Kisah Pertama: Raja dan Anaknya...

12 Agustus 2010 jam 10:54 Ijinkan saya untuk menuliskan kisah-kisah mengandung hikmah selama Bulan Ramadhan ini.. Tengah hari, selepas menunaikan Sholat Dzuhur, saya bercengkerama dengan beberapa teman sekantor di musholla kantor. Saya tidak pernah berpikir kalau bercengkrama di sebuah mosholla adalah perbuatan tercela ketika obrolan mengarah kepada perbaikan dan kebaikan nurani. Hari pertama dalam melaksanakan ibadah puasa temanku bertutur di musholla. " Dulu, ketika kecil di bulan Ramadhan ini aku selalu tiduran di mesjid jami kampungku bersama beberapa teman, hingga ashar menjelang.." Katanya. " Pada satu tahun di bulan Ramadlan, aku lupa kapan waktunya, di mesjid jami tempat kami rebahan itu datanglah seorang tamu, aku yakin, dia adalah seorang berilmu, dari cara duduk dan sikapnya menandakan jika orang itu memiliki ilmu padi.." Lanjutnya, " Orang itu bercerita, ya... sekitar 30 cerita kepada kami,dan waktu pun tidak terasa, sampai menjelang ashar dia bercerita, ceritanya sama sekali tidak panjang seperti pertunjukan sebuah drama, ya bisa dibilang ceritanya hanya berupa stensilanstensilan dari kisah-kisah yang ada di dunia ini, seperti si Santiago dalam Chemistrynya Coelho, kisah raja sombong, kisah putri tidur, dan itu dikisahkannya dengan penuh selera sehingga siapa pun yang mendengarnya akan berdecak kagum. Aku awali dengan kisah pertama..." Katanya Menarik nafas panjang. " Orang itu bercerita:" " Pada zaman dahulu, di kerajaan Ur hiduplah seorang raja dengan anaknya. Hidup di dalam istana merupakan hidup yang serba berkecukupan, apa pun tinggal pilih, ambil, santap. Belum wewangian, asap-asap pedupaan dengan berbagai aroma, bahkan mandipun memakai bunga-bunga di dalambaknya. Raja tersebut bisa dikatakan belum belajar filsafat, maka didatangkanlah seorang guru filsafat tentu saja karena si Raja sudah terlalu tua untuk belajar dan alasan dia adalah tentang rasa malunya, disuruhlah si guru itu mengajarkan filsafat kepada anaknya. Anaknya yang mulai remaja itu,ketika sebelum diajari filsafat oleh si guru bisa dibiling seorang anak manja,cengeng, seolah hidup dijejali oleh keserba cepatan dan harus siap saji.

Sekumpulan Kisah Di Facebook. Ramadhan 1431 H

Satu tahun setelah belajar filsafat, tentu saja tentang kebenaran, si anak mulai menampakkan perubahan dalam hidupnya terutama daricara dia berkata dan bersikap. Dia mulai merenungi segala sesuatu ketika melihat sesuatu. HIngga pada suatu saat, ayahnya mengajak dia untuk pergi ke sebuah desa, dimana hamparan kebun dan pesawahan membentang serta membentengi kota itu. Dan berjalanlah mereka ke desa itu, sambil melihat-lihat, para penggarap sawah dan peladang sedang menyiangi rerumputan, alam menbentang luas. Menjelang waktu istirahat di sebuah gubuk beberapa petani dan peladang menggolekkan tubuh mereka, enak sekali. Dandi malam hari, di desa itu orang-orang ramai mengadakan pesta syukuran, bisa makan-makan, bisa tiduran di beranda rumah, bercengkrama satu sama lain dan saling memberikan makanan satu sama lain, dan ketika malam menjelang tanpa sungkan-sungkan raja dan anaknya tidur bersama mereka di sebuah gubuk ditemani oleh beberapa petani. Orang desa tidak tahu kalau mereka berdua adalah raja dan anaknya. Tiga hari lamanya mereka tinggal di kampung dan mereka diperlakukan secara istimewa tanpa harus tahu kapasitas dan kedudukan serta jabatan mereka itu apa. Orang desa memperlakukan mereka dengan wajar, dan tanpa permohonan serta keinginan apa pun. Setelah tiba di istana, ditanyalah si anak oleh ayahnya: "Pelajaran apa yang telah kita dapat dari perjalanan selama tiga hari kemarin?" Anak yang telah belajar filsafat itu lantas merenung,lalu berkata: " Ananda bisa menyimpulkan beberapa pelajaran: Kita yang hidup serba berkecukupan di dalam istana ini ternyata sama sekali tidak adaapa-apanya jika dibandingkan dengan kehidupan orang-orang desa. Kita di sini hanya memiliki beberapa ekor kelinci sementara mereka memiliki berbagai jenis ternak. Istana ini serba dilengkapi oleh kemewahan seolah segalanya tersedia disini namun ananda bisa melihat, kehidupan merekalah yang serba cukup, sungai mengalir jernih, udara bebas terhirup, melihat alam tanpa batas. Halaman istana hanya terbatas pada dinding pagar itu sementara halaman rumah mereka adalah hamparan pesawahan dan perkebunan tanpa batas, seluas mata memandang. Kita tidur di kamar yang diterangi oleh beberapa lampu minyak saja, sementara mereka tidur diterangi oleh kerlip gemintang di luasnya cakrawala, angkasa raya tanpa batas. HIdup di istana begitu membosankan walaupun kita memiliki para pelayan yang selalu siap melayani kita setiap waktu, namun hidup merekalah yang lebih nyaman, mereka bisa saling melayani,saling memberi dan menerima makanan

Sekumpulan Kisah Di Facebook. Ramadhan 1431 H

, saling bercengkrama sepanjang hidup. Dan ananda yakin, betapa miskinnya kita ini ayahanda!" Raja itu kemudian termenung, dan menitikkan air mata. Esoknya, dibongkarlah dinding pagar istana, dan siapa pun dibolehkan bermainmain di halaman istana. Sementara si anak memutuskan untuk hidup di desa itu sambil sesekali membantu orang-orang di sana belajar membaca serta menulis. " Begitulah cerita pertama..."

Sekumpulan Kisah Di Facebook. Ramadhan 1431 H

Kisah Ke-dua: I Love You ( Di Kota Edo)
13 Agustus 2010 jam 11:26 Orang itu lantas menceritakan kepada kami, sebuah kisah seorang prajurit, lebih tepatnya seorang samurai yang menjelma menjadi manusia perkasa setelah menyadari jika seorang istri adalah merupakan refleksi dari ketangguhan dan pancaran sinar yang bisa menghidupkan padamnya lentera. Dengan penuh selera dan semangat, kami mendengarkan kisah dan penuturan cerita itu. Waktu itu serambi mesjid telah dipenuhi oleh anak-anak seusia kami, matahari telah condong beberapa meter di atas kepala. Mesjid tetap dingin dan sejuk di bulan Ramadlan. Kisahnya, seperti ini: " Kota Edo dipimpin oleh seorang samurai, selain bengis juga memiliki sifat munafik dan sering mengadu domba. Okurha Razitu, orang memanggilnya Tuan Oku. Menurut cerita dari sebuah buku, Tuan Oku memiliki kenangan pahit,masa kecil dilaluinya di sebuah asrama, orangtuanya meninggal dibunuh oleh sekawanan perampok ketika membawa hasil panen di tengah hari. Selama di asrama, hidupnya diisi oleh berbagai dera dan cobaan. Hingga dia memutuskan untuk kabur dan diadopsi oleh sebuah keluarga samurai. Dididik samurai, hingga menjelma menjadi seorang samurai hebat. Jalan hidupnya seperti kebanyaka para samurai pada umumnya, berkelana, menjadi pengabdi badi para tuan tanah dan pejabat-peabat tinggi. Sampai pada saatnya, Oku diangkat menjadi seorang samurai kerajaan. Karena kehebatannya di dalam mengolah dan memainkan samurai, serta dibumbui oleh kelihaian dia dalam menjilat atasan, diangkatlah dia menjadi kepala daerah di Kota Edo. Kehidupan para pejabat di negeri Sakura waktu itu sulit terbayangkan oleh akal sehat. Kelaparan menerjang tidak sebanding dengan pesta pora yang dilakukan oleh para pejabat negara. Tatanan negara dibumbui oleh adegan kemesuman, sindikat, persekongkolan, saling menjatuhkan antara pejabat yang satu dengan pejabat yang lainny, korupsi, manufulasi, dan jual beli hukum. Beberapa bulan terakhir ini, seorang pencuri babi di gantung, sementara Tuan Mitsuke, seorang kepala keamanan yang memperkosa anak gadis di bawah umur bebas dari jerat hukum. Negeri Sakura sedang berada di Jurang kehancuran, lebih khusus kota Edo. Akira menyayangi Su, pilihannya selalu tepat, seperti busur Busur panah yang mengenai sasaran. Langit Kota Edo siang itu terik, musim panas telah

Sekumpulan Kisah Di Facebook. Ramadhan 1431 H

menerbangkan bunga-bunga sugi. Sebelum memasuki musim gugur, rerumputan dan sakura masih menyisakan warna hijau tuanya. Dan Su menyelipkan sekuntum bunga sakura di telinga Akira. Semua orang mengenal Su, tabib muda, pantai mengobati, dan kepeduliannya kepada orang miskin benar-benar telah membuat iri siapa pun termasuk penguasa waktu itu. Kepedulian kepada orang miskin akan membuka tabir jika pemerintah waktu itu seolah sama sekali tidak memperhatikan kehidupan dan kesulitan orang miskin. Kegiatan Tabib muda Su itu diawasi oleh pasukan kerajaan. Kepala Daerah Edo, Tuan Oku pernah turun tangan langsung, mendatangi balai pengobatan Tabib Su. " Seorang tabib tidak perlu berurusan dengan dunia politik!" Bisik Tuan Oku sambil mengacungkan secangkir Sake. Lalu meminumnya. Tabib Su tidak mengerti dengan ucapan Kepala Daerah Edo itu. " Ajari saja mereka membaca dan menulis... tidak perlu diberi pelajaran sejarah kejayaan kerajaan negeri ini, tidak perlu diberi pengetahuan tentang kehebatan para leluhur kita..." Bisiknya sekali lagi," Kau membuka sekolah gratis khan? Aneh... di saat orang-orang senang membuka sekolah dengan biaya mahal, kau malau melawan arus, disaat kerajaan sekolah menarik urang dari orangtua siswa dengan nominal cukup untuk membeli keperluan dan kebutuhan hidup selama tiga bulan, kau malah sama sekali tidak memungut uang dari mereka..." Kembali Tabib Su tidak berkata. Waktu terus berlalu, Akira semakin menyayangi Su sebagaimana seorang wanita mencintai anaknya, begitu pun Su, begitu mencintai Akira. Akira seorang anak penasehat Kepala Daerah Edo. Cantiknya bukan main, Tuan Oku sebenarnya menginginkan jika wanita anak Tuan Hito itu menjadi istri ke-lima nya. Pernah maksudnya itu dikatakan kepada penasehatnya. Walau dengan rasa gamang. " Kau harus lebih hati-hati, Su..." " Dalam hal apa? Sampai saat ini semua orang sama sekali tidak merasa dirugikan oleh sikapku.." " Tadi malam ayah memelas kepadaku, agar menyampaikan kabar jika kerajaan telah menancapkan rasa benci kepada kamu, Su. Kegiatan-kegiatan kamu seperti

Sekumpulan Kisah Di Facebook. Ramadhan 1431 H

melakukan aksi pengobatan gratis, membuka sekolah gratis, member santuan kepada jelata telah dianggap sebagai sebuah ancaman, dan bisa menimbulkan reaksi. Kamu akan dituduh sebagai pengacau oleh kerajaan..." Sesaat Su diam, menatap wajah putih bersih kekasihnya itu, perlahan pipi Akira dibelai tangannya, begitu lembut. " Percayakan saja pada diriku...." " Su, aku tidak ingin kehilanganmu...!" Bisik Akira Lirih. Ayah Akira meninggal, tepatnya dibunuh oleh sekawanan samurai. Semua orang berdecak aneh kenapa orang jujur, dan pejabat paling baik diantara pejabat-pejabat yang lainnya harus meninggal secara mengenaskan. Akira bukan main sedihnya, di laci tempat kerja ayahnya dia menemukan secarik kertas, surat dari ayahnya, agar Akira dan Su segera meninggalkan Edo. Tuan Oku mendapati, beberapa kelompok telah mengancam kekuasaannya. Maka dengan mengatasnamakan kerajaan dihancurkanlah kelompok-kelompok itu. Disebar isu sebagau penjahat politik dan pengacau keamanan Negara sementara ratusan orang malam itu di Kota Edo meninggal karena kelaparan dan wabah penyakit. Ditinggalkanlah kota Edo oleh Akira dan Su, mereka bergegas menuju ke sebuah perkampungan di dekat Okinawa. Kepergian mereka diketahui oleh Tuan Oku, maka disuruhlah orang-orang untuk mengejar mereka bila perlu bunuh mereka. Sesuai hasil laporan dari para pengawal, Su telah meninggal, dan Akira pun dibunuh oleh mereka. Tuan Oku tertawa terpingkal karena dalam pandangannya musuh terbesarnya kini telah meninggal dan bukan merupakan ancaman lagi. Dia lupa, dia tidak mengira, ancaman terbesar sebenarnya adalah ada di dalam pemerintahannya sendiri. Pada suatu malam, seorang samurai bernama Keizu menancapkan pedangnya ke perut Tuan Oku, sambil menginjak dada Tuan Oku yang bersimbah darah, berkata dia dengan lembut. " Kau salah!, Su bukan apa-apa, dia hanya cecunguk intelektual lemah, dan tidak mengerti politik, tapi kenapa kau telah membunuh orang yang tidak tepat dan sama sekali tidak mengancam kerajaan. Lihat di sekelilingmu.... Mereka lah ancaman sebenarnya bagi kamu, para prajurit samurai itu!!"

Sekumpulan Kisah Di Facebook. Ramadhan 1431 H

Ruangan itu telah penuh sesak oleh para samurai. " Terima kasih...!" Dari dalam kamar, dua orang... Su dan Akira keluar sambil berlutut di hadapan Keizu. " Sudahlah... ayahmu adalah sahabat terbaikku. Kau sudah aku anggap sebagai anak sendiri..." Bisik Keizu sambil memegang bahu Akira. Di musim semi, Su dan Akira menikah... Edo sama sekali belum pulih, Keizu diangkat oleh kerajaan menjadi seorang penasehat kerajaan. Edo dipimpin oleh Tuan Sasuke, seorang lelaki berperawakan tegap namun tenang. " Kumpulkan prajurit, kita bakar malam ini rumah si Mishuo itu! Bedebah guru dan tabib itu telah berani mengumpulkan orang-orang di jalanan. Kalian usir dan ancam setiap orang yang berkerumun di jalanan!" Dan setiap hari di Kota Edo, beberapa prajurit sering berteriak." Dilarang berkumpul di jalanan!" Sementara atas saran dari Akira, Su harus bisa bela diri, lalu berlatih lah dia beladiri. ***

Sekumpulan Kisah Di Facebook. Ramadhan 1431 H

Kisah Ke-tiga: Anak Petani
14 Agustus 2010 jam 11:02 Setelah menarik nafas sesaat, kIsah ke-tiga pun mulai mengalir keluar dari mulut orang itu. Anak-anak semula mengira jika antara satu kIsah dengan kisah yang lainnya durasinya akan semakin panjang.

Kisah ke-tiga ini nyatanya tidak sepanjang dengan kisah-kisah sebelumnya, hanya ada tiga alinea jika ditulis ke dalam sebuah kertas.

Begini;

" Di sebuah kampung, ketika Portugis mulai menancapkan kuku-kukunya di Nusantara, hiduplah seorang petani miskin. Namun punya anak bernama Ladu. Cantiknya minta ampun.

Ada seorang pemuda bernama Lahuta, dia sudah matang umur, siap nikah, dan wanita pujaannya adalah Ladu. Mulanya dipertimbangkanlah lamaran si lelaki kepada Ladu oleh si petani miskin itu, mengingat Lahuta pun berasal dari kelas biasa, bukan keturunan orang terpandang. Tapi, Ladu kadung jatuh hati pada Lahuta, maka bulan itu juga mereka menikah, sederhana sekali namun cukup meriah.

Lima tahun setelah berumah tangga, semua orang tahu Lahuta adalah lelaki biasa, penghasilan pas-pasan, namun rumah orangtuanya dengan beberapa petak kebun disampingnya dibeli oleh seorang Portugis bernama Margo. Jadilah Lahuta punya banyak uang.

Ladu dipuja oleh Lahuta seperti bidadari. Pada suatu hari Ladu mengajak kepada suaminya pindah rumah dari kampung itu. Tidak akan ada kemajuan kalau tetap bertahan di kampung itu.

Tujuannya adalah pulau Jawa. Sunda Kelapa. Supaya orang tidak curiga, maka Ladu lebih dahulu pergi ke pelabuhan Sunda Kelapa dan membawa sekarung uang milik Lahuta , hasil dari warisan tersebut. Lahuta menyusul satu minggu setelahnya.

Lahuta berangkat, membawa bekal alakadarnya. Sampailah dia di Sunda Kelapa, namun dia bingung harus ke mana. Di tanya pula orang-orang siapa tahu ada yang

Sekumpulan Kisah Di Facebook. Ramadhan 1431 H

kenal kepada Ladu. SEmua geleng kepala.

"Keparat... aku telah dirampok!!!'' Bisiknya sambil menahan rasa haus.

Sekumpulan Kisah Di Facebook. Ramadhan 1431 H

Kisah Ke-empat: Duri
14 Agustus 2010 jam 17:22 Mulai lah orang itu bercerita lagi, dari wajahnya sama sekali tidak aku lihat ada rasa lelah, padahal bibirnya kering karena puasa.

'' Aku hanya akan mengisahkan cerita yang pernah disampaikan nenekku, beberapa tahun yang lalu. Kisah tentang manusia hebat yang diceritakan Tuhan di dalam kitab suci. Ya, semua orang ingin menjadi manusia hebat. Hidupnya harus tercatat dalam kitab kehidupan dan akan dibuka oleh generasi mendatang kelak. Namun, menjadi hebat bukan barang dagangan!''

Suatu hari Lukman yang bijaksana melakukan perjalanan bersama anaknya. Kota yang dituju adalah sebuah tempat dimana keramaian merupakan hal biasa. Langit mendung, udara gerah, angin berhembus kencang, cukup menerbangkan orangorangan di ladang gandum.

Tiba-tiba, anak kecil itu merintih kesakitan, kakinya tertusuk duri, berdarah. Maka lukman membawanya ke sebuah gubuk di ladang gandum. Luka dibersihkan dan di balut olehnya.

Satu jam kemudian, mereka melanjutkan perjalanan. Alangkah tercengangnya mereka ketika menyaksikan keadaan kota telah porak poranda karena badai. Menurut seseorang baru saja badai berhenti...

Lukman memandang mata anaknya, lantas menurunkan pandangannya tepat di kaki anaknya yang sudah terbalut kain putih.

'' Dengan duri... Tuhan telah menyelamatkan kIta..''

Sekumpulan Kisah Di Facebook. Ramadhan 1431 H

Kisah Ke-lima: Cinta Seorang Ibu
15 Agustus 2010 jam 5:19 Ramadlan di waktu saya masih kecil merupakan tunas keceriaan. Tidak sebanding dEngan keadaan saat ini. Saya tidak beranggapan jika keberkahan hidup telah tercerabut dalam relung dan jantung kehidupan saat ini. Orang hanya berbeda pandangan saja di dalam memaknai serta menjunjung nilai hidup. Keceriaan semakin terkubur ketika cinta terhadap sesama hanya berupa nisan-nisan tak bergerak. Hidup semakin kering ketika darah mengalir karena keserakahan diri. Cinta dan puisi di zaman sekarang dianggap lebih murah dari kaos kaki butut dan lapuk. Kepercayaan, kejujuran, kebeningan jiwa tertanam di angkasa raya, tidak menancap dan mengakar pada tanah karena ketandusannya.

Orang itu bercerita lagi, tentang Alma.

" Alma , seorang gadis kecil, dari keluarga petani kecil pula. Di kampung Sigil, dekat gunung Tuz itu kehidupan bisa dilukiskan ibarat tanaman gandum menjelang musim panen. Hangat dan wajah-wajah dipenuhi senyum. Rumah-rumah dihiasi keserba sederhanaan.

Alma suka sekali pada buku-buku. Pernah membaca cerita '' Labuh '' karya Chekhov. Di usianya yang baru genap 9 tahun bulan kemarin, dia baru saja menghabiskan " Alice ". Orang lebih memandang itu hal biasa karena di kampung Sigil membaca bukan hal aneh, tetua kampung sering mendorong orang-orang agar membaca lebih diutamakan dari membeli kubis.

'' Orangtua mu mencintaimu, Kaz?!'' tanya Alma kepada temannya Kaz, pada suatu hari.

" Ya, mereka mencintai mataku...''

" Kalau kamu, Sam?!''

'' Mereka mencintai rambut lurusku. Di musim semi tahun kemarin mereka membawaku ke sebuah kedai cukur...''

" Kamu?!''

Sekumpulan Kisah Di Facebook. Ramadhan 1431 H

" Mereka mencintai keahlianku dalam menyelesaikan pekerjaan. Sehabis menanam Lobak aku sering diajak main ke kota oleh mereka...''

Alma segera pulang, ditangannya memegang sebuah buku, tidak terlalu tebal.

Di rumah, setelah papa menyalakan lampu minyak, menjelang tidur, Alma bertanya kepada ibunya.

'' Apakah ibu mencintaiku?''

'' Kenapa bertanya itu?''

" Kaz, Sam, Rizt, dan Umm dicintai oleh kedua orangtuanya.

Ibu memeluk erat Alma, lantas berbisik

'' Ibu mencintaimu dengan mata ibu, maka lihatlah ibu, ibu mencintaimu dengan tangan ini maka kau ku elus, ibu mencintaimu dengan bibir ini, maka kukecup keningmu. Ibu mencintaimu dengan segenap hati ibu...'' Lalu memeluk Alma erat sekali.

Pagi-pagi saat cicit emprit telah ramai, saat Alma baru bangun, di atas meja, segelas susu hangat telah tersedia. Dia tersenyum, meminumnya, teringat mimpinya semalam

'' Aku mencintaimu dengan segenap hatiku, ibu...''

Sekumpulan Kisah Di Facebook. Ramadhan 1431 H

Kisah Ke-enam: Kura-kura dan Monyet
15 Agustus 2010 jam 14:17 Saya sering sekali membaca fabel-fabel Aesof ketika duduk di bangku SMP. Tapi orang berilmu itu lebih tangguh dalam menceritakan sebuah dongeng binatang. Anak-anak semakin memperlihatkan keseriusannya , menatap lekat orang itu. Saya secara pribadi menyimpan rasa kagum kepada lelaki sederhana setengah baya itu.

Dia bercerita tentang kura-kura dan monyet. Seingatku, kisahnya begini:

" Di kaki bukit Duhl, terhampar luas perkebunan lobak, kol, dan wortel. Sebuah rumah dengan arsitektur sederhana berada di tengah-tengahnya. Kepulan asap keluar dari cerobong, rembulan menciptakan sebuah lukisan maha sempurna seolah langit berwarna biru tua, pekat sekali.

Seekor kura-kura sedang asyik menggali tanah di kebun wortel.

'' Yummy... mantap sekali, wortel-wortelnya besar sekali, istri dan anak-anakku bisa senang jika aku membawa wortel-wortel ini. Sebagai seorang suami, tanggungjaWab terbesarku adalah besok bisa menyaksikan anak-anakku bisa bermain dengan keadaan perut kenyang!''

Ketika sedang asyik menggali tanah, seorang petani memergokinya, langsung menangkap kura-kura itu.

" Yahuuuu... akhirnya!!! Rupanya kau pencurinya!''

Kura-kura dibawa dan dimasukkan ke dalam kandang terkunci.

" Besok kau akan kucincang!!'' Kata si petani.

Tengah malam, kura-kura itu menangis tersedak. Dia teringat anak istrinya. Datanglah seekor monyet.

''Kenapa kau menangis dan terkurung disini wahai kawanku?!'' Tanya si monyet.

" aku menangis bahagia, karena besok pagi aku akan dinikahkan dengan anak gadis pak petani. Aku sudah beristri, dengan sangat rela aku mempersilahkan kamu untuk

Sekumpulan Kisah Di Facebook. Ramadhan 1431 H

menggatikanku...'' Jelas si kura-kura..

'' Sebentar..''.' monyet berpikir " ahaaa... aku jadi teringat pada sebuah buku yang pernah aku baca. di dalamnya ada kisah kura-kura dan monyet. Kura tertangkap karena mencuri mentimun pak tani. Kura pura-pura mau dinikahkan dengan anak gadis petani. Dan monyet bersedia menggantikannya sebagai petani... Hmm, sebuah dongeng keparat, mana ada monyet sebodoh itu.'' Monyet menatap kura-kura,'' kawan, aku tidak mau seperti monyet di dalam dongeng tersebut, mati sia-sia di ujung golok seorang petani... mati sia-sia karena ketololannya. Jika Tuhan mengizinkan besok aku akan datang ke resepsi pernikahanmu..''

Dan esok harinya kura-kura malang itu jadi juga disembelih oleh petani. Pada tangkai pohon-pohon di atas bukit monyet bersama kawan-kawannya sambil memakan buah-buahan segar hasil curian menyaksikan penyembelihan itu dari kejauhan.

'' Ternyata dongeng itu Benar adanya kawan...'' Kata si monyet.

Sekumpulan Kisah Di Facebook. Ramadhan 1431 H

Kisah Ke-tujuh: Maling Tapi Jujur
16 Agustus 2010 jam 12:38 Satu kisah biasanya dihabiskan oleh orang itu dalam waktu sepuluh atau dua puluh menit saja. Hari mulai mendekati waktu ashar, mesjid jami semalin ramai oleh anakanak. Mereka akan menunaikan sholat ashar berjamaah. Dan sebelum memasuki waktu ashar, orang itu masih menyisakan sebuah kisah lagi. Kali ini tentang seorang maling, ya... katanya maling tapi jujur. Saya sebenarnya pernah membaca sebuah buku karangan Dostoevsky tentang Maling Jujur, namun cerita dari orang itu sangat berbeda dengan jalan cerita yang ada di dalam sebuah cerpen penulis asal Russia itu. Dia bercerita seperti ini: " Di Kota Lisabon, sekitar abad ke 18-an, orang mulai ramai membicarakan rempahrempah di timur jauh mulai mengalami kemunduran pasokan. Ini kata beberapa pelaut dikarenakan oleh semakin ketatnya perjanjian antara negara-negara kolonial, dimana mereka harus membagi-bagi wilayah jajahan mereka sesuai dengan perjanjian yang mereka tulis. Kemudian, di negara kolonial itu sendiri, orang mulai merasa bosan dengan sikap pemerintah, dimana, barang hasil jajahan sama sekali kurang digunakan untuk kepentingan umum, malah sebaliknya, para pejabat istana semakin sesak dengan acara pesta-pesta. Langit Lisabon malam itu cukup membuat semua orang terkesima, gemintang bertabur tak hingga, bulan seakan berada tepat sepuluh meter di atas kepala, musim kering menciptakan nyanyian angin dengan udara hangat memeluk semua tubuh penduduk kota itu. Ferdinand , seorang penganut Katolik yang setia terhadap ajarannya kini sedang menatap rembulan tanpa kedip. " Andai bapak masih ada..." Bisikknya, dan sesekali dirogohlah saku bajunya, bocah itu memiliki perawakan tinggi kurus, kulit muka pucat, cara berpakaiannya sama sekali tidak akan sebanding dengan Gilardo, seorang anak keturunan bangsawan terhormat, pakaian Ferdinand mewakili kaum miskin. Walau beberapa kali merogohkan tangan ke dalam saku bajunya, tetap saja diasana tidak terdapat uang barang satu escudo pun. Ia memejamkan mata, keyakinan dirinya kepada kekuasaan Yesus hampir hilang, Kenapa Tuhan lebih pemurah kepada orang-orang jahat sementara kepada hambanya yang sholeh Tuhan seolah sering memberinya cobaan, sementara hidup ini bukan sekedar permainan atau judi.

Sekumpulan Kisah Di Facebook. Ramadhan 1431 H

" Seorang maling bisa menjadi kaya. sementara seorang paderi tetap miskin..." Keyakinannya mulai goyah, " benarkah seorang maling akan dipotong tangannya di dalam neraka, jika dia mencuri atas dasar karena ingin menolong adiknya yang sedang sakit, kemudian dimanakah letak keadilan ketika tangan seorang pencuri harus dipotong karena keadaan negara sama sekali tidak mendukung terhadap kehidupan rakyat lemah sepertiku?" Bisiknya semakin kuat. Malam itu juga dia sudah memiliki tekad bulat, dia akan mencuri. Rumah paling megah di Lisabon waktu itu adalah rumah Tuan Bruno, seorang pengusaha rempah-rempah, mana pelitnya bukan main. Pekerjanya banyak sekali, terutama mereka para budak yang didatangkan dari Afrika. Bruno, pernah menghamili seorang budak wanita dibawah umur, lantas wanita itu dibuangnya di jalanan. Orang bukan segana melihatnya, melainkan takut, takut terhadap kebengisannya karena hidupnya dikelilingi oleh harta. Dan Ferdinand berhasil mencuri seekor ayam milik Tuan Bruno. Dijuallah ayam itu di pasar, lalu uangnya digunakan untuk pengobatan adiknya. Hanya 5 Escudo. Besoknya, ramailah di dalam surat kabar tersiar jika seekor ayam Bruno telah dicuri oleh seseorang, lantas dipasang juga di dalam surat kabar itu, siapa pun yang berhasil menangkap pencuri ayam Bruno dia akan diberi hadiah uang sebesar 100 escudo. Orang pada ribut soal itu, mereka mencari-cari ayamnya dulu, namun bingunglah mereka, sebab ayam pada dasarnya rata-rata memiliki kemiripan, sukar sekali menentukan mana ayam Bruno , mana ayam Alex, dan mana ayam si Alfonso. Dengan langkah berani, Ferdinand menghada Bruno. " Akulah yang telah mencuri ayam, Tuan!" Kata Ferdinand tegas. " Haahaahaa... bocah dekil ini mau bergurau dengan Bruno, ya?" " Ya, akulah yang telah mencuri ayam Tuan. Aku jual di pasar, seharga 5 escudo, aku pake untuk berobat adikku.." Brono menyelidiki dengan matanya, tajam sekali, sambil mengelus-elus dagunanya, dan menggigit bibirnya. " Ya, di zaman sekarang semakin berkeliaran saja maling sialan. Maling keparat biasanya bersembunyi-sembunyi, ini ada maling jujur rupanya, dengan lain kata

Sekumpulan Kisah Di Facebook. Ramadhan 1431 H

menyerahkan leher untuk digantung... percuma... percuma, aku tidak akan memberimu maaf. Hukuman harus tetap ditegakkan, peraturan tidak akan mudah dilanggar begitu saja. Kitab Suci kita mengajarkan demikian. Puji Tuhan, betapa jujurnya engkau, bocah. Namun kejujuranmu itu menjadi senjata yang akan memenggal dirimu sendiri.." Ferdinand dibawa ke pengadilan, dan semua juri serta hakim menentukan, siang itu juga ferdinand harus dihukum gantung. Hukum bukan barang mainan yang dengan seenaknya bisa dihilangkan dengan kata maaf, jika tidak dilakukan hukuman itu, entah berapa juta orang akan mengandalkan hidupnya menjadi seorang maling namun jujur. Orang-orang berdesakkan, tubuh Ferdinand menggantung di tiang gantungan. Jalanan berdebu, udara cukup panas, sinar matahari begitu terik. Di dada mayat yang masih menggelantung itu ada tulisan : Ferdinand Si Maling Ayam. " Berapa juta Escudo uang yang telah kau gelapkan, brurrr?" Tanya Bruno kepada Xavier, seorang pejabat di Kota Lisabon. " Cukuplah untuk membeli beberapa ekor kuda dan membeli sebuah tanah di selatan Lisabon ini. Datanglah ke pesta jamuan perayaan hari jadi tunangan anakku dengan anak Tuan Forzate!" " Forzate!!!" Bruno mendelik, " Hhh, mendingan aku malam nanti datang ke jamuan pesta Tuan Samuel.. hahaha..." Mereka segera meninggalkan lokasi dimana Ferdinand dijatuhi hukuman gantung itu. Hinggal sore mayatnya masih menggelantung, sampai datanglah seorang gadis kecil, Marien, adik Ferdinand berusaha memangku dan memindahkan mayat itu, namun tidak bisa, karena tali yang mengikat lehernya begitu kuat dan tinggi sementara tubuh anak itu begitu mungil karena baru saja menginjak usia 6 tahun sebulan yang lalu. Hanya terdengar isak tangis, saat orang-orang di Kota Lisabon bersiap-siap menghadapi malam dan bertepatan dengan acara karnaval tahunan... escudo= mata uang Potugal

Sekumpulan Kisah Di Facebook. Ramadhan 1431 H

Kisah Ke-delapan: Dendam
17 Agustus 2010 jam 14:22 Setelah menunaikan sholat ashar, orang itu meneruskan kembali ceritanya. Cuaca cerah sore itu, masa kanak-kanakku masih bisa mencerna keajaiban alam sore, dan ceritanya begini:

" Rumah kakek Nelayan itu sangat sederhana, berada di atas sebuah tebing, di bawahnya te hampar batu karang yang diterjang ombak. Angin dari laut cukup ganas, rumah sedErhana itu berderik-derik seperti mau terjun dan jatuh ke tebing. Tapi percayalah, sudah sepuluh tahun umur rumah itu, dan sejak saat itu pula belum pernah barang satu kayu pun jatuh ke tebing.

Di dalam rumah, selain ada si kakek nelayan, ada juga cucu kesayangannya bernama Dole dan seekor marmut lucu bernama Cojun. Tidak banyak yang tahu keberadaan marmut itu, lagi pula orang-orang saat ini lebih sEring menghabiskan waktu di dermaga yang tak jauh dari perkampungan dekat tebing itu. Mereka sering menghabiskan waktu, duduk-duduk di atas perahu sambil mengobrol, dari pagi bisa sampai sore.

Lantas entah pasal apa, seorang mantan narapidana bernama Monte membunuh salah seorang penduduk kampung tebing. Lehernya ditembus tombak penangkap hiu. Saat itu orang lebih sEnang bungkam dan tutup mulut daripada harus melapor kepada pihak berwajib. Selalu bertele-tele, sampai sebuah kain butut yang menempel di daun jendela pun bisa dijadikan alat bukti.

'' aku akan membalaskan dendammu...'' bisik kakek nelayan itu sambil menatap mayat.

Dia tidak menemui kebingungan, untuk membunuh si Monte itu, dia segera Bangkit, mengambil tali pengikat perahu. Semua tahu, Monte seorang berperawakan besar tinggal di dekat pelabuhan. Maka, kakek nelayan segera menuju ke sana. Sore hari, tanpa sungkan mbil membawa tambang dia masuk ke dalam rumah.

Monte masih tertidur, ngorok. Kakek nelayan dengan cekatan mengikat orang bertubuh besar itu. Tidak lupa menyumpal mulutnya dengan kain Butut. Monte dibangunkannya, dia kaget saat bangun tubuhnya dalam keadaan terikat. Dia mencoba bergerak, kaku, dihadapannya berdiri si kkakek nelayan membawa kapak

Sekumpulan Kisah Di Facebook. Ramadhan 1431 H

besar. Tanpa banyak pertanyaan, kapak itu dihantamkan tepat dikepala Monte. Darah keluar, tubuh monte menggelepar tak lama meninggal.

Kakek nelayan keluar dari rumah monte, dua orang penduduk melihatnya tanpa curiga. Si kakek sesampainya di rumah langsung naik ke atas ranjang, dan menjelang malam itu dia tidur begitu nyenyak...

Sekumpulan Kisah Di Facebook. Ramadhan 1431 H

Kisah Ke-sembilan: Seorang Wanita dan Anjingnya bernama Boo
18 Agustus 2010 jam 14:10 Kisah ke sembilan akan diceritakan oleh orang itu, alasan dia akan melanjutkan ceritanya besok adalah karena anak-anak harus mengikuti pengajian bulan Ramadlan. Haji Soleh sudah lengkap dengan sorbannya. Namun karena beliau melihat gelagat anak-anak seperti gelisah, dipadatkanlah jadwal pengajian dari satu jam menjadi setengah jam. Sehabis mengaji anak-anak langsung menoleh ke belakang, dan orang itu masih ada. Tanpa disuruh menunggu lama, anak-anak langsung berhamburan menuju ke bagian belakang mesjid, mengelilingi orang itu. Setelah melihat rasa permohonan dari si anak, maka dia pun segera bercerita: "Ada seorang wanita, cantik, rambut lurus, dan memiliki bahasa yang santun. Semua orang merasa nyaman duduk dekat dengannya. Wanita itu memiliki nama Daniella, hidup sendiri hanya ditemani seekor anjing bernama Boo. Entahlah, ada ternyata di dunia ini orang yang senang hidup bersama binatang. Namun bukan dalam bentuk pertanyaan ketika menyoal jika wanita dan setiap wanita memiliki masa lalu yang berbeda-beda. Mengenai Daniella si wanita cantik, keberadaannya di Frost sebuah kampung indah baru diketahui dan disadari oleh orang itu sekitar tiga bulan yang lalu. Dia membeli rumah seorang kakek bernama Kohler, setelah dibeli, direnovasilah rumah itu, menjadi sebuah rumah yang layak dihuni. Orang pun menerka, wanita itu pasti telah mendapatkan warisan. Selama tiga bulan ini, dia telah dekat dengan orang-orang. Sopan-santunnya dimaknai sebagai sebuah keramah tamahan yang cukup luar biasa. Di Frost bukan tidak ada keramah tamahan, namun orang-orang melakukan keramahtamahan sebagai manusia alakadarnya. Mereka bertukar pikiran di jalan, di kebun, dan di kedai. Obrolan seputar haasil panen anggur atau gandum. Daniella menanam bunga-bunga di depan rumah. Halamannya juga ditanami rumput indah. Orang semakin suka kepadanya. Setiap minggu setelah misa di gereja, orang-orang mendatangi rumah Daniella, anak-anak bermain di belakang rumah bersama Boo.

Sekumpulan Kisah Di Facebook. Ramadhan 1431 H

Matahari telah sekian lama terbenam di bukit Reizth, semua orang tahu betul. Dan pada suatu sore, semua mendengar suara salak anjing , mereka hafal itu Boo. Satu jam berlalu , salak anjing masih terdengar. Orang-orang berkumpul , dan didahului oleh seorang pastur mendatangi rumah itu. Rumah itu tidak dikunci, salak anjIng be ada di sebuah kamar, ketika dibuka pintu kamar, mereka melihat anjing itu terikat pada kaki ranjang. Daniella tidak ada di rumahnya. Mereka menenangkan Boo agar tidak gelisah. Sampai larut , pemilik rumah belum pulang juga, dan didapati sehelai kertas berisi sebuah pesan. Pastur bersedia membacakan... Salam kepada kalian, pecinta kebaikan. Aku harus jujur kepada kalian, aku bukan orang baik seperti yang kalian kira. Sudah saatnya aku menyerahkan diri kepada polisi. Aku telah melakukan dosa paling besar dalam hidup ini, aku telah membunuh ratusan orang tak bersalah dEngan alasan sebuah ideologi. Ideologi telah menjadikanku hidup senang dalam dunia sendiri. Aku telah menciptakan syetansyetan yang harus aku musnahkan. Ya, sudah saatnya aku menyerahkan diri, aku memohon kepada kalian, jaga baik-baik Boo.. Semua diam. Satu tahun kemudian, ke Frost datang lah penduduk baru, seorang wanita cantik berkulit putih bersih, membawa seekor anjing peking. Orang-orang Frost membiarkannya begitu saja, tanpa mau tahu seperti apa orang itu. Te siar juga kabar, Daniella telah dihukum mati, Boo dipelihara oleh keluarga Lukewarm. Dan sebuah ledakan terjadi di Kota Hamburg.

Sekumpulan Kisah Di Facebook. Ramadhan 1431 H

Kisah Ke-sepuluh: Raja Pesolek
20 Agustus 2010 jam 10:12 Menjelang buka puasa, orang itu masih bercerita. Kali ini dia mengisahkan cerita tentang seorang raja yang gemar pesolek. Saya sebenarnya pernah membaca sebuah dongeng anak-anak tentang raja yang gemar gonta-ganti pakaian, atau bisa dibilang kalau saat ini sebagai lelaki metro-seksual , saya sendiri tahu istilah ini dari istri tercinta. Pokoknya dalam dongeng itu si raja tukang gonta-ganti pakaian itu adalah raja bodoh yang pada akhirnya tertipu oleh dua orang bandit tengik yang mengaku sebagai para penjahit pakaian. Sementara, cerita sore itu, orang itu tidak bercerita tentang raja yang gemar gontaganti pakaian, namun mengisahkan seorang raja yang gemar bersolek, nah ini mungkin sebutan paling tepat kalau raja itu merupakan seorang lelaki metro-seksual. Kira-kira ceritanya begini: Suatu masa di sebuah kerajaan Aramia, pada tahun 320 SM hidup seorang raja berana Yabil. Raja Yabil diangkat oleh rakyatnya sebagai bentuk pemuliaan terhadap leluhurnya. Konon, ayah raja Yabil yaitu Baiil telah membunuh seorang tukang sihir yang mampu menjelma menjadi ular raksasa dan seekor kalajengking besar. Sebagai bentuk pemuliaan terhadap leluhurnya itulah maka Yabil diangkat menjadi seorang raja. Rakyatnya sudah tentu mengira kalau ayahnya saja mampu membunuh manusia sakti apalagi anaknya, diduga oleh mereka, Yabil pasti memiliki kesaktian sehebat ayahnya. Yabil belum cukup umur sebetulnya diangkat jadi raja dan memimpin sebuah kerajaan. Sebab apa? Usia bisa dibilang cukup mapan, namun karena kedewasaannya belum matang, ini disebabkan oleh masa lalunya yang hiruk-pikuk dengan serba kemegahan dan telah mencetak seorang Yabil menjadi anak manja. Sejak kecil dirinya memang gemar bersolek, seolah dalam diri lelaki itu tertanam dengan kuat khas seorang wanita. Rakyatnya pada tahu, jika rajanya itu gemar bersolek. Bukan itu sebenarnya yang menjadi masalah. Masalah bagi rakyat Aramia adalah kebiasaan raja yang gemar mengekspos kegiatan-kegiatan dirinya dan sanak keluarganya. Pernah pada suatu ketika, dirinya menulis sebuah puisi, lebih tepatnya kumpulan puisi dan dibukukan, maka diundanglah mereka para pejabat tinggi kerajaan, dikumpulkan juga rakyatnya dan pada pesta perayaan panin gandum dibagikan buku-buku itu agar dibaca oleh rakyatnya. Dibacakan pula oleh salah seorang petinggi negeri salah satu puisi

Sekumpulan Kisah Di Facebook. Ramadhan 1431 H

karangan raja Yabil. Para sastrawan berdecak kagum, para kritikus sastra dan filsuf pada bertepuk tangan, betapa raja mereka sungguh bijaksana dalam membuat sebuah karya agung. Padahal ada juga beberapa sastrawan merasa tersinggung dengan sikap raja Yabil, dimana sang raja telah memenggal jati dirinya sendiri. Bukan tidak boleh, melainkan, mbok ya jangan dan ndak usah bagi-bagi buku puisi segala di hari pesta panin gandum. Mestinya ada saat tertentu di hari tertentu juga. " Rakyatku, perkenalkan ini calon ibu mertuaku, ini calon bapak mertuaku, ini calon istriku, dan kami besok akan mengadakan kegiatan menamam pohon kurma di salah satu lahan milik kerajaan!" Umumnya pada suatu hari. Besoknya, diikuti oleh para pejabat kerajaan, Yabil bersama sanak familinya berjalan sepanjang jalan utama Aramia, orang-orang berduyun-duyun melihat dan menyalami raja mereka. Di tanam juga pohon-pohon kurma di dekat sebuah oase. Lantas orang pun menjadi lebih simpati kepada raja. Saat itu raja memakai busana terlalu mewah, bahkan bibirnya dimerahi segala. Semakin hari kehidupan di Aramia semakin hiruk. Pasar semakin ramai, bukan karena jualan mereka laku, kecuali karena tidak laku dan mereka membicarakan kehidupan yang serba sulit. Pertanian gandum tidak tumbuh dengan baik. Keluh kesah terdengar dimana-mana. Dan pada saat itu pula raja Yabil mengumumkan kepada rakyatnya: " Minggu depan aku akan melangsungkan pernikahan dengan Yur, ini orangnya... biaya pernikahan bisa mencapai sebanding dengan ratusan ton gandum, aku akan menghadiahkan beberapa butir mutiara dan berlian kepadanya, ingat rakyatku... datanglah ke pesta pernikahanku..." Kata nya, " tidak lupa, sebagai seorang raja, aku mengumumkan kepada kalian, terhitung mulai minggu depan, gaji para pegawai kerajaan akan saya naikkan beberapa persen dari bulan ini." Para petinggi negeri terlihat mesem-mesem. Sementara di antara kerumunan orang-orang itu ada seorang wanita, anak petani miskin bernama Muur, menggunakan jubah lepek, pake penutup kepala segala, dia sedang asyik saling bertatap muka dengan seorang pemuda, salah satu petinggi kerajaan, mereka saling memberi kode dan sandi dengan bahasa tubuh. Sementara mereka tidak melihat, jika aksinya itu sedang diawasi oleh salah seorang filsuf di negeri itu, sementara orang-orang hanya melihat sekilas jika Muur ini cantiknya bukan main.

Sekumpulan Kisah Di Facebook. Ramadhan 1431 H

Muur semakin menggenggam erat sebilah belati di tangan kirinya.

Sekumpulan Kisah Di Facebook. Ramadhan 1431 H

Kisah ke-sebelas: Ko Bun Chou
23 Agustus 2010 jam 7:36 Menjelang kehancuran dinasti Ming, di saat perlawanan terhadap kerajaan semakin hebat dalam bentuk pemberontakan oleh rakyat. Pemberontakan itu sendiri bukan hanya datang dari bangsa mongol yang dipimpin oleh Kolokolo Khan, juga datang dari dalam kerajaan sindiri. Tatanan kerajaan rusak sama sekali terutama dengan kasus-kasus korupsi, penggelapan, dan konspirasi para petinggi kerajaan.

Suap-menyuap dilakukan oleh pejabat istana terhadap hakim khususnya, sementara di masa kekuasaan raja ke-tiga dari dinasti Ming, yaitu Ko Bun Chou, hakim agung dipimpin oleh dirinya sendiri. Rakyat sebenarnya menghormati tokoh kharismatik ini. Di masa awal kepemimpinannya dia mengumandangkan komitmen penggarusan terhadap segala bentuk kejahatan khususnya korupsi. Dan dimasa kepemimpinannya itu pula lima pejabat negara dimasukkan ke dalam peti mati karena korupsi. Kharisma dirinya pudar dan padam oleh tindak-tanduk pejabatpejabat kerajaan dan orang terdekatnya. Kebiasaan dia di hadapan rakyat adalah mengeluhkan soal kondisi kerajaan.

Setelah memperingati pesta tani, Raja Bun mengumpulkan seluruh pejabat kerajaan. Kekeliriun besar telah dilakukan oleh dirinya , Peng Ing Sun seorang koruptor telah dibebaskan oleh kerajaan di hari pesta tani. Gejolak rakyat dalam bentuk ketidak percayaan terhadap kepemimpinannya semakin tinggi.

" sebagai seorang raja..'' kata Bun, '' aku mengakui telah banyak kekeliruan yang aku lakukan dan ini bisa jadi, sebagai penyebab kebangkrutan kerajaan ini. Kebijakan-kebijakanku sering tampak serakah...'' Akunya di hadapan para pejabat kerajaan.

" aku yang pantas disalahkan'' Meng Che Ming berkata, dia seorang petinggi keamanan kerajaan, seorang panglima yang sangat ditakuti karena kebengisannya, '' kekejamanku terhadap mereka yang lemah lah yang menjadi penyebab rusaknya tatanan kerajaan. Kemarin aku dan pasukanku telah membakar sebuah pasar milik rakyat paduka yang mulia..!'' lanjutnya sambil bersimpuh. '' aku yang pantas dihukum..''

'' Bukan salah tuan Meng..'' Hui Lun Chaw, pejabat kerajaan di bidang pertanian berkata, '' Aku yang telah banyak keliru, setiap petani aku jadikan objek proyek, aku

Sekumpulan Kisah Di Facebook. Ramadhan 1431 H

telah menelurkan petani-petani tanpa punya lahan. Sawah mereka aku rampas atas nama demi kepentingan kerajaan. Jadi akulah yang paling bersalah dalam hal ini,'' ungkapnya sambil bersujud di hadapan raja, '' maka hukumlah aku... demi pulihnya kembali kerajaan ini..''

Satu persatu semua pejabat kerajaan mengaku merekalah yang salah dan patut mendapatkan hukuman, sampai pada akhirnya, maju pula San Bau Cung, sEorang pejabat baru dari wilayah daratan sElatan,

" aku juga patut dipersalahkan'' katanya, diikuti oleh lirikan semua mata, '' aku memimpin wilayah selatan dengan sangat kejam, tubuhku memang kecil bahkan bisa dibilang kerempeng, tapi kekejaman diriku tidak ada bandingannya. Akulah yang patut dihukum...''

" o, ya?!'' tanya raja sambil menyelidik, dan semua mata memandang tubuh kerempeng ini seperti menghakImi.

" ya, hukumlah aku, paduka" dia bersimpuh.

" Ehemm...'' Raja mendehem, '' baiklah para petinggi kerajaan, hari ini, di hari pesta tani, kita telah mendapatkan orang paling bersalah terhadap rusaknya tatanan kerajaan ini. Dan dengan sangat rendah hati, besok pagi kami akan menggantungmu San Bau Cung!''

" ya, dialah yang paling salah!!'' dan semua pejabat menuding dirinya.

" ampuni hamba yang mulia..'' Cung bersujud, menangis penuh harap..

" maafkan aku, semua pelaku kejahatan di kerajaan ini harus digantung!!''

Esoknya, tubuh San Bau Cung telah kaku tergantung di tiang gantungan. Rakyat bahagia, dengan nanar sumringah penuh harap mereka semakin yakin, dalam waktu dekat kerajaan ini akan semakin membaik.

'' Bapak, saya belum makan...'' bisik seorang anak dalam gendongan bapaknya, saat itu sang bapak melihat di atas meja para petinggi kerajaan penuh dengan aneka buah-buahan. Bung Ko Hung sedang asyik menyantap buah-buahan segar, mana gendutnya bukan main.

Sekumpulan Kisah Di Facebook. Ramadhan 1431 H

Kisah Ke-dua belas: Baju Prajurit
26 Agustus 2010 jam 13:43 Para prajurit Sparta adalah sekumpulan Singa. Begitu kata pepatah zi zaman itu. Betapa tidak, orang-orang Sparta merupakan sekumpulan kawanan singa, bisa dibilang juga ibarat srigala hutan lapar ketika menghadapi musuh. Disebutkan di dalam dongeng-dongeng terdahulu, orang-orang sparta telah menggadaikan hidupnya untuk dewa Kematian. Cerita ini di dapat dari orang dulu, dan sebagai orang sekarang perlulah saya berpikir keras tentang gadai menggadaikan nyawa terhadap sesuatu yang lebih agung, bisa jadi inilah awal mula kita menyebutnya sebagai sebuah bentuk pengorbanan. Seorang Prajurit beranama Kanakis Kulabis, memiliki perawakan kekar, otot kawat dan tulang besi. Siapa pun akan takluk berhadapan dengan si raksasa ini. Pernah, sebuah batu dipukulnya hingga berkeping-keping, dan kata kawan-kawannya yang para prajurit hebat itu, Kulabis adalah jelmaan Hercules. Entahlah, yang jelas berita itu menyebar dengan cepat, hingga tidak ada satu sudut pun di Sparta yang tidak mengenal Kulabis ketika namanya disebut. Para gadis selalu berkhayal dan berfantasi bisa bersanding dan menjadi istrinya, wajarlah... setiap wanita ingin mendapatkan perlindungan dari suami atau kekasihnya, apalagi di Sparta. Suatu hari, di bawah pohon anggur, di musim semi, menjelang malam, duduklah Kulabis di sana sambil merenung sempurna. Sesekali ditariknya tali pengikat pinggang itu, semakin tampaklah otot-otot tangannya ketika menarik tali itu. Dia berewok, sering sekali menggigit bibir, menatap lautan rerumputan. Jika diteliti dia lebih banyak memejamkan matanya. " Aku mulai bosan dengan kehidupan di negeri ini..." Bathinnya, " Segala sesuatu selalu diukur dengan otot di Sparta ini..." Lebih jauh dia membathin, " Dan ini... baju prajurit ini dari zaman buyutku hingga sekarang tetap saja seperti besi tua yang menutup tubuh ini... Aku merindukan seperti apa yang dilakukan oleh orang-orang di Athena, kecintaannya kepada pengetahuan, filsafat, dan jalan hidup menjadi aroma serta peramu hidup itu sendiri. Ototku besar namun isi kepalaku udang.... aku merindukan sekali sebuah buku, aku ingin sekali bisa membaca, bukan hanya memukul dan mengangkat tombak..." Lantas pikirannya itu disampaikan juga kepada beberapa temannya, para prajurit gagah saat mereka berlatih main tombak.

Sekumpulan Kisah Di Facebook. Ramadhan 1431 H

" Jangan berpikiran macam-macam, panglima tertinggi bisa menganggapmu musuh besar!" Nasihat salah seorang temannya, " apalagi merindukan sebuah kehidupan yang selalu dilakukan oleh orang-orang Athena... ingat mereka adalah musuh bebuyutan kita, tidak ada bedanya seperti ular-ular sawah, harus dibunuh...!" Katanya lagi sambil mengayunkan tombak dan hampir menusuk leher Kulabis. Tidak banyak yang mengira, sampai pada akhirnya, di acara upacara pelantikan seorang Jenderal Baru, Kulabis datang ke acara dengan tanpa menggunakan baju prajurit, dia lebih senang memakai baju kain biasa. Ramailah orang-orang melihat keganjilan ini. Seorang prajurit di antara lautan mereka yang memakai baju besi ada seorang Kulabis Tengik menggunakan baju kain. " Siapa orang itu?!" Tanya Jenderal Baru kepada penasihatnya.. " Dia Kulabis...." " Oh..." Jenderal baru mengenang, pada satu pertempuran dirinya hampir saja tertusuk pedang musuh, dan pada saat itulah seorang dengan perawakan tinggi besar menubrukkan dirinya, sambil menangkis pedang dengan tamengnya, dia adalah Kulabis! " Aku sarankan, segera cukupkan kebutuhan hidupnya, bila perlu siapkan seorang wanita cantik untuk menemaninya malam ini. Ambil saja uangku di kamar istriku, Kulabis hanya minta itu... aku yakin!" Seminggu kemudian, Kulabis hidup di sebuah rumah mewah, kesehariannya sudah tanpa baju prajurit lagi. Makanan tersedia dari berbagai sudut ruangan. Sesekali dia tertawa terbahak-bahak.Sudah senang dia rupanya. " Besok waktu yang tepat untuk mengakhiri kebahagiannya....!" Bisik Jenderal Tagolis kepada penasehatnya, " Sparta bisa rugi besar hanya untuk membahagiakan seorang perajurit seperti dia, sedangkan perajurit-prajurit yang lainnya bahkan kamu dan aku hanya bisa makan roti tengik setiap pagi dan malam.." " Baik, Tuan..." Di Athena, orang ramai sekali membicarakan Socrates telah mati dengan cara meminum racun, di tangannya dia memegang kertas bertuliskan beberapa kalimat; Aku telah dicap sebagai seorang kafir hanya karena menyatakan ada Tuhan selain dewa-dewa itu... aku telah dipaksa untuk mencampakkan kembali keyakinanku, namun aku akan menjawabnya bukan dengan retorika, aku akan lebih santun berargumentasi dengan cara meminum racun ini, lebih baik meninggal daripada harus menanggalkan sebuah kebenaran yang telah aku

Sekumpulan Kisah Di Facebook. Ramadhan 1431 H

yakini..., sementara di Sparta orang ramai membicarakan mayat Kulabis yang sedang terkapar di pinggir jalan, tanpa ada yang berani menyentuh sedikitpun karena di dahinya ditulisi, " SEORANG PENGKHIANAT DAN TELAH BERSEKONGKOL DENGAN SOCRATES!"

Sekumpulan Kisah Di Facebook. Ramadhan 1431 H

Kisah ke-tiga belas: Penunggu Kali
26 Agustus 2010 jam 14:29 Kisah ke-tiga belas diceritakan oleh orang itu di hari berikutnya. Saya tidak melihat jika dirinya akan berhenti bercerita, selama bulan Ramadhan ini. Anak-anak seusiaku sudah disuguhi cerita yang kadang tidak pernah terpikirkan akan seperti apa akhirnya, sebab pada dasarnya hidup adalah sebuah ketidak pastian, walaupun di saat yang sama orang sering mengatakan karena penuh dengan ketidak pastian ini maka kita harus memastikan. Namun pernah kah oleh kamu terpikir, setelah segalanya menjadi pasti, lalu di hadapan kita sudah tercerminkah kepastian dalam hidup ini? Jawabnya "Absurd.." dan semua orang menyukai misteri... Cerita ini adalah sebagai berikut: Di dekat jembatan kayu itulah dirinya biasa duduk sambil memandang aliran air sungai. Sungai itu sendiri berair bening, kedalamannya kira-kira dua meter, dan orang-orang sering mandi di sana. Maklum di kampung, mandi pun tidak memiliki aturan harus pake sabun, shampo, atau keperluan-keperluan ketika kita mandi. Membersihkan daki pun cukup dengan batu berukuran satu kepal , bulat atau lonjong tidak jadi soal, asalkan memiliki permukaan halus. Untuk membersihkan gigi pun, cukup dengan menumbuk genting pecah atau bata merah, lalu dikunyahlah serbuk-serbuk genting dan bata merah itu, digosok-gosok dengan tejunjuk pada gigi, bersih dan sempurna lah gigi kita pada akhirnya. Dia, Halimah sering mandi di sungai itu. Jangan berpikiran macam-macam, jika seorang wanita kampung mandi sudah tentu dia akan mengenakan sarung sampai menutupi dadanya. Hari hampir sore. Entah kenapa, tiba-tiba sepi menyergap. Biasanya anak-anak berenang di sungai itu, namun saat ini dirinya begitu sepi. Menyendiri. Seorang Halimah jika diawasi dari dekat akan mengingatkan siapa pun pada seorang artis ibu kota, tinggal dipoles sebetulnya, dia akan menjelma menjadi seorang bidadari. Namun mohon maaf, sekali lagi... di kampung para wanita sama sekali belum mengenal peralatan kosmetik, pemoles wajah, dan bagi mereka, para lelaki berpikiran ortodoks. jika ada seorang wanita memakai kosmetik secara berlebihan akan dianggaplah menyalahi aturan, dan harus dicurigai, bahkan bisa jadi telah bersekongkol dengan iblis. Seorang tukang pancing datang. Dia lelaki berwajah lonjong, tingginya lima centi meter di atas tinggi Halimah, memakai topi bambu. Seperti kebanyakan para tukang pancing, di tangannya tergenggap erat kail, umpan, dan di pinggangnya sebuah

Sekumpulan Kisah Di Facebook. Ramadhan 1431 H

wadah dari bambu. Dia duduk dekat Halimah. Terus terang sesuai dengan cerita dari orang lain, Halimah sama sekali tidak mengenal lelaki itu. " Hhh... hidup ini sudah mendekati sekarat rupanya!" Orang itu berbisik, entah kepada siapa. Halimah mulai gamang terhadap kehadiran orang asing itu. " Dimana-mana mengeluhkan tentang perang, pertikaian, kelaparan, korupsi, debu, kerikir... omong kosong semuanya. Hidup ini selalu diisi dengan hal remeh temeh, tidak berbobot!" katanya sambil melempar kail ke tengah sungai. " Dulu, satu kali lemparan bisa langsung dimakan oleh ikan atau udang, sekarang... puihhh... aku harus menunggu entah kapan ikan-ikan keparat itu memakan umpan kailku. Ikanikan zaman dulu bukan main besarnya, kau tahu ikan lele?" Dia melirik ke arah Halimah. Halimah merasa diteror tentu saja, dan dia sedikit menggeser, menjauhi. Tanpa sungkan, setelah beberapa lama kailnya tidak dimakan ikan. Orang itu membuka pakaiannya, selurunya, dan telah bugil. Lalu, dia melompat ke sungai, berenang ke tepi sungai di seberang sana. Kadang dia tenggelam dan kakinya diacungkan ke atas, persis seperti anak kecil ketika sedang berenang. Halimah mengerutkan dahi melihat pemandangan yang ganjil ini. Sedangkan si tukang pancing itu semakin girang bahkan gila di dalam melakukan aksi-aksinya, dan mohon maaf dengan alasan sopan santun, tidak akan saya ceritakan seluruh aksi si tukang pancing. Halimah segera berdiri, dan tangannya dengan penuh kesadaran mengambil seluruh pakaian orang itu. Dia terus berjalan menjauhi sungai sambil membawa pakaian si orang asing. Dia berjalan melewati pesawahan, hamparan padi sudah hampir menguning. Dan dengan sungguh-sungguh, dia melemparkan pakaian itu ke dalam sebuah lobang besar seperti sumur dan itu biasa dijadikan tempat pembuangan sampah oleh orang kampung. Dengan tanpa keraguan sedikit pun, Halimah segera pulang. Si orang asing mulai gelisah. Dia masih jongkok di bawah , ditepi sungai, sebab seluruh pakaiannya raib entah ke mana. Tubuhnya telanjang bulat, dan jika telinganya mendengar ada langkah kaki orang, segeralah dia masuk ke dalam semak-semak dekat sungai, untuk bersembunyi. Dia menunggu malam tiba.

Sekumpulan Kisah Di Facebook. Ramadhan 1431 H

" Aku akan berlari sekencang mungkin..." Bathinnya, " Lihat saja malam nanti... ya jika sudah gelap aku akan berlari sekencang-kencangnya...." Dan malam pun tiba, Ya dengan penuh semangat si tukang pancing segera berlari ke jalan... cepat sekali. Namun, di jalan biasanya orang selalu ramai, walaupun telah malami, jalan itu adalah jalan utama, dan selalu dijadikan jalan menuju ke pasar dan pusat kota oleh orang kampung. Jika dia melihat ada suara orang mengobrol, segeralah si tukang pancing bersembunyi di balik pepohonan. Atau dia berlari kembali menuju jembatan bambu, kemudian dia ke bawah lagi dan bersembunyi di semak belukar tepian sungai. " Sialan.... aku terjebak...!" Dan setelah tiga tahun, Halimah resmi dinikahi oleh seorang pengusaha dari kota. Katanya suaminya pemilik toko kelontong. Saat itu, ramai sekali orang membicarakan tentang hantu telanjang penunggu sungai. Anak-anak sudah tidak berani lagi melintas ke sungai itu, jembatan kayu semakin tua, pinggir sungai tempat mereka mandi dan mencuci pakaian kini semakin dipenuhi oleh semak belukar dan rumput liar. Sore hari, jika kamu melintas ke sana akan terdengar dari tepi sungai di dalam belukar suara tangisan, " Kemana bajuku... kemana celanaku....!" Sementara setiap malam, jika tanpa sengaja kau melintas ke jalan berbatu dan ditumbuhi oleh rerumputan itu, kelak kau akan menjumpai, ada sosok seperti bayangan berlari-lari antara jalan utama dengan jembatan kayu itu. Ya, setiap malam...

Sekumpulan Kisah Di Facebook. Ramadhan 1431 H

Kisah Ke-empat belas: Yamin
28 Agustus 2010 jam 10:29 Saya hanya seorang guru bantu, kau tahu itu. Namun, selain keseharianku mengajar anak-anak sekolah dasarmenjumlahkan angka-angka dan membuat kalimat dari kata-kata, aku juga biasa bercerita atau menceritakan kembali dongeng,kisah perjalanan hidup, dan hikayat yang pernah di ceritakan oleh orang kepadaku. Aku telah mengisahkan beberapa kisah kepada kau selama Ramadhan ini, bisa jadi kisah-kisahku kau anggap sebagai rongsokan atau sampah tanpa makna, namun pahamilah, memang demikianlah kisah-kisahku. Ini berbicara tentang orang itu, orang yang biasa bercerita kepadaku di bulan suci Ramadhan ketika aku masih kecil, orang itu bernama Yamin, dan tanpa sungkan sedikitpun, pada kisah ke-empat belas tiba-tiba dia bercerita tentang kisah dirinya sendiri, aku anggap ini sebagai sebuah roman singkat. Waktu itu aku tidak peduli terhadap cerita macam apa pun, bagiku rasa haus mendengar sebuah dongeng merupakan salah satu naluri dan sifat bawaanku. Kendatipun cerita itu lebih pantas didengar oleh orang-orang dewasa, namun telinga ini sudah terlalu dewasa juga untuk mendengar kisah-kisah kancil, buaya, atau sebangsanya. Yamin bercerita lagi: Aku seorang sarjana muda, belum sarjanan total. Tapi di kampong, gelarku ini menjadi satu kekaguman dari orang-orang. Maklum, jarang sekali orang memiliki gelar kesarjanaan seperti aku ini. Di kampungku orang sering berdecak kagum, malahan ada seorang ibu yang jelas-jelas dan terang-terangan telah menawarkan anak gadisnya kepadaku, agar pada saatnya nanti aku menjadi pendamping hidupnya kelak. Orangtuaku bangga kepadaku. Namun, gelar kesarjaan itu, di kampong benar-benar tidak sebanding dengan pujian orang-orang itu. Gelar ini hanya menempel pada diriku saja, sementara sekedar untuk mendapatkan sebatang rokok pun aku masih harus mengemis kepada ayahku. Sampai pada akhirnya, ayahku berkata. “ Kau,, kan sarjana, tinggal di kampong saja gelar itu sama sekali belum menghasilkan apa-apa. Baiklah, jika pun kau menggarap sawah, maka orang-orang akan berkata pedas, pedas sekali, seperti begini; percuma sekolah tinggi-tinggi jika hanya menjadi petani saja pada akhirnya. Bapak sebenarnya tidak malu, mau jadi apa pun kau ini. Namun setidaknya, p[ekerjaan itu ya mesti sebanding lah dengan

Sekumpulan Kisah Di Facebook. Ramadhan 1431 H

ilmu kita, dan isi ini..” Kata beliau sambil menunjuk kepalanya yang ditutupi oleh songkok hitam. Dua hari berikutnya, telah kuputuskan untuk mencari pekerjaan ke Kota Jakarta. Menurut orang, di sana bukan hanya tenaga yang dibutuhkan tetapi gelar pun menjadi alas an orang kota harus menerima kehadiranku. Sebenarnya, tidak demikian. Justru di Jakarta inilah hidupku mulai diliputi oleh sebuah tantangan. Di kampong aku dibanggakan karena menyandang gelar sarjana, namun di Kota Besar seperti Jakarta, gelarku sama sekali tidak laku. Sulit sekali ternyata mencari pekerjaan hanya dengan mengandalkan gelar kesarjanaan di kota besar ini. Yang saya tahu adalah, Tuhan selalu memiliki rencana, di Jakarta aku dipertemukan oleh takdir Tuhan dengan seorang lelaki bernama Karim, dia seorang pedagang asongan, tinggal di pinggiran Kota, dengan rumah-rumah sederhana bahkan mendekati jelek. Bahkan, menurut penuturan Karim, setiap hujan tiba para penghuni rumah-rumah jelek itu harus rela tidur berteman air. Seminggu lamanya aku hidup dengan Karim, sesekali aku membantu dirinya dagang. Menjadi pedagang asongan jelas sekali bukan cita-citaku, namun ini adalah tuntutan, aku tinggal bersama karim yang telah rela menampung orang kampong ini, maka aku pun harus memiliki sikap sopan, jika menerima sesekali aku harus bisa member. Nyatanya, Karim tidak keberatan membawaku. Lagi pula, gelar sarjana sama sekali tidak akan Nampak ketika aku menjadi pedagang atau menjadi petani atau pun menjadi pejabat. Masalah pekerjaan yang tidak sesuai dengan cita-citaku, abaikan saja. Ketika duduk di bangku kuliah dulu seorang dosen pernah berpesan, pada saatnya nanti kita pun akan mendapatkan bagian dari manisnya hidup ini asalkan mau berusaha dan menunggu dengan penuh kesabaran. “ Kau tidak pantas berjualan denganku…” pada suatu malam tiba-tiba Karim berkata itu. “ Kamu sarjana, aku dikabari oleh seorang teman, katanya perusahaan Pak Dirga membutuhkan seorang pekerja dan bisa mengetik.. oh iya…. Itu computer… ya katanya harus bisa computer. Kau seorang sarjana, tentunya bisa dan menguasai computer, kan?” Mulanya aku tidak enak dengan kata-kata awal dari Karim, namun kebaikannya itu menutupi diriku untuk menerka-nerka tentang ketidak sopanannya itu. Aku mengangguk. “ Nah, besok datang saja langsung ke perusahaannya, Pak Dirga adalah seorang pengusaha di kampong sebelah. Setiap tahun dia selalu datang ke sini, memberikan sumbangan dan santunan. Dan penting kau ketahui, anaknya itu bukan main pada

Sekumpulan Kisah Di Facebook. Ramadhan 1431 H

cantik semua. Siapa tahu kamu bisa diangkat oleh si bapak menjadi menantunya kelak..!” Begitu guyonnya. Besoknya, dengan diantar oleh teman Karim, aku memasukkan lamaran ke perusahaan Pak Dirga. Sebuah pabrik pembuatan speaker aktif. Hhh… dasar Karim, kirain benar-benar sebuah perusahaan besar. Di sana sudah banyak sekali orang yang mau melamar pekerjaan, aku sendiri tidak tahu, jika diterima akan diangkat menjadi bagian apa. Mengeergaji kayu? Buat apa harus jauh-jauh ke Jakarta, bukankah di kampong, bapakku memiliki pabrik penggesekan kayu? Pak Dirga kira-kira berumur 45-tahunan. Masih kokoh, cara berjalannya tegap, namun kelelahan terlihat di rona wajahnya. Dia memiliki sebuah mobil sedan bermerk V***o, rumahnya besar, tidak jauh dari pabrik, hanya dibatasi oleh sebuah bangunan kecil, dan di kaca bangunan itu tertulis, “ Tamu Harap Lapor.., ya disana ada seorang penjaga, aku kira itu satpam, kumisnya tebal namun ramahnya bukan main. Aku diterima, dan pekerjaanku diposisikan di bagian keuangan olehnya. “ Tugasmu hanya mencatat uang masuk dan keluar saja…!” Kata Pak Dirga. Lalu, inilah kerja pertamaku dimulai. Setiap ada pembayaran dari pembeli speaker, aku langsung catat. Ya… sudah tentu aku tulis di computer, begitu pula setiap ada pembelian aku catat di sana. Pak Dirga memiliki seorang istri, 10 tahun lebih muda di bawahnya. Kata Pak Dirga namanya Dina. Walaupun usianya 10 tahun di bawahnya, tetapi dari raut wajahnya seoilah hanya terpaut 3 tahun saja. Sering sekali dia datang ke ruanganku lalu meminta ini-itu, khususnya uang. Pak Dirga pernah berpesan sebelumnya, kalau si Ibu meminta uang, kasih saja… dan aku melakukannya dengan sangat baik. Bagaimana bisa aku menolak permnintaan istri majikanku. “ Ada berapa uang ditangan?” Katanya pada suatu hari. Dina melirik-lirik. “ Sekitar 30 jutaan, Bu…!” kataku. “ Aku ambil 25 jutanya…!” Bibirnya seperti bergetar. “ Jangan bilang bapak, ya!” Aku bingung bukan main. “ Untuk apa, bu?” Huhh… padahal tidak perlu aku bertanya seperti itu. Dina pasti marah kepadaku, nyatanya tidak. Dia mencoba tersenyum.

Sekumpulan Kisah Di Facebook. Ramadhan 1431 H

“ Ini masukkan saja ke dalam pembelanjaan di bayar di muka, cepat uangnya !” Bisik Dina. Dan kini uang itu raib dari kas sementara di dalam laci aku simpan sebuah nota pembelian bahan baku seharga 25 juta, dari sebuah perusahaan telah lengkap dicap dan ditandatangani. Besoknya, Pak Dirga pergi ke Jepang. Menurut cerita dari anaknya, majikanku ikut serta dalam sebuah seminar. Hebat juga, seorang pengusaha speaker bisa ikut pelatihan ke Jepang, begitu pikirku. Tepat satu jam setelah kepergian majikanku, Dina datang lagi.. “ Masih ada uang?” tanyanya. “ ada 10 Juta , bu…” “ Keluarkan semuanya… aku perlu sekali.!” Terus terang aku tidak bisa menolaknya. Kembali uang raib dari kas, dan untuk kali ini aku diberi uang oleh Dina sebesar 500 ribu. Aku masukkan ke dalam saku celana. Begitulah, setiap hari, selama majikanku mengikuti seminar, uang dari ka situ raib, sedangkan nota-nota pembelian di bayar dimuka menumpuk di dalam laci meja kerjaku. Aku bingung, nota-nota di dalam laci meja kerjaku jumlahnya sudah hamper 500 juta, sementara bahan baku pembuatan speaker semakin berkurang. Wajahku kusut, dan untuk menghilangkan kekalutan itu aku masuk ke dapur rumah majikanku, aku ambil beberapa buah segar di lemari es. Rumah itu kini begitu sepi. Dan dari kamar majikanku terdengar suara-suara. Aku hapal betul itu adalah rintihan. Sore begini siapa yang merintih, aku dekati kamar itu, kebetulan pintunya terbuka sedikit. “ Puaskan aku… bawa aku berkelana ke alammu, kau telah ku bayar perjamnya 2 juta…” Aku tertegun sesaat, tidak percaya terhadap apa yang aku dengar. Untuk selanjutnya aku hanya mendengar rintihan istri majikanku disusul oleh rintihan seorang lelaki, yang jelas bukan suara majikanku. “ Masih ada uang yang tersisa?” Tanya, Dina hari selanjutnya.

Sekumpulan Kisah Di Facebook. Ramadhan 1431 H

“ Hampir habis, bu…” Kataku sambil membuka laci, “ ini paling ada 500 ribuan lagi…!” Dia termenung sebentar. “ Ikut aku….!” Katanya, Tanpa bisa menolak aku mengikutinya. Masuk kamar? Mau apa? “ Duduklah…!” Katanya sambil menunjuk sebuah ranjang. Dia menatapku, semakin dekat saja wajahnya. Nafasnya semakin tercium olehku, bau tubuhnya wangi. Dan saat ini, di sore itu menjelang pulang, aku hanya merasakan kehangatan membakar seluruh tubuhku. Aku tidak bisa berkata apa-apa. “ uang yang dilaci meja itu, kau ambil saja setengahnya…!” Kata Dina, “ setengahnya lagi untuk besok. Kau mengerti maksudku?” Aku seorang sarjana, cita-citaku bukan ingin menjadi seorang pegawai di pabrik speaker. Sekali lagi, aku hanyalah seorang sarjana, tidak lebih dari itu. Begitulah Yamin telah bercerita. Aku melihat ada air mata menitik di sudut matanya.

Sekumpulan Kisah Di Facebook. Ramadhan 1431 H

Kisah ke-lima belas: Lapar...
28 Agustus 2010 jam 12:18 Di sudut emper sebuah toko kelontong, di antara luapan sinar putih lampu neon, di bawah siraman dan guyuran kemilau kuning lampu merkuri, di sela-sela kelebat menyilaukan lampu-lampu kendaraan yang hilir-mudik menerjang gelapnya malam, seorang ibu mengiba menidurkan seorang anak kecil, anaknya. Sosok ibu itu memiliki garis kecantikan di masa lalu kendatipun tertutup oleh tebalnya debu zaman yang telah ia lalui. Angin malam adalah selimut dingin yang mampu menggeraikan rambut gimbalnya, kotor dan kumal. Tangannya telah menelusuri jeruji cobaan hidup membelai lembut kepala anak kecil itu. Sisa pakaian yang melekat di tubuhnya akan mengingatkanmu kepada perasaan sebagai manusia. Benar, perasaan antara manusia dengan bukan manusia. Sobekan pada pakaian lusuhnya menciptakan luka-luka yang ia alami selama hidupnya. Kekotorannya melukiskan gambar kering tanpa air bening kehidupan yang dinikmati oleh manusia secara wajar. Puluhan tahun ia telah melewati masa, menuruni lembah, mendaki bukit, dan hasilnya adalah sebuah harapan yang sirna. Ia duduk bersimpuh di atas lantai dekil toko kelomtong milik Engko Chen. Dingin. Ia seorang ibu muda gelandangan bersama anaknya. ” Mak..Llllaparrr…!” Keluh si anak. Badan mungilnya tergeletak tidak terawat sama sekali. Kaki kecil, tangan mungil mengepal lemas, kepala pelontos, badan terbalut daki dekil, kedip matanya sayu tak kuat meski sekedar menatap lampu redup. Di atas hamparan kertas koran. Ah… anak-anakmu sudah barang tentu tidak akan seperti dirinya. Anak-anakmu tidak akan pernah tergeletak di emper toko kelontong, anak-anakmu tidak akan meringis atau mengeluh menahan perihnya lapar, anak-anakmu tidak akan dielus dengan ratapan dan ibaan, akui saja!!! Ibu muda gelandangan hanya bisa melongo, bergeming. Telah kehabisan cara untuk membujuk dan meredakan keluhan jujur anaknya. Lapar adalah kejujuran, tidak pernah berbohong. Lapar tidak memerlukan iming-iming atau ocehan. Lapar membutuhkan sekerat roti, segenggam nasi putih hangat mengepul, sebungkus kerupuk, segelas air sejuk, seseondok susu bubuk, dan setumpuk gizi. Apa yang kau butuhkan ketika lapar, logika sederhana sekali pun akan langsung menjawab: MAKANAN! Apa yang ada dalam pikiranmu ketika lapar? Bualan kesejarteraan? Obral janji akan datangnya masa kejayaan?? Segudang ajakan untuk tetap berharapan akan datanganya kemakmuran??? Bukan..bukan itu, karena kata-kata apalagi ocehan bukan jenis makanan!!!

Sekumpulan Kisah Di Facebook. Ramadhan 1431 H

Ibu muda gelandangan telah banyak bercerita tentang kessabaran. Ia telah berbisik tentang harapan di masa depan kepada si anak. Tetapi..sekali lagi..lapar adalah kejujuran, kejujuran yang tidak akan pernah terputus hanya karena mendengar nada optimisme yang terkesan dipaksakan. Kejujuran yang keluar dari lubuk hati kamusia normal, bukankah gelandangan juga manusia normal? Malam semakin larut pekat. Merayap dengan kaki-kakinya teramat cepat. Kota seakan tak pernah mati. Aroma -aroma makanan lezat seperti; nasi goreng, martabak telur, mie tek-tek, hamburger, pizza, bandros kelapa, hanya mampir dan mencekik hidung mereka lalu terbang melayang..tersapu angin. Lalu-lalang orang-orang bukan hal yang tepat untuk menjadi bahan pertimbangan bahwa mereka akan melirik pada dua sosok itu. Orang-orang di kota itu, tak pernah merasa akan mati, sibuk dengan urusan masing-masing. Berbagai reklame berupa bilboard raksasa halus dan dibuat dengan biaya sangat mahal tentu saja, meramaikan angkasa. Tatap nanar ibu itu menghampiri lukisanlukisan dan gambar makanan yang terpampang di papan reklame. Ia menelan ludahnya seketika, dalam dan getir ketika menyadari bahwa papan reklame bukan jenis makanan yang bisa disantap. ” MMaak..Llllapar..rr!” erang anaknya semakin parau terputus. ” Tenang..nak!” Ibu muda gelandangan ingin bercerita dongeng sebelum tidur, hanya..ia sadar sia-sia belaka. Sekali lagi, lapar adalah kejujuran. Tidak akan terpupus oleh dongengan. Cukup untuk dirnya saja ia membayangkan buah-buah segar di surga. Angin malm menerbangkan debu-debu jalanan. Ia bersandar pada dinding toko kelontong, tangannya masih mengelus lembut kepala pelontos anaknya. ” L…a..p..a…r..r!” Disekanya air mata yang menganak sungai di pipi berdakinya. Ia baringkan kepala anaknya di pahanya, dielus punggungnya mesra sekali. Logika paling sederhana, apalagi logika orang pintar sepertimu tak mungkin akan menerima fakta ini. Seorang ibu muda gelandangan berusaha menenangkan anaknya yang dirundung lapar, ketika kau sedang asyik menonton televisi, ketika kau bersama keluarga sedang menghadapi berbagai aneka makanan mewah meriah di atas meja makan atau di restoran, ketika kau sedang mengunyah

Sekumpulan Kisah Di Facebook. Ramadhan 1431 H

makanan dan memadati perut buncitmu, ketika kau sedang berbaring di kasur empuk hangat dan nyaman, ketika kau sedang memeluk anak-anakmu, ketika kau sedang menghitung angka-angka di atas sepuluh digit, ketika kau sedang mengutakatik data keuangan yang akan mendongkrak taraf hidupmu, ketika kau sedang memilah -memilih aneka rupa pakaian yang akan kau pamerkan kepada orang disekelilingmu, bisa jadi ketika kau sedang pesta pora menghambur-hamburkan uang di meja perjudian dan taruhan! Seorang lelaki kasar menghampiri mereka. Cara berjalannya licik bukan main, wajah dihiasi kumis merongos lebat kurang terawat, jarang mandi pun bisa jadi, terlukis dari barisan giginya yang menguning, hidung melesak pesek dipadu oleh aroma alkohol yang keluar mencekik nafas dirinya sekalipun, dagunya sederhana. Tiba-tiba tangannya meluncur tak terkendali memegang dagu ibu muda gelandangan, atau mungkin memang sudah terbiasa? ” Bagaimana malam ini!?” Ucapnya, nadanya terdengar berat. Ibu muda gelandangan berusaha bangkit setelah menggeletakan anaknya di atas hamparan koran terlebih dahulu. ” Baik!” Sahutnya terpaksa. Ia menoleh sebentar ke arah anaknya, ” Tunggu nak, ibu akan mencari makanan untukmu!” Tubuh anaknya masih berkelejatan ketika ibu muda gelandangan bersama lelaki licik itu menyelinap di rapatnya lorong toko kemudian masuk ke semak belukar. Anaknya merintih semakin pelan, antara lapar dan mengantuk. Mata kecilnya menyipit menatap angkasa. Langit memang hitam malam itu tanpa gemintang karena bias oleh binar lampu-lampu kota. Matanya tampak basah. Halimun mulai mendekap tubuhnya, dingin menyiksa bagai cambuk tak pernah berhenti mendera dan menyayat lapisan kulit luarnya. Suhu menurun tanpa kompromi, semakin malam… dan ia pun tergeletak dalam keperihan lapar. Tidur. Ia, bisa jadi memimpikan gelas-gelas kristal, buah ranum, mangga, air segar, dan tentu saja..tidak ingin ia mengakhiri mimpi syurgawinya.. Hingga dini hari, ibunya belum muncul. ##

Sekumpulan Kisah Di Facebook. Ramadhan 1431 H

Pagi menyeruak, tirai langit terbuka lebar oleh cahaya, membuyarkan malam dan redupnya. Sisa-sisa dingin masih menggumpal di ujung malam, namun jalanan telah penuh sesak oleh orang-orang bertransaksi. Beberapa toko mulai buka. pasar ramai sekali sejak dini hari, memang. Kau tidak akan percaya, di kota itu orang-orang berjualan sampai meluber ke tengah jalan. Satu jam saja… berbagai sampai telah meramaikan sekitar. Juru potret amatir sekalipun akan mampu membidik lingkungan kotor betul pada hasil jepretannya. Tubuh mungil tersembul di antara kerumunan orang. Kedip matanya masih menyisakan rasa kantuk berlebihan, belum puas dengan mimpi-mimpinya. Ia mengelilingkan pandangan, matanya mencari-cari makanan di atas jalan di antara semerbaknya berbagai sampah. Ia menapaki jalanan tanpa alas kaki dengan sisasisa kekuatannya. Jongkok mengambil makanan yang terbuang, lalu melahapnya seketika. Jelas sekali itu bukan merupakan pertimbangan akal sehat. Ketika anakanakmu masih pulas dalam pelukan ibunya, masih menikmati selimut kasih, anak itu telah berjuang sendirian mencari sekerat makanan untuk membunuh rasa lapar yang ia tahan semalaman. Ia telah menapaki jalan berdebu dengan kaki telanjang ketika anak-anakmu masih mengulat sambil mendekap bantal-guling, ingat itu!!!! Kerumunan orang-orang berhamburan menuju satu titik, di belakang pertokoan di dalam semak belukar. Seseorang berteriak: ADA MAYAT!!! geger sekali pagi itu. Ya, sosok tubuh kaku membujur di dalam semak perdu, percikan darah meramaikan tubuhnya, wajahnya melesak di pukul batu, remuk tulang hidungnya. Orang-orang tidak menjamahnya, menyentuhnya pun enggan. ” Pasti diperkosa dulu!” Terka seseorang. ” Biadab!!!” “Kapan akan berakhirnya kekerasan di kota ini?” ” Hhhh…!” ” Kita panggil POLISI!” ” Siapa peduli???!!” Seseorang menutup tubuh kaku itu dengan selembar kertas koran, lalu mereka meninggalkannya begitu saja seolah tidak terjadi apa-apa di tempat itu.

Sekumpulan Kisah Di Facebook. Ramadhan 1431 H

Mereka bubar dengan sendirinya, kembali kepada urusannya masing-masing. Tubuh kaku dibiarkan tergeletak, toh suatu saat juga akan membusuk dengan sendirnya, begitu pikir mereka, atau…POLISI akan datang segera… SIAPA PEDULI!? Lebih baik mengurus diri sendiri saja! Anak kecil itu masih tetap mencari-cari. Menapaki jalan tak tentu arah. ## ” Mustahil..ada manusia yang senang makan triplek atau kaleng!” Kata menejer Danda kepada beberapa anak buahnya, para petugas keamanan. ” Di zaman sekarang, tidak ada yang tidak mungkin, pak!” Menejer Danda mengernyitkan kening lebarnya. terlihat serius, wajah semakin dingin dan kecut, mengepal tinju kuat-kuat, bulat! ” Terserah!!! Yang aku inginkan adalah kerja kalian, bukan ocehan. Kalian lihat!!! sudah lima billboard reklame bolong-bolong. Apa mungkin itu digerogoti oleh manusia? Atau..setan apa yang senang mengunyah kaleng, heh! Pakai otak dong, ah!?” Ia melotot,” Kalian kerja yang benar malam ini!” ” Ya..pak!” Malam bukan merupakan halangan bagi orang-orang untuk terus beraktivitas, seperti tak pernah mengenal mati , seakan hidup selamanya. Tiga orang petugas keamanan berjaga-jaga, mengamankan satu billboard reklame makanan yang tersisa tanpa cacat bolong. Pentungan dikepal erat. Bergantian lalu-lalang sekitar papan reklame. Asap rokok keluar masuk dari mulut mereka silih berganti memang seperti kereta malam. Aroma kopi tercium kuat. Menebar. Ketika malam terus menggelayut dan merayap semakin dingin terdengar alunan lagu dangdut dari radio kecil yang mereka letakkan di bawah billboard reklame. begadang jangan begadang kalau tiada artinya begadang boleh sajaaaaaa… heii..kalau ada perlunya.

Sekumpulan Kisah Di Facebook. Ramadhan 1431 H

Kemudian salah seorang dari mereka memindahkan gelombang radio. Terengarlah alunan lagu tradisional: bubuy bulan… bubuy bulan sangray bentang panon poe…panon poe disasate Mereka membiarkan gelombang itu, tidak mengusiknya, bahkan secara bersamasama serempak bernyanyi: unggal bulan..unggal bulan abdi teang unggal poe..unggal poe oge hade.. Tengah malam sangat dingin. Para petugas masih berjaga, tak mereka temui gelagat mencurigakan. Dini hari menjelang subuh, kantuk merambat cepat, mereka tetap melotot, hingga pagi menjelang, sampai matahari muncul. Dan papan reklame itu? Bolong lagi!!! ” Percuma setiap bulan kalian digaji jika tidak becus mengamankan satu billboard reklame saja, bodoh!” Semprot menejer Danda. Bengis. ” Aneh memang pak, percaya boleh..tidak percaya juga tidak apa-apa!” ” Kalian saya pecat!” Dan mereka berhenti bekerja hari itu juga. Begitulah kekerasan itu terus berlangsung, menggunting lembaran-lembaran harapan, menggergaji pohon-pohon cita, menebar kayu-kayu asa, menyisit kulit ari keinginan, setiap orang kecil yang selalu diburu. Dan, sejak saat itu, billboard-billboard reklame berukuran besar yang menawarkan makanan dan minuman bolong satu persatu di kota itu. Sedangkan, orang-orang sering melihat seorang anak kecil keluar dari kolong jembatan, muncul menggendong sebuah karung berisi serpihan-serpihan kaleng dan

Sekumpulan Kisah Di Facebook. Ramadhan 1431 H

triplek yang jelas bukan jenis makanan dan minuman sambil merengek dan mencaricari ” Ibu…..ibu…ibu….!” Ketika malam telah pekat…..

Sekumpulan Kisah Di Facebook. Ramadhan 1431 H

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful