Sekolah Sebagai Miniatur Masyarakat : Idealisme Pendidikan

Oleh : Drs. Rum Rosyid, MM

KEMENTERIAN PENDIDIKAN NASIONAL FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS TANJUNGPURA PONTIANAK 2010

Daftar Isi Pengantar Pendahuluan Agenda Reformasi Sistem Pendidikan Nasional Visi Pendidikan Multikultur Menumbuh Kembangkan Eksistensi Manusia Pendidikan Terpadu: Sebuah harapan Kebijakan Pendidikan : intervensi pemerintah dalam pendidikan Kualitas Pembelajaran : Inti reformasi pendidikan Cara Pandang Interaktif terhadap Kualitas Output Guru sebagai Agen Perubahan Mentalitas Wiraswasta : Sebagai Tantangan Kepustakaan

2 3 4 6 14 16 19 25 26 32 36 38 40

2

Pengantar Dengan memanjatkan puji syukur kepada Allah SWT, penulis dapat menyelesaikan karya tulis sebagai upaya untuk memahami fenomena pendidikan ditanah air Indonesia. Fenomena pendidikan yang terjadi merupakan produk kebijakan pendidikan yang berlangsung sepanjang usia suatu bangsa. Disadari atau tidak seluruh kebijakan pendidikan akan menghasilkan suatu bentuk peradaban baik yang carut-marut maupun sistematis. Dengan demikian kesinambungan suatu kebijakan adalah suatu kemestian agar proses perubahan selalu taat asas. Menyaksikan seluruh fenomena pendidikan nampak bahwa dunia pendidikan masih dalam keadaan carut-marut. Karena tidak dilandaskan pada ideology yang jelas. Hal ini bukan semata kesalahan pemegang rezim pemerintahan, karena semanjak awal RI menjadi ajang perebutan antar bangsa-bangsa di dunia baik dari belahan barat Portugis, Belanda, Inggris, Perancis dan kini AS maupun timur seperti Jepang. Kesemuanya membawa misi masing-masing, untuk melangsungkan eksistensi kebangsaan mereka. Hal ini ikut serta membuat carut-marut kependidikan di Indonesia. Kesadaran kesejarahan ini diperlukan agar kita dapat melihat kedepan, dan memberikan solusi terbaik bagi pembangunan kemanusiaan dan kebangsaan yang terindah. Akhirnya, semoga karya yang sederhana ini dapat membantu memberikan penyegaran pemahaman atas dunia pendidikan di Indonesia. Tiada gading yang tidak retak Akhirul kalam Pontianak, 23 Mei 2010

Penulis

3

Pendahuluan Meminjam seruan Bung Karno yang terkenal, sekarang ini kita perlu “membangun dunia baru.” Tetapi upaya untuk membangun dunia yang baru itu kiranya harus dimulai dengan terlebih dahulu “membangun Indonesia baru.” Dan upaya membangun Indonesia baru itu mungkin harus dimulai dengan membangun elite politik yang benar-benar lahir dari kalangan rakyat dan memperjuangkan kepentingan rakyat. Dalam Indonesia yang baru itu diharapkan tiada lagi kalaupun ada kecil peranannya-kelompok elite yang hanya sibuk berebut kekuasaan dan pengaruh. Hal ini bisa terjadi jika para aktivis muda reformasi sekarang ini tidak enggan untuk belajar dari para aktivis pergerakan generasi tahun 1920-an. Di satu pihak meneruskan sikap militan generasi itu dalam memperjuangkan cita-cita bersama dan rela berkurban demi cita-cita itu. Di lain pihak menolak kecenderungan untuk mewarisi sistem pemerintahan sebelumnya, yakni kecenderungan untuk mengganti elite lama dengan elite yang baru tetapi yang pola dan orientasi politiknya tetap sama. Dengan demikian akan bisa diharapkan lahirnya elite politik yang benar-benar berorientasi pada semakin terwujudnya demokrasi. “Kaki kami telah berada di jalan menuju demokrasi,” lanjut Presiden Soekarno dalam pidatonya di depan Kongres AS itu. “Tetapi kami tidak ingin menipu diri sendiri dengan mengatakan bahwa kami telah menempuh seluruh jalan menuju demokrasi,” sambungnya. Ia sadar bahwa meskipun selama bertahun-tahun bangsa Indonesia telah beperang melawan kolonialisme, imperialisme dan elitisme, jalan menuju demokrasi masih tetap panjang. Tetapi Bung Karno juga sadar bahwa betapapun panjangnya sebuah perjalanan, ia harus dimulai dengan langkah-langkah pertama. Reformasi pendidikan diibaratkan sebagai pohon yang terdiri dari empat bagian yaitu akar, batang, cabang dan daunnya. Akar reformasi yang merupakan landasan filosofis yang tak lain bersumber dari cara hidup (way of life) masyarakatnya. Sebagai akarnya reformasi pendidikan adalah masalah sentralisasi-desentralisasi, masalah pemerataan-

4

mutu dan siklus politik pemerintahan setempat. Setelah melihat keprihatinan mengenai pendidikan Indonesia serta penyebabnya, yang harus dilakukan adalah kembali ke filosofi dasar pendidikan. Pendidikan adalah sebuah tindakan fundamental, yaitu perbuatan yang menyentuh akar-akar hidup kita sehingga mengubah dan menentukan hidup manusia. Jadi, mendidik adalah suatu perbuatan yang fundamental karena mendidik itu mengubah dan menentukan hidup manusia. Kesejahteraan suatu bangsa amat bergantung pada tingkat pendidikannya, apalagi pada zaman sekarang. Kesimpulannya, pendidikan itu memanusia-kan manusia muda. Pendidikan adalah suatu bentuk hidup bersama yang membawa manusia muda ke tingkat manusia purnawan. (Driyarkara, 1991). Sebagai batangnya adalah berupa mandat dari pemerintah dan standar-standarnya tentang struktur dan tujuannya. Dalam hal ini isu-isu yang muncul adalah masalah akuntabilitas dan prestasi sebagai prioritas utama. Cabang-cabang reformasi pendidikan adalah manajemen lokal (on-site management), pemberdayaan guru, perhatian pada daerah setempat. Sedangkan daun-daun reformasi pendidikan adalah keterlibatan orang tua peserta didik dan keterlibatan masyarakat untuk menentukan misi sekolah yang dapat diterima dan bernilai bagi masyarakat setempat. Terdapat tiga kondisi untuk terjadinya reformasi pendidikan yaitu adanya perubahan struktur organisasi, adanya mekanisme monitoring dari hasil yang diharapkan secara mudah yang biasa disebut akuntabilitas dan terciptanya kekuatan untuk terjadinya reformasi. Pembaruan pendidikan merupakan suatu proses multi dimensonal yang kompleks, dan tidak hanya bertujuan untuk menyempurnakan kekurangan-kekurangan yang dirasakan, tetapi terutama merupakan suatu usaha penelaahan kembali atas aspek-aspek sistem pendidikan yang berorientasi pada rumusan tujuan yang baru [Jusuf Amir Faisal, 1995], dan senantiasa berorientasi pada kebutuhan dan perubahan masyarakat. Oleh karena itu, upaya pembaruan pendidikan tidak akan memiliki ujung akhir sampai kapanpun. Karena persoalan pendidikan selalu saja ada selama peradaban dan kehidupan manusia itu sendiri masih ada. Pembaruan pendidikan tidak akan pernah dapat diakhiri, apalagi dalam abad informasi seperti saat ini, tingkat obselescence dari program pendidikan menjadi sangat tinggi. Hal ini dapat terjadi karena perkembangan teknologi yang digunakan oleh masyarakat dalam sistem produksi dapat mengembangkan teknologi dengan kecepatan

5

yang amat tinggi kerana ia harus bersaing dengan pasar ekonomi secara global, sehingga perhitungan efektivitas dan efesiensi harus menjadi pilihan utamanya [Suyanto dan Hisyam, 2000:17]. Tetapi sebaliknya disisi lain, "dunia pendidikan tidak dapat dengan mudah mengikuti perkembangan teknologi yang terjadi di masyarakat sebagai akibat sulit diterapkannya perhitungan-perhitungan ekonomi yang mendasarkan pada prinsip efesiensi dan efektivitas terhadap semua unsurnya. Tidak semua pembaruan pendidikan dapat dihitung atas dasar efisiensi dan untung rugi karena pendidikan memiliki misi penting yang sulit dinilai secara ekonomi, yaitu misi kemanusiaan" [Suyanto dan Hisyam, 2000:17]. Agenda Reformasi Sistem Pendidikan Nasional Pendidikan merupakan kebutuhan penting bagi setiap manusia, negara, maupun pemerintah. Karena penting, maka pendidikan harus selalu ditumbuhkembangkan secara sistimatis oleh para pengambil kebijakan yang berwenang di Republik ini [Suyanto dan Hisyam, 2000:17]. Upaya pendidikan yang dilakukan suatu bangsa selalu memiliki hubungan yang signifikan dengan rekayasa bangsa tersebut di masa mendatang. Pendidikan selalu dihadapkan pada perubahan, baik perubahan zaman maupun perubahan masyarakat. Maka, mau tidak mau pendidikan harus didisain mengikuti irama perubahan tersebut, kalau tidak pendidikan akan ketinggalan. Oleh karena itu, tuntutan perubahan pendidikan selalu relevan dengan kebutuhan masyarakat, baik pada konsep, kurikulum, proses, fungsi, tujuan, manajemen lembaga-lembaga pendidikan, dan sumber daya pengelolah pendidikan. Milenium ketiga baru saja kita masuki. Tentu saja bekal hidup pada milenium tersebut harus berbeda dengan bekal hidup kita pada milenium kedua, khususnya pada abad ke19-20. Kehidupan pada milenium ketiga benar-benar berada pada tingkat persaingan global yang sangat ketat. Artinya, siapa saja yang tidak memenuhi persyaratan kualitas global, akan tersingkir secara alami dengan sendirinya (Suyanto dan Hisyam, 2000:2). Salah satu paradigma yang berbeda adalah paradigma di dalam aspek stabilitas dan predikbilitas, bila pada milenium kedua orang selalu berfikir bahwa segala sesuatu itu stabil dan bisa diprediksi, pada milenium ketiga semakin sulit untuk melihat adanya stabilitas (Djamaluddin Ancok, 1998:2).

6

Ketika dunia menghadapi gerakan globalisasi, Amerika Serikat, dalam dokumen America 2000: An Education Strategy, terdapat enam tujuan pendidikan nasional Amerika Serikat. Salah satunya bahwa Amerika Serikat menginginkan memiliki pengaruh secara global. Maka untuk mencapai cita-cita itu, pendidikan nasional diformulasikan sebagai : US students will be first in the world in science and mathematics achievement [Suyanto dan Hisyam, 2000:22]. Dengan demikian, Amerika Serikat dalam salah satu strategi pendidikannya menginginkan mahasiswa dan para pelajarnya memiliki prestasi yang unggul di dunia dalam hal menguasai ilmu pengetahuan dan matematika. Suatu usaha pembaruan pendidikan karena adanya tantangan kebutuhan dan perubahan masyarakat pada saat itu, dan pendidikan juga diharapkan dapat menyiapkan produk manusia yang mampu mengatasi kebutuhan dan perubahan masyarakat tersebut. Dengan demikian, pendidikan sebenarnya lebih bersifat konservatif, karena selalu mengikuti kebutuhan dan perubahan masyarakat. Sebagai contoh : misalnya, pada masyarakat agraris, konsep pendidikan didisain agar relevan dengan perkembangan dan kebutuhan masyarakat pada era tersebut, begitu juga apabila perubahan masyarakat menjadi masyarakat industrial dan era informasi, maka pendidikan juga didisain mengikuti irama perkembangan masyarakat industri dan masayarakat era informasi, dan seterusnya. Demikian siklus perkembangan perubahan pendidikan, kalau tidak pendidikan akan ketinggalan dari perubahan zaman yang begitu cepat. Untuk menghadapi kondisi milineum ketiga yang semakin tidak bisa diprediksi tersebut, diperlukan kesiapan sikap mental manusia untuk menghadapi perubahan yang sangat cepat. Orang tidak bisa lagi bersifat reaktif, hanya menunggu dan menghindari setiap persoalan atau resiko demi resiko, dengan mempertahankan status-quo. Tetapi pada era milineum ketiga, orang lebih bersifat proaktif dengan memiliki toleransi atas ketidakjelasan yang terjadi akibat perubahan dengan tingkat dinamika yang tinggi. Keran demokrasi dan demokratisasi begitu terbuka dan membahana pada masa reformasi sekarang ini. Maka dari itu pula, reformasi pendidikan mutlak bagi bangsa ini dan dapat segera diwujudkan menyusul semakin pentingnya sektor pendidikan dijadikan prioritas

7

utama pembangunan, dimana pembiayaan dan kewenangan menjadi fokus utama dalam reformasi pendidikan tekait dengan desentralisasi pendidikan di era otonomi daerah saat ini(Maman Suratman, 2007). Diantara berbagai kebijakan yang dikeluarkan pemerintah pasca orde baru (orde reformasi), adalah kebijakan di bidang pendidikan yang menentukan kiprah bangsa ini di masa depan. Niscaya, sumber daya manusia yang unggul akan dibentuk melalui sistem pendidikan yang merupakan kapital sosial bagi pembentuk generasi masa depan. Diharapkan, tidak hanya pemerintah yang “memikirkan” konsep dan sistem pendidikan yang ideal, tetapi merupakan tanggung jawab bersama. Dalam konsepsi perikehidupan berbangsa dan bernegara yang menuju kearah civil society sekarang ini, era reformasi dan otonomi daerah seakan angin segar sekaligus kesempatan besar dalam reformasi di segala bidang untuk kemajuan bangsa. Sekali lagi, pendidikan merupakan kunci bangsa untuk eksis dan bersaing di kancah global di masa depan. Pengalaman negara-negara barat yang bermasyarakat dengan tingkat pendidikan dan penguasaan teknologi yang tinggi membawa bangsanya pada kedudukan yang tinggi pula pada percaturan internasional. Kedaulatan dan keunggulan yang kompetitif di masa depan bukan milik suatu bangsa atau negara, melainkan hak semua bangsa di dunia dan mampu diraih bangsa manapun, termasuk kita jika berbenah diri dari sekarang. Upaya memperbaiki Pendidikan Nasional tidak hanya menyangkut masalah fisik dan dana saja. Tapi, harus lebih mendasar dan strategis. Sistem Pendidikan Nasional perlu direformasi dengan memadukan wahyu Tuhan dan ilmu pengetahuan sebagai arena utama aktivitas pendidikan. Sekolah bukan hanya menjadi tempat pembekalan pengetahuan kepada anak bangsa, tapi juga lembaga penanaman nilai dan pembentuk sikap dan karakter. Anak-anak bangsa dikembangkan bakatnya, dilatih kemampuan dan keterampilannya. Sekolah tempat menumbuh kembangkan potensi akal, jasmani, dan rohani secara maksimal, seimbang, dan sesuai tuntutan zaman. Output keseluruhan proses pendidikan adalah menyiapkan peserta didik untuk bisa merealisasikan fungsi penciptaannya sebagai hamba Tuhan dan kemampuan

8

mengemban amanah mengelola bumi untuk dihuni secara aman, nyaman, damai, dan sejahtera. Sebagai ilustrasi, pada saat Amerika mengejar kemajuan teknologi ruang angkasa Rusia, maka pada saat itu pendidikannya ditekankan pada Iptek. Demikian juga pada saat Amerika mengejar kemajuan ekonomi Jepang dan Jerman, maka pada saat itu pendidikannya ditekankan pada ekonomi. Dan akhir-akhir ini, ketika dirasakan lemahnya integrasi bangsa Amerika, maka pendidikan ditekankan untuk membangun integrasi bangsa (Sizer, 1992). Dengan indikator tersebut, akan menjadi lebih mudah mengidentifikasikan krisis pendidikan yang terjadi, dengan didasarkan pada indikator yang diukur dari tidak tercapainya tujuan tekanan pendidikan itu [Anas Syahrul dan Zaidie, 1999:29). Beberapa usulan langkah-langkah reformasi pendidikan nasional untuk menyongsong milenium ketiga adalah sebagai berikut : Pertama, merumuskan visi dan misi pendidikan nasional kita yaitu : (1) Pendidikan hendaknya memiliki visi yang berorientasi pada demokrasi bangsa sehingga memungkinkan terjadinya proses pemberdayaan seluruh komponen masyarakat secara demokratis. Menjadikan sekolah sebagai tempat kaderisasi kepemimpinan nasional dan memasukkan program wajib militer untuk menumbuhkan rasa nasionalisme. Memastikan terlaksananya proses pendidikan yang menanamkan jiwa kebebasan, kemandirian, kewirausahaan, dan meningkatkan keterampilan hidup dan daya juang kepada anak-anak bangsa yang menjadi peserta didik. (2) Terselenggaranya pendidikan yang murah, bermutu, dan berwawasan global yang memiliki daya saing nasional di percaturan global. Pendidikan hendaknya memiliki misi agar tercapai partisipasi masyarakat secara menyeluruh sehingga secara mayoritas seluruh komponen bangsa yang ada dalam masyarakat menjadi terdidik" (Suyanto dan Hisyam, 2000:8). Kedua, isi dan substansi pendidikan nasional yaitu :

9

(1) Substansi pendidikan dasar hendaknya mengacu pada pengembangan potensi dan kreativitas siswa dalam totalitasnya. Meningkatkan wajib belajar dari Sembilan tahun menjadi dua belas tahun. Oleh karena itu, tolok ukur keberhasilan pendidikan dasar tidak semata-mata hanya mengacu pada NEM. Persoalan-persoalan yang terkait dengan paradigma baru menegnai keberhasilan seseorang perlu mendapatkan perhatian secara emplementatif. (2) Substansi pendidikan di jenjang pendidikan menengah dan pendidikan tinggi hendaknya membuka kemungkinan untuk terjadinya pengembangan individu secara vertikal dan horizontal. Pengembangan vertikal mengacu pada struktur keilmuan, sedangkan pengembangan horizontal mengacu pada keterkaitan dan relevansi antar bidang keilmuan. (3) Melakukan pembangunan Sistem Pendidikan Nasional yang konprehensif, integratif, dan aplikatif. Makna konprehensif adalah menjamin perbaikan yang berkelanjutan, integratif tak memisahkan aspek moral dan nilai-nilai luhur dari pembelajaran dan pengajaran, dan aplikatif menunjuk pada mutu dan meningkatnya daya saing bangsa. Pendidikan tinggi hendaknya jangan semata-mata hanya berorientasi pada penyiapan tenaga kerja. Tetapi lebih jauh dari itu harus memperkuat kemampuan dasar mahasiswa yang memungkinkan untuk berkembang lebih jauh, baik sebagai individu, anggota masyarakat, maupun sebagai warga negara dalam konteks kehidupan yang global. (4) Memberi perhatian serius pada pendidikan khusus bagi anak bangsa yang disebabkan oleh cacat atau kecerdasan luar biasa peserta didik. Pendidikan nasional perlu mengembangkan sistem pembelajaran yang egaliter dan demokratis agar tidak terjadi pengelompokan dalam kelas belajar atas dasar kemampuan akademik. (5) Menerapkan desentralisasi penyelenggaraan pendidikan dan meningkatkan partisipasi masyarakat baik dalam penyelenggaraan pendidikan formal, nonformal, dan informal. Pengembangan sekolah perlu menggunakan pendekatan community based education. Dalam model in, sekolah dikembangkan dengan memperhatikan budaya dan potensi yang ada di dalam masyarakat itu sendiri. Meningkatkan kualitas pengelolaan manajemen sekolah dan metode pembelajaran serta menjadikan sekolah tidak lagi sebagai menara

10

gading yang steril dari analisis kebutuhan lingkungan sekitarnya. Sekolah bukan hanya tempat penyelenggaraan pendidikan, tapi juga bisa menjadi pusat latihan, seminar, workshop, dan studi banding. Sekolah adalah pusat belajar masyarakat di wilayahnya berada. (6) Melakukan monitoring dan evaluasi sistematis terhadap berbagai aspek konsep dan operasional Sistem Pendidikan Nasional di semua jenis, jenjang, dan jalur pendidikan. Untuk menjaga relevansi outcame pendidikan, perlu diimplemantasikan filsafat rekonstruksionisme dalam berbagai tingkat kebijakan dan praksis pendidikan. Dengan berorientasi pada filsafat ini, pendidikan akan mampu merekonstruksi berbagai bentuk penyakit sosial, mental dan moral yang ada dalam masyarakat, sehingga pada akhirnya akan dapat ditanamkan sikap-sikap toleransi etnis, rasial, agama, dan budaya dalam konteks kehidupan yang kosmopolis dan plural [Suyanto dan Hisyam, 2000:11-12]. Ketiga, manajemen dan anggaran yaitu : (1) Perguruan tinggi perlu dikembangkan berdasarkan prinsip-prinsip otonomi dan accountability quality assurance. Dengan prinsip ini pada akhirnya perguruan tinggai harus mempertanggungjawabkan kinerja kepada masyarakat, orang tua, mahasiswa, maupun pemerintah. (2) Manajemen pendidikan sekolah dasar hendaknya berada dalam satu sistem agar terjadi efisienei administrasi dan efisiensi pembinaan akademik para guru. (3) Pendidikan tinggi hendaknya diselenggarakan dengan menggunakan prinsip-prinsip menajemen yang fleksibel dan dinamis agar memungkinkan setiap perguruan tinggi untuk berkembang sesuai dengan potensinya masing-masing dan tuntutan eksternal yang dihadapinya. (4) Pengembangan akademik di perguruan tinggi perlu fleksibilitas yang tinggi agar tercipta kondisi persaingan akademik yang sehat. Memanfaatkan teknologi informasi dan komunikasi untuk meningkatkan mutu pendidikan.

11

(5) Guru dan dosen harus diberdayakan secara sistematik dengan melihat aspek-aspek, antara lain : kesejahteraan, rekruitmen dan penempatan, pembinaan dan pengembangan karier, dan perlindungan profesi. Meningkatknya kompetensi, kesejahteraan, penghargaan, dan perlindungan terhadap profesi guru tanpa membeda-bedakan status kepegawaian, PNS atau swasta. (6) School based management perlu dikembangkan dalam kerangka desentralisasi atau devolusi pendidikan, agar lembaga-lembaga pendidikan dapat mempertahankan akuntabilitasnya terhadap stake holder pendidikan nasional. Menumbuhkan kepedulian masyarakat terhadap pendidikan. Kesadaran masyarakat untuk ambil bagian dalam pendidikan adalah bentuk dari ketahanan sosial atas perubahan tantangan lingkungan yang terjadi. Pendidikan tidak lagi menjadi tanggung jawab orang tua secara individu per individu, tetapi itu tanggung jawab komunitas secara bersama. (7) Mengawal realisasi anggaran pendidikan yang besarnya 20% dari total APBN (Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara) sebagaimana amanah Pasal 31 ayat 4 Amandemen IV UUD 1945. Pendidikan hendaknya mendapatkan proporsi alokasi dana yang cukup memadai agar dapat mengembangkan program-program yang berorientasi pada peningkatan mutu, relevansi, efisiensi dan pemerataan. Untuk itu, perlu ada peningkatan anggaran secara signifikan sehingga mencapai 20% dari APBN yang sedang berjalan. Karena anggaran pendidikan di Indonesia sangat rendah sehingga tidak mempu untuk mendukung berbagai inovasi di bidang pendidikan (Suyanto dan Hisyam, 2000:1113). Pelaksanaan proses pendidikan harus efektif untuk menanamkan jiwa kebebasan, kemandirian, dan kewirausahaan. Dengan begitu anak-anak bangsa yang menjadi peserta didik bisa eksis dalam persaingan di masa datang berbekal keterampilan hidup (life skill) dan daya juang (adversity quotient) yang mumpuni. Kurikulum diarahkan untuk memberi pengalaman belajar yang seimbang yang meliputi aspek intektual (IQ), emosional (EQ), dan spiritual (SQ). Dan titik tekannya adalah membentuk karakter pembelajar agar anak bangsa yang menjadi peserta didik memiliki keinginan untuk belajar di sepanjang

12

hayatnya. Tipe bangsa pembelajarlah yang bisa survive menghadapi persaingan global yang rivalitasnya bukan lagi di tataran negara vs negara atau kota vs kota. Tetapi, sudah di level individu vs individu. Karena itu, menjadi hajat kita bersama untuk memperjuangkan perbaikan dan pembangunan dunia pendidikan di negeri ini. Pada tingkat implementasinya di lapangan banyak hambatan yang menghadang. Di tingkat implementasi perundang-undangan tersebut menghadapi manusia-manusia yang belum berubah. Memang, perundang-undangan tersebut diyakini dalam jangka waktu tertentu jika pelaksanaannya konsisten akan mengubah manusia-manusia Indonesia; tetapi masalahnya dalam pelaksanaannya reformasi itu melibatkan manusia-manusia yang belum mengerti reformasi dan tidak ingin mengerti reformasi karena akan merugikan dirinya jika reformasi dilakukan secara total dan konsisten. Apabila kita berbicara kemampuan dan kesiapan sebagai anak bangsa, tampaknya kita belum siap benar menghadapi persaingan global pada milenium ketiga. Tenaga ahli kita belum cukup memadai untuk siap bersaing di tingkat global. Apabila "dilihat dari pendidikannya, angkatan kerja kita saat ini sungguh sangat memprihatinkan. Sebagian besar angkatan kerja (53%) tidak berpendidikan, yang berpendidikan dasar sebanyak 34%, berpindidikan menengah 11%, dan berpendidikan tinggi hanya 2%. Padahal tuntutan dari dunia kerja pada akhir pembangunan jangka panjang II nanti mengharuskan angkatan kerja kita berpendidikan" [Boediono, 1997:82]. Sebenarnya sektor pendidikan menjadi tumpuan harapan dan memiliki peran strategis dan fungsional dalam upaya membangun dan meningkatan kualitas sumber daya manusia Indonesia. Pendidikan sebenarnya selalu didesain untuk senantiasa berusaha menjawab kebutuhan dan tantangan yang muncul di kalangan masyarakat sebagai konsekuensi dari suatu perubahan. Tetapi pada kenyataannya, kondisi "pendidikan kita masih melahirkan mismatch yang luar biasa dengan tuntutan dunia kerja. Kondisi seperti ini juga berarti bahwa daya saing kita secara global amat rendah [Suyanto dan Hisyam, 2000:3]. Demikianlah, keberhasilan reformasi seperti ditunjukkan di atas telah dihadang oleh masalah manusia yang merupakan subjek dan objek reformasi. Ironisnya program reformasi kita tampaknya tidak memiliki isu yang kuat dan fundamental untuk mengatasi

13

masalah manusia dalam reformasi ini. Isu yang menyangkut manusia ini sering diungkapkan dalam bentuk kritik-kritik budayawan kita terhadap pembangunan pada masa Orde Baru yang mengabaikan manusia, namun sekarang tetap terlupakan. Visi Pendidikan Multikultur Tanpa menutup mata akan adanya kemungkinan isu-isu kritis lain yang menyertai reformasi ini, namun tekad untuk tetap berkontribusi terhadap pembangunan kehidupan bangsa melalui pencerdasannya adalah suatu niat yang bersumber dari refleksi yang mendalam dari kekuatan religius bangsa dalam kehidupan bertakwa kepada Allah SWT dan berawal dari suatu intellectual mindshift. Kalau titik awalnya (TA, Point of Depature : POD) sudah jelas, yaitu kita menyadari (mindshift) bahwa kita belum terlepas dari krisis multi dimensional, maka ke mana anak kita akan kita bawa; ke mana titik tibanya atau Point of Arrival (POA). Perspektif masa depan kita dilukiskan sebagai masyarakat madani yang beragama, ditandai oleh kebersamaan dalam kebhinekaan yang dilandasi oleh keadilan dan kesejahteraan yang berkesinambungan serta dalam keserasian dengan kecendrungan global. Dengan memahami visi tentang perjalanan yang harus di tempuh akan mencapai POA bangsa ini, maka kemudian perlu difahami bagaimana caranya mencapai cita-cita tersebut. Dalam kaitan dengan reformasi pendidikan, maka apa yang menjadi landasan filsafat pendidikan adalah UUD 1945 pasal 31 ayat 1, yang menyebutkan bahwa setiap anak Indonesia berhak untuk belajar. Dengan demikian, maka berdasarkan landasan bahwa setiap anak itu adalah individu yang berbeda satu dengan lainnya dengan beragam bakat dan watak, pengalaman belajar harus menjadi pengaruh yang bersifat personal, bermakna dan beragam. Konsekunsinya adalah bahwa paradigma pendidikan menuju sistem desentralisasi dalam otonom daerah mengacu pada keharusan pendidikan multikultur. Paradigma pendidikan multi kultur mengisyaratkan bahwa individu siswa individual belajar bersama dengan individulain dalam suasana saling menghormati, saling toleransi dan saling memahami. Cara pandang dan interpretasi orang dalam satu budaya etnis tertentu terhadap makna lambang budaya tertentu, demikianpun perilakunya pada umumnya kurang lebih sama

14

dan merupakan microculture tertentu dalam keseluruhan culture yang dominan, atau yang di sebut macroculture (mainstream). Namun, sebagaimana cara orang belajar juga memiliki perbedaan, demikian juga kelompok individu tertentu berbeda perkembangan, ara pandang dan orientasinya sesuai microculture tertentu dan sedikit banyak terbentuk oleh culture tersebut karena society lives through them, harus beradaptasi terhadap mainstream culture yang ada. Mereka adalah peserta didik yang apabila kurang mampu beradaptasi, disebut field dependent atau field sensitive, yaitu mereka mengalami kesulitan menyesuaikan diri dalam lingkungan belajar mereka. Apabila anak tidak dapat menyesuaikan dirinya, maka ada kebutuhan tertentu yang tidak terpenuhi. Apabila kebutuhannya tidak terpenuhi, ia akan mengalami stres atau frustasi, dan apabila seseorang mengalami stres atau frustasi, maka berbagai prilaku yang menyimpang (seperti mudah menipu dan sikap bermusuhan (hostile attitude) akan mungkin bisa menjadi akibatnya. Semua kecenderungan itu merupakan potensi untuk korupsi, tawuran, dsb. Guru harus belajar agar mampu menerapkan strategi pembelajaran kooperatif (cooperative teaching strategies) dalam pergaulan sosial dengan para sisiwa yang memiliki berbagai sifat yang beragam itu dalam suasana belajar yang sangat menyenangkan, sehingga mereka akan saling belajar segi-segi positif dari temannya. Salah satu tujuan utama multicultural education adalah mengubah (transformasi) berbagai pendekatan belajar mengajar, mengubah kunseptualisasi dan organisasinya sehingga setiap individu dari berbagai culture memperoleh kesempatan yang sama untuk belajar dalam lembaga pendidikan. Yang disebut kesempatan yang sama itu bukan semata-mata memperoleh bangku sekolah, melainkan yang lebih penting adalah selain kebersamaan dalam satu kelas, perhatian dan pelayanan penuh juga harus ada terhadap kebutuhan khusus pendidikan (special education needs) setiap individu. Setiap peserta didik menjadi bagian dari kelompok tertentu, kelas sosial, bangsa,etnis,agama, gender, kekhususan tertentu, dan ia bisa menjadi bagian atau menjadi anggota dari berbagai kelompok itu. Bagi pendidik penting untuk menyadari tingkat identifikasi pesertra didik dengan kelompok mana dan sampai seberapa jauh

15

terjadi sosialisasi, untuk bisa memahami, menjelaskan dan meramalkan perilakunya agar ia terlayani dengan baik di kelasnya. Apabila kurikulum sekolah-sekolah kita menggunakan kurikulum berbasis kompetensi yang menunjuk pada kemampuan yang terkait dengan kriteria tertentu (criterion referenced), maka mengintegrasikan pendidikan multikultur dalam mewujudkannya, memerlukan patokan minimal (threshold), dengan rentangan sampai dengan superior. Sekolah yang mengembangkan orientasi “managemen berbasis sekolah” perlu paling sedikit mencapai ambang minimal kompetensi, sedangkan sekolah yang mutunya baik yang mencapai rentangan superior dalam pengelolaan (manajemen)nya, dapat bersaing dengan sekolah-sekolah dari negara lain. Namun apabila Indonesia yang memiliki kurang lebih 210 juta penduduk serta lebih dari 300 suku bangsa dan kurang lebih 17.500 kepulauan, ingin berkompetisi dalam persaingan global, maka primodialisme yang berlatar belakang kesukuan, ras, agama, kelompok, partai, fraksi, golongan, bahkan juga asal pendidikan tidak harus menjadi stereotype dalam kehidupan bernegara, melainkan penghargaan prestasi terhadap prestasi dan integritas pribadi harus lebih dikedepankan. Menumbuh Kembangkan Eksistensi Manusia Pendidikan harus mulai berbenah diri dengan menyusun strategi untuk dapat menyongsong dan menjawab tantangan perubahan masyarakat yang kian cepat. Apabila tidak maka pendidikan akan tertinggal dalam persaingan global. Maka dalam menyusun strategi untuk menjawab tantangan perubahan tersebut, paling tidak harus memperhatikan beberapa ciri, sebagai berikut: Pendidikan Indonesia diupayakan lebih diorientasikan atau "lebih menekankan pada upaya proses pembelajaran (learning) daripada mengajar (teaching)". Pendidikan dapat "diorganisir dalam suatu struktur yang lebih bersifat fleksibel". Pendidikan dapat "memperlakukan peserta didik sebagai individu yang memiliki karakteristik khusus dan mandiri", dan Pendidikan, "merupakan proses yang berkesinambungan dan senantiasa berinteraksi dengan lingkungan" (Zamroni,2000). Keempat ciri ini, dapat disebut dengan paradigma pendidikan sistematik-organik yang

16

"menuntut pendidikan bersifat double tracks, artinya pendidikan sebagai suatu proses yang tidak dapat dilepaskan dari perkembangan dan dinamika masyarakat". Dua hal yang terkait dengan rumusan operasional mengenai hakikat pendidikan ialah proses pendidikan yang berarti menumbuhkembangkan eksistensi manusia. Artinya, bahwa keberadaan manusia ialah keberadaan interaktif, sebagai makhluk individu sekaligus makhluk sosial. Sebagai ‘abdullah sekaligus khalifatullah. Antara tujuan dan fungsi manusia ini sendiri yang kemudian menuntut eksistensi manusia untuk terus dicari pemahaman aplikatifnya seperti apa. Dalam hal ini, benar bahwa prosesi pemaknaan atas eksistensi manusia itu sendiri harus senantiasa berjalan sepanjang waktu. Sepanjang tujuan dan fungsi manusia yakni sebagai ‘abdi dan khalifah belum mampu dipahami, terkonsepsikan, dan teraplikasikan dengan baik maka sejatinya arahan hakikat pendidikan secara menyeluruh belum mampu terwujudkan. Karena salah satu dari keberwujudan eksistensi manusialah yang sampai pada konsekuensi progresifitas pendidikan, yang tak hanya sekedar berdimensi lokalitas tetapi juga global. Tak hanya berdimensi sosial manusia tetapi juga berdimensi Illahiyah. Selanjutnya, merupakan eksistensi manusia yang memasyarakat. Apakah sama hal ini dengan tuntutan peran dari adanya proses pendikan itu sendiri? Bisa dikatakan hampir sama, namun yang lebih signifikan dalam hal ini bahwa eksistensi manusia yang memasyarakat ialah ketika pemahaman unsure pendidikan terdapat lembaga pendidikan dan non lembaga pendidikan, maka sejatinya bukan mencoba mendikotomikan antara lembaga dan non lembaga tersebut. Kenapa demikian? Menjadi kurang tepat jika mengasumsikan bahwa prosesi pendidikan bukan berada di masyarakat karena berada di lembaga pendidikan. Karena sejatinya, antara lembaga dan non lembaga atau masyarakat merupakan peran yang sama, bukan dua hal yang berbeda dalam ruang yang berbeda. Sehingga menjadi kurang tepat lagi, jika kemudian keinginan dari eksistensi manusia— dalam hal ini peran pendidikan mencoba menyiapkan konsepsi sebagai inisiasi memasyarakat tadi, karena pendidikan itu sendiri ada dalam masyarakat. Benar bahwa, tujuan pendidikan bukan diluar proses pendidikan yang mengasumsikan masyarakat, tapi berada dalam pendidikan sendiri.

17

Kebijakan peningkatan mutu selama ini senantiasa cepat direspons sepenuhnya oleh sekolah yang masuk pada kualifikasi “menuju kualitas unggul”. Sekolah pada klasifikasi “memantapkan posisi” juga cepat merespons tetapi banyak mengalami kesulitan. Oleh karena itu, kebijakan peningkatan mutu yang ada akan meningkatkan sekolah-sekolah yang ada pada kualifikasi “menuju kualitas unggul” lebih cepat dibandingkan dengan kualifikasi “memantapkan posisi”, apalagi kualifikasi “hidup tidak mati segan” dan “paspasan”. Dengan peningkatan mutu secara konvensional sebagaimana yang ada selama ini kesenjangan mutu diantara sekolah akan semakin tajam. Dengan pandangan sudut yang berbeda, peningkatan mutu pendidikan konvensional meneguhkan apa yang disebut Self-Fulfilling Prophecies: The Vicious Cycle, sekolah yang kurang bermutu terjebak pada kelemahan sistem sehingga tidak bisa memiliki harapan yang lepas dari “rendahnya mutu”. Sekolah bermutu rendah menjadikan sekolah bermutu rendah. apa yang dicapai juga rendah Apabila kompetensi tidak hanya ditekankan pada penguasaan pengetahuan dan ketrampilan semata, melainkan juga ditekankan pada pengembangan karakter dan soft skill seperti kemampuan berkomunikasi, kemampuan berkolaborasi dan berpartisipasi, secara relatif semua sekolah akan dapat merespons, tanpa melihat kualifikasi kelas sekolah yang ada. Dalam kondisi sekolah semacam ini dalam rangka meningkatkan mutu, kebijakan pertama yang diperlukan adalah perubahan cara pandang (mind setting), baik bagi kepala sekolah, guru, siswa dan juga orang tua siswa. Kepala sekolah harus memiliki cara pandang baru berkaitan dengan sekolah. Yakni, Sekolah bukan pabrik melainkan masyarakat kecil dan a learning community, siswa bukan bahan mentah melainkan individu yang masing-masing memiliki karakteristik berbeda; Guru bukan satu-satunya sumber ilmu, melainkan memberikan arah dan mengantarkan peserta didik untuk menguasai ilmu, dan sekaligus a learning person. Dengan demikian kepala sekolah harus memperlakukan guru sebagai pekerja professional yang mandiri yang tidak perlu senantiasa diperintah atau didikte dan tidak mencari kambing hitam “kualitas masukan” sebagai penyebab rendahnya mutu sekolah.

18

Guru harus memiliki cara pandang baru, bahwa, PBM tidak sederhana, melainkan proses yang penuh ketidak pastian karena melibatkan pikiran, emosi, imaginasi, sikap siswa dan sumber lain yang diperolehnya bukan dari guru; guru bukan pengecer ilmu melainkan Guru adalah a cave (Consistent added value everywhere) worker. Pendidikan Terpadu: Sebuah harapan Pendidikan nasional selama ini tidak memiliki visi yang jelas tentang pemberdayaan manusia Indonesia sendiri. Memang hal ini tergantung pada sistem politik dan kebijakan pendidikan pemerintah, selama pemerintah lebih menitikberatkan pada pemanfaatan dan pengagung-agungan produksi impor maka produksi dalam negeri akan terus mengalami kemerosotan atau bahkan mati sama sekali. Politik ekonomi pemerintah selama ini tidak sejalan dengan politik pendidikannya, politik pendidikannya juga tidak sesuai dengan politik budayanya, demikian juga politik budayanya tidak sesuai dengan politik ideologinya. Atau dengan kata lain antara politik yang satu dengan politik yang lain tidak ada yang sejalan, seirama, dan senafas. Dari segi ideologi, nasionalisme adalah ideologi yang paling dominan, namun ketika berada dalam politik ekonomi dan politik militer berbeda karena lebih mementingkan kepentingan luar negeri dalam arti menggunakan teori-teori Barat dan persenjataan impor. Ini jelas menunjukkan tidak adanya keselarasan dan kesesusaian antara politik ideologi dan politik ekonomi maupun militer. Demikian juga yang terjadi dengan politik pendidikan dan politik lainnya tidak ada yang selaras. Pendidikan di Indonesia sampai saat ini masih berjalan secara parsial dan terpisah-pisah tanpa adanya kordinasi yang jelas dari pemerintah. Parsialisasi ini dapat dilihat dari banyaknya lembaga pendidikan yang berlindung atau didirikan oleh beberapa departemen, misalnya Departemen Pertahanan memiliki Akabri, Akpol dan sebagainya; Departemen Agama memiliki lembaga pendidikan agama, Departemen Keuangan memiliki lembaga pendidikan STAN, Departemen Dalam Negeri memiliki lembaga pendidikan STPDN dan sebagainya. Dasar pemikiran pendirian tersebut di satu sisi adalah untuk pemberdayaan sumber daya manusia masing-masing departemen, namun ada analisis lain yaitu sebagai lahan untuk mendapat anggaran lebih besar. Karena lembaga-lembaga pendidikan di masing-masing departemen merupakan sumber proposal proyek yang sangat strategis.

19

Implikasi dari parsialisasi dan terkesan miskordinasi sistem pendidikan nasional tersebut menyebabkan munculnya bibit-bibit egoisme masing-masing departemen. Kordinasi yang seharusnya menjadi salah satu strategi yang sangat penting menjadi terpental dengan parsialisasi tersebut. Oleh karena itu, barangkali layak dikemukakan di sini dilontarkan adanya ide Pendidikan Nasional Terpadu. Modus operandinya adalah dihilangkannya masing-masing lembaga pendidikan di departemen yang berbeda kemudian dijadikan menjadi satu payung. Namun sebelumnya harus dilakukan kesepakatan bersama secara mantap bahwa payung tersebut harus tetap mengakomodasi kepentingan dan aspirasi masing-masing departemen. Untuk menyelaraskan perlu kiranya digagas politik pendidikan nasional terpadu yang mencakup dan sejalan dengan politik ideologi, politik pemerintahan, politik budaya, politik ekonomi, politik hukum, dan politik-politik lainnya. Hal ini dimaksudkan untuk memperjelas visi pendidikan nasioanl terpadu sebagai upaya untuk keluar dari keterpurukan multidimensional bangsa Indonesia ini. Dengan konsep pendidikan nasional terpadu visi pendidikan nasional adalah jelas pemberdayaan manusia Indonesia dalam seluruh aspek kehidupan, seluruh sector kehidupan, seluruh disiplin keilmuan, seluruh lapisan masyarakat, seluruh strata sosial, seluruh kerangka ajaran agama, seluruh etnis bangsa, seluruh budaya bangsa, seluruh tradisi local masyarakat, dan seluruh harapana manusia Indonesia. Pendidikan nasional terpadu artinya memberikan kesempatan kepada masyarakat Indonesia seluruhnya untuk mengembangkan minat, bakat, potensi, kreativitas, dan keterampilannya yang kemudian didukung sepenuhnya dan diakui sepenuhnya oleh dunia industri serta pemerintah dengan aturan hukum yang jelas dan tegas. Pemberdayaan lewat pendidikan tentunya perlu dilakukan perombakan sistem pendidikan secara menyeluruh dimana tindakan-tindakan dan praktik-praktik penyelewengan sebagaiman dikemukakan di sub sebelumnya telah terbabat habis dalam proses pendidikan nasional. Kualitas alumni bukan hanya dinilai dari keberhasilan menduduki jabatan akan tetapi dinilai sejauh mana alumni tersebut

20

telah memberikan sumbangan bagi pemberdayaan masyarakat. Inilah yang barangkali menjadi idaman manusia Indonesia seutuhnya dan para founding father negara Indonesia. Pendidikan nasional selama ini tidak pernah bersahabat dengan dunia industri. Dunia industri seakan-akan berada di luar dunia pendidikan nasional. Padahal dunia industri dan pendidikan adalah dua pihak yang saling membutuhkan. Industri di sini mencakup seluruh jenis industri misalnya industri pertanian, industri kehutanan, industri kesehatan, industri olah raga, industri pendidikan, industri kelautan, industri komunikasi, industri transportasi, industri informasi, industri militer dan intelijen, industri budaya, industri arsitektur, industri keuangan, industri entertainment, industri hukum, industri media massa dan sebagainya. Simbiosis mutalisme di atas merupakan satu-satunya sarana yang paling strategis bagi peningkatan kualitas pendidikan nasional. Dengan adanya simbiosis mutualisme inilah yang kemudian memunculkkan konsep pendidikan nasional terpadu. Artinya segala kebutuhan kehidupan manusia Indonesia diupayakan dipenuhi dengan membuat penelitian yang kemudian memproduksinya. Semua ini dilakukan oleh puteraputeri Indonesia betapapun buruknya kualitas bila hal itu adalah produk dalam negeri harus dihormati dan harus dikembangkan oleh pendidikan yang ada dengan penelitian yang intensif. Atau dengan kata lain bahwa hasil penelitian yang dilakukan dan ditemukan oleh ilmuwan Indonesia harus direspons dan didukung sepenuhnya oleh dunia industri. Bukan hanya menerima jadi dari luar negeri, karena betatapun bagusnya produk luar negeri lambat laun akan menyengsarakan dan memiskinkan masyarakat Indonesia sendiri. Adanya penyatuan payung pendidikan nasional dalam satu departemen. Departemen ini benar-benar bertanggung jawab secara nasional baik dalam hal kualitas, standar minimal lulusan, dan standar kesuksesan seorang alumni. Sebagai payung pendidikan secara nasional berarti dia memiliki kewenangan dalam menentukan berbagai komponen pendidikan. Departemen ini memiliki jaringan yang sangat kuat dengan berbagai departemen. Jaringan tersebut didasarkan pada hubungan saling mengisi dan bertanggung jawab. Artinya bahwa departemen pendidikan nasional terpadu ini harus memiliki ikatan structural, fungsional, emosional, dan intelektyal dengan departemen lain. Misalnya

21

dengan Departemen Pertahanan, maka departemen pendidikan nasional terpadu ini bekerja sama secara intensif dalam hal penyelenggaraan pendidikan, penelitian dan pengembangan teknologi persenjataan militer. Kerja sama bentuk ini dimaksudkan untuk mnegurangi ketergantungan tekonologi militer kepada lura negeri. Penelitian yang intensif dengan dukungan dana yang cukup serta langsung dipraktikkan dalam departemen yang bersangkutan merupakan bentuk kerja sama yang saling menguntungkan dan memberdayakan. Departemen pendidikan nasional yang terpadu dalam penelitian persenjataan tersebut bukan hanya berkaitan dengan persenjataan dengan teknologi tingkat menengah, akan tetaoi juga teknologi tingkat tinggi yang tentunya memerlukan para ahli militer, arsitektur, nuklir, fisika, elektro dan keahlian lain yang mendukung pengembangan persenjataan canggih. Demikian juga kerja sama dengan departemen lain misalnya departemen pertanian, keuangan, kesehatan dan sebagainya. Dengan demikian, departemen pendidikan nasional terpadu ini bukan berarti berada di atas departemen lainnya, akan tetapi merupakan satu-satunya departemen yang memiliki otoritas di bidang pendidikan, penelitian, dan pengembangan sebagai upaya untuk memberdayakan masyarakat Indonesia seluruhnya. Kepercayaan tersebut merupkan modal yang sangat luar biasa ampuhnya bagi pencurahan perhatian kemajuan dan peningkatan kualitas pendidikan nasional. Kepercayaan yang saat ini menguap dari masing-masing pihak merupakan akibat secara tidak langsung dari terpecahnya konsentrasi pengelola pendidikan nasional. Di satu sisi departemen ini mengurusi dan bertanggung jawab terhadap kualitas pendidikan nasional, namun di sisi lain tidak mampu mengakses dan memberikan regulasi yang tegas terhadap lembaga yang ada di bawah naungannya. Kepercayaan tersebut bisa dimunculkan kembali jika pemerintah memilki political will yang kuat dan konsisten terhadap kualitas pendidikan nasional, karena pada dasarnya pemerintah Indonesia hanya ada satu dan berada di bawah kekuasaan satu presiden dan satu wakil presiden dengan bekerja sama dengan DPR. Apalagi menghadapi sistem pemerintahan Indonesai hasil pemilihan umum 2004 ini yang

22

lebih menganut sistem presidensil, maka peemrintah mnemiliki kekuasaan yang luar biasa dalam menentukan hitam putih, merah biru, hijau kuningnya pendidikan nasional. Pendidikan nasional pada dasarnya adalah otak dari sebuah badan besar yakni negara Indonesia. Jika otak tersebut dipisah-pisah baik energi, potensi maupun kekuatannya, maka kinerja otak tersebut tidak akan bisa maksimal. Demikian juga dengan pendidikan nasional bila kekuatan, energi, dan potensinya dipisah-pisahkan ke masing-masing departemen, maka performancenya juga tidak akan bisa mencapai maksimal. Sebagai kekuatan utama dalam pendidikan nasional, maka pendidikan nasional terpadu ini mencakup seluruh disiplin keilmuan yang berkembang saat ini. Kinerjanya dapat ditentukan dengan target jangk apendek, jangka menengah, dan jangka panjang. Namun semua itu tidak boleh melupakan aspek moralitas yang menjadi kendali utama sistem pendidikan nasional terpadu ini. Sebab tanp adanya kendali moralitas yang tinggi, maka pemusatan kekuatan, potensi dan energi akan menjadi sasarn empuk bagi para "tikustikus intelektual" yang tidak mengenal tempat dan waktu itu. Dengan demikian, pemanfaatan departemen pendidikan sebagai muara satu-satunya seluruh proses pendidikan nasional menjadi mudah dimonitor. Tentunya semua ini didasarkan pada legislasi dan hukum yang jelasa dan mantap tidak interpretable dan multi tafsir. Pendidikan nasional terpadu secara politik merupakan strategi nasional pemerintah yang sedang berkuasa dalam rangka meningkatkan kualitas manusia Indonesia untuk melepaskan diri dari ketergantungan dalam bentuk apapun dari negara lain. Berdiri di atas kekuatan, kemampuan, kekayaan, sumber daya alam, dan keterampilan sendiri adalah visi politik pendidikan nasional terpadu. Dengan visi ini dimungkinkan adanya kebanggaan bagi para pengelola pendidikan karena benar-benar diperhatikan oleh dunia industri lainnya. Politik pembangunan infrastruktur, suprastruktur, dan superstruktur harus memberdayakan seluurh lapisan masyarakat baik secara sosial, politik, ekonomi, budaya, maupun ideologi melalui pendidikan. Dengan menjadikan pendidikan nasional terpadu sebagai strategi nasional pemerintah, maka sebagai konsekuensi logis, konsekuensi, administrative, konsekuensi responsibiltas,

23

dan konsekuensi politik pemerintah harus menyediakan dana anggaran sesuai dengan tuntutan konstitusi hadir amandemen yang mengamanatkan 20 persen dari total APBN. Komitmen pengucuran dana sedemikian besar tentunya dibarengi dengan ketatnya nilai moralitas bangsa sedemikian rupa sehingga para pengelola tidak lupa diri dengan bergelimangnya dana anggaran pendidikan nasional terpadu. Hal ini harus mulai dirintis dari proses pendidikan tingkat dasar, menengah, dan pendidikan tinggi. Moralitas bangsa adalah satu-satunya tolok ukur keberhasilan peningkatan kualitas pendidikan nasional terpadu. Karena dengan moralitas tinggi, maka kemungkinan bocornya anggaran dana akan dapat diminimalisir. Harapan ini bukan merupakan ilusi dan obsesi intelektual dan bersifat teoritik belaka, akan tetapi bila semua pihak memiliki komitmen bahwa siapa yang salah harus dipecat dan siapa yang jujur harus terus didukung, maka moralitas bangsa akan menjadi baik dan itu harus dimulai dari sekarang dan melalui jalur politik pendidikan nasional terpadu. Politik pendidikan dalam rangka pemberdayaan seluruh masyarakat Indonesia dan penanaman moralitas merupakan sasaran dan tujuan utama pendidikan nasional terpadu. Moralitas bangsa merupakan landasan spiritual yang tidak mampu dibangun dalam waktu singkat. Penanaman moralitas bangsa harus dipupuk dan tidak pernah lengah sebentarpun dalam proses pendidikan. Oleh karena itu, pelakasanaan proses pendidikandari sejak tingkat dasar, menengah sampai perguruan tinggi harus senantiasa dikawal moralitas peserta didik. Peserta didik yang secara moral tidak lolos dan memiliki standar moral rendah tidak berhak mengenyam pendidikan lebih tinggi. Karena semua itu akan sangat merugikan masyarakat lainnya. Di saat yang sama pemberdayaan seluruh potensi, minat, bakat, kreativitas, dan keterampilan baik di bidang teknologi, budaya, tradisi, seni, intelektual, sastra dan sebagaianya haru smendapatkan prioritas utama dalam pendidikan. Sebagaimana diungkap di atas semua itu mendapat dukungan penuh dari politik pemerintah yang sedang berkuasa dan dunia industri yang terkait. Pemerintah terus mengawal kerja sama dan jaringan kerja antara lembaga pendidikan dengan dunia industri sebagai langkah untuk melepaskan diri dari ketergantungan terhadap negara lain. Sebagaimana juga diungkap di atas industri di sini mencakup industri dalam seluruh aspek kehidupan masyarakat dan bangsa.

24

Kebijakan Pendidikan : intervensi pemerintah dalam pendidikan Dalam perjalanan sejarah, sistem pendidikan di Indonesia berulang kali berganti. Mulai dari rentetan kurikulum di era Orde Baru, Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK) dan Kurikulum Terpadu Satuan Pendidikan (KTSP). Berubahnya kurikulum yang cepat dalam rentang waktu yang pendek mengakibatkan kegagapan sistem di kalangan pendidik serta pelajar. Guru yang seharusnya mengawal proses pendidikan tidak menguasai sepenuhnya konsep pendidikan yang digulirkan oleh pemerintah. Pendidikan bangsa pun tak jelas arahnya, karena sistem yang dijalankan hanya merupakan adopsi sistem pendidikan dari luar negeri yang sudah basi. Sistem pendidikan comotan dari luar negeri yang dipuja-puja ternyata telah menjadi sampah di negeri asalnya. Institusi pendidikan semestinya berada di garda terdepan dalam memproduk manusia beradab agar bisa membangun peradaban yang bermartabat. Namun, masalahnya sistem dan paradigma pendidikan Indonesia yang bercorak materialis saat ini cenderung menghasilkan cendekiawan yang pragmatis. Peningkatan mutu sekolah tidak bisa melepaskan diri dari intervensi politik. Memang pendidikan khususnya sekolah bukan lembaga atau organ politik, namun kebijakan pemerintah yang harus dilaksanakan adalah merupakan kebijakan politik. Dalam banyak hal sekolah tidak bisa menghindari dari politik ini. Artinya, sekolah mau tidak mau harus tunduk dan patuh pada intervensi politik pemerintah. Betapapun sekolah, kepala sekolah dan guru, meyakini bahwa kebijakan tersebut tidak baik dan tidak pas untuk sekolahnya, tetap saja sekolah harus menerima dan melaksanakan. Sebutlah sebagai contoh, kebijakan Ujian Nasional, KTSP, sertifikasi guru dengan porto folio, SBI, sekolah gratis dengan membebankan pada sekolah. Sudah barang tentu intervensi politik dari pemerintah ini tidak jarang menjadikan upaya peningkatan mutu sekolah semakin berat. Peningkatan mutu sekolah, dapat disebut sebagai suatu perpaduan antara knowledgeskill, art, dan entrepreneurship (Zamroni, 2009). Suatu perpaduan yang diperlukan untuk membangun keseimbangan antara berbagai tekanan, tuntutan, keinginan, gagasangagasan, pendekatan dan praktik. Perpaduan tersebut di atas berujung pada bagaimana

25

proses pembelajaran dilaksanakan sehingga terwujud proses pembelajaran yang berkualitas. Semua upaya peningkatan mutu sekolah harus melewati variabel ini. Proses pembelajaran merupakan faktor yang langsung menentukan kualitas sekolah. Pembelajaran adalah proses yang kompleks rumit dimana berbagai variable saling berinteraksi. Banyak variable dalam proses interaksi antara guru dan siswa berkaitan dengan suatu materi tertentu yang tidak dapat dikendalikan secara pasti. Terdapat keterkaitan berbagai yang sulit untuk diindentifikasi mana yang mempengaruhi dan mana yang dipengaruhi. Hasil pembelajaran tidak bisa diestimasi secara matematis, pasti. Anak yang kecapekan atau kurang gizi atau memiliki persoalan pribadi jelas akan mempengaruhi proses dan hasil pembelajaran. Demikian pula kemiskinan dan kondisi keluarga akan berpengaruh. Siswa yang memiliki motivasi dan yang tidaki memiliki akan berbeda dalam kaitan dengan proses dan hasil pembelajaran. Dengan singkat, apa pengaruh eksternal dan internal dalam diri siswa yang akan mempengaruhi proses dan hasil pembelajaran. Dan sekali lagi, tidak semua pengaruh tersebut dapat dikendalikan oleh kepala sekolah dan guru. Sebagai suatu proses interaksi antara siswa dan guru berkaitan dengan materi tertentu, maka tidak hanya kondisi siswa yang berpengaruh, tetapi juga kondisi guru tidak kalah pentingnya mempengaruhi kualitas pembelajaran. Pepatah mengatakan, “kalau ingin melihat prestasi siswa lihatlah kualitas gurunya”. Kondisi guru yang bervariasi berarti kualitas dan hasil pembelajaran juga akan bervariasi. Semakin tinggi kesenjangan kualitas guru, semakin tinggi kesenjangan prestasi siswa. Kualitas interaksi juga dipengaruhi oleh keberadaan dan kualitas fasilitas, termasuk kurikulum yang dipergunakan. Kualitas Pembelajaran : Inti reformasi pendidikan Peningkatan mutu atau kualitas pembelajaran merupakan inti dari reformasi pendidikan di negara manapun. Hal ini disebabkan oleh asumsi bahwa, peningkatan mutu sekolah yang memiliki peran penting dalam peningkatan mutu pendidikan nasional, tergantung pada kualitas pembelajaran. Namun, peningkatan kualitas pembelajaran sangat bersifat

26

kontekstual, sangat dipengaruhi oleh kondisi sosial dan kultural sekolah dan lingkungannya. Berbagai penelitian menunjukan bagaimana bagaimana pentingnya kondisi dan lingkungan sekolah mempengaruhi kualitas pembelajaran, seperti, dalam penelitian tentang sekolah efektif (Purkey & Smith, 1983), kerja guru dan pembelajaran (McLaughlin Talbert, 1993), retrukturisasi sekolah dan kinerja organisasi (DarlingHammond, 1996), yang semuanya ini bermuara pada suatu pernyataan “apabila ingin meningkatkan kualitas pembelajaran, kualitas sekolah sebagai satu kesatuan dimana pembelajaran berlangsung harus ditingkatkan”. Sebagai lembaga internasional yang bergerak di bidang budaya dan pendidikan, UNESCO banyak memberikan perhatian dan berupaya mendorong peningkatan mutu sekolah di banyak negara, khususnya negara-negara sedang berkembang. Setiap tahun UNESCO kantor Asia & Pasifik bekerjasama pemerintah China dan Thailand secara bergantian menyelenggarakan seminar innovasi pendidikan yang difokuskan pada peningkatan mutu sekolah. UNESCO memiliki resep bahwa untuk meningkatkan kualitas sekolah diperlukan berbagai kebijakan, yang mencakup antara lain (UNESCO, 2001 dalam Zamroni, 2009): 1. Sekolah harus siap dan terbuka dengan mengembangkan a reactive mindset, menanggalkan “problem solving” yang menekankan pada orientasi masa lalu, berubah menuju “change anticipating” yang berorientasi pada “how can we do things differently”. 2. Pilar kualitas sekolah adalah Learning how to learn, learning to do, learning to be, dan learning to live together. 3. Menetapkan standard pendidikan dengan indikator yang jelas. 4. Memperbaharui dan kurikulum sehingga relevan dengan kebutuhan masyarakat dan peserta didik. 5. Meningkatkan pemanfaatan ICT dalam pembelajaran dan pengeloaan sekolah. 6. Menekankan pada pengembangan sistem peningkatan kemampuan professional guru. 7. Mengembangkan kultur sekolah yang kondusif pada peningkatan mutu. 8. Meningkatkan partisipasi orang tua masyakat dan kolaborasi sekolah dan fihak-fihak lain. 9. Melaksanakan Quality Assurance.

27

Definisi tunggal kualitas sekolah yang diterima banyak fihak sulit untuk dirumuskan. Apalagi, rumus definisi mutu sekolah amat terkait dengan tujuan dan strategi pendidikan yang ada. Begitu pula kualitas sekolah dipersepsikan berbeda-beda menurut kepala sekolah, guru, siswa dan orang tua siswa. Kualitas sekolah memiliki berbagai makna. Seperti, a)bisa berupa suatu konsensus tidak tertulis atas kondisi-kondisi sekolah, yang kemudian menjurus sekolah favorit di satu ujung dan dan sekolah “terlihat” di ujung lain; b)kualitas input yang ada; c)kualitas proses yang terjadi; d)kualitas kurikulum yang tercermin dalam kegiatan sekolah seharihari; e)kualitas output, baik dalam bentuk pencapaian ataupun dalam bentuk “gain score”; f)value added, dalam, arti sejauh mana sekolah secara totalitas mengalami peningkatan; dan, g)jumlah lulusan yang diterima Perguruan Tinggi ternama. (Prof. Zamroni, 2009). Dalam kaitan dengan mutu sekolah, UNICEF mendeskripsikan sebagai suatu kondisi dimana: a)siswa sehat, bergizi, dan siap mengikuti proses pembelajaran dan dapat dukungan dari orang tua siswa dan masyarakat; b)lingkungan sekolah sehat, aman, tidak bias gender dan fasilitas belajar tercukupi; c)kurikulum sekolah menjamin siswa mendapatkan pelajaran yang memadai, khususnya pengetahuan dan ketrampilan untuk hidup; d)proses dilaksanakan oleh guru yang terlatih dengan menekankan pada pendekatan “learner-centered teaching”, manajemen kelas yang berkualitas, evaluasi dan penilaian yang tepat, dan bisa mengurangi disparitas hasil dari berbagai latar belakang yang ada; dan, e)outcome sesuai dengan kebutuhan pembangunan nasional dan aktif berpartisipasi dalam kehidupan masyarakat. Namun, selama ini pembicaraan mutu sekolah cenderung dititik beratkan pada pengetahuan dan ketrampilan yang dikuasai oleh siswa. Memang, sangat sering dibicarakan secara filosofis dan teoritis siswa harus memiliki cipta, karsa, rasa atau siswa memiliki otak, hati dan budi, tetapi pada akhirnya tetap saja mutu kembali pada seberapa jauh siswa sudah menguasai pengetahuan dan ketrampilan yang telah diajarkan di sekolah. Lebih ironis lagi, pengetahuan yang dikuasai siswapun diestimasi dengan pendekatan yang dangkal: kemampuan menghafal.

28

Makna mutu hanya diartikan sebagai kemampuan penguasaan pengetahuan merupakan suatu realitas. Secara sadar dan terencana kondisi ini harus diubah. Perubahan dalam kaitan dengan mutu ini merupakan keharusan, khususnya apabila dikaitkan dengan masa depan, era baru abad 21. Mereka yang tidak mau berubah akan menjadi terasing dan tertinggal zaman. Dengan puitis, Eric Hoffer (1971) pemikir berkebangsaan Amerika Serikat menyatakan: “In times of change, learners inherit the Earth, while the learned find themselves beautifully equipped to deal with a world that no longer.” Seorang ahli pendidikan, lebih spesifik tokoh manajemen dan kebijakan pendidikan, Michael Fullan (1994), menegaskan bahwa perubahan tidak dapat dihindarkan. Banyak pendidik terbawa arus perubahan masa depan, dengan berbagai euphoria, tetapi tidak menyadari masa depan itu sendiri, dengan lebih senang mempertahankan status quo. Fullan mengingatkan dengan keras bahwa “yesterday’s scores will not win tomorrow’s ball games.” Oleh karena itu, “if you are not part of the future, you’re history!”. Berkaitan dengan perubahan di dunia pendidikan, futurist Alvin Toffler (1999) menegaskan bahwa: “The illiterate of the 21st century will not be those who cannot read and write, but those who cannot learn, unlearn, and relearn.” Pendidikan berfungsi untuk mempersiapkan generasi baru mampu hidup dan sukses menjalani kehidupan di masa depan, maka sekolah harus memahami dan mengidentifikasi kompetensi apa yang diperlukan untuk masa depan itu. Jose J. Soto (2005) mengidentifikasi kompetensi yang diperlukan di abad 21 bagi kehidupan masyarakat yang mulkultural, antara lain: a)memiliki integritas pribadi yang kokoh dengan memegang teguh etika bertanggung jawab bagi kemajuan masyarakatnya dan memegang teguh etika dalam perilaku pribadi dan profesionalnya; b)menjadi a learning person, senantiasa memperluas dan memperdalam pengetahuan dan skills yang dimiliki; c)memiliki kemampuan berkerjasama dengan segala perbedaan yang dimiliki; d)menguasai dan memanfaatkan ITC; dan, e)mampu mengambil keputusan yang senantiasa berlandaskan kepentingan masyarakat luas. Lembaga lain, UNESCO menekankan pada empat pilar sebagai kemampuan dasar yang

29

harus dihasilkan oleh dunia pendidikan. Keempat pilar tersebut adalah: a)learning to do (solve daily problems); b)learning to know (keep learning); c)learning to be (ethically responsible) and d)learning to live together (the ability to respect and work with others). Dalam suatu seminar berkaitan dengan reformasi pendidikan untuk meningkatkan pendidikan yang bermutu, Kay (2008) menganalisis perkembangan yang akan terjadi di abad 21 dan mengidentifikasi kompetensi apa yang diperlukan dan menjadi tugas pendidikan untuk mempersiapkan warga negara dengan kompetensi tersebut. Terdapat 5 kondisi atau konteks baru dalam kehidupan berbangsa, yang masing-masing memerlukan kompetensi tertentu. Yakni, a)kondisi kompetisi global (perlu kesadaran global dan kemandirian), b)kondisi kerjasama global (perlu kesadaran global, kemampuan bekerjasama, penguasaan ITC), c)pertumbuhan informasi (perlu melek teknologi, critiacal thinking & pemecahan masalah), d)perkembangan kerja dan karier (perlu Critical Thinking & pemecahan masalah, innovasi & penyempurnaan, dan, fleksibel & adaptable), e)perkembangan ekonomi berbasis pelayanan jasa, knowledge economy (perlu Melek informasi, Critical Thinking dan pemecahan masalah). Jadi menurut Kay diatas sekolah harus mempersiapkan siswa dengan kemampuan: a)kesadaran global, b)watak kemandirian, c)kemampuan bekerjasama secara global, d)kemampuan menguasai ITC, e)kemampuan melek teknologi, f)kemampuan intelektual yang ditekankan pada critical thinking dan kemampuan memecahkan masalah, g)kemampuan untuk melakukan innovasi & menyempurnakan, dan, h) memiliki pengetahuan dan ketrampilan yang bersifat fleksibel & adaptabel. Menurut Kay (2008) ini, mutu sekolah ditentukan bagaimana jawaban atas pertanyaan: a)apakah siswa mampu berpikir kritis dan memecahkan masalah. b)apakah siswa memiliki kesadaran global. c)apakah siswa memiliki kemandirian. d)apakah siswa mampu bekerjasama dengan baik. e)apakah siswa melek teknologi. f)apakah siswa memiliki watak pembaharu. g)apakah siswa mampu berkomunikasi secara efektif. Kalau jawaban “ya”, maka sekolah itu bermutu. Semakin tinggi skore dekat dengan ya, semakin bermutu sekolah itu. Selanjutnya, berdasarkan kemampuan tersebut diatas, Kay (2008)

30

mengidentifikasi 5 kemampuan yang amat penting dalam kehidupan, yakni, a)etika kerja, b)kemampuan berkolaborasi, c)kemampuan berkomunikasi, d)tanggung jawab sosial, dan, e)berpikir kritis dan memecahkan masalah. Sejalan dengan kajian Kay ini, Departemen Pendidikan New Zealand melakukan reformasi kurikulum dengan menekankan bahwa para siswa harus menguasai lima kemampuan dasar. Yakni, a)kemampuan berpikir kritis dan memecahkan masalah (critical thinking dan problem solving)), b)kemampuan mempergunakan bahasa, symbolsimbol dan teks, c)kemampuan mengendalikan diri sendiri (mampu memotivasi diri sendiri, memiliki sikap “bisa mengerjakan” “a can-do attitude”, mampu merencanakan masa depan), d)kemampuan berhubungan dan bekerjasama (kemampuan untuk mendengarkan, kemampuan mengenali perbedaan pendapat, kemampuan bernegosiasi, kemampuan berpikir bersama) dan, e)kemampuan berpartisipasi dan berkontribusi bagi kesejahteraan masyarakatnya (kemampuan untuk berpartisipasi dalam berbagai kegiatan, kemampuan berkontribusi, kemampuan menciptakan peluang). Kemampuan dasar ini dikembangkan-diaplikasikan pada setiap mata pelajaran yang ada. Barangkali akan muncul pertanyaan apakah perkembangan abad 21 diatas relevan bagi bangsa Indonesia yang masih berstatus sebagai negara sedang berkembang. Perkembangan dan perubahan kehidupan masyarakat mengarah pada satu trend besar dan universal, yakni perubahan dan kemajuan. Sebagai negara terbuka, bangsa Indonesia akan masuk arus besar tersebut. Pengalaman perkembangan teknologi selama ini menunjukan tingkat perkembangan yang terjadi amat cepat dan dampaknya juga cepat menyebar dalam berbagai aspek kehidupan termasuk dalam aspek kultur. Oleh karena itu, bangsa Indonesia harus mempersiapkan diri dengan baik dan masuk arus perubahan dengan cerdas agar bisa memanfaatkan peluang yang ada, tidak sekedar memperoleh dampak negatif belaka. Kompetensi abad ke 21 harus pula dijadikan acuan dalam pendidikan Indonesia. Sekolah, khususnya kepala sekolah dan guru harus mulai mengubah mind set nya. Mengajar tidak sekedar mentransfer ilmu pengetahuan, teknologi dan ketrampilan, melainkan mengajar

31

juga mentransfer kehidupan. Implikasi yang paling dekat adalah semua guru, tidak pandang mata pelajaran yang diampu, memiliki tanggung jawab membangun moral dan karakter siswa. Dengan kata lain membangun karakter atau watak merupakan tujuan utama dalam proses pembelajaran. Tapi sayangnya pengembangan karakter tidak bisa diajarkan, melainkan dikembangkan lewat proses pembiasaan. Oleh karena itu, perilaku guru harus bisa dijadikan tauladan bagi para siswanya. Sekolah, sendiri harus merupakan kancah kehidupan tempat pembangunan karakter berlangsung. Cara Pandang Interaktif terhadap Kualitas Output Paradigma pendidikan sistemik-organik menekankan bahwa proses pendidikan formal, sistem persekolahan, harus memiliki ciri-ciri: (1) pendidikan lebih menekankan pada proses pembelajaran (learning) daripada mengajar (teaching); (2) pendidikan diorganisir dalam struktur yang fleksibel; (3) pendidikan memperlakukan peserta didik sebagai individu yang memiliki karakter khusus dan mandiri; dan (4) pendidikan merupakan proses yang berkesinambungan dan senantiasa berinteraksi dengan lingkungan (Zamroni, 2000). Paradigma pendidikan sistemik-organik menuntut pendidikan bersifat doubletracks, yaitu pendidikan sebagai proses yang tidak bisa dilepaskan dari perkembangan dan dinamika masyarakatnya. Karena makin rumit dan kompleksnya persoalan yang dihadapi oleh dunia pendidikan, dibutuhkan paradigma pendidikan masa depan yang dinilai lebih mampu menjawab tantangan zaman, yaitu paradigma pendidikan sistemik-organik yang menekankan bahwa segala objek, peristiwa, dan pengalaman merupakan bagian-bagian yang tidak terpisahkan dari suatu keseluruhan yang utuh. Dunia pendidikan senantiasa mengaitkan proses pendidikan dengan masyarakat pada umumnya dan dunia kerja pada khususnya. Dengan system semacam ini, dunia pendidikan kita diharapkan mampu menghasilkan lulusan yang memiliki kemampuan dan fleksibilitas tinggi untuk menyesuaikan dengan tuntutan zaman yang senantiasa berubah dengan cepat. Proses pendidikan berlangsung di sekolah mencakup tiga komponen utama, proses pembelajaran, manajemen sekolah dan kultur sekolah. Ketiga komponen ini saling

32

berinteraksi dan saling pengaruh mempengrahi, memiliki hubungan sebab akibat secara timbal balik. Sekolah sebagai suatu entitas mandiri mendapatkan masukan berupa siswa dan masukan instrumental seperti kurikulum, guru, buku, peralatan laboratorium. Keberadaan dan kualitas masukan instrumental bisa mempengaruhi pula kualitas proses yang ada di sekolah. Namun, bagaimana pengaruh kualitas masukan instrumental terhadap proses yang berlangsung di sekolah akan sangat tergantung pada kepemimpinan kepala sekolah. Artinya, pengaruh tidak bersifat linier dan pasti, melainkan dinamis interaktif. Oleh karena itu, kondisi masukan yang sama diantara berberapa sekolah dampaknya bisa berbeda bagi proses dan kualitas lulusan sekolah. Hal ini meneguhkan bagaimana pentingnya peran posisi kepala sekolah dalam peningkatan mutu. Cara pandang input prosesoutput yang bersifat linier harus ditinggalkan dan diganti cara pandang yang dinamis interakti.(Zamroni, 2009). Sekolah bisa dilihat sebagai institusi yang memiliki 3 level: level kelas, level mediator, dan level manajemen. Input yang ada bisa langsung ke salah satu diantara level ini. Output sekolah, bermutu atau tidak, sangat ditentukan oleh proses yang terjadi pada level kelas, dimana berlangsung pembelajaran. Namun proses pembelajaran yang ada akan ditentukan oleh level mediator, yakni keberadaan dan kualitas guru. Demikian pula, kinerja guru sangat ditentukan oleh level manajemen. Dalam level manajemen inilah kultur sekolah memiliki pengaruh yang amat besar. Pencapaian kompetensi yang dihasilkan berkaitan erat dengan bagaimana pembelajaran dilaksanakan, oleh karena itu kebijakan ke tiga adalah meningkatkan kemampuan guru dalam mengelola proses pembelajaran. Sebagaimana dikemukakan diatas membangun karakter menjadi tujuan penting bagi mata pelajaran apapun juga. Karakter yang perlu ditanamkembangkan pada diri siswa adalah karakter yang diperlukan untuk abad 21, sebagaimana dirumuskan Kay (2008). Yakni, a)etika kerja, b)kemampuan berkolaborasi, c)kemampuan berkomunikasi, d)tanggung jawab sosial, dan, e)berpikir kritis dan memecahkan masalah. Tujuan mewujudkan kompetensi ini menuntut proses pembelajaran menekankan keseimbangan dari empat dasar: menghafal, analitis, kreatif, dan praktis. Evaluasi pembelajaran harus pula bertumpu pada empat dasar ini.

33

Setelah sekolah memiliki kesadaran diri sebagai entitas utuh mandiri dan memiliki cara pandang baru, termasuk tujuan sekolah tidak semata-mata menekankan pada kemampuan ilmu dan teknologi, tetapi juga menekankan pada pengembangan moral siswa, dan telah ada perubahan dalam penekanan pembelajaran, maka kebijakan keempat yang diperlukan adalah meningkatkan kemampuan kepala sekolah untuk melakukan capacity building. Di sekolah memiliki banyak dan berbagai macam kegiatan yang dilakukan oleh warga sekolah. Guru memiliki tujuan, demikian pula siswa memiliki rencana yang akan dicapai. Masing-masing kelas memiliki rencana dan tujuan kegiatan. Guru BP juga memiliki kegiatan untuk mencapai tujun tertentu. Semua kegiatan tersebut diatas harus diatur, ditata dan disinkronkan sehingga menuju satu tujuan terciptanya proses pembelajaran yang berkualitas untuk mewujudkan prestasi yang berkualitas pula. Penyatuan dan sinkronisasi menyatukan semua potensi inilah yang disebut dengan Capacity Building (Zamroni, 2000). Kebijakan ke lima dalam peningkatan mutu adalah menekankan peningkatan kemampuan profesional guru yang berkesinambungan (Countinues professional development bagi guru) berlangsung di sekolah. Untuk itu, budaya kolaborasi perlu dikembangkan di kalangan sekolah. Kultur, watak dan semangat berkolaborasi perlu dikembangkan diantara warga sekolah khususnya diantara para guru sangat penting karena merupakan fondasi untuk berlangsungnya peningkatan kemampuan professional guru. Upaya peningkatan kemampuan professional guru yang paling efektif adalah guru yang dikenal lebih memiliki kemampuan melakukan observasi guru lain yang tengah melaksanakan pembelajaran, kemudian observer memberikan masukan kepada yang bersangkutan. Semangat berkolaborasi juga diperlukan diantara sekolah yang ada, khususnya yang lokasinya berdekatan. Sebab, peningkatan kemampuan professional guru yang paling efektif lagi efisien adalah apabila berlangsung di sekolah atau antar sekolah yang berdekatan. Untuk itu, situasi dan semangat kompetisi yang berlebih-lebihan perlu untuk dikendalikan, dan diganti dengan semangat berkolaborasi. Kebijakan keenam dalam peningkatan mutu adalah mengembangkan sistem data dan

34

informasi yang baik yang dapat dipergunakan dalam pengelolaan sekolah termasuk dalam proses pembelajaran. Semua kegiatan di sekolah dicatat, disusun dan ditransfer sebagai data kuantitatif, sehingga netral, objektif dan memiliki mana yang sama bagi siapapun juga. Proses peningkatan mutu dari waktu ke waktu mempergunakan dan mencermati data ini. Perubahan dari waktu ke waktu merefleksikan perubahan yang terjadi di sekolah. Dengan demikian proses peningkatan mutu berlangsung hari demi hari, terencana dan secara faktual dapat diikuti dengan seksama. Kebijakan sebagaimana dikemukakan diatas didasarkan pada satu asumsi bahwa sekolah telah memiliki dan merumuskan secara singkat dan jelas visi dan missi sekolah. Warga sekolah khususnya guru dan siswa memahami visi dan missi sehingga mereka memiliki arah yang jelas kemana mereka menuju dan apa yang harus dilakukan agar tujuan dapat dicapai. Tanpa pemahaman akan visi dan missi, kegiatan sekolah dalam peningkatan mutu tidak memiliki arah. Akibatnya, kegiatan tidak akan efektif dan efisien. Secara mendasar sekolah memang harus ditekankan untuk membangun karakter siswa, sebagai basis membangun karakter bangsa. Sungguh, bangsa ini memerlukan karakter yang kuat. Karakterlah yang memberikan arah kemana bangsa harus menuju, apa-apa yang harus dikejar dan dicapai, dan sebaliknya apa-apa yang harus dihindari, ditinggalkan dan dibuang jauh-jauh. Keroposnya karakter bangsa menyebabkan, bangsa ini kehilangan arah, dan warga bangsa tidak memiliki lagi pegangan yang jelas apa yang harus dikejar dan diraih, dan apa yang harus ditinggalkan. Oleh karena itulah visi pendidikan nasional Indonesia menekankan keberadaan manusia berkualitas dalam kecendekiawanan, kecerdasan spiritual, emosional, sosial, serta kinestetis (gerak tubuh) dan kepiawaian, serta mampu menghadapi perkembangan dan persaingan global. Untuk ini, sekolah harus mulai mengembangkan kompetensi abad 21yang menekankan pada pengembangan karakter. Guru sebagai Agen Perubahan Dalam upaya mengimplementasikan paradigma pendidikan masa depan, peran guru sebagai pilar utama peningkatan mutu pendidikan jelas tidak boleh dipandang sebelah

35

mata. Sudah saatnya guru diberi kebebasan dan keleluasaan untuk mengelola proses pembelajaran secara kreatif, “liar”, dan mencerdaskan, sehingga pembelajaran berlangsung efektif, menarik, dan menyenangkan. Sudah bukan saatnya lagi guru dipajang dalam “rumah kaca” yang selalu diawasi gerak-geriknya, sehingga guru yang dianggap “tampil beda” dalam mengelola proses pembelajaran “kena semprit” dan dihambat kariernya. Profesi guru bukan sembarangan, melainkan penting dan menentukan masa depan bangsa. Dengan demikian guru harus menjadi orang yang memiliki jati diri kuat, senantiasa menjadi tauladan dan merencanakan, melaksanakan pembelajaran dengan serius sepenuh hati. Siswa juga harus memiliki cara pandang baru, yakni, sekolah bukan merupakan keharusan melainkan kebutuhan; siswa bukan peserta pasif, melainkan peserta aktif, siswa bukan tidak berdaya, melainkan memiliki kekuatan untuk merealisir apa yang dinginkan; apa saya bisa mengerjakan ?, YES saya bisa kerjakan; dan, tidak sekedar senang bisa lulus, melainkan Why not the best?. Dengan demikian siswa menjadi individu yang memiliki cita-cita yang tinggi, semangat belajar keras dan yakin bahwa yang bersangkutan mampu. Dalam Undang-undang Nomor 20/2003 tentang Sisdiknas (pasal 40 ayat 2) jelas dinyatakan bahwa pendidik dan tenaga kependidikan berkewajiban: (1) menciptakan suasana pendidikan yang bermakna, menyenangkan, kreatif, dinamis, dan dialogis; (2) mempunyai komitmen secara profesional untuk meningkatkan mutu pendidikan; dan (3) memberi teladan dan menjaga nama baik lembaga, profesi, dan kedudukan sesuai dengan kepercayaan yang diberikan kepadanya. Ini artinya, guru tidak lagi berperan sebagai “piranti negara” yang semata-mata mengabdi untuk kepentingan penguasa, tetapi sebagai “hamba kemanusiaan” yang mengabdikan diri untuk “memanusiakan” generasi bangsa secara “utuh” dan “paripurna” (cerdas secara intelektual, emosional, dan spiritual) sesuai dengan tuntutan zaman. Dalam konteks demikian, guru harus benar-benar menjadi “agen perubahan” dan menjadi sosok profesional yang senantiasa bersikap responsif dan kritis terhadap berbagai

36

perkembangan dan dinamika peradaban yang terus berlangsung di sekitarnya. Guru bersama stakeholder pendidikan yang lain - harus selalu menjadikan sekolah bagaikan “magnet” yang mampu mengundang daya pikat anak-anak bangsa untuk berinteraksi, berdialog, dan bercurah pikir dalam suasana lingkungan pembelajaran yang menarik dan menyenangkan. Dengan cara demikian, tidak akan terjadi proses deschooling society di mana sekolah mulai dijauhi oleh masyarakat akibat ketidakberdayaan pengelola sekolah dalam menciptakan institusi pembelajaran yang “murah-meriah” di tengah merebaknya gaya hidup hedonistik, konsumtif, materialistik, dan kapitalistik. Demikian pula, orang tua siswa harus memiliki cara pandang baru. Yaitu, tanggung jawab ortu tidak selesai dengan membayar uang ke sekolah; yang terikat dengan perjanjian dan kewajiban sekolah tidak hanya anaknya, melainkan juga dirinya; sepenuhnya percaya pada sekolah dan bekerjasama dengan sekolah; perlu mengembangkan keserasian apa yang di sekolah dan apa yang di rumah; tidak ada sekolah murah, sekolah itu mahal; dan, angka nilai penting, tetapi bukan segalasegalanya. Dengan demikian orang tua akan patuh pada aturan sekolah dan berpartisipasi dalam membantu terlaksananya kegiatan sekolah. Kebijakan kedua dalam peningkatan mutu adalah memperkuat penekanan sekolah sebagai suatu entitas mandiri, sebagai implikasi dari kebijakan SBM dan KTSP. Oleh karena itu, semua intervensi dalam rangkaian peningkatan mutu senantiasa melewati sekolah. Kondisi memerlukan kesadaran diri secara serius dari kalangan sekolah sendiri. Sekolah telah memiliki memiliki kemandirian dan kemerdekaan sebagai basis munculnya watak kreatif innovative dan berani mengambil resiko. Mentalitas Wiraswasta : Sebagai Tantangan DEMAM wirausaha di dunia perguruan tinggi sebenarnya berasal dari keinginan Indonesia meniru silicon valley-nya Amerika Serikat. Seorang tokoh bernama Iskandar Alisjahbana menjadi peletak ide ini. Pada 10 Mei 1963, seorang mahasiswa berbicara di depan ratusan mahasiswa lainnya. Dalam orasinya, ia menyinggung soal mahasiswa Cina

37

di kampus tempatnya belajar. Kata-kata yang diucapkannya menyinggung kelebihan mahasiswa Cina. Yang dibicarakannya bukan ajakan untuk meniru prestasi mahasiswa Cina. Sang mahasiswa tersebut malah menyulut kebencian pribumi dan non-pribumi. "Bakar motormotor mereka," kata orator bernama Siswono. Kejadian ini terjadi di Institut Teknologi Bandung. Untung kejadian itu tidak berlangsung lama. Seorang dosen datang dan menempeleng balik mahasiswa yang berkoar tersebut. Lalu ia berkata, "Sis, menampar orang secara fisik di kampus, itu haram hukumnya. Di kampus orang harus menampar dengan otak, berdebat!" Sang dosen, Iskandar Alisjahbana lantas membawa mahasiswanya itu ke tempat lain dan diajak berbicara. Tentu saja, Iskandar tidak ingin ITB yang disebut menyulut konflik rasial di Indonesia sehingga ia perlu mengamankan mahasiswanya tersebut. "Sis lalu membuat buku dan meminta maaf pada seluruh sivitas akademika. Itu dua bulan setelah kejadian itu," kata Iskandar pada suata sesi wawancara dengan Kampus dan budayawan Hawe Setiawan, 15 November 2008. Kenapa mahasiswa bisa bertingkah rasis seperti itu? Iskandar mengatakan mahasiswa-mahasiswa ITB yang berdarah pribumi cemburu dengan prestasi non-pribumi. Cemburu berawal dari sedikitnya mahasiswa pribumi naik kelas ketimbang non-pribumi. "Pada zaman saya masih mahasiswa, hanya ada dua pribumi yang lulus ujian lisan. Sampai zaman saya jadi dosen pun kejadiannya tidak beda jauh," ujarnya terkekeh. Kelemahan akademis seperti itu tidak dibiarkan lama oleh Iskandar. Ia menilai mahasiswa pribumi tidak 'bodoh' apa yang dibicarakan oleh kolonial sebagai inlander pemalas. Ia mengatakan, adanya sikap rendah diri karena perlakukan koloniallah yang membuat banyak generasi muda saat itu seperti lemah. Ditambah lagi karut-marut politik membuat runyam perhatian ke dunia pendidikan.

38

Iskandar melepaskan beban politik pada dunia pendidikan dan mengalihkan perbaikan mutu mahasiswa pada program-program seperti need of achievement (NAch) training. Pelatihan ini bertujuan mendongkrak motivasi dan kreativitas mahasiswa di zaman itu. Maksudnya, agar mahasiswa Indonesia bisa mandiri dan tidak melulu disebut malas. "Ada orang yang need of achievement-nya tinggi. Ada juga orang yang punya need of affiliation yang tinggi, dan ada orang yang need of power-nya tinggi. Setiap manusia punya tiga need ini. Indonesia adalah masyarakat gotong royong. Saya datangkan seorang dosen dari Amerika," jelasnya. Pelatihan Need of Achievement sebenarnya landasan dari pelatihan wirausahawan. Iskandar membawa wacana ini pertama kali ke ITB dimana saat itu perguruan tinggi hanya menghasilkan mahasiswa berkemampuan teknis dan calon pekerja belaka. Di berbagai perguruan tinggi pelatihan, training, dan beasiswa menjadi wirausahawan dibuka. Misal, Institut Pertanian Bogor (IPB). Mengutip situs lembaga tersebut, sekitar 2.000 mahasiswa IPB mendaftar pada program pengembangan kewirausahawan pada Maret 2009. Konon, dana permodalan yang tersedia Rp 1,4 miliar. Sama halnya dengan IPB, pihak kemahasiswaan Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Bandung pun membagikan dana kewirausahaan kepada mahasiswanya. Sebanyak Rp 1 miliar akan diberikan kepada 108 mahasiswa. Besaran dana itu berasal dari bantuan Direktorat Pendidikan Tinggi Departemen Pendidikan Nasional. Selain kampus yang membuka lebar-lebar pintu bagi mahasiswa yang ingin mengubah nasib melalui pelatihan wirausaha, banyak pula komunitas ekstrakampus yang membuka layanan pelatihan seperti ini. Meski pandangan wirausaha dalam pendidikan kadang dicibir sebagai praktik pragmatisme pendidikan, tapi di sisi lain ilmu wirausaha dianggap jalan keluar dari "musibah" menumpuknya pengangguran intelek di negeri ini. Banyaknya pelatihan seperti ini tentu bukan fenomena tanpa sebab. Terbersit nama seorang tokoh pendidikan dan disebut tokoh pendobrak menara gading perguruan tinggi, Iskandar Alisjahbana sebagai pelopor gerakan wirausaha di dalam perguruan tinggi di

39

Indonesia. Tokoh yang meninggal dunia pada 16 Desember 2008 itu meninggalkan wacana berharga bagi dunia pendidikan Indonesia. Pada periode Iskandar menjadi Rektor ITB (1976-1978), Iskandar membangun inkubator bisnis di ITB. Ia datangkan pula ahli wirausaha dari Amerika Serikat, membuat kerjasama dengan dengan universitas luar negeri dan menyinergikan akademik teknis dengan ilmu perusahaan. Iskandar berhenti dengan aktivitasnya sebagai rektor setelah rumahnya diberondong peluru tentara kala ITB diduduki tentara 1979. Meski kini Iskandar telah tiada, tapi catatan sejarah dan pemikirannya bergeming di ITB. Karena Pak Is, begitu ia akrab dipanggil, tidak ada lagi pertarungan rasial karena cemburu nilai. Siswono Yudohusodo sudah menjadi pejabat di negeri ini dan pengusaha pula. Anak didiknya yang lain seperti Arifin Panigoro pun sudah menjadi pembesar Grup Medco. Yang ada saat ini adalah ITB dan berbagai perguruan tinggi berlombalomba mencetak sarjana yang wirausahawan dan menyambungkan perguruan tinggi dengan industri. Cita-cita menjadikan Indonesia seperti silicon valley. Kepustakaan Annaz , Menuntut Pendidikan Haus Gratis, Berkualitas, Ilmiah, Modern dan Demokratis , www.kprm-prd.org Copyrighted 2009. Aronowitz, Stanley and Henry A .Giroux, 1990. Post-Modern Education: Politics, Culture dan Social Criticism. Oxford: University of Minessota Press. Aronowitz, Stanley & Henry Giroux, 1987. Education Under Siege: The Consevative, Liberal, and Radical Debate Over Schooling. London & Hanley: Routledge & Kegan Paul. Akhmadi et al. 2003.Pengamatan Cepat Smeru Tentang Permasalahn Pendidikan dan Program JPS, Beasiswa, dan DBO di Empat Propinsi. Jakarta: SMERU. .............2004. Laporan Penelitian: Penyelenggaraan Guru Bantu. Jakarta: Departemen Pendidikan Nasional. Alisjahbana, Armida S. “Otonomi Daerah dan Desentralisasi Pendidikan”, Bandung : FE Universitas Padjadjaran, 2000

40

AMIR SYARIF SIREGAR, Pembatalan UU BHP menuai berbagai tanggapan, WASPADA ONLINE, Saturday, 03 April 2010 08:57 AMUBA , Refleksi Hari Pendidikan Nasional, on Wed, 04/29/2009 - 20:23 Anshari, Endang Saifuddin, Piagam Jakarta 22 Juni 1945 Sebuah Konsensus Nasional Tentang Dasar Negara Republik Indonesia (1945-1949), (Jakarta : Gema Insani Press), 1997 Anjrah Lelono Broto, Guru Dalam Arus Pragmatisme, Sebuah Renungan Hari Kebangkitan Nasional, google 2010. Andreo F Rajagukguk, Lentera Pendidikan Hilangnya Pendidikan Nasional, google 2010. Asril Ridwan , Ancaman Keras dan Pragmatisme Dingin , 18.02.2010 Adrienne WoltersdorfBildunterschrift: Großansicht des Bildes mit der Bildunterschrift: Adrienne Woltersdorf. Atmadi, A. & Setiyaningsih (eds.), Transformasi Pendidikan (Yogyakarta: Kanisius, 2001) Audi, Robert, Agama dan Nalar Sekuler dalam Masyarakat Liberal, (Yogyakarta : UII Press), 2002 ave in Pojok, Kebijakan Privatisasi BUMN: Relasi State, Market dan Civil Society, Posted on 19. Jan, 2010 Browne. R.K. & Lamb.A. 2000. Linking Theory to Practice in the Workplace.AERC Proceeding. B.J. Habibie, Detik-Detik Yang Menentukan, Jalan panjang Indonesia Menuju Demokrasi, THC Mandiri, 2006. Caldwell, B.J. 2000. A Theory Of Learning In The Self-Managing School. EPM, Department Manager, Faculty of Education, (Online), (http://www.edfac.unimelb.edu.au diakses 30 Agustus 2003). Cromwell,S.2000.Site-Based Managament:Boon or Boondogle?.School Administrator Articie.Education World,(Online),(http://www.education world.com diakses 25 September 2003). Conny Semiawan, Prof Dr (2003) Memelihara Integrasi Sosial dan Menegakkan HAM Melalui Pendidikan Multikultural , 14 September 2003, Pendidikan, Ditjen HAM

41

Chadd .J.& Anderson.M.A.2005. Illinois Work-Based Learning Programs: Worksite Mentor Knowledge and Training, Jurnal Career and Technical Education Research, Volume 30 nomor 1 Tahun 2005. Cholisin.(2004a). Konsolidasi Demokrasi Melalui Pengembangan Karakter Kewarganegaraan, dalam Jurnal Civics : Media Kajian Kewarganegaraan, Volume 1, Nomor 1, Juni 2004. Yogyakarta : Jurusan PPKn FIS UNY. Cholisin.(2000b).Pendidikan di Indonesia dalam Perspektif Demokrasi. Makalah disampaikan dalam Seminar Sehari “demokrasi di Indonesia : Dulu, Kini, dan Esok”, Penyelenggara Balai Kajian Sejarah dan Nilai Tradisional Yogyakarta bekerjasama dengan Fakultas Ilmu Sosial Universitas Negeri Yogyakarta, 28 Agustus 2004. Cholisin, Kebijakan Pendidikan Dan Pendidikan Demokrasi , google 2010 Choirul Mahfud(2009), Quo Vadis Politik Pendidikan Islam, at 11 November, 2009, google Maret 2010. Darmaningtyas, Berbagai Problematik Ujian Nasional, Sumber: Kompas, Selasa, 1 Desember 2009 Dini Kinanthi, Pemikiran Gus Dur Tentang Kebangsaan Harus Dilanjutkan, Email: dinikina@plasa.com Dewantara, Ki Hadjar, 1945 [1963]. Karja Ki Hadjar Dewantara: Bagian Pertama: Pendidikan. Yogjakarta: Taman Siswa. Dewey's, John , my pedagogic creed, famous declaration concerning education. First published in The School Journal, Volume LIV, Number 3 (January 16, 1897). Doni Koesoema , Desain Besar Pendidikan & Berbagai Problematik Ujian Nasional, Driyarkara, Driyarkara: tentang Pendidikan (Yogyakarta: Kanisius, 1991) Kompas, Selasa, 1 Desember 2009 Ebenstein, Willam & Fogelman, Edwin, Isme-Isme Dewasa Ini (Todays Isms), Penerjemah Alex Jemadu, (Jakarta : Penerbit Erlangga), 1984 Eko Pujiati, S.H., M.Pd, Realisasi Kebijakan Otoda Di Bidang Pendidikan Melalui Manajemen Berbasis Sekolah Di Kota Malang, Saturday, 12 April 2008 Endang Saifuddin Anshari, Piagam Jakarta 22 Juni 1945, Jakarta : CV Rajawali, 1986.

42

Eyre, Richard & Linda, Mengajarkan Nilai-Nilai kepada Anak (Jakarta: Gramedia, 1997) Falah, Maslahul(2003), Islam Ala Soekarno Jejak Langkah Pemikiran Islam Liberal Indonesia, Kreasi Wacana , Yogyakarta.

43

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful