P. 1
Doc

Doc

|Views: 6,446|Likes:
Published by Meidiawati

More info:

Published by: Meidiawati on Sep 06, 2010
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

07/01/2013

pdf

text

original

Sections

  • A. Latar Belakang Masalah
  • B. Perumusan Masalah
  • C. Penegasan Istilah
  • D. Tujuan Penelitian
  • E. Manfaat Penelitian
  • F. Sistematika Skripsi
  • A. Penyesuaian Diri Remaja di Panti Asuhan
  • 1. Penyesuaian Diri
  • a. Pengertian Penyesuaian Diri
  • b. Aspek-Aspek Penyesuaian Diri
  • c. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Penyesuaian Diri
  • besar faktor-faktor yang mempengaruhi penyesuaian diri remaja
  • d. Penyesuaian Diri yang Baik
  • 2. Remaja
  • a. Pengertian Remaja
  • b. Ciri-Ciri Remaja
  • c. Tugas Perkembangan Remaja
  • 3. Panti Asuhan
  • a. Pengertian Panti Asuhan
  • b. Tujuan Panti Asuhan
  • c. Fungsi Panti Asuhan
  • 4. Penyesuaian Diri Remaja di Panti Asuhan
  • B. Dukungan Sosial
  • 1. Pengertian Dukungan Sosial
  • 2. Jenis-Jenis Dukungan Sosial
  • 3. Sumber-Sumber Dukungan Sosial
  • D. Hipotesis
  • A. Jenis Penelitian
  • B. Variabel Penelitian
  • 1. Identifikasi Variabel
  • 2. Definisi Operasional Variabel Penelitian
  • 3. Hubungan Antar Variabel Penelitian
  • C. Subjek Penelitian
  • 1. Populasi
  • 2. Sampel
  • D. Metode dan Instrumen Pengumpulan Data
  • E. Validitas dan Reliabilitas Alat Ukur
  • 1. Validitas
  • 2. Reliabilitas
  • F. Teknik Analisis Data
  • HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
  • A. Persiapan Penelitian
  • 1. Orientasi Kancah
  • 2. Proses Perijinan
  • 3. Penentuan Sampel
  • Tabel 4.1 Deskripsi Subjek Penelitian
  • B. Pelaksanaan Penelitian
  • C. Prosedur Pengumpulan Data
  • D. Deskripsi Data Penelitian
  • Tabel 4.2 Rangkuman Data Penelitian
  • E. Hasil Penelitian dan Pembahasan
  • 1. Hasil Uji Validitas dan Reliabilitas
  • a. Validitas
  • Tabel 4.3 Blue Print Skala Penyesuian Diri Setelah Uji Coba
  • Tabel 4.4 Blue Print Skala Dukungan Sosial Setelah Uji Coba
  • b. Reliabilitas
  • 2. Hasil Penelitian
  • a. Gambaran Penyesuaian Diri Remaja
  • Tabel 4.5 Pengelompokkan Norma Tingkat Penyesuaian Diri
  • Tabel 4.6 Distribusi Frekuensi Penyesuaian Diri
  • Tabel 4.7 Distribusi Frekuensi Aspek Penyesuaian Pribadi
  • Tabel 4.8 Distribusi Frekuensi Aspek Penyesuaian Sosial
  • b. Gambaran Dukungan Sosial
  • Tabel 4.9 Pengelompokkan Norma Tingkat Dukungan Sosial
  • Tabel 4.10 Distribusi Frekuensi Dukungan Sosial
  • Tabel 4.11 Distribusi Frekuensi Aspek Dukungan Emosional
  • Tabel 4.12 Distribusi Frekuensi Aspek Dukungan Penghargaan
  • Tabel 4.13 Distribusi Frekuensi Aspek Dukungan Instrumental
  • Tabel 4.14 Distribusi Frekuensi Aspek Dukungan Informasi
  • c. Uji Hipotesis
  • Tabel 4.18 Kontribusi Dukungan Sosial Terhadap Penyesuaian Diri Remaja
  • 3. Pembahasan
  • A. Kesimpulan
  • B. Saran

HUBUNGAN ANTARA DUKUNGAN SOSIAL DENGAN PENYESUAIAN DIRI REMAJA DI PANTI ASUHAN AL BISRI SEMARANG TAHUN 2007

SKRIPSI Diajukan Kepada Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Negeri Semarang Untuk Memenuhi Sebagian Dari Syarat-Syarat Guna Memperoleh Derajad Sarjana Psikologi

Oleh : Ayu Febriasari NIM. 1550402033

FAKULTAS ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS NEGERI SEMARANG 2007

i

HALAMAN PERSETUJUAN

Skripsi yang berjudul : Hubungan Antara Dukungan Sosial Dengan Penyesuaian Diri Remaja Di Panti Asuhan Al Bisri Semarang Tahun 2007

Yang diajukan oleh : Ayu Febriasari NIM. 1550402033

Telah diperiksa dan disetujui untuk diuji di depan dewan penguji skripsi Fakultas Ilmu Pendidikan

Semarang, 24 Juli 2007

Pembimbing I

Pembimbing II

Drs. Sugeng Hariyadi, M. S NIP. 131472593

Rulita Hendriyani, S. Psi., M. Si NIP. 132255795

ii

HALAMAN PENGESAHAN

Telah dipertahankan di depan dewan penguji skripsi Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Negeri Semarang dan dinyatakan diterima untuk memenuhi sebagian dari syarat-syarat guna memperoleh derajad sarjana S1 Psikologi pada : Hari Tanggal : : Selasa 24 Juli 2007 Panitia Ujian Skripsi

Ketua

Sekretaris

Dr. Agus Salim, M.S NIP. 131127082 Dewan Penguji 1. Dra. Sri Maryati D., M.Si. NIP.131125886 2. Drs. Sugeng Hariyadi, M.S NIP.131472593 3. Rulita Hendriyani, S.Psi.,M.Si NIP. 132255795

Dra. Sri Maryati D., M.Si. NIP. 131699302 Tanda Tangan

……………………

……………………

……………………

Semarang, 24 Juli 2007 Mengesahkan Fakultas Ilmu Pendidikan Dekan

Dr. Agus Salim, M. S NIP. 131127082

iii

01. Variabel bebas pada penelitian ini adalah dukungan sosial dan variabel terikatnya adalah penyesuaian diri. yang menunjukkan bahwa hipotesis diterima. M. Bagi remaja di panti asuhan. Hipotesis penelitian ini yaitu ada hubungan positif antara dukungan sosial dengan penyesuaian diri remaja di panti asuhan.566.ABSTRAK HUBUNGAN ANTARA DUKUNGAN SOSIAL DENGAN PENYESUAIAN DIRI REMAJA DI PANTI ASUHAN AL BISRI SEMARANG Oleh : Ayu Febriasari Nim. Psi. Si. M. pengambilan sampel menggunakan teknik total sampling sebanyak 40 orang. banyak penghayatan baru yang memerlukan penyesuaian diri yang baru pula. p < 0. Sugeng Hariyadi. Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian kuantitatif korelasional. penyesuaian diri. manusia selalu melakukan penyesuaian diri sesuai dengan tuntutan dari diri sendiri maupun lingkungannya. Metode pengambilan data menggunakan skala psikologi. S dan Rulita Hendriyani.. komputasi dengan menggunakan komputer program statistical program for social sciences (SPSS) versi 10.0. 1550402033 Abstrak skripsi di bawah bimbingan Drs. Untuk mencapai tujuan hidupnya. Data yang diperoleh dianalisis dengan menggunakan korelasi product moment dari Pearson. Subjek dalam penelitian ini adalah remaja penghuni Panti Asuhan Al Bisri Semarang yang berusia 13-18 tahun. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui ada tidaknya hubungan antara dukungan sosial dengan penyesuaian diri remaja di panti asuhan. Pada saat-saat seperti ini. sering terjadi remaja gagal karena kemampuannya belum memadai. Hasil pengolahan data diperoleh nilai korelasi rxy = 0. remaja sangat membutuhkan dukungan sosial dari orang lain di lingkungan terdekatnya yaitu pengasuh dan teman-teman sesama penghuni panti asuhan. S. Kata kunci : dukungan sosial. iv . Artinya terdapat hubungan yang positif dan signifikan antara dukungan sosial dengan penyesuaian diri remaja di Panti Asuhan Al Bisri Semarang. Tentunya hal ini tidak selamanya berjalan dengan lancar.

ST) Langkah penting yang harus dilakukan seorang pelari dalam arena perlombaan bukan hanya saat ia memulai garis start ataupun cukup dengan semangat yang menyalanyala.MOTTO DAN PERSEMBAHAN Motto Allah telah menyatakan bahwasannya tidak ada Tuhan hanya Dia yang menegakkan keadilan. Ibu. kelembutan sekaligus kekuatan adalah kepribadian yang sangat cantik (DPHN. v . wawasan. Ketulusan. atas doa dan kasih sayangnya. Bapak. Yang Maha Perkasa dan Maha Bijaksana (QS. para malaikat dan orang-orang berilmu juga menyatakan demikian : tidak ada Tuhan selain Dia.) dan Andro. budi pekerti. serta kekasihku. adikku Ajeng (alm. Persembahan Kupersembahkan karya sederhana ini untuk Yang tercinta …. namun yang terpenting yaitu bagaimana ia dapat terus bertahan dan berjuang sekuat tenaga untuk mencapai tujuan akhir yaitu garis finish. Ali Imran:18).

S. M.S dan Rulita Hendriyani. M.Si. Sri Maryati Deliana.S. dosen pembimbing I dan II yang telah meluangkan waktu untuk memberikan bimbingan. Selesainya skripsi ini tidak lepas dari bantuan berbagai pihak. Agus Salim. Dr. M. Seluruh remaja di Panti Asuhan Al Bisri Semarang yang telah bersedia meluangkan waktu untuk mengisi skala penelitian. M. 5. Dewan penguji skripsi Fakultas Ilmu Pendidikan yang memberikan berbagai masukan dan kritik bagi kesempurnaan penulisan skripsi.. arahan dan motivasi dalam menyusun skripsi ini. Drs.KATA PENGANTAR Puji syukur kehadirat Allah AWT yang telah melimpahkan rahmatNya.. Ketua Panti Asuhan Al Bisri Semarang. Dekan Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Negeri Semarang. M.Si. Sugeng Hariyadi. Shokis. vi . sehingga peneliti dapat menyelesaikan skripsi ini yang berjudul : “Hubungan Antara Dukungan Sosial Dengan Penyesuaian Diri Remaja di Panti Asuhan Yatim Piatu Al Bisri Semarang”. 4. 3. Ketua Jurusan Psikologi Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Negeri Semarang. Adapun skripsi ini merupakan salah satu syarat untuk memperoleh gelar sarjana Psikologi pada Jurusan Psikologi Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Negeri Semarang. 2.. SH...Psi. Dra. untuk itu penulis mengucapkan terima kasih kepada : 1. 6.

Seluruh dosen Psikologi UNNES yang telah memberikan bekal ilmu pengetahuan selama penulis menempuh masa kuliah. 8. besar harapan penulis semoga skripsi ini dapat bermanfaat bagi penulis pada khususnya dan bagi pembaca pada umumnya.) dan Andro. Sahabat-sahabatku Sari. Teman-temanku Roksi. yang telah memberikan bantuan dalam penyusunan skripsi serta teman–teman Jurusan Psikologi UNNES. Semua pihak yang telah memberikan motivasi. Sekar. Indri. 11. 24 Juli 2007 Penulis vii . serta DP Hendro N. Cik Evi (Psikocentra).7. adikku Ajeng (alm. tercinta. 9. Mas Toni. Kedua orang tua. 10. Akhirnya. bantuan dan masukan dalam penyusunan skrisi yang tidak dapat disebutkan satu persatu. Semoga segenap bantuan serta dukungan yang telah diberikan kepada penulis mendapat balasan dari Allah SWT. terima kasih atas bantuan. Mbak Ika (Pink). Semarang. dukungan dan kebersamaannya.

.......................................................... Pengertian Remaja ....................................... E............................. Tujuan Penelitian .................. BAB I PENDAHULUAN ....... Perumusan Masalah ....... b........................ a.............................................. DAFTAR GAMBAR ................................... A...................................... KATA PENGANTAR ......... Pengertian Penyesuaian Diri ........................... D....................................................................... d................................ b....................... HALAMAN PERSETUJUAN.............. Ciri-Ciri Remaja........ A.....................................DAFTAR ISI Halaman HALAMAN JUDUL.......................... DAFTAR ISI.................. Latar Belakang Masalah................................................................ Sistematika Skripsi......................................... C............................................................................................. DAFTAR LAMPIRAN................................................................................... c............................................................... B................................................................................................................................................. Penyesuaian Diri yang Baik ........................................................................... a.............................................. 2......................... DAFTAR GRAFIK. Aspek-Aspek Penyesuaian Diri .. Penyesuaian Diri Remaja di Panti Asuhan ........ Penegasan Istilah................................................................................................................................................................. Remaja ...................... Manfaat Penelitian . DAFTAR TABEL................................. F...................................................... MOTTO DAN PERSEMBAHAN ............. HALAMAN PENGESAHAN............................................................... Penyesuaian Diri .............................................................................................................................. ABSTRAK .................. BAB II LANDASAN TEORI ..................................................... 1................................................................ i ii iii iv v vi viii xi xii xiii xiv 1 1 10 10 11 12 12 14 15 15 15 18 22 26 30 30 32 viii ...... Faktor-faktor yang Mempengaruhi Penyesuaian Diri............................................

...... Penyesuaian Diri Remaja di Panti Asuhan ................................................................................... 1.......... 34 36 36 37 38 39 41 41 44 50 52 56 58 58 59 59 59 62 62 62 63 63 68 68 68 69 71 71 71 73 ix .................................................... 2......... A............. 2............................................... 1.................. Hubungan Antara Dukungan Sosial Dengan Penyesuaian Diri Remaja di Panti Asuhan ... C.................................. BAB III METODE PENELITIAN ................................................ 3........... 2............................... Pengertian Panti Asuhan ................................. B..................... Proses Perijinan....................... Validitas ....... 2........................... Orientasi Kancah.................................. F............................. b........................................................................... a........................................................................ 1............... Metode dan Instrumen Pengumpulan Data .................. B........ Persiapan Penelitian ................................................................................................... Validitas dan Reliabilitas Alat Ukur ........................................ Jenis Penelitian....................................... Populasi ..................................... Jenis-Jenis Dukungan Sosial ..............................c............... 1....... Tugas Perkembangan Remaja .................. D............. Subjek Penelitian.......................................... A........... C.................. Pengertian Dukungan Sosial ..................................... 4.................................... 2.. BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN .. Hipotesis............. Fungsi Panti Asuhan ........................................................... Dukungan Sosial ...................................... 3........... Teknik Analisis Data............. Sumber-Sumber Dukungan Sosial ............... Sampel.................................................................. Hubungan Antar Variabel Penelitian ........ c................................................................................. Tujuan Panti Asuhan .................................. Reliabilitas ........ 1......................................... E.... 3.................... Identifikasi Variabel.............. Panti Asuhan .................... D..................................... Definisi Operasional Variabel Penelitian............................................... Variabel Penelitian .

............... Saran............................... A.................... Reliabilitas ................................................................................................................ Pelaksanaan Penelitian ... a.............. B. B. D............... Penentuan Sampel ............................ BAB V SIMPULAN DAN SARAN .............................................. Kesimpulan ........... b........... Hasil Penelitian dan Pembahasan ......................................................................... Deskripsi Data Penelitian...............3........................ Pembahasan..................... 1....... b............ Prosedur Pengumpulan Data ... Gambaran Penyesuaian Diri Remaja ......................... Gambaran Dukungan Sosial............................................................ Validitas ............ C.............. a............................................... Uji Hipotesis ............... E.............................................................................................................................. Hasil Penelitian ....................................................................................... c............................... DAFTAR PUSTAKA DAFTAR LAMPIRAN 73 74 74 75 75 75 76 79 79 79 83 89 91 98 98 99 x .................... 3....................................... 2.......... Hasil Uji Validitas dan Reliabilitas...............

.............. Tabel 3....DAFTAR TABEL Halaman Tabel 3.................................11 Distribusi Frekuensi Aspek Dukungan Emosional ......... Tabel 4............................... Tabel 4.....13 Distribusi Frekuensi Aspek Dukungan Instrumental .... Tabel 4....15 Korelasi Antara Dukungan Sosial dengan Penyesuaian Diri Remaja .. Tabel 4.................10 Distribusi Frekuensi Dukungan Sosial........... Tabel 4..............2 Rangkuman Data Penelitian.....................4 Blue Print Skala Dukungan Sosial Setelah Uji Coba .3 Blue Print Skala Penyesuaian Diri Setelah Uji Coba.....................6 Distribusi Frekuensi Penyesuaian Diri.... Tabel 4....................... Tabel 4.............. Tabel 4....................16 Kontribusi Dukungan Sosial Terhadap Penysuaian Diri Remaja 90 91 66 67 74 75 77 78 80 81 82 83 84 85 86 87 88 89 xi ................................................. Tabel 4................8 Distribusi Frekuensi Spek Penyesuian Sosial ..................1 Blue Print Penyesuaian Diri.............2 Blue Print Dukungan Sosial.....1 Deskripsi Subjek Penelitian ...............12 Distribusi Frekuensi Aspek Dukungan Penghargaan.. Tabel 4............. Tabel 4........................ Tabel 4.....9 Pengelompokkan Norma Tingkat Dukungan Sosial ....14 Distribusi Frekuensi Aspek Dukungan Informasi.........................................................5 Pengelompokkan Norma Tingkat Penyesuaian Diri ..... Tabel 4....................................................... Tabel 4.. Tabel 4.....7 Distribusi Frekuensi Aspek Penyesuaian Pribadi .. Tabel 4..........................................................................

.........2 Digram Dukungan Sosial .....................................DAFTAR GAMBAR Halaman Gambar 3.............1 Diagram Penyesuaian Diri Remaja ............................... Gambar 4.............. Gambar 4....... 62 92 94 xii .............1 Skema Hubungan Antara Variabel X dan Y ..........

............1 Tingkat Penyesuaian Diri Remaja ............................DAFTAR GRAFIK Halaman Grafik 4..... 81 85 xiii ...................................................... Grafik 4........2 Tingkat Dukungan Sosial ...

............................... 105 Lampiran 2 Data Kasar Skala Penyesuian Diri................................................................... 123 Lampiran 9 Reliabilitas Skala Dukungan Sosial...................................................................................... 114 Lampiran 3 Data Kasar Skala Dukungan Sosial ................................................. 116 Lampiran 5 Sebaran Deskriptif Skala Dukungan Sosial........................ 131 Lampiran 14 Uji Linieritas.................... 115 Lampiran 4 Sebaran Deskriptif Skala Penyesuaian Diri......... 139 Lampiran 17 Surat Bukti Penelitian.................................... 127 Lampiran 10 Analisis Hubungan Penyesuaian Diri dengan Dukungan Sosial ............................................ 122 Lampiran 8 Validitas skala Dukungan Sosial ...............................................................DAFTAR LAMPIRAN Halaman Lampiran 1 Instrumen Skala Penelitian ..................... 128 Lampiran 11 Deskriptif Skala Penyesuaian Diri ............................................. 129 Lampiran 12 Deskriptif Skala Dukungan Sosial..................................................................................................... 117 Lampiran 6 Validitas Skala Penyesuaian Diri ...................................................................... 132 Lampiran 15 Analisis Reliabilitas Skala Dukungan Sosial Ditinjau Dari Sumber Dukungan Sosial (Pengasuh & Teman-teman) ... 118 Lampiran 7 Reliabilitas Skala Penyesuaian Diri.......................................... 130 Lampiran 13 Uji Normalitas ............................................................. 136 Lampiran 16 Surat Ijin Penelitian .............................................. 140 xiv ..................

tidak mampu dan terlantar. seperti menjadi yatim. 1 .1 BAB I PENDAHULUAN A. Orang tua mempunyai peran penting dalam kaitannya dengan menumbuhkan rasa aman. piatu bahkan yatim piatu. ibu dan saudara kandung adalah tempat utama bagi individu mendapatkan pengalaman bersosialisasi pertama kalinya. Lebih lagi. emosional dan sosial. tidak adanya orang yang dapat diajak berbagi cerita atau dijadikan panutan dalam menyelesaikan masalah. Ganjalan ini membuat anak tidak berdaya. Apabila hal ini berjalan terusmenerus akan mengakibatkan anak tersebut terganggu dalam kehidupan sehari-hari. Beberapa anak dihadapkan pada pilihan yang sulit bahwa anak harus berpisah dari keluarganya karena sesuatu alasan. kasih sayang dan harga diri. agar dapat tumbuh utuh secara mental. sehingga kebutuhan psikologisnya tidak terpenuhi secara wajar. yang semua itu merupakan faktor kebutuhan psikologis anak. Perjalanan hidup seorang anak tidak selamanya berjalan dengan baik. Terpenuhinya kebutuhan psikologis tersebut akan membantu perkembangan psikologis secara baik dan sehat. Keluarga yang berisi ayah. Latar Belakang Masalah Keluarga adalah tempat yang penting dimana anak memperoleh dasar dalam membentuk kemampuannya agar kelak menjadi orang yang berhasil di masyarakat.

Panti asuhan berperan sebagai pengganti keluarga dalam memenuhi kebutuhan anak dalam proses perkembangannya. Berhasil tidaknya remaja dalam mengatasi masalahnya tersebut sangat tergantung dari bagaimana remaja mempergunakan pengalaman yang diperoleh dari lingkungannya dan selanjutnya kemampuan menyelesaikan masalah ini akan dapat membentuk sikap pribadi yang lebih mantap dan lebih dewasa. Pada masa transisi tersebut. remaja mengalami berbagai masalah yang ada karena adanya perubahan fisik. psikis dan sosial. Pada saat anak melewati masa remaja. Masa transisi ini banyak menimbulkan kesulitan-kesulitan dalam penyesuaian terhadap dirinya maupun terhadap lingkungan. Tempat itulah yang selanjutnya dianggap sebagai keluarga oleh anak-anak tersebut. psikis dan sosial juga sangat dibutuhkan bagi perkembangan kepribadiannya karena pada masa remaja dianggap sebagai masa transisi dari masa kanakkanak ke masa dewasa. pemenuhan kebutuhan fisik. 2004:233). Masa remaja dianggap sebagai masa labil yaitu dimana individu berusaha mencari jati dirinya dan mudah sekali menerima informasi dari luar dirinya tanpa ada pemikiran lebih lanjut (Hurlock. Remaja yang berusaha menemukan identitas dirinya dihadapkan pada situasi yang menuntut harus mampu menyesuaikan diri bukan hanya terhadap dirinya .2 Anak-anak inilah yang dipelihara oleh pemerintah maupun swasta dalam suatu lembaga yang disebut panti asuhan. Perkembangan pada remaja pada hakekatnya adalah usaha penyesuaian diri yaitu usaha secara aktif mengatasi tekanan dan mencari jalan keluar dari berbagai masalah.

serta merasa malu jika berada diantara orang lain atau situasi yang terasa asing baginya. Hal ini menunjukkan bahwa kehidupan panti tersebut terlalu kaku dan kurang memperhatikan pemenuhan kebutuhan psikologis dan sosial para penghuninya. dengan demikian remaja dapat mengadakan interaksi yang seimbang antara diri dan kesempatan ataupun hambatan di dalam lingkungan. sehingga seringkali remaja melanggar aturan yang ada. yang dialami Musa (bukan nama sebenarnya) bahwa dirinya masih merasa kesulitan untuk meyesuaikan diri dengan aturan dan teman di panti asuhan meski sudah tinggal selama lebih dari dua tahun. tertutup. Penyesuaian diri menuntut kemampuan remaja untuk hidup dan bergaul secara wajar terhadap lingkungannya. Remaja yang tinggal di panti asuhan menemui banyak aturan yang harus ditaati oleh remaja tersebut. Hal ini seringkali membuat remaja merasa kesulitan untuk menyesuaikan diri dengan aturan yang ada dan merasa kurang bebas. tidak dapat menerima dirinya sendiri dan kelemahan-kelemahan orang lain. sehingga remaja merasa puas terhadap dirinya dan terhadap lingkungannya.3 sendiri tetapi juga pada lingkungannya. juga merasa bosan tinggal di panti karena sering diejek teman-temannya. Tami (bukan nama sebenarnya) . Contohnya. Bagi remaja yang tidak dapat menyesuaikan diri dengan baik cenderung menjadi anak yang rendah diri. Hartini (2001:114) dalam penelitiannya pada anak-anak panti asuhan di Jawa Timur menemukan bahwa : Lima puluh dua persen anak-anak panti asuhan cenderung menunjukkan kesulitan dalam penyesuaian sosialnya yang menggambarkan adanya kebutuhan psikologis untuk dapat menyesuaikan diri dengan tata cara atau aturan lingkungannya.

anak-anak tersebut menunjukkan perilaku yang negativis. Keterampilan sosial ini kurang dimilliki oleh individu yang tinggal di panti asuhan. apatis. Irfan sering pura-pura ketiduran jika mendapat giliran piket.4 kadang-kadang berbohong pada pengasuh jika ingin main ke rumah teman sepulang sekolah dengan alasan ada tugas belajar kelompok. penuh dengan ketakutan dan kecemasan. Misbah (bukan nama sebenarnya) sering terlambat sekolah karena bangun kesiangan dan terkadang merasa malas berangkat sekolah karena uang sakunya kurang. menarik diri. lebih suka sendirian. Oleh karena itu. menunjukkan rasa bermusuhan dan lebih egosentrisme. Keadaan panti yang membosankan dan adanya peraturan yang ketat membuat remaja merasa terkekang. takut melakukan kontak dengan orang lain. tekanan tersebut tidak jarang dilampiaskan dalam kehidupan di panti asuhan karena pantilah yang menjadi lingkungan hidup sehari-hari. Fadli (bukan nama sebenarnya) merasa bosan bila mengerjakan jadwal piket. Disamping itu. sehingga anak panti asuhan akan sulit menjalin hubungan sosial dengan orang lain. Hartini (2001:117) membuktikan bahwa anak yang tinggal di panti asuhan mengalami banyak problem psikologis dengan karakter sebagai berikut : Kepribadian yang inferior. Sama halnya dengan Irfan (bukan nama sebenarnya) juga merasa bosan dengan jadwal piketnya. . remaja tersebut dituntut untuk dapat menyesuaikan diri dengan baik di lingkungannya. Adanya tekanan tersebut. Seseorang dapat menyesuaikan diri terhadap lingkungan sosialnya jika ia memiliki keterampilan sosial dan mampu berhubungan dengan orang lain. pasif. baik dengan teman atau dengan orang yang tidak dikenalnya. Pada remaja panti asuhan. mudah putus asa. remaja menjadi berontak atau tidak mematuhi semua aturan dan merasa kurang bebas.

merasa takut dan cemas. Nurma juga merasa takut selama tinggal di panti asuhan. kaku dalam bergaul. tidak suka berkumpul dengan teman-teman yang lain. SH (Ketua Panti Asuhan Al Bisri Semarang) mengatakan bahwa ada anak-anak panti asuhan yang berperilaku sesuka hatinya seperti sering meledek teman. berkata jorok dan bertengkar. Rosi (bukan nama sebenarnya) berusia 16 tahun sering bertengkar dengan temannya di panti asuhan dan pernah bertengkar dengan temannya di sekolah. .M. cenderung memiliki sifat rendah diri. Nurma merasa malu karena mengganggap bahwa dirinya terjelek diantara teman-temannya. saling mengejek dan bertengkar. dirinya menganggap semua temannya sadis karena suka mengganggunya. tertutup dan merasa takut. merasa bahwa dirinya mengalami kesulitan untuk menyesuaikan diri dengan orang lain. Nurma (bukan nama sebenarnya) berusia 13 tahun. seperti suka mengganggu teman. kurang percaya diri dan lebih suka sendirian. rendah diri. ada yang cenderung pendiam. Misalnya. Shokis. Hal ini menunjukkan bahwa sebagian besar anak Panti Asuhan Al Bisri Semarang tersebut memiliki tingkat penyesuaian diri yang kurang. shalat. yaitu inferior. Contohnya. serta ada yang sulit untuk mengikuti kegiatan seperti piket. H.5 Penulis juga menemukan karakteristik yang menunjukkan bahwa remaja di Panti Asuhan Al Bisri Semarang cenderung mempunyai sifat yang sama. mengaji dan kerja bakti. Umi (bukan nama sebenarnya) tidak percaya diri. cenderung menjadi pendiam dan pemalu. Banyak diantara mereka yang suka bersitegang. suka bersitegang.

6 Diungkapkan lebih lanjut berdasarkan wawancara yang dilakukan oleh peneliti bahwa remaja panti asuhan yang sudah lama tinggal di panti biasanya memiliki relasi yang dekat dengan teman-teman di panti dan pengasuhnya. Walaupun esensi dari panti asuhan adalah menggantikan yang hilang dari orang tua melalui para pengasuh tetapi kenyataan ini sering sulit dicapai secara memuaskan. kurangnya fasilitas fisik. kurang responsif terhadap orang lain dan merasa rendah diri. dalam mengadakan hubungan dengan lingkungan sekitarnya memungkinkan remaja tersebut cenderung menampakkan sikap pendiam. Akibatnya. pencemas. Remaja di panti asuhan bergaul dan berhadapan dengan para pengasuh yang mempunyai peranan sebagai pengganti orang tua. . Sehubungan dengan adanya kondisi-kondisi khusus seperti kurangnya perhatian pengasuh. Lain lingkungan sosial lain pula pengalaman interaksi sosial yang diperoleh remaja. Dengan demikian jelas terlihat bahwa remaja yang tinggal di panti asuhan secara umum mempunyai kecenderungan kurang mampu menyesuaikan diri dengan baik terhadap lingkungannya. terlalu ketatnya disiplin dan aturan yang dijalankan serta harus mengikuti kegiatan keagamaan dan program keterampilan yang diikuti oleh remaja tersebut. pasif. sehingga cenderung menarik diri dan lebih bersikap defensif dalam pergaulan. namun tetap saja remaja seringkali menunjukkan perilaku malu-malu. khususnya saat berhadapan dengan orang lain yang masih baru. Interaksi sosial yang dialami oleh remaja yang tinggal di panti asuhan berbeda dengan yang tinggal di keluarga biasa. menarik diri.

1994:133). Hartini (2001:114) dalam penelitiannya menemukan bahwa 77 persen anak-anak panti asuhan di Jawa Timur mempunyai kebutuhan psikologis untuk mendapatkan dorongan dan dukungan dari lingkungannya. terutama anak-anak di tempat ini tidak mengalami suasana keibuan. Dukungan sosial yang diterima seseorang dalam lingkungannya. Bowlby dalam Dagun (2002:8) mengecam dan mengkritik lembagalembaga rumah yatim piatu yang dianggapnya sebagai tempat yang tidak menumbuhkan perilaku sosial dan emosional pada anak. seseorang akan mampu menerima kehidupan yang dihadapi serta mempunyai sikap pendirian dan pandangan hidup yang jelas. Oleh karena itu. segala sesuatu dapat menjadi lebih mudah pada saat mengalami kejadian-kejadian yang menegangkan (Smet. perhatian. penghargaan. dkk . baik berupa dorongan semangat. Dukungan yang diberikan dimaksudkan agar remaja terhindar dari problem psikologis seperti yang ditampakkan di atas. sehingga mampu hidup di tengah-tengah masyarakat luas secara harmonis. individu membutuhkan individu lain yang dapat memberi dukungan sosial. Jika individu merasa didukung oleh lingkungannya. Dengan adanya pandangan positif terhadap diri dan lingkungannya.7 Manusia sebagai makhluk sosial akan selalu membutuhkan kehadiran orang lain dalam hidup. bantuan maupun kasih sayang membuatnya akan memiliki pandangan positif terhadap diri dan lingkungannya. Rutter dalam Monks. Adanya dukungan sosial bagi remaja di panti asuhan merupakan salah satu cara untuk mengatasi hambatan dalam penyesuaian dirinya.

Hal . Beberapa remaja menyatakan bahwa pengasuh tidak pernah memberikan pujian atas prestasi atau hasil pekerjaannya..8 (2002:96) mengatakan bahwa kasih sayang ibu mutlak diperlukan untuk menjamin suatu perkembangan psikis yang sehat pada anak. memberi perawatan. stimulasi intelektual dan pembentukan nilai merupakan faktor yang penting dalam perkembangan anak (Mussen. perhatian. bisa juga dari orang lain atau ibu pengganti. antara lain adalah rasio jumlah anak asuh dengan pengasuh sangat tidak seimbang. Remaja tersebut ada yang masih ragu dan takut dalam menjalin hubungan dengan pengasuh. Remaja yang tinggal di panti asuhan berkembang dengan bimbingan dan perhatian dari pengasuh yang berfungsi sebagai pengganti orang tua dalam keluarga. Dukungan sosial kurang bisa secara maksimal diberikan pada remaja panti asuhan disebabkan oleh berbagai faktor. Bagi remaja yang tinggal di panti asuhan. Perbandingan antara jumlah pengasuh dan anak asuh yang tidak seimbang menyebabkan remaja kurang merasakan perhatian. pemberian kasih sayang ini tidak harus berasal dari ibu secara biologis. kasih sayang dan bimbingan. jumlah orang dewasa yang bersedia mengurus. kasih sayang. Padahal pada kenyataannya menurut Rutter dalam Mussen. 1989:138). remaja yang jumlahnya sangat banyak tentu menghambat pemberian dukungan sosial secara individu. dkk (1989:118) bahwa anak yang tumbuh di lingkungan panti asuhan lebih tergantung. dkk. lebih banyak membutuhkan perhatian dari orang dewasa dan lebih mengganggu di sekolah dibandingkan anak yang dirawat di rumah.

Banyak remaja panti asuhan yang menyatakan bahwa uang saku sekolahnya hanya cukup untuk biaya transportasi saja dan tidak bisa membeli jajan. lingkungan panti asuhan merupakan lingkungan sosial utama yang dikenalnya dan merupakan sumber dukungan sosial yang utama. Dukungan sosial dari teman-teman di panti asuhan juga terbentur oleh beberapa hal. hubungan individual secara hangat dan harmonis belum terpenuhi secara baik. remaja di panti asuhan juga mendapat dukungan sosial dari teman-temannya sesama penghuni panti asuhan. Dukungan dalam bentuk materi juga kurang terpenuhi. Teman-teman yang berada di lingkungan panti asuhan kurang bisa saling memberi dukungan sosial disebabkan karena sama-sama membutuhkan perhatian lebih. Bagi remaja panti asuhan. . Selain dukungan sosial yang berasal dari pengasuh. sehingga dirinya memiliki kemampuan untuk mengadakan penyesuaian diri secara harmonis. Dukungan sosial tersebut remaja dapatkan dari pengasuh dan teman-teman sesama penghuni panti asuhan. Apabila remaja panti asuhan mendapat cukup banyak dukungan sosial dari lingkungannya dalam bentuk apapun akan membuatnya mampu mengembangkan kepribadian yang sehat dan memiliki pandangan positif. baik terhadap diri sendiri maupun lingkungan.9 tersebut menunjukkan bahwa remaja yang tinggal di panti asuhan kurang mendapatkan perhatian. sehingga sulit sekali untuk bisa saling memberi bimbingan positif.

10 Berdasarkan berbagai uraian di atas. baik secara aktif maupun pasif yang melibatkan respon mental dan tingkah . Perumusan Masalah Rumusan permasalahan dalam penelitian ini adalah : 1. B. Bagaimana gambaran tentang dukungan sosial di Panti Asuhan Al Bisri Semarang. Penegasan Istilah Ada beberapa istilah yang digunakan dalam penelitian ini dan perlu diberikan penjelasan. 2. Ini dilakukan dengan maksud menghindari kemungkinan terjadinya interpretasi makna dalam menggunakan istilahistilah dalam penelitian. C. Istilah yang perlu dijelaskan dalam penelitian ini adalah : 1. Bagaimana gambaran tentang penyesuaian diri remaja di Panti Asuhan Al Bisri Semarang. Apakah ada hubungan antara dukungan sosial dengan penyesuaian diri remaja di Panti Asuhan Al Bisri Semarang. Penyesuaian diri remaja di panti asuhan Penyesuaian diri merupakan suatu usaha yang dilakukan oleh remaja untuk mempertemukan tuntutan diri sendiri dengan lingkungan. 3. penulis ingin mengadakan penelitian tentang Hubungan Antara Dukungan Sosial Dengan Penyesuaian Diri Remaja di Panti Asuhan Al Bisri Semarang.

yang usianya berkisar antara 13 sampai 18 tahun. Sumber dukungan sosial bagi remaja di panti asuhan dalam penelitian ini diperoleh dari pengasuh dan teman-teman sesama penghuni Panti Asuhan Al Bisri Semarang. . Untuk mengetahui bagaimana gambaran tentang dukungan sosial di Panti Asuhan Al Bisri Semarang.11 laku. sehingga dapat membantu individu dalam mengatasi masalahnya. 2. penilaian dan bantuan instrumental yang diperoleh individu melalui interaksi dengan lingkungan. sehingga tercapai hubungan yang harmonis antara diri dengan lingkungannya yaitu panti asuhan. Untuk mengetahui bagaimana gambaran tentang penyesuaian diri remaja di Panti Asuhan Al Bisri Semarang. Dukungan sosial Dukungan sosial merupakan hubungan interpersonal yang di dalamnya berisi pemberian bantuan yang melibatkan aspek-aspek yang terdiri dari informasi. dimana hal itu memiliki manfaat emosional atau efek perilaku bagi penerima. 2. D. Penyesuaian diri yang menjadi subjek dalam penelitian ini adalah penyesuaian diri remaja di Panti Asuhan Al Bisri Semarang. Tujuan Penelitian Tujuan dari penelitian ini adalah : 1. perhatian emosi.

2. Manfaat Praktis a. daftar tabel. khususnya mengenai penyesuaian diri remaja di panti asuhan dalam kaitannya dengan dukungan sosial. E. b. baik yang berhubungan dengan diri maupun lingkungan sosialnya. dimana dukungan sosial merupakan salah satu hal yang dapat mempengaruhi tingkat penyesuaian diri remaja di panti asuhan. Remaja panti asuhan dapat menyesuaikan diri secara harmonis. Sistematika Skripsi Sistematika dalam skripsi ini terdiri dari tiga pokok yaitu : Bagian Awal Skripsi Berisi halaman judul. motto dan persembahan. halaman pengesahan. Untuk mengetahui ada tidaknya hubungan antara dukungan sosial dengan penyesuaian diri remaja di Panti Asuhan Al Bisri Semarang. daftar gambar. kata pengantar. Manfaat Teoritis Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan sumbangan yang berarti bagi perkembangan ilmu Psikologi Perkembangan. daftar grafik dan daftar lampiran.12 3. F. Sebagai masukan bagi panti asuhan yang dapat dijadikan pertimbangan dalam memberikan perlakuan bagi anak asuhnya. abstrak. daftar isi. Manfaat Penelitian Melalui penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat sebagai berikut : 1. .

meliputi penyesuaian diri yang menguraikan tentang pengertian penyesuaian diri. Dukungan sosial yang menguraikan tentang pengertian dukungan sosial. validitas dan reliabilitas. aspek-aspek penyesuaian diri. hasil penelitian dan pembahasan. penegasan istilah. pelaksanaan uji coba dan teknik analisis data. faktor-faktor penyesuaian diri dan penyesuaian diri yang baik. sampel dan teknik sampling. manfaat penelitian dan sistematika skripsi. Bagian Akhir Skripsi Pada bagian ini berisi daftar pustaka dan lampiran-lampiran. . Bab II Landasan Teori dan Hipotesis. jenis-jenis dukungan sosial dan sumber dukungan sosial. yang berisi kesimpulan dan saran. metode pengumpulan data. Bab V Penutup. tujuan penelitian. berisi tentang jenis penelitian. Bab IV Hasil Penelitian dan Pembahasan. populasi. prosedur pengumpulan data. Pada bab ini terdapat tinjauan pustaka. yang berisi tentang latar belakang masalah. variabel penelitian. pelaksanaan penelitian. perumusan masalah. Bab III Metodologi Penelitian. memuat teori-teori yang dijadikan landasan penulisan dalam penelitian ini. yang berisi tentang hasilhasil penelitian yang meliputi persiapan penelitian. deskripsi data penelitian.13 Bagian Isi Skripsi Bab I Pendahuluan.

bantuan dan kasih sayang. Dukungan sosial yang diterima remaja dari lingkungannya. Hal tersebut perlu diperhatikan oleh panti asuhan sebagai lingkungan pengganti keluarga dalam memberikan perlakuan dan pemenuhan kebutuhan remaja agar dapat mengembangkan kepribadian yang sehat. 14 . sehingga menumbuhkan rasa aman dan bahagia yang penting dalam penyesuaian diri. Apabila remaja tidak dapat menyesuaikan diri dengan lingkungannya maka remaja akan memiliki sikap negatif dan tidak bahagia. Interaksi antara individu dan lingkungan sosialnya bersifat timbal balik. lingkungan panti asuhan merupakan lingkungan sosial yang utama dalam mengadakan penyesuaian diri. Untuk lebih jelasnya. membuat remaja memiliki pandangan positif terhadap diri dan lingkungan. penghargaan. Individu dalam perkembangannya membutuhkan orang lain. perhatian. Selain mengadakan kontak sosial. baik berupa dorongan semangat. hubungan antara dukungan sosial dengan penyesuaian diri remaja di panti asuhan akan diuraikan pada bab ini. remaja membutuhkan dukungan dari lingkungan. Bagi remaja yang tinggal di panti asuhan.14 BAB II LANDASAN TEORI Individu memerlukan interaksi dengan lingkungan sosialnya karena dalam lingkungan sosial individu dapat berkembang dan menyesuaikan diri.

iri hati. juga dapat mengatasi berbagai masalah yang menimbulkan ketidaknyamanan dalam hidup bersama orang lain.15 A. Sedangkan lingkungan adalah penglihatan dan penciuman serta suara si sekitar individu yang dijalani sebagai urusan individu (Calhoun dan Acocella. Interaksi antara individu dengan orang lain dan lingkungannya bersifat timbal balik dan secara konstan saling mempengaruhi. kemarahan dan lainlain emosi negatif sebagai respon pribadi yang tidak sesuai dan kurang efisien bisa dikikis habis (Kartono. Penyesuaian diri adalah usaha manusia untuk mencapai harmoni pada diri sendiri dan pada lingkungan. Penyesuaian Diri Remaja di Panti Asuhan 1. 1995:14). Orang lain maksudnya adalah bahwa secara nyata mereka memiliki pengaruh terhadap individu. orang lain dan lingkungan. Setiap individu selalu melakukan penyesuaian diri. tingkah laku. prasangka. dengki. pikiran dan perasaan untuk mengahadapi segala sesuatu setiap saat. Dari diri sendiri maksudnya adalah total kesiapan tubuh. depresi. 2000:259). Penyesuaian Diri a. sehingga rasa permusuhan. . Individu selain dapat mengatasi masalahnya sendiri. Penyesuaian diri adalah interaksi yang terus menerus dengan diri sendiri. Pengertian Penyesuaian Diri Kehidupan merupakan proses penyesuaian diri yang berkesinambungan.

kejiwaan dan alam sekitarnya. Pendapat Fahmi senada dengan Mu’tadin (www.16 Fahmi (1977:24) mengatakan bahwa penyesuaian diri adalah proses dinamis terus-menerus yang bertujuan untuk mengubah perilaku guna mendapatkan hubungan yang lebih serasi antara diri dan lingkungannya. Penyesuaian diri dengan diri sendiri adalah bagaimana individu mempersepsi dirinya sendiri. Hal ini disebabkan oleh adanya dorongan untuk mengatasi hambatan-hambatan dalam mengaktualisasikan diri di lingkungan. khawatir dan marah apabila mendapat suatu tekanan dari lingkungan. . Penyesuaian diri dengan lingkungan dimaksud sebagai bagaimana individu mempersepsi dan bersikap terhadap realitas yang ada. Kehidupan ini sendiri secara alamiah juga mendorong manusia untuk terus-menerus menyesuaikan diri.com) yang menyatakan bahwa penyesuaian diri merupakan suatu proses dinamis yang bertujuan untuk mengubah perilaku individu agar terjadi hubungan yang lebih sesuai antara diri individu dengan lingkunganya.psikologi. Manusia dituntut untuk menyesuaikan diri dengan lingkungan sosial. potensi-potensi yang dimiliki dan tingkat kepuasan akan hasil atau pengalaman yang diperoleh. Individu yang mempunyai penyesuaian diri yang baik dapat mengendalikan perasaan cemas. Davidoff (1991:176) mendefinisikan penyesuaian diri sebagai proses usaha untuk mempertemukan tuntutan diri sendiri dengan lingkungan.

mengerti dan berusaha melakukan apa yang diinginkan individu maupun lingkungannya. sikap dan perilakunya.17 Gerungan (1996:55) menyatakan bahwa penyesuaian diri berarti mengubah diri sesuai dengan keadaan lingkungan (autoplastis) dan mengubah lingkungan sesuai dengan keinginan diri (alloplastis). Penyesuaian diri merupakan proses yang mencakup respon mental dan tingkah laku. Adanya hal-hal tersebut membuat individu akan lebih mudah diterima oleh lingkungan. Individu yang mampu menyesuaikan diri dengan baik akan mampu mencari sisi positif dari hal baru yang dimilikinya. . Jadi. penyesuaian diri dapat bersifat pasif yaitu kegiatan individu ditentukan oleh lingkungan dan dapat bersifat aktif yaitu kegiatan individu mempengaruhi lingkungan. maka penyesuaian diri sifatnya selalu dinamis antara autoplastis dan alloplastis. 1996:334). Penyesuaian diri dapat diperoleh melalui proses belajar memahami. kreatif dalam mengolah kondisi serta mampu mngendalikan diri. yaitu individu berusaha keras agar mampu mengatasi konflik dan frustrasi karena terhambatnya kebutuhan dalam dirinya. sehingga tercapai keselarasan dan keharmonisan antara tuntutan dalam diri dan tuntutan dari lingkungan (Schneiders dalam Pramadi. Karena lingkungan dan keinginan individu yang selau berubah.

Sebaliknya. baik secara aktif maupun pasif yang melibatkan respon mental dan tingkah laku. kurang dan keluhan terhadap nasib yang dialaminya. tidak puas. . baik keadaan fisik maupun keadaan psikis. memiliki sikap dan pandangan positif.18 Berdasarkan beberapa pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa penyesuaian diri merupakan suatu usaha yang dilakukan oleh individu untuk mempertemukan tuntutan diri sendiri dengan lingkungan. sehingga tercapai hubungan yang harmonis antara diri dengan lingkungannya. Penyesuaian pribadi yang baik atau buruk pada prinsipnya dilandasi oleh sikap dan pandangan terhadap diri dan lingkungan. Aspek-Aspek Penyesuaian Diri Fahmi (1982:20) mengemukakan aspek-aspek penyesuaian diri yang terdiri dari : 1) Penyesuaian pribadi Penyesuaian pribadi adalah penerimaan individu terhadap dirinya sendiri. Penyesuaian pribadi berhubungan dengan konflik. cemas. kehidupan kejiwaannya ditandai oleh kegoncangan emosi atau kecemasan yang menyertai rasa bersalah. tekanan dan keadaan dalam diri individu. remaja yang dapat menyesuaikan diri dengan baik akan merasa aman. b. bahagia. Remaja yang mengalami penyesuaian pribadi yang buruk.

sehingga . apa kelebihan dan kekurangannya serta mampu bertindak objektif sesuai dengan kondisi dirinya tersebut. Dalam proses penyesuaian sosial individu mulai berkenalan dengan kaidah dan peraturan yang ada lalu mematuhinya. Individu menyadari sepenuhnya siapa dirinya sebenarnya. Mu’tadin (www. Individu bertingkah laku menurut sejumlah aturan.19 2) Penyesuaian sosial Penyesuaian sosial terjadi dalam lingkup hubungan sosial tempat individu hidup dan berinteraksi. Proses yang harus dilakukan individu dalam penyesuaian sosial adalah kemauan untuk mematuhi norma dan peraturan sosial kemasyarakatan. sehingga tercapai hubungan yang harmonis antara dirinya dengan lingkungan sekitarnya. 2) Penyesuaian sosial Penyesuaian sosial terjadi dalam lingkup hubungan sosial tempat individu berinteraksi dengan orang lain. hukum. adat dan nilai-nilai yang mereka patuhi untuk mencapai penyelesaian bagi persoalan-persoalan hidup agar dapat tetap bertahan dalam jalan yang sehat dari segi kejiwaan dan sosial.psikologi.com) mengatakan bahwa pada dasarnya penyesuaian diri memiliki dua aspek yaitu : 1) Penyesuaian pribadi Penyesuaian pribadi adalah kemampuan individu untuk menerima dirinya sendiri.

sehingga ia mampu mengatasi konflik dan . Kartono (2000:270) mengungkapkan aspek-aspek penyesuaian diri yang meliputi : 1) Memiliki perasaan afeksi yang adekuat. Melalui norma dalam masyarakat individu dituntut untuk dapat bekerjasama dan berinteraksi dengan individu dan kelompok lainnya. sehingga merasa aman. 3) Mempunyai relasi sosial yang memuaskan ditandai dengan kemampuan untuk bersosialisasi dengan baik dan ikut berpartisipasi dalam kelompok. berfikir dengan menggunakan rasio. harmonis dan seimbang. Berdasarkan uraian di atas dapat disimpulkan bahwa aspek-aspek penyesuaian diri adalah sebagai berikut : 1) Penyesuaian pribadi Penyesuaian pribadi merupakan kemampuan individu untuk menerima dirinya. 4) Mempunyai struktur sistem syaraf yang sehat dan memiliki kekenyalan (daya lenting) psikis untuk mengadakan adaptasi.20 menjadi bagian dari pembentukan jiwa sosial pada dirinya dan menjadi pola tingkah laku kelompok. baik budi pekertinya dan mampu bersikap hati-hati. mempunyai kemampuan untuk memahami dan mengontrol diri sendiri. 2) Memiliki kepribadian yang matang dan terintegrasi baik terhadap diri sendiri maupun orang lain. mempunyai sikap tanggung jawab.

bertanggungjawab dan mampu mengontrol diri sendiri. Dalam penelitian ini penyesuaian sosial terjadi dalam lingkup hubungan sosial tempat remaja hidup dan berinteraksi yaitu panti asuhan. Adapun indikator-indikator secara rinci dari penyesuaian pribadi adalah sebagai berikut : a) Penerimaan individu terhadap diri sendiri b) Mampu menerima kenyataan c) Mampu mengontrol diri sendiri d) Mampu mengarahkan diri sendiri 2) Penyesuaian sosial Penyesuaian sosial merupakan kemampuan individu untuk mematuhi norma dan peraturan sosial yang ada. sehingga ia mampu menjalin relasi sosial dengan baik dan mampu menyesuaikan diri dengan lingkungannya.21 tekanan dan menjadi pribadi yang matang. Sedangkan indikator-indikator untuk penyesuaian sosial adalah : a) Memiliki hubungan interpersonal yang baik b) Memiliki simpati pada orang lain c) Mampu menghargai orang lain d) Ikut berpartisipasi dalam kelompok e) Mampu bersosialisasi dengan baik sesuai norma yang ada . baik dengan pengasuh maupun teman-teman sesama penghuni panti asuhan.

Remaja yang bersikap positif terhadap segala sesuatu yang dihadapi akan lebih memiliki peluang untuk melakukan penyesuaian diri yang baik dari pada remaja yang sering bersikap negatif. 1) Faktor internal a) Faktor motif. baik melalui proses kognisi maupun afeksi untuk membentuk konsep tentang objek tersebut. baik dari aspek fisik. psikologis. . yaitu kecenderungan remaja untuk berperilaku positif atau negatif. b) Faktor konsep diri remaja. yaitu pengamatan dan penilaian remaja terhadap objek. c) Faktor persepsi remaja. peristiwa dan kehidupan. dkk (1995:110) dikelompokkan menjadi dua bagian yaitu faktor internal dan faktor eksternal. motif berprestasi dan motif mendominasi. secara garis besar faktor-faktor yang mempengaruhi penyesuaian diri remaja menurut Hariyadi. yaitu motif-motif sosial seperti motif berafiliasi. d) Faktor sikap remaja. sosial maupun aspek akademik. pesimis ataupun kurang yakin terhadap dirinya. Remaja dengan konsep diri tinggi akan lebih memiliki kemampuan untuk melakukan penyesuaian diri yang menyenangkan dibanding remaja dengan konsep diri rendah. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Penyesuaian Diri Penyesuaian diri dipengaruhi oleh banyak faktor.22 c. yaitu bagaimana remaja memandang dirinya sendiri.

Kelompok teman sebaya ini ada yang menguntungkan pengembangan proses penyesuaian diri tetapi ada pula yang justru menghambat proses penyesuaian diri remaja. f) Faktor kepribadian.23 e) Faktor intelegensi dan minat. Hampir setiap remaja memiliki teman-teman sebaya dalam bentuk kelompok. intelegensi merupakan modal untuk menalar. Pada dasarnya pola asuh demokratis dengan suasana keterbukaan akan lebih memberikan peluang bagi remaja untuk melakukan proses penyesuaian diri secara efektif. Kondisi sekolah yang sehat akan memberikan landasan kepada remaja untuk dapat bertindak dalam penyesuaian diri secara harmonis. sehingga lebih mudah melakukan penyesuaian diri dibanding tipe kepribadian introvert yang cenderung kaku dan statis. Manganalisis. Ditambah faktor minat. pada prinsipnya tipe kepribadian ekstrovert akan lebih lentur dan dinamis. maka proses penyesuaian diri akan lebih cepat. sehingga dapat menjadi dasar dalam melakukan penyesuaian diri. c) Faktor kelompok sebaya. b) Faktor kondisi sekolah. 2) Faktor eksternal a) Faktor keluarga terutama pola asuh orang tua. pengaruhnya akan lebih nyata bila remaja telah memiliki minat terhadap sesuatu. .

Kualitas penyesuian diri yang baik hanya dapat diperoleh dan dipelihara dalam kondisi kesehatan fisik yang baik.24 d) Faktor prasangka sosial. misalnya memberi label remaja negatif. khususnya kematangan intelektual. penyakit dan sebagainya. . kesehatan. Bila suatu masyarakat benarbenar konsekuen menegakkan hukum dan norma-norma yang berlaku maka akan mengembangkan remaja-remaja yang baik penyesuaian dirinya. nakal. sukar diatur. Adanya kecenderungan sebagian masyarakat yang menaruh prasangka terhadap para remaja. susunan syaraf. Penyesuaian diri pada tiap-tiap individu akan bervariasi sesuai dengan tingkat perkembangan dan kematangan yang dicapainya. prasangka semacam itu jelas akan menjadi kendala dalam proses penyesuaian diri remaja. Sunarto dan Hartono (1994:188) mengemukakan faktor-faktor yang mempengaruhi penyesuaian diri yaitu : 1) Kondisi fisik Kondisi fisik termasuk di dalamnya keturunan. suka menentang orang tua dan lain-lain. e) Faktor hukum dan norma sosial. 2) Perkembangan dan kematangan. moral dan emosional. sosial. konstitusi fisik. kelenjar dan sistem otot.

pengertian dan mampu memberi perlindungan kepada nggota-anggotanya merupakan lingkungan yang akan memperlancar proses penyesuaian diri. belajar.25 3) Penentu psikologis Banyak sekali faktor psikologis yang mempengaruhi proses penyesuaian diri. 1) Faktor internal Yaitu faktor yang berasal dari dalam diri individu yang meliputi motif. kebutuhan-kebutuhan. akan tata kultural dimana pola di individu berada dan menentukan cara penyesuaian panti dirinya. penuh penerimaan. kebutuhan-kebutuhan. belajar. kondisi fisik. psikologis (diantaranya yaitu pengalaman. determinasi diri. . determinasi diri. persepsi. konsep diri. frustrasi dan konflik. 5) Penentu kultural Lingkungan berinteraksi Contohnya. 4) Kondisi lingkungan Keadaan lingkungan yang damai. diantaranya yaitu pengalaman. kepribadian. intelegensi. akan kehidupan asuhan mempengaruhi bagaimana remaja menempatkan diri dan bergaul dengan orang lain di sekitarnya. tentram. sikap. minat. Pendapat mengenai faktor-faktor yang mempengaruhi penyesuaian diri yang dikemukakan di atas dapat disimpulkan bahwa penyesuaian diri dipengaruhi oleh faktor internal dan faktor eksternal.

d. seperti lingkungan keluarga. sosial dan emosional). 6) Bersifat terbuka dan sanggup menerima umpan balik. Penyesuaian Diri yang Baik Penyesuaian diri secara positif pada dasarnya merupakan gejala perkembangan yang sehat.26 frustrasi dan konflik). dkk (1995:106) ditandai oleh : 1) Kemampuan menerima dan memahami diri sebagaimana adanya. moral. penyesuaian diri yang positif menurut Hariyadi. luwes dan tidak kaku. teman sebaya dan masyarakat. 3) Kemampuan bertindak sesuai dengan potensi. . sehingga menimbulkan rasa aman. 2) Faktor eksternal Yaitu faktor yang berasal dari lingkungan atau dari luar individu. tidak dihantui oleh kecemasan dan ketakutan. serta selaras dengan hak dan kewajibannya. 7) Memiliki kestabilan psikologis terutama kestabilan emosi. kemampuan yang ada pada dirinya dan kenyataan objektif di luar dirinya. 4) Kemampuan bertindak secara dinamis. 2) Kemampuan menerima dan menilai kenyataan lingkungan di luar dirinya secara objektif. sekolah. 5) Rasa hormat pada sesama manusia dan mampu bertindak toleran. perkembangan dan kematangan (intelektual. 8) Dapat bertindak sesuai dengan norma yang berlaku.

Ketika seseorang marah. Kadangkala karena paksaan dan kesempatan dari lingkungan. individu seringkali mengubah dan memodifikasi tujuannya dan ini berlangsung terus-menerus dalam kehidupannya. 2) Mampu mengatasi stres dan ketakutan dalam diri sendiri Satu hal penting dalam penyesuaian diri adalah seberapa baik individu mengatasi kesulitan. Individu yang memiliki penyesuaian diri yang baik akan belajar untuk membagi stres dan kecemasannya pada orang lain. Dukungan dari orang di sekitar dapat membantu individu dalam menghadapi masalahnya. dia . masalah dan konflik dalam hidupnya. Apabila individu mampu mengetahui dan mengerti dirinya sendiri dengan cara realistis maka ia dapat menyadari keseluruhan potensi dalam dirinya. 3) Dapat menilai diri sendiri secara positif Individu harus dapat mengenali kelemahan diri sebaik mengenal kelebihan diri. 4) Mampu mengekspresikan emosi dalam diri sendiri Emosi yang ditampilkan individu realistis dan secara umum berada di bawah kontrol individu.27 Heber dan Runyon (1983) dalam Hutabarat (2004:73) menyebutkan beberapa tanda pengenal penyesuaian diri yang sehat yaitu : 1) Persepsi yang tepat tentang kenyataan atau realitas Individu yang penyesuaian dirinya baik akan merancang tujuan secara realitas dan secara aktif ia akan mengikutinya.

baik secara psikologis maupun fisik.28 mampu mengekspresikan dengan cara yang tidak merugikan orang lain. demikian pula sebaliknya individu menghargai orang lain. 5) Memiliki hubungan interpersonal yang baik Seseorang membutuhkan dan mencari kepuasan salah satunya dengan cara berhubungan satu sama lain. Individu yang penyesuaian dirinya baik mampu mencapai tingkatan yang tepat dari kedekatan dalam hubungan sosialnya. Individu tersebut menikmati rasa suka dan penghargaan orang lain. Sunarto dan Hartono (1994:184) menggolongkan individu yang mampu menyesuaikan diri secara positif ditandai hal-hal sebagai berikut : 1) Tidak menunjukkan adanya ketegangan emosional 2) Tidak menunjukkan adanya mekanisme-mekanisme psikologis 3) Tidak menunjukkan adanya frustrasi pribadi 4) Memiliki pertimbangan rasional dan pengarahan diri 5) Mampu dalam belajar 6) Menghargai pengalaman 7) Bersikap realistik dan objektif . Individu yang memiliki kematangan emosional mampu untuk membina dan memelihara hubungan interpersonal dengan baik.

tidak panik. sehingga dengan pengetahuan itu dapat digunakan menanggulangi timbulnya masalah. Pengalaman-pengalaman ini tidak sedikit sumbangannya dalam pemecahan masalah. 5) Dalam menghadapi masalah butuh kesanggupan membandingkan pengalaman diri sendiri maupun pengalaman orang lain. 3) Dalam memecahkan masalah bersikap realistis dan objektif Bila seseorang menghadapi masalah segera dihadapi secara apa adanya.29 Sundari (2005:43) menyatakan bahwa seseorang dikatakan memiliki penyesuaian diri yang positif apabila ia dapat menunjukkan ciri-ciri sebagai berikut : 1) Tidak adanya ketegangan emosi Bila individu menghadapi masalah. sehingga dalam memecahkan masalah dengan menggunakan rasio dan dapat mengendalikan emosinya. 4) Mampu belajar ilmu pengetahuan yang mendukung apa yang dihadapi. 2) Dalam memecahkan masalah berdasarkan pertimbangan rasional. mengarah pada masalah yang dihadapi secara langsung dan mampu menerima segala akibatnya. konflik maupun kecemasan. . tidak ditunda-tunda. Apapun yang terjadi dihadapi secara wajar tidak menjadi frustrasi. emosinya tetap tenang.

30

Dari karakteristik penyesuaian diri yang baik menurut beberapa tokoh di atas maka dapat disimpulkan bahwa karakteristik penyesuaian diri yang baik pada individu antara lain : 1) Mampu menerima dan memahami diri sendiri 2) Mampu menerima dan menilai kenyataan secara objektif 3) Mampu bertindak sesuai potensi diri 4) Memiliki kestabilan psikologis 5) Memiliki pertimbangan rasional dan pengarahan diri 6) Mampu bertindak sesuai norma yang berlaku 7) Memiliki hubungan interpersonal yang baik 2. Remaja a. Pengertian Remaja Masa remaja adalah masa transisi dari masa kanak-kanak menuju masa dewasa yang diikuti dengan berbagai masalah yang ada karena adanya perubahan fisik, psikis dan sosial. Masa peralihan itu banyak menimbulkan kesulitan-kesulitan dalam penyesuaian terhadap dirinya maupun terhadap lingkungan sosial. Hal ini dikarenakan remaja merasa bukan kanak-kanak lagi tetapi juga belum dewasa dan remaja ingin diperlakukan sebagai orang dewasa (Hurlock, 1994:174). Menurut Piaget dalam Hurlock (1994:206) remaja didefinisikan sebagai usia ketika individu secara psikologis berinteraksi dengan masyarakat dewasa. Pada masa remaja, anak tidak lagi merasa di bawah tingkat orang-orang yang lebih tua melainkan berada pada

31

tingkat yang sama. Antara lain dalam masalah hak dan berintegrasi dalam masyarakat, termasuk juga perubahan intelektual yang mencolok dan transformasi intelektual yang khas. Awal masa remaja berlangsung kira-kira dari 13 tahun sampai 16 tahun dan akhir remaja bermula dari usia 16 sampai 18 tahun yaitu usia matang secara hukum. Anak remaja sebetulnya tidak mempunyai tempat yang jelas. Remaja tidak termasuk golongan anak, tetapi tidak pula termasuk golongan orang dewasa atau golongan tua. Remaja ada diantara anak dan orang dewasa. Remaja masih belum mampu untuk menguasai fungsi-fungsi fisik maupun psikisnya (Monks, dkk., 2002:259). Menurut Santrock (2002:7) remaja merupakan suatu periode dimana kematangan kerangka dan seksual terjadi secara pesat, terutama pada awal masa remaja. Masa remaja terjadi secara berangsur-angsur tidak dapat ditentukan secara tepat kapan permulaan dan akhirnya, tidak ada tanda tunggal yang menandai. Bagi anak lakilaki ditandai tumbuhnya kumis dan pada perempuan ditandai melebarnya pinggul. Hal ini dikarenakan pada masa ini hormonhormon tertentu meningkat secara drastis. Pada laki-laki hormon tertosteron yaitu suatu hormon yang berkait dengan perkembangan alat kelamin, pertambahan tinggi dan perubahan suara. Sedang pada perempuan hormon estradiol yaitu suatu hormon yang berkait dengan perkembangan buah dada, rahim dan kerangka pada anak perempuan.

32

Remaja ditinjau dari sudut perkembangan fisik, remaja dikenal sebagai suatu tahap perkembangan fisik dimana alat-alat kelamin manusia mencapai kematangan secara anatomis berarti alat kelamin khususnya dan keadaan tubuh pada umumnya memperoleh bentuknya yang sempurna dan secara faali alat kelamin tersebut sudah berfungsi secara sempurna pula (Wirawan, 2001:6). Dari beberapa pengertian di atas dapat disimpulkan bahwa remaja merupakan individu yang telah mengalami kematangan secara anatomis dimana keadaan tubuh pada umumnya sudah memperoleh bentuk yang sempurna, hal tersebut berkisar antara usia 13 tahun sampai 18 tahun. b. Ciri-Ciri Remaja Rentang kehidupan individu pasti akan menjalani fase-fase perkembangan secara berurutan, meski dengan kecepatan yang berbeda-beda, masing-masing fase tersebut ditandai dengan ciri-ciri perilaku atau perkembangan tertentu, termasuk masa remaja juga mempunyai ciri tertentu. Ciri-ciri masa remaja (Hurlock, 1994:207) antara lain : 1) Periode yang penting Merupakan periode yang penting karena berakibat langsung terhadap sikap dan perilaku serta berakibat panjang.

membuat orang dewasa yang harus membimbing dan mengawasi . hal ini sering disebabkan selama masa anak-anak sebagian besar masalahnya diselesaikan oleh orang tua. sehingga tidak berpengalaman mengatasinya. 6) Usia yang menimbulkan ketakutan Adanya anggapan remaja adalah anak-anak yang tidak rapi.33 2) Periode peralihan Pada periode ini status individu tidak jelas dan terdapat keraguan akan peran yang harus dilakukan. Masa ini remaja bukan lagi seorang anak dan bukan orang dewasa. tidak dapat dipercaya dan cenderung berperilaku merusak. 4) Usia bermasalah Masalah remaja sering sulit diatasi. kemudian lambat laun mulai mendambakan identitas diri dan tidak puas lagi dengan menjadi sama dengan teman-teman sebayanya. 5) Mencari identitas Pada awal masa remaja penyesuaian diri dengan kelompok masih penting. jika perubahan fisik terjadi secara pesat perubahan perilaku dan sikap juga berlangsung secara pesat. 3) Periode perubahan Perubahan sikap dan perilaku sejajar dengan perubahan fisik.

dengan adanya ciri-ciri tersebut dapat dijadikan sinyal oleh lingkungan supaya remaja diperlakukan sebagaimana mestinya. Remaja mulai bertindak seperti orang dewasa. Seperti halnya masa-masa perkembangan yang lain. para remaja mengadakan hubungan sosial terutama ditekankan pada hubungan relasi antara dua jenis kelamin. tugas perkembangan masa remaja menurut Havighurst dalam Hurlock (1994:10) adalah : 1) Mencapai hubungan baru dan yang lebih matang dengan temanteman sebaya baik pria maupun wanita. 7) Masa yang tidak realistis Remaja melihat dirinya sendiri dan orang lain sebagaimana yang ia ingikan dan bukan bagaimana adanya.34 remaja menjadi takut bertanggungjawab dan bersikap tidak simpatik terhadap perilaku remaja yang normal. 8) Ambang masa dewasa. Akibat adanya kematangan seksual yang dicapai. masa remaja juga mempunyai ciri-ciri tertentu yang harus dimiliki sebagai bekal menuju perkembangan berikutnya. c. Seorang remaja haruslah mendapat penerimaan dari kelompok teman sebaya agar . Tugas Perkembangan Remaja Setiap rentang kehidupan mempunyai tugas perkembangan masing-masing termasuk masa remaja mempunyai tugas perkembangan.

Berpartisipasi sebagai orang dewasa yang dan mencapai perilaku sosial yang bertanggungjawab dalam kehidupan bermasyarakat. sedang dalam kelompok jenis kelamin lain remaja belajar menguasai keterampilan sosial. Yaitu mempelajari peran sosialnya masing-masing sebagai pria atau wanita dan dapat menjalankan perannya masing-masing sesuai dengan jenis kelamin masing-masing sesuai dengan norma yang berlaku. remaja belajar untuk bertingkah laku sebagai orang dewasa. misalnya tidak . 5) Mencapai kemandirian emosional dari orang tua dan orang dewasa lainnya. Menjadi bangga atau sekurang-kurangnya toleran dengan tubuh sendiri serta menjaga. 4) Mengharapkan bertanggungjawab.35 memperoleh rasa dibutuhkan dan dihargai. melindungi dan menggunakannya secara efektif. 3) Menerima keadaan fisiknya dan menggunakan tubuhnya secara efektif. Seorang remaja mulai dituntut memiliki kebebasan emosional karena jika remaja mengalami keterlambatan akan menemui berbagai kesukaran pada masa dewasa. 2) Mencapai peran sosial pria atau wanita. Dalam kelompok sejenis.

6) Mempersiapkan karier ekonomi. Panti Asuhan a. 2001:826) mendefinisikan panti asuhan sebagai rumah tempat memelihara dan merawat anak yatim piatu dan sebagainya. . yaitu mulai memilih pekerjaan serta mempersiapkan diri masuk dunia kerja. 8) Memperoleh perangkat nilai dan sistem etis sebagai pegangan untuk berperilaku mengembangkan ideologi. karena remaja lebih merasa percaya diri dalam bertindak. maka akan menjadi modal dalam melakukan penyesuaian diri. Yaitu dapat mengembangkan nilai-nilai yang berlaku dalam masyarakat sebagai pandangan hidup bermasyarakat. Yaitu mulai berusaha memperoleh pengetahuan tentang kehidupan berkeluarga. ada juga yang sudah tertarik untuk berkeluarga. Dengan telah terpenuhinya tugas perkembangan remaja. Pengertian Panti Asuhan Kamus Besar Bahasa Indonesia (Departemen Pendidikan Nasional.36 dapat menentukan rencana sendiri dan tidak dapat bertanggungjawab. 3. 7) Mempersiapkan perkawinan dan keluarga. Jika seorang remaja berhasil mencapai tugas perkembangannya maka akan menimbulkan rasa bahagia dan membawa ke arah keberhasilan dalam melaksanakan tugas-tugas berikutnya.

sehingga mereka menjadi anggota masyarakat yang dapat hidup layak dan penuh tanggung jawab. b. memberikan pelayanan pengganti fisik. tepat dan memadai bagi perkembangan kepribadian sesuai dengan harapan. Kesimpulan dari uraian di atas bahwa panti asuhan merupakan lembaga kesejahteraan sosial yang bertanggung jawab memberikan pelayanan penganti dalam pemenuhan kebutuhan fisik. Tujuan Panti Asuhan Tujuan panti asuhan menurut Departemen Sosial Republik Indonesia (1997:6) yaitu : 1) Panti asuhan memberikan pelayanan yang berdasarkan pada profesi pekerja sosial kepada anak terlantar dengan cara membantu dan membimbing mereka ke arah perkembangan pribadi yang wajar serta mempunyai keterampilan kerja. baik terhadap dirinya. mental dan sosial pada anak asuh. sehingga mereka memperoleh kesempatan yang luas.37 Departemen Sosial Republik Indonesia (1997:4) menjelaskan bahwa : Panti asuhan adalah suatu lembaga usaha kesejahteraan sosial yang mempunyai tanggung jawab untuk memberikan pelayanan kesejahteraan sosial kepada anak terlantar dengan melaksanakan penyantunan dan pengentasan anak terlantar. tepat dan memadai bagi perkembangan kepribadiannya sesuai dengan yang diharapkan sebagai bagian dari generasi penerus cita-cita bangsa dan sebagai insan yang akan turut serta aktif di dalam bidang pembangunan nasional. sehingga memperoleh kesempatan yang luas. keluarga dan masyarakat. . mental dan sosial pada anak asuhnya.

. mempunyai keterampilan kerja yang mampu menopang hidupnya dan hidup keluarganya. Fungsi Panti Asuhan Panti asuhan berfungsi sebagai sarana pembinaan dan pengentasan anak terlantar. 3) Sebagai pusat pengembangan keterampilan (yang merupakan fungsi penunjang). 2) Sebagai pusat data dan informasi serta konsultasi kesejahteraan sosial anak. Menurut Departemen Sosial Republik Indonesia (1997:7) panti asuhan mempunyai fungsi sebagai berikut : 1) Sebagai pusat pelayanan kesejahteraan sosial anak. Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa tujuan panti asuhan adalah memberikan pelayanan.38 2) Tujuan penyelenggaraan pelayanan kesejahteraan sosial anak di panti asuhan adalah terbentuknya manusia-manusia yang berkepribadian matang dan berdedikasi. pengembangan dan pencegahan. perlindungan. Panti asuhan sebagai lembaga yang melaksanakan fungsi keluarga dan masyarakat dalam perkembangan dan kepribadian anak-anak remaja. Panti asuhan berfungsi sebagai pemulihan. bimbingan dan keterampilan kepada anak asuh agar menjadi manusia yang berkualitas. c.

konsultasi dan pengembangan keterampilan bagi kesejahteraan sosial anak. Di panti asuhan juga terdapat aturan-aturan dan larangan-larangan tertentu yang telah ditetapkan yang harus dipatuhi oleh setiap remaja penghuni panti asuhan. lingkungan panti asuhan merupakan lingkungan sosial utama yang mereka kenal. Penyesuaian Diri Remaja di Panti Asuhan Penyesuaian diri remaja di panti asuhan merupakan suatu usaha yang dilakukan oleh remaja untuk mempertemukan tuntutan diri sendiri dengan lingkungan. Bagi remaja yang tinggal di panti asuhan. sehingga remaja perlu melakukan penyesuaian diri sesuai dengan lingkungan dimana remaja berada yaitu panti asuhan dan sesuai kebutuhan yang dituntut dari lingkungan tersebut agar proses pencapaian keharmonisan dalam mengadakan hubungan yang memuaskan bersama orang lain dan lingkungannya dapat tercapai. Remaja yang tinggal di panti asuhan berkembang dengan bimbingan dan perhatian dari pengasuh yang berfungsi sebagai pengganti . 4.39 Berdasarkan uraian di atas dapat disimpulkan bahwa fungsi panti asuhan adalah memberikan pelayanan. Orang lain yang dimaksudkan yaitu pengasuh dan teman-teman sesama penghuni panti asuhan. sehingga tercapai hubungan yang harmonis antara diri sendiri dengan lingkungan tempat tinggalnya yaitu panti asuhan. informasi. baik secara aktif maupun pasif yang melibatkan respon mental dan tingkah laku.

sama halnya dengan remaja yang tinggal di panti asuhan.highbeam.com). Setiap remaja mempunyai pengalaman hidup yang berbeda-beda dan mereka berkumpul dalam satu keluarga yaitu panti asuhan. semakin lama remaja tersebut tinggal di suatu panti asuhan yang sama maka ia akan semakin terbiasa dan lebih mudah menyesuaikan diri dengan lingkungan panti tersebut (www. Remaja diharapkan mampu mereaksi secara efektif dan harmonis terhadap realitas sosial dan bisa mengadakan relasi sosial yang sehat. Bisa menghargai pribadi lain dan menghargai hak-hak sendiri di dalam lingkungannya. baik dengan pengasuh dan teman-teman sesama penghuni panti asuhan. Simpati terhadap orang lain adalah satu bentuk penyesuaian diri. Sebab sikap menarik diri. Oleh karena itu. takut . remaja perlu menyesuaikan diri dengan lingkungan tempat tinggalnya yaitu di panti asuhan. Remaja yang tinggal di panti asuhan berada dalam satu keluarga walaupun berasal dari keluarga yang berbeda-beda. Bisa bergaul dengan orang lain dengan jalan membina persahabatan yang kekal.40 orang tua dalam keluarga. maka individu tersebut akan semakin terbiasa atau familiar dengan lingkungan tersebut. Mereka saling bekerjasama dalam menjalankan tugas masing-masing. Remaja semestinya harus sensitif terhadap masalah dan kesulitan orang lain serta ada kesanggupan untuk berpartisipasi di dalam aktivitas yang ada di panti asuhan. Semakin lama individu tinggal di suatu lingkungan. Hal ini dapat mempengaruhi tingkat penyesuaian diri individu tersebut.

bermusuhan dan egois adalah bentuk penyesuaian diri yang kaku. Pengertian Dukungan Sosial Dukungan sosial sangat diperlukan oleh siapa saja dalam berhubungan dengan orang lain demi melangsungkan hidupnya di tengahtengah masyarakat. Dukungan Sosial 1. Saat seseorang didukung oleh lingkungan maka segalanya akan terasa lebih mudah. dicintai. Dukungan sosial yang diterima dapat membuat individu merasa tenang. dan ikatan-ikatan sosial tersebut menggambarkan tingkat kualitas umum dari hubungan interpersonal.41 melakukan kontak dengan orang lain. Dukungan sosial menunjukkan pada hubungan interpersonal yang melindungi individu terhadap konsekuensi negatif dari stres. diperhatikan. Ikatan dan persahabatan dengan orang lain dianggap sebagai aspek yang memberikan kepuasan secara emosional dalam kehidupan individu. Rook dalam Smet (1994:134) mengatakan bahwa dukungan sosial merupakan salah satu fungsi dari ikatan sosial. negatif dan bisa menimbulkan banyak kesulitan. Menurut Cobb dalam Shinta (1995:36) dukungan sosial adalah pemberian informasi baik secara verbal maupun non verbal. pemberian bantuan tingkah laku atau materi yang didapat dari hubungan sosial yang akrab atau hanya disimpulkan dari keberadaan mereka yang membuat . timbul rasa percaya diri dan kompeten. B.

. bantuan yang nyata atau tindakan yang diberikan oleh orang lain atau didapat karena hubungan mereka dengan lingkungan dan mempunyai manfaat emosioanl atau efek perilaku bagi dirinya. b. menghargai dan menyayangi kita. agar mereka dapat mencari jalan keluar untuk memecahkan masalahnya. Dalam hal ini orang yang merasa memperoleh dukungan sosial secara emosional merasa lega karena diperhatikan.com) mengatakan bahwa dukungan sosial adalah keberadaan. kepedulian dari orang-orang yang dapat diandalkan. Jumlah sumber dukungan sosial yang tersedia. merupakan persepsi individu terhadap sejumlah orang yang dapat diandalkan saat individu membutuhkan bantuan (pendekatan berdasarkan kuantitas). Hal senada diungkap oleh Gottlieb dalam Smet (1994:135) yang menyatakan bahwa dukungan sosial terdiri dari informasi atau nasehat verbal dan non verbal. Tingkatan kepuasan akan dukungan sosial yang diterima. Sarason (1983) dalam Kuntjoro (www. Sarason berpendapat bahwa dukungan sosial itu selalu mencakup dua hal yaitu : a. berkaitan dengan persepsi individu bahwa kebutuhannya akan terpenuhi (pendekatan berdasarkan kualitas). kesediaan.e-psikologi. sehingga dapat menguntungkan bagi kesejahteraan individu yang menerima. bernilai dan dicintai.42 individu merasa diperhatikan. mendapat saran atau kesan yang menyenangkan pada dirinya.

penilaian dan bantuan instrumental. Sarafino (1998:97) mengatakan bahwa dukungan sosial adalah kenyamanan. dalam arti bahwa orang yang menerima sangat merasakan manfaat bantuan bagi dirinya karena sesuatu yang aktual dan memberikan kepuasan. tetapi yang penting adalah bagaimana persepsi si penerima terhadap makna dari bantuan tersebut. . penghargaan atau bantuan yang diperoleh individu dari orang lain.43 Hal di atas penting dipahami oleh individu yang ingin memberikan dukungan sosial karena menyangkut persepsi tentang keberadaan (availability) dan ketepatan (adequancy) dukungan sosial bagi seseorang. dihargai dan menjadi bagian dalam kelompok. Hal tersebut menunjukkan bahwa segala sesuatu yang ada di lingkungan menjadi dukungan sosial atau tidak. dimana orang lain disini dapat diartikan sebagai individu perorangan atau kelompok. tergantung pada sejauh mana individu merasakan hal tersebut sebagai dukungan sosial. perhatian emosional. Hal itu erat hubungannya dengan ketepatan dukungan sosial yang diberikan. Tersedianya dukungan sosial akan membuat individu merasa dicintai. Dukungan sosial bukan sekedar pemberian bantuan. Dukungan sosial didefinisikan oleh House dalam Smet (1994:136) sebagai transaksi interpersonal yang melibatkan satu atau lebih aspekaspek yang terdiri dari informasi. diperhatikan. perhatian.

dimana hal itu memiliki manfaat emosional atau efek perilaku bagi penerima. meningkatkan harga diri dan kejelasan identitas diri serta memiliki perasaan positif mengenai diri sendiri. sehingga menimbulkan pengaruh positif yang dapat mengurangi gangguan psikologis. sehingga dapat membantu individu dalam mengatasi masalahnya.44 Menurut Effendi dan Tjahjono (1999:218) dukungan sosial merupakan transaksi interpersonal yanhg ditujukan dengan memberi bantuan kepada individu lain dan bantuan itu diperoleh dari orang yang berarti bagi individu yang bersangkutan. Dari definisi di atas dapat disimpulkan bahwa dukungan sosial merupakan hubungan interpersonal yang di dalamnya berisi pemberian bantuan yang melibatkan aspek-aspek yang terdiri dari informasi. penilaian dan bantuan instrumental yang diperoleh individu melalui interaksi dengan lingkungan. 2. Jenis-Jenis Dukungan Sosial House dalam Smet (1994:136) membedakan empat jenis dukungan sosial yaitu : . Selain itu dukungan sosial dapat dijadikan pelindung untuk melawan perubahan peristiwa kehidupan yang berpotensi penuh dengan stres. sehingga dapat meningkatkan kesejahteraan psikologis karena adanya perhatian dan pengertian akan menimbulkan perasaan memiliki. perhatian emosi. Dukungan sosial berperan penting dalam memelihara keadaan psikologis individu yang mengalami tekanan.

45 a. d. sehingga individu dapat . sehingga individu tersebut merasa nyaman. kepedulian dan perhatian terhadap individu. Dukungan informatif Mencakup pemberian nasehat. seperti memberi pinjaman uang atau menolong dengan pekerjaan pada waktu mengalami stres. Pemberian dukungan ini membantu individu untuk melihat segi-segi positif yang ada dalam dirinya dibandingkan dengan keadaan orang lain yang berfungsi untuk menambah penghargaan diri. c. Dukungan instrumental Meliputi bantuan secara langsung sesuai dengan yang dibutuhkan oleh seseorang. dorongan untuk maju atau persetujuan dengan gagasan atau perasaan individu dan perbandingan positif orang tersebut dengan orang lain. saran atau umpan balik yang diperoleh dari orang lain. Dukungan emosional Dukungan ini mencakup ungkapan empati. Dukungan ini meliputi perilaku seperti memberikan perhatian atau afeksi serta bersedia mendengarkan keluh kesah orang lain. b. Dukungan penghargaan Dukungan ini terjadi lewat ungkapan hormat positif untuk orang tersebut. membentuk kepercayaan diri dan kemampuan serta merasa dihargai dan berguna saat individu mengalami tekanan. dicintai dan diperhatikan. petunjuk.

b. sehingga individu tersebut merasa nyaman. Dukungan penghargaan Dukungan ini melibatkan ekspresi yang berupa pernyataan setuju dan penilaian positif terhadap ide-ide. dicintai dan diperhatikan. Dukungan instrumental Bentuk dukungan ini melibatkan bantuan langsung. c. Menurut Sarafino (1998:98) dukungan sosial terdiri dari empat jenis yaitu : a. perasaan dan performa orang lain. Dukungan informasi Dukungan yang bersifat informasi ini dapat berupa saran. Dukungan ini meliputi perilaku seperti memberikan perhatian dan afeksi seta bersedia mendengarkan keluh kesah orang lain. misalnya yang berupa bantuan finansial atau bantuan dalam mengerjakan tugastugas tertentu.46 membatasi masalahnya dan mencoba mencari jalan keluar untuk memecahkan masalahnya. . d. Dukungan emosional Dukungan ini melibatkan ekspresi rasa empati dan perhatian terhadap individu. pengarahan dan umpan balik tentang bagaimana cara memecahkan persoalan.

Dukungan sosial sangat diperlukan oleh siapa saja untuk berhubungan dengan orang lain. Sama halnya dengan remaja di panti asuhan yang mengalami kesulitan dalam menjalin relasi dengan orang lain di lingkungannya. Dukungan emosional lebih terasa dan dibutuhkan jika diberikan pada orang yang sedang mengalami musibah atau kesulitan. Dukungan ini mengembangkan harga diri pada yang menerimanya. Dalam dukungan ini renaja merasa diperhatikan. . Dukungan penghargaan dapat dijadikan semangat bagi remaja untuk tetap maju dan mengembangkan diri agar tidak selalu menyesali keadaannya.47 Pendapat senada dikemukakan juga oleh Ritter dalam Smet (1994:134) dukungan sosial mencakup dukungan emosional. Dukungan dari orang-orang terdekat berupa kesediaan untuk mendengarkan keluhan remaja akan membawa efek positif yaitu sebagai pelepasan emosi dan mengurangi kecemasan. diterima dan dihargai oleh lingkungannya. Dukungan instrumental bagi remaja di panti asuhan dapat berupa penyediaan sarana dan pelayanan yang dapat memperlancar dan memudahkan perilaku remaja dalam segala aktivitasnya. dorongan untuk mengungkapkan perasaan. Dukungan sosial yang diterima oleh individu sangat beragam dan tergantung pada keadaannya. Misalnya. Arti dan cakupan mengenai makna dari dukungan sosial sangat luas dan mendalam. memberi pujian bila remaja melakukan sesuatu yang baik. pemberian nasehat atau informasi maupun bantuan secara materi.

pengasuh dapat menjelaskan kepada remaja tentang alasan dan tujuan dibuatnya peraturan tersebut. Contohnya. petunjuk atau umpan balik agar dapat membatasi masalahnya dan mencoba mencari jalan keluar untuk memecahkan masalahnya. akibatnya individu tersebut dapat lebih bersemangat dalam menjalani hidup karena dirinya merasa diperhatikan. didukung dan diakui keberadaanya. . pengasuh dapat memberikan saran tentang cara belajar yang baik. bila remaja mengalami kesulitan dalam hal belajar. Informasi yang diberikan oleh orang-orang terdekat seperti pengasuh dan teman di panti asuhan diharapkan mampu membuat remaja menerima dan melaksanakan aturan tersebut tanpa paksaan. Dukungan sosial yang diterima individu dari lingkungannya pada saat yang tepat dapat memberikan motivasi bagi individu tersebut. Dukungan materi Dukungan materi adalah dukungan yang biasa disebut juga bantuan nyata (tangible aid) atau dukungan alat (instrumental support).48 Dukungan informasi membuat remaja merasa mendapat nasehat. Ketika remaja mengalami kesulitan untuk dapat menerima suatu norma di dalam masyarakat atau aturan di panti asuhan. Menurut Cutrona dan Orford dalam Shinta (1995:36) mengungkapkan lima dimensi fungsi dasar dari dukungan sosial yaitu : a.

Dukungan emosi Jenis dukungan ini berhubungan dengan hal yang bersifat emosional atau menjaga keadaan emosi. . Dukungan informasi Dukungan yang berupa pemberian saran. Integritas sosial Dapat diartikan sebagai perasaan individu yang merupakan bagian dari suatu kelompok yang memiliki minat dan pemikiran yang sama. Berdasarkan pendapat dari beberapa ahli di atas. d. petunjuk dan saran tentang bagaimana individu berperilaku. mencakup ungkapan empati dan perhatian terhadap individu. maka penulis mneyimpulkan bahwa jenis-jenis dukungan sosial meliputi : a. Dukungan instrumental. afeksi atau ekspresi. c. berupa bantuan langsung sesuai dengan yang dibutuhkan individu. keyakinan atau umpan balik tentang bagaimana seseorang berperilaku. Dukungan penghargaan. pengarahan. Dukungan emosional. Dukungan penghargaan Dukungan penghargaan terjadi bila ada ekspresi penilaian yang positif terhadap individu. mencakup penilaian positif terhadap individu dan dorongan untuk maju. Dukungan informasi. mencakup pemberian nasehat. c.49 b. e. d. b.

Dengan pengetahuan dan pemahaman tersebut. istri. Sumber dukungan sosial merupakan aspek paling penting untuk diketahui dan dipahami.epsikologi. suami dan kerabat). sehingga dukungan sosial memiliki makna yang berarti bagi kedua belah pihak. misalnya dukungan sosial akibat bencana alam melalui berbagai sumbangan sosial. keluarga. Namun perlu diketahui seberapa banyak sumber dukungan sosial ini efektif bagi individu yang memerlukan. b. misalnya anggota keluarga (anak. Dukungan sosial ini bersifat non formal.50 3. seseorang akan tahu pada siapa ia akan mendapatkan dukungan sosial yang sesuai dengan situasi dan keinginannya yang spesifik. teman dekat atau relasi. Caplan dalam Gottlieb (1983:23) mengatakan bahwa dukungan sosial dapat diperoleh dari pasangan hidupnya. Sumber-Sumber Dukungan Sosial Sumber-sumber dukungan sosial banyak diperoleh individu dari lingkungan sekitarnya. teman .com) ada dua sumber dukungan sosial yaitu : a. Menurut Rook dan Dooley (1985) dalam Kuntjoro (www. kekasih. Sumber natural Dukungan sosial yang natural diterima seseorang melalui interaksi sosial dalam kehidupannya secara spontan dengan orangorang yang berada di sekitarnya. Sumber artificial Dukungan sosial artificial adalah dukungan sosial yang dirancang ke dalam kebutuhan primer seseorang.

Dukungan sosial tersebut remaja dapatkan dari pengasuh dan teman-teman sesama penghuni panti asuhan. lingkungan panti asuhan merupakan lingkungan utama yang dikenalnya. maka dukungan sosial yang diterima individu dapat diperoleh dari anggota keluarga. Dalam penelitian ini. Kekuatan dukungan sosial yang berasal dari relasi yang terdekat merupakan salah satu proses psikologis yang dapat menjaga perilaku sehat dalam diri seseorang. 1994:33). Pendapat senada dikemukakan oleh Sarafino (1998:97) bahwa dukungan sosial dapat diperoleh dari bermacam-macam sumber seperti suami atau istri. keluarga. teman sebaya dan organisasi kemasyarakatan yang diikuti. Bagi remaja panti asuhan. . teman. Dukungan sosial terpenting berasal dari keluarga (Rodin dan Salovey dalam Smet. Melengkapi pendapat tersebut Gore dalam Gottlieb (1983:19) menyatakan bahwa dukungan sosial lebih sering didapat dari relasi yang terdekat yaitu keluarga atau sahabat. Remaja yang tinggal di panti asuhan berkembang dengan bimbingan dan perhatian pengasuh yang berfungsi sebagai pengganti orang tua. sehingga merupakan sumber dukungan sosial yang utama bagi remaja. sumbersumber dukungan sosial bagi remaja di panti asuhan dapat diperoleh dari pengasuh dan teman-teman di panti asuhan. rekan kerja. dokter dan organisasi kemasyarakatan.51 sekerja. atau organisasi kemasyarakatan yang diikuti. Berdasarkan uraian di atas.

52 Selain dukungan sosial yang berasal dari pengasuh. Hubungan antara Dukungan Sosial dengan Penyesuaian Diri Remaja di Panti Asuhan Seseorang yang mampu menyesuaikan diri dengan baik lebih memiliki kemungkinan untuk mengembangkan diri ke lingkungan yang lebih luas. berupa perasaan senasib menjadikan adanya hubungan saling mengerti dan memahami masalah masing-masing. . Hartini (2001:109) dalam penelitiannya pada anakanak panti asuhan di Jawa Timur menunjukkan deskripsi bahwa anak-anak panti asuhan sangat kaku dalam berhubungan sosial dengan orang lain dan sebagian besar mereka mengalami kesulitan dalam hubungan interpersonalnya. C. Perasaan senasib sepenanggungan menjadikan mereka dekat satu sama lain. yang tidak didapat dari orang tuanya sekalipun. Hurlock (2004:214) mengatakan bahwa dukungan sosial dari teman sebaya. saling memberi nasehat. Keterampilan sosial ini kurang dimiliki oleh individu yang tinggal di panti asuhan. seseorang perlu memiliki keterampilan sosial untuk menyesuaikan diri dengan orang lain. Untuk dapat menjalin kebersamaan dan keakraban dengan orang lain. simpati. terlebih lagi mereka telah bersama dalam sekian rentang waktu. remaja di panti asuhan juga mendapat dukungan sosial dari teman-temannya sesama penghuni panti asuhan dimana ia berada.

anak-anak tersebut menunjukkan perilaku yang negativis. apatis. Smet (1994:133) menegaskan bahwa jika individu merasa didukung oleh lingkungan. takut melakukan kontak dengan orang lain. sehingga anak panti asuhan akan sulit menjalin hubungan sosial dengan orang lain. pasif.53 Masuknya remaja yang berasal dari keluarga dan lingkungan yang berbeda menyebabkan mereka harus beradaptasi dan berinteraksi dengan lingkungannya yang baru di Panti Asuhan Al Bisri Semarang. lebih suka sendirian. remaja sangat membutuhkan bantuan dan dukungan dari teman-teman serta lingkungan barunya. Disamping itu. sehingga pada akhirnya dapat menjadi hambatan dalam penyesuaian dirinya. penuh dengan ketakutan dan kecemasan. Sebagai contoh yaitu hasil penelitian Hartini (2001:114) menemukan bahwa 52 persen anak-anak panti asuhan cenderung menunjukkan kesulitan dalam penyesuaian sosialnya yang menggambarkan adanya kebutuhan psikologis untuk dapat menyesuaikan diri dengan aturan lingkungannya. Remaja harus berhadapan dengan situasi-situasi yang jauh berbeda dengan yang biasa ditemui dan pola-pola perilaku yang selama ini dipakai belum tentu cocok dengan situasi yang baru. segala . Pada saat-saat seperti ini. menunjukkan rasa bermusuhan dan lebih egosentrisme. Penelitian Hartini (2001:117) menghasilkan deskripsi problem psikologis anak panti asuhan dengan karakter sebagai berikut : Kepribadian yang inferior. mudah putus asa. Artinya mereka harus berusaha untuk mengikuti segala peraturan yang berlaku termasuk tinggal di panti asuhan bersama dengan pengasuh dan teman-teman panti lainnya. sehingga remaja dapat merespon dengan tepat semua stimulus yang ada. menarik diri.

Thoits (1986) dalam Shinta (1995:37) menyatakan bahwa dukungan emosi dari orang yang berarti dapat . Dinamika fungsi dukungan sosial terhadap penyesuaian diri remaja di Panti Asuhan Al Bisri Semarang dapat dijelaskan melalui aspek-aspek yang terkandung dalam dukungan sosial. Aspek dukungan emosional dapat memuaskan kebutuhan afiliasi remaja. dukungan instrumental serta dukungan informatif dapat bermanfaat bagi kesehatan dan kesejahteraan psikologis. dimana mereka dapat mengutarakan semua permasalahan kepada orang yang dapat dipercaya dan tidak harus mengambil keputuasan sendiri. ketidakhadiran dukungan sosial dapat menimbulkan perasaan kesepian dan kehilangan yang juga dapat mengganggu proses penyesuaian diri. Ini mencerminkan bahwa dalam lingkungan panti mereka belum menemukan orang yang dapat dijadikan panutan dan orang yang dijadikan teman berkomunikasi yang baik. Hartini (2001:115) dalam penelitiannya pada anak-anak panti asuhan di Jawa Timur menemukan bahwa : Lima puluh tujuh persen anak-anak panti asuhan menunjukkan adanya kebutuhan psikologis untuk terlibat secara emosional dengan lingkungannya. Menurut House dalam Smet (1994:136) melalui dukungan emosional.54 sesuatu dapat menjadi lebih mudah pada waktu mengalami kejadian-kejadian yang menegangkan. yaitu kebutuhan untuk mengadakan hubungan dan menjalin persahabatan dengan orang lain. Dukungan emosional yang berupa kesediaan untuk mendengarkan keluhan-keluhan remaja ini akan membawa efek positif yaitu sebagai pelepasan emosi dan mengurangi kecemasan. dukungan penghargaan. Sementara itu.

55 bersifat menurunkan distres dengan menyokong satu atau lebih aspek dari individu yang terancam oleh kesulitan yang ada. meningkatkan harga diri dan kejelasan identitas diri serta memiliki perasaan positif mengenai diri sendiri (Effendi dan Tjahjono. sikap dan keyakinan orang lain. Dukungan instrumental ini dapat berupa penyediaan sarana dan pelayanan. Dukungan penghargaan dapat berfungsi membantu remaja dalam mengembangkan kepribadiannya. kesejahteraan psikologis individu akan meningkat karena adanya perhatian dan pengertian yang menimbulkan perasaan memiliki. 1999:218). Adanya pujian. Melalui interaksi dengan orang lain maka remaja dapat mengevaluasi dan mempertegas keyakinan-keyakinannya dalam membandingkan pendapat. Adanya informasi yang berupa nasehat atau petunjuk membantu remaja dalam menginterpretasikan dan memahami secara jelas sifat masalah-masalah secara praktis. Dukungan instrumental berfungsi memperlancar dan memudahkan perilaku remaja dalam segala aktivitasnya. sehingga . Adanya dukungan ini membuat remaja merasa terbantu secara materi. penilaian dan penghargaan terhadap individu dapt meningkatkan harga dirinya. Cohen dalam Shinta (1995:40) menyatakan bahwa pemberian dukungan informasi dan dukungan materi dapat membantu individu untuk merubah situasi dan merubah pemahaman dari situasi. Jenis dukungan sosial yang lain yaitu dukungan informasi yang berfungsi membantu individu dalam memecahkan masalah-masalah yang dihadapi. Melalui dukungan sosial.

menghargai dan mencintai dirinya. Hipotesis Berdasarkan kajian teori di atas. rasa cinta dan perlindungan dalam melakukan penyesuaian antara keaadan atau kebutuhan internal dirinya dengan tuntutan eksternal. maka hipotesis penelitian ini dirumuskan sebagai berikut : Ada hubungan positif antara dukungan sosial dengan penyesuian diri remaja di Panti Asuhan Al Bisri Semarang. sehingga dapat terhindar dari kesulitan penyesuaian diri. Berbagai jenis dukungan sosial yang diperoleh dapat membantu membentuk kepercayaan diri dan menciptakan rasa aman pada remaja dalam melakukan penyesuaian diri karena remaja tersebut akan lebih dapat menerima kelebihan dan kekurangan pada dirinya serta memperoleh bimbingan. individu yang memiliki dukungan sosial yang tinggi tidak hanya mengalami stres yang rendah tapi juga dapat mengatasi stres secara lebih berhasil bila dibandingkan dengan mereka yang kurang memperoleh dukungan sosial. Sebaliknya. Taylor dalam Pramudiani (2001:119) mengatakan bahwa dalam menghadapi peristiwa-peristiwa yang menekan. D. Menurut Sarason dalam Effendi dan Tjahjono (1999:218) bahwa dukungan sosial bermanfaat bagi individu karena individu menjadi tahu bahwa orang lain memperhatikan. Semakin tinggi dukungan sosial yang diberikan maka semakin positif penyesuaian diri remaja di Panti Asuhan Al Bisri Semarang.56 mempengaruhi penilaian stresnya. semakin rendah dukungan sosial yang .

57 diberikan maka semakin negatif penyesuaian diri remaja di Panti Asuhan Al Bisri Semarang. .

Hal ini bertujuan agar hasil yang diperoleh dapat dipertanggungjawabkan khususnya untuk menjawab masalah yang diajukan. subjek penelitian. metode dan instrumen pengumpulan data. Berdasarkan hal tersebut di atas. Dalam hal ini adalah hubungan antara dukungan sosial dengan penyesuaian diri remaja di Panti Asuhan Al Bisri Semarang. Jenis Penelitian Penelitian yang dilakukan adalah penelitian korelasional dengan pendekatan kuantitatif yang menekankan analisisnya pada data-data numerikal yang diolah dengan metode statistika. Metode yang digunakan adalah metode yang sesuai dengan objek penelitian dan tujuan penelitian yang akan dicapai secara sistematik. A. mengembangkan dan menguji suatu kebenaran pengetahuan. 58 . validitas dan reliabilitas alat ukur dan teknik analisis data. pada bab ini akan dibahas mengenai metode dan hal-hal yang menentukan penelitian. Penelitian korelasional bertujuan untuk menemukan ada tidaknya hubungan antara dua buah variabel penelitian.58 BAB III METODE PENELITIAN Metode penelitian merupakan usaha yang harus ditempuh dalam penelitian untuk menemukan. dalam hal ini akan dibatasi secara sistematis sebagai berikut : jenis penelitian. variabel penelitian.

. Variabel terikat adalah variabel yang dipengaruhi atau yang menjadi akibat karena adanya variabel bebas. Jadi variabel bebas adalah variabel yang mempengaruhi. baik secara aktif maupun pasif yang melibatkan respon mental dan tingkah laku. Variabel bebas adalah variabel yang menjadi sebab timbulnya atau berubahnya variabel terikat. Variabel Penelitian 1. Variabel bebas (X) Variabel terikat (Y) = dukungan sosial = penyesuaian diri 2. Penyesuaian diri Penyesuaian diri merupakan suatu usaha yang dilakukan oleh individu untuk mempertemukan tuntutan diri sendiri dengan lingkungan. Definisi Operasional Variabel Penelitian Definisi operasional variabel penelitian dimaksudkan untuk menghindari terjadinya salah pengertian dan penafsiran. Identifikasi Variabel Variabel yang digunakan dalam penelitian ini terdiri dari dua variabel yaitu variabel bebas (variabel independent) dan variabel terikat (variabel dependent). Untuk memperoleh pengertian yang jelas mengenai variabel-variabel dalam penelitian ini dirumuskan definisi operasional variabel sebagai berikut: a. sehingga tercapai hubungan yang harmonis antara diri dengan lingkungannya.59 B.

60 Penyesuaian diri yang menjadi subjek dalam penelitian ini adalah penyesuaian diri remaja di Panti Asuhan Al Bisri Semarang. Semakin tinggi skor yang diperoleh dari skala penyesuaian diri maka semakin tinggi penyesuaian dirinya. yang usianya berkisar antara 13 sampai 18 tahun. Sebaliknya. semakin rendah skor yang diperoleh maka semakin rendah penyesuaian dirinya. Penyesuaian diri yang diungkap dalam penelitian ini diukur dengan mengunakan skala penyesuaian diri yang disusun penulis berdasarkan aspek-aspek penyesuaian diri yaitu : 1) Penyesuaian pribadi a) Penerimaan individu terhadap diri sendiri b) Mampu menerima kenyataan c) Mampu mengontrol diri sendiri d) Mampu mengarahkan diri sendiri 2) Penyesuaian sosial a) Memiliki hubungan interpersonal yang baik b) Memiliki simpati pada orang lain c) Mampu menghargai orang lain d) Ikut berpartisipasi dalam kelompok e) Mampu bersosialisasi dengan baik sesuai norma yang ada Orang lain yang dimaksudkan dalam aspek penyesuaian sosial yaitu pengasuh dan teman-teman sesama penghuni Panti Asuhan Al Bisri Semarang. .

perhatian emosi. Sebaliknya. sehingga dapat membantu individu dalam mengatasi masalahnya. 3) Dukungan instrumental. dimana hal itu memiliki manfaat emosional atau efek perilaku bagi penerima. Dukungan sosial diungkap dengan menggunakan skala dukungan sosial yang disusun penulis berdasarkan empat jenis dukungan sosial yaitu : 1) Dukungan emosional. berupa pemberian nasehat. 2) Dukungan penghargaan. mencakup empati dan perhatian. . Sumber dukungan sosial bagi remaja panti asuhan didapat dari pengasuh dan teman-teman sesama penghuni Panti Asuhan Al Bisri Semarang. mencakup penilaian positif dan dorongan untuk maju. Semakin tinggi skor yang diperoleh dari skala dukungan sosial maka semakin tinggi dukungan sosialnya. petunjuk dan saran. berupa bantuan langsung. semakin rendah skor yang diperoleh maka semakin rendah dukungan sosialnya. 4) Dukungan informasi. penilaian dan bantuan instrumental yang diperoleh individu melalui interaksi dengan lingkungan. Dukungan sosial Dukungan sosial merupakan hubungan interpersonal yang di dalamnya berisi pemberian bantuan yang melibatkan aspek-aspek yang terdiri dari informasi.61 b.

Adapun populasi dalam penelitian ini adalah seluruh remaja penghuni Panti Asuhan Al Bisri Semarang yang berjumlah 40 orang dengan ciri-ciri sebagai berikut : 1) Jenis kelamin laki-laki dan perempuan. 2002:108). Diasumsikan dalam penelitian in bahwa semakin tinggi dukungan sosial maka akan semakin tinggi penyesuaian dirinya. 2004:206). Populasi Populasi adalah keseluruhan subjek penelitian (Arikunto. 2) Remaja berusia 13 sampai 18 tahun (Hurlock. Hubungan Antar Variabel Penelitian Hubungan antar variabel adalah hal yang paling penting untuk dilihat dalam suatu penelitian. Hubungan antara variabel yaitu variabel X dan variabel Y terjadi hubungan sebab akibat. Variabel bebas dalam penelitian ini adalah dukungan sosial dan variabel terikat dalam penelitian ini adalah penyesuaian diri. Populasi dibatasi sebagai sejumlah individu yang paling sedikit mempunyai satu sifat yang sama. . sebaliknya semakin rendah dukungan sosial maka akan semakin rendah penyesuaian dirinya. Hubungan antara variabel penelitian digambarkan sebagai berikut : Dukungan sosial variabel bebas (X) Penyesuaian diri variabel terikat (Y) Gambar 3. Subjek Penelitian 1.1 Skema Hubungan Antara Variabel X dan Y C.62 3.

Menurut Azwar (2003:4) beberapa karakteristik skala sebagai alat ukur psikologi yaitu : 1. . Teknik pengambilan sampel yang digunakan dalam penelitian ini yaitu total sampling. 2002:109). melainkan mengungkap indikator perilaku dari atribut yang diteliti. Indikator perilaku tersebut diterjemahkan lewat item-item. 2. Subjek yang akan diambil sebagai sampel penelitian sebanyak 40 orang.63 3) Tingkat pendidikan SMP dan SMU. Skala psikologi adalah suatu daftar pertanyaan atau pernyataan yang diajukan agar dijawab oleh subjek dan interpretasinya terhadap pertanyaan atau pernyataan tersebut merupakan proyeksi dari perasaannya. 4) Tinggal di Panti Asuhan Al Bisri Semarang. Metode dan Instrumen Pengumpulan Data Metode pengumpulan data yang digunakan untuk memperoleh data yang diperlukan adalah dengan skala psikologi. D. 2. Sampel Sampel merupakan sebagian atau wakil dari populasi yang diteliti (Arikunto. Stimulusnya berupa pertanyaan atau pernyataan yang tidak langsung mengungkap atribut yang hendak diukur. Dalam total sampling semua individu dalam populasi diberi kesempatan yang sama untuk menjadi anggota sampel.

2. Sesuai dengan permasalahan dalam penelitian ini. Bentuk pemberian skala bersifat langsung yaitu daftar pernyataan diberikan secara langsung kepada orang yang akan dimintai pendapat. Respon subjek tidak diklasifikasikan sebagai jawaban “benar” atau “salah”. Skala penyesuaian diri Skala penyesuaian diri dikembangkan sendiri oleh penulis yang disusun berdasarkan aspek-aspek penyesuaian diri. . Data yang diungkap berupa konstrak atau konsep psikologi yang menggambarkan aspek kepribadian individu. Skala ini menggunakan tipe pilihan. maka pada penelitian ini digunakan dua macam skala yaitu : 1. terdiri dari penyesuaian pribadi dan penyesuaian sosial. Pertanyaan sebagai stimulus tertuju pada indikator perilaku guna memancing jawaban yang merupakan refleksi dari keadaan diri subjek yang biasanya tidak disadari oleh responden yang bersangkutan. 3.64 3. Peneliti memilih menggunakan skala psikologi dengan alasan sebagai berikut : 1. Semua jawaban dapat diterima jika diberikan secara jujur dan sungguh-sungguh. 2003:5). Responden biasanya tidak menyadari arah jawaban yang dikehendaki dan disimpulkan apa yang sesungguhnya diungkap oleh pertanyaan atau pernyataan tersebut (Azwar. yaitu subyek diminta untuk memilih salah satu dari beberapa alternatif jawaban yang sudah disediakan.

. sesuai (S)=2. sangat tidak sesuai (STS)=4. Penyesuaian sosial 1) Memiliki hubungan interpersonal yang baik 2) Memiliki simpati pada orang lain 3) Mampu menghargai orang lain 4) Ikut berpartisipasi dalam kelompok 5) Mampu bersosialisasi dengan baik sesuai norma yang ada Skala penyesuaian diri menggunakan model skala Likert. sangat tidak sesuai (STS)=1. Untuk item unfavorabel. Penyesuaian pribadi 1) Penerimaan individu terhadap diri sendiri 2) Mampu menerima kenyataan 3) Mampu mengontrol diri sendiri 4) Mampu mengarahkan diri sendiri b. sesuai (S)=3. Pemberian skor untuk item favorabel. terdiri dan dari dua kelompok item yang berbentuk favorabel dan unfavorabel. nilai jawaban sangat sesuai (SS)=1. Sistem penilaian menggunakan empat alternatif jawaban yaitu sangat sesuai (SS).65 Adapun indikator dalam skala penyesuaian diri yaitu : a. nilai jawaban sangat sesuai (SS)=4. tidak sesuai (TS) dan sangat tidak sesuai (STS). tidak sesuai (TS)=3. sesuai (S). tidak sesuai (TS)=2.

Ikut berpartisipasi dalam kelompok e.66 Tabel 3. 44 10. 32. 56 30 16. 25. 59 4. 60 30 Total Penyesuaian 1. 58 18. 21. 42. Mampu mengarahkan diri sendiri a. Penerimaan individu terhadap diri sendiri b. Mampu menghargai orang lain d. 28. 19. Memiliki simpati pada orang lain c. Penyesuaian diri pribadi 2. 31. 46 6. 57 17. 48 8. 45 5. 27. 36. 52 12. 22. 54 14. 20. Mampu mengontrol diri sendiri d. 35. Mampu bersosialisasi dengan baik sesuai norma yang ada Nomor Item Favorabel Unfavorabel 1. 37 2. 39. 34. Skala dukungan sosial 30 30 60 Skala yang dipergunakan untuk mengukur dukungan sosial dari subjek penelitian adalah skala yang disusun oleh penulis berdasarkan empat jenis dukungan sosial yaitu : a. 55 15. 33. 40. Memiliki hubungan interpersonal yang baik b. 29. 51 11. 41. Dukungan emosional 1) Empati 2) Perhatian . 23. 26. 30. 50 3. 24. 43. 47 7. 38. Penyesuaian sosial Total 2. 49 9. Mampu menerima kenyataan c.1 Blue print skala penyesuaian diri Variabel Sub Variabel Indikator a. 53 13.

sesuai (S). 15. Perhatian a. 14. 34 3. Sistem penilaian menggunakan empat alternatif jawaban yaitu sangat sesuai (SS).2 Blue print skala dukungan sosial Variabel Dukungan Sosial Sub Variabel 1. 47. 36. 28. 42. 19. berupa pemberian nasehat. tidak sesuai (TS)=2. Dukungan emosional 2. 46. 20. Skala dukungan sosial menggunakan model skala Likert. Dukungan informasi. 18. sangat tidak sesuai (STS)=4. 54 12. nilai jawaban sangat sesuai (SS)=4. 55 30 8. Untuk item unfavorabel. 29. 40 10. 27. Dukungan informasi Total Indikator a. 13. 59 11. 25. d. 33 2. 22. 41. 32. petunjuk dan saran. 39. Penilaian positif b. tidak sesuai (TS) dan sangat tidak sesuai (STS). Empati b. sesuai (S)=2. 57 9. 44. 24. 43. tidak sesuai (TS)=3. 30. 37 6. terdiri dan dari dua kelompok item yang berbentuk favorabel dan unfavorabel. petunjuk dan saran Nomor Item Favorabel Unfavorabel 1. 50. Dukungan penghargaan 3. 21. 38. 16. 58 5. 45. Dukungan instrumental. berupa bantuan langsung. 17. 23. 51. 60 30 Total 15 15 15 15 60 .67 b. 56. Dorongan untuk maju Bantuan langsung Pemberian nasehat. Dukungan penghargaan 1) Penilaian positif 2) Dorongan untuk maju c. 35. 49 4. 48. Tabel 3. 52 7. sangat tidak sesuai (STS)=1. Pemberian skor untuk item favorabel. sesuai (S)=3. 26. 31. 53. Dukungan instrumental 4. nilai jawaban sangat sesuai (SS)=1.

