You are on page 1of 1

UNAIR | Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga

Sejarah Pendidikan Dokter Pada Jaman Belanda
Monday, 23 June 2008

Pada bulan Januari 1851 berdasarkan atas Gouvernements Besluit No. 22 tahun 1849 di Batavia (Jakarta) didirikan
Sekolah Dokter Jawa ("Dokter Jawa School"). Direktur yang ditunjuk adalah Dr. P. Bleeker dan dibantu 2 orang
koleganya sebagai guru. Siswa yang diterima pertama kalinya hanya 12 orang pemuda Jawa yang diketahui berasal
dari keluarga baik-baik, tidak usah lulus SD (Sekolah Rakyat), harus mampu menulis dan membaca Bahasa Melayu,
berumur 15-16 tahun. Siswa yang diterima mendapat sebutan eleve dengan lama pendidikan 2 tahun. Pelajaran yang
diberikan meliputi sekedar pokok-pokok mata pelajaran : Bahasa Belanda, Ilmu Hitung, Ilmu Ukur, Ilmu Bumi, Ilmu
Binatang, Ilmu Kimia Organik, Ilmu Alam, Mekanika, Ilmu Tanah, Ilmu Tumbuh-Tumbuhan, Ilmu Hewan, Ilmu Urai
dalam Sakit, Ilmu Kebidanan (Kehamilan dan Sel Telur) dan Ilmu Bedah (Cerai Sendi Patah Tulang dan Burut). Tujuan
Pendidikan Dokter Jawa tersebut adalah mendidik murid menjadi juru cacar ("vaccinateur") agar mereka dapat
memberikan sekedar pertolongan pada penyakit-penyakit biasa seperti demam dan penyakit-penyakit usus. Beberapa
peristiwa penting dalam sejarah pendidikan dokter pada jaman Belanda adalah :

1856 Dari angkatan tersebut yang lulus 11 orang dan diperbolehkan menggunakan titel "Dokter Jawa". Mereka
memperbanyak jumlah juru cacar di daerah yang digunakan juga untuk membantu tugas-tugas ringan dokter militer.

1856 Sekolah Dokter Jawa terbuka untuk murid yang berasal dari Sumatera Tengah dan Sulawesi Utara. Dr. P.
Bleeker yang belum puas pada pelaksanaan dan hasil pendidikannya mengusahakan perbaikan kurikulum Sekolah
Dokter Jawa hingga menghasilkan dokter yang mampu menjalankan praktek umum.

1864 Lama Pendidikan Sekolah Dokter Jawa dijadikan 3 th. Pendidikannya meliputi 27 mata pelajaran, siswa baru
yang diterima lebih banyak. Melihat lulusan Sekolah Dokter Jawa ternyata intelegen dan berbakat baik, maka akhirnya
ia berhasil mengarahkan pendidikan dokternya menjadi lebih baik lagi.

1875 Lama pendidikan dokter menjadi 7 tahun dan dibagi menjadi 2 tahun bagian persiapan dan 5 tahun bagian
kedokteran. Bahasa Pengantarnya adalah Bahasa Belanda. Siswa yang diterima sebagai eleve hanya lulusan SD
pemerintah atau ujian masuk bila tidak memiliki pendidikan pendahuluan dan berumur 14-18 tahun. Jumlah eleve
sebanyak 100 orang. Gelar setelah lulus : "Inlandsch Geneesen Heelkundige". Sejak itu mutu lulusan Dokter Jawa lebih
baik dan dipercaya menjalankan tugas-tugas kedokteran yang lebih luas. Mereka mulai memiliki rasa percaya diri yang
besar dan masyarakat menghargainya sebagai dokter sesungguhnya.

1881 Lama pendidikan dokter diperpanjang menjadi 9 tahun dengan tahap 3 tahun bagian persiapan dan 6 tahun
bagian kedokteran. Siswa yang diterima sebagai eleve hanya lulusan SD pemerintah (ELS). Bahasa pengantarnya
adalah Bahasa Belanda dan Bahasa Jerman mulai diajarkan mengingat adanya buku pegangan dalam Bahasa Jerman.

1893 Majalah Kedokteran yang pertama diterbitkan. Dalam jangka waktu sekitar setengah abad, pendidikan dokter di
Jawa mengalami kemajuan cukup pesat. Hal tersebut dapat terlaksana berkat : - Para pengajarnya terdiri dari tenaga-
tenaga mampu dan memenuhi persyaratan dan mereka tidak pernah puas dengan hasil yang dicapai. - Kurikulum
yang semula dianggap terlampau berat, akhirnya lebih diarahkan sesuai dengan kebutuhan. - Para siswa yang
kemudian terpilih dan bertahan, ternyata sangat berbakat, rajin dan tekun belajar Berhasillah cita-cita Belanda
mendidik "dokter-dokter kelas dua" yang tingkatannya lebih rendah dari mereka. Dr. H.F. Roll sebagai tokoh kedua
yang memimpin sekolah tersebut berhasil membangun sekolah baru di dekat rumah sakit militer.

1902 Nama Sekolah Dokter Jawa menjadi STOVIA (School Tot Opleiding Voor Inlandsche Artsen). Lama
pendidikannya menjadi 8 th, terbagi menjadi 2 th bagian persiapan dan 6 tahun bagian kedokteran. Hak praktek
ditambah dengan ilmu kebidanan. Penerimaan eleve baru ditingkatkan menjadi 150 orang dan terbuka bagi pemuda
dari luar Jawa. Lulusan STOVIA bertitel "Inlandsch Arts" diijinkan melakukan "geneesheel en verlos-kunde" dan berhak
sebagai "apotheek-houndend geneesheer".

1913 Nama sekolah diganti lagi menjadi STOVIA. Lama pendidikan menjadi 10 th, terbagi menjadi 3 th bagian
persiapan dan 7 th bagian persiapan. Mata pelajaran meliputi premedik, preklinik dan klinik. Siswa berasal dari sekolah
rendah pemerintah ; lulusan MULO langsung diterima pada STOVIA tingkat III Bagian Persiapan, sedangkan lulusan
HBS (Hogere Burger School) V dan AMS (Algemne Middelbare School) B langsung di tingkat II Bagian Kedokteran.

http://dev.fk.unair.ac.id Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga Generated: 5 October, 2008, 02:56