P. 1
Modul Perpajakan

Modul Perpajakan

|Views: 5,030|Likes:
Published by Adiyas Semm

More info:

Published by: Adiyas Semm on Aug 28, 2010
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

06/16/2013

pdf

text

original

MODUL

“PERPAJAKAN”

D3 KEUANGAN DAN PERBANKAN

PENYUSUN :

ADIYAS, SE.,MM.

FAKULTAS EKONOMI

UNIVERSITAS PEMBANGUNAN NASIONAL
“VETERAN” JAKARTA

Jl.RS. Fatmawati, Pondok Labu Jakarta Selatan 12450
021 – 7692856

2010

MODUL

“PERPAJAKAN”

D3 KEUANGAN DAN PERBANKAN

PENYUSUN :

ADIYAS,SE,MM

Nama Mahasiswa

:
Nomor Pokok Mahasiswa:
Semester / Kelas

:

Nama Dosen

:

FAKULTAS EKONOMI

UNIVERSITAS PEMBANGUNAN NASIONAL
“VETERAN” JAKARTA

Jl.RS. Fatmawati, Pondok Labu Jakarta Selatan 12450
021 – 7692856

2010

KATA PENGANTAR

Puji dan Syukur penyusun panjatkan kepada Tuhan Yang Maha
Esa, atas Rahmat dan karunia-Nya penyusun dapat menyelesaikan Modul
Perkuliahan Perpajakan ini.

Modul Perkuliahan Perpajakan ini berisi ringkasan materi
perpajakan yang sudah disesuaikan dengan Satuan Acara Perkuliahan,
sehingga diharapkan dapat menunjang pencapaian kompetensi keahlian
yang diinginkan.

Penyusun menyadari bahwa modul ini belum sempurna, karena
itu saran dan kritikan dari semua pihak sangat diharapkan guna perbaikan
di masa mendatang.

Pada kesempatan ini penyusun menyampaikan banyak terima
kasih kepada semua pihak yang telah banyak membantu hingga
tersusunnya modul ini.

Terakhir penyusun berharap semoga modul ini bermanfaat bagi
mahasiswa Program D3 Keuangan dan Perbankan Fakultas Ekonomi
khususnya dan umumnya bagi paca pembaca sekalian.

Jakarta, Januari 2010

Penyusun

Adiyas, SE.,MM.

i

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR

i

DAFTAR ISI

ii

Gambaran Umum UU PPh …………………………………….

1

Kebijakan dan Teknis Pemotongan PPh Pasal 21 ………….

11

Kebijakan dan Teknis Pemotongan PPh Pasal 22 ………….

23

Kebijakan dan Teknis Pemotongan PPh Pasal 23 ………….

36

Kebijakan dan Teknis Pemotongan PPh Pasal 24 ………….

42

Kebijakan dan Teknis Perhitungan Penilaian Persediaan,
Penjualan dan Pengalihann Harta ......................…….....….

47

Kebijakan dan Teknis Perhitungan Penyusutan,
dan Amortisasi Aktiva .........................................……….….

61

Kebijakan dan Teknis Perhitungan Pajak yang Terutang
(khusus WP Orang Pribadi) ...................................………….

67

Teknis Perhitungan PPN dan PPnBM ..................................

74

Kebijakan Umum Mengenai PBB …………………………….

84

Kebijakan Umum Mengenai Bea …………………………….

90
Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan..................... 97

ii

FAKULTAS EKONOMI
UNIVERSITAS PEMBANGUNAN NASIONAL
”VETERAN” JAKARTA

POKOK BAHASAN

GAMBARAN UMUM UNDANG-UNDANG PPh

ADIYAS, SE, MM.

A. PENDAHULUAN

Pajak Penghasilan (PPh) merupakan salah satu sumber
penerimaan negara yang berasal dari penghasilan masyarakat. Dalam
proses pemungutan perlu diatur dengan UU agar dapat memberikan
kepastian hukum, sesuai dengan kehidupan dalam negara demokrasi
Pancasila. Dalam sistem peraturan perpajakan yang lama, pengenaan
pajak atas penghasilan diatur dalam beberapa UU, yaitu : Ordonansi
Pajak Perseroan 1925, Ordonansi Pajak Pendapatan 1944, UU Pajak atas
bunga. Dividen dan Royalti 1970, UU No. 8 tahun 1967.
Sejak akhir tahun 1983 pemerintah mengadakan pembaharuan
peraturan perpajakan di Indonesia/Reformasi perpajakan Maksud dari
pembahuruan pajak itu adalah umtuk menyederhanakan struktur pajak,
seperti jenis-jenis pajak, tarif dan cara pemenuhan kewajiban pajak.
Sistem pemungutan pajak lebih banyak memberikan tanggung jawab
perpajakan pada diri wajib pajak (WP), dengan menganut simtem self-
assesment. UU Perpajakan itu meliputi: UU no. 7 tahun 1983 tentang
Pajak Penghasilan (PPh).

Dalam UU Pajak Penghasilan ini mengatur materi pengenaan
pajak yang pada dasarnya meliputi: subjek pajak (siapa yang akan
dikenakan ), objek pajak (apa yang dikenakan atau penyebab pengenaan

1

1

MODUL PERTEMUAN I

Perpajakan (3 SKS)

pajak) dan tarif pajak sebagai cara penentuan jumlah pajak.Tarif pajak
ditetapkan secara wajar berdasarkan prinsip-prinsip pemerataan dalam
pamungutan pajak dan keadilan dalam pembebanan pajak. Struktur tarif
disederhanakan dan bersifat progresif, artinya semakin tinggi penghasilan
semakin tinggi pula persentase tarif pajak.Sedangkan tatacara
pungutannya diatur dalam UU tersendiri, yaitu dalam UU no.6 Tahun
1983. Tarif untuk orang Pribadi/Perseorangan sama dengan tarif untuk
Badan dengan tingkat tarif maksimal yang lebih rendah daripada tarif
lama.

B. KEBAIKAN-KEBAIKAN SISTEM PERPAJAKAN YANG BARU

Ada bebrapa kelebihan atau kebaikan pada penerapan sistem
perpajakan yang baru, antara lain :
a.Serderhana, bagi Wajib Pajak (WP) akan mudah melakukan
penghitungan jumlah pajak yang harus dibayarnya. Demikian juga bagi
Kantor Pajak, akan mudah menguji perhitungan pajak yang dilakukan
oleh WP.
b. Adil dan merta, tarf pajak diberlakukan sama terhadap tingkat
penghasilan yang sama dari manapun penghasilan itu diterima atau
diperoleh.
c. Meningkatkan kepatuhan wajib pajak, tarif marginal tertinggi adalah
35%. Hal ini akan meningkatkan kesediaan WP untuk membayar
pajak. Meningkatkan kerelaan membayar dan bertambah mudahnya
bagi administrasi pajak untuk menguji akan lebih meningkatkan
kepatuhan WP.
d.Mengurangi pengalihan penghasilan dari badan kepada perorangan
atau sebaliknya sebab pengalihan semacam itu tidak memberikan
manfaat kepada wajib pajak.

2

C.PERBEDAAN SISTEM LAMA DAN SISTEM BARU

Adapun perbedaan sistem perpajakan lama dan sistem baru

mencakup hal-hal berikut ini :

No

Bidang

Sistem Lama

Sistem Baru

1.Struktur peraturan

a. peraturan pajak
sangat beraneka
ragam sehingga
membingungkan
wajib pajak.
b. adanya
pembebanan
pajak berganda.
c. ada beberapa
jenis pajak.
d.sudah
ketinggalan
jaman.
Hak & kewjiban
WP tidak jelas.

a.disederhanakan
dengan
memberlakukan
satu peraturan
PPh.
b.Mengeliminir
adanya pajak
berganda.
c.hanya ada satu
jenis pajak.
d.Untuk

menyesuaikan
dengan
perkembangan
zaman.
Hak & kewajiban
WP jelas.

2.Sistem pemungutan

a.sangat
tergantung pada
aparat
perpajakan
b. Official
assessment.

a.ditentukan
oleh WP
sendiri

b.self assessment.

3

3.Tata cara pemungutana.berbelit-belit
b.pengisian SPT
hanya sebagai
laporan
c.hasil pemungutan
pajak tidak
memadai
d.WP diperlukan
sebagai “objek”

a.lebih sederhana
b.pengisian SPT
sebagai tindakan
Hk
c.WP menghitung &
menyetorkan
pajak sendiri
WP diperlakukan
sebagai “subjek”

4. Tarif Pajak

a.tarif pajak
berbeda antara
WP badan & WP
perseorangan
b.tarif pajak cukup
tinggi
c.ada berbagai
bentuk insentif
pajak

a.tarif pajak berlaku
untuk WP badan &
WP perseorangan
b.tarif pajak
diturunkan
c.menghapus
segala bentuk
insentif pajak

D.DASAR-DASAR PERPAJAKAN

Definisi dan unsur pajak menurut Prof. Dr. Soemitro, SH. adalah
iuran rakyat kepada kas negara berdasarkan Undang-undang (yang dapat
dipaksakan) dengan tiada mendapat jasa timbal (kontraprestasi) yang
langsung dapat ditunjukan dan yang digunakan untuk membayar
pengeluaran umum.

4

Dari definisi tersebut dapat disimpulkan bahwa pajak memiliki

unsur :
1.Iuran dari rakyat kepada negara, yang berhak memungut pajak hanya
negara. Iuran tersebut berupa uang (bukan barang).
2.Berdasarkan Undang-undang Pajak dipungut atau dengan kekuatan
Undang-undang, serta aturan pelaksanaannya.
3.Tanpa jasa timbal atau kontraprestasi dari negara yang secara
langsung dapat ditunjukkan. Dalam pembayaran pajak tidak dapat
ditunjukan adanya kontraprestasi individual oleh Pemerintah.
4.Digunakan untuk membiayai Rumah Tangga Negara, yakni
pengeluaran-pengeluaran yang bermanfaat bagi masyarakat luas.

Adapun fungsi pajak ada dua, yaitu :
1.Fungsi budgeter, pajak merupakan sumber dana bagi pemerintah
untuk membiayai pengeluaran-pengeluaran negara.
2.Fungsi regulerend (mengatur), pajak sebagai alat untuk mengatur
atau melaksanakan kebijakan pemerintah dalam bidang sosial dan
ekonomi.

Contoh :
a.

Pajak yang tinggi dikenakan terhadap minuman keras (label
merah) untuk mengurangi konsumsi minuman keras.
b.

Pajak yang tinggi dikenakan terhadap barang-barang mewah
untuk mengurangi gaya hidup mewah.
c.

Tarif pajak untuk ekspor sebesar 0% untuk mendorong
ekspor produksi Indonesia di pasaran dunia internasional.

Agar pemungutan pajak tidak menimbulkan hambatan atau
perlawanan, maka pemungutan pajak harus memenuhi syarat sebagai
berikut :
1.Pemungutan pajak harus adil (syarat keadilan) sesuai hukum.

5

2.Pemungutan pajak, berdasarkan Undang-undang (syarat yuridis). Di
Indonesia diatur dengan UUD 45, pasal 23 ayat 2 : memberi jabatan
hukum untuk menyatakan keadilan, baik negara dan warganya.
3.Tidak mengganggu perekonomian (syarat ekonomis).
4.Pemungutan pajak harus efisien (syarat finansial).
5.Sistem pemungutan pajak harus sederhana.

Sedangkan hukum perpajakan dapat dikelompokan menjadi
Hukum Pajak Materil dan Hukum Pajak Formil :
1.Hukum Pajak Materil (langsung), yaitu pajak yang dipikul sendiri oleh
WP dan tidak dapat dibebankan/dilimpahkan kepada orang lain,
seperti Pajak Penghasilan (PPh).
2.Hukum Pajak formil, memuat bentuk/tatacara untuk mewujudkan
hukum materil menjadi kenyataan (cara melaksanakan hukum pajak
materil).

E.PENGELOMPOKAN PAJAK

1.Menurut Golongannya :

a.

Pajak langsung, yaitu pajak harus dipikul sendiri oleh WP
dan tidak dapat dibebankan/dilimpahkan kepada orang lain,
seperti Pajak Penghasilan (PPh).

b.

Pajak tidak langsung, yaitu pajak yang pada akhirnya
dapat dilimpahkan kepada orang lain, seperti Pajak Pertambahan
Nilai (PPN).

2.Menurut Sifatnya :

a.

Pajak subjektif, yaitu pajak yang bepangkal/berdasarkan
pada subjeknya dalam arti memperhatikan keadaan diri WP,
seperti PPh.

6

b.

Pajak objektif, yaitu pajak yang bepangkal/berdasarkan
pada objeknya, tanpa memperhatikan kedaan diri WP, seperti
PPN dan Pajak Penjualan Atas Barang Mewah (PPnBM).

3.Menurut Lembaga Pemungutannya :

a.

Pajak Pusat, dipungut oleh Pemerintah Pusat dan
digunakan untuk membiayai Rumah Tangga Negara, seperti PPN
& PPnBM, PBB dan Bea materai.
b.

Pajak Daerah, yaitu pajak yang dipungut oleh PEMDA dan
digunakan untuk membiayai Rumah Tangga Daerah.
Pajak Daerah terdiri atas :

-

Pajak DATI I (Propensi), seperti Pajak Kendaraan Bermotor
dan Bea Balik Nomor (BBN) Kendaraan Bermotor.

-

Pajak DATI II (Kota Madya/Kabupaten), seperti Pajak
Pembangunan, Pajak Penerangan Jalan, dan Pajak Bangsa
Asing (WNA).

F.TATACARA PEMUNGUTAN PAJAK

1.Stelsel Pajak :

Pemungutan pajak dapat dilakukan atas 3 stelsel :

a.Stelsel nyata (riel stelsel).

Pengenaan pajak atas dasar objek (penghasilan yang nyata),
sehingga pemungutannya baru dapat dilakukan pada akhir tahun
pajak.

b.Stelsel Anggapan (fictieve Stelsel).

Pengenaan pajak didasarkan pada suatu anggapan yang diatur
oleh UU misal : penghasilan suatu tahun dianggap sama dengan
tahun sebelumnya.

7

c.Stelsel Campuran.

Merupakan kombinasi antara stelsel nyata dan anggapan, Pada
awal tahun, besarnya pajak dihitung berdasarkan suatu anggapan,
kemudian pada akhir tahun besarnya pajak disesuaikan dengan
keadaan yang sebenarnya.

2.Azas Pemungutan Pajak :

a.Azas domilisi (azas tempat tinggal).

Negara berhak mengenakan pajak atas penghasilan WP yang
bertempat tinggal diwilayahnya.

b.Azas sumber.

Negara berhak mengenakan pajak atas penghasilan yang
bersumber di wilayahnya tanpa memperhatikan tempat tinggal
WP.

c.Azas Kebangsaan.

Pengenaan pajak dihubungkan dengan kebangsaan suatu negara.
Missal : pajak bangsa asing (WNA). Atas azas ini berlaku WP luar
negeri.

3.Sistem Pemungutan Pajak :

a.Offcial Assessment system.

Adalah suatu sistem pemungutan yang memberi wewenang
kepada Pemerintah (fiscus) untuk besarnya pajak yang terutang
oleh WP.

b.

Self Assessment Syatem.

Adalah suatu sistem pemungutan pajak memberi wewenang
kepada WP untuk menentukan sendiri besarnya pajak yang
terutang.

8

c.

With Holding Syistem .

Adalah suatu sistem pemungutan pajak memberikan wewenang
kepada pihak ketiga (bukan fiscus dan bukan WP bersangkutan)
untuk menentukan besarnya pajak yang terutang oleh WP.

G.TIMBUL DAN HAPUSNYA HUTANG PAJAK

Ada 2 ajaran yang mengatur timbulnya utang pajak :
1.Ajaran Formil, Utang pajak tibul kaena dikeluarkannya Surat
Keterangan Pajak (SKP) Oleh fiscus. Ajaran ini diterapkan kepada
official assessment system.
2.Ajaran Materil, Utang pajak timbul karena U.U seseorang dikenai
pajak karena keadaan dan perbuatannya. Ajaran ini diterapkan pada
seassessment System.

Sedangkan hapusnya utang pajak dapat disebabkan beberapa
hal, yaitu hambatan terhadap pemungutan pajak yang dikelompokan :
1.Perlawanan Pasif .
Masyarakat enggan (pasif ) membayar pajak, yang dapat disebabkan
antara lain :
a.

Perkembangan intelektual dan moral masyarakat.

b.

Sistem perpajakan yang mungkin sulit dipahami

masyarakat.
c.

Sistem kontrol tidak dapat dilakukan / dilaksanakan

dengan baik.

2.Perlawanan Aktif.

Perlawanan aktif meliputi semua usaha dan perbuatan yang secara
langsung ditujukan kepada fiscus dengan tujuan untuk menghindari
pajak, bentuknya antara lain :
a.

Tax avoidance, usaha meringankan beban pajak dengan
tidak melanggar undang-undang.

9

b.

Tax evasion, usaha meringankan beban pajak dengan
cara yang melanggar undang-undang. ( menggelapkan pajak ).

H.TARIF PAJAK

Ada 4 tarif pajak, yaitu :
1.Tarif sebanding/proporsional, dikenai pajak, sehingga besarnya
pajak yang terutang proporsional terhadap besarnya nilai yang dikenai
pajak contoh : untuk penyerahan Barang Kena Pajak (BKP) didalam
daerah pajak akan dikenakan PPN sebesar 10%.
2.Tarif tetap, tarif berupa jumlah yang tetap (sama) terhadap
berapapun jumlah yang dikenai pajak yang terutang tetap.
Contoh : Besar tarif bea materai untuk cek dan bilyet giro dengan
nilai berapapun adalah Rp. 1.000,- sekarang naik sejak
tanggal 1 Mei 2000 menjadi Rp.3.000,- dan Rp.6.000,-
3.Tarif Progresif, persentase tarif yang digunakan semakin besar bila
jumlah yang dikenal pajak semakin besar.
Contoh : pasal 17 UU.PPh tahun 1995.
Lapisan penghasilan Kena Pajak (PKP)

Tarif

- Sampai dengan Rp.25.000.000,-

10%

- Rp. 25.000.000,- – Rp.50.000.000,-

15%

- diatas Rp.50.000.000,-

30%

Menurut kenaikan persentase Tarif Progresif dibagi :
a.Tarif Progresif Progresif, kenaikan persentase semakin besar.
b.Tarif Progresif Tetap, kenaikan persentase tetap.
c.Tarif Progresif Degresif, kenaikan persentase semakin kecil.
Dengan demikian, tarif pajak menurut pasal 17 UU.PPh tersebut
diatas termasuk Tarif Progresif Progresif.
4.Tarif Degresif, persentase tarif yang digunakan semakin kecil bila
jumlah yang dikenai pajak semakin besar.

10

Referensi :UU. No.7 tahun 1983 sebagaimana telah diubah menjadi
UU. No. 10 tahun 1994 dan diteruskan dengan UU. No. 26
tahun 2000

FAKULTAS EKONOMI
UNIVERSITAS PEMBANGUNAN NASIONAL
”VETERAN” JAKARTA

POKOK BAHASAN

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->