BAB I Eskalasi Potensi Konflik Laut Cina Selatan Salah satu persoalan yang paling mendasar dan krusial

yang dapat memicu konflik antar negara adalah masalah perbatasan. Termasuk Indonesia yang mempunyai persoalan dengan perbatasan, terutama mengenai garis perbatasan di wilayah perairan laut dengan negara-negara tetangga. Apabila dicermati, banyak negara-negara di Asia Pasifik juga menghadapi masalah yang sama. Anggapan bahwa situasi regional sekitar Indonesia dalam tiga dekade ke depan tetap aman dan damai, mungkin ada benarnya, namun di balik itu sebenarnya bertaburan benih konflik, yang dapat berkembang menjadi persengketaan terbuka. Faktor-faktor yang dapat menyulut persengketaan antar negara dapat berupa ketidaksepahaman mengenai garis perbatasan antar negara yang banyak yang belum terselesaikan melalui mekanisme perundingan, peningkatan persenjataan dan eskalasi kekuatan militer baik oleh negara-negara yang ada di kawasan ini maupun dari luar kawasan, ataupun juga eskalasi aksi terorisme lintas negara dan gerakan separatis bersenjata yang dapat mengundang kesalahpahaman antar negara bertetangga.1 Dengan melihat berbagai faktor di atas, beberapa pengamat politik menyimpulkan bahwa potensi konflik di kawasan Asia Pasifik sesungguhnya sangat bervariasi, baik sifat, karakter, maupun intensitasnya. Namun memperhatikan beberapa konflik terbatas dan berintensitas rendah yang terjadi selama ini, terdapat beberapa hal yang dapat memicu terjadinya konflik terbuka berintensitas tinggi yang dapat berkembang menjadi konflik regional bahkan internasional. Faktor-faktor potensial yang dapat menyulut persengketaan terbuka itu bisa saja berasal dari implikasi dari internasionalisasi konflik internal di satu negara yang dapat menyeret negara lain ikut dalam persengketaan, pertarungan antar elite di suatu negara yang karena berbagai faktor merambat ke luar negeri, ataupun juga meningkatnya persaingan antara negaranegara maju dalam membangun pengaruh di kawasan ini. Konfliknya bisa berwujud persengketaan antar sesama negara maju, atau salah satu negara maju dengan salah satu negara yang ada di kawasan ini. Disamping itu, ada hal lain juga yang dapat menyulut potensi persengketaan terbuka yaitu eskalasi konflik antar negara berkembang
1

http://indronet.files.wordpress.com/2007/09/konflik-perbatasan-asia-pasifikrefisi1.pdf. Diakses pada 7 April 2009

1

skripsi-tesis. dimana bab pertama menjabarkan kerangka pemikiran penulisan agar dapat lebih mudah menganalisis eskalasi konflik yang terjadi.org/97805218/39167/excerpt/9780521839167_excerpt. Berdasarkan uraian diatas.pdf. Dan bab ketiga berupa kesimpulan secara keseluruhan dari penulisan makalah ini.cambridge.com/07/04/peranan-unmik-dalam-memulihkan-keadaan-di-kosovo-pascakonflik-etnis-pdf-doc. Bab kedua menjelaskan latar belakang konflik di Kepulauan Spratly dan peran diplomasi preventif Indonesia dalam mencegah sengketa antar negara. Yang dimaksud dengan diplomasi preventif yaitu suatu tindakan yang ditujukan untuk mencegah perselisihan antara pihak-pihak yang bertikai.3 Salah satu jenis dari diplomasi yaitu diplomasi preventif. Diakses pada 8 April 2009 2 . Definisi diplomasi preventif bermacam-macam tergantung pada organisasi atau lembaga penelitian. mencegah adanya pertikaian yang lebih luas dan menjadi konflik dan jika sudah menjadi konflik.4 Istilah diplomasi preventif mulai dipakai oleh SekJen PBB Dag Hammerskjold dalam pidatonya saat sidang umum PBB pada era perang dingin tahun 1960-an.2 Dalam makalah ini akan dibahas tentang sengketa konflik Laut Cina Selatan di Kepulauan Spratly yang mencerminkan adanya konflik dalam konteks klaim antar wilayah di kawasan Asia Pasifik. Latar belakang munculnya pemikiran diplomasi preventif adalah pencegahan konflik yang dianggap bisa menyebar sehingga bisa menimbulkan perang dunia dalam kerangka perang dingin. Penulis membaginya ke dalam tiga bab. maka research question yang penulis ajukan adalah “Apa upaya-upaya diplomasi preventif Indonesia dalam kasus sengketa Kepulauan Spratly di Laut Cina Selatan ?” Kerangka Pemikiran Diplomasi adalah salah satu upaya untuk mengatur hubungan-hubungan antar negara (dalam konteks dunia internasional) dengan cara melakukan negosiasi-negosiasi yang dilakukan oleh seorang duta besar yang mewakili negaranya masing-masing.htm. harus dibatasi penyebarannya. Diakses pada 8 April 2009 4 http://www. Diplomasi preventif lebih dari sekedar 2 3 Ibid http://assets.melampaui ambang batas toleransi keamanan regional sehingga menyeret pihak ketiga terlibat di dalamnya. Ini biasanya bermula dari ”dispute territorial” antar negara terutama mengenai garis batas perbatasan antar negara.

Diplomasi antara Teori dan Praktik. memastikan penyebarannya sekecil mungkin. hal 162 http://assets.pdf. Namun seiring dengan perkembangan waktu peran dari Diplomasi preventif ini pun mulai dijalankan oleh PBB terhadap konflik-konflik yang menimbulkan jatuh korban jiwa cukup besar di suatu wilayah atau negara agar tidak semakin meluas ke negara-negara lain diluar negara konflik sehingga tidak semakin menimbulkan jatuh korban yang lebih banyak lagi. yaitu: 1. Graha Ilmu: Yogyakarta. (3) jika konflik pecah. 2.cambridge. Diakses pada 8 April 2009 3 . Sarana utama stabilitasi adalah ditetapkannya suatu “kehadiran PBB” 5 6 Sukawarsini Djelantik. 2008. Diplomasi preventif harus dilaksanakan secepatnya sebelum ketegangan menjadi buruk bahkan sampai terjadi konflik. Ins Claude Jr.menyelamatkan dunia tetapi untuk mencegah agar tidak terisolasi dari masyarakat internasional. menggambarkan diplomasi preventif sebagai fungsi penetral untuk dijalankan sejauh mungkin oleh negara-negara yang sikap tidak memihaknya dan membuat PBB sebagai penyeimbang hubungan International yang efektif. situasi ketegangan harus diketahui secepatnya. Untuk melakukan diplomasi preventif secepatnya.org/97805218/39167/excerpt/9780521839167_excerpt. (2) untuk mencegah perselisihan menjadi konflik terbuka. Negara yang menerima diplomasi preventif harus setuju dengan adanya intervensi 3. Pada awalnya penerapan diplomasi preventif adalah untuk mencegah semakin meluasnya hegemonitas dua kekuatan raksasa. Negara-negara besar diperlukan untuk mendukung diplomasi preventif yang dilaksanakan oleh rezim internasional karena diplomasi preventif biasanya dilaksanakan sesuai dengan sanksi ekonomi atau bantuan ekonomi sebagai alat untuk menyukseskannya.6 Diplomasi preventif merupakan penggabungan antara elemen-elemen dari diplomasi publik serta diplomasi diam-diam.5 Syarat-syarat untuk keberhasilan diplomasi preventif ada tiga. Diplomasi preventif memiliki tiga tujuan: (1) mencegah konflik antar negara atau antara pemerintah dengan kelompok minoritas di dalam negara. yaitu Amerika dan Uni Soviet.

Diplomasi preventif dapat dilakukan oleh Sekjen PBB pribadi atau melalui pejabat senior atau badan-badan khusus atau program. PBB menjadi pasukan pemadam kebakaran di dunia yang sangat mudah terbakar. Atau jika konflik itu pecah. di samping juga harus melibatkan penempatan pasukan preventif. Diplomasi preventif memerlukan langkah-langkah untuk menciptakan kepercayaan. dan mencegah adanya pertikaian yang meningkat menjadi konflik dan untuk membatasi meluasnya konflik tersebut apabila terjadi. maka tindakan harus dilakukan secara cepat untuk membendungnya dan menyelesaikan sebab-musababnya yang menjadi dasar konflik. Sekjen PBB telah memberikan batasan sebagai tindakan untuk mencegah pertikaian yang muncul di antara para pihak.dalam persengketaan peripheral. Membahas mengenai diplomasi preventif. oleh Dewan Keamanan maupun Majelis Umum dan oleh organisasi-organisasi regional bekerjasama dengan PBB. membuat satu peringatan dini dengan pengumpulan informasi dan misi pencarian fakta baik secara resmi maupun tidak resmi. dan dalam keadaan tertentu menempatkan wilayah bebas militer 4 . Bisa dikatakan. Pelaksanaan diplomasi yang bisa diharapkan efisien adalah untuk meredakan ketegangan sebelum hal ini menjadi konflik.

kapal perdagangan internasional. kawasan tersebut merupakan jalur pelayaran. dan strategis. Pemilikan sejumlah pulau-pulau kecil di Laut Cina Selatan memperbesar permasalahan ini sehingga menimbulkan ketegangan tentang hak atas laut teritorial atau Landas Kontinen. sehingga menimbulkan masalah penentuan batas. Kepulauan Spratly adalah sebuah gugusan pulau-pulau kecil dan pulau-pulau karang kira-kira jumlahnya sebanyak 600-an dan 100-an diantaranya kerap tertutup permukaan air laut jika sedang pasang. Dua puluh kapal perang Cina yang sedang berlayar di Laut Cina Selatan mencegat Angkatan Laut Vietnam sehingga terjadi bentrokan. yaitu Malaysia dan Filipina. gas. Kepulauan Spratly.htm. Diakses pada 7 April 2009 http://tumoutou.blogspot. konsiderasi ekonomi.net/702_05123/j_judiono. maka Cina harus mengimpor sekitar 100 juta ton minyak pada tahun 2010. Ini berarti mendapatkan kepulauan tersebut sudah dapat diperkirakan akan mengurangi ketergantungan minyak dari negara-negara kawasan Teluk. Perkiraan cadangan minyak di Kepulauan Spratly mencapai sekitar 10 milyar ton. Diakses pada 7 April 2009 5 . tetapi juga melibatkan dua negara anggota ASEAN.html.8 Selain itu. politis.com/2009/01/konflik-kepulauan-separatly. serta Taiwan.7 Pertikaian di kepulauan tersebut sebenarnya sudah berlangsung lama dan aktor yang berperan di dalamnya tidak hanya Vietnam dan Cina. jikakalau Cina tidak dapat menemukan sumber minyak di daratan. dan komunikasi internasional (jalur 7 8 http://jurnal-politik. Kawasan kepulauan ini menjadi sangat penting karena kondisi potensi geografisnya maupun potensi sumber daya alam yang dimilikinya. Sebab dasarnya dapat dilacak kembali ke klaim historik yang beranekaragam. Peristiwa ini dikenal sebagai peristiwa 14 Maret 1988. Bentrokan antara Cina dan Vietnam ini terjadi di Karang Johnson Selatan di Kepulauan Spratly pada 14 Maret 1988 yang mengakibatkan hilangnya 74 tentara Vietnam. seperti minyak. dan bahan tambang lainnya. Zona Ekonomi Eksklusif (ZEE) dari hampir semua negara yang berbatasan dengan Laut Cina Selatan saling tumpang tindih.BAB II Sengketa Teritorial Kepulauan Spratly di Laut Cina Selatan Pada bulan April tahun 1988 terjadi ketegangan di Kepulauan Spratly antara Vietnam dengan Cina. bila dilihat dalam tata lautan internasional merupakan kawasan bernilai ekonomis. serta pertimbangan geostrategis negara-negara yang terlibat.

10 Vietnam menentang pendapat Cina dengan menyebutkan bahwa Kaisar Gia Long dari Vietnam pada tahun 1802 telah mencantumkan Spratly sebagai wilayah kekuasaannya. Taiwan misalnya menamakan Kepulauan Spratly dengan Shinnengunto.9 Kenyataannya terjadi perang klaim dan upaya-upaya penguasaan atas wilayahwilayah di Kepulauan Spratly itu. baik historis maupun legal formal.11 Sedangkan Filipina menduduki kelompok gugus pulau di bagian Timur kepulauan Spartly yang disebut sebagai Kalayaan. Tahun 1978 menduduki lagi gugus 9 http://jurnal-politik.html. Yang kemudian menarik untuk disoroti adalah proses penguasaan dan dasar argumentasi yang dikemukakan masing-masing negara itu untuk menguasai gugusan pulau yang terdapat di Spratly. Berdasarkan penemuan-penemuan tersebut Cina menyatakan bahwa Kepulauan Spratly secara historis merupakan wilayah kekuasaan Cina sejak masa kekaisaran Dinasti Han. penemuan situs. Vietnam menyebut dengan Dao Truong Sa (Beting Panjang).com/2009/01/konflik-kepulauan-separatly. sehingga menjadikan kawasan itu mengandung potensi konflik sekaligus potensi kerjasama. peta yang dikeluarkan masing-masing negara yang terlibat sengketa kepulauan ini menamainya dengan berbeda-beda.blogspot. peta-peta.html. sedangkan Cina lebih suka menyebut Nansha Quadao (kelompok Pulau Selatan). Filipina menyebut Kalayaan (kemerdekaan).lintas laut perdagangan internasional). dan penggunaan gugus-gugus pulau oleh nelayannya. yakni 206-220 SM sampai ke masa Dinasti Ming dan Dinasti Ching yang berkuasa pada tahun 1400-an M.com/2009/01/konflik-kepulauan-separatly. Nama internasional yang lazim diberikan kepada gugusan kepulauan itu ialah Spratly. Jika diamati. Diakses pada 7 April 2009 11 http://jurnal-politik. Diakses pada 7 April 2009 http://dewitri. Malaysia menyebut dengan Itu Aba dan Terumbu Layang. Diakses pada 7 April 2009 10 6 . dokumen-dokumen kuno. Tuntutan Cina terhadap Spratly didasarkan pada sejumlah catatan sejarah. Perbedaan nama dimaksudkan agar kepulauan tersebut terisyaratkan sebagai milik negara yang memberikan nama.wordpress. Persoalannya menjadi lebih berat karena klaim-klaim tersebut saling tumpang tindih karena masing-masing negara mendasarkan klaimnya pada “kebenaran” versinya sendiri.com/2009/01/03/dilema-keamanan-asean-dalam-konflik-laut-cina-selatan/.blogspot. Klaim ini didukung bukti-bukti arkeologis Cina dari Dinasti Han. Nelayan Vietnam pun telah lama sebelumnya melakukan pelayaran ke dan di wilayah Kepulauan Spratly itu.

Vietnam. dan telah diloloskan parlemen Cina yang memasukkan Kepulauan Spratly sebagai wilayahnya. Alasan Filipina menduduki kawasan tersebut karena kawasan itu merupakan tanah yang tidak sedang dimiliki oleh negara-negara manapun.pulau Panata. Langkah itu diambil berdasarkan peta Batas Landas Kontinen Malaysia tahun 1979. Secara de facto. dengan mengeluarkan Undang-Undang tentang Laut Teritorial dan Contiguous Zone pada tanggal 25 Februari 1992. yang menyatakan bahwa Jepang telah melepaskan haknya terhadap Kepulauan Spartly selama PD II dan meninggalkannya setelah kekalahannya tanpa menyebutkan kepada siapa kepulauan tersebut akan diserahkan. Sementara Brunei Darussalam yang memperoleh kemerdekaan secara penuh dari Inggris pada 1 Januari 1984 kemudian juga ikut mengklaim wilayah di Kepulauan Spratly. negara yang aktif menduduki di sekitar kawasan ini adalah Taiwan. Sementara Cina sendiri baru menguasai kepulauan tersebut pada tahun 1988. Filipina. Sampai saat ini. yang mencakup sebagian dari Kepulauan Spartly.com/2009/01/03/dilema-keamanan-asean-dalam-konflik-laut-cina-selatan/. Filipina juga menunjuk perjanjian perdamaian San Francisco 1951.12 Klaim tumpang tindih tersebut mengakibatkan adanya pendudukan terhadap seluruh wilayah kepulauan bagian selatan kawasan Laut Cina Selatan. Diakses pada 7 April 2009 7 .wordpress. Akhirnya. Sikap dan tindakan Cina itu merupakan bentuk frontal penolakan terhadap serentetan protes yang dilakukan Vietnam dan seruan agar diadakan perundinganperundingan mengenai Kepulauan Spratly. Menurut Malaysia. Cina telah memperkuat kehadiran militernya di kawasan 12 http://dewitri. Dua kelompok gugus pulau lain. Brunei hanya mengklaim peraian dan bukan gugus pulau. juga diklaim Malaysia sebagai wilayahnya yaitu Terumbu Laksamana yang diduduki oleh Filipina dan Amboyna yang diduduki Vietnam. secara agresif membangun konstruksi dan instalansi militer serta menghadirkan militernya secara rutin di kepulauan tersebut. Malaysia mengatakan bahwa sebagian dari Kepulauan Spratly merupakan wilayah negara bagian Sabah yang dinamai Terumbu Layang. dan Malaysia. Namun. Hal ini semakin jelas karena Cina berusaha mengukuhkan kehadirannya di Laut Cina Selatan secara de jure. Taiwan mengklaim Kepulauan Spratly sebagai bagian dari warisan kekaisaran Cina dengan dalih yang sama dengan dalih klaim yang diajukan Cina.

Indonesia berpendapat bahwa instabilitas di kawasan 13 Ibid 8 .13 Peta klaim tumpang tindih teritorial Kepulauan Spratly Peran Diplomasi Preventif Indonesia Dalam Menyelesaikan Kasus Sengketa Kepulauan Spratly Kasus sengketa di wilayah Laut Cina Selatan ini akan menjadi sebuah sumber konflik yang potensial di kawasan Asia Timur dan Asia Tenggara jika tidak ada pihak yang berinisiatif untuk mencegah terjadinya konflik terbuka di kawasan ini. Indonesia sebagai salah satu negara yang terletak di sebelah selatan Laut Cina Selatan berupaya untuk meredam konflik ini.tersebut serta melakukan modernisasi kekuatan pertahanan menuju ke arah tercapainya armada samudra.

15 Kepentingan Indonesia juga terletak pada penarikan garis perbatasan di sekitar Laut Natuna –yang kaya akan gas alam-. Indonesia dianggap dapat mengetahui keadaan yang sebenarnya terjadi di kawasan Laut Cina Selatan karena lokasinya yang tidak terlampau jauh. Selain itu. pemberantasan pelanggaran hukum di laut dan perlindungan terhadap lingkungan. diantaranya adalah keamanan dan keutuhan nasional. klaim ini menginterupsi wilayah ZEE dan landas kontinen Indonesia. Policies. Indonesia juga memiliki kepentingan lainnya. apakah ASEAN sebagai salah satu organisasi regional di kawasan Asia Tenggara masih eksis atau tidak. tanggal 4 April 2009 15 “PERAN DIPLOMASI PREVENTIF INDONESIA DALAM MENCEGAH SENGKETA ANTAR NEGARA: STUDI KASUS LAUT CINA SELATAN”. and Prospects for Diplomatic Accommodation”.org/docs/Joyner. Indonesia berkepentingan memberantas 14 “The Spratly Islands Dispute in the South China Sea: Problems.pdf. Jika keempat negara tersebut tetap bersikukuh untuk saling mengakui Kepulauan Spratly. tanggal 4 April 2009 9 . Alasan Indonesia antara lain adalah untuk mengamankan kepentingan ekonominya.%20Spratly%20Islands %20Dispute. namun Indonesia tidak termasuk dalam salah satu pihak yang bersengketa dalam memperebutkan Kepulauan Spratly.14 Selain itu. Indonesia ditunjuk sebagai penengah dalam upaya untuk menyelesaikan kasus sengketa ini karena Indonesia dianggap sebagai negara yang netral.southchinasea. yakni Malaysia. yang juga masuk dalam wilayah Laut Cina Selatan.blogspot. Filipina. Diakses dari http://fitriyaniriduan. Vietnam. Walaupun Indonesia secara geografis terletak di sebelah selatan Laut Cina Selatan. hal ini terkait dengan adanya empat negara ASEAN yang mengklaim.berpeluang menggoncangkan keutuhan internal ASEAN. Bila Cina masih bersikeras mengimplementasikan garis datarnya seperti yang tercantum pada peta tahun 1947. dan Brunei Darussalam.html. Indonesia juga memiliki alasan tersendiri mengapa sengketa di Laut Cina Selatan ini harus segera diselesaikan. Diakses dari http://www. maka aktifitas perdagangan dan eksplorasi alam yang dilakukan oleh Indonesia di kawasan laut yang sangat strategis bagi pelayaran dan juga kaya akan hasil alam ini akan menjadi lancar. sehingga Indonesia dapat memberikan pendapat yang sifatnya netral kepada semua negara yang bersengketa. Hal ini dikarenakan jika keamanan dan ketertiban di Laut Cina Selatan dapat tercapai.com/2008/07/peran-diplomasi-preventif-indonesia. Hal inilah yang kemudian menjadikan Indonesia sebagai pengambil inisiatif dalam menyelesaikan sengketa ini. maka keutuhan ASEAN pun akan dipertanyakan oleh dunia luar.

pelanggaran hukum yang terjadi.html. eksplorasi dan eksploitasi sumber kekayaan alam secara ilegal) di wilayah ini secara langsung merugikan kepentingan ekonomi Indonesia.17 Dalam pertemuan yang digagas pertama kali pada tahun 1990 ini. Ini menyebabkan hancurnya perkembangbiakan ikan-ikan di perairan Indonesia dan menurunkan hasil tangkapan ikan di Indonesia. dan juga komukasi yang legal di kawasan ini. Confidence Building Measures (CBMs) juga menjadi bagan penting dalam agenda pertemuan tersebut. peran negara besar dalam kepentingannya atas wilayah ini dan Confidence Building Measures (CBMs) untuk me-manage potensi konflik secara damai dan bijaksana. Serangkaian dialog ini kemudian dilanjutkan dengan diskusi masalah yang lebih detail guna mencari celah-celah kerjasama yang bisa dibangun termasuk isu kedaulatan atas Kepulauan Spratly.org/pubs/specialreports/early/snyder/South_China_Sea1. 16 17 Ibid “The South China Sea Dispute: Prospects for Preventive Diplomacy”. Semangat diplomasi preventif terefleksi dari semakin tingginya kesadaran negara-negara sekitar untuk melihat masalah ini dari kacamata positif. tanggal 4 April 2009 18 Ibid 19 Ibid 10 . Hal ini diwujudkan dalam South China Sea Informal Meetings. Keputusan tersebut diantaranya adalah pembentukan kelompok kerja yang bertugas untuk mengkaji sumber daya yang terkadung di Kepulauan Spratly. Selain itu. dihasilkan beberapa keputusan. kerusakan lingkungan di wilayah ini secara tidak langsung mempengaruhi ekosistem di perairan Indonesia. Diakses dari http://www. penagkapan ikan. navigasi serta ancaman kedaulatan dan hukum (penangkapan ikan secara ilegal.19 Dialog ini dilakukan sebagai langkah awal menangani masalah kedaulatan yang sangat sensitif.18 Signifikansi dari kelompok kerja yang disepakati dalam pertemuan tersebut menghasilkan kesepakatan diantara negara-negara yang bersengketa untuk mendirikan sebuah wilayah politik untuk bekerja sama dan berhubungan satu sama lain. kesepakatan tentang pelayaran. yang diadakan tiap tahun. Dan sebagai negara kepulauan yang sebagian wilayahnya terdiri atas lautan.16 Peran Indonesia dalam menyelesaikan sengketa ini ditunjukkan melalui pembentukan perundingan diantara negara-negara yang bersengketa.usip. walaupun sengketa masih terdapat diantara negara-negara tersebut. Ancaman kekerasan.

mengkomunikasikan hasil-hasil dialog kepada dunia internasional. implementasi sangat susah dilaksanakan. Kekuatan confidence-building. Cit. tidak hanya melibatkan pihak pemerintah dalam kapasitas informalnya. Pihak pemerintah negara-negara yang mengklaim semakin menyadari efek konfrontasi militer berdampak buruk bagi semua pihak dan biaya yang dikeluarkan untuk melakukan konflik tersebut juga terlalu besar. Tim teknis ini memformulasikan proyek kerjasama program pelatihan monitoring ekosistem di Laut Cina Selatan (Training Program for Ecosystem Monitoring in the South China Sea). Indonesia juga mengupayakan perundingan damai lewat Technical Working Groups (TWGs). Upaya yang dilakukan oleh Indonesia lainnya adalah upaya pembentukan kerjasama.20 Sayangnya. Pengaruhnya Terhadap Pencegahan Sengketa Penggunaan mekanisme diplomasi preventif cukup signifikan pengaruhnya dalam penyelesaian sengketa-sengketa secara damai. Dalam dialog ini. Penetrasi formalisasi workshop untuk menghasilkan keputusan yang mengikat secara hukum jauh dari ekspektasi banyak pihak. organisasi regional dan internasional demi mendapatkan dukungan dan bantuannya untuk mengimplementasikan proyek kerjasama ini. pertemuan workshop termasuk pembahasan isu ini dalam forum resmi ASEAN sangat terasa ketika negara yang mengklaim berusaha menahan diri untuk tidak terlibat lagi dalam aksi saling menduduki daerah (melakukan 20 “PERAN DIPLOMASI PREVENTIF INDONESIA DALAM MENCEGAH SENGKETA ANTAR NEGARA: STUDI KASUS LAUT CINA SELATAN”. pembangunan kerjasama. Indonesia tetap memegang kendali kepemimpinan. Proyek kerjasama yang berhasil disepakati antara lain adalah proyek kerjasama dalam bidang penelitian keragaman hayati. Op. Dalam proyek ini. Beberapa pihak juga meragukan efektivitas workshop ini untuk meletakkan dasar bagi political will dan negosiasi tingkat tinggi antar pihak yang mengklaim untuk mencegah sengketa teritorial.Selain South China Sea Informal Meetings. Indonesia kemudian terpilih menjadi koordinator untuk kelompok studi geologi yang mengacu pada penelitian potensi hidrokarbon yang terkandung di dalamnya. tapi juga ahli-ahli kelautan dan para akademisi. studi dan manajemen sumber daya masih sangat sensitif sehingga kemajuan progresif sulit dicapai. 11 . Groups of Experts (GEs) dan Study Groups (SGs). Kalaupun kesepakatan berhasil dibuat.

menemukan jalan keluar yang bisa diterima masing-masing pihak bersengketa. terciptanya code of conduct antar negara yang bersengketa. menumbuhkan semangat kerjasama bilateral dan regional resmi dengan mengesampingkan masalah kedaulatan teritorial. yang berhasil mendudukkan 22 negara se-Asia Pasifik untuk mencari jalan penyelesaian. Indonesia mengemban peran terdepan sehingga masalah ini menjadi isu yang dibahas dalam forum yang lebih besar yaitu ARF (ASEAN Regional Forum) dan ASEAN Post-Ministerial Conference. 12 . perlindungan lingkungan dan riset ilmiah kelautan serta mekanismenya atau “norms-building”. untuk duduk bersama –secara resmi.okupasi fisik). Selain itu. Melalui forum ini. memperkuat usaha-usaha diplomatik resmi dalam kerangka regional untuk menciptakan stabilitas di kawasan. second track diplomacy prakarsa Indonesia ini sangat besar artinya bagi terciptanya kesadaran dan political will negara-negara yang mengklaim kepemilikan pulau-pulau di Laut Cina Selatan. manajemen sumber daya alam. Kesepakatan yang dihasilkan menjadi rekomendasi untuk tidak menyelesaikan masalah dengan jalan kekerasan. 3. tapi juga bagi negara di kawasan regional dan internasional. mencegah negara-negara yang mengklaim untuk tidak meneruskan atau memperluas klaimnya. dialog ini berhasil membangun visi kerjasama di bidang keamanan. 2. 4. Ditengah kritik tajam akan efektivitas workshop in dalam mencegah konflik terbuka. politik. Pengaruh signifikan diplomasi preventif yang dijalankan Indonesia dapat dijelaskan sebagai berikut: 1. Kesadaran ini mencegah terjadinya konflik bersenjata yang saat itu makin memanas dalam usaha perebutan kepemilikan gugus-gugus kepulauan. Norms-building ini penting untuk mengatur usaha-usaha kerjasama yang dilakukan. navigasi. Indonesia diakui dunia internasional menjadi pihak aktif dalam mencari celah kemungkinan kerjasama dan menyerukan arti penting kawasan Laut Cina Selatan tidak hanya bagi negara di sekitarnya.

Untuk mengamankan kepentingan ekonominya baik secara perdagangan dan keamanan sumber daya alam Indonesia di bawah laut. dimana terdapat empat negara ASEAN yang terlibat dalam kasus sengketa teritori di Laut Cina Selatan. Filipina. 4. rangkaian lokakarya ini melibatkan negara-negara yang mengklaim wilayah Kepulauan Spratly.Ancama kekerasan. 5. Penyelenggaraan dialog mengenai konflik di Laut Cina Selatan sejak tahun 1990 pertama kali hanya melibatkan perwakilan non-resmi negara-negara ASEAN. 3. Dialog ini terdiri dari: 13 . alasan itu adalah beberapa kepentingan Indonesia.navigasi dan ancaman kedaulatan secara ilegal. Memberantas pelanggaran hukum yang terjadi. Namun sejak tahun 1991.BAB III KESIMPULAN Indonesia berpendapat bahwa instabilitas di kawasan ini berpeluang menggoncang keutuhan internal dalam tubuh ASEAN. antara lain: 1. dan Brunei Darussalam. dan Indonesia tidak termasuk dalam salah satu pihak yang bersengketa. Vietnam. Tetapi Indonesia memiliki alasan sendiri agar sengketa ini dapat segera diselesaikan. pemberantasan pelanggaran hukum di laut dan perlindungan terhadap lingkungan. Indonesia ditunjuk sebagai mediator untuk menjadi penengah dalam konflik ini dikarenakan Indonesia dianggap sebagai pihak yang netral dan mempunyai pengaruh yang cukup kuat di dalam kawasan Asia Tenggara. 2. Wujud diplomasi preventif dan upaya yang dilakukan Indonesia dalam kasus sengketa Kepulauan Spratly di Laut Cina Selatan adalah menjaga perdamaian dengan menjadikan potensi konflik menjadi potensi kerjasama dengan cara (peace making dan peace building) menyelenggaraan kerjasama antar negara-negara yang terlibat konfik. Keamanan dan keutuhan nasional. yaitu Malaysia. Melindungi perbatasan sekitar Laut Natuna karena konflik ini akan mengubah ZEE danlandas kontinen Indonesia. Melindungi ekosistem di perairan Indonesia yang akan rusak bila terjadi perang.

untuk membahas isuisu kerjasama serta melibatkan para pejabat pemerintah dalam kapasitas non resmi. dan Study Groups (SGs). pelayaran. Upaya diplomasi perventif Indonesia dalam wujud sebagai mediator melalui usaha-usaha kerjasama dan dialog-dialog telah dilakukan dan dapat dikatakan berhasil sejauh ini karena membuat negara-negara yang bersengketa untuk dapat duduk bersama merumuskan suatu aturan berperilaku (code of conduct) bagi semua negara yang bersengketa di kawasan Laut Cina Selatan. permasalahan legal dan perumusan aturan berperilaku (code of conduct) diselenggarakan untuk mengatur mekanisme kerjasama. Selain itu. dan juga proyek kerjasama dalam bidang Penelitian Keragaman Hayati. b. Para peserta lokakarya ini inklusif bagi semua pihak yang berhubungan dengan masalah ini. 14 .a. Ini terbukti dari penyelenggaraan program pelatihan bagi para navigator dan ahli kelautan yang direkrut dari negara-negara ASEAN dan negara yang mengklaim. Masalah-masalah yang menjadi pembahasan antara lain mengenai keamanan navigasi. dan komunikasi. Groups of Experts (GEs). yaitu Technical Working Groups (TWGs). Second track diplomacy yang dilakukan Indonesia ini sangat besar artinya bagi terciptanya kesadaran dan kemauan politik (political will) negara-negara yang mengklaim kepemilikan pulau-pulau di Laut Cina Selatan untuk duduk bersama mencari win-win solution yang tepat dan bisa diterima oleh masing-masing pihak yang bersengketa sehingga Indonesia dapat mencegah terjadinya perang terbuka antara enam negara yang berkonflik. Pertemuan Technical Working Group yang dilaksanakan di negara-negara yang berbeda. untuk mengimplementasikan hasil dari sesi pleno workshop dalam bentuk kerjasama Joint Working Group. Lokakarya tahunan dimana Indonesia sebagai tuan rumah.

Hubungan Internasional Kawasan: Indonesia di Kawasan Asia Pasifik. Diakses pada 7 April 2009 http://jurnal-politik.net/702_05123/j_judiono.html.pdf.com/2009/01/03/dilema-keamanan-asean-dalam-konflik-lautcina-selatan/. Diakses pada 7 April 2009 http://fitriyaniriduan.com/2009/01/konflik-kepulauan-separatly.southchinasea.%20Spratly%20Islands %20Dispute. Diakses pada 7 April 2009 http://www.usip.pdf tanggal 4 April 2009 http://www. A.cambridge.blogspot.wordpress.files.html. Sukawarsini.wordpress. (1991).com/2008/07/peran-diplomasi-preventifindonesia.pdf. Website: http://assets.org/docs/Joyner. Diakses pada 8 April 2009 http://dewitri. Diakses pada 4 April 2009 Diakses 15 .org/97805218/39167/excerpt/9780521839167_excerpt. Diplomasi antara Teori dan Praktik.blogspot.htm. (2008).org/pubs/specialreports/early/snyder/South_China_Sea1.DAFTAR PUSTAKA Buku: Djelantik. Yogyakarta: Graha Ilmu. Jakarta: CSIS. pada 7 April 2009 http://tumoutou.html tanggal 4 April 2009 http://indronet.R Soetopo.com/2007/09/konflik-perbatasan-asia-pasifikrefisi1.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful