ASITES LATAR BELAKANG

Asites berasal dari bahasa yunani yang artinya kantong atau tas. Asites adalah menumpuknya cairan patoligis dalam rongga abdominal. Laki-laki dewasa yang sehat tidak mempunyai atau terdapat sedikit cairan intraperitoneal, tetapi pada wanita terdapat sebanyak 20 ml tergantung pada siklus menstruasi. Jurnal ini hanya membahas asites yang berhubungan dengan sirosis.

PATOFISIOLOGIS Penumpukan cairan asites menggambarkan kadar natrium total dalam tubuh dan pengeluaran air. Tetapi awal terjadinya ketidak seimbangan belum jelas. Terdapat 3 teori mengenai terbentuknya asites; 1. Teori pengisian; mengatakan bahwa penyebab utama ketidaknormalan jumlah cairan antara jaringan vaskuler adalah HT portal dan penurunan sirkulasi aliran darah. Hal ini mengaktifkan renin plasma, aldosteron, dan saraf simpatis sehingga menyebabkan retensi natrium dan air. 2. Teori overflow; mengatakan bahwa penyebab utama ketidaknormalan adalah retensi natrium dan air di ginjal akibat kurangnya volume darah. Teori ini terbentuk berdasarkan observasi pada pasien sirosis yang terdapat hipervolemia intervaskuler.

3. teori yang terakhir hipotesa mengenai vasodilatasi arteri perifer mencakup ke dua teori diatas. Teori ini mengatakan bahwa hipertensi portal mengakibatkan vasodilatasi yang akan menyebabkan penurunan voleme darah arteri. Berdasarkan perjalanan penyakit akan terjadi peningkatan neurohumoral yang akan mengakibatkan retensi natrium dan cairan plasma keluar. Hal ini mengakibatkan peningkatan cairan pada cavum peritoneal. Berdasarkan teori vasodilatasi, teori underfilling berlaku pada sirosis tahap lanjut.

Walupun perkembangan hipertensi portal dan retensi natrium masih belum jelas, hipertensi portal tampaknya meningkatkan kadar NO. NO akan mengakibatka vasodilatasi perifer splanknikusdan vasodilatasi perifer. Pasien dengan asites mempunyai aktivitas enzim arteri nitrit oksidase lebih besar dari pada pasien tanpa asites.

Terdapat beberapa faktor yang mendukung penumpukan cairan pada cavum abdomen. Faktor pertama adalah peningkatan kadar epinefrin dan norepinefrin, hipoalbumin, penurunan tekanan onkotik plasma akan mengakibatkan keluarnya cairan plasma ke rongga peritoneal, oleh karena itu asites jarang terjadi pada pasien sirosis kecuali jika terdapat hipertensi poertal dan

sekarang dinyatakan sebagai penyebab steato hepatitis non alkoholik yang dapat mengakibatkan sirosis. MORTALISTAS / MORBIDITAS Pasien sirosis dengan asites memiliki prognosis bertahan hidup selama 3 tahunsebesar 50%. tetapi wanita dewasa normal terdapat sekitar 20 ml cairan intraperitoneal tergantung siklus menstruasi. Pasien dengan riwayat sirosis yang lama dan stabil dan terdapat asites mempunyai kemungkinan terkena karsinoma hepatoseluler. hiperkolesteronemia dan DM tipe 2. Asites masif prognosisnya buruk.Pasien menyatakan bahwa peningkatan cairan abdomen terjadi dalam waktu singkat. ‡ Obesitas. meliputi . RIWAYAT PERJALANAN PENYAKIT Penyebab paling sering asites adalah penyakit hati. SEX Pria dewasa normal tidak atau mempunyai sedikit cairan intraperitoneal.hipoalbumin. ‡ Pasien dengan asites harus dinyatakan terdapatnya faktor resiko penyakit hati. dengan tingkat bertahan hidup selama 1 tahun kurang dari 50%.v bebas sexual darah Tatoo hepatitis ‡ Pasien dengan sirosis alkoholik yang kadang ± kadang berhenti mengkonsumsi alkohol mungkin mendapatkan asites sesui siklus pemakaian alkohol tersebut. ‡ Pasien dengan riwayat keganasan terutama kanker gastrointestinal memilki resiko terjadinya . Penggunaan Bepergian kedaerah endemik alkohol Hepatitis Penggunaan Sex Kelainan Transfusi dalam virus jangka kronik obat-obatan waktu / lama iterus i.

tapi umumnya hati membesar. Budd chiairi . spindernevi. ‡ Nodul patologis supraclavicula sebelah kiri (virchow nodul) menunjukan adanya keganasan pada ‡ Pasien daerah dengan penyakit abdominal jantung atau SN bagian menunjukan atas. PEMERIKSAAN FISIK Pemeriksaan fisik difokuskan pada tanda-tanda hipertensi dan penyakit hati kronik. . gagal jantung kongesti. Nodul kenyal pada daerah umbilikus yang disebut sister mary joseph nodul. hepatitis alkoholik. ‡ Peningkatan cairan v. anasarka.jugularis menunjukan penyebab utamanya dari jantung. sirosis. sy. Gambara gelombang cairan biasanya tidak akurat. . palmar eritem. atau keganasan hati primer. ‡ Pemeriksaan fisik yang ditemukan pada penyakit hati meliputi ikterik. PENYEBAB ‡ HT portal (serum asites Normal albumin gradien/SAAGš > peritonium 1.asites maligna. Puddlesign menunjukan terdapat sebanyak 120 ml cairan. Ketika jumlah cairan pertoneal sebanyak 500 ml asites dapat ditunjukan dengan pemeriksaan shiftingdulness +.Penyakit hati. ‡ Pada papasi hati sulit teraba jika terdapat asites dalam jumlah yang banyak. ‡ Asites yang terdapat pada pasien dengan riwayat diabetes atau sindrom nefrotik dapat disebut asites nefrotik. Asites yang berhubungan dengan keganasan umumnya menimbulkan rasa nyeri. hepatitis fulminant metastase hati masif. Hipoalbuminemia Protein Malnutrisi akut lossing dengan :š SN enteropathy anasarka. perikarditis konstriktif. sementara asites akibat sirosis biasanya tidak nyeri. infusiensi katup trikuspid. jarang ditemukan tetapi umumnya menggambarkan adanya Ca peritoneal juga berasal dari keganasan pada gaster.kongesti hati.1 g/dl). pankreas.

1 g/dl) Infeksi Bacterial Tuberculous HIV-assosiated Kondisi Peritoneal Primary Pseudomyxoma Hepatocellular Kondisi Familial mediterranean peritonitis peritonitis peritonitis keganasan carsinomatosis mesothelioma peritonei carcinoma lain fever Vasculitis Granulomatous Eosinophilic peritonitis peritonitis DD.Kondisi Penyakit ‡ ‡ ‡ ‡ ‡ ‡ ‡ ‡ ‡ ‡ ‡ tertentu (SAAGš chylous pancreatic Bile Nephrogenic urine ovarian peritoneum <1. (SAAGš<1./ ‡ ‡ ‡ ‡ ‡ ‡ ‡ Acute Alcoholic Billiary Budd-chiari Cardiomyopathy Cardiomyopathy liver failure hepatitis disease syndrom dilated restrictive Cirrhosis .1 g/dl) : ascites ascites ascites ascites ascites disease.

Pada peritonitis TB dan peritoneal Carsinomatosis terhadap predominan limfosit. kultur. Kadar albumin yang meningkat . Inflamasi yang alaindapat menyebabkan peningkatan sel darah putih. Jumlah neutrofil > 50000 sel/microliter memberikan gambar purulent dan menunjukan Jumlah hitung sel infeksi. Cairan yang non traumatik berwarna kemerahan dan tidak membentuk bekuan karena cairan tersebut lisis. : Cairan asites yang normal mengandung < 500 leukosit/microliter dan < 250 leukosit PMN / microliter. Jumlah netrofil > 250 sel / microliter menunjukan adanya hepatitis bakterial. dan sitologi untuk jenis asites yang tidak diketahui penyebabnya. pada albumin. pewarnaan gram. Hal ini mungkin berhubungan dengan traumatik pungsi atau keganasan.1 gr/dl) Pengukuran nilai albumin berhubungan langsung dengan tekanan portal.Indikasi : kebanyakan cairan asites transparan dan kuning minimal 10000 sel darah merah / microliter memeberikan warna cairan asites warna pink dan jaringan terdapat 20000 sel darah merah / microliter diperkirakan berwarna emrah seperti darah. total protein. Spesimen harus diperoleh secara berkelanjutan.1 g/dl) dan non portal HT (SAAG<1.Ketepatan hasil SAAG + 97% dalam mengklasifikasikan asites. . SAAG SAAG adalah pemeriksaan terbaik untuk mengklasifikasikan asites dengan hipertensi portal (SAAG>1. .‡ ‡ ‡ ‡ ‡ ‡ ‡ ‡ Primary Hepatitis Hepatocellular Hepatorenal Mediterranean Nephrotic Portal billiary Protein-losing fever viral adenoma syndrome familial syndrome hypertension cirrhosis enteropathy PEMERIKSAAN LAB ‡ Cairan peritoneal harus diperiksa untuk dihitung jumlah sel. ‡ Caira kemerahan yang berasal dari traumatik pungsi berupa darah dan cairan akan membentuk bekuan.

Pada pasien-pasien dengan asites maligna mempunyai nilai SAAG yang rendah dan kadar protein Kultur atau pewarnaan tinggi. ‡ Tanda-tanda berikut lebih spesifik dan dapat dipercaya. penonjolan panggul. Obliterasi sudut hepatik terlihat pada 80% orang sehat. Kira-kira diperlukan 10000 bakteri/ml agar dapat terlihat pada pewarnaan gram. akan tetapi ketepatan hanya 56% untuk mendeteksi penyebab eksudat. Pada peritonitis bakteri spontan nilai konsentrasi rata-rata bakteri 1 organisme/ml. dan terkumpulnya gas di usus halus. batas PSOAS kabur. Jika terdapat lebih dari 500 ml cairan asites harus dilakukan pemeriksaan BNO. ‡ Tanda-tanda beberapa tanda asites nonspesifik seperti gambar abdomen buram. terpisahnya gambar lengkung usus halus. Pada 80% pasien asites.dan - rendah menjelaskan Protein sifat asites transudat/eksudat. gram Sensitifitas kultur darah kira-kira 92 % dalam mendeteksi pertumbuhan bakteri pada cairan asites. Pada pelvic penumpukan cairan pada kantung rektovesika dan dapat meluap ke fossa paravesika. PENCITRAAN Foto thorax dan abdomen ‡ Kenaikan diafragma dengan atau tanpa efusi pleura simphatetik (hepatic hydrothorax) terlihat pada asites masif. tepi lateral hati diganti oleh dinding thorax abdomen (Hellmer sign). total Dulu cairan asites dikategorikan eksudat jika jumlah protein > 0. Peningkatan kepadatan pada foto tegak.5 g/dl. Adanya cairan memberikan gambaran kepadatan yang simetris pada kedua sisi kantung vesika urinaria yang di sebut ´dog¶s . Pewarnaan gram sensitifitasnya hanya 10% dalam memberikan gambaran bakteri pada peritonitis bakterial spontan. Kadar protein total merupakan informasi tambahan pada pemeriksaan SAAG. Peningkatan SAAG dan jumlah protein yang meningkat pada kebanyakan kasusasites dikarenakan kongesti hati. ketajaman gambar intraabdomen berkurang. Sitologi Pemeriksaan sitologi sensitifitasnya hanya 58-75 % dalam mendeteksi asites maligna.

mudah berpindah. pseudomyxoma. hepatik. echoes internal halus (chyle). adrenal. kelateral terlihat pada 90% dengan asites yang signifikan. dan pergeseran garis lemak properitoneal USG ‡ Real-time sonografi adalah pemeriksaan cairan asites yang paling mudah dan spesifik. Penebalan kantung empedu secara umum akibat sirosis dan HT portal. inflamasi.ear´ atau ´mickey mouse´ appearance. Bebarapa gambar pada CT-Scan menunjukkan adanya neoplasia. melekat pada hati atau oargan lainnya atau lengkung usus tersebut dikelilingi oleh cairan yang terlokalisir. anechoic di dalam rongga peritoneal yang akan menyebabkan terjadinya peningkatan akustik. tetapi cairan akan berada diantara organ-organ tersebut. Pergeseran sekum dan kolon ascenden kearah tengah dan pergeseran. yang menunjukkan adanya asites maligna. peritonei). Asites yang sederhana terlihat sepertigambar yang homogen. Cairan asites tidak akan menggeser organ. dan terbentuk sudut pada perbatasan antara cairan dan organ-organ tersebut. distribusi cairan terlokalisir atau atipik. Akan terlihat jelas batas organ. atau lesi kelenjar limfe berhubungan dengan adanya massa yang berasal dari usus. Gambar tersebut meliputi echoes internal kasar (darah). ‡ Gambar sonographic tertentu menunjukan adanya asites yang terinfeksi. atau adanya keganasan. dan penebalan batas antara cairan dan organ yang berdekatan. gumpalan lengkung usus. CT-Scan Asites terlihat jelas dengan pemeriksaan CT-Scan. Jumlah cairan minimal akan terkumpul pada kantung morison dan mengelilingi hsti membentuk gsmbar karakteristik polisiklik. ‡ Kebanyakan pasien (95%) dengan keganasan peritonotis mempunyai ketebalan dinding empedu kurang dari 3mm. ovarium. atau pankreas. ´lollipop´ atau arcuate appearance di karenakan cairan tersebut tersusn secara vertikal pada sisi mesenterium. splenik. ‡ Pada asites maligna lengkung usus tidak dapat mengapung secara bebas. Penebalan kantung empedu berhubungan dengan asites jinak pada 82 % kasus. . dan kantung douglas. septal multiple (peritonitis tuberkulosa. Volume sebesar 5-10 ml dapat dapat terlihat. ruang subhepatik posterior (kantung morison). Sedikit cairan asites terdapat pada ruang periheoatik kanan. tetapi tertambat pada dinding posterior abdomen.

Parasentesis total. sedikit. Metode ini sering digunakan untuk asites yang berulang. Pemeriksaan ini penting untuk mendiagnosa adanya mesothelioma maligna. PEMERIKSAAN LAIN ‡ Laparoskopi dilakukan jika terdapat asites maligna. DERAJAT ‡ o o o o Derajat Derajat 1+ 2+ terdeteksi dapat 3+ Derajat Secara hanya pada pemeriksaan tetapi jelas 4+ dengan tetapi asites yang volume Semikuantitatif secara relatif seksama.Pada pasien dengan asites maligna kumpulan cairan terdapat pada ruang yang lebih besar dan lebih kecil. (TIPS) Metode ini dilakukan dengan cara memasang paracarval shunt dari sisi kesisi melalui radiologis dibawah anestesi lokal. PROSEDUR ‡ Parasentesis abdomen Parasentesis abdomen adalah pemeriksaan yang paling cepat dan efektif untuk mendiagnosa penyebab asites. . Parasentesis terapetik dilakukan untuk asites masif atau sulit disembuhkan. Pengeluaran 5 liter cairan merupakan parasentesis dalam jumlah besar. Penelitian terakhir menunjukkan bahwa pemberian albumin 5 g/l pada parasentesis diatas 5 liter dapat menurukan komplikasi parasentesis seperti gangguan keseimbangan elektrolit dan peningkatan serum ‡ kreatinin Transjugular akibat intrahepatik pertukaran portacaval cairan shunt intravaskuler. mudah terlihat Derajat asites belum PENGOBATAN Pembatasan pemberian Na (20-30 mEq/hr) dan diuretik merupakan terapi standar untuk asites dan efektif pada 95% pasien. atau pengeluaran semua cairan asites (di atas 20 liter) dapat di lakukan secara aman. sementara pada pasien dengan asites benign cairan terutama terdapat pada ruang yang lebih besar dan tidak pada bursa omental yang lebih kecil. masif. masif.

aliran darah ginjal. ‡ Parasentesis terapetik harus dipersiapkan pada pasien yang menunjukkan adanya asites masif. . Metode ini dilakukan dengan cara memasukkan jarum panjang dari V. KONSULTASI Konsultasi dengan spesialis gastrointestinal dan atau hepatolog diperlukan untuk pasien dengan asites. ‡ Untuk pasien asites derajat 3 dan 4 parasentesis terapi dilakukan secara intermiten. Efek positif pemasangan shunt ini meliputi peningkatan CO. metode ini sudah tidak terpakai. Dengan adanya prosedur TIPS. eksresi Na. akan tetapi sulit dilakukan pada pasien rawat jalan. . oleh karena itu pembatasan cairan Na sebesar 2000 mg/hr (88 mmol/hr). ini merupakan terapi standar pada pasien asites berulang. dan penurunan aktivitas renin plasma dan konsentrasi aldosteron plasma. Penggunaan megalymphatik shunt yang berfungsi untuk mengembalikan cairan asites ke vena. Belum ditemukan bukti yang menunjukkan bahwa pemasangan shunt ini dapat meningkatkan kemampuan untuk bertahan hidup. PEMBEDAHAN Peritoneovenous shunt merupakan tindakan alternatif pada pasien asites yang resisten terhadap pemberian obat-obatan.‡ Pembatasan cairan dilakukan jika terdapat hiponatremi.Hepatik.Jugularis kanan ke V. ‡ Pengukuran Na urin 24 jam berguna pada pasien dengan asites yang berhubungan dengan HT portal sehingga dinilai kadar Na. DIET Pembatasn Na 500 mg/hr (22 mmol/hr) dapat dilakukan dengan mudah jika pasien di rawat di RS. FGR. ‡ TIPSadalah metode radiologis yang dapat menurunkan tekanan portal dan merupakan tindakan yang paling efektif pada pasien asites yang resisten terhadappemberian diuretik. terutama pada asites yang resisten terhadap pengobatan. dan menilai kepatuhan diet. respon terhadap diuretik . volume urin. Pembatasan cairan tidak diperlukan kecuali jika kadar Na dibawah 120 mmol/l. PERAWATAN ‡ Pantau LEBIH keadaan asites LANJUT jika PASIEN pemakaian Na RAWAT < 10 INAP mmol/hr.

‡ Komplikasi parasentesis meliputi infeksi. Pasien dengan kadar protein < 1 g/dl dalam cairan asites memiliki resiko tinggi menjadi peritonitis bakterial. tetapi tidak ada pemeriksaan fisik atau hasol laboratorium yang spesifik yang dapat membedakan kasus peritonitis bakterial dengan kasus yang lain. Antibiotik Profilaksis dengan quinolon disarankan. KOMPLIKASI ‡ Komplikasi asites yang paling umum adalah terjadinya peritonitis (cairan asites mengandung lekosit PMN > 250 mikrolliter). Adanya perforasi usus harus diperkirakan pada pasien yang dilakukan parasentesis menunjukan gejala demam atau nyeri abdomen. sering ditemukan pada pasien dengan adanya komplikasi peritonitis bakterial (P<0. gangguan keseimbangan elektrolit. dan perforasi usus. o Setiap pasien dengan asites dan demaam harus dilakukan parasentesis dan kultur darah serta hitung jenis sel. Penelitian terakhir pada 133 pasien asites nyeri abdomen dan kekenyalan abdomen. ‡ Apabila asites mulai menghilang pemberian diuretik harus di atur untuk menjaga pasien bebas asites. Agen pertama dimulai dengan pemberian spironolakton100 mg/hr.1) . Secara umum pemberian diuretik harus dapat mengurangi 300-500 g/hr pada pasien tanpa udem dan 800-1000 g/hr pada pasien dengan udem. Jika respon tidak terlihat selama 4-5 hr dosis dinaikkan sampai 400 mg/hr di tambah furosemid 160 mg/hr. OBAT-OBATAN PADA PASIEN RAWAT INAP/JALAN ‡ Diuretik mulai diberikan pada pasien yang tidak memberikan respon terhadap Na. Semua pasien asites yang berdiri . Penambahan loop diuretik diperluka pada beberapa kasus dimana terjadi peningkatan natriuretik.PERWATAN LEBIH LANJUT PASIEN RAWAT JALAN ‡ Metode untuk menilai keberhasilan terapi diuretik dilakukan dengan cara memantau berat badan dan kadar Na urin. perdarahan. o Pemeriksaan fisik berulang dan pemantauan terhadap kekenyalan abdomen merupakan cara efektif untuk memantau adanya komplikasi.

gagal hati pulminnt. ggal jantung kongesti. (3) granulama peritonitis. Semua pasien harus diberatahu mengenai komplikasi yang fatal.. (2) Vasculitis. (2) Peritonitis TBC. (2) Mesotelioma primer.. adalah: a) Hipertensi portal dalam EMedicine. sirosis. Hal ini dapat dihindari dengan penggantian albumin jika cairan yang keluar > 5 liter. perikarditis konstriktif. Shah Rahil (2000) dalam artikelnya berjudul Acsites mengatakan bahwa penyebab Ascites. gejala dan tanda-tanda awal. 4) nefrotic ascites. Sayangnya kebanyakan kasus kegagalan hati mempunyai prognosis yang buruk. (3) Pseudomiksoma Peritoneum. 3) Malnutrisi berat karena anasarca).1 g/dl): 1) Nefrotic syndrome. c) Kondisi lainnya: 1) Asites Silous. .lama memiliki resiko hernia umbilikalis. PROGNOSIS Pada pasien asites akibat penyakit hati tergantung pada penyakit yang mendasarinya. 3) Kondisi lain: (1) Familial Mediteranian fever. (4) Eosinofilia peritonitis. b) Hipoalbimumemia (SAAG < 1. PENYULUHAN ‡ Aspek utama yang perlu diperhatikan adalah menentukan kapan terapi dikatakan gagal dan kapan pasien berobat ke dokter.1. 5) urine acsites. er secepatnya. D) Penyakit peritoneum: 1) infeksi: (1) peritonis bakteri.. insuficiensi tricuspid. 2) asites pankreatik. (3) Peritonitis fungus. hepatitits massif metastase. g/dl): 1) Kongesti hepatic. (4) Carcinoma hepaoseluler. derajat kerusakan dan respon terhadap pengobatan. (5) HIV-yang dikaitkan dengan peritonitis. 2) Protein losing entero pathy. 3) bile ascites. Budd Chiarry syndrome.(2) Penyakit liver. (serum-ascites albmin gradient=SAAG) > 1. ‡ Distensi abdomen atau nyeri abdomen merupakan masalah yang sering muncul pada pemberian diuretik dan pasien harus berobat ke dokt Field JM. sirosis hepatic. 2) kondisi malignansi: (1) Carcinoma peritoneum. Parasentesis dalam jumlah besar dapat menyebabkan pergeseran cairan dalam jumlah besar. 6) penyakit ovarium.

sekitar 15 % pasien asitestidak disebabkan oleh gangguan fungsi hati retensi cairan. meningkatnya risiko sindroma hepatorenal. sindrom hepatorenal. Diperkirakan sekitar 85 % pasien asitesadalah pasien sirosis hati atau karena penyakit hati lainnya yang parah. Dalam melakukan terapi pada asites refraktori perlu diperhatikan mengenai durasi pengobatan. serta komplikasi yang dipicu oleh pemberian diuretika. Dari prevalensi ascites. Prosedur ini merupakan pengulangan pemberian large volume paracentesis (LVP) ditambah albumin. Komplikasi pada asites refraktori yang tidak diintervensi dengan pengobatan akan berkembang menjadi infeksi SBP (spontaneous bacterial peritonitis). terapi paracentesis. ³Hampir 60 % pasien sirosis hati akan menjadi asitesdalam masa 10 tahun. Dr. Sesudah paracentesis. respon yang lambat. Asites adalah satu kondisi dimana terdapat akumulasi cairan berlebih yang mengisi rongga peritoneal. Kombinasi paracentesis dengan infus albumin ini juga menyingkat masa perawatan di rumah sakit. hepatic encephalopathy. Pasien yang menerima diuretika dosis tinggi harus mengecek kadar sodium pada urine. Pemberian LVP 5 L/hari dengan infus albumin (6-8 g/l ascites yang dibuang) lebih efetif mengeliminasi asites dan menghasilkan komplikasi yang minimal jika dibandingkan dengan terapi diuretika. Asitesyang terjadi dapat berupa asitestransudatif atau eksudatif. pasien harus melakukan diet sodium rendah (70-90 mmol/hari). Namun tindakan ini tidak berarti menghilangkan kebutuhan akan diuretic (spironolakton atau furosemida).M.2) Pemberian albumin pada tindakan paracentesis meningkatkan respon terhadap pemberian diuretika pada pasien asites refraktori. Terapi paracentesis merupakan pengobatan lini pertama untuk asites refraktori karena penerimaannya yang luas di kalangan medis. karena kekambuhan asites bisa ditunda pada pasien yang menerima diuretik pascaparacentesis. peritoneovenus shunts. ³Asitesdikategorikan refraktori bila tidak bisa dimobilisasi atau dicegah dengan terapi medis. dan transplantasi hati. TIPS (transjugular intrahepatic portosystemic shunting).6 No. 28-30 Juli lalu.Edisi September 2006 (Vol. dan kerusakan fungsi sirkulasi.´ jelas Prof.´ tambahnya lagi. Gejala umum pada asites refraktori adalah asites mengalami kekambuhan sesudah tindakan paracentesis. dan prognosis yang buruk. Sjaifoellah Noer SpPD-KGEH dari divisi Hepatologi. Tindakan paracentesis dapat dilakukan tiap 2 hingga 4 pekan tanpa keharusan opname. . Jakarta dalam Liver Up Date 2006 di Hotel Borobudur Jakarta. Asites pada sirosis merupakan prognosis yang buruk karena menyebabkan kematian sebesar 50 % dalam waktu tiga tahun jika tanpa transplantasi liver. jika kurang dari 30 mEq/hari maka pemberian diuretika harus dihentikan. Departemen Penyakit Dalam FKUI. Pilihan terapi untuk asites refraktoriadalah. 10 % nya adalah asites refraktori yang umumnya diterapi dengan pemberian diuretika.Terapi Albumin pada Asites Refraktori GERAI . H. Namun. Hipovolemia pascaparacentesis efektif bisa dicegah dengan pemberian albumin dibandingkan pemberian plasma sintetik ekspander. kekambuhan asitesyang cepat.

serta adanya asites.´lanjut Prof.³Kondisi hipoalbuminemia kerap dijumpai pada sirosis hati. Albumin sendiri disintesa secara lengkap pada organ hati.majalah-farmacia. Indikasi terapi albumin pada sirosis hati adalah adanya asites. peningkatan katabolisme albumin. dan kadar albumin di bawah 2. (Ani) http://www. Penggunaan albumin dimaksudkan untuk memelihara colloid oncotic pressure (COP). sindrom hepatorenal. mengikat dan menyalurkan obat.com/rubrik/one_news. efek permeabilitas vaskular. adanya SBP. Albumin juga memiliki efek antikoagulan. Hal ini disebabkan oleh penurunan mekanisme sintesa karena disfungsi liver atau diet protein rendah. serta ekspansi volume plasma. efek prokoagulatori.5 g%. dan sebagai penangkap radikal bebas.M Sjaifoellah. H.asp?IDNews=284 .

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful