Penerapan Iptek Dari sudut pandang ajaran Agama Islam Oleh : H.

Mas’oed Abidin Ketua Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia Perwakilan Sumatera Barat - Padang

1

Mukaddimah
Firman Allah dalam QS. 3, Ali Imran : 110, artinya, “Kamu adalah umat yang paling baik (khaira ummah, umat pilihan), yang dilahirkan untuk kepentingan manusia; menyuruh mengerjakan yang benar dan melarang membuat salah, serta beriman kepada Allah. Sekranya orang-orang keturunan Kitab itu beriman, sesungguhnya itu baik untuk mereka. Sebahagian mereka beriman, tetapi kebanyakannya orang-orang yang jahat”. Ayat ini menjelaskan beberapa hal, (1) Umat dengan ajaran Islam adalah umat pilihan, terbaik. (2) Bila keturunan Kitab sebelumnya mau beriman kepada apa yang dibawa Muhammad, yakni dinul Islam , tentu mereka akan lebih baik dari umat ini. (3) Tetapi mereka menolak, kufur, dan sebahagian lagi jahat, menolak ajaran Allah SWT. Disinilah terdapat tantangan disamping peluang terhadap umat pilihan (umat Islam) sepanjang masa dalam meniti setiap perubahan zaman.

Umat Pilihan
Khaira ummah menjadi identitas umat Islam. Ditandai sikap istiqamah (Konsisten) dengan perangai utama. 1. Tetap membawa, menyeru, mengajak umat kepada yang baik, amar makruf. 2. Melarang membuat salah, nahyun ‘anil munkar. 3. Tetap beriman dengan Allah. Amar makruf, hanya terlaksana dengan ilmu pengatahuan. Ketika manusia pertama diciptakan, diberikan beberapa perangkat ilmu 2. Mengemban misi mulia, khalifah di permukaan bumi3.

1

Makalah, disampaikan dalam Penataran Siswa Pendamping Pesantren Kilat Tingkat Nasional Regional I, diselenggarakan di Asrama Haji Prop. Sumbar, Jalan Garuda Parupuk Tabing, Minggu, 2 Juli 2000 oleh Dirjen Pendidikan Dasar dan Menengah Direktur Pembinaan Kesiswaan Departemen Pendidikan Nasional, berdasarkan surat No. 428/C8/LL/1999 tanggal 22 Juni 2000. 2 Di ajarkan pertama sekali pengenalan terhadap nama, sifat sesuatu dari alam, yang tidak diberikan kepada makhluk lainnya termasuk malaikat. Lihatlah dengan jelas dialog Allah dengan para malaikat tatkala penciptaan manusia pertama (Adam), seperti tertera dalam QS.2, Al Baqarah : 30-35). 3 Khalifah, dalam arti sederhana adalah wakil Tuhan menjadi penguasa di bumi, makna lebih jauh adalah sebagai makhluk yang dipilih untuk membangun, memajukan dan menjadikan bumi (dunia) ini lebih berdaya guna. Sebenarnya, manusialah yang mempunyai kewajiban memakmurkan kehidupan dimuka bumi ini. Alam yang lainnya, seperti tumbuh-tumbuhan, binantang, mineral yang terkandung didalam perut bumi, apa yang ada diatasnya, termasuk udara dan planit, atmosfir, adalah alat Bantu bagi manusia untuk menciptakan kebaikan dalam memelihara kelangsungan hidup dunia ini.

1

Halal Dan Haram
Nahyun ‘anil munkar, melarang dari yang salah, memerlukan ilmu pengetahuan tentang makruf dan munkar itu. Makruf dan munkar 4 sesuai dengan martabat manusia. Patokan makruf (baik, disuruh) dan munkar (salah, terlarang) dipagari oleh halal (right, benar) dan haram (wrong, salah). Jadi bukan like or dislike (suka atau tidak). Kerancuan menerapkan benar dan salah dalam kehidupan sehari-hari terutama disebabkan • Kurangnya ilmu pengetahuan tentang right dan wrong itu, • Kebiasaan meninggalkan ajaran agama, • Tidak teguh (tidak istiqamah) menjalankan right dan wrong.

Peran Sentral Ilmu Pengetahuan
Ayat pertama turun adalah (Iqra’, artinya baca).5 Sebagai dasar ilmu sesuai wahyu memiliki beberapa keistimewaan, a. Yang mengetahui pengertian ayat-ayat mutasyabihat hanyalah Allah dan orang-orang yang dalam ilmunya (QS.2,al Baqarah : 7). b. Orang berilmu mengakui bahwa tidak ada Tuhan selain Allah (QS.3:18) c. Diatas orang berilmu, masih ada lagi yang Maha Tahu, (QS.12:76). d. Bertanyalah kepada ahli ilmu kalau kamu tidak tahu, (QS.16:43, dan 21:7). e. Jangan engkau turut apa-apa yang engkau tidak mempunyai ilmu tentang itu (QS.17:36). f. Kamu hanya mempunyai ilmu tentang ruh sedikit sekali (QS.17:85). g. Memohonlah kepada Allah supaya ilmu bertambah (QS.20:114). h. Ilmu mereka (orang yang menolak ajaran agama) tidak sampai tentang akhirat (QS.27:66). i. Hanyalah orang-orang berilmu yang bisa mengerti (QS.29:43) j. Yang takut kepada Tuhan hanyalah orang-orang berilmu (QS.35:28) k. Tuhan meninggikan orang-orang beriman dan orang-orang berilmu beberapa tingkatan (QS.58:11). l. Tuhan mengajarkan dengan pena (tulis baca) dan mengajarkan kepada manusia ilmu yang belum diketahuinya (QS.96:4-5).

Identitas diri (self Confidence).
Umat pengamal wahyu Allah (Islam) pemilik identitas (ciri, sibghah) yang jelas. Menguasai ilmu pengetahuan. Mereka adalah innovator, memiliki daya saing, imagination, kreatif, inisiatif, teguh dalam prinsip (istiqamah, consern), berfikir objektif dan mempunyai akal budi. Teknologi hanyalah suatu keterampilan, hasil dari ilmu pengetahuan berkenaan dengan teknik, serba mesin itu. 6
4

Amar Makruf Nahi Munkar, artinya menyuruh berbuat baik dan melarang berbuat salah (QS.3,Ali Imran:104,114; QS.5, Al Maidah: 78-79; QS.9,At Taubah :71,112; QS.22, Al Hajj:41; QS.31,Luqman:17). 5 Membaca dan menulis adalah jendela ilmu pengetahuan. Dan dalam QS. 96, Al ‘Alaq 1-5, jelas bahwa dengan membaca dan menulis manusia akan mendapatkan ilmu pengetahuan yang sebelumnya tidak menerka ketahui (‘allamal-insana maa lam ya’lam). Ilham dan ilmu belum berakhir, dengan turunnya wahyu Allah. Wahyu Allah lebih berfungsi sebagai sinyal-sinyal dan dorongan kepada manusia untuk menambah pendalaman dan pemahamannya sehingga mempu membaca setiap perubahan zaman dan pergantian masa. 6 Lihat KBIK, Peter Salim dkk., Modern English Press, Jakarta, Edisi kedua 1995, hal 1565.

2

Teknologi tidak berarti apa-apa bila manusia yang berada dibelakangnya tidak berfungsi (tidak berperan dan mati). Sebelum teknologi dihidupkan, terlebih dahulu wajib dihidupkan dhamir manusia pengguna perangkat teknologi itu. Agar hasil perolehan berbingkai teknologi itu bermanfaat untuk hidup manusia. Pemilik ilmu pengetahuan semestinya mampu mencipta dan menampilkan teknologi ditengah kehidupan dunia menyeluruh, global, tanpa merusak harkat manusia melalui produk ciptaan teknologi tersebut. Disini sebenarnya arti penerapan Iptek dari sudut pandang agama Islam. Iptek menjadi musuh bagi kemanusian bila hasilnya menghancurkan harkat martabat (derajat) manusia. Iptek menjadi sangat penting teramat berguna dalam upaya meningkatkan taraf hidup manusia. Perlu ada saringan penggunaan iptek itu. Saringannya adalah agama, akal budi, akhlaq karimah, adat kebiasaan yang di Minangkabau disebut adat basandi syarak, syarak basandi Kitabullah, sebagai aspek kultur penggerak dan pengendali teknologi dimaksud. Khulasah 1. Memelihara keteguhan tempat tegak ini sangat penting dalam menghadapi berbagai cabaran (penetrasi budaya asing) yang terjadi sekeliling penerapan teknologi tersebut. Dengan basis agama, budaya dan ilmu pengetahuan, maka kemajuan atau perubahan dengan penerapan iptek bagi bangsa ini akan berhasil membawa bangsa ini menjadi kuat dan tidak akan membahayakan. “Mereka tidak akan berbahaya kepada kamu, hanyalah gangguan-ganguan kecil saja. Kalau mereka memerangi kamu, niscaya mereka akan berputar kebelakang (lari). Seterusnya mereka tidak akan mendapatkan pertolongan” (QS.3:111). 2. Yang mesti dijaga, dalam penerapan iptek menurut ajaran Islam, adalah terjalinnya hubungan baik antara sesama manusia (hablum minan-nas), dan hubungan erat dengan aturan-aturan Allah (hablum minallah). Bila tidak, bahaya selalu mengancam !!! “Ditimpakan kepada mereka (manusia) kehinaan dimana saja mereka berada, kecuali mereka yang menjaga hubungan dengan Allah dan hubungan dengan manusia. Dan mereka kembali dengan mendapat murka dari Allah dan dirimpakan kepada mereka kelemahan (kemiskinan, berbagai krisis ekonomi). Demikian itu karena mereka tidak percaya kepada ayat-ayat keterangan Allah (meninggalkan syari’at agama) dan membunuh nabi-nabi dengan tidak patut (mengucilkan konsep-konsep agama dan membelakangi pemimpin agama, para ulama). Mereka mendurhaka dan melanggar batas”. (QS.3:112). 3. Bencana akan datang, mengiringi kemajuan dan penerapan iptek bila terjadi : a. Bebas nilai (not values) dan Atheis, tidak percaya kepada Allah, melecehkan perintah dan larangan agama. b. Putus hubungan kekerabatan, persaudaraan, persatuan dan hilangnya penghormatan sesama manusia. c. Meninggalkan syariat agama, tidak patuh dan rapuhnya law enforcement, d. Memusuhi alim ulama atau ilmuwan agama, e. Durhaka, tidak disiplin, hilangnya kesadaran hukum, f. Anarkis, melampaui batas. Semoga Allah senantiasa menjadikan generasi kedepan berilmu dan mampu mengamalkan ilmunya, teguh aqidah dan baik budi pekertinya. Amin.

3

Padang, Maret 2008.

4

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful