P. 1
DAMPAK~1

DAMPAK~1

4.69

|Views: 1,356|Likes:

More info:

Published by: H Masoed Abidin bin Zainal Abidin Jabbar on Jun 30, 2008
Copyright:Public Domain

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

05/09/2014

pdf

text

original

Dampak Globalisasi Memasuki Millenium Ketiga

Dampak Globalisasi Memasuki Millennium Ketiga
oleh H. Mas'oed Abidin Pendahuluan
Zaman senantiasa mengalami perubahan Begitulah Sunatullah. Yang Kekal hanyalah Sunnatullah, aturan yang telah ditetapkan oleh Allah, Maha pencipta. Menjelang berakhirnya alaf kedua dan memasuki abad baru, abad dua puluh satu sebagai awal millenium ketiga, ditemui suatu kenyataan, terjadinya lonjakan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi dengan pesat. Ditandai dengan lajunya teknologi komunikasi dan informasi (information technology)i. Suatu gejala yang disebut-sebut sebagai arus globalisasiii, "perdagangan bebas, dengan persaingan yang tinggi dan tajam. Era globalisasi akan terjadi perubahan-perubahan cepat. Dunia akan transparan, terasa sempit, dan seakan tanpa batas. Hubungan komunikasi, informasi, transportasi menjadikan satu sama lain menjadi dekat, sebagai akibat dari revolusi industri, hasil dari pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi.

Perubahan oleh Arus globalisasi 1. Menggeser Pola Hidup Masyarakat.
Dari agraris tradisional menjadi masyarakat industri modern. Dari kehidupan berasaskan kebersamaan, kepada kehidupan individualis. Dari lamban kepada serba cepat. Dari berasas nilai sosial menjadi konsumeris materialis. Dari tata kehidupan tergantung dari alam kepada kehidupan menguasai alam. Dari kepemimpinan formal kepada kepemimpinan (profesional). kecakapan

H. Mas’oed Abidin, Ketua Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia Sumbar – Padang.

1

Dampak Globalisasi Memasuki Millenium Ketiga

2. Pertumbuhan Ekonomi.
Globalisasi menyangkut masing-masing negara. langsung kepentingan sosial

Masing-masing akan berjuang memelihara kepentingannya, dan cenderung tidak akan memperhatikan nasib negara-negara lain. Kecenderungan ini bisa melahirkan kembali "Social Darwinism"iii. Kondisi ini mirip dengan kehidupan sosial budaya masyarakat jahiliyah, sebagaimana diungkapkan sahabat Ja'far bin Abi Thalib kepada Negus, penguasa Habsyi abad ke-7, yang nota bene berada di alaf pertama. Prilaku masyarakat Jahili itu antara lain mengagungkan materi (berhala), mengabaikan kaedah-kaedah halal-haram, memutus hubungan silaturrahim, berbuat anarkis dan kegaduhan terhadap masyarakat (tetangga, bangsa,negara), yang kuat menelan yang lemah.iv

Dampak Globalisasi
1. Globalisasi membawa banyak tantangan (sosial, budaya, ekonomi, politik dan bahkan menyangkut setiap aspek kehidupan kemanusiaan. 2. Globalisasi juga menjanjikan harapan-harapan dan kemajuan. Harapan dan kemajuan yang menjanjikan, adalah pertumbuhan ekonomi yang pesat, sebagai alat untuk menciptakan kemakmuran masyarakat. Indonesia sebagai bagian dari Asia Tenggara.v Apa artinya semua ini? Kita akan menjadi pasar raksasa yang akan diperebutkan oleh orang-orang di sekeliling. Bangsa kita akan dihadapkan pada "Global Capitalism". Kalau kita tidak hati-hati keadaan akan bergeser menjadi "Capitalism Imperialism" menggantikan "Colonialism Imperialis" yang sudah kita halau 50 tahun silam. Dengan "Capitalism Imperialism" kita akan terjajah di negeri sendiri tanpa kehadiran fisik si penjajah. 3. Globalisasi membawa perubahan prilaku, terutama pada generasi muda (para remaja).

3.1. Masalah Remaja
Dunia remaja kita akhir-akhir ini digoncangkan oleh fenomena kurang menggembirakan. a. Banyaknya tawuran pelajar, pergaulan a-susila dikalangan pelajar dan mahasiswa. Pornografi yang susah dibendung. Kalangan remaja dijangkiti kebiasaan bolos sekolah. b. Kesukaan terhadap minuman keras. H. Mas’oed Abidin, Ketua Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia Sumbar – Padang. 2

Dampak Globalisasi Memasuki Millenium Ketiga

c. Kecanduan terhadap ectasy (XTC), dan morfin.

menjadi budak kokain

d. Kesukaan judi dalam urban popular culture, musro, worldwide sing, dan sejenisnya. Para remaja cenderung bergerak menjadi generasi buih terhempas dipantai menjadi dzurriyatan dhi’afan suatu generasi yang bergerak menjadi “X-G” the loses generation dan tidak berani ikut serta didalam perlombaan ombak gelombang samudera globalisasi. Penyimpangan prilaku menjadi ukuran atas kemunduran moral dan akhlak. Hilangnya kendali para remaja, berakibat ketahanan bangsa akan lenyap dengan lemahnya remaja. Penyebab utama karena; a. rusaknya sistim, pola dan politik pendidikan. b. diperparah oleh hilangnya tokoh panutan, c. berkembangnya kejahatan orang tua, d. luputnya tanggung jawab lingkungan masyarakat, e. impotensi dikalangan pemangku adat, f. hilangnya wibawa ulama, g. bergesernya fungsi lembaga pendidikan menjadi bisnis, h. profesi guru dilecehkan. i. j.

3.2. Prilaku Umat.

Terjadi interaksi dan ekspansi kebudayaan secara meluas. Di tandai dengan semakin berkembangnya pengaruh budaya, a. pengagungan materia secara berlebihan (materialistik), b. pemisahan kehidupan duniawi dari supremasi agama (sekularistik), c. pemujaan kesenangan indera mengejar kenikmatan badani (hedonistik). Penyimpangan jauh dari budaya luhur, akan memunculkan ; a. Kriminalitas, b. Sadisme, c. Krisis moral secara meluas. H. Mas’oed Abidin, Ketua Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia Sumbar – Padang. 3

Dampak Globalisasi Memasuki Millenium Ketiga

Terjadinya dis-equilibrium, (hilangnya keseimbangan moral), dalam tatanan kehidupan bermasyarakat menyebabkan lahir krisis-krisis, a. krisis nilai, menyangkut etika individu dan sosial berubah drastik, pada mulanya berpandangan luhur bergeser kencang kearah tidak acuh, dan lebih parah mentolerir. b. krisis konsep pergeseran pandang (view) cara hidup, dan ukuran nilai jadi kabur. Sekolahan yang merupakan cerminan idealitas masyarakat tidak bisa dipertahankan. c. krisis kridebilitas dengan erosi kepercayaan. Pergaulan orang tua, guru dan muballig dimimbar kehidupan mengalami kegoncangan wibawa. d. krisis beban institusi pendidikan terlalu besar.Tuntutan tanggung jawab moral sosial kultural dikekang oleh sisitim dan aturan birokrasi. Kesudahannya, membelenggu dinamika institusi, akhirnya impoten memikul beban tanggung jawab. e. krisis relevansi program pendidikan yang mendukung kepentingan elitis non-populis, tidak demokratis. Orientasi pendidikan beranjak dari mempertahankan prestasi kepada orientasi prestise, keijazahan. f. krisis solidaritas, dan membesarnya kesenjangan miskin kaya, dan kesempatan mendapatkan pendidikan tidak merata, kurangnya idealisme generasi remaja tentang peran dimasa datang. Pergeseran budaya dan mengabaikan nilai-nilai agama melahirkan tatanan hidup berpenyakit sosial kronis, a. kegemaran berkorupsi. b. Aqidah bertauhid namun akhlaknya tidak mencerminkan akhlak Islami. c. Melalaikan ibadah.

3.3. Prilaku kehidupan non-science
Diantaranya tampak pada prilaku; a. Sangat berminat terhadap kehidupan non-science, b. asyik mencari kekuatan gaib belajar sihir. c. Mencari jawaban paranormal, d. menguasai kekuatan jin, bertapa ketempat angker. e. Menyelami black-magic, mempercayai mistik. f. Tidak terkecuali menghinggapi juga para cendekiawan. Mencari dukungan melalui pedukunan. H. Mas’oed Abidin, 4 Ketua Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia Sumbar – Padang.

Dampak Globalisasi Memasuki Millenium Ketiga

Prilaku sedemikian banyak melahirkan split personalities, pribadi yang terbelah “too much science too little faith”, lebih banyak ilmu dengan tipisnya kepercayaan keyakinan agama, berkembangnya paham nihilisme budaya senang lenang (culture contenment). Diperparah oleh limbah budaya, antara lain; a. sensate-culturevi yang selalu bertalian dengan hedonistik. b. Orientasi hiburan berselera rendah, c. 3-S tourisme sun-sea-sex. d. Gaya hidup konsumeristis, rakus, boros, cinta mode. e. Pergaulan bebas sex, ittiba’ syahawat (memperturutkan hobi nafsu syahawat). f. Kebebasan salah arah. g. Lepas dari kawalan agama dan adat luhur. h. Tampil dengan sikap permissif dan anarkis. Pada hakekatnya semua prilaku a-moral tersebut lahir karena lepas kendali dari nilai-nilai agama dan menyimpang jauh terbawa arus deras keluar dari alur budaya luhur bangsa. Kondisi seperti itu telah memberikan penilaian buruk terhadap dunia pendidikan pada umumnya.

Membentuk Generasi Masa Depan
1. Generasi muda akan menjadi aktor utama dalam pentas kesejagatan (millenium ketiga). Karena itu, generasi muda (remaja) harus dibina dengan budaya yang kuat berintikan nilai-nilai dinamik yang relevan dengan realiti kemajuan di era globalisasi. Generasi masa depan (era globalisasi) yang diminta lahir dengan a. budaya luhur (tamaddun), b. berpaksikan tauhidik, c. kreatif dan dinamik, d. memiliki utilitarian ilmu berasaskan epistemologi Islam yang jelas, e. tasawwur (world view) yang integratik dan ummatik sifatnya (bermanfaat untuk semua, terbuka dan transparan). f. Perkembangan kedepan banyak ditentukan oleh peranan remaja sebagai generasi penerus dan pewaris dengan kepemilikan ruang interaksi yang jelas menjadi agen sosialisasi guna menggerakkan kelanjutan survival kehidupan kedepan. H. Mas’oed Abidin, Ketua Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia Sumbar – Padang. 5

Dampak Globalisasi Memasuki Millenium Ketiga

g. Kita memerlukan generasi yang handal, dengan beberapa sikap; h. daya kreatif dan innovatif, dipadukan dengan kerja sama berdisiplin, i. kritis dan dinamis, memiliki vitalitas tinggi, j. tidak mudah terbawa arus, sanggup menghadapi realita baru di era kesejagatan.

k. memahami nilai-nilai budaya luhur, l. siap bersaing dalam knowledge based society, m. punya jati diri yang jelas, hakekatnya adalah generasi yang menjaga destiny, n. individu yang berakhlak berpegang pada nilai-nilai mulia iman dan taqwa, o. motivasi yang bergantung kepada Allah, yang patuh dan taat beragama akan berkembang secara pasti menjadi agen perubahan, p. memahami dan mengamalkan nilai-nilai ajaran Islam sebagai kekuatan spritual, yang memberikan motivasi emansipatoris dalam mewujudkan sebuah kemajuan fisik-material, tanpa harus mengorbankan nilai-nilai kemanusiaan. Sangat dipahami, bahwa kekuatan hubungan ruhaniyah spiritual emosional dengan iman dan taqwa akan memberikan ketahanan bagi umat. Hubungan ruhaniyah ini akan lebih lama bertahan daripada hubungan struktural fungsional. 1. Generasi kedepan wajib digiring menjadi taat hukum. Upaya ini dapat dilakukan dengan cara ; 2. memulai dari lembaga keluarga dan rumah tangga, memperkokoh peran orang tua, ibu bapak , 3. fungsionalisasi peranan ninik mamak dan unsur masyarakat secara efektif, 4. memperkaya warisan budaya dengan setia mengikuti dan mempertahankan, bertumpu kepada cita rasa patah tumbuh hilang berganti 5. menanamkan aqidah shahih (tauhid), dan istiqamah pada agama yang dianaut, 6. menularkan ilmu pengetahuan yang segar dengan tradisi luhur. H. Mas’oed Abidin, Ketua Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia Sumbar – Padang.

6

Dampak Globalisasi Memasuki Millenium Ketiga

7. Apabila sains dipisah dari aqidah syariah dan akhlaq akan melahirkan saintis tak bermoral agama, konsekwensinya ilmu banyak dengan sedikit kepedulian. 8. Menanamkan kesadaran tanggung jawab terhadap hak dan kewajiban asasi individu secara amanah, 9. penyayang dan adil dalam memelihara hubungan harmonis dengan alam, 10. teguh politik, kukuh ekonomi, 11. melazimkan musyawarah dengan disiplin dan 12. bijak memilih prioritas pada yang hak sebagai nilai puncak budaya Islam yang benar. Sesuatu akan selalu indah selama benar. Budaya adalah wahana kebangkitan bangsa. Maju budayanya. mundurnya suatu bangsa ditentukan oleh kekuatan

Generasi yang mampu mencipta akan menjadi syarat utama keunggulan. Keutuhan budaya bertumpu kepada individu dan masyarakat yang mampu mempersatukan seluruh potensi yang ada.

Millennium Ketiga
Millenium Baru oleh; a. mobilitas serba cepat dan modern, b. persaingan keras dan kompetitif, c. komunikasi serba efektif, dunia tak ada jarak seakan global village, d. akan banyak ditemui limbah budaya kebaratan westernisasi. Alaf baru itu diyakini bahwa kehadirannya tak bisa di cegah. Bahkan sudah berada didepan mata. Pertanyaan yang perlu dijawab segera: Sudahkah kita siap menghadapi perubahan zaman yang cepat dan penuh tantangan ini? Di antara jawabnya adalah, kita berkewajiban sesegeranya mempersiapkan generasi baru yang siap bersaing dalam era global tersebut. Kita berkewajiban membentuk Sumber Daya Manusia (SDM) yang masih berkecenderungan individual menjadi Sumber Daya Umat (SDU) yang bercirikan kebersamaan dengan nilai asas "gotong royong", berat sepikul ringan sejinjing, atau prinsip ta'awunitas. H. Mas’oed Abidin, Ketua Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia Sumbar – Padang. 7 akan diawali abad keduapuluh satu, ditandai

Dampak Globalisasi Memasuki Millenium Ketiga

Proses pembangunan SDM-SDU yang mesti ditempuh,
1. Tahap kesadaran tinggi (to create the high level awareness), kesadaran tentang perlunya perubahan dan dinamik yang futuristik. Langkahnya perlu dengan penggarapan secara sistematik dan pen-dekatan proaktif mendorong terbangunnya proses pengupayaan (the process of empowerment). 2. Tahap perencanaan dengan rangka kerja yang terarah, terencana mewujudkan keseimbangan dan minat (motivasi) dan gita kepada iptek, keterampilan dan pemantapan siyasah. Aspek pendidikan dan latihan adalah faktor utama dalam pengupayaan. Konsep-konsep visi, misi, selalu terbentur dalam pencapaian oleh karena lemahnya metodologi dalam operasional pencapaiannya. 3. Tahap aktualisasi secara sistematis (the level of actualization). Bila pendidikan ingin dijadikan modus operandus disamping kurikulum ilmu terpadu dan holistik, sangat perlu pembentukan kualita pendidik (murabbi) yang sedari awal mendapatkan pembinaan. Pendekatan integratif dengan mempertimbangkan seluruh aspek metodologis berasas kokoh tamaddun yang holistik dan bukan utopis.

Antisipasi Umat.
Umat mesti mengantisipasi dengan penyesuaian-penyesuaian agar tidak menjadi kalah. Dalam persaingan dimaksud, beberapa upaya semestinya disejalankan dengan ; a. Memantapkan watak terbuka, b. Pendidikan moral berpaksikan tauhid, c. mengamalkan nilai-nilai amar makruf nahi munkar seperti tertera dalam QS.31, Lukman:13-17. d. Integrasi moral yang kuat, berakhlak penghormatan terhadap orang tua, f. pendalaman ajaran agama tafaqquh fid-diin, g. berpijak pada nilai-nilai ajaran Islam yang universal, tafaqquh fin-naas, h. perhatian besar terhadap masalah sosial atau umatisasi, teguh memilih kepentingan bersama dengan ukuran moralitas taqwa, i. responsif dan kritis terhadap perkembangan zaman, H. Mas’oed Abidin, Ketua Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia Sumbar – Padang. 8 dan memiliki

e. mempunyai adab percakapan ditengah pergaulan,

Dampak Globalisasi Memasuki Millenium Ketiga

j.

mengenal kehidupan duniawi yang bertaraf perbedaan,

k. memacu penguasaan ilmu pengetahuan, l. kaya dimensi dalam pergaulan mencercahkan rahmatan lil ‘alamin menampilkan kecerahan bagi seluruh alam. m. iman dan ibadah, menjadi awal dari ketahanan bangsa. Ketahanan umat bangsa terletak pada kekuatan ruhaniyah keyakinan agama dengan iman taqwa dan siasah kebudayaan. Bila penduduk negeri beriman dan bertaqwa dibukakan untuk mereka keberkatan langit dan bumi (QS.7,al-A’raf:96).

Lewat pintu pendidikan.
Pendidikan yang akan dikembangkan adalah pendidikan akhlak, budi pekerti. Akhlak merupakan, jiwa pendidikan, inti ajaran agama buah dari keimanan.

Maka akhlak karimah (budi pekerti sempurna) adalah tujuan sesungguhnya dari proses pendidikan, dan menjadi wadah diri dalam menerima ilmu-ilmu lainnya. Ilmu yang benar membimbing umat kearah amal karya, kreasi, inovasi, motivasi yang shaleh (baik). Untuk itu, beberapa model perlu dikembangkan; 1. pemurnian wawasan fikir disertai kekuatan zikir, 2. penajaman visi, 3. perubahan melalui ishlah atau perbaikan, 4. mengembangkan keteladanan uswah hasanah, 5. sabar, benar, dan memupuk rasa kasih sayang melalui pengamalan warisan spiritual religi. 6. Menguatkan solidaritas beralaskan pijakan iman dan adat istiadat luhur, “nan kuriak kundi nan sirah sago, nan baik budi nan indah baso” 7. Intensif menjauhi kehidupan materialistis, “dahulu rabab nan batangkai kini langgundi nan babungo, dahulu adat nan bapakai kini pitih nan paguno”. H. Mas’oed Abidin, Ketua Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia Sumbar – Padang.

9

Dampak Globalisasi Memasuki Millenium Ketiga

Setiap Muslim harus jeli ('arif) dalam menangkap setiap pergeseran yang terjadi karena perubahan zaman ini. Harus mampu menjaring peluang-peluang yang ada, sehingga memiliki visi jauh ke depan. "Laa tansa nashibaka minaddunya", artinya "jangan sampai kamu melupakan nasib/peranan kamu dalam percaturan hidup dunia (Q.S. 28: 77).

Langkah-langkah kedepan;
a. pembinaan human capital mendapatkan pendidikan, melalui keluasan ruang gerak

b. pembinaan generasi muda yang akan mewarisi pimpinan berkualiti, memiliki jati diri, padu dan lasak, integreted inovatif. c. Mengasaskan agama dan akhlak mulia sebagai dasar pembinaan generasi muda. d. Langkah drastik mencetak ilmuan Muslim yang benar-benar beriman taqwa. e. Pembinaan minda wawasan generasi muda kedepan yang bersatu dengan akidah, budaya dan bahasa bangsa. f. Secara sungguh-sungguh mewujudkan masyarakat madani yang berteras kepada prinsip keadilan (equity) sosial yang terang. Sungguh suatu nikmat yang wajib disyukuri. "Lain syakartum la adzidannakum", bila kamu mampu menjaga nikmat Allah (syukur), niscaya nikmat itu akan ditambah. Disini peran yang amat crusial dari Agama Islam. Wallahu a'lam.

Padang, 7 September 1999.

H. Mas’oed Abidin, Ketua Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia Sumbar – Padang.

10

i

Catatan

Perkembangan cyber space, internet, informasi elektronik dan digital, walaupun kenyataannya sering terlepas dari sistim nilai dan budaya sangat cepat terkesan oleh generasi muda yang cenderung cepat dipengaruhi oleh elemen-elemen baru yang merangsang. ii Globalisasi sebenarnya dapat diartikan sebagai suatu tindakan atau proses menjadikan sesuatu mendunia (universal), baik dalam lingkup maupun aplikasinya, the act of process or policy making something worldwide in scope or application menurut pengertian The American Heritage Dictionary. iii Dimana dalam persaingan bebas bentuk apapun, yang kuat akan bisa bertahan dan yang lemah akan mati sendiri (Wardiman, 1997). iv Ungkapan Ja’far Bin Abi Thalib, lihat Al Islam Ruhul Madaniyah, Musthafa al Ghulayaini, terungkap sebagai berkiut, "Kunna nahnu jahiliyyah, na’budul ashnam, wa na’kulul maitah, wa nuqat-ti’ul arham, wa nusi-ul-jiwaar, wa nakkul ul qawiyyu minna dha'ifun minna," artinya: "Kami masyarakat jahiliyyah, yang kuat dari kami berkemampuan menelan yang lemah di antara kami." Kehidupan sosial jahiliyyah itu telah dapat diperbaiki dengan kekuatan Wahyu Allah, dengan aplikasi syari'at Islam berupa penerapan ajaran tauhid ibadah dan tauhid sosial (Tauhidic Weltanschaung). Ini suatu bukti tamaddun pendekatan historik yang merupakan keberhasilan masa lalu (the glory of the past), sesuai Firman Allah, "Demikian itulah umat sebelum kamu. Bagi mereka amal usahanya, dan bagi kamu amal usahamu." (Q.S. 2: 141) v Sebelum terjadinya krisis ekonomi, 1997-dampaknya masih terasa hingga hingga sekarang), dalam tiga dasawarsa (1967-1997) ini telah menikmati pertumbuhan ekonomi yang pesat. Bank Dunia menyebut sebagai "The Eight East Asian Miracle" yang berkembangan menjadi macan Asia bersama: Jepang, Taiwan, Korea Selatan, Hong Kong, Thailand, Singapura, Malaysia. Dalam bidang ekonomi ini, negara-negara Asean menikmati pertumbuhan rata-rata 7-8 % pertahun, sementara Amerika dan Uni Eropa hanya berkesempatan menikmati tingkat pertumbuhan ekonomi rata-rata 2,5 sampai 3 % pertahun. Populasi Asean sekarang 350 juta, diperkirakan tahun 2003 saat memasuki AFTA, populasi ini akan mencapai 500 juta (Adi Sasono, Cides, 1997). Bila pertumbuhan ekonomi ini dapat dipelihara, Insya Allah pada tahun 2019, saat skenario APEC, maka kawasan ini akan menguasai 50,7 % kekayaan dunia, Amerika dan Uni Eropa hanya 39,3% dan selebihnya 10 % dikuasai Afrika dan Amerika Latin (Data Deutsche Bank, 1994). vi Budaya sensate memuja nilai rasa panca indera, menonjolkan keindahan sebatas yang di lihat (tonton), di dengar, dirasa, di sentuh, dicicipi, dengan tumpuan kepada sensual, erotik, seronok, kadang-kadang ganas, mengutamakan kesenangan badani (jasmani). Orientasinya hiburan melulu, terlepas dari kawalan agama, adat luhur, moral akhlak, ilmu dan filsafat, dan tercerabut dari budaya dan nilai-nilai normatif lainnya. Seni dibungkus selimut art for art’s sake, sensual, eksotik, erotik, horor, ganas, yang lazimnya melahirkan klub malam, night club, kasino dan panti pijat. Budaya sensate ini dipertajam dampaknya dalam kehidupan remaja oleh budaya popular kekota (urban popular culture) yang hedonistik (mulai

berkembang 1960), dan berkembang lagi US culture imperialisme (uncle Sam Culture) dan the globalization of lifestyle gaya hidup global, world wide sing (Madonna, Michael Jakson, dll) sejak tahun 1990 di pra kondisi globalisasi.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->