Politik Dakwah

POLITIK DAKWAH AMAR MAKRUF NAHI MUNGKAR

Oleh : H. Mas’oed Abidin Diwaktu pemberontakan Gestapu/PKI, Muhammadiyah memutuskan dalam Musyawarah Kerja Nasional pada bulan November 1965 yang berlangsung di Asrama Haji Jalan Kemakmuran Jakarta bahwa pembubaran Partai Komunis Indonesia adalah ibadah. Dalam waktu yang bersamaan Organisasi Nahdatul Ulama yang disampaikan oleh K.H. Abdul Wahid Hasbullah dan K.H. Masykur mengatakan bahwa wajib hukumnya membubarkan PKI. Kegiatan Politik yang dilakukan oleh Muhammadiyah pada hakikatnya adalah dalam kerangka dakwah ,amar makruf nahi munkar. Kita dituntut harus mampu membangun kualitas kehidupan yang mampu bersaing. Dengan segera melakukan konsolidasi internal, mampu mengembangkan tata pergaulan antar kelompok. Diantara tahun 1966 - 1980 sering sekali dilakukan kunjungan kepelosok-pelosok desa -- oleh para da'i dan mubaligh --, mengunjungi umat. Di kala itu, hubungan kedesa-desa sangat sulit. Tidak jarang harus ditempuh berjalan kaki, paling-paling berboncengan dengan sepeda, di sambung bendi atau pedati. Program waktu itu sederhana sekali, "hidupkan dakwah bangun negeri". Begitu yang dilakukan kedaerah-daerah di Binjai, Rao Mapat Tunggul, Lawang dan Baringin, terus ke Palembayan dan Tantaman. Dari Maninjau, Lubuk Basung, terus ke Padusunan dan Pariaman dan Kurai Taji. Menyatu kunjungan-kunjungan itu ke Guguk Kubang tujuh Koto, ke Pangkalan Muara Paiti, bahkan sampai ke Muara Mahat dan Bangkinang. Sama juga halnya ke Taram, Situjuh dan Lintau serta selingkar Padang Panjang dan Tanah datar, hingga ke Koto Baru dan Sungai Rumbai di Sijunjung, malah tidak jarang diteruskan pula ke Muara Bungo. Arus perubahan itu bisa berbentuk makin meluasnya tuntutan terhadap hak-hak asasi dan keadilan, dan demokratisasi (sosial politik), bisa pula berbentuk makin berkembangnya dominasi dari sistim ekonomi kapitalis yang berakibat makin meluasnya jurang antara dhu'afa dan aghniya dalam pandangan ekonomi. Bahkan bisa berkembang menjadi di abaikannya nilai-nilai agama yang berakibat dapat menjungkir balikkan nilai-nilai moral dan spiritual yang sudah mapan dimiliki oleh masyarakat kita. Semuanya karena pengaruh pandangan bahwa materri (budaya kebendaan) adalah diatas segala-galanya, sebagai suatu gambaran kehidupan "laa diniyah", sehingga terbukalah pintu kemaksyiathan dan kemungkaran, kriminalitas dan krisis moral. Ilmu pengetahuan dan teknologi bergerak pula ke arah perubahan posisi menjadi "berhala baru", yang berujung kepada terbukanya peluang terciptanya masyarakat "dahriyyin", dan pada akhirnya hilanglah sibgah (jati diri) manusia sebagai makhluk Tuhan yang mulia, -- yang punya fithrah dan hati nurani --. Semuanya adalah ancaman serius bagi kualitas

lingkungan serta rusaknya sistim kebudayaan dan menurunnya kualitas manusia. BERTEMU UMAT Hampir selalu pertemuan itu dilangsungkan pada sarana-sarana yang dibangun umat milik persyarikatan. Umat datang dari sekitar, dari gubuk-gubuk reot di ladang tepi hutan, memakai suluh daun kelapa, bila kebetulan malam telah tiba. Yang dibicarakan adalah masalah umat itu sendiri. Bagaimana mereka bisa membenahi kehidupan ekonominya degan memanfaatkan alam sekitarnya, hidup dan tenaga yang dianugerahkan Allah kepada-Nya. Memelihara kesatuan yang sudah ada, memupuk kekeluargaan sesama, membudayakan "berat sepikul ringan sejinjing" dalam mengangkat dan mempersamakan amal berat yang di hadapi, sehingga lahirlah motivasi dan inovasi ditengah lingkungan mereka. Selalu saja terjadi, pertemuan-pertemuan ini berjalan sedari malam sampai pagi, bahkan di sambung sore harinya, ditutup dengan "tabligh akbar" di malam hari, dengan menghadirkan seluruh lapisan umat tanpa kecuali. Yang terjadi adalah proses integrasi, dan penyebaran informasi. Para remaja, generasi muda duduk selingkar ustadz-nya selesai mengaji, berbincang-bincang sampai pagi. Untuk selanjutnya besok hari, da'i pun pergi meninggalkan desa dengan segudang perasaan di hati, untuk kemudian akan disampaikan kepada teman-teman dan "orang-orang tua" di tingkat propinsi. Yang lahir seketika itu adalah :


• • •

terbentengi mengintai, pemantapan langsung,

umat

dari

proses dan

pemurtadan

yang aqidah

sedang secara

kaderisasi

pemeliharaan

pembinaan kerukunan antar warga, lahirnya partisipasi aktif, dalam membangun diri dan membangun negeri, menyebarnya informasi, diperkenalkannya khittah, diingatkan kembali bahaya dan ancaman zaman, tumbuhnya umat yang musyawarah, demokrasi), mandiri (sosial, ekonomi, dan


terbentuknya persepsi dalam menyatukan langkah positif memelihara nilai-nilai luhur yang sudah mapan, pada setiap lapisan dan kalangan.

Hal diatas sangat dimungkinkan karena ynag melibatkan diri dalam kegiatan tersebut adalah seluruh unsur-unsur yang ada di dalam negeri. Bahkan sejak dari perangkat dusun, desa hingga kecamatan, serta kalangan ninik mamak, pemuka masyarakat serta alim ulama, pemuda pemudi generasi muda, yang semuanya adalah potensi yang berpotensi dalam pembangunan berwawasan lingkungan. Perjalanan dakwah seperti itu

mengasyikkan, sehingga lelah dan jarak tidak menjadi halangan, karena yang terpaut adalah "taalaful qulub" -- pertautan hati dengan hati --. Bagaimanakah potret itu kini ? Setelah tiga dasawarsa musim berlalu ??. Sering terjadi, ustadz dan da'i -- yang juga berpredikat penggerak amal usaha persyarikatan atau da'i pembina organisasi -- mereka telah cepat-cepat meninggalkan umat secepat dia datang. Sehingga yang di kupas hanya sebatang kulit luar. Memang pernah terjadi, ada usaha-usaha terencana dan sistematik untuk memisahkan nilai-nilai kehidupan bangsa yang beradab dan beradat terutama di Nusantara Indonesia ini dari ajaran Agama Islam. Sungguhpun itu terjadi di penghujung abad 19 dan permulaan berada diawal abad ke 20.

TANGGAP DENGAN KEADAAN
Namun keadaaan sedemikian itu segera terantisipasi oleh kearifan dan kecekatan para ulama dan cendikiawan kita. Kondisi kita pun di saat itu berada di dalam suasana tekanan penjajah dengan sistem imperialsime dan kapitalisme. Sederetan nama-nama para pemimpin kita, secara sambung bersambung telah mengukir sejarah dinegeri ini, dengan masuknya kita ke era-pembaruan (tajdid) itu. Nama-nama itu tidak akan terhapuskan oleh sejarah, mulai dari Panglima Diponegoro, Hasanuddin, T. Cik Di Tiro, Panglima Polem, sampai kepada Syaikh Ahmad Khatib Al-Minangkabawi dengan serentetan murid-murid beliau, diantaranya K. H. Ahmad Dahlan, Syeikh Haji Abdul Karim Amarullah (Ayahanda HAMKA) dan banyak lagi yang tidak tersebutkan dari pada yang mampu diungkapkan. Deretan para pemimpin umat itu, semuanya memiliki prinsip kekerabatan yang mendalam, ukhuwah yang jernih, ilmu yang resikh, dan pendirian yang tak tergoyahkan dan khittah yang jelas. Diatas segalanya itu, Tauhid yang kokoh serta istiqamah dalam menjalankan khittah yang telah digariskan. Menarik untuk disimak, dari tauladan keperjuangan dakwah beliau-beliau itu, adalah hampir seluruhnya memiliki "surau" dan “lahan” tempat pembinaan kader (mengaji), dan punya sekolah (madrasah) mempersiapkan umat pengganti. Satu suasana yang indah, bila kita ungkapkan yang sudah terjadi "masa doeloe" dari pimpinan-pimpinan pergerakan dakwah persyarikatan. , sebatas yang kita kutip dari pengalaman pendahulu-pendahulu kita. Suatu ketika, pada hari pekan di Padang Panjang, konsul Muhammadiyah Minangkabau (Sumatera Barat) yaitu Buya A.R. St. Mansur bertemu dengan pimpinan Muhammadiyah dari Lintau. Beliau bertanya "Bagaiman perkembangan sekolah di Lintau". Sekolah yang ditanyakan itu, tentulah sekolah Muhammadiyah, yang merupakan satu sarana amal usaha Muhammadiyah. Sang pengurus Muhammadiyah Lintau ini, menjawab dengan gugup, sebab perkembangannya sedikit menurun, karena murid mulai kurang dan dan guru Muhammadiyah mulai pindah ke daerah lain. Mendengar ini Buya A.R. St. Mansur berkata, "Baiklah Insya Allah hari Kamis

depan saya akan ke Lintau". Berita tersebut segera menyebar di sekeliling Lintau, sejak dari Batu Bulek sampai ke buo, bahwa Konsul Muhammadiyah akan datang. Sibuklah masyarakat -- umat utama -- itu, dan tepat pada hari yang dijanjikan Buya A.R. St. Mansur datang di Lintau, dan menginap di rumah pegurus Persyarikatan. Pimpinan-pimpinan persyarikatan dari daerah sekeliling menyempatkan betul untuk hadir, bahkan ada yang dari Halaban sampai ke Tanjung Ampalu. Umat umumpun merasakan nikmat kehadiran beliau dengan satu "tabligh besar". Beliau telah menanamkan urat di hati umat. segera teratasi. Akhirnya persoalan

Tanggapnya K. H. A. Malik Ahmad yang waktu itu berjabatan Kepala Jawatan Sosial Propinsi Sumatera Tengah, bertanya tentang amal-amal usaha Muhammadiyah tatkala beliau bertanya kepada pengelola Panti Asuhan Muhammadiyah Mandiangin. "Bagaimana keadaan anak-anak panti … ?". Dengan sedikit kecut dan mengeluh pengurus pengelola menyatakan bahwa sekarang ini bantuan untuk panti sedikit macet. Beliau tanggapi “Insya Allah, sebentar lagi saya akan datang ke sana, tolong beri tahu keluarga". Dengan sedikit tergopoh pengelola panti asuhan yatim Muhammadiyah (A'syiyah) pulang dengan tugas mengumpulkan keluarga dan kerabat. Selang beberapa lama K. H. A. Malik Ahmad datang di Panti Asuhan Yatim yang menjadi amal usaha persyarikatan ini. Rupanya, inti masalah adalah terhentinya bantuan dari Jawatan Sosial. Buya Malik Ahmad segera meminta, buatlah surat dan saya akan tanda tangani, dan urusan selanjutnya menjadi tanggung jawab pengurus. Besar yang kita kutip dari peristiwa kecil ini. a. Dengan nilai-nilai "mawaddah fil qurba" (kekerabatan yang mendalam), dapat dihindari perbedaan visi, dan bersih dari kepentingan-kepentingan konflik internal maupun interes pribadi, sehingga pengambilan keputusan cepat dilakukan (atisipasi aktif). Umat di dorong aktif memiliki mutu (kualitas) kemandirian dan percaya diri, karena pemimpin persyarikatan memiliki komitmen yang jelas dan terhindar dari pelunturan akhlak (status, organisasi, khittah). Terpeliharanya hubungan kerjasama yang terpogram, atas dasar sama-sama bekerja dengan berbagai pihak sehingga kepentingan-kepentingan gerak persyarikatan menjadi sangat strategis (diterima oleh semua kalangan).*** Padang, 6 Juni 2000

b.

c.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful