I.

EKONOMI KERAKYATAN DAN E-BISNIS
1. Pengertian Ekonomi Kerakyatan Landasan konstitusional sistem ekonomi kerakyatan terdapat pada Pasal 33 UUD 1945. "Dalam pasal 33 tercantum dasar demokrasi ekonomi, produksi dikerjakan oleh semua untuk semua di bawahi pimpinan atau pemilikan anggota-anggota masyarakat. Kemakmuran masyarakatlah yang diutamakan, bukan kemakmuran orang seorang. Sebab itu, perekonomian disusun sebagai usaha bersama berdasar atas azas kekeluargaan. Bangun perusahaan yang sesuai dengan itu ialah koperasi." Berdasarkan bunyi kalimat pertama penjelasan Pasal 33 UUD 1945 itu, dapat disaksikan bahwa substansi ekonomi kerakyatan dalam garis besarnya mencakup dua hal sebagai berikut. a. Pertama, partisipasi seluruh anggota masyarakat dalam proses produksi nasional. Partisipasi seluruh anggota masyarakat dalam proses produksi nasional ini menempati kedudukan yang sangat penting dalam sistem ekonomi kerakyatan. Hal itu tidak hanya penting untuk menjamin pendayagunaan seluruh potensi sumberdaya nasional, tetapi juga sebagai dasar untuk memastikan keikutsertaan seluruh anggota masyarakat dalam menikmati hasil produksi nasional. Hal ini sejalan dengan bunyi Pasal 27 ayat 2 UUD 1945 yang menyatakan, "Tiap-tiap warga negara berhak atas pekerjaan dan penghidupan yang layak bagi kemanusian." b. Kedua, partisipasi seluruh anggota masyarakat dalam turut menikmati hasil produksi nasional. Artinya, dalam rangka ekonomi kerakyatan, harus ada jaminan bahwa setiap anggota masyarakat turut menikmati hasil produksi nasional, termasuk para fakir miskin dan anak-anak terlantar. Hal itu antara lain dipertegas oleh Pasal 34 UUD 1945 yang menyatakan, "Fakir miskin dan anak-anak terlantar dipelihara oleh negara." Dengan kata lain, dalam rangka ekonomi kerakyatan atau
Page

demokrasi ekonomi, negara wajib. Pengertian menurut Ahli:

1

1.

Ekonomi Kerakyatan adalah suatu sistem ekonomi yang memihak kepada kepentingan ekonomi sebagian besar rakyat secara adil, manusiawi, dan demokratis (Rafick 2008, 252) (HS.Dillon).

2.

Ekonomi Kerakyatan adalah tatanan ekonomi di mana aset ekonomi dalam perekonomian nasional didistribusian kepada sebanyakbanyaknya warga negara (Hutomo).

Melalui dua definisi diatas kita dapat membuat suatu sintesa tentang definisi ekonomi kerakyatan sebagai sebuah sistem ekonomi yang memberdayakan sebagaian besar struktur dunia usaha melalui redistribusi sumberdaya ekonomi kepada rakyat. Munculnya gagasan ekonomi kerakyatan ini tidak lain merupakan reaksi dari kegagalan sistem ekonomi pasar dalam memberikan kesejahteraan dan keadilan kepada segenap rakyatnya. Artinya, ekonomi kerakyatan hanyalah salah satu upaya untuk menambal sulam kelemahan yang ada dalam sistem ekonomi pasar. Ditinjau dari segi seberapa besar dosis campur tangan pemerintah terhadap perekonomian, ekonomi kerakyatan lebih memberi ruang yang luas bagi pemerintah untuk mengatur dan mengelola tata perekonomian nasional. Dengan kata lain pemerintah merupakan pihak yang harus berperan agar mekanisme pasar dapat berjalan secara lebih sempurna. Adapun cara-cara yang dilakukan untuk mewujudkan cita-cita dan tujuan sistem ekonomi kerakyatan adalah dengan jalan menggunakan instrumen kebijakan moneter, kebijakan fiskal, dan kebijakan di sektor riil. Dalam bidang moneter pemerintah harus menjamin kemudahan akses modal bagi kelompok usaha kecil dan menengah melalui perolehan dana pinjaman dari Bank. Kebijakan ini diwujudkan bukan dengan cara mensubsidi tingkat suku bunga kredit, melainkan dengan cara memberikan jaminan atau garansi kepada bank yang diberikan oleh pemerintah. Dalam bidang fiskal, upaya pemerintah untuk mendorong

produktivitas kelompok usaha kecil dan menengah dilakukan dengan cara
Page

mengalokasikan anggaran belanja negara untuk penjaminan kredit unit

2

produksi rakyat. Selain itu, pemerintah juga memberikan keringanan pajak bagi kelompok usaha kecil dan menengah yang ingin bergabung dalam unit produksi rakyat. 2. Koperasi Koperasi sejak kelahiranya disadari sebagai suatu upaya untuk menolong diri sendiri secara bersama-sama. Oleh karena itu dasar "self help and cooperation" atau "individualitet dan solidaritet" selalu disebut bersamaan sebagai dasar pendirian koperasi. Sejak akhir abad yang lalu gerakan koperasi dunia kembali memperbaharui tekadnya dengan menyatakan keharusan untuk kembali pada jati diri yang berupa nilai-nilai dan nilai etik serta prinsip-prinsip koperasi, sembari menyatakan diri sebagai badan usaha dengan pengelolaan demoktratis dan pengawasan bersama atas keanggotaan yang terbuka dan sukarela. Menghadapi milenium baru dan globalisasi kembali menegaskan pentingnya nilai etik yang harus dijunjung tinggi berupa: kejujuran, keterbukaan, tanggung jawab sosial dan kepedulian kepada pihak lain (honesty, openness, social responsibility and caring for others) (ICA,1995). Runtuhnya Rejim Sosialis Blok-Timur dan kemajuan di bagian dunia lainnya seperti Afrika telah menjadikan gerakan koperasi dunia kini praktis sudah menjangkau semua negara di dunia, sehingga telah menyatu secara utuh. Dan kini keyakinan tentang jalan koperasi itu telah menemukan bentuk gerakan global. Koperasi Indonesia memang tidak tumbuh secemerlang sejarah koperasi di Barat dan sebagian lain tidak berhasil ditumbuhkan dengan percepatan yang beriringan dengan kepentingan program pembangunan lainnya oleh Pemerintah. Krisis ekonomi telah meninggalkan pelajaran baru, bahwa ketika Pemerintah tidak berdaya lagi dan tidak memungkinkan untuk mengembangkan intervensi melalui program yang dilewatkan koperasi justru terkuak kekuatan swadaya koperasi.
Page

3

Di bawah arus rasionalisasi subsidi dan independensi perbankan ternyata koperasi mampu menyumbang sepertiga pasar kredit mikro di tanah air yang sangat dibutuhkan masyarakat luas secara produktif dan kompetitif. Bahkan koperasi masih mampu menjangkau pelayanan kepada lebih dari 11 juta nasabah, jauh diatas kemampuan kepiawaian perbankan yang megah sekalipun. Namun demikian karakter koperasi Indonesia yang kecil-kecil dan tidak bersatu dalam suatu sistem koperasi menjadikannya tidak terlihat perannya yang begitu nyata. Lingkungan keterbukaan dan desentralisasi memberi tantangan dan kesempatan baru membangun kekuatan swadaya koperasi yang ada menuju koperasi yang sehat dan kokoh bersatu. Menyambut pengeseran tatanan ekonomi dunia yang terbuka dan bersaing secara ketat, gerakan koperasi dunia telah menetapkan prinsip dasar untuk membangun tindakan bersama. Tindakan bersama tersebut terdiri dari tujuh garis perjuangan sebagai berikut : 1. Pertama, koperasi akan mampu berperan secara baik kepada masyarakat ketika koperasi secara benar berjalan sesuai jati dirinya sebagai suatu organisasi otonom, lembaga yang diawasi anggotanya dan bila mereka tetap berpegang pada nilai dan prinsip koperasi; 2. Kedua, potensi koperasi dapat diwujudkan semaksimal mungkin hanya bila kekhususan koperasi dihormati dalam peraturan perundangan; 3. Ketiga, koperasi dapat mencapai tujuannya bila mereka diakui keberadaannya dan aktifitasnya; 4. Keempat, koperasi dapat hidup seperti layaknya perusahaan lai nnya bila terjadi "fair playing field"; 5. Kelima, pemerintah harus memberikan aturan main yang jelas, tetapi koperasi dapat dan harus mengatur dirinya sendiri di dalam lingkungan mereka (self-regulation);

Page

4

6. Keenam, koperasi adalah milik anggota dimana saham adalah modal dasar, sehingga mereka harus mengembangkan sumberdayanya dengan tidak mengancam identitas dan jatidirinya, dan; 7. Ketujuh, bantuan pengembangan dapat berarti penting bagi

pertumbuhan koperasi, namun akan lebih efektif bila dipandang sebagai kemitraan dengan menjunjung tinggi hakekat koperasi dan

diselenggarakan dalam kerangka jaringan. Jika banyak orang berpendapat Ekonomi Kerakyatan merupakan konsep baru yang mulai populer bersama reformasi 1998-1999 sehingga masuk dalam GBHN Reformasi , hal itu bisa dimengerti karena memang kata ekonomi kerakyatan ini sangat jarang dijadikan wacana sebelumnya. Namun jika pendapat demikian diterima, bahwa ekonomi kerakyatan merupakan konsep baru yang mereaksi konsep ekonomi kapitalis liberal yang dijadikan pegangan era ekonomisme Orde Baru, yang kemudian terjadi adalah reaksi kembali khususnya dari pakar-pakar ekonomi arus utama yang menganggap tak ada yang salah dengan sistem ekonomi Orde Baru . Strategi dan kebijakan ekonomi Orde Baru mampu mengangkat

perekonomian Indonesia dari peringkat negara miskin menjadi negara berpendapatan menengah melalui pertuumbuhan ekonomi tinggi (7% pertahun) selama 3 dasawarsa. Yang salah adalah praktek pelaksanaannya bukan teorinya . Barangkali cara lain menerangkan sejarah konsep Ekonomi

Kerakyatan adalah dengan langsung menunjukkan adanya kata kerakyatan dalam Pancasila (sila ke 4) yang harus ditonjolkan dan diwujudkan dalam strategi dan kebijakan ekonomi karena di antara 5 sila Pancasila, sila ke-4 inilah yang paling banyak dilanggar dalam praktek ekonomi selama era pembangunan ekonomi Orde Baru. Pada masa Orde Lama koperasi menjadi alat politik pemerintah dan partai dalam rangka nasakomisasi. Pada masa Orde Baru koperasi
Page

menjadi alat dan bagian integral pembangunan perekonomian nasional

5

yang dilimpahi bermacam fasilitas. Kebijakan yang menempatkan peran pemerintah amat dominan dalam pembangunan koperasi menjadikan gerakan koperasi amat bergantung pada bantuan luar, hal yang amat bertentangan dengan hakikat koperasi sebagai lembaga ekonomi sosial yang mandiri. Kini, pada masa reformasi, yang seharusnya saat tepat untuk back to basic, membangun koperasi yang mandiri, kenyataannya sikap

ketergantungan gerakan koperasi justru terasa amat kuat. Hal ini antara lain tecermin dari keberadaan Dekopin, organisasi tunggal gerakan koperasi, yang praktis seluruh kegiatannya masih bergantung pada APBN (satu hal yang mendorong konflik berkepanjangan di kalangan gerakan sendiri), bukan pada dukungan dari anggotanya sebagai wujud kemandirian. Koperasi merupakan salah satu bentuk badan usaha yang sesuai dengan kepribadian bangsa Indonesia yang pantas untuk

ditumbuhkembangkan sebagai badan usaha penting dan bukan sebagai alternatif terakhir. Membentuk jiwa kewirausahaan koperasi di dalam diri para pengurus dan anggotanya adalah upaya awal untuk menuju keberhasilan gerakan koperasi di tanah air. Koperasi perlu mencontoh Implementasi Good Corporate

Governance(GCG) yang telah diterapkan pada perusahaan-perusahaan yang berbadan hukum perseroan. Implementasi GCG dalam beberapa hal dapat diimplementasikan pada koperasi. Untuk itu, regulator, dalam hal ini Kementerian Koperasi dan UKM perlu memperkenalkan secara maksimal suatu konsep good cooperative governance (disingkat juga dengan GCG) atau tatakelola koperasi yang baik. Koperasi kembali menjadi dibutuhkan dalam upaya meningkatan perekonomian rakyat, terlebih dalam krisis pangan dan krisis energi yang dialami Indonesia kali ini. Sepatutnya p embangunan perekonomian Indonesia dilandasi pada upaya pemberdayaan koperasi sebagai soko guru
Page

perekonomian nasional, karena hakekatnya, koperasi sebagai institusi atau

6

lembaga perekonomian tidak sebatas pada kepentingan-kepentingan ekonomi saja melainkan juga bertujuan untuk mensejahterakan masyarakat, terutama anggota-anggota koperasi. 3. SME ( Small and Medium Enterprises) / UKM (Usaha Kecil Menengah) UKM dilakukan dengan pola FOKUS dan PRIORITAS, agar sumber daya yang terbatas dapat menghasilkan secara optimal. Dalam kaitan ini mungkin ada baiknya dipisahkan antara usaha mikro dengan usaha kecil dan menengah. Untuk usaha mikro pendekatan pembinaannya adalah welfare approach yang bobotnya lebih pada pendekatan sosial. Sedangkan usaha kecil dan menengah diberdayakan dengan Business Approach. Untuk itu, ada beberapa sasaran focus yang dapat di lakukan : 1. Fokus dalam sector. Kalau kita lihat sector dominan dalam UKM maka kita perlu bedakan antara sector pertanian dan non-pertanian. Sektor pertanian membutuhkan penanganan tertentu yang berbeda dengan sector non-pertanian. 2. Dari pantauan yang kami lakukan maka disini juga perlu dipilih kelompok UKM yang kiranya dapat menjadi penghela bagi yang lain. Kami

fokuskan pada UKM kecil/menengah yang mempunyai potensi ekspor. 3. Dari fokus ini maka kami menyarankan agar pembinaan diarahkan kepada pembinaan kompetensi melalui mekanisme ekspor. Kami

melihat ini menjadi penting karena dengan segera kita dapat menumbuhkan berbagai kompetensi sekaligus dan terarah kepada persayaratan usaha yang mantap dalam era pasar bebas. Dalam kerangka pemikiran tersebut, ada beberapa model ekonomi rakyat, baik yang sudah ada maupun belum yang dapat dikembangkan, antara lain: a. Industri di desa, yaitu industri yang mengambil lokasi di desa untuk mengatasi masalah urbanisasi, antara lain industri sepatu, garment, dan cangkul
Page

7

b. Industri pedesaan, yaitu industri yang mengolah produk -produk pedesaan antara lain singkong untuk gaplek; kayu sengon untuk vineer, papan laminasi, dan kusen pintu; industri kopi; the dan lainnya, c. Integrated atau mixed farming, yaitu pertanian terpadu yang antara lain meliputi ternak ayam, kambing/domba dan sapi, kolam ikan

dikombinasikan dengan tanaman padi, jagung, dan sayur mayur lainnya untuk menghasilkan organic farming, d. Pola PIR, seperti model kelapa sawit, tebu, dan lainnya, e. Cluster Industry, seperti untuk perak di Kota Gede, Yogyakarta, Celuk di Gianyar, Bali, sepatu di Cibaduyut dan Sidoharjo, dan lainnya, f. Inkubator Bisnis dan Teknologi yang berbasis pada ilmu pengetahuan dan teknologi untuk menghasilkan pengusaha-pengusaha yang tangguh. Namun yang menjadi masalah selama ini adalah dukungan pendanaan, informasi pasar, dan teknologi. Sebagai contoh, ada beberapa produk Indonesia yang punya peluang pasar bagus di luar negeri, seperti gaplek, sabut kelapa, tempurung kelapa, furnitur dan beberapa produk UKM lainnya, selama ini sering tidak mampu memenuhi permintaan pasar karena keterbatasan modal baik untuk investasi maupun kerja. Oleh karena itu dukungan pihak perbankan nasional dan lembaga penjaminan kredit menjadi sangat strategis dalam hal ini. Pada sisi lain, untuk meningkatkan kemampuan UKM dari hal hal diatas dapat secara konkret kita sarankan untuk memfokuskan kepada KOMPETENSI SDM. Hal ini menjadi penting kalau kita lihat bahwa dalam pengembangan kewirausahaan yang menjadi dasar kompetensi SDM dalam usaha ini adalah peran serta aktif dari para pengusaha sendiri. Dengan demikian maka kita membina kemampuan untuk berkembang sendiri pada pengusaha kita. Pengusaha pada level ini biasanya sudah memiliki motivasi dan dasar pengetahuan cukup untuk menumbuhkan kemampuannya. Kegagalan pola pembangunan ekonomi yang bertumpu pada
Page

konglomerasi usaha besar telah mendorong para perencana ekonomi untuk

8

mengalihkan upaya pembangunan pada ekonomi kerakyatan dengan bertumpu pada pemberdayaan usaha kecil dan menengah (small and medium enterprises atau SME). Telah terbukti bahwa SME cukup tangguh menghadapi tantangan selama krisis karena luwes dalam merespon keinginan pasar, sehingga pengembangan perdagangan berbasis TI (ecommerce) harus pula difokuskan untuk pelaku pasar pada segmen tersebut. SME atau UKM, terutama yang berbasis pada sumber daya alam, juga memiliki keunggulan komperatif dan berpotensi besar untuk dapat menembus pasar global. Selain itu pengembangan TI sebagai komoditi, terutama piranti lunak, membutuhkan lahan yang subur bagi

berkembangnya SME. SME yang tangguh dan tersebar di seluruh tanah air, merupakan modal besar dalam upaya untuk tetap memelihara dan mempertahankan persatuan dan kesatuan bangsa kita. Dukungan pada sektor ini juga sekaligus dapat mengurangi dan menetralisir dampak negatif penerapan TI seperti yang terjadi di banyak Negara maju, yaitu semakin melebarnya kesenjangan kemampuan ekonomi pada kelompok-kelompok masyarakat. Kemudahan dan ketersediaan akses informasi mengenai keadaan pasar akan sangat membantu dalam proses bisnis SME, sesuatu hal yang selama ini didominasi oleh kelompok-kelompok bisnis bermodal besar. Oleh karena itu TI harus mampu memberikan dukungan nyata pada

perkembangan sektor ini. Strategi untuk mencapai e-commerce yang mendukung ekonomi kerakyatan adalah melalui hal-hal berikut : 1. Tersedianya Virtual Market bagi para pelaku pasar baik di pusat maupun di daerah pada akhir 2005, yang mencerminkan antara lain dengan peningkatan kemampuan SME untuk memanfaatkan TI (pajangan Internet dengan kemudahan dari pemerintah, mana jemen, bergagai
Page

jenis interaksi, mengakses pasar, pertukaran sata secara elektronis, dsb).

9

2. Pelaksanaan program pembinaan, penyuluhan, dan pelatihan bagi SME untuk meningkatkan kemampuan memanfaatkan TI, dan khususnya ecommerce pada akhir 2005, yang dicerminkan antara lain dengan kebijakan dan peraturan yang berpihak kepada SME (perijinan, kredit bank, modal ventura, asistensi manajemen, fasilitas ekspor dan kepabeanan, dsb), debirokratisasi melalui penghapusan biaya tinggi. 3. Industri TI local yang tangguh pada akhir 2005, yang dicerminkan antara lain dengan kemampuan untuk memenuhi kebutuhan pasar sehingg pengguna dapat mengutamakan prosuk lokal, dan menembus pasar global. Kebijakan 1. Perangkat hukum untuk E-commerce. Kebijakan kepastian hukum bagi masyarakat konsumen dalam E-commerce. 2. Transparansi dalam pelayanan, peraturan, dan persyaratan. Kebijakan dalam pemanfaatan sumber informasi bagi SME baik di pusat maupun di daerah. 3. Pertukaran dan pemrosesan data bisnis secara elektronis. Kebijakan yang mengatur pemrosesan dokumen secara elektronis (perijinan, kewajiban pajak, dan lainnya) Pedoman 1. Regulasi tentang jual beli informasi (commercial law) 2. Peraturan pemanfaatan teknologi informasi (cyber law), pengembangan security system (national security, personal security), dan peraturan penggunaan informasi. 3. Regulasi mengenai e-bisnis, tele-bisnis. 4. Regulasi mengenai perlindungan hak cipta. 5. Rujukan untuk perangkat hukum berkaitan dengan SME based E-

Page

10

commerce dapat mengacu pada : The United Nations Model Law on E-

commerce, bagian dari UNCITRAL (United Nation Conference on International Law), 1996. 6. Kerangka pengembangan E-Commerce atau SME dari lembaga yang berkepentingan seperti : Menko Ekuin, KADIN. 7. Standard dokumen, form dan transaksi yang berhubungan dengan perizinan, ekspor, transportasi, dll. Prosedur 1. Promosi dan membantu pemakaian teknologi internet untuk

meningkatkan daya saing dan akses ke SME. a. Pilot project : portal untuk SME, extranet (jaringan antar organisasi) SME dan perusahaan besar/multinasional (konsep koperasi, bapakangkat). b. Pilot project menggunakan teknologi internet untuk lingkungan SME, dengan criteria : biaya rendah, sederhana instalasi/pemeliharaan, dan multi purpose (universal use). 2. Menyediakan perangkat hukum untuk melindungi transaksi,

penyelesaian sengketa, perlindungan perusahaan kecil. a. Aturan/hukum dan fasilitas public key infrastructure : digital signature. b. Adopsi aturan/hukum perdagangan elektronis. 3. Penyeluhan dan peningkatan kemampuan SME untuk menghadapi perubahan lingkungan perdagangan elektronis. a. Training Program : management and internet bases related service. 4. Membantu dan meningkatkan fasilitas dan akses SME daerah a. Dukungan manajemen dan teknologi untuk pemasaran dan akses pasar produk SME di daerah : fasilitas link, kerjasama, insentif. b. On-line portal service untuk bidang yang potensial dalam

meningkatkan keberadaan SME daerah pada tingkat pusat dan internasional (global reach) : agribisnis, perikanan, kerajinan, germent, dll.
Page

11

Proses a. Pilot project : Portal untuk SME, extra net (jaringan antar organisai) SME dan perusahaan besar/multinasional (konsep koperasi, bapak-angkat). b. Pilot project menggunakan teknologi Internet untuk lingkkungan SME, dengan kriteria : biaya rendah, sederhana instalasi/pemeliharaan, dan multi purpose (universal use). c. Aturan/hukum dan fasilitas public key infrastructure : digital signature. d. Adopsi aturan/hukum perdagangan elektronis. e. Training program : management and internet bases related services. f. Dukungan manajemen dan teknologi untuk pemasaran dan akses pasar produk SME di daerah : fasilitas link, kerjasama, insentif. On-line portal service untuk bidang yang potensial dalam

meningkatkan keberadaan SME daerah pada tingkat pusat dan internasional (global reach) : agribisnis, perikanan, kerajinan, garment, dll. 4. Keterkaitan Antara Ekonomi Kerakyatan dan E-Bisnis Sistem Teknologi Informasi (TI) belum mampu memanfaatkan peranan yang signifikan dalam berbagai aktivitas kehidupan masyarakat kita. Tak heran jika dalam berbagai hal masyarakat kita masih sebatas sebagai penikmat, bukan produsen yang memanfaatkan teknologi sebagai instrumen pemasaran (marketing). Usaha kecil dan menengah (UKM) sebagai pilar pemberdayaan ekonomi rakyat seharusnya dapat memanfaatkan jaringan TI, khususnya dalam membantu pemasarannya baik secara lokal maupun internasional dalam konsep e-commerce. Internet dalam konteks ini dapat digunakan sebagai etalase di dunia maya untuk memajang berbagai macam produk hasil produksi UKM sehingga produk-produk tersebut bisa dilihat,dipilih, dan akhirnya dibeli oleh konsumen lokal maupun mancanegara. Kondisi pasar yang terbuka, meski terhalang oleh perbedaan waktu dan jarak, sangat mendukung interaksi antara produsen dan konsumen dunia maya. UKM Indonesia seharusnya sudah masuk ke dalam ranah maya

Page

12

tersebut. UKM Indonesia dengan berbagai macam varietas produknya harus sudah mulai menjajaki pasar di dunia maya sehingga bisa diperkenalkan di arus global. Konsep UKM berbasis e-commerce ini sudah diterapkan terutama di negaranegara maju seperti Amerika Serikat (AS), China, Malaysia, Singapura, dan negara-negara Eropa.Perang marketing di dunia maya sangat lazim dilakukan negara-negara tersebut, tapi di Indonesia masih belum dioptimalkan secara sempurna. Hal itu salah satunya akibat rendahnya pengetahuan dan kemampuan kita dalam menguasai TI. Kelenturan dalam bertransaksi dan hemat dalam biaya menjadi salah satu nilai tambah melakukan transaksi secara online. Produk-produk UKM asal Indonesia sudah diakui kalangan

internasional karena sifatnya yang unik dan sulit ditemukan bandingannya dengan produk asal negara lain. Namun, keunggulan itu akan sia-sia apabila tidak ada upaya dari kita untuk mengembangkan pengetahuan dan kemampuan pemasaran secara online. Contoh: Batik sudah di patenkan menjadi produk asli Indonesia, Misalnya pengrajin Batik ingin memasarkan produknya, tidak harus di pasarkan secara konvensional (di titipkan ke toko toko atau pasar) apabila pengrajin sudah mengenal perdagangan maya, maka pengrajin bisa memasarkan produknya secara online. Contoh lainnya pada petani, biasanya petani sering melihat harga jual komoditinya pada kantor kelurahan atau dinas terkait, oleh karena data yang ada biasanya tidak update maka, petani sering menjualnya ke Tengkulak hal ini yang akan memberikan harga yang lebih murah dari harga pasaran karena untung dari tengkulak yang ingin mendapatkan keuntungan di banding petani.

Page

13

5. Hal-Hal Yang Harus Dilakukan Pemerintah a. Pengembangan Sentra Pendukung UKM : dimana dikembangkan berbagai pusat informasi yang dibutuhkan UKM. b. Badan Konsultansi UKM yang menyediakan jasa dengan perencanaan bisnis, keuangan, marketing, accounting, keahlian dalam teknologi dan inovasi yang bermanfaat bagi UKM c. Dukungan pendanaan : ini sudah banyak dilakukan dimasa lalu, Lembaga guarantee Funds, Lembaga Modal Penyertaan, dsbnya. d. Business Premises and Infrastructure : Sudah pernah dicoba dan perlu dikembangkan lebih jauh, seperti incubator teknologi, Inkubator Usaha, Technological Parks dsbnya. e. Penting didukung upaya mengembangkan kerjasama yang terus menerus di dorong dalam kerjasama usaha, baik didalam negeri maupun di luar negeri. f. Memanfaatkan berbagai badan internasional (CIDA, JETRO, dsbnya) dan regional (APEC, AFTA dsbnya) sebagai sumber informasi, pertemuan ilmiah, dan menyebarkan komitmen bagi pemerintah maupun dunia usaha. Kesatuan sistem pengembangan baik ini dari pemerintah maupun dalam koordinasi dengan pihak non pemerintah, seperti Kadin dan Dekopin, perlu ditata dengan baik sehingga koordinasi dan focus pembinaan menjadi jelas. Networking dengan luar negeri, baik dengan kerjasama usaha maupun dengan badan pembinaan yang regional misalnya APEC center for SME Development atau dalam kerangka G-15 Indonesia menjadi koordinator untuk pengembangan Center for Development of SMEs (CD -SMEs). Pengembangan jaringan usaha atau business networks menjadi kunci penting dalam rangka 1. 2. 3. Economies of Scope,

Page

Generate Management Economies, dan

14

Economies of Scale,

4.

Peningkatan Bargaining Power dan membantu peningkatan akses pasar. Melalui pengembangan jaringan bisnis ini diharapkan akan terjadi

peningkatan daya saing UKM.

II. PENGEMBANGAN

LEMBAGA

KEUANGAN

SYARIAH

MENUJU

PEMBERDAYAAN EKONOMI RAKYAT DGN PENERAPAN E -BISNIS
1. Tinjauan Umum Pada dasarnya perbuatan muamalat yang ditujukan untuk kebaikan hubungan berekonomi sesama manusia harus mengandung ciri untuk kemaslahatan umum. Oleh karena itu seharusnya kita melihat kehadiran sistem syariah dalam transaksi antar individu dan lembaga harus kita tempatkan dalam kontek pasar, yaitu karena adanya kebutuhan dan ketersediaan serta dipilih atas dasar pertimbangan rasional dan moral untuk mencapai kehidupan yang lebih sejahtera lahir dan batin. Karena perekonomian syariah dilandasi atas prinsip kesempurnaan kehidupan diantara kebutuhan lahiriah dan rohaniah dalam bertransaksi sesama hamba Allah maupun lembaga yang mereka buat, maka kerelaan atau ridho menjadi fundamen dasar setiap transaksi dua pihak atau lebih. Perdebatan ekonomi syariah sering dipersempit dalam konteks pada bunga bank sebagai riba atau bukan, sementara dimensi lain selain riba kurang diberikan pembahasan secara seimbang. Selain riba terdapat dua aspek penting yakni unsur ada tidaknya judi atau maisir yang sangat berkaitan dengan aspek resiko dan ketidakpastian serta ada tidaknya unsur kecohan (tipuan) yang dikenal sebagai hal yang mengandung unsur gharar . Ketiga unsur yang menjadi dasar perbuatan transaksi atau baia

mempunyai arti yang penting untuk menilai subtansi suatu transaksi dapat digolongkan memenuhi syarat syariah atau tidak. Pengkajian ekonomi syariah secara umum masih didominasi oleh kupasan dari dimensi fiqih dan administrasi pembangunan bukan

Page

15

kupasan ilmu ekonomi dan nilai subtansi ajaran islam dalam menjelaskan perilaku individu muslim sebagai pelaku ekonomi. Padahal beberapa kajian empiris oleh para ahli ekonomi juga telah banyak menemukan adanya perbedaan perilaku masyarakat muslim yang tercermin dalam tingkah laku ekonominya (Metwali). Tantangan besar bagi para ekonom adalah terus mengkaji kedudukan moral ekonomi islam atau sistem ekonomi syariah dan bagaimana interaksi dengan sistem yang lain dalam dunia global. Apabila kita simak secara mendalam ajaran berekonomi dalam Alqur an dilandasi oleh suatu sikap bahwa tiada pemisahan antara ekonomi dan keberagamaan seseorang. Mencari nafkah adalah bagian dari ibadah dan tiada pemisahan antara agama dan kehidupan dunia. Dari titik tolak ini akan melahirkan dua konsekuensi yaitu : pertama, perlunya pembentukan sikap oleh seorang individu akan penguatan hidup dan pencarian kebaikan di dunia atau dalam hubungannya dengan bumi dan alam; kedua, soal pemilihan pribadi, sampai dimana batas dan tujuannya. Konsekuensi dasar pertama memerlukan pada sikap keharusan hidup bersahaja yang menjadi dasar hidup seorang muslim untuk menghindari sikap hidup yang boros dan bermewah-mewahan. Dengan demikian prinsip kemanfaatan didasarkan atas pemenuhan kesejahteraan lahiriyah dan rohaniah. Jika prinsip ekonomi syariah sebagai dasar muamalat, maka seharusnya kita jangan buru-buru terpaku pada institusi. Institusi dengan berbagai karakter dan prinsip yang mengawal prakteknya pada akhirnya akan memberikan pilihan kepada masyarakat selaku pengguna untuk memilihnya. Dalam jual beli seorang calon pembeli mempunyai kesempatan untuk melakukan khiyar atau memilih. Pilihan dalam hal jasa institusi sudah barang tentu selain pertimbangan rasional juga atas dasar kaidah-kaidah syariah yang bersumber dari Wahyu Illahi yang ditujukan bagi kebaikan umat manusia.

Page

16

2. Peran Strategis Kelembagaan Keuangan Syariah Dalam Pemberdayaan UKM (Usaha Kecil Menengah) Mengenai peran penting UKM dalam menyangga kehidupan ekonomi kita sudah tidak ada keraguan lagi, baik dilihat dari dukungan politik maupun reliatas kehidupan perekonomian kita karena unit-unit UKM-lah tempat mereka bekerja dan meningkatkan taraf kehidupan mereka. Namun patut disadari bahwa lebih dari 97% usaha kecil kita adalah usaha mikro yang omsetnya berada dibawah Rp. 50 juta pertahun dan sering terabaikan oleh pelayanan perbankan komersial biasa. UKM dalam dirinya adalah produsen bagi barang dan jasa tetapi juga pasar bagi produk-produk jasa untuk mendukung kegiatan usahanya. Oleh karena itu thema pengembangan lembaga keuangan syariah ini menjadi penting ketika kita menyadari keterkaitan pembiayaan dan pembangunan UKM. Di sisi lain dalam persefektif pengertian UKM yang dianut oleh UU 9/1995 juga termasuk sektor jasa keuangan yang dilaksanakan dengan mengambil kegiatan di sektor perbankan, perkreditan dan jasa keuangan lainnya. Dalam kaitan ini maka bertambah lagi dimensi yang harus kita lihat. Dalam persfektif hubungan ini, Perbankan dengan pengembangan usaha berskala kecil dan menengah. Demikian pula dalam kontek Badan Hukum Koperasi juga dapat menjalankan usaha pembiayaan dalam sistem syariah. Dalam kontek institusi, kita posisi penting perbankan dan LKM (Lembaga Keuangan Mikro) syariah dalam pengembangan UKM di Indonesia. Sebagaimana dimaklumi sektor usaha UKM pada umumnya berada di sektor tradisional dengan perkiraan resiko yag tidak lazim tersedia pada pengalaman perbankan konvensional. Sementara sistem bagi hasil justru menghindari prinsip mendapatkan untung atas kerjasama orang lain. Maka amatlah tepat jika format pengembangan lembaga keuangan dan Perbankan Syariah dapat diarahkan untuk mendukung pengembangan UKM. Dilihat dari

Page

terjaminya keamanan batin mereka. Hal yang terakhir ini sudah barang tentu

17

pelakunya sistem perbankan syariah memberikan keyakinan lain akan

memperkuat tingkat pengharapan dan keyakinan mereka akan keberhasilan usahanya. Ekonomi syariah sangat pas untuk bisnis yang mempunyai

ketidakpastian tinggi dan keterbatasan informasi pasar, apalagi apabila berhasil dibangun keterpaduan antara fungsi jaminan dan usaha yang memiliki resiko. Oleh karena itu berbagai dukungan untuk mendekatkan UKM dengan perbankan syariah adalah sangat penting dan salah satu strateginya adalah bagimana kita mampu menjalin keterpaduan sistem keuangan syariah. Hal inilah yang harus kita cari jawabnya. Keterpaduan sistem keuangan syariah menjadi unsur penting dalam menjadikan LKsyariah menjadi efektif, memiliki kemaslahatan tinggi terutama dalam kontek globalisasi dan otonomi daerah. Sebagaimana sistem konvensional dalam sistem keuangan syariah juga terdapat pelaku kecil dan menengah, termasuk perbankan. Dengan demikian kerjasama dan keterkaitan antara perbankan syariah skala besar dan bank syariah skala kecil dan menengah harus mendapatkan perhatian. Lebih jauh akan menjadi semakin produktif apabila peran lembaga keuangan Syariah Non-Bank juga mendapat perhatian yang sama. Dari berbagai data yang disajikan oleh BPS, sektor jasa keuangan, persewaan dan jasa perusahaan, adalah sektor yang paling produktif dibanding sektor lainnya, bahkan tidak ada perbedaan nilai tambah/tenaga kerja antara LK kecil dan besar. 3. Format Pengembangan LKM (Lembaga Keuangan Mikro) Syariah Dalam sejarah perkembangannya di Indonesia sudah dapat

mengembangkan berbagai macam LK-syariah yaitu bank syariah; LKM syariah, Gadai syariah, Asuransi syariah, dan Koperasi syariah. Dalam rumpun LKM-syariah yang non bank telah berkembang tiga model : BMT (Baitulmal Wa Tamwil) yang menyatukan Baitul Mal dan Baitul Tamwil; BTM (Baitul Tamwil) yang menyempurnakan Sponsored Financial Institution

Page

sudah mengambil bentuk Badan Hukum koperasi dan hanya sebagai kecil

18

dan sirhkah . Ketiga model ini ada telah berkembang dan kebanyakan

yang tidak terdaftar dalam format perijinan dan pendaftaran institusi keuangan di Indonesia. LK-syariah sekarang sudah menjadi nama dari institusi keuangan, sehingga secara legal sudah terbuka untuk dijalankan oleh setiap warga negara Indonesia, bahkan perusahaan asing. Jika syariah menjadi Brand dan orang yang percaya kepada Brand menjadikan konsumen fanatik, maka LK-syariah adalah lading investasi sektor keuangan yang menjanjikan. Maka sebentar lagi perdebatan format LKS berubah menjadi kancah perdebatan pasar biasa. Sangat boleh jadi akan muncul pertanyaan mengapa lembaga yang bukan berbasis islam juga menjual produk syariah ? Sehingga sebenarnya LK-syariah saja belum menyelesaikan persoalan membangun sistem ekonomi yang islami. Meskipun Fatwa MUI sudah dikeluarkan tugas pencerahan tentang kedudukan moral islam dalam berekonomi masih akan semakin diperlukan. Pertanyaan dasar apakah konsep bunga sebagai harga uang juga berlaku bagi nisbah bagi hasil dalam sistem syariah. Bagaimana jika nisbah bagi hasil secara mengejutkan berlipat dibanding bunga komensional ?. Apa masih memenuhi kaidah Baia yang dapat dicerna oleh akal sehat (tiada agama tanpa akal). Harus dipikirkan pula jika dalam perebutan pasar LKkonvensional dapat merubah persyaratan akad semakin dekat dengan moral islam. Sehingga unsur ridho menonjol dan prinsip tidak boleh mengambil keuntungan atas kerugian orang lain dikembangkan. Apakah dalam kedudukan seperti itu fatwa masih mempunyai kedudukan yang sama ? Inilah pekerjaan berat para ekonom untuk ikut menyumbangkan pikirannya agar tidak terjadi jalan buntu. Pada dasarnya ilmu ekonomi juga berkembang diluar batas neo classic yang relevan dengan prinsip-prinsip berekonomi secara islami. Mengenai kritik terhadap ekonomi neo classic di Indonesia sudah sering kita dengar1, namun penjelasan cara pandang dan

Page

terbatas.

19

pengembangan kerangka analisa baru yang dianggap sesuai juga masih

Format pengembangan LKM syariah ke depan harus bertumpu pada basis kewilayahan atau daerah otonom, karena tanpa itu tidak akan ada sumbangan yang besar dalam membangun keadilan melalui pencegahan pengurasan sumberdaya dari suatu tempat secara terpusat pada the

capitalist sector . Bentuk LKM menurut hemat penulis harus berjenjang, pada basis paling bawah kita butuh LKM-informal yang hak hidupnya dapat diatur oleh PERDA. Pada skala ekonomi kaum yang layak berusaha, baru membangun format koperasi dan pemusatan pada tingkat daerah otonom dalam bentuk bank khusus, sehingga secara hirarki dapat dilihat seperti bangunan pyramid. Pada skala yang lebih tinggi BPRS dan kaum pemilik modal dapat bersatu dalam bank umum syariah yang berfungsi sebagai APPEX Bank. Dukungan pengaturan kearah itu sudah sangat terbuka dan sebagian sedang dipersiapkan. Secara umum pada saat ini tidak ada halangan untuk mengembangkan LKM-syariah. Dan pilihan kelembagaan yang sesuai tergantung pada keputusan para pemodal dan prinsip akan

pengembangannya. 4. Kebijakan dan Program Pemberdayaan Koperasi dan UKM Visi kita ke depan dalam pemberdayaan UKM adalah terwujudnya UKM yang menjadi pemain utama arus perkonomian nasional yang mandiri dan berdaya saing dalam menghadapi persaingan global. Secara khusus peran pemerintah untuk mendorong tumbuh dan berkembangnya UKM yang paling mendasar adalah menyediakan kerangka regulasi yang menjamin lapangan permainan yang sama atau level playing field. Sehingga pengaturan harus menjamin persaingan yang sehat dan apa yang dapat dilakukan usaha lain juga terbuka bagi UKM. Dalam persfektif otonomi daerah terdapat masalah keterpaduan yang harus terus menerus dikembangkan. Pada akhirnya UKM sebagai pelaku

Page

di enam bidang. Koordinasi lintas sektor dan dengan daerah akan menjadi

20

bisnis akan berada dalam lingkup pembinaan di daerah, kecuali pengaturan

agenda penting untuk mewujudkan harmonisasi pengaturan dan prosedur perijinan pada berbagai tingkatan agar mampu mendorong pertumbuhan UKM. Bagaimana program pemberdayaan UKM dan koperasi dijabarkan dapat digambarkan dalam 7 (tujuh) butir berikut ini : a) Pengembangan Kebijakan Pemberdayaan KUKM Program ini dimaksudkan sebagai upaya untuk penciptaan iklim usaha yang kondusif bagi KUKM. Dalam kenyataannya persoalan iklim bagi KUKM seringkali sangat terkait atau tergantung dengan sektor lainnya. Oleh sebab itu perlu dukungan penciptaan iklim yang kondusif melalui dukungan kebijakan-kebijakan yang responsif terhadap persoalan dan kepentingan KUKM, sehingga KUKM dapat tumbuh dan berkembang baik dari sisi lembaga maupun usahanya. Sedangkan koordinasi diperlukan untuk mensinergikan dan memadukan berbagai kebijakan dan program agar berjalan padu dan berkelanjutan, bersama-sama dengan stake holders, dalam upaya untuk lebih memantapkan pencapaian hasil yang optimal dalam pemberdayaan KUKM. b) Revitalisasi Kelembagaan Koperasi Program ini dimaksudkan untuk menumbuhkan koperasi yang sesuai dengan jatidiri koperasi, dengan menerapkan nilai-nilai dan prinsip perkoperasian. Di dalam pengembangan koperasi juga didorong

berkembangnya koperasi yang dijalankan dengan sistem bagi hasil akan pola pembagian sistem syariah. Penyempurnaan UU yang ada dalam

perkiraannya juga sudah menampung hal itu. c) Peningkatan Produktivitas KUKM Program ini dimaksudkan untuk mendorong kegiatan produktif KUKM sehingga tumbuh dan berkembangnya wirausaha-wirausaha yang berkeunggulan kompetitif dan memiliki produk yang berdaya saing melalui pemanfaatan teknologi tepat guna, peningkatan mutu, dan lain -lain.
Page

21

d) Pengembangan Sentra/Klaster UKM dan Lembaga Keuangan Non Bank Bagi KUKM Program ini dimaksudkan untuk menjaga dinamika perkembangan sentra menjadi klaster bisnis UKM melalui perkuatan dukungan finansial dan non finansial. Diharapkan sentra-sentra yang ada selanjutnya dapat berkembang menjadi pusat-pusat pertumbuhan, dan menjadi penggerak atau lokomotif dalam pengembangan ekonomi lokal. Keberadaan BDS diharapkan dapat memberikan layanan kepada UKM secara lebih fokus, kolektif dan efisien, karena dengan sumberdaya yang terbatas mampu menjangkau kelompok UKM yang lebih luas. Pelayanan jasa BDS sesuai bidang yang dikuasai dengan pendekatan best practises, dan berorientasi pada pasar, cekatan (responsiveness) dan inovatif. Disamping dukungan BDS, maka penumbuhan sentra juga didukung dengan perkuatan finansial yaitu melalui penyediaan modal awal dan padanan bagi KSP/USP-Koperasi di sentra. e) Pemberdayaan dan Penataan Usaha Mikro/Sektor Informal Program ini dimaksudkan untuk memfasilitasi dan memperkuat keberadaan serta peran usaha mikro dan sektor informal terutama pedagang kaki lima (PKL) di perkotaan, perkuatan usaha mikro pada daerah pasca kerusuhan, bencana alam, dan kantong-kantong kemiskinan. Kegiatankegiatan yang akan dilaksanakan melalui program ini, antara lain dukungan iklim kepastian usaha dan perlindungan melalui penerbitan Perda, dukungan perkuatan permodalan melalui dana bergulir, sarana usaha, pelatihan, bimbingan manajemen, sosialisasi, dan monitoring dan evaluasi. f) Pengembangan Lembaga Diklat SDM KUKM Program ini bertujuan untuk mengintensifkan peranan lembagalembaga diklat bagi peningkatan kualitas SDM KUKM yang berada di masyarakat, di bidang peningkatan keterampilan, manajerial, perkoperasian dan kewirausahaan yang responsif terhadap tuntutan dunia usaha dan perubahan lingkungan strategis
Page

22

g) Penguatan Jaringan Pasar Produk KUKM Program ini dimaksudkan untuk memfasilitasi KUKM dalam memperluas akses dan pangsa pasar melalui pengembangan dan penguatan lembaga pemasaran KUKM, serta pengembangan jaringan usaha termasuk kemitraan, dengan memanfaatkan teknologi (teknologi informasi). Bagian dari kemitraan adalah bentuk-bentuk kerjasama yang inovatif, dengan prinsip yang saling menguntungkan antara KUKM dengan usaha besar. Termasuk dalam kegiatan ini adalah memperkuat jaringan warung masyarakat kedalam pola grosir, sehingga dapat memperkuat daya tawar dalam pengadaan produknya serta dapat diefektifkan sebagai outlet dan sekaligus inlet dari produk-produk KUKM. 5. Prinsip Dasar Operasional Bank Islam Sebagaimana diuraikan diatas prinsip-prinsip dasar sistem ekonomi Syariah akan menjadi dasar beroperasinya bank Islam (Islamic Banking)

yaitu yang paling menonjol adalah tidak mengenal konsep bunga uang dan yang tidak kalah pentingnya adalah untuk tujuan komersial Islam tidak mengenal peminjaman uang tetapi adalah kemitraan / kerjasama (mudharabah dan musyarakah) dengan prinsip bagi hasil, sedang peminjaman uang hanya dimungkinkan untuk tujuan sosial tanpa adanya imbalan apapun. Di dalam menjalankan operasinya fungsi bank Islam akan terdiri dari: a. Sebagai penerima amanah untuk melakukan investasi atas dana-dana yang dipercayakan oleh pemegang rekening investasi / deposan atas dasar prinsip bagi hasil sesuai dengan kebijakan investasi bank. b. Sebagai pengelola investasi atas dana yang dimiliki oleh pemilik dana / sahibul mal sesuai dengan arahan investasi yang dikehendaki oleh pemilik dana (dalam hal ini bank bertindak sebagai manajer investasi) c. Sebagai penyedia jasa lalu lintas pembayaran dan jasa-jasa lainnya sepanjang tidak bertentangan dengan prinsip syariah.

Page

23

d. Sebagai pengelola fungsi sosial seperti pengelolaan dana zakat dan penerimaan serta penyaluran dana kebajikan ( fungsi optional ) Dari fungsi tersebut maka produk bank Islam akan terdiri dari : 1) Prinsip mudharabah yaitu perjanjian antara dua pihak dimana pihak pertama sebagai pemilik dana / sahibul mal dan pihak kedua sebagai pengelola dana / mudharib untuk mengelola suatu kegiatan ekonomi dengan menyepakati nisbah bagi hasil atas keuntungan yang akan diperoleh sedangkan kerugian yang timbul adalah resiko pemilik dana sepanjang tidak terdapat bukti bahwa mudharib melakukan kecurangan atau tindakan yang tidak amanah (misconduct) Berdasarkan kewenangan yang diberikan kepada mudharib maka mudharabah dibedakan menjadi mudharabah mutlaqah dimana mudharib diberikan kewenangan sepenuhnya untuk menentukan pilihan investasi yang dikehendaki, sedangkanjenis yang lain adalah mudharabah muqayyaddah dimana arahan investasi ditentukan oleh pemilik dana sedangkan mudharib bertindak sebagai pelaksana/pengelola. 2) Prisip Musyarakah yaitu perjanjian antara pihak-pihak untuk

menyertakan modal dalam suatu kegiatan ekonomi dengan pembagian keuntungan atau kerugian sesuai nisbah yang disepakati 3) Musyarakah dapat bersifat tetap atau bersifat temporer dengan penurunan secara periodik atau sekaligus diakhir masa proyek. 4) Prinsip Wadiah adalah titipan dimana pihak pertama menitipkan dana atau benda kepada pihak kedua selaku penerima titipan dengan konsekuensi titipan tersebut sewaktu-waktu dapat diambil kembali, dimana penitip dapat dikenakan biaya penitipan. Berdasarkan

kewenangan yang diberikan maka wadiah dibedakan menjadi wadiah ya dhamanah yang berarti penerima titipan berhak mempergunakan dana/barang titipan untuk didayagunakan tanpa ada kewajiban

Page

tetap pada kesepakatan dapat diambil setiap saat diperlukan, sedang

24

penerima titipan untuk memberikan imbalan kepada penitip dengan

disisi lain wadiah amanah tidak memberikan kewenangan kepada penerima titipan untuk mendayagunakan barang/dana yang dititipkan. 5) Prinsip Jual Beli (Al Buyu') yaitu terdiri dari : a. Murabahah yaitu akad jual beli antara dua belah pihak dimana pembeli dan penjual menyepakati harga jual yang terdiri dari harga beli ditambah ongkos pembelian dan keuntungan bagi penjual. Murabahah dapat dilakukan secara tunai bisa juga secara bayar tangguh atau bayar dengan angsuran. b. Salam yaitu pembelian barang dengan pembayaran dimuka dan barang diserahkan kemudian c. Ishtisna yaitu pembelian barang melalui pesanan dan diperlukan proses untuk pembuatannya sesuai dengan pesanan pembeli dan pembayaran dilakukan dimuka sekaligus atau secara bertahap. 6) Jasa-Jasa terdiri dari : a. Ijarah yaitu kegiatan penyewaan suatu barang dengan imbalan pendapatan sewa, bila terdapat kesepakatan pengalihan pemilikan pada akhir masa sewa disebut Ijarah mumtahiya bi tamlik (sama dengan operating lease) b. Wakalah yaitu pihak pertama memberikan kuasa kepada pihak kedua (sebagai wakil) untuk urusan tertentu dimana pihak kedua mendapat imbalan berupa fee atau komisi. c. Kafalah yaitu pihak pertama bersedia menjadi penanggung atas kegiatan yang dilakukan oleh pihak kedua sepanjang sesuai dengan yang diperjanjikan dimana pihak pertama menerima imbalan berupa fee atau komisi (garansi). d. Sharf yaitu pertukaran /jual beli mata uang yang berbeda dengan penyerahan segera /spot berdasarkan kesepakatan harga sesuai dengan harga pasar pada saat pertukaran

Page

25

7) Prinsip Kebajikan yaitu penerimaan dan penyaluran dana kebajikan dalam bentuk zakat infaq shodaqah dan lainnya serta penyaluran alqardul hasan yaitu penyaluran dan dalam bentuk pinjaman untuk tujuan menolong golongan miskin dengan penggunaan produktif tanpa diminta imbalan kecuali pengembalian pokok hutang. 6. Perbankan Syariah (Islamic Banking) Indonesia Menabung di celengan sebenarnya bebas dari riba, tapi tidak ada jaminan keamanan, misalnya dicuri orang/maling, resiko kebakaran, atau bencana alam. Selain itu, bertahun-tahun dalam celengan tentu saja sangat bisa terkena risiko tidak laku lagi karena setiap negara niscaya mengganti edisi fisik mata uangnya secara priodik. Sebenarnya bahkan sebelum Bank Muamalat Indonesia lahir tahun 1992 yang beroperasi dengan prinsip syariah (meski pun kemungkinan karena situasi politik yang belum kondusif waktu itu membuatnya tidak pernah secara eksplisit memproklamirkan diri sebagai bank syariah), sesungguhnya sudah ada bank syariah di Aceh dan Jawa Barat yang telah lebih dulu lahir, meski pun baru tingkat BPR Syariah. Kebijakan moneter pemerintah tahun 1988 yang diberi nama Pakto88 (Paket Oktober 1988) memang telah memberi ruang bagi lahirnya perbankan syariah di Indonesia. Instrumen yang secara jelas mengaturnya memang baru lahir lebih dari 15 tahun kemudian, yakni Undang-Undang Nomor 21 Tahun 2008. Maka seiring dengan lahirnya undng-undang tersebut, berbagai bank syariah pun kini bermunculan. Produk kebutuhan perbankan yang selama ini kita kenal berbasis bunga pada bank konvensional seperti tabungan, deposito, giro, pinjaman dan jasa perbankan lainnya kini dapat dinikmati oleh umat Islam pada perbankan syariah dalam bentuk yang sama, namun dengan prinsip perbankan yang berbeda: syariah. Produk-produk tersebut antara lain

Page

26

adalah: 

SIMPANAN : A. Tabungan Syariah Undang-Undang Nomor 21 Tahun 2008 Pasal 1 angka 21 yang mengatur perbankan syariah memberikan rumusan pengertian

tabungan, yaitu: Tabungan adalah simpanan berdasarkan akad wadiah atau investasi dana berdasarkan akad mudharabah atau akad lain yang tidak bertentangan dengan prinsip syariahyang penarikannya hanya dapat dilakukan menurut syarat dan ketentuan tertentu yang disepakati, tetapi tidak dapat ditarik dengan cek, bilyet giro, dan/atau alat lainnya yang dipersamakan dengan itu . Sedangkan Dewan Syariah Nasional mengatur tabungan syariah dalam Fatwa Nomor 02/DSN-MUI/IV/2000, yaitu: Produk tabungan yang dibenarkan atau diperbolehkan secara syariah adalah tabungan yang berdasarkan prinsip mudharabah dan wadiah, sehingga kita mengenal tabungan mudharabah dan tabungan wadiah . Dengan demikian, praktis jenis-jenis tabungan pada perbankan syariah di Indonesia adalah : 1. Tabungan Mudharabah 2. Tabungan Wadiah Menurut ketentuan Pasal 1 angka 5 Peraturan Bank Indonesia Nomor 7/46/PBI/2005, yang dimaksud dengan Mudharabah adalah : Penanaman dana dari pemilik dana (shahibul maal) kepada pengelola dana (mudharib) untuk melakukan kegiatan usaha tertentu, dengan pembagian menggunakan metode bagi untung dan rugi (profit and loss sharing) atau metode bagi pendapatan (revenue sharing) antara kedua belah pihak berdasarkan nisbah yang telah disepakati

Page

27

sebelumnya .

Sedangkan wadiah menurut Penjelasan Pasal 3 Peraturan Bank Indonesia Nomor 9/19/PBI/2007 adalah transaksi penitipan dana atau

barang dari pemilik kepada penyimpan dana atau barang dengan kewajiban bagi pihak yang menyimpan untuk mengembalikan dana atau barang titipan sewaktu-waktu . B. Giro Syariah Giro yang dibenarkan secara syariah seperti diatur Dewan Syariah Nasional (DSN) dalam Fatwa Nomor 01/DSN-MUI/IV/2000 adalah giro yang berdasarkan prinsip mudharabah dan wadiah, sehingga jenis-jenis giro yang dikenal dalam perbankan syariah di Indonesia hanyalah giro mudharabah dan giro wadiah sebagaimana dijelaskan berikut ini. 1. Produk dan Akad Giro Wadiah. Giro wadiah adalah giro yang operasionalnya berdasarkan akad wadiah yang bersifat titipan. Pada Giro Wadiah, nasabah bertindak sebagai pihak yang menitipkan (muwaddi), sedangkan bank sebagai penerima titipan (mustauda). Menurut Pasal 1 angka 4 Peraturan Bank Indonesia Nomor 7/46/PBI/2005, yang dimaksud dengan Wadiah adalah Penitipan dana atau barang dari pemilik dana atau barang pada penyimpan dana atau barang dengan kewajiban pihak yang menerima titipan untuk mengembalikan dana atau barang titipan sewaktu-waktu . Juga disebutkan dalam Penjelasan Pasal 3 Peraturan Bank Indonesia Nomor 9/19/PBI/2007 bahwa Wadiah adalah transaksi

penitipan dana atau barang dari pemilik kepada penyimpan dana atau barang dengan kewajiban bagi pihak yang menyimpan untuk

mengembalikan dana atau barang titipan sewaktu-waktu . Diatur pula dalam Fatwa Dewan Syariah Nasional Nomor 01/DSNMUI/IV/2000, yakni:

Page

b.

Titipan bisa diambil kapan saja (on call)

28

a.

Bersifat Titipan.

c.

Tidak ada imbalan yang disyaratkan, kecuali dalam bentuk pemberian ( athaya) yang bersifat sukarela dari pihak bank.

2. Produk dan Akad Giro Mudharabah. Giro mudharabah adalah giro yang operasionalnya berdasarkan akad mudharabah dan bersifat investasi. Menurut ketentuan Pasal 1 angka 5 Peraturan Bank Indonesia Nomor 7/46/PBI/2005, yang dimaksud dengan Mudharabah adalah Penanaman dana dari pemilik dana (shahibul maal) kepada pengelola dana (mudharib) untuk melakukan kegiatan usaha tertentu, dengan pembagian menggunakan metode bagi untuk dan rugi (profit and loss sharing) atau metode bagi pendapatan (revenue sharing) antara kedua belah pihak berdasarkan nisbah yang telah disepakati sebelumnya . Hal yang juga disebutkan dalam Penjelasan atas Pasal 19 ayat (1) huruf b Undang-Undang Nomor 21 Tahun 2008 bahwa: Yang dimaksud dengan akad mudharabah dalam menghimpun dana adalah akad kerja sama antara pihak pertama (malik shahibul maal atau nasabah) sebagai pemilik dana dan pihak kedua (amil mudharib atau bank syariah) yang bertindak sebagai pengelola dana dengan membagi keuntungan usaha sesuai dengan kesepakatan yang

dituangkan dalam akad . Dengan demikian, bank syariah dapat melakukan pengelolaan dana yang memungkinkan tercapainya suatu laba tertentu dengan tingkat keleluasaan yang tinggi selama tidak memasuki wilayah yang dilarang oleh syariah (dalam koridor halal). Ketentuan umum giro mudharabah juga diatur dalam Fatwa Dewan Syariah Nasional Nomor 01/DSN-MUI/IV/2000. C. Deposito Syariah Deposito syariah dirumuskan dalam ketentuan Pasal 1 angka 22

Page

29

Undang-Undang Nomor 21 Tahun 2008, yaitu:

Deposito adalah investasi dana berdasarkan akad mudharabah atau akad lain yang tidak bertentangan dengan prinsip syariah yang penarikannya hanya dapat dilakukan pada waktu tertentu berdasarkan akad antara nasabah penyimpan dan bank syariah dan/atau UUS. Catatan: UUS = Unit Usaha Syariah Sementara itu, pengertian investasi dirumuskan dalam ketentuan Pasal 1 angka 24 Undang-Undang Nomor 21 Tahun 2008, yaitu: Investasi adalah dana yang dipercayakan oleh nasabah kepada bank syariah dan/atau UUS berdasarkan akad mudharabah atau akad lain yang tidak bertentangan dengan prinsip syariah dalam bentuk deposito, tabungan, atau bentuk lainnya yang dipersamakan dengan itu. Jenis-jenis deposito syariah menurut hukum Islam ada dua, yaitu: a. Mudharabah Muthlaqah (Unrestricted Investment). b. Mudharabah Muqayyadah (Restricted Investment). Dewan Syariah Nasional juga menetapkan ketentuan umum tentang deposito berdasarkan akad mudharabah dalam Fatwa Nomor 03/DSN-MUI/IV/2000. Sejalan dengan fatwa DSN di atas, Bank Indonesia juga mengatur dalam Pasal 5 Peraturan Bank Indonesia Nomor 7/46/PBI/2005, yang diatur kembali dalam Surat Edaran Bank Indonesia Nomor 10/14/-DPbS tanggal 17 Maret 2008. 7. Perkembangan Islamic Bank (IB) di Indonesia Perkembangan perbankan syariah di Indonesia telah menjadi tolak ukur keberhasilan eksistensi ekonomi syariah. Bank muamalat sebagai bank syariah pertama dan menjadi pioneer bagi bank syariah lainnya telah lebih dahulu menerapkan system ini ditengah menjamurnya bank-bank

konvensional. Krisis moneter yang terjadi pada tahun 1998 telah

Page

karena kegagalan system bunganya.

30

menenggelamkan bank-bank konvensional dan banyak yang dilikuidasi

Sementara perbankan yang menerapkan system syariah dapat tetap eksis dan mampu bertahan. Tidak hanya itu, di tengah-tengah krisis keuangan global yang melanda dunia pada penghujung akhir tahun 2008, lembaga keuangan syariah kembali membuktikan daya tahannya dari terpaan krisis. Lembaga-lembaga keuangan syariah tetap stabil dan memberikan keuntungan, kenyamanan serta keamanan bagi para pemegang sahamnya, pemegang surat berharga, peminjam dan para penyimpan dana di bank-bank syariah. Hal ini dapat dibuktikan dari keberhasilan bank Muamalat melewati krisis yang terjadi pada tahun 1998 dengan menunjukkan kinerja yang semakin meningkat dan tidak menerima sepeser pun bantuan dari pemerintah dan pada krisis keuangan tahun 2008, bank Muamalat bahkan mampu memperoleh laba Rp. 300 miliar lebih. Perbankan syariah sebenarnya dapat menggunakan momentum ini untuk menunjukkan bahwa perbankan syariah benar-benar tahan dan kebal krisis dan mampu tumbuh dengan signifikan. Oleh karena itu perlu langkah-langkah strategis untuk merealisasikannya. Langkah strategis pengembangan perbankan syariah yang telah di upayakan adalah pemberian izin kepada bank umum konvensional untuk membuka kantor cabang Unit Usaha Syariah (UUS) atau konversi sebuah bank konvensional menjadi bank syariah. Langkah strategis ini merupakan respon dan inisiatif dari perubahan Undang Undang perbankan no. 10

tahun 1998. Undang-undang pengganti UU no.7 tahun 1992 tersebut mengatur dengan jelas landasan hukum dan jenis-jenis usaha yang dapat dioperasikan dan diimplementasikan oleh bank syariah. Indika si Tabel 1.1 Perkembangan Bank Syariah Indonesia 1998 2003 2004 2005 2006 2007 2008 KP/UU S 1 76 KP/UU S 2 8 84 KP/UU S 3 15 88 KP/UU S 3 19 92 KP/UU S 3 20 105 KP/UU S 3 25 114 KP/UU S 5 27 131 2009 KP/UU S 6 25 139

BUS UUS BPRS

Page

31

Sumber : BI, Statistik Perbankan Syariah, 2009. Keterangan :  BUS = Bank Umum Syariah  UUS = Unit Usaha Syariah  BPRS = Bank Perkreditan Rakyat Syariah  KP/UUS = Kantor Pusat/Unit Usaha Syariah 8. Produk dan Akad Penyaluran Dana Perbankan Syariah Bila dalam perbankan konvensional dikenal istilah kredit yang berbasis pada bunga (interest based), maka dalam perbankan syariah dikenal dengan istilah pembiayaan (financing) yang berbasis pada keuntungan riil yang dikehendaki (margin) atau pun bagi hasil (profit sharing). Sesuai dengan penggunaannya, produk pembiayaan syariah dapat digolongkan menjadi : 1. Pembiayaan syariah berdasarkan prinsip jual-beli. 2. Pembiayaan syariah berdasarkan prinsip bagi hasil. 3. Pembiayaan syariah berdasarkan prinsip sewa-menyewa. 4. Pembiayaan syariah berdasarkan prinsip pinjam-meminjam. 5. Pembiayaan syariah berdasarkan prinsip multijasa. Pembiayaan dalam perbankan syariah dirumuskan dalam ketentuan Pasal 1 angka 25 Undang-Undang Nomor 21 Tahun 2008. Tentu saja Dewan Syariah Nasional telah mengeluarkan beberapa fatwa berkenaan dengan produk dan akad dalam kegiatan penyaluran dana perbankan syariah antara lain mengatur tentang murabahah, jual-beli salam, jual-beli istishna, mudharabah (qiradh), musyarakah, ijarah, Al-Qardh, istishna parallel, al-Muntahiyah bil al-Tamlik dan multijasa. Selain itu, perbankan syariah juga tunduk pada beberapa ketentuan Bank Indonesia yang mengatur tentang produk dan akad penyaluran dana kepada masyarakat.

Page

32

9. Produk dan Akad Bank Syariah Lainnya Di samping produk tabungan, giro, deposito dan pembiayaan, perbankan syariah juga melayani masyarakat dengan berbagai produk lainnya, antara lain : 1. Transfer dan Inkaso 2. Letter of Credit (L/C) Impor Syariah. 3. Syariah Charge Card. 4. Jasa Safe Deposit Box 10. Contoh Bank Syariah di Indonesia Saat ini bank-bank syariah di Indonesia yang sudah siap melayani kebutuhan perbankan masyarakat antara lain : a. Bank Muamalat Indonesia (BMI) Nama situs : www.muamalatbank.com Bank ini dianggap sebagai bank syariah pertama berskala nasional yang berdiri tahun 1992 meski pun pada saat pendiriannya tidak secara eksplisit menamakan diri sebagai bank syariah. Saat ini produk-produk perbankan BMI sudah berkembang lebih dulu dibanding para pesaingnya yang lahir belakangan, antara lain: Produk Tabungan : Tabungan Muamalat, Tabungan Ummat, Tabungan Haji Arafah, Tabungan Haji Arafah Plus, Tabungan Shar -E dan Tabunganku. Produk Giro : Giro Wadiah, Giro Wadiah Personal dan Giro Wadiah Korporasi. Produk Deposito : Deposito Mudharabah, Deposito Fulinves Pembiayaan : Jual-Beli, Bagi Hasil dan Sewa. Layanan Lainnya : Transfer, Kas Kilat, Letter of Credit (L/C), Bank Garansi, Layanan 24 Jam (SMS Banking, SalaMuamalat, MuamalatMobile, Internet Banking).

Page

33

b. Bank BRI Syariah Nama situs : www.brisyariah.co.id Produk Penghimpunan Dana terdiri atas : Tabungan BRI Syariah, Giro Ib, Deposito Ib, Tabungan Haji Ib, Tabungan Perencanaan Ib. Produk Penyaluran Dana terdiri atas : Pembiayaan Komersil, Pembiayaan Ritel, Mikro Ib, Pembiayaan Linkage/Kemitraan, Pembiayaan Konsumer. Produk Akses terdiri atas : Remittance BRISyariah, Mini Banking, Mobile Banking/SMS Banking, InternetBanking, ATM/EDC/Telephone Banking. c. Bank Syariah Mandiri Nama situs : www.syariahmandiri.co.id Pendanaan Tabungan : Tabungan Berencana BSM, Tabungan Simpatik BSM, Tabungan BSM, Tabungan BSM Dollar, Tabungan Mabrur BSM, Tabungan Kurban BSM, Tabungan BSM Investa Cendekia. Deposito : Deposito BSM, Deposito BSM Valas. Giro : Giro BSM EURO, Giro BSM, Giro BSM Valas, Giro BSM Singapore Dollar. Obligasi : Obligasi BSM Pembiayaan : BSM Customer Network Financing, Pembiayaan Resi Gudang, PKPA, Pembiayaan Edukasi BSM, BSM Implan, Pembiayaan Dana Berputar, Pembiayaan Griya BSM, Pembiayaan Griya BSM Optima, Pembiayaan Griya BSM Bersubsidi, Pembiayaan Umroh, Pembiayaan GriyaBSM DP 0%, Gadai Emas Syariah Mandiri, Pembiayaan Mudharabah BSM, Pembiayaan Musyarakah BSM, Pembiayaan Murabahah BSM, Pembiayaan Talangan Haji BSM, Pembiayaan Dengan Agunan Investasi Terikat BSM, Pembiayaan Kepada Pensiunan, Pembiayaan Peralatan Kedokteran, Pembiayaan Istishna BSM, Qardh, Ijarah Muntahiyah Bitamliik, Hawalah, Salam. Jasa : BSM Card, Sentra Bayar BSM, BSM SMS Banking, BSM Mobile Banking GPRS, BSM Net Banking, Pembayaran melalui menu

Pemindahbukuan di ATM (PPBA), Jual Beli Valas BSM, Bank Garansi BSM,

Page

34

BSM Electronic Payroll, SKBDN BSM (Surat Kredit Berdokumen Dalam Negeri|), BSM Letter of Credit, BSM SUHC (Saudi Umrah & Haj Card). Jasa Operasional : Transfer Lintas Negara BSM Western Union, Kliring BSM, Inkaso BSM, BSM Intercity Clearing, BSM RTGS (Real Time Gross Settlement), Transfer Dalam Kota (LLG), Transfer Valas BSM, Paja k Online BSM, Pajak Impor t BSM, Referensi Bank BSM, BSM Standing Order. 11. Manfaat Corporate Blog untuk Bank-Bank Syariah di Indonesia Dalam satu dekade terakhir (1999 2009), persaingan antara pelaku

perbankan syariah di Indonesia semakin ketat. Setiap bank atau unit usaha syariah dituntut agar mampu memaksimalkan sumber dayanya untuk menggaet nasabah baru sekaligus mempertahankan yang lama. Salah satu sumber daya yang bisa digunakan untuk mencapai tujuan tersebut adalah blog. Sebagai media online, blog memiliki potensi untuk menunjang proses kerja yang ada di dalam bank syariah, di samping mampu mendekatkan bank itu sendiri kepada khalayak ramai. Dalam satu dekade terakhir (1999 2009), dunia perbankan syariah

Indonesia mengalami perkembangan yang signifikan dari segi jumlah bank. Pada tahun 90-an (1992 1998), Indonesia sejatinya hanya memiliki Bank

Muamalat sebagai satu-satunya bank yang berbasis ekonomi Islam. Tapi sampai Maret 2007, sudah terdapat 24 unit bank syariah. Tiga diantaranya adalah bank umum syariah, sementara lebihnya adalah unit usaha syariah (Octaviana, 2007). Sebagai konsekuensi, bank-bank syariah di Indonesia kini mau tidak mau harus bersaing selain menjaga kemitraan satu sama lain untuk

memenangkan hati pelanggan. Di samping juga masih harus bersaing dengan bank-bank konvensional tentunya. 12. Kompetisi di Dunia Maya Selaku bank yang memiliki brand dan positioning yang unik di Indonesia, bank-bank syariah saat ini menghadapi tantangan yang semakin besar dalam menggaet sekaligus mempertahankan nasabah. Para pesaing

Page

35

bank-bank syariah kini bukan hanya 125 bank konvensional ( VivaNews, 2008), tapi juga puluhan bank syariah lain yang memiliki prinsip bisnis yang sama persis. Ranah online adalah salah satu medan tempur bagi bank-bank di Indonesia untuk menarik minat calon pelanggan, tidak terkecuali bagi bankbank syariah. Sebagai sokoguru lembaga ekonomi ala Rasulullah, bank syariah dituntut untuk selalu siap melakukan penyesuaian (adaptive) dengan irama perkembangan teknologi informasi dan komunikasi. Karena jika tidak, maka pelanggan bisa saja akan beralih ke bank lain. Maklum, para nasabah saat ini sudah memiliki banyak alternatif pilihan, tidak suma satu. Menurut Longman Dictionary of Contemporary English, istilah blog didefinisikan sebagai sebuah halaman atau situs web yang berisi informasi mengenai sesuatu hal atau topik. Di dalamnya, informasi yang paling baru diletakkan di urutan paling atas. Ciri khas inilah yang membuat blog seringkali disebut oleh banyak kalangan sebagai jurnal digital. Karena selain bersifat runut, kandungan blog umumnya bersifat sangat personal sesuai dengan karakter pemiliknya. 13. Corporate Blogging Corporate Blogging adalah istilah untuk menggambarkan perusahaan atau lembaga yang membuat atau mendukung sebuah blog yang digunakan untuk mencapai tujuan perusahaan (White, 2007). Sampai saat ini, Bank of America (Future Banking) dan World Bank (PSD Blog) adalah dua contoh bank yang sudah memiliki corporate blog. 14. Fungsi dan Manfaat Blog untuk Bank-Bank Syariah di Indonesia Meskipun terlahir sebagai sebuah tool yang pemanfaatannya hanya sebatas untuk kepentingan pribadi, blog ternyata juga bisa m emberikan manfaat yang luas ketika digunakan di level yang lebih tinggi, misalnya dalam perusahaan. Blog sebagai salah satu media online bisa memberikan 8

Page

mengimplementasikannya dengan benar (Wacka, 2000).

36

(delapan)

manfaat

bagi

perusahaan-perusahaan

yang

mampu

Lalu manfaat apa saja yang sebenarnya bisa diambil oleh bank-bank syariah di Indonesia dari penggunaan blog. Berikut manfaat-manfaat yang dimaksud beserta uraian yang menjelaskan kaitannya dengan bank syariah di Indonesia. 1) Become the Expert Perusahaan-perusahaan yang telah mengimplementasikan blog di dalam lingkungan kerjanya memiliki kesempatan untuk dikenal sebagai pakar di bidang yang digelutinya. Hal ini bisa terjadi karena satu

perusahaan pada umumnya memiliki karyawan-karyawan yang mempunyai kompetensi unik di bidang-bidang tertentu; manajemen, sumber daya manusia, administrasi, teknologi informasi, dan sebagainya. Dalam kasus bank syariah, bank yang berani membuat corporate blog memiliki peluang besar untuk menjadi pakar atau sumber ilmu di internet untuk urusan ekonomi syariah. Hal ini sangat mungkin terjadi karena bankbank syariah di Indonesia umumnya memiliki staf-staf yang tentunya sudah dibekali dengan pengetahuan, baik teori maupun praktik langsung, tentang implementasi konsep ekonomi Islam dalam lingkungan kerjanya. Contoh nyata untuk manfaat pertama ini bisa dilihat dari suksesnya blog-blog yang ditulis oleh para karyawan Google di Official Google Blog. Umumnya para pengunjung blog-blog tersebut sangat antusias

menyambangi blog milik Google karena mereka tahu bahwa karyawankaryawan Google adalah orang-orang pandai yang berada di balik gemilangnya unjuk kerja produk-produk Google seperti mesin pencari, GMail, Picasa, Android OS, dan sebagainya. Dengan mengunjungi blog milik Google, para pengunjung

berkesempatan untuk melihat perkembangan terbaru dari proyek-proyek yang sedang dikembangkan oleh karyawan yang pada saat bersamaan juga merupakan blogger resmi Google.

Page

37

2) Customer Relationships Keberadaan fitur untuk meninggalkan komentar (leave a comment) yang ada pada semua aplikasi blog dapat memberikan ruang bagi para pelanggan untuk curhat secara langsung kepada perusahaan. Melalui fitur yang sama, para pelanggan bisa meminta saran, tips, sampai mengadukan keluhan seputar produk atau layanan yang diberikan oleh perusahaan kepada mereka. Dalam kasus bank syariah, para karyawan yang aktif dalam aktivitas blogging ini bisa memanfaatkan fitur post dan komentar untuk memberikan saran atau informasi tambahan seputar produk atau layanan dari institusinya kepada para nasabah dengan bahasa yang lebih akrab ketimbang bahasa pamflet, iklan, atau brosur. Harapan dari aktivitas seperti ini adalah terjalinnya hubungan yang lebih akrab antara nasabah dengan bank syariah melalui karyawankaryawannya. Jika sukses, bukan tidak mungkin nasabah yang terpuaskan tersebut akan menjadi juru kampanye bagi produk atau layanan bank syariah tersebut untuk komunitas atau lingkungan di mana ia tinggal (word of mouth campaign). Lagipula, para nasabah atau calon nasabah tampaknya akan lebih tertarik untuk bermitra atau bekerja sama dengan bank syariah yang mau mendengar mereka (baca: melalui blog) ketimbang yang tidak. 3) Media Relations Keberadaan blog di internet yang bisa diakses selama 24 jam sehari dan 7 hari dalam seminggu membuat perusahaan memiliki saluran (channel) non-stop yang dapat menghubungkannya dengan semua kalangan, termasuk media massa. Di era informasi seperti saat ini, adanya saluran resmi dari perusahaan bisa menjadi alat untuk melakukan konfirmasi atas isu seputar

Page

demikian, para pencari berita memiliki kesempatan untuk memvalidasi

38

perusahaan yang beredar di luar, entah itu benar maupun salah. Dengan

kebenaran atas suatu masalah yang menyangkut citra atau nama baik perusahaan. Bank-bank syariah di Indonesia juga dapat melakukan hal yang serupa dengan cerita di atas melalui blognya. Sebagai contoh, blog milik bank syariah bisa digunakan sebagai sumber resmi (official source) untuk memberitahukan para nasabah tentang besaran nisbah pada produk tabungan atau gironya. Jadi, alih-alih bingung mencarinya di tempat lain seperti media massa cetak atau elektronik yang terkadang belum tentu benar, nasabah bisa menemukan jawaban validnya dengan mengunjungi blog resmi milik bank yang bersangkutan. Pun demikian untuk para wartawan yang menginginkan informasi yang sama. 4) Internal Collaboration Sebagai media online yang bisa menampung beragam media (teks, gambar, video, dan animasi), blog juga memiliki peluang untuk digunakan sebagai ruang kerja (workspace) bagi para karyawan. Sebagai contoh, karyawan suatu bank syariah di Jakarta bisa meletakkan draft laporan keuangan atau konsep strategi pemasarannya di blog secara private agar bisa diakses oleh rekan-rekan kerjanya di kota-kota lain. Istilah private di sini berarti tidak semua pengunjung blog bisa mengakses berkas yang sudah diterbitkan, hanya karyawan-karyawan tertentu yang sudah diberi akses saja yang bisa melihat sekaligus mengedit berkas yang dimaksud. Cara ini tentunya lebih praktis dan efektif ketimbang harus mengirimkan berkas yang sama ke semua orang yang hendak di tuju. 5) Knowledge Management Karena tersimpan dalam bentuk yang sudah teratur, semua informasi yang sudah dimuat ke dalam blog tentunya akan menjadi kumpulan ilmu dan pengetahuan yang setiap saat bisa dimanfaatkan oleh siapa saja, baik itu oleh pegawai maupun oleh pelanggan perusahaan tersebut.

Page

penggunanya untuk melakukan aktivitas-aktivitas standar yang lazim terjadi

39

Menariknya, semua aplikasi blog (blogging software) memungkinkan

pada prosedur pengarsipan seperti pencarian, pengubahan, bahkan penghapusan data (khusus untuk pengguna yang memiliki izin). Perbedaan sistem pengarsipan digital dengan sistem manual adalah bahwa pengarsipan digital umumnya membutuhkan ruangan yang relatif lebih kecil untuk penyimpanan data dalam jumlah yang sama. Selain bebas rayap tentunya. Selaku penggerak perekonomian ala Rasulullah SAW di nusantara, bank-bank syariah Indonesia tampaknya memiliki kewajiban yang tidak tertulis untuk menjadi sumber ilmu dan pengetahuan untuk segala sesuatu yang terkait dengan ekonomi syariah. Jika ini berhasil dilakukan dengan bantuan blog, maka tidak hanya nasabah yang akan terbantu, tapi juga kalangan lain seperti calon nasabah baru, nasabah bank syariah lainnya (misalnya ketika mencari perbandingan produk-produk perbankan syariah), akademisi, pengambil kebijakan, dan sebagainya. 6) Recruitment Beberapa manfaat blog di atas seperti Become the Expert, Customer Relationships, dan Knowledge Management secara tidak langsung

sebenarnya bisa membantu pembentukan citra positif perusahaan. Sebagai hasilnya, ada kemungkinan besar bahwa akan ada banyak calon-calon pegawai potensial akan datang melamar setelah membaca dan menerima manfaat-manfaat yang sudah mereka ambil dari blog milik perusahaan. Hal yang sama juga bisa terjadi dengan bank-bank syariah yang mendukung corporate blog ini. Para pelamar potensial yang dimaksud di sini adalah para akademisi yang memang membutuhkan data dan informasi dari apa yang sudah ditulis dan diterbitkan oleh blogger ke dalam blog milik institusi masing-masing. Melihat perkembangan jumlah bank syariah yang akan terus berkembang, status sebagai gudang data ekonomi syariah tentunya bisa menaikkan citra bank syariah yang memiliki blog di atas bankbank lain yang tidak memiliki blog, khususnya di mata para pencari kerja.

Page

40

7) Test Ideas Or Products Sifat atau karakter awal blog yang memang cenderung informal bisa menjadi sarana bagi perusahaan untuk meminta feedback atau saran yang jujur dan tulus dari para pengunjung blognya mengenai suatu produk atau layanan, baik itu untuk yang sudah diluncurkan maupun yang masih dalam pengembangan. Dalam implementasinya, suatu bank syariah bisa mengambil manfaat ini tidak hanya untuk meminta feedback atas suatu produk, tapi juga hal-hal lain yang bersifat remeh tapi penting seperti pemilihan parfum ruangan, desain interior, rancangan sistem antri, sampai ke tata cara parkir untuk salah satu cabangnya. 8) Rank High In Search Engines Berdasarkan data dari situs Alexa, situs-situs yang sering menjadi pemuncak dalam daftar situs terpopuler dari suatu negara adalah situs yang menyediakan layanan pencarian atau search engine. Hal ini menunjukkan bahwa salah satu hal yang paling sering dilakukan oleh orang-orang yang berselancar di internet adalah mencari sesuatu yang diinginkannya menggunakan mesin pencari. Entah itu menggunakan Google, Yahoo, Live, Bing , atau penyedia jasa pencarian lainnya. Kenyataan ini bisa menjadi berita yang bagus untuk perusahaanperusahaan yang sudah mengimplementasikan blog dalam lingkungan kerjanya. Dengan banyaknya orang yang melakukan pencarian melalui mesin pencari, berarti akan besar pula kemungkinan blog milik perusahaan tersebut untuk ditemukan oleh para pencari informasi. Dus, dapat menaikkan citra perusahaan dan kemungkinan terjadinya transaksi. Dalam konteks bank syariah, poin terakhir ini bisa menjadi sangat penting. Blog yang tulisan-tulisan (post) atau kandungannya (content) banyak diindeks oleh mesin pencari akan memiliki citra yang lebih kuat dan

Page

pengguna mesin pencari yang menggunakan kata kunci-kata kunci prestisius

41

lebih baik di mata para pengguna mesin pencari. Khususnya bagi para

seperti

ekonomi syariah ,

ekonomi islam ,

konsep ekonomi islam ,

mudharabah , dan sebagainya. Jika dirawat dan terus diperbarui, maka corporate blog milik bank-bank syariah di Indonesia memiliki kemungkinan yang sangat bagus untuk mendominasi kata kunci-kata kunci di atas. Selain itu, hal ini juga dapat meningkatkan traffic atau jumlah kunjungan bagi blog tersebut, yang biasanya akan diikuti pula oleh kenaikan pada jumlah transaksi maupun nasabah.

Page

42

III. PERKEMBANGAN E-BISNIS DI MASA DEPAN DALAM SEKTOR BISNIS JASA
Seperti industri perhotelan yang memanfaatkan peralatan elektronik dalam melakukan bisnis, dari mengelola gudang hingga distribusi barang dan perhotelan secara online, sikap dan tradisi menjadi berubah dalam sektor ini secara cepat seperti perkembangan teknologi yang mendukungnya. Konteks untuk E-bisnis dalam sektor perhotelan merupakan sesuatu yang menantang tapi masa depan yang cerah dalam hal perkembangan keuntungan dan produktifitas pekerja mulai mempunyai dampak. E bisnis dalam bidang perhotelan tidak hanya akan mampu bertahan tapi bertujuan untuk dapat memainkan peranan yang lebih signifikan dalam praktek bisnis perhotelan di masa depan. E-bisnis dalam bidang perhotelan di masa depan merupakan rangkaian studi global yang diselesaikan dibawah bendera hospitality 2000. Peranan dari studi ini adalah untuk mendefiniskan isu isu penting yang akan dihadapi oleh industri perhotelan dalam milenium baru.

1. Metodologi Penelitian Dan Profile Responden
Mengikuti metode penelitian yang digunakan dalam studi sebelumnya, penelitian ini dilakukan dengan menyelesaikan review dari sejumlah literatur. Kuisioner detail dikirimkan ke ekskutif industri perhotelan diseluruh dunia. Dari responden yang melaporkan lokasi mereka, 24 persen berlokasi di eropa,timur tengah,india da afrika, n 66 persen di amerika dan 7 persen di asia pasific, total 465 kuisioner yang ditabulasi. Ukuran organisasi responden dalam term total pemasukannya : 14 persen responden mempunyai pemasukan total melebihi 1 milliar dollar, smentara 6 persen perusahaan dengan pemasukan antara 500 juta hingga 1 milliar dollar, 13 persen perusahaan antara 100 juta hingga 500 juta dollar, 11 persen antara 50 juta hingga 100 juta dollar dan 48 persen kurang dari 50 juta dollar.

2. Konteks untuk E-bisnis
Apabila kita membahas masa depan E-bisnis dalam hal ini yang berhubungan dengan industri perhotelan, kita harus mempertimbangkan trend besar yang penting yang memberikan beberapa sumbangsih terhadap revolusi E-bisnis yang muncul disekitar kita melalui bisnis dan dunia sosial.

berhadapan dengan realitas dari dunia yang berjejaring yang meningkat. Menjadi hal yang biasa bahwa sesuatu yang disebut revolusi informasi menjadi dewasa. Ketika

Page

43

Dalam beberapa tahun terakhir, saat kita memasuki milenium baru dan

seseorang menjelajahi internet, terdapat kuantitas yang besar dari informasi dan dalam banyak instan, dan hal ini tersedia ke semua pendatang secara ketat, setidaknya tidak tipikal dari end user. Informasi menjadi ada dimana mana dan menjadi komoditas. Ini tidak mempunyai nilai banyak dalam banyak instan dan dirinya. Tetapi informasi menjadi bernilai ketika dikonversi menjadi pengetahuan. Oleh karena itu logis untuk mengatakan bahwa kita memasuki era pengetahuan. Era atau periode dimana organisasi yang sukses adalah organisasi yang mampu memperoleh informasi, membuat pengetahuan dan mendistribusikannya ke konstituen dengan tujuan untuk membuat perbedaan. Salah satu dari penggerak utama dari migrasi cepat kedalam ekonomi pengetahuan merupakan penyebaran besar dari teknol gi yang sifatnya murah, o

reliable dan transformational dalam rangkaian suatu hal yang disebut teknologi flash point, pada masa lalu, hal ini tidak sering tampak, tetapi setelah 10 tahun terakhir, mereka muncul dengan frekuensi yang lebih sering, sebagai konsekuensinya, terlihat juga peningkatan pesat dalam keuntungan yang behubungan dengan teknologi yang meningkatkan produktifitas dan berkontribusi dalam ukuran yang besar ke taraf yang lebih tinggi dari perkembangan ekonomi yang berkelanjutan. Kecepatan pe rubahan secara jelas terakselerasi dan pemimpin bisnis terus berjuang dengan tantangan akan ketidapastian. Untuk industri perhotelan, implikasi perubahan, secara khusus mereka yang behubungan dengan inovasi teknologi adalah signifikan, kelimpahan bandwitd h, sebagai contoh, akan menjadi pengendali penting dari perubahan di masa yang akan datang seperti kita beralih dari teknologi komnukasi pita sempit ke teknologi pita lebar, dalam beberapa tahun, kita dapat mengharapkan flashpoint yang lain dengan maraknya penggunaaan video conference berkualitas tinggi dan hubunan implikasinya untk bisnis dan konvensi turisme. Teknologi juga menekan inefisiensi dalam distribusi dengan dampak yang signifikan dalam industri travel dan model bisnis tradisionalnya. Ini juga m ereduksi biaya transaksi(interaksi antara orang dan fungsi) dalam perusahaan. Dimasa depan, perusahaan yang sukses akan cenderung untuk melakukan spesialisasi dalam satu atau dua tetapi tidak ketiganya dari elemen kunci semua bisnis: manajemen relasi pelanggan, infrastructure(layanan back office) dan inovasi product.

Page

44

Sementara itu, E-bisnis menghapus penghalang tradisional akan bisnis yaitu waktu,jarak dan lokasi fisik, dan ketika industri perhotelan secara historik merupakan pengadaptasi yang lambat dari inovasi-inovasi yang baru, yang kita lihat sekarang aktif merangkul 2 area kunci dalam dunia ebisnis yaitu e distribution dan e -procurement. Dalam era pengetahuan yang terus berkembang. Orang bertanya tanya apakah secara geografis dan budaya beragam industri perhotelan dengan semua orangnya akan siap dengan yang disebut revoulsi berikutnya dari dunia internet dan pembelajaran jarak jauh

3. The Industryís "E-Profile"
Pada awal survei kami, kami sangat tertarik dalam menentukan kesiapan industri perhotelan untuk terlibat dalam e-bisnis. Karena itu, kami mengajukan serangkaian pertanyaan tentang konektivitas dari karyawan untuk intranet perusahaan, extranet dan ke internet itu sendiri. Seperti di semua industri, tingkat konektivitas di sektor perhotelan bervariasi secara signifikan dari satu jenis unit usaha yang lain dan dari satu fungsi pekerjaan yang lain. Misalnya, orang akan berharap untuk melihat ekstensif menggunakan komputer di depan-dan-kantor lokasi kembali properti hotel, serta di seluruh kantor perusahaan. Orang akan berharap kurang penyebaran di tempat lain di sebuah hotel yang khas Hasil survei menunjukkan bahwa 41 persen karyawan bekerja dengan komputer desktop dari satu atau jenis lain dan bahwa rasio ini harus tumbuh menjadi 51 persen selama tiga tahun mendatang, naik 25 persen. regional, responden dari Amerika laporan penggunaan saat ini lebih tinggi (47 persen secara rata-rata sederhana), dibandingkan dengan 37 persen di Asia / Pasifik dan 39 persen di EMEIA. Pertumbuhan selama beberapa tahun ke depan, namun harus membawa kesenjangan tersebut lebih dekat bersama-sama (54, 49 dan 49 persen). Survei tersebut juga menunjukkan bahwa karyawan lebih sedikit (28 persen) memiliki akses ke Internet, meskipun sekali lagi, ini diharapkan tumbuh selama beberapa tahun berikutnya dengan 50 persen. Dalam waktu tiga tahun, kami memperkirakan bahwa sekitar empat dari 10 karyawan akan memiliki akses ke Internet. Sekali lagi, ada kesenjangan antar daerah dengan akses saat ini dilaporkan di Amerika pada 38 persen, tapi hanya di EMEIA 21 persen dan hanya 16 persen di Asia / Pasifik. Perbedaan Namun, diharapkan untuk mempersempit selama beberapa tahun ke depan (49, 37 dan 30 persen).

Page

45

Me organisasi dike ompokkan berdasarkan ukuran sesuai dengan pendapatan mereka, dengan organisasiorganisasi besar dide inisikan sebagai mereka yang memiliki pendapatan lebih dari $ 100 juta dan organisasi kecil menjadi orang-orang dengan pendapatan kurang dari $ 100 juta. On this basis, 51 persen dari organisasi n 1 Not ll o niz tions h perhotelan yang kecil menunjukkan mereka Ch t 1 B s ua o anisasi memili i memiliki intranet mereka sendiri, nt n ts id dibandingkan dengan 78 persen di organisasi int anet besar. Dan dalam hal siapa yang menggunakan intranet seperti itu, 69 persen dari manajemen senior, hampir dua-pertiga dari tingkat manajemen menengah dan sekitar sepertiga staf. Selama tiga tahun ke depan, walaupun demikian, rasio penggunaan diharapkan tumbuh ke 77 persen untuk manajemen senior, 75 persen untuk mid-manajemen dan 44 persen untuk staf. Seperti bisa diduga, intranet jenis digunakan di industri perhotelan bervariasi. Mereka yang menyediakan konektivitas dalam hotel yang dilaporkan oleh 59 persen responden, intranet yang menyediakan konektivitas antara hotel yang dilaporkan oleh 44 persen dan mereka intranet yang menyediakan konektivitas antara hotel dan kantor perusahaan yang digunakan oleh 73 persen. Penggunaan intranet didominasi oleh e-mail (86 persen); diikuti oleh distribusi informasi perusahaan umum seperti siaran pers dan newsletter (83 persen), perubahan kebijakan (70 persen), produk baru dan layanan Bagan 2 Tidak semua o ganisasi memiliki informasi (69 persen) , pasar informasi (60 kegunaan untuk int anet persen), kinerja perusahaan (57 persen) dan karyawan listing (52 persen). Sekurangnya penggunaan dari intranet untuk fungsi-fungsi HR online (42 persen), pelatihan (37 persen), dan tim kamar (35 persen).
P 

 ¨

¨

©  ¨  ¨©  ©  ¨ © ¨  ¨ ¨  ©¨

§

¥

©

¦

©

¤£¡ ¢¢ ¡  

Untuk organisasi-organisasi tanpa intranet (34 persen), tepat di bawah empat di 10 berencana untuk menginstal dalam satu satu tahun, dan dekat dengan 33 persen akan melakukannya selama bertahun-tahun berikut , baik tidak memiliki rencana saat ini untuk intranet atau tidak yakin dari mereka.

Selain intranet, organisasi perhotelan beberapa (sekitar sepertiga) memiliki e tranet yang menghubungkan organisasi mereka kepada bisnis lain, seperti pemasok atau pelanggan. Diduga, rasio cenderung lebih tinggi dalam organisasi yang lebih besar (42 persen) dibandingkan dengan yang lebih kecil (26 persen). Sekali lagi, beberapa organisasi yang saat ini belum memiliki sebuah e tranet merencanakan untuk menginstal lebih dari satu tahun berikutnya, (12 persen) atau selama tahun -tahun berikutnya dua (24 persen). Walaupun secara umum tingkat tinggi mengherankan konektivitas dalam industri ini, tetapi, hanya 58 persen dari pelaporan organisasi memiliki strategi ebisnis formal. organisasi yang lebih besar Diagram 3. Tidak semua organisasi memiliki laporan kejadian yang lebih tinggi (69 kegunaan untuk intranet persen) dibandingkan yang lebih kecil (51 persen), menunjukkan bahwa industri perlu melakukan lebih dari hanya akan terhubung jika ingin membuat kemajuan kuat di dunia ebisnis (lihat Bagan 3 pada halaman 28). Perusahaan harus memiliki strategi untuk e-bisnis di tempat sebelum mereka menganggap orang-orang, proses dan teknologi isu-isu terkait. Secara geografis, Asia / Pasifik melaporkan insiden yang lebih tinggi dari perencanaan (74 persen) dibandingkan EMEIA (66 persen) dan Amerika (55 persen) menyarankan bahwa mungkin ada hubungan terbalik antara perencanaan dan adopsi. Pada tingkat

P  

organisasi, franchisor dan rantai hotel global tingkat tertinggi laporan perencanaan (91 dan 75 persen), sementara rantai regional dan perusahaan manajemen independen kurang terlibat dalam proses perencanaan (66 dan 58 persen). Bagan 4 dan. Penjualan Pemasaran Dalam meninjau integrasi saat operasi sehari-hari memimpin dalam e-bisnis integrasi hari menjadi todayís e-bisnis lingkungan, organisasi ini perhotelan hanya melaporkan integrasi seperti moderat, menunjukkan banyak perubahan ada di depan. Dengan fungsi, penjualan dan pemasaran memimpin dalam hal tingkat integrasi, diikuti oleh distribusi, perekrutan dan pengadaan (lihat Grafik 4). Lebih besar organisasi perhotelan laporan integrasi lebih dalam bidang pemasaran dan distribusi, tetapi ukuran tampaknya kurang peduli ketika datang ke pengadaan, penjuala n dan perekrutan.

Dalam melihat organisasi perhotelan virtual di masa depan, ada beberapa Chart 5. Web memungkinkan penjualan dan fungsi yang memiliki potensi untuk "Web-pemberdayaan" menggunakan pemasaran di masa depan intranet, e tranet atau internet itu sendiri. Disajikan dengan berbagai bidang fungsional, yang paling signifikan Web-pemberdayaan diproyeksikan terjadi pada penjualan dan pemasaran (virtual properti wisata, sales force otomatisasi, sejarah tamu dan program loyalitas), datawarehousing, pemesanan, manajemen produksi, pengadaan dan sistem informasi eksekutif . Lebih moderat Web-pemberdayaan yang diantisipasi untuk sistem manajemen properti dan manajemen proyek, meskipun kedua daerah ini jelas merupakan kesempatan penting (lihat Bagan 5).
P  

!

Keterlibatan responden melaporkan hanya moderat dalam bisnis-untuk konsumen seperti kegiatan-produk perdagangan dan perhotelan melalui Web (misalnya, memungkinkan pemesanan pada situs Web mereka). Kegiatan ini diikuti oleh keterlibatan yang lebih moderat dalam-to-business commerce bisnis (bekerja Chart 6 akti itas. E-Business dengan pemasok) dan akhirnya konsumen -todipro eksikan untuk hampir dua kali business (seperti bekerja dengan konsorsium lipat selama tiga tahun ke depan. membeli dan koleksi layanan permintaan). Tetapi masing-masing daerah ini diproyeksikan akan tumbuh dalam hal signifikansi mereka 44-52 persen selama beberapa tahun ke depan (lihat Bagan 6). Diduga, organisasi yang lebih besar memproyeksikan tingkat keterlibatan yang lebih tinggi daripada yang lebih kecil.

Pesan ini tampaknya menjadi jelas industri ini harus alamat IT-nya kekurangan dalam dan komprehensif secara proaktif jika ingin mendapatkan keuntungan dari revolusi terus dalam e-bisnis. Dan seperti halnya, akan perlu menemukan cara yang lebih baik untuk mengukur kinerja dan membenarkan investasi di kawasan ini penting.

4. E-Distribution
Dengan tingginya biaya iklan dan merek perkembangan internet, banyak on line perusahaan sedang mencari akses ke pelanggan melalui portal pengaturan yang disebut-jadi dengan gateway didirikan seperti AOL, Yahoo, Amazon dan sejenisnya. Survei kami menunjukkan bahwa sepertiga dari responden melaporkan baik saat ini dan direncanakan hubungan dengan jenis portal ini, dengan organisasi yang lebih besar lebih terlibat (37 persen) dibandingkan yang lebih kecil (32 persen).
P

$

"

#

Untuk organisasi industri perhotelan banyak, banyak hambatan menghalangi kemajuan dalam penerapan model bisnis berbasis-web. Pos daftar adalah teknologi solusi khusus eksklusif ditemukan di industri perhotelan. hambatan penting lainnya untuk mengubah arsitektur TI ditutup, kurangnya standar teknologi, keterbatasan keterampilan teknologi internal dalam organisasi perhotelan, kasus tidak jelas bisnis atau "analisa laba atas investasi" yang terkait dengan investasi IT dan rendahnya tingkat adopsi pelanggan dari Web.

Apakah hubungan ini efektif? Kedua organisasi besar dan kecil laporan efektifitas yang lebih tinggi rata-rata rating dari sedikit. Demikian pula, responden memberikan nilai rata-rata untuk industri perhotelan disebut-portal sehingga dalam menyediakan konten khusus industri dan sumber daya. Tampaknya industri portal baik dan lebih besar konsumen berorientasi sepupu mereka harus bekerja lebih keras untuk mendapatkan kesetiaan dan dukungan industri perhotelan target mereka. Untuk portal industri perhotelan, responden survei dinilai b eberapa sumber pendapatan dalam hal peluang pendapatan mereka sebagai pengendali. daftar tersebut adalah iklan dan pengadaan. Ini diikuti dengan komisi dan langganan, dengan rata -rata di bawah ini terlihat kesempatan untuk didorong melelang penjual dan lisensi perangkat lunak. Meskipun, menonjol yang dianggap berasal dari kesempatan iklan oleh responden survei, perhotelan perusahaan portal tetap perlu khawatir tentang klik melalui penurunan harga secara umum dalam Web dan memastikan bahwa model bisnis mereka terstruktur tepat. Karena banyak konten pada situs Web perhotelan perjalanan dan cenderung berkisar dari dangkal ke ekspansif, responden diminta untuk menilai sendiri kehadiran situs Web mereka terhadap berbagai atribut. Hampir pandangan obyektif, tetap i tanggapan ilustrasi bagaimana industri saat ini menilai usaha sendiri di Internet. Secara garis besar nilai yang kuat yang diberikan kepada atribut seperti informasi, kenyamanan, pilihan dan Chart 7 . The Industry rates its presen e Chart 7 layanan, sedangkan nilai rata-rata keberadaan. Industry yang tingkat disediakan atas kepercayaan / keamanan dan kustomisasi. Akhirnya, skor sedikit lemah dikutip untuk tabungan, masyarakat dan hiburan (lihat Diagram 7). Kedua atribut terakhir akan menjadi faktor penting dalam mencapai keberhasilan jangka panjang di Internet. Orang tentu ingin memiliki rasa masyarakat meskipun dari semacam virtual seperti yang mereka lakukan ketika mereka pergi ke pasar fisik mereka untuk membeli produk dan perhotelan. Mereka perlu dihibur. Perusahaan yang menguasai faktor-faktor dan meningkatkan
P

%

peringkat yang dijelaskan di atas akan berhasil sementara mereka yang terus mengabaikan mereka lebih mungkin untuk gagal. Sementara pemesanan online merupakan porsi peningkatan total volume

ditetapkan untuk menangani transaksi tersebut. Dari organisasi merespons, hanya 64 persen melaporkan bahwa mereka mendukung situs Web pengolahan pemesanan, meskipun rasio ini meningkat menjadi 78 persen dalam organisasi-organisasi besar dan hanya 55 persen yang lebih kecil. Menurut jenis organisasi, rantai global laporan tingkat tertinggi "pemberdayaan pemesanan situs Web" (92 persen), diikuti oleh franchisor (91 persen), rantai daerah (81 persen) dan hotel individu (64 persen). Untuk 31 persen yang melaporkan situs tanpa kemampuan seperti pemesanan, Namun, rencana 45 persen untuk memungkinkan mereka situs dalam program tahun mendatang. Dalam hal volume pemesanan diambil alih industri perhotelan situs Web, adalah pertumbuhan yang diantisipasi selama beberapa tahun ke depan yang paling mencolok. Responden melaporkan bahwa mereka saat ini 4,9 persen rasio berbasis Internet pemesanan harus lebih dari tiga untuk 15,4 persen selama tiga tahun ke depan. Dan sementara rasio lancar terhadap total lebih rendah dari perkiraan industri sebelumnya pemesanan Internet (niscaya didorong oleh profil bervariasi sampel), tingkat pertumbuhan yang diproyeksikan saat ini jauh lebih besar dari perkiraan sebelumnya. Situs Web perusahaan bersaing untuk perhatian dengan array berbasis-internet perusahaan perjalanan, semuanya bersaing untuk perhatian di salah satu Internet s B to-C pasar terpanas untuk sektor perjalanan. 12$ miliar pasar berkembang dengan cepat dan bangun meninggalkan banyak perusahaan perhotelan dengan tantangan dari cara terbaik untuk menjaga. Seperti revolusi internet memegang, sejumlah perjalanan bisnis murni berbasis-Internet muncul, dan beberapa (seperti Expedia dan Travelocity) mendapatkan traksi dan daya tahan yang didukung oleh investasi besar. Orang lain telah sejak datang dan pergi. Namun, dampaknya terhadap bidang-bidang penting bagi perusahaan perhotelan cenderung bervariasi. Responden menunjukkan bahwa dampak telah sedikit positif berkaitan dengan strategi Internet, kepuasan pelanggan dan posisi kompetitif,

Page

51

&

pemesanan dalam industri ini, tidak semua situs Web perhotelan organizations

&

agak netral dalam hal biaya distribusi mereka, sementara sedikit negatif yang berkaitan dengan perjalanan hubungan keagenan dan harga. Salah satu atraksi utama distribusi online untuk perusahaan perhotelan adalah kesempatan untuk mengurangi tingginya biaya distribusi bahwa perusahaan tersebut memiliki historis yang dihadapi. Antara komisi agen perjalanan, biaya GDS, switching costs dan biaya sistem pemesanan pusat, keramahan para eksekutif perusahaan telah mengeluh selama bertahun-tahun tentang berat biaya distribusi multi-faceted sistem mereka.Responden percaya, bagaimanapun, bahwa internet akhirnya akan

memungkinkan biaya tinggi yang terkait dengan distribusi yang akan berbalik. Dua puluh tujuh persen biaya mereka percaya akan turun hingga 10 persen, dengan 23 persen menunjukkan penurunan ini dapat berkisar 11 persen. Di mana pun terjadi -20 penurunan, untuk usaha perhotelan yang paling menggunakan distribusi online untuk produk dan layanan, satu hal yang jelas mereka dapat mengharapkan beberapa

tabungan yang signifikan selama beberapa tahun mendatang.

5. E-Pro urement
Sebagai eksekutif industri perhotelan merenungkan manfaat potensial dari sistem e-procurement, mereka memiliki berbagai pandangan tentang apa jenis produk dan perhotelan yang mereka bisa membeli secara online. Meskipun tampak ragu -ragu tentang e-commerce, pengeluaran yang signifikan dan jelas diatur untuk tumbuh cukup tinggi selama tahun depan. 8. Membeli produk secara Dari jumlah pengeluaran pada online produk komoditas standar, sekitar 18 persen saat ini dibeli secara online, dengan rasio ini diharapkan tumbuh hingga 29 persen di tahun berikutnya. Demikian pula, produk yang memiliki spesifikasi dan orangorang yang khusus di alam, sekitar 14 persen saat ini dibeli secara online, dengan rasio ini ditetapkan untuk tumbuh sekitar 21 persen di tahun berikutnya. Dan sementara item lebih mahal ditemukan di sebuah perabot, perlengkapan dan peralatan anggaran tidak biasanya
P

'

dibeli secara online (saat ini hanya 11 persen), rasio ini disetel ke hampir dua kali lipat pada tahun berikutnya menjadi 21 persen (lihat Grafik 8). Adapun nilai manfaat umum yang terkait dengan e-procurement, responden umumnya antusias. Mereka melihat manfaat yang kuat dalam kesempatan untuk meningkatkan harga, lebih baik sumber dan perbaikan proses.Lebih sedikit yang diminati dengan manfaat yang terkait dengan persediaan berkurang dan penghapusan limbah.

6. Manajemen Pengetahuan
Di masa depan, manajemen pengetahuan oleh perusahaan perhotelan niscaya akan memberikan kontribusi untuk keuntungan kompetitif. Manajemen Pengetahuan adalah disiplin yang dapat dibawa ke berbagai organisasi, tidak hanya dalam bisnis, tetapi semua sektor masyarakat. Dan di usia di mana informasi di mana-mana, manajemen pengetahuan dengan cara terstruktur yang menambahkan nilai perusahaan jelas merupakan daerah yang perhatian waran. Namun, untuk sebuah organisasi perhotelan untuk pengetahuan panen, mengasimilasi dan memanfaatkan dengan cara yang membuat organisasi yang kompeten lebih pesaing bukanlah tugas yang mudah.Hal ini dapat mahal sebagai organisasi-organisasi Diagram 9. Tidak banyak perencanaan yang memiliki saham dalam pengetahuan strategis untuk "berbagi pengetahuan" bisa membuktikan. Tetapi dengan munculnya lingkungan jaringan yang menggunakan internet dan intranet perusahaan dan ekstranet, bersama dengan aliansi strategis, fungsi outsourcing

Page

53

dan operasi nasional dan internasional desentralisasi, sulit untuk berdebat pentingnya manajemen pengetahuan untuk sukses. Dalam keadaan yang sederhana, salah satu tujuan utama manajemen pengetahuan untuk kebanyakan perusahaan adalah untuk mendistribusikan pengetahuan bagi mereka yang paling membutuhkan dan dapat menggunakannya untuk kepentingan utama perusahaan. Survei responden menyarankan, bagaimanapun, bahwa di industri perhotelan setidaknya, tidak ada banyak perencanaan di arena ini. sepertiga dari responden melaporkan bahwa mereka hanya memiliki rencana strategis untuk berbagi pengetahuan, meskipun rasio lebih tinggi dalam organisasi yang lebih besar (43 persen) dibandingkan dengan yang lebih kecil (27 persen, lihat Tabel 9).

7. In estasi di E-Commerce
Dalam penelitian sebelumnya kami pada belanja teknologi industri perhotelan ó "Restoran 2000 Teknologi, diterbitkan pada tahun 1999 kami memperkirakan bahwa organisasi perhotelan berencana untuk menghabiskan sekitar empat persen dari pendapatan mereka selama bertahun-tahun berikut tiga (yaitu melalui 2001). Hal ini akan telah kira-kira sepertiga peningkatan belanja TI satu di total lebih dari pola mereka untuk tahun sebelumnya tiga. Dalam survei terkini tentang eDiagram 10. Yang berhubungan dengan pengeluaranbisnis perhotelan, perhotelan Internet sebagai bagian dari belanja TI) tumbuh cepat porsi total belanja TI khusus didedikasikan untuk proyek Internet diperkirakan berdasarkan rata-rata tertimbang sebesar 15 persen saat ini dengan peningkatan menjadi 25 persen diharapkan pada tahun depan (lihat Bagan 10) . Ini meningkat dua-tiga yang signifikan dalam
P

)

(

0

rasio sumber daya TI yang didedikasikan untuk perdagangan elektronik adalah kesaksian jelas dampak besar daerah ini akan terjadi pada industri tersebut selama beberapa tahun mendatang dan seterusnya.

Page

55

IV. PENUTUP 1. Kesimpulan a. Perlunya fokus dan prioritas di dalam pemberdayaan ekonomi rakyat karena adanya keterbatasan sumberdaya. b. Masalah kompetensi juga perlu menjadi perhatian, terutama

peningkatan kualitas SDM dan akses perdagangan luar negeri (ekspor). c. Masalah iklim berusaha yang kondusif dan infrastruktur untuk pengembangan UKM masih perlu ditata kembali, terlebih lagi menghadapi era otonomisasi yang mengindikasikan justru akan menghambat tumbuhnya UKM. d. Guna meningkatkan daya saing UKM, pengembangan business networks akan sangat penting terutama melalui e-business networks. e. Pengembangan model ekonomi islami harus menjadi agenda pengkajian yang terus menerus oleh ekonom dan ulama untuk menemukan prinsipprinsip berekonomi yang baik demi kebaikan hidup umat manusia. Pengembangan LKsyariah penting, tetapi belum menjadi jaminan untuk mewujudkan sistem perekonomian yang islami. Sistem LKM-syariah terpadu yang berbasis daerah otonom akan menjamin kinerja yang efektif dan adil bagi pemberdayaan ekonomi rakyat. f. Blog sebagai salah satu produk dari dunia teknologi informasi dan komunikasi memiliki potensi yang sangat bagus untuk menunjang bisnis suatu perusahaan, termasuk bagi bank-bank syariah di Indonesia. Beberapa manfaat yang bisa diambil oleh bank-bank syariah di Indonesia dari penggunaan blog dalam perusahaannya antara lain; pencitraan sebagai perusahaan pakar (Become the Expert), media pelayanan konsumen secara personal (Customer Relationships), penghubung ke media massa (Media Relations), data kolaborasi dan internal (Internal

Collaboration),

pengelolaan

informasi

(Knowledge

Page

56

Management), perekrutan (Recruitment), uji ide dan produk (Test ideas

or products), dan posisi puncak di mesin pencari (Rank high in Search Engines). g. Sementara e-commerce tampaknya menjadi topik yang sering terjadi di ruang rapat banyak perusahaan, survei kami menunjukkan bahwa meskipun tidak menerima beberapa perhatian dalam suite eksekutif industri perhotelan, itu jelas tidak sebanyak yang diharapkan. Sekali lagi, kami melihat ini sebagai gejala yang industry s lambat dan diukur pendekatan TI dan inovasi secara umum. h. Peluang Ebisnis, meskipun dalam perhotelan mungkin sedikit lambat untuk diadopsi, internet tentunya memiliki dampak signifikan pada pelanggan dan segmen pasar industry s klasik perjalanan bisnis, pasar pariwisata konferensi dan rekreasi, terutama yang berhubungan dengan distribusi. Telekomunikasi juga sedang merevolusi, dan broadband menjadi lebih mana-mana, kita dapat mengharapkan untuk melihat potensi dampak negatif pada tingkat pertumbuhan baik dalam pertemuan dan pasar bisnis, khususnya sebagai telekonferensi terus meningkatkan kualitas dan menjadi tersedia di bawah biaya lebih daripada adalah hari ini. i. Yang menarik, responden tampaknya tidak terlalu khawatir dengan dampak di salah satu segmen bisnis atau konferensi. Hal ini mungkin karena mereka telah menjadi agak sinis terhadap janji-janji samar-samar dan video teleconferencing di masa lalu, yang sebagian besar telah gagal untuk memberikan , paling tidak dalam hal kualitas dan biaya. Kami memperkirakan, Namun, bahwa kali ini mereka mungkin terkejut dengan dampak yang berkembang di tiga tahun berikutnya. j. Survei kami menegaskan arti penting pertumbuhan e-bisnis dan dampaknya terhadap industri perhotelan dan menunjukkan bahwa perencanaan yang lebih perlu dilakukan di arena ini.Industri eksekutif
1 1

Page

dan dampaknya terhadap sejumlah-kritis daerah misi yang akan

57

jelas perlu khawatir dengan peran berkembang e-bisnis di perhotelan

mendorong kesuksesan di masa depan. Ini termasuk dan inovatif pendekatan baru untuk manajemen hubungan pelanggan, mengubah saluran distribusi dan model bisnis berkembang ditetapkan dalam konteks Web-enabled jaringan. Untuk organisasi-organisasi berfokus pada tren ini, ada tantangan dan peluang besar yang terbentang di depan.Bagi mereka yang tahan terhadap perubahan dan terikat pada paradigma bisnis perhotelan tradisional, ancaman bisa menjadi signifikan. 2. Saran Pengembangan model ekonomi islami harus menjadi agenda pengkajian yang terus menerus oleh ekonom dan ulama untuk menemukan prinsip-prinsip berekonomi yang baik demi kebaikan hidup umat manusia. Pengembangan LKsyariah penting, tetapi belum menjadi jaminan untuk mewujudkan sistem perekonomian yang islami. Sistem LKM-syariah terpadu yang berbasis daerah otonom akan menjamin kinerja yang efektif dan adil bagi pemberdayaan ekonomi rakyat. Dengan adanya perkembangan e-business para pihak yang terkait perlu meningkatkan daya saing UKM dan Perbankan Syariah di mana dalam pengembangan berinteraksi antara pelanggan dan media akan sangat penting terutama melalui e-business networks.

Page

58

V. DAFTAR PUSTAKA Abdul hakim, ahmad muhammad al-assal dan fathi ahmad. 1999. Sistem, prinsip dan tujuan ekonomi Syariah (terj). Cv pustaka setia. Bandung. Al-fanjari, mahmud syauqi. (1985) ekonomi Syariah masa kini (terj). Husaini. Bandung. An Nabahan, M. Faruq. 2000. Sistem ekonomi Syariah (terj). UII press. Jogjakarta. An-Nabhani, Taqiyuddin. 1995. Membangun sistem ekonomi alternatif; perspektif Syariah (terj). Risalah gusti. Surabaya. At-Thariqi, Abdullah Abdul Husain. 2004. Ekonomi Syariah; prinsip, dasar, dan tujuan (terj). Magistra insania press. Jogjakarta. Awan Santoso. 2004. Relevansi platform ekonomi pancasila menuju penguatan peran ekonomi rakyat. [artikel - ekonomi rakyat dan reformasi kebijakan maret 2004]. www.jurnal ekonomi rakyat,com http://www.smecda.com/deputi7/file_makalah/Baitullmal_Muhammadiyah.pdf Mustafa Edwin Dkk (2006), Pengenalan Eksklusif ekonomi Syariah, kencana perdana media group, Jakarta, h. 17. Nur Kholis, kompilasi makalah untuk mata kuliah Pemikiran dan Sistem Ekonomi Syariah FIAI UII Jogjakarta

Page

59

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful