Ramadhan, “Marhaban bil Muthahhir”

Oleh: H.Mas’oed Abidin

T

idak berapa lama lagi, kita akan memasuki Bulan Ramadhan. Bagi umat Islam, Ramadhan merupakan satu bulan mulia yang senantiasa ditunggu secara khusus dan penuh kegembiraan. Bulan ibadah dan bulan pengampunan. Keyakinan ini telah mengakar hingga tampak pada prilaku orang-orang dalam menyambutnya dan menghormatinya. Berbekas pula pada adat kebiasaan anak negeri, khususnya dibeberapa daerah yang masih kokoh dengan adat budayanya. Ramadhan adalah penghulu sekalian bulan, dinamai bulan puasa sesuai ibadah yang dilaksanakan sepanjang bulan itu. Orang Minang menyebutnya juga dengan “bulan basaha” (saha = sahur, satu bentuk Sunnah Rasul yang diujudkan dalam makan parak siang sebelum terbitnya fajar, menurut bimbingan ibadah shaum (puasa) mendahului imsak).

Tatkala Ramadhan datang menjelang, Rasulullah SAW menyambut dengan ucapan :” marhaban bilmuthahhir”, artinya, “selamat datang wahai pembersih”. Sahabat yang mendengar bertanya,“Wa mal muthahhiru ya Rasulullah?, (siapakah yang di maksud pembersih itu, wahai Rasulullah?)”. Rasulullah SAW menjawab “al-muthahhiru syahru Ramadhana, yuthahhiruna min dzunubii wal ma’ashiy (pembersih itu adalah Ramadhan, dia membersihkan kita dari dosa dan ma’shiyat)”.
Marhaban artinya, ’ruangan luas tempat perbaikan untuk mendapatkan keselamatan dalam perjalanan’. Kata-kata ini kerap dipakai untuk menyambut dan menghormat tamu yang mulia. Bermakna ungkapan selamat datang. Ucapan ini menyiratkan makna kegembiraan menyambut kedatangan tamu mulia –bulan Ramadhan— disertai kesiapan dan kelapangan waktu maupun tempat, hingga orang dapat leluasa melakukan amalan (tindakperbuatan) yang berkaitan dengan mengasuh dan mengasah jiwa untuk mewujudkan keberhasilan dan kebersihan bersamanya. Bersih (diri dan jiwa) adalah bukti ketaqwaan seseorang. Puasa (shaum) merupakan ibadah khusus dalam bulan Ramadhan,

niscaya sangat berperan membersihkan diri pelakunya (shaimin), manakala bisa menerapkan sikap dan amalan-amalan terpuji tadi.

2

Bimbingan Allah Subhanahu Wa Ta’ala, jelas menyebutkan di dalam Al Quranul Karim, yang artinya ; ”Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu (pengikut Taurat dan Injil) agar kamu bertaqwa (tetap terpelihara, bersih dari dosa dan makshiayat)”. (QS.2, al Baqarah,ayat 183). Ramadhan telah ditetapkan sebagai bulan pelaksanaan puasa juga terhadap umat terdahulu (dalam Taurat, Zabur dan Injil), dan dipilih sebagai bulan turunnya Kitabullah (AlQuran) kepada Muhammad SAW. Al Quran dipersiapakan sebagai petunjuk, bimbingan, pembeda untuk benar dan salah, dan berisikan penjelasan-penjelasan paradigma hidup manusia. Dalam kehidupan orang Minang yang beradat dengan indikasi beragama Islam, maka bulan Ramadhan mendapat tempat yang khusus sejak doeloe. Setiap Mukmin bila datang bulan Ramadhan wajib mengerjakan ibadah shaum (puasa). Bila telah mukallaf (baligh berakal) mesti mengerjakan ibadah puasa secara sadar dan penuh ketaatan (ketaqwaan). Allah telah menyediakan rukhsah (keringanan) dengan mengganti puasa Ramadhan dihari (bulan) lain atau menukarnya dengan pembayaran fidyah (memberi makan orang miskin) bagi orang-orang sakit (tua), musafir (melakukan perjalanan) dan tidak memiliki kesanggupan berpuasa dibulan suci itu. Keringanan ini merupakan bukti kasih sayang Allah, dan bukti pula bahwa Agama Islam adalah ajaran yang tidak memberatkan, sehingga tidak ada alasan seseorang Mukmin menolak melaksanakannya. Pada hakekatnya semua ibadah (termasuk puasa) adalah pembuktian seorang apakah ia benar beriman dan mampu bersyukur (berterima kasih) kepada Allah yang telah menjadikan dirinya, menyiapkan kehidupan baginya dan menyediakan segala sesuatu keperluannya untuk hidup ini. Dengan demikian haruslah dipahami bahwa umumnya ibadah (diantaranya puasa) sesungguhnya bukti nyata kesiapan seseorang dalam melaksanakan perintah-perintah Allah dengan jujur. Kejujuran
2

kepada Allah tampak secara pasti pada kesediaan melaksanakan imsak (menahan) nafsu dari makan, minum, bersebadan (sanggama) suami istri di siang hari (sejak mulai imsak hingga datangnya waktu berbuka), atau selama masa basaha itu, juga kesediaan menunaikan semua aturan-aturan berkenaan dengan ibadah yang tengah dilakukan itu. Bagi orang Minang sangat dimengerti puasa dibulan Ramadhan tidak sekedar hanya menahan makan dan minum dalam

3

pengertian umumnya. Lebih khusus lagi, melatih diri senantiasa teguh dalam “menjauhi tegah dan mengerjakan suruh.” Bertindak tidak senonoh dan kurang terpuji seperti bersuara keras, berbohong, memperkatakan orang (bergunjing), menyakiti perasaan orang lain, berakibat mendapatkan peringatan keras dari warga masyarakat sejak doeloe karena dianggap bisa membuat puasa seseorang bata (batal). Inilah yang senantiasa diingatkan, maka bulan puasa dijadikan arena pelatihan fisik dan kejiwaan, pada akhirnya berbekas kepada tindak laku disiplin diri dalam mengangkat harkat martabat (izzatun-nafs) ditengah pergaulan bermasyarakat. Ibadah puasa adalah ibadah besar yang tegolong kepada jihadun-nafs (pembentukan watak) sabar, setia, taat, dan sifat utama lainnya, sesuai bimbingan Rasulullah SAW; “Man shaama Ramadhana Imanan wah tisaaban, ghufira lahu maa taqaddama min dzanbihi” (Al Hadist). Artinya,”Siapa saja yang melaksanakan puasa (shaum) Ramadhana dengan iman dan ihtisab (perhitungan-perhitungan menurut syaratsyarat puasa, memelihara segala aturan-aturan puasa), maka di ampuni dosa-dosanya terdahulu”. Inilah suatu kesempatan besar yang di janjikan kepada setiap orang yang menunaikan badah puasa didalam Ramadhan, semoga kita semua sempat melaksanakan dan merasakan nikmatnya tahun ini. Insya Allah.

4

Balimau, persenyawaan adat dan agama di Minangkabau
Bagi orang Minangkabau (Sumatera Barat), Ramadhan yang dipandang sebagai bulan agung merupakan suatu peristiwa yang dinantikan dan sangat di rindui. Kita sudah terbiasa menyambutnya dengan suatu acara yang khas dan hampir teradatkan, bahkan merupakan penggambaran nyata dari rangkaian adat bersendi syarak, syarak bersedi kitabullah. Kedatangannya dinanti dengan acara balimau. Walaupun tidak ada nash syar’ii sebagai satu kaitan ibadah wajib atau sunat dalam menyambut Ramadhan, tetapi masyarakat Minang secara sadar mengadopsinya sebagai suatu upacara yang tidak dapat dilepas dari kegiatan ritual ibadah Ramadhan (shaum). Acara balimau dinilai berdampak positif dalam tataran kehidupan masyarakat Minangkabau masa dahulu. Pada masa lalu terlihat yang di kembangkan pada “acara balimau” diantaranya kegiatan “jelang menjelang” antara anak-menantu menjelang orang tua dan mertua, kemenakan mendatangi mamak serta karib kerabat. Acara balimau dipakai sebagai sarana untuk penyegaran jiwa pembersihan hati membasuh raga mengangkat daki. Satu jalinan antara kegiatan adat dengan kemasan ajaran agama Islam, sehingga menjadikan peristiwa balimau ini indah sekali. Penekanan ajaran agama Islam dalam kehidupan bermasyarakat yang awalnya dari memelihara hubungan silaturrahmi dan saling memaafkan kesilapan/kesalahan sesama sangat berperan menumbuhkan perangai mulia (akhlaqul
4

karimah) diantaranya pemurah kepada semua orang dikalangan keluarga sekampung ‘karib bait’, akan pasti melahirkan jalinan hubungan harmonis dalam struktur kekeluargaan masyarakat Minangkabau. Yang jauh pulang menjelang, yang dekat datang bertandang. Sedikit banyak dibawa pula antaran berupa buah tangan cenderahati pertanda telah datang hari baik bulan baik. Wajah yang cerah, hati bersih dengan muka berseri-seri mengawali masuknya Ramaadhan setiap tahunnya pembuka ibadah shalat tarawih, tadarus Al Quran di masjid-masjid dan surausurau, dengan segala aturan jelas terpelihara. Yang tua-tua dihormati, yang muda disayangi, begitu gambaran susunan kehidupan bermasyarakat dengan ikatan aturan-aturan adat yang terpelihara turun temurun, dalam satu garisan ajaran Islam. Melalui tatanan ini dirasakan nikmat datangnya Ramadhan setiap tahun, merupakan idaman dan penantian. Pada tahun-tahun terakhir ini dambaan dan idaman serupa jarang ditemui. Kecendrungan membaurkan antara hak dan bathil, antara suruhan dan tegah, antara ibadah dan makshiyat, menjadi nyata dalam kebiasaan keseharian dan amat mencemaskan. Acara-acara balimau, tidak lagi menggambarkan rasa persaudaraan (ukhuwwah). Perilaku bersih (ikhlas) telah banyak di bumbui oleh hura-hura dan foya-foya. Perubahan dan pergeseran nilai-nilai budaya terasa sekali menerpa. Corak warna penyambutan suatu ibadah yang sakral ini mulai sirna. Yang banyak tersua adalah pembauran muda remaja melepaskan rindu dendam, mungkin karena sebulan mendatang ada kemungkinan jarang boleh bersua. Masjid dan langgar tetap juga ramai tetapi diluar dalam langgam dan ragam nan mudo-mudo. Seakan-akan orang Minangkabau tidak lagi hidup didalam keindahan kultur budayanya.Mereka mulai larut dalam kebudayaan tak berbudaya. Budaya sinkretik (lapis atas campur aduk) dan gaya hidup hedonistik (mambuek apo nan katuju). Budaya menurut alur yang pantas dan patut dianggap sudah ketinggalan zaman, minta dirombak dan ditukar. Lubuk, teluk, sungai, danau, pantai, ngarai, lembah, bukit, semak belukar jadi ramai dikunjungi pencinta acara balimau. Jalan raya dipadati kenderaan yang berpacu tak beraturan. Meningkatnya angka kecelakaan dan pelanggaran lalulintas, sudah dianggap indikasi meriahnya acara-acara balimau kini. Petugas keamanan menambah jumlah dan waktu tugas. Rumah-rumah sakit ikut memperbanyak tenaga para medis, dan obat-obatan. Ambulance disiap siagakan penuh melebihi jumlah

5

sebelumnya. Wartawan sibuk memantau berita kecelakaan, membuat catatan perbandingan dengan tahun sebelumnya. Besok hari dikala Ramadhan mulai masuk surat-surat kabar akan memberitakan korban yang jatuh dalam acara balimau menyambut bulan puasa. Itulah yang sering kita temui pada beberapa tahun terakhir ini. Keadaan yang sebenarnya jauh panggang dari api. Acara balimau tidak lagi indah dan bersih, tapi mulai suram dan sedih.

6

Raso jo pareso mulai kurang berperan. Raso dibao turun, pareso kaalam nyato hanya ada pada sebutan. Pergaulan sangat permisif, sawah tak lagi berpematang, ladang tidak lagi berbintalak. Anak dipangua kamanakan dilantiangkan, adalah bentuk kehidupan permisivistik yang tidak bertemu dalam tataran kebudayaan Minangkabau sejak dahulu. Ninik mamak nan gadang basa batuah, berperan mengamankan anak kemenakan, bertukar sebut dengan memakan kemenakan. Semua kondisi itu berubah karena alam fikiran adat kita menjadi dangkal sebatas pidato dalam rangkaian pepatah dan petuitih. Begitulah jadinya kalau ajaran agama hanya pada sebutan dan adat menjadi mainan. Bila hal ini diingatkan,tidak jarang tuduhan dan cacian akan dialamatkan dengan gelaran sumbang “kolot tak mengenal kemajuan zaman”. Na’udzubillah. . Ramadhan dan tahun baru. Tahun ini bulan puasa berdekatan dengan tahun baru miladiyah (1998). Penyambutan tahun baru yang sudah menjadi trendy-nya kaum muda, sungguh berbeda dengan menanti Ramadhan, syahrul mubarak. Penyambutan Ramadhan didorong oleh kesadaran diri dari dalam (inner side) untuk siap memelihara kebersihan yang berbekas pada ketundukan dan kepatuhan, serta berbuah kepada iman, shabar, syukur dan bertaqwa (berhati-hati) senantiasa. Sungguh beda dengan old and new ditahun-baru. Penyambutan tahun baru terlihat meriah dengan banyaknya remaja turun kejalanan dengan kegembiraan hura-hura disungkup kabut pemabukan diri.

Tepat sekali kebijakan Pemda DKI Jaya, yang mengeluarkan pengumuman jauh hari, supaya perayaan tahun baru yang sulit memisahkan dari perlakuan mabuk-mabukan, istimewa dalam acara old and new itu tidak diadakan lagi,(minimal sebagai
6

menghormati bulan suci Ramadhan, yang kebetulan datangnya bersamaan). Suatu himbauan simpatik yang perlu didengarkan oleh segala pihak.

7

Tahun Baru (1998) yang kali ini beriringan dengan Ramadhan (1418 H), baiknya kita peringati dengan banyak dzikir di Masjid, melakukan hisab dan introspeksi. Kelak pasti akan berbuah pada percepatan tindakan dalam memacu kemajuan masa datang. Pembangunan fisik sungguh amat ditentukan keberhasilannya dengan lebih dahulu diawali oleh pembangunan jiwa (mental spiritual). Seorang penyair Muslim (Syauqy Bey) telah mengingatkan dalam sebuah hasil sastranya yang berhikmah, “innama umamul akhlaqu maa baqiyat, wa inhumu dzahabat akhlaquhum dzahabu”, yang bila diartikan bermaksud “tegaknya rumah di atas sendi, sendi runtuh rumah binasa., tegaknya bangsa karena budi, budi hilang, han curlah Bangsa”. Inilah rahasia dalam Ajaran Rasulullah SAW, bahwa bangsa yang kuat adalah bangsa yang kokoh taqwanya, dan baik akhlaqnya. Nabi mengingatkan bahwa kehadiran beliau; “innama bu’its-tu li utammi makarimul akhlaq”, yakni “aku di utus untuk menyempurnakan akhlaq (buidi pekerti) manusia”. Di ranah bundo Minangkabau, senantiasa kita diingatkan dengan sebuah untaian kata-kata indah ; “nan kuriak kundi, nansirah sago, nanbaik budi nan indah baso”, atau kata-kata penyair Minangkabau yang amat dalam artinya ; “Pulau Pandan jauh di tangah, dibaliak pulau si angso duo, hancua badan di kanduang tanah, budi baik dikana juo.” Sumatera Barat di Minangkabau sebagai “negeri beradat”, dengan adatnya bersendi syarak, dan syarak bersendi Kitabullah , selamanya tetap bisa berperan dalam pembangunan bangsa dan negara, bila selalu terjaga adat dan agama berjalinan berkulindan dalam tindak perbuatan sehari-hari,dalam seluruh starata masyarakat dan pimpinannya. Insya Allah, Wallahu a’lamu bish-shawaab. Wassalamu’alaikum Warahmatullahi Wanarakatuh. Padang, 20 Desember 1997.

8

8

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful