TEORI MORFOLOGI DALAM PENENTUAN KAWASAN KONSERVASI KOTA

Oleh: LAELABILKIS, 2005

2.1 Konservasi Kawasan Bersejarah
Kota memiliki sejarah perkembangan berbeda-beda yang tercermin dalam pola ruangnya, semakin beraneka ragam peristiwa sejarah yang terjadi, pola ruang kotanya pun akan semakin beragam karena mendapat pengaruh dari beberapa kebudayaan. Pusat kota lama tersebut menjadi kawasan bersejarah yang harus dilestarikan seperti yang diungkapkan Ahmaddin Ahmad “salah satu ciri untuk mencapai kota yang berkelanjutan semangat kebudayaan bisa dicapai dengan melestarikan keaslian masyarakat tradisional, tempat-tempat bersejarah dan struktur-struktur budaya, arsitekstural, sejarah, politik, ekonomi, spiritual, dan religius” (Ahmad, 2002: 25). Subbab konservasi kawasan bersejarah ini akan membahas mengenai pengertian konservasi kota dan pertimbangan area konservasi. 2.1.1 Pengertian Konservasi Kota Konservasi kota merupakan usaha untuk melestarikan sejarah kota melalui pelestarian terhadap peninggalan yang ada baik yang nampak maupun yang tidak nampak. Peninggalanpeninggalan bersejarah di suatu wilayah menunjukkan jati diri, karakter, dan identitas wilayah tersebut sehingga perlu dilestarikan untuk manfaat kepentingan dimasa yang akan datang. Dilakukannya upaya konservasi terhadap suatu kawasan maupun bangunan akan memberi pengaruh pada bentuk wajah kota karena obyek-obyek konservasi biasanya merupakan obyek vital atau setidaknya pernah menjadi obyek vital bagi kehidupan kota. Dengan pelestarian diharapkan obyek tersebut dapat menjadi vital kembali sehingga mampu membiayai perawatannya setelah dimanfaatkan untuk fungsi tertentu. Pelestarian atau yang juga dikenal dengan konservasi juga dapat dipahami sebagai upaya melestarikan suatu tempat yang memiliki makna agar makna kultural yang terkandung di dalamnya dapat terpelihara dengan baik. Pelaksanaan konservasi ini terkait erat dengan bagaimana merespon terhadap lokasi sebagai obyek design sehingga diperoleh simbiosis antara bangunan lama dengan baru, bagaimana lokasi dan setting bangunan bersejarah dapat berpengaruh atau mempengaruhi design arsitekturnya, dan bagaimana menggali hubungan antara bangunan lama dan bangunan baru. Menurut Cohen (1999), konservasi kota adalah upaya pelestarian dalam skala kota, berkaitan dengan urban fabric secara keseluruhan dan tidak hanya terkait dengan masalah arsitektural saja. Konservasi kota juga berarti mengangkat pelestarian bangunan-bangunan tunggal bersejarah ke dalam konteks kota dengan tujuan mendapatkan hasil akhir yang menyeluruh. Tahap awal konservasi kota adalah menentukan area yang akan dikonservasi. Menurut Gill, 1994,

konservasi kota tidak hanya melestarikan bangunan akan tetapi juga profil jalan dan keseluruhan ornamen kota. Konservasi pada suatu wilayah juga dapat didefinisikan sebagai area yang memiliki arsitektural khusus dan memiliki karakter sejarah tertentu seperti yang diungkapkan oleh Michael Ross, “conservation areas defined as areas of special architectural or historic interest the character or appearance of wich it is desirable to preserve or enhance” (Ross, 1996: 120). Konservasi tidak hanya melihat keunikan dari bangunan tunggal tetapi juga keunikan dari keseluruhan area, jadi selain bangunan, pola jalan dan penataan ruang juga memberikan kontribusi bagi kualitas lingkungan konservasi. Dari beberapa pengertian di atas dapat diketahui bahwa konservasi kota merupakan upaya pelestarian terhadap artefak kota yang memiliki nilai sejarah bagi perkembangan kota tersebut. Upaya konservasi ini tidak hanya dilakukan terhadap bangunan tunggal saja tetapi seluruh lingkungan kota terkait dengan penataan ruang, pola jalan, dan seluruh ornamen kota sebagai satu kesatuan identitas kota yang menyeluruh. 2.1.2 Landasan Hukum Konservasi Pelaksanaan konservasi di Indonesia berdasarkan pada beberapa landasan hukum yaitu: 1. Undang-undang Republik Indonesia Nomor 5 Tahun 1992 tentang Benda Cagar Budaya. Undang-undang ini mengatur tentang pelestarian dan pemanfaatan benda cagar budaya, benda yang diduga benda cagar budaya, benda berharga yang tidak diketahui pemiliknya, dan situs. 2. Piagam Pelestarian Pusaka Indonesia Tahun 2003. Piagam ini disepakati pada tahun 2003 yang didalamnya meliputi kesepakatan mengenai pengertian dan jenis pelestarian pusaka Indonesia, keprihatinan terhadap kondisi pelestarian di Indonesia, dan agenda tindakan yang akan dilakukan. Pusaka Indonesia terdiri dari pusaka alam, pusaka budaya, dan pusaka saujana. Pelestarian pusaka Indonesia tersebut masih belum dilakukan dengan baik sehingga telah rusak, hilang, tercemar, dan terancam kelestariannya. Untuk mencegah hal tersebut perlu adanya upaya tindakan pelestarian pusaka Indonesia secara menyeluruh terpadu, sistematik dan berkesinambungan, melalui mekanisme dan proses yang adil, demokratik, serta harmonis didukung oleh landasan hukum yang jelas dan konsisten 2.1.3 Pertimbangan Area Konservasi Perencanaan kota modern yang berbudaya harus memberi wadah bagi perlindungan tempat dan benda bersejarah. Obyek-obyek yang harus dikonservasi terdiri dari beberapa hal, menurut Ahmaddi Ahmad, “lansekap dan lingkungan bersejarah yang perlu dilindungi adalah situs yang memiliki nilai-nilai kesejarahan, merekam tradisi lokalitas, artefak arkeologis, bersifat religius dan memiliki arti penting secara ekologis” (Ahmad, 2002: 105). Obyek konservasi tidak hanya berupa bangunan-bangunan tunggal tetapi juga berupa wilayah kota yang potensial untuk dikonservasi. Menurut Nahoum Cohen (1999: 275-279) alasanalasan yang digunakan dalam menentukan potensi konservasi dari suatu wilayah adalah adanya karakter spesifik yang terdapat pada setting kota, adanya locallity dan sense of place, adanya

kekuatan proporsi internal dan hubungan di dalamnya, adanya keunikan style dan desain, dan penggunaan metode konstruksi dan bahan-bahan tertentu dalam penyusunannya. Karakter spesifik dalam setting kota dapat diidentifikasi dari batas fisik yang jelas pada suatu kawasan yang secara tradisional dapat diterima dan memiliki keunikan dalam site. Adanya locallity dan sense of place dari suatu kawasan terkait dengan aspek sejarah perkembangan kawasan tersebut. Sejarah suatu kawasan menciptakan bentuk fisik ruang kota yang terintegrasi dengan kondisi eksisting sehingga terbentuk suatu kawasan yang memberikan karakteristik (sense) tertentu. Proporsi dan hubungan internal serta style dan design suatu kawasan terkait dengan kondisi fisik yang terbentuk meliputi elemen estetika, dan hubungan antar ruang atau bangunan dalam kawasan. Sedangkan penggunaan metode konstruksi dan bahan-bahan tertentu terkait dengan pemanfaatan teknologi dan sumber daya manusia yang ada dalam membentuk kawasan. Kriteria ini sulit untuk diaplikasikan karena membutuhkan kejelian dalam melihat proses pembentukan suatu kawasan dengan gaya arsitektur tertentu yang terjadi pada masa lampau. Pengambilan keputusan untuk melakukan kegiatan pelestarian kawasan bersejarah harus berdasarkan pertimbangan tertentu. Menurut Attoe (1986: 416-420), kriteria yang digunakan untuk mengambilan keputusan tersebut adalah sebagai berikut: • Peran sejarah, terjadinya peristiwa-peristiwa pada waktu dulu pada suatu tempat memberikan makna tertentu baik bagi pelaku sejarah maupun bagi generasi yang akan datang. Bangunanbangunan yang merupakan lokasi peristiwa sejarah sebagai ikatan simbolis antara peristiwa dulu dan sekarang perlu dilestarikan untuk mempertahankan nilai historis yang ada. • Estetika, obyek-obyek yang patut dilestarikan adalah bangunan-bangunan yang memiliki gaya sejarah tertentu apabila dikaitkan dengan nilai estetis dan arsitektonis yang tinggi dalam bentuk struktur, tata ruang dan ornamen. • Kejamakan, makna dari kejamakan adalah bangunan yang mewakili suatu kelas atau jenis khusus yang ditekankan pada karya yang memiliki ragam atau jenis yang spesifik. • Kelangkaan, obyek-obyek langka perlu dilestarikan karena keberadaannya yang spesifik pada suatu lokasi dengan karakteristik khusus. • Keistimewaan, bangunan yang memiliki keistimewaan juga perlu dilestarikan misalnya tertua, terpanjang, terbesar atau pertama kali dan lain-lain. • Makna, bangunan yang memiliki makna kultural dan kehadirannya mempengaruhi kawasankawasan disekitarnya serta dapat meningkatkan kualitas dan citra lingkungan perlu dilestarikan karena dalam perkembangannya bisa berfungsi sebagai citra kota atau landmark akan suatu kawasan.

2.2 Konsep Kota di Jawa
2.2.1 Konsep Kota Tradisional Jawa “Di nusantara munculnya gejala perkotaan dikenali pada awal abad XI Masehi, yang secara umum dapat dibedakan menjadi dua jenis yaitu kota pelabuhan perdagangan yang

mempunyai akses ke jalur pelayaran internasional atau sebuah pusat administratif dari daerah pertanian yang subur” (Mahatmanto, 2005: 16). Kota pelabuhan pada umumnya lebih tua dibandingkan dengan jenis permukiman pedalaman. Permukiman yang terbentuk di kota pelabuhan lebih padat dengan beragam etnis sebagai pengaruh berkembangnya aktivitas perdagangan yang memberi peluang lebih besar bagi masuknya pedagang-pedagang asing dari luar daerah. “Kota-kota lama di pedalaman Jawa dibangun di tepi sungai yang memberi pasokan air, mobilitas dan perlindungan bagi mereka” (Mahatmanto, 2005: 21). Sungai berfungsi sebagai sumber kehidupan bagi masyarakat kota pedalaman. Hal ini bisa terjadi karena sebagian besar masyarakat pedalaman menggantungkan hidupnya dengan bercocok tanam sehingga sungai sangat diperlukan untuk mengairi sawah mereka. Ketergantungan kota pedalaman terhadap sungai dapat dibuktikan dengan lokasi kota lama di pedalaman Jawa yang hampir seluruhnya dibangun di tepi sungai baik besar maupun kecil. Pola ruang kota yang terbentuk di kota-kota tersebut mencerminkan kebudayaan yang berkembang pada masa tersebut. Masyarakat tradisional Jawa menerapkan filosofi dalam seluruh aktivitas hidupnya. Kehidupan masyarakat tradisional Jawa banyak berpengaruh pada seluruh sistem kebudayaan seperti yang diungkapkan bahwa “sistem budaya Jawa memberi pengaruh yang besar bukan sekedar pada tingkat yang kasat mata seperti sistem, mekanisme, dan perilaku budaya politik Indonesia, namun juga dalam membentuk berbagai dimensi, dari normatif hingga institusional, mulai sejak Mataram Hindu, Majapahit, hingga Mataram Islam dan masa Republik Indonesia” (Wiryomartono, 1995: 22). Tradisi Jawa ini juga berpengaruh terhadap pola kota-kota di Jawa dimana karakteristik pada beberapa wujud fisik penataan ruangnya memiliki filosofi tertentu. Ruang-ruang dalam kota lama Jawa terwujud sebagai bentuk penerapan atas keyakinan yang dianut masyarakat. Pusat ruangan yang diatur berdasarkan kaidah kosmografi Jawa dipandang sebagai pusat dunia. Konsepsi yang menghubungkan elemen-elemen pembentuk ruang pada kota tradisional Jawa menggunakan dua prinsip, yaitu sebagai berikut (Jo Santoso dalam Wulandari, 2004: 25): • Mikrokosmos dualistis, setiap kota tradisional Jawa terbagi atas dua bagian yaitu bagian profan di sebelah utara dan bagian yang sakral di sebelah selatan. Perwujudan dari azas ini umumnya tampak dari penempatan benda secara simetris (semua penataan kraton dan elemen di sekelilingnya diupayakan bisa simetris). Kesimetrisan ini dimaksudkan untuk melambangkan keadaan yang harmonis penuh keselarasan dan dinamis sebagai rangsangan untuk bertindak. • Mikrokosmos hirarkis, pembatasan yang dilakukan pada suatu ruang untuk tujuan penyucian ruang tersebut. Wiryomartono (1995: 24-60) membagi filosofi kota tradisional Jawa menjadi beberapa konsep berikut ini: • Konsep kota dan negara Konsep kota dan negara ini merujuk pada konsep kosmologis dimana kota sebagai hunian manusia hanya merupakan representasi penyerahan diri pada struktur kosmologis. Dalam konsep ini konteks negara memberi tempat bagi perkembangan budaya dan peradaban kota yang lebih luas.

Selain negara, di Jawa berkembang apa yang disebut kuta untuk membedakannya dari desa. Kuta secara harfiah berarti daerah permukiman yang dilindungi oleh dinding yang dibangun mengeliling menurut bentuk pasagi. Dalam pandangan hidup Jawa kota sebagai sistem tempat tinggal manusia secara sosial telah memiliki struktur yang baku. Setiap penghuninya secara kosmologis telah punya tempat masing-masing sesuai dengan asal-usul dan keturunannya sehingga tidak bisa diubah dan berkembang bebas. Pemukiman masyarakat merujuk pada satu pusat dimana pusat kekuasaan sekuler dan ritual spiritual berada di satu tangan, yaitu dalem atau keraton yang merupakan penguasa kota. • Konsep jagad dan kuta Konsep jagad Jawa erat kaitannya dengan konsep kekuasaan yang terjadi dan mengambil ruang serta waktu tertentu yang bisa berulang. Pusat sebuah jagad atau rat merupakan konsep yang berdasarkan peristiwa dimana kekuatan-kekuatan kosmik dipercaya hadir dalam dunia nyata. Orang Jawa percaya bahwa hidup di dunia hanya sementara sehingga struktur-struktur fisik permukiman oleh orang Jawa tidak dilihat sebagai bangunan permanen tetapi sebagai pondok sementara dan selalu mengedepankan hubungan dengan penciptanya. • Konsep halun-halun Halun-halun yang kemudian dikenal sebagai alun-alun merupakan ruang terbuka pada kuta atau negara yang berbentuk segi empat atau hampir bujur sangkar. Menurut Zoetmulder “orang Jawa mengenal Macapat sebagai pusat orientasi spasial” (Zoetmulder dalam Wiryomartono, 1995: 46). Arah empat ini diyakini sebagai empat unsur pembentuk keberadaan bhuwana yaitu air, bumi, api, dan udara. Alun-alun dan istana menempati posisi sentral sekalipun jalan-jalan nampak tidak direncanakan dengan pegangan pada satu sumbu aksial yang dominan. Sumbu-sumbu mata angin memegang peranan untuk mengorganisir tata ruang dan bangunan secara keseluruhan. Selain sebagai pusat kekuasaan alun-alun berfungsi sebagai tempat pelaksanaan ritual dari kegiatan sosial kenegaraan. Konsep alun-alun ini mengalami penyesuaian sejak dibangunnya Jalan Raya Pos oleh Daendels yang melewati kota-kota di Pantai Utara Jawa dari Anyer hingga Panarukan (1808 – 1811). Pusat kota yang dilewati jalan ini menyesuaikan orientasinya menuju ke arah Jalan Daendels. “Pusat kotanya pun disusun mengikuti pola kota-kota lain di Jawa yaitu alun-alun sebagai muara semua jalan di kota itu, dikelilingi oleh ‘istana’ kabupaten di sisi selatan, masjid di sisi barat dan pusat perdagangan (pasar) di sisi timur” (Mahatmanto, 2005: 23). Alun-alun dalam perkembangannya berfungsi sebagai ruang terbuka kota tempat masyarakat bertemu, berkumpul dan berinteraksi, baik untuk kepentingan keagamaan, perdagangan maupun membangun pemerintahan. Disamping fungsi tradisional sebagai tempat pertemuan alun-

alun juga memiliki fungsi lain. “Alun-alun digunakan sebagai identitas dan tanda pengenal dari sebuah kota” (Ahmad, 2002: 30). Sehingga tidak heran jika saat ini alun-alun telah berkembang menjadi ruang publik yang banyak dimanfaatkan oleh banyak kota sebagai simbol sekaligus pusat interaksi sosialnya. • Konsep marga dan ratan Marga merupakan penyebab atau lantaran terjadinya rat yang memungkinkan adanya atau eksistensinya dunia sehari-hari. Dalam konsep ini ratan bukanlah jalan atau permukaan yang rata tetapi suatu konsep yang mampu merangkum dunia publik, negara, rakyat, dan semua kejadian di atas bumi pada suatu kaum atau kejadian-kejadian yang erat kaitannya dengan kesadaran. • Konsep pasar/peken Pasar secara harfiah berarti berkumpul untuk tukar menukar barang dalam jual beli dalam lima hari Jawa. Pasar dalam konsep urban Jawa adalah kejadian yang berulang secara ritmik dimana transaksi sendiri tidak sentral tetapi yang sentral adalah interaksi sosial dan ekonomi dalam satu peristiwa. Peken/pasar tidak akan ada di alun-alun dan masuk ke dalam kegiatan marga karena merupakan kegiatan periodik yang tidak terkait dengan upacara atau ritual tertentu. • Konsep masjid dan pusat kekuasaan Masjid Jawa hampir selalu berada di kawasan alun-alun sebelah barat. Pusat kekuasaan ditempatkan di bagian selatan dan menghadap ke alun-alun. Sumbu masjid dan pusat pemerintahan bertemu di bagian tengah alun-alun. Arah sembahyang ke kiblat tidak selalu menjadi sumbu bangunan masjid karena struktur fisik yang membentu konsep kuta-negara ini memiliki kepatuhan pada satu sistem orientasi yang berpangkal pada bentuk pasagi alun-alun. Masjid di Jawa memiliki keterikatan erat dengan makam orang-orang yang dianggap penting seperti para raja dan wali. • Konsep pawisman/pomahan Permukiman dalam konsep urban Jawa merupakan suatu perluasan dari dalem keraton hingga kawasan negara agung. Konsep dalem berarti suatu teritori tempat dunia keluarga bermula. Konsep rumah ini tidak merujuk semata-mata pada fisik bangunannya tetapi di dalam wilayah dimana sebuah keluarga tinggal. Perwujudan fisik dari hunian/pawisman memiliki hierarki status yang dikaitkan dengan hubungan kepala keluarga dengan pusat kekuasaan. Hunian bermula dari omah, grhya, graha, puri hingga keraton. Di keratonpun ada berbagai kategori menurut orang-orang yang tinggal disitu. Masyarakat biasa tinggal di sekitar pusat–pusat kekuasaan, dari rumah patih, bupati, menteri, pangeran hingga sang ratu. Di desa-desa dalam negara agung di luar jaba sebuah kuta, tidak dikenal nama-nama yang berkonotasi dalam rumah-rumahnya dan hanya mengenali tempat tinggal seseorang sebagai omah. 2.2.2 Kota Periode Penyebaran Agama Islam

Wiryomartono (1995: 25) mengungkapkan bahwa “terjadinya urban di Jawa dipengaruhi oleh dua peradaban utama yaitu Hindu-Budha dan Islam”. Mengenai masuknya Islam di Pulau Jawa memang masih terjadi perbedaan pendapat dari para ahli sejarah namun dalam buku Keanekaragaman Bentuk Masjid di Jawa disebutkan bahwa “masuknya Islam di Pulau Jawa lebih kurang antara abad XI dan abad XV M” (Depdikbud, 1993: 12). Masuknya agama Islam ini berpengaruh pada kebudayaan masyarakat Jawa termasuk dalam penataan ruang. “Perkembangan Islam di Jawa terjadi pada abad XIII–XVI M ditandai dengan kemunculan kerajaan Islam dan penyebaran agama Islam” (Rukayah, 2005: 11) namun Islam sudah dikenal di Jawa Timur sekitar abad XI-XII M dengan ditemukannya batu nisan makam seorang wanita Islam yang bernama Fatimah binti Hibatullah dengan angka tahun 1101/1102 M. Selain makam wanita Islam tersebut di Leran juga ditemukan makam Maulana Malik Ibrahim yang meninggal pada tahun 12 Rabiulawal 822 H (1419). Islam kemudian berkembang di sepanjang pesisir utara Pulau Jawa pada akhir abad XV M dengan pusat penyiaran agama di Kota Jepara, Tuban, Gresik, Demak, dan Surabaya. Islam di Pulau Jawa berkembang dengan pesat karena peran para mubaligh Islam yang dikenal dengan sebutan wali. Wali-wali di Jawa jumlahnya banyak namun hanya beberapa yang menonjol yang kemudian dikenal dengan sebutan Wali Sanga. Seperti yang ditulis oleh Depdikbud “wali di Jawa tidak hanya berjumlah sembilan orang, tetapi lebih dari empat puluh orang” (Depdibud, 1993: 14). Para wali menyebarkan agama Islam melalui beberapa cara termasuk melalui jalur politik. Pada saat Kerajaan Majapahit mengalami kemunduran pada abad XV para wali melantik Raden Patah sebagai penguasa Demak sehingga lahirlah Kerajaan Demak sebagai kerajaan Islam yang pertama di Jawa Tengah. Pada masa sultan Demak yang ketiga, yaitu Sultan Trenggana agama Islam mulai masuk ke Kabupaten Kendal tepatnya di daerah Kaliwungu. Masuknya Islam ke Kaliwungu dibawa oleh Sunan Katong yang merupakan utusan dari Kerajaan Demak untuk menyebarkan Islam ke daerah barat. Kerajaan Demak sendiri mulai mengalami kemunduran pada pertengahan abad XVI dan posisinya mulai digantikan oleh Kerajaan Mataram yang terletak di pedalaman Pulau Jawa. Kemunculan kebudayaan Islam mempengaruhi kehidupan masyarakat termasuk dalam penataan ruang kota. “Perlu ditekankan pula cara tatanan baru Islam itu menerima beberapa kepercayaan kuno yang menyangkut penataan ruang” (Lombard, 1996: 341). Penataan ruang yang telah ada pada masa sebelumnya (Hindu-Budha) diadaptasi dalam penataan ruang pada masa Islam dengan memasukkan unsur-unsur ajaran Islam. Pada periode masa kerajaan Islam dan masa penyebaran Islam di Jawa, keberadaan alun-alun merupakan komposisi tata ruang pusat kota kerajaan Islam bersama keraton dan masjid. Alun-alun periode kerajaan Islam menggunakan konsep kerajaan Hindu dengan kosmologis utara dan selatan. Keraton di selatan, masjid di barat,

bagian yang profan di utara dan alun-alun di tengahnya. “Pada masa periode penyebaran agama Islam selanjutnya, komposisi struktur kota kerajaan Islam ditiru untuk pada waktu membuat kota baru untuk menyebarkan agama Islam” (Rukayah, 2005: 16). Pola Alun-alun pada periode penyebaran agama Islam (Abad XIII-XVI) dapat dilihat pada Gambar 2.1 di bawah ini.

U Daerah Profan Jalan Besar Masjid Agung Alun-alun Kauman Kanjengan Bangunan Resmi

Sumber: Rukayah, 2005: 119

Gambar 2.1 Pola Alun-alun Periode Penyebaran Agama Islam Abad XIII-XVI Menurut Tjandrasasmita dalam Rukayah (2005: 35), “lapangan kota kerajaan selain berfungsi sebagai tempat berkumpulnya masyarakat dan tokoh-tokoh masyarakat untuk beribadat di hari Jumat dan hari-hari besar Islam juga merupakan tempat mengadakan upacara-upacara keagamaan dan kenegaraan”. Dalam kehidupan masyarakat kota terutama yang berfungsi sebagai pusat kerajaan, upacara-upacara yang bersifat keagamaan dan bersifat umum serta berhubungan dengan kerajaan telah menjadi adat kebiasaan. Dalam babad-babad, hikayat-hikayat dan beritaberita asing disebutkan bahwa upacara dan pesta-pesta dihubungkan dengan kerajaan, seperti penobatan raja/putra mahkota, khitanan, pernikahan putri-putri raja, kelahiran putra-putri dan lainlain yang berkenaan dengan kehidupan raja dengan keluarga, upacara dan pesta dengan penerimaan utusan-utusan kerajaan asing, upacara Maulid Nabi hari raya dan hari-hari besar lainnya. “Pada kota tua yang berkembang atas dasar agama ini, ruang publik untuk ritual dibedakan dengan ruang kota secara umum” (Ahmad, 2002: 30). Hal ini bisa dimengerti karena pada masa itu aktivitas keagamaan dibedakan dengan aktivitas keduniawian. Pasar yang tergolong dalam aktivitas keduniawian biasanya dipisahkan dengan lapangan atau ruang terbuka yang difungsikan untuk melakukan upacara keagamaan. Kota syiar agama Islam memposisikan masjid sebagai pusat kota. Masjid-masjid pertama mengambil model bersusun dari meru/mikrokosmos Bali (atau mikrokosmos pagoda Cina) dan

mengadaptasikannya ke dalam bentuk bangunan Masjid. Tema gunung kosmis diadopsi dalam penataan ruang pada periode perkembangan Islam oleh para wali seperti yang diungkapkan Lombard (1996). Pengadopsian tema gunung kosmis ini terungkap dalam penataan masjid dan makam kramat: “Tema gunung kosmis sebagian diambil alih karena para wali juga berusaha menetap (dan dikuburkan) di ketinggian: di Gunung Giri, Gunung Jati (di dekat Cirebon), Bayat (di dekat Klaten). Tema air kehidupan, yang khususnya berkembang pada zaman kerajaan yang berlandaskan sistem pengairan berbaur dengan tema air suci yang terdapat dalam Islam, sehingga di sekeliling beberapa masjid dibangun jaringan saluran air yang luar biasa untuk memenuhi kebutuhan wudhlu” (Lombard, 1996: 341). Salah satu masjid yang dibangun pada masa perkembangan Islam dan masih ada hingga saat ini adalah Masjid Agung Demak. Masjid ini dibangun oleh Wali Sanga dan menjadi pusat Kerajaan Demak seperti yang diungkapkan De Graaf (2003), “raja-raja Demak menganggap Masjid Demak sebagai simbol kerajaan Islam” (De Graaf, 2003: 37). Masjid ini diresmikan pada tahun 1507 setelah diperbaruhi dan dihadiri oleh Sultan Trenggana. Masjid ini terletak pada ujung barat alun-alun yang merupakan pusat Kota Demak yang membagi Demak menjadi empat bagian utama yang berbeda. Bagian selatan alun-alun dikenal sebagai topongan (nama dari lokasi sebuah istana), bagian barat alun-alun digunakan untuk upacara keagamaan, pasar di sebelah utara, dan bangunan pemerintahan peninggalan Belanda di sebelah timur. Atap Masjid Demak memiliki tiga susunan dan terdapat serambi muka yang mengelilingi bangunannya. Pintu masuk untuk masjid memiliki tiga pembukaan yaitu pintu yang dianggap sebagai pintu utama terletak di tengah, pembukaan untuk pria di utara, dan pembukaan untuk wanita di selatan. Penataan ruang kota-kota Islam di Jawa memandang makam sebagai bagian yang penting. Menurut Lombard (1996: 342), “...makam kramat sebagai tanda suatu mutasi penting yang menyangkut konsepsi fisik dan konsepsi maut...”. Orang Jawa melihat makam sebagai tempat yang disucikan dari kegiatan harian. Makam kramat biasanya diletakkan di tempat yang tinggi atau tempat suci dalam kepercayaan masyarakat (di sekitar masjid agung), seperti makam di kompleks Masjid Kudus dan Masjid Demak. Makam kramat ini biasanya digunakan sebagai pemakaman bagi tokoh yang berperan dalam penyebaran agama Islam seperti para wali atau guru. Penataan ruang dalam Masjid Demak yang di dalamnya terdapat kompleks makam dapat dilihat pada Gambar 2.2 berikut ini.

Sumber: Wiryomartono, 1995.

Gambar 2.2 Kompleks Masjid Demak 1601-1606 Penataan ruang di Masjid Demak berlapis-lapis namun tidak menonjolkan

monumentalitas masjidnya. Sarean/makam dalam masjid ini merupakan struktur pendukung yang memiliki jalur prosesi tersendiri karena pintu masuk ke makam tersebut berlainan dengan pintu masuk masjid. Kedua pintu masuk ke makam tersebut terletak di tembok sebelah timur yang menghadap alun-alun sementara kompleks makamnya sendiri terletak di sebelah barat masjid. 2.2.3 Toponim Kawasan Bersejarah Kota tua di Jawa memiliki karakteristik nama jalan dan kampung yang unik sesuai dengan sejarah terbentuknya kota tersebut. “Penamaan nama jalan atau kampung dalam sejarahnya terkait dengan peristiwa atau hal yang unik yang ada di kawasan tersebut” (Ahmad, 2002: 95). Kawasan dengan toponim nama yang khas tersebut memiliki bangunan-bangunan lama yang merupakan peninggalan pencitraan di masa lalu. Sejarah tentang bagaimana perkembangan “sense of place” bisa dilihat dari sana. Apabila kita ingin melacak jejak perkembangan pencitraan dan identitas kita sebagai perkembangan bangsa besar, maka sejarah dan tanda-tanda yang mewarnainya perlu kita lestarikan.

Toponim kawasan yang dimiliki oleh suatu kota berbeda-beda sesuai dengan sejarah yang melatarbelakangi terbentuknya kawasan tersebut. Kampung Kauman merupakan salah satu toponim kawasan yang hampir dimiliki oleh seluruh kota di Jawa. Menurut sejarahnya, “pembentukan Kampung Kauman merupakan tipologi sentral yang digariskan oleh Kerajaan Demak hingga Mataram” (Bardan dalam Wijanarka, 2001: 25). Hal inilah yang menyebabkan hampir seluruh kota di Jawa mulai dari kota kabupaten hingga kota kecamatan memiliki kampung dengan toponim nama Kauman. Kauman mempunyai tipologi yang hampir sama dalam kota-kota di Jawa dengan ciri khas yang paling utama yaitu kampung santri di pusat kota. Ditinjau dari arti katanya, Kauman memiliki arti yang berbeda-beda di tiap kota seperti nggone wong kaum (tempatnya orang kaum) di Yogyakarta, pakauman (tempat tinggal para kaum) di Kudus dan kaum sing aman (kaum yang aman) di Semarang. Walaupun memiliki arti yang berbeda-beda di setiap kota namun makna yang terkandung tetap sama. Wijanarka mengungkapkan bahwa “kaum berasal dari bahasa arab yaitu qo’um muddin yang artinya pemuka agama Islam” (Wijanarka, 2001: 26) sehingga Kauman mempunyai arti tempat tinggal atau hunian para pemuka agama Islam.

2.3 Morfologi Kota
2.3.1 Pengertian Morfologi Kota Morfologi kota merupakan ilmu yang mempelajari bentuk, struktur dan pembentukan suatu tempat yang memiliki tatanan perkotaan. Menurut Herbert (1973) dalam buku struktur tata ruang kota, “tinjauan terhadap morfologi kota ditekankan pada bentuk-bentuk fisikal dari lingkungan perkotaan dan hal ini dapat diamati dari kenampakan kota secara fisikal yang antara lain tercemin pada sistem jalan-jalan yang ada, blok-blok bangunan baik daerah hunian ataupun bukan (perdagangan/industri) dan juga bangunan-bangunan individual” (Herbert dalam Yunus, 2001: 107). 2.3.2 Pendekatan dalam Morfologi Kota Pola morfologi kota dapat diidentifikasi dengan tiga pendekatan yaitu pendekatan linkage, place, dan figure ground. Ketiga pendekatan kelompok teori tersebut merupakan landasan penelitian dalam perancangan kota, baik secara historis maupun modern. Ketiga pendekatan tersebut adalah sebagai berikut. • Pendekatan Linkage Kota memiliki karakteristik aktivitas yang heterogen sehingga dalam perkembangannya kota akan menjadi kompleks dan rumit. Kerumitan ini menyebabkan orang merasa tersesat dalam gerakan di daerah kota yang belum meraka kenal. Hal ini terjadi pada daerah perkotaan yang tidak mempunyai linkage. Zahnd (1999: 107) mendefinisikan linkage sebagai “kelompok teori perkotaan yang membahas hubungan sebuah tempat dengan yang lain dari berbagai aspek sebagai suatu

generator perkotaan”. Jadi linkage memperhatikan dan menegaskan hubungan-hubungan dan gerakan-gerakan (dinamika) yang terjadi dalam sebuah tata ruang perkotaan. Linkage satu kawasan dengan kawasan lain akan membantu orang untuk mengenali bagian-bagian kota sebagai satu kesatuan yang besar. Purwanto (2001: 35) mengungkapkan bahwa “sistem penghubung atau lingkage system pada suatu ruang kota bisa terbentuk karena dipengaruhi oleh adanya kesamaan fungsi antara dua guna lahan, usaha untuk mengoptimalkan potensi suatu kawasan, dan aksesibilitas suatu kawasan”. Kesamaan kepentingan antar kawasan atau antar fungsi guna lahan membentuk keterkaitan yang menghubungkan kedua hal tersebut. Usaha untuk memanfaatkan potensi kawasan dan aksesibilitas juga dapat mempengaruhi terbentuknya linkage karena hal tersebut bisa terjadi apabila kawasan tersebut dihubungkan dengan kawasan lain. Linkage perkotaan terbagi menjadi (Zahnd, 1999: 108-129): a. Linkage Visual Dalam linkage visual dua atau lebih fragmen kota dihubungkan menjadi satu kesatuan secara visual. Ada lima elemen penting dalam linkage visual yang setiap elemennya memiliki ciri khas atau suasana tertentu, seperti yang terlihat dalam Tabel II.2 berikut ini.

TABEL II.1 ELEMEN LINKAGE VISUAL
NAMA Garis (Line) Koridor (corridor) Sisi (edge) GAMBAR KETERANGAN Elemen garis menghubungkan secara langsung dua tempat dengan satu deretan massa. Untuk massa tersebut dipakai sebuah deretan bangunan ataupun sebuah deretan pohon yang berupa massif. Elemen koridor dibentuk oleh dua deretan massa (bangunan atau pohon) membentuk sebuah ruang. Elemen sisi sama dengan elemen garis, perbedaannya hubungan dibuat secara tidak langsung sehingga tidak perlu dirupakan dengan sebuah garis yang massanya agak tipis, bahkan hanya merupakan sebuah wajah yang massanya kurang penting. Elemen sumbu mirip dengan elemen koridor yang bersifat spasial. Perbedaannya ada pada dua daerah yang dihubungkan oleh elemen tersebut yang sering mengutamakan salah satu daerah tersebut. Elemen irama menghubungkan dua tempat dengan variasi massa dan ruang. Elemen ini jarang diperhatikan meskipun memiliki sifat yang menarik dalam menghubungkan dua tempat secara visual.

Sumbu (axis) Irama (rhytme) Sumber: Zahnd, 1999.

b. Linkage Struktural Linkage struktural akan menyatukan kawasan-kawasan kota melalui bentuk jaringan struktural yang disebut sistem kolase yang berarti menggabungkan beberapa bahan tekstur yang

berbeda menjadi satu kesatuan di dalam tatanannya. Secara arsitektural linkage struktural terbagi atas tiga elemen seperti yang terlihat dalam Tabel II.2 berikut ini.

TABEL II.2 ELEMEN LINKAGE STRUKTURAL
NAMA Tambahan GAMBAR KETERANGAN Bentuk-bentuk massa dan ruang yang ditambah dapat berbeda namun pola kawasannya dapat dimengerti sebagai bagian atau tambahan pola yang sudah ada disekitarnya. Merupakan pola baru pada lingkungan kawasannya yang diusahakan dengan menyambung dua atau lebih banyak pola di sekitarnya supaya keseluruhannya dapat dimengerti sebagai satu kelompok baru yang memiliki kebersamaan. Merupakan elemen yang di dalamnya terdapat dua atau lebih pola yang sudah ada di sekitarnya dan disatukan sebagai pola-pola yang sekaligus menembus di dalam satu kawasan sehingga tidak akan memiliki keunikan dari dirinya sendiri melainkan campuran.

Sambungan

Tembusan

Sumber: Zahnd, 1999.

c. Linkage Kolektif Merupakan karakteristik perkotaan yang penting karena sebuah kota memiliki banyak wilayah yang mempunyai arti terhadap hubungan dari dalam maupun luar. Elemen-elemen sistem bentuk kolektif dapat dilihat pada Tabel II.3 berikut ini.

TABEL II.3 ELEMEN LINKAGE KOLEKTIF
NAMA GAMBAR KETERANGAN Sebuah compositional form merancang objek-objek seperti komposisi dua dimensi dan individual dimana hubungan antara masing-masing objeknya agak abstrak. Dalam tipe ini linkage agak sedikit diasumsikan dan tidak langsung kelihatan. Pembentukan ruang dalam bentuk ini sering berkualitas rendah, hal ini disebabkan kurang perhatiannya fungsi ruang terbuka di dalam segala aktivitas para pelakunya. Megaform menghubungkan struktur seperti bingkai linear atau sebagai grid. Pada tipe ini, linkage dicapai melalui hierarki-hierarki yang bersifat open ended (masih terbuka untuk berkembang). Perancangan ini digunakan dalam proyek-proyek besar yang melibatkan prasarana dan sirkulasi di kawasan yang bersifat makro, misalnya lapangan terbang, stasiun, kampus, industri, dan daerah metropolitan. Groupform dari penambahan akumulasi bentuk dan struktur yang biasanya berdiri Groupform di samping ruang terbuka publik. Pada tipe ini, linkage dikembangkan secara organis. Kota kuno dan desa tradisional cenderung mengikuti tipe ini. Saat ini elemen groupform sering dipakai dalam perancangan kawasan baru dengan membuat suatu akumulasi bangunan sebagai satu kelompok. Sumber: Zahnd, 1999.

Compositional form

Megaform

Pendekatan Place Sebuah place adalah sebuah space yang memiliki suatu ciri khas tersendiri, artinya “suatu

space akan ada kalau dibatasi sebagai sebuah void, dan sebuah space menjadi sebuah place jika mempunyai arti lingkungan yang berasal dari budaya daerahnya” (Zahnd, 1999: 137). Place dapat diidentifikasi dari kondisi fisik kawasan (terkait dengan citra kota) dan kondisi non fisik kawasan (terkait dengan aspek sosial budaya masyarakatnya). Terdapat dua elemen perkotaan yang kontekstual yaitu elemen place statis dan elemen place dinamis. Perbedaan dasar secara spasial antara keduanya terletak pada arah dan gerakan di dalam lingkungannya. Place sangat erat kaitannya dengan citra kota. Menurut Markus Zahnd, “citra kota adalah gambaran mental dari sebuah kota sesuai dengan rata-rata pandangan masyarakatnya” (Zahnd, 1999: 156). Menurut Kevin Lynch citra kota dapat dibagi dalam lima elemen seperti yang terlihat dalam Tabel II.4 berikut ini.

TABEL II.4 ELEMEN CITRA KOTA
NAMA Path (jalur) GAMBAR KETERANGAN Merupakan rute-rute sirkulasi yang biasanya digunakan orang untuk melakukan pergerakan secara umum, yakni jalan, gang-gang utama, jalan transit, lintasan kereta api, dan lain-lain. Merupakan elemen linear yang tidak digunakan sebagai path. Edge berada pada batas antara dua kawasan tertentu dan berfungsi sebagai pemutus linear. Merupakan kawasan-kawasan kota dalam skala dua dimensi. Sebuah kawasan district memiliki ciri khas yang mirip (pola, bentuk, dan wujudnya) sehingga orang merasa harus memulai dan mengakhirinya. Merupakan simpul atau lingkaran daerah strategis dimana arah atau aktivitasnya saling bertemu dan dapat diubah ke arah atau aktivitas lain. Merupakan titik referensi seperti elemen node tetapi orang tidak masuk ke dalamnya karena bisa dilihat dari luar letaknya.

Edge (tepian) District (kawasan) Node (simpul) Landmark (tetenger)

Sumber: Kevin Lynch dalam Zahnd, 1999.

Pendekatan Figure ground Teori figure ground dalam tata kota dipahami sebagai hubungan tekstural antara bentuk

yang dibangun (building mass) dan ruang terbuka (open space). Analisis figure ground mengidentifikasikan sebuah tekstur dan pola sebuah tata ruang perkotaan (urban fabric) serta mengidentifikasikan masalah keteraturan massa/ruang perkotaan. Menurut arti terminologi, figure adalah istilah untuk massa yang dibangun (biasanya dalam gambar ditunjukkan dengan warna hitam) dan ground adalah istilah untuk semua ruang di luar massa itu (biasanya ditunjukkan dengan

warna putih). “Kelemahan analisis figure ground adalah perhatiannya hanya mengarah pada gagasan ruang perkotaan dua dimensi saja dan terlalu statis” (Zahnd, 1999: 79). Pola-pola kawasan secara tekstural yang mengekspresikan rupa kehidupan dan kegiatan perkotaan secara arsitektural dapat diklasifikasikan dalam tiga kelompok yaitu (Zahnd, 1999: 80): 1. Susunan kawasan bersifat homogen, dimana hanya ada satu pola penataan 2. Susunan kawasan heterogen, dimana dua atau lebih pola berbenturan 3. Susunan kawasan bersifat menyebar dengan kecenderungan kacau Sistem hubungan dalam tekstur figure ground mengenal dua kelompok elemen, yaitu solid dan void. Ada tiga elemen dasar yang bersifat solid serta empat elemen dasar yang bersifat void (Zahnd, 1999: 96). Elemen tersebut dapat dilihat pada Tabel II.5 berikut ini.

TABEL II.5 ELEMEN SOLID DAN VOID
NAMA S O Blok tunggal L I Blok yang D mendefinisi sisi GAMBAR KETERANGAN Blok yang bersifat agak individual sehingga paling mudah untuk diidentifikasi. Blok yang mendefinisi sisi yang dapat berfungsi sebagai pembatas secara linear yang dibentuk oleh elemen dari satu, dua, atau tiga sisi. Blok ini memiliki bermacam-macam massa dan bentuk namun masingmasing tidak dilihat sebagai individu-individu melainkan hanya dilihat keseluruhan massanya secara bersama. Elemen ini memiliki pola ruang yang berkesan terfokus dan tertutup. Di kota dapat diamati pada skala besar (misalnya di pusat kota) maupun di berbagai kawasan (di dalam kampung). Elemen ini memperhatikan ruang yang bersifat linear, tetapi kesannya tertutup. Elemen ini memiliki kesan ruang bersifat terbuka namun masih tampak terfokus (misalnya alun-alun besar dan taman kota). Elemen ini memiliki pola ruang yang berkesan terbuka dan linear (misalnya kawasan sungai).

Blok medan V O I D Elemen sistem tertutup yang sentral

Elemen sistem tertutup yang linear Elemen sistem terbuka yang sentral Elemen sistem terbuka yang linear Sumber: Zahnd, 1999.

Elemen-elemen solid/void tidak dapat dipisahkan satu dengan yang lainnya karena secara bersama-sama membentuk unit perkotaan yang menunjukkan sebuah tekstur perkotaan dalam dimensi yang lebih besar. “Secara tekstural pola kawasan kota dibedakan menjadi grid, angular, kurvilinear, radial konsentris, aksial serta organis” (Zahnd, 1999: 98). Ketiga pola tekstur kota tersebut dapat dilihat dalam Gambar 2.3 berikut ini.

Sumber: Zahnd, 1999.

Gambar 2.3 Pola Tekstur Kota secara Diagramatis

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful