dari hasil model tersebut, yang memberikan hasil yang bias karena melalai satu variabel penting (omission of important variabels). Pada saat variabel suku bunga dimasukkan dalam model kointegrasi mereka menemukan bahwa harga saham, nilai tukar dan suku bunga berkointegrasi untuk 6 dari 9 negara. 2.2.4 Penelitian lain Sejauh ini telah dilakukan beberapa penelitian untuk mengetahui pengaruh fluktuasi nilai tukar terhadap ekspor. Penelitian pada masa nilai tukar mengambang terkendali dilakukan oleh Goeltom (1997) menunjukkan bahwa fluktuasi nilai tukar tidak memberikan pengaruh yang signifikan terhadap perdagangan. Sementara itu, penelitian pada masa nilai tukar mengambang bebas dilakukan oleh Susilo (2001). Ia menjelaskan bahwa pada jangka panjang ketidakpastian nilai tukar efektif riil mempunyai dampak yang signifikan terhadap ekspor riil non migas, sedangkan pada jangka pendek ketidakpastian nilai tukar efektif riil tidak mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap ekspor riil. Dalam sebuah studi literatur yang komprehensif tentang pengaruh volatilitas nilai tukar terhadap aliran perdagangan, McKenzie (1999)

menyimpulkan bahwa studi empiris akhir-akhir ini memperoleh hubungan yang signifikan secara statistik antara volatilitas nilai tukar dan perdagangan (hal.100). Calvo dan Reinhart (2000a) dalam Siregar dan Rajan (2002) Melakukan tinjauan

57

ulangterhadap beberapa studi dan memperoleh kesimpulan yang sama. Di sisil ain sejumlah besar studi empiris menunjukkana danya dampak negatif dari volatilitas nilai tukar terhadap total perdagangan, ekspor dan impor, sementara yang lain dilaporkan positif dan memiliki dampak tidak signifikan. Hanya Chowdury (1993) dan Caporale dan Doroodian (1994) melaporkan adanya konsistensi pengaruh negatif antara volatilitas nilai tukar terhadap ekspor dan impir. Studi lain seperti yang dilakukan oleh Klein(1990), McKenzie (1998), Baile, Tavlas dan Ulan (1987), Koray dan Lastrapes (1989), McKenzie dan Brooks (1997), McKenzie (1998),Daly(1998),Wei (1999) dan Chou (2000) menemukan bukti bahwa ketika volatilitas nilai, baik terhadap ekspor maupun impor tergantung pada produk dan negara mitra dagang. Dengandemikian kesimpulan yang dihasilkan tidak bisa dipastikan.Terdapatj ugabeberapa studi yang menyimpulkan bahwa volatilitas nilaitukar tidak memiliki pengaruh yang signifikan terhadap kinerja ekspor seperti yang disampaikan oleh Aristoteleus (2001) dalam hal ekspor Inggris ke Amerika Serikat sepanjang periode 1889– 1999. 2.3. Kerangka Pemikiran dan Hipotesis 2.3.1 Kerangka Pemikiran Setiap negara memiliki strategi pengelolaan nilai tukar yang berbeda-beda. Volatilitas nilai tukar nominal selalu menjadi perhatian penting bagi para pengambil kebijakan yang dalam beberapa dekade terakhir memiliki dampak yang sangat kuat terhadap kondisi makro ekonomi (Mihailov,2003) :

58

a. Terhadap inflasi: Consumer Price Index(CPI) terutama terhadap produk impor, atau barang input yang komponen luar negerinya sangat besar, dan lain-lain. b. Terhadap aliran asset finansial: perubahan nilai tukar nominal akan mempengaruhi keselurahan return dari asset yang dinyatakan dalam nilai tukar yang berbeda. c. Terhadap Current Account: nilai tukar nominal mempengaruhi harga relatif terhadap ekspor/impor(dengan kemungkinan perbedaan elastisitas), dan akan mempengaruhi neraca perdagangan . d. Terhadap Balance Sheet pemerintah dan perusahaan: di negara berkembang, pinjaman swasta atau pemerintah kepada sisa dunia umumnya dinyatakan dalam US $, sementara revenue-nya dinyatakan dalam mata uang lokal. Faktor-Faktor Exchange Rate yang dihubungkan dengan Volatilitas nilai tukar diantaranya : 1. Inflasi dihubungkan dengan volatilitas nilai tukar Dalam pasar valuta asing, perdagangan internasional baik dalam bentuk barang atau jasa menjadi dasar yang utama dalam pasar valuta asing dan apabila di hubungkan dengan volatilitas nilai tukar ini yang berdasarkan teori yang sudah ada, biasa menjadi perubahan harga dalam negeri yang relatif terhadap harga nilai tukar luar negeri yang dipandang sebagai faktor yang mempengaruhi pergerakan kurs valuta asing yang bisa menimbulkan ketidakstabilan harga dalam negeri dan harga luar negeri yang disebabkan oleh volatilitas itu sendiri. 2. Tingkat pendapatan dihubungkan volatilitas nilai tukar

59

Laju pertumbuhan riil dalam negeri diperkiraan akan melemahkan kurs mata uang asing. Sedangkan pendapatan riil dalam negeri akan meningkatkan permintaan valuta asing dan tingkat pendapatan dapat mempengaruhi langsung atas volatiltas nilai tukar dalam negeri apabila mempengaruhi perimintaan dan penawaran dalam pasar mata uang asing. 3. Suku bunga dihubungkan dengan volatilitas nilai tukar Kenaikan suku bunga mengakibatkan aktifitas dalam negeri menjadi lebih menarik bagi para penanam modal dalam negeri maupun luar negeri. Dan factor ini lah yang mempengaruhi stabilitas harga nilai tukar dari suatu mata uang yang bisa mengakibatkan penawaran dan permintaan mata uang suau atu negera menjadi lebih dominan atau bisa mempengaruhi volatilitas nilai tukar di suatu negara. 4. Kontrol Pemerintah dihubungkan dengan Volatilitas nilai tukar Bahwa kebijakan pemerintah bisa mempengaruhi keseimbangan nilai tukar dalam bentuk menghindari hambatan nilai tukar valuta asing dan menghindari hambatan luar negeri dan melakukan intervensi di pasar uang seperti menjual dan member mata uang. Dan dalam hal ini kontrol pemerintah sangat berhubungan erat dalam menjaga kelangsungan penawaran dan permintaan terhadap mata uang asing yang beredar di valas. Karena volatilatas nilai tukar dapat mempengaruhi penawaran dan permintaan mata uang asing. 2.3.3. Hipotesis Hipotesis dalam penelitian ini adalah :

60

1. Pengeluaran pemerintah berpengaruh signifikan terhadap volatilitas nilai tukar (kurs) nasional periode 2001.I sampai dengan 2008.IV 2. Tingkat suku bunga dunia berpengaruh signifikan terhadap volatilitas nilai tukar (kurs) nasional periode 2001.I sampai dengan 2008.IV 3. Produktivitas nasional berpengaruh signifikan terhadap volatilitas nilai tukar (kurs) nasional periode 2001.I sampai dengan 2008.IV 4. Intensitas perdagangan internasional berpengaruh signifikan terhadap

volatilitas nilai tukar (kurs) nasional periode 2001.I sampai dengan 2008.IV 2.4. Model Penelitian Model yang dipakai dalam penelitian ini adalah mengacu pada jurnal yang ditulis oleh Reza Y. Siregar and Choo Lay Har, Juni 2001 tentang Fundamental ekonomi dan managed Kurs Mengambang Rezim di Singapura, yaitu model NATREX (Natural Equilibrium Real Exchange Rate). Model penelitian dinyatakan sebagai berikut : reer t = F (Zt) dimana reert = riil efective exchange rates, sedangkan Zt adalah faktor

fundamental ekonomi yang akan mempengaruhi volatilitas nilai tukar rupiah, seperti pengeluaran pemerintah, tingkat suku bunga dunia, tingkat produktivitas dan transaksi perdagangan. Maka nilai tukar merupakan fungsi dari pengeluaran pemerintah (g), tingkat suku bunga dunia (r), tingkat produktivitas (prd),dan transaksi perdagangan (tp), atau : reert = f (g,r,prd, tp)

61

Persamaan regresi berganda (multiple regression) dapat dirumuskan sebagai berikut :

reert = a0 + a1gt + a2r*t + a3prdt + a4tpt + εt

dimana : reert a0 a1- gt r*t prdt = riil efective exchange rate periode 2001.I sampai dengan 2008.IV = konstanta = koefisien regresi periode 2001.I sampai dengan 2008.IV = tingkat suku bunga dunia periode 2003.I sampai dengan 2009.IV = tingkat produktivitas (output GDP) periode 2003.I sampai dengan 2009.IV tpt = intensitas perdagangan internasonal periode 2003.I sampai dengan 2009.IV εt = error term

62

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful