Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian

Kedeputian Bidang Ekonomi Makro dan Keuangan

Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian

Kedeputian Bidang Ekonomi Makro dan Keuangan

Tinjauan Perkembangan Ekonomi & Keuangan
Edisi Mei 2010

Utang: Antara Mitos dan Realitas
Dalam bukunya Wealth of Nation di salah satu bab yang membahas Public Debt, Adam Smith pada tahun 1776 menyatakan bahwa “The practice of funding has gradually enfeebled any state which has adopted it” Pernyataan ini dipakai sebagai dasar hikmah memandang krisis utang di kawasan Eropa yang diperkirakan sebagai dampak hasil perlombaan kebijakan stimulus fiskal di kala krisis global tahun 2008 lalu. Utang telah membelit perekonomian karena besar pasak dari pada tiang. Defisit fiskal atau besarnya pengeluaran dari pada penerimaan fiskal telah merangsang negara untuk membuka sumber-sumber pembiayaan. Anis Chowdhury dari University of Western Sydney mengungkapkan bahwa pinjaman pemerintah akan menyebabkan kontraproduktif jika telah mendorong jatuhnya konsumsi rumah tangga karena sesuai hipotesis Ricardian Equivalence, pemerintah akan menggenjot pajak untuk menutup utang yang menjadi sumber pembiayaan defisit. Masalahnya, Cabral menemukan pada kasus Eropa, utang luar negeri justru menutup kesempatan memungut pajak atas bunga utang yang lebih banyak dibayarkan ke investor asing. Sebaliknya, IMF menyatakan bahwa Debt to GDP ratio merupakan salah satu indikator penting untuk menilai pertumbuhan ekonomi karena dengan melakukan borrowing, suatu negara mempunyai prospek lebih baik dengan melakukan investasi yang didanai utang. Artinya, konsumsi saat ini yang dibiayai utang akan menghasilkan kesempatan pendapatan yang suatu ketika akan dapat menutup utang itu sendiri. Oleh karena itu, fiscal sustainability menjadi rambu yang sangat penting agar utang tidak menjadi perangkap negara dan menggiring runtuhnya likuiditas perekonomian. John T. Cuddington

SKOR KONDISI EKONOMI:
Sejak memasuki tahun 2010, tinjauan menampilkan skor kondisi ekonomi Indonesia. Skor ini dihasilkan dari bobot tertimbang pemantauan kondisi ekonomi yang dipilih secara acak untuk semua sektor. Kita bagi kualifikasi kondisi ekonomi berdasarkan skor yang dihasilkan: 0 – 2 (tidak kondusif); 2,1 – 4 (kurang kondusif); 4,1 – 6 (transisi); 6,1 – 8 (prospektif); 8,1 -10 (kondusif). Bobot pertimbangan akan selalu disesuaikan perkembangan peranan masing-masing sektor dalam mendorong pertumbuhan ekonomi. Dari hasil pembobotan tersebut disimpulkan kondisi ekonomi Indonesia selama bulan Mei 2010 dinilai prospektif. dari Colorado School of Mines melakukan analisa lebih mendalam ketahanan fiskal dengan dua pendekatan, present value constraint dan accounting approach. Intinya, jika laju suku bunga utang masih lebih rendah dari laju pertumbuhan ekonomi, maka utang masih dikatakan sustainable. Surplus primary balance menjadi parameter penting dalam menentukan ketahanan fiskal menurut perhitungan Cuddington. Sebenarnya tidak ada ukuran pasti seberapa besar tingkat aman atau tidaknya utang dalam suatu sistem perekonomian. Ada yang mengatakan bahwa 60% GDP adalah batas wajar. Jika demikian, negara-negara maju di Eropa terbukti melanggar batasan ini. Hadirnya utang lebih banyak dikompensasi dengan prospek negara tersebut di masa mendatang. Semakin tinggi keyakinan terhadap negara tersebut, seolah negara tersebut berhak mendapat utang dalam jumlah besar. Tengok saja negara Eropa dan Jepang yang Debt to GDP rasionya sudah tidak lagi wajar. Alasannya singkat, mereka akan sanggup bayar dengan emblem “negara maju”. Nyatanya, dikala utang itu membelit, tidak peduli lagi apakah itu negara maju atau bukan, peringkat investasi surat utangnya akan merosot.

Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian

Kedeputian Bidang Ekonomi Makro dan Keuangan

Perkembangan Indikator Ekonomi Internasional

Resiko Besar (Sovereign Risk) di Eurozone Pembentukan European Monetary Union (EMU) pada tahun 1999 mempunyai banyak tujuan antara lain mengurangi resiko nilai tukar dan mencapai konvergensi yield spread antar negara-negara Eurozone. Menurut teori paritas suku bunga, yield spread antar obligasi yang sebanding (comparable bonds) seharusnya ditiadakan. Namun, investor tidak menganggap obligasi pemerintah negaranegara EMU bisa saling dipertukarkan walaupun EMU sudah dibentuk. Gejala ketidakyakinan investor tersebut menyebar dibeberapa negara EMU dan mulai bermasalah setelah runtuhnya Lehman Brothers pada tahun 2008. Negara yang mengalami permasalahan paling parah adalah Portugal, Italia, Irlandia, Yunani (Greece), dan Spanyol (PIIGS). Yunani merupakan negara yang mengalami kesulitan serius dalam menyakinkan pasar keuangannya. Beberapa negara tersebut mengajukan bailout dengan European Central Bank (ECB) dan IMF, dan menunjukkan kegagalan negara-negara EMU bahkan berpotensi break-up dari Eurozone, meskipun ditentang oleh beberapa negaranegara Eurozone terutama Jerman. Persoalan krisis Eropa yang terutama terjadi di Portugal, Irlandia, Yunani (Greece), dan Spanyol (PIGS) berawal dari membengkaknya tekanan fiskal defisit dan utang eksternal (external debt) yang besar dibandingkan dengan PDB (tabel dibawah). Sebagian besar utang eksternal tersebut digunakan untuk membiayai pengeluaran pemerintah yang tidak produktif. Besarnya utang eksternal ini berpotensi outflow karena menghilangkan kesempatan pembayaran bunga kepada penduduk domestik dan pemungutan pajak atas pembayaran bunga. Proporsi Utang di Negara PIIGS
Negara General Goverment Gross Debt (% of GDP) 77.2 64.5 113.4 55.2 115.1 General Government Balance (% of GDP) - 9.3 - 11.7 - 12.7 - 11.4 - 5.3 Gross External Debt (% of GDP) 232.7 979.4 168.2 168.1 117.5

Italia masih lebih baik dibandingkan dengan negara PIIGS lainnya karena dinamisasi utang publik Italia lebih baik dibandingkan dengan negara PIIGS lainnya. Meskipun Italia mempunyai public debt share to GDP sama besarnya dengan negara PIIGS (115%), namun kedudukan external investment tidak sebesar PIGS (-19%). Kondisi ini menggambarkan tingkat investasi di Italia masih banyak dimiliki oleh investor domestik. Bunga investasi Italia dibayarkan lebih banyak kepada investor domestik sehingga terjadi potential tax gain yang membantu mengurangi fiscal imbalances (seperti tercantum pada table berikut)
Negara Portugal Ireland Greece Spain Italy Sumber: Cabral, VoxEU.org Net International Investment Position (% of GDP) - 111.7 - 73.1 - 82.2 - 93.5 -19

Besarnya tekanan utang eksternal di negara PIGS berdampak pada eksternal sektor. Dari neraca pendapatan (income balance) konsolidasi negara PIGS utang eksternal memperburuk performa sektor eksternal. Pembayaran bunga utang ke investor asing terus menekan income balance. Hal tersebut perlu diimbangi dengan meningkatkan ekspor dan impor (perdagangan) dan transaksi berjalan.
0 -2 -4 -6 -8

Portugal Ireland Greece Spain Italy

-10 -12 2003 2004 2005 2006 2007 2008 2009 Income Balance -3.1 CA Balance Trade Balance -3.8 -1.2 -3.2 -5 -2.4 -3.6 -7.2 -3.7 -3.8 -8.8 -4.9 -4.5 -4.8 -4.9

-10 -10.2 -6.5 -5.2 -5 -1.3

Sumber: Cabral, VoxEU.org

Sumber: Eurostat – VoxEU.org, % of Combined GDP

Halaman 2

Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian

Kedeputian Bidang Ekonomi Makro dan Keuangan

Prahara Politik Tidak Selamanya Merusak Perekonomian: Refleksi Thailand Drama prahara politik telah berlangsung sejak Maret hingga Mei 2010 di Thailand. Di awali kelompok kaos merah yang menumpahkan kontainer berisi darah di kantor Perdana Menteri pada 17 Maret hingga penyerbuan paksa barikade kaos merah oleh militer 19 Maret. Prahara ini membawa korban 37 orang tewas dan ratusan lain luka serta kehancuran gedung-gedung utama termasuk pasar modal yang dibakar oleh para demonstran. Meski krisis politik Thailand seakan tak berkesudahan sejak Thaksin jatuh, tetapi ekonomi mereka justru terlihat prima. Pada triwulan I-2010 pertumbuhan ekonomi Thailand paling tinggi (12%) dibanding 3 negara se-kawasan lain. Indonesia tumbuh 5,7%, Malaysia 10,1% dan Philippines 1,8%.
14.00 12.00 10.00 8.00 6.00 4.00 2.00 0.00 -2.00 -4.00 Indonesia Malaysia Thailand Phillipines

33.40 33.20 33.00 32.80 32.60 32.40 32.20

Baht/USD

Perkembangan Baht Terhadap USD

Sumber: CEIC
32.00

6-Jan 13-Jan

10-Feb 17-Feb

24-Feb 3-Mar

10-Mar 17-Mar 24-Mar

31-Mar 7-Apr

14-Apr 21-Apr

28-Apr 5-May 12-May

20-Jan 27-Jan 3-Feb

160,000 150,000 140,000 130,000 120,000 110,000

Juta USD

Pertumbuhan Ekonomi (% per tahun)

100,000 90,000 80,000

Cadangan Devisa Thailand
Sumber: CEIC

Apr-09 May-09

Dec-09

Thailand Ekspor Manufaktur (FOB) (Juta US$) Jan-Apr 2010 Indeks produksi Manufaktur (% perubahan) Kontribusi Non Pertanian pada PDB (%) 2009
Sumber: berbagai sumber diolah

Indonesia 28,682.5 5.01 85%

39,091 31.06 91%

Nilai tukar Baht/USD relatif stabil di masa krisis di kisaran 32.53 Baht/USD. Cadangan devisa cenderung meningkat, meskipun pada Mei menurun menjadi sebesar 143,5 miliar USD karena penurunan wisatawan dan kepercayaan konsumen dan pengusaha. Tapi tetap saja 2 kali lipat dari cadangan devisa Indonesia. Target inflasi inti ditetapkan untuk tahun 2010 sebesar 0.5-3%. Sementara tingkat inflasi inti bulan Mei 2010 hanya sebesar 1.2% dan inflasi umum sebesar 3.5%. Lalu apa kira-kira yang membuat daya tahan ekonomi mereka begitu kuat ditengah terpaan krisis politik. Thailand adalah negara yang menganut sistem monarki dengan kerajaan sebagai simbol publik. Saat krisis terjadi istana tidak bergeming memihak. Kondisi akan berbeda jika Raja turut mendukung salah satu pihak yang bertikai.

Sektor manufaktur Thailand menjadi penopang kuat fundamental perekonomian. Indeks produksi elektronik hingga April 2010 tumbuh paling besar di antara industri manufaktur sebesar 556,4%, sehingga menghasilkan produk dengan nilai tambah tinggi. Hal ini menjadikan struktur PDB Thailand semakin berkualitas dan menjadi pondasi daya tahan yang kuat. Pemanfaatan kapasitas industri di Thailand mencapai 67% dengan tertinggi pada produk kimia. Tidak hanya itu, Thailand sangat fokus pada ketahanan pangan dengan menjaga stok bahan pangan dasar utama; grain, beras dan jagung masingTim Penyusun Kedeputian Bidang Makro Ekonomi dan juta ton masing 476 juta ton, 90 juta ton dan 144 Keuangan setiap bulannya. Gedung Syafruddin Prawiranegara II Lantai 4
Jalan Lapangan Banteng Timur 2-4 Jakarta Telepon 021-3521843 Fax. 021-3521836

Halaman 3

Apr-10 May-10

Jan-09 Feb-09

Jun-09

Jul-09 Aug-09

Oct-09 Nov-09

Mar-09

Jan-10 Feb-10

Mar-10

Sep-09

19-May 26-May

Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian

Kedeputian Bidang Ekonomi Makro dan Keuangan

Perkembangan Indikator Ekonomi Domestik
Pertumbuhan Ekonomi Triwulan I-2010 Tercatat Sebesar 5.7% (yoy) atau 1.9% (qoq) Komponen terbesar dalam struktur PDB adalah konsumsi rumah tangga sebesar 57.7% dengan pertumbuhan sebesar 3.9%, kemudian Pembentukan Modal Tetap Domestik Bruto (PMTB) yang menggambarkan besarnya investasi sebesar 31.3% dengan pertumbuhan sebesar 7.9%. Ekspor impor mengalami pertumbuhan tinggi masing-masing sebesar 19.6% dan 22.6% dengan porsi masing-masing dalam PDB sebesar 24.1% dan 22%. Sedangkan konsumsi pemerintah mengalami pertumbuhan negatif dalam triwulan I-2010 sebesar minus 8.8% dengan porsi dalam PDB sebesar 6.6%. Pertumbuhan ekonomi yang lebih tinggi mungkin dicapai apabila konsumsi pemerintah meningkat cepat dalam triwulan yang akan datang. Konsumsi merupakan penopang utama pertumbuhan ekonomi.
(Sumber: Kedeputian 1 Menko Perekonomian)

Dari sisi pertumbuhan yoy tertinggi dicapai oleh sektor pengangkutan dan komunikasi sebesar 11.9% yang porsinya dalam PDB sebesar 6.2%, kemudian disusul oleh pertumbuhan sektor perdagangan, hotel dan restoran sebesar 9.3% dengan porsi sebesar 13.9%. Pertumbuhan terendah terjadi pada sektor primer (pertanian, peternakan, kehutanan dan perikanan) sebesar 2.9%, padahal porsi sektor tersebut dalam struktur PDB terbesar kedua setelah sektor industri pengolahan (sebesar 16%). (Sumber: Kedeputian 1 Menko Perekonomian)

PDB Triwulan I-2010
Jasa-jasa Keuangan, Real Estat, & Jasa… Pengangkutan & Komunikasi Perdagangan, Hotel, dan Restoran Konstruksi Listrik, Gas, & Air Bersih Industri Pengolahan Pertambangan dan Penggalian Pertanian, Peternak an, Kehutanan, & … 0 Sumber: BPS, diolah 0.8 3.6 3.5 2.9 10 11.2 16 20 30 4.6 7.2 5.5 6.2 9.3 7.3 7.2 25.4 10 11.9 13.9 9.3 Strukur PDB (%) Pertumbuhan (% yoy)

70 60 50 40 30 20 10 0 -10 -20 3.9 57.7

PDB Triwulan I-2010
Pertumbuhan (%YOY) Struktur PDB (%) 31.3 24.1 22.6 22 19.6 6.6 -8.8 7.9 0 0.6 0 1.7

Meskipun terdapat perbaikan pertumbuhan ekonomi, namun kualitas pertumbuhan ekonomi menurun. Hal nampak dari penurunan elastisitas penyerapan tenaga kerja atau dikenal dengan employment elasticity. Employment elasticity menggambarkan berapa persen penyerapan tenaga kerja yang dapat diciptakan dalam setiap 1% pertumbuhan ekonomi. Pada tahun 19851995, employment elasticity sebesar 0.4 artinya 1% pertumbuhan ekonomi dapat menyerap 400.000 pekerja baru. Akan tetapi saat ini menurut hasil survey dan analis FEUI, “Peran Pasar Tenaga Kerja yang Fleksibel Dalam Mengatasi Pengangguran”, Employment elasticity mengalami penurunan menjadi sebesar 0.25 yang artinya 1% pertumbuhan ekonomi hanya sanggup menyerap 250.000 tenaga kerja.
(Sumber: Kedeputian 1 Menko Perekonomian)

Sumber: BPS, diolah

Secara sektoral, sektor Industri pengolahan merupakan komponen terbesar dalam struktur PDB pada triwulan I-2010 sebesar 25.4% Namun, pertumbuhan sektor tersebut masih relatif rendah hanya sebesar 3.6%. Pertumbuhan tertinggi dicapai oleh sektor pengangkutan dan komunikasi sebesar 11.9% yang porsinya dalam PDB sebesar 6.2% kemudian disusul oleh pertumbuhan sektor perdagangan, hotel dan restoran sebesar 9.3% dengan porsi sebesar 13.9%.

Halaman 4

Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian

Kedeputian Bidang Ekonomi Makro dan Keuangan

Indeks keyakinan konsumen (IKK) pada bulan Mei 2010 masih optimis, namun menurun dibandingkan dengan tahun sebelumnya. Penurunan tersebut disebabkan oleh berkurangnya optimisme responden akan kondisi ekonomi, penghasilan dan ketersediaan lapangan kerja pada 6 bulan mendatang. Penurunan tingkat optimesme responden disebabkan adanya perkiraan akan menurunnya jumlah tabungan akibat tekanan kenaikan harga barang/jasa pada 3 dan 6 bulan mendatang Perkembangan Indeks Keyakinan Konsumen
140 130 120 110 100 90 80 70 Pesimis lndeks Keyakinan Konsumen(IKK) Kondisi Ekonomi Saat Ini (IKE) Ekspektasi Konsumen (lEK)

Inflasi terjadi karena adanya kenaikan harga yang ditunjukkan oleh kenaikan indeks pada kelompok bahan makanan 0,49 %; kelompok makanan jadi, minuman, rokok dan tembakau 0,34 %; kelompok perumahan, air, listrik, gas dan bahan bakar 0,09 %; kelompok sandang 1,19%; kelompok kesehatan 0,11%; kelompok pendidikan, rekreasi dan olahraga 0,02 % dan kelompok transpor, komunikasi & jasa keuangan 0,02 %. Dari 66 kota, 58 kota mengalami inflasi dan 8 kota mengalami deflasi. Inflasi tertinggi terjadi di Maumere 1,51% dengan IHK 130,75 dan terendah terjadi di Jambi 0,01 % dengan IHK 119,33. Pada Mei 2010, terjadi inflasi di daerah perdesaan di Indonesia sebesar 0,09 persen terutama dipicu oleh sub kelompok sandang.
Inflasi Menurut Kelompok Barang & Jasa, Mei 2010

Optimis

Transpor dan Komunikasi dan Jasa Keuangan Pendidikan, Rekreasi dan Olah raga Kesehatan Sandang Perumahan, Air, Listrik, Ga s dan Bahan bakar Makanan Jadi, minuman, Rokok … Bahan Makanan Umum

0.01 0.02 0 0.02 0.01 0.11 0.08 0.02 0.09 0.06 0.11 0.34 0.49 0.29 1.19

Apr Mei Jun Jul Agt Sep Okt Nov Des Jan Feb Mar Apr Mei 2009 Sumber : Survei Konsumen, BI 2010

Sumbangan Inflasi Inflasi (mtm)

Pada bulan Mei terjadi inflasi sebesar 0,29% (mtm) atau 4.16% (yoy) dengan Indeks Harga Konsumen (IHK) sebesar 118,71. Inflasi tersebut lebih tinggi dari bulan sebelumnya yang sebesar 0.15% (mtm) atau 3.91% (yoy). Komponen barang bergejolak (volatile food) mengalami laju inflasi yang tertinggi sebesar 0. 57% (mtm) atau 7.29% (yoy) yang kemudian diikuti oleh komponen inflasi inti (core inflation) sebesar 0.25% (mtm) atau 3.81% (yoy) dan harga diatur pemerintah (administered price) sebesar 0.15% (mtm) atau 2.50% (yoy). Laju inflasi volatile food tersebut terutama didorong oleh kenaikan harga pada kelompok bahan makanan terkait dengan kenaikan harga dari komoditas bumbu-bumbuan sebesar 4.66%. Kenaikan harga komoditas tersebut disebabkan adanya kendala pasokan yang dipicu oleh gangguan produksi akibat curah hujan di beberapa sentra produksi.

0.00 Sumber : BPS

0.50

1.00

%

0.6 0.5 0.4 0.3 0.2 0.1 0

0.57

Inflasi Menurut Komponen, Mei 2010

0.29 0.25 0.15 0.15

Inflasi (mtm)

0.11 0.03

Umum (Headline) Sumber: BPS

Core Inflation

Administered Price

Volatile Food

Halaman 5

Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian

Kedeputian Bidang Ekonomi Makro dan Keuangan

Inflasi inti (core inflation) pada Mei 2010 0.25% (mtm) atau 3.81% (yoy) lebih tinggi dibandingkan bulan sebelumnya (0.09% (mtm) atau 3.70% (yoy)). Walaupun demikian, masih relatif stabil pada level yang rendah ditopang oleh terkendalinya tekanan dari sisi permintaan. Peningkatan inflasi inti pada Mei 2010 terutama disebabkan oleh kenaikan harga komoditas emas sejalan dengan kondisi di pasar internasional.

Perkembangan Inflasi 8.00% 6.00% 4.00% 2.00% 0.00% -2.00% -4.00% -6.00% -8.00%
Sumber: BPS

Analisa IMF (2010) menunjukkan inflasi di Indonesia masih relatif tinggi dan volatile bila dibandingkan dengan negara-negara Asia Tenggara lainnya. Hal tersebut antara lain karena pengendalian inflasi melalui suku bunga sebagai instrumen moneter belum efektif. Ketika inflasi meningkat, otoritas moneter menaikkan suku bunga untuk menarik jumlah uang yang beredar di masyarakat dan sebaliknya. Oleh karena itu, inflasi dan suku bunga berkembang searah. Namun demikian target inflasi yang ditetapkan masih sering tidak tercapai. Hal ini karena kenaikan inflasi masih cukup besar didorong oleh harga barang-barang bergejolak (volatile food).
Inflasi Beberapa Negara
20.00

% yoy
15.00 10.00 5.00 0.00

Aug Sep Okt Nov Des Jan Feb Mar Apr Mei 2009 2010
Umum (%yoy) Core Inflation (%yoy) Administered Price (%yoy) Volatile Food (%yoy)

Jun-04

Nov-04

Apr-05

Jul-06

Dec-06

May-07

Oct-07

Mar-08

Aug-08

Jun-09

Nov-09

Sep-05

Feb-06

-5.00 -10.00

Sumber : CEIC

Inflasi dan Suku Bunga
18 16 14 12 10 8 6 4 2 0 Q1 Q2 Q3 Q4 Q1 Q2 Q3 Q4 Q1 Q2 Q3 Q4 Q1 Q2 Q3 Q4 Q1 Q2 Q3 Q4 Q1 2005 2006 2007 2008 2009 2010

Indonesia Thailand

Malaysia Philiphina

Singapore

Target Inflasi (nilai tengah) Inflasi Aktual (yoy) SBI 3 Bulan

Indeks harga perdagangan besar (IHPB) pada bulan Mei 2010 naik sebesar 0.05%. Kenaikan IHPB terbesar terjadi pada Kelompok Barang Ekspor Nonmigas sebesar 1,76%. IHPB Bahan Baku, Barang Konsumsi, dan Barang Modal naik masing-masing 0,37%, 0,38%, dan 0,95%. Untuk kelompok IHPB Bahan Bangunan/Konstruksi pada Mei 2010 naik sebesar 0,26 %, antara lain disebabkan kenaikan harga barang-barang dari karet, bahan bangunan dari logam, barang-barang dari besi dan baja dasar, bahan bangunan dari kayu, dan barang galian segala jenis. Sedangkan yang mengalami penurunan harga adalah aspal, semen, dan barangbarang logam lainnya. (sumber: BPS)

Sumber : BI

Halaman 6

Apr-10

Jan-04

Jan-09

Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian

Kedeputian Bidang Ekonomi Makro dan Keuangan

Pada akhir bulan, rupiah ditutup ke level Rp9.175 per dolar AS melemah 1,77% dari penutupan bulan sebelumnya. Kuatnya tekanan dari pasar keuangan global terkait krisis utang dan defisit fiskal di beberapa negara kawasan Eropa memicu perilaku risk aversion terhadap aset negara emerging markets termasuk Indonesia. Kekhawatiran akan dampak dari krisis Eropa telah menyebabkan indikator risiko Indonesia meningkat pada Mei 2010 (terlihat dari indikator EMBIG dan Credit Default Swap-CDS yang meningkat) yang berdampak pada adanya arus modal keluar portofolio asing. Akibatnya nilai tukar Rupiah terhadap Dolar AS secara rata-rata pada Mei 2010 melemah sebesar 1,52% ke level Rp9.167 per dolar AS dari Rp 9.028 per dolar AS pada bulan sebelumnya. Pada akhir bulan, rupiah ditutup melemah 1,77% ke level Rp9.175 per dolar AS dari penutupan bulan sebelumnya. Dengan perkembangan tersebut, pergerakan nilai tukar rupiah sejak awal tahun hingga Mei 2010 secara rata-rata tercatat sebesar Rp9.192 per dolar AS. Perkembangan nilai tukar rupiah terhadap dolar US menguat sejak awal tahun 2010. Akan tetapi pada Mei 2010, penguatan tersebut tertahan akibat adanya arus modal keluar portofolio asing.
Perkembangan Nilai Tukar Rupiah
12500 12000 11500 11000 10500 10000 9500 9000 8500 Sumber : BI Kurs Tengah Harian Rata-Rata Bulanan Rp/USD

NTP nasional Mei 2010 sebesar 101,16 atau naik 0,01% dibanding bulan sebelumnya yang didorong oleh NTP Subsektor Hortikultura dan Perkebunan Rakyat. Nilai tukar petani (NTP) merupakan salah satu indikator untuk melihat tingkat kemampuan atau daya beli petani dipedesaan. NTP juga menunjukkan daya tukar (term of trade) dari produk pertanian dengan barang dan jasa yang dikonsumsi maupun untuk biaya produksi. Semakin tinggi NTP, secara relatif semakin kuat pula tingkat kemampuan/daya beli petani. NTP diperoleh dari perbandingan indeks harga yang diterima petani terhadap indeks harga yang dibayar petani. Berdasarkan data BPS, NTP nasional Mei 2010 sebesar 101,16 atau naik 0,01% dibanding bulan sebelumnya yang didorong oleh NTP Subsektor Hortikultura dan Perkebunan Rakyat yang masing-masing naik 0,40% dan 0,05%. Nilai Tukar Petani Per Sub Sektor
April'10 96.77 106.14 104.49 104.52 105.5 101.15 Mei'10 96.69 106.57 104.54 104.34 105.46 101.16 % Perubahan -0.08 0.4 0.05 -0.18 -0.04 0.01

Tanaman Pangan Hortikultura Tanaman Perkebunan Rakyat Peternakan Perikanan NTP Nasional
Sumber: BPS

05-Feb-09

05-Mar-09

05-Apr-09

05-Aug-09

05-Sep-09

05-Oct-09

05-Dec-09

05-Feb-10

05-Mar-10

05-May-09

05-Nov-09

05-Apr-10

05-Jun-09

Indikator Persepsi Resiko

05-May-10

Jika dilihat berdasarkan provinsi kenaikan NTP tertinggi adalah provinsi Bali menjadi 104,83 atau mengalami kenaikan sebesar 1,08 % karena harga produsen ayam yang naik sebesar 4,65%. Sedangkan provinsi yang mengalami penurunan NTP terbesar adalah NTP Provinsi Kalimantan Barat menjadi 100,58 atau mengalami penurunan terbesar 0,90 % terutama disebabkan harga produsen karet yang turun sebesar 3,03%.

05-Jan-09

05-Jul-09

05-Jan-10

*RHS : Right Hand Scale

Penurunan suku bunga kredit perbankan masih lambat. Sampai dengan bulan Mei 2010, BI rate masih bertahan pada level 6.5% sejak Agustus 2009. Namun, penurunan suku bunga kredit perbankan masih lambat. Lambatnya reaksi penurunan suku bunga kredit setelah Bank indonesia menurunkan suku bunga acuannya diperkirakan karena perbankan masih belum percaya bahwa penurunan tersebut juga diiringi dengan penurunan resiko kredit (yang ditunjukkan dengan Non Performing Loan). Hal ini menyebabkan perbankan lebih hati-hati dalam mengucurkan dana yang telah dihimpun sehingga para pihak yang membutuhkan dana untuk melakukan siklus usaha menjadi kesulitan. ►►

Halaman 7

Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian

Kedeputian Bidang Ekonomi Makro dan Keuangan

Padahal penurunan BI Rate pada akhirnya dimaksudkan untuk menurunkan bunga kredit, sehingga akan mendorong perbankan dalam menyalurkan kredit ke sektor-sektor produktif. Pada bulan April, suku bunga kredit modal kerja Bank Umum sebesar 13.42% atau menurun sebesar 12 bps. Untuk suku bunga kredit investasi sebesar 12.62% atau menurun sebesar 10 bps dan suku bunga kredit konsumsi sebesar 15.34% atau menurun sebesar 8 bps.
BI rate dan Non Performing Loan (NPL)
10.00 9.00 8.00 7.00 6.00 5.00 4.00 3.00 2.00

Pemantauan Perbankan

%
BI rate NPL

Mulai edisi Mei 2010, pada Tinjauan Perkembangan Ekonomi dan Keuangan ini akan disajikan kolom hasil pemantauan terhadap institusi keuangan, khususnya perbankan dengan menggunakan analisa Financial Soundness Indicators (FSI). Analisa ini digunakan untuk memantau pergerakan indikator laporan keuangan perbankan CAMELS (Capital adequacy, Asset quality, Management, Earnings and profitability, Liquidity, dan Sensitivity to market risk). Kelima komponen tersebut memberikan gambaran kesehatan dan kelayakan bank berdasarkan laporan keuangan. Data perbankan yang digunakan untuk analisa FSI diperoleh dari Laporan Keuangan Perbankan Bulanan dari Bank Indonesia dengan rentang waktu dari tahun 2007 hingga pertengahan tahun 2009. Data ini akan terus dimutakhirkan mengikuti perkembangan laporan keuangan dan cakupan bank yang dianalisa. Untuk saat ini analisa dilakukan terhadap sejumlah bank terpilih, yaitu tiga Bank Persero (Bank Mandiri, BNI dan BRI) dan satu Bank Swasta Nasional (BCA). Pemilihan keempat bank tersebut didasarkan pada posisinya sebagai market leader, yang ditunjukkan oleh struktur kapitalisasi keempat bank tersebut. Pembobotan subkomponen CAMELS dilakukan untuk memperoleh perbandingan yang optimal antar bank terhadap semua komponen. Rasio kecukupan modal (CAR) keempat bank tersebut memiliki rasio yang tinggi diatas rasio penyediaan modal minimum yang diwajibkan yaitu sebesar 8% (Gambar 1). Nampak Bank Mandiri memiliki rasio kecukupan modal paling tinggi dibandingkan bank persero lainnya. Sebagai bank swasta, BCA mempunyai CAR yang hampir sama dengan Bank Mandiri dan lebih besar dibandingkan dengan BNI dan BRI. Nilai CAR yang tinggi ini menunjukkan stabilitas sistem perbankan Indonesia yang diwakili market leader cukup kuat. Gambar 1. 20 18 16 14 12 BNI

Sumber: SEKI & SPI, BI

17.00 15.00 13.00 11.00 9.00 7.00

%

5.00 May Jul Sep Nov Jan Mar May Jul Sep Nov Jan Mar May 2008 2009 2010

May Jun Jul Aug Sep Oct Nov Dec Jan Feb Mar Apr May Jun Jul Aug Sep Oct Nov Dec Jan Feb Mar Apr May
2008 2009 2010

Perkembangan Suku Bunga

BI rate Suku Bunga KMK Suku Bunga KI Suku Bunga KK

Sumber: SEKI, BI

BCA

BRI

MANDIRI

Halaman 8

Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian

Kedeputian Bidang Ekonomi Makro dan Keuangan

Gambar 2

Asset quality

Sensitivity to Market Risk

2 1.5 1 0.5 0

Profitability

Liquidity BNI BRI MANDIRI BCA

Pemantauan terhadap portofolio penempatan dana simpanan menunjukkan bahwa kredit yang disalurkan keempat bank tersebut cenderung meningkat di tahun 2009. Penyaluran kredit terbesar dicapai oleh BRI hingga Rp. 192 Triliun pada bulan September 2009. Penyaluran kredit Bank Mandiri dan BCA juga menunjukkan peningkatan hingga mencapai Rp. 176 Triliun dan Rp. 117 Triliun pada bulan November 2009. Sedangkan penyaluran kredit BNI bergerak stagnan hingga akhir tahun 2009. Dana yang tersedia di bank juga digunakan untuk penempatan pada BI, penempatan pada bank lain, obligasi pemerintah, surat berharga yang dimiliki, dan beberapa penempatan lainnya. Porsi penempatan dana simpanan pada obligasi pemerintah cukup tinggi jika dibandingkan dengan penempatan pada portofolio lainnya dan memiliki besaran yang cenderung stabil. Penempatan dana Bank Mandiri pada obligasi pemerintah mencapai Rp. 87,85 Triliun pada September 2009. Penempatan Bank Mandiri ini paling besar jika dibandingkan penempatan pada obligasi pemerintah oleh BCA, BNI dan BRI, masingmasing Rp. 42 Triliun, Rp. 34,03 Triliun dan Rp. 19,39 Triliun.

Penyaluran dana lainnya setelah kredit dan obligasi pemerintah, digunakan untuk penempatan pada Bank Indonesia (diantaranya Giro Bank Indonesia dan SBI). Rata-rata penempatan dana pada Bank Indonesia, baik Bank Mandiri dan BRI, adalah sebesar Rp 30 Triliun. Sementara itu, BRI mempunyai penempatan dana pada BI lebih besar dibandingkan penempatan dana di obligasi pemerintah. Pola yang unik ditunjukkan oleh BCA, dimana terlihat adanya pola substitusi dalam penempatan dana di BI dan obligasi pemerintah. Penempatan dana pada bank lain oleh BNI hingga bulan November 2009 mengalami peningkatan yang cukup signifikan hingga mencapai Rp. 23 Triliun. Sedangkan penempatan pada bank lain oleh BRI, Bank Mandiri dan BCA cenderung mengalami penurunan hingga akhir tahun 2009. Dibandingkan dengan surat berharga yang dimiliki, penempatan dana pada bank lain oleh BNI dan Bank Mandiri memiliki porsi yang lebih besar. Hal sebaliknya terjadi pada BRI dan BCA dimana porsi penempatan pada bank lain justru lebih kecil dibandingkan dengan surat berharga yang dimiliki. Namun, besaran dana yang ditempatkan pada surat berharga yang dimiliki di keempat bank bergerak cukup stabil. ►►

Jul Sep Nov Jan Mar Mei Jul Sep Nov Jan Mar Mei Jul Sep Nov
2007 2008 2009
Kredit yang Diberikan (RHS) Penempatan pada BI (LHS) Penempatan pada Bank Lain (LHS) Surat Berharga yang Dimiliki (LHS) Obligasi Pemerintah (LHS)

Indikator lain: kualitas aset, profitabilitas dan likuiditas, masing-masing menunjukkan angka yang tidak jauh berbeda di antara keempat bank (Gambar 2). Dari sisi kualitas aset, BRI dan BCA memiliki kualitas aset yang lebih baik dibandingkan Bank Mandiri dan BNI. Nilai NPL BCA lebih rendah dibandingkan dengan ketiga Bank Persero. Selain itu, nilai rasio provisi terhadap NPL BCA (0,46) lebih tinggi jika dibandingkan dengan BNI, BRI dan Bank Mandiri yang masing-masing memiliki rasio 0,042; 0,092 dan 0,049. Artinya, penerimaan BCA atas pinjaman yang diberikan cukup tinggi selain untuk menjamin pinjaman yang disalurkan. Namun, keempat bank mempunyai sensivitas yang tinggi terhadap market risk dilihat dari besarnya porsi hutang dalam valuta asing.

BNI
(Triliun Rp) 40 35 30 25 20 15 10 5 0 140 120 100 80 60 40 20 0

Halaman 9

Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian

Kedeputian Bidang Ekonomi Makro dan Keuangan

Bank Mandiri
(Triliun Rp)

KONDISI PERDAGANGAN – EKSPOR DAN IMPOR
200 180 160 140 120 100 80 60 40 20 0

100 90 80 70 60 50 40 30 20 10 0

2007

2008

2009

Kredit yang Diberikan (RHS) Penempatan pada BI (LHS) Penempatan pada Bank Lain (LHS) Surat Berharga yang Dimiliki (LHS) Obligasi Pemerintah (LHS)

Surplus neraca perdagangan Indonesia pada April 2010 mengalami penurunan sekitar 67% dari US$1.58 miliar menjadi US$518 juta jika dibandingkan dengan Maret 2010. Penurunan surplus perdagangan ini disebabkan oleh penurunan ekspor sekaligus peningkatan impor. Kondisi peningkatan impor tidak selalu berdampak negatif pada perekonomian bila peningkatan impor terjadi pada barang modal. Nilai impor nonmigas terbesar pada April 2010 adalah golongan barang mesin/peralatan mekanik dengan nilai US$ 1,71 miliar yang meningkat 11,40% dibanding Maret 2010. Sedangkan penurunan ekspor, salah satunya, terjadi karena penurunan ekspor ke kawasan Eropa sebesar 23,57%.  Nilai ekspor Indonesia bulan April 2010 mencapai US$ 12,05 miliar atau mengalami penurunan sebesar 5,66% dibanding bulan Maret 2010. Sementara bila dibandingkan April 2009 mengalami peningkatan sebesar 42,56%. Secara kumulatif nilai ekspor Indonesia Januari-April 2010 mencapai US$ 47,59 miliar atau meningkat 51,16% dibanding periode yang sama tahun 2009, sementara ekspor nonmigas mencapai US$ 38,70 miliar atau meningkat 43,87 %. Ekspor nonmigas April 2010 mencapai US$ 9,85 miliar, turun 7,13% dibanding Maret 2010, sedangkan dibanding ekspor April 2009 meningkat 36,79 %. Penurunan ekspor nonmigas terbesar April 2010 terjadi pada bijih, kerak, dan abu logam sebesar US$ 291,2 juta, sedangkan peningkatan terbesar terjadi pada bahan kimia organik sebesar US$ 59,3 juta. Ekspor masih didominasi komoditas primer. Ekspor nonmigas ke Jepang April 2010 mencapai angka terbesar yaitu US$1,24 miliar, disusul Amerika Serikat US$1,06 miliar dan Cina US$0,93 miliar, dengan kontribusi ketiganya mencapai 32,81 %. Sementara ekspor ke Uni Eropa (27 negara) sebesar US$1,07 miliar. Menurut sektor, ekspor hasil industri periode Januari-April 2010 naik sebesar 36,66 % dibanding periode yang sama tahun 2009, demikian juga ekspor hasil pertanian naik 11,33 % serta ekspor hasil tambang dan lainnya naik 84,53 %. (Sumber: BPS)

Mar

Mar

Nov

Nov

(Triliun Rp)

BRI
250 200 150 100 50 0

60 50 40 30 20 10 0 Jul Sep Nov Jan Mar Mei Jul Sep Nov Jan Mar Mei Jul Sep 2007 2008 2009

Nov

Mei

Mei

Jul

Jul

Jan

Sep

Sep

Jan

Jul

Sep

Kredit yang Diberikan (RHS) Penempatan pada BI (LHS) Penempatan pada Bank Lain (LHS) Surat Berharga yang Dimiliki (LHS) Obligasi Pemerintah (LHS)

(Triliun Rp)

BCA
120 100 80 60 40 20 0

70 60 50 40 30 20 10 0 Jul Sep Nov Jan Mar Mei Jul Sep Nov Jan Mar

 2007 2008 2009

Kredit yang Diberikan (RHS) Penempatan pada BI (LHS) Penempatan pada Bank Lain (LHS) Surat Berharga yang Dimiliki (LHS) Obligasi Pemerintah (LHS)

Halaman 10

Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian

Kedeputian Bidang Ekonomi Makro dan Keuangan

Nilai impor Indonesia April 2010 mencapai US$11,53 miliar atau meningkat 5,12 % dibanding Maret 2010 yang besarnya US$10,97 miliar. Dan jika dibanding April 2009 mengalami peningkatan 71,98 %. Sementara itu, selama Januari-April 2010 nilai impor mencapai US$41,50 miliar atau meningkat 60,83 % jika dibanding periode yang sama tahun sebelumnya. Impor nonmigas April 2010 mencapai US$8,77 miliar atau meningkat US$51,3 juta (0,59 %) dibanding impor Maret 2010. Sedangkan selama Januari-April 2010 mencapai US$32,50 miliar atau naik 51,92 % dibanding periode yang sama tahun 2009. Nilai impor nonmigas terbesar April 2010 adalah golongan barang mesin/peralatan mekanik dengan nilai US$1,71 miliar yang meningkat 11,40 % dibanding Maret 2010, sedangkan selama JanuariApril 2010 nilainya meningkat 33,83 % dibanding periode yang sama tahun sebelumnya. Negara pemasok barang impor nonmigas terbesar selama Januari-April 2010 masih ditempati oleh Cina dengan nilai US$5,61 miliar dengan pangsa 17,26 %, diikuti Jepang US$4,95 miliar (15,23 %) dan Singapura US$3,36 miliar (10,33 %). Sementara impor nonmigas dari ASEAN mencapai 23,63 % dan Uni Eropa sebesar 8,74 %. Impor migas April 2010 mencapai US$2,76 miliar atau meningkat US$510,3 juta (22,66 %) dibanding impor Maret 2010, sedangkan selama Januari-April 2010 mencapai US$9,00 miliar atau naik 104,09 % dibanding periode yang sama tahun sebelumnya. Nilai impor menurut golongan penggunaan barang selama Januari-April 2010 dibanding periode yang sama tahun sebelumnya mengalami peningkatan untuk semua golongan, yaitu impor barang konsumsi sebesar 68,88 %, bahan baku/penolong sebesar 64,36 %, dan barang modal sebesar 46,67 %.
Sumber: BPS

Grafik Perkembangan Ekspor Dan Impor Indonesia Januari-April 2010 (Juta US$)

14,000 11,575 12,000 10,000 8,000 9,543 9,498 11,205 12,630 12,052 11,534 11,049

6,000 4,000 2,000 0 Januari Februari 2010 Ekspor Impor Neraca Perdagangan Maret April 2,031 1,707 1,581 518

PERKEMBANGAN PASAR MODAL
Kapitalisasi pasar saham mengalami penurunan sebesar 5.57% pada Mei 2010 jika dibandingkan dengan April 2010. Jumlah saham yang diperdagangkan mengalami peningkatan pada Mei 2010 yaitu sebesar 1.46%. Penerbitan obligasi pemerintah meningkat 1.06%, sedangkan obligasi korporasi turun 0.57% pada bulan Mei 2010 dibandingkan dengan bulan sebelumnya. Selain itu, transaksi perdagangan, baik obligasi pemerintah dan korporasi mengalami pertumbuhan negatif masingmasing 29.03% dan 19.91%. Net pembelian transaksi asing mencapai nilai negatif Rp 1.65 triliun atau turun sebesar 208.55% dibandingkan dengan bulan sebelumnya, yang artinya transaksi jual lebih besar daripada transaksi beli, masing-masing Rp 30.7 triliun dan Rp 29.05 triliun pada Mei 2010. Penurunan perdagangan saham dan obligasi di pasar modal memberikan pengaruh pada penurunan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada Mei 2010 sebesar 5.9% dengan level penutupan 2,796.957. Kondisi ini disebabkan melemahnya pergerakan bursa regional dan global, akibat ancaman penurunan peringkat investasi surat utang beberapa negara yang mengalami kesulitan keuangan yaitu Yunani dan Spanyol. Persepsi negatif ini pula yang mendorong terjadinya capital outflow pada Bursa Efek Indonesia sehingga terjadi net sell sebesar Rp 1.65 triliun. (sumber: Bursa Efek Indonesia)

Halaman 11

Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian

Kedeputian Bidang Ekonomi Makro dan Keuangan

PERKEMBANGAN PASAR MODAL PER 30 MEI 2010
Mei 2010 Saham Kapitalisasi Pasar (Rp triliun) Saham diperdagangkan (triliun unit) Jumlah Emiten (korporasi) Obligasi Pemerintah (Rp triliun) Korporasi (Rp triliun) Perdagangan Saham (Rp triliun) Obligasi Pemerintah (Rp triliun) Obligasi Korporasi (Rp triliun) Transaksi Asing Beli (Rp triliun) Jual (Rp triliun) Net Pembelian (Rp triliun) 29.05 30.70 -1.65 30.01 28.49 1.52 -3.20 7.76 208.55 21.13 19.16 1.97 37.48 60.23 183.76 96.96 103.46 5.55 110.46 145.77 6.93 -12.22 -29.03 -19.91 130.92 70.57 2.96 -25.94 46.61 87.50 609.68 91.94 603.28 92.47 1.06 -0.57 560.63 70.44 8.75 30.52 1 2287.73 1.60 401 April 2010 2 2422.57 1.58 401 %∆ (1)/(2) -5.57 1.46 0.00 Mei 2009 3 1517.24 1.39 396 %∆ (1)/(3) 50.78 15.11 1.26

Penyusutan dana asing ini dipicu oleh ketidakpastian yang masih melanda Eropa sehingga investor cenderung mengalihkan dana dari negara berkembang ke instrumen yang lebih aman, salah satunya adalah komoditi emas. Hal ini ditunjukkan dengan meningkatnya harga emas dari USD 1151.26 per oz pada April 2010 menjadi USD 1206.63 per oz pada Mei 2010. Pada akhir Mei 2010, cadangan devisa tercatat sebesar US$ 74,587 Juta. Nilai tersebut menurun jika dibandingkan dengan bulan sebelumnya yang mencapai US$ 78.6 juta. Penurunan cadangan devisa karena digunakan untuk menstabilkan pasar akibat adanya aliran modal keluar (capital outflow) dalam SBI milik asing sekitar Rp 20 triliun dan pembayaran utang luar negeri. Walaupun demikian, tren cadangan devisa meningkat sejak awal 2009.
Juta US$ 90,000 80,000 70,000 60,000 50,000 Sumber: BI

Cadangan Devisa
74,587

Setelah terus mengalami peningkatan dana asing di SBI hingga bulan April 2010, terjadi penarikan dana asing hingga 56,2% atau sebesar Rp 46,63 triliun pada bulan Mei 2010 menjadi Rp 36,36 triliun.

40,000

Jan

Jan

May

May

Jan

2008

2009

2010

400 Triliun Rp 350 300 250 200 150 100 50 0 Jan 2010 Bank TOTAL

Kepemilikan SBI

Feb 2010

Mar 2010

Apr 2010 Non-Bank + Resident

May 2010

Sumber: BI

Dalam APBN-P 2010 telah ditetapkan defisit anggaran terhadap PDB meningkat menjadi 2.1% (sebelumnya tahun 2009 sebesar 1.6%). Sementara itu, rasio utang terhadap PDB akan diupayakan menurun menjadi 25% dari 28% pada APBN 2009. Sejak tahun 2005, Surat Berharga Negara (SBN) menjadi instrumen utama pembiayaan defisit APBN, yang berarti porsi pinjaman luar negeri berkurang. Dalam perkembangannya porsi kepemilikan asing pada SBN meningkat dari sekitar Rp. 100 triliun pada awal tahun 2009 menjadi sekitar Rp. 150 Triliun pada Mei 2010. SBN relatif bebas resiko (risk free). Besarnya pemilikan asing ini dapat mengganggu stabilitas ekonomi apabila sebagian besar dana tersebut ditarik tiba-tiba. (Sumber: Deputi 1, Kementerian Perekonomian)

Halaman 12

May

Nov

Mar

Mar

Nov

Mar

Sep

Sep

Jul

Jul

Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian

Kedeputian Bidang Ekonomi Makro dan Keuangan

Rasio Utang dan Rasio Defisit Terhadap PDB, Porsi Pinjaman Luar Negeri dan SBN
120% 2.5% 100% 77% 80% 60% 40% 0.5% 20% 0% 67% 1.3% 1.7% 57% 61% 1.1% 47% 0.9% 39% 1.3% 35% 33% 0.1% 28% 1.6% 1.5% 1.0% 25% 0.5% 0.0% 2.0% Pinjaman LN (LHS) Rasio Utang/PDB (LHS) SBN (LHS) Rasio Defisit/PDB (RHS) 3.0% 2.5%

2001

2002

2003

2004

2005

2006

2007

2008

2009

Apr'10

Sumber: Dirjen Pengelolaan Utang, Kemenkeu

400 350 300 250 200 150 100 50 0

250

Kepemilikan SBN (Triliun Rp)
200 150 100 50 0

Berdasarkan data dari Kementerian Keuangan, kepemilikan asing sebagian besar merupakan investor jangka panjang (long term investor) yang memiliki SUN bertenor panjang (lebih dari 5 tahun) dengan jumlah 74.25% per 25 Maret 2010. Walaupun hal tersebut menggambarkan tingkat kepercayaan semakin meningkat dengan perekonomian domestik, perlu dikendalikan secara baik dan tepat. Ada beberapa kelemahan dari meningkatnya utang eksternal. Utang eksternal yang berlebihan akan berdampak pada kinerja transaksi berjalan (current account) khususnya meningkatnya defisit neraca pendapatan (income balance). Selain itu, pemilikan surat utang oleh investor asing dapat menghilangkan kesempatan pembayaran bunga kepada penduduk domestik dan pemungutan pajak atas pembayaran bunga. Oleh karena itu, diperlukan kebijakan fiskal sustainability yang menekankan pada peningkatan besaran keseimbangan primer yang proporsional serta konsisten dengan orientasi jangka panjang. Hal lain yang perlu dilakukan adalah pengendalian pemanfaatan pinjaman luar negeri untuk sektor dan investasi yang produktif. Kebijakan fiskal dapat mengakomodasi shocks dan menyesuaikan target utang sebagai pembiayaan defisit pada tingkat yang optimal.
(sumber: Kedeputian I Menko Perekonomian)

Mar

Apr

Nov

Aug

May

Apr

Dec

Oct

Jun

Jul

Sep

Jan

Feb

2009 Bank (LHS) + Resident (RHS) Bank Indonesia (RHS)

2010 Non-Bank (LHS) + Asing (RHS)

Sumber: Dirjen Pengelolaan Utang, Kemenkeu

Peminat dari Non Bank dan Asing pada SBN terlihat semakin meningkat sedangkan kepemilikan bank berkurang. Dari sini terlihat bahwa meskipun pinjaman luar negeri berkurang, kepemilikan orang asing dalam SBN memiliki tren yang meningkat. Selain dalam SBN, porsi kepemilikan asing dalam SBI juga meningkat. Utang luar negeri swasta juga tumbuh lebih cepat dibandingkan dengan utang domestik swasta. Tren peningkatan kepemilikan oleh asing menunjukkan peningkatan kepercayaan terhadap kondisi ekonomi dan pasar uang Indonesia. (sumber: Kedeputian I Menko
Perekonomian)

May

Halaman 13

Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian

Kedeputian Bidang Ekonomi Makro dan Keuangan

TINJAUAN BERITA EKONOMI DAN KEUANGAN INTERNASIONAL
Misi Perdagangan Energi Bersih (Clean Energy Trade Mission) USA ke China dan Indonesia Pemerintah USA melakukan kerja sama dengan China dan Indonesia untuk melakukan Clean Energy Trade Mission. Misi pengembangan proyek energi bersih tersebut akan mempromosikan ekspor teknologi terkemuka US yang ramah lingkungan terkait dengan energi bersih, efisiensi energi, tenaga listrik, transmisi dan distribusi. Misi tersebut selain untuk menciptakan produk yang ramah lingkungan juga untuk mengurangi pengangguran di US dengan menciptakan lapangan kerja yang lebih banyak. Dalam pertemuan antara USA dan Indonesia yang dilaksanakan pada bulan Mei 2010, USA menyatakan bersedia kerjasama di teknologi terutama efisiensi energi dengan menggunakan teknologi yang bisa mengurangi konsumsi listrik. Kerja sama tersebut terutama dalam pengembangan investasi di Indonesia untuk small turbine, power plant (pembangkit listrik) skala kecil yang diperlukan di pulau terluar dan daerah nelayan serta geothermal. (sumber: US Department of Commerce)

TINJAUAN BERITA EKONOMI DAN KEUANGAN DOMESTIK
Tarif dasar listrik naik rata-rata pengguna non 450 kWh dan 900 kWh. 10% bagi

Pemerintah dan DPR sepakat untuk menaikkan tariff dasar listrik rata-rata 10% bagi pengguna non 450 kWh dan 900 kWh mulai bulan Juli 2010. Alasan kenaikan yang diajukan PT PLN karena biaya produksi dan operasi yang terus meningkat. Kenaikan TDL tersebut bisa meningkatkan rasio elektrifikasi (berdasarkan catatan masih ada 18,9 juta rumah tangga yang belum teraliri listrik). Kenaikan TDL juga diharapkan dapat meningkatkan pemakaian gas, batubara, dan panas bumi buat pembangkit; serta menurunkan susut daya. DPR menyetujui usulan pemerintah untuk menaikkan TDL bagi pelanggan rumah tangga dengan daya 1.3005.500 VA sebesar 18%, pelanggan sosial 1.300 sampai di atas 200.000 VA sebesar 10%, pelanggan bisnis 1.300-5.500 VA sebesar 16%, dan bisnis di atas 200 kVA sebesar 12%. Adapun pelanggan industri dengan daya 1.300-2.200 VA disetujui naik 6%, industri antara 2.200-200.000 VA 9%, industri di atas 200.000 VA naik 15%, pelanggan pemerintah antara 1.300 dan 5.500 VA naik 15%, dan pemerintah di atas 200.000 VA naik 18%. DPR juga menyetujui tarif traksi untuk kereta listrik di atas 200.000 VA naik 9%, curah untuk apartemen di atas 200.000 VA naik 15%, dan tarif multiguna untuk pesta naik 20%. Adapun untuk pelanggan 6.600 VA ke atas, yaitu golongan rumah tangga 6.600-200.000 VA serta bagi golongan bisnis dan pemerintah tidak terkena kenaikan TDL karena sudah dibebani batas hemat 30%. Sesuai simulasi yang disampaikan pemerintah, pelanggan rumah tangga 1.300 VA yang sebelumnya memakai listrik rata-rata Rp 134.000 per bulan akan naik Rp 24.000 per bulan dan pelanggan 2.200 VA naik Rp 43.000 menjadi Rp 240.000 per bulan. Dengan kenaikan TDL rata-rata 10% tersebut, alokasi anggaran subsidi listrik pada APBN-P 2010 menjadi Rp. 55.1 triliun.
(Sumber: Kompas.com)

Fitch menurunkan peringkat Spanyol menjadi AA+, Stable Outlook Setelah Persetujuan Penghematan Fiskal (Fiscal Austerity Approval) Pada tanggal 28 Mei 2010, Fitch menurunkan peringkat Spanyol menjadi AA+ (outlook stable). Satu hari sebelumnya, sebagai bagian dari mekanisme stabilisasi Eropa, parlemen Spanyol telah menyetujui langkahlangkah konsolidasi fiskal senilai 15 miliar poundsterling (1.5% PDB) untuk mengurangi defisit anggaran sebesar 0.5% GDP pada tahun 2010 (menjadi 9.3%) dan 1% GDP pada tahun 2011 (menjadi 6%). Kepala EMEA sovereign rating Fitch menyampaikan bahwa proses penyesuaian dari sektor swasta dan utang eksternal ke tingkat lebih rendah akan mengurangi laju pertumbuhan ekonomi Spanyol dalam jangka menengah. Selain itu, perlambatan pertumbuhan ekonomi disebabkan kekakuan pasar tenaga kerjanya.
(sumber: Roubini Global Economics)

Halaman 14

Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian

Kedeputian Bidang Ekonomi Makro dan Keuangan

PERKEMBANGAN KREDIT USAHA RAKYAT

REALISASI PENYALURAN KUR PER 31 MEI 2010
REALISASI PENYALURAN KUR

Realisasi Kredit Usaha Rakyat (KUR) sampai dengan 31 Mei 2010 Untuk mewujudkan program revitalisasi KUR, beberapa Kementerian melakukan sosialisasi dan koordinasi program KUR tahun 2010 secara bertahap ke berbagai propinsi. Setelah sosialisasi ke Kalimantan Barat dan Bengkulu pada bulan Mei 2010, sosialisasi dilanjutkan ke Provinsi Bali pada awal Juni 2010. Konsep acara sosialisasi tersebut dibagi menjadi 2 sesi yakni koordinasi dan sosialisasi tim pelaksana dengan pemda/instansi terkait dan sosialisasi Bank Pelaksana dengan calon debitur KUR. Untuk meningkatkan penyaluran Kredit Usaha Rakyat (KUR) kepada usaha kredit mikro, maka persetujuan penyaluran KUR di bawah Rp 5 juta tidak perlu lagi harus memeriksa status utang calon debitur pada Sistem Informasi Debitur (SID) dari Bank Indonesia. Persetujuan cukup dari bank penyalur KUR itu sendiri. Namun, untuk KUR di atas Rp 5 juta, setiap bank pelaksana KUR diwajibkan untuk memeriksa status debitur pada SID terlebih dulu. Bank Jabar-Banten, Bank Jateng dan Bank Jatim mulai menyalurkan KUR pada bulan Mei 2010 lalu. KUR yang telah disalurkan oleh bank pelaksana yaitu BRI, BNI, BTN, Bank Mandiri, Bank Syariah Mandiri, Bank Bukopin, BPD Jabar-Banten, BPD Jateng serta BPD Jatim pada bulan Mei 2010 mencapai Rp 20.10 triliun kepada 2,782,369 debitur yang tersebar di 33 propinsi di seluruh Indonesia dengan rata-rata kredit sebesar Rp 7.2 juta per debitur dengan Non Performing Loan (NPL) rata-rata 6.03%. Nilai NPL pada bulan Mei 2010 meningkat dari bulan sebelumnya (5.85%). BRI sebagai bank yang paling banyak menyalurkan KUR yang mencapai Rp 14.77 trilliun kepada 2,718,851 debitur disusul Bank BNI sebesar Rp 1.69 trilliun kepada 12,876 debitur dan Bank Mandiri sebesar Rp 1.61 trilliun kepada 36,953 debitur. Untuk bank BPD penyalur KUR yang terdiri dari Bank Jabar-Banten, Bank Jatim dan Bank Jateng, penyalurannya masih relatif kecil yaitu hanya sebesar Rp. 0.15 triliun kepada 2,172 debitur.

BANK

Plafon (Rp Juta)

Outstanding (Rp Juta)

Debitur

Rata-rata kredit (Rp Juta)

NPL (%)

BNI Bank Mandiri BRI KUR Ritel BRI KUR Mikro BTN Bukopin BSM BPD

1,692,662 1,606,159 3,645,133 11,120,604 696,415 734,051 456,273 152,472

831,438 739,760 2,576,389 2,978,019 284,809 377,811 363,206 148,487

12,876 36,953 29,116 2,689,735 3,246 3,740 4,531 2,172

131.5 43.5 125.2 4.1 214.5 196.3 100.7 70.2

6.22 2.09 7.24 4.69 14.31 10.31 5.05 -

TOTAL

20,103,768

8,299,919

2,782,369

7.2

6.03

Sumber: Kedeputian I, Menko Perekonomian

Kenaikan realisasi plafon KUR selama periode Januari Mei 2009 mencapai Rp. 2,914 triliun. Capaian tersebut masih di atas target sebesar Rp. 1,856 triliun. Sementara itu pangsa penyaluran KUR kepada sektor pertanian, kelautan dan perikanan, kehutanan, dan industri tercatat sebesar 18,02%. Capaian ini juga di atas target 17%. Pada beberapa bulan mendatang upaya penyaluran KUR perlu diperkuat dengan besarnya target yang harus dicapai. Pengejaran target kuantitas tersebut perlu diikuti dengan peningkatan kualitasnya supaya tingkat NPL terkendali.

Rp. Juta

14,000,000 12,000,000 10,000,000 8,000,000 6,000,000 4,000,000 2,000,000 0
981,700

Realisasi Penyaluran KUR 2007-2010
11,474,868

4,732,747 2,914,454 750,250 353,481 339,946 633,822 836,954

2007 2008 2009 2010 Jan

Feb

Mar

Apr

Mei

Halaman 15

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful