P. 1
MENGEMBALIKAN JATIDIRI MAHASISWA

MENGEMBALIKAN JATIDIRI MAHASISWA

|Views: 366|Likes:
Published by Syihabudin Ahmad

More info:

Published by: Syihabudin Ahmad on Aug 02, 2010
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

10/25/2012

pdf

text

original

MENGEMBALIKAN JATIDIRI MAHASISWA

ZULKIPLY HARUN Kebelakangan ini, peranan mahasiswa yang dianggap sebagai agen arus perubahan yang diinginkan masyarakat bergema semula. Pandangan masyarakat terhadap mahasiswa sebagai kelompok intelektual dan sebagai agen gerakan pembaharuan, hendaklah menyadarkan kita (mahasiswa) sebagai kelompok intelektual muda. Dalam hal itu, mahasiswa dituntut untuk dapat berperanan lebih nyata terhadap perubahan atau paling tidak menjadi pendokong dari sebuah perubahan ke arah yang lebih baik. Kesadaran yang tumbuh dalam masyarakat untuk melakukan perubahan terhadap sistem yang cenderung berorientasi pada kekuasaan yang membelenggu demokrasi, menuntut peranan yang lebih dari mahasiswa sebagai agen perubahan serta sebagai mekanisma kawalan. Kedudukan mahasiswa sebagai mekanisma kawalan, bermaksud sebagai pengimbang kepada kekuasaan yang ada pada pemerintah. Tugas tersebut, idealnya memang dilakukan oleh partai politik, namun sayang hal itu tidak berlaku, bahkan dimandulkan oleh kekuasaan yang tidak mengenal apa yang dikatakan "kritikan". Dalam konteks itulah, letak peranan mahasiswa sebagai agent of social control serta sebagai agent of change. Namun kalau dinilai, gerakan mahasiswa yang baru saja dibahas, sepertinya tidak mempunyai visi yang jelas serta kehilangan konsep. Itu semua, disebabkan karena kesadaran mahasiswa akan suatu gerakan belum sepenuhnya terbuka, dan bahkan cenderung bersifat euforia. Hanya beberapa mahasiswa saja, yang benar-benar konsisten serta matang dalam menggagas gerakan pembaharuan. Gerakan Mahasiswa Kalau kita bandingkan mahasiswa sekarang dengan mahasiswa dahulu, sangatlah jauh berbeza. Dulu, mahasiswa dengan idealismenya dapat menjadi payung kepada masyarakat marhain yang perlukan pembelaan. Peristiwa Baling 1974 adalah manifestasi jelas peranan mahasiswa yang dimaksudkan. Semangat juang yang digerakkan oleh pemimpin-pemimpin mahasiswa waktu itu, dengan setiap saat melakukan penyadaran terhadap rakyat, berhasil menghasilkan beberapa orang pemimpin ternama hari ini Bandingkan hal tersebut dengan mahasiswa sekarang, yang mengalami degradasi, baik dari segi intelektualisme, idealisme, patriotisme, maupun semangat jati diri mereka. Mahasiswa sekarang, cenderung untuk berpikir pragmatis dalam menghadapi persoalan.

Ada dua persoalan yang mendasari analisis mengenai sebab-sebab hal tersebut, sehingga mahasiswa lebih bersikap hedonis. Pertama, pengaruh budaya Barat yang tidak tersekat telah meracuni pemuda dan mahasiswa. Mereka dengan mudah meniru budaya asing tanpa menyadari risikonya, seperti berpesta-pestaan, dan menghabiskan masa kepada perkara-perkara yang lansung tidak bermenafaat. Kedua, adanya pengaruh dari sistem pendidikan yang membentuk mentaliti mahasiswa. Ternyata, pola atau sistem yang digunakan oleh Orde Baru untuk melenyapkan idealisme serta daya kritis sangatlah ampuh dan efektif, yaitu dengan menerapkan sistem kapitalis dalam bidang ekonomi yang cenderung konsumtif. Di samping itu, sistem yang diterapkan dalam pendidikan, yang berteraskan lulus peperiksaan membentuk pola pikir serta mentaliti mahasiswa, ternyata hanya menjadikan mereka sebagai kuli. Mulai dari sekolah rendah, kita dihulur dengan ilmu yang bersifat dogma, serta sejarah yang dimanipulasi sedemikian rupa. Itu pun kita terima sebagai dogma. Dalam sistem persekolahan menengah pun, pada saat ini sama saja seperti itu. Sebab, kita diajari untuk mempelajari ilmunya dengan orientasi kerja. Jadi, kemerdekaan berfikir serta mempelajari ilmu serasa dibelenggu sistem yang membawanya pada orientasi tersebut. Sistem GPA/CGPA yang diterapkan dengan kaku dan diperburukkan dengan kos pendidikan yang tinggi membebani mahasiswa, mempunyai implikasi yang sangat besar terhadap daya kritis mahasiswa serta idelismenya. Sebab, mahasiswa dituntut secara penuh berfikir mengenai hal-hal akademis semata-mata disamping tidak memikirkan soal-soal kerakyatan jika ingin terus menuntut di universiti. Kondisi seperti itu, menjadikan kampus benar-benar menjadi suatu menara gading dan jauh dari jangkauan kalangan masyarakat kecil. Mahasiswa menjadi kelas yang elite dan sama sekali tidak tersentuh dengan persoalan kerakyatan. Dari sistem seperti itu, terbentuklah mentaliti mahasiswa yang saat ini kita rasakan hedonis dan pragmatis, sebab kita dari awal dicetak untuk hidup yang serba praktis dan tidak mencoba berdialog dalam setiap pemikiran. Kita terjebak dengan hanya berdebat di bilik kuliah. Jarang sekali mahasiswa cuba berfikir tentang persoalan kerakyatan, keagamaan, atau pun bagaimana konsep memajukan bangsa di era globalisasi ini. Mereka lebih suka diajak bersenang-senang untuk kepentingan pribadi yang bersifat sesaat, seperti kegiatan rekreatif (jika dibanding dengan kegiatan ilmiah). Melihat fenomena tersebut, maka kita mempunyai kewajiban untuk mengubah mentalitas yang hedonis dan pragmatis tersebut kembali kepada jati diri mahasiswa,

yang mempunyai idealisme tinggi. Salah satu jalan alternatif untuk itu adalah dengan menghadapkan langsung mahasiswa pada persoalan-persoalan kerakyatan. Di samping itu, supaya berjalan seimbang, fungsi unversiti sebagai fungsi pengabdian masyarakat harus dilaksanakan tidak hanya terbatas pada simbol, tetapi benar-benar real di dalam aplikasinya. Hal itu, dimaksudkan untuk menolak pandangan kampus sebagai menara gading. Dengan begitu, idealisme serta daya kritis mahasiswa yang terasa hilang akan dapat dibangunkan kembali.

Peranan Mahasiswa Dalam Menentukan Nasib Bangsa
Rabu, 30 April 08 - by : Abdul Wahab Pandangan masyarakat yang mengatakan bahwa mahasiswa adalah agen perubahan bagi kondisi sosial, politik, ekonomi maupun yang lainnya memang menjadikan beban di pundak mahasiswa semakin berat. Dengan kondisi yang seperti itu, maka wajar bila kehidupan mahasiswa banyak diwarnai oelh dinamisnya pergerakan yang ada, terutama yang menyangkut hajat hidup orang banyak. Tugas yang diembannya tidak hanya orientasi studi semata, tetapi lebih pada tataran aplikasinya (masyarakat). Bagaimana kemudian mahasiswa mampu merubah kondisi masyarakat menuju tatanan yang lebih baik merupakan tugas penting yang harus diembannya. Sejarah perjuangan kemerdekaan Indonesia yang mengharu biru tidak bisa dilepaskan begitu saja dari peran mahasiswa. Pola perjuangan sebelum pergerakan nasional hanya bersifat kedaerahan, inilah yang dirasakan oleh mahasiswa waktu itu sebagai penyebab sangat lamanya kolonial bisa mengeksploitasi kekayaan yang ada di Nusantara ini. Maka dari titik inilah kemudian para pelajar mencoba membangun dan merubah pola-pola pergerakan perjuangan yang awalnya bersifat daerah menuju pola pergerakan yang sifatnya nasional. Terbukti setelah berdirinya organisasi-organisasi yang sifatnya nasional, kolonialisme yang telah lebih dari tiga abad menancapkan kukunya di bumi Nusantara lebih mudah diusir, meskipun nyawa menjadi tatruhannya. Budi Utomo, Perhimpunan Indonesia adalah sedikit dari sumbangsih mahasiswa waktu itu dalam mengentaskan negeri ini dari cengkeraman dunia penjajahan. Tidak berhenti sampai disitu, setelah era kemerdekaanpun peran mahasiswa masih begitu dominan dalam mengawal jalannya pembangunan Indonesia yang masih seumur jagung tersebut. Perlu dicatat disini selain menjadi garda pembangunan, mahasiswa juga berfungsi sebagai kontrol terhadap jalannya pemerintahan. Peristiwa malari yang terjadi pada 15 Januari 1974, dimana tercatat 11 orang meninggal, 300 luka-luka, 775 orang ditahan, dan sangat heroik merupakan contoh bagaimana kemudian mahsiswa berani membentangkan dadanya di depan popor senjata dalam menghadapi kekuasaan yang dianggap tirani. Kritik-kritik yang sering dilontarkan oleh sebagian elemen mahasiswa adalah sebuah keniscayaan yang terjadi. Dengan adanya pola-pola kebebasan berpendapat seperti itulah kemudian diharapkan Indonesia akan segera mampu bangkit menuju negara yang berdikari, baik pada wilayah ekonomi, politik maupun yang lain, tetapi tidak terlepas juga kemungkinan bahwa gerakan-gerakan mahasiswa tersebut ditunggangi oleh kellompok-kelompok yang mempunyai kepentingan dibalik peristiwa itu. Rezim Soharto yang represif sedikit banyak membuat mahasiswa semakin tinggi akan ghirrah pergerakannya, meskipun dalam sekup-sekup yang lebih

kecil. Keprihatinan mahasiswa akan matinya demokrasi semakin menjadi-jadi setelah Suharto dengan rezim yang ada di belakangnya menelurkan kebijakan akan NKK/BKK (Normalisasi Kehidupan Kampus/Badan Koordinasi Kemahasiswaan) pada 1978, hal ini dilatar belakangi karena mahasiswa dianggap berbahaya akan kelangsungan kekuasaan yang sedang berlangsung. Pukulan telak dari kebijakan ini adalah semakin pudarnya konsentrasi mahasiswa pada wilayah kampus, dan mahasiswa akhirnya mau tidak mau pulang kampung pada wilayah fakultas maupun jurusan dan mahasiswa hanya berkecimpung pada wilayah disiplin ilmunya saja. Secara otomatis dengan kebijakan NKK/BKK ini akan mempersempit ruang gerak mahasiswa akan kehidupan politik praktis. Pergolakan demi pergolakan dan perlawanan demi perlawanan mahasiswa akan tirani kekuasaan bisa ditekan semaksimal mungkin, tinadakan represif pemerintah akan aktivis mahasiswa yang menyuarakan suara rakyat semakin lama semakin mengecil volumenya. Tetapi bukan berarti gerakan mahasiswa tersebut mati, nalar kritis yang menjadi icon dunia mahasiswa masih tumbuh subur, tetapi hanya pada wilayah kampus semata. Diskusi-diskusi ilmiah, seminar ataupun kegiatan akademis lain tetap berlangsung. Setelah sekilan lama mahsiswa terbungkam oleh rezim Suharto, maka sekitar tahun 1997 akhir yang bertepatan dengan hancurnya ekonomi yang menyerang Asia Tenggara khsususnya tidak disia-siakan oleh elemen mahsiswa. Rakyat sudah sangat bosan hidup dalam ruang tanpa kompromi.

Mahasiswa: Makna dan Peranannya
Sabtu, 31 Juli 2010 - 11:00 wib

Image: corbis.com MAHASISWA adalah seseorang yang sedang menikmati keindahan pendidikan di salah satu lembaga tinggi selama beberapa waktu yang telah ditentukan. Lembaga ini populer dengan

sebutan universitas atau perguruan tinggi. Di lembaga inilah dia belajar mengasah otak, berpikir, memecahkan masalah tanpa masalah, belajar menjadi orang mandiri, sabar, tawakkal, ikhlas, dan melatih keterampilan yang dia miliki tanpa merasa jenuh dan bosan guna menjadi insan sejati. Namun di balik semua itu menjadi mahasiswa tidaklah semudah seseorang yang belum terkatagorikan mahasiswa (pelajar), baik dia berada dalam pendidikan formal atau tidak. Karena tugas mahasiswa tak cuma belajar di kelas, baca buku, buat makalah, presentasi, diskusi, hadir ke seminar, dan kegiatan-kegiatan lainnya yang bercorak kekampusan. Ada tugas lain yang lebih berat dan lebih menyentuh terhadap makna mahasiswa itu sendiri, yaitu sebagai agen perubah dan pengontrol sosial masyarakat. Tugas inilah yang dapat menjadikan dirinya sebagai harapan bangsa, yaitu menjadi orang yang setia mencarikan solusi berbagai problem yang sedang menyelimuti mereka. Inilah yang dapat menambah nilai plus bagi dirinya sebagai mahasiswa jika harapan mereka terwujud dan menjelma menjadi kenyataan dalam kehidupan mereka, tak cuma menjadi harapan yang kandas di tengah keruhnya kehidupan. Mahasiswa sebagai agen perubahan sosial selalu dituntut untuk menunjukkan peranannya dalam kehidupan nyata agar dia tak menjadi mahasiswa gadungan yang secara hakekatnya dia pun tak mau dan tak sudi menyandangnya. Setidaknya secara garis besar ada tiga peranan penting dan mendasar bagi mahasiswa yaitu intelektual, moral dan sosial. Peranan pertama, mahasiswa sebagai orang yang intelek, jenius, dan jeli harus bisa menjalankan hidupnya secara proporsional, sebagai seorang mahasiswa, anak, serta harapan masyarakat. Kedua, mahasiswa sebagai seorang yang hidup di kampus yang dikenal bebas berekspresi, beraksi, berdiskusi, berspekulasi dan berorasi, harus bisa menunjukkan tingkah laku yang bermoral dalam setiap tindak tanduknya tanpa terkontaminasi dan terpengaruh oleh kondisi dan lingkungan. Sebab dia sendiri dengan kemampuannya sudah bisa mengukur antara baikburuknya tindakan, selain selalu dipantau dan dicontoh oleh masyarakat. Ketiga, mahasiswa sebagai seorang yang membawa perubahan harus selalu bersinergi, berpikir kritis dan bertindak konkret yang terbingkai dengan kerelaan dan keikhlasan untuk menjadi pelopor, penyampai aspirasi dan pelayan masyarakat. Jika semua peranan penting itu terwujud menjadi nyata dalam diri mereka, maka mereka layak menyandang sebutan mahasiswa sejati bukan mahasiswa gadungan yang menurut pengamat penulis disandang kebanyakan mahasiswa sekarang. Sungguh capaian hal-hal tersebutlah yang akan menjadikan meereka berada dalam puncak kemuliaan walaupun secara dhohir mereka berada dalam kehinaan. Mohammad Hafidz Anshary Mahasiswa Jurusan Syareah Universitas AL-AHGAFF YAMAN (//rhs)
Apakah perlu AUKU? May 28, 2010

28 MEI — Empat orang mahasiswa Universiti Kebangsaan Malaysia (UKM), akan dikenakan tindakan dibawah Akta Universiti dan Kolej Universiti (AUKU) oleh kerana didakwa berkempen pilihanraya kecil (PRK) Hulu Selangor baru-baru ini.

Mereka yang akan dikenakan tindakan berikut adalah Muhammad Hilman Idham, Muhammad Ismail Aminuddin, Azlin Shafina Mohamad Adzha, dan Woon King Chai. Kempat-empat mahasiswa ini juga adalah ahli majlis tertinggi kepada Kelab Sains Politik UKM. Sewaktu kempen piliharaya kecil Hulu Selangor sedang rancak berlangsung, keempat-empat mahasiswa ini ditahan oleh pihak polis pada 22 April 2010, di Pekan Rasa dan Ampang Pecah. Tiga orang aktivis parti politik yang menaiki kenderaan (sebuah kereta dan van) bersama mereka turut ditahan. Polis telah merampas berberapa bungkusan risalah kempen dan VCD Parti Keadilan Rakyat (PKR) yang berada dalam kenderaan tersebut. Pada 23 April 2010, Muhammad Hilman Idham telah ditahan sekali lagi dalam sebuah sekatan jalanraya bersama-sama empat orang aktivis lain. Polis turut merampas sekeping VCD ceramah parti politik yang terdapat dalam kenderaan tersebut. Mahkamah Universiti Muhammad Hilman Idham, Muhammad Ismail Aminuddin, Azlin Shafina Mohamad Adzha, dan Woon King Chai akan di dakwa di Mahkamah Universiti UKM atas pertuduhan melakukan kesalahan menyalahi undang-undang seksyen 15(5)(a) Akta Universiti & Kolej Universiti 1971 yang berbunyi: 15 (5) Tiada seorang pun pelajar Universiti dan tiada pertubuhan, badan atau kumpulan pelajar Universiti yang ditubuhkan oleh, di bawah atau mengikut Perlembagaan, boleh menyatakan atau melakukan apa-apa jua yang boleh semunasabahnya ditafsirkan sebagai menyatakan sokongan kepada atau simpati dengan atau bangkangan terhadapa. Mana-mana parti politik sama ada di ada di dalam atau di luar Malaysia. Keempat-empat mahasiswa ini akan didakwa pada tarikh yang berbeza di Bilik Mesyuarat Canselori, Aras 6, Bangunan Canselori UKM. Muhammad Hilman Idham akan didakwa pada 2 Jun 2010 manakala Muhammad Ismail Aminuddin, Azlin Shafina Mohamad Adzha dan Wong King Chai akan didakwa pada 3 Jun 2010. Malaysia dalam darurat? Membaca fakta kes dan tindakan yang bakal dikenakan terhadap mahasiswa diatas membuatkan saya terfikir, apakah Malaysia berada dalam keadaan darurat? Mengapa saya berfikir sebegini? Keempat-empat orang mahasiswa yang saya nyatakan diatas ditahan dalam sebuah sekatan jalanraya sewaktu kempen PRK Hulu Selangor sedang berlangsung.

Dalam mana-mana pilihanraya atau PRK, sudah menjadi lumrah dimana penyokong-penyokong bagi calon dan parti yang bertanding akan berada dalam kawasan dimana pilihanraya atau PRK sedang berlangsung. Dalam tempoh berkempen, undang-undang membenarkan mana-mana parti politik untuk berkempen dengan bebas selagi tidak mengganggu ketenteraman awam. Jadi apa perlunya sekatan jalanraya yang terlalu banyak dilakukan? Sekatan jalanraya memang banyak dilaksanakan oleh pihak polis dalam setiap PRK. Dari pengalaman National Institute for Electoral Integrity (NIEI) memantau perjalanan berberapa PRK di seluruh negara, kami menyaksikan terlalu banyak anggota polis ditempatkan dan sekatan jalanraya dilakukan dalam kawasan parlimen atau DUN dimana berlakunya PRK tersebut. Dalam PRK Kuala Terengganu umpamanya terlalu banyak tenaga polis dibazirkan dimana hampir di setiap lampu isyarat boleh kelihatan anggota polis ditempatkan. Berberapa orang tempatan yang kami temuramah menyatakan kekesalan terhadap sekatansekatan jalanraya yang dilakukan dengan begitu banyak sehingga menganggu mereka untuk melaksanakan aktiviti-aktiviti seharian. Memang benar perlunya anggota polis untuk mengawal keselamatan. Tetapi tidak perlulah pihak polis dikerahkan dengan begitu banyak sehingga memberikan gambaran seperti darurat sedang dilaksanakan disesuatu kawasan PRK tersebut. Tindakan menempatkan ramai anggota polis dan melakukan terlalu banyak sekatan jalanraya dengan jelas telah melanggar kebebasan untuk bergerak ke seluruh negara yang telah dijamin dalam Perkara 9, Perlembagaan Persekutuan Malaysia. Kedua, sebagai sebuah negara yang mengaku negara demokrasi, mengapa Malaysia perlukan undang-undang seperti AUKU yang secara jelasnya menindas mahasiswa dan menafikan hak yang telah dijamin oleh perlembagaan persekutuan. Seksyen 15(5)(a) dalam AUKU dengan jelas telah melanggar berberapa peruntukkan dalam Perlembagaan Persekutuan seperti Perkara 10 dimana rakyat Malaysia dijamin mempunyai kebebasan bersuara, berhimpun dan menubuhkan persatuan serta Artikel 119(a) yang menjamin hak rakyat Malaysia atas 21 tahun untuk mengundi. Selain daripada AUKU itu sebuah akta yang anti demokrasi, AUKU juga dilaksanakan secara berat sebelah. Pernahkah kita terdengar mahasiswa ditahan dibawah AUKU kerana terlibat dengan Putera Umno, Puteri Umno atau mana-mana pergerakkan parti politik pemerintah? Kempen mendesak UKM gugurkan pertuduhan Tindakan UKM untuk mendakwa empat orang mahasiswa ini dibawah AUKU telah menerima bantahan daripada persatuan mahasiswa dan NGO. Solidariti Mahasiswa Malaysia (SMM) telah

melancarkan kempen petisyen online untuk mendesak UKM untuk menggugurkan pertuduhan terhadap empat mahasiswa berikut. Kepada rakyat Malaysia yang cintakan demokrasi dan menyokong keempat-empat mahasiswa ini, bolehlah menandatangani petisyen online di sini. Turut membantah tindakan UKM adalah 28 gabungan NGO yang dipimpin oleh Ng Chong Soon, Pemuda Dewan Perhimpunan China Selangor dan Kuala Lumpur (Pemuda KLSCAH) telah mendesak agar Prof. Dr. Sharifah Hapsah Syed Hasan Shahabudin, Naib Canselor UKM supaya menarik balik dakwaan AUKU terhadap empat mahasiswa UKM. Kempen melalui Facebook turut dilakukan. Sebuah halaman bertajuk “BEBASKAN Dakwaan AUKU Kepada 4 Pelajar UKM!!!” telah diwujudkan bagi mengajak komuniti Facebook untuk menyokong kempen ini. Keempat-empat mahasiswa tersebut turut menyerahkan memorandum kepada Suruhanjaya Hak Asasi Manusia Malaysia (Suhakam) berkenaan dengan kes mereka. Kes empat mahasiswa ini akan diperhatikan oleh masyarakat dalam dan luar negara terhadap bagaimana sikap kepimpinan perdana menteri, Datuk Seri Najib Razak dalam menangani isu-isu berkaitan dengan mahasiswa. Apakah beliau serius melaksanakan reformasi dengan mengamalkan pemerintahan yang lebih terbuka atau mencontohi pemimpin terdahulu seperti Tun Abdullah Badawi dan Tun Dr Mahathir Mohamad yang menyaksikan potensi mahasiswa “dibunuh” dengan menggunakan AUKU. Syabas kepada mahasiswa-mahasiswa yang berani untuk bangun bagi memperjuangkan hak mereka.

Tentang AUKU
PENGENALAN
Akta Universiti dan Kolej Universiti (AUKU) telah dikemukakan oleh Allahyarham Dato’ Hussien Onn (Menteri Pendidikan ketika itu) di Parlimen pada 17 Mac 1971 dan mula dikuatkuasakan pada 30 April 1971. Tujuannya dikatakan untuk mengadakan peruntukan bagi penubuhan, penyelenggaraan dan pentadbiran universiti-universiti dan kolej-kolej universiti awam serta perkara-perkara lain yang berkaitan dengannya.

Namun, akta yang telah melalui 3 siri pindaan ini; iaitu pada 1975, 1983 dan 1996 jelas tidak berimbang dan bersalahan dengan peruntukan yang termaktub di dalam Perlembagaan Persekutuan Malaysia.

AUKU menjadi halangan kepada mahasiswa dan ahli akademik dalam menyuarakan pandangan secara bebas bertepatan dengan Artikel 10 Perlembagaan Persekutuan. Ia menggariskan bahawa hak kebebasan

bersuara, berhimpun dan berpersatuan adalah hak kepada mana-mana individu yang sah sebagai warganegara Malaysia.

Pembatasan hak-hak asasi warga institusi pengajian tinggi (IPT) dalam AUKU juga bersalahan dengan piawaian Hak Asasi Manusia PBB. Perkara ini merupakan suatu keaiban kepada Malaysia yang mendokong prinsip demokrasi.

Sewajarnya sebagai negara demokrasi berperlembagaan, mahasiswa dan ahli akademik perlu turut sama diberi ruang untuk berkongsi rasa dan pandangan secara murni bersama-sama kerajaan dan pihak pentadbiran universiti bagi membentuk masyarakat dan negara yang adil serta sejahtera.

KRONOLOGI PERLAKSANAAN AKTA UNIVERSITI DAN KOLEJ UNIVERSITI (AUKU) Kewujudan gerakan mahasiswa pada tahun 1970-an dan penglibatan mereka samada dalam kampus ataupun di masyarakat telah membimbangkan kerajaan. Kepesatan gerakan mahasiwa telah membimbangkan pihak kerajaan terutamanya mahasiswa banyak mengkritikkan kesalahan kerajaan demi memperjuangkan keadilan dan kebenaran. Kerajaan mulai bimbang akan gerakan mahasiswa terutamanya kejadian Tasik Utara yang berlaku pada tahun 1969. Kerajaan berpendapat gerakan mahasiswa perlu dihapuskan untuk memastikan kedudukan mereka tidak terjejas. Akhirnya, Akta Universiti dan Kolej Universiti (AUKU) 1971 telah dikemukakan oleh Menteri Pendidikan, Dato’ Hussien Onn di Parlimen pada 17 Mac 1971. AUKU kemudiannya telah dikuatkuasakan pada 30 April 1971. Pada masa penguatkuasaan, AUKU 1971 telah dipinda pada tahun yang berlainan seperti berikut: 1. 1971 (Akta 80) 2. 3. 4. 1975 (Akta A295) 1983 (Akta A550) 1996 (Akta A496)

Walaubagaimanapun, pindaan yang dibuat pada tahun 1975 merupakan antara pindaan yang paling ketara dengan lebih mencengkami dan mencabuli hak-hak asasi mahasiswa Pindaan ini dibuat oleh Perdana Menteri yang keempat, Tun Mahathir yang merupakan Menteri Pendidikan pada ketika itu. Dengan ini, AUKU menjadi lebih zalim berbanding dengan sebelum segala pindaan. Situasi ini berjaya menakutkan kebanyakan mahasiswa kerana kezaliman dan keketatan akta ini. Tujuan utama Tun Mahathir membuat pindaan ke atas AUKU 1971 ialah untuk

menghapuskan suara mahasiswa yang pada ketika itu yang semakin berpengaruh. Ini adalah kerana mahasiwa pada ketika itu banyak memperjuangkan isu-isu masyarakat dan sokongan dari masyarakat juga terhadap mahasiswa. Mahasiswa mengambil berat ke atas kebajikan masyarakat dan juga akan mengkritik kerajaan jika terdapat sebarang salahlaku. Untuk menghentikan kritikan ini, Tun Mahathir telah berjaya menakutkan sebahagian mahasiswa dengan menggunakan AUKU. Walaupun selepas penguatkuasaan AUKU, mahasiswa tetap memperjuangkan hak-hak asasi mahasiswa dengan mendemostrasi pada tahun 1971, 1972 dan 1973. Pada tahun 1971, AUKU dicabar secara terbuka oleh mahasiswa dengan mengadakan demonstrasi yang mengkritik kesalahan kerajaan Thai yang menzalimi golongan Muslim di Pattani. PERUNTUKAN AUKU YANG WAJAR DIMANSUHKAN Satu reviu ringkas dibuat dalam mengkaji AUKU 1971 sepintas lalu. Untuk ini, fokus diberikan secara langsung kepada peruntukan-peruntukan tertentu di bawah AUKU yang antara lain didakwa menyekat dan mengawal hak kebebasan mahasiswa untuk berpersatuan, mengeluarkan pandangan dan berhimpun:

1. Seksyen 15: Larangan ke atas pelajar atau organisasi, pertubuhan atau kumpulan pelajar selain diperuntukkan oleh Perlembagaan Universiti atau dibenarkn oleh Naib Canselor.

15. Prohibition on a student or a students’ organisation, body or group associating with societies, etc., except as provided under the Constitution or approved by the ViceChancellor. (1) No person, while he is a student of the University, shall be a member of, or shall in any manner associate with, any society, political party, trade union or any other organisation, body or group of persons whatsoever, whether or not it is established under any law, whether it is in the University or outside the University, and whether it is in Malaysia or outside Malaysia, except as may be provided by or under the Constitution, or except as may be approved in advance in writing by the Vice-Chancellor. (2) No organisation, body or group of students of the University, whether established by, under or in accordance with the Constitution, or otherwise, shall have any affiliation, association or other dealing whatsoever with any society, political party, trade union or any other organisation, body or group of persons whatsoever, whether or not it is established

under any law, whether it is in the University or outside the University, and whether it is in Malaysia or outside Malaysia, except as may be provided by or under the Constitution, or except as may be approved in advance in writing by the Vice-Chancellor. (3) No person, while he is a student of the University, shall express or do anything which may be construed as expressing support, sympathy or opposition to any political party or trade union or as expressing support or sympathy with any unlawful organisation, body or group of persons. (4) No organisation, body or group of students of the University which is established by, under or in accordance with the Constitution, or any other organisation, body or group of students of the University, shall express or do anything which may be construed as expressing support, sympathy or opposition to any political party or trade union or as expressing support or sympathy with any unlawful organisation, body or group of persons. (5) Any person who contravenes or fails to comply with the provisions of subsection (1), (2), (3) or (4) shall be guilty of an offence and shall, on conviction, be liable to a fine not exceeding one thousand ringgit or to imprisonment for a term not exceeding six months or to both such fine and imprisonment. Catatan: - Seksyen 15 ini secara umumnya bertentangan dengan Perkara 10 (1) Perlembagaan Persekutuan Malaysia yang menjamin hak setiap warganegara Malaysia untuk berpersatuan. Mahasiswa tidak dibenarkan menyertai apa-apa persatuan tanpa kebenaran daripada Naib Canselor universiti masing-masing. - Malah, larangan daripada menyatakan sokongan, simpati atau bantahan terhadap manamana organisasi juga bercanggah dengan Perkara 10 (1) Perlembagaan Persekutuan yang memberi kebebasan kepada warganegara untuk menyatakan pandangan selagi mana tidak menyentuh soal-soal sensitiviti yang termaktub dalam struktur asas (basic structure) Perlembagaan Persekutuan. - Peruntukan ini juga bertentangan dengan Artikel 19 dan 20 Universal Declaration of Human Rights yang menjamin hak setiap individu di dunia untuk menyatakan pandangan, berhimpun dan berpersatuan. (Rujuk Resolusi 217 A (III) bertarikh 10 Disember 1948 Perhimpunan Agung PBB) - Perkara 4 Perlembagaan Persekutuan menyatakan bahawa Perlembagaan ini adalah undang-undang tertinggi (supreme law) di Malaysia dan mana-mana undang-undang yang bercanggah dengan Perlembagaan, maka ianya adalah terbatal. Maka jelas di sini bahawa percanggahan yang berlaku ini boleh menyebabkan peruntukan ini terbatal dan tidak relevan kekal di dalam AUKU.

2. Seksyen 15B: Tanggungan jenayah exco organisasi, pertubuhan atau kumpulan pelajar 15B. Criminal liability of office-bearers, etc., of a students organisation, body or group. (1) Where any offence has been committed under any written law, whether or not any person has been convicted in respect thereof, and such offence has been committed or purports to have been committed in the name or on behalf of, any organisation, body or group of students of the University which is established by, under or in accordance with the Constitution, or any other organisation, body or group of students of the University, every office-bearer of such organisation, body or group and every person managing or assisting in the management of such organisation, body or group at the time of the commission of such offence shall be deemed to be guilty of such offence and shall be liable to the punishment prescribed by law therefor, unless he established to the satisfaction of the court that the offence was committed without his knowledge and that he had exercised all due diligence to prevent the commission of the offence. (2) Any office-bearer of, or any person managing or assisting in the management of, any organisation, body or group as referred to in subsection (1) shall be liable to be prosecuted under this section, notwithstanding that he may not have taken part in the commission of the offence. (3) In any prosecution under this section of an office-bearer of, or any person managing or assisting in the management of, any organisation, body or group as referred to in subsection (1), any document found in the possession of any office-bearer of, or person managing or assisting in the management of, such organisation, body or group, or in the possession of a member of such organisation, body or group shall be prime-facie evidence of the contents thereof for the purpose of proving that any thing has been done or purports to have been done by or on behalf of such organisation, body or group. Catatan: - Pemegang jawatan atau orang yang menguruskan kumpulan pelajar adalah bersalah di atas nama persatuan tersebut melainkan dibuktikan mereka berusaha mencegahnya dan mereka akan didakwa walaupun tidak terlibat melakukan kesalahan itu. - Peruntukan ini jelas ketidakadilannya kerana mereka yang tidak terlibat dengan kesalahan akan turut didakwa dan ianya bercanggah dengan natural justice iaitu hanya orang yang didapati bersalah sahaja akan dijatuhkan hukuman. 3. Seksyen 15C: Anggapan

15C. Presumptions. In any prosecution under this Act(a) it shall not be necessary for the prosecution to prove that an organisation, body or group of persons possesses a name or that it has been constituted or is usually known under a particular name; (b) where any books, accounts, writings, lists of members, seals, banners or insignia of, or relating to, or purporting to relate to, any organisation, body or group of persons are found in the possession, custody or under the control of any person, it shall be presumed, until the contrary is proved, that such person is a member of such organisation, body or group, and such organisation, body or group shall be presumed, until the contrary is proved, to be in existence at the time such books, accounts, writings, lists of members, seals, banners or insignia are so found; and (c) where any books, accounts, writings, lists of members, seals, banners or insignia of, or relating to, any organisation, body or group of persons are found in the possession, custody or under the control of any person, it shall be presumed, until the contrary is proved, that such person assists in the management of such organisation, body or group. Catatan: - Di dalam peruntukan ini, terdapat sedikit kesongsangan apabila beban pembuktian (burden of proof – onus probandi) diletakkan di atas bahu pihak yang didakwa yang mana sepatutnya terletak pada bahu pihak pendakwa.

4. Seksyen 15D: Penggantungan atau pembuangan pelajar yang didakwa di bawah kesalahan jenayah atau terhadap siapa yang suatu kesalahan jenayah telah dibuktikan 15D. Suspension and expulsion of a student charged with a criminal offence or against whom a criminal offence is proved. (1) Where a student of the University is charged with a criminal offence he shall immediately thereupon be suspended from being a student of the University and shall not, during the pendency of the criminal proceedings, remain in or enter the Campus of that or any other University. (2) Where a court finds that a charge for a criminal offence is proved against a student of the University, the student shall, immediately thereupon, cease to be a student of the University, and shall not remain in or enter the Campus of that or any other University. (3) A student of the University who is detained, or is subjected to any order imposing restrictions on him, under any written law relating to preventive detention or internal

security, shall, immediately thereupon, cease to be a student of the University and shall not remain in or enter the Campus of that or any other University. (4) A student of the University who is suspended from being a student of the University under the provisions of subsection (1) shall not, while he is so suspended, be admitted as a student of any other University in Malaysia without the written approval of the Minister, and if the Minister grants such approval, the Minister may impose such conditions as he may, in his absolute discretion, deem fit to impose. (5) A student of the University who ceases to be a student of the University under the provisions of subsection (2) or (3) shall not be admitted as a student of that or any other University in Malaysia without the written approval of the Minister, and if the Minister grants such approval, the Minister may impose such conditions as he may, in his absolute discretion, deem fit to impose. (6) Any person who remains in or enters the Campus of any University in contravention of the provisions of subsection (1), (2) or (3) or who obtains admission to any University in contravention of the provisions of subsection (4) or (5) shall be guilty of an offence and shall, on conviction, be liable to a fine not exceeding one thousand ringgit or to imprisonment for a term not exceeding six months or to both such fine and imprisonment. (7) The provisions of subsection (1), (2), (3), (4) and (5) shall apply to a person notwithstanding that there may be pending in any court or before any other authority any application, petition, appeal, or other proceeding whatsoever by him or by any other person in respect of the criminal proceedings, the detention, or the order imposing restrictions, as the case may be: Provided that upon the determination of such application, petition, appeal or other proceeding the Minister may, in his absolute discretion, have regard to such determination and grant exemption to the student from the application of the provisions of subsection (1), (2), (3), (4) or (5), as the case may be, upon such terms and conditions as he may, in his absolute discretion, deem fit to impose. (8) The Minister may, at any time, in any particular case, in his absolute discretion, grant exemption to any person from the application of the provisions of subsection (1), (2), (3), (4) or (5), as the case may be either unconditionally, or upon such terms and conditions, or for such period, as he may, in his absolute discretion, deem fit. (9) (Deleted). Catatan: - Di dalam disiplin ilmu undang-undang terdapat satu maksim yang menegaskan bahawa seseorang individu tidak akan bersalah sehinggalah dia dibuktikan bersalah (a man is not guilty until he is proven guilty).

- Peruntukan ini memberikan kuasa kepada Universiti untuk menjatuhkan hukuman prapenghakiman (pre-judgment conviction) ketika kes sedang berlangsung di mahkamah dan ianya jelas bertentangan dengan maksim undang-undang yang disebut itu. Pelajar tersebut dijatuhkan hukuman terlebih dahulu oleh pihak Universiti iaitu sama ada dengan menggantung atau membuangnya daripada pengajian sebelum mahkamah membuktikannya bersalah. - Peruntukan ini bukan sahaja bertentangan dengan disiplin ilmu undang-undang malah ianya terbukti tidak adil dan menindas pelajar yang terbabit.

5. Seksyen 16B: Pihak berkuasa tatatertib pelajar universiti 16B. Disciplinary authority in respect of students of the University. (1) The disciplinary authority of the University in respect of every student of the University shall be the Vice-Chancellor. (2) The Vice-Chancellor who is the disciplinary authority under subsection (1), shall have the power to take such disciplinary action and impose such disciplinary punishment as may be provided for under any disciplinary rules that may be made by the Board under section 16C. (3) The Vice-Chancellor who is the disciplinary authority under subsection (1), may delegate any of his disciplinary functions, powers or duties to any of the Deputy Vice-Chancellors, any member of the staff, any officer or any employee of the University, or to any board of members of the staff, officers or employees of the University, in respect of any particular student, or any class or category of the students of the University, and the Deputy ViceChancellor, member of the staff, officer or employee or the board delegated with such functions, powers or duties shall carry out, exercise or discharge them under the direction and control of such Vice-Chancellor who shall have the power to review, rescind or vary any decision or finding of such Deputy Vice-Chancellor, member of the staff, officer or employee or such board: Provided that no delegation shall be made under this subsection to the Chancellor or the Pro-Chancellors. (4) Any student dissatisfied with the decision of the Vice-Chancellor who is the disciplinary authority under subsection (1) or of any person or board delegated with functions, powers or duties under subsection (3) may within thirty days from the date of the service of the decision on him appeal against such decision to the Minister who may, if he deems fit, summarily reject the appeal. (5) Where the Minister does not summarily reject an appeal under subsection (4), he shall appoint a committee of two or more persons, from within or without the University, to

consider the appeal and make its recommendations to him, and, upon receiving such recommendations, the Minister may give such decision on the appeal as he considers fit and proper.

Catatan:

- Adalah meragukan apabila tribunal yang menghakimi perbicaraan mempunyai hubungan secara langsung dengan pihak pendakwa, iaitu jabatan hal ehwal pelajar (HEP) Universiti. Malah berlaku juga kes di mana ahli-ahli dalam tribunal terdiri daripada mereka yang dilantik oleh pihak HEP.

- Kertas cadangan ini mengusulkan supaya tribunal yang dilantik adalah bebas dan tidak dipengaruhi oleh mana-mana pihak. Malah keanggotaan tribunal juga perlu dilantik di kalangan mereka yang mempunyai latarbelakang undang-undang bukannya orang biasa (layman)yang tiada kelayakan undang-undang.

- Cadangan komposisi tribunal disiplin:

1. 2. 3.

Seorang hakim Mahkamah Tinggi; Seorang wakil daripada Majlis Peguam; 3 orang pensyarah undang-undang daripada mana-mana kampus IPTA yang

mana bukan daripada Universiti pelajar yang didakwa.

GMMA GESA YB PASIR SALAK TARIK BALIK KENYATAAN DAN POHON MAAF KEPADA MAHASISWA
Posted on December 14, 2008 by mansuhkanauku Kuala Lumpur, 12 Disember – Perbahasan pindaan Akta Universiti dan Kolej Universiti (AUKU) yang diadakan pada minggu ini telah mengundang banyak persoalan, bantahan,

cadangan dan juga kritikan. Namun begitu ada juga nada yang menghina golongan yang bakal menjadi pelapis kepimpinan negara pada masa hadapan iaitu mahasiswa. Ahli sekretariat Gerakan Mahasiswa Mansuhkan AUKU (GMMA), saudara Ridzuan Mohammad berasa kecewa dengan kenyataan yang dikeluarkan oleh ahli parlimen Pasir Salak, YB Dato’ Tajuddin Abd Rahman yang mengatakan golongan mahasiswa pada hari ini adalah golongan pemalas dan tidak ikut isu-isu semasa. Saudara Ridzuan menyatakan tidak seharusnya seorang ahli parlimen mengeluarkan kenyataan begini kerana seolah-olah semua mahasiswa hari ini tidak berguna dan tidak berkualiti kepada negara dengan tidak menunjukkan bukti yang kukuh. Hujah yang dikemukan itu tidak ada bukti yang jelas dan hanya berdasar pemerhatian kepada mahasiswa-mahasiswa yang hadir temuduga untuk masuk bekerja di kolej swasta beliau (Kolej YB Pasir Salak) iaitu sebahagian kecil sahaja. Saudara Ridzuan, menggesa supaya YB Pasir Salak menarik balik kenyatan tersebut dan memohon maaf kepada mahasiswa sekiranya beliau betul-betul serius dan jujur mengenai pandangan beliau dalam isu pindaan AUKU. Ahli-ahli parlimen samada Barisan Nasional (BN) ataupun Pakatan Rakyat (PR) seharusnya berbahas isu pindaan AUKU ataupun isu-isu lain dalam Dewan Rakyat secara rasional dan buktibukti serta hujah yang kuat bukannya secara emosional dan pemerhatian secara umum. Ini kerana ahli-ahli parlimen dinilai oleh rakyat dengan kenyataan yang dikeluarkan. Janganlah berbahas isu AUKU ini yang berkaitan golongan cerdik pandai dan juga berpendidikan ini seperti berbual di kedai kopi, tegas Ridzuan. -Mahasiswakini

GMMA menggesa tolak pidaan AUKU
Posted on December 14, 2008 by mansuhkanauku Kuala Lumpur, 11 Disember – Gerakan Mahasiswa Mansuhkan AUKU (GMMA) telah mengadakan sidang media di Parlimen hari ini (11 Disember 2008) berkaitan dengan pindaan Akta Universiti dan Kolej Universiti (AUKU) yang sedang dibahaskan dalam parlimen. GMMA yang diwakili saudara Ridzuan Mohammad, Teh Yee Keong, Vinod dan beberapa lagi wakil mahasiswa hadir di parlimen 11 pagi. Sidang media tersebut turut dihadiri beberapa ahli parlimen Pakatan Rakyat yang menyokong pendirian GMMA iaitu YB Tian Chua (MP Batu), YB Charles Santiago (MP Klang), YB Liew Chin Tong (MP Bukit Bendera), YB Nurul Izzah Anwar (MP Lembah Pantai), YB Yusmadi Yusoff (MP Balik Pulau) dan beberapa lagi ahli parlimen. GMMA dalam sidang media tersebut menggesa ahli parlimen menolak pindaan akta tersebut dan mencadangkan ditubuhkan satu jawatankuasa khas untuk membincangkan dan mengkaji akta tersebut.

Isu ini seharusnya difikirkan secara serius kerana melibatkan aset negara yang sangat berharga iaitu mahasiswa selaras dengan cita-cita negara untuk melahirkan modal insan yang berkualiti kepada negara. Bukti-bukti tindakan yang telah diambil terhadap mahasiswa melalui akta ini telah disebut dalam kenyataan GMMA tersebut. Kerajaan Malaysia dan juga Kementerian Pengajian Tinggi (KPT) seharusnya mengambil kira pandangan yang telah diberikan oleh mahasiswa dan juga tenaga akademik. Desakan dan bantahan yang dibuat oleh GMMA dan Pergerakan Tenaga Akademik Malaysia (GERAK) mestilah dipandang serius dalam membincangkan isu ini kerana mereka ada kaitan secara langsung dengan akta ini -Mahasiswakini http://mahasiswakini.com/archives/596

Mansuh AUKU!
Kami berpendirian bahawa AUKU ini patut dimansuhkan atas EMPAT (4) teras utama iaitu :
TERAS PERTAMA: NIAT AUKU DIGUBAL DEMI MENGEKANG AKTIVISME MAHASISWA 1. NIAT AUKU 1971 DIGUBAL UNTUK MENUTUP “PEKUNG” KERAJAAN. Setiap undang-undang yang digubal berdiri atas satu-satu niat penggubalan. Begitu juga dengan AUKU. GMA melihat AUKU ini digubal bertitik tolak pada beberapa peristiwa berikut:1.1 PMUM isytihar manefesto sokong pembangkang dlm PRU ke-4 sehingga tercetusnya Persitiwa 13 Mei 1969. 1.2 Demontrasi Anti Tunku oleh PMUM di UM pd 29 Ogos 1969

1.3 Demontrasi “Papan Tanda” 5 Okt. 1970 – pertembungan PMUM (sosialis) & PBMUM (nasionalis) sehingga membuka terlalu banyak kelemahan Kerajaan dalam isu bahasa Melayu & pendidikan; GM semakin radikal. Kerajaan membentuk “Jawatankuasa Mengkaji Kampus” sehingga tergubal dan diwartakan AUKU pd 18 Mac 1971. Ini membuktikan niat auku digubal untuk menutup “pekung” kerajaan. 2. NIAT AUKU DIGUBALKAN DEMI MENAFIKAN HAK MAHASISWA BERSUARA & BERPERSATUAN DALAM ISU NASIONAL & ANTARABANGSA Antara beberapa peristiwa sejarah bagi membuktikan perkara di atas adalah seperti berikut :2.1 14 Jun 1971 – demontrasi pertama oleh PMIUM (2000 mahasiswa UM & UKM) tentang lawatan Thanam Kitikachorn (PM Thailand) ekoran pembunuhan umat Islam Pattani. Ramai mahasiswa ditahan.

2.2 15 Jun 1971 - 3000 orang dipimpin DSAI (PBMUM) dipukul Polis ketika demonstrasi di luar UM. Lebih ramai ditahan. 2.3 16 Jun 2005 - lebih ramai berdemonstrasi mendesak kerajaan bebaskan pimpinan mereka. 2.4 17 Jun 1971 - mereka diikat jamin RM500 seorang oleh Prof Ungku Aziz & Dr. Ariffin Marzuki 2.5 PMUM menaja demontrasi protes AUKU 1971 pada 15 Mei 1972. 2.6 Kelab Sosialis UM (ditubuhkan pd 1973) kembali menguasai PMUM dipimpin oleh Hishamuddin Rais & Datuk Seri Anwar Ibrahim (DSAI) menubuhkan Angkatan Belia Islam Malaysia (ABIM) 1971 demi membantu PMIUM (di bwh Siddiq Fadhil) dan berjaya kuasai PKPM pd tahun 1974 bangkit memimpin mahasiswa nasional demo membantah campurtangan Amerika Syarikat (AS) dalam Perang Arab-Israel pd 13 Okt. 1973, Polis-FRU sembur gas & 3 pemimpin ditangkap. 4000 mahasiswa sekali lagi berdemontrasi di depan kedutaan AS pada 16 Okt. 1974 atas maksud yang sama. 2.7 Kemuncaknya Gerakan Mahasiswa (GM) pada 21 Sept. 1974, 2.30ptg. PMUM menubuhkan Majlis Tiertinggi Sementara (MTS) mengambil alih UM sebagai bantahan tangkapan 5 aktivis termasuk Hishamudin Rais dalam Demonstrasi Tasik Utara Sept. 1974 dan Demontrasi Baling [seramai 400 orang] pada Nov. 1974 yang telah mengakibatkan 1000 mahasiswa ditahan polis & FRU.

Ini membuktikan niat auku digubalkan demi menafikan hak mahasiswa bersuara dalam isu nasional. TERAS KEDUA: PERUNTUKAN-PERUNTUKAN DALAM AKTA UNIVERSITI KOLEJ UNIVERSITI 1971 (PINDAAN 1974) YANG MENCABULI HAK-HAK ASASI MANUSIA/MAHASISWA GMA melihat AUKU ini sangat bertentangan dengan hak asasi manusia dan akta draconion ini WAJIB dimansuhkan. Berikut adalah beberapa akta yang mencabuli hak asasi manusia termasuk MAHASISWA Malaysia :-

2.1 Seksyen 7(1) Melarang pelajar atau pertubuhan pelajar daripada memanggil berhimpun atau mengorganisasikan perhimpunan seramai lebih dari lima orang tanpa terlebih dahulu mendapat kebenaran bertulis dari Naib Canselor atau wakilnya.

2.2 Seksyen 7(3) Tiada seorang pelajar boleh menyertai mana-mana perhimpunan yang diadakan kecuali mendapat kebenaran dari Naib Canselor atau orang yang diberi kuasa olehnya.

2.3 Seksyen 8 Tiada seorang pelajar, pertubuhan, badan atau kumpulan pelajar mempunyai atau mengguna atau ada dalam milik, jagaan atau kawalannya sesuatu pembesar suara atau seumpamanya.

2.4 Seksyen 9 Melarang pelajar mengguna bendera, sepanduk, pelekat, poster dan seumpamanya. 2.5 Seksyen 11 Melarang pelajar atau pertubuhan pelajar daripada menjalankan sebarang aktiviti di luar kampus kecuali dengan kebenaran bertulis Naib Canselor. 2.6 Seksyen 12 Melarang pelajar dari mengambil bahagian dalam apa-apa perniagaan, pekerjaan atau lain-lain aktiviti sepenuh masa atau sambilan, yang menurut Naib Canselor adalah tidak diingini. 2.7 Seksyen 15 (1) dan (2) : Melarang pelajar atau pertubuhan pelajar daripada menjadi ahli atau bersekutu dengan mana-mana persatuan, parti politik, kesatuan sekerja dan lain-lain kecuali sebagaimana diperuntukkan dibawah Perlembagaan Universiti atau diluluskan terlebih dahulu secara bertulis oleh Naib Canselor. 2.8 Seksyen 15 (3) dan (4) : Melarang pelajar dan pertubuhan pelajar menyatakan sokongan, simpati atau bangkangan terhadap mana-mana parti politik, kesatuan sekerja dan lain-lain badan. 2.9 Seksyen 15 A (1) dan (2) : Melarang pelajar atau pertubuhan pelajar daripada memungut wang atau menganjurkan dengan apa cara untuk memungut wang. 2.10 Seksyen 15 B (1) : Pemegang jawatan atau orang yang menguruskan kumpulan pelajar adalah disifatkan melakukan kesalahan sekiranya kesalahan dilakukan atas nama atau bagi pihak persatuan atau kumpulan pelajar itu, melainkan dapat dibuktikan bahawa kesalahan itu dilakukan tanpa pengetahuannya dan dia/ mereka telah berusaha mencegah kesalahan itu. Dia atau mereka boleh didakwa atas kesalahan itu walaupun dia/ mereka tidak mengambil bahagian dalam melakukan kesalahan itu. 2.11 Seksyen 16 : Jika mana-mana pertubuhan, badan atau kumpulan pelajar Universiti menjalankan urusannya dengan cara yang, pada pendapat Naib Canselor, boleh merosakkan atau mendatangkan mudarat kepada kepentingan atau kesentosaan Universiti, atau kepada kepentingan atau kesentosaan mana-mana daripada pelajar atau kakitangan Universiti, atau kepada ketenteraman atau keselamatan awam, atau jika mana-mana pertubuhan, badan atau kumpulan itu melanggar mana-mana peruntukan manamana undang bertulis, maka bolehlah Naib Canselor menggantung atau membubarkan pertubuhan, badan atau kumpulan itu. 2.12 Seksyen 15D (1) : Jika seseorang pelajar Universiti dipertuduhkan atas suatu kesalahan jenayah maka ia hendaklah dengan itu serta merta digantung daripada menjadi seorang pelajar Universiti dan ia tidak boleh, dalam masa menunggu keputusan pembicaraan jenayah itu, tinggal atau masuk dalam kampus Universiti atau Kampus mana-mana Universiti lain.

TERAS KETIGA: PERUNTUKAN-PERUNTUKAN DALAM AKTA UNIVERSITI KOLEJ UNIVERSITI 1971 (PINDAAN 1974) MEMPUNYAI UNSUR ZALIM, DISKRIMINASI DAN TIDAK BERPERIKEMANUSIAAN GMA melihat AUKU ini boleh membawa kepada tindakan penggantungan atau pembuangan pelajar yang didakwa di bawah kesalahan jenayah atau terhadap siapa yang suatu kesalahan jenayah telah dibuktikan dalam beberapa keadaan tertentu. Antaranya:Seksyen 15D (1) : Jika seseorang pelajar Universiti dipertuduhkan atas suatu kesalahan jenayah maka ia hendaklah dengan itu serta merta digantung daripada menjadi seorang pelajar Universiti dan ia tidak boleh, dalam masa menunggu keputusan pembicaraan jenayah itu, tinggal atau masuk dalam kampus Universiti atau Kampus mana-mana Universiti lain. Di dalam disiplin ilmu undang-undang terdapat satu maksim yang menegaskan bahawa seseorang individu tidak akan bersalah sehinggalah dia dibuktikan bersalah (a man is not guilty until he is proven guilty). Peruntukan ini memberikan kuasa kepada Universiti untuk menjatuhkan hukuman prapenghakiman (pre-judgment conviction) ketika kes sedang berlangsung di mahkamah dan ianya jelas bertentangan dengan maksim undang-undang yang disebut itu. Pelajar tersebut dijatuhkan hukuman terlebih dahulu oleh pihak Universiti iaitu sama ada dengan menggantung atau membuangnya daripada pengajian sebelum mahkamah membuktikannya bersalah. Peruntukan ini bukan sahaja bertentangan dengan disiplin ilmu undang-undang malah ianya terbukti tidak adil dan menindas pelajar yang terbabit. Salah satu contoh paling tragis menurut GMA ialah isu ISA 7 pada tahun 2001. Tujuh mahasiswa digantung dan dibuang universiti walaupun mahkamah masih belum membuktikan mangsa-mangsa ini bersalah. AUKU sangat ZALIM dan TIDAK BERPERIKEMANUSIAAN. GMA melihat AUKU mempunyai unsur diskriminasi kerana tidak terdapat pun sebarang peruntukan samada di dalam AUKU mahupun di dalam Kaedah Tatatertib Pelajar yang memberikan hak kepada pelajar yang didakwa di hadapan Jawatankuasa Tatatertib Pelajar untuk mendapatkan khidmat seorang Peguambela dan Peguamcara bagi mewakilinya di dalam perbicaraan tersebut. Sedangkan bagi kakitangan universiti termasuk pensyarah yang turut di dakwa atas suatu pertuduhan tatatertib, mereka dibenarkan untuk diwakili oleh seorang peguam berdasarkan peruntukan di dalam Statutory Bodies (Discipline and Surcharge) Act 2000. Unsur diskriminasi ini jelas terdapat dalam Syeksen 15A, AUKU. Diskriminasi ini adalah bertentangan dengan Perkara 8 (1) Perlembagaan Persekutuan manakala penafian hak untuk diwakili oleh seorang peguam (right to counsel) adalah melanggar Perkara 5 Perlembagaan Persekutuan. Di samping itu, GMA juga Perkara 15A (1), AUKU merupakan diskriminasi terhadap mahasiswa. Mahasiswa dinafikakan hak untuk mendapatkan peguam. Tetapi dalam Akta Disiplin Dan Surcharge, kakitangan universiti dibenarkan.

Kesan diskriminasi ini juga terdapat dalam Syeksen 16(C) AUKU kerana peruntukan kuasa mutlak pihak “Universiti” ke atas mahasiswa dari segi menjalankan perbicaraan tatatertib. Menteri sendiri mempunyai kuasa pengampunan mahasiswa. Sebenarnya realiti ini bertentangan dengan nature law dan doktrin pengasingan kuasa dalam sebuah negara demokrasi. Isu Norlia Bte. Syukri Vs Universiti of Malaya, 1978 merupakan antara contoh tragis yang boleh dirujuk.

TERAS KEEMPAT: PERUNTUKAN-PERUNTUKAN DALAM AKTA UNIVERSITI KOLEJ UNIVERSITI 1971 (PINDAAN 1974) MEMBUNUH BAKAT DAN AKTIVISME MAHASISWA MALAYSIA GMA juga melihat AUKU ini juga membunuh aktivisme mahasiswa. Mahasiswa tidak lagi bebas berfikir, berpersatuan, menyuarakan pandangan (secara idealis dan akademik) hattan kehidupan mereka sentiasa diancam. Natijahnya, mahasiswa Malaysia dasawarsa ini tidak lagi menjadi jurubicara ummah demi pembangunan negara sebagaimana mahasiswa Malaysia era 1960-an dan 1970-an. Realiti ini senantiasa diwar-warkan buhaja di kalangan mahasiswa, malah ahli akademik sendiri. Antaranya:-.

Fakta Pertama : Prof. Madya Dr.Sanusi Osman dalam kertas kerjanya, “Mengapa Akta Universiti dan Kolej Universiti ditentang”. Dalam kertas kerja tersebut, beliau menyatakan “penglibatan dan peranan mahasiswa penting sebagai jurubicara rakyat, imej mereka tinggi dan pengaruh mereka juga meluas dalam masyarakat. Sungguhpun begitu, kelantangan kritikan mereka terhadap dasar-dasar kerajaan, pendedahan di surat-surat khabar mengenai kecurangan dan pernyelewengan kerajaan, pendedahan terhadap pemimpin-pemimpin yang rasuah dan opurtunis yang disertai pula dengan demonstrasi di dalam dan di luar kampus menimbulkan perasaan kurang senang di kalangm elit yang memerintah“. Fakta Kedua : Menurut Mohamad Suhaimi al-Maniri, “Dengan peruntukan ini mahasiswa tidak bebas lagi memperjuangkan konsep ‘bersama rakyat’ sepertimana yang dipelopori oleh rakan-rakan mereka sebelum akta berkuatkuasa. Mahasiswa selepas akta seolah-olah di’penjara’ dikampus-kampus dengan kehidupan mereka yang tersendiri. Peruntukan ‘ugutan’ mental secara halus oleh pihak berkuasa boleh melemahkan pemimpin-pemimpin mahasiswa berbuat sesuatu kerana boleh ditafsirkan melanggar akta dan menjadikan mereka ragu-ragu dan bimbang sama ada apa yang dilakukannya bertentangan dengan akta ataupun tidak. Penderaan mental seperti ini sudah cukup untuk memberi kesan kepada aktiviti kemahasiswaan. Akibatnya kegiatan kemahasiswaan menjadi semakin suram dan tidak bermaya.” GMA melihat, AUKU ini meninggalkan pelbagai implikasi. Antaranya ialah membentuk Budaya “Culture of Fear & Complesent Zone” Ke Atas Mahasiswa. Sebagai contoh, aksi Demontrasi Tasik Utara & Demontrasi Baling 1974 merupakan zaman keemasan mahasiswa. Namun, Pasca penggubalan AUKU 1975, pola gerakan mahasiswa semakin tidak bertaring. Buktinya, Peristiwa Memali 1985, mahasiswa tenggelam dalam menjuarai isu besar ini.

GMMA di Parlimen
Posted on May 10, 2008 by mansuhkanauku Alhamdulillah, pada 8 Mei 2008 (Khamis), Gerakan Mahasiswa Mansuhkan AUKU berpeluang ke Parlimen untuk menyerahkan memorandum dan badge “AUKU Akta Zalim” kepada beberapa ahli Parlimen. Seramai 15 orang wakil dari Gerakan Mahasiswa Mansuhkan AUKU (GMMA) berada di Parlimen semalam untuk aktiviti ini. Ini merupakan aktiviti pertama GMMA dalam usaha untuk melobi ahli parlimen supaya membawa isu ini untuk dibahaskan sempena sidang parlimen yang pertama ini. Antara ahli parlimen yang diberi memorandum dan badge ialah YB Lim Guan Eng, YB Nurul Izzah, YB Salahuddin Ayub, YB Fuziah Salleh, YB Khairy Jamaludin, Datuk Seri Nazri Aziz dan juga Datuk Mukhriz Mahathir. Kemudian, diadakan sidang media dan kenyataan memorandum ini dibacakan oleh lima wakil dari GMMA iaitu, Sdr. Shazni Munir, Sdr Ridhwan, Sdr Muiz, Sdr Ng Yong Jin dan Sdr Mohamad Amirul. Dalam kenyataan ini, GMMA menuntut agar : 1.AUKU dan peraturan subsidiari di bawah akta induk AUKU dimansuhkan 2.Setiap akta yang akan diwartakan di Institut Pengajian Tinggi mestilah mendapat pandangan semua pihak dan dibentuk di atas 5 prinsip utama berikut :
• • • • •

Kebebasan bersuara dan menyatakan pandangan Kebebasan berpersatuan Kebebasan berkumpul Kebebasan akademik Kuasa autonomi universiti

3. Memberi ruang yang luas untuk semua warga universiti mengembangkan idealism penglibatan dalam semua pertubuhan sama ada di luar atau dalam kampus Antara media yang menyiarkan laporan berkenaan aktiviti ini ialah harakahdaily, malaysiakini, tv pas, kosmo dan star. Berikut

Saudara Ridhwan menyatakan prinsip GMMA kepada Khairy Jamaludin

Beberapa lagi ahli parlimen yang menerima memorandum dan badge dari wakil GMMA

. Wakil-wakil front pada sidang media

Ketua sekretariat GMMA, saudara Shazni Munir ditemubual pihak media

Badge yang diserahkan kepada ahli parlimen dan wakil media Sebagai pelapis kepada pemimpin dan pendokong gerakan Islam, kita perlu memiliki muasofat (ciri-ciri) yang membezakan kita dengan orang lain. Sudah pasti perbezaan yang dimaksudkan ialah perbezaan positif dan kelebihan. Sahabatku mencadangkan, sebagai mahasiswa Islam kita perlu mengutamakan budaya membaca sebagai usaha dalam menjana kesarjanaan ilmu dan thaqofah. Menghabiskan minima 1 buku dalam masa sebulan merupakan targetku kini dalam menyahut seruan tersebut. Biarlah sesibuk manapun, insyaAllah budaya ini cuba diterapkan dalam kamus hidup. Potret Perjuangan Mahasiswa

Buku Potret Perjuangan Mahasiswa Dalam Cerminan Dekad merupakan buku tulisan Ust Riduan Mohd Nor, Exco Pemuda PAS Pusat. Buku ini ditulis bagi menjelaskan secara realiti sejarah perjuangan mahasiswa lantaran banyak tohmahan yang dibuat kepada golongan mahasiswa sekarang. Tohmahan yang dibuat adalah kerana didasari dengan maklumat yang tidak betul dan tidak tepat. Ust Riduan selaku bekas aktivis mahasiswa sememangnya mempunyai kelayakan dalam menghamparkan sejarah dengan lebih tepat memandangkan pernah bergelumang secara langsung dalam dunia perjuangan mahasiswa. Cerminan Dekad 60an Realiti Malaya pada dekad 60an adalah bagaikan bayi yang baru dilahirkan dan baru melihat dunia kerana baru melepasi undang-undang darurat(19481960). Berdasarkan dimensi baru ini, mahasiswa memberikan harapan kepada masyarakat berdasarkan keintelektualan yang ada pada mereka. Isuisu kebajikan diberikan keutamaan lantaran kerajaan pada ketika itu masih memberi perhatian yang serius terhadap keselamatan dan ancaman komunis dan melepas pandang soal sosio-ekonomi. Sudut pidato yang diperkenalkan di Universiti Malaya berjaya melahirkan pemimpin mahasiswa yang memberi anjakan besar pada dekad ini. Banyak peristiwa-peristiwa dalam dan luar negara yang mempengaruhi gerakan mahasiswa lantas memperkasakan pemikiran dan jatidiri mereka. Isu konfrontasi Indonesia kepada Malaysia, peristiwa Hamid Tuah, peristiwa 13 Mei, kes Red Guard di Cina, pembunuhan Che Guevara di Bolivia dan peristiwa gerakan mahasiswa sosialis di Perancis merupakan faktor yang memberi kesan kepada dunia mahasiswa Malaysia. Satu perkara yang mesti diketahui ialah gerakan dan fahaman sosialis banyak melatari potret perjuangan mahasiswa pada waktu itu. Kesedaran Islam masih tipis dan mereka hanya menumpukan penekanan kepada isu-isu kebajikan dalam mengecilkan perbezaan sosio-ekonomi masyarakat Malaysia pada waktu itu. Cerminan Dekad 70an Selepas peristiwa rusuhan kaum 13 Mei 1969, parti PAS telah bersetuju untuk menyertai pakatan kerajaan. Ini menyebabkan hilangnya peranan check and balance yang selama ini dimainkan oleh PAS. Tun Razak telah memperkenalkan Dasar Ekonomi Baru (DEB) dan menjadikan perpaduan dan permuafakatan sebagai tema kepimpinannya bagi mengelak kejadian 13 Mei berulang semula. Berikutan itu, tokoh mahasiswa penghujung 60an, Anwar Ibrahim telah menubuhkan ABIM pada 1971 sebagai NGO yang

menggantikan peranan PAS. Anwar mampu membawa mahasiswa ke hati masyarakat apabila menunjukkan simpati kepada golongan-golongan miskin. Peristiwa yang paling nyata ialah Demonstrasi Baling 1974. Mahasiswa telah berjaya mengumpul penduduk-penduduk Baling untuk bangkit menunjuk perasaan kepada kerajaan terhadap nasib mereka. Tidak cukup dengan itu, mahasiswa turun sekali lagi di Masjid Negara selepas itu bagi tujuan yang sama. Peristiwa ini menjadi ukiran sejarah yang penting dalam dunia mahasiswa kerana peristiwa ini telah membangkitan semula mahasiswa selepas terkesima seketika akibat Akta Universiti dan Kolej Universiti (AUKU) yang diperkenalkan pada 1971. Peristiwa ini juga menjadi turning point kemunculan gerakan pelajar Islam yang menggantikan fahaman sosialis yang selama ini melatari dunia idealisme mahasiswa. Slogan-slogan “Kembali Kepada Al-Quran”, “Islam is a Way of Life”, “La Syarqiah La Gharbiah” mula mengambil tema perjuangan mahasiswa dalam dekad ini. Badan Dakwah Kampus atau Persatuan Pelajar Islam mula mengalami rangsangan dan tarikan kepada aktivis-aktivis pelajar. Masyarakat kampus mula memberikan sokongan kepada kelompok pelajar Islam dalam pilihanraya kampus apabila kelompok sosialis gagal menampilkan sakhsiah kepimpinan yang baik, begitu juga dengan kepimpinan nasionalis yang dilihat berada dalam ketempurungan etnik. Cerminan Dekad 80an Dasawarsa 80an merupakan dekad yang penuh dengan kejutan dan ketidakseimbangan. Aura perubahan politik memberi impak kepada gerakan mahasiswa. Revolusi Iran yang tercetus pada penghujung 70an telah mempengaruhi seluruh dunia Islam dalam menjadikan Islam sebagai cara hidup. Ia telah memberikan tambahan kekuatan kepada mahasiswa Islam setelah kumpulan ini diberi tempat yang istimewa dalam masyarakat kampus selepas Peristiwa Baling 1974. Namun begitu, mahasiswa mengalami kegoncangan apabila ikon penting mahasiswa Anwar Ibrahim menyertai UMNO pada 1982. Penyertaan ini telah memecahkan pendokong gerakan mahasiswa kepada 3 kelompok besar. Ada kelompok menetang Anwar dan terus menyokong PAS, ada yang menyokong Anwar menyertai UMNO dan ada yang mengambil jalan tengah dengan menubuhkan kumpulan baru ABIM Perlis. Pada 1984, PAS telah membuat anjakan kepimpinan apabila memperkenalkan “Kepimpinan Ulama’”. Dasar ini sedikit sebanyak telah mengimbangi kekalutan akibat penyertaan Anwar ke UMNO. Ikon baru mahasiswa telah berganti kepada “Fenomena Haji Hadi”. Fenomena ini merupakan satu kejayaan baru gerakan Islam dalam mencorak pemikiran mahasiswa. Program-program dakwah dan tarbiah mula mewarnai dunia kampus. Generasi haraki dibentuk dan diukir hasil daripada anjakan kepimpinan ulama dan fenomena Haji Hadi. Pernah terjadi isu purdah di UTM yang akhirnya menatijahkan Setiausaha Agung PMUTM Ahmad Lutfi Othman dibuang kampus kerana membela mahasiswi yang berpurdah.

Walaupun begitu, pihak kerajaan turut mengaktifkan budaya hiburan liar apabila kerap mengadakan konsert-konsert di kampus. Mahasiswa telah bangkit menentang budaya ini dengan beberapa siri demonstrasi menyekat konsert dilaksanakan. Bumi Universiti Malaya kerap menjadi saksi terhadap tindakan mahasiswa ini. Selain itu, dekad 80an juga menayangkan perselisihan gerakan Islam kampus dalam yang agak ketara dalam mengkaderkan mahasiswa sehinggakan berlaku perpecahan dan peperangan antara kumpulankumpulan mahasiswa Islam. Ia adalah kesan yang paling besar dialami akibat kemasukan Anwar ke dalam UMNO. Secara ringkasnya, tindakan Anwar Ibrahim pada tahun 1982 telah mempengaruhi secara serius 10 tahun berikutnya terhadap gerakan mahasiswa sama ada positif mahupun negatif. Cerminan Dekad 90an dan Alaf Baru Mahasiswa telah secara aktif terlibat dalam landskap politik masyarakat Malaysia. Keterlibatan ini menjadikan gerakan ini matang dan berwibawa. Antara yang diingati ialah demonstrasi bantahan kemasukan pasukan kriket Israel di Masjid Ar Rahman 1997. Demonstrasi ini telah berjaya mendapat perhatian negara-negara umat Islam yang lain dalam menentang sebarang usaha mengiktiraf entiti negara haram Israel dalam peta dunia. Selepas itu, mahasiswa bersama-sama rakyat menggerakkan reformasi dalam mengubah watak kerajaan susulan daripada kes pemecatan Anwar Ibrahim. Namun begitu, suasana reformasi ini dimandulkan oleh kerajaan pada waktu itu dengan beberapa akta dan tindakan. Penggunaan ISA secara berleluasa, pengenalan Akujanji, akta OSA, AUKU yang sering dilaung-laungkan dan pelbagai lagi usaha dibuat oleh kerajaan. Ia ditambah lagi dengan penglabelan militan terhadap golongan agama selepas peristiwa 11 September 2001 di New York. Tidak ketinggalan juga dalam tragedi Sauk dan penahanan anggota KMM kerana dianggap pengganas. Gerakan mahasiswa yang ditunjangi oleh mahasiswa Islam telah dimandomkan oleh kerajaan secara total dengan seluruh jentera yang dimiliki. Kumpulan mahasiswa proAspirasi (pro kerajaan) telah mengambil tempat secara paksa dengan perancangan berat sebelah daripada kerajaan. Campurtangan kerajaan ini telah menimbulkan budaya takut kepada mahasiswa. Antara yang diingati ialah kes tangkapan ISA kepada Presiden Persatuan Mahasiswa Universiti Malaya, Fuad Ikhwan yang dikaitkan dengan pembakaran Dewan Tunku Canselor Universiti Malaya. Biro Tatanegara dan Minggu Orientasi Mahasiswa dijadikan medan oleh kerajaan dan pihak universiti dalam menanam benih-bebih kebencian kepada mahasiswa Islam. Keadaan berterusan sehinggan sekarang. MAHASISWA DAN PERUBAHAN Antara perkara menarik dalam buku tulisan Ust Riduan ini ialah nama-nama aktivis mahasiswa yang dikemukakan oleh beliau. Rata-rata yang disebut itu amat sinonim dengan pendokong perubahan masyarakat Malaysia sekarang.

Nama seperti Anwar Ibrahim, Mohamad Sabu, Ibrahim Ali, Mustapha Kamil Ayub, Ust Idris ahmad, Ahmad Lutfi Othman, Takiyuddin Hassan, Husam Musa, Saifudin Nasution dan Khalid Samad merupakan antara pencorak utama landskap politik dan budaya masyarakat Malaysia sekarang dalam memartabatkan Islam dan keadilan. Selepas membaca buku ini, dapat aku simpulkan bahawa kata-kata yang dilaungkan oleh Pak Nasir adalah benar dan tepat : “Pemimpin tidak boleh dicetak. Pemimpin tidak lahir di bilik kuliah tetapi tumbuh sendiri dari hempas pulas kancah, muncul di tengah-tengah pengumpulan masalah, menonjol di kalangan rakan seangkatan, lalu diterima dan didukung oleh Ummat”. p/s -: Sekadar infomasi untuk tatapan bersama ;;; Anwar Ibrahim ( Mantan Presiden Pers.Bahasa Melayu Universiti Malaya – kini Penasihat PKR) Mohamad Sabu (Aktivis Mahasiswa UiTM – kini Naib Presiden PAS) Ibrahim Ali (Presiden Pers.Mahasiswa UiTM – kini Ahli Parlimen Pasir Mas) Ust Idris Ahmad (Presiden Pers. Mahasiswa UKM – kini AJK PAS Pusat) Ahmad Lutfi Othman (SU Agung Pers.Mahasiswa UTM – kini Ketua Pengarang Harakah) Takiyuddin Hasan (Presiden Pers. Mahasiswa UM – kini Exco Kerajaan Kelantan) Husam Musa (aktivis Mahasiswa UM – kini Exco Kerajaan Kelantan) Saifudin Nasution (Presiden Pers.Mahasiswa UPM – kini Ketua Perancang Strategik PKR) Khalid Samad (Mahasiswa Islam USA – kini Ahli Parlimen Shah Alam)

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->