Kemajemukan, Menghormati Identitas Masing-Masing

P
P
LURALITA
LURALITA
S
S

M MENGHORMATI ENGHORMATI I IDENTITAS DENTITAS M MASING ASING-M -MASING ASING
I ISU SU-I -ISU SU K KRITIS RITIS DALAM DALAM P PLURALITAS LURALITAS K KEBERAGAMAAN EBERAGAMAAN
(P (PENGALAMAN ENGALAMAN DALAM DALAM M MENDAMPINGI ENDAMPINGI U UMAT MAT) )
O OLEH LEH : B : BUYA UYA H. M H. MAS AS’ ’OED OED A ABIDIN BIDIN
1 1
´ ` ± ´ ´ ( .
´
( ± · ± · `

“ … dan bagi tiap-tiap umat ada tujuan (kiblatnya (sendiri) yang ia menghadap kepadanya.
Maka berlomba-lombalah (dalam membuat) kebaikan…,
di mana saja kamu berada pasti Allah akan mengumpulkan kamu sekalian (pada hari kiamat).
Sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.”
(QS.2, al-Baqarah : 148)
eringkali kalau kita mendengar ”kemajemukan” atau ”pluralitas” terganggu
karena ”isyu-isyu pengembangan agama”. Umat Islam yang berada di
lapangan, di kota-kota, ataupun di desa-desa, di pinggir-pinggir pantai
ataupun di kaki-kaki gunung, bukan saja mengetahui, akan tetapi ikut
merasakan bagaimana meningkatnya upaya pengubahan keyakinan agama
itu, walau sudah dianut mereka secara turun temurun. Ekspansi misionaris – misalnya --,
tidak semata diarahkan ke"suku terasing" yang belum beragama saja. Tapi meningkat
juga diarahkan kedaerah-daerah yang menjadi pusat kebudayaan Islam – sejak lama --,
seperti Aceh, Mandailing, Minangkabau, Jawa Barat, Yogyakarta, Sulawesi, Amuntai,
Kalimantan Selatan, Kalimantan Timur, Sambas, Kalimantan Barat dan lain-lain,
meningkat juga ekspansi itu, sebagai bagian aksi proselytisme (kegiatan menyebarkan
1
Disampaikan dalam Diskusi Publik Islam dan Kemajemukan di Indonesia, kerjasama Mahasiswa
Pascasarjana IAIN Imam Bonjol Padang dengan Pusat Studi Islam dan Kenegaraan (PSIK) Universitas
Paramadina Jakarta, pada hari Rabu, 4 Juli 2007 jam 09.30 WIB, di Aula Pasca Sarjana IAIN Imam Bonjol,
di Jalan Jenderal Sudirman, Padang
Buya H. Mas’oed Abidin 1
S S
Kemajemukan, Menghormati Identitas Masing-Masing
agama) terhadap umat yang sudah beragama untuk berpindah kepada agama tertentu, dan
kadang-kadang dilakukan dengan bermacam-macam cara.
Coraknya dapat bermacam. Hakekatnya sama, ”Riak proselytisme menumpang dengan
gelombang globalisasi, liberalisasi dan hak asasi”. Riak-riak ini, merusak kemajemukan
dalam tata bermasyarakat pluralis itu.
Kemajemukan dalam bermasyarakat menjadi sulit dikembangkan, ketika tidak ada sikap
menghormati identitas dan keyakinan masing-masing. Penyeragaman keyakinan akan
merampas hak asasi manusia yang hakiki.
Pluralitas akan tumbuh subur diatas lahan menghormati asas universalitas ajaran agama
dengan sikap keberagamaan yang luhur. Penyiaran agama tidak dilakukan semberono
dan menyinggung perasaan. Kemajemukan akan rusak, jika pengembangan agama tidak
menyikapi suasana lingkungan adat kebiasaan dan kesopanan.
Kemajemukan tumbuh subur dalam kehidupan berbagai corak, bila terpupuk rasa
percaya mempercayai dan mengindahkan perasaan sesama. Penyiaran agama mesti
mematuhi rambu-rambu, yakni tidak ditujukan kepada yang sudah beragama...
Pluralitas dalam satu kehidupan masyarakat beradat terbina baik, ketika ada kesadaran
menjaganya dengan teratur dan cara-cara yang baik pula.
Kesadaran itu lahir karena pengenalan atas sifat dan identitas masyarakat beradat-budaya.
Minimal mengenali tingkat sosial masyarakat, tentang keadaan keyakinan dan etnografis
pemahaman, serta aspek geografi dan demografi, sejarah dan latar belakang masyarakat,
kemudian kondisi sosial-ekonomi dan budaya, adat-istiadat yang berbeda.
Sangat perlu adanya pemahaman, bahwa hakikatnya, setiap tanah ditumbuhi tanaman
khas, setiap etnik memiliki adat budaya dan anutan tersendiri juga. Pengetahuan ini amat
berguna untuk memperbaiki masyarakat dengan semangat ihsan dan memelihara
kemajemukan serta peka dengan sikap pluralitas. Pergaulan dalam kemajemukan,
sebenarnya berasal dari ajaran Agama.
ُلا ُ هُمَ حْ رَ ي َ ل ،َساّ نلا ُمَ حْ رَ ي َ ل ْ نَم (هيلع قفتم)
Yang tidak bisa menyayangi sesama manusia tidak akan disayangi oleh Allah. (Muttafaqun- ‘alaih)
Buya H. Mas’oed Abidin 2
Kemajemukan, Menghormati Identitas Masing-Masing
Penolakan asas agama, memunculkan pemecahan umat manusia (firaq) dari keterikatan
kerjasama (ta’awun), menjadi dua pihak (hitam dan putih, diniyah dan laa diniyah).
Seakan yang satu, disiapkan harus berhadapan langsung dengan yang kedua, dalam satu
satuan perang ideologi secara bengis, penuh kecurigaan dan intimidasi. Pemisahan bagai
belah bambu ini, memungkiri segala keutamaan budi manusia. Menyuburkan
pertentangan akan menjauh dari kepentingan bersama dalam satu gemeente collectiviteit
atau jamaah agama yang menjadi dasar perhubungan keselarasan hidup manusia.
ekacauan mengakibatkan pemborosan tenaga, penghamburan harta dan
pengorbanan jiwa yang percuma dan tidak dapat dipertanggung-jawabkan.
Kekacauan juga akan membawa ikhtiar ke jalan buntu dan keruntuhan.
Semestinya umat Islam menolak tiap-tiap usaha dari pihak manapun
yang mengakibatkan kelumpuhan negara serta alat-alatnya.
Pluralitas akan selalu ada, ketika terjaga identitas masing-masing. Penyeragaman akan
merampas hak asasi. Pluralitas akan lenyap dikala ada upaya pemaksaan pada tataran
pergaulan kehidupan bermasyarakat.
Hilangnya saling menghormati berakibat penderitaan dan kekacauan di seluruh sektor
serta berlaku perampasan hak-hak dan hilangnya kepercayaan, lambat laun menjadi
semacam perasaan putus asa. Ketika itu, tampak jelas raut wajah masyarakat hidup
diatas puing reruntuhan kebudayaan, karena kehilangan kesadaran dan kearifan.
Masyarakat yang melupakan secara sengaja ajaran Rasul Allah, akan tumbuh menjadi
kelompok perusuh. Ajaran Islam adalah kasih sayang.
Sumatera Barat (Minangkabau) umumnya beragama Islam. Mereka paham agamanya.
Mereka pelihara prinsip hidup berakidah dan istiqamah. Ada identitas anak Minangkabau,
sebagai izzah martabat diri, ” Jikok di anjak urang banda sawah, jikok di aliah urang batu
pasupadanan, jikok di ubah urang kato pusako, jikok di anjak urang kato nan bana, Busuangkan dado
padek-padek, paliek-kan tando laki-laki, ja-an takuik nyawo malayang, ja-an cameh darah taserak, tabujua
lalu tabulintang patah, aso hilang duo tabilang,1 Arti yang disimpan mamangan ini dalam sekali.
Diantaranya, “jika dialih orang tanpa hak, bandar sawah, pancang pasupadanan (batas-
batas ulayat)”, maknanya jika terjadi perkosaan hak, setiap diri wajib mempertahankan
Buya H. Mas’oed Abidin 3
K
Kemajemukan, Menghormati Identitas Masing-Masing
agar tidak disebut zalim. Begitu pula, bila diubah orang kata pusako (adat istiadat), dan
berubah janji kebenaran – seperti Pasaman sejak 1953 misalnya2 --, adalah menjaga hak
identitas keyakinan dan budayanya semata.
Dalam mempertahankan hak kebenaran, lelaki Minang wajib menampilkan jati dirinya
(mampaliekkan tando laki-laki), tidak takut menentang bahaya, terbujur lalu, terbelintang
patah, kewajiban asasi tidak bisa dilalaikan. ”Tanamo anak laki-laki, sabalun aja ba
pantang mati, baribu cobaan mandatang, namun mati hanyo sakali.3 Ada keteguhan
keyakinan dalam satu tata cara hidup "adat basandi syarak syarak basandi Kitabullah",
yang sesuai dengan munasabah kejadian manusia yang universil. Sikap ini dipunyai Imam
Bonjol yang namanya diwarisi oleh IAIN tempat kita berkumpul kini.
Ketika kasus Wawah4, Minangkabau kembali diguncang beredar Injil Berbahasa Minang5
di Pasaman dan Kinali. Peristiwa ini, telah merusak tali kemajemukan (pluralitas) oleh
riak proselytisme yang sulit berhenti, kadang-kadang wajahnya kebebasan dan
demokratisasi, bahkan dapat bermantel hak asasi dan reformasi serta penyesuaian
globalisasi.
Ada satu pepatah mengatakan : "Sesuatu yang bathil bila teratur rapi, bisa mengalahkan
yang hak, tapi centang perenang". Baiklah bagian ini mendapat perhatian secara khusus.
Kita sama-sama sadarilah, sebenarnya kita sedang berlomba dalam masyarakat majemuk
“dalam menegakkan kebajikan”.
Memang itulah fungsi Umat dalam masyarakat yang "pluralistik". Tunjukkan kehadiran
kita dengan amal. Kita semua manusia, yang tidak ma'shum dari kekeliruan. Sambil jalan
perbaiki. Kita surut, dimana terlanjur. Kita perkembang, mana yang baik. Kita perbarui
niat semula. Ini arti hakiki sikap menghormati kemajemukan itu. Jangan jadi bahan
cimee-eh orang lain. Jangan jadi penonton di tengah jalan, melihat orang lalu, sambil
memangku tangan. Walau lidah sudah kaku, terus bicara dengan amal baik untuk umat
banyak. Amal yang baik itu jauh lebih fasih dari pada lidah. Ini fungsi kita umat Islam.
“ Kamu hidup di atas bumi di tengah-tengah persimpang-siuran dari pada agama,
kepercayaan dan persimpangan dari pada ideologi dan cita-cita. Semuanya mencapai
tujuan masing-masing pula.” Maka wajib ada sikap hidup saling menghormati.
Di tengah dunia yang pecah belah dibalut pemaksaan kehendak dengan penyebaran
faham dan wabah nafsu kebendaaan yang membutatulikan kemanusiaan, ikut menyeret
Buya H. Mas’oed Abidin 4
Kemajemukan, Menghormati Identitas Masing-Masing
manusia menuju malapetaka besar kemanusiaan. Ketika itu, buktikan bahwa umat Islam
memegang amanat menjunjung tinggi kehidupan beragama, dan pandai hidup dalam
masyarakat majemuk.
± ´ ´ ` . ( '
( ` ( f
f ± ´ ( ±
' ´
“ …. dan Sekiranya Allah tiada menolak (keganasan) sebagian manusia dengan sebagian yang lain,
tentulah telah dirobohkan biara-biara Nasrani, gereja-gereja, rumah-rumah ibadat orang Yahudi dan
masjid- masjid, yang di dalamnya banyak disebut nama Allah. Sesungguhnya Allah pasti menolong
orang yang menolong (agama)-Nya. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha kuat lagi Maha perkasa,”
(QS.22, al Hajj : 40).
Dalam keadaan demikian itu jangan lari dari persimpangansiuran itu.
Janganlah uzlah menyendiri. Tetaplah berada di tengah-tengah persimpangsiuran itu.
Menjaga kemajemukan dengan berlomba-lomba bersama umat-umat dunia untuk
kebajikan sebagai tujuan hidup dari seorang Muslim.
Tunjukkan identitas selaku seorang Muslim. Berlomba menanam benih kebaikan.
Dan kalau itu sudah dijalankan, jangan pula be-riya atau takabur, dan bergagah diri.
Semua amalan itu hanya untuk dipersembahkan pada Illahi, moga diterima Allah SWT.
Karya amalan baik itu diberikan kepada sesama manusia tanpa diskriminasi, tanpa pilih
suku, agama, dll.
mat Islam mesti memiliki sikap lapang dada – hilm --, pemaaf, toleransi
dan penyayang
ِءامّ سسلا يِف ْ سنَم ُلا ُ سمُ كْ مَحْ رَ ي ِ سضْرَ لْ ا يِف ْ سنَم اْ وُمَ حْ را ،ُ سنَمْ حّ رلا ْ سمُهُ مَ حْ رَ ي َ سنْوُمِ حاّ رلا
(دواد وبأ هاور)
Orang-orang penyayang akan disayangi oleh Yang Maha Penyayang, maka
sayangilah penduduk bumi agar yang di langit ikut pula menyayangimu. (HR.Abu
Daud)
Kalau diterjemahkan kedalam perilaku keseharian umat di Indonesia, khususnya di
Sumatera Barat (Minangkabau), mestinya hidup dengan peribadi memuliakan sesama,
karena kokohnya iman yang dipunyai serta adat yang dipakai.
َنْ وُفَلْؤُ ي و َنْ وُفْلَأَ ي َ نْيِ ذّ لَا ،اًفاَنْ كَ أ َنْ وُؤِطَ وُ مْ لَا ،اًقُلُخ ْمُ هُ نَ سْ حَ أ اًناَ مْ يِ إ َنْيِ نِ مْ ؤُملا ُ لَمْ كَ أ (ميعن وبأ و يناربطلا هاور)
Iman orang-orang Mukmin yang paling sempurna adalah yang paling baik akhlaknya, lembut
perangainya, bersikap ramah dan disukai pergaulannya (HR.Thabrani).
6
Buya H. Mas’oed Abidin 5
U
Kemajemukan, Menghormati Identitas Masing-Masing
Bagi umat Islam, sudah jelas benar, hal ini diulang-ulang berkali-kali dan diperingatkan
oleh Allah SWT, bahwa upaya proselytisme itu akan selalu ada, maka umat Islam mesti
hati-hati. Seperti tegas disebutkan dalam Surat al-Baqarah : 109.

f

(

`

` ± ´

´

±

(

±


(

(

(

´ ·

´

´

·





±

·

` f

" Sebahagian besar ahli kitab menginginkan, agar mereka dapat mengembalikan kamu kepada
kekafiran setelah kamu beriman, karena dengki yang (timbul) dari diri mereka sendiri, setelah nyata
bagi mereka kebenaran. Maka ma'afkanlah dan biarkanlah mereka, sampai Allah mendatangkan
perintah-Nya. Sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.” (QS.2, Al-Baqarah : 109).
Atau juga dalam surat Al-Baqarah 120. Ketika ulama Islam mengingatkan umatnya
makna ayat ini dengan menyuruh umat berhati-hati serta membentengi akidah keluarga
dan generasinya, berperilaku sesuai ajaran Islam, berkawin-mawin serta beradab-sopan,
atau berbusana pakaian Islami, serta merta ditimpakan pernilaian tidak punya kepekaan
atas kemajemukan, bahkan anti pluralitas atau radikal. Ironis sekali.
Padahal, umat Islam berkewajiban memelihara hubungan horizontal, memelihara
solidaritas sesama atas dasar, bahwa seluruh manusia adalah kelauarga Allah, dan
paling disayangNya, adalah yang paling bermanfaat sesama hamba-hamba itu. Setiap
diri wajib memelihara serta mempertahankan damai dan menyelesaikan setiap
perselisihan secara damai pula. Umat Islam menyadari sepenuhnya, bahwa mereka
mempunyai tugas pendukung risalah dalam mewujudkan kemashalahatan umat banyak.
Maka, tidak boleh salah dalam mendasarkan sikap.
Umat Islam telah dijadikan sebagai umat pertengahan (ummatan wasathan), yang
berkewajiban terhadap persaudaraan dunia serta kemanusiaan. Umat Islam memiliki
kewajiban terlebih dahulu untuk menciptakannya dengan memulai dari diri sendiri.
Kewajiban mesti harus lebih dahulu ditunaikan sebelum hak menjadi tuntutan.
Kewajiban kita ialah, masing-masing kita, tanpa kecuali, benar-benar memelihara diri dan
keluarga kita daripada terjerumus dalam kekufuran. Sebagaimana peringatan Ilahi ;
Buya H. Mas’oed Abidin 6
Kemajemukan, Menghormati Identitas Masing-Masing
( ± ± `
´ ' ` ± ` (
( ( ` (

“ Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan
bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, keras, dan tidak
mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa
yang diperintahkan.” (QS.66, At-Tahrim : 6).
Memelihara identitas masing-masing dengan ketaatan adalah ikatan kuat bagi sikap
kemajemukan itu. Tiap-tiap rumah tangga harus menjadi benteng akidah dan keyakinan
masing-masing individu. Agama Islam sangat menekankan adanya budi pekerti. Agama
Islam memberikan semangat persaudaraan kepada semua manusia, yang menjadi syarat
untuk menghindar dari kenistaan pertentangan paham-paham yang telah menimbulkan
kesulitan-kesulitan yang berbahaya.
Solusi Islam adalah kesadaran bahwa persatuan dan persaudaraan adalah karunia
Allah, atas dasar “kalimatin sawa” atau kata persamaan, yakni kemestian menyusun
lapis umat dengan tertib membangun perilaku saling menghargai dengan pengertian,
melalui cara mendidik sifat, menyusun perpaduan dan mengembangkan cita-cita Islam
sebagai tata cara hidup, sesuai akhlaq umat yang rahmatan lil-‘alamin. Tanpa rasa
hormat, kemajemukan hanya sebuah istilah. Penindasan hak-hak asasi, akan merusak
kesatuan bangsa dengan bermacam-macam agama (multi religi) ini.
` ` ` ± ´ ´ · ` . ` f
± .
(
´ · ´ ` (
“ Katakanlah: "Hai ahli Kitab, Marilah (berpegang) kepada suatu kalimat (ketetapan) yang tidak ada
perselisihan antara Kami dan kamu, bahwa tidak kita sembah kecuali Allah dan tidak kita
persekutukan Dia dengan sesuatupun dan tidak (pula) sebagian kita menjadikan sebagian yang lain
sebagai Tuhan selain Allah". jika mereka berpaling Maka Katakanlah kepada mereka: "Saksikanlah,
bahwa Kami adalah orang-orang yang berserah diri (kepada Allah)".(QS.3, Ali Imran : 64).
ntisarinya ialah supaya "agama yang satu jangan menjadikan agama lain
menjadi sasarannya." Artinya, seluruh masyarakat Indonesia yang beraneka
agama ini, sama-sama saling tenggang rasa dan hormat menghormati satu
sama lain. Keyakinan agama tidak dapat dilepas dari tatakrama satu
masyarakat yang sudah diterima turun temurun.
Buya H. Mas’oed Abidin 7
I
Kemajemukan, Menghormati Identitas Masing-Masing
Umat Islam memang cukup diberi perbekalan oleh agamanya, agar pandai-pandai
menempatkan diri dalam satu masyarakat, dimana ada bermacam aliran agama:
´ ( . ± · ( ´
"Kebenaran itu adalah dari Tuhanmu, sebab itu jangan sekali-kali kamu termasuk orang-orang yang
ragu.” (QS. 2, Al-Baqarah : 147).
± ´ `
´ ´ ( ´ ·
· ´ ` ´
"Allah tidak melarang kamu berbuat dan berlaku adil terhadap orang-orang yang tidak memerangi
kamu dalam urusan agama, dan (orang-orang) yang tidak mengusir kamu keluar dari kampung
halamanmu. Sesungguhnya Allah cinta kepada orang yang berlaku adil ". (QS. Al-Mutahanah 8).
±´ ` ´
f ( · ±
´ · ( ' ´
` ´
“ Sesungguhnya Allah hanya melarang kamu menjadikan sebagai kawanmu orang-orang yang
memerangimu karena agama dan mengusir kamu dari negerimu, dan membantu (orang lain) untuk
mengusirmu, dan barangsiapa menjadikan mereka sebagai kawan, maka mereka itulah orang-orang
yang zalim.” (QS. Al-Mumtahanah 9).
INGKASNYA INGKASNYA: :
1. Harus ditanamkan kesadaran mendalam bahwa bumi Allah ini diisi
oleh bermacam-macam aliran keyakinan, paham, dan agama.
Karena itu, berpedoman dengan ayat diatas, umat Islam tidak
dibenarkan menyisihkan diri dari masyarakat campuran itu, malah
umat Islam mesti berkecimpung didalamnya dengan berlomba-lomba menegakkan
kebajikan untuk umat manusia tanpa diskriminasi.
2. Sekedar berbeda agama tidak menghalangi umat Islam ini untuk berbaik budi dan
hidup rukun dengan sesama manusia yang bukan beragama Islam. Akan tetapi kita
tak bisa bertepuk sebelah tangan. Yang tidak bisa dipersahabati oleh umat Islam ini
hanyalah mereka yang memusuhi agama Islam itu, dan yang berkeinginan kuat
untuk mengubah aqidah dan identitas Islam itu.
3. Yang perlu dijaga oleh setiap generasi Islam, adalah janganlah menganggap orang
Islam ini sekalipun larat-melarat dan masih dhuafak dalam materi ataupun
intelektualnya, jangan dianggap sebagai animis yang perlu pula dipindah-alihkan
keyakinan mereka terlebih dahulu untuk "mempercepat proses development".
Buya H. Mas’oed Abidin 8
R
Kemajemukan, Menghormati Identitas Masing-Masing
4. Mari kita kembali kepada “kalimatan sawaa’ “, tentunya tidak akan ada diantara
kita yang mau meninggalkan penyembahan kepada Allah Yang Maha Esa.
Ketahuilah, bahwa umat Islam sudah berkeyakinan dengan agama Risalah ini.
Untuk itu, umat Islam diwajibkan berpegang teguh hanya kepada tali Allah. Maka
jangan diganggu identitas yang sudah ada, baik dalam adat, maupun keyakinan.
Agar jangan terjadi, akibat menompangnya "riak proselytisme dengan gelombang
globalisasi", akhirnya ombak menghempas di tengah lautan, sebelum mencapai
pantai harapan. Badai datang dan bencanapun tiba.
Umat Islam berkewajiban menolak pemahaman serta tunduk kepada adanya permusuhan
antara golongan dalam masyarakat yang terkam menerkam serta terlepas dari tali Allah.
Na'uzubillahi min zhalik!
Padang, 4 Juli 2007
Buya H. Mas’oed Abidin 9
1
Jika dipindahkan orang bandar (irigasi) sawah, dialih orang batas sepadanan (batas tanah hak milik),
apabila diubah kata pusaka (adat budaya yang sudah diakui sejak lama), jika dianjak orang kata yang benar (artinya
hilang prinsip musyawarah dan saling menghargai, atau hilangnya law-enforcment dan berlaku penjajahan dan
penginjakan hak-hak asasi), maka, “busungkan dada dan perkuat tempat tegak, perlihatkan bahwa kita memiliki sifat
laki-laki -- artinya, tidak boleh dianggap remeh saja --. Jangan takut nyawa melayang, walau beribu cobaan yang
datang, tetaplah berdiri sebagai pembela yang benar. Jangan cemas darah tertumpah. Terbujur lalu terbelintang
patah. Esa hilang dua terbilang.
2
Pada tahun 1953, masyarakat Pasaman telah membuktikan kemajemukan bermasyarakat, menerima saudara
sebangsa setanah air dari Jawa dan Suriname, yang ditempatkan di Kecamatan Pasaman. Kedatangan mereka
diterima penduduk sebagai saudara dalam sesuku, ”berat sepikul ringan akan sejinjing”. Saudara baru itu ditempatan
di atas tanah-tanah ulayat penduduk Pasaman tanpa ganti rugi, berdasarkan penyerahan hak tanah ulayat oleh
Ninik Mamak nagari bersangkutan dalam istilah adat, "Inggok mancangkam, tabang basitumpu. Dima bumi di pijak
di sinan langik di junjung".. Artinya pendatang (transmigran) itu tunduk pada ketentuan adat-istiadat yang berlaku,
dan diterima sebagai anak kemenakan, dalam hukum adat Minangkabau yang beragama Islam (Dokumen 9 Mei
1953).
Sejak tahun 1953 tercatat penyerahan tanah ulayat masyarakat, ”... pada bulan Mei 1953 sebagian Ulayat Tongar
Air Gadang, Ulayat Kapar (Padang Lawas), dan 9 Mei 1953 Ulayat Koto Baru (Mahakarya), dan tanah ulayat Desa
Baru, untuk transmigrasi dari Suriname di daerah Sungai Beremas. Tahun 1957, Kota Raja, Kenagarian Parit,
Sungai Beramas. Tanggal 26 September 1961 penyerahan tanah Ulayat Kinali Bunut Alamanda, Kecamatan
Pasaman. Pada 25 April 1964, sebagian Ulayat Kinali Lepau Tempurung, Kecamatan Pasaman. Tahun 1965, Air
Runding, Kenagarian Parit Kecamatan Sungai Beramas".
Pasaman adalah daerah yang memelihara kemajemukan dan toleransi besar. Hubungan keakraban berlangsung baik
sampai akhir tahun 1956, karena pada 30 November 1957, Kepala Nagari Kapar (Dulah) bersama dengan Pucuk Adat
(Daulat Yang Dipertuan) dan Ninik Mamak (Dt. Gampo Alam) yang dikuatkan oleh Alim Ulama (Buya Tuanku
Sasak) serta Cerdik Pandai, menolak "permintaan umat Katolik tersebut di dalam lingkungan ulayat (tanah adat)
Koto Baru dan Kapar ”.
Sejak setengah abad lalu, orang Pasaman berkata, "Kami segala pemangku adat, alim-ulama, cerdik-pandai tetap
tidak setuju, apalagi negeri kami ini dusun, bukanlah kota, kalau di kota kami tidak berkeberatan sedangkan
masyarakat transmigrasi sudah menurut adat kami, dan berkorong berkampung – di ulayat kami--."( Kutipan
dokumen Pemda Pasaman tanggal 30-11-1957).
Sungguh begitu pedih, masyarakat tidak terhalang menyerahkan tanah ulayat mereka. Pada tanggal 26 September
1961, Kerapatan Adat Nagari Kinali, ditandatangani 27 Ninik Mamak,3 Alim Ulama, 3 Cerdik-pandai mewakili 100
anggota KN atas nama penduduk Nagari Kinali, menyerahkan tanah ulayat untuk penampungan warga pendatang
tanpa ganti rugi, dengan batas-batas : ” dari Muara Batang Pinagar ke Pangkalan Bunut , dari Pangkalan Bunut
sampai ke Muara Sungai Balai, dari Muara Sungai Balai sampai ke Tanda Batu (sepanjang 1 Km), dari Tanda Batu
sampai ke Kampung Barau, dari Kampung Barau ke Kampung Teleng, dari Kampung Teleng, sampai ke Muara
Batang Tingkok, dari Muara Batang Tingkok ke Muara Batang Timah, dari Muara Batang Timah Kanan hilir Batang
Masang sampai ke Aur Bungo Pasang, dari Aur Bungo Pasang ke Muaro Batang Bunut, dari Muaro Batang Bunut
ke Muaro Batang Pinagar". Penyerahan tanah tersebut dikuatkan dengan syarat, bahwa, "orang-orang transmigran
itu adalah sama-sama warga negara yang pada azasnya mempunyai hak dan kewajiban yang sama dengan
penduduk asli negeri Kinali terhadap Pemerintah dan adat istiadat setempat". (Kutipan dokumen kerapatan
Adat Nagari Kinali No. 01/KANK/1961 tgl. 26 September 1961, di atas meterai Rp. 3,- 1953). Bahkan Gubernur
Sumatera Barat menguatkan, “"Orang-orang transmigran diwajibkan mentaati segala peraturan umum dan daerah
serta adat-istiadat setempat." (Kutipan dokumen pernyataan Gubernur KDH Prop. Sumatera Barat tgl. 30 Sept. 1961
No. 62/Trm/GSB/1961 dari salinan M.J. Jang Dipertuan).
Di tahun 1973, di tepi Sungai Sampur Panti, di atas tanah ulayat yang diserahkan oleh Ninik Mamak Panti kepada
pendatang Tapanuli yang pada mula mengaku beragama Islam, ternyata terdapat 50 buah rumah jemaat kristiani,
yang memberi nama kampung tersebut dengan Kampung Masehi. Akhirnya misionaris ini yang menjadikan duri
dalam daging dalam kerukunan bersama akibatnya dirasa pada kemajemukan, menjadi hambar dan terganggu.
3
Ternama anak laki-laki, sebelum ajal berpantang mati, walau beribu cobaan datang menjelang, namun mati
hanya sekali.
4
Kasus Wawah, berkedok pelecehan susila, berujung pindah agama, atas seorang putri muslimah KHAIRIYAH
ENNISWAH alias Wawah, lahir di Bengkulu tanggal 13 Februari 1981. Kasus ini menyangkut pelaku-pelaku
YANUARDI KOTO asal suku KOTO LUBUK BASUNG Kabupaten AGAM Sumatera Barat, beragama Kristen
Protestan, pekerjaan Penginjil, berpendidikan Sekolah Tinggi Theologi Injil Indonesia Yogyakarta yang dibantu oleh
beberapa orang lainnya. Wawah dimasukkan ke SMU Kalam Kudus Padang dengan memalsukan ijazah Tsanawiyah
menjadi Ijazah SMP. Perkara ini diperiksa oleh Kejaksaan Negeri Padang pada Maret hingga Agustus 1999. Kejadian
ini mencabik kehormatan gadis Muslimah Khairiyah (Wawah), pemindahan agama secara tidak rela, dalam
lingkungan adat istiadat yang bersendi syarak, namun pihak luar negeri menuduh Sumatera Barat dan Pemerintah
Indonesia telah melanggar hak asasi orang kristiani di Minangkabau. Inilah satu diantara banyak kasus yang perlu
diawasi amat hati-hati oleh kemajemukan dan keumatan.
5
Contoh kasus rusaknya kerukunan beragama dalam kaitan kemajemukan (pluralitas) karena kasus proselytisme.
Pada tahun 1997, Ranah Minang dikejutkan dengan beredarnya Injil Berbahasa Minang yang diterbitkan oleh
Lembaga Al Kitab Jakarta. Ketika itu, para ulama pemuka masyarakat masih mampu meredam suasana. Walaupun
ketika itu, di beberapa daerah di tanah air sedang dilanda kemelut besar, seperti peristiwa Situbondo, dan lainnya.
Kepekaan pluralitas (kemajemukan) yang dipunya pemuka agama di Sumatera Barat -- Dewan Da’wah bersama
Majlis Ulama Sumatera Barat (Ahmadillah, Sekretaris) dan Kanwil Departemen Agama Sumatera Barat (Adly Etek)
-- ketika itu (Januari 1997), meminta kepada Komandan Korem 032 Wirabraja dan Pemda Sumatera Barat, agar
menarik Injil dimaksud dari peredaran, sehingga keamanan dan ketenteraman umat dapat dijaga dalam
kemajemukan. Ini dilakukan demi masyarakat tidak menjadi heboh. Akhirnya bersama-sama dengan Kejaksaan
Tinggi Sumatera Barat, Injil Berbahasa Minang dapat ditarik dan disita (kemudian diketahui, jumlahnya lebih dari
7000 buah).
6
HR.Thabrani di dalam al Ausath dan Abu Nu’aim dari Ibnu Sa’ad. Albani menghasankan di dalam Shahih
al Jami’ as-Shaghir.

H. MAS’OED ABIDIN
TEMPAT/TANGGAL LAHIR : Koto Gadang Bukittinggi, 11 Agustus 1935
AYAH dan IBU : H.Zainal Abidin bin Abdul Jabbar Imam Mudo dan Khadijah binti Idriss,
Suku : Piliang
RIWAYAT PENDIDIKAN : Surau Lakuak, Madrasah Rahmatun Niswan Koto Gadang, Thawalib Lambah Syekh
Abdul Muin, Thawalib Parabek, SR KGadang, SMP II Bukittinggi, SMA Bukittinggi,
FKIP Medan (1963).
Pengalaman Organisasi : Sekum Komda PII Tapsel (1961-1963), Ketum HMI Sidempuan (1963-1966), KAMI
Medan (1966-1967), Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia (1967-sekarang), Direktur
Eksekutif Pusat Pengkajian Islam dan Minangkabau (PPIM) Prov, Sumbar (2001-
2007), Ketua MUI Sumbar (2001-2007), Ketua Umum BAZ Prov Sumbar (2001-2008)
Wk.Ketua Dewan Penasehat MUI Sumbar (sekarang).
JABATAN SEKARANG : Ketua Umum Forum Kewaspadaan Dini Masyarakat (FKDM) Prov
Sumbar
ALAMAT SEKARANG : Jalan Pesisir Selatan V/496 Siteba Padang (KP - 25146), Fax/Telepon 0751-7052898,
Tel:0751-7058401.
LAIN-LAIN:
Personal Web-site/Mailing list : http://masoedabidin@yahoogroups.com
http://blog Buya Mas’oed Abidin/Wordpress.com/
Email masoedabidin@yahoo.com
buyamasoedabidin@gmail.com
Buku yang sudah diterbitkan ;
1.
Islam Dalam Pelukan Muhtadin MENTAWAI, DDII Pusat, Percetakan ABADI, Jakarta - 1997.
2.
Dakwah Awal Abad, Pustaka Mimbar Minang, Padang - 2000.
3.
Problematika Dakwah Hari Ini dan Esok, Pustaka Mimbar Minang, Padang – 2001.
4.
Pernik Pernik Ramadhan, Pustaka Mimbar Minang, Padang – 2001.
5.
Suluah Bendang, Berdakwah di tengah tatanan Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah di Minangkabau,
Pustaka Mimbar Minang, Padang - 2001.
6.
Surau Kito, PPIM – Padang, 2004.
7.
Adat dan Syarak di Minangkabau, PPIM – Padang, 2004.
8.
Implementasi ABSSBK, PPIM – Padang, 2005.
9.
Silabus Surau, PPIM – Padang, 2005.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful