SEJARAH DAN PERANAN NU DALAM PEROLEHAN SUARA PPP PADA TAHUN 1973-1984 DI KABUPATEN PEMALANG

SKRIPSI Disusun sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Pendidikan Jurusan Sejarah

Oleh: MAOLANA SYARIF H 3101402021

JURUSAN SEJARAH FAKULTAS ILMU SOSIAL UNIVERSITAS NEGERI SEMARANG 2007

i

PERSETUJUAN PEMBIMBING

Skripsi ini telah disetujui oleh pembimbing untuk diajukan ke sidang panitia ujian skripsi pada: Hari Tanggal : :

Dosen Pembimbing I

Dosen Pembimbing II

Drs. Subagyo, M. Pd. NIP. 130818771

Drs. Ibnu Sodiq, M. Hum. NIP. 131813677

Mengetahui, Ketua Jurusan Sejarah Fakultas Ilmu Sosial

Drs. Jayusman, M. Hum. NIP. 131764053

ii

PENGESAHAN KELULUSAN

Skripsi ini telah dipertahankan di depan panitia ujian skripsi Fakultas Ilmu Sosial, Universitas Negeri Semarang pada: Hari Tanggal : :

Penguji Skripsi

Drs. Ba’in, M. Hum. NIP. 131876207

Anggota I

Anggota II

Drs. Subagyo, M. Pd. NIP. 130818771

Drs. Ibnu Sodiq, M. Hum. NIP. 131813677

Mengetahui, Dekan

Drs. Sunardi, M.M NIP. 130367998

iii

PERNYATAAN

Saya menyatakan bahwa yang tertulis dalam skripsi ini benar-benar hasil karya saya sendiri, bukan jiplakan dari karya tulis orang lain, baik sebagian atau keseluruhan, pendapat atau temuan orang lain yang terdapat dalam skripsi ini dikutip atau dirujuk berdasarkan kode etik ilmiah.

Semarang, Agustus 2007

Maolana Syarif H NIM. 3101402021

iv

MOTTO DAN PERSEMBAHAN

MOTTO: “Keindahan hidup akan tercipta bila ada sebuah kejujuran, ketulusan kasih sayang dan hati untuk mencapai ridhlo Sang Khaliq” (Penulis) “Hidup akan lebih bermakna ketika hati kita kaya akan rasa syukur atas segala rahmat dan hidayahNya,,,” (Penulis)

PERSEMBAHAN: Abah dan umi tercinta yang selalu berdo’a, berusaha, dan tulus mencurahkan segala kasih sayangnya serta kedua kakakku “mba’ dan Agus” yang selalu mendorong semangatku Keponakan-keponakanku tersayang;Nauval, Zidane, dan Nana yang selalu mengisi hari-hari dan setiap langkahku “seseorang” yang paling kusayangi, thanks for all,,, Teman-teman seperjuangan di wisma Musyafir, kapan kita bertemu lagi,,, Teman-teman seperjuangan Pendidikan Sejarah’ 02 Almamaterku

v

KATA PENGANTAR

Segala puji bagi Allah rasa syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah melimpahkan rahmat dan hidayahNya, sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi ini. Skripsi ini merupakan salah satu persyaratan untuk memperoleh gelar Sarjana Pendidikan di Jurusan Sejarah Fakultas Ilmu Sosial Universitas Negeri Semarang. Penulis menyadari bahwa penulisan ini tidak terlepas dari bentuan dari berbagai pihak. Oleh karena itu, dalam kesempatan ini dengan penuh kerendahan hati penulis menyampaikan rasa terimakasih yang sebesar-besarnya kepada: 1. Prof. Dr. H. Sudijono Sastroatmojo, M. Si, Rektor Universitas Negeri Semarang yang telah memberikan kesempatan kepada penulis untuk menimba ilmu dengan segala kebijakannya. 2. Drs. Sunardi, M.M, Dekan Fakultas Ilmu Sosial Universitas Negeri Semarang yang dengan kebijakannya sehingga penulis dapat

menyelesaikan studi dengan baik. 3. Drs. Jayusman, M. Hum, Ketua Jurusan Sejarah Fakultas Ilmu Sosial Universitas Negeri Semarang yang telah mengarahkan penulis dalam melakukan studi. 4. Drs. Subagyo, M. Pd, Pembimbing I atas bimbingan, arahan, masukan , da waktunya dalam membantu penyusunan skripsi ini hingga selesai.

vi

5. Drs. Ibnu Sodiq, M.Hum, Pembimbing II atas bimbingan, arahan, masukan, dan waktunya dalam membantu penyusunan skripsi ini. 6. Drs. Ba’in, M.Hum, Penguji skripsi atas bimbingan, arahan, masukan, dan waktunya dalam penyelesaian skripsi ini. 7. Segenap Pengurus NU Pemalang periode 2006-2012 dan para sesepuh NU di Kabupaten Pemalang yang telah membantu penulis dalam memberikan informasi. 8. Abah dan Umi serta kakak-kakakku yang selalu memberi dorongan dan semangat. 9. De’ Ipung, Damai, Judan, Ummu, Koko dan mimih tercinta, dan temantemanku yang tidak dapat penulis sebutkan satu persatu yang telah memberi dorongan dan semangat pada penulis sehingga skripsi ini dapat selesai. 10. Semua pihak yang telah membantu dalam menyelasaikan penulisan skripsi ini. Penulis menyadari bahwa skripsi ini masih jauh dari kesempurnaan, untuk itu saran dan kritik dari pembaca sangat penulis harapkan demi perbaikan penulisan selanjutnya. Akhir kata penulis sangat berharap semoga skripsi ini dapat bermanfaat bagi para pembaca. Semarang,

Penulis

vii

ABSTRAK

Maolana Syarif H. 2007. Sejarah dan Peranan NU Dalam Perolehan Suara PPP Pada Tahun 1973-1984 di Kabupaten Pemalang. Jurusan Sejarah. Fakultas Ilmu Sosial. Universitas Negeri Semarang. 101 halaman. Kata Kunci: Nahdlatul Ulama, Perolehan suara, Partai Persatuan Pembangunan Nahdlatul Ulama (NU) Pemalang pada tahun 1973-1984 berfusi bersama unsur-unsur Islam lainnya dalam Partai Persatuan Pembangunan (PPP). Sebagai unsur yang palig dominan dalam fusi tersebut keberadaan NU sangat berpengaruh terhadap setiap gerak PPP di Pemalang dan memberikan kontribusi yang tidak sedikit, terutama peranannya dalam perolehan suara PPP di Pemalang. Menghadapi Pemilu 1977 dan Pemilu 1982 bersama unsur lain NU berusaha untuk memenangkan PPP dengan mengumpulkan suara sebanyak-banyaknya. Berkaitan dengan peranan NU tersebut diatas terutama pada masa bergabung di dalam PPP dalam penelitian ini, muncul beberapa permasalahan, yaitu (1) Bagaimana sejarah dan latar belakang berdirinya NU di kota Pemalang dan perkembangannya dalam politik (2) Bagaimana strategi yang dilakukan NU Pemalang dalam memenangkan PPP pada saat NU berfusi di dalam PPP (3) Bagaimana hasil perolehan suara PPP di kota Pemalang pada saat NU berfusi di dalam PPP. Adapun tujuan dari penelitian ini adalah untuk (1) Mengetahui sejarah dan latar belakang berdirinya NU di kota Pemalang dan perkembangannya dalam bidang politik.(2) Mengetahui strategi yang dilakukan NU Pemalang dalam memenangkan PPP pada saat NU berfusi di dalam PPP. (3) Mengetahui hasil perolehan suara PPP di Pemalang pada saat NU berfusi di dalam PPP. Untuk mengkaji permasalahan tersebut metode yang dipakai dalam penelitian ini adalah metode penelitian sejarah, yang meliputi empat tahap yaitu heuristik, kritik sumber, interpretasi, dan historiogafi. Lingkup spasial dalam penelitian ini adalah kabupaten Pemalang, sedangkan lingkup temporal penulis mengambil tahun 1973-1984 karena pada tahun tersebut NU Pemalang bersama unsur Islam lainnya melakukan fusi ke dalam PPP. Dengan berbagai strategi yang dilakukan NU Pemalang berusaha untuk memperoleh suara PPP sebanyakbanyaknya. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa NU di Pemalang berdiri pada tahun 1934 setelah beberapa tahun sebelumnya yaitu pada tahun 1930 dilaksanakannya Muktamar NU di Pekalongan. Tokoh-tokoh yang berjasa dalam pendirian NU di Pemalang diantaranya Kyai Suyad, H Ma’ful, H Maksudi, KH Mursidi, KH Kholil, dan H Husni. Latar belakang berdirinya NU di Pemalang adalah untuk mendukung berdirinya NU secara nasional. Dalam perjalanan politiknya, NU pernah bergabung dalam MIAI, menjadi anggota istimewa Masyumi, dan mendirikan Partai politik NU sendiri, bergabung dengan Partai Persatuan Pembangunan, dan terakhir mendeklarasikan Partai Kebangkitan Bangsa.

viii

Secara politis pada tahun 1973-1984 kekuatan NU tergabung dalam Partai Persatuan Pembagunan (PPP). Kebijaksanaan pemerintah Orde Baru meyederhanakan partai menjadi dua partai dan satu golongan ini memaksa NU Pemalang bersama Syarekat Islam Indonesia (PSII), Perti, Parmusi (yang kemudian berubah menjadi Muslimin Indonesia) untuk berfusi ke dalam PPP pada tanggal 5 Januari 1973. Dalam upaya untuk memenangkan PPP di Pemalang, NU melakukan berbagai strategi yaitu dengan mamanfaatkan keberadaan NU sebagai organisasi massa yang memiliki pengikut yang jumlahnya tidak sedikit baik di tingkat nasional maupun lokal yang dalam hal ini adalah Pemalang, mengerahkan ulama-ulama NU Pemalang untuk terlibat langsung dalam proses kampanye yang dilakukan di beberapa daerah di kaabupaten Pemalang, dalam kegiatan kampanye PPP para ulama NU di Pemalang berusaha untuk memikat hati masyarakat agar menyalurkan aspirasi politiknya ke PPP dengan berbagai cara termasuk menggunakan tema perjuangan Islam, dan melakukan kerjasama di berbagai bidang dengan DPC PPP Pemalang. Sebagai hasilnya PPP di Pemalang mampu menjadi kekuatan terbesar kedua setelah Golkar dan menjadi tandingan Golkar yang cukup berarti dalam Pemilihan Umum 1977 sampai pada Pemilu 1982. Hasil yang diperoleh PPP di Pemalang diluar dugaan baik PPP sendiri maupun Golkar atau PDI. Walaupun pada dasarnya angka suara yang diraih jauh berada di bawah Golkar, yaitu dengan memperoleh suara sebanyak 138.251 (31,42 %) dengan mendapat 10 kursi pada pemilu 1977 dan 148,650 (30,98 %) dengan mendapat 10 kursi pada pemilu 1982. Secara umum perolehan suara PPP di Pemalang pada Pemilu 1977 dan 1982 stabil dan penyebarannya hampir merata di seluruh wilayah kecamatan.

ix

DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL.......................................................................................... HALAMAN PERSETUJUAN...........................................................................

i ii

HALAMAN PENGESAHAN............................................................................ iii PERNYATAAN................................................................................................. iv MOTTO DAN PERSEMBAHAN ..................................................................... v

KATA PENGANTAR ....................................................................................... vi ABSTRAK ......................................................................................................... viii DAFTAR ISI ..................................................................................................... x DAFTAR TABEL............................................................................................... xii DAFTAR GAMBAR .......................................................................................... xiii DAFTAR LAMPIRAN...................................................................................... xiiv

BAB I

PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah .............................................................. B. Permasalahan ................................................................................ C. Tujuan Penelitian.......................................................................... D. Manfaat Penelitian........................................................................ E. Ruang Lingkup Penelitian ............................................................ 1 8 9 9 9

F. Tinjauan Pustaka........................................................................... 11 G. Metode Penelitian ......................................................................... 18 H. Sistematika Skripsi ....................................................................... 22

BAB II SEJARAH DAN LATAR BELAKANG BERDIRINYA NAHDLATUL ULAMA DI PEMALANG A. Latar Belakang Berdirinya NU di Indonesia............................... 23 B. NU Sebagai Organisasi Sosial Keagamaan................................. 24 1. 2. 3. Paham Keagamaan NU......................................................... 30 Anggaran Dasar NU.............................................................. 32 Orientasi Gerakan NU........................................................... 33

x

C. Latar Belakang Berdirinya NU di Pemalang............................... 35 D. Kehidupan Politik NU ................................................................. 38 1. 2. 3. 4. NU dan MIAI....................................................................... 39 NU dan Masyumi.................................................................. 41 NU Sebagai Partai Independen............................................. 42 NU Berfusi ke dalam PPP.................................................... 46

BAB III STRATEGI NAHDLATUL ULAMA DALAM UPAYA MEMENANGKAN PARTAI PERSATUAN PEMBANGUNAN DI PEMALANG A. Kehidupan Sosial Politik Masyarakat Pemalang ....................... 52 B. Kiprah Politik NU Pemalang di PPP.......................................... 54 C. Strategi NU Dalam Perolehan Suara PPP di Pemalang ............. 59 1. 2. 3. 4. NU Sebagai Kekuatan Utama PPP........................................ 59 Hadirnya Figur Kyai Sebagai Pemimpin............................... 62 Tema Islam Sebagai Alat Perjuangan.................................... 66 Hubungan Kerjasama antara NU dengan PPP...................... 67

BAB IV HASIL PEROLEHAN SUARA PARTAI PERSATUAN PEMBANGUNAN PADA PEMILU 1977 DAN 1982 DI PEMALANG A. Pemilu 1977 dan 1982 di Pemalang............................................ 70 B. Perolehan Suara PPP di Pemalang .............................................. 73

BAB V PENUTUP .......................................................................................... 79

DAFTAR PUSTAKA ........................................................................................ 82

LAMPIRAN....................................................................................................... 84

xi

DAFTAR TABEL Halaman Tabel 1. Jumlah Perolehan Suara Pemilu 1977-1987 Kabupaten Pemalang ……………………………………………………………………….. 72 Tabel 2. Hasil Perolehan Suara PPP Kabupaten Pemalang Pada Pemilu 1977, 1982, dan 1987………………………………………………………. 73

xii

DAFTAR GAMBAR Halaman Gambar 1. Gambar 2. Gambar 3. Gambar 4. Gambar 5. Bapak KH. Asrori Saleh, B.A ......................................................... 84 Bapak KH. Slamet Zaeny................................................................ 84 Bapak KH. Noor Effendy................................................................ 85 Bapak KH. Zainal Abidin Noory .................................................... 85 Bapak KH. Asrori Saleh, BA Dalam Acara Rapat Bersama Pengurus PPP dengan Muslimat NU Pemalang Pada Persiapan Menghadapi Pemilu 1977................................................................ 86 Gambar 6. Bapak KH. Noor Effendy Pada Sebuah Rapat Muslimat NU Pemalang dalam Mempersiapkan Kampanye 1977 ........................ 86 Gambar 7. Kantor Pengurus Cabang NU Pemalang pada Awal Berdirinya NU di Pemalang Tahun 1934 di m Pelutan (Kota) ......................... 87 Gambar 8. Gambar 9. Kantor Pengurus Cabang NU Pemalang Sekarang ......................... 87 Lambang PPP setelah NU Keluar dari Fusi ....................................88

Gambar 10. Lambang PPP Pada saat NU masuk ke dalam Fusi ........................88

xiii

DAFTAR LAMPIRAN Halaman Lampiran 1. Peta Wilayah Kabupaten Pemalang Dalam Angka Tahun 19731984................................................................................................. 89 Lampiran 2. Peta Perolehan Suara PPP Pemalang Pada Pemilu 1977 dan 1982................................................................................................. 90 Lampiran 3. Deklarasi PPP.................................................................................. 91 Lampiran 4. Data Informan ................................................................................. 92 Lampiran 5. Pedoman Wawancara ...................................................................... 96 Lampiran 6. Surat Ijin Penelitian......................................................................... 97

xiv

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah Nahdlatul Ulama (Kebangkitan Ulama) merupakan salah satu organisasi keagamaan di Indonesia yang didirikan pada tanggal 31 Januari 1926 oleh ulama yang berhaluan Ahlussunah wal Jama’ah atas prakarsa KH Hasyim Asy’ari, oleh pendirinya organisasi ini disingkat NU. NU didirikan sebagai wadah untuk mempersatukan diri dan langkah didalam tugas memelihara, melestarikan, mengemban, dan mengamalkan ajaran Islam yang mengikuti salah satu empat mazhab dalam rangka mewujudkan Islam sebagai rahmat bagi semesta alam (PBNU, 2000 : 21). Khoiro Ummatin dalam tulisannya yang berjudul Perilaku Politik Kyai menyebutkan bahwa latar belakang pendirian organisasi NU dapat dikaitkan dengan peristiwa penting perkembangan modernisme Islam dan adanya tarik menarik antara perkembangan politik di Timur Tengah dengan dinamika gerakan Islam di tanah air (Ummatin, 2002 : 50). Gerakan pembaharuan radikal yang dimotori Wahabi melahirkan kekhawatiran kalangan ulama penganut Ahlussunah wal Jama’ah, karena wahabi tidak memberikan kebebasan bagi masyarakat beribadah sesuai dengan tradisi atau ajaran dari salah satu mazhab empat (Bruinessen, 1997 : 17). Berdirinya organisasi NU juga berkaitan dengan kondisi gerakan sosial politik dan pembaharuan

1

2

keagamaan di Indonesia yang dipelopori organisasi-organisasi Islam lainnya seperti al Irsyad dan Muhammadiyah (Ummatin, 2002 : 51). Tujuan didirikannya NU adalah untuk memperjuangkan berlakunya ajaran Islam berhaluan Ahlussunah wal Jama’ah di tengah-tengah kehidupan didalam wadah negara Kesatuan Republik Indonesia yang berasaskan Pancasila. Dalam merealisasikan tujuannya, NU melakukan berbagai upaya. Di bidang keagamaan organisasi ini mengusahakan terlaksananya ajaran Islam menurut paham Ahlussunah wal Jama’ah dalam masyarakat dengan melaksanakan Amar ma’ruf nahi mungkar (menyeru kepada kebaikan dan mencegah kejahatan) serta meningkatkan Ukhuwah Islamiyah (persaudaraan Islam). Di bidang pendidikan, pengajaran, dan kebudayaan, NU

mengusahakan terwujudnya penyelenggaraan pendidikan dan pengajaran serta pengembangan kebudayaan berdasarkan agama Islam untuk membina manusia muslim yang takwa, berbudi luhur, berpengetahuan luas, terampil, berkepribadian, serta berguna bagi agama, bangsa, dan negara. Di bidang sosial NU mengusahakan terwujudnya keadilan sosial dan keadilan hukum di segala lapangan bagi seluruh rakyat untuk menuju kesejahteraan umat di dunia dan dan keselamatan di akhirat. Di bidang ekonomi NU mengusahakan terciptanya pembangunan ekonomi yang meliputi berbagai sektor dengan mengutamakan tumbuh dan berkembangnya koperasi. Organisasi NU ini sejak awal diproklamirkan diposisikan sebagai organisasi sosial keagamaan, namun dalam perjalanan sejarahnya hingga sekarang NU tidak pernah terlepas dari persoalan politik praktis. Motivasi non

3

politis tidak dapat bertahan lama, bahkan secara jujur harus diakui kelahiran NU itu merupakan langkah politis, baik untuk mempertahankan paham keagamaan, sebagai bentuk reaksi terhadap gerakan reformasi, modernisasi, terutama Muhammadiyah maupun untuk menumbuhkan nasionalisme umat Islam (Shobron, 2003 : 47). Dalam memahami keterkaitan NU dengan politik perlu dikemukakan lebih dahulu pengertian politik yang dapat dijadikan pijakan untuk melihat keterlibatan politik NU. Miriam Budiharjo mengatakan bahwa politik adalah bermacam-macam kegiatan dalam suatu sistem politik atau (negara) yang menyangkut proses menentukan tujuan-tujuan itu. Politik selalu menyangkut tujuan-tujuan dari seluruh masyarakat (public goals), dan bukan tujuan pribadi seseorang (private goals) (Shobron, 2003 : 48). Sudarno Shobron mengatakan bahwa politik adalah kekuasaan yang digunakan untuk mempengaruhi hal-hal pokok yang berhubungan dengan kegiatan-kegiatan pemerintah. Ruang lingkup politik tidak hanya menyangkut berbagai hal seputar pemerintah, tetapi juga berkenaan dengan kegiatankegiatan yang dilakukan oleh kelompok-kelompok dan individu-individu. Berbagai kegiatan tersebut merupakan cara bagi rakyat yang berada di luar pemerintah untuk mempengaruhi proses politik dalam pemerintahan. Deliar Noer menyebutkan bahwa politik adalah segala aktivitas atau sikap yang berhubungan dengan kekuasaan dan yang bermaksud untuk mempengaruhi dengan jalan mengubah atau mempertahankan suatu macam bentuk susunan masyarakat.

4

Dari beberapa definisi tersebut di atas bahwa ternyata pengertian politik itu sangat luas dan komplek, semua kegiatan yang berhubungan dengan negara, pemerintah, kekuasaan, kebijakan-kebijakan umum merupakan kegiatan politik. NU sebagai organisasi sosial sejak awal berhimpitan dengan pemerintah dan state, baik pada masa Belanda, Jepang, Orde Lama, Orde Baru, maupun pada masa pasca orde baru yang sering disebut orde reformasi. Dalam perjalanan politiknya, NU pernah bergabung dengan MIAI, menjadi anggota istimewa Masyumi. Pada tahun 1952, NU keluar dari Masyumi dan menjadikan dirinya sebagai partai Islam yang baru. Dasar pertimbangannya adalah karena partai tersebut dianggap tidak lagi dapat menyalurkan aspirasi politiknya. Sebagai partai yang baru, NU dengan cepat merebut banyak pendukung. Dengan basis pendukung di pedesaan melalui jaringan Kyai dan ulama tradisional dalam Pemilu pertama tahun 1955, tiga tahun setelah NU berdiri, NU telah menempatkan diri sebagai partai Islam terbesar kedua setelah Masyumi, dan ketiga secara nasional setelah PNI dan masyumi (Mulkhan, 1989 : 115). Pemilu kedua tahun 1971 merupakan keikutsertaan NU yang terakhir dalam kedudukannya sebagai partai, dimana pada pemilu ini partai NU keluar sebagai pemenang pertama diantara sembilan kontestan partai politik. Pemilu waktu itu diikuti 10 organisasi politik (sembilan parpol dan satu Golkar). Dari ke-10 kontestan Pemilu Golkar yang untuk pertama kalinya terjun dalam pemilu menjadi pemenang pertama (Sinansari, 1994 : 31).

5

Stabilitas politik sebagai prasyarat pembangunan ekonomi yang dicanangkan oleh pemerintah Orde Baru, membawa pada pemikiran restrukturisasi partai politik yaitu dengan melakukan penyederhanaan partai. NU bersama Partai Syarekat Islam (PSII), Persatuan Tarbiyah Islamiyah (Perti), dan Partai Muslimin Indonesia-Parmusi (yang kemudian berubah menjadi Muslimin Indonesia-MI) pada tanggal 5 Januari 1973 difusikan dalam satu wadah politik yang bernama Partai Persatuan Pembangunan (PPP). Fusi ini merupakan sejarah baru bagi NU dan partai Islam lainnya, karena ketidakberdayaannya menghadapi kebijakan pemimpin Orde Baru. Soeharto dengan kekuatan yang ada dalam genggamannya mengarahkan partai-partai politik tidak lagi berorientasi pada ideologi, melainkan pada program kerja. Orientasi ideologi dalam sejarahnya tidak pernah dapat menciptakan kedamaian, baik internal maupun eksternal, melainkan selalu menimbulkan konflik yang mengarah pada perpecahan (Shobron, 2003 : 95). Posisi NU di PPP relatif cukup strategis dan kuat, bahkan sangat dominan dan mewarnai kebijakan-kebijakan PPP, terutama bila berhadapan dengan pemerintah. Dalam personalia pengurus, banyak unsur NU misalnya, Rais’Am dan wakilnya, dipegang KH. Bisri Syamsuri dan KHM Dahlan. Majelis Pertimbangan Pusat dipegang KH Masykur sebagai ketuanya, dan Presiden Partai dipegang KH Idham Khalid. Ini menunjukkan bahwa peran NU sangat strategis, namun peran para kyai tidak banyak beranjak, lebih banyak yang duduk di Majelis Syuro (Sujuthi, 2001 : 100). Meskipun posisi NU di PPP dan lembaga legislatif sangat kuat dan diperhitungkan, tetapi

6

dalam pembentukan Kabinet Pembangunan II tahun 1973 tidak seorang pun dari NU yang masuk dalam kabinet. Jabatan Menteri Agama yang telah lama dianggap sebagai “jatah” untuk NU, diberikan kepada Prof. Dr. HA Mukti Ali, seorang “teknokrat agama” dari IAIN. Dalam Kabinet Pembangunan II ini dari politisi non Golkar yang menjadi menteri hanya dua orang yaitu HMS Mintareja sebagai Menteri Sosial dan Sunawar Sukowati sebagai Menteri Negara-dua jabatan menteri yang tidak strategis (Sujuthi, 2001 : 100). Dari kenyataan itu NU melihat bahwa untuk selanjutnya pemerintah Orde Baru tidak akan memberi tempat bagi politisi non Golkar untuk duduk dalam pemerintahan. Karena itu, satu-satunya alternatif adalah memperbanyak anggota legislatif (DPR/MPR) agar dapat mempengaruhi proses pengambilan keputusan politik. Untuk mencapai tujuan itu, tidak ada jalan lain kecuali memperkuat dan membesarkan PPP, sehingga memperoleh kursi sebanyakbanyaknya dalam Pemilu 1977, dan Pemilu-pemilu berikutnya. Tahun-tahun pertama kelahiran PPP sebagai fusi partai-partai Islam telah menunjukkan kekompakan yang sangat mengesankan. Dalam menghadapi Pemilu 1977, PPP tampil dengan kompak, solid dan bersatu padu serta mendapatkan dukungan yang amat luas di kalangan umat Islam. Dengan membawa bendera Ka’bah para juru kampanye (jurkam) PPP membawakan ayat-ayat Al Qur’an dan Hadist-hadist Nabi agar memilih bahkan mewajibkan umat Islam untuk memilih PPP. Satu-satunya partai Islam yang paling tepat untuk menyalurkan aspirasi politiknya. Sebagai contoh, KH Bisri Syansuri yang berfatwa bahwa memilih PPP pada Pemilu 1977 adalah “wajib”

7

hukumnya di mata Syari’at Islam. Hal ini dimaksudkan dengan tujuan untuk memperoleh suara PPP sebanyak-banyaknya. Berbagai upaya dilakukan sehingga pada Pemilu 1977 PPP memperoleh lima tambahan kursi di DPR, menjadi 99 kursi dibandingkan 94 kursi pada Pemilu 1971 yang diperoleh partai-partai Islam sebelum fusi (Sujuthi, 2001 : 103). Posisi fusi partai Islam mampu memperoleh suara 29,9 % lebih besar daripada perolehan tahun 1971 (Mulkhan, 1989 : 134). Peningkatan ini tentunya tidak terlepas dari peranan partai-partai Islam yang tergabung dalam fusi, tidak terkecuali NU. NU memberikan kontribusi yang tidak sedikit bagi perolehan suara PPP pada waktu itu, menimbang bahwa NU sendiri merupakan organisasi yang mempunyai pengikut dalam jumlah yang sangat besar baik di tingkat nasional maupun lokal. Dengan masuknya NU kedalam fusi, secara formal terikat dengan PPP sehingga warga NU menyalurkan aspirasi politiknya melalui PPP. Warga NU menyalurkan aspirasinya kepada partai fusi ini sampai pada tahun 1984, dimana PBNU mengambil keputusan untuk keluar dari keanggotaan fusi partai, kebijakan ini terkenal dengan nama kembali ke Khittah 1926. Dengan keluarnya NU dari keanggotaan ini secara organisatoris NU tidak terikat dengan organisasi sosial politik manapun, NU telah kembali pada jati dirinya sebagai lembaga sosial keagamaan seperti pada awal pembentukannya. Pemalang sebagai salah satu daerah basis NU di Jawa Tengah juga berperan aktif dalam mengikuti Pemilu 1977 dan Pemilu-pemilu berikutnya. NU kabupaten Pemalang telah berperan serta dalam upaya untuk

8

memenangkan PPP dalam Pemilu 1977 sampai pada tahun 1984. Berbagai upaya yang dilakukan oleh NU Pemalang mampu membawa PPP menjadi kekuatan terbesar kedua setelah Golkar di kabupaten Pemalang, yaitu dengan memperoleh suara sebanyak 138.251 (31,42 %) dengan mendapat 10 kursi pada pemilu 1977 dan 148,650 (30,98 %) dengan mendapat 10 kursi pada pemilu 1982 (Badan Arsip daerah Pemalang). Berdasarkan pada latar belakang tersebut diatas peneliti ingin meneliti lebih mendalam tentang bagaimana NU kota Pemalang memberikan kontribusinya dalam usaha untuk memenangkan PPP pada saat tergabung dalam fusi bersama partai-partai Islam lainnya. Oleh karena itu peneliti mengambil judul skripsi “Sejarah dan Peranan NU Dalam Perolehan Suara PPP Pada Tahun 1973-1984 di Kabupaten Pemalang”.

B. Permasalahan Permasalahan yang diangkat dalam penelitian ini adalah sebagai berikut: 1. Bagaimana sejarah dan latar belakang berdirinya NU di kota Pemalang dan perkembangannya dalam politik? 2. Bagaimana strategi yang dilakukan NU Pemalang dalam memenangkan PPP pada saat NU berfusi di dalam PPP? 3. Bagaimana hasil perolehan suara PPP di kota Pemalang pada saat NU berfusi di dalam PPP?

9

C. Tujuan Penelitian Tujuan dari penelitian ini adalah sebagai berikut: 1. Mengetahui sejarah dan latar belakang berdirinya NU di kota Pemalang dan perkembangannya dalam bidang politik. 2. Mengetahui strategi yang dilakukan NU Pemalang dalam memenangkan PPP pada saat NU berfusi di dalam PPP. 3. Mengetahui hasil perolehan suara PPP pada saat NU berfusi didalam PPP.

D. Manfaat Penelitian Manfaat yang diperoleh dalam penelitian ini adalah sebagai berikut: 1. Memperkaya khasanah penelitian sejarah lokal serta sumbangannya terhadap sejarah nasional khususnya tentang peranan NU dalam dunia politik dan dapat digunakan sebagai bahan acuan dalam penelitian sejenis.. 2. Dapat mengetahui perkembangan sejarah sosial politik di kota Pemalang. 3. Dapat menambah pengetahuan dan masukan dalam kehidupan berpolitik bagi masyarakat luas sehingga bisa lebih arif dan bijaksana dalam menghadapi masalah-masalah politik.

E. Ruang Lingkup Penelitian Ruang lingkup dalam penelitian ini bertujuan untuk membatasi pembahasan pada pokok permasalahan saja. Ruang lingkup menentukan konsep utama dari permasalahan sehingga masalah-masalah dalam penelitian

10

ini dapat dimengerti dengan mudah dan baik. Ruang lingkup penelitian sangat penting dalam mendekatkan pada pokok permasalahan yang akan dibahas, sehingga tidak terjadi kerancuan ataupun kesimpangsiuran dalam

menginterpretasikan hasil penelitian. Ruang lingkup penelitian dimaksudkan sebagai penegasan mengenai batasan-batasan objek penelitian yang mencakup lingkup wilayah (spatial scope) dan lingkup waktu (temporal scope). Dalam penelitian ini yang menjadi ruang lingkup wilayah (spatial scope) adalah kota Pemalang. Kota Pemalang merupakan daerah yang terletak di Jawa Tengah bagian pesisir utara. Sebelah barat berbatasan dengan kota Tegal, sebelah timur berbatasan dengan kota Pekalongan, sebelah selatan berbatasan dengan kota Purbalingga, dan sebelah utara berbatasan dengan Laut Jawa. Pengambilan kota Pemalang sebagai objek penelitian karena kota Pemalang mayoritas penduduknya beragama Islam dan menjadi salah satu basis NU. Sedangkan ruang lingkup waktu (temporal scope) adalah batasan waktu terjadinya peristiwa sejarah yang menjadi objek penelitian. Yaitu tahun 1973, dimana NU secara formal tergabung dalam fusi dengan partai-partai Islam lainnya sampai tahun 1984 yaitu ketika NU secara formal keluar dari keanggotaan fusi.

11

F. Tinjauan Pustaka Dalam mengkaji tentang peranan NU pada perolehan suara PPP pada tahun 1973-1984, peneliti menggunakan beberapa referensi yang dapat dijadikan sebagai sumber pustaka dalam mengkaji permasalahan yang dibahas. Beberapa buku yang peneliti gunakan antara lain: Karya Dr. Martin Van Bruinessen yang berjudul NU; Tradisi, Relasirelasi Kuasa, Pencarian Wacana Baru yang diterbitkan oleh LKIS Yogyakarta tahun 1994. dalam tulisannya, Bruinessen mengatakan bahwa NU adalah sebuah gejala yang unik, bukan hanya di Indonesia tetapi juga di seluruh Dunia Muslim. NU adalah sebuah sebuah organisasi ulama tradisionalis yang memiliki pengikut yang besar jumlahnya, organisasi non pemerintah yang paling besar yang masih bertahan dan mengakar di kalangan bawah. Ia mewakili paling tidak dua puluh juta muslim yang mesti tidak selalu terdaftar sebagai anggota resmi namun mereka merasa terikat kepada NU melalui ikatan-ikatan kesetiaan primordial. Buku ini mengkaji lebih mendalam tentang perkembangan yang terjadi pada NU di Indonesia baik di dalam bidang ekonomi, sosial, maupun politik mulai sejak awal berdirinya NU bahkan jauh sebelum NU lahir sampai perkembangan yang terjadi pada tahun 1980-an. Dalam bidang politik, Bruinessen menyebutkan bahwa NU dalam perjalanan sejarahnya di masa lalu biasanya bersikap sangat akomodatif terhadap pemerintah, dan para pemimpinnya seringkali dituduh sebagai orang-orang yang sangat oportunis. Namun selama tahun 1970-an, ketika kebijakan-kebijakan khas Orde Baru

12

secara bertahap berjalan menurut arahnya sendiri, NU menjelma menjadi pengkritik yang terus terang dan konsisten terhadap berbagai kebijakan tersebut. Suara-suara protes terhadap berbagai ketetapan pemerintah yang tidak populer yang terdengar di DPR ternyata berasal dari para utusan NU. Dua kali utusan NU melanggar prinsip politik konsensual yang sangat dijunjung tinggi dengan melakukan walk out dari DPR, tindakan tesebut tidak hanya merupakan protes terhadap undang-undang yang sedang disidangkan pada saat itu (salah satunya berkaitan dengan indroktinasi ideologi resmi, Pancasila) tetapi juga menantang landasan pokok politik Orde Baru. Penolakan NU inilah yang mendorong pemerintah pada awal 1980-an sangat menuntut adanya kesepekatan ideologis yang lebih jauh lagi dan mewajibkan semua organisasi kemasyarakatan dan partai politik menerima Pancasila sebagai asas tunggal, dengan melepaskan semua asas lain, termasuk Islam. NU merupakan organisasi sosial yang pertama kali menerima asas Pancasila. Muktamar 1984 yang terkenal dengan nama Muktamar Situbondo melakukan perubahan anggaran dasar sebagaimana yang diminta oleh pemerintah. Pada saat itu juga NU menyatakan diri meninggalkan politik praktis dan kembali pada jati dirinya sebagai organisasi sosial keagamaan, langkah ini lebih dikenal dengan kembali ke khittah 1926-sebuah keputusan yang umumnya disebabkan oleh frustasi terhadap fraksi lain di PPP pada saat NU melakukan fusi pada tahun 1973 (Bruinessen, 1994 : 5). Buku yang memiliki jumlah halaman 311 ini merupakan kajian yang sangat bermanfaat dalam memperoleh data tentang NU. Pembahasan tentang

13

NU dibahas lebih mendalam serta mudah dipahami isinya, karena disajikan dengan bahasa yang sederhana sehingga mudah dimengerti. Dalam menulis buku ini, Bruinessen langsung terjun kedalam aktifitas-aktifitas orang-orang NU, ia mengadakan hubungan langsung dengan orang-orang NU sehingga informasi yang didapat lebih mendalam. Buku yang kedua adalah Muhammadiyah dan Nahdlatul Ulama dalam Pentas Politik Nasional karya dari Sudarno Shobron yang diterbitkan oleh Muhammadiyah University Press, Universitas Muhammaditah Surakarta tahun 2003. Dalam bukunya Shobron mengatakan bahwa Muhammadiyah dan NU adalah organisasi terbesar di Indonesia yang penuh dengan dinamika seiring dengan perkembangan dan perubahan yang terjadi dalam kehidupan beragama, berbangsa dan bernegara. Dalam persoalan politik misalnya, kedua organisasi ini memiliki “langgam” sendiri dalam menyikapi sehingga kadangkadang terkesan kontradiksi. Muhammadiyah dan NU sebagai lembaga sosial keagamaan, memiliki keterkaitan dengan persoalan kebangsaan, maka kedua organisasi ini selalu terlibat dalam masalah-masalah politik, baik dalam pergerakan nasional maupun dalam partai politik. Di dalam buku ini membahas tentang perjalanan kedua organisasi ini sebagai lembaga sosial keagamaan maupun lembaga politik. Keterlibatan Muhammadiyah dan NU dalam politik dibahas pada bab ketiga dengan judul “Muhammadiyah dan NU dalam Sejarah Politik Islam Indonesia”. Dalam bab ini dibahas tentang Muhammadiyah dan Politik sejak Belanda sampai Orde Baru, yakni hubungan Muhammadiyah dan MIAI,

14

Masyumi, Parmusi, diakhiri dengan lepasnya Muhammadiyah dari partai politik. Tentang NU dan politik juga dibahas dalam bab ini yaitu tentang keterlibatan NU dalam MIAI, Masyumi, NU menjadi partai politik yang independent, serta NU pada saat berfusi dalam PPP, dan diakhiri dengan kembalinya NU ke khittah 1926. Buku ini sangat mendukung dalam membahas tentang peranan NU dalam perolehan suara PPP pada saat berfusi dengan partai Islam lainnya. Peneliti mengkaji secara terperinci tentang keterlibatan NU dalam pentas politik nasional. Penyajiannya disertai dengan tabel-tabel sehingga dapat mempermudah pembaca untuk lebih memahami isi dari buku ini. Pendekatan yang digunakan dalam buku ini adalah historis (sejarah kritis), yakni berusaha melihat sejarah masa lampau secara kritis, dari perspektif keagamaan dan politik karena Muhammadiyah dan NU tidak terlepas dari paham keagamaan yang dianut dan dikembangkan. Buku lain yang dapat dijadikan sebagai acuan dalam penelitian skripsi ini adalah hasil karya dari M. Ali Haidar yang berjudul Nahdlatul Ulama dan Islam di Indonesia; Pendekatan Fikih dalam Politik yang diterbitkan oleh Gramedia Pustaka Utama, Jakarta tahun 1994. Buku ini mengkaji tentang keterlibatan NU dalam bidang politik yang ditinjau dari perspektif fikih (hukum Islam). Konsep politik dalam Islam sangat erat kaitannya dengan hukum, sebab salah satu yang penting dalam hukum Islam mengharuskan adanya lembaga kekuasaan untuk menjalankan hukum tersebut. Atas dasar konsep tersebut maka orientasi NU untuk memperjuangkan berlakunya hukum

15

Islam di tanah air tidak bisa dilepaskan dengan orientasi lembaga kekuasaan politik, sebab dengan lembaga itu maka hukum Islam lebih dimungkinkan dapat difungsikan. Dengan alasan konsep seperti inilah yang menjadi daya tarik bagi NU untuk terjun dalam politik praktis (Haidar, 1998 : 98). Orientasi politik NU dapat dilihat sejak NU terlibat dalam politik, baik pada waktu kedudukannya sebagai organisasi sosial keagamaan maupun sebagai partai politik. Dalam bidang politik, NU turut serta memberi sumbangan bagi pemecahan problematik yang dihadapi bangsa dan Negara. Terlebih-lebih pendekatan keagamaan yang dilakukan telah mempersubur pengembangan budaya Islam di tengah masyarakat. Menurut Haidar, banyak pemikir Barat yang meneliti tentang NU, namun mereka belum maksimal kajiannya tentang NU, misalnya Herbert Feith dan Lance Casues yang mencoba untuk merekam pemikiran politik di Indonesia tetapi hanya memberi porsi yang sedikit mengenai NU dan ternyata belum memahami pemikiran politik NU dibandingkan dengan peran yang pernah dimainkannya. Buku ini berusaha untuk mengisi kekosongan itu sebagai langkah awal untuk memberi gambaran yang agak utuh mengenai NU khususnya dengan analisis menurut sumbersumber yang diacu oleh NU sendiri. Dengan pendekatan ini diharapkan agar kita dapat memehami NU menurut visi NU sendiri. Di dalam buku ini diuraikan tentang peristiwa-peristiwa sejarah politik yang dilalui NU dan bagaimana NU memecahkan problematik yang terjadi, khususnya dalam soal pembentukan kabinet. Konflik dengan Masyumi,

16

selama NU tergabung di dalamnya maupun sesudah NU keluar, pada saat kedudukan NU sebagai partai politik maupun pada saat ketika tergabung dalam fusi bersama partai Islam lainnya dalam PPP. Visi keagamaan NU juga terlihat ketika NU menghadapi pemilihan umum dengan sikap yang lebih toleran, akomodatif, dan rekonsiliatif. Dengan sikap-sikap politik NU itu tidak lantas berhasil diperankan dengan baik. Kelemahan-kelemahan manajerial dan organisasi seringkali mengesankan NU terbawa arus terus menerus tanpa mampu mengubahnya menjadi terobosan yang menguntungkan. Buku ini juga menguraikan tentang refleksi diri yang dilakukan NU terhadap eksistensi politiknya. NU mengoreksi langkah yang selama ini dijalani untuk menjadi jam’iyah sebagai organisasi non politik tahun 1983. Proses menuju arah ini bukannya tanpa pergulatan internal yang menegangkan, karena begitu kentalnya kehidupan politik sebelumnya. Di samping itu ketegangan juga terjadi antar berbagai unsur, termasuk NU, yang berfusi kedalam PPP. Di dalam buku NU, Gusdurisme dan Politik Kiai tulisan DR. Faisal Ismail, MA. pada salah satu artikelnya yang berjudul Dilema Politik Islam: Idealisme Versus Realisme diuraikan tentang perkembangan politik umat Islam ditinjau dari perspektif idealisme dan kenyataan yang terjadi pada pergerakan politik umat Islam. Idealisme politik Islam terwujud Partai Masyumi dibentuk di Yogyakarta pada tanggal 8 November 1945. Para tokoh Muslim yang mewakili berbagai organisasi Islam (seperti Muhammadiyah, NU, Sarekat Islam dan Perti) dalam kongresnya sepakat untuk menjadikan Masyumi sebagai satu-satunya partai dalam menyalurkan aspirasi politik umat

17

Islam. Cita-cita dan idealisme politik Islam diharapkan dapat disalurkan dan diperjuangkan oleh para pemimpin Islam dan umatnya lewat Masyumi dalam menghadapi Pemilu yang akan diselenggarakan tahun 1955. Akan tetapi sebelum Pemilu 1955 dilaksanakan, idealisme politik Islam pecah berkepingkeping. Perceraian politik Islam di tubuh Masyumi terjadi akibat konflik internal yang sulit teratasi. Sarekat Islam keluar dari Masyumi tahun 1947 dan disusul oleh NU pada tahun 1952. keduanya mendeklarasikan sebagai partai politik sendiri. Pertikaian Islam berlanjut dengan hengkangnya Perti dan organisasi-organisasi Islam yang lain dari Masyumi, kondisi semacam ini berpengaruh terhadap perolehan suara dari partai-partai Islam, yaitu 45 % (jadi masih kurang dari 50 apalagi 70 persen), cita-cita dan idealisme politik Islam tidak mungkin dicapai secara maksimal oleh partai-partai Islam dalam perjuangan konstitusionalnya di Majelis Konstituante (1956-1959). Di samping itu dilihat dari sudut realisme politik, orang-orang Islam tidak selalu menyalurkan aspirasi politik mereka ke partai-partai berbasis Islam dalam pemilu 55 (Ismail, 1999 : 121). Kebijakan restrukturisasi politik yang diterapkan Orde Baru memaksa partai-partai Islam melakukan fusi kedalam PPP. Oleh karena fusi ini tidak datang dari arus bawah dan tidak terjadi berdasarkan kesadaran yang bersifat alamiah-batiniah, PPP selalu mengalami dilema politik yang terus berlanjut sehingga fusinya tidak pernah tuntas. Unsur-unsur kelompok politik yang ada di tubuh PPP kerap kali menguat dengan kepentingan politiknya sendiri. Hal ini sering terjadi antara

18

Muslimin Indonesia dan NU sehingga terjadi sering terjadi konflik politik di tubuh PPP. Ketua umum PPP J. Naro pernah mencoret sederet nama calon dari tokoh-tokoh NU yang diajukan untuk duduk di DPR (Pemilu 1982) karena tokoh-tokoh tersebut dipandang sebagai penganut garis keras, dan menggantinya dengan tokoh-tokoh pilihannya sendiri. Melihat kenyataan semacam itu, NU melakukan aksi penggembosan terhadap PPP sehingga perolehan suara PPP dalam Pemilu 1987 menurun secara drastis. Ini menunjukkan bahwa idealisme politik Islam di tubuh PPP hampir, atau bahkan tidak ada. PPP dihadapkan pada realisme politik yang ditandai oleh perselisihan dan perpecahan politik karena kepentingankepentingan politik dari unsur-unsur politik dalam partai itu. Dalam Pemilu 1982, misalnya, PPP masih sempat meraup suara sebanyak 27,78 persen (94 kursi). Namun pada Pemilu 1987, PPP hanya meraih suara sebanyak 18,8 persen (61 kursi) yang berarti kehilangan sebanyak 33 kursi dibandingkan dengan perolehan suara dalam Pemilu 82. Dari sini dapat dilihat bahwa keberadaan NU dalam PPP sangat berpengaruh terhadap perolehan suara PPP itu sendiri.

G. Metode Penelitian Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode sejarah. Dengan metode sejarah, peneliti berusaha menguji dan menganalisa kritis rekaman dan peninggalan masa lampau. Oleh sebab itu, penelitian ini akan peneliti tempuh dengan melakukan prosedur penelitian sejarah menurut Louist

19

Gottschalk (1975 : 32) yang terdiri dari empat langkah bagian yang saling berurutan, sehingga yang satu dengan yang lainnya saling berkaitan. Adapun keempat langkah tersebut adalah sebagai berikut: 1. Heuristik (Pencarian sumber) Heuristik merupakan kegiatan untuk mencari atau menghimpun data dan sumber-sumber sejarah atau bahan untuk bukti sejarah, seperti: dokumen, arsip, naskah, surat kabar maupun buku-buku referensi lain yang ada kaitannya dengan permasalahan yang dibahas. Pada tahap heuristik ini peneliti mencari literatur-literatur kepustakaan yaitu buku-buku yang berhubungan dengan masalah yang diteliti. Sumbersumber yang diperoleh dengan riset kepustakaan berguna sebagai bahan pembanding, pelengkap, dan penganalisa guna memperdalam

permasalahan yang dibahas. Dalam penelitian ini peneliti mendapat literatur-literatur tersebut dari perpustakaan-perpustakaan diantaranya adalah perpustakaan jurusan Sejarah UNNES, perpustakaan pusat UNNES, perpustakaan wilayah propinsi Jawa Tengah dan perpustakaan daerah Pemalang. Dalam mengumpulkan data yang berupa sumber-sumber sejarah, peneliti juga melakukan kegiatan wawancara, terutama dengan saksi sejarah yang mengetahui dan terlibat langsung dalam sejarah ke NU-an yaitu para sesepuh atau tokoh NU, dan tokoh masyarakat di Pemalang. Wawancara dilakukan dengan tokoh yang terkait dengan sejarah politik dan ke NU-an di Pemalang pada tahun 1973-1984 antara lain dengan

20

Bapak H Asrori Saleh, BA, Bapak KH. Slamet Zaeny, Bapak Zaenal Abidin Noory, KH. Bapak KH. Noor Effendy, dan tokoh-tokoh lainnya. Peneliti mengalami kesulitan pada saat wawancara karena para informan sudah lanjut usia sehingga mengakibatkan wawancara agak terhambat dengan keterbatasan daya ingat dan kesulitan yang lain adalah waktu yang terbatas dalam mengadakan wawancara karena kesehatan para informan yang telah menurun. Peneliti juga mengalami kesulitan dalam menemui para informan karena ada sebagian informan yang masih aktif dalam kegiatan ke NU-an disamping itu peneliti juga melakukan kajian terhadap sumber-sumber sejarah yang ada, hal ini dimaksudkan untuk mencari jejak-jejak sejarah. Dalam penelitian ini ada beberapa hal yang dikaji, antara lain kondisi sosial politik masyarakat Pemalang pada tahun 19731984 melalui studi terhadap dokumen, arsip, naskah, foto dan lain sebagainya yang berkaitan dengan permasalahan yang diangkat. 2. Kritik Sumber Pada tahap ini yang dilakukan oleh peneliti adalah dengan melihat kembali apakah sumber itu sesuai atau tidak, apakah sumber itu asli atau turunan. Kritik sumber itu merupakan penerapan dari sejumlah aturanaturan atau prinsip-prinsip untuk menguji kebenaran atau keaslian dari sumber-sumber sejarah. Kritik sumber yang digunakan adalah kritik intern dan kritik ekstern. Dalam kritik intern yang peneliti lakukan adalah dengan mengadakan penilaian berdasarkan sumber itu sendiri, mambandingkan kesaksian dari berbagai sumber. Sedangkan dalam kritik ekstern yang

21

peneliti lakukan adalah dengan melihat kembali beberapa sumber misalnya dokumen apakah asli atau tidak, misalnya dengan melihat jenis kata. 3. Interpretasi Interpretasi merupakan usaha untuk mewujudkan rangkaian data-data yang mempunyai kesesuaian satu sama lain dan bermakna (Widja, 1989 : 13). Interpretasi ini dilakukan untuk menentukan makna yang saling berhubungan antara data-data yang diperoleh, seperti yang dikemukakan oleh I Gde Widja tersebut. Pada tahap ini data yang diperoleh diseleksi, dimana peneliti berusaha menentukan data mana yang harus ditinggalkan dalam penelitian sejarah dan dipilih data mana yang relevan atau tidak. Faktor-faktor sejarah yang telah melalui tahap kritik sumber dihubungkan atau saling dikaitkan sehingga pada akhirnya akan menjadi suatu rangkaian yang bermakna. 4. Historiografi (Penelitian Sejarah) Historiografi merupakan tahap terakhir dalam metode penelitian sejarah, dimana peneliti sudah menyusun ide-ide tentang hubungan satu fakta dengan fakta yang lain melalui tahap interpretasi maka langkah akhir dari penelitian ini adalah penelitian sejarah. Bentuk dari rekaman dan peninggalan masa lampau ini akan disusun secara sistematis dengan topik yang jelas sehingga akan mudah untuk dimengerti dan dengan tujuan agar pembaca dapat mudah memahaminya.

22

H. Sistematika Skripsi Secara garis besar sistematika skripsi adalah sebagai berikut: BAB I Pendahuluan yang mencakup latar belakang masalah, permasalahan, tujuan penelitian, manfaat penelitian, ruang lingkup penelitian, kajian pustaka, metode penelitian, dan sistematika skripsi. BAB II Membahas tantang Sejarah dan Latar belakang Berdirinya NU di Indonesia dan Pemalang meliputi sejarah dan latar belakang berdirinya NU di kota Pemalang dan peranannya dalam bidang politik. BAB III Membahas tentang Strategi yang dilakukan NU Pemalang dalam perolehan suara PPP di kota Pemalang pada saat NU tergabung dalam fusi. BAB IV Menjelaskan tentang analisa hasil Pemilu PPP di kota Pemalang pada saat NU melakukan fusi maupun sesudah keluar dari fusi. BAB V Penutup meliputi kesimpulan dari hasil penelitian yang telah dibahas dalam bab sebelumnya. Bagian akhir berisi tentang daftar pustaka dan lampiran-lampiran.

BAB II SEJARAH DAN LATAR BELAKANG BERIDIRINYA NAHDLATUL ULAMA DI PEMALANG

A. Latar belakang berdirinya NU di Indonesia Keterbelakangan baik secara mental, maupun ekonomi yang dialami bangsa Indonesia, akibat penjajahan maupun akibat kungkungan tradisi, telah menggugah kesadaran kaum terpelajar untuk memperjuangkan martabat bangsa ini, melalui jalan pendidikan dan organisasi. Gerakan yang muncul 1908 tersebut dikenal dengan "Kebangkitan Nasional". Semangat kebangkitan memang terus menyebar ke mana-mana setelah rakyat pribumi sadar terhadap penderitaan dan ketertinggalannya dengan bangsa lain. Sebagai jawabannya, muncullah berbagai organisasi pendidikan dan pembebasan. Nahdlatul Ulama (NU) merupakan salah satu organisasi sosial keagamaan di Indonesia yang pembentukannya merupakan kelanjutan perjuangan kalangan pesantren dalam melawan kolonialisme di Indonesia. NU didirikan pada tanggal 31 Januari 1926 di Surabaya oleh sejumlah ulama tradisional yang diprakarsai oleh KH. Hasyim Asy’ari. Organisasi ini berakidah Islam menurut paham Ahlussunah wal Jama’ah. Kalangan pesantren yang selama ini gigih melawan kolonialisme, merespon kebangkitan nasional tersebut dengan membentuk organisasi pergerakan, seperti Nahdlatul Wathan (Kebangkitan Tanah Air) pada 1916. Kemudian pada tahun 1918 didirikan Taswirul Afkar atau dikenal juga dengan "Nahdlatul Fikri" (kebangkitan 23

24

pemikiran), sebagai wahana pendidikan sosial politik kaum dan keagamaan kaum santri. Dari situ kemudian didirikan Nahdlatut Tujjar, (pergerakan kaum saudagar). Serikat itu dijadikan basis untuk memperbaiki perekonomian rakyat. Dengan adanya Nahdlatul Tujjar itu, maka Taswirul Afkar, selain tampil sebagai kelompok studi juga menjadi lembaga pendidikan yang berkembang sangat pesat dan memiliki cabang di beberapa kota

(www.wikipedia.org). Perkembangan politik di Timur Tengah yang terjadi di awal abad ke20 ditandai dengan tampilnya tokoh-tokoh Islam penganut Ajaran Abdul Wahab dengan ajarannya yang terkenal “Aliran Wahabi”, yakni berubahnya sistem pemerintahan di Turki dari kesultanan ke sistem kerajaan di bawah pimpinan Mustafa Kemal (penganut Wahabi), dan berdiri serta

berpengaruhnya pemerintahan golongan Wahabi dibawah kepemimpinan Raja Ibnu Sa’ud di Jazirah Arab dan kota Mekkah. Pada masa Raja Sa’ud ini berkuasa, ia melakukan gerakan-gerakan modernisme Islam secara radikal terhadap tatanan keagamaan dan masyarakat Islam di kawasan itu, termasuk adanya upaya-upaya melakukan perombakan terhadap kuburan empat imam (Sayafi’i, Hambali, Maliki, dan Hanafi) yang terletak di sekitar Ka’bah. Selain itu reaksi para ulama penganut Ahlussunah wal Jama’ah terhadap pemerintahan kaum Wahabi saat itu, adalah karena dikahawatirkan kaum Wahabi tidak memberi kebebasan bagi masyarakat untuk melakukan ibadah sesuai dengan tradisi atau ajaran salah satu dari empat mazhab (Laode, 1996 : 2).

25

Gerakan itu diwariskan oleh seseorang yang bernama Abd Al-Wahab (1073-1787), yang berupaya melakukan pemurnian ajaran Islam, karena ia menganggapnya bahwa ajaran Sufisme telah menciptakan kemerosotan di kalangan umat Islam, telah menyelewengkan ajaran Islam, termasuk serangannya terhadap ajaran-ajaran dari empat imam mazhab. Menurut kalangan Wahabi banyak dari ajaran dari empat mazhab itu yang setelah ditelusuri tidak terdapat di dalam Al Qur’an dan Hadist, seperti masalah taqlid dan ijtihad, ziarah kuburan, bacaan barzanji, pemberian pelajaran bagi jenazah yang baru meninggal (talqin), soal selamatan bagi orang yang telah meninggal, dan lain-lain. Tradisi semacam itu dianggap berdampak terhadap tingkat masalah keimanan dan masalah-masalah keduniaan. Sebagai akibatnya umat Islam menjadi terbelakang, tertinggal dari kemajuan yang dicapai dunia Barat, karena penolakannya terhadap nilai-nilai modernisme. Gerakan Wahabi dapat bertahan, berkembang dan merasuki ideologi kenegaraan, bahkan kemudian memenangkan percaturan politik di Timur Tengah, dengan tokoh penyebar misi gerakan itu yang terkenal pada akhir abad ke-19 dan awal abad ke-20 adalah Muhammad Abduh. Ajaran Wahabiyah melalui tokoh tersebut cukup berpengaruh di kalangan orangorang Indonesia yang berkesempatan belajar Islam di Timur Tengah, ditambah dengan pengaruh kemenangan golongan Wahabiyah di bawah kepemimpinan Raja Sa’ud di Arab Saudi (Laode, 1996 : 3). Deliar Noer, misalnya mencatat paling tidak ada tujuh orang penyebar Islam ternama dari Sumatera Barat yang terpengaruh kuat dengan ajaran-ajaran modernisme Islam ala Wahabiyah dan

26

Muhammad Abduh yang hidup di penghujung abad ke-19 dan pada awa abad ke-20, yaitu Syaikh Muhammad Khatib, Syaikh Taher Djalaludin, Syaikh Muhammad Djamil Djambek, Abdul Karim Amirullah, Haji Abdullah Ahmad, Syaikh Ibrahim Musa, dan Zainuddin Labai Al-Junusi, dimana mereka melakukan syiar Islam baik secara langsung maupun melalui pertemuan tatap muka, lembaga-lembaga pendidikan, maupun secara tidak langsung melalui tulisan mereka di dalam majalah. Sehingga di daerah itu terjadi ketegangan antara kalangan penganut penganut Islam tradisional atau kalangan pesantren dan kalangan tokoh-tokoh adat dengan kalangan pembaharu. Sementara itu di Pulau Jawa, pada awal abad ke-20 mulai pula terjadi ketegangan karena munculnya gerakan Islam pembaharu yang bisa disebut sebagai perpanjangan gerakan Wahabiyah dari Timur Tengah. Adalah organisasi Muhammadiyah, yang didirikan di Yogyakarta pada tanggal 18 November 1912 oleh K.H. Ahmad Dahlan, dimana ia didorong oleh kalangan murid-muridnya untuk mendirikan organisasi lembaga pendidikan permanen dalam rangka menyebarkan misi pembaruannya itu, yang merupakan organisasi yang bergerak di bidang pendidikan dan sosial dalam rangka pembaruan Islam. Pada dekade yang sama di awal abad ke-20, muncul pula organisasiorganisasi yang berorientasi politis, yaitu Budi Utomo (BU) dan Syarekat Islam (SI). Dua organisasi ini sama-sama menentang pemerintahan kolonial, hanya saja berbeda orientasi. Kalau Budi Utomo bersifat nasionalis dan menentang Belanda karena pemerintahan orang asing (penolakan terhadap

27

orang-orang asing), maka Syarekat Islam menentang Belanda karena dianggap sebagai pemerintahan orang-orang kafir (penolakan terhadap agama yang dianut oleh para aktor pemerintahannya). Tetapi walaupun para fungsionaris kedua organisasi itu sama-sama Islam, namun mereka terdiri dari kalangan modernis atau pembaru (khususnya Budi Utomo). Pandangan kaum modernisme Islam nampaknya lebih akomodatif terhadap modernisasi yang berkembang pesat di Barat, apalagi kalangan penggeraknya, selain yang terpengaruh langsung dengan ajaran Wahabi, juga adalah kalangan intelektual beragama Islam yang ditempah dalam system pendidikan ala Barat. Sehingga kecuali menentang tradisi kalangan tradisionalis, juga merubah atau memperbarui metodologi pendidikan bagi orang-orang Islam. Walupun begitu nilai-nilai moral Islam tetap dipegang teguh, sementara misi terhadap revitalisasi Islam yang bisa menjadi dinamis dan mampu bersaing dengan ilmu pengetahuan dan perkembangan modern tanpa menghilangkan moral dan sandaran-sandaran agama masa lalunya. Gelombang reformisme pada awal abad ke-20 ini dicatat sebagai mewakili perkembangan intelektual Islam Islam Indonesia tahap pertama.

Perkembangan berbagai organisasi Islam yang berideologi pembaruan itu, tampaknya dianggap oleh NU secara khusus sebagai suatu ancaman akan eksistensi model pendidikan yang dilakukan melalui pondok-pondok dan pesantren-pesantren, dan atau secara umum mengancam eksistensi gerakan penganut salah satu dari empat mazhab (Laode, 1996 : 6).

28

Meskipun terdapat kerjasama antara tokoh-tokoh Islam dalam suatu organisasi yang bernama Kongres Al Islam tetapi tampaknya wadah para ulama tokoh Islam baik dari kalangan tradisi maupun pembaru ini tak mampu mengakomodasi kepentingan semua kalangan, karena didominasi oleh kalangan pembaru. Misalnya pada saat memenuhi undangan Raja Ibnu Sa’ud menghadiri Kongres Al Islam di Mekkah, dengan melalui Kongres Al Islam keempat di Yogyakarta pada tanggal 21-27 Agustus 1925 telah diputuskan delegasi yang hadir yaitu H. O. S Tjokroaminoto (dari Syarekat Islam) dan KH Mas Mansur (dari Muhammadiyah). Ini menimbulkan kekecewaan dari kalangan tradisi yang berdampak pada beberapa tindakan yang dilakukan oleh kalangan tradisi dalam rangka mempertahankan dan mempertahankan yang mereka anut (penganut salah satu dari empat mazhab). Salah satunya kalangan tradisi mengambil inisiatif untuk membangun kelompok yang bertugas khusus untuk berkunjung di Arab Saudi menemui Raja Sa’ud, penguasa Arab (Mekkah dan Madina, penganut aliran Wahabi) dalam rangka menyampaikan paling tidak dua masalah penting. Pertama, himbauan umat Islam Indonesia (khususnya penganut Ahlusunnah wal Jama’ah atau penganut dari salah satu empat mazhab) agar memberi kebebasan beribadah kepada masyarakat Arab penganut faham yang sama. Kedua, tidak melarang orang-orang Islam yang berziarah ke makam Nabi Muhammad SAW dan keluarga serta para sahabatnya, terutama yang mengandung sejarah Islam (Laode, 1996 : 8). Perjuangan itu memang berhasil yang ditandai dengan adanya kebijakan baru Raja Sa’ud tentang kedua himbauan tersebut ditambah dengan upaya

29

memberikan pelayanan kepada jamaah haji dari Indonesia. Kelompok ini semula merupakan Komite Hijaz, yang sesuai dengan kesepakatan awal memang akan berakhir namun bisa juga dianggap sebagai cikal bakal terbentuknya NU di Indonesia (Laode, 1996 : 9). Komite Hijaz ini dibentuk di rumah Kiai Wahab Chasbullah di Surabaya pada 31 Januari 1926, ia merupakan juru bicara kalangan tradisi yang paling vokal pada Kongres Al Islam. Untuk lebih memperkuat kesan pihak luar, komite ini memutuskan megubah diri menjadi sebuah organisasi dan menggunakan nama Nahdlatoel ‘Oelama. Pada tahun-tahun awal berdirinya, pertimbangan mengenai status Hijaz nampaknya tetap merupakan alasan tunggal kehadirannya (Bruinessen, 1994 : 34). Pembentukan NU merupakan reaksi satu sisi terhadap berbagai aktivitas kelompok reformis, Muhammadiyah dan kelompok modernis moderat yang aktif dalam gerakan politik, Syarekat Islam (SI), sisi lain terhadap perkembangan politik dan paham keagamaan internasional (Shobron, 2003 : 38). Muhammadiyah yang dibentuk di Yogyakarta pada tahun 1912 dan pada awal 1920-an aktif melebarkan sayapnya ke berbagai wilayah di Indonesia. Muhammadiyah sangat menekankan kegiatannya pada kepada pendidikan dan kesejahteraan sosial, dengan mendirikan sekolah-sekolah bergaya Eropa, rumah-rumah sakit, dan panti-panti asuhan, namun ia juga merupakan organisasi reformis dalam masalah ibadah dan akidah.

Muhammadiyah bersikap kritis terhadap berbagai kepercayaan lokal beserta berbagai prakteknya dan menentang otoritas ulama tradisional. Syarekat Islam

30

didirikan pada tahun yang sama, 1912, untuk membela kepentingankepentingan kelas pedagang Muslim dalam persaingan dengan kalangan Cina. Pada awal 1920-an, sayap paling radikal dari Syarekat Islam memisahkan diri dan bergabung dengan partai Komunis. Sebagai organisasi modern yang dipimpin oleh para intelektual dan politisi jenis baru dan mengaku mewakili kepentingan seluruh umat Islam Indonesia, Syarekat Islam merupakan ancaman serius terhadap posisi para pemimpin tradisional umat, Kyai (Bruinessen, 1994 : 18).

B. NU sebagai Organisasi Sosial Keagamaan 1. Paham Keagamaan NU Sejak awal berdirinya, NU telah menentukan pilihan paham keagamaan yang akan dianut, dikembangkan, dan dijadikan sebagai rujukan dalam kehidupan beragama, berbangsa, dan bernegara. Paham keagamaannya adalah Ahlussunah wal Jama’ah, dapat diartikan “para pengikut tradisi Nabi Muhammad dan ijma’ ulama”. Kata Ahlussunah wal Jama’ah berasal dari bahasa Arab, yang terdiri dari kata ahlu berarti keluarga, sunnah artinya jalan, tabiat, perilaku, dan jama’ah berarti sekumpulan. Kemudian dipandang dari istilah adalah kaum yang menganut jalan, tabiat dan perilaku Nabi Muhammad SAW dan sahabatsahabatnya. Jalan, tabiat dan perilaku Nabi Muhammad SAW dan sahabatsahabatnya masih terpencar-pencar, belum tersusun secara rapi dan teratur, kemudian dikumpulkan dan dirumuskan oleh Syeih Abu Hasan Al-

31

Asy’ari. Hasil rumusan tersebut berupa ketauhidan, yang dijadikan pedoman bagi kaum Ahlussunah wal Jama’ah.sehingga wajar kaum Ahlussunah wal Jama’ah disebut juga kaum Asy’ariyah. Dalam bidang fiqih kaum Ahlussunah wal Jama’ah menganut salah satu mazhab empat, yaitu: Hanafi, Maliki, Syafi’i dan Hambali (Darojat, 2006 : 15). Bertolak dari berbagai pengertian diatas, maka pengertian Ahlussunah wal Jama’ah adalah golongan umat Islam yang dalam bidang tauhid mengikuti ajaran Imam Al-Asy’ari, sedangkan dalam bidang fiqih mengikuti salah satu mazhab empat. Dalam kata pengantar Anggaran Dasar NU tahun 1947. KH. Hasyim Asy’ari menegaskan paham keagamaan NU, yaitu:
“Wahai para ulama dan para sahabat sekalian yang takut kepada Allah dari golongan Ahlussunnah wal Jama’ah, yah! Dari golongan yang menganut mazhab imam yang empat. Engkau sekalian orang-orang yang telah menuntut ilmu pengetahuan agama dari orang-orang yang hidup sebelum kalian dan begitu juga seterusnya dengan tidak gegabah dengan memilih seorang guru dan dengan penuh ketelitian pula kalian memandang seorang guru di mana kalian menuntut ilmu pengetahuan dari padanya. Maka oleh karena menuntut ilmu pengetahuan dengan cara demikian itulah, maka sebenarnya, kalian yang memegang kunci bahkan juga menjadi pintunya ilmu pengetahuan agama Islam. Oleh karenanya, apabila kalian memasuki suatu rumah, hendaknya melalui pintunya, maka barang siapa memasuki suatu rumah tidak melalui pintunya, maka ia dikatakan pencuri” (Shobron, 2003 : 53).

Pengantar dari KH. Hasyim Asy’ari itu dijadikan landasan bagi NU untuk menganut paham Ahlussunnah wal Jama’ah, pada suatu sisi, sisi lain pengantar diatas juga menjelaskan alur transformasi keilmuan di lingkungan NU. Sosok guru atau Kyai diibaratkan sebuah pintu sekaligus kunci dari pintu itu sehingga kalau seorang akan mencari ilmu harus melalui pintu, yaitu Kyai.

32

Paham yang dianut NU inilah yang menjadi dasar bagi setiap langkah kalangan ulama tradisional. Namun paham Ahlussunah wal Jama’ah yang dianut NU ini berbeda dengan paham kelompok modernis yang juga mengaku penganut Ahl al sunnah wa al-jama’ah. Perbedaannya terletak pada beberapa hal, antara lain kalangan tradisional dalam bidang hukum-hukum Islam menganut ajaran-ajaran dari salah satu mazhab empat sedangkan kalangan modernis tidak mengikuti ajaran-ajaran imam mazhab. Dalam memahami Islam kalangan modernis langsung langsung bersumber pada Al Qur’an dan hadis yang sahih, ijma dan qiyas tidak dijadikan sebagai sumber ajaran. Sedangkan bagi kalangan tradisionalis penganut Imam mazhab, ijma’ dan qiyas dijadikan sebagai sumber ajaran Islam (Shobron, 2003 : 54). 2. Anggaran Dasar NU Anggaran dasar formal NU yang pertama dibuat pada Muktamarnya yang ketiga pada tahun 1928. Anggaran dasar ini dibuat dengan tujuan mendapatkan pengakuan dari pemerintah Belanda yang pembuatannya sesuai dengan undang-undang perhimpunan Belanda. Atas dasar anggaran dasar ini, NU diberi status berbadan hukum pada Februari 1930 (Bruinessen, 1994 : 42). Anggaran dasar ini tidak menyebutkan dengan sangat eksplisit bahwa tujuan-tujuan NU adalah mengembangkan ajaran-ajaran Islam Ahlussunah wal Jama’ah dan melindunginya dari penyimpangan kaum pembaharu dan modernis. Sebagai contoh dalam pasal 2 anggaran dasar

33

NU disebutkan bahwa “Adapun maksud perkumpulan ini yaitu: Memegang dengan teguh pada salah satu dari mazhabnya imam ampat, yaitu Imam Muhammad bin Idris Asyj-Syafi’i, Imam Malik bin Anas, Imam Abu Hanifah An-Nu’man, atau Imam Ahmad bin Hambal, dan mengerjdakan apa saja yang menjadikan kemaslahatan Agama Islam” (Bruinessen : 1994 : 44). Dalam pasal 2 tersebut diatas dapat dijelaskan bahwa sikap berpegang teguh kepada salah satu dari emat mazhab merupakan ciri yang secara tegas membedakan kaum tradisionalis dengan kaum pembaharu. Dapat dikatakan bahwa anggaran dasar NU menekankan pada upaya melindungi Islam tradisional dari bahaya-bahaya gagasan dan praktek keagamaan kaum pembaharu. Namun dalam prakteknya anggaran dasar NU ini tidak semata-mata menunjukkan penolakan terhadap semua pendirian kaum pembaharu dan modernis. Sebagai contoh di dalam angaran dasar NU disebutkan bahwa masyarakat NU didorong malakukan pembaruan di bidang pendidikan yang coraknya tidak jauh berbeda dari kegiatan yang sebelumnya dipelopori oleh kaum pembaharu dan modernis. Madrasah, yang jumlahnya ingin ditingkatkan dalam anggaran dasar, pada waktu itu merupakan fenomena yang relatif baru di Indonesia dan merupakan pembaruan penting dari pesantren tradisional. 3. Orientasi Gerakan NU Tujuan didirikannya NU adalah untuk memeperjuangkan berlakunya ajaran Islam berhaluan Ahlussunah wal Jama’ah di tengah-tengah

34

kehidupan didalam wadah negara Kesatuan Republik Indonesia yang berasaskan Pancasila. Setelah NU terbentuk sebagai sebagai organisasi, kiprahnya dibidang pendidikan melalui pondok-pondok, pesantrenpesantren, madrasah-madrasah tetap digalakkan. Misi utamanya adalah mengembangkan dan mempertahankan ajaran Islam yang menganut salah satu dari empat mazhab. NU yang semula berkedudukan di Surabaya, pada awalnya hanya memiliki pendukung atau jama’ah dari Jawa dan Madura. Tapi tampaknya NU berupaya memperoleh simpati dari masyarakat Islam, yang memang sempat diraihnya setelah perjuangannya melalui Komite Hijaz berhasil ditanggapi secara positif oleh Raja Sa’ud. Orientasi gerakan NU pada tahap perkembangannya tidak hanya terbatas pada bidang pendidikan kemasyarakatan dan politik saja, melainkan sudah mulai berusaha mengembangkan kegiatan di bidang ekonomi. Secara formal organisatoris program di bidang ekonomi pertama kali diputuskan pada tahun 1930 dengan mendirikan Lajnah Waqfiyah (panitia wakaf) pada setiap cabang NU untuk bertugas mengurus masalah wakaf, dimana kegiatan berorientasi profit, tetapi keuntungannya adalah dalam rangka mendukung kegiatan sosial keagamaan (Laode, 1996 : 12). Dalam merealisasikan tujuannya, NU melakukan berbagai upaya. Di bidang keagamaan organisasi ini mengusahakan terlaksananya ajaran Islam menurut paham Ahlussunah wal Jama’ah dalam masyarakat dengan melaksanakan Amar ma’ruf nahi mungkar (menyeru kepada kebaikan dan mencegah kejahatan) serta meningkatkan Ukhuwah Islamiyah

35

(persaudaraan Islam). Di bidang pendidikan, pengajaran, dan kebudayaan, NU mengusahakan terwujudnya penyelenggaraan pendidikan dan

pengajaran serta pengembangan kebudayaan berdasarkan agama Islam untuk membina manusia muslim yang takwa, berbudi luhur,

berpengetahuan luas, terampil, berkepribadian, serta berguna bagi agama, bangsa, dan negara. Di bidang sosial NU mengusahakan terwujudnya keadilan sosial dan keadilan hukum di segala lapangan bagi seluruh rakyat untuk menuju kesejahteraan umat di dunia dan keselamatan di akhirat. Di bidang ekonomi NU mengusahakan terciptanya pembangunan ekonomi yang meliputi berbagai sektor dengan mengutamakan tumbuh dan berkembangnya koperasi.

C. Latar Belakang Berdirinya NU di Pemalang Sejarah pertumbuhan dan perkembangan NU di Pemalang tidak bisa terlepas dari sejarah pertumbuhan dan perkembangan NU secara nasional. Pendirian NU di Pemalang tidak bersamaan dengan berdirinya NU di tingkat nasional, yaitu tanggal 31 Januari 1926. Ini terjadi karena meskipun sudah banyak tokoh dan para ulama menyatakan masuk kedalam NU akan tetapi pada tahun 1926 mereka belum mengetahui anggaran dasar NU sebagai pedoman untuk melangkah kedepan, sehingga aktifitas NU pada waktu itu belum sesuai yang diharapkan. NU di Pemalang berdiri pada tahun 1934 setelah beberapa tahun sebelumnya yaitu pada tahun 1930 dilaksanakannya Muktamar NU di Pekalongan. Tokoh-tokoh yang berjasa dalam pendirian NU

36

di Pemalang diantaranya Kyai Suyad, H Ma’ful, H Maksudi, KH Mursidi, KH Kholil, dan H Husni (Wawancara dengan Bapak KH Noor Effendy, 20 April 2007). Kepengurusan NU di Pemalang pada awal berdirinya sebagian besar terdiri dari para tokoh pendirinya dan masih bersifat sederhana. Sebagai ketua dipilih H Ma’ful dan Suriahnya Kyai Suyad dengan sekretariat pengurus NU Pemalang bertempat di Pelutan (Pemalang kota). Semua gerak dan langkah NU pada waktu itu disesuaikan dengan situasi dan kondisi, yaitu masih dalam cengkraman penjajah. Namun garis pokok perjuangan tetap bersifat non koperatif. Latar belakang berdirinya NU di Pemalang adalah untuk mendukung berdirinya NU secara nasional. Hal ini diawali dengan adanya surat dari KH Hayim Asy’ari yang disampaikan oleh para tokoh ulama di Pemalang diantaranya Kyai Abdul Hamid mengenai gagasan mendirikan NU yang isinya tentang permintaan agar Kyai Abdul Hamid membantunya untuk mendirikan serta mengembangkan organisasi NU di wilayah Kabupaten Pemalang. Dengan harapan agar NU mampu mengakomodasi semua aspirasi masyarakat yang paham Ahlusunnah wal Jama’ah Dengan adanya hubungan batin yang erat antara Kyai dan pondok pesantren dapat mempercepat pendirian NU di Pemalang, tokoh-tokoh ulama di Pemalang merasa terpanggil untuk turut mendirikan dan mengembangkan NU (Wawancara dengan Bapak KH Zaenal Abidin Noory, 20 April 2007).

37

Kehadiran NU di Pemalang ternyata mendapat sambutan positif oleh masyarakat Pemalang. Organisasi NU dapat dengan mudah dikenal oleh masyarakat pada umumnya dan dijadikan sebagai alat perjuangan bagi warga NU khusunya. Ini terjadi karena faktor besarnya karisma para ulama yang mendirikan dan didorong oleh kondisi sebagian besar masyarakat Pemalang yang telah menerima dan menganut ajaran Ahlussunah wal Jama’ah. Terbentuknya NU di Pemalang dijadikan sebagai alat untuk memperjuangkan ajaran Islam pengaruh mazhab Ahlussunah wal Jam’ah yang bertujuan untuk menjawab tuduhan atas perilaku Bid’ah dari kalangan modern (Wawancara dengan Bapak KH Slamet Zaeny, 20 April 2007). Setelah NU terbentuk sebagai sebagai organisasi, langkah utama yang dilakukan adalah berusaha untuk mengembangkan pendidikan agama Islam terutama melalui pondok-pondok, pesantren-pesantren, madrasah-madrasah. Misi utamanya adalah mengembangkan dan mempertahankan ajaran Islam yang menganut salah satu dari empat mazhab. Kehadiran NU di Pemalang dijadikan sebagai media untuk menegakkan ajaran Islam Ahlussunah wal Jama’ah dalam kehidupan masyarakat Pemalang pada umumnya. Dengan bantuan para ulama NU Pemalang NU mengalami perkembangan yang cukup pesat terutama ketika NU menjadi partai politik pada tahun 1952. dengan kharisma yang dimilik oleh ulama NU, masyarakat Pemalang mengikuti apa yang diajarkan oleh para ulama, termasuk ajakan untuk menegakkan ajaran Ahlussunah wal Jama’ah.

38

D. Kehidupan Politik NU di Pemalang Dalam perjalanan sejarahnya, meskipun NU semula didirikan sebagai lembaga sosial keagamaan, NU tidak pernah terlepas dari persoalan politik praktis. Motivasi non politis tidak dapat bertahan lama, bahkan secara jujur harus diakui bahwa kelahiran NU itu merupakan langkah politis, baik untuk mempertahankan paham keagamaan, sebagai bentuk reaksi terhadap gerakan reformasi, modernisasi, terutama Muhammadiyah dan Sarekat Islam, maupun untuk menumbuhkan nasionalisme umat Islam (Sobron, 2003 : 47). NU sebagai organisasi sosial sejak awal berhimpitan dengan pemerintah dan negara, baik pada masa Belanda, Jepang, Orde Lama, Orde Baru, maupun pada masa reformasi. Dalam perjalanan politiknya NU pernah bergabung dengan MIAI, menjadi anggota istimewa Masyumi, mendirikan partai politik NU sendiri, bergabung dengan Partai Persatuan Pembangunan, dan terakhir mendeklarasikan pendirian Partai Kebangkitan Bangsa. Sejak awal berdirinya, NU tidak terlibat dalam gerakan politik praktis, namun ini hanya bertahan kurang lebih 11 tahun (1926-1937). Sebab setelah tahun 1937, NU terus terlibat dalam pendirian partai politik Islam, bahkan ikut terjun didalamnya sampai mendirikan partai politik sendiri. Keterlibatan NU dalam politik ini membawa keuntungan bagi NU cabang Pemalang, yaitu masyarakat lebih mengenal apa yang diperjuangkan NU dan keberadaan NU sendiri di lingkungan Masyarakat Pemalang pada umumnya (Wawancara dengan Bapak Noor Effendy, 20 April 2007).

39

Keterlibatan NU dalam politik di Pemalang sama seperti halnya seperti yang terjadi di tingkat nasional yaitu mengalami pasang surut baik pada saat NU tergabung bersama organisasi sosial politik lainnya maupun pada saat NU menjadi partai politik sendiri. Sejak awal berdirinya NU di Pemalang berfungsi sebagai lembaga sosial keagamaan namun dalam perkembangannya NU pernah bergabung ke dalam MIAI (Majlisul Islam A’la Indonesia) pada tahun 1937, bergabung ke dalam Masyumi pada tahun 1945, menjadi partai politik sendiri pada tahun 1952, menjadi anggota fusi bersama partai Islam dalam PPP pada tahun 1973-1984 dan yang terakhir pada masa reformasi dimana NU membidani lahirnya PKB tahun 1998. Hingga sampai sekarang NU masih berhubungan baik dengan DPC PKB Pemalang, namun hubungan ini bukan didasarkan pada hubungan organisatoris kedua lembaga melainkan hanya didasarkan pada hubungan secara batin dan sosiologis para pengurus dan tokoh NU Pemalang saja, sehingga terkesan ada hubungan organisatoris antara NU dengan DPC PKB (Wawancara dengan Bapak KH Zaenal Abidin Noory, 20 April 2007). 1. NU dan MIAI MIAI (Majlisul Islam A’la Indonesia) didirikan di Surabaya pada tanggal 21 September 1937 atas prakarsa ulama-ulama dari

Muhammadiyah, NU dan Sarekat Islam, yaitu KH. Mas Mansur (Muhammadiyah), KH. Muhammad Dahlan dan KH. Wahab Chasbullah (NU), dan W. Wondoamiseno (Sarekat Islam). Tujuan didirikannya MIAI

40

adalah sebagai wadah pemersatu umat Islam, sekaligus sebagai wadah perjuangan politik (Sobron, 2003 : 83). MIAI pada masa Belanda ini dapat mengadakan tiga kali kongres, yaitu tahun 1938, 1939, dan 1941. topik yang dibicarakan dalam kongres pada umumnya adalah tentang masalah-masalah agama dalam pengertian yang ketat, tetapi pada tahun-tahun terakhir pembahasannya meluas ke masalah-masalah politik. Perjuangan politik MIAI dilakukan semata-mata dengan tujuan untuk menegakkan ajaran agama Islam di Indonesia pada masa pemerintahan Belanda. Perjuangan di bidang politik masih dilakukan sejak jaman Jepang. MIAI yang sempat vakum, diperbolehkan hidup kembali oleh Jepang, sesuai dengan strategi politik Jepang yang merangkul kekuatan-kekuatan islam melalui ulama atau kyai. Pada tahun 1944 Jepang mengembangkan latihan militer khusus untuk guru-guru agama dan kyai, hal ini dilakukan dengan tujuan menambah wawasan tentang situasi dunia dan

meningkatkan semangat peserta untuk memberikan dukungan yang sebesar-besarnya kepada pemerintah yang pada waktu itu adalah Jepang. Latihan militer juga dilakukan oleh kalangan pemuda atau santri, yaitu dengan mendirikan Hizbullah yang merupakan organisasi khusus pemuda Islam. Untuk menggembleng tokoh dan ulama-ulama Islam agar menjadi prajurit yang tangguh dan mampu memimpin Bangsa untuk berperang melawan dan mengusir penjajah, maka pada tanggal 28 Februari 1945

41

diselenggarakan latihan Kemiliteran yang dipusatkan di Cibarusa Bogor, dibawah pimpinan seorag perwira Inteligen Jepang bernama Yanagawa dibantu Syudanco-syudanco PETA dimana pembukaannya disaksikan oleh KH. Wahid Hasyim dan KH. Abdulkahar Mudzakir. Dalam hal ini ulama Pemalang mengirim H. Busaeri dan Ahmad Chaeron Hadipranoto untuk mengikuti latihan kemiliteran di Cibarusa Bogor selama 4 bulan, sedangkan Noor Effendy dan Makkawi dikirim latihan ke DAIDAN Pekalongan selama 2 bulan dimana pelatihnya terdiri dari syudancosyudanco PETA (Wawancara dengan Bapak Noor Effendy, 20 April 2007). 2. NU dan Masyumi Kongres umat Islam se-Indonesia pada tanggal 7-8 November 1945 yang berlangsung di gedung Mu’allimin Muhammadiyah Yogyakarta telah melahirkan berdirinya partai Islam Masyumi. Pembentukan partai ini mendapat dukungan besar dari para ulama dan tokoh kelompok tradisionalis dan modernis. Dukungan yang terbesar diberikan oleh Muhammadiyah, NU, dan PSII. Dalam kongres itu menghasilkan dua keputusan penting, selain menyepakati pendirian Masyumi, juga memposisikan Masyumi sebagai satu-satunya partai politik bagi umat Islam di Indonesia. Posisi dan keinginan Masyumi menjadi satu-satunya partai politik Islam di Indonesia tidak bertahan lama, karena di dalam tubuh partai itu terjadi perpecahan, yang ditandai dengan keluarnya PSII

42

pada tahun 1947. Pertentangan juga terjadi antara NU dengan Muhammadiyah yang menjadi salah satu penyebab NU dari Masyumi. Keluarnya NU dari Masyumi disebabkan oleh: (1) keinginan NU sendiri untuk mandiri dalam berpolitik; (2) Masyumi didominasi oleh kelompok modernis; dan (3) perbedaan visi karena tradisi berpolitik yang dikembangkan kelompok tradisonalis dengan modernis; (4) NU dalam Masyumi tidak pernah menduduki posisi strategis (Shobron, 2003 : 88). Dalam politik terdapat istilah “tidak ada kawan atau teman dan musuh yang abadi, yang abadi adalah kepentingan politik itu sendiri”. Kalau kepentingannya terakomodasi akan terus memberikan dukungan, tetapi kalau kepentingannya ternyata tidak terakomodasi dukungannya akan dicabut. Karena sering terjadi konflik kepentingan dalam tubuh partai, maka NU keluar dari Masyumi pada 8 April 1952 dan mendirikan partai sendiri yang diberi nama sesuai dengan nama jam’iyahnya, yaitu Partai Nahdlatul Ulama (Wawancara dengan Bapak KH Zaenal Abidin Noory, 20 April 2007). Kiprah politik NU di dalam Masyumi tidak bertahan lama, konflik antara Muhammadiyah dan NU merupakan salah satu bentuk konflik antara dua aliran, yakni tradisonalis dan modernis. Ibarat sebuah sayap, tradisionalis sayap kanan, modernis sayap kiri. Untuk mencapai tujuan yang diharapkan yaitu Masyumi dapat dijadikan sebagai satu-satunya Partai yang mewakili umat islam, kedua sayap tersebut harus berkibar sesuai dengan irama dan fungsinya masing-masing, kalau salah satu

43

sayapnya patah, maka terbangnya akan miring dan membutuhkan waktu yang lama untuk mencapai tujuan itu. 3. NU Sebagai Partai Independen Dengan bermodal jumlah massa yang cukup besar, NU berusaha untuk memperoleh suara yang sebanyak-banyaknya dalam pemilihan umum. Pemilihan umum pertama tahun 1955 sebagai wujud konkret bagi kekuatan NU dan dapat dikatakan sebagai pukulan yang besar bagi Masyumi. Pada pemilu tahun 1955, NU menempatkan diri pada urutan ketiga perolehan suara dari 29 partai yang memperoleh kursi di DPR. Di Pemalang pada pemilu yang pertama ini juga mampu menempatkan NU pada tiga besar kekuatan politik. Yaitu dengan mendapatkan 10 kursi di tingkat kabupaten, hal ini terjadi karena NU dan PSII akur, sehingga banyak suara PSII yang memilih partai NU (Wawancara dengan Bapak KH Zaenal Abidin Noory, 20 April 2007). Keberhasilan NU menjadi empat besar dipengaruhi oleh dukungan basis massa pesantren dan kyai. Selain itu juga didukung oleh tema-tema kampanye, misalnya; siapa yang memilih NU akan masuk syurga, NU partainya santri dan kyai, Masyumi terlibat dalam pemberontakan DI/TII. Tema-tema ini memberikan andil perolehan suara NU pada waktu itu, karena disampaikan oleh juru kampanye yang sebagian besar adalah kalangan ulama atau kyai, sementara ucapan kyai adalah “kebenaran”, sehingga masyarakat pedesaan dan kalangan pesantren mengikuti apa kata kyainya.

44

Keberhasilan NU dalam menempatkan diri dalam empat kelompok besar, mengantarkan NU masuk ke lingkaran eksekutif dalam bentuk koalisi pemerintahan baru. NU memperoleh empat jabatan kementrian, yaitu Mr. Sunarjo (Menteri Dalam Negeri), Mr. Burhanudin (Menteri Perekonomian), KH. Fatah Yasin (Menteri Sosial), KH. M. Ilyas (Menteri Agama)sedangkan KH. Idham Chalid menduduki jabatan Wakil Perdana Menteri II (Shobron, 2003 : 91). Pada Pemilihan Umum yang kedua diselenggarakan tahun 1971. NU masih menunjukkan sebagai partai besar dengan menduduki peringkat kedua setelah Golkar dan diatas Parmusi di tingkat nasional. Golkar memperoleh suara 62,8 %, NU mendapatkan 18,6 %, dan Parmusi 7,37 %. Sedangkan partai Islam dan partai lainnya memperoleh suara tidak lebih dari 7 % dari keseluruhan jumlah pemilih. Sebagai contoh PNI hanya memperoleh 3.793.266 atau sekitar 6,94 % suara, PSII memperoleh 1.308.237 atau sekitar 2,39 %, Parkindo 745.359 suara atau 1,34 %, dan Perti 381.309 yaitu 0,70 % saja (Shobron, 2003 : 93). Dari keterangan diatas dapat dilihat bahwa walaupun NU menempati urutan kedua, namun terpaut cukup besar dibandingkan dengan Golkar, selisih 169 kursi. Kondisi semacam ini sangat menguntungkan bagi Golkar yang nantinya dijadikan sebagai alat kekuasaan bagi Orde Baru untuk menerapkan kebijaksanaannya politiknya yang berorientasi kepada pembangunan ekonomi dan dapat dengan mudah untuk mempertahankan kekuasaannya.

45

Sedangkan di tingkat lokal terutama di Pemalang perolehan suara NU di tingkat kabupaten (DPRD II) juga menempatkan NU sebagai kekuatan politik terbesar kedua setelah Golkar. Yaitu dengan memperoleh 12 kursi, sedangkan Golkar mendapat 13 kursi (Badan Arsip daerah Pemalang tahun 1991). 4. NU Berfusi ke dalam PPP Upaya restrukturisasi politik yang dilakukan oleh pemerintah Orde Baru pada awal kelahirannya menjadi faktor pendorong utama pembentukan PPP. Hal ini dianggap sebagai perubahan politik di tingkat nasional. Pengalaman traumatik dengan kehidupan kepartaian pada sistemsistem politik sebelumnya, dan obsesi terhadap suatu sistem politik yang dapat menjamin perbaikan ekonomi adalah bagian dari tuntutan perubahan itu. Untuk merealisasikan tujuan itu, pemerintah Orde Baru berupaya menerapkan kebijaksanaan ganda. Pertama, melakukan stabilisasi dan pembangunan ekonomi yang berorientasi pada pertumbuhan. Kedua, sekaligus mendukung yang pertama lalu melakukan penataan politik dengan harapan terbentuknya suatu sistem politik yang kondusif bagi pilihan kebijakan ekonomi (Haris, 1991 : 34). Selama diberlakukannya sistem politik Demokrasi Parlementer, kehidupan politik di tanah air yang didominasi oleh partai-partai dengan ideologi yang berbeda-beda menghasilkan konflik dan ketidakstabilan politik yang berkepanjangan. Hal ini yang mendasari langkah pemerintah Orde Baru dalam menjalankan pemerintahannya. Penataan politik yang

46

dilakukan

oleh

Presiden

Soeharto pada

pemerintahannya

adalah

menyederhanakan struktur kepartaian, baik dari segi jumlah, pola dukungan, basis massa, maupun aliran serta ideologi yang dianut oleh partai-partai. Sehingga pemerintah Orde baru dituntut untuk menciptakan suatu sistem politik yang relatif bebas dari pengaruh partai, berikut ideologi yang dibawanya. Menurut pemerintah Orde Baru tampaknya berlaku pandangan bahwa jumlah partai dan jumlah ideologi yang dibawanya identik dengan jumlah konflik dan ketidakstabilan politik yang dihasilkannya. Sedangkan kestabilan ekonomi bergantung pada kestabilan perpolitikan nasional. Pertumbuhan ekonomi dianggap dapat dicapai dengan mengeliminasikan kemungkinan konflik yang muncul dan kestabilan politik itu sendiri. Dalam hal mencapai maksud tersebut pemerintah Orde Baru setidaknya melakukan empat upaya. Pertama, menciptakan

pengelompokan politik yang baru di DPR. Hal itu yang akan mengatasi dominasi partai-partai, dan dapat menjadi “perpanjangan tangan” pemerintah. Oleh karena itu, pemerintah Orde Baru memperkuat organisasi Sekretariat Bersama Golongan Karya (Sekber Golkar), yang semula dibentuk atas prakarsa Angkatan Darat untuk menampung aspirasi golongan fungsional dan kekaryaan. Kedua, membangun suatu birokrasi yang bebas dari pengaruh partai politik (parpol) sehingga program pembangunan yang yang dicanangkan pemerintah dapat terlaksana dengan baik. Dalam upaya mewujudkan cita-cita itu, lalu pemerintah menciptakan

47

“jarak” antara partai dengan birokrasi. Selain itu, juga membiarkan kerjasama yang erat antara birokrasi dengan Golkar. Ketiga, mendorong pembentukan kelompok kepentingan korporatis yang bertujuan ganda. Upaya ini untuk mengeliminasikan konflik-konflik sosial yang muncul dari perbedaan kepentingan. Kecuali itu, sebagai upaya dimaksudkan untuk mengambil alih peran artikulatif dari partai-partai politik. Keempat, menyederhanakan jumlah partai dan ideologi yang dianut sehingga konflik dan ketidakstabilan diharapkan akan berkurang (Haris, 1991 : 35). Makna yang tersurat dari uraian di atas adalah feomena partai dan ideologi yang dibawa serta mencerminkan “fenomena kepolitikan lama”, yang akan menjadi arus pinggir dari tatanan politik yang baru. Selain itu, menurut pemerintah Orde Baru partai dengan basis ideologis hanya menghasilkan pertentangan-pertentangan sehingga cenderung dianggap sebagai “masa lalu yang buruk”. Oleh karena itu, partai-partai dengan basis ideologis perlu “dikuburkan” karena dianggap tidak sesuai lagi dengan kecenderungan Orde Baru yang berorientasi kepada program. Ini terlihat pada penolakan terhadap upaya rehabilitasi Masyumi yang

dilakukan oleh kalangan reformis Islam, dan hanya mengizinkan pembentukan Parmusi dengan susunan kepemimpinan yang sebagian ditentukan oleh pemerintah. Penggarapan dan pelumpuhan atas partaipartai juga tampak ketika pada 1969 Mendagri Amirmachmud mengeluarkan Peraturan Menteri Nomor 12 tahun 1969, yang populer dengan sebutan “Permen 12”. Ketentuan itu dimaksudkan untuk

48

memurnikan Golkar di DPRD Tingkat I dan II. Selanjutnya, menyusul Peratuan Pemerintah (PP) Nomor 6 Tahun 1970 yang mewajibkan atas pegawai negeri hanya memiliki loyalitas tunggal kepada pemerintah. Dalam upaya pelumpuhan terhadap partai-partai ideologis pemerintah Orde Baru juga membentuk wadah tunggal Korps Pegawai Negeri (Korpri) bagi seluruh negeri. Tujuan pembetukan Korpri untuk menggiring pegawai negeri dan keluarganya agar memberikan suara bagi Golkar (Haris, 1991 : 35). Di kalangan partai-partai Islam, “pembersihan” terhadap para politisi yang berhaluan keras berlangsung di dalam tubuh Parmusi dan PSII. Pemerintah menolak kehadiran kembali tokoh-tokoh Masyumi di dalam kepemimpinan Parmusi, yaitu Muhammad Roem yang terpilih dalam Muktamar I Parmusi di Malang. Pemerintah hanya merestui Parmusi di bawah H.M.S. Mintareja, yang dianggap lebih moderat. Setelah Pemilu 1971, “pembersihan” dialami pula oleh PSII yang menyelenggarakan muktamar di Majalaya, Jawa Barat, dan memilih pemimpin seperti Ch. Ibrahim, presiden Lajnah Tanfidziah, H. Wartomo Dwidjojuwono, Sekjen, dan H. Bustaman SH, ketua Dewan Pusat. Akan tetapi mereka dianggap berhaluan keras dan bersikap kritis terhadap pemerintah. Ini menjadi alasan bagi pemerintah untuk melakukan “pembersihan” bagi politisipolitisi yang berhaluan pada ideologis. Partai-partai yang mengalami “pembersihan” semacam inilah yang pada awal 1973 bergabung kepada PPP (Haris, 1991 : 36).

49

Hasil Pemilu 1971 secara mutlak dimenangkan oleh Golkar. Kemenangan dengan perolehan suara 62,8 persen bukan saja mempertebal keyakinan pemerintah terhadap upaya restrukturisasi politik yang dilakukannya, tetapi juga kian menipisnya kepercayaan diri di kalangan partai terhadap kemampuan mereka untuk lebih lama

mempertahankannya. Oleh karena itu, tidak mengherankan bila gagasan penyederhanaan partai yang mejadi komitmen pemerintah Orde baru tidak dapat ditolak oleh kalangan partai, termasuk partai-partai Islam, seperti NU, Parmusi, PSII, dan Perti. Pada Pemilu 1971 mereka secara total hanya memperoleh 27,1 persen, dan pada akhirnya menandatangani deklarasi pembentukan PPP pada tanggal 5 Januari 1973. Deklarasi itu dilakukan oleh tokoh-tokoh dari beberapa partai Islam antara lain; K.H. Dr. Idham Chalid (NU), H.M.S. Mintaredja S.H.(Parmusi), H. Anwar Tjokro Aminoto (PSII), Rusli Khalil (Perti), dan K.H. Masykur (Ketua Kelompok Pembangunan di Fraksi DPR). Proses pendeklarasian PPP juga menyebar ke beberapa daerah di Indonesia terutama bagi daerah yang memiliki basis massa NU. Pemalang sebagai salah satu daerah yang berbasis massa NU juga tidak terkecuali. Para ulama NU dan tokoh-tokoh Islam lainnya yang berasal dari organisasi sosial politik lainnya seperti Muhammadiyah, PSII, Perti juga

mendeklarasikan PPP di Pemalang sehari setelah pendeklarsian PPP di tingkat pusat. Pada awal pembentukannya DPC PPP Pemalang dibawah pimpinan H Solikhin Kohar yang berasal dari NU, kepemimpinannya

50

berlangsung sampai pada tahun 1982. Pada tahun 1982 sampai 1992 DPC PPP juga dipimpin oleh tokoh dari NU yaitu KH Asrori Saleh, BA (yang mengalami dua masa periode kepemimpinan). Penyatuan partai-partai Islam ke dalam PPP sebetulnya merupakan upaya dari pemerintah atau Golkar yang merugikan partai-partai Islam sendiri. Sebab sejarah keberadaan partai-partai Islam, sejak semula hanya bersifat organisasi sosial keagamaan seperti halnya NU, Muhammadiyah, Syarekat Islam, Perti selalu diwarnai dengan ketegangan diantara tokohtokohnya. Ini artinya usaha pemerintah dalam menyatukan partai dibalik obsesinya untuk menyederhanakan pembinaan, sebenarnya sudah

mengabaikan latar belakang sejarah organisasi dengan latar belakang “ideologi gerakan” yang berbeda. Memang organisasi Islam itu pernah bersatu, seperti halnya pada masa penjajahan Belanda dengan didirikannya MIAI, Masyumi pada zaman Jepang. Namun stabilitas organisasi itu hanya bersifat sementara, pada saat mereka sama-sama merasakan tantangan dari luar yang harus dihadapi dengan kesatuan islam. Namun setelah berjalan beberapa lama, benih-benih konflik lama kembali muncul menjadi pemicu konflik. Salah satu penyebab timbulnya konflik itu adalah mempertahankan ideologi gerakan (defensif), dan perebutan status dan kekuasaan di dalam organisasi pemersatu. Dengan demikian, yang semula diharapkan menjadi pemersatu, kemudian menjadi wadah dimana tokohtokohnya memperuncing konflik. Sebagai jawaban dari munculnya berbagai konflik yang terjadi di dalam tubuh PPP, beberapa unsur

51

melpaskan diri dari ikata politik yang ada seperti yang terjadi pada NU yang keluar dari keanggotaan fusi pada tahun 1984. Dapat dikatakan bahwa penyatuan partai-partai Islam ke dalam satu partai (PPP) merupakan strategi pemerintah dan Golkar untuk melanggengkan konflik internal, yang secara politis tidak menguntungkan untuk merebut simpati dari luar (massa pendukung), sehingga pada saat yang bersamaan simpati massa akan lari ke Golkar dengan kepemimpinan yang matang dan kondisi internal organisasi yang stabil (Wawancara dengan Bapak KH Slamet Zaeny, 20 April 2007).

BAB III STRATEGI NAHDLATUL ULAMA DALAM UPAYA MEMENANGKAN PARTAI PERSATUAN PEMBANGUNAN DI PEMALANG

A. Kehidupan Sosial Politik Masyarakat Pemalang Kehidupan politik di Pemalang pada tahun 1973-1984 pada umumnya masih cukup dikatakan stabil dalam arti kata tidak sampai mempengaruhi jalannya roda pemerintahan, peredaran perekonomian, perencanaan dan pelaksanaan pembangunan maupun terhadap sendi-sendi kehidupan

masyarakat pada umumnya. Aspirasi politik masyarakat tersalurkan melalui partai politik yang ada yaitu Golongan Karya (Golkar) yang sebagian besar terdiri dari mereka yang bekerja di bidang pemerintahan, Partai Persatuan Pembangunan (PPP) yang sebagian besar terdiri dari kalangan agamis, dan Partai Demokrasi Indonesia (PDI) yang sebagian besar berasal dari kalangan Nasionalis. Persaingan antara kekuatan politik satu dengan yang lain terlihat dinamis, tidak terjadi ketegangan-ketegangan yang bersifat fisik. Namun kehidupan partai politik dalam proses kiprah perjuangannya juga pernah mengalami pasang surut. Misalnya pada saat selesainya Pemilu 1977, yaitu pada awal tahun 1978 partai-partai politik di Pemalang mengalami sedikit kendala dalam upaya untuk memperjuangkan aspirasi politik pendukungnya. Hal tersebut terjadi akibat logis dari suatu langkah kearah konsolidasi dalam tubuh mereka masing-masing, namun demikian kondisi semacam ini masih dalam batas-batas pada tubuh pimpinannya yang belum menjalar pada

52

53

masyarakat pada umumnya, pengikut atau pendukung-pendukungnya pada khususnya. Dalam kepengurusan Golkar di Kabupaten Pemalang setelah

meninggalnya Soetopo sebagai ketua Golkar wilayah Pemalang mengalami kekosongan dalam kepemimpinan yang cukup lama. Keadaan semacam ini memaksa Golkar untuk melakukan aktivitas keluar, salah satunya dengan membentuk kepengurusan Angkatan Muda Pembaharuan Indonesia (AMPI) dan Majelis Da’wah Indonesia (MDI). Dalam kepengurusan Partai Persatuan Pembangunan (PPP) sejak bulan Maret 1978 terjadi keretakan diantara sesama tokoh-tokoh mereka. Keretakan itu diawali adanya keinginan tokoh muda dari unsur NU untuk meduduki jabatan atau kedudukan fungsionaris. Hal tersebut semula ditimbulkan oleh kurang adanya rasa kepercayaan antar tokoh, dan berakhir dengan usul penarikan kembali KH. Asrori Saleh, BA dari keanggotaan DPRD Kabupaten Pemalang. Sedangkan dalam kepengurusan Partai Demokrasi Indonesia (PDI) Kabupaten Pemalang tidak terlepas dari kemelut yang terjadi di kepengurusan tingkat nasional, yaitu adanya kepengurusan kembar antara Toni

Brotoharyanto Cs yang mendapatkan SK No. 79/IN/Org/DPP/XII/1977 dari pengurus pusat PDI pada tanggal 27 Desember 1977 dengan Soeharsono yang berdasarkan SK No. 89/IN/A/III/DPP/1978 dari pengurus pusat PDI tanggal 18 Agustus 1978. Kemelut kepengurusan kembar ini berkembang terus sampai akhirnya kedua tokoh PDI ini membuat pernyataan bersama dan

54

menyerahkan permasalahannya kepada DPD PDI Jawa Tengah. Sehingga pada tanggal 10 Juli 1978 DPP PDI Jawa Tengah mengeluarkan SK Nomor: 058/DPD/SK/Sek/VII/78, yang isinya tentang penyusunan pengurus

sementara untuk melaksanakan Konferensi Cabang dan selanjutnya pemilihan pengurus baru. Dengan keluarnya Surat Keputusan ini, pihak Toni Brotoharyanto megajak kepada Soeharsono agar segera dilaksanakannya Konferensi Cabang namun upaya itu ditolak (Arsip Kabupaten Pemalang, 1978 : 5 ). Kemelut yang terjadi di dalam tubuh parpol tidak mempengaruhi aktivitas masyarakat secara umum sehingga tidak menimbulkan permasalahan dapat mengganggu jalannya proses demokrasi. Dalam bidang pemerintahan, pembangunan, maupun usaha peningkatan pelayanan terhadap masyarakat dapat berjalan dengan baik tanpa adanya hambatan-hambatan yang cukup berarti.

B. Kiprah Politik NU Pemalang di PPP Sebagai sebuah kelompok sosial politik, umur NU terhitung tua dalam sejarah politik Indonesia. Organisasi yang berhaluan Islam Ahlussunah wal Jama’ah ini resmi menjadi partai politik pada tahun 1952 dan merupakan organisasi massa yang sangat kuat dan berakar pada masyarakat pedesaan di Jawa dan beberapa tempat di luar Jawa. Keberadaan NU di Pemalang semakin dikenal oleh masyarakat pada umumnya setelah NU terjun dalam politik yaitu

55

tahun 1952, dimana kekuatan politik NU berasal hampir dari seluruh wilayah Kabupaten Pemalang, terutama di daerah pedesaan. Sejak awal berdirinya NU di Pemalang, yaitu tahun 1934, kepengurusan NU masih bersifat sederhana dan orientasi gerakan NU waktu itu hanya bergerak di bidang sosial dan keagamaan, meskipun ada sebagian kecil pengurus NU yang terlibat dalam politik praktis, terutama pada masa Masyumi. Namun setelah NU menjadi partai politik tahun 1952, arah perjuangan NU juga merambah ke masalah-masalah politik. Sebagian besar pengurus NU di Pemalang terlibat langsung dalam politik praktis, baik itu mewakili individu maupun organisasi (Wawancara dengan Bapak Noor Effendy, 20 April 2007). Keterlibatan NU Pemalang dalam politik terus berlangsung sampai bahkan sekarang ini, meskipun sudah ada keputusan Muktamar NU untuk lepas dari kehidupan politik dan kembali menjadi lembaga sosial keagamaan. Dalam perjalanan politiknya, NU Pemalang pernah Bergabung dengan MIAI dan Masyumi, serta menjadi partai politik sendiri pada tahun 1952. Kebijaksanaan pemerintah Orde Baru meyederhanakan partai menjadi dua partai dan satu golongan ini memaksa NU Pemalang bersama Syarekat Islam Indonesia (PSII), Perti, Parmusi (yang kemudian berubah menjadi Muslimin Indonesia) untuk berfusi ke dalam PPP pada tanggal 5 Januari 1973. posisi NU di dalam kepengurusan PPP relatif cukup strategis, ini disebabkan oleh banyaknya Kyai NU yang menempati posisi-posisi penting dalam kepengurusan NU Pemalang seperti KH. Solikhin Kohar sebagai Ketua

56

Dewan Pimpinan Cabang (DPC) PPP, dan KH. Asrosri Saleh sebagai Wakil Ketua DPC PPP Pemalang, bahkan dapat dikatakan hampir sebagian besar pengurus PPP waktu itu berasal dari kalangan NU. Dengan komposisi yang paling dominan dalam kepengurusan PPP, posisi NU sangat kuat dan mewarnai kebijakan-kebijakan PPP. Ulama-ulama NU, baik yang berada dalam kepengurusan PPP maupun di luar pengurus saling bekerjasama dalam rangka memenangkan PPP. Sikap kritis NU yang ditunjukkan pada Pemilu 1971 sangat mempengaruhi perilaku dan sikap politik PPP dalam menghadapi persoalan penting seperti Rancangan-rancangan Ketetapan (Rantap) yang dibahas dalam Sidang Umum MPR 1973 dan kebijakan Flaoting mass (pengapungan massa) yang dipandang merugikannya, mengingat massa pendukungnya

pendukungnya banyak berada di pedesaan. Hal yang sangat menarik pada awal berdirinya PPP adalah mengenai RUU Perkawinan yang diajukan pemerintah ke DPR tanggal 3 Juli 1973 (kurang lebih tujuh bulan setelah berdirinya PPP). Karena RUU ini dinilai bertentangan dengan ajaran Islam, PPP mengadakan reaksi yang keras dan menolak RUU tersebut, didukung oleh demontrasi para pelajar dan mahasiswa Islam ke gedung DPR RI. Akhirnya pemerintah melakukan perubahan-perubahan yang cukup mendasar, dan RUU itu kemudian disahkan menjadi UU No. 1 tahun 1974 tentang Perkawinan (Sujuthi, 2001 : 100). Sikap kritis ini juga ditunjukkan oleh NU Pemalang dan DPC PPP Pemalang, yang juga menolak kebijaksanaan pemerintah mengenai RUU

57

Perkawinan. Para ulama dan masyarakat NU, yang sebagian besar juga merupakan pendukung PPP sangat kompak dalam menentang kebijaksanaan pemerintah itu dengan melakukan aksi protes kepada pemerintah kabupaten melalui jalur demontrasi dan diplomasi ke DPRD setelah pemerintah pusat mengajukan RUU ini ke DPR RI. Hal ini dapat disebut sebagai salah satu wujud kerjasama yang baik antara NU, masyarakat NU, dan PPP dalam menentang kebijaksanaan pemerintah (Wawancara dengan KH. Asrori Saleh, 20 April 2007). Kiprah politik NU di PPP berakhir sampai tahun 1984 yang dikenal dengan kembali ke Khittah 1962 dimana NU kembali sepenuhnya menjadi organisasi sosial keagamaan. Meskipun pemikiran-pemikiran NU pada awalawal berdirinya lebih banyak mewarnai keputusan PPP, terutama bila berhadapan dengan pemerintah yang dalam hal ini adalah Floating mass dan soal RUU Perkawinan PPP cukup kritis menghadapi kebijakan-kebijakan lembaga ekskutif yang merugikan partai khususnya dan umat Islam pada umumnya namun tidak berarti bisa terhindar dari konflik internal. Konflik yang timbul antara lain disebabkan oleh adanya ketidakpuasan dari NU mengenai kepemimpinan PPP, Kyai NU tidak banyak beranjak dari posisinya sebagai Majelis Syura, ekskutif partai diduduki oleh tokoh MI, HMS. Mintaredja. Ketidakpuasan ini didasari oleh hasil yang tidak seimbang mengingat NU merupakan komposisi yang dominan di PPP yaitu dengan memiliki basis massa yang kuat. Kalau pada Pemilu 1971 NU mendapatkan 58 kursi, pada Pemilu 1977 (setelah fusi menjadi PPP) mendapatkan 56 kursi,

58

dan tahun 1982 mendapatkan 45 kursi, disisi lain MI mengalami kenaikan dari 24 kursi pada tahun 1971 menjadi 25 kursi pada tahun 1977, naik lagi pada Pemilu 1982 menjadi 34 kursi (Shobron, 2003 : 96). Ketidakpuasan NU ditambah lagi oleh sikap MI melalui J. Naro yang melakukan ”de-NU-nisasi” dalam penyusunan Daftar Calon Sementara (DCS), yang menempatkan kyai NU pada urutan nomor bawah, misalnya KH. Yusuf Hasyim, KH. Syaefudin Zuhri, Mahbub Junaidi, KH. Masykur, KH. ImronRosyadi, Rahmat Mulyomiseno. Komposisi yang diusulkan Naro adalah NU = 49 kursi, MI = 30 kursi, SI = 15 kursi, dan Perti = 5 kursi. Tetapi kenyataannya berbeda, akibat dari sikap MI ini menjadikan sebab kemerosotan peolehan suara pada Pemilu 1982, karena PPP kehilangan 5 kursi, sedangkan NU ternyata dikurangi 9 kursi, dengan komposisi menjadi NU = 40, MI = 28, SI = 11, dan Peti 6 kursi (Shobron 2003 : 96). Ketidakpuasan demi ketidakpuasan yang dialami NU dalam bidang politik memberi pemikiran-pemikiran bagi NU untuk kembali ke Khittah 1926. Pemikiran ini mendapat tanggapan serius dalam Musyawarah Nasional (Munas) Alim Ulama NU di Situbondo, 18-21 Desember 1983, dengan dihasilkannya dua keputusan yakni: (1) pemulihan Khittah 1926, dan (2) pemantapan Pancasila sebagai Asas Tunggal. Hasil Munas ini dikuatkan dalam Muktamar NU ke-27 di Situbondo tahun 1984 yang menghasilkan keputusan bahwa NU menyatakan keluar dari PPP. Ini adalah pernyataan kedua bagi NU dalam panggung politik, setelah pernyataannya keluar dari

59

Masyumi. Hanya saja sewaktu keluar dari Masyumi NU mendirikan partai politik sendiri, paling tidak sampai masa akhir Orde Baru.

C. Strategi NU Dalam Perolehan Suara PPP di Pemalang 1. NU Sebagai Kekuatan Utama PPP Secara nasional masyarakat NU diperkirakan mencapai lebih dari 40 juta jiwa yang sebagian besar tinggal di pulau Jawa, mereka sebagian besar adalah rakyat jelata, baik di kota maupun desa. Dalam kehidupan sehari-harinya mereka sangat menjiwai ajaran Ahlusunnah wal Jama’ah. Pada umumnya mereka memiliki ikatan yang cukup kuat dengan dunia Pesantren yang merupakan pusat pendidikan rakyat dan cagar budaya NU (www. wikipedia.org). Tahun 1973-1984 penduduk Kabupaten Pemalang berjumlah sekitar 810.000 jiwa termasuk Warga Negara Asing (Arsip Kabupaten Pemalang, 1973 : 3), sebagian besar memeluk agama Islam sehingga dalam kehidupan sehari-harinya masyarakat Pemalang tercermin ajaranajaran Islam. Pemeluk Islam yang taat pada ajarannya disebut golongan santri, santri sendiri artinya pelajar Al Quran, mereka ini yang tinggal di kampung Kauman yang terletak di sebelah timur alun-alun Pemalang. Disamping golongan santri terdapat juga golongan abangan, yaitu mereka yang dalam menjalankan ajaran agama Islam juga masih menjalankan kepercayaan nenek moyang. Kebanyakan mereka bermukim di pedesaan Pemalang. Islam yang berkembang di Pemalang sebagian besar menganut

60

ajaran Ahlussunah wal jama’ah sehingga Pemalang sebagian besar penduduknya sebagai jama’ah NU. Pemalang sebagai bagian dari jawa Tengah juga merupakan salah satu basis NU. Jumlah masyarakat NU pada tahun 1973-1984 mencapai 80% dari jumlah keseluruhan umat Islam di Pemalang, mereka tersebar di seluruh wilayah baik kota maupun desa. Mereka yang tinggal di pedesaan sebagian besar bermata pencaharian di bidang pertanian sedangkan mereka yang tinggal di perkotaan lebih beragam mata pencahariannya, misalnya di bidang pemerintahan, perekonomian dan perindustrian (Wawancara dengan KH. Asrori Saleh, 20 April 2007). Secara historis-sosiologis, pesantren pada umumnya menjadi basis dan konsentrasi NU. Paham Ahlusunnah wal Jama’ah yang diformalkan sebagai paham keagamaan NU sebenarnya bersumber dari tradisi pesantren. Hal ini secara mudah dapat dimengerti karena para pendiri NU berasal dari pesantren. Terdapat jalinan hubungan kultural, edukasional, emosional dan spiritual-keagamaan yang sangat signifikan antara pesantren dan NU tidak mudah dipisahkan. Dengan adanya ikatan teologis-idelogis-keagamaan yang mewujud dalam kristalisasi paham Ahlusunnah wal Jama’ah semakin memperkuat ikatan hubungan antara pesantren dan NU. Dalam kaitannya dengan politik, basis kekuatan NU itu berawal dan berpangkal dari pesantren-pesantren di Indonesia. Dilihat dari perspektif ilmu komunikasi, pesantren berperan secara signifikan sebagai jaringan komunikasi politik bagi NU (Faisal Isma’il, 2004 : 46). Pesantren sebagai jaringan komunikasi politik masih bisa dikendalikan oleh NU, ini terjadi karena adanya ikatan batin yang kuat antara NU

61

dengan kyai-kyai di pesantren, mereka dipersatukan oleh ikatan ajaran Islam ala Ahlusunnah wal Jama’ah. NU dapat melakukan komunikasi politik dengan mudah dan lancar sehingga dengan mudah pula dapat memobilisasi para simpatisan dan para pendukungnya untuk memilih atau memberikan suara mereka kepada PPP. Besarnya jumlah pendukung baik dari masyarakat maupun kalangan pesantren serta kuatnya peranan ulama atau kyai merupakan faktor yang sangat berpengaruh terhadap perjalanan politik PPP di Pemalang. Sebagai organisasi yang berbasis massa, peranan NU dalam perolehan suara PPP terlihat dari jumlah jamaah NU (termasuk dari pesantren-pesantren sebagai basis kekuatannya) yang hampir tersebar merata di setiap daerah di Pemalang. Sebagai organisasi yang memiliki massa yang besar, NU mampu memberikan sumbangan yang besar bagi perolehan suara PPP. NU menarik massa pengikut yang sebagian besar berasal dari keluarga-keluarga para ulama, santrinya dan masyarakat umum. Penyebaran kekuatan politik NU hampir merata di seluruh wilayah kabupaten Pemalang baik di pedesaan maupun perkotaan. Karena sebagian besar para pendukung PPP berasal dari NU dan terdapat keterikatan yang erat antara kedua lembaga ini maka pada saat itu muncul anggapan bahwa membicarakan NU sama dengan membicarakan PPP Dengan panutan para ulama mereka berbondong-bondong untuk memberikan aspirasi politiknya kepada PPP pada saat Pemilu, terutama pada Pemilu tahun 1977 dan 1982. Secara politis, selain dari unsur-unsur kekuatan Islam lainnya hampir seluruh masyarakat NU di Pemalang menyalurkan aspirasinya kepada PPP, mereka pada waktu itu menyebut PPP sebagai ”ingon-ingon

62

NU”. Mereka sangat kompak dan solid dalam upaya untuk memenangkan PPP, yaitu dengan menyalurkan aspirasi politiknya ke PPP. Dengan komposisi yang paling dominan dalam PPP maka suara NU sangat diperhitungkan dalam setiap gerak politik PPP dan di lingkungan legislatif NU mampu berpengaruh terhadap setiap keputusan internal fraksi Persatuan Pembangunan. Sebagai contoh dalam pemilihan Bupati tahun 1978, dimana Bupati yang terpilih berasal dari kalangan NU yaitu Slamet Daryanto. Ini didasarkan pada jumlah unsur NU yang lebih dominan dalam fraksi Persatuan Pembangunan yaitu bila dibandingkan dengan unsur lainnya 80:20 (Wawancara dengan KH. Asrori Saleh, 20 April 2007). 2. Hadirnya Figur Kyai Sebagai Pemimpin Selama NU berada di PPP, sepak terjang NU memang sangat menggigit. Bersama anggota dari unsur lain, tahap awal keberadaan PPP telah mengagetkan pemerintah yang ditunjukkan dengan melancarkan

kritik tentang RUU Perkawinan yang diajukan oleh pemerintah tahun 1973. Langkah ini merupakan salah satu bentuk penentangan terbesar terhadap pemerintah yang dilakukan oleh PPP, ini diperkuat lagi oleh dukungan yang berasal dari kalangan masyarakat luar dengan adanya demontrasi-demontrasi baik dari kalangan pelajar, mahasiswa maupun masyarakat umum, yang membuat pihak pemerintah mengalah dan merevisi RUU itu. RUU itu dianggap sangat sekuler bahkan bertentangan

63

dengan ajaran Islam, dimana berupaya mengeluarkan perkawinan dari pengadilan agama ke kantor catatan sipil. Sikap PPP memang tidak selalu akomodatif terhadap gagasangagasan yang ditelorkan oleh kepemimpinan Golkar. Pada Sidang Umum MPR tahun 1978, misalnya, fraksi PPP yang dimotori oleh unsur NU (KH. Yusuf Hasyim, dkk) mengambil sikap “walk out” dari sidang karena ketidaksetujuannya dengan Rancangan Ketetapan (Rantap) tentang P-4, yang di dalamnya memasukkan materi aliran kepercayaan. Namun tindakan PPP ini tidak merubah sikap pemerintah atau fraksi-fraksi lain, karena rancangan ketetapan itu tetap disahkan, ini berarti PPP atau aspirasi Islam terkalahkan oleh kekuatan priyayi dan abangan sebagai kelompok sekuler yang mendominasi Golkar, ABRI, dan PDI (Shobron, 2003 : 44). Dari beberapa peristiwa diatas dapat diakui bahwa NU memegang peranan penting dalam PPP. Selain itu NU sebagai organisasi yang mempunyai massa terbesar tentunya juga mempunyai andil yang cukup besar di dalam perolehan suara PPP. Peranan NU dalam PPP terlihat pada hadirnya figur kyai sebagai pemimpin organisasi ke dalam masyarakat dengan menimbang bahwa kyai memegang peranan sentral dalam NU. Sesuai dengan namanya, NU adalah suatu organisasi yang menghimpun para kyai atau ulama, mereka mempunyai kedudukan atau posisi yang strategis di tubuh NU. Mereka dipilih dan ditempatkan di jajaran Dewan Konsultatif (Syuriyah) yang mengawal dan mengendalikan NU agar tetap berjalan sesuai dengan garis

64

besar kebijakan yang dibuatnya. Sejauh menyangkut persoalan politik, para kyai inilah yang telah “berjasa” kepada NU dalam setiap Pemilu yang diselenggarakan. Sehingga masyarakat bisa lebih menerima keberadaan PPP, apalagi didasari dengan figur kyai sebagai salah satu figur kharismatik di mata masyarakat. Tradisi yang sangat ditekankan dalam paham keagamaan dalam arti pengetahuan dan ajaran-ajaran agama sebisa mungkin diperoleh dari warisan turun-temurun kaum ulama atau kyai sebagai pewaris Nabi-tidak saja menjadi sumber pengikat “emosi-religius” bagi kalangan bawah, tetapi juga kalangan NU yang relatif telah megalami dan menyerap berbagai kebudayaan luar ke dalam dirinya. Tradisi dan kepatuhan yang hampir-hampir tanpa syarat terhadap kaum ulama ini sangat besar pengaruhnya terhadap penampilan politik anggota-anggota NU. Tradisi dan kharisma para kyai ini pulalah yang menyebabkan besarnya jumlah suara yang mampu yang mampu dikumpulkan PPP. Dengan dukungan para kyai atau ulama, NU mampu membawa PPP menjadi besar baik di Pemalang maupun di Indonesia, bahkan NU dapat disebut sebagai “pondok besar” yang mempunyai pengikut yang hampir menyebar ke seluruh wilayah Indonesia tidak terkecuali Kabupaten Pemalang. Distribusi geografis para pendukung ini terlihat dari jumlah pimpinan ranting PPP di Pemalang yang hampir rata-rata dari unsur NU. Seperti misalnya KH. Tosim Hanafi (Pemalang), KH. Asrori Saleh (Taman), KH. Mas’ud (Moga), dan Kyai Chambali (Ampel Gading), serta ulama-ulama NU lainnya. Sebagian besar ulama-ulama NU tersebut

65

biasanya memiliki pengikut yang jumlahnya tidak sedikit baik dari kalangan pesantren (santri) maupun masyarakat umum (Wawancara dengan Bapak KH Slamet Zaeny, 20 April 2007). Keterlibatan ulama-ulama NU dalam berbagai persoalan, termasuk persoalan politik dapat mencapai posisi strategis, karena adanya tiga pilar penting yang menjadi penopang, yaitu potensi internal ulama (kemampuan dan garis keturunan), kuatnya jaringan sosial organisasi NU dan jaringan sosial yang dibangun tradisi pesantren (Ummatin, 2002 : 116). Keterlibatan ulama-ulama di Pemalang ini tidak hanya terbatas dalam perkembangan keagamaan, sosial, dan kultural saja, diluar itu para ulama juga ikut terlibat dalam perkembangan proses politik, terutama kaitannya dengan PPP. Mereka secara langsung terlibat dalam proses kampanye dalam rangka untuk memenangkan PPP. Di dalam kampanye, para juru kampanye (Jurkam) bahkan membawakan ayat-ayat Al Qur’an dan Hadist-hadist Nabi agar memilih bahkan mewajibkan umat Islam untuk memilih PPP: satu-satunya partai Islam yang paling tepat untuk menyalurkan aspirasi politiknya. Melalui fatwa-fatwa politik mereka dapat meyakinkan jama’ah NU sehingga para jama’ah secara meyakinkan pula mengikuti fatwa politik para ulama. Dalam upaya memenangkan PPP ada beberapa ulama NU di Pemalang dalam proses kampanye mengikuti fatwa yang dikeluarkan oleh KH. Bisri Syansuri (Rais Aam PPP) yang isinya mewajibkan kepada seluruh umat Islam, khusunya seluruh warga PPP, untuk memilih PPP

66

dalam Pemilu. Fatwa itu menyerukan secara tegas bahwa barangsiapa yang tidak mencoblos PPP karena takut kehilangan kedudukan, jabatan, gaji, atau mata pencaharian, atau karena alasan-alasan lain, maka ia termasuk orang yang meninggalkan hukum Allah. Fenomena semacam ini merupakan suatu proses politik dimana apabila para ulama telah memutuskan untuk menyalurkan aspirasi politiknya ke OPP tertentu, maka bisa dipastikan para jamaahnya (keluarga ulama, santri dan komunitas di lingkungannya) juga akan menyalurkan aspirasi politik mereka ke OPP pilihan ulama tersebut (Ismail Faisal, 1999 : 29). 3. Tema Islam Sebagai Alat Perjuangan Menghadapi Pemilu 1977 dan 1982, agama (Islam) memiliki beberapa peran penting dalam perjuangan PPP. Pertama ia telah memberikan landasan identifikasi diri bagi PPP. Kedua, ia telah pula berfungsi sebagai tema sentral perjuangan PPP. Ketiga, dalam masa Pemilihan Umum, ia bukan saja berfungsi sebagai “pengikat” massa secara emosi keagamaan, tetapi juga telah menjadi alat untuk memberikan legitimasi keagamaan bagi kemenangan PPP (Prisma, 1981 : 36). Dalam upaya untuk memenangkan PPP, NU Pemalang melakukan beberapa strategi, antara lain dengan mengerahkan ulama-ulama NU untuk melakukan da’wah. Dengan melalui kegiatan pengajian, para ulama NU melakukan da’wah ke berbagai daerah yang di dalamnya juga mambicarakan tentang masalah politik yaitu dengan mengajak jama’ah

67

NU untuk berbondong-bondong memilih PPP sebagai satu-satunya partai Islam. Ini menunjukkan bahwa fungsi ulama sebagai pemimpin agama telah dicampuri dengan kepentingan politik. Pengajian ini dilakukan secara rutin sehingga masyarakat bisa mengenal lebih dekat bagaimana perjuangan NU dalam upaya memenangkan PPP. Pemanfaatan dari segi agama juga terlihat dalam kampanye dengan tujuan untuk memikat massa di berbagai wilayah kecamatan. Bahkan ada pelaksanaan kampanye PPP yang dilakukan di berbagai wilayah kecamatan selalu dimulai dengan pembacaan ayat suci Al Qur’an, setelah pembacaan ayat suci Al Qur’an lalu dilanjutkan dengan nyanyian kasidah seperti yang terjadi di Jombang, Jawa Timur. Bentuk lain penciptaan suasana itu terlihat ketika ada beberapa jurkam yang mengucapkan yel-yel “Allahu Akbar”. 4. Hubungan Kerjasama antara NU dengan PPP Keterikatan yang erat antara PPP dengan NU melahirkan kerjasama yang baik antara kedua lembaga ini, kerjasama ini tidak hanya terlihat dalam bidang politik tetapi terlihat juga dalam bidang agama yang kaitannya untuk menegakkan ajaran Ahlussunah wal Jama’ah dalam kehidupan sehari-hari. Hubungan ini didasarkan pada kesamaan tujuan bersama yaitu menciptakan masyarakat yang adil, makmur, sejahtera lahir batin dan demokratis yang diridloi oleh Allah SWT spirituil dan materiil berdasarkan Pancasila dan UUD 1945 dalam wadah Negara Kesatuan Republik Indonesia. Atas dasar itulah berarti secara formal PPP tidak berhadapan dengan negara kendati Islam dipakai sebagai azas atau ideologi (Syamsudin Haris, 1991 : 12).

68

NU Pemalang juga melakukan kerjasama dengan DPC PPP di berbagai bidang terutama yang berkaitan dengan kepentingan politik. Kerjasama ini diwujudkan dalam bentuk adanya kegiatan rutin pertemuan antara pengurus NU dengan DPC PPP yang di dalamnya membahas tentang kebutuhan masing-masing organisasi. Hubungan kerjasama ini menggambarkan adanya hubungan yang sangat dekat antara sikap politik organisasi NU dengan DPC PPP Pemalang. Karena terlalu dekatnya hubungan antara NU dengan DPC PPP Pemalang, interaksi sosial politik keduanya sama-sama memberi sumbangan positif secara timbal balik (Wawancara dengan Bapak KH Zaenal Abidin Noory, 20 April 2007). Kerjasama antara NU dengan DPC PPP Pemalang terlihat dalam berbagai bidang, terutama yang berkaitan dengan pengembangan organisasi. Misalnya yang berkaitan dengan konsolidasi dan

pengembangan partai. Dalam upaya pengembangan PPP dan NU ini menekankan pada konsolidasi organisasi yang meliputi antara lain: 1. Rekrutmen anggota dan pembinaan keanggotaan Memasyarakatkan pentingnya pendaftaran anggota kepada masyarakat umum khususnya kepada jama’ah NU, memelihara daftar anggota, serta memantapkan keanggotaan Partai yang bersifat perorangan. Memantapkan kebersamaan, kesetiaan, dan persaudaraan di antara anggota, pimpinan dan kader Partai. 2. Usaha pengadaan sarana, prasarana, dan penertiban administrasi

69

Mengusahakan agar pimpinan partai di semua tingkatan mengusahakan kelengkapan organisasi, antara lain: kantor sekretariat, alat-alat administrasi perkantoran, serta hal-hal lain yang diperlukan untuk kelancaran tugas-tugas organisasi ataupun Partai. 3. Pengembangan organisasi dan kelembagaan NU dan PPP akan terus meningkatkan dan memantapkan mekanisme kerja kepemimpinan organisasi di setiap tingkatan dengan prinsip kekeluargaan. Pengembangan organisasi juga dilakukan dengan melaksanakan pendidikan dan pelatihan kerja pembinaan kader Partai yang sebagian besar berasal dari NU (Arsip sekretariat DPC PPP Pemalang tahun 1991). Langkah politis yang dilakukan oleh NU Pemalang tersebut diatas menunjukkan bahwa jumlah pengikut yang besar dan kemampuan ulama dalam memimpin masyarakat baik dalam masalah keagamaan maupun sosial sangat berperan dalam setiap langkah PPP di pentas perpolitikan baik tingkat nasional maupun lokal yang dalam hal ini adalah Pemalang. Hadirnya figur kyai yang didasari dengan ilmu keagamaan dan kharisma dapat mempermudah untuk mengajak warga atau jama’ah NU untuk menyalurkan aspirasi politiknya ke PPP, dengan menggunakan berbagai dalih termasuk dalih agama diharapkan mampu meggiring sebanyak-banyaknya suara jama’ah NU maupun masyarakat umum untuk memilih PPP pada Pemilu tahun 1977 dan 1982. Dengan kata lain agama memainkan peranan penting dalam upaya untuk perolehan suara sebanyak-banyaknya.

BAB IV HASIL PEROLEHAN SUARA PARTAI PERSATUAN PEMBANGUNAN PADA PEMILU 1977 DAN 1982 DI PEMALANG

A. Pemilu 1977 dan 1982 di Pemalang Pemilu 1977 merupakan Pemilu yang pertama setelah fusi partai-partai Islam ke dalam PPP. Pada saat itu PPP tampil atraktif dengan membawa bendera Ka’bah untuk memenangkan Pemilu. Dengan semangat dan kekompakan yang terjalin di antara unsur-unsur Islam yang tergabung di dalamnya PPP berusaha tampil kritis terhadap Pemerintah. Pada saat yang sama upaya sekularisasi politik mulai dilakukan oleh Pemerintah Orde Baru secara terus menerus. Oleh karena itu, tidak mengherankan bila R. William Liddle melukiskan susasan Pemilu 1977 sebagai pertarungan dua kekuatan, “The Goverment versus Islam” (Haris, 1991 : 1). PPP berjuang sekeras mungkin untuk memenangkan Pemilu dengan berbagai strategi politik yang dilakukan. Guna memanfaatkan emosi pemeluk Islam, PPP tampil dengan isu-isu agama. Terutama terlihat dari munculnya lambang Ka’bah sebagai lambang partai dan fatwa KH. Bisri Syansuri, PPP tampil sepenuhnya sebagai partai Islam. Segenap kekuatan telah dikerahkan, bahkan seruan “Allahu Akbar” (Tuhan Maha Besar) telah bergema di manamana selama kampanye.

70

71

Bersama unsur lain yang tergabung di dalam PPP, NU Pemalang bekerjasama dan tampil kompak serta solid dalam rangka memenangkan PPP, dengan harapan PPP mampu mewakili aspirasi umat Islam seutuhnya dan menjadi satu-satunya tempat untuk menyalurkan aspirasi mereka. Disamping itu PPP juga dapat dijadikan sebagai media untuk mencapai cita-cita politik umat Islam dan media untuk menciptakan suatu masyarakat madani yang adil dan makmur yang diridhoi oleh Allah SWT dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia. Pemilu 1982 merupakan Pemilu kedua pada Pemerintahan Orde baru, dimana PPP masih menjadi rival berat bagi Golkar. Dengan kekuatan yang tergabung di dalamnya PPP mampu menjadi kekuatan terbesar kedua setelah Golkar. Pemilu ini sekaligus merupakan keikutsertaan NU dalam politik praktis karena setelah tahun 1984 NU menyatakan diri keluar dari keanggotaan fusi PPP. Sedangkan Pemilu 1987 merupakan Pemilu dimana NU tidak lagi masuk ke dalam fusi bersama partai Islam lainnya di PPP. Pada pemilu 1987 perolehan suara PPP mengalami penurunan yang sangat drastis ini disebabkan oleh keluarnya NU dari keanggotaan fusi. Hal ini merupakan fenomena yang wajar dalam politik, mengingat NU merupakan komposisi yang paling dominan dalam PPP (Wawancara dengan Bapak KH. Zaenal Abidin Noory, 20 April 2007). Perolehan suara pada Pemilu 1977, Pemilu 1982 dan Pemilu 1987 di Pemalang dapat dilihat lebih jelas sebagai berikut:

72

Tabel 1. Jumlah Perolehan Suara Pemilu 1977-1987 Kabupaten Pemalang Pemilu 1977 1982 1987 PPP 132.251 148.650 119.714 Golkar 202.351 203.226 332.658 PDI 86.215 47.948 72.184

(Sumber: Badan Arsip Daerah Kabupaten Pemalang, 1991).

Dari tabel 1 tersebut diatas dapat dijelaskan bahwa pada Pemilu tahun 1977 PPP mampu menjadi kekuatan terbesar kedua setelah Golkar yaitu dengan memperoleh suara 132.251 suara atau 31,42 % dari jumlah keseluruhan. Pada perolehan suara Pemilu 1982 PPP masih menjadi rival bagi Golkar dengan memperoleh suara 148.650 atau 30,98 % dari jumlah keseluruhan. Namun pada Pemilu 1987 perolehan suara PPP di Kabupaten Pemalang mengalami penurunan yang sangat drastis, ini disebabkan karena NU menyatakan diri untuk keluar dari keanggotaan fusi, yang terkenal dengan sebutan kembali ke Khittah 1926I. Langkah NU ini disebabkan oleh salah satunya adanya ketidakpuasan terhadap kepemimpinan pusat dibawah pimpinan DJ Naro sehingga tokoh-tokoh NU melakukan aksi penggembosan suara PPP di tingkat nasional pada Pemilu 1987. Aksi ini mempengaruhi perolehan suara PPP di tingkat lokal, termasuk dalam hal ini adalah Pemalang. Warga NU bebas menyalurkan aspirasi politiknya melalui partai politik atau organisasi sosial politik manapun (PPP, Golkar, atau PDI).

73

B. Perolehan Suara PPP Di Pemalang Kiprah politik NU selama di PPP telah memberikan kontribusi yang besar terhadap gerak politik PPP di Pemalang terutama kaitannya dengan kedudukan NU sebagai organisasi yang berbasis massa sehingga keberadaan NU berpengaruh terhadap perolehan suara di Kabupaten Pemalang. Dengan berbagai strategi yang dilakukan oleh NU Pemalang termasuk di dalamnya dengan mengerahkan ulama-ulama NU untuk terlibat langsung dalam proses kampanye PPP di seluruh wilayah Kabupaten Pemalang, serta strategi lainnya yang dilakukan untuk memenangkan PPP mampu menjadikan PPP menjadi kekuatan terbesar kedua setelah Golkar. Perolehan suara PPP pada Pemilu 1977 dan 1982 di kabupaten Pemalang menunjukkan bahwa PPP mampu menjadi rival bagi Golkar. Penyebaran perolehan suara PPP hampir merata di semua wilayah kecamatan. Pada setiap kecamatan terdapat persaingan dalam perolehan suara antara PPP dengan Golkar. Bahkan pada saat itu Pemilu di Pemalang dikatakan sebagai pertempuran tunggal antara PPP dengan Golkar. Namun demikian Partai lain yaitu PDI, meskipun perolehan suaranya merupakan jumlah yang terkecil namun keberadaannya diakui oleh masyarakat secara umum termasuk bagi warga NU. Perolehan suara PDI di beberapa daerah kecamatan sangat minim, tetapi juga ada beberapa daerah dengan perolehan suara PDI yang besar. Hasil perolehan suara PPP di kabupaten Pemalang dapat dilihat lebih jelas pada tabel berikut ini:

74

Tabel 2. Hasil perolehan Suara PPP Kabupaten Pemalang Pada Pemilu 1977, 1982, dan 1987 No. Kecamatan 1977 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. 10. 11. 12. 13. Pemalang Taman Petarukan Ampelgading Comal Ulujami Bodeh Bantarbolang Randudongkal Moga Belik Watukumpul Pulosari 20.115 16.660 16.185 5.650 10.101 9.013 4.228 8.293 12.143 17.763 4.965 5.149 847 131.172 Pemilu 1982 22.199 18.463 16.362 6.232 11.611 9.354 5.228 10.364 13.803 20.742 6.168 5.793 990 147.829 1987 18.814 16.871 14.444 4.817 8.443 6.100 4.214 9.356 9.630 15.212 4.296 6.093 1.051 119.341

Jumlah

(Sumber: Sekretariat DPC PPP Kabupaten Pemalang).

Dari tabel tersebut diatas dapat dijelaskan bahwa perolehan suara PPP di Pemalang pada Pemilu 1977 dan 1982 cukup stabil dan penyebarannya hampir merata di seluruh wilayah kecamatan. Dari ke 13 wilayah kecamatan yang terdapat di Pemalang, hanya sebagian kecil saja yang perolehan suaranya minim. Sebagai contoh di Kecamatan Pulosari, PPP hanya memperoleh 847

75

suara. Ini terjadi karena kondisi geografis yang kurang mendukung, yaitu wilayah ini merupakan salah satu daerah yang terpencil yaitu terletak di bagian Pemalang paling ujung selatan yang berbatasan dengan Kabupaten Purbalingga. Letak dan kondisi alam yang sulit dijangkau dapat mempersulit proses pelaksanaan sosialisasi dan kampanye PPP. Faktor lain yang menentukan dalam perolehan suara PPP di Pemalang selain faktor geografis juga dipengaruhi oleh adanya pergeseran perilaku politik kyai NU. Menjelang Pemilu 1977 dan 1982, solidaritas dan supremasi kekuatan para kyai dan ulama NU mulai goyah. Dalam periode ini dilaporkan ada beberapa kyai NU sudah menyeberang ke Golkar karena pertimbangan dan godaan politik. Hal ini merupakan fenomena yang wajar-wajar saja dalam kehidupan politik, karena kyai dan ulama itu adalah juga manusia biasa yang mempunyai kecenderungan, minat dan suka berpolitik. Disamping karena terdorong oleh godaan-godaan politik untuk bergabung dengan Golkar, kyaikyai NU terkesan tidak “kerasan”untuk selalu mendukung PPP karena faktor ketersisihan unsur-unsur NU oleh unsur lain dalam partai tersebut. Ini menyebabkan beberapa kyai NU mencari saluran politik baru yang mereka rasakan lebih leluasa dan lebih segar dalam Golkar yang terkenal memiliki program-program yang lebih menarik di bidang pembangunan, ekonomi, dan sosial, sosial dan politik. Salah seorang kyai NU yang dikenal sebagai perintis dan pelopor untuk bergabung dengan Golkar adalah Kyai Musta’in Ramli, dari Jombang, Jawa Timur. Langkah kyai Musta’in Ramli ini pada gilirannya diikuti oleh kyai-kyai NU lainnya yang menyebabkan sayap kekuatan Golkar

76

semakin kuat. Sebagai contoh di Pemalang juga terdapat kyai NU yang mengikuti langkah kyai Musta’in Ramli yaitu kyai Masy’ari dari Bantarbolang. Sebagai seorang kyai yang berpengaruh di lingkungan dimana ia tinggal, tentunya langkah yang dilakukannya itu dapat dengan mudah diikuti oleh pengikutnya baik dari keluarga, santrinya, maupun masyarakat umum (Wawancara dengan KH Asrori Saleh, 20 April 2007). Dari keterangan di atas dapat diketahui bahwa pergeseran perilaku kyaikyai NU yang terjadi di lingkup nasional maupun daerah dapat mempengaruhi perolehan suara PPP. Apabila seorang kyai telah memutuskan untuk menyalurkan aspirasi politiknya ke OPP tertentu, maka bisa dipastikan para jamaahnya (keluarga ulama, santri dan komunitas di lingkungannya) juga akan menyalurkan aspirasi politik mereka ke OPP pilihan ulama tersebut. Langkah politik yang dilakukan oleh kyai Masy’ari ini merupakan fenomena politik yang wajar-wajar saja sebagai seorang individu. Namun kalau dilihat dari kedudukannya di mata masyarakat tentunya akan berdampak lain. Masyarakat akan mengikuti apa yang dilakukan oleh panutannya itu, sehingga secara tidak langsung dapat mempengaruhi perolehan PPP. Adanya berbagai macam konflik internal di tubuh PPP juga mempengaruhi gerak politik Partai. Keretakan yang terjadi di antara sesama tokoh di tubuh PPP Pemalang yang terjadi pada bulan Maret 1978 secara tidak langsung mempengaruhi kekompakan unsur-unsur yang tergabung di dalam fusi. Hal tersebut merupakan akibat logis dari suatu langkah kearah konsolidasi dalam tubuh Partai, namun demikian konflik internal itu masih

77

dalam batas-batas pada tubuh pimpinannya yang belum menjalar pada masyarakat pada umumnya, pengikut atau pendukung-pendukungnya pada khususnya. Pemilu 1987 PPP mengalami kemerosotan suara hampir di semua wilayah kecamatan di Pemalang. Perolehan suara itu merupakan kemerosotan terbesar yang di alami PPP, ini disebabkan karena adanya berbagai masalah intern partai seperti misalnya ketidakpuasan NU atas kepemimpinan J Naro, sehingga bayak kalangan ulama NU maupun warga NU yang menyalurkan aspirasi politiknya ke Golkar dan PDI, hal ini diawali dengan adanya Muktamar NU pada akhir 1984 di Situbondo NU menyatakan kembali menjadi organisasi sosial keagamaan atau kembali ke Khittah 1926. Para ulama dan tokoh-tokoh NU setelah melakukan koreksi, introspeksi dan refleksi terhadap perjalanan NU selama ini, terutama pergumulan NU dalam bidang politik praktis dan setelah dievaluasi untung-ruginya, akhirnya sampai pada kesimpulan bahwa NU harus kembali ke jati dirinya, kembali menjadi organisasi sosial keagamaan seperti pada saat berdirinya pada tahun 1926. Dengan kembalinya NU ke Khittah 1926 secara politis NU tidak terikat dengan semua organisasi politik manapun. Keputusan itu secara tegas berarti menyatakan NU keluar dari PPP. Ini merupakan pernyataan kedua bagi NU dalam panggung politik, setelah pernyataannya keluar dari Masyumi. Hanya saja, sewaktu keluar dari Masyumi NU mendirikan partai politik sendiri, sementara setelah keluar dari PPP NU tidak mendirikan partai politik sendiri. Kiprah politik NU secara organisatoris sudah akan terputus. Dalam hal ini NU memberi kebebasan

78

sepenuhnya anggota dan tokoh NU untuk menentukan pilihan politiknya sendiri, tanpa perlu mengaitkannya dengan NU. Namun tidak menutup kemungkinan bagi kyai-kyai NU tetap berkhidmat di PPP. Semenjak kembalinya NU ke Khittah 1926 aspirasi politik NU disalurkan ke partai politik yang ada, baik di Golkar, PPP, dan PDI. Kembalinya NU ke Khittah 1926, ada harapan baru bagi generasi muda NU yang akan melihat NU dalam wajah baru, yakni wajah sosial keagamaan, tidak lagi berwajah politik sebagaimana yang selama ini ditampilkan. Dengan wajah baru diharapkan NU mempunyai waktu yang cukup untuk memperhatikan fungsinya sebagai organisasi sosial keagamaan. Sebagai unsur pendukung PPP yang terbesar, NU mempunyai pengaruh paling kuat dalam perolehan suara PPP. Dengan kembalinya NU ke Khittah 1926 berarti bahwa NU kembali kepada eksistensinya sebagai organisasi sosial keagamaan, dan melepaskan ikatan politiknya dengan partai politik manapun, termasuk PPP sendiri. Hubungan NU Pemalang dengan DPC PPP Pemalang secara politis menjadi tidak komunikatif lagi. Langkah NU ini membawa dampak besar terhadap perolehan suara PPP di Pemalang. Perolehan suara PPP di beberapa wilayah kecamatan megalami penurunan yang drastis. Alasan mengapa NU menyatakan keluar dari partai ini karena tidak lain adanya kekecewaan terhadap perimbangan kursi unsur dalam DCS yang diajukan oleh Naro pada Pemilu 1982, dan tergesernya orang-orang NU dalam kepengurusan partai di tingkat pusat. Disamping itu terjadinya konflik dan kemelut internal yang terjadi di tubuh partai (Wawancara dengan Bapak KH Zaenal Abidin Noory, 20 April 2007).

79

BAB V PENUTUP

Berdasarkan permasalahan, hasil penelitian, dan pembahasan tentang Peranan NU Pemalang dalam perolehan suara PPP (Suatu Kajian Historis Tahun 1973-1984), maka dapat disimpulkan sebagai berikut: Nahdlatul Ulama (NU) merupakan salah satu organisasi sosial keagamaan di Indonesia yang didirikan pada tanggal 31 Januari 1926 di Surabaya oleh sejumlah ulama tradisional yang diprakarsai oleh KH. Hasyim Asy’ari. Organisasi ini berakidah Islam menurut paham Ahlussunah wal Jama’ah. Pembentukan NU merupakan reaksi dari ulama tradisional dalam menjawab tuduhan yang datang dari kalangan pembaharu atau modernis. Kalangan Pembaharu atau modernis beranggapan bahwa ajaran Islam yang terdapat di Indonesia telah manyimpang dari sumber utama Al Qur’an dan Hadist dan menyatakan bahwa belajar agama Islam, tidak seharusnya bersumber dari kitab-kitab imam mazhab, tetapi hendaklah dilihat dari sumber aslinya Al Qur’an dan Hadist. Sementara kalangan tradisional mempertahankan metode mazhab dalam memahami ajaran Islam, bahkan mengikuti salah satu dari empat mazhab (Maliki, Hanafi, Syafi’i, dan Hambali) adalah wajib. Melalui NU, kalangan tradisional berusaha untuk menegakkan berlakunya syariat Islam yang berhaluan Ahlussunah wal Jama’ah dan menganut salah satu dari empat mazhab. NU di Pemalang berdiri pada tahun 1934 setelah beberapa tahun sebelumnya yaitu pada tahun 1930 dilaksanakannya Muktamar NU di Pekalongan. Tokoh-tokoh yang berjasa dalam pendirian NU di

79

80

Pemalang diantaranya Kyai Suyad, H Ma’ful, H Maksudi, KH Mursidi, KH Kholil, dan H Husni. Latar belakang berdirinya NU di Pemalang adalah untuk mendukung berdirinya NU secara nasional. Dalam perjalanan politiknya, NU pernah bergabung dalam MIAI, menjadi anggota istimewa Masyumi, dan mendirikan Partai politik NU sendiri, bergabung dengan Partai Persatuan

Pembangunan, dan terakhir mendeklarasikan Partai Kebangkitan Bangsa. Secara politis pada tahun 1973-1984 kekuatan NU tergabung dalam Partai Persatuan Pembagunan (PPP). Kebijaksanaan pemerintah Orde Baru meyederhanakan partai menjadi dua partai dan satu golongan ini memaksa NU Pemalang bersama Syarekat Islam Indonesia (PSII), Perti, dan Muslimin Indonesia (MI) untuk berfusi ke dalam PPP pada tanggal 5 Januari 1973. Menghadapi Pemilu 1977 dan 1982 bersama unsur lainnya NU berusaha untuk memenangkan PPP. Strategi yang dilakukan NU untuk memenangkan PPP di Pemalang, yaitu dengan mamanfaatkan keberadaan NU sebagai organisasi massa yang memiliki pengikut yang jumlahnya tidak sedikit baik di tingkat nasional maupun lokal yang dalam hal ini adalah Pemalang, mengerahkan ulama-ulama NU Pemalang untuk terlibat langsung dalam proses kampanye yang dilakukan di beberapa daerah di kabupaten Pemalang, dalam kegiatan kampanye PPP para ulama NU di Pemalang berusaha untuk memikat hati masyarakat agar menyalurkan aspirasi politiknya ke PPP dengan berbagai cara termasuk menggunakan tema perjuangan Islam, dan melakukan kerjasama di berbagai bidang antara NU dengan DPC PPP Pemalang. Sebagai hasilnya perolehan suara PPP di Pemalang mampu menjadikan PPP sebagai kekuatan terbesar kedua setelah Golkar dan menjadi tandingan

81

Golkar yang cukup berarti dalam Pemilihan Umum 1977 sampai pada Pemilu 1982. Hasil yang diperoleh PPP di Pemalang diluar dugaan baik PPP sendiri maupun Golkar atau PDI. Walaupun pada dasarnya angka suara yang diraih jauh berada di bawah Golkar, yaitu dengan memperoleh suara sebanyak 138.251 (31,42 %) dengan mendapat 10 kursi pada pemilu 1977 dan 148,650 (30,98 %) dengan mendapat 10 kursi pada pemilu 1982. Secara umum perolehan suara PPP di Pemalang pada Pemilu 1977 dan 1982 stabil dan penyebarannya hampir merata di seluruh wilayah kecamatan.

DAFTAR PUSTAKA

Buku-buku: Badan Pusat Statistik. Kabupaten Pemalang Tahun 1970. Badan Pusat Statistik. Kabupaten Pemalang Tahun 1980. Budiharjo, Miriam. 1982. Dasar-dasar Ilmu Politik. Jakarta: Gramedia. Darojat, Aliyud. 2006. Kenahdlatul Ulamaan. Semarang: CV. Widya Karya. Ecip, Sinansari S. 1994. NU; Khittah dan Godaan Politik. Bandung: Mizan. Gottschalk, Louis. 1975. Mengerti Sejarah dan Pengantar Metode Sejarah, Terjemahan Nugroho Notosutanto. Jakarta: Yayasan Penerbit UI. Haidar, Ali. 1998. Nahdlatul Ulama dan Islam di Indonesia; Pendekatan Fikih dalam Politik. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama. Haris, Syamsudin.1991. PPP dan Politik Orde Baru. Jakarta: Gramedia Widiasarana. Ida, Laode. 1996. Anatomi Konflik NU, Elit Islam, dan Negara. Jakarta: Pustaka Sinar Harapan. Ismail, Faisal. 1999. NU, Gusdurisme dan Politik Kiai. Yogyakarta: Tiara Wacana. --------------- 2004. Dilema NU di Tengah Badai Pragmatisme Politik. Jakarta: Departemen Agama Mulkhan, Munir Abdul. 1989. Perubahan Perilaku dan Polarisasi Ummat Islam 1965-1987; Dalam Perspektif Sosiolog. Jakarta: Rajawali. Noer, Deliar. 1983. Pengantar ke Pemikiran Politik. Jakarta: Rajawali. Rahardjo, Dawam, M. 1985. Pergulatan Dunia Pesantren; Membangun Dari Bawah. Jakarta: Perhimpunan Pengembangan Pesantren dan Masyaratakat (P3M). Shobron, Sudarno. 2003. Muhammadiyah dan Nahdlatul Ulama Dalam Pentas Politik Nasional. Yogyakarta: Muhammadiyah University Press.

Sujuthi, Mahmud. 2001. Politik Tarekat Qadariyah wa Nasyabandiyah Jombang; Hubungan Agama, Negara, dan Masyarakat. Yogyakarta: Galang Printika. Ummatin, Khoiro. 2002. Perilaku Politik Kiai. Yogyakarta: Pustaka Pelajar. Van Bruinessen, Martin. 1994. NU: Tradisi, Relasi-relasi Kuasa, Pencarian Wacana Baru. Yogyakarta: LKIS. Widja, I Gde. 1989. Sejarah Lokal Suatu Perspektif Dalam Pengajaran Sejarah. Jakarta: Depdikbud.

ARSIP: 1. Naskah Pidato Sambutan Bupati Kepala Daerah Kabupaten Pemalang dalam rangka Kunjungan Kerja Anggota-Anggota DPR RI Komisi APBN di Pemalang tanggal 29-30 Juli 1973. 2. Laporan Bupati Kepala Daerah Tingkat II Pemalang dalam rangka Rapat Kerja para Bupati/Walikota Kepala dati II se-wilayah Kerja Pembantu Gubernur Kepala Dati I Jateng di Pekalongan tanggal 26 September. 3. Perkembangan potensi Golkar pada Pemilu 1971-1987 di Kabupaten Dati II Pemalang.

INTERNET: http://id.wikipedia.org/wiki/Nahdlatul_Ulama/30 Februari 2007. http://www.ppp.or.id/Sejarah PPP/30 Februari 2007.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful