HIV/AIDS (HUMAN IMMUNODEFICIENCY VIRUS) KELOMPOK 4

OLEH: X TKJ B

NAMA ANGGOTA: • DHINAR MAHARDIKA • ERICKO LAZUARDI • IAN MAULANA • IDA BAGUS BAYU A.W • REZA CHRISTIAN M • RISA RIDHOWATI M • VINA WIDYANI C

(04) (05) (06) (07) (14) (16) (22)

HIV/AIDS

Page 1

KATA PENGANTAR: Segala puji bagi Tuhan YME yang telh memberikan nikmatNya kepada kita semua.Tak lupa kami mengucap syukur karena berkan Nikmat kesehatan yang telah di berikan kami bisa menyelesaikan Makalah ini.Makalah ini berisi tentang HIV AIDS yang mana telah merajarela di muka bumi ini.Kami berharap informasi yang kami berikan dapat bermanfaat bagi semuanya. Demikian Makalah ini kami buat.Terima Kasih.

Malang,13 Mei 2009

Penulis

HIV/AIDS

Page 2

DAFTAR ISI: PENGERTIAN HIV/AIDS................................................................................4 A. VIRUS HIV........................................................................................4 B. PENYAKIT AIDS..............................................................................4 PENULARAN HIV...........................................................................................5 TANDA-TANDA PENDERITA HIV...............................................................8 PENCEGAHAN PENULARAN HIV/AIDS....................................................12

HIV/AIDS

Page 3

PENGERTIAN HIV/AIDS A.Virus HIV HIV adalah singkatan dari Human Immunodeficiency Virus yang dapat menyebabkan AIDS dengan cara menyerang sel darah putih yang bernama sel CD4 sehingga dapat merusak sistem kekebalan tubuh manusia yang pada akhirnya tidak dapat bertahan dari gangguan penyakit walaupun yang sangat ringan sekalipun. Virus HIV menyerang sel CD4 dan merubahnya menjadi tempat berkembang biak Virus HIV baru kemudian merusaknya sehingga tidak dapat digunakan lagi. Sel darah putih sangat diperlukan untuk sistem kekebalan tubuh. Tanpa kekebalan tubuh maka ketika diserang penyakit maka tubuh kita tidak memiliki pelindung. Dampaknya adalah kita dapat meninggal dunia terkena pilek biasa. B. Penyakit AIDS AIDS adalah singkatan dari Acquired Immune Deficiency Syndrome yang merupakan dampak atau efek dari perkembang biakan virus hiv dalam tubuh makhluk hidup. Virus HIV membutuhkan waktu untuk menyebabkan sindrom AIDS yang mematikan dan sangat berbahaya. Penyakit AIDS disebabkan oleh melemah atau menghilangnya sistem kekebalan tubuh yang tadinya dimiliki karena sel CD4 pada sel darah putih yang banyak dirusak oleh Virus HIV. Ketika kita terkena Virus HIV kita tidak langsung terkena AIDS. Untuk menjadi AIDS dibutuhkan waktu yang lama, yaitu beberapa tahun untuk dapat menjadi AIDS yang mematikan. Seseorang dapat menjadi HIV positif. Saat ini tidak ada obat, serum maupun vaksin yang dapat menyembuhkan manusia dari Virus HIV penyebab penyakit AIDS.

HIV/AIDS

Page 4

Penularan HIV
HIV terdapat dalam cairan tubuh yaitu, darah, sperma (air mani), cairan vagina dan air susu ibu. HIV hanya ditularkan kalau cairan tubuh seseorang HIV positif masuk ke dalam aliran darah orang lain. HIV hanya dapat ditularkan melalui beberapa cara: Seks Karena HIV berada dalam sperma dan cairan vagina maka HIV dapat ditularkan melalui hubungan seks kalau ada luka pada kulit vagina, penis atau lubang anus. Untuk menghindari tertularnya HIV, lakukanlah seks secara aman yaitu: • Menggunakan kondom dan pelicin berbahan dasar air (water based) seperti KY jelly atau Wetstuff kalau berhubungan seks melalui lubang anus atau vagina. • Menghindari hubungan kelamin (penis masuk ke dalam lubang anus atau vagina) • Menggunakan kondom atau dam ketika melakukan seks oral (menggunakan mulut). Walaupun seks oral dianggap cukup aman, perlu diingat bahwa penularan HIV dapat terjadi jika ada luka atau radang pada mulut. Kegiatan seks aman dapat melindungi kita dari penyakit kelamin lainnya. CARA MEMASANG KONDOM PADA PENIS YANG LAGI EREKSI 1. Membuka paket dengan hati-hati agar kondom tidak tersobek. 2. Membuka kulit khatan (jika diperlu) 3. Menekan ujung kondom di antara jari dan jempol agar tidak ada angin dan menggulung kondom dari atas ke bawah penis. 4. Pada saat kondom dipasang gunakan pelicin yang berbahan dasar air (water based). 5. Setelah ejakulasi memegang kondom dengan baik-baik ketika mengeluarkan penis agar air mani tidak tumpah keluar. 6. Ikat kondom yang sudah terpakai dan buang di tempat sampah. GUNAKAN KONDOM BARU SETIAP KALI BERHUBUNGAN SEKS Pemakaian Bersama Jarum Suntik, Semprot dan Peralatan Suntik Lainnya Tindik atau Tato. Jumlah kecil virus HIV yang dikandung dalam darah bisa terdapat di dalam jarum suntik dan semprot. Kalau seorang lain memakai jarum suntik atau semprot yang sama darah tersebut dapat masuk secara langsung ke dalam aliran darah mereka. Agar menghindari penularan HIV, jangan memakai bersama jarum suntik, semprot, kain
HIV/AIDS Page 5

penyeka atau peralatan suntik. Jika anda ingin menindik atau tato pergilah ke tempat/studio yang punya surat ijin serta langsung membuang atau menyerilkan jarum dan alat-alat lain sesudah dipakai dengan benar. Hal ini akan melindungi anda dari berbagai virus lain seperti Hepatitis B dan C. Ibu ke Anaknya (Juga disebut Penularan Vertikal) Seorang wanita yang HIV positif mungkin dapat menularkan virusnya kepada bayi yang dikandungnya dan/atau pada saat melahirkan. Dengan pengobatan yang baik, banyak wanita yang positif HIV dapat melahirkan bayi yang tidak terinfeksi HIV. Jika anda hamil atau berencana mempunyai anak anda sebaiknya berbicara dengan dokter anda secepat mungkin. Di Australia seorang ibu yang terinfeksi HIV diusulkan agar tidak menyusui bayinya karena HIV juga terdapat dalam Air Susu Ibu. Makanan alternatif yang sehat dan aman bagi bayi telah tersedia. Transfusi Darah atau Produk darah Dulunya, sebelum dunia kesehatan menemukan virus HIV, persediaan darah merupakan resiko tertinggi. Akan tetapi, sejak tahun 1985 semua produk darah dan darah diperiksa untuk virus HIV. Walaupun transfusi darah masih merupakan resiko besar di beberapa negara lain, persediaan darah di Australia saat ini sangat aman. Orang yang HIV positif dilarang mendonorkan darahnya. HIV juga bisa terdapat di cairan tubuh lainnya seperti muntah, air liur dan tinja. Cairan-cairan ini tidak dianggap sebagai resiko penularan HIV karena kwantitas darah atau HIV yang dikandungnya sangat kecil. Bagaimanapun, setiap orang diusulkan agar selalu mencuci tangannya setelah berhubungan dengan semua cairancairan tubuh supaya menjaga kesehatan umum. 02. The Effects of HIV/AIDS English HIV tidak dapat ditularkan melalui: • Batuk • Bersin • Meludah • Berciuman • Menangis • Alat-alat makan dan piring • Seprei dan sarung bantal • Toilet dan kamar mandi • Melalui kontak sosial biasa. HIV tidak ditularkan melalui gigitan serangga seperti gigitan nyamuk.
HIV/AIDS Page 6

HIV adalah virus yang terdapat dalam aliran darah. Ini berarti virus tersebut hanya dapat ditularkan apabila virus itu masuk kedalam aliran darah seseorang ke orang lain. HIV dapat ditularkan melalui seks yang tidak aman antara pria dengan wanita, pria dengan pria dan wanita dengan wanita, melalui jarum suntik yang dipakai secara bersamaan dengan seorang yang telah terinfeksi HIV atau dari ibu yang HIV positif ke bayi yang dikandungnya.

HIV/AIDS

Page 7

TANDA-TANDA SESEORANG TERTULAR HIV Sebenarnya tidak ada tanda-tanda khusus yang bisa menandai apakah seseorang telah tertular HIV, karena keberadaan virus HIV sendiri membutuhkan waktu yang cukup panjang (5 sampai 10 tahun hingga mencapai masa yang disebut fullblown AIDS). Adanya HIV di dalam darah bisa terjadi tanpa seseorang menunjukan gejala penyakit tertentu dan ini disebut masa HIV positif. Bila seseorang terinfeksi HIV untuk pertama kali dan kemudian memeriksakan diri dengan menjalani tes darah, maka dalam tes pertama tersebut belum tentu dapat dideteksi adanya virus HIV di dalam darah. Hal ini disebabkan kaena tubuh kita membutuhkan waktu sekitar 3 - 6 bulan untuk membentuk antibodi yang nantinya akan dideteksi oleh tes darah tersebut. Masa ini disebut window period (periode jendela) . Dalam masa ini , bila orang tersebut ternyata sudah mempunyai virus HIV di dalam tubuhnya (walau pun belum bisa di deteksi melalui tes darah), ia sudah bisa menularkan HIV melalui perilaku yang disebutkan di atas tadi. Secara umum, tanda-tanda utama yang terlihat pada seseorang yang sudah sampai pada tahapan AIDS adalah: • Berat badan menurun lebih dari 10% dalam waktu singkat • Demam tinggi berkepanjangan (lebih dari satu bulan) • Diare berkepanjangan (lebih dri satu bulan) Sedangkan gejala-gejala tambahan berupa : • Batuk berkepanjagan (lebih dari satu bulan) • Kelainan kulit dan iritasi (gatal) • Infeksi jamur pada mulut dan kerongkongan • Pembengkakan kelenjar getah bening di seluruh tubuh, seperti di bawah telinga, leher, ketiak dan lipatan paha. Perkenalan Istilah HIV telah digunakan sejak 1986 (Coffin et al., 1986) sebagai nama untuk retrovirus yang diusulkan pertama kali sebagai penyebab AIDS oleh Luc Montagnier dari Perancis, yang awalnya menamakannya LAV (lymphadenopathy-associated virus) (Barre-Sinoussi et al., 1983) dan oleh Robert Gallo dari Amerika Serikat, yang awalnya menamakannya HTLV-III (human T lymphotropic virus type III) (Popovic et al., 1984).

HIV/AIDS

Page 8

Ket : gambar The phylogenetic tree of the SIV and HIV viruses. HIV adalah anggota dari genus lentivirus [1], bagian dari keluarga retroviridae [2] yang ditandai dengan periode latensi yang panjang dan sebuah sampul lipid dari sel-host awal yang mengelilingi sebuah pusat protein/RNA. Dua spesies host HIV menginfeksi manusia: HIV dan HIV-2. HIV-1 adalah yang lebih HIV-1 1 "virulent" dan lebih mudah menular, dan merupakan sumber dari kebanyakan infeksi HIV di seluruh dunia; HIV 2 kebanyakan masih terkurung di Afrika HIV-2 barat (Reeves and Doms, 2002). Kedua spesies berawal di Afrika barat dan tengah, melompat dari primata ke manusia dalam sebuah proses yang dikenal pat sebagai zoonosis. HIV-1 telah berevolusi dari sebuah simian immunodeficiency virus (SIVcpz) 1 yang ditemukan dalam subspesies simpanse, Pan troglodyte troglodyte (Gao et al., 1999).HIV-2 melompat spesies dari sebuah strain SIV yang berbeda, 2 spesies ditemukan dalam sooty mangabeys, monyet dunia lama Guinea-Bissau (Reeves Guineaand Doms, 2002). HIV-1 memiliki 3 kelompok atau grup yang telah berhasil diidentifikasi 1 berdasarkan perbedaan pada envelope envelope-nya yaitu M, N, dan O (Thomson dkk, 2002). Kelompok M yang paling besar prevalensinya dan dibagi kedalam 8 subtipe berdasarkan seluruh genomnya, yang masing masing berbeda secara masing-masing geografis (Carr dkk, 1998). Subtipe yang paling besar prevalensinya adalah subtipe B (banyak ditemukan di Afrika dan Asia), subtipe A dan D (banyak ditemukan di Afrika), dan C (banyak ditemukan di Afrika dan Asia); subtipe subtipesubtipe ini merupakan bagian dari kelompok M dari HIV KoHIV-1. -infeksi dengan subtipe yang berrbeda meningkatkan sirkulasi bentuk rekombinan (CRFs) bentuk Struktur HIV berbeda dalam struktur dengan retrovirus yang dijelaskan sebelumnya. Besarnya sekitar 120 nm dalam diameter (seper 120 milyar meter, kira kira-kira 60 kali lebih kecil dari sel darah merah) dan kasarnya "spherical"

HIV/AIDS

Page 9

Apakah CD4 itu ? CD 4 adalah sebuah marker atau penanda yang berada di permukaan sel sel-sel darah putih manusia, terutama sel sel limfosit. CD 4 pada orang dengan sistem sel-sel kekebalan yang menurun menjadi sangat penting, karena berkurangnya nilai CD4 dalam tubuh manusia me menunjukkan berkurangnya sel-sel darah putih atau sel limfosit yang seharusnya berperan dalam memerangi infeksi yang masuk ke tubuh manusia. Pada orang dengan sistem kekebalan yang baik, nilai CD4 berkisar antara 1400-1500. Sedangkan pada orang dengan sistem kek 1500. kekebalan yang terganggu (misal pada orang yang terinfeksi HIV) nilai CD 4 semakin lama akan semakin menurun (bahkan pada beberapa kasus bisa sampai nol) Apa fungsi sel CD4 ini sebenarnya ? Sel yang mempunyai marker CD4 di permukaannya berfungsi untuk melawa melawan berbagai macam infeksi. Di sekitar kita banyak sekali infeksi yang beredar, entah itu berada dalam udara, makanan ataupun minuman. Namun kita tidak setiap saat menjadi sakit, karena CD4 masih bisa berfungsi dengan baik untuk melawan infeksi ini. Jika CD4 berkurang, mikroorganisme yang patogen di sekitar kita tadi akan dengan mudah masuk ke tubuh kita dan menimbulkan penyakit pada tubuh manusia Hipofungsi kelenjar saliva merupakan salah satu manifestasi oral terkait HIV, yang dapat mempengaruhi kualitas dan kuantitas saliva yaitu komposisi dan sekresi dan saliva.1 Komponen saliva terdiri dari beberapa macam elektrolit seperti kalsium, bikarbonat, fosfat dan magnesium. Selain itu saliva mengandung komponen protein atau organik seperti immunoglobulin, enzim, musin, serta produk yang musin, mengandung nitrogen seperti ammonia dan urea.2 Fungsi saliva adalah lubrikasi dan proteksi, buffering action dan clearance, perlindungan integritas gigi, antibakteri, serta berperan dalam proses pengecapan dan pencernaan. Dengan demikian bila terjadi perubahan kualitas dan kuantitas saliva, maka akan an mempengaruhi integritas kesehatan gigi dan mulut.2 Salah satu faktor yang dapat mempengaruhi komposisi saliva adalah laju aliran saliva. Sekresi saliva
HIV/AIDS Page 10

yang menurun juga akan menyebabkan mulut terasa kering, sukar bicara, mengunyah dan menelan. Penurunan sekresi saliva dapat diatasi dengan bahan perangsang produksi saliva atau saliva pengganti.3 Berbagai studi melaporkan prevalensi kelainan kelenjar saliva pada pasien HIV/AIDS, antara lain Navazesh M. et al (2003) melaporkan prevalensi hipofungsi kelenjar saliva dan xerostomia secara signifikan lebih tinggi pada wanita HIV-positif dibanding kelompok wanita HIV-negatif.4 Mulligan dkk (2000) juga menyatakan pasien HIV-positif mempunyai kelainan kelenjar saliva yang lebih tinggi daripada kelompok HIV-negatif.3 Lin dkk (2003) menyatakan bahwa kecepatan aliran saliva menurun pada tahap awal infeksi HIV, dan tidak hanya fungsi sekresi kelenjar saliva yang menurun tetapi komposisi saliva juga berubah.5 Grimoud (1998) melaporkan prevalensi lesi mukosa oral yang tinggi pada pasien HIV positif dengan jumlah sel T CD4 yang rendah, ditemukan adanya hubungan antara perbedaan kadar protein saliva dan kadar IgA, ada/tidaknya manifestasi oral, dan parameter sistemik (CD4) penanda tingkat imunosupresi.6 Hasil berbagai studi juga menyatakan komposisi saliva pada kelompok HIV positif berbeda dibanding individu sehat.20 Infeksi HIV mempunyai efek baik secara langsung maupun tidak langsung pada imunitas mukosa oral antara lain Imunoglobulin A (IgA).7,8 Studi-studi terdahulu melaporkan adanya abnormalitas kadar IgA saliva pada pasien HIV/AIDS.9,10 Immunoglobulin A mempunyai peran penting sebagai proteksi terhadap mikroorganisme melalui berbagai mekanisme pada jaringan mukosa mulut, yaitu membunuh secara langsung, aglutinasi, menghambat perlekatan dan penetrasi mikroorganisme, inaktivasi enzim bakterial dan toksin, opsonisasi dan cellmediated killing.11-15 Berdasarkan informasi kepustakaan yang telah diuraikan, penulis tertarik untuk melakukan penelitian mengenai komposisi saliva (khususnya IgA) dan hubungannya dengan laju aliran saliva pada pasien HIV/AIDS. Jika terjadi penurunan laju aliran saliva maka saliva tidak dapat menjalankan fungsinya dengan baik dimana jaringan rongga mulut mudah mengalami ulserasi dan infeksi, sehingga timbul kelainan gigi dan mulut yang selanjutnya akan mempengaruhi kualitas hidup penderita.

HIV/AIDS

Page 11

PENCEGAHAN PENULARAN HIV/AIDS
Untuk menghambat penyebaran HIV/AIDS agar tidak semakin menjalar di negeri ini, haruslah kita mengetahui apa yang menjadi penyebab utama penyebaran virus HIV diantaranya: Pertama, Perilaku Seks Bebas Sebagai Transmisi Utama HIV/AIDS (Survey CDC, Des 2002 dan KPAN 2003). Di Indonesia virus HIV/AIDS pertama kali masuk dibawa oleh turis yang berada di Bali. Kedua, Penyalahgunaan Narkoba Beresiko Terinfeksi HIV Karena Seks Bebas. Umumnya penderita tertular virus HIV melalui penggunaan jarum suntik bersama dan aktif melakukan seks bebas akibat “loss control” sehingga resiko tertular virus HIV semakin tinggi. Ketiga, Penularan HIV/AIDS Sebagai Akibat “Efek Spiral” Perilaku Seks Bebas yaitu melalui transfusi darah, ASI, alat-alat kedokteran, hubungan suami isteri yang sudah tertular karena seks bebas. Sehingga tidaklah heran, apabila banyak ditemukan 3000 bayi lahir dengan mengidap HIV positif. Keempat, Mewaspadai Penularan Virus HIV Melalui ODHA. Penularan virus HIV ternyata dapat terjadi apabila ada kontak antara cairan tubuh ODHA (terutama darah, semen, sekresi vagina dan ASI) dengan luka terbuka pada seseorang yang sehat walaupun berupa luka kecil. Sedangkan caira tubuh lain seperti urine, air mata, air ludah, keringat dan feses tergolong penularan HIV berisiko rendah selama tidak terkontaminasi oleh darah ODHA. UPAYA PENANGGULANGAN HIV/AIDS Tidak kita pungkiri, bahwa seks bebas dan penyalahgunaan narkoba sangat erat kaitannya dengan penularan HIV/AIDS. Lihat saja, lokalisasi di kawasan gang dolly dan berbagai diskotek-diskotek di wilayah Surabaya, berapa banyak akses penjualan narkoba dan seks bebas terjadi disana. Razia-razia yang dilakukan aparat kepolisian tidaklah cukup mengehentikan penyebaran visrus penyakit ini. kampanye kondomisasi yang dieluh-eluhkan dapat mengatasi pencegahan HIV/AIDS yang ditunjang dengan pendirian ATM kondom ternyata tetap tidak membawa hasil yang signifikan. Kondom bukanlah penyelesaian tuntas, kondom tidak efektif sebagai pencegah penularan virus HIV. Karena pori-pori kondom besarnya 600 kali lebih besar dibanding besar virus HIV. Selain itu, kondom sensitif terhadap perubahan suhu. Sehingga, penggunaan kondom semakin meningkatkan laju infeksi HIV dan menyuburkan seks bebas. Penerapan ide liberalisme di negeri ini, semakin menambah daftar panjang perusakan generasi bangsa. Akibat diadopsinya budaya barat seperti seks bebas menimbulkan berbagai permasalahan mulai kehamilan di luar nikah, aborsi, stress, bunuh diri dan kehanciran keluarga. Untuk itu, hendaknya kita lebih waspada terhadap budaya yang bersifat merusak generasi bangsa. Pencegahan penularan HIV/AIDS tidak bisa tidak harus diselesaikan dengan penyelesaian yang menyeluruh dan komprehensif bukan parsial. Ideologi sekular/kapitalis yang banyak diemban oleh beberapa negara ternyata tidak berhasil membawa bangsa ini bermatabat. Kebebasan berperilaku yang diagung-agugkan semakin membuat negeri ini terpuruk dan bakal dipastikan kehilangan generasi bangsa yang berkualitas. Hal ini berbeda dengan Islam sebagai ideologi yang terbukti dapat menyelesaikan permasalahan secara tuntas. Untuk kasus pencegahan penularan HIV/AIDS ini, ada tiga solusi yang dapat diberikan yaitu:

HIV/AIDS

Page 12

1. Pemutusan Rantai Transmisi HIV: Stop Seks Bebas Aktivitas seks bebas tetap akan terjadi di negeri ini, selama negara juga tetap memfasilitasi terjadinya aktivitas seks bebas. Ada kontradiksi dalam hal ini, di satu sisi negara ingin penularan HIV/AIDS tidak terus meningkat tetapi di sisi lain negara malah memberikan izin beroperasinya tempat-tempat yang jelas-jelas menumbuh suburkan aktivitas seks bebas. Hendaknya Pemerintah bertindak dengan tegas, bukannya plin-plan karena ini menyangkut generasi bangsa di masa yan akan datang. 2. Pemutusan Rantai Transmisi HIV: Stop Penyalahgunaan Narkoba Narkoba dan segala jenisnya sangat berbahaya, karena selain dapat menghilangkan akal manusia juga dapat menularkan HIV/AIDS melaui jarum suntik yang tidak streril. Untuk memberantasnya harus dilakukan peningkatan ketakwaan individu dan menghabisi mafia narkoba hingga ke akar-akarnya. Penyalahgunaan narkoba diberikan sanksi 40 kali cambuk dan bagi pengedar dapat dikenai hukuman mati. 3. Pemutusan Rantai Transmisi Melalui ODHA Untuk menghambat penularan HIV/AIDS melalui “efek spiral”, maka yang harus dilakukan Pemerintah bagi ODHA yang terbukti terinfeksi karena zina dan sudah menikah akan dirajam. Sedangkan ODHA yang terinfeksi karena aktifitas homoseks haruslah dibunuh untuk menekan jumlah yang tertular akibat “efek spiral”. Langkah ini harus ditempuh oleh negara dengan menindak secara tegas bagi para pelaku. Adanya sanksi yang berat dapat semakin menurunkan jumlah penularan HIV/AIDS. Bagi ODHA yang tidak terkena sanksi yang mematikan dan terinfeksi karena “efek spiral” yaitu dengan membuat karantina bagi ODHA. Karantina ini bukanlah diskriminasi bagi ODHA karena dalam masa karantina semua kebutuhan fisik dan nalurinya wajib dipenuhi oleh negara serta akan dimotivasi untuk sembuh. Selain terapi fisik, ODHA akan diberikan terapi psikoreligi yaitu dengan memotivasi kesembuhan dan meningkatkan ketakwaan. Selama masa karantina ODHA dapat melakukan aktivitas normal sepanjang tidak membahayakan individu sehat lainnya. Transfusi darah juga harus dipastikan darah donor bersih dari infeksi virus HIV dan yang tidak kalah pentingnya negara wajib menyediakan perawatan khusus bagi ODHA dengan resiko penularan terhadap tenaga kesehatan secara maksimal.

HIV/AIDS

Page 13

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful