KATA PENGANTAR Kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara di Indonesia mengalami perkembangan dan perubahan secara terus menerus

sebagai akumulasi respon terhadap permasalahan-permasalahan yang terjadi selama ini serta pengaruh perubahan global, perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi serta seni dan budaya termasuk juga ilmu kesehatan dan olahraga. Hal ini menuntut perlunya perbaikan sistem pendidikan nasional termasuk dalam ilmu kesehatan dan olahraga. Pendidikan Jasmani dan (Pembelajaran) Olahraga (Penjas-Or) adalah : - Bagian dr kurikulum standar Lembaga Pendidikan Dasar dan Menengah. - Pendidikan Jasmani: pendidikan dengan media kegiatan Jasmani - Hanya Penjas-Or yang dapat menyentuh secara massif ketiga aspek sehatnya WHO ? Sangat penting bagi pembinaan anak. - (Pembelajaran) Olahraga = pelatihan Jasmani - Pendidikan Jasmani dan Olahraga (Penjas-Or) intra kurikuler = Pendidikan dan Pelatihan Jasmani menuju sejahtera paripurna (Jasmani, Rohani dan Sosial) = peningkatan mutu sumber daya manusia (Siswa) masa kini dan masa depan. Oleh karena sebab itu kegiatan olahraga sangat diperlukan dalam kehiduan sehari-hari, karena dengan kehidupan yang sangat penuh dengan penyakit dan kurangnya rasa bertanggung jawab orang yang telah melakukannya. Adalah suatu malapetaka bagi tumbuh sehat dan berkembang seorang anak bangsa. Untuk meghindari dari hal yang tidak kita inginkan tentang anak bangsa yang harus menjadi penerus bangsa maka kita harus bisa meningkatkan dengan baik perkembangan anak-anak tersebut.

1

DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR........................................................................................................ i DAFTAR ISI...................................................................................................................... ii 1. 1 KONSEP DASAR DALAM OLAHRAGA…………………………................... 1

2. 1 TUJUAN PENDIDIKAN JASMANI………………............................................ 2 3. 1 4. 1 DASAR-DASAR FILOSOFIS ILMU OLAHRAGA........................................... 6 SARANA DAN PRASARANA PENDIDIKAN JASMANI............................... 14 5. 1 RUANG LINGKUP…………………………………………………………...…16

KESIMPULAN..…………………………………………………………………………

2

Pengkondisian jasmani atau olahraga dapat diklasifikasikan dalam berbagai macam cara.1 memberikan komponen pengkondisian program jasmani. Pergerakan otot-otot ini menghasilkan stabilitas pada joint (aksi pergerakan otot).1. Program pengkondisian merupakan suatu program yang dilaksanakan pada masa persiapan umum dan khusus yang tujuannya selain untuk membentuk fisik dasar. pengertian masing-masing dan penerapan-penerapan komponen guna pencegahan cedera. menguasai tipe otot dari semua atlet yang dilatihnya. daya tahan. metode melatih yang tepat sesuai dengan tujuan pelatihan. Secara spesifik. juga untuk mengatasi cedera pada saat berlatih ataupun dalam masa pelatihan. Program pengkondisian meliputi kekuatan. Program pengkondisian menuntut pelatih harus memahami perubahan biokimia dan mikroskopok akibat dari program pengkondisian serta sistem energi yang tejadi pada waktu program pengkondisian dilakukan. dipengaruhi oleh posisi asli dan tata letak otot-otot. Hubungan otot-otot ini dengan joint dan sudut tarik dari otot pada tulang diwaktu-waktu tertentu melalui jangkauan pergerakan. Sebuah contoh pada aksi pengstabilan pada otot-otot di penghubung adalah Glenohumeral joint yang mana terdiri atas kepala artikulasi humerous dengan glenoid 3 . Tabel 1. misalnya jika sebuah otot pada aslinya berdekatan dengan joint dan pemasukkannya pada jarak jangkauan dari penghubung. Cedera. serta prinsip-prinsip umum dalam program pengkondisian tersebut dengan maksud agar dalam proses melatih. sama halnya pencegahan. pencapaian prestasi dapat terpenuhi. 1 KONSEP DASAR DALAM OLAHRAGA Program pengkondisian dalam olahraga merupakan kegiatan pelatihan dalam membentuk fisik sebagai dasar untuk menunjang pencapaian prestasi disetiap cabang olahraga yang dilatihkan. dan alat-alat apa saja yang tepat untuk melatih berdasarkan tujuan pelatihan. Aksi pergerakan utama akan menjaga dua tulang yang dihubungkan oleh joint dalam perkiraan yang tepat. kelentukan kelincahan dan kesimbangan. namun yang terpenting adalah tidak terjadi cidera yang fatal pada saat proses pelatihan berlangsung. Dalam program pengkondisian ini seorang pelatih dituntut untuk menguasai struktur otot yang dominan dalam cabang tersebut. atlet tersebut dapat berkembang sesuai dengan tujuan yang ditetapkan.

fusa dipermukaan scapula. Otot-otot disekitar bahu memerlukan pengembangan dan pengkondisian agar peningkatan kestabilan secara optimal oleh bahu. Semua komponen pengkondisian memiliki hubungan timbal balik disesuaikan dengan pengkondisian tiap cabang olahraga dan peranannya untuk mencegah cidera. Penghubung otot seringkali beresiko akibat munculnya kekuatan dari dalam (misalnya. Ketika sebuah otot utamanya menghasilkan pergerakan dari penghubung. tekling atau bloking pada sepak bola). langsung mengurangi cedera kemungkinan respon untuk dibututhkannya Kekuatan x jarak x waktu Untuk 4 . Joint kapsul bebas dan fleksibel. pengkondisian yang benar dapat memungkinkan otot mencegah pergerakan yang berlebihan. dan mendukung ligamen agak lemah. jelasnya pada tabel dibawah ini: Tabel 1. perolehan pergerakan dalam jangkauan yang lebar ini.1 Komponen-Komponen Pengkondisian dalam Olahraga Komponen Pengkondisian Kekuatan Power Pengertian Penerapan pada pencegahan cedera Kekuatan maksimal yang Untuk menstabilkan dikeluarkan dari usaha daerah tubuh melawan sebuah otot atau kecepatan kekuatan kekuatan yang digunakan memendekkan meningkatkan x waktu yang digunakan guna tenaga yang digunakan (tipe pergerakan spontan) misal.

Pendidikan jasmani diarahkan pada tujuan secara keseluruhan (multilateral) seperti halnya tujuan pendidikan secara umum.2. Apabila Anda bertanya kepada guru Penjas tentang apa tujuan yang hendak dicapai? Jawabannya mungkin bervariasi. Ia merupakan salah satu dari subsistem-subsistem pendidikan. Pendidikan jasmani merupakan bagian dari pendidikan secara umum. Sebagaimana diterapkan dalam Undang-Undang RI. dan spiritual Kesegaran jasmani optimal Cerdas Kreatif dan inovatif Terampil dalam gerak dan memecahkan masalah 5 . Telah menjadi kenyataan umum bahwa pendidikan jasmani sebagai satu kenyataan umum bahwa pendidikan jasmani sebagai satu substansi pendidikan mempunyai peran yang berarti mengembangkan kualitas manusia Indonesia. memiliki pengetahuan dan keterampilan. sosial. kesehatan jasmani dan rohani. kepribadian yang mantap dan mandiri serta rasa tanggung jawab kemasyarakatan dan kebangsaan. Pendidikan jasmani dapat didefinisikan sebagai suatu proses pendidikan yang ditujukan untuk mencapai tujuan pendidikan melalui gerakan fisik. mental. Nomor II Tahun 1989 tentang Sistem Pendidikan Nasional bahwa tujuan pendidikan termasuk pendidikan jasmani di Indonesia adalah pengembangan manusia Indonesia seutuhnya ialah manusia yang beriman dan bertaqwa terhadap Tuhan Yang Maha Esa dan berbudi luhur. Secara ideal. jawaban tersebut terjabar seperti butir-butir berikut: 1) a) b) c) d) e) f) Perkembangan Pribadi Pertumbuhan fisik optimal Sehat fisik. 1 TUJUAN PENDIDIKAN JASMANI Tujuan Pendidikan Jasmani Pendidikan jasmani memiliki tujuan yang berbeda dengan pelatihan jasmani seperti halnya dalam olahraga prestasi.

dan tanggung jawab 2) Hubungan Antar Pribadi dan Lingkungan Hormat pada sesama Gotong royong Luwes (mudah menyesuaikan diri) Komunikatif dalam ide (konsep) dan pemikiran Etika (sopan santun) Menghargai kondisi lingkungan Melestarikan lingkungan yang sehat dan harmonis 3) Ketahanan Nasional Politik: a) b) c) Cinta tanah air Demokrasi Pancasila Loyal pada Pancasila dan UUD 1945 Ekonomi: a) b) a) b) a) b) c) a) b) Penguasaan informasi dan teknologi Etos kerja Tertib hukum Kesetiakawanan Sosial Menghargai karya orang lain Berpikir kritis Toleransi penerapan Iptek Kesiapan membela negara Partisipasi dalam Hankamrata Sosial Budaya: Budaya : Hankam: 6 .g) a) b) c) d) e) f) g) Jujur. percaya diri. disiplin.

Bola Voli = Persatuan Bola Voli Seluruh Indonesia / PBVSI 11. Judo = Persatuan Judo Seluruh Indonesia / PJSI 19. Karate = Federasi Olahraga Karate-do Indonesia / FORKI 20. Anggar = Persatuan Anggar Seluruh Indonesia / IKASI 3. Bulu Tangkis = Persatuan Bulutangkis Seluruh Indonesia / PBSI 13. Boling = Persatuan Boling Indonesia / PBI 12. Drum Band = Persatuan Drum Band Indonesia / PDBI 16. Berkuda = Persatuan Olahraga Berkuda Seluruh Indonesia / PORDASI 6. Kartu = Gabungan Bridge Seluruh Indonesia / GABSI 21. Bola Basket = Persatuan Bola Basket Seluruh Indonesia / PERBASI 10. Menembak = Persatuan Menembak dan BerburuIndonesia / PERBAKIN 25. Liong & Barongsai = Persatuan Liong & Barongsai Seluruh Indonesia / PLBSI 24. Aero Sport = Federasi Aero Sport Indonesia / FASI 2. Catur = Persatuan Catur Seluruh Indonesia / PERCASI 14. Baseball = Perserikatan Bisbol dan Sofbol Amatir Seluruh Indonesia / PERBASASI 5. Berlayar = Persatuan Olahraga Layar Seluruh Indonesia / PORLASI 7. Golf = Persatuan Golf Indonesia / PGI 17. Gulat = Persatuan Gulat Amatir Seluruh Indonesia / PGSI 18. Dayung = Persatuan Olahraga Dayung Seluruh Indonesia / PODSI 15. Atletik = Persatuan Atletik Seluruh Indonesia / PASI 4. Motor = Ikatan Motor Indonesia / IMI 7 . Kempo = Persaudaraan Bela Diri Kempo Indonesia / PERKEMI 22. Kesehatan Olahraga = Kesehatan Olahraga Republik Indonesia / KORI 23. Binaraga = Persatuan Angkat Berat dan Binaraga Seluruh Indonesia / PABBSI 9.Daftar Nama Organisasi Induk Olahraga Di Indonesia . Biliar = Persatuan Olahraga Biliar Seluruh Indonesia / POBSI 8.Ilmu Pengetahuan Olahraga Berikut ini adalah nama organisasi induk cabang olahraga yang ada di Indonesia diurutkan berdasarkan nama cabang olah raga serta singkatan namanya yang diakui oleh KONI / Komite Olahraga Nasional Indonesia yaitu sebagai berikut : 1.

wushu = Wushu Indonesia / WI 8 . Olahraga Mahasiswa = Badan Pembina Olahraga Mahasiswa Indonesia / BAPOMI 30. Olahraga Cacat = Badan Pembina Olahraga Cacat / BPOC 28. Sepakbola = Persatuan Sepak Bola Seluruh Indonesia / PSSI 40. Wartawan Olahraga = Seksi Wartawan Olahraga Persatuan Wartawan Indonesia / SIWO PWI 50. Squash = Persatuan Squash Indonesia / PSI 44. Sepatu Roda = Persatuan Olahraga Sepatu Roda Seluruh Indonesia / PERSEROSI 41. Tarung Derajat = Keluarga Olahraga Tarung Derajat / KODRAT 46.26. Ski Air = Persatuan Ski Air Seluruh Indonesia / PSASI 42. Sport Dance = Ikatan Olahraga Dansa Indonesia / IODI 43. Sepak Takraw = Persatuan Sepak Takraw Seluruh Indonesia / PSTI 39. Panahan = Persatuan Panahan Indonesia / PERPANI 34. Olahraga Pelajar = Badan Pembina Olahraga Pelajar Seluruh Indonesia / BAPOPSI 31. Selam = Persatuan Olahraga Selam Seluruh Indonesia / POSSI 37. Olahraga KORPRI = Badan Pembina Olahraga Korps Pegawai Republik Indonesia / BAPOR KORPRI 29. Tenis = Persatuan Tennis Lapangan Seluruh Indonesia / PELTI 47. Olahraga Sepeda = Ikatan Sport Sepeda Indonesia / ISSI 32. Taekwondo = Taekwondo Indonesia / TI 45. Pecak Silat = Ikatan Pencak Silat Indonesia / IPSI 36. Olahraga air = Persatuan Renang Seluruh Indonesia / PRSI 27. Olahraga Wanita = Persatuan Wanita Olahraga Seluruh Indonesia / PERWOSI 33. Senam = Persatuan Senam Indonesia / PERSANI 38. Tinju = Persatuan Tinju Amatir Indonesia / PERTINA 49. Panjat Tebing = Federasi Panjat Tebing Indonesia / FPTI 35. Tenis Meja = Persatuan Tenis Meja Seluruh Indonesia / PTMSI 48.

dalam hal ini dianggap memiliki tanggung jawab penting dalam mempersatukan berbagai kajian ilmu untuk dirumuskan secara padu dan mengakar menuju ilmu olahraga dalam tiga dimensi ilmiahnya (ontologi. 9 . Namun sebagai suatu ilmu baru yang diakui secara luas. dan tata langkah untuk memperoleh pengetahuan baru atau mengembangkan yang telah ada. 1 DASAR-DASAR FILOSOFIS ILMU OLAHRAGA Dasar filosofis Kesadaran bahwa olahraga merupakan ilmu secara internasional mulai muncul pertengahan abad 20. Ontologi berperan dalam perbincangan mengenai pengembangan ilmu.3. pola kerja. epistemologi dan aksiologi) yang kokoh dan sejajar dengan ilmu lain. asumsi dasar ilmu dan konsekuensinya pada penerapan ilmu. Filsafat. Epistemologi membahas secara mendalam segenap proses yang terlibat dalam usaha untuk memperoleh pengetahuan. ciri-ciri esensial obyek itu yang berlaku umum. Ini terutama berkaitan dengan metode keilmuan dan sistematika isi ilmu. khususnya di Indonesia. terutama dengan melihat kajian dan wacana akademis yang masih sangat terbatas dan kurang integral. cara teknis. Dasar ontologi dari ilmu berhubungan dengan materi yang menjadi obyek penelaahan ilmu. Beberapa akademisi dan masyarakat awam memang masih pesimis terhadap eksistensi ilmu olahraga. Ontologi membahas tentang apa yang ingin diketahui atau dengan kata lain merupakan pengkajian mengenai teori tentang ada. di mana peta dasar dan pengembangan ilmu pokok dan ilmu cabang yang akan dibahas. Ontologi merupakan sarana ilmiah untuk menemukan jalan penanganan masalah secara ilmiah (Van Peursen. 1985: 32). ilmu olahraga berkembang seiring kompleksitas permasalahan yang ada dengan ketertarikan-ketertarikan ilmiah yang mulai bergairah menunjukkan eksistensi ilmu baru ini ke arah kemapanan. Metode keilmuan merupakan suatu prosedur yang mencakup berbagai tindakan pikiran. Sedangkan sistimatisasi isi ilmu dalam hal ini berkaitan dengan batang tubuh ilmu. Dalam hal ini ontologi berperan dalam proses konsistensi ekstensif dan intensif dalam pengembangan ilmu. dan di Indonesia secara resmi dibakukan melalui deklarasi ilmu olahraga tahun 1998.

proses timbal balik yang sinergis antara khasanah keilmuan dan wilayah praksis muncul. pentathlon sampai dengan Olympic Games di masa modern. seperti halnya sex. atau menghabiskan waktu luang. atau untuk kombinasi dari maksud sosial dan rekreasional. senada dengan eksistensi manusiawi sebagai makhluk bermain (homo ludensnya Huizinga). dan menjadi tanggungjawab filsafat untuk mengkritisi. Ini tidak hanya tentang latihan demi kesehatan. Bila persoalan value free dan value bound ilmu mendominasi fokus perhatian aksiologi pada umumnya. agon. Olahraga juga adalah permainan. aksiologi – mengeksplorasi ilmu olahraga ini secara mendalam. Relevansi filosofis ini pada gilirannya mensyaratkan pula komunikasi lintas. estetika. Mitos dan agama Yunani awal menampilkan suatu pandangan dunia yang membantu perkembangan kesalinghubungan intrinsik antara makna olahraga dan budaya 10 . terlalu penting untuk dikacaukan dengan tema lain. maka dalam hal pengembangan ilmu baru seperti olahraga ini. yang dapat diamati sejak bayi dalam kandungan sampai dengan bentuk-bentuk gerakan terlatih. seperti halnya manusia itu sendiri. Olahraga adalah tontonan. di mana dalam sejarahnya. inter dan muiltidisipliner ilmuilmu terkait dalam upaya menjawab persoalan dan tantangan yang muncul dari fenomena keolahragaan.Aksiologi ilmu membahas tentang manfaat yang diperoleh manusia dari pengetahuan yang didapatnya. dengan titik tekan utama pada tiga dimensi keilmuan ini – ontologi. sejak jaman Yunani Kuno dengan arete. Olahraga adalah aktivitas yang memiliki akar eksistensi ontologism sangat alami. religius (sisi dalam) dan juga interrelasi ilmu dengan aspek-aspek kehidupan manusia dalam sosialitasnya (sisi luar aksiologi). Olahraga adalah fenomena multidimensi. epistemologi. Keduanya merupakan aspek dari permasalahan transfer pengetahuan. memetakan dan memadukan hal tersebut. Akar Eksistensi Olahraga Olahraga. Filsafat ilmu olahraga. sebagaimana yang dikatakan Richard Scaht (1998: 124). perang dan damai selalu mengawal peristiwa keolahragaan itu. Tidak hanya permainan untuk hiburan. dimensi aksiologi diperluas lagi sehingga secara inheren mencakup dimensi nilai kehidupan manusia seperti etika. Dengan kata lain. yang memiliki akar sejarah yang panjang. Ekstensifikasi dan intensifikasi menjadi permasalahan yang amat menentukan eksistensi dan perkembangan ilmu keolahragaan lebih jauh dari hasil eksplorasi ini.

Atletik (olahraga.dasar. dalam tulisan ini kadang-kadang disebut dengan atletik untuk kepentingan penyesuaian konteks) berperan penting dalam dunia Yunani Kuno. Budaya Yunani Kuno juga sepenuhnya bersifat agon. menunjukkan penghargaan yang tinggi masyarakat Yunani terhadap olahraga yang terrepresentasikan sebagai semacam ritual agama dan terorganisir dalam mana kompetisi-kompetisi fisik ditampilkan sebagai analog mimetic (secara menghibur) dari penjelasan agama – baik tentang nasib dan kepahlawanan – dan sebagai penjelmaan rinci signifikansi kultural agon. Puisipuisi Homer dan Hesiod menampilkan diri sebagai konflik di antara daya-daya persaingan. keindahan tubuh. kecantikan visual dan campuran dari daya persaingan mempengaruhi situasi kemanusiaan (Hatab. seni-seni visual. persaingan. Wajah realitas Yunani Kuno juga mewujud dalam dayadaya persaingan ini: atletik. Nuansa keduniawian tampak pula pada ekspresi naratif tentang kehidupan. kemenangan atau keberhasilan tak akan berarti apa-apa (Hatab. Dapat digeneralisir – dalam Iliad itu – bahwa tanpa kemungkinan untuk kalah atau gagal. Keduanya juga merefleksikan kondisi terbatas dari eksistensi keduniaan. drama dan retorika (Crowell. tarian. seperti yang tampak dalam Iliad. keberadaan manusia secara esensial adalah mortal dan terarah pada takdir negatif melampaui kendali manusia. dan hal-hal khusus dari tontonan dramatis (Hatab. dan bukan sebagai kerajaan transenden dari pembebasan. dan dapat secara langsung diasosiasikan dengan persaingan. signifikansi olahraga menurun di dunia 11 . 1998: 7). Hal terpenting di sini adalah bahwa makna keutamaan terhubung dengan batas-batas dan resiko. situasionalnya dan suka dukanya. nyanyian. rentang luas pengalaman manusiawi. Apa yang membedakan kontes atletik dari hal-hal lain dalam budaya Yunani adalah bahwa atletik menampilkan dan mengkonsentrasikan elemenelemen duiniawi dalam penampilan fisik dan keahlian. 1998: 98). melalui pengujian keberanian manusia melawan satria lain dan kekuatan nasib. 1998: 98). keindahan fisik. Kata atletik berarti konflik atau perjuangan. kejayaan dan kemasyhuran melalui pengambilan resiko dan pengkonfrontasian kematian pada medan perang. Manifestasi kesakralan terwujud dalam prestasi dan kekuasaan duniawi. Signifikansi agon dapat lebih dipahami dari pandangan tentang ideal kepahlawanan. 1998: 99). Dalam Iliad-nya Homer. kerajinan tangan. Kematian dapat mencapai kompensasi istimewa: keduniawian. Sekarang. di mana kompetisi di tengah-tengah kondisi keterbatasan mambangkitkan makna dan keutamaan. Kontes atletik.

pertunjukan olahraga juga dapat dipahami 12 . aksi. Selain itu. meskipun istilah ini masih perlu dicurigai sebagai terlalu maju dan ahistoris. justru dengan datangnya statemen-statemen filsafat sebagai kompetitor kultural. Nietzsche adalahseorang filsuf kontroversial yang paling banyak dirujuk sebagai penyumbang taklangsung debat akademis tentang kaitan pemikiran filsafat dan ilmukeolahragaan. dan oleh karenanya. Ekspresi Filosofis Kultur Olahraga Friederich Nietzsche (terkenal dengan tesisnya: “Tuhan telah mati”)termasuk filsuf yang pemikiran-pemikirannya berhutang banyak pada duniaYunani Kuno yang menghargai atletik sejajar dengan intelek. Meskipun Plato dan Aristoteles mengusung nilai penting latihan fisik dalam pendidikan. Ketertarikan terhadap transendensi spiritual dan tertib alam menggeser pengaruh mitos-mitos dan religi seperti dijelaskan di atas. Ini dapat dilihat dari efek kesehatan dan pengembangan keahlian fisik. dan kenapa hal-hal tersebut dapat dianggap memiliki nilai dan manfaat yang besar. kompetisi dan prestasi kemenangan (Hatab. Dari sini. menyebut“filsafat olahraga Nietzscheian” sebagai istilah penting dalam bahasan ilmiahnya. oleh karena pemikir lain seperti Lawrence J. perjuangan. Bahkan beberapa penulis. ilmu keolahragaan memiliki akar filosofisnya. Hatab (1998: 78) menyatakan bahwa Nietzsche sedikit sekali atau bahkan tak pernah bicara tentang aktivitas atletik dan olahraga secara langsung. spectacle dan play yang terarah pada aktivitas atletik dan event-event olahraga (Hatab. Hatab mengeksplorasi beberapa pemikiran Nietzsche seperti will to power.Nietzsche and Sport. Pertunjukan atletik adalah penampilan dan proses produksi makna kultural penting. sublimation. Nilai penting dari tubuh dan aksi secara bertahap dikalahkan oleh tekanan pada pikiran dan refleksi intelektual. embodiment. Hatab mengeksplorasi Nietzsche hanya dalam kaitan pemikirannya yang dapat diasosiasikan dan mengarah pada tema keolahragaan. namun mereka memulai sebuah revolusi intelektual yang meremehkan nilai penting kultural keolahragaan – “remeh” justru karena keterkaitan erat olahraga dengan tubuh. dapat dimaknai bahwa arah pemikiran yang berhubungan secara historis pada dunia keolahragaan termasuk dalam ekspresi pemikiran filosofis.Yunani. 1998: 102). Perspektif naturalistik Nietzsche ini menjelaskan mengapa banyak orang menyukai permainan dan menyaksikan pertandingan olahraga.1998: 99). seperti Richard Schacht.

1998:106). di mana keberadaan manusia “kurang segala sesuatunya kecuali untuk satu hal yang mereka terlalu banyak memilikinya – keberadaan manusia yang adalah tak lain daripada mata besar. sehingga yang menampak adalah demonstrasi ketiadaartian kecakapan. tetapi Budak. Dari tontonan kompetitif seperti ini. perut besar. keberanian dan intelegensi praktis (Hatab. mengungkap sisi-sisi buramnya: brutalitas. Dalam hal yang terakhir. tetapi sekedar fokus untuk hidup yang tak dialami sendiri dari penonton yang pujian-pujiannya menjadi rantai yang mengikat atlit itu sendiri (teralienasi . pengejaran. permainan olahraga adalah cukup “serius” untuk diangkat ke tingkat penghargaan budaya yang lebih tinggi (Hatab. Individuindividu tersebut meniru apa yang oleh Nietzsche disebut “inverse cripples” (ketimpangan terbalik). Namun demikian. agresifitas. Begitulah. Konsekuensi dari semua itu. Steven Galt Crowell (1998: 113) dengan mengeksplorasi secara mendalam feneomena olahraga sebagai tontonan dan permainan. bukan teladan dari apa artinya menjadi manusia. olahraga ditampilkan sebagai alternatif pengobatan ketika para praktisi terkemuka menemukan obat-obatan sebagai bagian alami dari gaya hidup atlit olahraga. olahraga tak hanya populer. dan mengakui bahwa olahraga memiliki kandungan nilai-nilai fundamental bagi keberadaan manusia. lokus asal muasal pemikiran filsafat Barat. sehingga filsafat mau tak mau harus berani mengkaji ulang “tradisinya” sendiri yang menekankan jiwa atas tubuh. 1998: 115). Tontonan menawarkan individu-individu yang mengkonsentrasikan seluruh keberadaannya. mulut besar. Apabila di jaman Yunani Kuno atlitnya mendemonstrasikan atletik dengan keahlian yang langsung berimplikasi pada keseharian si atlit. ke dalam satu permasalahan.sebagai tontonan publik yang mendramatisir keterbatasan dunia yang hidup. 1998: 103). olahraga disebutnya sebagai alat alamiah untuk “war on drugs”. dan “merusak kesehatan”. Atlit sekarang bukanlah Tuan. perjuangan-perjuangan sukses dan gagal.dalam bahasa patologi sosialnya Erich Fromm). tak 13 . prestasi teatrikal dari keadaan umat manusia. sudah jelas bahwa olahraga dapat menanamkan kebajikan-kebajikan tertentu dalam keikutsertaan disiplin. harmoni atas konflik. segalanya serba besar” (Crowell. Dari sudut pandang pengembangan sumber daya manusia. pada atlit sekarang keberanian sedemikian otonomnya. tetapi menempati penghargaan kultural terhormat. di dunia Yunani Kuno. kerja tim. di mana nilai-nilai keksatriaan dimunculkan.

A. dan ini secara esensial berarti bicara tentang hidup yang tak dialami sendiri. William H. terutama dalam hal dimensi edukatifnya. epistemologi dan aksiologi (Komisi Disiplin Ilmu Keolahragaan. sebagai jawaban bahwa olahraga merupakan ilmu yang mandiri. berikut fenomena “megasponsor” dan perjudian di dalamnya). Dari sini. dalam buku Physical Education and Sport a Changing Society (1987). Lalu. dan ini dicakup dalam paparan tentang ontologi. maka diselenggarakanlah pada tahun 1998 di Surabaya suatu Seminar Lokakarya Nasional Ilmu Keolahragaan. Bucher dengan bukunya Foundation of Physical Education and Sport (1995).ada artinya “aturan urutan juara”: kemenangan di beli dan dibayarkan. Tampaknya banyak penelitian serupa yang menggagas filsafat ilmu keolahragaan dalam tinjauan yang kurang lebih diasalkan pada pendidikan jasmani. 2000: 1-2. olahraga sebagai tontonan. 6). C. Seminar ini mampu melahirkan kesepakatan tentang pendefinisian pengertian olahraga yang dikenal dengan nama Deklarasi Surabaya 1998 tentang Ilmu Keolahragaan. metode dan pengorganisasian yang khas. filsafat ilmu muncul sebagai suatu kebutuhan. adalah beberapa karya yang bernuansa filsafat ilmu keolahragaan. Earle F. namun pembahasan yang diambil lebih 14 . olahraga harus dapat memenuhi 3 kriteria: obyek. Zeigler (1977) mengaitkan pendidikan keolahragaan dengan filsafat olahraga dengan mencoba mengurai berbagai aspek yang dianggap terkait dengan berbagai dimensi yang muncul dari fenomena keolahragaan. Deklarasi Ilmu Olahraga Beberapa pendapat di atas bagaimanapun mencerminkan suatu perhatian filosofis yang diakronik terhadap olahraga sebagai fenomena yang monumentaldi jaman ini (setidaknya dengan mengukur antusiasme masyarakat awam terhadap tontonan olahraga baik langsung di stadion maupun di televisi. bagaimana tuntutan perkembangan keolahragaan sebagai ilmu itu di Indonesia khususnya dan masyarakat akademis dunia pada umumnya? Terdorong oleh rasa ingin mencari jawaban tepat terhadap pertanyaan: apakah olahraga merupakan ilmu yang berdiri sendiri. dan sebagai tindak lanjut dari pertemuan sebelumnya. Sebagai ilmu yang mandiri. atau dengan larisnya majalah atau kolom keolahragaan.

sebagai kata yang mewakili definisi olahraga. bebas dan dilaksanakan dalam waktu luang”. Ilmu keolahragaan sebagai satu konsekuensi ilmiah fenomena keolahragaan berarti pengetahuan yang sistematik dan terorganisir tentang fenomena keolahragaan yang dibangun melalui sistem penelitian ilmiah yang diperoleh darimedan-medan penyelidikan (KDI Keolahragaan. Sedangkan Dewan Eropa merumuskan olahraga sebagai “aktivitas spontan. Definisi terakhir ini merupakan cikal bakal panji olahraga di dunia “Sport for All” dan di Indonesia tahun 1983. Penelitian filosofis untuk itu sangat diharapkan menyentuh sisi tubuh manuisiawi sebagai kaitan tak terpisah dengan jiwa/pikiran. UNESCO mendefinisikan olahraga sebagai “setiap aktivitas fisik berupa permainan yang berisikan perjuangan melawan unsur-unsur alam. dalam hal ini gerak manusia. manusia yang menggerakkan dirinya secara sadar dan bertujuan. menunjukkan suatu gerak. Sebagai rumusan awal. setidaknya dapat dirunut dari obyek studi ilmu keolahragaan yang unik dan tidak dikaji ilmu lain. ataupun diri sendiri”. seorang filsuf dan guru kaisar Nero mengatakan: “oran dum es ut sit ‘Mens Sana in Corpore Sano’” yang secara bebas dapat ditafsirkan bahwa menyehatkan jasmani dengan latihan-latihan fisik adalah salah satu jalan untuk mencegah timbulnya pikiran-pikiran yang tidak sehat yang membawa orang kepada perbuatan-perbuatan yang tidak baik (Noerbai. obyek material ilmu keolahragaan adalah gerak insani dan obyek formalnya adalah gerak manusia dalam rangka pembentukan dan pendidikan. menurut KDI keolahragaan. Aspek kedua sebagai dimensi filsafat ilmu adalah epistemologi yangmempertanyakan bagaimana pengetahuan diperoleh dan apa isi pengetahuan itu. Oleh karena itu. Dalam hal ini. raga/tubuh adalah sasaran yang terpenting dan paling mendasar. 2000: 6). sedangkan hakikat dimensi ontologi. “Aktivitas”. 2000: 8). ontologi. apalagi dengan fenomena maraknya arah mode atau tekanan kecintaan masyarakat luas terhadap bentuk tubuh ideal. “memasyarakatkan olahraga dan mengolahragakan masyarakat” (Rusli dan Sumardianto. epistemonogi dan aksiologi belum sepenuhnya digarap mendalam dan mengakar. Aspek pertama.Ilmu keolahragaan dalam pengembangannya didekati melalui pendekatanmultidisipliner. Seneca. lintasdisipliner dan 15 . orang lain. 2000: 35).merupakan integrasi dari berbagai disiplin ilmu terkait untuk membangun dasardasar ilmu keolahragaan.

dan Ilmu Pengetahuan Sosial – terwujud dalam Sosiokinetika (KDI Keolahragaan. Biomekanika.2000: 33-34). politik. Ilmu Gerak. Sisi luar aksiologis ini menempati porsi yang paling banyak. Ini termasuk dari sisi estetisnya. memiliki daya prediktif. membuktikan bahwa apa yang Paul Weiss tulis dalam bukunya Sport: A Philosophy Inquiry (1969: 12) bahwa semakin banyak renungan filosofis yang mengarahkan keingintahuan mendalam dan keterpesonaan terhadap olahraga. Ketiga pendekatan di atas dalam khasanah ilmu keolahragaan membentuik batang tubuh ilmu sebagai jawaban atas pertanyaan apa isi ilmu keolahragaan itu. Inti kajian ilmu keolahragaan adalah Teori Latihan. Bertaburan dan tumbuh suburnya ilmu-ilmu yang berangkat dari dimensi ontologi. Ilmu Pengetahuan Alam – terwujud dalam Somatokinetika. Teori Bermain dan Teori Instruksi yang didukung oleh ilmu-ilmu Kedokteran Olahraga. epistemologi dan aksiologi. 16 . Thomas Ryan (1989: 110-118) membahas kaitan olahraga dengan arah spiritualitasnya. Aksiologi . Sedangkan pendekatanlintasdisipliner ditandai orientasi horisontal karena melumatnya batas-batas ilmu yang sudah mapan.aspek ketiga . Secara aksiologi olahraga mengandung nilai-nilai ideologi. 2000: 36). Pedagogi Olahraga. Sejarah Olahraga dan Filsafat Olahraga. Kemungkinan nilai etisnya. untuk apa manfaat suatu kajian. Yang tersebut di atas adalah beberapa contoh cakupan dimensi ilmu keolahragaan dalam filsafat ilmu. ekonomi. Pendekatan multidisiplinerditandai oleh orientasi vertikal karena merupakan penggabungan beberapadisiplin ilmu. sosial. Akar dari batang tubuh ilmu keolahragaan terdiri dari Humaniora – terwujud dalam antropokinetika. Psikologi Olahraga. Sosiologi Olahraga. Kecenderungan-kecenderungan sisi aksiologi keolahragaan ini secara akademis menempati sisi yang tak bisa diabaikan. Interdisipliner ditandai oleh interaksi dua atau lebih disiplin ilmuberbeda dalam bentuk komunikasi konsep atau ide. bahkan cenderung paling banyak diminati untuk dieksplorasi. 1989: 204-220).interdisipliner. Ergofisiologi. di mana ekstensifikasi dan intensifikasi masih luas menantang. selain dimensi naratifnya (Feezell. Dietmar Mieth (1989: 79-92) membahasnya secara ekstensif dan komprehensif.berkaitan dengan nilai-nilai. di mana Randolph Feezell mengulasnya secara fenomenologis. budaya dan strategis dalam pengikat ketahanan nasional (KDI Keolahragaan. Belajar Gerak. dibandingkan sisi dalamnya yang memang lebih sarat filosofinya. Nancy Shinabargar (1989: 4453) secara sosiologis membahas dimensi feminis dalam olahraga.

Sarana pendidikan jasmani ialah segala sesuatu yang dapat digunakan atau dimanfaatkan di dalam pembelajaran pendidikan jasmani dan kesehatan. dalam memberi tempat bagi pertanyaan dan jawaban mendasar atau inti isi ilmu keolahragaan sekaligus mengasuh cabang-cabang ranting ilmu keolahragaan ini. 1990: 33). didalam / diantaranya atau dibawahnya. apakah anda bisa melakukan aktivitas pendidikan jasmani secara optimal ? b) Apakah sebagaian besar kecabangan olahraga yang diprogramkan bisa berjalan sesuai dengan rencana yang anda susun ? c) Apakah siswa bisa beraktivitas fisik secara optimal ? 17 . pemukul. Demikian juga dengan perlengkapan (device). 4. Seperti halnya prasarana pendidikan jasmani. tanda bendera. dan sebagainya). Misalnya : peti lompat (bertumpu diatasnya). Ini perlu dimaknai secara operasional-ilmiah. melompati. dan sebagainya. fenomena signifikansi dan kejelasan transkultural dari olahraga menempati salah satu koridor akademis ilmiah yang membutuhkan lebih banyak penggagas dan kreator ide (Hyland. coba anda jawab sendiri beberapa pertanyaan dibawah ini : a) Dengan sarana yang dimiliki oleh sekolah anda. tiang dan matras lompat tinggi dan sebagainya. garis pembatas. bangku swedia (untuk merangkak. atau segala sesuatu yang dapat dimanipulasi dengan tangan atau kaki misalnya raket.gelang-gelang. Termasuk didalamnya peralatan (aparatus). Kecenderungan minat keilmuan yang makin ekstensif dan intensif ini membawa implikasi logis bagi filsafat untuk mengasah mata pisau “keibuannya”. Sampai dengan abad 21 ini.persuasif dan benar adanya. yaitu segala sesuatu yang melengkapi kebutuhan prasarana. yaitu segala sesuatu yang dapat digunakan dan dimanfaatkan oleh siswa untuk melakukan kegiatan diatasnya. 1 SARANA DAN PRASARANA PENDIDIKAN JASMANI Istilah sarana mengandung arti sesuatu yang dapat digunakan atau dapat dimanfaatkan. bola. filsafat dianggap mater scientarum: “ibunya ilmu”. maka sarana penjas juga bisa mewarnai pelaksanaan pembelajaran pendidikan jasmani disekolah-sekolah. meniti. mengingat dari sejarahnya. Misalnya . Sebelum mempelajari lebih lanjut tulisan ini.

memanfaatkan . Pengembangan sarana pendidikan jasmani artinya melengkapi yang sudah ada dengan cara mengadakan. agar bisa lebih banyak bergerak dalam situasi yang menarik dan gembira tanpa kehilangan esensi pendidikan jasmani itu sendiri. kiranya pemberian gerak dasar umum maupun gerak dasar dominan harus banyak dilakukan. Oleh karena itu. Disamping itu ketergantungan para guru penjas pada sarana yang standar serta pendekatan pembelajaran pada penyajian teknik-teknik dasar juga standar sesuai dengan kurikulum yang ditetapkan. Belum lagi sarana yang mereka miliki juga sangat terbatas. dimana ruang gerak para siswa untuk beraktivitas fisik semakin berkurang.d) Apakah jumlah atau mutu sarana yang dimiliki oleh sekolah anda bisa ditingkatkan ? Sungguh berbahagialah bagi mereka (guru pendidikan jasmani) yang disekolahnya memiliki fasilitas pendidikan jasmani yang memadai karena bisa melibatkan berbagai pihak untuk menunjang kelancaran pembelajaran pendidikan jasmani. apalagi untuk melakukan kegiatan olahraga kecabangan dengan pendekatan konvensional. seorang guru dapat berbuat banyak dan lebih lelusa dalam menggunakan. Ujung-ujungnya bisa ada tanggapan bahwa pendidikan jasmani dianggap tidak begitu perlu. Sebenarnya untuk pembelajaran pendidikan jasmani. memperbanyak dan membuat alat-alat yang sederhana atau memodifikasi. Salah satu kendala kurang lancarnya pembelajaran pendidikan jasmani disekolahsekolah. Kedua hal tersebut menyebabkan pola pembelajaran yang kurang variatif dan cenderung membosankan siswa peserta didik. Namun demikian. Tujuannya adalah untuk memberdayakan anak. sehingga ia pun akan menjadi anak yang kaya gerak dan bisa membina serta menumbuhkan konsep-konsep gerak yang variatif. Dalam situasi dan kondisi sekolah-sekolah dewasa ini. jangan heran bila pelaksanaan pendidikan jasmani dari hari ke hari hanya begitu-begitu saja dan acapkali membosankan para siswa sendiri. 18 . banyak sekolah-sekolah yang tidak memiliki fasilitas pendidikan jasmani yang layak dan memadai bahkan sering kali harus mencari lahan kosong atau berdesak-desakan dengan beberapa sekolah lain untuk bisa menggunakan lahan yang ada. mengembangkan atau bahkan memodifikasi sarana yang akan digunakan. adalah kurang memadainya sarana yang dimiliki oleh sekolah-sekolah tersebut. Dengan upaya tersebut diharapkan siswa peserta didik akan memiliki pengalaman gerak yang banyak serta beragam.

Manakala mereka sadari bahwa anak didik kita perlu dibekali dengan berbagai gerak dasar umum maupun gerak dasar dominan dari setiap kecabangan olahraga. maka pada akhirnya diharapkan siswa dapat melakukan pola gerak secara benar. 5. dan SMA/MA adalah sebagai berikut 19 . SMP/MTs. Ruang lingkup materi mata pelajaran Pendidikan Jasmani untuk jenjang SD/MI. 1 RUANG LINGKUP. maka alat apapun bisa dimanfaatkan yang terpenting adalah kegiatan tersebut pada akhirnya tidak akan menghilangkan makna serta esensi pendidikan jasmani antara lain : (a) Siswa tetap memperoleh kepuasan dalam mengikuti pelajaran pendidikan jasmani. (b) Meningkatkan kemungkinan keberhasilan dlam berpartisipasi. (c) Karena selalu difasilitasi dengan pembelajaran pola gerak dasar umum yang banyak dan berkali-kali dilakukan.

Dalam aktivitas ini termasuk juga pengembangan aspek pengetahuan yang relevan dan sistem nilai seperti. kerjasama.*) Aspek/sub aspek yang diberi tanda bintang dapat digunakan sebagai materi pokok untuk mencapai kompetensi dasar yang relevan Keterangan: Permainan dan olahraga: Permainan dan olahraga terdiri dari berbagai jenis permainan dan olahraga baik terstruktur maupun tidak yang dilakukan secara perorangan maupun beregu. jujur. 20 . sportivitas. berfikir kritis. dan patuh pada peraturan yang berlaku.

Dalam proses pembelajarannya memfokuskan pada kesesuaian atau keterpaduan antara gerak dan irama. squat-jump dan lain-lain. sit-up. dan keselamatan di air. dan kegiatan yang bersifat 21 .Aktivitas Pengembangan: Aktivitas pengembangan berisi tentang kegiatan yang berfungsi untuk membentuk postur tubuh yang ideal dan pengembangan komponen kebugaran jasmani. gaya-gaya renang. daya tahan. dan pengembangan aspek pengetahuan yang relevan serta nilai-nilai yang terkandung di dalamnya. keseimbangan. X Aktivitas senam: Aktivitas senam berisi tentang kegiatan yang berhubungan dengan ketangkasan seperti. perkampungan pertanian/nelayan. back-up. kapasitas diri. Aktivitas Ritmik: Aktivitas ritmik berisi tentang hubungan gerak dengan irama dan juga pengembangan aspek pengetahuan yang relevan serta nilai-nilai yang terkandung di dalamnya. bentuk latihan yang dilakukan dalam aktivitas ini misalnya. Pendidikan Luar Kelas (Outdoor Education) Aktivitas Luar Sekolah berisi tentang kegiatan di luar kelas/sekolah dan di alam bebas lainnya. bermain di lingkungan sekolah. dan kelenturan tubuh. serta pengembangan aspek pengetahuan yang relevan serta nilai-nilai yang terkandung di dalamnya. senam lantai. seperti. Akuatik (Aktivitas Air): Akuatik (aktivitas air) berisi tentang kegiatan di air. permainan air. push-up. kekuatan. seperti. Dalam aktivitas ini termasuk juga pengembangan aspek pengetahuan yang relevan serta nilai-nilai yang terkandung di dalamnya. senam alat dan aktivitas fisik lainnya yang bertujuan untuk melatih keberanian. pullup. seperti. taman. berkemah.

manajemen. rehabilitasi ataupun rekreasiolahraga beserta pengembangannya). namun relevansi filsafati-ilmiahnya masih sangat minim. menelusuri sungai.kepetualangan (mendaki gunung. estetika. kano dan lainnya). kesehatan beserta pengembangannya) dan nilainilai yang praktisprofesional(pengajaran dan pelatihan. yang produk nyatanya tampak dalambatang tubuh pengetahuan ilmu olahraga dengan pendekatan pengembangankeilmuan yang multidisipliner sehingga secara aksiologis pemaknaan domainperilaku gerak – olahraga – membuka spektrum nilai yang normatif-teoritis(etika. 22 . sistematika ilmiahdan sifat universal yang dibangun melalui sebuah sistem penelitian ilmiah yangdiperoleh dari macam-macam penyelidikan. Meskipun pro dan kontra ilmu keolahragaan sebagai suatu ilmu mandiri sudah surut. serta pengembangan aspek pengetahuan yang relevan serta nilai-nilai yang terkandung di dalamnya. metode. Pembahasan yang mencoba mengintegrasikan disiplin ilmu untuk memaknai dasar-dasar teoritis ilmu keolahragaan sebagai ilmu baru memang sudah ada dan dalam penelitian ini digunakan sebagai referensi. namun tantangan yang muncul kemudian sebagai kompensasi eksistensi ilmu keolahragaan melalui tantangan itu adalah ekstensifikasi dan intensifikasi ilmu keolahragaan yang mensyaratkan filsafat sebagai eksplorer pokoknya dengan didasarkan atas azaz umum pengetahuan olah raga. Kesimpulan Ilmu Olahraga merupakan pengetahuan yang sistematis dan terorganisirtentang fenomena keolahragaan yang memiliki obyek.