Sarlito Wirawan Sarwono, Psikolog ~ Indonesian Psychologist

Optimalisasi Kecerdasan Ganda dalam Era Informasi dan Globalisasi
Last Updated Saturday, 03 November 2007

Bulan-bulan menjelang EBTANAS DAN UMPTN (sekarang namanya: SPMB/Seleksi Penerimaan Mahasiswa Baru) setiap tahun, adalah musimnya orangtua mengkonsultasikan anak-anaknya untuk tes bakat. Persoalan orangtua (belum tentu persoalan anak juga) adalah bahwa anaknya, walaupun sudah kelas 3 SMU, belum jelas mau memilih program studi apa di perguruan tinggi. Karena takut bahwa anaknya gagal di tengah jalan, maka orangtua mengkonsultasikan anaknya pada psikolog. Catatan kaki * Dibacakan pada Seminar RS Mitra Internasional, Hotel Ibis, Jalan S. parman, Jakarta, 12 Oktober 20021 Keketatan persaingan di UI (2001) berkisar antara 1-3,5% untuk jurusan-jurusan favorit (HI, Akuntansi, Psikologi, Hukum, Kedokteran, Kedokteran gigi) dengan nilai UMPTN antara 800-1000 dan sekitar 18-20% untuk jurusan-jurusan kurang favorit (geografi, sastra Jawa) dengan nilai UMPTN minimum 700. 2 Mungkin karena cukup banyak anak muda di Jakarta, semasa Orde Baru, khususnya mereka yang berasal dari kalangan elite, yang sangat mudah memperoleh pekerjaan mentereng dengan gaji tinggi (karena mendapat fasilitas dari orangtuanya). Perwujudan frustrasi bisa berbentuk agresivitas pada lingkungan (keluarga, atasan, system, pemerintah, bahkan lingkungan alam), agresivitas pada diri sendiri (depresi, menyalahkan diri sendiri, perasaan berdosa, bunuh diri) atau pelarian dari kenyataan (menganut fanatisme agama atau aliran golongan yang sempit atau narkoba). 3 Brofenbrenner, U. 1979: The Ecology of Human Development, Cambridge, MA: Harvard University Press.4 Alvin Toffler: Future Shock5 Alvin Toffler: The Third Wave.6 Charles Jencks: What is Post-Modernism?7 Teknologi komputer mulai berkembang pesat pada masa itu dan sekarang, dengan manggabungkannya dengan teknologi telekomunikasi, orang sudah bisa berdagang saham dan valuta asing, atau saling tukar informasi dari tempat masing-masing yang terpisah ribuan mil, hanya dalam hitungan detik.8 Esteva & Prakash: Grass root Post-Modernism: Remaking the Soil of the Culture9 Pendidikan mono-nilai yang menyebabkan Siti Nurbaya terpaksa berontak ketika mau dinikahkan dengan Datuk Meringgih (sesuai dengan nilai adat orang-orangtua), karena hatinya sendiri lebih memilih Syamsulbahri (pemuda yang kebetulan menjadi serdadu Belanda). 10 Howard Gardner: Frame of Mind 11 Howard Gardner: Frame of Mind12 Howard Gardner: Intelligence Reframed: Multiple Intelligences for the 21st century.13 Howard Gardner: Intelligence Reframed: Multiple Intelligences for the 21st century. Sementara itu, dari pengamatan saya di ruang praktek, dari pihak anak sendiri sering kurang nampak ada urgensi pada permasalahan yang dihadapinya. Rata-rata anak-anak ingin lulus UMPTN untuk masuk perguruan-perguruan tinggi favorit, tetapi tidak terbayang bagaimana betapa ketatnya persaingan yang harus dihadapi1. Kalau tidak lulus UMPTN pilihannya adalah PTS (yang bervariasi dari yang mahal sampai relatif murah, dari yang terakrediatasi A sampai yang belum terakreditasi) atau sekolah di luar negeri saja (buat yang orangtuanya berduit). Tidak adanya perasaan urgensi ini lebih nyata pada tidak adanya persiapan-persiapan yang serius. Kebanyakan anak tidak mempunyai kebiasaan belajar yang teratur, tidak mempunyai catatan pelajaran yang lengkap, tidak membuat PR, membolos, sering mencari bocoran ulangan atau ujian atau menyontek saja untuk mendapat nilai yang bagus. Di sisi lain, banyak siswa-siswi SMU itu yang bercita-cita menjadi MBA. Jika ditanya, maka alasannya adalah bahwa sebagai manajer bisa jadi pimpinan, gaji besar, punya rumah bagus, nyetir mobil sendiri dan sebagainya, pokoknya seperti eksekutif muda yang sering ditampilkan dalam aneka sinetron TV. Hampir tidak terbayangkan oleh mereka proses panjang yang harus ditempuh seseorang dari jenjang yang paling bawah untuk sampai ke papan atas2. Sikap jalan pintas ini, .bukan hanya menyebabkan menurunnya motivasi belajar, melainkan juga menimbulkan gaya hidup konsumtif yang kontra produktif, yang merupakan kendala yang serius bagi para generasi muda tersebut untuk bersaing dalam era globalisasi dan informasi yang sudah berlangsung sejak beberapa tahun terakhir ini. Pada gilirannya, bukan saja individu-individu yang bersangkutan yang bisa tersisih dari persaingan, melainkan juga seluruh bangsa ini (jika terlalu banyak generasi muda Indonesia yang bersikap kontra produktif seperti itu). Teori Ekologi dari Brofenbrenner Dalam menghadapi sikap jalan pintas (banyak yang sejak SD) banyak orangtua dan guru dan pendidik yang hanya terfokus pada sikap anak itu sendiri sebagai individu. Maka akan timbullah berbagai stigma pada anak seperti: pemalas, tidak serius, bodoh dsb. Tindakan orangtua dan gurupun pada umumnya tidak jauh dari stigma yang diberikannya pada anak, antara lain: memaksa, menasihati, melarang, menghukum, menyuruh anak mengikuti les tambahan dsb. Tetapi menurut Broffenbrenner3 (dalam teori Ekologi Perkembangan Manusia), seorang individu tidak dapat dilepaskan dari lingkungannya, sehingga perkembangan jiwanya dan seluruh sikap serta perilakunya (dari anak sampai dewasa) harus dipahami dalam konteks lingkungan yang terdiri dari: - Sistem Mikro, yaitu lingkungan yang paling dekat dengan pribadi individu, terdiri dari orangtua, saudara kandung,
http://sarlito.hyperphp.com Powered by Joomla! Generated: 19 August, 2010, 19:07

Maka lahirlah generasi yang serba seragam. bangsa Indonesia mulai mengenal budaya Amerika mulai dari lagu-lagu rock and roll sampai ideologi demokrasi liberal. Salah satu dampaknya adalah bahwa tiba-tiba tersedia berbagai lowongan jabatan bagi orang-orang Indonesia.. yang mencerminkan adu kekuatan global di antara super powers (Blok Barat dan Blok Timur) pada masa itu. pemilu. karena di dunia luar justru sedang terjadi revolusi besarbesaran yang oleh Toffler dinamakan the Third Wave5. yaitu pemberontakan G-30-S pada tahun 1965. dari generasi kakek sampai cucu. mengusir Belanda yang lari terbirit-birit. yang digemari oleh semua orang. . tua dan muda. Bupati yang menjabat di suatu daerah bisa mencapai masa jabatan 30-40 tahun. ahli hukum) dan bangsawan (dari camat sampai bupati). Bukan hanya laki-laki. internet. agama. jauh lebih singkat dari pada era kolonial yang stabil selama 350 tahun. Bisa dibayangkan betapa generasi ini mengalami cultural shock seperti yang pernah disinyalir oleh Alfin Toffler4. profesional (dokter. KNPI. wayang dan ketoprak. tetapi anak-anak dari lapisan bawah pun punya kesempatan. Semuanya tersentralisasi ke Jakarta. Di sisi lain komunisme pun makin kuat.hyperphp. pegawai pemerintah. mobile phone. para tukang. semua informasi bisa masuk sampai ke kamar-kamar tidur melalui teknologi media massa itu. Psikolog ~ Indonesian Psychologist keluarga serumah. GBHN. Akan tetapi stabilitas yang terjadi hanya semu. SD Inpress. tetapi sempat terjadi kekosongan kekuasaan untuk beberapa saat. TV dsb. video. 19:07 . satelit. POMG. undang-undang. Jenis pekerjaan juga cuma itu-itu saja: petani. Angkatan 20an ditandai dengan kehidupan yang relatif sangat stabil dan sangat sedikit perubahan. fax. Nampaknya selama 32 tahun bangsa Indonesia berhasil maju pesat di bawah suatu sistem yang sangat tersentralisasi dan terkendali. telekomunikasi dan komputer (televisi. yaitu sistem yang lebih luar. buruh kasar. mulai dari jabatan pemerintah tingkat Gubernur ke atas. Dengan tatanan masyarakat yang baru. digantikan oleh bahasa Indonesia dan sistem pendidikan nasionalpun berubah. yaitu sistem yang paling luar dan berpengaruh langsung atau tidak langsung pada individu seperti pemerintah. Akhirnya stabilitas semu ini tidak bisa bertahan lebih jauh dan jebol pada era kirisis moneter pada pertengahan tahun 1990-an yang segera diikuti dengan revolusi politik (reformasi) yang dampaknya masih belum selesai sampai hari ini. sekolah. Trilogi pembangunan. tetapi perempuan juga bisa berkarir sampai jenjang teratas. hubungan orangtuaguru. tradisi. Pada era informasi ini. sampai jabatan-jabatan administratur perkebunan atau direksi perussahaan-perusahaan negara yang semuanya ditinggalkan oleh Belanda setelah revolusi fisik. . Generasi 1940-an merasakan imbas dari revolusi global: Perang Dunia II. Ketika Jepang menyerah. tetangga dan orang-orang lain yang seharihari dekat dan berhubungan erat dengan individu. yaitu interaksi antar faktor di dalam sistem Mikro. Bahasa Belanda dan Jepang tidak dipakai lagi. tidak langsung menyangkut diri individu namun masih besar pengaruhnya seperti keluarga besar. hukum. Tidak ada lagi yang rahasia. pergaulan antar teman dsb. Semua itu terjadi dalam kurun waktu yang relatif singkat. Bukan hanya anak bangsawan yang bisa mencapai pendidikan tinggi dan menduduki jabatan tinggi. terbuka peluang untuk mobilitas sosial secara vertikal untuk seluruh lapisan sosial. tempat penitipan anak. tetapi akhirnya merusak semua tatanan sistem makro di Indonesia. Hiburan (di Jawa tengah misalnya) berkisar antara tembang-gamelan Jawa. teman bermain. pohon beringin dan kabupaten tidak berubah sejak seseorang lahir sampai pensiun. koran. keroncong. sesuai aturan: OSIS.Sarlito Wirawan Sarwono. buru-buru Indonesia menyatakan kemerdekaan. Alun-alun. misalnya hubungan ayah-ibu. guru. sehingga peredaran uang pun 70% terjadi di Jakarta. 2010.com Powered by Joomla! Generated: 19 August. Di satu sisi. http://sarlito. namun pemerintah Orde Baru segera mengambil prakarsa untuk mengendalikan jalannya kehidupan bangsa melalui suatu proses pembangunan yang terprogram dan seragam di seluruh tanah air. Tatanan masyarakat kembali menghadapi kemungkinan perubahan besar-besaran (antara lain kekuatan politik golongan Islam mulai mencuat setelah tertekan selama bertahun-tahun). Revolusi pada sistem Makro Perbedaan sistem Makro pada generasi yang hidup pada tahun 1920-an dengan yang hidup pada tahun 1990-an bisa tampil nyata kalau kita mengamati lingkungan makro orang-orang dari generasi-generasi yang berbeda itu.Sistem Meso. Daftar Isian Proyek dsb. politik dsb.Sistem Exo. polisi. maka dialah yang akan memimpin). menjanjikan kemedekaan Indonesia melalu perang Asia Timur Raya. kurang dari 10 tahun (1942-1950). dsb). Tetapi generasi 1960-an pun tidak bebas dari cultural shock. Karang Taruna.Sistem Makro. Jepang masuk ke Indonesia. melalui teknologi media massa yang masih sangat sederhana saat itu. . sehingga pemerintah pun kehilangan power-nya untuk tetap mempertahankan kekuasaan (sesuai dengan pepapatah bahwa siapa yang mempunyai informasi. dokter. sebelum tentara sekutu yang diboncengi Belanda masuk ke Indonesia dan pecahlah revolusi kemerdekaan RI. Maka pecahlah revolusi lagi di Indonesia. yaitu revolusi informasi melalui teknologi media massa. Darma Wanita.

Sistem Pendidikan Gaya Jaman Siti Nurbaya Seorang penulis. melainkan orang-orang asinglah yang akan menguasai pesaran tenaga kerja di Indonesia. disainer.hyperphp. Dampaknya adalah tidak adanya lagi kepastian atau keteraturan dalam hampir semua sektor kehidupan (Jencks menunjukkannya dalam art dan arsitektur). Escaping Parochialism. kecetrdasan ilmu alam. dokter yang mau melakukan aborsi (dan tentunya wanita yang mau diaborsi). lebih berorientasi pada keinginan orangtua atau guru dan sangat cenderung skolastik (mengutamakan prestasi sekolah saja). seorang psikolog pendidikan bernama Howard Gardner pernah melontarkan pertanyaan yang unik: "Pernahkah terpikir oleh anda. Pertanyaan ini kemudian mendorong Gardner untuk berteori bahwa kecerdasan pada hakikatnya tidak hanya satu macam (apalagi hanya skolastik saja). jika seorang jenius musik seperti Mozart di tes IQ. tidak bisa universal atau global. maka jangan heran jika dalam era perdagangan bebas ASEAN (AFTA) nanti. bukannya orang-orang Indonesia memasuki pasaran kerja di negara-negara tetangga (kecuali TKI dan TKW yang bermasalah). bisakah seorang Einstein menciptakan lagu seperti Mozart atau melukis seperti Rembrandt?"10. Inteligensi Ganda Sementara kita di Indonesia sampai sekarang masih sibuk dengan cara mendidik tradisional ala era Siti Nurbaya.) yang bertemakan SARA (suku. dalam bukunya yang mutakhit. takut salah. Gustavo Esteva dan Madhu Sari Prakesh8. karena orangtua dan gurulah yang paling tahu mengenai bagaimana mendidik anak.Sarlito Wirawan Sarwono. perawat dan guru TK (untuk laki-laki). TKI dan TKW dsb. kalah berani berbicara (dibandingkan dengan orang Barat atau dengan orang India atau Philipina) dan sebagainya. Di tengah-tengah tantangan yang begitu meluas. Aneka pekerjaan pun makin bertambah variasinya (yang di jaman Siti Nurbaya tidak pernah ada): programmer. Orangtua maupun guru masih mengandalkan pada cara mendidik jaman Siti Nurbaya9 yang menganggap anak hanya perlu melaksanakan kewajiban yang digariskan orangtua atau guru. dsb. 2010. sebagian yang lain (termasuk ibu-ibu) justru lebih banyak ke luar rumah untuk aneka kegiatan atau pekerjaan. tidak berdampak pada sistem pendidikan kita. Kalimantan. Charles Jencks6.? Kalau tidak. Di sisi lain generasi itu juga tidak sabaran. menurut Jencks. entertainer. profesi-profesi yang tidak terikat pada tempat dan waktu (konsultan. teknologi informatika. kecerdasan gerak (seperti pada penari dan olahragawan). menyebutkan bahwa ciri posmo antara lain adalah peralihan dari Global ke lokal: global thinking is impossible. Tidak mengherankan jika pada tingkat kehidupan masyarakat sehari-hari (grass root) juga muncul hal-hal yang tidak lazim pada 50 tahunan yang lalu. Teori Gardner ini masih memerlukan penelitian lebih lanjut. Jelaslah bahwa perubahan pada sistem Makro berpengaruh langsung pada sistem Meso dan Mikro. yaitu kecerdasan bahasa. kecerdasan antar pribadi (sehingga mudah bergaul) dan kecerdasan ruang (pada pelukis. sejauh ini. hanya ikut-ikutan saja (lebih aman kalau mem-"bebek" saja). Psikolog ~ Indonesian Psychologist Dampak dari gejolak-gejolak selama RI merdeka itu (termasuk 32 tahun stabilitas semu). ratusan sekte dari agamaagama besar. Namun perubahan ini. Papua. agama. kecerdasan ilmu pasti. ras dan antar golongan). The Wisdom of thinking small. yaitu: naturalist (seperti pada para pakar lingkungan). manajemen. Semuanya bisa dinilai baik atau buruk hanya dengan ukuran-ukuran lokal saja. Dengan perkataan lain. khususnya tentang metode pengukuran dari masing-masing http://sarlito. disainer. menamakan perubahan super-cepat yang mendunia ini sebagai Post Modernisme (posmo). melainkan terjadi setiap hari di seantero pelosok dunia.com Powered by Joomla! Generated: 19 August. Biang keladi posmo. Dua penulis lain. Fasilitas pendidikan pun makin merata ke masyarakat: SD sampai ke pelosok-pelosok dan perguruan tinggi tersedia sampai ke kabupaten-kabupaten. kecerdasan musik.)11. spiritual (rohaniwan) dan eksistensial (filsuf)12. 19:07 . tetapi di sisi lain generasi 2000-an punya peluang yang jauh lebih banyak dibandingkan dengan generasigenerasi sebelumnya. tetapi juga liwat TV dan media massa lainnya. penerbang (untuk perempuan). di Amerika Serikat. misalnya. disainer. Aceh dsb. Gardner menambahkan 3 macam kecerdasan lagi. kurang menghargai proses) dan cepat marah yang dengan mudah akan meledak jika tidak ada kendali yang kuat (sehingga banyak tawuran dan kerusuhan). Pendidikan jadinya satu arah. melainkan sedikitnya ada 8 macam. malu kalau mendahului yang lain). Jadi jangan heran jika sekarang ada single parent family. kecerdasan untuk menganalisis diri sendiri (seperti pada Sigmund Freud). arsitek dsb. Pengetahuan tidak hanya dapat diperoleh di sekolah. berapa hasilnya? Sebaliknya. Bahkan akhir-akhir ini. atau bekerja tidak pada jam-jam atau hari-hari kerja yang lazim. pada tahun 1983. pengamat. Kecenderungan untuk memprotes (protestanisme) lagi menjadi gejala yang khas di abad pertengan di Eropa. adalah friksi-friksi yang tersebar di mana-mana (Ambon. yang sudah dimulai sejak tahun 1960-an. The Power of thinking and acting Locally. mau cepat berhasil (jalan pintas. satu-satunya kepastian dalam era posmo adalah ketidak pastian itu sendiri dan satu-satunya yang teratur adalah perubahan itu sendiri.) yang menyebabkan makin banyak orang (termasuk bapak-bapak) yang bisa bekerja di rumah saja. Sebaliknya. Apa yang dirasa baik oleh masyarakat di suatu tempat atau waktu tertentu belum tentu baik juga pada masyarakat atau waktu yang berbeda. adalah electronic economy dan instant communication network7. bisalah dimengerti bahwa kecenderungan untuk selalu menekankan aspek skolastik ini menyebabkan timbulnya generasi yang kurang berinisatif (tunggu instruksi. Masalahnya adalah: siapkah manusia-manusia Indonesia saat ini untuk memanfaatkan peluang tsb.

melainkan harus mencermati bakat dari masing-masing anak (yang berbeda-beda antara satu anak dengan yang lainnya) dan mengembangkannya seoptimal mungkin. pendidikan (sistem Mikro) harus berorientasi pada pengembangan potensi anak sendiri. universal dan tanpa alternatif seperti ini. Psikolog ~ Indonesian Psychologist jenis kecerdasan itu (yang dalam bidang IQ sudah sangat canggih) dan apakah jenis-jenis kecerdasan itu berhenti pada 8 atau 11 jenis saja. karena kalau tidak maka kita akan menjerumuskan generasi muda dan masa depan bangsa kita kedalam kesulitan yang lebih besar lagi. Bahkan dalam kehidupan masyarakat kita masih mendapati banyak pemimpin yang mengira bahwa agama atau partai politiknya sendiri yang paling benar dan universal. melainkan bisa ratusan. semua yang diajarkan oleh orangtua dan guru mutlak benar dan harus dituruti. Perubahan Paradigma Pendidikan Menghadapi era posmo yang serba tidak jelas. sementara pelajaran pilihan diperbanyak. percaya diri dan tidak selalu tergantung atau mengacu pada orang lain. Bahkan Gardner mempersyaratkan agar guru kelas di SD tidak diganti setiap tahun. guru bisa mengikuti perekmbangan anak dengan sebaik-baiknya.com Powered by Joomla! Generated: 19 August. Walaupun demikian. Dengan definisi tersebut. lalu kembali lagi ke kelas 1 untuk angkatan yang baru). Anak harus dididik sedemikain rupa sehingga mampu membuat penilaian dan keputusan sendiri secara tepat. tidak pernah pasti. Karena itu dalam era posmo ini (pada tataran sistem Makro). 2010. pelajaran wajib perlu dikurangi.Sarlito Wirawan Sarwono. Di sekolah sistem ranking perlu dihapuskan. jumlahnya tidak terbatas pada 11. jika semua jenis kecerdasan di seluruh dunia dikumpulkan. Pertama. 19:07 . Penutup Harus diakui bahwa menjadi orangtua atau pendidik jaman sekarang sangat sulit. Dengan demikian. atau masih bisa bertambah lagi? Tetapi yang terpenting dari gagasan Gardner ini adalah bahwa ia mendefinsi ulang konsep tentang inteligensi (kecerdasan) sebagai: a biopsychological potrential to process information that can be activited in a cultural setting to solve problems or to create products that are of value in a culture13. karena mereka cenderung meniru saja cara-cara mendidik yang dilakukan orang-orang dari jaman terdahulu dan yang ketiga. sedangkan ibu-ibu di Manado mempunyai kecerdasan tinggi untuk mengolah sagu menjadi makanan yang lezat yang tidak ada pada chef Perancis sekalipun (di sini mungkin kita perlu menambahkan jenis kecerdasan memasak dalam daftarnya Gardner). misalnya bisa mempunyai kecerdasan tinggi untuk membaca jejak (termasuk dalam kecerdasan naturalist) yang tidak dimiliki oleh bangsa lain di dunia. karena di SD pun guru berganti-ganti sesuai dengan mata pelajarannya. memang sangat sulit untuk mengubah pola pikir seseorang dari pola pikir tradisional ke pola pikir alternatif sesuai tuntutan jaman sekarang. maka jelas konsepsi Gardner dalam menjawab tantangan posmo ("dari global menuju lokal"). kata Gardner. Seorang suku Indian di Amerika. Tidak ada lagi IQ tunggal yang universal dan karena inteligensi sangat terkait dengan budaya kita masing-masing. Artinya. karena kebanyakan mereka belum pernah mengalami jaman seperti ini di masa kecilnya. Itulah sebabnya. anak (dan juga masyarakat) akan bertambah bingung menghadapi era posmo yang justru penuh perubahan. Dengan demikian anak perlu dididik untuk bisa menguasai 3 hal yaitu: mampu menguasai informasi. kesalahan para pendidik (orangtua dan guru) adalah mendidik anak berdasarkan tradisi lama dan tanpa alternatif. bukan berorientasi pada idealisme oranguta atau guru apalagi ideologi dan politik. Tentu saja secara teknis paradigma baru ini juga membutuhkan penyesuaian di tingkat pelaksanaan pendidikan oleh orangtua dan guru. maka kita semua (baca: semua orang) mempunyai potensi untuk mencapai tingkat inteligensi tetentu pada bidangnya masingmasing dan di tempatnya masing-masing juga. Jika dihadapkan terus pada pendekatan yang otoriter. melainkan seorang guru ikut "naik kelas" bersama muridnya (dari kelas 1 sampai kelas 6.hyperphp. dinamika dan alternatif. Orangtua tidak boleh lagi hanya mengutamakan nilai rapor (khususnya pelajaran IPA). tidak seperti sekarang di mana guru tidak lagi menegnal muridnya. sedangkan di sekolah guru merasa paling tahu (dan marah kalau murid bertanya tentang hal yang dia tidak tahu). yang segalanya serba relatif. mampu mengolah informasi itu dengan kreatif sehingga mampu menilai mana yang baik dan benar untuk dirinya sendiri dan atas dasar itu mampu membuat keputusan dan melakukan seusatu yang cerdas. Kedua. http://sarlito. Di rumah orangtua merasa paling punya hak atas anaknya (bahkan sampai anak memasuki usia dewasa). upaya perubahan harus tetap dilakukan. gerak dan ruang yang tidak dimiliki oleh sutradara Holywood atau koreografer dari Broadway. seorang dalang wayang kulit mempunyai kecerdasan tinggi dalam bidang musik.