Validitas Validitas merupakan suatu ukuran yang menunjukkan tingkat kevalidan atau kesahihan suatu instrumen. yang mana suatu alat ukur dikatakan valid apabila telah cocok dengan konstruksi teoritis yang menjadi dasar pengukuran. yaitu : (Σ XY) – (ΣX)(ΣY)/N rxy = {ΣX2 – (ΣX)2 /N} {ΣY2. artinya apabila dilakukan pengukuran beberapa kali terhadap subjek yang sama hasilnya relatif sama.68 E. . Validitas yang digunakan adalah validitas konstrak.(ΣY)2 /N} Keterangan : rxy = koefisien korelasi antara skor X (item) dengan skor Y (total) (1) ΣXY = jumlah perkalian antara skor X (item) dengan skor Y (total) ΣX ΣY N = jumlah skor item = jumlah skor total = jumlah subjek 2. Uji validitasnya dilakukan dengan mengkorelasikan antara skor tiap item dengan skor total. Teknik uji validitas dalam penelitian ini menggunakan rumus korelasi product moment dari Pearson. Validitas dan Reliabilitas Alat Ukur 1. Reliabilitas Reliabilitas adalah sejauh mana hasil suatu pengukuran dapat dipercaya.

(ΣY)2 /N} (3) .69 Teknik analisis yang digunakan adalah teknik uji reliabilitas alpha yang dikembangkan oleh Cronbach. Teknik analisis data yang digunakan dalam penelitian ini yaitu teknik korelasi product moment. dengan rumus sebagai berikut : (Σ XY) – (ΣX)(ΣY)/N rxy = {ΣX2 – (ΣX)2 /N} {ΣY2. dengan rumus : 2 ⎡ k ⎤ ⎡ Σσ b ⎤ 1− r11 = ⎢ ⎢ ⎥ σ 12 ⎥ ⎣ k − 1⎥ ⎢ ⎦⎣ ⎦ (2) Keterangan : r11 k 1 Σ σb 2 = = = = = reliabilitas instrumen jumlah item bilangan konstan jumlah varians butir varians total σ12 F. Teknik Analisis Data Analisis data adalah salah satu kegiatan dalam penelitian yang berguna untuk menarik kesimpulan.

70 Keterangan : rxy = koefisien korelasi antara skor X (item) dengan skor Y (total) ΣXY = jumlah perkalian antara skor X (item) dengan skor Y (total) ΣX ΣY N = jumlah skor item = jumlah skor total = jumlah subjek .

pelaksanaan penelitian. tidak mampu dan terlantar agar mendapatkan penghidupan dan pendidikan yang layak guna menjadi manusia yang berkualitas. 71 . Persiapan Penelitian 1. Orientasi Kancah Panti Asuhan Al Bisri Semarang terletak di Jl. A. Pada bab ini disajikan beberapa hal yang berkaitan dengan proses. Sendang Pentul Nomor 9 RT 06 RW II Kelurahan Tinjomoyo Kecamatan Banyumanik Kota Semarang berdiri pada tanggal 2 Juli 1997. hasil penelitian dan pembahasan. Panti Asuhan Al Bisri didirikan dengan maksud menampung dan mendidik anak yatim piatu. 26 anak sekolah di SD. hasil dan pembahasan penelitian yang disajikan sebagai berikut : persiapan penelitian. Panti Asuhan Al Bisri memiliki 76 anak asuh yang terdiri dari 4 anak sekolah di TK. deskripsi data penelitian. 26 anak sekolah di SMP dan 20 anak sekolah di SMA. prosedur pengumpulan data.71 BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN Hasil penelitian adalah data dari instrumen tertentu kemudian dianalisis dengan teknik dan metode yang telah ditentukan.

2) Mengadakan pendidikan agama maupun umum untuk intern maupun ekstern. peternakan. Dana yang diterima untuk operasional kegiatan Panti Asuhan Al Bisri Semarang berasal dari : a. . b. Jangka panjang 1) Menciptakan dan mengelola usaha-usaha guna menunjang kegiatan panti asuhan yang tidak bertentangan dengan agama dan negara. Semua pihak yang mempunyai perhatian. perikanan dan perdagangan. Instansi pemerintah. 2) Mengembangkan usaha ekonomi produktif dengan pendayagunaan lahan pertanian.72 Program kerja Panti Asuhan Al Bisri meliputi program jangka pendek dan jangka panjang yaitu : a. organisasi atau perorangan. Jangka pendek tahun 2005 sampai tahun 2010 1) Membangun asrama putra dan putri serta mengembangkan keterampilan anak. b. Donatur tetap maupun tidak tetap. 3) Perluasan areal tanah sekitar panti asuhan. 3) Mengadakan kerjasama maupun hubungan lain dengan badan hukum. c.

Peneliti dapat mengawasi secara langsung jalannya proses pengumpulan data.73 Ada beberapa pertimbangan yang mendasari penelitian dilakukan di Panti Asuhan Al Bisri Semarang antara lain : a. Penentuan Sampel Sampel yang ditetapkan dalam penelitian ini adalah seluruh remaja di Panti Asuhan Al Bisri Semarang tahun 2007. Pertama. Subjek sesuai dengan ciri-ciri populasi yang telah ditetapkan peneliti. . peneliti terlebih dahulu melakukan persiapan proses perijinan. 3. Panti Asuhan Al Bisri Semarang bersedia untuk dijadikan tempat penelitian dan memberikan kemudahan perijinan kepada peneliti. Belum pernah diadakan penelitian mengenai penyesuaian diri remaja di Panti Asuhan Al Bisri Semarang. 2. b. c. mengajukan surat pengantar dari Fakultas Ilmu Pendidikan kepada Ketua Panti Asuhan Al Bisri Semarang untuk mendapatkan ijin melakukan penelitian di Panti Asuhan Al Bisri Semarang. Kedua. Pengambilan sampel dalam penelitian ini didasarkan pada teknik total sampling dengan karakteristik sebagai berikut : jenis kelamin laki-laki dan perempuan. d. remaja berusia 13 sampai 18 tahun. tingkat pendidikan SMP dan SMU. peneliti minta surat pengantar dari Fakultas Ilmu Pendidikan yang ditujukan kepada Ketua Panti Asuhan Al Bisri Semarang. Proses Perijinan Sebelum melakukan penelitian.

Penelitian ini menggunakan sistem try out terpakai karena terbatasnya jumlah subjek penelitian. Data hasil uji coba langsung digunakan untuk menguji hipotesis penelitian dimana hanya item yang valid saja yang akan dianalisis.1 Deskripsi Subjek Penelitian Pendidikan Usia Jenis Kelamin Laki-Laki Perempuan 5 5 6 4 2 4 3 4 1 5 1 25 15 Total 10 10 6 3 5 6 40 13 tahun SMP 14 tahun 15 tahun 16 tahun SMA 17 tahun 18 tahun Total B. sehingga data uji coba alat ukur akan digunakan sekaligus sebagai data penelitian. Skala yang diberikan kepada subjek penelitian sebanyak 40 eksemplar.74 Tabel 4. Pelaksanaan Penelitian Penelitian ini menggunakan sistem try out terpakai. Prosedur Pengumpulan Data Pengumpulan data dalam penelitian ini menggunakan dua skala yaitu skala dukungan sosial dan skala penyesuaian diri. C. Setelah pengumpulan data dengan menggunakan skala psikologi telah selesai maka langkah selanjutnya yang dilakukan peneliti adalah sebagai berikut : . Pengambilan data penelitian berlangsung pada hari Minggu tanggal 6 Mei 2007 yang dikenakan pada 40 orang subjek penelitian.

Mentabulasi data berdasarkan jumlah item. Hasil Uji Validitas dan Reliabilitas Dalam rangka memperoleh data tentang variabel-variabel yang diteliti maka dibutuhkan alat pengumpul data.75 1. 4.12951 Dukungan Sosial 116.9750 13. Menentukan tingkat dukungan sosial dan penyesuaian diri remaja di Panti Asuhan Al Bisri Semarang.09027 Sumber : Hasil penelitian yang diolah N 40 40 E. Memberikan skor pada masing-masing jawaban yang telah diisi oleh subjek penelitian.2 sebagai berikut : Tabel 4. 2. Untuk memperoleh instrumen yang baik maka dilakukan uji coba atau try out yang dianalisis validitas dan reliabilitasnya.2 Rangkuman Data Penelitian Variabel Mean Standar Deviation Penyesuaian Diri 108. Hasil Penelitian dan Pembahasan 1. 3.9750 16. Menentukan adakah hubungan antara dukungan sosial dengan penyesuaian diri remaja di Panti Asuhan Al Bisri Semarang. Deskripsi Data Penelitian Gambaran mengenai data penelitian pada masing-masing variabel yang dianalisis terdapat pada table 4. D. .

7. 13.312 Berdasarkan hasil uji coba validitas dengan bantuan komputer program SPSS release 10. 30. Uji signifikansi untuk menentukan valid atau tidaknya suatu item adalah dengan cara membandingkan rhitung dengan rtabel untuk TS = 5 % dan N = 40. 3. 52. 10. 41. 47. 31. 54. 18. 23. 8. 48.307. Validitas Teknik uji validitas yang digunakan adalah teknik statistik korelasi product moment. 58. 35. 59. 32. 11. Dari 24 item itu rhitung tertinggi sebesar 0. Ini berarti rhitung lebih besar dari rtabel (0. 46. 56. 12. 4. sehingga instrumen penelitian yang digunakan untuk mengungkap penyesuaian diri sebanyak 36 item. 17. 40. 36. 57. 28. 42. 24. 6.312) yang berarti ke-24 item tersebut tidak valid. 26.0 diperoleh : Instrumen skala penyesuaian diri sebanyak 60 item ternyata 24 item tidak valid yaitu nomor 1. Ini berarti rhitung lebih kecil dari rtabel (0. 20. 44. 27. 33. 9. 22.307 < 0. 38.312) yang berarti ke-36 item tersebut valid. 50. Terdapat 36 item yang valid yaitu nomor 2. Adapun sebaran item yang valid dan tidak valid untuk instrumen skala penyesuaian diri dapat dilihat pada tabel berikut : . 37. 45. 16. 51. 15. 19. 29.313 dan rhitung tertinggi sebesar 0. 60. 14.313 > 0. 21. 49. 39. 34.76 a. 5. maka rtabel = 0. 25.632. 43. Item yang valid menunjukkan rhitung terendah sebesar 0. 53. 55.

28*. 49 9. 47 8. 1*. 44* 7*. 49. 57. 45. 5. 43. 43. 23*. 14. 26. 46 45 6*. 17. 52 12. Mampu mengontrol diri sendiri d. 16.3 Blue Print Skala Penyesuian Diri Setelah Uji Coba Variabel Sub Variabel Indikator a. 55* 15*. 9. 33. 25*. 35. Memiliki simpati pada orang lain c. 60. 22. 34. 39. 31*.77 Tabel 4. 59. 21. 23. 33. Penyesuaian sosial Total Keterangan : * Item yang gugur / tidak valid 16 20 36 Sedangkan untuk instrumen skala dukungan sosial sebanyak 60 item ternyata 21 item tidak valid yaitu nomor 2. Terdapat 39 item yang valid yaitu nomor 1. Mampu bersosialisasi dengan baik sesuai norma yang ada Nomor Item Favorabel Unfavorabel 2. 19*. 40. 53. 27*. 29. 4*. 24. 29*. Penerimaan individu terhadap diri sendiri b. 54. 36. 58 18. Ini berarti rhitung lebih kecil dari rtabel (0. 60* Total Penyesuaian 1. 42. 19. 30. 57 17. 40.287. Item yang valid . 56 19 16.312) yang berarti ke-21 item tersebut tidak valid. 35. 59 10. 22*. Mampu mengarahkan diri sendiri a. 12. 5*. 41. 48 41. 21. 10. 13. 38. 37. 24*. 56. 51. 32. 58. 53* 13. 8. 32. 44. 50. 48. 31. 50 37 3*. 18. Ikut berpartisipasi dalam kelompok e.287 < 0. 20*. 15. 25. 26. 52. 20. Dari 21 item itu rhitung tertinggi sebesar 0. 47. 7. Mampu menerima kenyataan c. 54 14*. 42. 27. 39. 34. 28. 6. Penyesuaian diri pribadi 17 2. 4. 30. 51* 11. 46. Memiliki hubungan interpersonal yang baik b. 11. 36*. 55. 38. 3. Mampu menghargai orang lain d.

23. 13. Penilaian positif b. Empati b. 30. 29*. Dukungan instrumental 4. sehingga instrumen penelitian yang digunakan untuk mengungkap penyesuaian diri sebanyak 39 item.314 dan rhitung tertinggi sebesar 0. 47. Adapun sebaran item yang valid dan tidak valid untuk instrumen skala dukungan sosial dapat diketahui pada tabel berikut : Tabel 4. 24. 25*. 46*. Perhatian a. 59 11. petunjuk dan saran Total Keterangan : * Item yang gugur / tidak valid 22 17 39 7. 60* 11 8 8*. 55 10. Dukungan penghargaan Indikator a. 53.665. Ini berarti rhitung lebih besar dari rtabel (0. 52 13 7 Total . 34 4*. Dukungan emosional 2. 56. Dorongan untuk maju 3. 21. 31. 26. 54* 12. 15. 38. 18*. 32. 58 6. 50*. 45. 33 3*. 57 9*. 40* Nomor Item Favorabel 1. 22. 35*. 37 Unfavorabel 2*. 19. 36. 49* 5.4 Blue Print Skala Dukungan Sosial Setelah Uji Coba Variabel Dukungan Sosial Sub Variabel 1. 27. 41.78 menunjukkan rhitung terendah sebesar 0. 42*. 20. 28. 39. 17*. 14*.314 > 0. Dukungan informasi Bantuan langsung Pemberian nasehat. 48*. 51.312) yang berarti ke-39 item tersebut valid. 43*. 44*. 16.

Data penyesuaian diri diambil dengan menggunakan skala penyesuaian diri sebanyak 36 item dan jumlah subjek sebanyak 40 orang. b. Berdasarkan uji reliabilitas menggunakan rumus alpha diperoleh nilai r11 = 0. Berdasarkan hasil penelitian diperoleh mean sebesar 108. Mengetahui bagaimana gambaran tentang dukungan sosial di Panti Asuhan Al Bisri Semarang. c.12951. Reliabilitas Reliabilitas adalah derajat ketetapan dan ketelitian yang ditunjukkan oleh instrumen pengukuran sehingga dapat dipercaya. 2. Hasil Penelitian Sesuai dengan tujuan penelitian ini yaitu untuk : a. maka dapat diuraikan hasil penelitian sebagai berikut : a. sehingga dapat digunakan sebagai alat ukur. Gambaran Penyesuaian Diri Remaja Penyesuaian diri remaja di Panti Asuhan Al Bisri Semarang dapat dilihat dari aspek penyesuaian diri yaitu penyesuaian pribadi dan penyesuaian sosial.8863 untuk instrumen penyesuaian diri dan sebesar 0. Mengetahui bagaimana gambaran tentang penyesuaian diri remaja di Panti Asuhan Al Bisri Semarang.9236 untuk instrumen dukungan sosial. Hasil tersebut menunjukkan bahwa skala penyesuaian diri dan dukungan sosial adalah reliabel. . Mengetahui ada tidaknya hubungan antara dukungan sosial dengan penyesuaian diri remaja di Panti Asuhan Al Bisri Semarang.79 b.9750 dan standar deviasi sebesar 13.

5SD 102.280735 berarti subjek mempunyai tingkat penyesuaian diri yang sangat rendah.5 dapat diketahui bila subjek penelitian memperoleh skor lebih besar dari 128. Skor lebih besar dari 115.410245 berarti subjek mempunyai tingkat penyesuaian diri yang rendah.539755−128. Distribusi aspek tentang tingkat penyesuaian diri dapat dilihat pada tabel berikut : .410245 5 X ≤ 89.5SD Sumber : Hasil Penelitian Kategori Sangat Tinggi Tinggi Sedang Rendah Sangat Rendah Dari tabel 4.280735 X ≤ M−1.539755 < X ≤ 128.5SD < X ≤ M+0. sedangkan subjek dengan skor lebih kecil atau sama dengan 89. berarti Skor subjek lebih besar dari tingkat 102.280735−102.5SD 89.5SD < X 128.539755 4 M−1. Apabila subjek memperoleh skor lebih besar dari 89.539755 mempunyai penyesuaian diri yang sedang.80 Tabel 4.5SD < X ≤ M−0.280735 < X ≤ 102.410245−115.5SD < X ≤ M+1.669265 < X 2 M+0.5SD 115.410245 < X ≤ 115.669265 3 M−0.669265 berarti subjek mempunyai tingkat penyesuaian diri yang tinggi.5 Pengelompokkan Norma Tingkat Penyesuaian Diri No Rumus Interval 1 M+1.669265 berarti subjek tersebut mempunyai tingkat penyesuaian diri yang sangat tinggi.

Sebanyak 25% atau 10 subjek mempunyai tingkat penyesuaian diri tinggi.669265 < X 115.1 Tingkat Penyesuaian Diri Remaja .539755 < X ≤ 128. Sebanyak 30% atau 12 subjek mempunyai tingkat penyesuaian diri rendah dan sebanyak 5% atau 2 subjek mempunyai tingkat penyesuaian diri sangat rendah. bahwa dari 40 subjek yang diteliti.6 Distribusi Frekuensi Penyesuaian Diri Interval 128.539755 89.410245 X ≤ 89.280735 Total Sumber : Hasil Penelitian No 1 2 3 4 5 f 2 10 14 12 2 40 % 5 25 35 30 5 100 Kategori Sangat Tinggi Tinggi Sedang Rendah Sangat Rendah Terlihat pada tabel di atas. Sebanyak 35% atau 14 subjek mempunyai tingkat penyesuaian diri sedang. Apabila digambarkan dalam bentuk grafik akan diperoleh visualisasi sebagai berikut : 40 35 30 25 20 15 10 5 0 35 % 30 % 25 % \ 5% 5% Persentase SR R S Kategori T ST Grafik 4. Hal ini menunjukkan bahwa secara umum penyesuaian diri remaja di Panti Asuhan Al Bisri Semarang dalam kategori sedang.81 Tabel 4.280735 < X ≤ 102. sebanyak 5% atau 2 subjek mempunyai tingkat penyesuaian diri sangat tinggi.410245 < X ≤ 115.669265 102.

5 22.31406 < X 53. Sebanyak 30% atau 12 subjek mempunyai tingkat penyesuaian pribadi rendah dan Sebanyak 5% atau 2 subjek mempunyai tingkat penyesuaian pribadi sangat rendah. Penyesuaian pribadi dapat dilihat dari distribusi frekuensi seperti tercantum pada tabel berikut. bahwa dari 40 subjek yang diteliti. Tabel 4.31406 47. .93802 < X ≤ 60.18594 Total Sumber : Hasil Penelitian No 1 2 3 4 5 f 1 9 16 12 2 40 % 2.18594 < X ≤ 47. Sebanyak 22.5% atau 9 subjek mempunyai tingkat penyesuaian pribadi tinggi.56198 < X ≤ 53.56198 X ≤ 41.5% atau 1 subjek mempunyai tingkat penyesuaian pribadi sangat tinggi.93802 41.7 Distribusi Frekuensi Aspek Penyesuaian Pribadi Interval 60. Sebanyak 40% atau 16 subjek mempunyai tingkat penyesuaian pribadi sedang. sebanyak 2.82 Masing-masing aspek penyesuaian diri remaja di panti asuhan akan dijelaskan secara lebih rinci sebagai berikut : 1) Aspek Penyesuaian Pribadi Penyesuaian pribadi merupakan salah satu aspek dalam penyesuaian diri.5 40 30 5 100 Kategori Sangat Tinggi Tinggi Sedang Rendah Sangat Rendah Terlihat pada tabel di atas. Hal ini menunjukkan bahwa secara umum penyesuaian pribadi remaja di Panti Asuhan Al Bisri Semarang dalam kategori sedang.

01684 46.5% atau 1 subjek mempunyai tingkat penyesuaian sosial sangat tinggi.84948 < X ≤ 54.8 Distribusi Frekuensi Aspek Penyesuaian Sosial Interval 69.01684 < X ≤ 69.43316 < X ≤ 62. dukungan instrumental .60052 54.5 27. Sebanyak 30% atau 12 subjek mempunyai tingkat penyesuaian sosial rendah dan Sebanyak 7.84948 Total Sumber : Hasil Penelitian No 1 2 3 4 5 f 1 11 13 12 3 40 % 2. b.5 100 Kategori Sangat Tinggi Tinggi Sedang Rendah Sangat Rendah Terlihat pada tabel di atas. Tabel 4.83 2) Aspek Penyesuaian Sosial Gambaran tentang penyesuaian sosial dapat dilihat pada table 4.5% atau 3 subjek mempunyai tingkat penyesuaian sosial sangat rendah.5 30 7.5 32. dukungan penghargaan. Sebanyak 27.43316 X ≤ 46.5% atau 13 subjek mempunyai tingkat penyesuaian sosial sedang. Gambaran Dukungan Sosial Dukungan sosial pada remaja di Panti Asuhan Al Bisri Semarang dapat dilihat dari aspek-aspek dukungan sosial yaitu dukungan emosional.5% atau 11 subjek mempunyai tingkat penyesuaian sosial tinggi. sebanyak 2.8 berikut. bahwa dari 40 subjek yang diteliti. Hal ini menunjukkan bahwa secara umum penyesuaian sosial remaja di Panti Asuhan Al Bisri Semarang dalam kategori sedang. Sebanyak 32.60052 < X 62.

9 Pengelompokkan Norma Tingkat Dukungan Sosial No Rumus Interval 1 M+1.5SD 125.020135 4 M−1.839595−108.020135 < X ≤ 141.929865 berarti subjek mempunyai tingkat dukungan sosial rendah.110405 < X 2 M+0. Distribusi aspek tentang tingkat dukungan sosial dapat dilihat pada tabel berikut.9 dapat diketahui bila subjek penelitian memperoleh skor lebih besar dari 141.9750 dan standar deviasi sebesar 16.5SD 92.110405 3 M−0. Tabel 4. sedangkan subjek dengan skor lebih kecil atau sama dengan 92.110405 berarti subjek mempunyai tingkat dukungan sosial yang sangat tinggi. Data dukungan sosial diambil dengan menggunakan skala dukungan sosial sebanyak 39 item dan jumlah subjek sebanyak 40 orang.929865 < X ≤ 125. Skor lebih besar dari 108.839595 X ≤ M−1.020135 berarti subjek mempunyai tingkat dukungan sosial sedang.5SD < X ≤ M+0.110405 berarti subjek mempunyai tingkat dukungan sosial tinggi.839595 berarti subjek mepunyai tingkat dukungan sosial yang sangat rendah.5SD < X ≤ M−0.09027.92986−125.5SD 108. Berdasarkan hasil penelitian diperoleh mean sebesar 116. Apabila subjek memperoleh skor lebih besar dari 92.5SD < X ≤ M+1. .020135−141.929865 5 X ≤ 92.5SD < X 141. Skor lebih besar dari 125.839595 < X ≤ 108.84 dan dukungan informasi.5SD Sumber : Hasil Penelitian Kategori Sangat Tinggi Tinggi Sedang Rendah Sangat Rendah Dari tabel 4.

85

Tabel 4.10 Distribusi Frekuensi Dukungan Sosial No 1 2 3 4 5 Interval 141,110405 < X 125,020135 < X ≤ 141,110405 108,929865 < X ≤ 125,020135 92,839595 < X ≤ 108,929865 X ≤ 92,839595 Total Sumber : Hasil Penelitian f 1 13 12 10 4 40 % 2,5 32,5 30 25 10 100 Kategori Sangat Tinggi Tinggi Sedang Rendah Sangat Rendah

Terlihat pada tabel di atas, bahwa dari 40 subjek yang diteliti, sebanyak 2,5% atau 1 subjek mempunyai tingkat dukungan sosial sangat tinggi. Sebanyak 32,5% atau 13 subjek mempunyai tingkat dukungan sosial tinggi. Sebanyak 30% atau 12 subjek mempunyai tingkat dukungan sosial sedang. Sebanyak 25% atau 10 subjek mempunyai tingkat dukungan sosial rendah dan sebanyak 10% atau 4 subjek mempunyai tingkat dukungan sosial sangat rendah. Hal ini menunjukkan bahwa secara umum dukungan sosial yang diperoleh remaja di Panti Asuhan Al Bisri Semarang dalam kategori sedang. Apabila digambarkan dalam bentuk grafik akan diperoleh visualisasi sebagai berikut :
35 30 25 Persentase 20 15 10 5 0 SR R S Kategori T ST 2.5 % 10 % \ 25 % 30 % 32.5 %

Grafik 4.2 Tingkat Dukungan Sosial

86

Masing-masing aspek dukungan sosial bagi remaja di panti asuhan akan dijelaskan secara lebih rinci sebagai berikut :
1) Dukungan Emosional

Gambaran tentang dukungan emosional dapat dilihat pada tabel 4.11 berikut. Tabel 4.11 Distribusi Frekuensi Aspek Dukungan Emosional Interval 24,821735 < X 21,807245 < X ≤ 24,821735 18,792755 < X ≤ 21,807245 15,778265 < X ≤ 18,792755 X ≤ 15,778265 Total Sumber : Hasil Penelitian No 1 2 3 4 5 f 3 6 13 13 5 40 % 7,5 15 32,5 32,5 12,5 100 Kategori Sangat Tinggi Tinggi Sedang Rendah Sangat Rendah

Terlihat pada tabel di atas, bahwa dari 40 subjek yang diteliti, sebanyak 7,5% atau 3 subjek mempunyai tingkat dukungan emosional sangat tinggi. Sebanyak 15% atau 6 subjek mempunyai tingkat dukungan emosional tinggi. Sebanyak 32,5% atau 13 subjek mempunyai tingkat dukungan emosional sedang. Sebanyak 32,5% atau 13 subjek mempunyai tingkat dukungan emosional rendah dan sebanyak 12,5% atau 5 subjek mempunyai tingkat dukungan emosional sangat rendah. Hal ini menunjukkan bahwa secara umum dukungan emosional yang diperoleh remaja di Panti Asuhan Al Bisri Semarang dalam kategori sedang.

87

2) Dukungan Penghargaan

Gambaran tentang dukungan penghargaan dapat dilihat pada tabel 4.12 berikut. Tabel 4.12 Distribusi Frekuensi Aspek Dukungan Penghargaan Interval 47,884065 < X 42,511355 < X ≤ 47,884065 37,138645 < X ≤ 42,511355 31,765935 < X ≤ 37,138645 X ≤ 31,765935 Total Sumber : Hasil Penelitian No 1 2 3 4 5 f 1 12 14 10 3 40 % 2,5 30 35 25 7,5 100 Kategori Sangat Tinggi Tinggi Sedang Rendah Sangat Rendah

Terlihat pada tabel di atas, bahwa dari 40 subjek yang diteliti, sebanyak 2,5% atau 1 subjek mempunyai tingkat dukungan penghargaan sangat tinggi. Sebanyak 30% atau 12 subjek mempunyai tingkat dukungan penghargaan tinggi. Sebanyak 35% atau 14 subjek mempunyai tingkat dukungan penghargaan sedang. Sebanyak 25% atau 10 subjek mempunyai tingkat dukungan penghargaan rendah dan sebanyak 7,5% atau 3 subjek mempunyai tingkat dukungan penghargaan sangat rendah. Hal ini menunjukkan bahwa secara umum dukungan penghargaan yang diperoleh remaja di Panti Asuhan Al Bisri Semarang dalam kategori sedang.

.839715 X ≤ 16. Sebanyak 22. sebanyak 32. Sebanyak 37.210285 < X ≤ 29.14 berikut. bahwa dari 40 subjek yang diteliti.5% atau 9 subjek mempunyai tingkat dukungan instrumental rendah dan sebanyak 7.5% atau 15 subjek mempunyai tingkat dukungan instrumental sedang.5 100 Kategori Sangat Tinggi Tinggi Sedang Rendah Sangat Rendah Terlihat pada tabel di atas.13 berikut. 4) Dukungan Informasi Gambaran tentang dukungan informasi dapat dilihat pada tabel 4.5 37. Tabel 4.469145 < X ≤ 20.5 22.580855 20.580855 < X 25.13 Distribusi Frekuensi Aspek Dukungan Instrumental Interval 29.839715 < X ≤ 25. Hal ini menunjukkan bahwa secara umum dukungan instrumental yang diperoleh remaja di Panti Asuhan Al Bisri Semarang dalam kategori sedang.5% atau 3 subjek mempunyai tingkat dukungan instrumental sangat rendah.88 3) Dukungan Instrumental Gambaran tentang dukungan instrumental dapat dilihat pada tabel 4.5 7.469145 Total Sumber : Hasil Penelitian No 1 2 3 4 5 f 0 13 15 9 3 40 % 0 32.210285 16.5% atau 13 subjek mempunyai tingkat dukungan instrumental tinggi.

5 5 15 100 Kategori Sangat Tinggi Tinggi Sedang Rendah Sangat Rendah Terlihat pada tabel di atas. Hal ini menunjukkan bahwa secara umum dukungan informasi yang diperoleh remaja di Panti Asuhan Al Bisri Semarang dalam kategori sedang.14 Distribusi Frekuensi Aspek Dukungan Informasi Interval 41. Sebanyak 30% atau 12 subjek mempunyai tingkat dukungan informasi tinggi. komputasi menggunakan bantuan komputer program statistical program for . sebanyak 2.336855 < X ≤ 36.5% atau 1 subjek mempunyai tingkat dukungan informasi sangat tinggi. Korelasi pada penelitian ini dihitung dengan menggunakan korelasi product moment.5% atau 19 subjek mempunyai tingkat dukungan informasi sedang.360565 Total Sumber : Hasil Penelitian No 1 2 3 4 5 f 1 12 19 2 6 40 % 2.360565 < X ≤ 31.5 30 47. Sebanyak 47.336855 X ≤ 26.289435 < X 36. Sebanyak 5% atau 2 subjek mempunyai tingkat dukungan informasi rendah dan sebanyak 15% atau 6 subjek mempunyai tingkat dukungan informasi sangat rendah. c.313145 26.313145 < X ≤ 41.89 Tabel 4. bahwa dari 40 subjek yang diteliti.289435 31. Uji Hipotesis Hipotesis yang diajukan dalam penelitian ini adalah hubungan positif antara dukungan sosial dengan penyesuaian diri remaja di Panti Asuhan Al Bisri Semarang.

01.0 Berdasarkan hasil analisis SPSS versi 10.566.90 social sciences (SPSS) versi 10. 40 Berdasarkan dari perhitungan koefisien korelasi tersebut.000 N 40 ** Correlation is significant at the 0. Untuk melihat berapa besar kontribusi dukungan sosial terhadap penyesuaian diri remaja dapat dilihat dari table nilai R-Square seperti tercantum pada tabel berikut. (2-tailed) . . N 40 Dukungan Pearson Correlation .0 diperoleh koefisien korelasi 0.566(**) .” Semakin tinggi dukungan sosial maka semakin tinggi pula penyesuaian diri.01 level (2tailed) Penyesuaian Diri Dukungan Sosial . sehingga dapat disimpulkan bahwa “ada hubungan positif antara dukungan sosial dengan penyesuaian diri remaja di Panti Asuhan Al Bisri Semarang. Tabel 4. yang berarti pada taraf signifikansi 1% hipotesis yang menyatakan ada hubungan positif antara dukungan sosial dengan penyesuaian diri remaja di Panti Asuhan Al Bisri Semarang diterima. Semakin rendah dukungan sosial maka semakin rendah pula penyesuaian diri.000 40 1 . (2-tailed) . p < 0.17 Korelasi Antara Dukungan Sosial dengan Penyesuaian Diri Remaja Correlations Penyesuaian Diri Pearson Correlation 1 Sig. besarnya koefisien korelasi tersebut bertanda positif. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada tabel berikut. demikian juga sebaliknya.566(**) Sosial Sig.

Dukungan Sosial Sig. lingkungan panti asuhan merupakan lingkungan sosial yang utama dalam mengadakan penyesuaian diri. Tanpa adanya penyesuaian diri yang baik.320 yang berarti penyesuaian diri remaja di Panti Asuhan Al Bisri Semarang dipengaruhi oleh dukungan sosial sebesar 32%. F Change . persepsi.908 1 38 Model R R Square Adjusted R Sguare 1 . . kondisi lingkungan dan lain sebagainya. sehingga tercapai hubungan yang harmonis antara diri dengan lingkungannya.320 . penyesuaian diri merupakan salah satu variabel penting yang membantu remaja menghadapi permasalahan dan berkembang secara optimal menuju kedewasaan.320 a Presictors: (Constant). 3. misalnya konsep diri. Penyesuaian diri merupakan suatu usaha yang dilakukan oleh individu untuk mempertemukan tuntutan diri sendiri dengan lingkungan. sikap. baik secara aktif maupun pasif yang melibatkan respon mental dan tingkah laku.18 Kontribusi Dukungan Sosial Terhadap Penyesuaian Diri Remaja Model Summary Std. kepribadian. Pembahasan Bagi remaja yang tinggal di panti asuhan.000 Terlihat dari tabel di atas bahwa nilai R-Square sebesar 0.566(a) . Pada remaja yang tinggal di panti asuhan. selebihnya dipengaruhi oleh faktor–faktor lain di luar penelitian ini. remaja khususnya di panti asuhan tidak akan mampu menyelesaikan konflik-konflik yang dialaminya di panti asuhan tersebut.96589 .91 Tabel 4. intelegensi. Error of the R Square Estimate Change 10.320 Change Statistics F df1 df2 Change 17.

Dalam penelitian ini aspek penyesuaian diri yang dominan pada remaja di panti asuhan adalah aspek penyesuaian pribadi (40% atau 16 orang remaja memiliki tingkat penyesuaian pribadi sedang). Hal ini mengindikasikan bahwa sebagian besar remaja di panti asuhan memiliki penyesuaian diri yang tergolong menengah ke bawah. 25% atau 10 orang remaja memiliki tingkat penyesuaian diri yang tinggi. Hal tersebut menunjukkan bahwa remaja di panti asuhan lebih berusaha untuk mengembangkan penyesuaian pribadi dibanding penyesuaian sosial. hanya ada sedikit remaja yang memiliki penyesuaian diri baik (hanya ada 30% remaja dengan penyesuaian diri tinggi dan sangat tinggi). 30% atau 12 orang remaja memiliki tingkat penyesuaian diri yang rendah dan 5% atau 2 orang remaja memiliki tingkat penyesuaian diri yang sangat rendah. Selebihnya 5% atau 2 orang remaja memiliki tingkat penyesuaian diri sangat tinggi.1 Diagram Penyesuaian Diri Remaja .92 Berdasarkan hasil penelitian diperoleh informasi bahwa penyesuaian diri remaja di Panti Asuhan Al Bisri Semarang tahun 2007 tergolong sedang yaitu sebanyak 35% atau 14 orang remaja dari 40 subjek yang diteliti. PENYESUAIAN DIRI REMAJA T 25 % ST 5% SR 5% R 30 % S 35 % Gambar 4.

93

Dalam mencapai penyesuaian diri secara maksimal, remaja di panti asuhan juga memerlukan dukungan sosial dari orang-orang terdekat di lingkungannya yaitu dari pengasuh dan teman-teman sesama penghuni panti asuhan. Hal ini sesuai dengan pendapat Winnubust dalam Smet (1994:133) yang mengatakan bahwa dukungan sosial tidak terlepas dari hubungan akrab, sehingga dari interaksi tersebut individu menjadi lebih tahu bahwa orang lain telah memperhatikan, mencintai dan menghargai dirinya. Dukungan sosial merupakan hubungan interpersonal yang di dalamnya berisi pemberian bantuan yang melibatkan aspek-aspek yang terdiri dari informasi, perhatian emosi, penilaian dan bantuan instrumental yang diperoleh individu melalui interaksi dengan lingkungan, dimana hal itu memiliki manfaat emosional atau efek perilaku bagi penerima, sehingga dapat membantu individu dalam mengatasi masalahnya. House dalam Smet (1994:136) menyatakan bahwa melalui dukungan emosional, dukungan penghargaan, dukungan instrumental serta dukungan informasi dapat bermanfaat bagi kesehatan dan kesejahteraan psikologis. Hasil analisis data menunjukkan bahwa dukungan sosial yang diperoleh remaja di Panti Asuhan Al Bisri Semarang tahun 2007 termasuk dalam kategori tinggi, terbukti dari 40 orang remaja yang diteliti sebanyak 32,5% atau 13 orang remaja dalam kategori tinggi. Selebihnya 2,5% atau 1 orang remaja memiliki tingkat dukungan sosial sangat tinggi, 30% atau 12 orang remaja memiliki tingkat dukungan sosial sedang, 25% atau 10 orang

94

remaja memiliki tingkat dukungan sosial rendah dan 10% atau 4 orang remaja memiliki tingkat dukungan sosial sangat rendah. Hasil analisis ini memberikan bukti empirik bahwa pengasuh dan teman-teman sesama penghuni panti asuhan telah memberikan dukungan sosial yang dirasakan secara memadai atau cukup kepada kebanyakan remaja di panti asuhan. Dalam penelitian ini, bentuk dukungan sosial yang memonjol pada remaja di panti asuhan adalah dukungan informasi, seperti pemberian nasehat, petunjuk dan saran dari pengasuh dan teman-teman sesama penghuni panti asuhan. Cohen dalam Shinta (1995:40) menyatakan bahwa pemberian dukungan informasi dapat membantu individu untuk merubah situasi dan merubah pemahaman dari situasi, sehingga mempengaruhi penilaian stresnya.

DUKUNGAN SOSIAL
T 32.5 % ST 2.5% SR 10 % R 25 %

S 30 %

Gambar 4.2 Diagram Dukungan Sosial

95

Masalah penyesuaian diri remaja bisa timbul bukan saja disebabkan oleh dukungan sosial kepada remaja, menurut Hariyadi, dkk (1995:110) banyak faktor yang bisa mempengaruhi antara lain : faktor internal seperti motif, konsep diri, sikap, intelegensi, minat, kepribadian dan faktor eksternal seperti kondisi sekolah, teman sebaya dan sebagainya. Jika hal-hal tersebut dibiarkan tanpa ada perhatian dapat meningkatkan masalah dalam penyesuaian diri remaja. Sumbangan efektif dukungan sosial sebesar 32% yang ditunjukkan oleh nilai R-Square sebesar 0,320, berarti masih terdapat 68% faktor lain yang mempengaruhi penyesuaian diri. Dukungan sosial merupakan faktor dominan yang mempengaruhi penyesuaian diri, walaupun demikian terdapat faktor-faktor lain yang perlu dipertimbangkan juga dalam upaya pengembangan penyesuaian diri remaja di panti asuhan. Berdasarkan hasil analisis data diperoleh nilai koefisien korelasi (rxy) sebesar 0,566 (sig = 0,000, p < 0,01). Hal ini berarti ada hubungan positif yang signifikan antara dukungan sosial dengan penyesuaian diri remaja di Panti Asuhan Al Bisri Semarang tahun 2007. Semakin tinggi dukungan sosial maka semakin tinggi pula penyesuaian dirinya, sebaliknya semakin rendah dukungan sosial maka semakin rendah pula penyesuaian dirinya. Dengan demikian hipotesis yang diajukan oleh peneliti diterima. Bagi remaja panti asuhan, lingkungan panti asuhan merupakan lingkungan sosial utama yang dikenalnya dan merupakan sumber

96 dukungan sosial yang utama. sehingga dirinya memiliki kemampuan untuk mengadakan penyesuaian diri secara harmonis. sehingga dukungan sosial yang dirasakan oleh remaja di Panti Asuhan Al Bisri Semarang lebih cenderung berasal dari pengasuhnya. tingkat penyesuaian diri yang rendah sebanyak 3 orang remaja dan sangat rendah sebanyak 1 orang remaja. Lebih lanjut berdasarkan hasil penelitian tampak bahwa nilai rerata atau mean dari dukungan sosial yang bersumber dari pengasuh (mean=3. Studi pendahuluan menunjukkan bahwa dari 5 orang remaja panti asuhan memiliki tingkat dukungan sosial yang tinggi sebanyak 1 orang remaja. dan yang rendah sebanyak 2 orang remaja. sedangkan tingkat penyesuaian diri yang sedang sebanyak 1 orang remaja. baik terhadap diri sendiri maupun lingkungan. Apabila remaja panti asuhan mendapat cukup banyak dukungan sosial dari lingkungannya baik dari pengasuh maupun teman-teman di panti asuhan dalam bentuk apapun akan membuatnya mampu mengembangkan kepribadian yang sehat dan memiliki pandangan positif. yaitu dukungan sosial tergolong tinggi dan penyesuaian diri tergolong sedang. Hal ini menunjukkkan bahwa studi pendahuluan dari 5 orang remaja tersebut tidak sesuai dengan hasil penilitian secara umum.1197) lebih besar dibandingkan dengan nilai rerata atau mean dukungan sosial yang bersumber dari teman (mean=2. Dukungan sosial tersebut remaja dapatkan dari pengasuh dan teman-teman sesama penghuni panti asuhan.8984). tingkat dukungan sosial yang sedang sebanyak 2 orang remaja. .

sehingga 5 orang remaja tersebut lebih berusaha untuk mengembangkan penyesuaian pribadi dibanding penyesuaian sosial. berbeda dengan apa yang dirasakan oleh 5 orang remaja tersebut yang tergolong sedang dan rendah. Hal ini menunjukkan bahwa dukungan sosial dari pengasuh dan teman-teman sesama penghuni panti asuhan dirasakan kurang memadai bagi 5 orang remaja tersebut. namun tetap saja mereka seringkali menunjukkan perilaku malu-malu. rendah dan sangat rendah). Hal ini menunjukkan bahwa 5 orang remaja tersebut kurang mengembangkan penyesuaian sosial. . menarik diri. Terbukti dari hasil penelitian bahwa aspek penyesuaian diri yang lebih dominan pada remaja di panti asuhan adalah aspek penyesuaian pribadi (40 % atau 16 orang remaja memiliki tingkat penyesuaian pribadi sedang). Diungkap lebih lanjut berdasarkan wawancara yang dilakukan oleh peniliti bahwa remaja di panti asuhan yang sudah lama tinggal di panti biasanya memiliki relasi yang dekat dengan teman-teman di panti dan pengasuhnya. Hasil ini menunjukkan bahwa penyesuaian diri yang dimiliki 5 orang remaja tersebut tergolong menengah ke bawah (70 % remaja dengan penyesuaian diri sedang. berbeda dengan apa yang dimiliki oleh 5 orang remaja tersebut yang tergolong rendah dan sangat rendah.97 Dukungan sosial yang dirasakan sebagian besar remaja secara umum tergolong tinggi. pencemas khususnya saat beradapan dengan orang lain yang masih baru. Penyesuaian diri yang dimiliki sebagian besar remaja secara umum tergolong sedang.

Rata-rata remaja di Panti Asuhan Al Bisri Semarang memiliki tingkat dukungan sosial yang tinggi yaitu sebanyak 32% atau 13 orang remaja. 98 . Selengkapnya dapat dilihat dari data sebagai berikut : 5% atau 2 orang remaja memiliki tingkat penyesuaian diri yang sangat tinggi.5% atau 13 orang remaja memiliki tingkat dukungan sosial yang tinggi. 25% atau 10 orang remaja memiliki tingkat penyesuaian diri yang tinggi. 32. Selengkapnya dapat dilihat dari data sebagai berikut : 2.98 BAB V SIMPULAN DAN SARAN A. 25% atau 10 orang remaja memiliki tingkat dukungan sosial yang rendah dan 10% atau 4 orang remaja memiliki tingkat dukungan sosial yang sangat rendah. 30% atau 12 orang remaja memiliki tingkat dukungan sosial yang sedang. Kesimpulan Berdasarkan hasil analisis data dan pembahasan yang telah dilakukan dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut : 1. 35% atau 14 orang remaja memiliki tingkat penyesuaian diri yang sedang. 30% atau 12 orang remaja memiliki tingkat penyesuaian diri yang rendah dan 5% atau 2 orang remaja memiliki tingkat penyesuaian diri yang sangat rendah. 2. Rata-rata remaja di Panti Asuhan Al Bisri Semarang memiliki tingkat penyesuaian diri yang sedang yaitu sebanyak 35% atau 14 orang remaja.5% atau 1 orang remaja memiliki tingkat dukungan sosial yang sangat tinggi.

agar memiliki penyesuaian diri yang baik hendaknya remaja lebih berupaya untuk mengembangkan penyesuaian diri yang baik dalam lingkungannya. Ada hubungan positif yang signifikan antara dukungan sosial dengan penyesuaian diri remaja di Panti Asuhan Al Bisri Semarang tahun 2007 (indeks korelasi rxy = 0. analisis data dan kesimpulan yang telah diambil. Artinya semakin tinggi dukungan sosial maka semakin tinggi pula penyesuaian dirinya.01). bertanggungjawab dan bisa menempatkan diri sebagaimana mestinya. sehingga mudah menyesuaikan diri dimanapun berada dan mampu mengembangkan semua potensi pada diri secara . sebaliknya semakin rendah dukungan sosial maka semakin rendah pula penyesuaian dirinya. misalnya tidak menggantungkan diri pada orang lain. Saran Berdasarkan hasil penelitian. Bagi Remaja di Panti Asuhan Remaja di Panti Asuhan Al Bisri Semarang rata-rata memiliki tingkat penyesuaian diri yang tergolong sedang.566.320 yang berarti bahwa 32% variabel dukungan sosial mempunyai sumbangan terhadap variabel penyesuaian diri dan sisanya sebesar 68% dipengaruhi oleh faktor lain.99 3. p < 0. Remaja diharapkan dapat memahami arti penting dari penyesuaian diri dan dapat mengambil nilai-nilai yang positif. B. Penelitian ini juga menghasilkan koefisien determinasinya (R Square) sebesar 0. maka penulis mengajukan saran-saran sebagai berikut : 1.

100 optimal serta diterapkan dan diwujudkan melalui hubungan dalam kehidupan sehari-hari. hendaknya masalah dukungan sosial yang mempengaruhi penyesuaian diri remaja senantiasa diperhatikan oleh pihak panti asuhan. Mengingat latar belakang remaja yang masuk ke panti asuhan adalah remaja dengan latar belakang keluarga. . 2. ekonomi dan lain sebagainya yang kurang menguntungkan. Hal ini dapat ditempuh dengan cara yaitu rasio jumlah antara pengasuh dan jumlah anak asuh hendaknya juga mendapatkan perhatian yang serius. sehingga anak asuh merasa mendapatkan pengganti keluarganya. sehingga sangat membantu pembentukan diri untuk menuju alam kedewasaan. Bagi Pihak Panti Asuhan Remaja di Panti Asuhan Al Bisri Semarang rata-rata memiliki tingkat penyesuaian diri yang tergolong sedang. maka hubungan individual secara pribadi dan hangat kurang memungkinkan untuk dijalin. maka hendaknya panti asuhan sebagai keluarga dapat menciptakan situasi yang menyenangkan bagi anak asuhnya. mengingat ketidakseimbangan antara jumlah pengasuh dan anak asuh yang terlalu besar. Panti asuhan sebaiknya menyediakan pengasuh yang dapat meluangkan waktu secara intensif dan memiliki selisih usia yang tidak terlalu jauh dengan remaja agar proporsional dalam mengasuh remaja tersebut.

101 3. sikap. kondisi sekolah. Bagi Peneliti Lain Peneliti yang tertarik melakukan penelitian lebih lanjut yang berkaitan dengan penyesuaian diri hendaknya menggunakan populasi yang lebih luas dan memperhatikan faktor-faktor lain yang mempengaruhi penyesuian diri. intelegensi. misalnya konsep diri. teman sebaya dan lain sebagainya. . kepribadian.

Sekolah dan Masyarakat. Semarang : IKIP Semarang Press Hartini. 1997. Volume 14. 2001. Baverly Hills: Sage Publications Hariyadi. Jakarta: Rineka Cipta Davidoff.F.R. Panduan Pelaksanaan Pembinaan Kesejahteraan Sosial Anak Melalui Panti Sosial Asuhan Anak. 1995. Penyusunan Skala Psikologi. Psikologi Tentang Penyesuaian dan Hubungan Kemanusiaan. Yogyakarta: Pustaka Pelajar Offset Calhoun. Volume 3.A. Bandung : PT Eresco Gottlieb. Psikologi Perkembangan. S. E. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek. 1991. Deskripsi Kebutuhan Psikologi Pada Anak Panti Asuhan. M. Insan Media Psikologi. 1977. W.H. Departemen Sosial Republik Indonesia. Psikologi Sosial.. Psikologi Keluarga. Jakarta : Bulan Bintang 1982. Jakarta : Erlangga Departemen Pendidikan Nasional. 1983.. New York : Mc Graw Hill Dagun. S.102 DAFTAR PUSTAKA Arikunto. Alih Bahasa : Mari Jumiati. Anima. S. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Kesehatan Jiwa Dalam Keluarga. N. S. 2004. 1999. Perkembangan Peserta Didik. Z. Psikologi Suatu Pengantar.. Jakarta : Erlangga Press . Halaman 109-118 Hurlock. B. 1995. E. Hubungan Antara Perilaku Coping dan Dukungan Sosial dengan Kecemasan pada Ibu Hamil Anak Pertama. Penyesuaian Diri. Jakarta : Rineka Cipta Azwar. Social Support Strategies Guidelines For Mental Health Practice. Nomor 2. 2001. dan Acocella. J.M. 2002. Jakarta (tidak diterbitkan) Effendi dan Tjahjono. Jakarta : Balai Pustaka. Nomor 54. Haryono.M. Suparwoto. Deliana. Alih Bahasa : Daradjat. Hendrarno. Jakarta: Bulan Bintang Gerungan. Jilid 2. Edisi ke-3. Jilid 1. 2002. Halaman 214-227 Fahmi. 2003. J. S. 1996.

Huston.B. Alih Bahasa : Chausairi. 2001. Halaman 70-81 Kartono. No. Health Psikologi : Biopsychosocial Interaction. A. Kagan.S. USA : John Willey and sons Schneiders. 2002. www. Volume 9. Bandung : Mandar Maju Kuntjoro. Halaman 1-7 Smet. 2002. 1994.M. Live Span Development (Perkembangan Masa Hidup). Kualitas Hidup Penderita Penyakit Jantung Pasca Serangan Jantung Ditinjau Dari Dukiungan Sosial dan Interval Waktu. Z. D. J.com Shinta. K. 1994. Jakarta: Gramedia Mu’tadin. Alih Bahasa: Meitasari. Psikologi Perkembangan Pengantar Dalam Berbagai Bagiannya. 1995. Psikodimensia (Kajian Ilmiah Psikologi). Nomor 2. J. Penyesuaian Diri Remaja. Perilaku Coping dan Dukungan Sosial Pada Pemuda Penganggur Studi Deskriptif terhadap Pemuda Penganggur di Perkotaan. 237-245 Pramudiani. A. Yogyakarta: Gajah Mada University Press Mussen. J. Jakarta : Erlangga Sarafino. 2002. A. Anima. Jurnal Psikologi Sosial. B. Nomor 1.W.H. D. Perkembangan Peserta Didik. 2002. P. Jakarta : Rineka Cipta .P.highbeam. Nomor 2. Self Adjustment. 2000. Haditono. XI. Hubungan Antara Dukungan Sosial Yang Diterima Secara Nyata Dengan Ada Atau Tidaknya Gangguan Depresi Pasca Persalinan pada Ibu Dewasa Muda. 43. 2004. Hubungan Antara Kemampuan Penyesuaian Diri Terhadap Tuntutan Tugas dan Hasil Kerja. Hal. www. L.R. Perkembangan dan Kepribadian Anak. Knoers. Volume 8. www. Nomor 1.C.com Oktavia.. Arkhe (Jurnal Ilmiah Psikologi). Psikologi Kesehatan. Jakarta : PT Grasindo Sunarto dan Hartono. Volume 1. 1998.. Conger. dan Basri.com Monks. Edisi 5.e-psikologi. E. F.J. A.. Z. 2002. Jurnal Psikologi Indonesia. Penyesuaian Diri Perempuan Pekerja Seks dalam Kehidupan Sehari-hari. halaman 118-122 Santrock.. 1996.S. T. Hygiene Mental. 2007. Vol.e-psikologi. S. Dukungan Sosial Pada Lansia.103 Hutabarat.J. A.. Halaman 15-22 Pramadi. 1989.

Jakarta : Rineka Cipta . 2001. Kesehatan Mental Dalam Kehidupan. Jakarta : Rineka Cipta Wirawan. S.104 Sundari. Psikologi Remaja. 2005.

105 .

106 INSTRUMEN SKALA PENELITIAN SKALA A DUKUNGAN SOSIAL SKALA B PENYESUAIAN DIRI .

Bila anda merasa sangat tidak sesuai dengan pernyataan yang diajukan. jika anda memberikan jawaban sesuai dengan keadaan atau perasaan Anda yang sebenarnya. Kami sangat menjaga kerahasiaan jawaban anda. 2. Semua jawaban adalah benar. Kemudian jawablah semua pernyataan sesuai dengan keadaan atau perasaan anda yang sesungguhnya. Teliti kembali pekerjaan anda. 4. Pilih salah satu dari 4 (empat) jawaban yang tersedia : SS S TS STS Bila anda merasa sangat sesuai dengan pernyataan yang diajukan. sehingga tidak ada jawaban yang dianggap salah. Berilah tanda silang (X) pada jawaban yang anda pilih. Saya suka warna kuning. Informasi yang anda berikan melalui pengisian skala ini tidak berdampak pada siapa-siapa. 5. Dalam hal ini tidak ada penilaian benar atau salah. jangan ada satu pernyataan yang terlewatkan. Contoh : No Pernyataan 1. SS S TS STS Saya suka warna kuning. Bila anda merasa sesuai dengan pernyataan yang diajukan. Contoh : Jawaban No Pernyataan 1. berilah tanda sama dengan (=). baik atau buruk. Atas partisipasi dan kesediaan anda untuk mengisi skala ini.107 Nama Usia Jenis kelamin Pendidikan : : : L/P : SMP / SMU PETUNJUK PENGISIAN SKALA A DAN B 1. “SELAMAT MENGERJAKAN” . kami mengucapkan banyak terima kasih. Baca dan pahami baik-baik setiap pernyataan berikut. kemudian buatlah tanda silang (X) pada jawaban yang baru. 6. 7. 3. SS Jawaban S TS STS Bila hendak mengganti jawaban. Bila anda merasa tidak sesuai dengan pernyataan yang diajukan.

Pengasuh menyediakan ruang untuk belajar yang cukup nyaman. Teman-teman di panti menolak ketika saya ingin meminjam uang untuk membeli buku. 4. Pengasuh tidak mendukung terhadap tindakan-tindakan saya. 3. teman-teman di panti SS S TS STS mentertawakan saya. Meskipun saya meminta. 14. 9. pengasuh selalu mengingatkan saya untuk minum obat. Pengasuh memberikan pujian atas prestasi yang telah saya raih. Pengasuh selalu mendorong saya untuk giat belajar. 10. Pengasuh memberi nasehat agar saya menjadi orang yang berguna. 12. pengasuh jarang membelikan SS S TS STS SS S TS STS SS S TS STS SS S TS STS SS S TS STS SS S TS STS SS SS S S TS STS TS STS SS S TS STS SS S TS STS SS S TS STS SS S TS STS . 8. 13. Jika saya menangis. SS JAWABAN S TS STS 2.108 SKALA A NO 1. Pengasuh membiarkan saya walaupun saya pulang terlambat dari sekolah. PERNYATAAN Setiap ucapan dan sikap pengasuh menunjukkan kasih sayang. Pengasuh membelikan buku-buku pelajaran yang saya perlukan. Pengasuh selalu membedakan saya dengan teman yang lain. 11. Ketika saya sakit. 6. Saya jarang mendapat teguran dari pengasuh atas kesalahan yang saya perbuat. 7. 5.

Saya jarang diberi kesempatan untuk menunjukkan kemampuan saya. Saya mendapat keterangan yang cukup tentang cara belajar yang baik dari pengasuh. Saat saya kecewa dengan nilai ulangan sekolah. pengasuh justru memarahi saya. 16. Saya tidak mempunyai tempat untuk bertanya tentang cara menyelesaikan masalah. 17.109 perlengkapan sekolah. SS S TS STS SS S TS STS SS S TS STS SS SS S S TS STS TS STS SS S TS STS SS S TS STS SS S TS STS SS S TS STS SS S TS STS SS S TS STS SS S TS STS SS S TS STS SS S TS STS SS S TS STS . 23. Pengasuh bersikap tertutup ketika saya meminta nasehat. 29. 25. 18. 21. Pengasuh mengajarkan pada saya agar tidak mudah putus asa. 20. Pengasuh senang jika saya melakukan pekerjaan dengan baik. Pada saat saya lalai menjalankan ibadah agama teman di panti mengingatkan. Teman di panti memberi nasehat bila saya melakukan kesalahan. 24. 22. 26. Teman-teman di panti tidak pernah mengucapkan selamat di hari ulang tahun saya. Teman di panti selalu menghibur apabila saya sedang sedih. Teman-teman di panti selalu mencela kesalahan yang saya lakukan. Teman di panti keberatan saat saya meminjam alat tulisnya. 15. Teman-teman di panti mau meminjamkan buku catatan saat saya tidak masuk sekolah. Semua peralatan tersedia di panti asuhan. 27. 28. 19.

Saya dan teman-teman di panti saling memberi semangat untuk mencapai masa depan yang lebih baik. Teman-teman di panti turut prihatin bila saya sedang sakit. SS S TS STS 44. SS S TS STS 41. SS S TS STS 37. tidak ada teman di panti yang memberikan saran. Pengasuh menolak saat saya meminta sepatu baru untuk mengganti yang sudah rusak. Saat saya bimbang. SS S TS STS 36. SS S TS STS 43. Teman-teman di panti kurang mendukung keputusan yang saya ambil.110 30. SS S TS STS 42. Uang saku sekolah saya hanya cukup untuk biaya transportasi saja. Saya mendapat saran dari pengasuh di saat saya bimbang untuk menentukan suatu pilihan. Jika saya kesulitan mengerjakan tugas. Teman-teman di panti menganggap pendapat saya tidak penting. Pengasuh jarang memberi jalan pemecahan bila terjadi permusuhan dengan teman di panti asuhan. Pengasuh kurang memahami atas kesulitan yang saya alami dalam pelajaran. SS S TS STS 33. Teman-teman di panti suka mengabaikan pendapat saya. SS S TS STS 32. SS S TS STS 40. SS S TS STS . Pengasuh selalu mengajarkan pada saya mengenai sopan santun. SS S TS STS 34. SS S TS STS 38. SS S TS STS 39. teman di panti meminjamkan buku pelajaran. Pengasuh sering menanyakan perkembangan prestasi yang saya peroleh di sekolah. Ketika mendapat nilai yang bagus. SS S TS STS 31. teman-teman di panti memberi selamat pada saya. SS S TS STS 35.

Saat saya sakit. Pengasuh menjelaskan tentang alasan pentingnya saya mengikuti kegiatan keagamaan. pengasuh mengantar saya untuk periksa ke dokter. Di panti asuhan tersedia sarana olah raga yang saya butuhkan. 55. SS SS S S TS STS TS STS 56. SS S TS STS 49. SS S TS STS 54. Teman-teman di panti meyakinkan saya agar saya selalu percaya diri. Kelemahan yang saya miliki sering menjadi bahan ejekan teman di panti. SS S TS STS 53. Pengasuh jarang membantu saya memahami hal-hal yang belum saya ketahui. Panti asuhan menyediakan buku-buku bacaan.111 45. SS SS S S TS STS TS STS 58. Pengasuh tidak memberi saya obat ketika saya sakit. SS S TS STS . Pengasuh jarang memberi uang untuk jajan. 47. SS SS SS S S S TS STS TS STS TS STS 48. saya kurang ditanggapi oleh SS S TS STS 51. 46. 59. Teman di panti mencela bila saya melakukan kesalahan. Teman-teman di panti mennyakan keadaan saya bila terlihat berbeda dari biasanya. SS S TS STS 50. SS S TS STS 52. Pengasuh menganjurkan agar saya lebih bersabar dalam menghadapi masalah. Keluhan-keluhan pengasuh. Pengasuh selalu mendukung saya untuk menjadi pribadi yang mandiri. SS SS S S TS STS TS STS 60. 57. Pengasuh tidak peduli ketika saya menghadapi masalah. Teman-teman di panti enggan berbagi pengetahuan dengan saya.

6. PERNYATAAN Saya menyukai diri saya sendiri seperti apa adanya. 17. Saya seringkali kurang bisa berhati-hati dalam SS SS SS S S S TS STS TS STS TS STS bertindak. Saya selalu melakukan sesuatu sesuai dengan SS S TS STS kemampuan yang saya miliki. Saya memilih untuk pergi pada saat pengasuh membutuhkan bantuan saya. 14. 13. Apabila bertemu pengasuh. 3. 7. Saya merasa malu karena tinggal di panti asuhan. Setiap ada kegiatan di panti asuhan. Bagaimana pahitnya kehidupan. 11. 12. 16. 5. Saya menghargai pendapat teman di panti meski tidak sesuai dengan pendapat saya. Saya merasa sedikit sekali teman di panti yang mau membantu saya. Saya sering mencela hasil karya teman di panti yang kurang bagus. saya turut berpartisipasi walaupun tidak disuruh. 8. Saya turut berbahagia bila ada teman di panti yang berprestasi. Saya jalankan semua peraturan panti asuhan sekalipun SS SS S S TS STS TS STS SS S TS STS SS S TS STS SS S TS STS SS S TS STS SS S TS STS SS S TS STS SS SS S S TS STS TS STS . saya selalu menyapa terlebih dulu. akan saya hadapi apa adanya. 10. Saya sulit menentukan apa yang baik bagi diri saya. Saya tidak berani berpendapat di depan umum.112 SKALA B NO 1. Jika saya sedih saya tidak akan murung. 15. SS SS SS JAWABAN S S S TS STS TS STS TS STS 4. Saya dilahirkan sebagai anak yang kurang beruntung. 9. 2.

SS S TS STS SS S TS STS SS S TS STS SS S TS STS . 32. Saya dapat mengungkapkan kemarahan secara wajar. Kekurangan yang ada dalam diri saya sangat SS SS S S TS STS TS STS SS S TS STS menghambat cita-cita saya. Meskipun mendapat tugas yang sulit. saya dapat menerima sebagai wujud kasih sayang pengasuh. Saya tetap bergaul dengan teman-teman di panti yang memiliki banyak kekurangan. Saya tidak tahu apa yang harus saya lakukan setelah keluar dari panti asuhan. 29. 25. 19. Apabila teman di panti sedang sedih. 33. 21. 27. Bila saya berbuat salah. Saya kecewa bila teman-teman di panti tidak bersedia membantu saya. Saya menolak hukuman yang diberikan pengasuh atas kesalahan yang saya perbuat. 20. saya enggan untuk minta maaf. 24. Saya membiarkan teman di panti yang sedang mengalami kesulitan karena saya mengalami hal yang sama. 28. Saya ikut menyumbangkan pikiran dalam suatu diskusi. Saya merasa keberatan untuk menerima keputusan yang berbeda dengan pendapat saya. 26. 31. 23. Bila pengasuh memarahi saya. saya berusaha untuk menyelesaikannya. Saya merasa bahwa pengasuh memberi pertolongan karena kasihan. 18. 22. Saya memiliki bakat yang bisa saya kembangkan.113 itu berat. saya SS SS S S TS STS TS STS SS S TS STS SS S TS STS SS S TS STS SS SS S S TS STS TS STS SS S TS STS SS S TS STS menghiburnya. Teman-teman di panti suka menceritakan masalahnya kepada saya. 30.

Saya merasa frustrasi bila menghadapi tugas yang sulit. Ketika menghadapi masalah. SS SS S S TS STS TS STS . Bila ada teman di panti yang mengejek. Saya merasa bahwa saya orang yang kurang berharga. saya berusaha diam dan tidak membalasnya. saya memperbaikinya kembali. SS S TS STS 35. saya selalu bersikap tenang. Kegagalan merupakan pelajaran berharga bagi saya untuk menjadi lebih baik. SS S TS STS 48. SS S TS STS 41. Saya bosan menjalankan aktivitas yang ada di panti asuhan. SS SS S S TS STS TS STS 37. Saya minta ijin dahulu jika ingin meminjam sesuatu. SS S TS STS 42. Menurut saya. 49. SS S TS STS 45. SS SS S S TS STS TS STS 40. 39. Saya bisa menerima kekurangan yang ada dalam diri saya.114 34. Saya merasa sesuatu yang saya kerjakan seringkali gagal. SS S TS STS 44. Saya lebih suka sendirian daripada bermain dengan teman-teman. SS S TS STS 38. semua komentar teman di panti mengenai saya adalah bertujuan membuat saya lebih baik. Saya akan memperbaiki kesalahan yang telah saya perbuat. 36. SS S TS STS 46. Saya langsung marah bila ada teman di panti yang mengejek saya. SS S TS STS 43. SS S TS STS 47. Saya sering berkhayal ingin dilahirkan kembali sebagai anak orang kaya. Bila mengalami kegagalan. Saya selalu memaksakan diri untuk meraih sesuatu yang tidak mungkin saya capai.

Saya tidak mentertawakan teman di panti yang sedang menangis. Saya senantiasa melaksanakan piket harian. Saya tetap berusaha mendengarkan pembicaraan teman di panti meski membosankan. Saya aktif mengikuti kegiatan keagamaan di panti asuhan. SS S TS STS 58. Saya hanya senang bermain dengan teman di panti yang lebih pandai. SS S TS STS 54. SS S TS STS 57. Di panti asuhan. Saya tidak yakin dengan kemampuan yang saya miliki. SS S TS STS 59. SS S TS STS 53. SS S TS STS 55. Saya lebih senang menghabiskan waktu luang bersama teman-teman di panti. Saya mencari-cari alasan jika ada kerja bakti karena menurut saya hal itu membosankan. SS SS S S TS STS TS STS . 60. saya hanya bermain dengan teman dekat saja. 51. SS SS S S TS STS TS STS 52. SS S TS STS 56. Peraturan yang ada di panti asuhan membebani aktivitas sehari-hari. Saya tidak memberi ucapan selamat bila ada teman di panti yang menjadi juara.115 50.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->