You are on page 1of 39

BAB I

PENDAHULUAN

Epilepsi merupakan gangguan susunan saraf pusat (SSP) yang dicirikan

oleh terjadinya bangkitan (seizure) yang bersifat spontan dan berkala. Bangkitan

dapat diartikan sebagai modifikasi fungsi otak yang bersifat mendadak dan

sepintas, yang berasal dari sekolompok besar sel-sel otak, bersifat singkron dan

berirama. Bangkitnya epilepsi terjadi apabila proses eksitasi didalam otak lebih

dominan dari pada proses inhibisi. Aktivitas neuron diatur oleh konsentrasi ion

didalam ruang ekstraselular dan intraselular, dan oleh gerakan keluar masuk ion-

ion menerobos membrane neuron.

Otak merupakan alat untuk memproses data tentang lingkungan internal

dan eksternal tubuh yang diterima reseptor pada alat indera (seperti mata, telinga,

kulit, dan lain-lain). Data tersebut dikirimkan oleh urat saraf yang dikenal dengan

system saraf keseluruhan. System saraf ini memungkinkan seluruh urat saraf

mengubah rangsangan dalam bentuk implus listrik. Kemudian implus listrik

dikirim ke pusat system saraf, yang berada di otak dan urat saraf tulang belakang.

Disinilah data diproses dan direspon dengan rangsangan yang ‘’cocok’’. Biasanya

dalam tahap ini timbul saraf efektor, yang berfungsi untuk mengirim implus saraf

ke otot sehingga otot berkontraksi atau rileks.

Di dalam jaringan system saraf pusat terdapat hirarki control. Banyak

rangsangan sederhana berhubungan dengan tindakan refleks/aksi spontan

(misalnya, dengan cepat kita mengibaskan tangan saat menyentuh piring panas).

1
Otak tidak terlibat langsung dalam proses ‘’identifikasi’’ mengenai tindakan

refleks. Tapi, tindakan refleks tersebut diproses di saraf tulang belakang.

Meskipun otak tidak terlibat langsung dalam proses yang berhubungan dengan

aksi spontan, tetap saja kita akan mencerna data/rangsangan yang dipersepsi alat

indera.

Setiap orang punya resiko satu di dalam 50 untuk mendapat epilepsi.

Pengguna narkotik dan peminum alkohol punya resiko lebih tinggi. Pengguna

narkotik mungkin mendapat seizure pertama karena menggunakan narkotik, tapi

selanjutnya mungkin akan terus mendapat seizure walaupun sudah lepas dari

narkotik.Di Inggris, satu orang diantara 131 orang menyindap epilepsi. Jadi

setidaknya 456000 penyindap epilepsi di Inggris.

Epilepsi dapat menyerang anak-anak, orang dewasa, para orang tua

bahkan bayi yang baru lahir. Angka kejadian epilepsi pada pria lebih tinggi

dibandingkan pada wanita, yaitu 1-3% penduduk akan menderita epilepsi seumur

hidup. Di Amerika Serikat, satu di antara 100 populasi (1%) penduduk terserang

epilepsi, dan kurang lebih 2,5 juta di antaranya telah menjalani pengobatan pada

lima tahun terakhir. Menurut World Health Organization (WHO) sekitar 50 juta

penduduk di seluruh dunia mengidap epilepsi (2004 Epilepsy.com).

Prevalensi epilepsi berkisar antara 0,5%-2%. Di Indonesia penelitian

epidemiologik tentang epilepsi belum pernah dilakukan, namun bila dipakai angka

prevalensi yang dikemukakan seperti dalam rujukan, maka dapat diperkirakan

bahwa bila penduduk Indonesia saat ini sekitar 220 juta akan ditemukan antara 1,1

sampai 4,4 juta penderita penyandang epilepsi. Sedangkan dari semua wanita

2
hamil didapatkan antara 0,3%-0,5% penyandang epilepsi dan 40% masih dalam

usia reproduksi.

Kehamilan pada wanita penyandang epilepsi sampai saat ini masih

dianggap sebagai kehamilan resiko tinggi, dikarenakan adanya pengaruh yang

kurang baik dari epilepsi terhadap kehamilan dan sebaliknya serta pengaruh obat

anti epilepsi terhadap janin.7 Sekitar 25%-33,3% serangan epilepsi akan

meningkat selama hamil, dengan beberapa kemungkinan komplikasi-komplikasi

pada saat kehamilan, persalinan dan pada janin

3
BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Definisi

Epilepsi adalah suatu keadaan yang ditandai oleh bangkitan (seizure)

berulang sebagai akibat dari adanya gangguan fungsi otak secara intermitten yang

disebabkan oleh lepasnya muatan listrik abnormal dan berlebihan dineuro-neuron

secara paroksismal, didasari oleh berbagai factor etiologi. Bangkitan epilepsy

adalah manifestasi klinik dari bangkitan serupa (stereotipik), berlangsung secara

mendadak dan sementara dengan atau tanpa perubahan kesadaran, disebabkan

oleh hiperaktivitas listrik sekelompok sel saraf di otak, bukan disebabkan oleh

suatu penyakit otak akut.

Sindrom epilepsy adalah sekumpulan gejala dan tanda klinik epilepsy

yang terjadi secara bersama-sama yang berhubungan dengan etiologi, umur, onset,

jenis bangkitan, factor pencetus, dan kronisitas. Setelah masa neonatus, penyebab

epilepsi mencakup berbagai keadaan yang didapat, kongenital atau bawaan,

diantaranya ada yang khas pada anak-anak dan beberapa dapat timbul pertama

kali pada berbagai usia. Sindroma epileptik yang spesifik pada anak-anak

sangatlah ditentukan oleh umur. Epilepsi yang disebabkan kelainan metabolik

herediter atau kelainan genetik biasanya dimulai pada masa kanak-kanak, epilepsi

yang disebabkan trauma lahir kadang-kadang timbul pertama kali pada masa

dewasa walaupun hal ini tidak biasa dan sebagian kecil kasus epilepsi umum

primer dimulai pada usia dewasa. Tumor otak tertentu biasanya terdapat pada

anak-anak (misalnya meduloblastoma), lainnya pada orang dewasa (meningioma)

4
dan beberapa penyakit hanya terdapat pada usia lanjut (misalnya demensia

presenilis dan penyakit serebrovaskuler). Berbagai keadaan lain terjadi pada anak-

anak maupun orang dewasa misalnya trauma infeksi otak.

2.2 Etiologi

Penyebab epileptik pada umum nya di bagi 3 yaitu :

1) Epilepsi idiopatik yang penyebabnya tidak diketahui meliputi ± 50% dari

penderita epilepsi anak umumnya mempunyai predisposisi genetik, awitan

biasanya pada usia > 3 tahun. Dengan berkembangnya ilmu pengetahuan

dan ditemukannya alat – alat diagnostik yang canggih kelompok ini makin

kecil

2) Epilepsi simptomatik disebabkan oleh kelainan/lesi pada susunan saraf

pusat. Misalnya : post trauma kapitis, infeksi susunan saraf pusat (SSP),

gangguan metabolik, malformasi otak kongenital, asphyxia neonatorum,

lesi desak ruang, gangguan peredaran darah otak, toksik (alkohol,obat),

kelainan neurodegeneratif.

3) Epilepsi kriptogenik dianggap simtomatik tetapi penyebabnya belum

diketahui, termasuk disini adalah sindrom West, sindron Lennox-Gastaut

dan epilepsi mioklonik. Gambaran klinik sesuai dengan ensefalopati

difusi.

5
Pada epilepsi primer tidak ditemukan kelainan pada jaringan otak. Diduga

terdapat kelainan atau gangguan keseimbangan zat kimiawi dalam sel-sel saraf

pada area jaringan otak yang abnormal.

Epilepsi sekunder berarti bahwa gejala yang timbul ialah sekunder, atau

akibat dari adanya kelainan pada jaringan otak.Kelainan ini dapat disebabkan

karena dibawa sejak lahir atau adanya jaringan parut sebagai akibat kerusakan

otak pada waktu lahir atau pada masa perkembangan anak.

Penyebab spesifik dari epilepsi sebagai berikut :

1. kelainan yang terjadi selama perkembangan janin/kehamilan ibu, seperti

ibu menelan obat-obat tertentu yang dapat merusak otak janin, menglami

infeksi, minum alcohol, atau mengalami cidera.

2. kelainan yang terjadi pada saat kelahiran, seperti kurang oksigen yang

mengalir ke otak (hipoksia), kerusakan karena tindakan.

3. cidera kepala yang dapat menyebabkan kerusakan pada otak

4. tumor otak merupakan penyebab epilepsy yang tidak umum terutama pada

anak-anak.

5. penyumbatan pembuluh darah otak atau kelainan pembuluh darah otak

6. radang atau infeksi pada otak dan selaput otak

7. penyakit keturunan seperti fenilketonuria (FKU), sclerosis tuberose dan

neurofibromatosis dapat menyebabkan kejang-kejang yang berulang.

6
8. kecerendungan timbulnya epilepsy yang diturunkan. Hal ini disebabkan

karena ambang rangsang serangan yang lebih rendah dari normal

diturunkan pada anak.

2.3 Patofisiologi

Banyak penyelidikan yang telah dilakukan untuk menerangkan tentang

masalah kelistrikan epilepsi antara lain oleh Herbert Jasper (Kanada), Lennox dan

Gibbs (Amerika) antara tahun 1935 – 1945.Dari penyelidikan tersebut terungkap

bahwa bangkitan epilepsi dicetuskan oleh suatu sumber gaya listrik saran di otak

yang dinamakan fokus epileptogen, yang biasanya diketahui lokasinya tetapi tak

selalu diketahui sifatnya

Otak terdiri dari milyaran sel neuron yang satu dengan lainnya saling

berhubungan. Pada umumnya hubungan antar neuron terjalin dengan pulsa listrik

dan dengan bantuan zat kimia yang secara umum disebut neurotransmitter. Hasil

akhir dari komunikasi antar neuron ini tergantung pada fungsi dasar dari neuron

tersebut. Dalam keadaan normal lalu lintas pulsa antar neuron berlangsung dengan

baik dan lancar. Namun demikian bisa juga terjadi bahwa sebagian dari neuron

bereaksi secara abnormal. Hal ini misalnya terjadi apabila mekanisme yang

mengatur lalu lintas pulsa antar neuron kacau bila braking system dari otak

mengalami gangguan. Antara lain yang berperan dalam mekanisme pengaturan ini

adalah neurotransmitter kelompok glutamat (yang mendorong ke arah aktivitas

7
berlebihan atau excitatory) dan kelompok GABA (gamma-aminobutyric acid),

yang bersifat menghambat : inhibitornya.

Kejang epileptik apapun jenisnya selalu di sebabkan oleh transmisi impuls

yang berlebihan didalam otak yang mengikuti pola yang normal. Terjadi apa yang

di sebut sinkronisasi dari pada impuls , sinkronisasi bisa terjadi hanya pada

sekelompok kecil neuron saja atau kelompok yang lebih besar, atau malahan

meliputi seluruh neuron di otak secara serentak. Lokasi yang berbeda dari

kelompok neuron yang ikut dalam proses sinkronisasi ini menimbulkan

manifestasi yang berbeda dari serangan epileptiknya. serangan epileptik yang

ditimbulkan juga jadi sangat beragam. Bagaimana cara terjadinya sinkronisasi

tidak diketahui secara tepat.

Secara teoritis ada dua faktor yang dapat menyebabkan hal ini :

a. Keadaan dimana fungsi jaringan neuron penghambat kurang

optimal hingga terjadi pelepasan impuls epileptik secara berlebihan

Fungsi neuron penghambat bisa kurang optimal antara lain bila

konsentrasi GABA tidak normal. Otak pasien yang menderita epilepsi

ternyata memang mengandung konsentrasi GABA yang rendah. Hambatan

oleh GABA dalam bentuk inhibisi potensial postsinaptik (IPSIs =

inhibitory post synaptic potentials) adalah lewat reseptor GABA.

Gamma amino butyric acid (GABA). Suatu hipotesa mengatakan bahwa

aktivitas epileptik disebabkan oleh hilang atau berkurangnya inhibisi oleh

GABA. Zat ini merupakan neurotransmitter inhibitorik utama di otak.

Ternyata bahwa sistem GABA ini sama sekali tidak sesederhana seperti

8
yang disangka semula. Riset membuktikan bahwa perubahan pada salah

satu komponennya bisa menghasilkan inhibisi tak lengkap yang akan

menambah rangsangan. Ada kesan bahwa peran GABA pada absence dan

pada epilepsi konvulsif tidak sama. Kini belum ada kesepekatan tentang

peran GABA pada epilepsi kronis.

b. Keadaan dimana fungsi jaringan neuron eksitatorik berlebihan

hingga terjadi pelepasan impuls epileptik berlebihan juga.

Kemungkinan lain adalah bahwa fungsi jaringan neuron penghambat

normal tapi sistim pencetus impuls (eksitatorik) yang terlalu kuat. Keadaan

ini bisa ditimbulkan oleh meningkatnya konsentrasi glutamat di otak .

sampau berapa jauh peran peningkatan glutamat ini pada orang yang

menderita epilepsi belum diketahui secara pasti. Glutamat sejak lama

diakui sebagai zat yang berperan pada sinaps perangsang di korteks dan

hipocampus. Hayashi pada tahun 1954 menemukan bahwa aplikasi

glutamat topikal akan menimbulkan bangkitan paroksimal seperti pada

epilepsi. Kini diketahui bahwa sistem glutamat ini juga terdiri dari

beberapa subtip reseptor lagi. Glycine diperlukan untuk fungsi glutamat

sedangkan zinc memblokir pengaruhnya bila diberikan sebelum serangan

dimulai.

2.4 Klasifikasi Epilepsi

Menurut International League Against Epilepsy (ILAE), epilepsy dibagi atas 2

penyebab yaitu :

9
Bangkitan Epilepsi

a. Bangkitan parsial

1. Bangkitan parasial sederhana

a. Disertai gejala motor

b. Disertai gejala sensori khusus

c. Disertai gejala kejiwaaan

2. Bangkitan parsial kompleks

a. Bangkitan Parsial Sederhana Diikuti Gangguan Kesadaran

b. Bangkitan Parsial Disertai Gangguan Kesadaran Awal Bangkitan

c. Bangkitan Parsial Yang Menjadi Umum Sekunder

d. Parsial Sederhana Menjadi Umum Tonik Klonik

e. Parsial Kompleks Menjadi Umum Tonik Klonik

f. Parsial Sederhana Menjadi Parsial Kompleks Kemudian Menjadi

Umum Tonik Klonik

b. Bangkitan umum

a. Lena (Absence)

b. Mioklonik

c. Tonik

d. Tonik- klonik

c. Bangkitan tak tergolongkan

d. Status Epileptikus

e.

10
Sindrome Epilepsi (ILAE 1989)

A. Berkaitan Lokasi (Localized Related)

1. Idiopatik (primer)

a. Epilepsy benigna gelombang paku daerah sentropental

b. Epilepsi Benigna Gelombang Paroksismal Daerah Oksipital

2. Simtomatik (sekunder)

a. Epilepsi Parsial Kontinua Kronik Pada Anak – Anak (Sindrom

Kojenikow)

b. Sindrom Bangkitan Dipresipitasi Rangsangan (kurang tidur, alkohol,

obat, hiperventilasi,

c. Epilepsi Refleks, stimulasi fungsi kortikal tinggi

d. Epilepsi Lobus Frontal

e. Epilepsi Lobus Parietal

f. Epilepsi Lobus Oksipital

3. Kriptogenik

B. Epilepsi Umum & Sindrom Epilepsi Berurutan Umur

1. Idiopatik (Primer)

• kejang neonatus familial benigna

• Kejang Neonatus Familial Benigna

• Kejang Neonatus Benigna

• Kejang Epilepsi Mioklonik Pada Bayi

11
• Epilepsi Lena Anak

• Epilepsi Lena Remaja

• Epilepsi Mioklonik Remaja

• Epilepsi Bangkitan Tonik – Klonik Saat Terjaga

• Epilepsi Umum Idiopatik Lain

• Epilepsi Tonik Klonik Dipresiitasi Aktivasi Tertentu

2. Kriptogenik atau simtomatik berurutan sesuai peningkatan usia

• Syndrome west (spasme infantile & spasme salam)

• Sindrom Lennox-Gastaut

• Epilepsi lena mioklonik

3. Simtomatik

a. Etiologi non spesifik

• Ensefalopati mioklonik dini

• Ensefalopati infantil dini dengan burst supression

• Epilepsi simtomatik umum lain

b. Etiologi spesifik

• Bangkitan epilepsy komplikasi penyakit

C. Sindrom khusus

1. Kejang Demam

2. Bangkitan Kejang/ Status Epileptikus Hanya Sekali ( Isolated)

12
3. Bangkitan Hanya Pada Kejadian Metabolik Akut, Atau Toksis,

Alkohol, Obat- Obatan, Eklamsia, Hiperglikemi Non Ketotik.

4. Bangkitan Dengan Pencetus Spesifik (Epilepsi Reflektorik)

2.5. Diagnosis

Evaluasi penderita dengan gejala yang bersifat paroksismal, terutama dengan

faktor penyebab yang tidak diketahui, memerlukan pengetahuan dan

keterampilan khusus untuk dapat menggali dan menemukan data yang relevan.

Diagnosis epilepsi didasarkan atas anamnesis dan pemeriksaan klinik

dikombinasikan dengan hasil pemeriksaan EEG dan radiologis. Penderita atau

orang tuanya perlu diminta keterangannya tentang riwayat adanya epilepsi

dikeluarganya. Kemudian dilanjutkan dengan beberapa pemeriksaan antara lain:

Pemeriksaan fisik

Pemeriksaan ini menapis sebab-sebab terjadinya bangkitan dengan

menggunakan umur dan riwayat penyakit sebagai pegangan. Pada usia lanjut

auskultasi didaerah leher penting untuk menditeksi penyakit vaskular. Pada anak-

anak, dilihat dari pertumbuhan yang lambat, adenoma sebasea (tuberous

sclerosis), dan organomegali (srorage disease).

Elektro-ensefalograf

Pada epilepsi pola EEG dapat membantu untuk menentukan jenis dan

lokasi bangkitan. Gelombang epileptiform berasal dari cetusan paroksismal yang

bersumber pada sekelompok neuron yang mengalami depolarisasi secara sinkron.

13
Gambaran epileptiform anatarcetusan yang terekam EEG muncul dan berhenti

secara mendadak, sering kali dengan morfologi yang khas.

Pemeriksaan pencitraan otak

MRI bertujuan untuk melihat struktur otak dan melengkapi data EEG.

Yang bermanfaat untuk membandingkan hipokampus kanan dan kiri. Disamping

itu juga dapat mengidentifikasi kelainan pertumbuhan otak, tumor yang berukuran

kecil, malformasi vaskular tertentu, dan penyakit demielinisasi.

Diagnosis banding

Kejang parsial simplek, dimulai dengan muatan listrik di bagian otak

tertentu dan muatan ini tetap terbatas di daerah tersebut. Penderita mengalami

sensasi, gerakan atau kelainan psikis yang abnormal,tergantung kepada daerah

otak yang terkena. Jika terjadi di bagian otak yang mengendalikan gerakan otot

lengan kanan, maka lengan kanan akan bergoyang dan mengalami sentakan; jika

terjadi pada lobus temporalis anterior sebelah dalam, maka penderita akan

mencium bau yang sangat menyenangkan atau sangat tidak menyenangkan. Pada

penderita yang mengalami kelainan psikis bisa mengalami dejavu (merasa pernah

megalami perasaan seperti sekarang di masa yang lalu.

Kejang Jacksonian gejalanya dimulai pada satu bagian tubuh tertentu

(misalnya tangan atau kaki) dan kemudian menjalar ke anggota gerak, sejalan

dengan penyebaran aktivitas listrik di otak.

Kejang parsial (psikomotor) kompleks, dimulai dengan hilangnya kontak

penderita dengan lingkungan sekitarnya selama 1-2 menit. Penderita menjadi

14
goyah, menggerakkan lengan dan tungkainya dengan cara yang aneh dan tanpa

tujuan, mengeluarkan suara-suara yang tak berarti, tidak mampu memahami apa

yang orang lain katakan dan menolak bantuan.

Kejang konvulsif (kejang tonik-klonik, grand mal) biasanya dimulai

dengan kelainan muatan listrik pada daerah otak yang terbatas. Muatan listrik ini

segera menyebar ke daerah otak lainnya dan menyebabkan seluruh daerah

mengalami kelainan fungsi.

Epilepsi primer generalisata ditandai dengan muatan listrik abnormal di

daerah otak yang luas, yang sejak awal menyebabkan penyebaran kelainan fungsi.

Pada kedua jenis epilepsi ini terjadi kejang sebagai reaksi tubuh terhadap muatan

yang abnormal. Pada kejang konvulsif, terjadi penurunan kesadaran sementara,

kejang otot yang hebat dan sentakan-sentakan di seluruh tubuh, kepala berpaling

ke satu sisi, gigi dikatupkan kuat-kuat dan hilangnya pengendalian kandung

kemih. Sesudahnya penderita bisa mengalami sakit kepala, linglung sementara

dan merasa sangat lelah. Biasanya penderita tidak dapat mengingat apa yang

terjadi selama kejang.

Kejang petit mal, dimulai pada masa kanak-kanak, biasanya sebelum usia

5 tahun. Tidak terjadi kejang dan gejala dramatis lainnya dari grandmal. Penderita

hanya menatap, kelopak matanya bergetar atau otot wajahnya berkedut-kedut

selama 10-30 detik. Penderita tidak memberikan respon terhadap sekitarnya tetapi

tidak terjatuh, pingsan maupun menyentak-nyentak.

Status epileptikus, merupakan kejang yang paling serius, dimana kejang

terjadi terus menerus, tidak berhenti. Kontraksi otot sangat kuat, tidak mampu

15
bernafas sebagaimana mestinya dan muatan listrik didalam otaknya menyebar

luas. Jika tidak segera ditangani, bisa terjadi kerusakan jantung dan otak yang

menetap dan penderita biasa meninggal.

Spame Infatil adalah serangan berupa fleksi atau ekstensi satu kelompok,

akut atau lebih secara mendadak, biasanya terjadi berturutan dan sering disertai

dengan teriakan. Satu dari 3.000 anak terkena serangan ini dan 90% diantaranya

terjadi antara usia 3-12 bulan. West Syndrom bisa dibedakan menjadi dua jenis

yaitu simptomatik dan cryptogenik. Jenis simptomatik disebabkan karena ada

kelainan neurologis sebelumnya. Sedangkan jenis cryptogenic tidak diketahui

penyebabnya.

Gejala Kejang Berdasarkan Sisi Otak Yang Terkena

• Lobus frontalis Kedutan pada otot tertentu

• Lobus oksipitalis Halusinasi kilauan cahaya

• Lobus parietalis Mati rasa atau kesemutan di bagian tubuh tertentu

• Lobus temporalis Halusinasi gambaran dan perilaku repetitif yang

kompleks misalnya berjalan berputar-putar

• Lobus temporalis anterior Gerakan mengunyah, gerakan bibir mencium

• Lobus temporalis anterior sebelah dalam Halusinasi bau, baik yg

menyenangkan maupun yg tidak menyenangkan

2.6. Pengobatan dan Perawatan

A. Perawatan

16
Langkah selanjutnya yang diambil setelah diagnosis epilepsi ditegakkan

adalah membuat rancangan tatalaksana farmakoterapeutik dengan

mempertimbangkan setiap konsekuensi dari masing-masing pilihan terapi. Pada

prinsipnya, obat-obat anti epilepsi harus segera diberikan dengan senantiasa

memperhatikan apakah pasien juga menderita penyakit yang masih aktif, misalnya

tumor cerebri, hematoma subdural kronik, mengidentifikasi hal-hal lain yang

harus dilakukan secara bersamaan misalnya operasi tumor otak, pemasangan

ventriculo-peritoneal shunt dan sebagainya. Bila ditemukan, kelainan-kelaian ini

harus segera diobati. Kadang-kadang dtemukan lesi aktif/progresif yang belum

ada obatnya, misalnya penyakit degeneratif. Pada sebagian besar penderita

epilepsi, sulit ditentukan adanya lesi (idopatik, kriptogenik) atau lesinya sudah

inaktif (sekuele), misalnya sekuele karena trauma lahir dan meningioensefalitis.

Dalam hal seperti ini, pengobatan ditujukan terhadap gejala epilepsinya

Penatalaksanaan primer pada penderita epilepsi bertujuan agar kualitas

hidup optimal untuk pasien sesuai dengan perjalanan penyakit epilepsi dan

disabilitas fisik maupun mental yang dimilikinya dapat tercapai. Tujuan tersebut

hanya akan dicapai melalui beberapa upaya yang diolah serta diterapkan secara

holistik antara lain adalah menghentikan bangkitan, mengurangi frekuensi

bangkitan, mencegah timbulnya efek samping, menurunkan angka kesakitan dan

kematian serta mencegah timbulnya efek samping obat anti epilepsi.

B. Pengobatan

17
Penderita epilepsi cenderung untuk mengalami serangan kejang secara

spontan, tanpa faktor provokasi yang kuat atau yang nyata. Timbulnya bangkitan

kejang yang tidak dapat diprediksi pada penderita epilepsi selain menyebabkan

kerusakan pada otak, dapat pula menimbulkan cedera atau kecelakaan. Kenyataan

inilah yang membuat pentingnya pemberian antikonvulsan pada pasien epilepsi.

Antikonvulsi digunakan terutama untuk mencegah dan mengobati bangkitan

epilepsi (epileptic seizure). Golongan obat ini lebih tepat dinamakan anti epilepsi

sebab jarang digunakan untuk gejala konvulsi penyakit lain.

Terdapat dua mekanisme anti epilepsi yang penting yaitu:

1. Mencegah timbulnya letupan depolarisasi eksesif pada neuron epileptik

dalam fokus epileptic

2. Mencegah letupan depolarisasi pada neuron normal akibat pengaruh dari

fokus epilepsi. Bagian terbesar antiepilepsi yang dikenal termasuk dalam

golongan terakhir ini.

Mekanisme kerja antiepilepsi hanya sedikit yang dipahami dengan baik.

Berbagai obat antiepilepsi diketahui mempengaruhi berbagai fungsi

neurofisiologik otak, terutama yang mempengaruhi sistem inhibisi yang

melibatkan GABA dalam mekanisme kerja berbagai antiepilepsi.

Obat antiepilepsi terbagi dalam delapan golongan. Empat golongan

antiepilepsi mempunyai rumus dengan inti berbentuk cincin yang mirip satu sama

lain yaitu golongan hidantoin, barbiturate, oksazolidindion dan suksinimid. Akhir-

akhir ini karbamazepin dan asam valproat memegang peran penting dalam

pengobatan epilepsi, karbamazepin untuk bangkitan parsial sederhana maupun

18
kompleks, sedangkan asam valproat terutama untuk bangkitan lena maupun

bangkitan kombinasi lena dengan bangkitan tonik klonik.

Golongan obat anti epilepsi

1. Hidantoin

obat pilihan pertama untuk kejang umum, kejang tonik-klonik, dan

pencegahan kejang pada pasien trauma kepala/bedah saraf. Fenitoin memiliki

range terapetik sempit sehingga pada beberapa pasien dibutuhkan pengukuran

kadar obat dalam darah. Mekanisme aksi fenitoin adalah dengan menghambat

kanal sodium (Na+) yang mengakibatkan influk (pemasukan) ion Na+ kedalam

membran sel berkurang dan menghambat terjadinya potensial aksi oleh

depolarisasi terus-menerus pada neuron. Dosis awal penggunaan fenitoin 5

mg/kg/hari dan dosis pemeliharaan 20 mg/kg/hari tiap 6 jam. Efek samping

yang sering terjadi pada penggunaan fenitoin adalah depresi pada SSP,

sehingga mengakibatkan lemah, kelelahan, gangguan penglihatan (penglihatan

berganda), disfungsi korteks dan mengantuk. Pemberian fenitoin dosis tinggi

dapat menyebabkan gangguan keseimbangan tubuh dan nystagmus.Salah satu

efek samping kronis yang mungkin terjadi adalahgingival

hyperplasia (pembesaran pada gusi). Menjaga kebersihan rongga mulut dapat

mengurangi resiko gingival hyperplasia.

2. Barbiturat

19
Fenobarbital merupakan obat yang efektif untuk kejang parsial dan kejang

tonik-klonik. Efikasi, toksisitas yang rendah, serta harga yang murah

menjadikan fenobarbital obat yang penting utnuk tipe-tipe epilepsi ini.

Namun, efek sedasinya serta kecenderungannya menimbulkan gangguan

perilaku pada anak-anak telah mengurangi penggunaannya sebagai obat

utama. Aksi utama fenobarbital terletak pada kemampuannya untuk

menurunkan konduktan Na dan K. Fenobarbital menurunkan influks kalsium

dan mempunyai efek langsung terhadap reseptor GABA (16) (aktivasi

reseptor barbiturat akan meningkatkan durasi pembukaan reseptor GABAA

dan meningkatkan konduktan post-sinap klorida). Selain itu, fenobarbital juga

menekan glutamate excitability dan meningkatkan postsynaptic GABAergic

inhibition. Dosis awal penggunaan fenobarbital 1-3 mg/kg/hari dan dosis

pemeliharaan 10-20 mg/kg 1kali sehari. Efek samping SSP merupakan hal

yang umum terjadi pada penggunaan fenobarbital. Efek samping lain yang

mungkin terjadi adalah kelelahan, mengantuk, sedasi, dan depresi.

Penggunaan fenobarbital pada anak-anak dapat menyebabkan hiperaktivitas.

Fenobarbital juga dapat menyebabkan kemerahan kulit, danStevens-Johnson

syndrome.

3. Deoksibarbiturat

Primidon digunakan untuk terapi kejang parsial dan kejang tonik-klonik.

Primidon mempunyai efek penurunan pada neuron eksitatori. Efek anti kejang

20
primidon hampir sama dengan fenobarbital, namun kurang poten. Didalam

tubuh primidon dirubah menjadi metabolit aktif yaitu fenobarbital dan

feniletilmalonamid (PEMA). PEMA dapat meningkatkan aktifitas

fenobarbotal. Dosis primidon 100-125 mg 3 kali sehari. Efek samping yang

sering terjadi antara lain adalah pusing, mengantuk, kehilangan keseimbangan,

perubahan perilaku, kemerahan dikulit, dan impotensi

4. Iminostilben

Karbamazepin secara kimia merupakan golongan antidepresan trisiklik.

Karbamazepin digunakan sebagai pilihan pertama pada terapi kejang parsial

dan tonik-klonik. Karbamazepin menghambat kanal Na+, yang mengakibatkan

influk (pemasukan) ion Na+ kedalam membran sel berkurang dan menghambat

terjadinya potensial aksi oleh depolarisasi terus-menerus pada neuron. Dosis

pada anak dengan usia kurang dari 6 tahun 10-20 mg/kg 3 kali sehari, anak

usia 6-12 tahun dosis awal 200 mg 2 kali sehari dan dosis pemeliharaan 400-

800 mg. Sedangkan pada anak usia lebih dari 12 tahun dan dewasa 400 mg 2

kali sehari. Efek samping yang sering terjadi pada penggunaan karbamazepin

adalah gangguan penglihatan (penglihatan berganda), pusing, lemah,

mengantuk, mual, goyah (tidak dapat berdiri tegak) dan Hyponatremia. Resiko

terjadinya efek samping tersebut akan meningkat seiring dengan peningkatan

usia.

5. Suksimid

21
Etosuksimid digunakan pada terapi kejang absens. Kanal kalsium merupakan

target dari beberapa obat antiepilepsi. Etosuksimid menghambat pada kanal

Ca2+ tipe T. Talamus berperan dalam pembentukan ritme sentakan yang

diperantarai oleh ion Ca2+ tipe T pada kejang absens, sehingga penghambatan

pada kanal tersebut akan mengurangi sentakan pada kejang absens. Dosis

etosuksimid pada anak usia 3-6 tahun 250 mg/hari untuk dosis awal dan 20

mg/kg/hari untuk dosis pemeliharaan. Sedangkan dosis pada anak dengan usia

lebih dari 6 tahun dan dewasa 500 mg/hari. Efek samping penggunaan

etosuksimid adalah mual dan muntah, efek samping penggunaan etosuksimid

yang lain adalah ketidakseimbangan tubuh, mengantuk, gangguan pencernaan,

goyah (tidak dapat berdiri tegak), pusing dan cegukan.

6. Asam valpoat

Asam valproat merupakan pilihan pertama untuk terapi kejang parsial, kejang

absens, kejang mioklonik, dan kejang tonik-klonik. Asam valproat dapat

meningkatkan GABA dengan menghambat degradasi nya atau mengaktivasi

sintesis GABA. Asam valproat juga berpotensi terhadap respon GABA post

sinaptik yang langsung menstabilkan membran serta mempengaruhi kanal

kalium. Dosis penggunaan asam valproat 10-15 mg/kg/hari. Efek samping

yang sering terjadi adalah gangguan pencernaan (>20%), termasuk mual,

muntah,anorexia, dan peningkatan berat badan. Efek samping lain yang

mungkin ditimbulkan adalah pusing, gangguan keseimbangan tubuh, tremor,

dan kebotakan. Asam valproat mempunyai efek gangguan kognitif yang

22
ringan. Efek samping yang berat dari penggunaan asam valproat adalah

hepatotoksik.Hyperammonemia (gangguan metabolisme yang ditandai dengan

peningkatan kadar amonia dalam darah) umumnya terjadi 50%, tetapi tidak

sampai menyebabkan kerusakan hati.

Interaksi valproat dengan obat antiepilepsi lain merupakan salah satu masalah

terkait penggunaannya pada pasien epilepsi. Penggunaan fenitoin dan

valproat secara bersamaan dapat meningkatkan kadar fenobarbital dan dapat

memperparah efek sedasi yang dihasilkan. Valproat sendiri juga dapat

menghambat metabolisme lamotrigin, fenitoin, dan karbamazepin. Obat yang

dapat menginduksi enzim dapat meningkatkan metabolisme valproat. Hampir

1/3 pasien mengalami efek samping obat walaupun hanya kurang dari 5% saja

yang menghentikan penggunaan obat terkait efek samping tersebut.

7. Benzodiazepine

Benzodiazepin digunakan dalam terapi kejang. Benzodiazepin merupakan

agonis GABAA, sehingga aktivasi reseptor benzodiazepin akan meningkatkan

frekuensi pembukaan reseptor GABAA. Dosis benzodiazepin untuk anak usia

2-5 tahun 0,5 mg/kg, anak usia 6-11 tahun 0,3 mg/kg, anak usia 12 tahun atau

lebih 0,2 mg/kg, dan dewasa 4-40 mg/hari. Efek samping yang mungkin

terjadi pada penggunaan benzodiazepin adalah cemas, kehilangan kesadaran,

pusing, depresi, mengantuk, kemerahan dikulit, konstipasi, dan mual.

8. Obat epilepsi lain

23
a. Gabapeptin

Gabapentin merupakan obat pilihan kedua untuk penanganan parsial epilepsi

walaupun kegunaan utamanya adalah untuk pengobatan nyeri neuropati. Uji

double-blind dengan kontrol plasebo pada penderita seizure parsial yang sulit

diobati menunjukkan bahwa penambahan gabapentin pada obat antiseizure

lain leibh unggul dari pada plasebo. Penurunan nilai median seizure yang

diinduksi oleh gabapentin sekitar 27% dibandingkan dengan 12% pada

plasebo. Penelitian double-blind monoterapi gabapentin (900 atau 1800

mg/hari) mengungkapkan bahwa efikasi gabapentin mirip dengan efikasi

karbamazepin (600 mg/hari). Gabapentin dapat meningkatkan pelepasan

GABA nonvesikel melalui mekanisme yang belum diketahui. Gabapentin

mengikat protein pada membran korteks saluran Ca2+ tipe L. Namun

gabapentin tidak mempengaruhi arus Ca2+ pada saluran Ca2+ tipe T, N, atau L.

Gabapentin tidak selalu mengurangi perangsangan potensial aksi berulang

terus-menerus. Dosis gabapentin untuk anak usia 3-4 tahun 40 mg/kg 3 kali

sehari, anak usia 5-12 tahun 25-35 mg/kg 3 kali sehari, anak usia 12 tahun

atau lebih dan dewasa 300 mg 3 kali sehari. Efek samping yang sering

dilaporkan adalah pusing, kelelahan, mengantuk, dan ketidakseimbangan

tubuh. Perilaku yang agresif umumnya terjadi pada anak-anak. Beberapa

pasien yang menggunakan gabapentin mengalami peningkatan berat badan.

b. Lamotrigin

24
Lamotrigin merupakan obat antiepilepsi generasi baru dengan spektrum luas

yang memiliki efikasi pada parsial dan epilepsi umum. Lamotrigin tidak

menginduksi atau menghambat metabolisme obat anti epilepsi lain.

Mekanisme aksi utama lamotrigin adalah blokade kanal Na, menghambat

aktivasi arus Ca2+ serta memblok pelepasan eksitasi neurotransmiter asam

amino seperti glutamat dan aspartat. Dosis lamotrigin 25-50 mg/hari.

Penggunaan lamotrigin umumnya dapat ditoleransi pada pasien anak, dewasa,

maupun pada pasien geriatri. Efek samping yang sering dilaporkan adalah

gangguan penglihatan (penglihatan berganda), sakit kepala, pusing, dan goyah

(tidak dapat berdiri tegak). Lamotrigin dapat menyebabkan kemerahan kulit

terutama pada penggunaan awal terapi 3-4 minggu. Stevens-Johnson

syndrome juga dilaporkan setelah menggunakan lamotrigin.

c. Levitirasetam

Levetiracetam mudah larut dalam air dan merupakan derifatpyrrolidone ((S)-

ethyl-2-oxo-pyrrolidine acetamide). Levetirasetam digunakan dalam terapi

kejang parsial, kejang absens, kejang mioklonik, kejang tonik-klonik.

Mekanisme levetirasetam dalam mengobati epilepsi belum diketahui. Namun

pada suatu studi penelitian disimpulkan levetirasetam dapat menghambat

kanal Ca2+ tipe N dan mengikat protein sinaptik yang menyebabkan penurunan

eksitatori atau meningkatkan inhibitori. Proses pengikatan levetiracetam

dengan protein sinaptik belum diketahui. Dosis levetirasetam 500-1000 mg 2

25
kali sehari. Efek samping yang umum terjadi adalah sedasi, gangguan

perilaku, dan efek pada SSP. Gangguan perilaku seperti agitasi, dan depresi

juga dilaporkan akibat penggunaan levetirasetam.

Beberapa contoh obat yang sering digunakan dalam pengobatan kejang

spesifik

Tipe seizure Terapi pilihan pertama Obat alternatif


Seizure parsial Karbamazepin Gabapentin

Fenitoin Topiramat

Lamotrigin Levetiracetam

Asam valproat Zonisamid

okskarbanzepin Tiagabin

Primidon

Fenobarbital

Felbamat

kejang umum absens Asam valproat Lamotrigin

Etosuksimid Levetiracetam

Mioklonik Asam valproat Lamotrigin,

Klonazepam topiramat,

felbamat, zonisamid,

26
levetiracetam

Tonik- Fenitoin Lamotrigin,


klonik
Karbamazepin topiramat, primidon,

Asam valproat fenobarbital,

okskarbanzepin,

Levetiracetam

Studi kasus

Tanggal : 11/08/2010

Nama Pasien : Adhe Candra

Diagnosa : Epilepsi

Umur : 28 thn

Asal rujukan : 06080101

Gejala :

Obat yang diberikan

R/ depakote ER 500 mg no XIV

S1dd1

R/ movileps 100 mg no XLII

S3ddI

27
R/ lepigo no XLII

S3ddI

R/ Haloperidol 0,5 no XLII

S3ddI

R/ THP 2 mg no XLII

S3ddI

Monografi Obat yang diberikan

1. Depakote

Komposisi : Asam Valproat

Nama generik: Divalproex sodium

Indikasi : semua jenis serangan epilepsi

Farmakologi : Mekanisme kerja asam valproat tidak diketahui. Efek obat untuk

meningkatkan konsentrasi GABA (gama asam aminobutirat), suatu

neurotransmiter inhibitor. Pemberian secara oral, natrium valproat akan berubah

menjadi asam valproat didalam lambung, dan kemudian akan diabsobsi dalam

saluran pencernaan. Konsentrasi puncak dalam darah akan tercapai dalam 1-4 jam

setelah pemberian dosis tunggal baik dalam bentuk asam maupun garamnya.

Asam valproat akan terdistribusi kedalam CSF ( sekitar 10 % dari konsentrasi

serum), saliva (sekitar 1% dari konsentrasi dalam plasma), dan ASI (sekitar 1-

28
10% dari konsentrasi plasma); Terdistribusi melalui plasenta. Asam valproat

dieliminasi melalui ginjal, dan dilaporkan waktu paruh 5-20 jam (rata-rata 10,6

jam). Asam valproat dimetabolisme terutama di hati.

Interaksi obat : Penggunaan fenitoin dan valproat secara bersamaan dapat

meningkatkan kadar fenobarbital dan dapat memperparah efek sedasi yang

dihasilkan. Asam Valproat juga dapat menghambat metabolisme lamotrigin,

fenitoin, dan karbamazepin. Obat yang dapat menginduksi enzim dapat

meningkatkan metabolisme valproat, sehinggah dapat menurunkan efek Asam

valproat.

Efek samping : Iritasi lambung, anoreksia, mual, muntah; sedasi, ataksia, tremor;

nafsu makan meningkat; dapat terjadi hepatitis, edema, trombositopeni, hambatan

agregrasi platelet, ruam. Jarang: pankreatitis, leukopeni, hipoplasia sel darah

merah.

Dosis : Dosis awal : 300-600 mg/hari terbagi dalam 2 dosis, setelah makan,

dinaikkan 200 mg/hari tiap 3 hari, maksimum: 2,5 g/hari, dalam dosis terbagi.

2. Movileps

Komposisi : Fenitoin Natrium

Indikasi : Fenitoin diindikasikan untuk mengontrol keadaan kejang tonik-klonik

(grand mal) dan serangan psikomotor

Farmakologi :

Fenitoin merupakan obat golongan antiepilepsi. Mekanisme kerja utamanya pada

korteks motoris yaitu menghambat penyebaran aktivitas kejang. Kemungkinan hal

29
ini disebabkan peningkatan pengeluaran natrium dari neuron dan fenitoin

cenderung menstabilkan ambang rangsang terhadap hipereksitabilitas yang

disebabkan perangsangan berlebihan atau kemampuan perubahan lingkungan di

mana terjadi penurunan bertahap ion natrium melalui membran. Ini termasuk

penurunan potensiasi paska tetanik pada sinaps. Fenitoin menurunkan aktivitas

maksimal pusat batang otak yang berhubungan dengan fase tonik dari kejang

tonik-klonik (grand mal). Waktu paruh plasma setelah pemberian oral rata-rata

adalah 22 jam (antara 7-42 jam).

Efek samping :

• Susunan Saraf pusat: manifestasi paling sering yang berhubungan dengan

terapi fenitoin dengan SSP biasanya tergantung dosis. Efek samping ini

berupa nistagmus, ataksia, banyak bicara, koordinasi menurun dan konfusi

mental, pusing, susah tidur, gelisah, kejang motorik dan sakit kepala.

• Saluran cerna: mual, muntah dan konstipasi.

Kulit: kelainan dermatologik berupa ruam kulit skarlatimiform atau

morbiliform kadang-kadang disertai dengan demam. Bentuk lebih serius

dapat berupa dermatitis eksfoliativ, lupus eritematosus, sindroma Stevens-

Johnson dan nekrolisis epidermal toksik.

Sistem hemopoetik: efek samping yang dapat bersifat fatal ini kadang-

kadang dilaporkan terjadi. Hal ini dapat berupa trombositopenia

leukopenia, granulositopenia, agranulositosis, pansitopenia dengan atau

tanpa supresi sumsum tulang.

30
• Jaringan penunjang: muka menjadi kasar, bibir melebar, hiperplasia gusi,

hipertrikosis dan penyakit peyroni.

• Kardiovaskular: periarterisis nodosa.

• Imunologik: sindroma sensitifitas, lupus eritromatosus sistemik dan

kelainan immunoglobulin.

Dosis :

• Dewasa:dosis awal:15-25 mg/kg dosis pemeliharaan : 300 mg/hari atau 5-6

mg/kg/hari pada 3 dosis terbagi atau 1-2 dosis terbagi untuk pelepasan

bertahap.

• Dosis awal: 15-20 mg/kg tergantung pada konsentrasi serum fenitoin dan

riwaya dosis sebelumnya. Pemberian dosis awal oral pada 3 dosis terbagi

diberikan setiap 2-4 jam untuk mengurangi efek yang tidak dinginkan pada

saluran pencernaan dan meyakinkan bahwa dosis oral terabsorpsi

sepenuhnya.; dosis pemeliharaan sama seperti i.v.

3. Lepigo

Komposisi : Karbamazepin

31
Indikasi : Epilepsi semua jenis,kecuali petit mal, neuralgia trigeminus; propilaksis

pada manik depresif.

Farmakologi : Aksi farmakologi dari karbamazepin secara kualitatif mirip dengan

antikonvulsan derivat hidantoin. Aktifitas antikonvulsan dari karbamazepin,

seperti fenitoin, pada dasarnya dengan membatasi hantaran seizure dengan

mengurangi potensiasi posttetanic (PTP) transmisi sinaps. Karbamazepin

menghilangkan nyeri pada neuralgia trigeminal dengan mengurangi transmisi

sinap di dalam nukleus trigeminal. Karbamazepin juga mempunyai efek sedatif,

antikolinergik, antidepresan, relaksasi otot, antiaritmia, antidiuretik, dan aksi

penghambatan transmisi neuromuskular. Karbamazepin hanya mempunyai efek

analgesik ringan. (AHFS Drugs Information p. 2139).

Efek samping :

Biasanya dihubungkan dengan hipermagnesemia, mual, muntah, haus, flushing

kulit, hipotensi, aritmia, koma, depresi nafas, ngantuk, bingung, hilang refleks

tendon, lemah otot, kolik dan diare pada pemberian oral.

Interaksi :

• Alkohol : Efek samping SSP dari Karbamazepin mungkin ditingkatkan.

• Analgetik : dekstropropoksifen menaikkan efek karbamazepin; khasiat

tramadol diturunkan oleh karbamazepin

32
• Antibakteri : metabolisme doksisiklin dipercepat (mengurangi efek); kadar

plasma karbamazepin ditingkatkan oleh klaritromisin, eritromisin dan

isoniazid (hepatoksisitas isoniazid mungkin juga meningkat)

• Antikoagulan : metabolisme nikumalon dan warfarin dipercepat

(mengurangi efek antikoagulan)

• Antidepresan : antagonisme efek antikonvulsan (ambang kejang

diturunkan); kadar plasma karbamazepin ditingkatkan oleh fluoksetin,

fluvoksamin, dan viloksazin; metabolisme mianserin dan trisiklik

dipercepat (menurunkan kadar plasma); disarankan untuk menghindari

pemakaian bersama MAOI atau dalam waktu 2 minggu setelah MAOI

• Antiepileptika lain : pemberian bersama dua atau lebih obat antiepileptika

dapat meningkatkan toksisitas tanpa diiringi peningkatan dalam efek

antiepilepsi; selain itu interaksi antara masing-masing obat antiepilepsi

mempersulit pemantauan pengobatan;interaksi termasuk peningkatan efek,

peningkatan sedasi, dan penurunan kadar plasma

• Antimalaria : klorokuin dan meflokuin melawan efek antikonvulsan

• Antipsikotik : antagonisme efek antikonvulsan (ambang kejang menurun);

metabolisme haloperidol, olansapin dan sertindol dipercepat (menurunkan

kadar plasma)

• Antagonis-Kalsium : diltiazem dan dan verapamil menaikkan efek

karbamazepin; efek felodopin, isradipin dan mungkin nikardipin dan

nifedipin dikurangi.

33
• Glikosida jantung : hanya metabolisme digitoksin yang dipercepat

(mengurangi efek)

• Kortikosteroid : metabolisme dipercepat (menurunkan efek)

• Siklosporin : metabolisme dipercepat (menurunkan kadar plasma

siklosporin)

• Diuretik : meningkatkan risiko hipoatremia

• Antgonisme Hormon : danazol menghambat metabolisme karbamazepin

(meningkatkan efek); metabolisme toremifen mungkin dipercepat

• Litium : dapat terjadi neurotoksisitas tanpa meningkatkan kadar plasma

litium

• Relaksan otot : efek relaksan otot non-depolarizing dilawan (kepulihan

dari blok neuromuskular dipercepat)

• Estrogen dan Progesteron : karbamazepin mempercepat metabolisme

kontrasepsi oral (menurunkan efek konrasepsi)

Retinoid : Kadar plasma mungkin diturunkan oleh isotretinoin

Teofilin : metabolisme teofilin dipercepat (mengurangi efek)

• Tiroksin : metabolisme teofilin dipercepat (dapat meningkatkan kebutuhan

akan tiroksin pada hipotiroidisme)

• Obat-obat Antiulkus : metabolisme dihambat oleh simetidin (menaikkan

kadar plasma karbamazepin)

34
• Vitamin : karbamazepin mungkin menaikkan kebutuhan vitamin D (IONI,

hal 487).

4. Haloperidol

Komposisi : Butyrophenone

Indikasi : Penanganan shcizofrenia, sindroma Tourette pada anak dan dewasa,

masalah perilaku yang berat pada anak.

Farmakologi :

Memblok reseptor dopaminergik D1 dan D2 di postsinaptik mesolimbik otak.

Menekan penglepasan hormon hipotalamus dan hipofisa, menekan Reticular

Activating System (RAS) sehingga mempengaruhi metabolisme basal, temperatur

tubuh, kesiagaan, tonus vasomotor dan emesis.

Onset kerja : sedasi :iv sekitar 1 jam,

Durasi dekanoat : sekitar 3 minggu; distribusi; melewati plasenta dan masuk ke

ASI.

Ikatan protein : 90%, metabolisme: di hati menjadi senyawa tidak aktif,

bioavailabilitas oral : 60%,

T½ eliminasi 20 jam, T maks serum : 20 menit.

Ekskresi : urin, dalam 5 hari, 33-40% sebagai metabolit, feses 15%.

Interaksi :

• Efek haloperidol meningkat oleh klorokuin, propranolol, sulfadoksin-

piridoksin, anti jamur azol, chlorpromazin, siprofloksacin, klaritromisin,

delavirdin, diklofenak, doksisiklin, aritromisin, fluoksetin, imatinib,

isoniasid, mikonazol, nefazodon, paroksetin, pergolid, propofol, protease

35
inhibitor, kuinidin, kuinin, ritonavir, ropinirole, telitromisin, verapamil,

dan inhibitor CYP2D6 atau 3A4.

• Haloperidol dapat meningkakan efek amfetamin, betabloker tertentu,

benzodiazepin tertentu, kalsium antagonis, cisaprid, siklosporin,

dekstrometorfan, alkaloid ergot, fluoksetin, inhibitor HMG0CoA reductase

tertentu, lidokain, paroksetin, risperidon, ritonavir, sildenafil , takrolimus,

antidepresan trisiklik, venlafaksin, dan sunstrat CYP2D6 atau 3A4.

• Haloperidol dapat meningkatkan efek antihipertensi, SSP depresan, litium,

trazodon dan antidepresan trisiklik.

• Kombinasi haloperidol dengan indometasin dapat menyebabkan

mengantuk, lelah dan bingung sedangkan dengan metoklopramid dapat

meningkatkan resiko ekstrapiramidal.

• Haloperidol dapat menghambat kemampuan bromokriptin menurunkan

konsentrasi prolaktin.

• Benztropin dan antikholinergik lainnya dapat menghambat respons terapi

haloperidol dan menimbulkan efek antikholinergik.

• Barbiturat, karbamazepin, merokok, dapat meningkatkan metabolisme

haloperidol.

• Haloperidol dapat menurunkan efek levodopa, hindari kombinasi.

• Efek haloperidol dapat menurun oleh aminoglutetimid, karbamazepin,

nafsilin, nevirapin, fenobarbital, fenitoin, rifamisin dan induser CYP3A4

lainnya.

36
• Efek haloperidol dapat menurun oleh aminoglutetimid, karbamazepin,

nafsilin, nevirapin, fenobarbital, fenitoin, rifamisin dan induser CYP3A4

lainnya.

Dosis :

• Awal : 0,05 mg/kg/hari atau 0,25-0,5 mg/hari dibagi dalam 2-3 dosis;

peningkatan 0,25-0,5 mg setiap 5-7 hari maksimum 0,15 mg/kg/hari.

• Dosis pemeliharaan : 10-15 kali dosis awal oral, digunakan untuk

menstabilkan gejala psikiatri.

• Delirium di unit perawatan intensif: iv.: 2-10 mg; dapat diulang secara

bolus setiap 20-30 menit sampai dicapai kondisi tenang, kemudian

berikan 25% dosis maksimum setiap 6 jam, monitor EKG dan interval

QT.

5. THP (Triheksifenidil)

Komposisi : Triheksifenidil

37
Farmakologi :

• Triheksifenidil adalah senyawa piperidin. Daya antikolinergi dan efek

sentralnya mirip atropin namun lebih lemah.

• Menunjukkan inhibisi pada sistem saraf parasimpatetik, Triheksifinidil

juga mempunya efek merelaksasi otot polos; secara langsung memberikan

efek kepada otot dan secara tidak langsung melalui sistem saraf

parasimpatetik.

Indikasi :

• Meringankan gejala gangguan pada gastrointestinal yang ditandai dengan

spasme otot polos (antispasmodic); mydriasis dan cyclopedia pada mata;

premedikasi untuk mengeringkan sekret bronchus dan saliva yang

bertambah pada intubasi dan anestesia inhalasi; mengembalikan

bradikardi yang berlebihan; bersama dengan neostigmin untuk

mengembalikan penghambatan non-depolarising neuromuscular, antidote

untuk keracunan organophosphor ; cardiopulmonary resucitation.

• Terapi tambahan dalam Parkinson

Dosis :

Sehari 1 – 15 mg dibagi dalam 2 – 4 dosis

38
Dewasa : awal 2 mg, atau 3 kali sehari dosis dinaikkan sampai diperoleh hasil

yang diharapkan.

Dewasa : awal 1 mg, jika gejala tidak terkontrol dalam beberapa jam dosis

ditingkatkan sehingga hilang gejala.

Dosis sehari 5 – 15 mg, dosis 15 – 20 mg jarang dibutuhkan

DRP ( Drug Related Problem)

1. Unteated indications (indikasi yang tidak memperoleh terapi ) = Tidak ada

2. Drug therapy used when not indicated (penggunaan obat tanpa indikasi) =
Tidak ada

3. Improper Drug Selections (pemilihan obat yang tidak tepat) = tidak ada

4. Failure to receive drug (gagal memperoleh obat) = Tidak ada

5. Overdose or toxic dose (overdosis atau dosis toksik)= tidak ada

6. Adverse drug reactions ( reaksi efek samping obat) = ada tapi sudahditanggani
dengan omz

7. Drug interaction (interaksi obat) = Tidak ada

39